Eksistensi Tuhan dan Aliran Dalam Konsep Ketuhanan A. Pendahuluan
Permasalahan tentang theologi sudah menjadi pertanyaan yang sampai saat ini belum menemukan titik temunya. Semakin berkembangnya zaman semkin berkembang pula pengertian dan pemikiran baru tentang Tuhan. Para filsuf tak henti-hentinya meneliti eksistensi Tuhan. Sedangkan Filsafat Ketuhanan sendiri sebenarnya hanyalah pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi, yaitu memakai apa yang disebut sebagai pendekatan filosofis. Bagi orang yang menganut agama tertentu (terutama agama Islam, Kristen, Yahudi), akan menambahkan pendekatan wahyu di dalam usaha memikirkannya. Jadi Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran para manusia dengan pendekatan akal budi tentang Tuhan. Usaha yang dilakukan manusia ini bukanlah untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak, namun mencari pertimbangan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai pada kebenaran tentang Tuhan. Lantas apakah yang dimaksud dengan Tuhan dalam paham pemikiran Islam? Dan apakah macam aliran ketuhanan? Serta apakah pandangan setiap aliran tersebut akan wujud Tuhan?
B. Pengertian Filsafat
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang Tuhan, terlebih dahulu harus diketahui apa yang dimaksud dengan filsafat, karena sesungguhnya pembahasan tentang Tuhan berkisar pada pembahasan tentang filsafat ketuhanan. Yaitu cara pemikiran terhadap Tuhan eksistansi dan substansinya. Bukan pemikiran tentang syariat-syariat Ketuhanan. Seperti pada pembahasan filsafat lainnya. Berikut ini akan saya jabarkan pengertian-pengertian filsafan.
Poedjawijatna menyatakan bahwa kata filsafat berasal dari kata Arab yang berhubungan rapat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani. Kata Yunaninya ialah philosophia. Dalam bahasa Yunani kata Philosphia
merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan sophia. Philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin dan karena itu lalu mencapai yang diinginkan itu sedangkan sophia berarti kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi, menurut namanya saja filsafat boleh diartikan ingin mencapai pandai, cinta pada kebijakan. Sehingga dapat disimpulkan pengertian filsafat secara epistimologi ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan atau keinginan mendalam untuk menjadi bijak.1
Secara terminologi, filsafat mempunyai beberapa definisi sesuai dengan konotasi filsafat yang didapat dari setiap pengarang tersebut. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Poedjawitjana mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala seusatu berdasarkan pikiran belaka.
2. Hasbullah Bakry mengatakan bahwa filsafat adalah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
3. Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli
4. Aristoteles berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung di dalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika
5. Al-Farabi mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya.
6. Phytagoras memberikan definisi filsafat sebagai the love for wisdom.
7. Bertrand Russel mendefinisikan filsafat sebagai the attempt to answer ultimate question critically
8. William James mendefinisikan filsafat sebagai a collective name for question which have not been answered to the satisfaction of all that have asked them.
Definisi filsafat berbeda antara satu tokoh dengan tokoh yang lainnya karena perbedaan konotasi antar tokoh.2
C. Pengertian Agama
Jelas sekali terlihat hubungan yang erat antara Tuhan dengan agama, karena dapat dipastikan bahwa sebagian besar manusia yang percaya kepada Tuhan pasti beragama. Maka setelah kita mengetahui apa yang dimaksud dengan filsafat kita harus memahami terlebih dahulu tentang maksud yang dikandung dalam agama. Karena pembahasan kali ini erat hubungannya dengan agama. Disini saya akan menjelaskan pengertian-pengertian agama menurut para disiplin ilmu dan filsuf.
Berdasarkan berbagai bahan bacaan kita mengetahui bahwa definisi agama banyak sekali. Dari sekian banyak defini tersebut pengertian agama dapt dibagi menjadi dua kelompok:
1. Definisi agama yang menekankan segi rasa iman atau kepercayaan 2. Definisi agama yang menekankan segi peraturan tentang cara hidup
Namun, kombinasi keduanya mungkin merupakan definisi yang lebih memadai tentang agama. Agama ialah sistem kepercayaan dan praktek yang
sesuai dengan kepercayaan tersebut. Pengertian lain adalah peraturan tentang cara hidup, lahir-batin.3
D. Yang-Ada (Being)
Istilah ‘yang ada’ memiliki bermacam makna. Sebagian orang menjumbuhkannya dengan dua istilah yang lain esensi dan eksistensi. Kita mengatakan sesuatu apapun bersifat ‘yang ada’. Atau singkatnya sesuatu itu ‘ada’. Istilah ini diterpkan kepada segala sesuatu, hakikat atau jenisnya.
Sesuatu yang bereksistensi, misalnya bangku harus memiliki sifat ada sebelum bereksistensi. Demikian pula segenap hal lain, misalnya pikiran dan perasaan yang tidak dapat dikatakan bereksistensi, dikatakan ‘ada’ atau bersifat ‘yang ada’. Predikat ‘yang ada’ memberikan batasan kepada suatu himpunan sedemikian rupa sehingga segala sesuatu, baik nyata maupun dalam angan-angan, termasuk didalam himpunan tersebut. ‘yang ada’ merupakan predikat yang paling umum serta paling sederhana diantara semua predikat. ‘Yang ada’ merupakan predikat yang universal yang artinya predikat dari setiap satuan yang mungkin ada.
‘Ekstensi’ (lingkup) istilah ‘yang ada’ bersifat universal. ‘Eksistensi’ menunjukan hal-hal khusus yang dapat diterapi istilah tertentu. ‘Yang ada’ merupakan istilah yang menunjukkan sesuatu yang dimiliki bersama oleh segala sesuatu.
