• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa dan Eksperimen Kolom Kayu Ganda Terhadap Sumbu Bahan dan Sumbu Bebas Bahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisa dan Eksperimen Kolom Kayu Ganda Terhadap Sumbu Bahan dan Sumbu Bebas Bahan"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

STUDI PUSTAKA

2.1. Kayu

Kayu adalah suatu bahan konstruksi yang berasal dari alam dan

merupakan salah satu bahan konstruksi yang pertama digunakan oleh manusia.

Material kayu merupakan bahan struktur yang ramah lingkungan karena dapat

didaur ulang dan terurai secara mudah di alam (bio-degradable), serta dapat

diperbaharui kembali.

Penggunaan kayu sebagai bahan kontruksi disebabkan oleh beberapa

faktor, antara lain kesederhanaan dalam pengerjaan, ringan, sesuai dengan

lingkungan (environmental compatibility). Hal tersebut membuat kayu menjadi

bahan konstruksi yang dikenal di bidang konstruksi ringan (light construction).

Kayu sebagai bahan konstruksi tidak hanya didasari oleh kekuatannya saja, akan

tetapi juga didasari oleh segi keindahannya. Secara alami kayu memiliki

bermacam-macam warna dan bentuk serat, sehingga untuk bangunan yang

menggunakan material kayu tidak banyak memerlukan perlakuan tambahan serta

meningkatkan keindahan bangunan.

Kayu memiliki kendala dalam penggunaannya, antara lain dapat

mengalami kerusakan oleh serangan jamur, rayap, dan pengelolaan hutan sebagai

sumber utama kayu tidak dilakukan secara berkesinambungan (Ali Awaluddin,

2005). Ketersediaan kayu menjadi langka disebabkan oleh penebang liar yang

melakukan penebangan tanpa adanya pengelolaan hutan. Kendala lainnya yang

(2)

arah serat yang berbentuk menampang, spiral, diagonal, mata kayu dan

sebagainya. Kayu dapat memuai dan menyusut dengan perubahan kelembaban

dan meskipun tetap elastis, terdapat lendutan yang relatif besar pada pembebanan

berjangka lama (Felix Yap, 1964).

2.1.1. Sifat Utama Kayu

Kayu dinilai mempunyai sifat-sifat utama yang menyebabkan kayu selalu

dibutuhkan oleh manusia (Frick, 2004). Sifat-sifat utama bahan bangunan kayu

dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Kayu merupakan sumber kekayaan alam yang tidak akan habis jika

dikelola atau diusahakan dengan baik. Artinya, jika pohon ditebang

untuk diambil kayunya, harus segera ditanam kembali pohon-pohon

pengganti supaya sumber kayu tidak habis. Kayu dikatakan sebagai

renewable resources (sumber kekayaan alam yang dapat

diperbaharui).

2. Kayu merupakan bahan mentah yang mudah diproses untuk dijadikan

bahan lain. Dengan kemajuan teknologi, kayu sebagai bahan mentah

dapat dengan mudah diproses menjadi barang-barang seperti kertas,

tekstil, dan sebagainya.

3. Kayu mempunyai sifat-sifat spesifik yang tidak bisa ditiru oleh bahan

lain buatan manusia. Misalnya, kayu mempunyai sifat elastis, ulet,

tahan terhadap pembebanan yang tegak lurus dengan seratnya atau

(3)

tidak dimiliki baja, beton, atau bahan-bahan lain yang biasa dibuat

oleh manusia.

2.1.2. Sifat Fisis Kayu

Sifat fisis kayu merupakan sifat yang menampilkan suatu kondisi khusus

dari struktur dan anatomi kayu itu sendiri. Sifat fisis ini dapat menunjukkan

keadaan kayu, seperti kandungan air, berat jenis kayu, arah serat, dan lain

sebagainya.

2.1.2.1. Kandungan Air

Kayu merupakan material higroskopis. Skar (dalam Iswanto, 2008)

mengemukakan bahwa kayu memiliki sifat higroskopis yaitu dapat menyerap atau

melepas air dari lingkungannya. Tsoumis (dalam Iswanto, 2008) menambahkan

bahwa air yang diserap atau dilepaskan dapat berupa uap air atau cair.

Kemampuan kayu menyerap dan melepaskan air sangat tergantung dari kondisi

lingkungan seperti temperatur dan kelembaban udara. Apabila kelembaban udara

meningkat, maka kandungan air pada kayu akan meningkat pula. Lingkungan

yang memiliki kelembaban udara yang stabil akan menyebabkan kandungan air

cenderung tetap. Kondisi seperti ini disebut kadar air imbang (equilibrium

moisture content). Kandungan air yang terdapat pada kayu bergantung pada

spesies, umur dan ukuran pohon.

Air yang terdapat pada batang kayu tersimpan dalam dua bentuk, yaitu air

bebas (free water) yang terletak di antara sel-sel kayu, dan air ikat (bound water)

(4)

terjadi proses pengeringan maka air bebas adalah air yang pertama kali berkurang.

Kondisi dimana air bebas telah habis sedangkan air ikat pada dinding sel masih

jenuh dinamakan titik jenuh serat (fibre saturation point).

Kayu di Indonesia yang kering udara pada umumnya mempunyai kadar air

(kadar lengas) antara 12% - 18%, atau rata-rata 15%. Apabila berat dari benda uji

menunjukkan penurunan angka secara terus menerus, maka kayu belum dapat

dianggap kering udara.

2.1.2.2. Kepadatan

Kepadatan (density) kayu dinyatakan sebagai berat per unit volume.

Pengukuran kepadatan bertujuan untuk mengetahui persentase rongga pada kayu.

Kepadatan dan volume sangat bergantung pada kandungan air. Menghitung

kepadatan suatu jenis kayu adalah dengan cara membandingkan antara berat

kering kayu dengan volume basah. Berat kering kayu diperoleh dengan

menimbang spesimen kayu yang telah disimpan dalam oven pada suhu 105º

selama 24 – 48 jam atau sampai berat spesimen kayu tetap.

2.1.2.3. Berat Jenis

Berat jenis adalah perbandingan antara kepadatan kayu dengan kepadatan

air pada volume yang sama. Kayu terdiri dari sel kayu sebagai bagian padat, air

dan udara. Ketika kayu dikeringkan di dalam oven maka volume yang tertinggal

hanya volume bagian padat dan volume udara. Hal ini disebabkan oleh air yang

(5)

beratjenis secara umum pada bagian pangkal lebih tinggi dibandingkan dengan

bagian tengah dan ujung.

Faktor-faktor yang mempengaruhi berat jenis kayu yaitu umur pohon,

tempat tumbuh, posisi kayu dalam batang dan kecepatan tumbuh. Berat jenis kayu

merupakan salah satu sifat fisis kayu yang penting sehubungan dengan

penggunaannya sebagai bahan konstruksi.

2.1.3. Sifat Mekanis Kayu

Sifat mekanis kayu adalah kemampuan kayu dalam memberikan

perlawanan terhadap perubahan bentuk yang disebabkan oleh gaya-gaya luar.

Sifat mekanis merupakan syarat-syarat pemilihan kayu untuk digunakan sebagai

material konstruksi.

