• Tidak ada hasil yang ditemukan

files792219. BUKU TINJAUAN TAHUN 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "files792219. BUKU TINJAUAN TAHUN 2014"

Copied!
186
0
0

Teks penuh

(1)

1 Berbagai kejadian krisis kesehatan akibat bencana terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2014. Berdasarkan data Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan tercatat sebanyak 456 kali kejadian bencana. Bencana alam masih mendominasi dengan 227 kejadian, selanjutnya bencana non alam 197 kejadian dan bencana sosial, 32 kejadian, dengan frekuensi tertinggi pada bencana banjir, 88 kejadian.

Data Dibandingkan dengan tahun 2013

Diceritakan mengenai isi buku secara ringkas, pembagian isi buku/pengklasifikasian bab Dicantumkan sumber rujukan, metode pengumpulan data,

Kejadian bencana besar diceritakan secara ringkas saja. Jenis kejadian bencana yang memiliki dampak cukup besar.

Awal tahun 2014, terjadi banjir bandang dan longsor yang menerjang sejumlah kota

dan kabupaten di Sulawesi Utara, pada 15 Januari 2014. Daerah tersebut antara lain,

Kota Manado, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara,

Minahasa Tenggara, Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Sitaro

Kejadian erupsi gunung api juga banyak terjadi sepanjang tahun 2014. Mulai Gunung

Sinabung di Tanah Karo, Sumatera Utara, pada 1 Februari 2014, mengakibatkan

17 orang meninggal, terkena awan panas, Gunung Kelud di Kabupaten Kediri, Jawa

Timur, Gunung Slamet di Jawa Tengah dan erupsi Gunung Api Sangeang yang terletak

di Pulau Sangeang, Kecamatan Wera, Bima, Nusa Tenggara Barat.

Akhir tahun 2014, bencana besar kembali terjadi. Tanah longsor yang menimbun Desa

Jemblung, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah pada Jumat 12

Desember, diperkirakan 108 orang tertimbun material longsor, 97 korban ditemukan

meninggal. Jelang tutup tahun, 28 Desember, terjadi kecelakaan transportasi udara

jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 rute Surabaya-Singapura di perairan Selat Karimata

(2)

2 Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi risiko bencana, baik oleh pemerintah, masyarakat maupun dunia usaha. Pengurangan risiko bencana sudah menjadi fokus perhatian para pelaku penanggulangan bencana nasional dan internasional. Paradigma baru dalam penanggulangan bencana, berbagai permasalahan bencana memerlukan kerjasama dan dukungan semua pihak dalam penanggulangannya, terutama dalam upaya mengembangkan budaya pengurangan risiko bencana, sehingga dapat dilaksanakan secara terarah dan terpadu. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 13 Oktober sebagai hari peringatan Pengurangan Risiko Bencana yang sudah dimulai sejak tahun 1989. Peringatan tersebut merupakan salah satu cara untuk mempromosikan budaya pengurangan risiko bencana, termasuk pencegahan bencana, mitigasi dan kesiapsiagaan pada masyarakat.

Ditambahkan permasalahan yang menonjol dalam upaya PKK.

Upaya DRR dilakukan dengan lesson learnt kejadian bencana sebelumnya, yg dapat

diperoleh dari buku ini

Untuk meningkatkan efektifitas penanggulangan bencana terpadu melalui koordinasi dan kolaborasi dilakukan dengan pendekatan klaster. Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan ditunjuk oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai koordinator klaster kesehatan yang mengkoordinir beberapa sub klaster kesehatan, antara lain sub klaster pelayanan kesehatan, gizi, kesehatan ibu dan anak, kesehatan reproduksi, kesehatan jiwa, sanitasi dan air bersih dan Disaster Victim Investigation

(DVI). 8 sub Klaster

(3)

3 suatu kebijakan.

1.1. TUJUAN

A. Tujuan umum:

Tersedianya informasi kejadian dan upaya penanggulangan krisis kesehatan tahun 2014

B. Tujuan khusus:

Tersedianya informasi:

a. Krisis Kesehatan di Indonesia tahun 2014 meliputi frekuensi kejadian krisis kesehatan, korban (meninggal, hilang, luka/dirawat, dan pengungsi) serta fasilitas kesehatan yang rusak.

b. Upaya penanggulangan krisis kesehatan oleh Kementerian Kesehatan di tingkat nasional baik pada pra, saat tanggap darurat maupun pasca krisis kesehatan serta permasalahannya.

c. Upaya Kementerian Kesehatan dalam kesiapsiagaan bidang kesehatan pada acara khusus.

1.2.DASAR HUKUM

a. Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 21 tahun 2008 tentang

Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.

d. Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana

e. Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non-Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana.

(4)

4 h. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 876/MENKES/SK/XI/2006 tentang Kebijakan dan

Strategi Nasional Penanganan Krisis dan Masalah Kesehatan Lain.

i. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 374/MENKES/SK/V/2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional;

j. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan

k. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 77 tahun 2014 tentang Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan.

l. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 36 tahun 2014 tentang Penilaian Kerusakan, Kerugian dan Kebutuhan Sumber Daya Kesehatan Pasca Bencana

1.3. RUANG LINGKUP

Tinjauan penanggulangan krisis kesehatan tahun 2014 menggambarkan kejadian krisis kesehatan akibat bencana di Indonesia dan upaya penanggulangannya baik pada saat pra krisis kesehatan, saat tanggap darurat krisis kesehatan maupun pasca krisis kesehatan, yang terjadi selama tahun 2014 serta peran Kementerian Kesehatan dan lintas sektor terkait dalam upaya penanggulangan krisis kesehatan.

Informasi yang disajikan mencakup:

1. Frekuensi kejadian krisis kesehatan berdasarkan jenis bencana;

2. Korban dan pengungsi yang meliputi korban meninggal, hilang, luka/dirawat; 3. Kerusakan fasilitas kesehatan;

4. Upaya yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan lintas sektor terkait dalam penanggulangan krisis kesehatan ;

(5)
(6)

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan izin dan karunia-Nya penyusunan Buku Tinjauan Penanggulangan Krisis Kesehatan Tahun 2014 dapat diselesaikan. Buku ini menggambarkan kejadian krisis kesehatan akibat bencana yang terjadi selama tahun 2014 baik akibat bencana alam, non alam dan sosial meliputi frekuensi, jumlah korban dan kerusakan fasilitas kesehatan yang diakibatkan. Buku ini juga memaparkan upaya penanggulangan krisis kesehatan yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada tahap pra, saat dan pasca krisis kesehatan.

Buku Tinjauan Penanggulangan Krisis Kesehatan Tahun 2014 ini disusun berdasarkan data dan laporan kejadian krisis kesehatan dari Dinas Kesehatan Provinsi Kabupaten/Kota dan PPK Regional/Sub Regional yang dikumpulkan oleh Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan selama tahun 2014.

Kita harapkan berbagai kejadian krisis kesehatan akibat bencana yang terjadi selama tahun 2014 dan upaya penanggulangannya dapat kita jadikan bahan pembelajaran, evaluasi serta masukan bagi para pengambil kebijakan dalam untuk menentukan arah dan kebijakan upaya penanggulangan krisis kesehatan di tahun-tahun berikutnya.

Kepada semua pihak yang telah berpastisipasi dalam penyusunan buku ini kami mengucapkan terima kasih. Semoga Buku Tinjauan Penanggulangan Krisis Kesehatan Tahun 2014 ini bermanfaat dalam mewujudkan upaya penanggulangan krisis kesehatan yang lebih baik.

Jakarta, Maret 2014

Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan

(7)

GAMBARAN KEJADIAN

KRISIS KESEHATAN

(8)

alam dan sosial. Selama tahun 2014 telah terjadi 456 kali kejadian bencana, terdiri dari bencana alam 227 kejadian (50%), bencana non alam 197 kejadian (43%) dan bencana sosial 32 kejadian (7%). Pada Bab III ini akan dibahas secara terperinci kejadian krisis kesehatan yang diakibatkan 3 jenis bencana tersebut.

Dibandingkan dengan data tahun 2013

Kejadian krisis kesehatan selama tahun 2014 paling banyak terjadi pada Bulan Januari sebanyak 54 kejadian (12%). Kejadian krisis kesehatan paling sedikit terjadi pada Bulan Juni sebanyak 25 kejadian (5%). Dari Grafik 3.7 terlihat bahwa fluktuasi

jumlah kejadian krisis kesehatan setiap bulan berkisar antara 25 – 54 kali kejadian

krisis kesehatan.