‘Yang tiada’ (non-being) merupakan istilah yang tidak mengandung makna, dan tidak menunjuk kepada apapun. Memikirkan istilah ‘yang tiada’ berarti memberikan sifat ‘yang ada’ kepada istilahnya, tetapi tidak memberikan sifat ‘yang ada’ kepada sesuatu yang dianggap ditunjuk oleh istilah tersebut.4
E. Eksistensi
Eksistensi keadaan tertentu yang lebih khusus dari sesuatu. Apapun yang bereksistensi tentu nyata ada, tetapi tidak sebaliknya. Sesuatu hal dikatakan bereksistensi jika hal itu adalah sesuatu yang menurut W.T Stace bersifat public. Bersifat public artinya objek itu sendiri harus dialami atau dapat dialami oleh banyak orang yang melakukan pengamatan.
Yang dimaksud dengan pengalaman adalah pengalaman inderawi. Gajah merah jambu dan wanita berambut pirang di dalam impian mempunyai sifat ‘yang ada’ tetapi tidak nyata ada dan tidak bereksistensi, meskipun perasaan itu nyata ada dan terjadi dalam diri. Apa yang bersifat public kiranya selalu menempati ruang dan terjadi dalam waktu. Oleh karenanya, eksistensi sering dikatakan
3 Bambang Q-Anees, Filsafat Untuk Umum, Prenada Media, 2003, hal 9
berkenaan dengan objek-objek yang merupakan kenyataan dalam ruang dan waktu.
Hal-hal yang bereksistensi merupakan himpunan bawahan hal-hal yang ada, tetapi tidak sebaliknya. ‘Yang ada’ merupakan kategori yang lebih luas daripada ‘yang bereksistensi’
F. Esensi
Esensi adalah hakikat barang sesuatu. Saat ini kita membicarakan sejumlah istilah yang berhubungan dengan sesuatu yang khusus. Perhatikanlah suatu segitiga. Suatu segitiga tidak bereksistensi, karena apa yang kita jumpai dalam eksistensi hanyalah hal-hal yang mendekati segitiga. Tapi segitiga bersifat nyata. Segitiga merupakan suatu satuan yang konseptual atau akali. Segitiga ada, agaknya sudah jelas. Macam kenyataannya yang mungkin tidak begitu jelas. Tetapi kita perlu mengadakan pembedaan antara apakah segitiga itu dengan
kenyataan bahwa segitiga itu ada.
Esensi segitiga ialah sesuatu yang menjadikan segitiga merupakan suatu segitiga. Dewasa ini salah satu diantara masalah-masalah yang mengganggu kita terletak pada kebingungan kita mengenai esensi manusia. Orang senantiasa bertanya “apakah manusia itu?” ‘Esensi’ dan ‘sifat terdalam’ sering digunakan dalam arti yang sama. Maka esensi sesuatu ialah hakikatnya. Apakah sesuatu itu bereksistensi atau tidak, dalam arti tertentu, tidak ada sangkut-pautnya dengan pernyataan ‘apakah esensinya’.
Jika X bereksistensi, maka tentu juga beresensi, tetapi kebalikannya tidak harus benar. Yang terakhir ini jelas terlihat jika kita memperhatikan segitiga tadi. Pembedaan ini sering kali terlihat dalam suatu penalaran. Perhatikan misalnya, pertanyaan “apakah Tuhan bereksistensi?” atau “dapatkah kita membuktikan eksistensi Tuhan?”. Jika yang dimaksudkan dengan istilah ‘eksistensi’ adalah terdapat dalam ruang dan waktu, maka jelaslah dengan pembatasan itu Tuhan tidak bereksistensi. Tetapi bukan itu yang dimaksudkan pernyataan tadi, karena hanya sedikit orang dewasa yang akan mengatakan bahwa Tuhan berdiam di suatu tempay tertentu. Pernyataan yang mengandung makna akan berbunyi, “apakah Tuhan itu nyata ada?” Perhatikan bahwa untuk membuktikan hal tersebut, kita membutuhkan bahan-bahan bukti yang berlainan macamnya daripada yang kita butuhkan untuk membuktikan eksistensi.5
G. Apakah Tuhan Itu?
Ketika Perang Dunia II ada suatu ungkapan yang popular bahwa di dalam lubang-lubang perlindungan tidak ada penganut ateisme. Makna yang dikandung
ungkapan itu kiranya menyebutkan bila seseorang terjebak dalam situasi yang membahayakan jiwanya, tentu ia mengakui adanya Tuhan. Dalam keadaan semacam itu orang merasakan betapa perlunya Tuhan, dan sebagai konsekuensinya harus mengakui adanya Tuhan. Memang sangat sederhana kedengarannya, namun sesungguhnya ini dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa dewasa ini masalah-masalah keagamaan kian lama kian menarik perhatian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Tuhan ‘ada’ ketika manusia membutuhkan sebuah keajaiban atau sesuatu diluar nalar manusia.