2.1.3.1. Kuat Lentur

Kuat lentur merupakan ukuran kemampuan kayu untuk menahan

lengkungan kayu akibat adanya beban yang bekerja tegak lurus di tengah kayu

dimana pada kedua ujungnya tertumpu. Sisi atas balok sederhana yang dikenai

beban akan mengalami tegangan tekan maksimal. Sementara sisi bawah akan

mengalami tegangan tarik. Tegangan ini secara perlahan-perlahan menurun

kebagian tengah dan menjadi nol pada sumbu netral.

Kuat lentur dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu kuat lentur statik dan kuat

lentur pukul. Kuat lentur statik adalah kekuatan bahan dalam menahan gaya yang

diberikan secara perlahan-lahan, sedangkan kuat lentur pukul adalah kekuatan

(6)

Kuat lentur kayu dapat diketahuijika dalam pengujiannya, kayu akan

mengalami tegangan dan perubahan bentuk (melentur/melendut) saat menerima

beban yang besar. Tegangan yang terjadi antara lain tegangan tarik, tekan, dan

geser sehingga dalam ketiga parameter ini akan didapat nilai kuat lenturnya. Kuat

lentur kayu biasa dinyatakan dalam modulus retak (Modulus of Repture : MOR).

Tegangan tarik akan terjadi pada bagian sisi bawah kayu dan tegangan tekan

terjadi pada bagian sisi atas kayu, sedangkan tegangan geser bekerja pada sejajar

penampang. Tegangan tarik yang melampaui batas kemampuan kayu akan

mengalami regangan yang cukup berbahaya. Ketiga tegangan yang terjadi dialami

oleh kayu pada saat pembebanan sedang berlangsung.

Gambar 2.1.BatangKayu yang Menerima Beban Lentur

2.1.3.2. Kuat Geser

Kuat geser atau tegangan geser ( ) merupakan kemampuan material kayu

untuk menahan beban geser yang ditimbulkan kepadanya. Beban geser ini dapat

menyebabkan serat-serat kayu menjadi tergelincir atau bergeser sehingga

mengalami perubahan pada struktur seratnya.

Kuat geser pada kayu dapat terjadi pada arah sejajar serat, tegak lurus

serat dan bidang miring serat. Kuat geser tegak lurus serat memiliki kekuatan

Teg. Tekan

Teg. Tarik

Garis Netral

Teg. Geser

(7)

geser 3-4 kali lebih besar dibandingkan kuat geser sejajar serat. Sementara kuat

geser pada bidang miring serat terjadi apabila kayu dibebani gaya lentur.Sifat ini

tidak begitu penting disebabkan sebelum mengalami geser tegak lurus serat, kayu

sudah terlebih dahulu rusak.

Tegangan geser terbesar yang tidak akan menimbulkan bahaya pada

pergeseran serat kayu disebut tegangan geser yang diizinkan dengan notasi (kg /

cm2 ). Kuat geser diperoleh dengan persamaan sebagai berikut:

... (2.1)

Dimana:

= tegangan geser (kg/m2)

P = beban (kg)

A = luas penampang (m2)

cp

Gambar 2.2. Batang Kayu yang Menerima Gaya Geser

2.1.3.3. Kuat Tekan

Kuat tekan adalah kemampuan kayu menahan beban yang diberikan

kepadanya, baik sejajar serat maupun tegak lurus serat. Akibatnya, kayu akan

mengalami pemendekan maupun perubahan bentuk penampang melintangnya.

Gaya yang diberikan sejajar serat akan menimbulkan bahaya tekuk sedangkan

Teg. Geser

(8)

gaya yang diberikan tegak lurus serat akan menimbulkan keretakan bahkan patah.

Kedua hal tersebut merupakankondisi yang tidak diharapkan terjadi pada suatu

struktur karena akan menimbulkan suatu kegagalan pada struktur itu sendiri.

Gambar 2.3. Batang Kayu yang Menerima Gaya Tekan Sejajar Serat

Kayu yang diberikan pembebanan sejajar serat memilikikuat tekan yang

lebih besar dibandingkan dengan pembebanan tegak lurus serat. Batang kayu yang

panjang dan tipis seperti papan, umumnya mengalami bahaya kerusakan lebih

besar ketika menerima gaya tekan sejajar serat jika dibandingkan dengan gaya

tekan tegak lurus serat kayu. Sebagai akibat adanya gaya tekan ini akan

menimbulkan tegangan tekan pada kayu.Tegangan tekan izin diberikan notasi Fc

(MPa).

Gambar 2.4. Batang Kayu yang Menerima Gaya Tekan Tegak Lurus Serat

P P

P

(9)

2.1.3.4. Kuat Tarik

Sebuah kayu yang diberikan gaya tarik dari kedua arah yang berlawanan

maka akan timbul tegangan tarik dari serat-serat kayu tersebut. Gaya tarik akan

berusaha melepaskan ikatan antara serat-serat kayu.Apabila gaya tarik yang

diberikan beban lebih besar dari gaya tarik serat kayu, maka serat-serat kayu akan

terlepas dan menimbulkan patahan. Kondisi ini tidak boleh terjadi pada suatu

struktur bangunan.

Tegangan tarik (Ft) masih diperbolehkan apabila tidak terdapat

perubahan yang dapat membahayakan suatu struktur. Nilai tegangan tarik kayu

dapat ditentukan dalam tabel nilai kuat acuan pada kadar air 15% dengan kode

mutu tertentu.Sebagai contoh, kayu dengan kode mutu E15 memiliki tegangan

tarik izin sebesar 31 MPa (PKKI NI - 5, 2002).

Kuat tarik pada kayu dapat menahan beban aksial (sejajar serat) atau

transversal (tegak lurus serat). Di antara kedua kekuatan tarik tersebut, kuat tarik

aksial kayu (sejajar serat) jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kuat tarik

transversal (tegak lurus serat).

`

Gambar 2.5. Batang Kayu yang Menerima Gaya Tarik

(10)

2.1.4. Tegangan Bahan Kayu

Menurut Awaluddin (2005), tegangan pada bahan kayu merupakan

kemampuan bahan untuk mendukung gaya luar atau beban yang berusaha

merubah ukuran dan bentuk bahan kayu tersebut. Gaya-gaya luar yang bekerja

pada suatu benda dapat menimbulkan gaya-gaya dalam yang disebut tegangan dan

dinyatakan dalam gaya per satuan luas (N/m2).

⁄ ... (2.2)

Perubahan ukuran dan bentuk yang terjadi akibat tegangan disebut

deformasi atau regangan. Apabila tegangan yang bekerja kecil maka deformasi

yang terjadi juga kecil. Bahan kayu akan kembali ke bentuk semula apabila

tegangan dihilangkan sepenuhnya sesuai dengan sifat elastisitas benda tersebut.

Jika tegangan yang diberikan melebihi daya dukung serat maka serat-serat akan

terputus dan terjadi kegagalan atau keruntuhan.

Deformasi sebanding dengan besarnya beban yang bekerja sampai pada

satu titik yang disebutLimit Proporsional. Setelah melewati titik ini besarnya

deformasi akan bertambah lebih cepat dari besarnya beban yang diberikan.

Deformasi atau regangandinyatakan dalam pertambahan panjang per panjang awal

bahan.

