• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai Psychological Well Being Pada Pekerja Outsourcing Di PT X Di Surabaya - Ubaya Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai Psychological Well Being Pada Pekerja Outsourcing Di PT X Di Surabaya - Ubaya Repository"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

xiv

Nurul Alviana Rianti (5080073). Studi Deskriptif Mengenai Psychological Well-Being pada Pekerja Outsourcing di PT. X di Surabaya. Skripsi. Sarjana Strata 1. Surabaya : Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Laboratorium Psikologi Sosial (2012)

ABSTRAK

Dewasa ini, sistem outsourcing semakin kerap digunakan oleh berbagai perusahaan yang ada di Indonesia. Hal tersebut dilakukan demi melakukan efisiensi biaya produksi, salah satunya dengan menekan upah buruh. Sehingga, membuat banyak pekerja melakukan demo menuntut penghapusan sistem ini karena tidak memberikan kesejahteraan bagi para pekerja. Bila dikaitkan dengan aspek psychological well-being, mereka tidak memiliki tujuan hidup dan tidak dapat pula mengembangkan potensi yang mereka miliki, mengingat sistem outsourcing adalah sistem kontrak yang sewaktu-waktu bisa terjadi pemutusan kontrak secara sepihak. Tujuan dari penelitian ini yaitu menggambarkan psychological well-being pada pekerja outsourcing.

Subjek dalam penelitian ini berjumlah 200 orang pekerja outsourcing yang bekerja di PT. X di bagian 108. Pengambilan data menggunakan angket terbuka dan tertutup dengan metode snowball sampling. Data dianalisis secara deskriptif dengan distribusi frekuensi dan tabulasi silang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological well-being pekerja outsourcing penelitian ini sebagian berada dalam kategori yang tinggi. Hasil ini berbeda dengan hasil yang terdapat dalam angket terbuka bahwa 93 subjek mengungkapkan mereka terpaksa menjalani sistem outsourcing yang di berlakukan, sejumlah 160 subjek mengungkapkan mereka memiliki kekhawatiran mengenai status mereka khususnya dalam hal pemutusan kontrak. Sebanyak 135 subjek juga mengungkapkan bahwa dengan status mereka sebagai outsourcing, hak-hak normatif mereka tidak terpenuhi. Kesenjangan antara angket terbuka dengan angket tertutup dimungkinkan terjadi karena alat ukur psychological well-being yang digunakan dalam angket tertutup hanya menilai aspek-aspek umum saja dan belum masuk pada konteks pekerjaan. Oleh karena itu diharapkan agar bagi peneliti selanjutnya dapat memodifikasi angket psychological ell-being yang sesuai konteks pekerjaan, sehingga dapat menjelaskan hasil lebih jelas lagi sesuai dengan apa yang di ukur.

Referensi

Dokumen terkait

Bagi para lansia yang memiliki Psychological Well-Being tinggi agar mau terus aktif dalam kegiatan yang diadakan oleh panti, sehingga dapat lebih produktif, serta

Dari d ua puluh narapidana wanita di lembaga pemasyarakatan “X” Bandung terdapat 11 individu (55%) narapidana wanita yang mampu mandiri dalam mengatur kehidupannya dengan

Individu gay yang tinggi dalam dimensi ini digambarkan sebagai gay dewasa awal yang dapat mengarahkan dirinya untuk mengambil kesempatan bekerja sesuai dengan

Apabila lansia memiliki PWB yang tinggi, maka ia akan dapat menerima secara positif keadaan dirinya dan segala perubahan yang terjadi pada dirinya ketika menjadi seorang lansia,

Menurut Ryff, hasil evaluasi individu terhadap setiap pengalaman dalam hidupnya bahwa dirinya mampu untuk menerima segala kelebihan dan kelemahan diri apa adanya

[r]

Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa pada 20 mahasiswa angkatan 2005 Fakultas Psikologi di Universitas X memiliki kecenderungan yang bervariasi pada

Karyawan yang memiliki penghayatan cukup terhadap penghasilan perbulan sebanyak 59% memiliki psychological well-being yang tinggi. Karyawan level asisten yang memiliki