Islam mempunyai pemikiran tersendiri mengenai Tuhan, bahwasanya Tuhan adalah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikin rupa sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai olehNya. Perkataan dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup didalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberi kemaslahataan atau kegembiraan dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian. Menurut Ibnu Taimiyah Al-Ilah adalah yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepada-Nya merendahkan diri dihadapannya, takut dan mengharapkannya, kepadanya umat tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdoa dan bertawakal kepada-Nya dan menimbulkan ketenangan disaat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya.6
Satu hal yang patut disadari oleh para filsuf bahwasanya pembahasan tentang Ketuhanan haruslah dibatasi, karena akal manusia tidak akan sampai kepada ‘Yang Mutlak’, Dzat yang manusia sendiri tidak akan pernah temukan hakikatnya. Sejumlah pertanyaan yang saya yakin tidak akan ada seorangpun yang bisa menjawab, misalnya adalah “Bagaimana hakikatnya wujud Tuhan? Jika Tuhan benar adanya lantas mengapa tak seorangpun mengetahui keberadaannya?” Disini filsafat mencoba untuk menguraikan pemikiran-pemikiran tentang Tuhan melalui substansi Tuhan, dan eksistensi Tuhan dalam artian yang lain bahwasanya Tuhan dapat dilihat bukan dengan mata secara inderawi tetapi Tuhan dapat terlihat dengan menggunakan mata batin. Maka seseorang yang percaya akan Tuhan dapat melihat kehadiran Tuhan dengan menggunakan mata batinnya. Maka Tuhan ada sebagai substansi yang tidak membutuhkan atau mensyaratkan apa-apa, agar ‘Dia’ ada sendiri.
H. Sejarah Pemikiran Barat tentang Tuhan
Dalam literatur sejarah agama, dikenal teori evolusionisme, yaitu teori yg menyatakan adanya proses dari kepercayaan yang amat sederhana, lama kelamaan meningkat menjadi sempurna. Teori tsb mula-mula dikemukakan oleh Max Muller, kemudian dikemukakan oleh EB Taylor, Robertson Smith, Lubbock dan
Jevens. Proses perkembangan pemikiran tenteng Tuhan menurut teori evolusionisme adalah :
a. Dinamisme
Menurut paham ini, manusia sejak zaman primitif telah mengakui adanya kekuatan yang berpengaruh dlm kehidupan. Mula-mula sesuatu yang berpengaruh tersebut ditunjukkan pada benda. Setiap benda mempunyai pengaruh pada manusia, ada yang berpengaruh positif dan ada pula yang berpengruh negatif.
b. Animisme
Disamping kepercayaan dinamisme, masyarakat primitif juga mempercayai adanya peran roh dalam hidupnya. Setiap benda yang dianggap benda baik mempunyai roh. Oleh masyarakat primitif, roh dipercayai sebagai suatu yg aktif sekalipun bendanya telah mati.
c. Politeisme
Kepercayaan dinamisme dan dinamisme lama-lama tidak memberikan kepuasan, karena terlalu banyak yang menjadi sanjungan dan pujaan. Roh yang lebih dari yang lain kemudian disebut dewa. Dewa mempunyai tugas dan kekuasaan tertentu sesuai dengan bidangnya.
d. Henoteisme
Satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang disebut dengan Tuhan. Namun manusia masih mengakui Tuhan (ilah) bangsa lain. Kepercayaan satu Tuhan untuk satu bangsa disebut dengan Henoteime (Tuhan tingkat Nasional).
e. Monoteisme
Dalam monoteisme hanya mengakui satu Tuhan, satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat internasional. Bentuk monoteisme ditinjau dari filsafat Ketuhanan terbagi dalam 3 paham yaitu : deisme, panteisme dan teisme. Evolusioner dlm kepercayaan thd Tuhan sebagaimana dinyatakan oleh Max Muller dan EB.Taylor (1877), ditentang oleh Andrew Lang (1898) yang menekankan adanya monoteisme dalam masyarakat primitif. Dia mengemukakan bahwa orang-orang yang berbudaya rendah juga sama monoteismenya dengan orang-orang Kristen
I. Sejarah Pemikiran Islam tentang Tuhan
Pemikiran terhadap Tuhan yang melahirkan Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam, Ilmu Ushuluddin dikalangan umat Islam, timbul sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW. Secara garis besar, ada aliran yang bersifat liberal, tradisional, dan ada pula yang bersifat di antara keduanya. Aliran tersebut adalah:
a. Mu’tazilah
lahir sebegai pecahan dari kelompok Qadariah, sedang Qadariah adalah pecahan dari Khawarij.
b. Qadariah
Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan berbuat.
c. Jabariah
Aliran ini merupakan pecahan dari Murji’ah berteori bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam berkehendak dan berbuat. Semua tingkah laku manusia ditentukan dan dipaksa oleh Tuhan.7
J. Alam Sebagai Bukti Eksistensi Tuhan
Jika kita perhatikan secara mendalam tentang wujud alam yang sudah ‘ada’ sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Tentulah kita bertanya-tanya tentang asal mula adanya alam ini. Darimanakah bumi ini berasal? Tentu dibalik penciptaan bumi dan alam semesta terdapat kekuatan yang Maha Agung yang mampu menciptakan alam dan seisinya beserta keteraturannya. Matahari yang selalu terbit dari ufuk timur, planet yang selalu beredar tepat pada orbitnya. Keteraturan alam inilah yang selalu membuat kita berfikir akan Dzat ‘yang ada’ namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu.
Para filsuf mempunyai pemikiran tersendiri tentang darimana asalnya alam. Bagi Thales alam tidak mungkin dijadikan dari ketiadaan mutlak. Semua persoalan pada hakikatnya tidak lain dari perubahan. Karena itu diperkirakan adanya benda (materi) pertama yang asli dan menjadi sebab timbulnya semua yang ada adalah air. Karena ia berpendapat bahwasanya benda yang dapat berubah-ubah dan akan selalu berubaha adalah air.8
Pendapat lain dilontarkan oleh Anaximenes, baginya udara yang menjadi asal dari alam semesta ini. Manusia akan mati bila tidak bernafas. Menurutnya, karena pemadatan udara maka timbullah secara berurut-urut angina, air, tanah, batu. Dan sebaliknya, ketika udara menjadi encer atau cair maka timbullah api. Demikianlah udara menjadi anasir-anasir yang membentuk alam semesta.9
Sedangkan Xenophanes memiliki pandangan lain tentang asal mula adanya alam semesta. Ia membuang mitos-mitos Yunani yang berisikan pemikiran antropomorphisme. Ia mencemoohkan dewa-dewa mereka yang makan, beranak, dan mati. Ia mengatakan “Manusia sendiri yang mengadakan Tuhan (dewa-dewa) seperti bentuk mereka juga, yakni sapi atau singa”. Ia berkeyakinan bahwa tiada
7 Tuhan Yang Maha Esa Dan Ketuhanan, MMKPA Islam - academia.edu, 3 November 2017, 14.15 WIB
Tuhan selain Tuhan yang satu, yaitu wujud tertinggi, yang tidak tersusun seperti bentuk manusia.
