• Tidak ada hasil yang ditemukan

No. Kecamatan Luas (km2) % Kelurahan (bh) Desa (bh)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "No. Kecamatan Luas (km2) % Kelurahan (bh) Desa (bh)"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 1

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

2.1 Geografis, Administratif, dan Kondisi Fisik

Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), dengan luas wilayah 1.770,80 Km² atau 177.080 Ha, atau 4,57 % dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, merupakan kabupaten terkecil ke-4 dari 13 kabupaten/kota dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan ibu kotanya Barabai. Jarak ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah dengan ibu kota Provinsi Kalimantan Banjarmasin sejauh ± 165 kilometer.

Letak geografis Kabupaten Hulu Sungai Tengah berada pada 2°27’5.213” - 2°46’54.559” Lintang Selatan dan 115°8’ 56.965” - 115°53’ 32.520” Bujur Timur. Secara administratif, Kabupaten Hulu Sungai Tengah memiliki batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kab. Balangan

Sebelah Timur : Kab. Kotabaru

Sebelah Selatan : Kab. Hulu Sungai Selatan

Sebelah Barat : Kab. Hulu Sungai Utara

Kabupaten Hulu Sungai Tengah terdiri dari 11 kecamatan, 8 kelurahan dan 161 desa. Adapun luas masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1 Pembagian Administrasi dan Luas Wilayah Kecamatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah

No. Kecamatan Luas (km2) % Kelurahan (bh) Desa (bh)

1. Haruyan 101,36 5,72 - 17

2. Batu Benawa 54,52 3,08 - 14

3. Hantakan 208,49 11,77 - 12

4. Batang Alai Selatan 76,06 4,30 1 18

5. Batang Alai Timur 778,74 43,98 - 11

6. Barabai 40,74 2,30 6 12

7. Labuan Amas Selatan 97,80 5,52 1 17

8. Labuan Amas Utara 170,30 9,62 - 16

9. Pandawan 116,39 6,57 - 21

10. Batang Alai Utara 65,36 3,69 - 14

11. Limpasu 61,04 3,45 - 9

Jumlah 1.770,80 100,00 8 161

Sumber : Bappeda dan BPS Hulu Sungai Tengah 2009-2010

B

BB

AA

A

BB

B

2

22

g

g

g

a

a

a

m

m

m

b

b

b

a

a

a

r

r

r

a

a

a

N

N

N

u

u

u

m

m

m

u

u

u

m

m

m

w

w

w

ii

i

l

l

l

a

a

a

y

y

y

a

a

a

h

h

h

(2)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 2

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

(3)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 3

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Peta 2.2 Peta Admistrasi Kabupaten Hulu Sungai Tengah

(4)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 4

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah bila mengikuti pembagian satuan fisiografi secara regional, maka wilayah termasuk dalam satuan dataran rendah Kalimantan Bagian Tengah (Central Kalimantan

Lowlands), dan Pegunungan Meratus (Meratus Mountain). Dataran rendah Kalimantan bagian tengah ini,

secara subregional terbagi menjadi Satuan Rawa Barito (Barito Swamplands), Dataran dan Lereng Perbukitan Pegunungan Meratus (The Interior Plains and Foothills) . Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang tertinggi berada pada gugusan Pegunungan Meratus, yaitu Gunung Besar (Halau-halau) dengan ketinggian 1.892 m dpl, sekaligus sebagai titik tertinggi di Kalimantan Selatan.

Sedangkan berdasarkan kelerengan didominasi kelas lereng agak curam/sedang (15 – 25%) seluas 34,70%, landai/datar (8 – 15%) seluas 27,41%, sangat curam/sangat berat (> 45%) seluas 19,51%, berat/curam (25 – 45%) seluas 15,80%, dan sisanya datar sekali (0 – 8%) seluas 2,59%.

Tabel 2.2 Kelas Lereng Lahan Kabupaten Hulu Sungai Tengah

No. Kelas Lereng Luas (Ha) (%)

1. Datar sekali (0 – 8 %) 4.578 2,59 2. Datar (8 – 15 %) 48.541 27,41 3. Sedang (15 – 25 %) 61.443 34,70 4. Berat (25 – 45 %) 27.972 15,80 5. Sangat berat (> 45 %) 34.546 19,51 Jumlah 177.080 100,00

Jenis tanah di Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah didominasi oleh jenis tanah Podsolik Merah Kuning yang terletak di daerah berbukit/bergunung dan jenis tanah organosol yang terletak pada daerah datar berupa lahan persawahan. Jenis tanah dan luasan selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3 Jenis Tanah Kabupaten Hulu Sungai Tengah

No. Simbol Jenis Tanah Bahan Induk Fisiografi Luas (Ha) %

1 A - A/P Aluvial Bahan Aluvial Dataran 11.823 6,68

2 OHG - P/A Organosol Glei Humus Bahan Organik

Aluvial Dataran 54.225 30,62

3 RYP Podsolik Merah Kuning Batuan endapan Intrusi 30.465 17,20

4 RYP - I/1 Podsolik Merah Kuning Batuan Beku Intrusi 43.845 24,76

5 RYP/L/LI Komp. Pods. Mr-Kng

Lato - Lito Batuan endapan & Metamort Pegunungan patahan 31.500 17,79

6 L - Y/1 Latosol Batuan beku Volkan 5.222 2,95

(5)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 5

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

(6)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 6

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

(7)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 7

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Secara geologi posisi Kabupaten Hulu Sungai Tengah tidak berada pada pertemuan lempeng tektonik (Tectonic Plate) sehingga daerah ini sangat stabil karena tidak adanya kegiatan vulkanis. Struktur Geologi di Kabupaten Hulu Sungai Tengah terdiri atas beberapa jenis batuan sebagaimana pada tabel 2.4 dan peta 2.4.

Tabel 2.4 Formasi Batuan Kabupaten Hulu Sungai Tengah

Formasi Sandi Penyusun Endapan Luas (Ha)

Formasi Pudak Kap Extrusive: intermediate:

polymic

Volcanism: submarine 3.491

Formasi Haruyan Kvh Extrusive: mafic: lava Volcanism: submarine 13.854

Granit Kelai Kgr1 Intrusive: felsic Plutonism: sub-volcanic 27.518

Tonalit Sepauk Kls Intrusive: felsic: granitoid Plutonism: batholiths 2.970

Intrusi Sintang Toms Intrusive: intermediate Plutonism: sub-volcanic 11.090

Malihan Pinoh PzTRp Metamorphic: schist Metamorphism: regional:

high-grade

8.704

Ofiolit Jura Mub Ophiolite 3.136

Endapan alluvium Qa Sediment: clastic: alluvium Terrestrial: alluvial 56.535

Formasi Pitap Ksp Sediment: clastic: flysch Neritic 30.249

Formasi Warukin Tmw Sediment: clastic: sandstone Littoral: delta 18.353

Batu Nunggal Kpb/LAUT 1.180

Total Luas (Ha) 177.080

Sumber : Puslitbang Geologi

Berdasarkan sistem DAS, sebagian besar Kabupaten Hulu Sungai Tengah berada dalam

wilayah Sub-Sub DAS Batang Alai yang merupakan Sub-Sub DAS dari Sub DAS Negara dan DAS

Barito sebagai daerah tangkapan air sebelah barat Pegunungan Meratus dan DAS Sampanahan

sebagai daerah tangkapan air sebelah timur Pegunungan Meratus. Selengkapnya sebagaimana

tabel 2.5 dan Peta DAS berikut ini :

Tabel 2.5 DAS dan Sub DAS di Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah

No. DAS Sub DAS Sub-Sub DAS Luas (Ha)

1. Barito Negara Balangan

Batang Alai Amandit 13.990 121.765 3.520 2. Sampanahan - - 37.800 3. Manunggul - - 5 Jumlah 177.080

(8)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 8

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

(9)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 9

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

(10)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 10

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Sistem DAS yang akan berpengaruh terhadap sistem drainase yang pada akhirnya mempengaruhi sistem kegiatan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah adalah Sub-Sub DAS Batang Alai. Sungai yang mengalir pada Sub-Sub DAS Batang Alai ini adalah Sungai Batang Alai dan Sungai Barabai. Kedua sungai ini merupakan sungai utama/terbesar yang berfungsi sebagai sumber air untuk pengairan, air minum dan kebutuhan air lainnya bagi masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Air Sungai Batang Alai berasal dari arah Timur dan Utara ke arah Barat, yaitu dari kawasan hutan Pegunungan Meratus Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kabupaten Balangan kemudian mengalir ke sungai utama melalui wilayah Kecamatan Batang Alai Selatan (Birayang), Batang Alai Utara (Ilung), Kecamatan Pandawan (Kambat Utara – Kayu Rabah) lalu bermuara ke daerah rawa wilayah Kecamatan Labuan Amas Utara (Sungai Buluh – Mantaas). Pada musim kemarau debit air Sungai Batang Alai mencapai 10,6 m3/detik dan pada musim kemarau hanya 4,2 m3/detik.