... (2.3)

Nilai yang mengukur antara tegangan dan regangan pada limit

(11)

modulus elastisitas. Semakin tinggi nilai modulus elastisitas maka kayu tersebut

lebih kaku. Sebaliknya, semakin rendah nilai modulus elastisitas maka kayu

tersebut lebih lentur atau fleksibel.

⁄ ... (2.4)

Bahan yang mengalami keruntuhan atau patah tanpa adanya perubahan

bentuk atau dengan sedikit perubahan bentuk disebut perilaku getas. Getas terjadi

tanpa menunjukkan tanda-tanda terjadinya deformasi pada bahan. Hal ini

merupakan jenis keruntuhan yang dianggap berbahaya bagi struktur bangunan.

2.1.5.Sistem Pemilahan (Grading)

2.1.5.1. Sistem Pemilahan Secara Mekanis

Pemilahan kayu secara mekanis yaitu pemilahan menggunakan alat

grading machine. Sistem pemilahan dengan menggunakan alat ini sudah mulai

dilakukan di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Batang kayu dibentuk menjadi ukuran struktur atau masih berupa utuh

(kayu log) dibebani beban terpusat. Lendutan yang terjadi akibat pembebanan

dicatat besarnya tepat di bawah beban yang bekerja. Prinsip pengujian ini disebut

pengujian lentur statik. Pengujian ini dilakukan pada setiap jarak tertentu,

misalnya setiap 1 (satu) meter. Nilai Modulus Elastisitas Lentur (MOE) dapat

diperoleh dari data beban dan lendutan. Mengacu pada nilai MOE, tegangan lain

(12)

Berdasarkan modulus elastis lentur yang diperoleh secara mekanis, kuat

acuan lainnya dapat diambil mengikuti tabel 2.1. Kuat acuan yang berbeda dengan

tabel 2.1 dapat digunakan apabila ada pembuktian secara eksperimental yang

mengikuti standar-standar eksperimen yang baku.

Tabel 2.1. Nilai Kuat Acuan (Mpa) Berdasarkan Pemilahan Secara Mekanis Pada Kadar Air 15% (PKKI NI - 5 2002)

(13)

Fb =Kuat Lentur Fv =Kuat Geser

Ft // =Kuat Tarik Sejajar Serat Fc ┴ =Kuat Tekan Tegak Lurus Serat

2.1.5.2. Sistem Pemilahan Observasi Visual

Pemilahan kayu secara visual sudah lama dilakukan oleh manusia.

Parameter pemilahan secara visual dapat diamati melalui lebar cincin tahunan,

kemiringan serat, mata kayu, keberadaan jamur atau serangga pemakan kayu dan

keretakan. Cara ini seringkali memberikan hasil yang kurang akurat terlebih jika

si pengamat tidak memiliki keahlian dan pengalaman. Akibatnya pemilahan kelas

kuat kayu akan lama dan hasilnya dapat diragukan.

Apabila pengukuran secara visual berdasarkan berat jenis, maka kuat

acuan kayu berserat lurus atau tanpa cacat dapat dihitung dengan langkah sebagai

berikut.

1. Kerapatan ρ (dengan satuan kg/m3) pada kondisi basah (berat dan volume diukur pada kondisi basah, tetapi kadar airnya sedikit lebih

kecil dari 30%) dihitung dengan mengikuti prosedur baku

... (2.5)

Dimana:

ρ = kerapatan kayu (kg/m3)

Wg = berat kayu basah (kg)

Vg = volume basah kayu (m3)

2. Kadar air, m % (m< 30) diukur dengan prosedur baku.

(14)

Dimana:

m = kadar air kayu (%)

Wd = berat kayu kering oven (gr)

Wg = berat kayu basah (gr)

3. Hitung berat jenis pada m % (Gm) dengan rumus:

... (2.7)

4. Hitung berat jenis dasar (Gb) dengan rumus:

[ ]

... (2.8)

5. Hitung berat jenis pada kadar air 15 % (G15) dengan rumus:

... (2.9)

6. Hitung estimasi kuat acuan Modulus Elastisitas Lentur dengan rumus:

... (2.10)

Dimana:

G= berat jenis kayu pada kadar air 15 % (G = G15)

Kayu yang mempunyai cacat kayu dan atau serat yang tidak lurus, estimasi

nilai modulus elastisitas lentur acuan dari tabel 2.1 harus direduksi dengan

mengikuti ketentuan SNI 03-3527-1994 UDC (Unit Decimal Classification)

691.11 tentang “εutu Kayu Bangunan” dengan mengalikan estimasi nilai

modulus elastisitas lentur acuan dari persamaan 2.10 dimana nilai rasio tahanan

pada tabel 2.2 bergantung pada Kelas Mutu Kayu. Kelas mutu kayu ditetapkan

(15)

Tabel 2.2.Nilai Rasio Tahanan (PKKI NI - 5 2002)

Kelas Mutu Nilai Rasio

Tahanan

Tabel 2.3.Cacat Maksimum Untuk Setiap Kelas Mutu Kayu (PKKI NI - 5 2002)

Pinggul 1/10 tebal atau lebar kayu

Gubal Diperkenankan Diperkenankan Diperkenankan

(16)

2.2. Teori Euler dan Tetmayer

Teori tekuk kolom pertama kali dikemukakan oleh Leonhardt Euler

(1759). Euler melakukan percobaan dimana sebuah kolom memiliki beban

konsentris yang semula lurus dan seratnya tetap elastis sehingga akan mengalami

lengkungan kecil seperti pada gambar 2.6.

Gambar 2.6. Kolom Euler

Euler menyelidiki batang yang dijepit pada salah satu ujungnya dan

bertumpu sederhana (simply supported) pada ujung lainnya. Logika yang sama

dapat diterapkan pada kolom berujung sendi, yang tidak memiliki pengekang

rotasi dan merupakan batang dengan kekuatan tekuk terkecil.

Pada titik sejaiuh x, momen lentur Mx (terhadap sumbu x) pada kolom

yang mengalami sedikit lendutan adalah:

Mx = P x y ... (2.11)

Karena

... (2.12)

Persamaan diatas menjadi:

... (2.13) P P

y

(17)

Bila k2 = P / EI maka persamaan (2.13) menjadi:

... (2.14)

Persamaan diferensial ber-ordo dua dapat dinyatakan sebagai:

... (2.15)

Dengan syarat batas:

1. y = 0 pada x = 0; diperoleh 0 = A sin 0 + B cos 0, didapat harga B = 0

2. y = 0 pada x = L; karena harga A tidak mungkin nol, maka diperoleh

harga sebagai berikut:

... (2.16)

Harga kL yang memenuhi adalah kL= 0, π, 2π, 3π, .... nπ atau persamaan (2.16) dapat dipenuhi oleh tiga keadaan:

a. konstanta A = 0, tidak ada lendutan

b. kL = 0, tidak ada lendutan

c. kL = π, syarat terjadinya tekuk.