Seperti yang dikemukan Fazlur Rahman, bahwa filsafat Islam mengemukakan doktrin kekekalan alam. Tetapi untuk memberikan keadilan kepada kesadaran beragama, ia menyatakan bahwa alam adalah efek abadi dari Tuhan, yang dengannya alam mempunyai hubungan unilateral dalam ketergantungan absolut. Dalam menyusun problem ini, filsafat mencari bantuan dari doktrin Neo-platonisme monistik tentang emanasi dan menolak teori Aristoteles tentang dualism antara Tuhan dan materi. Akhirnya, filsafat ini membuat pembedaan yang fundamental antara Tuhan dan alam, demi melunakkan konsep emanasi, dengan menguatkan kategori “pasti” dan “tergantung”. Tuhan adalah wujud yang pasti, sedang alam adalah wujud yang tergantung. Teologi menerima pembedaan ini dan membangun doktrin-doktrin lain diatasnya, yang sifatnya menolak doktrin kekekalan alam.10
Setelah menerima gagasan wujud yang mesti dan wujud yang tergantung, mereka menolak pembedaan obyektif terhadap eksistensi dan esensi. Ibnu Sina telah mengajarkan bahwa Tuhan memberikan eksistensi kepada esensi-esensi yang tidak bereksistensi karena Tuhan adalah eksistensi murni semata yang tidak memiliki sifat lain daripada Wajib al wujud.
Munculnya deisme pada abad modern sedikit banyak menyebabkan orang harus menelaah kembali relasi Tuhan dengan alam. Begitu juga dengan munculnya naturalisme yang beranggapan bahwa hokum alam diciptakan oleh alam sendiri. Sedangkan menurut paham deisme, Tuhan mungkin saja menciptakan alam ini, tapi setelah alam ini tercipta, Tuhan tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan alam, alam bisa beropersai secara otonom tanpa ulur tangan dan campur tangan Tuhan, begitu pula dengan munculnya paham materialis yang percaya bahwa yang prinsip atau yang fundamentalis adalah materi, sedangkan yang lain tercipta darinya. Tuhan tidak lagi dipandang sebagai pencipta, tetapi justru diciptakan oleh pikiran manusia.11
Sesuai dengan teologi Asy’ariah yang mendasarkan pemikiran teologi mereka kepada kehendak mutlak Tuhan, bagi Al-Ghazali, tercipta dan terselenggaranya alam ini adalah secara atomistic. Sistem ini disebut juga dengan teori atomisme. “Bahwa alam fisik dan alam mental, apa saja yang selain Tuhan terdiri dari jumlah tidak terbatas atom-atom. Atom-atom itu adalah wujud terakhir dan terurai dari alam, tidak menempati ruang, tidak berlangsung dalam waktu. Atom- atom itu sudah mempunyai sifat-sifat sendiri dan tidak dapat berkembang, tidak dapat saling mempengaruhi untuk berkembang menjadi satu substansi. Antara atom yang satu dengan atom yang lain terdapat vakum tanpa kontiniutas. 10 K. Bertens, Panorama Filsafat Modern, Gramedia, Jakarta, 1987, hal. 180-181
Begitu diciptakan lalu dimusnahkan kembali.” Kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa pada saat penciptaan Tuhan mencurahkan aksiden ada kepada atom. Kemudian saat atom tidak ada ada sebagian orang yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan aksiden peniadaan sehingga atom itu musnah.
Mari kita gunakan api sebagi permisalan, api tidak mempunyai kekuatan untuk membakar kapas. Namun, ketika api dipertemukan dengan kapas saat itulah Tuhan menyertakan kekuatan sementara dalam diri bapi untuk membakarnya. Api, dalam proposisi ini, tidak mempunyai kekuatan untuk membakar baik sebelum ataupun sesudahnya.
Menurut teologi Asy’ariah, Tuhan tidak tunduk kepada siapapun,Tuhan bersifat absolut dalam kehendak dan kekuasaan-Nya. Tuhan tidak terikat kepada janji-janji, norma-norma keadilan, dan lain-lain. Tetapi konsep ini berbeda dengan konsep Mu’tazilah yang menganut teologi hokum alam. Bagi Mu’tazilah, kekuasaan mutlak Tuhan telah dibatasi oleh norma-norma keadilan yang kalau dilanggar membuat Tuhan bersifat tidak adil dan dibatasi pula oleh nature atau hukum alam (sunnah Allah) yang tidak mengalami perubahan.