Air Sungai Barabai mengalir dari Pegunungan Meratus di wilayah Kecamatan Hantakan melalui Kecamatan Batu Benawa dan melalui pusat Kota Barabai lalu bermuara daerah rawa Pahalatan - Danau Bangkau. Karena melalui Kota Barabai, maka aliran sungai ini sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat perkotaan Barabai, khususnya saat musim penghujan dimana aliran ini sering meluap dan penggenangi permukiman di Kota Barabai. Untuk mengurangi lama genangan banjir di wilayah Kota Barabai dibuat saluran yang memecah aliran Sungai Barabai di Pagat Kecamatan Batu Benawa menuju Sungai Pantai Hambawang Kecamatan Labuan Amas Selatan. Pada musim kemarau debit air Sungai Barabai lebih kecil dari Sungai Batang Alai, yaitu 6,2 m3/detik dan pada musim kemarau hanya 2,4 m3/detik.

Selain kedua sungai tersebut, masih terdapat sungai yang tidak terlalu bersar tetapi sangat berperan penting bagi masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah terutama wilayah Kecamata Labuan Amas Selatan dan Kecamatan Haruyan, yaitu Sungai Haruyan yang mengalir dari Pegunungan Meratus melalui Ibu Kota Kecamatan Haruyan. Aliran sungai ini sering juga meluap dan menggenangi pemukiman di Haruyan dan beberapa desa lainnya.

Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah merupakan daerah yang tergolong memiliki iklim tropika basah yang dicirikan dengan curah hujan tinggi. Menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson termasuk ke dalam tipe iklim B dengan nilai Q = 32,14%.

Jumlah curah hujan tahunan rata-rata dari tahun 2006 – 2010 adalah sebanyak 2.862 mm dengan jumlah hari hujan rata-rata sebanyak 108 hari/tahun dan intensitas suhu antara 21,19ºC sampai dengan 32,93º C.

Curah hujan yang terjadi selama tahun 2006 - 2010 rata-rata bulanan tertinggi terjadi pada bulan Desember (387 mm) dan yang terendah pada bulan Agustus (102 mm). Jumlah hari hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember sampai bulan Maret (12 – 14 hari) sebaliknya jumlah hari hujan terendah terjadi pada bulan Juli dan September (4-5 hari).

(11)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 11

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Tabel 2.6 Data Curah Hujan (mm) dan Hari Hujan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2006 – 2010 No. B u l a n 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-Rata CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH 1. Januari 212 16 237 14 245 8 315 11 258 10 253 12 2. Pebruari 216 17 588 16 152 14 431 12 195 6 316 13 3. Maret 261 16 343 11 394 13 185 10 390 12 315 12 4. April 215 17 309 7 186 7 268 7 233 6 242 9 5. M e i 245 10 325 6 183 6 175 6 162 12 218 8 6. Juni 145 13 213 8 74 4 55 3 334 11 164 8 7. Juli 378 2 193 8 251 9 0 0 221 8 209 5 8. Agustus 0 1 75 2 210 8 122 3 105 6 102 4 9. September 27 4 60 4 194 11 0 0 330 8 122 5 10. Oktober 66 5 226 7 235 13 68 1 387 12 196 8 11. Nopember 244 12 285 9 475 9 300 11 371 11 335 10 12. Desember 160 16 337 14 570 14 462 12 410 12 387 14 Jumlah 2.169 129 3.191 106 3.169 116 2.381 76 3.396 114 2.861 108 Sumber : BPS Kab. HST

Penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah secara umum masih didominasi oleh daerah persawahan, perkebunan dan berupa hutan. Bentuk penggunaan lahan seperti ini menjadikan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama masyarakat dan merupakan penunjang utama sistem perekonomian di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Selain itu, daerah penggunungan yang didominasi hutan sebagai pengatur tata air dan menjadikan daerah penyangga bagi wilayah di bawahnya.

Berdasarkan penggunaan lahan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada tahun 2009 penggunaan lahannya sebagaimana pada tabel 2.7 dan Peta 2.6 berikut :

Tabel 2.7 Data Penggunaan Lahan Kabupaten Hulu Sungai Tengah No. Jenis Penggunaan Luas (Ha) %

1 Permukiman 1.903,25 1.08 2 Bangunan 94,78 0.05 3 Empang 0,17 0.00 4 Hutan 94.394,43 53,33 5 Jalan 12,43 0.01 6 Kebun 9.553,76 5.40 7 ladang 2.222,48 1.26

8 Lapangan Olah Raga 4,33 0.00

9 Rawa 7.350,83 4.15 10 sawah 28.297,54 15.99 11 Belukar 27.245,47 15.39 12 Sungai 493,49 0.28 13 Tanah Kosong 5.443,61 3.08 Jumlah 177.080 100

(12)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 12

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH Peta 2.6 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Hulu Sungai Tengah

(13)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 13

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Kawasan budidaya tersebar di semua kecamatan. Daerah rawa yang tersebar di Kecamatan Batang Alai Utara, Pandawan, dan Labuan Amas Utara, Labuan Amas Selatan dan Haruyan. Budidaya yang dilaksanakan mayoritas hanya di musim kemarau dengan komoditas padi dan hortikultura. Rawa juga dijadikan sebagai lumbung ikan dan tempat budidaya kerbau rawa di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Pada dataran rendah, budidaya dapat dilakukan sepanjang tahun, dengan komoditas pertanian secara luas : padi dan hortikultura, perikanan, dan peternakan. Pada daerah dataran lahan kering sampai daerah pegunungan, komoditas utama yang dibudidayakan masyarakat adalah tanaman karet. Tanaman karet di daerah pegunungan masih didominasi menggunakan bibit lokal dengan pola tanam campuran dengan pohon hutan.

2.2 Demografi

Pada aspek demografi, Kabupaten Hulu Sungai Tengah terdiri dari 11 kecamatan, 161 desa dan 8 kelurahan. Jumlah rumah tangga yang tercatat pada akhir tahun 2010 berdasarkan data hasil sensus penduduk tahun 2010 jumlah penduduk 243.460 orang yang terdiri dari 121.518 orang laki-laki dan 121.942 orang perempuan (sex ratio 100). Dengan luas Kabupaten Hulu Sungai Tengah 1.770,77 Km2 maka

kepadatan penduduk rata-rata 137 orang/Km2. Jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan Barabai

(52.662 orang dan kepadatan 1.293 orang/Km2) sebaliknya jumlah penduduk yang terkecil berada di

Kecamatan Batang Alai Timur (6.989 orang dan kepadatan 9 orang/Km2). Berdasarkan data penduduk

tahun 2000 s/d 2010 yang telah dihitung oleh BPS Kabupaten Hulu Sungai Tengah laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Hulu Sungai Tengah 0,84%. Sedangkan laju pertumbuhan menurut kecamatan yang tertinggi pada Kecamatan Barabai yaitu 1,43% dan yang terendah Kecamatan Hantakan 0,32%. Data jumlah penduduk dan kepadatan penduduk tahun 2010, serta laju pertumbuhan penduduk per kecamatan selengkapnya pada tabel 2.8 dan sebarannya dapat dilihat pada peta 2.7.