Grafik 3.1

Jumlah Kejadian Krisis Kesehatan Tahun 2014

(9)

longsor, banjir dan tanah longsor, erupsi gunung api, gempa bumi, angin puting beliung, banjir lahar dingin dan gelombang pasang.

Bencana non alam yang terjadi selama tahun 2014 adalah kebakaran pemukiman, kebakaran hutan, kabut asap, kecelakaan transportasi (darat,laut dan udara), ledakan, kegagalan teknologi, kecelakaan industri dan KLB penyakit.

Bencana sosial yang terjadi selama tahun 2014 adalah konflik sosial.

Gambar 3.1

(10)

Bulan Februari 2014

Grafik 3.2

Jumlah dan Proporsi Kejadian Krisis Kesehatan Berdasarkan Jenis Bencana Tahun 2014

Kejadian bencana yang paling sering terjadi pada Tahun 2014 tidak jauh berbeda dibandingkan dengan kejadian bencana Tahun 2013, yaitu banjir dan kecelakaan transportasi. Pada Tahun 2014 tercatat kejadian krisis kesehatan akibat banjir sebanyak 88 kejadian atau 19% dari jumlah total kejadian krisis kesehatan di Tahun

227; 50%

197; 43%

32; 7%

Alam

Non Alam

(11)

kejadian krisis kesehatan akibat bencana banjir sebanyak 118 kejadian (27,1%) dan kecelakaan transportasi sebanyak 55 kejadian (12,6%).

Untuk lebih jelasnya frekuensi kejadian krisis kesehatan berdasarkan jenis bencana di Indonesia pada Tahun 2014 dapat dilihat pada Grafik 3.2.

Grafik 3.3

Frekuensi dan Persentase Kejadian Krisis Kesehatan Berdasarkan Jenis Bencana Tahun 2014

(12)

88 kejadian, diikuti oleh Provinsi Jawa Tengah sebanyak 50 kejadian, Provinsi Jawa Timur sebanyak 47 kejadian dan Provinsi DKI Jakarta sebanyak 39 kejadian. Provinsi dengan frekuensi kejadian paling sedikit adalah Provinsi DI Yogyakarta dan Gorontalo masing-masing sebanyak 1 kejadian. Provinsi yang tidak mengalami kejadian krisis kesehatan selama tahun 2014 adalah Provinsi Sulawesi Barat dan Provinsi Kalimantan Utara.

Grafik 3.4

Jumlah Kejadian Krisis Kesehatan Berdasarkan Provinsi

(13)

Keterangan : (frekuensi kejadian)

3.3. FREKUENSI JENIS KRISIS KESEHATAN BERDASARKAN PPK REGIONAL/SUB

REGIONAL

PPK Regional yang memiliki frekuensi kejadian krisis kesehatan tertinggi selama tahun 2014 adalah PPK Regional DKI Jakarta sebanyak 150 kejadian (33%), terdiri dari Provinsi Lampung 9 kejadian, Provinsi DKI Jakarta 39 kejadian, Provinsi Banten 10 kejadian, Provinsi Jawa Barat 88 kejadian dan Provinsi Kalimantan Barat 4 kejadian. PPK Regional dengan frekuensi kejadian krisis kesehatan paling sedikit

adalah PPK Sub Regional Papua dengan 12 kejadian (3%).

(14)

PPK Regional/Sub Regional

Gambar 3.4

Kerusakan Rumah Penduduk Akibat Erupsi Gunung Api Kelud di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur

0 20 40 60 80 100 120 140

160 150(33%)

51(11%) 49(11%) 47(10%) 43(9%)

(15)

dibandingkan pada Tahun 2013. Pada Tahun 2013 terjadi 436 kejadian krisis kesehatan, sedangkan pada Tahun 2014 terjadi 456 kejadian krisis kesehatan. Kejadian krisis kesehatan pada Tahun 2014 yang frekuensinya cukup besar adalah sebagai berikut :

A. Banjir

Bencana banjir merupakan jenis bencana yang paling banyak meyebabkan kejadian krisis kesehatan selama tahun 2014 dengan 88 kali kejadian (19%).

Jika dibandingkan dengan frekuensi kejadian krisis kesehatan yang diakibatkan oleh bencana banjir di tahun 2013 sebanyak 118 kejadian, terjadi penurunan frekuensi bencana banjir pada tahun 2014 sebanyak 30 kejadian (25%). Bencana banjir selama tahun 2014 terjadi di setiap bulan, dengan frekuensi tertinggi pada bulan Januari sebanyak 28 kejadian diikuti bulan Desember sebanyak 15 kejadian. Salah satu penyebabnya adalah pada bulan Desember dan Januari musim hujan mencapai puncaknya dengan curah hujan yang tinggi. Selain di bulan Januari dan

Desember, frekuensi kejadian banjir cenderung menurun antara 2 – 10 kejadian

per bulan.

Grafik 3.6

Frekuensi Kejadian Banjir Tahun 2014

(16)

Barat sebanyak 15 kejadian.

Grafik 3.7

Frekuensi Banjir berdasarkan Provinsi pada Tahun 2014

Gambar 3.5

Banjir di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah Bulan Februari 2014

0 2 4 6 8 10 12 14

16 15

11 9

8 6

5 5 4

3 3 3 3 3

2 2

(17)

Bulan Januari 2014

B. Kecelakaan Transportasi

Jumlah kejadian kecelakaan transportasi selama tahun 2014 sebanyak 74 kejadian (16%), meliputi kecelakaan transportasi darat 35 kejadian, kecelakaan transportasi udara 4 kejadian, kecelakaan transportasi laut 30 kejadian, kecelakaan transportasi sungai 3 kejadian dan kecelakaan transportasi danau 2 kejadian. Frekuensi kecelakaan transportasi mencapai puncaknya pada bulan April dan Juli masing-masing sebanyak 12 kejadian.

Grafik 3.8

(18)

Grafik 3.9

Jenis Kecelakaan Transportasi Tahun 2014

Frekuensi kejadian kecelakaan transportasi tertinggi selama tahun 2014 terjadi di Provinsi Jawa Barat sebanyak 15 kejadian, terdiri dari 14 kecelakaan transportasi darat dan 1 kecelakaan transportasi danau.

Grafik 3.10

Kecelakaan Transportasi Tahun 2014 Berdasarkan Provinsi

(19)

C. Tanah Longsor

Tanah longsor terjadi sebanyak 57 kali selama tahun 2014. Selama tahun 2014

frekuensi kejadian tanah longsor berfluktuasi antara 1 – 10 kejadian dengan

frekuensi tertinggi terjadi pada bulan Desember sebanyak 10 kejadian.

Grafik 3.11

Frekuensi Kejadian Tanah Longsor Tahun 2014

Selama tahun 2014 bencana tanah longsor terjadi di 13 provinsi, dengan frekuensi terbanyak di provinsi Jawa Barat sebanyak 29 kejadian (51%), diikuti oleh provinsi Jawa Tengah sebanyak 9 kejadian (16%)

(20)

Gambar 3.7

Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah Desember 2014

Gambar 3.8

Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah Desember 2014

0 5 10 15 20 25 30

9

3 3 3 2 2

(21)

Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah Desember 2014

D. Keracunan

Selama tahun 2014 terjadi 39 kejadian keracunan, meliputi keracunan makanan (34 kejadian), keracunan minuman (2 kejadian) dan keracunan gas (3 kejadian). Frekuensi kejadian keracunan tertinggi terdapat pada bulan Desember sebanyak 6

kejadian. Kejadian keracunan makanan massal sering terjadi akibat

(22)

mengakibatkan keracunan pegawai yang menghirup gas tersebut.

Grafik 3.13

Kejadian Keracunan Tahun 2014

Kejadian keracunan selama tahun 2014 terjadi di 11 provinsi. Frekuensi keracunan terbanyak terdapat di provinsi Jawa Barat sebanyak 14 kejadian (36%), terdiri dari 13 kejadian keracunan makanan dan 1 kejadian keracunan gas.

Grafik 3.14

Kejadian Keracunan berdasarkan Provinsi Tahun 2014

(23)

E. Angin Puting Beliung

Frekuensi kejadian angin puting beliung pada tahun 2014 mencapai 33 kejadian, terbanyak pada bulan Desember sebanyak 7 kejadian. Angin Puting Beliung tidak terjadi pada bulan Juni dan Juli 2014.

Grafik 3.15

Kejadian Angin Puting Beliung Tahun 2014

Kejadian angin puting beliung selama tahun 2014 terjadi di 14 provinsi, dengan frekuensi kejadian terbanyak terdapat di provinsi Jawa Timur sebanyak 6 kejadian (19%), diikuti oleh provinsi Jawa Tengah sebanyak 5 kejadian (15%).