Doktrin atomisme memang berfungsi untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan ada dan aktif dalam segala kejadian dan alam dunia ini akan menjadi suatu kekacauan (chaos) jika tidak desertai kehadiran Tuhan. Dilihat dari sudut pandang ini, atomisme merupakan pengingat akan kehadiran Tuhan. Orang harus merasa bahwa logika iman berbeda dengan logika biasa karena memandang segala sesuatu bukan dengan mata biasa tetapi dengan mata iman. Imannya itu bukan suatu pemikiran yang alamiah melainkan suatu persetujuan “supra natural” yaitu apa yang secara alamiah benar, tampak aneh di mata orang yang tidak berimanyang hanya mengikuti pemikiran duniawi. Menurut perspektif ini, orang yang tidak beriman berpikir dalam pemikiran horizontal sedangkan orang yang beriman berpikir dalam pemikiran vertical menuju jalan lurus. Transfaransi ilahiyah hal-hal duniawi disebabkan karena Tuhan ada dimana-mana dan benar-benar hadir memberikan kepada keimanan semacam misteri maupun mu’jizat yang menjadikan orang-orang beriman sebagai makhluk yang ditandai dengan hal-hal yang bersifat supra natural. Dari sudut pandang metafisika, ini tidak begitu diperlukan, sebab akal mempunyai sumber-sumber lain, tetapi dari sudut pandang teologis pendapat ini merupakan tanda kemenangan. 12
Bagi Al-Ghazali, api membakar bukan karena mempunyai sifat membakar tetapi kehendak mutlak Tuhan agar bisa membakar. Jika Tuhan tidak menghendaki api untuk membakar, maka api tidak akan membakar, jadi api tidak selamanya membakar.Semua akibat yang ditimbulkan oleh sebab, semata-mata karena kehendak mutlak Tuhan, bukan suatu kemestian kausalitas.
Ibn Rusyd mengkritik argument Al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Tahafut. Sebagai komentator Aristoteles yang membagun epistemologinya dengan logika Aristoteles, Ibn Rusyd melihat dampak negative dalam serangan Al-Ghazali terhadap kausalitas. Hubungan antara sebab dan akibat, menurutnya merupakan hubungan yang niscaya (suatu kemestian) bukan hubungan mungkin. Hal ini berarti jika ada sebab pasti ada akibatnya. Misalnya api membakar jika menyentuh kapas, minum akan menghilangkan haus. Karena setiap benda mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan benda-benda lain.
Jika teori kausalitas filosofis diterima, maka dikhawatirkan akan timbul pemahaman bahwa Tuhan tidak lagi ikut campur secara aktif mengatur alam. Tuhan akan pension (deus otisius) karena tidak mempunyai pekerjaan lagi begitu selesai menciptakan alam raya. Mekanisme yang diperlukan agar alam dan seisinya bergerak secara teratur dan menuruti hukum sebab akibat, ini yang dicemaskan.13Jika sekiranya teori kausalitas ditolak, kenyataannya realitas hokum
kausalitas memang ada, bahkan dalam ilmu pengetahuan yang berkembang pesat ini menjadi perekat bangun sebuah ilmu. Ketegangan ini di dunia Timur Sunni Al-Ghazali, sementara di dunia Barat konsepsi kausalitas dengan tegas dikembangkan oleh Averroisme.
K. Aliran Dalam Konsep Ketuhanan
Seperti yang telah kita singgung sebelumnya, sekiranya, para filsuf mempunyai cara pandang dan hasil pemikiran yang berbeda tentang kosmologi, namun adanya alam semesta beserta keteraturannya menunjukkan adanya Dzat Yang Maha Agung dalam pembentukan serta pengaturan alam dan seisinya. Karena terdapat hubungan yang erat antara penciptaan alam dan Tuhan.
Aliran-aliran dalam konsep ketuhanan berbicara atau mengungkap bagaimana posisi Tuhan, apakah Ia imanen atau transenden. Ada berbagai pandangan manusia tentang Tuhan, yakni: teisme, deisme, panteisme, dan penenteisme. Para penganut aliran ini sepakat tentang Tuhan sebagai Zat Pencipta. Namun, mereka berbeda tentang cara berada, aktivitas, dan hubungan Tuhan dengan alam. Dalam aliran ini pun, terdapat beberapa pandangan yang dipelopori oleh tokoh yang berbeda latar belakangnya.
I. Eksistensi Tuhan Dalam Perspektif Deisme
Aliran deisme yaitu suatu paham atau aliran yang meyakini bahwa Tuhan jauh berada diluar alam. Tuhan menciptakan alam dan memperhatikan alam tersebut. Alam telah dilengkapi dengan peraturan-peraturan berupa hukum-hukum alam yang tetap dan tidak berubah, sehingga secara mekanis akan berjalan dengan sendirinya. Tuhan ibarat pembuat jam (the clookmaker) yang tidak campur tangan lagi dalam proses bergeraknya setelah jam itu selesai dibuat. Seorang Deis tidak
memandang suatu buku sebagai wahyu tuhan dan tidak ikut serta dalam sembahyang kelompok/individual karna ia tidak mau menyembah kepada Tuhan yang tidak hadir. Disebutkan bahwa karena alam berjalan sesuai dengan mekanisme tertentu yang tidak berubah-ubah, maka dalam deisme tidak terdapat konsep mukjizat-kejadian yang bertentangan dengan hukum alam. Begitu juga wahyu dan doa dalam deisme tidak diperlukan lagi. Tuhan telah memberikan akal kepada manusia, sehingga dia mampu mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk. Jadi menurut deisme manusia dan akalnya mampu mengurus kehidupan dunia. Para penganut teisme sepakat bahwa Tuhan Esa dan jauh dari alam. Serta Maha Sempurna. Mereka juga sependapat bahwa tidak melakukan interfensi pada alam lewat kekuatan supernatural. Bagaimanapun, tidak semua peganut deis setuju tentang keterlibatan Tuhan dalam dan kehidupan sesudah mati. Menurut Amsal Bakhtiar, atas dasar perbedaan tersebut deisme dapat digolongkan atas empat tipologi, seperti:
a. Tuhan tidak terlibat dengan peraturan alam. Dia menciptakan alam dan memprogramkan perjalanannya tetapi dia tidak menghiraukan apa yang telah terjadi atau apa yang akan terjadi setelah penciptaan.