Tabel 2.8 Jumlah Penduduk, Kepadatan Penduduk, dan pertumbuhan penduduk Per Kecamatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2010

No. Kecamatan Luas (Km2)

Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan Penduduk (Org/Km2) Pertumbuhan Penduduk 2000-2010 (%) 1. Haruyan 101,36 20.468 202 0,58 2. Batu Benawa 54,52 18.360 337 0,34 3. Hantakan 208,49 11.648 56 0,32

4. Batang Alai Selatan 76,06 21.879 288 0,39

5. Batang Alai Timur 778,74 6.989 9 0,83

6. Barabai 40,74 52.662 1.293 1,43

7. Labuan Amas Selatan 97,80 26.256 268 0,70

8. Labuan Amas Utara 170,30 27.327 160 0,62

9. Pandawan 116,39 30.768 264 1,08

10. Batang Alai Utara 65,36 17.228 264 1,08

11. Limpasu 61,04 9.821 161 0,69

Jumlah 1.770,80 243.460 137 -

Sumber : BPS Kab. HST

(14)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 14

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

(15)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 15

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Hasil sensus penduduk tahun 2010 yang dilaksanakan oleh BPS Kabupaten Hulu Sungai Tengah menunjukan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Hulu Sungai Tengah terbanyak berada antara usia 10-14 tahun yaitu sebanyak 24.272 orang dan usia 15-19 tahun yaitu 22.699 orang. Hal ini menunjukan bahwa Kabupaten Hulu Sungai Tengah didominasi oleh penduduk usia 10 – 19 tahun dengan jumlah penduduk 46.971 orang (19,29%).

Berdasarkan data laju pertumbuhan penduduk yang dihitung menurut data penduduk sepuluh tahun, yaitu tahun 2000 s/d 2010, dihitung proyeksi jumlah penduduk per tahun sampai dengan tahun 2017 dengan menggunakan rumus aritmatik sebagai berikut :

Pn = Po (1 + r n)

atau

Pn = Po (1 + r)

n

Pn = Jumlah penduduk setelah n tahun ke depan Po = Jumlah penduduk tahun awal

r = Angka laju pertumbuhan n = Jangka waktu dalam tahun

Dengan menggunakan rumus tersebut, hasil proyeksi jumlah penduduk tahun 2011 sampai dengan tahun 2017 dapat dilihat pada tabel 2.9 berikut ini :

Tabel 2.9 Proyeksi Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2011-2017

No. Kecamatan Pertumbuhan Laju

(%)

Jumlah Penduduk

2010 (Jiwa)

Jumlah Penduduk Proyeksi Tahun n (Jiwa)

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

1. Haruyan 0,58 20.468 20.587 20.705 20.824 20.943 21.062 21.180 21.299

2. Batu Benawa 0,34 18.360 18.422 18.485 18.547 18.610 18.672 18.735 18.797

3. Hantakan 0,32 11.648 11.685 11.723 11.760 11.797 11.834 11.872 11.909

4. Batang Alai Selatan 0,39 21.879 21.964 22.050 22.135 22.220 22.306 22.391 22.476

5. Batang Alai Timur 0,83 6.989 7.047 7.105 7.163 7.221 7.279 7.337 7.395

6. Barabai 1,43 52.662 53.415 54.168 54.921 55.674 56.427 57.180 57.933

7. Labuan Amas Selatan 0,70 26.256 26.440 26.624 26.807 26.991 27.175 27.359 27.543

8. Labuan Amas Utara 0,62 27.327 27.496 27.666 27.835 28.005 28.174 28.344 28.513

9. Pandawan 1,08 30.768 31.100 31.433 31.765 32.097 32.429 32.762 33.094

10. Batang Alai Utara 1,08 17.228 17.414 17.600 17.786 17.972 18.158 18.344 18.530

11. Limpasu 0,69 9.821 9.889 9.957 10.024 10.092 10.160 10.228 10.295

Jumlah 243.460 247.471 249.526 251.581 253.637 255.692 257.747 259.802

2.3 Keuangan dan Perekonomian Daerah

Realisasi APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 realisasi pendapatan 439 milyar rupiah dan realisasi belanja 454 milyar rupiah meningkat pada tahun 2011 realisasi pendapatan menjadi 616 milyar rupiah dan realisasi belanja 595 milyar rupiah. Walaupun selalu meningkat tiap tahunnya, tetapi kalau dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Kalimantan Selatan maka APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah relatif paling kecil.

(16)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 16

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Tabel 2.10 Ringkasan Realisasi APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2008-2012

No. Anggaran 2008 2009 2010 2011 2012

A Pendapatan

1 Pendapatan Asli Daerah - Pendapatan pajak daerah - Hasil retribusi daerah

- Hasil pengelolaan kekayaan daerah yg dipisahkan - Lain-lain pendapatan asli daerah yg sah

23.157.388.710 2.520.717.777 4.836.163.559 3.485.284.053 12.315.223.321 29.233.575.246 2.656.529.047 8.804.165.926 3.443.777.035 14.329.103.238 31.047.807.718 2.749.165.393 7.734.760.112 3.906.545.333 16.657.336.880 32.646.849.346 3.474.923.650 7.869.329.802 5.116.068.368 16.186.524.616 -

2 Dana Perimbangan (Transfer)

- Bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak - Dana alokasi umum

- Dana alokasi khusus

394.064.273.211 54.364.276.211 292.212.997.000 47.487.000.000 426.857.634.092 82.108.225.092 290.964.409.000 53.785.000.000 403.852.133.175 76.746.895.175 291.732.438.000 35.372.800.000 468.241.265.963 109.901.623.963 322.360.842.000 35.978.800.000 -

3 Lain-lain yang Sah - Pendapatan hibah

- Dana bagi hasil pajak dari provinsi & pemda lainnya - Dana penyesuaian dan otonomi khusus

- Pendapatan lain-lain/Bantuan keuangan dr prov/pemda lainnya

21.857.297.028 - 19.492.749.540 2.275.431.600 89.115.888 32.690.026.179 - 22.107.076.179 9.181.950.000 1.401.000.000 45.829.936.834 - 27.617.373.634 18.212.563.200 - 115.334.106.845 - 30.900.159.125 82.383.947.720 2.050.000.000 - Jumlah Pendapatan 439.078.958.949 488.781.235.517 480.729.877.727 616.222.219.154 - B Belanja

1 Belanja Tidak Langsung - Belanja pegawai - Belanja hibah - Belanja bantuan sosial

- Belanja bagi hasil prov/kab/kota dan pemdes

- Belanja bantuan keuangan kepada prov/kab/kota dan pemdes - Bantuan tidak terduga

231.296.480.174 217.653.465.309 4.535.211.865 1.735.100.500 213.347.540 6.982.498.960 176.856.000 261.376.505.463 243.336.744.692 6.218.441.828 4.577.002.069 213.347.540 6.784.500.000 246.469.334 314.416.167.617 288.910.214.084 10.127.439.733 5.272.243.800 232.645.000 9.692.625.000 181.000.000 348.754.109.154 328.996.411.625 3.366.642.800 4.263.404.800 265.599.929 11.628.950.000 233.100.000 - 2 Belanja Langsung - Belanja pegawai - Belanja barang jasa - Belanja modal 222.515.471.258 8.805.635.792 64.262.725.617 149.447.109.849 200.300.462.966 5.716.432.150 62.434.716.973 132.149.313.843 166.499.774.155 7.615.500.440 64.704.540.109 94.179.733.606 246.340.960.813 22.904.260.986 79.221.186.162 144.215.513.665 - Jumlah Belanja 453.811.951.432 461.676.968.429 480.915.941.772 595.095.069.967 - Surplus/Defisit Anggaran -14.732.992.483 27.104.267.088 -186.064.045 21.127.149.187 -

(17)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 17

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Sumber utama pendapatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah masih sangat tergantung dari dana perimbangan pemerintah pusat, bahkan mencapai 75 - 90%. Sumbangan pendapatan asli daerah sangat kecil terhadap APBD, hanya berkisar 5 - 7%. Sisanya dari pendapatan lain-lain yang sah seperti bagi hasil pajak provinsi, dana penyesuaian, dan bantuan keuangan dari provinsi/pemerintah daerah lainnya.

Gambar 2.1 Realisasi Pendapatan APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2008 - 2011

Rendahnya pendapatan asli daerah disebabkan belum tergali sepenuhnya potensi pendapatan asli daerah, seperti sektor pertambangan dimana sampai saat ini Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah tidak melakukan eksploitasi tambang Batubara seperti daerah tetangga lainnya.

Sedangkan dari sisi belanja APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah, lebih dari 50% digunakan untuk membiayai belanja tidak langsung bahkan pada tahun 2010 belanja tidak langsung mencapai 65% dari belanja APBD.