Grafik 3.16

Kejadian Angin Puting Beliung berdasarkan Provinsi Tahun 2014

(24)

F. Erupsi Gunung Api

Selama tahun 2014 terjadi 6 kali Erupsi Gunung Api, yaitu :

1. Erupsi Gunung Api Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara

Erupsi gunung api Sinabung di tahun 2014 merupakan lanjutan dari erupsi tahun 2013. Terjadi 2 kali erupsi gunung api Sinabung selama tahun 2014 yaitu pada tanggal 1 Februari 2014 dan 9 Oktober 2014.

Secara keseluruhan erupsi gunung api Sinabung mengakibatkan jatuhnya korban meninggal sebanyak 52 orang, di mana 17 orang diantaranya akibat terkena awan panas pada erupsi tanggal 1 Februari 2014, sedangkan 35 korban meninggal lainnya merupakan pengungsi yang menderita penyakit kronis. Korban luka berat/rawat inap sebanyak 229 orang, sedangkan korban luka ringan/rawat jalan sebanyak 111.411 orang Jumlah pengungsi akibat erupsi gunung Sinabung mencapai 30.652 jiwa pada bulan Januari 2014.

Gambar 3.10

Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara

(25)

2. Erupsi Gunung Api Kelud di Provinsi Jawa Timur.

Setelah terakhir kali mengalami erupsi pada tahun 2006, Erupsi gunung api Kelud kembali terjadi pada tanggal 13 Februari 2014. Erupsi ini mengakibatkan muntahan abu vulkanik. Daerah terdampak meliputi Kab. Kediri, Kab. Malang, Kab. Blitar dan Kota Surabaya. Abu vulkanik muntahan erupsi gunung api Kelud juga mencapai Kab. Klaten, Kota Surakarta di Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi DI Yogyakarta.

Jumlah korban meninggal akibat erupsi gunung api Kelud sebanyak 16 orang, korban luka berat/rawat inap 75 orang, korban luka ringan/rawat jalan 18.183 orang dan pengungsi 211.600 jiwa.

Gambar 3.11

(26)

3. Erupsi Gunung Sangeang Api di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Gunung Sangeang Api yang berlokasi di Pulau Sangiang, Kab. Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat mengalami erupsi pada tanggal 30 Juni 2014 pukul 03.55 WITA. Sebelumnya gunung api ini tercatat pernah 3 kali mengalami erupsi, yaitu pada tahun 1512, 1989 dan 2012.

Tidak ada korban jiwa akibat erupsi ini, tetapi mengakibatkan terjadinya pengungsian sebanyak 130 jiwa yang merupakan penduduk pulau Sangiang.

Gambar 3.12

(27)

4. Erupsi Gunung Api Gamalama di Provinsi Maluku Utara

Gunung Api Gamalama yang berlokasi di Pulau Ternate, Provinsi Maluku Utara kembali mengalami erupsi pada tanggal 18 Desember 2014. Erupsi sebelumnya terjadi pada tahun 2011 dan 2012. Erupsi gunung api Gamalama berupa muntahan abu vulkanik. Daerah yang terdampak adalah Kota Ternate yang berada di 1 pulau dengan Gunung Api Gamalama.

Erupsi ini tidak mengakibatkan korban jiwa dan pengungsian, 11 orang yang sedang melakukan pendakian mengalami luka ringan/dirawat jalan.

G. KEBAKARAN HUTAN/KABUT ASAP

(28)

Frekuensi kejadian kebakaran hutan mencapai puncaknya pada bulan September dan Oktober, di mana 2 bulan tersebut merupakan puncak dari musim kemarau. Kebakaran hutan/Kabut Asap selama tahun 2014 terjadi di 8 provinsi, dengan frekuensi tertinggi Provinsi Kalimantan Tengah sebanyak 3 kejadian, diikuti dengan Provinsi Riau dan Sumatera Selatan masing-masing sebanyak 2 kejadian.

Grafik 3.17

Kejadian Kebakaran Hutan/Kabut Asap Tahun 2014

(29)

Gambar 3.13

Kabut Asap Akibat Kebakaran Hutan Yang Menyelimuti Kota Pekanbaru, Provinsi Riau

0 1 2 3

2

3

1 1

2

(30)

Yang Menyelimuti Kota Pekanbaru, Provinsi Riau

H. KONFLIK SOSIAL

Selain bencana alam dan non alam, bencana sosial kerap kali terjadi setiap tahun di Indonesia. Bencana sosial ini berupa konflik sosial antar warga, antar kelompok masyarakat serta antara masyarakat dan aparat pemerintah. Kejadian konflik sosial juga menimbulkan terjadinya krisis kesehatan akibat jatuhnya korban meninggal, luka berat, luka ringan dan pengungsian.

(31)

Kejadian konflik sosial selama tahun 2014 terjadi di 17 Provinsi, dengan frekuensi tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah dan Lampung, masing-masing sebanyak 4 kejadian (13%). Provinsi Sulawesi Tengah, Lampung, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan dan Maluku merupakan daerah rawan konflik sosial di mana setiap tahun terjadi konflik antar warga.

Grafik 3.20

Kejadian Konflik Sosial berdasarkan Provinsi Tahun 2014

(32)
(33)

BAB IV

GAMBARAN KORBAN

(34)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 1 Kejadian krisis kesehatan kerap kali menimbulkan permasalahan kesehatan yang diakibatkan jatuhnya korban manusia, baik korban meninggal, luka berat/rawat inap, luka ringan/rawat jalan, hilang dan pengungsian.

Untuk tahun 2014 jumlah korban akibat kejadian krisis kesehatan mencapai 1.699.247 orang, meningkat sebanyak 1.227.994 orang (260%) jika dibandingkan dengan jumlah korban kejadian krisis kesehatan tahun 2013.

Tabel 4.1

Korban Krisis Kesehatan Tahun 2013 dan 2014

NO KORBAN

JUMLAH

2013 2014

1 Meninggal 823 957

2 Luka Berat/ Rawat inap 2.748 1.932

3 Luka Ringan/Rawat Jalan 154.870 694.305

4 Hilang 192 391

5 Pengungsi 312.620 1.001.662

TOTAL 471.253 1.699.247

1. KORBAN MENINGGAL

a. Korban Meninggal Berdasarkan Jenis Kejadian Krisis Kesehatan

(35)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 2 transportasi sebanyak 282 orang atau turun sebanyak 50 orang (17%). Jumlah dan proporsi korban meninggal berdasarkan jenis kejadian krisis kesehatan dapat dilihat pada Grafik 4.1.

Grafik 4.1

Jumlah dan Persentase Korban Meninggal Berdasarkan Jenis Krisis Kesehatan Tahun 2014

Jenis kejadian krisis kesehatan yang menyebabkan korban meninggal paling sedikit di tahun 2014 adalah kebakaran hutan dan kecelakaan industri, masing-masing sebanyak 1 orang.

0 100 200 300

282(29%) 230(24%)

104(11%)

73(8%) 63(7%)

44(5%) 40(4%) 33(3%) 23(2%)

16(2%) 15(2%)

(36)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 3 Gambar 4.1

Korban Meninggal Akibat Awan Panas Erupsi Gunung Api Sinabung Di RSUD Kabanjahe, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara

(37)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 4 Gambar 4.2

Korban Meninggal Akibat Tanah Longsor di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah Bulan Desember 2014

b. Berdasarkan Provinsi

(38)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 5 Grafik 4.2

Jumlah dan Persentase Korban Meninggal Berdasarkan Provinsi Tahun 2014

(39)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 6 Gambar 4.3

Peta Korban Meninggal Tahun 2014

Keterangan : (jumlah korban meninggal)

c. Berdasarkan PPK Regional/Sub Regional

Jumlah korban meninggal terbanyak terdapat di Wilayah PPK Regional DKI Jakarta sebanyak 226 orang (24%), terdiri dari Provinsi Lampung 11 orang, Provinsi Jawa Barat 138 orang, Provinsi DKI Jakarta 46 orang, Provinsi Kalimantan Barat 20 orang dan Provinsi Banten 11 orang. Jumlah korban meninggal paling sedikit terdapat di Wilayah PPK Regional Bali sebanyak 29 orang (3%). Jumlah dan proporsi korban meninggal tahun 2014 berdasarkan PPK Regional/Sub Regional dapat dilihat pada Grafik 4.5. dan Grafik 4.6.