b. Tuhan terlibat dengan kejadian-kejadian yang sedang berlangsung di alam tetapi bukan mengenai perbuatan moral manusia. Manusia memiliki kebebasan untuk berbuat baik atau buruk dan lain sebagainya. Semuanya itu bukan urusan Tuhan.
c. Tuhan mengatur alam dan sekaligus memperhatikan perbuatan moral manusia. Sesungguhnya Tuhan ingin menegaskan bahwa manusia harus tunduk pada hukum moral yang telah Tuhan tetapkan dijagad raya. Bagaimanapun, manusia tidak akan hidup sesudah mati. Ketika seorang mati, maka kehidupannya berakhir.
d. Tuhan mengatur alam dan mengharapkan manusia mematuhui hukum moral yang berasal dari alam. Pandangan ini berpendapat bahwa kehidupan setelah mati. Seseorang berbuat baik akan dapat pahala dan berbuat jahat akan dapat hukuman. Sumbangan pemikiran yang konstruktif terhadap pemikiran keagamaan seperti antara lain: dalam kosepssi deisme adalah peranan akal dikedepankan dalam memahami problem-problem agama secara lebih kritis misalnya tentang kedudukan akal dalam membedakan mana mu’jizat yang sebenarnya dan mana mu’jizat yang sebenarnya. Dengan akal, seseorang mampu membedakan antara keterangan yang benar dengan yang tidak benar. Dalam konsep deisme alam berjalan secara sinerji. Keteraturan alam menurut keyakinan kepada pengatur yang terampil. Dari konsep ini disme mengakui adanya pengatur yang Maha Sempurna, yaitu Tuhan.
Walaupun deisme memberi masukan yang konstruktif terhadap pemikiran keagamaan, deisme tidak luput dari kelemahan-kelemahan seperti antaran lain:
a. Paham atau aliran deisme menolak mukjizat padahal deisme mengakui bahwa Tuhan yang menciptakan alam dari tiada. Maksudnya Tuhan mampu menciptakan air dari tidak ada kenapa deisme menolak kemampuan Tuhan menjalankan seseorang diatas air. Pikiran ini dianggap tidak masuk akal karena masalah yang lebih besar dan berat, Tuhan mampu melakukannya apalagi hal yang lebih kecil, kata pengkritik deisme.
saja hasil ciptaan-Nya terbengkalai. Dengan demikian, Tuhan selalu dekat dengan makhluk-Nya agar selalu berjalan sesuai dengan petunjuk-Nya. 14
II. Eksistensi Tuhan Dalam Perspektif Teisme
Paham teisme yang menjadi rujukan bagi semesta pandangan penganut alirankepercayaan dan kebatinan merupakan pandangan yang menyatakan bahwaeksistensi Tuhan dalam posisi transeden maupun imanen sekaligus terhadap alamciptaan-Nya. Selain itu Tuhan juga dipandang sebagai wujud pribadi (God aspersonal Being) yang menciptakan, pemelihara dan mengatur alam semesta ini.Dalam kaitan ini, Charles Hogde, menyatakan bahwa “theism is the doctrine of anextra-mundane, personal God, creator, preserver and Gavernor of the world”.
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa posisi Tuhan dalam kaitannya dengan ciptaan-Nya bersifat Transenden sekaligus Imanen. Pengertian transenden secara garis besarnya sering dipahami sebagai sesuatu (Tuhan) yang berada jauh di luar alam (beyond the world), artinya, Tuhan tidak bersifat imanen (in the world). Namun, dalam memahami kedua terminologi ini perlu juga diperhatikan secara serius, mengingat kedua istilah tersebut sering dipahami secara berbeda antara sudut pandang kefilsafatan dengan teologi. Dalam pandangan kefilsafatan, istilah transenden dipahami sebagai sesuatu yang berada jauh di luar alam
(beyond the world absolutely), sedangkan dalam perspektif teologi, istilah transenden dalam kaitannya dengan posisi Tuhan (Transcendence of God), meskipun Tuhan berada jauh tetapi senantiasa memiliki hubungan dengan dekat dengan makhluk ciptaan-Nya. Dengan perbedaan sudut pandang ini seolah-olah terhadap Dua karakteristikTuhan, yakni Tuhan para filosof dan Tuhan para teolog.