Karena k2 = P / EI, maka √

Kedua ruas dikuadratkan

, maka diperoleh ... (2.17)

Ragam tekuk dasar pertama, adalah lendutan dengan lengkung tunggal (y

= A sin x dari persamaan 2.15), akan terjadi bila kL = π.Dengan demikian beban

kritis Euler untuk kolom bersendi di kedua ujungnya dengan L adalah panjang

tekuk yang dinotasikan dengan Lk adalah:

(18)

Untuk mengetahui batas berlakunya persamaan Euler, dapat dilihat

hubungan antara tegangan kritis dengan kelangsingan kolom yang dinotasikan

dengan (λ). Dari persamaan (2.17) apabila kedua ruas dibagi dengan luas penampang, maka akan diperoleh:

... (2.19)

Karena i2 = I / A, maka diperoleh:

... (2.20)

Dimana adalah kelangsingan (λ), maka diperoleh:

... (2.21)

Persamaan Euler ini berlaku apabila nilai tekuk dari suatu benda uji berada

diantara 100 sampai 150.Gaya tekan Euler diperoleh berdasarkan anggapan kayu

berperilaku elastis, maka gaya tekan Euler sesuai untuk kolom dengan angka

kelangsingan tinggi. Sedangkan untuk nilai tekuk λ ≤ 100 digunakan persamaan

Tetmayer (Den Hartog, 1949):

Pk= A × ... (2.22)

Dimana:

... (2.23)

Angka tekuk dalam Tetmayer (Ramdhan, 2008) ialah sebagai berikut:

... (2.24)

Kehancuran akibat tekuk terjadi setelah sebagian penampang melintang

(19)

elastis). Tekuk murni akibat beban aksial terjadi bila anggapan-anggapan ini

berlaku, yaitu sebagai berikut:

1. Sifat tegangan-tegangan tekan sama di seluruh titik pada penampang;

2. Kolom lurus sempurna dan prismatis;

3. Resultan beban bekerja melalui sumbu pusat batang sampai batang

mulai melentur;

4. Kondisi ujung harus statis tertentu sehingga panjang antara

sendi-sendi ekivalen dapat ditentukan;

5. Teori lendutan yang kecil seperti pada lenturan yang umum berlaku

dan gaya geser dapat diabaikan;

6. Puntiran atau distorsi penampang melintang tidak terjadi selama

melentur.

Tekuk diartikan sebagai perbatasan antara lendutan stabil dengan

lendutan tidak stabil pada batang tekan di dalam suatu percobaan. Hasil percobaan

mencakup pengaruh lengkungan awal pada batang eksentrisitas beban yang tidak

terduga, tekuk setempat atau lateral dan tegangan sisa.

2.3. Kolom

Struktur kolom adalah batang vertikal dari rangka struktur yang memikul

beban dari balok serta rangka atap. Berdasarkan SK SNI T-15-1991-03, kolom

adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban

aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga

(20)

Pembebanan kolom didominasi oleh beban aksial tekan yang bekerja pada

ujung-ujungnya tanpa ada beban tranversal yang bekerja. Akibatnya, kolom tidak

mengalami lentur secara langsung karena tidak ada beban tegak lurus terhadap

sumbu kolom. Beban aksial tekan yang menyebabkan adanya perilaku tekuk pada

kolom juga dipengaruhi oleh panjang, lebar, bentuk, dan tinggi suatu

komponenstruktur.Perilaku tekuk ini dipengaruhi oleh nilai kelangsingan kolom

yaitu nilai banding antara panjang efektif kolom dengan jari-jari girasi penampang

kolom.

Kolom merupakan elemen struktur yang penting agar bangunan tidak

roboh. Apabila kolom mengalami kegagalan, maka struktur yang ditopangnya

akan mengalami keruntuhan.Pada keadaan yang umum, kehancuran akibat tekuk

terjadi setelah sebagian penampang melintang meleleh. Keadaan ini disebut tekuk

in elastis (tidak elastis). Kolom yang ideal memiliki sifatelastis, lurus, dan

sempurna jika diberi pembebanan secara konsentris.

2.3.1. Klasifikasi Jenis Kolom

Klasifikasi jenis kolom dapat dibedakan sebagai berikut.

1. Jenis kolom berdasarkan bentuk dan susunan tulangan, yaitu:

 Kolom segiempat/bujursangkar dengan tulangan memanjang dan

sengkang berbentuk segiempat.

 Kolom bundar dengan tulangan memanjang dan tulangan lateral berupa

(21)

 Kolom komposit yaitu kolom yang bahan – bahannya terdiri dari dua

jenis material yang berbeda sifat dan bersatu sehingga memiliki

kekuatan yang lebih baik.

 Kolom kayu dapat berfungsi sebagai kolom struktural dan

non-struktural. Penampang kolom struktural kayu pada umumnya berbentuk

persegi/ bujursangkar, bulat, kolom tunggal maupun kolom ganda.

Gambar 2.7. Jenis Kolom Berdasarkan Bentuk dan Susunan Tulangan

2. Jenis kolom berdasarkan posisi beban pada penampangnya, yaitu:

 Kolom yang mengalami beban sentris (tidak mengalami lentur,

Gambar 2.7a.).

 Kolom dengan beban eksentrisitas (Gambar 2.7b.) mengalami

momen lentur selain gaya aksial dan dapat dikonversikan

menjadi suatu beban

(22)

(a) (b)

Gambar 2.8. Jenis Kolom Berdasarkan Posisi Beban pada Penampang

3. Jenis kolom berdasarkan panjang kolom dalam hubungannya dengan

dimensi lateralnya, yaitu:

 Kolom pendek adalah kolom yang nilai perbandingan antara

panjangnya dengan dimensi penampang melintang relatif kecil.

Jenis kolom ini tidak tergantung pada panjangnya dan apabila

mengalami beban berlebihan akan mengalami kegagalan karena

hancurnya material. Hal ini berarti, kolom pendek tidak

mengalami bahaya tekuk. Oleh karena itu, kapasitas pikul-beban

batas kolom ini tergantung pada kekuatan material yang

digunakan.

 Kolom panjang yaitu jika ketinggian dari kolom lebih besar dari

tiga kali dimensi lateralnya (panjang/ lebar). Jenis kolom ini akan

mengalami kegagalan akibat tekuk dan ketinggiannya atau

panjangnya turut mempengaruhi kapasitas pikul-beban. Perilaku

kolom panjang terhadap beban tekan diilustrasikan pada gambar

P P

(23)

2.10a. Apabila bebannya kecil, kolom masih dapat

mempertahankan bentuk linearnya, begitu pula jika bebannya

bertambah. Hingga pada saat beban yang diterima terus

bertambah mencapai taraf tertentu, kolom tersebut tiba-tiba

berubah bentuk seperti pada gambar 2.10b. Inilah yang disebut

dengan fenomena tekuk (buckling). Apabila suatu kolom telah

menekuk, maka kolom tersebut tidak akan mampu lagi menerima

beban tambahan sehingga sedikit saja penambahan beban akan

dapat menyebabkan kolom tersebut runtuh/hancur seperti gambar

2.10c. Dengan demikian, kapasitas pikul bebannya adalah besar

beban yang menyebabkan kolom tersebut mengalami tekuk awal.

2.3.2. Prinsip Desain Kolom

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kolom akan mengalami

keruntuhan jika gagal menopang beban yang bekerja padanya. Hal tersebut terjadi

karena kolom mengalami tekuk (buckling). Beban tekuk adalah beban yang dapat

menyebabakan suatu kolom menekukyang disebut juga dengan beban kritis (Pcr).