Gambar 2.2 Realisasi Belanja APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2008 - 2011

(%)

(Tahun Anggaran)

(%)

(18)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 18

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Realisasi belanja APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah kadang tidak berimbang dengan realisasi pendapatan APBD. Pada tahun 2008 mengalami defisit anggaran mencapai 14,7 milyar rupiah dan pada tahun 2010 mengalami defisit anggaran sebasar 186 juta rupiah. Untuk menutupi defisit anggaran tersebut dengan dilakukan menggunakan dana Silpa tahun sebelumnya, tetapi pada tahun 2010 dana Silpa tidak dapat menutupi defisit anggaran sehingga ditutupi dengan anggaran penerimaan piutang daerah. Sedangkan pada tahun 2009 dan 2011 mengalami surplus anggaran masing-masing sebesar 27 milyar rupiah dan 21 milyar rupiah.

Gambar 2.3 Perbandingan Realisasi Pendapatan dan Belanja APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2008 - 2011

Pembangunan sanitasi di Kabupaten Hulu Sungai Tengah terfokus pelaksanaannya pada tiga SKPD, yaitu Dinas Pekerjaan Umum, Badan Pengelola Lingkungan Hidup, dan Dinas Kesehatan.

Program dan kegiatan yang dilaksanakan masing-masing SKPD tersebut sebagai berikut : 1. Dinas Pekerjaan Umum

a) Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong

b) Peningkatan pembersihan dan pengerukan sungai termasuk pembangunan turap/talud/bronjong dalam rangka pengendalian banjir.

c) Pembangunan sarana dan prasarana air bersih perdesaan.

d) Pembangunan sarana prsarana sanitasi dasar terutama bagi masyarakat miskin khususnya penanganan limbah rumah tangga seperti pembangunan MCK Plus dan Septik Tank Komunal.

e) Pembangunan sarana dan prasarana rumah sederhana sehat berupa pembangunan jalan lingkungan, rehab jalan setapak dan rehab trotoar.

2. Badan Pengelola Lingkungan Hidup

a) Pengelolaan persampahan, meliputi penyediaan sarana dan prasarana persampahan, peningkatan operasi/pengangkutan/pengolahan sampah, dan pemeliharaan sarana dan prasarana persampahan.

(19)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 19

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

b) Pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, meliputi kegiatan koordinasi penilaian kota sehat/Adipura, pemantauan kualitas lingkungan, dan pengadaan sarana dan prasarana pemantauan kualitas lingkungan.

3. Dinas Kesehatan

a) Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, meliputi kegiatan penyuluhan masyarakat pola hidup sehat, dan pengembangan media promosi dan informasi sadar hidup sehat, serta peningkatan pemanfaatan sarana kesehatan. Untuk meningkatkan peran serta masyarakat untuk meningkatkan pola hidup sehat dilaksanakan melalui kegiatan lomba-lomba seperti : lomba posyandu, toga, UKS, rumah sehat, kinerja kader posyandu, kinerja kader remaja, dokter kecil, santri husada, dan lomba-lomba kesehatan lainnya. Selain itu dilaksanakan survey cepat PHBS.

b) Pengembangan lingkungan sehat melalui kegiatan pengkajian pengembangan lingkungan sehat berupa kegiatan monitoring rutin penyehatan rumah, penyehatan air bersih, penyehatan jamban keluarga, penyehatan sarana pembuangan air limbah, pengelolaan sampah, penyehatan tempat-tempat umum, penyehatan makanan dan tempat penjualan makanan, dan penyehatan terhadap pestisida.

Dari realiasi belanja APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah, belanja yang digunakan untuk pembangunan sektor sanitasi pada tahun 2008 sebesar 20,81 milyar kemudian meningkat menjadi 23,60 milyar pada tahun 2011. Belanja sanitasi mengalami penurunan pada tahun 2009 menjadi 16,70 milyar, bahkan pada tahun 2010 hanya sebesar 10,16 milyar.

Proporsi belanja sanitasi terhadap belanja total APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 berkisar 2,11% - 4,59%. Persentase tertinggi dilaksanakan pada tahun 2008 mencapai 4,59% dan terendah pada tahun 2010 hanya 2,11% tetapi pada tahun 2011 meningkat kembali mencapai 3,97%.

Gambar 2.4 Proporsi Belanja Pembangunan Sanitasi APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah

(20)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 20

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Proporsi belanja sanitasi tersebut sebagian besar (lebih 80%) didanai dari APBD murni, dan sisanya bersumber dari DAK, yaitu infrastruktur air minum, infrastruktur sanitasi, dan lingkungan hidup.

Gambar 2.5 Sumber Pendanaan Pembangunan Sanitasi APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2008 - 2011

Dikaitkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Hulu Sungai Tengah, belanja pembangunan sanitasi di Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada tahun 2011 telah mencapai 95.375 rupiah/orang. Angka ini fluktuatif dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2010 hanya 41.734 rupiah/orang.

Gambar 2.6 Belanja Pembangunan Sanitasi Per Penduduk APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2008 - 2011

Secara keseluruhan realisasi belanja anggaran untuk pembangunan sanitasi di

Kabupaten Hulu Sungai Tengah dari tahun 2008 sampai tahun 2011 dapat dilihat pada

tabel berikut :

(21)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 21

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Tabel 2.11 Ringkasan Realisasi Anggaran Sanitasi dan Belanja Modal Sanitasi Per Penduduk Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2008-2012

No. Anggaran 2008 2009 2010 2011 2012

A. Dinas Pekerjaan Umum

1. Banjir (pembersihan/pengerukan kali dan

pembangunan turap/talud/bronjong) 6.878.668.000 4.136.791.400 1.805.631.800 10.804.813.800 -

2. Drainase 1.095.276.000 1.150.131.000 385.287.000 503.532.500 -

3. Air bersih 2.606.754.250 1.859.140.000 835.013.700 830.671.199 -

4. Limbah - - 82.500.000 515.007.000 -

5. Sarana prasarana perumahan sehat 5.975.327.500 5.644.291.000 3.939.696.000 5.247.534.000 -

B. Badan Pengelola Lingkungan Hidup

1. Persampahan/air limbah 4.017.447.500 3.179.422.875 3.025.193.232 4.824.945.503 -

C. Dinas Kesehatan

1. Aspek PHBS (pelatihan, sosialisasi, komunikasi,

pendampingan) 239.744.000 734.483.000 87.142.200 876.337.400 -

D Total Belanja Modal Sanitasi (A s/d C) 20.813.217.250 16.704.259.275 10.160.463.932 23.603.841.402 -

E Total Belanja Modal Sanitasi dari APBD Murni

(bukan pendamping) 17.190.401.000 13.488.820.034 8.666.699.178 22.054.854.601 -

F Total Belanja APBD 453.811.951.432 461.676.968.429 480.915.941.772 595.095.069.967 -

G Proporsi Belanja Modal Sanitasi terhadap Belanja

Total (D/Fx100%) 4,59% 3,62% 2,11% 3,97% -

H Jumlah Penduduk 240.010 241.825 243.460 247.471 -

I Belanja Modal Sanitasi per penduduk (D/H) 86.718 69.076 41.734 95.376 -

(22)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 22

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Dalam menyelenggarakan pembangunan daerah, setiap daerah pada prinsipnya dapat melakukan pinjaman keuangan. Namun demikian pinjaman daerah harus dapat dilakukan dalam batas-batas yang aman dan terkendali sehingga tidak berdampak negatif terhadap APBD dan perekonomian daerah serta nasional. Dalam rangka pengaturan hal tersebut, telah diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Selain memperhatikan kemampuan membayar kembali pemerintah daerah, salah satu syarat suatu daerah untuk mendapatkan pinjaman atau hibah adalah kapasitas fiskan daerah. Kapasitas fiskal daerah adalah sebagai gambaran kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan melalui penerimaan umum APBD (tidak termasuk dana alokasi khusus, dana darurat, dana pinjaman lama, dan penerimaan yang lain penggunaannya dibatasi untuk membiayai pengeluaran tertentu) untuk membiayai tugas pemerintahan setelah dikurangi belanja pegawai dan dikaitkan dengan jumlah penduduk miskin.

Kapasitas fiskal daerah akan dibandingkan dengan rata-rata kapasitas fiskal seluruh kabupaten/kota, dan hasil perhitungan/perbandingan tersebut dinamakan indeks kapasitas fiskal kabupaten/kota. Kemudian indeks kapasitas fiskal kabupaten/kota akan dikelompokkan dalam 4 kategori, yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang dan rendah yang disebut dengan Peta Kapasitas Fiskal Daerah (ditetapkan oleh Menteri Keuangan).