Dalam teism diyakini bahwa Tuhan adalah Personal God. Kenyakinan ini memang agak sulit dipertahankan dalam rumusan logika yang jelas. Apakah personalitas Tuhan itu benar-benar sama atau berbeda. Kalau sama maka kita terjebak dalam semangat tashbih (antropomofisme ketuhanan), tetapi sebaliknya jika personalitas Tuhan itu berbeda sama sekali dengan makhluk-Nya, maka karakteristik dan atribusi personalitas tersebut tidak dapat dipahami oleh manusia karena tidak memiliki padanannya (reference meaning). Dalam kaitan ini maka Thomas Aquinas membuat rumusan teologi dengan dasar analogi. Dikatakan bahwa atribusi Tuhan dapat dipahami dengan cara univok maupun equivok. Univok mengandaikan pemahaman bahwa antara atribut Tuhan dan manusia sama, sedangkan equivok adalah pemahaman yang menyatakan bahwa antara atribut Tuhan dan manusia berbeda sama sekali. Maka, jalan yang bisa dipergunakan untuk memahami atribut personalitas Tuhan hanya dengan cara analogi. Yakni, sifat atau atribut Tuhan satu sisi dapat disamakan dengan atribut
dan sifat personalitas manusia, tetapi di sisi yang lain atribut atau sifat personalitas Tuhan tersebut berbeda dengan atribut atau sifat personalitas manusia. Dengan demikian personalitas Tuhan ini dapat dipahami dalam kaitannya dengan pola hubungan antara Tuhan sebagai sesembahan dengan hamba sebagai penyembah. Hubungan personal tidak akan terjadi apabila kepada Tuhan diberi sifat tashbih
dan tanzih secara berlebihan. Yang dimaksud tashbih adalah menyerupakan Tuhan dengan makhluk-Nya, sedangkan tanzih adalah kebalikan tashbih berarti menjauhkan Tuhan dari sifat-sifat yang sama dengan makhluknya. Demikianlah persoalan personalitas Tuhan yang merupakan salah satu sifat yang dilekatkan pada Tuhan oleh paham teism. Adapun sifat-sifat yang lain seperti pencipta, pemelihara, dan penguasa alam.15
III. Eksistensi Tuhan Dalam Perspektif Panteisme
Panteisme terdiri atas tiga kata yaitu pan berarti seluruh, theo yang berarti Tuhan, dan isme berarti paham. Jadi, pantheism atau panteisme adalah paham bahwa seluruhnya Tuhan. Panteisme berpendapat bahwa seluruh alam ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah seluruh alam. Benda-benda yang dapat ditanggap oleh panca indra adalah bagian dari Tuhan. Manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda mati adalah bagian dari Tuhan. Tuhan dalam panteisme ini sangat dekat dengan alam. Tuhan dalan panteisme adalah imanen dan ini sangat bertolak belakang dengan Tuhan dalam deisme. Karena seluruh kosmos ini satu, maka Tuhan dalam panteisme juga satu. Hanya saja, Tuhan dalam panteisme mempunyai penampakanpenampakan atau cara berada Tuhan di alam. Tuhan dalam panteisme disamping Esa juga Maha Besar, dan tidak berubah. Alam indrawi yang kelihatan berubah adalah ilusi atau khayal belaka karena selalu berubah. Adapun wujud yang hakiki hanya satu, yakni Tuhan. Dalam Islam paham ini dikenal dengan nama wahdat al-wujud (kesatuan wujud) yang dikemukakan oleh Ibn al-‘Arabi. Namun antara paham wahdat al-wujud dan panteisme disamping memiliki persamaan keduanya juga memiliki perbedaan. Dalam panteisme alam adalah Tuhan dan Tuhan adalah alam, sedangkan dalam wahdat al-wujud alam bukan Tuhan, tetapi bagian dari Tuhan. Karena itu dalam aliran wahdat al-wujud alam dan Tuhan tidak identik, sedangkan dalam panteisme identik. 16
Sewajarnya sebuah konsep, panteisme juga memiliki kelebihan dan tidak sarat akan kekurangan. Adapun kelebihannya antara lain:
1. Panteisme diakui menyumbangkan suatu pemikiran yang menyeluruh (holistik) tentang sesuatu, tidak hanya bagian tertentu saja.
15 Eksistensi Tuhan Dalam Pandangan Aliran Kepercayaan Dan Kebatinan, http://digilib.uinsby.ac.id, 5 November 2017, 13.50 WIB
2. Panteisme menekannkan imanensi Tuhan, sehingga seseorang selalu sadar bahwa Tuhan selalu dekat dengan dirinya. Dengan demikian, dia mampu mengontrol diri dan berusaha berbuat sesuai dengan ketentuan Tuhan.
3. Panteisme menegaskan bahwa seseorang tidak mampu memberi batasan terhadap Tuhan dengan bahasa manusia yang terbatas.
Kelemahan dari konsep panteisme ini antara lain:
1. Menurut panteisme yang radikal, manusia adalah Tuhan, sedangkan Tuhan dalam pandangan ini tidak berubah dan abadi. Kenyataannya, manusia berubah dan tidak abadi. Karena itu, bagaimana manusia menjadi Tuhan?. Manusia berubah, sedangkan Tuhan tidak berubah.
2. Panteisme mengatakan bahwa alam ini adalah maya bukan hakiki.
3. Jika Tuhan adalah alam dan alam adalah Tuhan, mak tidak ada konsep kejahatan atau tidak ada kemutlakan akan kejahatan dan kebaikan.
Kritik terhadap panteisme berasal dari para tokoh agama dan kritikan tersebut dikarenakan panteisme tidak memperhatikan moral dan mukjizat. Yang mana mukjizat bagi panteisme mustahil terjadi karena semua adalah Tuhan dan Tuhan adalah semua. Kalau mukjizat diartikan sebagai peristiwa yang menyalahi hukum alam, maka hal itu tidak berlaku bagi panteisme sebab Tuhan identik dengan alam.
IV. Eksistensi Tuhan Dalam Perspektif Panenteisme
Istilah panenteisme pertamakali diperkenalkan oleh filsuf idealis Jerman yakni Karl Friedrich Christian Krause (1781-1832).Panenteisme kelihatannya mirip dengan panteisme, tetapi berbeda dalam pandangan tentang Tuhan. Panteisme menegaskan semua adalah Tuhan, tetapi panenteisme berpandangan bahwa semua di dalam Tuhan, maksudnya adalah:
1. Tuhan ada dan meresap kedalam alam.
2. Tuhan tidak dipandang sebagai pencipta melainkan sebagai penggerak alam semesta
3. Alam semesta adalah bagiannya dari Tuhan. 4. Alam semesta ada di dalam Tuhan.
5. Tuhan bekerja sama dengan alam. 6. Tuhan tergantung kepada alam.
7. Terdiri atas dua kutub ( aktual dan potensial)
8. Tidak terbatas pada kutub potensial dan terbatas pada kutub aktual.
bahwa Tuhan terdiri atas dua kutub. Yakni kutub potensi yaitu Tuhan yang abadi, tidak berubah, dan transenden. Beserta kutub aktual yaitu Tuhan yang berubah, tidak abadi, dan imanen.