Elemen struktur kolom yang memiliki nilai perbandingan antara panjang

dan dimensi penampang melintang yang relatif kecil disebut kolom pendek.

Kemampuan kolom pendek memikul beban tidak tergantung pada panjang kolom.

Kolom pendek mengalami kegagalanjika tidak mampu menahan beban karena

material akan hancur.Kemampuan pikulbeban batas tergantung pada kekuatan

(24)

perubahan proporsi relatif elemen hingga mencapai keadaan yang disebut elemen

langsing. Perilaku elemen langsing berbeda dengan elemen tekan pendek.

Perilaku elemen tekan panjang terhadap beban tekan adalah apabila

bebannya kecil maka elemen masih dapat mempertahankan bentuk liniernya.

Begitu pula apabila bebannya bertambah. Saat beban mencapai nilai tertentu maka

elemen tersebut akan tidak stabilsecara tiba-tiba dan berubah bentuk.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya tekuk. Salah satu

faktor penting yang mempengaruhi tekuk yaitu panjang kolom. Pada umumnya

kapasitas pikul-beban kolom berbanding terbalik dengan kuadrat panjang elemen.

Faktor lain yang juga mempengaruhi besar beban tekuk adalah karakteristik

kekakuan elemen struktur, yaitu jenis material dan bentuk, serta ukuran

penampang. Suatu elemen yang mempunyai kekakuan kecil lebih mudah

mengalami tekuk dibandingkan dengan elemen berkekakuan besar. Semakin

panjang suatu elemen struktur maka kekakuannya semakin kecil.

Kekakuan elemen struktur juga berkaitan dengan banyaknya dan distribusi

material yang ada dan sifat material. Ukuran distribusi ini pada umumnya dapat

dinyatakan dengan momen inersia I yang menggabungkan banyak material yang

ada dengan distribusinya. Sedangkan ukuran untuk sifat material adalah modulus

elastisitas E. Semakin tinggi nilai E, semakin tinggi pula kekakuannya dan

semakin besar pula tahanan kolom yang terbuat dari material itu untuk mencegah

tekuk.

Faktor lain yang turut mempengaruhi besarnya beban tekuk adalah kondisi

ujung elemen struktur. Kolom dengan ujung-ujung bebas berotasi mempunyai

(25)

ujung-ujungnya dijepit. Penambahan bracing pada ujung kolom dapat menambah

kekakuan, sehingga dapat meningkatkan kestabilan dalam mencegah tekuk.

Berikut ini adalah keterkaitan besarnya beban tekuk dengan berbagai kondisi

ujung elemen struktur.

Garis terputus

menunjukkan diagram

kolom tertekuk

(a) (b) (c) (d) (e) (f)

Nilai Kc teoritis 0,5 0,7 1,0 1,0 2,0 2,0

Nilai Kc yang dianjurkan untuk kolom yang

mendekati kondisi idiil

0,65 0,80 1,2 1,0 2,10 2,0

Kode ujung Jepit Sendi Hall tanpa putaran sudut/Jepit bergoyang

Ujung bebas/Jepit bebas

Gambar 2.9. Kondisi Perletakkan Kolom

2.3.3. Stabilitas Struktur Kolom

Masalah kesetimbangan kolom erat kaitannya dengan stabilitas suatu

struktur batang. Konsep stabilitas sering diterangkan dengan menggangap

(26)

2.3.3.1. Kesetimbangan Stabil

Gambar 2.10(a). Kesetimbangan Stabil

Berdasarkan gambar 2.10(a), bola pejal berada di permukaan yang cekung.

Kemudian bola pejal berubah posisinya ketika diberikan gaya F. Saat gaya F

hilang, posisi bola pejal kembali seperti semula. Kondisi ini adalah penganalogian

dari suatu kolom bermuatan P < Pcr yang diberikan gaya F tegak lurus sumbu

kolom sehingga mengalami lendutan. Jika gaya F dihilangkan maka kolom akan

kembali ke bentuk linearnya. Kondisi kesetimbangan ini disebut kesetimbangan

stabil (stable equilibrium).

2.3.3.2. Kesetimbangan Netral

(27)

Kolom dengan beban P = Pcr dianalogikan dengan bola pejal yang berada

di permukaan datar. Bola pejal tersebut diberi gaya F dan berpindah tempat tanpa

kembali ke tempatnya semula. Berdasarkan anggapan itulah suatu kolom

bermuatan P = Pcr jika diberikan beban sebesar F, maka kolom tersebut akan

mengalami tekuk. Ketika gaya F dilepaskan, kolom tidak akan kembali ke bentuk

linearnya. Kondisi kesetimbangan ini disebut kesetimbangan netral (precarious

equilibrium).

2.3.3.3. Kesetimbangan Tidak Stabil

Gambar 2.10(c). Kesetimbangan Tidak Stabil

Bola pejal berada pada permukaan yang cembung kemudian diberikan

gaya F maka akan terjadi pergeseran mendadak. Hal ini merupakan penganalogian

untuk kolom dengan P > Pcr. Kolom diberikan gaya F tegak lurus sumbu kolom

kemudian mengalami deformasi. Apabila beban diberikan secara konstan maka

akan berdampak runtuhnya kolom (bucking). Kondisi kesetimbangan ini disebut

(28)

2.3.4. Tekuk Kolom

Kemampuan batas pikul beban suatu struktur tekan sangat tergantung

pada panjang relatif, karakteristik dimensi penampang melintang dan sifat

material yang digunakan. Struktur tekan yang diberikan beban besar yang

melebihi kemampuan pikulnya maka struktur tersebut akan mengalami perubahan

bentuk yang disebut dengan fenomena tekuk (buckling). Tekuk merupakan suatu

ragam kegagalan yang disebabkan oleh ketidakstabilan suatu struktur yang

dipengaruhi oleh aksi beban.

Fenomena tekuk memiliki hubungan dengan kekakuan elemen struktur.

Elemen yang mempunyai kekakuan yang kecil akan lebih mudah mengalami

tekuk dibandingkan dengan kekakuan yang besar. Semakin langsing suatu elemen

struktur, semakin kecil pula kekakuannya. Angka kelangsingan tersebut dapat

dirumuskan sebagai berikut. (Ir.K.H. Felix Yap)

... (2.25)

Karena:

... (2.26)

Dimana:

λ = angka kelangsingan

lk = panjang tekuk (cm)

imin = jari-jari inersia minimum (cm)

Imin = momen inersia minimum (cm4)

(29)

Dalam suatu konstruksi tiap batang tekan mempunyai λ ≤ 150 (Ir.K.H.

Felix Yap). Untuk menghindari bahaya tekuk pada batang tekan, gaya yang

ditahan oleh batang harus digandakan dengan faktor ω sehingga:

... (2.27)

Dimana:

= tegangan yang timbul (kg/cm2)

S = gaya yang timbul pada batang (Ton)

ω = faktor tekuk

2.4. Kolom Berspasi

Kolom berspasi merupakan komponen struktur tekan dari suatu rangka

batang, titik kumpul yang dikekang secara lateral pada ujung dari kolom berspasi,

dan elemen pengisi pada titik kumpul tersebut dinamakan sebagai klos tumpuan

(Anonim, 2000).