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, Kapasitas fiskal Kabupaten Hulu Sungai Tengah dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 pada kategori sedang dan tinggi. Perhitungan kapasitas fiskal tersebut didasarkan atas realisasi pendapatan APBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah 2 tahun kebelakang. Kapasitas fiskal tahun 2012 berdasarkan realisasi pendapatan tahun 2010. Gambaran kapasitas fiskal Kabupaten Hulu Sungai Tengah selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.12 dan gambar grafik 2.00.

Tabel 2.12 Data Mengenai Ruang Fiskal Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2008 - 2012

Tahun

Indeks Kemampuan Fiskal/Ruang Fiskal Daerah

(IRFD) Kategori Sumber Penetapan

2008 0,8240 Sedang No.153/PMK.07/2007 Permenkeu

2009 0,9972 Sedang No.224/PMK.07/2008 Permenkeu

2010 1,1072 Tinggi No.174/PMK.07/2009 Permenkeu

2011 1,4047 Tinggi No.245/PMK.07/2010 Permenkeu

2012 0,8095 Sedang No.244/PMK.07/2011 Permenkeu

(23)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 23

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Gambar 2.7 Grafik Ruang Fiskal Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2008 - 2012

Tingkat kesejahteraan dan pemerataan ekonomi dapat dilihat dari beberapa indikator seperti Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), PDRB per kapita, laju pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, dan lain-lain.

Tabel 2.13 Data Perekonomian Umum Daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2008 – 2010.

No. Deskripsi 2008 2009 2010

1 PDRB Harga Berlaku (struktur perekonomian) ( Rp) 1.646.595,09 1.912.498,29 2.140.060,98

2 PDRB Harga Konstan (struktur perekonomian) (Rp) 978.130,72 1.044.319,32 1.092.917,33

3 Pendapatan Perkapita Harga Berlaku (Rp/tahun) 6.860.527,- 7.908.605,- 8.790.195,-

4 Pendapatan Perkapita Harga Konstan (Rp/tahun) 4.075.375,- 4.318.492,- 4.489.104,-

5 Upah Minimum Regional Kabupaten/Kota(Rp) *) 850.000,- 930.000,- 1.024.500,-

6 Inflasi (%) **) 11,09 3,86 9,06

7 Pertumbuhan Ekonomi (%) 6,99 6,77 4,65

Sumber : - BPS Kab. HST

- Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kalimantan Selatan, Bank Indonesia Tahun 2012

Keterangan : *) Upah minimum regional kabupaten mengacu pada upah minimum regional provinsi Kalsel. **) Data inflasi Kab. HST mengacu pada data inflasi Kota Banjarmasin.

Angka PDRB Kabupaten Hulu Sungai Tengah dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan. Hal ini berarti kemampuan Kabupaten Hulu Sungai Tengah secara berkesinambungan mampu menggerakkan dan menciptakan nilai tambah dari berbagai sektor kegiatan ekonomi. Potensi-potensi sumber daya yang dimiliki sudah semakin baik dalam pengelolaannya.

(24)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 24

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Pada tahun 2010, PDRB Kabupaten Hulu Sungai Tengah atas dasar harga berlaku sebesar 2,1 trilyun rupiah, kalau dilihat atas dasar harga konstan sebesar 1,09 trilyun rupiah. Angka yang dicapai tahun 2010 tersebut lebih besar dibandingkan dengan angka yang dicapai pada tahun sebelumnya, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.13.

Struktur ekonomi suatu daerah digambarkan oleh seberapa besar peranan/kontribusi masing-masing sektor terhadap total PDRB. Kalau diperhatikan dari tahun ke tahun hingga tahun 2010, struktur perekonomian Kabupaten Hulu Sungai Tengah nampaknya belum terlihat adanya pergeseran yang mengarah pada perubahan struktur ekonomi, sementara peranan sektor pertanian masih memberikan andil yang cukup besar dalam menciptakan nilai tambah dengan kontribusi sebesar 38,80% terhadap total PDRB Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kalau disimak lebih jauh sektor pertanian masih didominasi oleh sub sektor tanaman bahan makanan, yaitu kontribusinya sebesar 23,64%, sedangkan untuk sub sektor lainnya kontribusinya relatif kecil. Karena itu sub sektor ini menjadi perhatian utama dari pemerintah daerah, selain karena pengaruhnya sangat besar terhadap PDRB, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat (mayoritas masyarakat bekerja disektor pertanian).

Sektor kedua terbesar peranannya dalam membentuk struktur ekonomi adalah sektor jasa yang kontribusinya terhadap PDRB sebesar 21,70%. Pada sektor jasa ini kontribusi terbesar diberikan oleh sub sektor pemerintahan umum, yaitu sebesar 21,40%. Sedangkan sub sektor swasta kontribusinya masing-masing kurang dari 1%.

Sektor terbesar ketiga adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yang kontribusinya dalam membentuk struktur ekonomi tahun 2010 sebesar 14,14%. Sektor ini meningkat dibandingkan tahun 2009 yang hanya sebesar 13,63%. Sumbangan terbesar pada sektor ini adalah pada sub sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 11,21%, sedangkan sub sektor perhotelan dan restoran relatif kecil.

Untuk sektor yang lain kontribusinya terhadap total PDRB tahun 2010 relatif kecil, yaitu kurang dari 10%. Data selengkapnya mengenai struktur perekonomian Kabupaten Hulu Sungai Tengah dapat dilihat pada tabel 2.14.

Tabel 2.14 Data Distribusi PDRB Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2008 – 2010

No. Sektor/Lapangan Usaha 2008 2009 2010

1 Pertanian 38,94 39,55 38,80

2 Pertambangan dan penggalian 0,55 0,54 0,56

3 Industri pengolahan 7,57 7,18 7,08

4 Listrik, gas dan air minum 0,33 0,34 0,35

5 Bangunan/konstruksi 3,40 3,49 3,56

6 Perdagangan, hotel, dan restoran 14,11 13,63 14,14

7 Pengangkutan dan komunikasi 6,14 6,08 5,93

8 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 6,49 6,74 6,90

9 Jasa-jasa 22,45 22,45 22,70

Total PDRB 100,00 100,00 100,00 Sumber : BPS Kab. HST

(25)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 25

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Indikator lain yang dapat menjadi ukuran tingkat kemakmuran penduduk adalah PDRB perkapita, yang merupakan gambaran rata-rata pendapatan yang diterima penduduk suatu daerah selama satu tahun. Berdasarkan tabel 2.13 dapat dilihat bahwa PDRB perkapita dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 terus mengalami kenaikan, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. Pada tahun 2008 PDRB perkapita atas dasar harga berlaku mencapai 6,9 juta rupiah, naik pada tahun 2009 menjadi 7,9 juta rupiah, kemudian di tahun 2010 naik menjadi 8,8 juta rupiah. PDRB perkapita atas harga konstan juga mengalami kenaikan dimana pada tahun 2008 PDRB perkapita 4,1 juta rupiah, meningkat pada tahun 2009 menjadi 4,3 juta rupiah dan pada tahun 2010 mencapai 4,5 juta rupiah.

Angka PDRB digunakan salah satunya untuk menghitung pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Dari hasil perhitungan PDRB tahun 2010 secara total perekonomian Kabupaten Hulu Sungai Tengah tumbuh sebesar 4,65%. Angka tersebut apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2008 dan 2009) pertumbuhan tahun 2010 mengalami perlambatan. Pada tahun 2008 angka pertumbuhan ekonomi mencapai 6,99% dan merupakan pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam 10 tahun terakhir, sedangkan pada tahun 2009 ekonomi masih tumbuh cukup tinggi dengan pertumbuhan 6,77%. Perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi tahu 2010 dikarenakan turunnya produksi sektor pertanian yang merupakan sektor basis di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Gagal panen di beberapa daerah menjadi penyebab dari kejadian ini.