Menurut Whitehead salah seorang pelopor panenteisme, ia mengklasifikasikan Tuhan dalam tiga konsep, yaitu:
1. Konsep Asia Timur tentang tatanan yang impersonal yang sejalan dengan alam. Tatanan ini mengatur sendiri dalam alam: alam tidak tunduk pada suatu aturan. Konsep tersebut menegaskan imanasi.
2. Konsep Semit tentang suatu zat yang personal yang eksistensinya adalah realitas metafisik yang tertinggi, absolut, dan mengatur alam. Konsep ini menegaskan trandensi Tuhan.
3. Konsep panteistik yang sudah tergambar dalam konsep Semit. Namun, panteisme berbeda dalam memandang alam. Alam bagian yang terpisah dari Tuhan dan bersifat maya. Realitas hanya Tuhan dan dalam beberapa hal, alam menampakkan diri Tuhan. Doktrin ini adalah puncak dari monisme.
Persis dengan panteisme yang berupa konsep, panenteisme juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan tersebut antara lain:
1. Para penganut panenteisme dianggap berjasa dalam memahami realitas secara utuh. Mereka menganggap bahwa pendekatan parsial tentang realitas tidaklah cukup. Sebaliknya, mereka telah mengembangkan suatu pandangan rasional dan koheren tentang semua yang ada. Singkatnya, mereka telah membangun suatu pandangan dunia yang utuh.
2. Panenteisme berhasil menjelaskan hubungan Tuhan dan alam secara mendalam tanpa menghancurkan salah satunya.
3. Panenteisme mengakui teori-teori baru dalam ilmu teknologi karena hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip dasar mereka.
Kekurangan dari panenteisme terungkapkan melalui kritikan yang cukup tajap dari penganut teisme, antara lain:
1. Ide tentang satu Tuhan yang sekaligus terbatas dan tidak terbatas, mungkin dan tidak mungkin, absolut dan relatif adalah suatu kerancuan berfikir. Contohnya, gelas itu berisi air dan tidak berisi air dalam waktu yang sama adalah sesuatu yang bertentangan.
2. Ide tentang Tuhan sebagai wujud yang disebabkan oleh diri sendiri menimbulkan problem. Sulit untuk mengakui suatu wujud mampu menyebabkan dirinya sendiri. Hal ini sama dengan meyaki bahwa baja dengan sendirinya bisa menjadi pesawat terbang.
sesuatu itu berubah, tanpa adanya standard yang digunakan untuk mengukur perubahan?.
4. Para pendukung panenteisme dihadapkan pada suatu dilema. Mereka meyakini Tuhan meliputi semua jagat raya dalam waktu yang sama. Namun, mereka jug meyakini Tuhan terbatas dalam ruang dan waktu. 17
L. Penutup
Masalah Ketuhanan merupakan masalah yang masih banyak ditelusuri hakikatnya. Namun, taka ada seorangpun yang mampu mengetahui tentang hakikat Tuhan yang sebenarnya, karena kuasa Tuhan diluar kuasa manusia, dan mustahil bagi manusia dapat sampai kepada Dzat Yang Maha Agung.
Namun, para filsuf tetap berusaha menelusuri tentang Tuhan, bukat Dzatnya dan syariatnya tetapi dengan melakukan pendekatan terhadap Tuhan melalui ciptaan-ciptaannya serta pengaruh kebatinan yang dihasilkan dari sebuah keyakinan yang disebut ‘iman’. Yang diantara bukti eksistensi Tuhan adalah bumi dan seisinya serta alam semesta dengan segala keteraturannya.
Dari berbagai pendekatan yang dilakukan para filsuf, terdapat berbagai pemikiran yang dihasilkan dari pandangan filsafatis setiap filsuf yang menghasilkan aliran-aliran dalam konsep ketuhanan.
Pada hakikatnya ‘God does Exist’ adalah suatu pernyataan yang benar, tanpa harus dipertanyakan tentang wujudNya karena indera mata manusia tidak bisa melihat Tuhan dalam ruang dan waktu, tetapi dapat dilihat dan dirasakan melalui mata kebatinan. Karena hakikatnya, wujud Tuhan adalah wajib al-wujud, yang artinya Tuhan pasti ada dan tidak bergantung, dan ciptaannyalah (termasuk di dalamnya manusia, alam dan ciptaan lainnya) yang bergantung kepada Dzat yang pasti.
Daftar Pustaka
Q-Anees Bambang, Filsafat Untuk Umum, Prenada Media, 2003
O.Kattsoff Louis, Pengantar Filsafat, Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, 2004
Konsep Ketuhanan Dalam Islam, diakses dari https://currikicdn.s3-us-west-2.amazonaws.com, 2 November 2017, 21.35 WIB
Tuhan Yang Maha Esa Dan Ketuhanan, MMKPA Islam - academia.edu, 3 November 2017, 14.15 WIB
Hamersma Harry, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Gramedia Pustaka, Jakarta, 1992
Nasution Harun, Al-Ghazali Tidak Mengharamkan Filsafat, Wawancara dalam Pesantren, No.3, Vol.VIII, 1991
Bertens K., Panorama Filsafat Modern, Gramedia, Jakarta, 1987
Asy’arie Musa, Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir, LESFI, Yogyakarta, 1999
Steenbrink Karel, “Dari Kairo hingga Kanada” dalam Refleksi
Hadimulyo, “Harun Nasution dan Realitas Sosial” dalam Panji Masyarakat, 624, 1989
Baharudin M., Konsep Ketuhanan Sepanjang Sejarah Manusia
Eksistensi Tuhan Dalam Pandangan Aliran Kepercayaan Dan Kebatinan, http://digilib.uinsby.ac.id, 5 November 2017, 13.50 WIB
Panteisme-Panenteisme, https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents, 5 November 14.20 WIB