Menurut Awaluddin (2005), kolom berspasi memiliki dua sumbu utama

yang melalui titik berat penampang, yaitu sumbu bahan dan sumbu bebas bahan.

Sumbu bahan adalah sumbu yang arahnya tegak lurus (sumbu x) dan memotong

kedua komponen struktur kolom. Sumbu bebas bahan adalah sumbu yang arahnya

(30)

Gambar 2.11. Kolom Berspasi

Pada kolom berspasi yang merupakan komponen struktur tekan dari

suatu rangka batang, titik kumpul yang dikekang secara lateral dianggap sebagai

ujung dari kolom berspasi. Elemen pengisi pada titik kumpul tersebut dianggap

sebagai klos tumpuan. Klos tumpuan pada kolom berspasi harus memiliki lebar

dan panjang yang memadai serta ketebalan minimum yang sama dengan ketebalan

kolom tunggal dan posisinya berada dekat ujung kolom. Klos tumpuan yang

memiliki ukuran yang sama sedikitnya harus mempunyai satu klos lapangan yang

letaknya di daerah tengah kolom, sehingga l3 = 0,50 l1.

Masing-masing bagian pada ujung-ujung batang ganda berspasi dan

sepertiga panjang batang dari setiap ujung batang tertekan harus diberikan

perangkai yang disebut dengan klos. Penggunaan klos sebagai alat sambung

batang kayu ganda adalah untuk menghindari bahaya tekuk. Momen inersia juga

(31)

disambungkan pada kayu ganda dan dihubungkan dengan menggunakan baut

maupun dengan paku. Jika disambungkan dengan baut, maka lebar bagian b ≤ 18

cm dipakai 2 (dua) baut dan jika b > 18 cm dipakai 4 (empat) baut sedangkan

untuk paku dapat disesuaikan jumlahnya sesuai dengan keperluan dan

pemasangannya harus disesuaikan dengan peraturan.

Gambar 2.12. Jarak antar baut

Alat sambung pada setiap bidang kontak antara klos tumpuan dan

komponen struktur kolom di setiap ujung kolom harus memilki tahanan geser

yang ditentukan dalam persamaan berikut.

z’ = A1 KS ... (2.28)

Dimana:

z' = tahanan geser terkoreksi klos tumpuan (N)

A1 = luas komponen struktur tunggal (mm2)

(32)

Tabel 2.4. Konstanta Klos Tumpuan (PKKI NI - 5 2002)

Berat Jenis (G) KS (MPa)*

G ≥ 0,60 (l1/d1–11) x 143 tetapi ≤ 7 εpa

0,50 ≤ G ≤ 0,60 (l1/d1–11) x 121 tetapi ≤ 6 εpa

0,42 ≤ G ≤ 0,50 (l1/d1–11) x 100 tetapi ≤ 5 εpa

G ≤ 0,42 (l1/d1–11) x 74 tetapi ≤ 4 εpa

* Untuk l1/d1≤ 11, KS = 0

2.4.1. Sumbu Bahan dan Sumbu Bebas Bahan

Menurut Awaluddin (2005), kolom berspasi memiliki dua sumbu utama

yang melalui titik berat penampang, yaitu sumbu bahan dan sumbu bebas bahan.

Sumbu bahan adalah sumbu yang arahnya tegak lurus (sumbu y) dan memotong

kedua komponen struktur kolom. Sumbu bebas bahan adalah sumbu yang arahnya

sejajar muka yang berspasi pada kolom (sumbu x).

Gambar 2.13. Sumbu Bahan dan Sumbu Bebas Bahan

Secara umum, tekuk selalu berada di sumbu bahan. Hal ini dapat terjadi

karena momen inersia bernilai lebih kecil sehingga sumbu bahan lebih lemah jika

(33)

Perbandingan panjang terhadap lebar maksimum ditentukan berdasarkan

sumbu bahan dan bebas bahan yaitu sebagai berikut:

1. Pada bidang sumbu bahan, l1/d1 tidak boleh melampaui 80.

2. Pada bidang sumbu bahan, l3/d1 tidak boleh melampaui 40.

3. Pada bidang sumbu bebas bahan, l2/d2 tidak boleh melampaui 50.

Perhitungan momen lembam pada batang berganda terhadap sumbu bahan

(sumbu X dalam gambar 2.15(a) dan 2.15(b)) dapat dianggap sebagai batang

tunggal dengan lebar sama dengan jumlah lebar masing-masing bagian, sehingga

berlaku:

ix = 0.289h ... (2.25)

Gambar 2.14. Geometrik Kolom Berspasi

Perhitungan momen lembam terhadap sumbu bebas bahan (sumbu X

dalam gambar 2.14c dan sumbu Y dalam gambar 2.12a dan 2.12b) digunakan

rumus sebagai berikut:

(34)

Dimana:

I = momen inersia yang diperhitungkan

It = momen inersia teoritis

Ig = momen inersia geser, dengan anggapan masing-masing bagian

digeserhingga berimpitan satu sama lain

Apabila jarak antara masing-masing bagian a > 2b. It dihitung dengan

mengambil nilai a = 2b. Masing-masing bagian yang membentuk batang berganda

harus memiliki momen lembam:

... (2.30)

Dimana:

S = gaya tekan yang timbul pada batang berganda (Ton)

Iy = panjang tekuk terhadap sumbu bebas bahan (m)

n = jumlah batang bagian

Angka kelangsingan ditinjau untuk masing – masing sumbu bahan dan

sumbu bebas bahan (E. Kosasih Danasasmita).

Kelangsingan sumbu bahan ditentukan sebagai berikut.

(sumbu bahan berada pada sumbu x – x) ... (2.31)

(sumbu bahan berada pada sumbu y – y) ... (2.32)

Kelangsingan sumbu bebas bahan ditentukan menggunakan persamaan

Engesser.

(35)

Dimana:

λγ = angka kelangsingan seluruh batang terhadap sumbu bebas bahan

λ1 = angka kelangsingan dari satu bagian saja

m = banyaknya bagian yang membentuk kolom

f = faktor koreksi, tergantung pada jenis alat penyambung

Tabel 2.5. Harga Faktor Koreksi f (E. Kosasih Danasasmita)

Alat Penyambung Klos Pelat Koppel

Perekat 1 3

Paku 3 4,5

Baut 3 -

Angka kelangsingan λ1 ialah sebagai berikut.

... (2.34)

... (2.35)

Dimana:

L1 = panjang satu bagian batang

n = jumlah medan (klos)

2.5. Alat Sambung Kayu

Kolom ganda merupakan gabungan dua buah kolom. Konstruksi kayu

pada umumnya membutuhkan alat sambung yang berfungsi untuk

memperpanjang batang kayu (overlapping connection) atau menggabungkan

(36)

ganda dapat memikul beban yang bekerja pada struktur.Kekuatan sambungan

tidak dibedakan pada sambungan desak atau sambungan tarik, melainkan kuat

desak pada lubang serta kekuatan alat penghubung geser tersebut. Untuk itu pada

struktur kolom ganda dibutuhkan alat penghubung dengan jumlah dan

penempatan penghubung geser yang disesuaikan dengan besar gaya geser yang

timbul pada kedua kayu tersebut.