Grafik 4.3

Jumlah dan Persentase Korban Meninggal Berdasarkan PPK Regional/Sub Regional

(40)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 7

2. KORBAN LUKA BERAT/RAWAT INAP

a. Berdasarkan Jenis Kejadian Krisis Kesehatan

Korban luka berat/dirawat inap terbanyak disebabkan oleh Keracunan (makanan dan minuman) sebanyak 775 orang (40%). Keracunan makanan dan makanan ini biasanya terjadi pada acara massal, akibat menkonsumsi makanan dan minuman yang kadaluarsa atau mengandung bahan yang bersifat racun bagi tubuh.

Kecelakaan transportasi merupakan jenis kejadian krisis kesehatan yang menyebabkan korban luka berat/rawat inap terbanyak kedua selama tahun 2014 sebanyak 333 orang (17%). Kecelakaan transportasi meliputi kecelakaan transportasi darat, laut, udara, sungai dan danau.

Jenis kejadian krisis kesehatan yang menyebabkan jatuhnya korban luka berat/rawat inap paling sedikit selama tahun 2014 sebanyak 1 orang.

(41)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 8 Jumlah dan Persentase Korban Luka Berat/Rawat Inap Berdasarkan Jenis

Kejadian Krisis Kesehatan

Gambar 4.4

Pengungsi Korban Erupsi Gunung Api Sinabung yang dirawat inap di RS Efarina Etaham, Berastagi, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara

b. Berdasarkan Provinsi

0 100 200 300 400 500 600 700 800

775(40%)

333(17%) 316(17%)

153(8%) 118(6%)

79(4%) 53(3%) 43(2%) 23(1%) 16(1%) 12(1%)

(42)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 9 Provinsi yang memiliki jumlah korban luka berat/rawat inap akibat kejadian krisis

kesehatan terbanyak selama tahun 2014 adalah Provinsi Jawa Barat sebanyak 440 orang (23%), diikuti oleh Provinsi Sumatera Utara sebanyak 264 orang (14%).

Provinsi dengan jumlah korban luka berat/rawat inap paling sedikit adalah Provinsi DI Yogyakarta sebanyak 1 orang.

Provinsi yang tidak memiliki korban luka berat/rawat inap sebanyak 7 provinsi, yaitu Provinsi Gorontalo, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Kalimantan Utara, Provinsi Riau, Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sulawesi Barat.

Gambar4.5

Menteri Kesehatan RI mengunjungi korban erupsi Gunung Api Sinabung Yang dirawat inap di RS Efarina Etaham, Berastagi,

Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara

(43)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 10 Jumlah dan Persentase Korban Luka Berat/Rawat Inap Berdasarkan Provinsi

(44)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 11 Gambar 4.6

Peta Korban Luka Berat/Rawat Inap Tahun 2014

Keterangan : (jumlah korban luka berat)

Gambar 4.7

Korban Rawat Inap Akibat Bencana Banjir di Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah

(45)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 12

c. Berdasarkan PPK Regional/SubRegional

Korban luka berat/rawat inap akibat kejadian krisis kesehatan terbanyak terdapat di wilayah PPK Regional DKI Jakarta sebanyak 741 orang (38%), terdiri dari Provinsi DKI Jakarta 196 orang, Provinsi Lampung 31 orang dan Provinsi Banten 74 orang, sedangkan Provinsi Kalimantan Barat tidak memiliki korban luka berat/rawat inap.

Grafik 4.6

(46)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 13

3. KORBAN LUKA RINGAN/RAWAT JALAN

a. Berdasarkan Jenis Kejadian Krisis Kesehatan

Jenis kejadian krisis kesehatan yang paling banyak mengakibatkan korban luka ringan/rawat jalan adalah Erupsi Gunung Api sebanyak 279.705 orang (40,3%), terdiri dari Erupsi Gunung Gamalama 16 orang, Erupsi Gunung Sangeang Api 584 orang, Erupsi Gunung Sinabung 250.089 orang dan Erupsi Gunung Kelud 18.183 orang. Korban luka ringan/rawat jalan terbanyak kedua disebabkan oleh kebakaran hutan sebanyak 276.896 orang (39,8%). Kebakaran hutan yang terjadi di Provinsi Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Kalimantan Tengah mengakibatkan timbulnya kabut asap yang menggangu pernafasan dan menyebabkan penyakit ISPA.

Grafik 4.7

Jumlah dan Persentase Korban Luka Ringan/Rawat Jalan Berdasarkan Jenis Kejadian Krisis Kesehatan

(47)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 14 Gambar 4.8

Pengungsi Erupsi Gunung Api Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di Pos Kesehatan

0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 Erupsi Gunung Api

(48)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 15

b. Berdasarkan Provinsi

Korban luka ringan/rawat jalan terbanyak terdapat di Provinsi Sumatera Utara sebanyak 301.471 orang (43,4%), di mana 250.089 orang diantaranya merupakan korban luka ringan/rawat jalan akibat Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.

Grafik 4.8

(49)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 16 Provinsi yang tidak memiliki korban luka ringan/rawat jalan sebanyak 5 provinsi yaitu Provinsi DI Yogyakarta, Provinsi Bengkulu, Provinsi Sulawesi Barat, Provinsi Gorontalo dan Provinsi Kalimantan Utara.

Gambar 4.9

Korban Luka Ringan/Rawat Jalan Berdasarkan Provinsi Tahun 2014

(50)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 17 Keterangan :

c. Berdasarkan PPK Regional/Sub Regional

c. Berdasarkan PPK Regional/Sub Regional

Korban luka ringan/rawat jalan terbanyak terdapat di wilayah PPK Regional Sumatera Utara sebanyak 427.347 orang (61,5%), terdiri dari Provinsi Aceh 884 orang, Provinsi Sumatera Utara 301.471 orang, Provinsi Riau 124.990 orang dan Provinsi Kepulauan Riau 2 orang.

Grafik 4.10

Jumlah dan Persentase Korban Luka Ringan/Rawat Jalan Berdasarkan PPK Regional/Sub Regional

(51)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 18 Gambar 4.10

Korban Rawat Jalan Akibat Banjir di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat mendapatkan pelayanan kesehatan di Pos Kesehatan

(52)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 19 4. KORBAN HILANG

a. Berdasarkan Jenis Kejadian Krisis Kesehatan

Korban hilang yang paling besar disebabkan oleh kecelakaan transportasi (darat, laut, udara, sungai dan danau) sebanyak 316 orang (81%).

Grafik 4.11

(53)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 20

b. Berdasarkan Provinsi

Korban hilang akibat kejadian krisis kesehatan selama tahun 2014 terjadi di 15 provinsi dengan jumlah korban hilang terbesar terdapat di Provinsi Kalimantan Tengah sebanyak 171 orang (43,7%) yang 169 orang diantaranya akibat kecelakaan transportasi udara pesawat Air Asia QZ 8501 yang jatuh di Perairan Kab. Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah tanggal 28 Desember 2014.

Grafik 4.12 0

50 100 150 200 250 300

350 316(81%)

(54)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 21 Jumlah dan Persentase Korban Hilang Berdasarkan Provinsi

(55)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 22 Gambar 4.11

Peta Korban Hilang Tahun 2014

Keterangan :

c. Berdasarkan PPK Regional / Sub Regional

Korban hilang terbesar terdapat di wilayah PPK Regional Kalimantan Selatan sebanyak 171 orang (43,7%), yang seluruhnya diakibatkan oleh kecelakaan transportasi udara di perairan Selat Karimata, Provinsi Kalimantan Tengah. Korban hilang paling sedikit berada di wilayah PPK Sub Regional Sumatera Barat sebanyak 1 orang (1%). PPK Regional yang tidak memiliki korban hilang adalah wilayah PPK Regional Sulawesi Selatan.

Grafik 4.13

Jumlah dan Persentase Korban Hilang Berdasarkan PPK Regional/Sub Regional

(56)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 23

5. PENGUNGSI

a. Berdasarkan Jenis Kejadian Krisis Kesehatan

Pengungsi terbanyak pada tahun 2014 disebabkan oleh bencana banjir sebanyak 600.548 jiwa (59,9%) dan erupsi gunung api sebanyak 281.372 jiwa (28%).

0 20 40 60 80 100 120 140 160

180 171(43,7%)

75(19%)

47(12%)

29(8%) 29(7%)

15(4%) 13(3%) 11(3%)

(57)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 24 Grafik 4.14

Jumlah dan Persentase Pengungsi Berdasarkan Jenis Kejadian Krisis Kesehatan

b. Berdasarkan Provinsi

Jumlah pengungsi terbanyak pada tahun 2014 terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebanyak 308.460 jiwa (30,7%) yangdiakibatkan oleh bencana banjir.