Semua sektor, kecuali sektor pertanian pada tahun 2010 menunjukan kinerja yang memuaskan. Delapan sektor tersebut mampu tumbuh lebih dari 5%, bahkan sektor bangunan yang mampu tumbuh sebesar 7,86%. Apabila dibandingkan dengan tahun 2009, ada 6 sektor yang mengalami percepatan dalam pertumbuhan ekonominya, dan sebaliknya ada 3 sektor yang mengalami perlambatan. Data selengkapnya mengenai pertumbuhan ekonomi Kabupaten Hulu Sungai Tengah dapat dilihat pada tabel 2.15.

Tabel 2.15 Data Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2008 – 2010

No. Sektor/Lapangan Usaha 2008 2009 2010

1 Pertanian 9,02 9,50 1,82

2 Pertambangan dan penggalian 11,21 6,10 7,43

3 Industri pengolahan 4,86 4,63 5,37

4 Listrik, gas dan air minum 8,07 7,59 5,50

5 Bangunan/konstruksi 9,64 6,03 7,86

6 Perdagangan, hotel, dan restoran 8,56 4,70 6,90

7 Pengangkutan dan komunikasi 2,29 7,22 5,37

8 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 3,78 6,13 7,00

9 Jasa-jasa 4,89 3,98 6,89

Total PDRB 6,99 6,77 4,65

(26)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 26

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

2.3 Tata Ruang Wilayah

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah Nomor 6 Tahun 1994 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 1994 – 2003. Perda tersebut dilihat sudah tidak tepat lagi diberlakukan sehingga perlu direvisi kembali sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Perda revisi tersebut disusun dengan orientasi waktu perencana selama 20 tahun, yaitu tahun 2011 sampai dengan tahun 2031. Proses revisi dan penyusunan Raperda RTRW Kabupaten Hulu Sungai Tengah tersebut sampai saat ini sudah mendapatkan persetujuan substansi dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Berdasarkan Raperda RTRW Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2011 - 2031 tersebut, tujuan penataan ruang Kabupaten Hulu Sungai Tengah adalah mewujudkan wilayah Kabupaten yang sejahtera, mandiri, unggul dan konsisten melalui penataan ruang yang serasi, seimbang, terpadu dan berkelanjutan yang mendukung pengembangan pemberdayaan pertanian, perdagangan, dan pariwisata dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan hidup dan kelestarian sumberdaya alam.

Untuk mencapai tujuan tersebut akan dilaksanakan beberapa kebijakan, yaitu : a. pengembangan pertanian yang produktif melalui kawasan agropolitan terpadu;

b. pengembangan kawasan perdagangan dan jasa sesuai dengan potensi alam dan sumber daya manusia; c. pengembangan kawasan wisata dengan memanfaatkan potensi alam serta memperhatikan kelestarian

lingkungan hidup dan budaya;

d. pengembangan pusat pelayanan bersinergis didukung prasarana wilayah dan kawasan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan;

e. pengembangan dan pelestarian kawasan berfungsi lindung sesuai dengan fungsi dan potensi sumberdaya alam;

f. pendistribusian penduduk sesuai dengan pengembangan sistem perkotaan; dan g. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.

Dalam rangka melaksanakan kebijakan tersebut, strategi yang akan dilaksanakan sebagai berikut : a. Pengembangan pertanian yang produktif melalui kawasan agropolitan terpadu.

1) mengembangkan ketersediaan infrastruktur penunjang dan pelayanan terminal agrobisnis pada kawasan agropolitan;

2) mengembangkan lumbung desa modern;

3) mengembangkan kawasan pusat pengembangan agropolitan;

4) mempertahankan luas pertanian tanaman pangan, perkebunan dan perikanan sebagai basis perekonomian Kabupaten;

5) mengendalikan alih fungsi lahan pertanian dan perikanan; 6) mengembangkan irigasi pertanian;

(27)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 27

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

7) mengembangkan kegiatan industri pengolahan hasil pertanian; 8) mengoptimalkan kawasan pertanian lahan basah dan lahan kering; 9) menetapkan kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan; 10) meningkatkan infrastruktur penunjang kawasan agropolitan; 11) meningkatkan produktivitas hortikultura, perkebunan dan perikanan; 12) mengembangkan sentra peternakan; dan

13) mengembangkan kegiatan industri pengolahan hasil pertanian.

b. Pengembangan kawasan perdagangan dan jasa sesuai dengan potensi alam dan sumber daya manusia. 1) mengembangkan kegiatan ekonomi skala besar;

2) menyediakan sarana dan prasarana penunjang kegiatan ekonomi; 3) menetapkan hierarki simpul-simpul pertumbuhan ekonomi wilayah;

4) meningkatkan penataan sentra industri kecil dan mikro serta industri menengah;

5) menyediakan sarana dan prasarana pengembangan kawasan industri dan pergudangan; 6) mengoptimalkan sentra industri dan pengembangan kawasan industri; dan

7) meningkatkan infrastruktur penunjang kegiatan industri.

c. Pengembangan wisata dengan memanfaatkan potensi alam serta memperhatikan kelestraian lingkungan hidup dan budaya.

1) mengembangkan kawasan wisata agro, wisata religi, wisata budaya, dan wisata alam; 2) mengembangkan infrastruktur penunjang kegiatan pengembangan kawasan wisata; 3) membentuk zona wisata dengan disertai pengembangan paket wisata;

4) melakukan diversifikasi program dan produk wisata;

5) mengadakan dan memperbanyak event festival wisata dan gelar seni budaya; dan 6) melestarikan tradisi/kearifan masyarakat lokal (local indigenous).

d. Pengembangan pusat pelayanan bersinergis didukung prasarana wilayah dan kawasan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

1) meningkatkan akses jaringan jalan antar PKL dengan arteri primer, PPK dengan kolektor primer dan PPL dengan lokal primer;

2) meningkatkan pengawasan terhadap ketinggian bangunan, Building Capacity Ratio (BCR), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), dan Koefisien Dasar Bangunan (KDB);

3) mengembangkan prasarana wilayah terinterkoneksi;

4) mengembangkan kawasan budidaya sesuai dengan daya tampung lingkungan dan penduduk; dan 5) memantapkan keterkaitan fungsional antar PKL, PPK, dan PPL.

e. Pengembangan dan pelestarian kawasan berfungsi lindung sesuai dengan fungsi dan potensi sumberdaya alam.

1) menetapkan kawasan yang berfungsi lindung;

(28)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 28

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

3) mengembangkan infrastruktur penunjang kawasan berfungsi lindung;

4) menjaga keberlangsungan fungsi pokok hutan dan kondisi hutan dengan upaya rehabilitasi hutan; 5) meningkatkan kegiatan yang mendorong pengembalian fungsi lindung;

6) mengembangkan ruang terbuka hijau pada kawasan perlindungan setempat dan ruang evakuasi bencana alam;

7) mengelola hutan yang berorientasi pada seluruh potensi sumberdaya kehutanan dan berbasis pada pemberdayaan masyarakat melalui program pengelolaan hutan bersama masyarakat;

8) memantau dan mengendalikan kegiatan pengusahaan hutan serta gangguan keamanan hutan lainnya dengan melakukan kerjasama antar wilayah maupun antar instansi terkait; dan

9) mengembangkan zona penyangga pada kawasan hutan produksi yang berbatasan dengan hutan lindung.

f. Pendistribusian penduduk sesuai dengan pengembangan sistem perkotaan.

1) menetapkan distribusi kepadatan penduduk untuk setiap pusat pelayanan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan; dan

2) meningkatkan sarana dan prasarana lingkungan sesuai dengan standar tingkat pelayanan penduduk;

3) membuka kawasan pusat pertumbuhan di setiap pusat kegiatan; dan

4) memeratakan persebaran penduduk dengan perbaikan sarana-prasarana dan infrastruktur di kawasan perdesaan atau kawasan kurang berkembang guna mengurangi urbanisasi.

g. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.

1) mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan;

2) mengembangkan Kawasan Lindung dan/atau Kawasan Budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis nasional sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan strategis nasional dengan budidaya terbangun; dan

3) turut serta menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan

Rencana pola ruang yang termuat dalam Raperda Tata Ruang Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2011 - 2031 meliputi rencana pola ruang kawasan lindung dan rencana pola ruang kawasan budidaya.