Sambungan merupakan titik terlemah pada konstruksi kayu sehingga perlu

mendapatkan perhatian. Hal ini disebabkan karena adanya deformasi atau

pergeseran pada titik-titik sambungannya. Dengan demikian konstruksi kayu

yang perlu mendapatkan perhatian bukan adanya beban patah saja, tetapi adanya

pergeseran juga perlu mendapatkan perhatian. Menurut Ali Awaludin (2002), ada

beberapa hal yang menyebabkan rendahnya kekuatan sambungan pada konstruksi

kayu, antara lain:

1. Terjadinya pengurangan luas tampang;

2. Terjadinya penyimpangan arah serat;

3. Terbatasnya luas sambungan.

Efektifitas suatu alat sambung dapat diukur berdasarkan kuat dukung

yang diberikan oleh sambungan itu sendiri dibandingkan dengan kuat ultimit kayu

yang di sambungnya. Adapun ciri-ciri alat sambung yang baik antara lain:

1. Pengurangan luas kayu yang digunakan untuk menempatkan alat

sambung relatif kecil atau bahkan nol;

2. Nilai banding antara kuat dukung sambungan dengan kuat ultimit

(37)

3. Menunjukkan perilaku pelelehan sebelum mencapai keruntuhan

(daktail);

4. Mempunyai angka penyebaran panas (thermal conductivity) rendah;

5. Murah dan mudah digunakan.

2.6. Baut

Alat sambung baut pada umumnya terbuat dari baja lunak (mild steel)

dengan bentuk kepala heksagonal, kotak, kubah, atau datar (gambar 2.14.) yang

berfungsi untuk mendukung beban tegak lurus sumbu panjangnya. Kekuatan

sambungan kayu ditentukan oleh kuat tumpu kayu, tegangan lentur baut, dan

angka kelangsingan (perbandingan nilai panjang baut pada kayu utama dengan

diameter baut). Dalam pemasangan baut, lubang baut diberi kelonggoran 1 mm.

Gambar 2.15. Bentuk-Bentuk Baut (ASCE, 1997)

Jika angka kelangsingan baut rendah, baut menjadi sangat kaku dan

distribusi tegangan tumpu kayu merata. Semakin tinggi nilai kelangsingan baut,

(38)

merata. Tegangan tumpu kayu maksimum terjadi pada bagian samping kayu

utama.

2.6.1. Tahanan Lateral Acuan

Tahanan lateral acuan digunakan untuk sambungan dengan komponen

utama yang terbuat dari kayu, baja, beton, atau pasangan batu, dan komponen

sekunder yang terdiri dari satu atau dua komponen kayu atau komponen dengan

pelat baja sisi. Tahanan lateral acuan sambungan yang menggunakan baut satu

irisan dengan beban tegak lurus terhadap sumbu alat pengencang dan dipasang

tegak lurus sumbu komponen struktur ditentukan dengan mengambil nilai

minimum dari persamaan pada tabel 2.6. (untuk satu baut dengan satu irisan yang

menyambung dua komponen) atau tabel 2.7. (untuk satu baut dengan dua irisan

yang menyambung tiga komponen). Tahanan lateral acuan diambil dengan nilai

tahanan lateral acuan terkecil.

Tabel 2.6. Tahanan Lateral Acuan Baut Atau Pasak (Z) Untuk Satu Alat Pengencang Dengan Satu Irisan Yang Menyambung Dua Komponen

(PKKI NI - 5 2002) Moda

Kelelehan Persamaan yang Berlaku

Im

Is

II

Dengan: √ ( )

(39)

IIIm

Tabel 2.7. Tahanan Lateral Acuan Baut Atau Pasak (Z) Untuk Satu Alat Pengencang Dengan Dua Irisan Yang Menyambung Tiga Komponen

(PKKI NI - 5 2002)

Moda

Kelelehan Persamaan yang Berlaku

(40)

2.6.2 Kuat Tumpu Kayu

Kuat tumpu kayu merupakan kekuatan yang dimiliki kayu untuk

menahan beban yang diberikan pada daerah titik tumpuannya (dengan satuan

N/mm2). Femdan Fesadalah kuat tumpu kayu utama dan kuat tumpu kayu samping.

Selain itu kuat tumpu kayu memiliki nilai kuat tumpu pada arah sejajar serat,

tegak lurus serat, dan dengan sudut terhadap seratnya yang masing-masing

memiliki perumusan sebagai berikut:

Fe // = 77,25 G ... (2.36)

Fe ┴ = 212 G1,45D-0,5 ... (2.37)

... (2.38)

Dimana:

Fe // = kuat tumpuan kayu sejajar serat (N/mm2)

Fe ┴ = kuat tumpu kayu tegak lurus serat (N/mm2)

Fe θ = kuat tumpu kayu dengan sudut terhadap serat (N/mm2)

G = berat jenis kayu

D = diameter baut

Menurut National Design and Spesification (NDS) U.S untuk konstruksi

kayu (2001) mendefinisikan kuat lentur baut (Fyb) merupakan nilai rerata antara

tegangan leleh dan tegangan tarik ultimit pada pengujian tarik baut, dengan nilai

kuat lentur baut sebesar 320 N/mm2. Kuat tumpu kayu untuk beberapa macam

(41)

Tabel 2.8.(a) Kuat Tumpu Kayu (Fe) dalam N/Mm2untuk Baut ½“

(Ali Awaludin, 2005) Berat jenis

(G)

Sudut gaya terhadap serat kayu θ (derajat)

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

Sudut gaya terhadap serat kayu θ (derajat)

(42)

Tabel 2.8.(c) Kuat Tumpu Kayu (Fe) dalam N/Mm2untuk Baut ¾“ (Ali

Awaludin, 2005)

Berat jenis (G)

Sudut gaya terhadap serat kayu θ (derajat)

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

0,5 38,63 37,30 33,96 29,86 26,01 22,87 20,53 18,96 18,05 17,76

0,55 42,49 41,14 37,71 33,43 29,35 25,98 23,44 21,71 20,71 20,39

0,6 46,35 44,99 41,48 37,06 32,77 29,17 26,45 24,57 23,49 23,13

0,65 50,21 48,84 45,28 40,72 36,25 32,45 29,55 27,53 26,36 25,97

0,7 54,08 52,69 49,09 44,42 39,79 35,81 32,73 30,59 29,34 28,92

0,75 57,94 56,55 52,91 48,16 43,38 39,24 36,01 33,74 32,41 31,96

0,8 61,80 60,42 56,75 51,93 47,03 42,74 39,36 36,97 35,57 35,10

0,85 65,66 64,28 60,61 55,73 50,72 46,30 42,79 40,29 38,82 38,32

0,9 69,53 68,15 64,48 59,56 54,46 49,92 46,29 43,69 42,15 41,64

0,95 73,39 72,02 68,36 63,41 58,25 53,60 49,86 47,17 45,57 45,03

1,00 77,25 75,90 72,25 67,29 62,07 57,33 53,49 50,72 49,06 48,51

2.6.3 Geometri Sambungan Baut

Geometri sambungan baut, sekrup kunci, pasak dan jarak tepi baut yang

diperlukan, jarak ujung dan spasi alat pengencang yang diperlukan untuk

mengembangkan tahanan acuan harus sesuai dengan nilai minimum pada tabel

2.9. Spasi tegak lurus arah serat antar alat-alat pengencang terluar pada

sambungan tidak boleh lebih besar dari 127 mm kecuali jika ada ketentuan

(43)