0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 Banjir

(58)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 25 Grafik 4.15

Jumlah dan Persentase Pengungsi Berdasarkan Provinsi

(59)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 26 Gambar 4.12

Peta Pengungsi Tahun 2014

Keterangan :

c. Berdasarkan PPK Regional/ Sub Regional

Jumlah pengungsi paling besar berada di wilayah PPK Regional DKI Jakarta sebanyak 444.725 jiwa (44,3%), terdiri dari Provinsi Lampung 8.158 jiwa, Provinsi Banten 14.189 jiwa, Provinsi DKI Jakarta 308.460 jiwa, Provinsi Jawa Barat 113.918 jiwa.

Grafik 4.16

Jumlah dan Persentase Pengungsi Berdasarkan PPK Regional/Sub Regional

(60)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 27

Gambar 4.13

Pengungsi Korban Erupsi Gunung Api Sinabung Di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara

(61)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 28 Gambar 4.14

Pengungsi Korban Erupsi Gunung Api Sinabung Di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara

Gambar 4.15

(62)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 29 Gambar 4.16

(63)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 30 Gambar 4.17

(64)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 31 6. ANALISIS KORBAN KRISIS KESEHATAN TAHUN 2014

A. KORBAN MENINGGAL

Korban meninggal akibat kejadian krisis kesehatan selama tahun 2014 berjumlah 957 Orang. Jika dibandingkan dengan jumlah korban meninggal tahun 2013 sebanyak 823 orang, maka pada tahun 2014 ini jumlah korban meninggal akibat kejadian krisis kesehatan meningkat sebanyak 134 orang (16%).

Jenis kejadian krisis kesehatan penyebab korban meninggal terbanyak pada tahun 2014 sama seperti tahun 2013 yaitu kecelakaan transportasi (darat, laut, udara, sungai dan danau) sebanyak 282 orang atau 29% dari keseluruhan jumah korban meninggal. Selain kecelakaan transportasi, korban meninggal juga disebabkan oleh tanah longsor sebanyak 230 orang (24%). Kejadian tanah longsor yang mengakibatkan jumlah korban meninggal terbanyak adalah tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 12 Desember 2014 sebanyak 97 orang.

Erupsi Gunung Api menyebabkan korban meninggal sebanyak 104 orang (11%), terdiri dari erupsi Gunung Api Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara sebanyak 88 orang (17 orang diantaranya merupakan akibat langsung erupsi karena terkena awan panas), sebanyak 71 orang lainnya merupakan pengungsi yang menderita penyakit kronis dan meninggal dalam perawatan di rumah sakit. Erupsi Gunung Api Kelud di Kabupaten Kediri Jawa Timur mengakibatkan korban meninggal sebanyak 16 orang.

(65)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 32

B. KORBAN LUKA BERAT/RAWAT INAP

Korban luka berat/rawat inap akibat kejadian krisis kesehatan pada tahun 2014 berjumlah 1.932 orang. Jika dibandingkan dengan korban luka berat/rawat inap pada tahun 2013 sebanyak 2.748 orang,maka pada tahun 2014 ini terjadi penurunan jumlah korban luka berat/rawat inap sebanyak 816 orang (29%).

Jenis kejadian krisis kesehatan penyebab terbanyak korban luka berat/rawat inap pada tahun 2014 sama seperti tahun 2013 yaitu keracunan (makanan, minuman dan gas) sebanyak 775 orang atau 40% dari total jumlah korban luka berat/rawat inap. Keracunan makanan ini terjadi secara massal akibat mengkonsumsi makanan yang kadaluarsa atau mengandung racun pada acara hajatan. Orang-orang yang mengkonsumsi makanan tersebut mengalami gejala keracunan seperti sakit kepala, mual dan mutah sehingga perlu dirawat inap di rumah sakit. Untuk itu Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota perlu untuk meningkatkan pengawasan terhadap kualitas makanan yang disajikan untuk acara-acara massal tersebut.

Korban luka berat/rawat inap juga disebabkan oleh kecelakaan transportasi, erupsi gunung api, banjir, konflik sosial, tanah longsor dan kebakaran pemukiman.

Provinsi dengan korban luka berat/rawat inap terbanyak adalah Provinsi Jawa Barat sebanyak 440 orang atau 23% dari total jumlah korban luka berat/rawat inap.

C. KORBAN LUKA RINGAN/RAWAT JALAN

Korban luka ringan/rawat jalan akibat kejadian krisis kesehatan pada tahun 2014 berjumlah 694.305 orang. Jika dibandingkan dengan jumlah korban luka ringan/rawat pada tahun 2013 sebanyak 154.870 orang, maka pada tahun 2014 ini terdapat peningkatan sebanyak 539.435 orang (348%).

(66)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 33 Erupsi Gunung Api menyebarkan debu vulkanik mengakibatkan penyakit ISPA, Dermatitis dan Konjungtivitis. Selain itu korban luka ringan/rawat jalan juga disebabkan oleh kebakaran hutan, dimana asap yang ditimbulkan menyebabkan penyakit saluran pernafasan seperti ISPA, bronkhitis, pneumonia dan asma.

Korban luka ringan/rawat jalan juga terjadi akibat bencana yang menyebabkan terjadinya pengungsian seperti banjir, tanah longsor, erupsi gunung api dan banjir bandang. Pengungsian yang berlangsung lama disertai kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik menyebabkan warga yang mengungsi mudah terserang penyakit seperti ISPA, diare, hipertensi, gastritis, dermatitis dan anxietas. Para pengunsi yang terserang penyakit tersebut mendapatkan pelayanan kesehatan di pos kesehatan dilokasi pengungsian dan puskesmas terdekat.

D. KORBAN HILANG

Korban hilang akibat kejadian krisis kesehatan pada tahun 2014 berjumlah 391 orang. Jika dibandingkan dengan jumlah korban hilang pada tahun 2013 sebanyak 192 orang, maka pada tahun 2014 mengalami peningkatan sebanyak 199 orang (103%).

Korban hilang terbanyak pada tahun 2014 disebabkan oleh kecelakaan transportasi sebanyak 316 orang atau 81% dari keseluruhan jumlah korban hilang. Kecelakaan transportasi yang terbanyak menyebabkan korban hilang adalah kecelakaan transportasi udara di perairan selat Karimata Provinsi Bangka Belitung pada tangal 28 Desember 2014 dengan korban hilang sebanyak 169 orang.

(67)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 34

E. PENGUNGSI

Pengungsi akibat kejadian krisis kesehatan pada tahun 2014 berjumlah 1.001.662 jiwa. Jika dibandingkan dengan jumlah pengungsi akibat kejadian krisis kesehatan pada tahun 2013 sebanyak 471.253 orang, maka pada tahun 2014 ini mengalami peningkatan sebanyak 530.409 jiwa (112%).

Jumlah pengungsi terbanyak disebabkan oleh bencana banjir sebanyak 600.548 jiwa atau 60% dari total jumlah pengungsi. Banjir merendam rumah-rumah penduduk sehinga menyebabkan warga terpaksa mengungsi.

(68)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 35 Gambar 4.17

Pengungsi Korban Bencana Tanah Longsor Di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah

(69)

BAB V

GAMBARAN KERUSAKAN

(70)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 1

1. Jenis Kerusakan Fasilitas Kesehatan

Fasilitas kesehatan yang rusak akibat kejadian krisis kesehatan di tahun 2014 sebanyak 201

unit. Jika dibandingkan dengan jumlah fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan akibat

kejadian krisis kesehatan di tahun 2013 sebanyak 202, maka pada tahun 2014 ini terdapat

penurunan sebanyak 1 unit. Jenis fasilitas kesehatan yang paling banyak mengalami

kerusakan adalah Puskesmas yaitu sejumlah 66 unit (33%).

Grafik 5.1.

(71)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 2

Grafik 5.2.

Kerusakan Fasilitas Kesehatan Berdasarkan Jenis Krisis Kesehatan

Kejadian krisis kesehatan yang paling banyak menyebabkan kerusakan fasilitas

kesehatan adalah banjir. Kejadian banjir selama tahun 2013 telah menyebabkan

rusaknya 202 unit fasilitas kesehatan dengan proporsi terbesar adalah Puskesmas

Pembantu (Pustu) sebanyak 68 unit (34%), lalu diikuti oleh Polindes/Poskesdes

sejumlah 67 unit (33%). Banjir di Provinsi Jambi pada tanggal 8 Januari 2013 penyebab

terbanyak rusaknya fasilitas kesehatan, 55 unit.

Tabel 5.1.