Rencana pola ruang kawasan lindung terdiri atas : a. kawasan hutan lindung;

b. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya; c. kawasan perlindungan setempat;

d. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan alam; e. kawasan rawan bencana alam; dan

(29)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 29

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Sedangkan rencana pola ruang kawasan budidaya terdiri atas : a. kawasan peruntukan hutan produksi;

b. kawasan peruntukan pertanian; c. kawasan peruntukan perikanan; d. kawasan peruntukan pertambangan; e. kawasan peruntukan industri; f. kawasan peruntukan pariwisata; g. kawasan peruntukan permukiman; dan h. kawasan peruntukan lainnya

(30)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 30

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

(31)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 31

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Di dalam Raperda RTRW Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2011 - 2031 rencana struktur ruang di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dibagi menjadi dua, yaitu rencana sistem pusat kegiatan dan rencana sistem jaringan prasarana wilayah.

Sistem pusat kegiatan terdiri atas sistem perkotaan dan sistem perdesaan. Pada sistem perkotaan, Perkotaan Barabai ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah Promosi (PKWp), Perkotaan Birayang Kecamatan Labuan Amas Selatan dan Perkotaan Pantai Hambawang Kecamatan Labuan Amas Selatan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL). Sedangkan Perkotaan yang dipromosikan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKLp) adalah Perkotaan Pagat Kecamatan Batu Benawa dan Perkotaan Pandawan Kecamatan Pandawan. Sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) adalah Perkotaan Haruyan Kecamatan Haruyan, Perkotaan Kasarangan Kecamatan Labuan Amas Utara, Perkotaan Ilung Kecamatan Batang Alai Utara, Perkotaan Hantakan Kecamatan Hantakan, Perkotaan Tandilang Kecamatan Batang Alai Timur, dan Perkotaan Karatungan Kecamatan Limpasu. Perkotaan sebagai PPK ini berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau desa-desa sekitarnya. Pada sistem perdesaan dalam bentuk Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) meliputi : Desa Kayu Rabah, Desa Banua Binjai, dan Desa Matang Ginalun Kecamatan Pandawan; Desa Anduhum Kecamatan Batang Alai Selatan; Desa Mangunang Kecamatan Haruyan; Desa Telang dan Desa Semanggi Seberang Kecamatan Batang Alai Utara; Desa Kindingan Kecamatan Hantakan; Desa Abung Kecamatan Limpasu; Desa Tandilang dan Desa Hinas Kiri Kecamatan Batang Alai Timur; Desa Kalibaru dan Desa Baru Kecamatan Batu Benawa; Desa Sungai Buluh, Desa Pemangkih Seberang dan Desa Banua Kupang Kecamatan Labuan Amas Utara; dan Desa Pantai Hambawang Timur, Desa Pantai Hambawang Barat, dan Tabudarat Hulu Kecamatan Labuan Amas Selatan.

Sedangkan rencana sistem jaringan prasarana wilayah meliputi sistem jaringan prasarana utama dan sistem jaringan prasarana lainnya. Sistem prasarana utama berupa sistem jaringan transportasi darat (jembatan dan jalan, prasarana lalu lintas dan angkutan jalan, dan layanan lalui lintas) dan sistem jaringan transportasi perkeretaapian (rel kereta api penumpang dan barang, serta pembangunan stasiun kereta api penumpang dan barang). Pada rencana sistem jaringan prasarana lainnya terdiri atas : rencana sistem jaringan energi; rencana sistem jaringan telekomunikasi; rencana sistem jaringan sumber daya air; rencana sistem jaringan prasarana pengelolaan lingkungan; dan rencana jalur dan ruang evakuasi bencana.

Peta Struktur Ruang RTRW Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2011 - 2031 dapat dilihat sebagai berikut :

(32)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 32

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

(33)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 33

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

2.4 Sosial dan Budaya

Aspek sosial yang perlu dilihat adalah kesejahteraan sosial dimana indikatornya meliputi pendidikan, kesehatan dan ketenagakerjaan seperti angka melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, angka partisipasi kasar (APK), angka partisipasi murni (APM), usia harapan hidup (UHH), rasio penduduk yang bekerja.

Dilihat dari beberapa indikator di atas, maka upaya peningkatan kualitas kesejahteraan sosial identik dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan kualitas SDM adalah dengan menggunakan tolok ukur physical quality life index (pqli) atau yang lebih dikenal dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI). Ada 4 indikator yang digunakan untuk mengukur yaitu Angka Harapan Hidup, Angka Melek Huruf, rata-rata lama sekolah dan konsumsi riil per kapita. Dari komposit 4 indikator tersebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada tahun 2010 sudah mencapai angka 70,77 termasuk kategori menengah atas, dan berada di atas IPM Prov. Kalsel yang baru mencapai

69,22. IPM Kabupaten Hulu Sungai Tengah tersebut dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2002 masih berada pada angka 64,70.

Tabel 2.16 Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2002-2010

Sumber : BPS Kab. HST

Pencapaian Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) pada semua jenjang sekolah yang menjadi kewenangan kabupaten. Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI mencapai 113,87 %, SMP/MTS 97,23 % dan SMA/MA/SMK 90,54 %, meningkat dibanding tahun 2005 dimana pada tingkat SD/MI baru 102,96 %, SMP/MTS 89,78 % dan SMA/MA/SMK 44,00 %. Jadi untuk tingkat SD/MI terjadi peningkatan 10,91 %, pada tingkat SMP/MTS meningkat 7,45 % dan pada tingkat SMA/MA/SMK sebesar 46,54 %. Sementara itu indikator Angka Partisipasi Murni (APM) pada jenjang SD/MI meningkat menjadi 99,01 % dari tahun 2005 sebesar 92,06 %. Pada tingkat SMP/MTS APM sudah mencapai 77,43 % dari tahun 2005 sebesar 69,11 % dan pada tingkat SMA/MA/SMK sudah mencapai 88,64 % dari tahun 2005 sebesar 34,00 %.

Tahun Umur Harapan Hidup (Th) Angka Melek Huruf (%) Rata-rata Lama Sekolah (Th) Pengeluaran Riil

Per Kapita (Rp) IPM

2002 62,20 94,90 7,00 590,20 64,70 2003 62,20 96,70 7,30 590,66 66,14 2004 62,90 96,70 7,30 618,30 67,90 2005 63,20 97,40 7,30 622,30 68,50 2006 63,80 97,40 7,30 623,40 68,90 2007 64,15 97,40 7,30 625,95 69,25 2008 64,54 97,41 7,39 631,50 70,00 2009 64,91 97,41 7,43 634,39 70,46 2010 65,28 97,42 7,44 635,57 70,77

(34)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 34

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Tabel 2.17 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) Pada Jenjang SD/MI, SMP/MTs/ dan SMA/MA/SMK di Kab. HST Tahun 2005-2010

No. Tahun SD/MI SMP/MTs SMA/MA/SMK APK APM APK APM APK APM

1. 2005 102,06 92,06 89,78 69,11 44,00 34,00 2. 2006 102,06 92,21 84,62 77,05 82,00 67,00 3. 2007 110,05 95,90 91,16 74,88 86,00 74,00 4. 2008 112,38 97,08 95,67 77,00 87,09 75,00 5. 2009 113,51 98,23 96,21 76,90 88,01 79,87 6 2010 113,87 99,01 97,23 77,43 90,54 82,64 Sumber : BPS Kab. HST

Disamping APK dan APM, pencapaian indikator pembangunan pendidikan adalah pencapaian angka melek huruf. Sampai dengan tahun 2010 angka melek huruf sudah mencapai 97,42 %, nomor urut ke-3 di Provinsi Kalimantan Selatan setelah Kota Banjarmasin dan Banjarbaru.