Tabel 2.9. Jarak Tepi, Jarak Ujung dan Persyaratan Spasi untuk Sambungan dengan Baut (PKKI NI - 5 2002)

Beban Sejajar Arah Serat Ketentuan Dimensi Minimum

1. Jarak Tepi (bopt)

Im/ D ≤ 6 (catatan 1) 1,5 D

Im / D > 6

yang terbesar dari 1,5 D atau ½ jarak antar baris alat pengencang tegak lurus serat

2. Jarak Ujung (aopt)

Komponen Tarik 7 D

Komponen Tekan 4 D

3. Spasi (sopt)

Spasi dalam baris alat pengencang 4 D

4. Jarak antar baris alat pengencang 1, 5 D < 127 mm (catatan 2 dan 3)

Beban Tegak Lurus Arah Serat Ketentuan Dimensi Minimum

1. Jarak Tepi (bopt)

Tepi yang dibebani 4 D

Tepi yang tidak dibebani 1,5 D

2. Jarak Ujung (aopt) 4 D

3. Spasi (sopt) Catatan 3

4. Jarak antar baris alat pengencang:

Im / D ≤ 2 2,5 D (catatan 3)

2 < Im / D < 6 (5 Im + 10 D) / 8 (catatan 3)

Im/ D ≥ 6 5 D (catatan 3)

Catatan:

1. Im adalah panjang baut pada komponen utama suatu sambungan atau panjang total baut pada komponen

sekunder suatu sambungan.

2. Diperlukan spasi yang lebih besar untuk sambungan yang menggunakan ring.

(44)

Gambar 2.16. Geometrik Sambungan Baut Horizontal

Gambar 2.17. Geometrik Sambungan Baut Vertikal

2.6.4. Faktor Koreksi Sambungan Baut

Faktor koreksi sambungan baut bertujuan untuk mengoreksi tahanan

lateral acuan (Z) pada sambungan baut. Faktor koreksi sambungan baut dibagi

(45)

2.6.4.1. Faktor Aksi Kelompok

Sambungan yang terdiri dari satu alat pengencang baut atau lebih

cenderung setiap bautnya mendukung beban lateral yang tidak sama. Hal ini

disebabkan oleh:

 Jarak antara alat sambung baut yang kurang panjang sehingga

menyebabkan kuat tumpu kayu tidak terjadi secara maksimal,

 Distribusi gaya yang tidak merata (non-uniform load distribution)

antar alat sambung baut.

Faktor yang mempengaruhi nilai faktor aksi kelompok (Cg) adalah kurva

beban dan sesaran baut, jumlah baut, spasi dalam satu baris, plastic deformation,

dan perilaku rangkak/creep kayu itu sendiri. Untuk sambungan dengan beberapa

alat sambung baut, tahanan lateral acuan sambungan dikali dengan faktor aksi

kelompok. Nilai aksi kelompok diperoleh dengan persamaan berikut:

... (2.39)

Dimana ai adalah jumlah alat pengencang efektif pada baris alat pengencang i

yang bervariasi dari 1 hingga ni, maka diperoleh:

( )

... ... (2.40)

Nilai m diperoleh dari:

(46)

Nilai u diperoleh dari:

... ... (2.42)

γ untuk alat sambung baut diambil sebesar:

0,246 D1,5... ... (2.43)

Dimana:

γ = modulus beban atau modulus gelincir untuk satu alat pengencang.

Nilai REA, diperoleh dari:

...(2.44)

Dimana:

(EA)min = nilai yang lebih kecil antara (EA)m dan (EA)s

(EA)max = nilai yang lebih besar antara (EA)m dan (EA)s

Nilai faktor koreksi (Cg) dapat digunakan dengan menggunakan tabel 2.10.

National Design and Specification US dan berlaku untuk sambungan dengan

perbandingan luas penampang samping terhadap kayu utama sebesar setengah

(47)

Tabel 2.10. National Design and Specification U.S (Ali Awaludin, 2005)

As/Am1

As

(in)2

Jumlah Baut Dalam Satu Baris

2 3 4 5 6 7 8

2. Nilai pada tabel ini cukup aman untuk diameter baut < 1 inchi, spasi < 4 inchi atau E > 1400 ksi.

2.6.4.2. Faktor Koreksi Geometrik

Tahanan lateral acuan harus dikalikan dengan faktor geometri (CΔ),

dimana nilai CΔ adalah nilai terkecil dari faktor-faktor geometri yang disyaratkan

untuk jarak ujung atau spasi dalam baris alat pengencang. Adapun syarat tersebut

antara lain:

1. Jarak ujung

Bila jarak ujung yang diukur dari pusat alat pengencang (a) lebih

besar atau sama dengan aopt dalam tabel 2.8., maka CΔ = 10. Bila aopt /

(48)

2. Spasi dalam baris alat pengencang

Bila spasi dalam baris alat pengencang (s) lebih besar atau sama

dengan sopt pada tabel 2.8., maka CΔ= 1,0. Bila 3D ≤ s ≤ sopt, maka CΔ

Gambar

Gambar 2.1.BatangKayu yang Menerima Beban Lentur
Gambar 2.4. Batang Kayu yang Menerima Gaya Tekan Tegak Lurus Serat
Gambar 2.5. Batang Kayu yang Menerima Gaya Tarik
Tabel 2.1. Nilai Kuat Acuan (Mpa) Berdasarkan Pemilahan Secara Mekanis
+7

Referensi

Dokumen terkait

William Arthur Yehezki Bangun : Analisa dan Eksperimental Tekuk Kolom Ganda Konstruksi Kayu Gambar 3: Sampel Pengujian Kuat Tarik Kayu Panggoh Sejajar Serat. Gambar 4: Sampel

Penelitian ini dilakukan dengan pembuatan dudukan benda uji terlebih dahulu yang telah dianalisis kekuatan sehingga dapat menahan gaya tekan yang akan diberikan pada benda

Komposit kayu panggoh – beton direncanakan untuk menambah kekuatan tekan kayu sebagai kolom pada struktur bangunan yang akan menahan beban aksial.. Dimana material kayu mempunyai

Perbandingan Persentase Pengembangan antara Plywood dengan Kayu Solid Arah Tangensial.. Pada kayu solid keteguhan sejajar serat jauh lebih besar daripada

Sama halnya dengan kayu Nangka, maka fenomena sebaran kapasitas beban ijin per paku per bidang geser kayu Rasamala (Tabel 3) juga memperlihatkan kecenderungan

Melihat kekuatan tarik bambu yang cukup tinggi tersebut, maka jika bilah- bilah bambu diuntai menjadi semacam tendon dan diberikan gaya tarik awal sebagaimana halnya pada

Hasil pengujian tarik juga menunjukkan bahwa komposit polyester dengan serat kulit kayu gelam sebagai penguat menunjukkan bahwa mekanisme patahan yang terjadi pada

Tetapi apabila beban yang diberikan besar, dengan menganggap struktur mulai tidak stabil, maka tulangan baja akan menahan gaya tarik sedangkan beton akan menahan