Fasilitas Kesehatan yang Rusak Berdasarkan Jenis Kejadian Krisis Kesehatan

No. Fasilitas

Kesehatan

Jenis Kejadian Krisis Kesehatan

(72)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 3

4

Pustu 68 - 2 1 1 - -

5 Polindes/Poskesd

es 67 - 6 4 3 1 -

6

PKM - 2 - - - - -

7

Posyandu 11 - - - 1

8

Gudang Farmasi 2 - - - -

9 Rumdin

Puskesmas 1 - - - -

(73)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 4

Kerusakan fasilitas kesehatan paling banyak terjadi di Provinsi Jambi yaitu sebanyak

74 unit (30%). Selama periode Januari-Februari 2013, di beberapa Kabupaten di

Provinsi Jambi terjadi banjir yang menyebabkan rusaknya fasilitas kesehatan, dengan

rincian 4 unit puskesmas, 40 unit pustu, dan 30 unit polindes/poskesdes.

Grafik 5.3.

Kerusakan Fasilitas Kesehatan Berdasarkan Provinsi

3. Kerusakan Fasilitas Kesehatan Berdasarkan PPK Regional/Sub Regional

Fasilitas kesehatan yang paling banyak rusak terdapat di Regional Sumatera Selatan,

yaitu sebanyak 74 unit ( 30%), kesemuanya merupakan kerusakan yang terjadi di Provinsi

(74)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 5

Grafik 5.4

Kerusakan Fasilitas Kesehatan Berdasarkan Regional

4. Analisis Kerusakan Fasilitas Kesehatan Tahun 2013

Jenis fasilitas kesehatan yang paling banyak mengalami kerusakan selama tahun 2013

adalah polindes/poskesdes (33%), diikuti oleh puskesmas pembantu (29%). Kerusakan

tersebuat umumnya disebabkan oleh bencana banjir (118 kejadian). Fasilitas kesehatan

terendam menyebabkan rusaknya struktur bangunan dan beberapa peralatan kesehatan

sehingga tidak dapat digunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara

maksimal. Selain karena banjir, kerusakan fasilitas kesehatan juga disebabkan karena

banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi, angin puting beliung, erupsi gunung api,

(75)
(76)
(77)

BAB VI

(78)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 1

Upaya penanggulangan krisis kesehatan harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu

mulai dari saat sebelum terjadinya krisis, pada saat terjadinya dan setelah terjadinya krisis

kesehatan. Upaya yang dilakukan pada tahap pra krisis kesehatan meliputi upaya

pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan, pada saat terjadinya krisis kesehatan dengan

melakukan upaya tanggap darurat, serta pada pasca krisis kesehatan melakukan upaya

pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi.

Gambar 6.1

Upaya Penanggulangan Krisis Kesehatan

Siklus penanggulangan krisis diatas menggambarkan upaya penanggulangan krisis

kesehatan mulai tahap pra, saat dan pasca krisis. Upaya tersebut dilakukan pada semua

tahapan siklus manajemen penanggulangan krisis, yang membedakan pada besaran atau

(79)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 2

pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan, tapi upaya ini tetap dilakukan pada saat terjadinya

krisis dan pasca terjadinya krisis dengan porsi kegiatan yang lebih kecil. Demikian pula untuk

upaya tanggap darurat dan upaya pemulihan rehabilitasi dan rekonstruksi.

6.1. UPAYA PRA KRISIS KESEHATAN

Upaya yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2014 pada tahap

pra krisis kesehatan antara lain: penyusunan kebijakan, pedoman, peningkatan kapasitas

petugas kesehatan, pengembangan sistem informasi penanggulangan krisis kesehatan,

penyiapan logistik kesehatan, pemetaan kesiapsiagaan serta penyiapan anggaran

penanggulangan krisis kesehatan.

6.1.1. Penyusunan Kebijakan/Pedoman

Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Kementerian Kesehatan adalah menyusun

pedoman/kebijakan terkait penanggulangan krisis kesehatan. Selama tahun 2014 telah

dilakukan penyusunan kebijakan/pedoman/modul terkait penanggulangan krisis kesehatan

akibat bencana sebanyak 20 produk yang telah selesai disusun, berupa Peraturan Presiden,

Peraturan Menteri Kesehatan, Surat Keputusan Menteri Kesehatan, pedoman/petunjuk

teknis, modul pelatihan dan media informasi terkait penanggulangan krisis kesehatan.

Produk-produk tersebut dihasilkan Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, Pusat Promosi

Kesehatan, Direktorat Penyehatan Lingkungan, Direktorat Surveilans, Imunisasi, Karantina

dan Kesehatan Matra, Direktorat Bina Kesehatan Jiwa, Direktorat Kesehatan Ibu dan

(80)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 3

Tabel 6.1.

Pedoman/Kebijakan/Modul/SK terkait penanggulangan krisis kesehatan yang disusun oleh

Kementerian Kesehatan selama tahun 2014

No Unit Kerja Kebijakan/Pedoman/Modul/SK

1 Pusat

Penanggulangan Krisis Kesehatan

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 77 Tahun 2014 Tentang Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Penilaian Kerusakan, Kerugian dan Kebutuhan Sumber Daya Kesehatan Pasca Bencana

Surat Keputusan Tentang Penetapan Tim Koordinasi Pasca Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan

Pedoman Penanggulangan Krisis Kesehatan di Daerah Konflik (Dalam proses uji coba)

Draft Rancangan Peraturan Presiden Tentang

Penyelenggaraan Fasilitas Kesehatan Yang Aman Terhadap Bencana

Surat Keputusan No. HK.03.01//Tim/IX/SK/097/2014 Tentang Tim Reaksi Cepat Kementerian Kesehatan

Pedoman bantuan operasional penanggulangan bencana

Petunjuk teknis verifikasi klaim perawatan pasien korban bencana

Bahan media informasi penanggulangan krisis kesehatan

Buku saku petugas lapangan penanggulangan krisis kesehatan

Buku saku Peralatan Kesehatan Rumah Sakit Lapangan

2 PPK Sub Regional

Sumatera Barat

(81)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 4

3 Direktorat Bina

Upaya Kesehatan Rujukan

Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (dalam pembahasan di Biro Hukum dan Organisasi)

4 Direktorat

Penyehatan Lingkungan

Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Pada Situasi Kedaruratan

Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Kedaruratan Bidang Kesehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat

Pedoman Umum Fasilitasi Masyarakat di Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK)

Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Lingkungan

5 Direktorat

tentang Kelompok Kerja Penanggulangan Krisis Kesehatan

Bidang PP dan PL

Revisi SK Dirjen PP dan PL No HK.02.03/D/II.4/340/2014

tentang Penetapan UPT Ditjen PP dan PL sebagai Sentra

Regional Penanggulangan Krisis Kesehatan Dalam Bidang PP

dan PL

SK Dirjen PP dan PL Nomor: HK.02.03/D/II.4/338/2014 Tentang

Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Krisis Kesehatan Bidang

PP DAN PL

6 Pusat Promosi

Kesehatan

Pengembangan beberapa Media cetak berupa : leaflet, booklet, poster, buku tulis, komik anak-anak berisikan tentang PHBS di daerah pengungsian

Pengembangan media permainan anak-anak : ular tangga

Modul pemberdayaan masyarakat bagi petugas promkes di Puskesmas

Modul pemberdayaan masyarakat bagi Bidan di desa

7 Direktorat Bina

Kesehatan Ibu

(82)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 5

Kurikulum dan GBPP Pelatihan PPAM

8 Direktorat Bina

Kesehatan Jiwa

Penyusunan Kerangka Kerja Kesehatan Jiwa dan Dukungan Psikososial Penanggulangan Bencana

Kurikulum dan Modul PFA (Psychological First Aid) bagi Tenaga Kesehatan di Pelayanan Kesehatan Dasar

Keputusan Direktur Bina Kesehatan Jiwa Tentang

Pembentukan Narasumber Peningkatan Kapasitas Dukungan Psikologi Awal (PFA) Bagi Petugas Siaga Bencana

Provinsi Sumatera Barat : No. HK.02.04/VI.5/886/2014 Provinsi Jawa Timur : No.HK.02.04/VI.5/383/2014 Provinsi Sulawesi Utara : No. HK.02.04/VI.5/432/2014 Provinsi DKI Jakarta : No.HK.02.04/VI.5/809/2014 Provinsi Jawa Tengah : No.HK.02.04/VI.5/802/2014

9 Direktorat Bina Gizi Surat Keputusan Direktur Bina Gizi Nomor :

HK.00.06/B.V/0836/2014 tentang Pembentukan Tim Antisipasi KLB Gizi Buruk dan Kegiatan Gizi dalam Penanggulangan Bencana

Gambar 6.2.

(83)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 6

Gambar 6.3

(84)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 7

Gambar 6.4

Workshop Pedoman Bantuan Operasional Penanggulangan Bencana

Gambar 6.5

(85)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 8

(86)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 9

6.1.2. Peningkatan Kapasitas SDM

Pada tahun 2014 Kementerian Kesehatan telah melakukan upaya peningkatan kapasitas

tenaga kesehatan dalam penanggulangan krisis kesehatan, baik dalam hal manajemen

maupun teknis terdiri dari kegiatan peningkatan kapasitas, workshop dan geladi

penanggulangan krisis kesehatan. Sasaran peningkatan kapasitas adalah petugas

kesehatan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.Kegiatan tersebut

diselenggarakan oleh 5 unit kerja di Kementerian Kesehatan yaitu Pusat

Penanggulangan Krisis Kesehatan, Pusat Promosi Kesehatan, Direktorat Bina Kesehatan

Ibu, Direktorat Bina Kesehatan Jiwa dan Direktorat Bina Gizi.

Tabel 6.2

Peningkatan Kapasitas SDM Dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan

No Unit Kerja Jenis Kegiatan Jumlah Peserta

1 Pusat

Penanggulangan Krisis Kesehatan

Peningkatan Kapasitas Petugas Dalam Pengelolaan Data dan Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan

42 orang

Peningkatan Kapasitas Petugas Dalam Penggunaan Alat Komunikasi Untuk Penanggulangan Krisis

Kesehatan

59 orang

Peningkatan Kapasitas Tim Reaksi Cepat Kabupaten/Kota Dalam Melakukan Penilaian Cepat dan Pelayanan Kesehatan

38 orang

Pendampingan Penyusunan Rencana Kontinjensi Kesehatan

Kabupaten/Kota” tanggal 6 – 10

(87)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 10

No Unit Kerja Jenis Kegiatan Jumlah Peserta

November 2014 di Jayapura.

Peningkatan Kapasitas SDM Kesehatan dalam Manajemen Bencana Bidang Kesehatan tanggal

21 – 28 April 2014 di Bogor

44 orang

Peningkatan kapasitas petugas

pengelola PPK Regional/sub regional

dalam administrasi pergudangan 30 orang

Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (Internasional) Sektor Kesehatan (International Training Consortium on Disaster Risk Reduction - ITC-DRR) tanggal 20 s.d 26 Oktober 2014 di Kota Denpasar, Provinsi Bali

31 orang

2 PPK Regional

Sumatera Selatan

Peningkatan Kapasitas Petugas Kabupaten/Kota Dalam Penyusunan Rencana Kontinjensi Bidang

Kesehatan

30 orang

Geladi Penanggulangan Krisis Kesehatan Dalam Rangka Pemilihan Umum 2014

390 orang

3 PPK Sub Regional

Sumatera Barat

Pelatihan Manajemen Bencana Pelatihan Dasar SAR

Pelatihan Tim Reaksi Cepat (TRC) Pelatihan Teknis Tim

Penanggulangan Bencana

4 Direktorat

Penyehatan Lingkungan

Advokasi dan Sosialisasi PRA Kedaruratan Bidang Kesehatan Lingungan/KLB

250 orang

Bimbingan, Monitoring dan Evaluasi Penyehatan Kawasan Sanitasi Darurat

Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan

(88)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 11

No Unit Kerja Jenis Kegiatan Jumlah Peserta

Pelaksana Teknis Ditjen PP dan PL serta lintas sektor terkait di 13 kab/kota.

5 Pusat Promosi

Kesehatan

Pelatihan Pemberdayaan

Masyarakat untuk petugas promosi kesehatan, bidan desa dan kader desa

6 Direktorat

Kesehatan Ibu

Orientasi Pelayanan Kesehatan Reproduksi pada situasi bencana

71 orang

7 Direktorat Bina

Kesehatan Jiwa

Peningkatan kemampuan dukungan psikologis awal bagi petugas siaga bencana (PFA)

30 orang

Peningkatan kemampuan dukungan psikologis awal bagi petugas siaga bencana (PFA)

Sampai Implementasi (Dana WHO)

44 orang

8 Direktorat Bina

Gizi

Peningkatan Kapasitas Fasilitator dalam Tatalaksana Anak Gizi Buruk

24 orang

Pelatihan ToT Konselor Air Susu Ibu (ASI)

20 orang

Pelatihan Konselor Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA)

(89)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 12

Gambar 6.6

Peningkatan Kapasitas Petugas Kabupaten/Kota

Dalam Pengelolaan Data dan Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan

Gambar 6.7

Peningkatan Kapasitas Petugas Kabupaten/Kota

(90)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 13

Gambar 6.8

Peningkatan Kapasitas Petugas Kabupaten/Kota

Dalam Pengelolaan Data dan Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan

Gambar 6.9

Peningkatan Kapasitas Petugas Kabupaten/Kota

(91)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 14

Gambar 6.10

Peningkatan Kapasitas Petugas Kabupaten/Kota

Dalam Penggunaan Alat Komunikasi Untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan

Gambar

Peningkatan Kapasitas Petugas Kabupaten/Kota

Dalam Penggunaan Alat Komunikasi Untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan

Gambar

(92)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 15

Gambar

Peningkatan Kapasitas Tim Reaksi Cepat (TRC) Dalam Melakukan Penilaian Cepat dan Pelayanan Kesehatan

(93)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 16

Peningkatan Kapasitas Tim Reaksi Cepat (TRC) Dalam Melakukan Penilaian Cepat dan Pelayanan Kesehatan

Gambar

(94)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 17

Gambar

Peningkatan Kapasitas Tim Reaksi Cepat (TRC) Dalam Melakukan Penilaian Cepat dan Pelayanan Kesehatan

Gambar

(95)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 18

Gambar

(96)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 19

6.1.3.Pertemuan Koordinasi

Upaya penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilakukan secara

optimal apabila dilakukan secara terkoordinasi, terintegrasi dan terpadu antara

pelaku upaya penanggulangan krisis kesehatan.

Upaya penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat dilakukan dengan

koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di tingkat pusat dan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat Provinsi/Kabupaten/Kota.

Untuk memperkuat jejaring dan kerjasama dalam penanggulangan krisis kesehatan

perlu dilakukan pertemuan koordinasi dengan unit-unit lintas program di

Kementerian Kesehatan dan unit-unit lintas sektor terkait secara berkala dan

terus-menerus.

Pertemuan dan Penguatan Koordinasi Lintas Program dan Lintas Sektor Terkait

Penanggulangan Krisis Kesehatan yang Diselenggarakan Kementerian Kesehatan

(97)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 20

Tabel

Pertemuan Koordinasi Lintas Program dan Lintas Sektor

Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan tahun 2014

No Unit Organisasi Kegiatan Peserta

1 Pusat Penanggulangan

Krisis Kesehatan

Rapat Koordinasi Teknis I Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan

Regional dan Sub Regional

Tanggal 25 – 28 Maret 2014 di

Palembang, Sumatera Selatan

PPKK, Seluruh PPKK

Regional dan Sub

Regional

Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Gunung Slamet, Banyumas , Jawa Tengah, 21-23 Agustus 2014

Dinkes, BPBD, RSUD (Kab. Banyumas, Brebes, Tegal, Prubalingga, Pemalang), PPKK, PPKK Reg Jawa Tengah

Workshop Lintas Batas dan Lintas Negara dalam Rangka Koordinasi Kesiapsiagaan Penanggulangan

Krisis Kesehatan” tanggal s.d 4

Maret 2014 di Jakarta

Kementerian/lembaga terkait, Lintas Program Kementerian Kesehatan, Akademisi, lembaga-lembaga nasional maupun internasional, Swasta, RSUP/RSUD

Lokakarya Klaster Kesehatan Nasional tanggal 02 Oktober 2014 di Jakarta

Kementerian/lembaga terkait, Lintas Program Kementerian Kesehatan, Akademisi, lembaga-lembaga nasional maupun internasional dan swasta

Worskhop Pembentukan Forum Fasilitas Kesehatan yang Aman terhadap Bencana

Unit lintas program di Kemenkes, unit lintas

sektor, perwakilan

organisasi internasional,

Ikatan profesi, LSM,

dunia usaha serta

(98)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 21

No Unit Organisasi Kegiatan Peserta

Pertemuan Evaluasi Dalam Upaya Tanggap Darurat dan Pemulihan Penanggulangan Krisis Kesehatan

Unit Lintas Program Kemenkes, TNI, Polri, Kemensos, Kemenhub, BNPB, Universitas, NGO, PPK Regional dan Sub Regional, BPBD, Dinkes Provinsi, Dinkes Kab/Kota

Workhop Penyusunan Pedoman

Penyelenggaraan Fasilitas

Pelayanan Kesehatan Yang Aman

Unit Lintas Program Kemenkes, TNI, Polri, Kemensos, Kemendagri, Bapeten, BNPB, RSUD, RSUP, Universitas, NGO, PPK Regional dan Sb Regional, BPBD, Dinkes Provinsi, Dinkes Kab/Kota

Workshop Pembentukan Tim

Pasca Krisis Kesehatan

Kementerian Kesehatan

Unit Lintas Program Kemenkes

Workshop Integrasi Data

Penanggulangan Krisis Kesehatan

Unit Lintas Program Kementerian Kesehatan, BNPB, Kementerian Sosial, BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Informasi Geospasial

2

Direktorat Bina Upaya Kesehatan Rujukan

Rapat koordinasi penyusunan algoritme kegawatdaruratan

Dit. BUKR, Dinkes Provinsi DKI Jakarta, ARVI, Telkom

Rapat koordinasi pengembangan SPGDTS berbasis teknologi informasi

Dit. BUKR, Dinkes Provinsi DKI Jakarta, ARVI, Telkom

Pertemuan penggalangan komitmen Pemerintah daerah untuk mengintegrasikan pelayanan gawat darurat ke SPGDTS call center 119.

Dit. BUKR, Dinkes Provinsi, Dinkes

(99)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 22

No Unit Organisasi Kegiatan Peserta

Lokakarya Sistem Penanggulangan Kegawatdaruratan

Dit. BUKR, Dinkes Provinsi, RSUD, ARVI, Telkom

Pertemuan fasilitasi

pengembangan SPGDTS di 6 Provinsi (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, DIY, NTB dan Bali)

Dit. BUKR, Dinkes Provinsi DKI Jakarta, ARVI, Telkom

3

Direktorat Penyehatan Lingkungan

Pertemuan koordinasi

Penyehatan Kawasan dan Sanitasi Darurat

Dit. Penyehatan Lingkungan, Dinkes Kab/Kota

Pembinaan Kemitraan

Penyehatan Kawasan dan Sanitasi Darurat

BB/BTKL-PP, Dinas Kesehatan, Badan Lingkungan Hidup Daerah, PDAM dan instansi terkait

5 Direktorat Kesehatan Ibu

Pertemuan Koordinasi Review Kebutuhan Alat dan Obat Kit Kesehatan Reproduksi pada Situasi Bencana

Unit Lintas Program Kementerian Kesehatan , Organisasi Profesi,

UNFPA

Pertemuan Koordinasi

Pembahasan Bentuk Peraturan untuk Pengadaan Kit Kesehatan Reproduksi pada Situasi Bencana

Unit Lintas Program Kementerian Kesehatan , Organisasi Profesi,

UNFPA

Pertemuan Pembahasan Akreditasi Pelatihan Paket

Pelayanan Awal Minimum (PPAM) Kesehatan Reproduksi pada Krisis Kesehatan

Unit Lintas Program Kementerian Kesehatan , Organisasi Profesi,

UNFPA

Pertemuan Koordinasi

Pembahasan Standar Alat dan Bahan Kit Kesehatan Reproduksi pada Situasi Bencana

Unit Lintas Program Kementerian Kesehatan , Organisasi Profesi,

(100)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 23

No Unit Organisasi Kegiatan Peserta

6 Direktorat Bina Kesehatan Jiwa

Pertemuan Koordinasi terkait permasalahan kesehatan jiwa pada erupsi Gunung Sinabung

Dinas Kesehatan

Provinsi/Kab/Kota RS Jiwa Provinsi

CMHN (Community

Mental Health Nursing) Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi

Toma/Toga

Pertemuan Koordinasi terkait persiapan pelayanan kesehatan jiwa pada erupsi Gunung Kelud

Dinas Kesehatan

Provinsi/Kab/Kota RS Jiwa Provinsi

CMHN (Community

Mental Health Nursing) Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi

Toma/Toga

7 Direktorat Bina Gizi

Sosialiasi Surveilans Gizi dan Pemantauan Status Gizi di 34 provinsi dan 150 kab/kota

Direktorat Bina Gizi,

Dinkes Provinsi, Dinkes kab/kota, Poltekkes, dan lintas program terkait

(Badan Litbangkes,

Direktorat Kesehatan

Anak, Direktorat

Kesehatan Ibu, Pusat Data dan Informasi)

Sosialisasi Surveilans Gizi di 9 provinsi prioritas dan 64 kabupaten/kota

Direktorat Bina Gizi,

Dinkes Provinsi, Dinkes

kab/kota, dan lintas

program terkait (Badan

Litbangkes, Direktorat

Kesehatan Anak,

Direktorat Kesehatan

Ibu, Pusat Data dan Informasi)

Direktorat Simkarkesma Rapat Koordinasi Inventarisasi Kegiatan PP DAN PL Pada Erupsi Gunung Api Sinabung

(101)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 24

No Unit Organisasi Kegiatan Peserta

Rapat Koordinasi Revisi SK Kelompok Kerja Bencana PP DAN PL, Penetapan UPT Regional dan Tim Reaksi Cepat

Direktorat Jenderal PP DAN PL (5 Direktorat)

Gambar

Pertemuan Koordinasi Lintas Program dan Lintas Sektor

Gambar

(102)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 25

Gambar

Pertemuan Evaluasi Dalam Upaya Tanggap Darurat dan Pemulihan Penanggulangan Krisis Kesehatan

Gambar

(103)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 26

Gambar

(104)

PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 27

6.1.4. Penguatan Kerja Sama Lintas Program, Lintas Sektor dan Internasional Tabel

Penguatan Kerja Sama Lintas Program, Lintas Sektor dan Internasional Terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Tahun 2014

No Unit Organisasi Instansi Terkait Bentuk Kerjasama

1 Direktorat

BUKR

Pemerintah Daerah, Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat, Dinas Kesehatan Kab. Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kab. Tangerang, Kota Tangerang, Kab. Tangerang Selatan, Kab. Bekasi, dan Kota Bekasi.

Komitmen untuk integrasi ke SPGDTS call center 119

2 Direktorat

Penyehatan Lingkungan

BB/BTKL-PP, Dinas Kesehatan, Badan Lingkungan Hidup Daerah, PDAM dan instansi terkait

Pembinaan Kemitraan Penyehatan Kawasan dan Sanitasi Darurat

3 Pusat Promosi

Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi ( DKI

Jakarta, Sumatera Utara dan Jawa Barat)

PPKK

Direktorat Surveilans, Imunisasi , Karantina dan Kesehatan Matra

Dukungan teknis,

manajemen dan logistik

4 Direktorat

Kesehatan Ibu

United Nations Population Fund (UNFPA)

Pelatihan TOT Paket

Pelayanan Awal Minimum

(PPAM ) Kesehatan

Reproduksi Pada Krisis

Kesehatan untuk 9 Regional dan 2 Sub Regional PPK

Penyediaan RH Kit,

Pusat Krisis, Fakultas Psikologi UI Dukungan Narasumber pada

pelatihan Psychological First Aid (PFA) di 5 provinsi.

WHO Pembiayaan pelatihan

Gambar

Gambar 3.14
Grafik 3.19
Tabel 4.1
Grafik 4.1
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesiapsiagaan Sumber Daya Manusia Kesehatan dalam Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Bencana Banjir di Provinsi DKI Jakarta tahun 2010.Tesis.FKM-UI.. Profil

tenaga gizi menghadapi gizi darurat pada bencana di Kabupaten Aceh Besar.. Sebagai masukan bagi Pusat Penanggulangan Krisis

Lesson learnt upaya penanggulangan krisis kesehatan akibat banjir bandang di Kabupaten Garut, banjir bandang di Kota Bima dan gempa bumi di Kabupaten Pidie Jaya pada tahun

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat

Korban hilang akibat kejadian krisis kesehatan pada bulan Oktober 2014 terdapat di wilayah PPK Regional Jawa Timur sebanyak 62 orang (97%) yang diakibatkan

Penanganan krisis kesehatan akibat bencana memerlukan rencana aksi yang disusun berdasarkan koordinasi Instansi yang tergabung dalam organisasi Pusat Penanggulangan Krisis

Sebagian besar kejadian krisis kesehatan akibat bencana merupakan bencana hidrometeorologi (banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin siklon tropis, gelombang pasang, banjir,

Sehubungan dengan hal tersebut, dalam upaya penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana maka perlu dibuat sebuah pedoman peta jalur evakuasi pada daerah gunung