Keberhasilan dibidang pendidikan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan fasilitas sekolah. Saat ini akses ke dunia pendidikan semakin terbuka lebar, gedung sekolah dibangun sampai ke pelosok pedesaan. Di tingkat sekolah dasar (SD dan MI) telah berdiri 310 sekolah dengan jumlah murid sebanyak hampir 32 ribu siswa dan jumlah guru 3 ribu orang. Keberhasilan wajib belajar 9 tahun juga sangat ditentukan oleh keberadaan fasilitas sekolah di jenjang SLTP baik SMP maupun MTs, yang sampai 2010 telah dibangun sebanyak 57 buah. Sedangkan pada tingkat SLTA (SMA, SMK dan MA) sebanyak 25 buah. Fasilitas pendidikan selengkapnya menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.18 Fasilitas Pendidikan yang Tersedia di Kabupaten Hulu Sungai Tengah No. Nama Kecamatan Umum Jumlah Sarana Pendidikan (Buah) Agama

SD SLTP SMA SMK MI MTs MA

1. Haruyan 29 3 1 - 8 1 1

2. Batu Benawa 19 1 - 1 - 1 -

3. Hantakan 20 3 - - - 1 1

4. Batang Alai Selatan 26 2 1 - 6 3 1

5. Batang Alai Timur 12 4 1 - 1 - -

6. Barabai 37 8 3 5 3 4 4

7. Labuan Amas Selatan 30 3 1 - 6 3 1

8. Labuan Amas Utara 30 4 1 - 5 2 -

9. Pandawan 32 2 1 1 6 5 2

10. Batang Alai Utara 20 3 1 1 5 1 -

11. Limpasu 15 2 - - 1 1 1

Jumlah 270 36 11 8 40 22 11

(35)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 35

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Derajat kesehatan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), rata-rata usia harapan hidup penduduk, status gizi dan lain-lain. Angka Kematian Ibu (AKI) pencapaiannya sudah bisa ditekan menjadi menjadi 61 orang per 100.000 ibu melahirkan, sudah berada di bawah target nasional yaitu 192 orang per 100.000 ibu melahirkan, seperti terlihat pada tabel berikut :

Tabel 2.19 Perkembangan Angka Kematian Ibu di Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2006-2010 Uraian 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah Ibu Melahirkan 4.363 3.860 4.931 4.829 4.881 Angka Kematian Ibu (AKI) Melahirkan 9 7 8 6 3 Perkiraan AKI

Kab. HST 206/100.000 melahirkan 181/100.000 melahirkan 162/100.000 melahirkan 124/100.000 melahirkan 61/100.000 melahirkan Target AKI

Nasional 307/100.000 melahirkan 226/100.000 melahirkan 226/100.000 melahirkan 226/100.000 melahirkan 102/100.000 melahirkan Sumber : BPS Kab. HST

Sedang Angka Kematian Bayi (AKB) kinerjanya juga menunjukkan hal yang menggembirakan. AKB sudah berada pada kisaran 5 orang per 1.000 kelahiran bayi, sementara target nasional adalah 23 orang per 1.000 kelahiran bayi, walaupun dari tahun ke tahun pencapaiannya masih berfluktuasi, tapi sudah jauh di bawah target nasional.

Tabel 2.20 Perkembangan Angka Kematian Bayi di Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 2006-2010

Rincian 2006 2007 2008 2009 2010

Jumlah Bayi Dilahirkan 4.395 3.990 4.933 4.829 4.888

Angka Kematian Bayi

(AKB) Dilahirkan 32 47 67 53 51

Perkiraan AKB Kab. HST 7/1.000 KH 12/1.000 KH 14/1.000 KH 11/1.000 KH 5/1.000 KH

Target AKI Nasional s.d

2010 35/1.000 KH 26/1.000 KH 26/1.000 KH 26/1.000 KH 23/1000 KH

(36)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 36

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Angka harapan hidup (AHH) merupakan perkiraan lama hidup seseorang semenjak lahir. Angka ini secara tidak langsung mengukur tingkat kesehatan masyarakat secara umum. Dari tahun ke tahun masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah angka harapan hidupnya mengalamai peningkatan. Tahun 2005 nilainya 63,2 tahun dan tahun 2010 menjadi 65,25 tahun. Peningkatan ini tidak terlepas dari program pemerintah melalui penambahan fasilitas, penambahan tenaga medis, serta program berobat gratis bagi masyarakat miskin. Fasilitas kesehatan yang ada sebanyak 1 rumah sakit, 19 puskesmas, 45 puskesmas pembantu dan 101 polides. Untuk melayani kegiatan kesehatan terdapat 243 orang perawat, 200 orang bidan, 23 orang dokter umum, 3 orang dokter gigi, dan 5 orang dokter spesialis.

Dari segi ketenagakerjaan, hal yang dapat ditinjau adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Angka TPAK ini mengidentifikasikan banyaknya penduduk usia kerja yang terlibat secara ekonomi di suatu wilayah. Berdasarkan data tahun 2007 s/d 2010 bahwa TPAK Kabupaten Hulu Sungai Tengah selalu di atas TPAK Provinsi Kalimantan Selatan. Apabila dirunut TPAK Kabupaten Hulu Sungai Tengah mengalami penurunan pada tahun 2008 (71,76) dan meningkat kembali secara bertahap sehingga pada tahun 2010 menjadi 74,35%, sedangkan TPAK Provinsi Kalimantan Selatan 71,30%.

Pada tahun 2010, penduduk Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang bekerja sebanyak 121 ribu orang atau 94% dari angkatan kerja. Sedangkan yang menganggur sebanyak 8 ribu jiwa. Pengangguran dapat diukur dengan mengukur rasio jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja atau yang sering disebut sebagai Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). TPT Kabupaten Hulu Sungai Tengah di atas Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu 6,28% sedangkan Provinsi Kalimantan Selatan hanya 5,25%. Salah satu yang ditengarai menjadi penyebab meningkatnya pengangguran di Kabupaten Hulu Sungai Tengah adalah terpaan krisis global dan menurunnya kinerja di sektor pertanian.

Salah satu indikator kesejahteraan adalah jumlah penduduk miskin. Penduduk miskin di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dalam 10 tahun terakhir terus menunjukkan penurunan. Pada tahun 2000 penduduk miskin berjumlah 49.100 orang, maka pada tahun 2010 menurun menjadi 15.400 orang atau mengalami penurunan sebanyak 33.700 orang atau 68,64 %. Apabila dirunut per tahun angka kemiskinan Kabupaten Hulu Sungai Tengah fluktuatif, namun cenderung menurun, kecuali pada tahun 2010 yang sedikit melonjak. Secara regional Kalimantan Selatan penduduk miskin Kabupaten Hulu Sungai Tengah relatif lebih tinggi dengan ibu kota lainnya, bahkan persentasenya di atas nilai provinsi (5,21%).

Penduduk miskin di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dari tahun 2000 – 2010 dapat terlihat pada tabel berikut :

(37)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 37

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Tabel 2.21 Perkembangan Penduduk Miskin di Kabupaten Hulu Sungai Tengah Tahun 1999 – 2010

Tahun Penduduk Miskin (Jiwa) Persentase (%)

2000 49.100 22,01 2001 34.632 15,49 2002 27.300 12,19 2003 28.200 12,19 2004 23.100 9,94 2005 21.300 9,09 2006 24.881 10,39 2007 19,275 8,14 2008 17.151 7,12 2009 13.924 5,73 2010 15.400 6,32 Sumber : BPS Kab. HST

Apabila dilihat dari tingkat kesejahteraan pada tahun 2010, maka Keluarga Pra Sejahtera sebanyak 4.080 KK, Sejahtera I sebanyak 20.134 KK, Sejahtera II sebanyak 32.235 KK, Sejahtera III sebanyak 15.660 KK dan Sejahtera Plus sebanyak 357 KK.

Rumah merupakan kebutuhan yang mendasar bagi manusia. Karena digunakan sebagai tempat tinggal sudah selayaknya rumah sesuai dengan kaidah kesehatan sehingga nyaman bagi penghuninya. Jumlah rumah di Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada tahun 2010 sebanyak 68.802 buah. Di Kecamatan Barabai merupakan kecamatan yang terbanyak bangunan rumahnya mencapai 14.408 buah (20,94%) dan yang paling sedikit di Kecamatan Batang Alai Timur sebanyak 1.795 buah (2,61%). Data jumlah rumah selengkapnya menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel 2.15.

Tabel 2.22 Jumlah Rumah Per Kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah No. Nama Kecamatan Jumlah Rumah (Buah) Persentase (%)

1. Haruyan 5.666 8,24

2. Batu Benawa 5.468 7,95

3. Hantakan 3.114 4,53

4. Batang Alai Selatan 6.436 9,35

5. Batang Alai Timur 1.795 2,61

6. Barabai 14.408 20,94

7. Labuan Amas Selatan 7.651 11,12

8. Labuan Amas Utara 7.860 11,42

9. Pandawan 8.560 12,44

10. Batang Alai Utara 4.936 7,17

11. Limpasu 2.908 4,23

Jumlah 68.802 100,00

(38)

POKJA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

2- 38

Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman-PPSP-2012

GAMBARANUMUMWILAYAH

Kondisi umum perumahan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah tahun 2010 dengan status kepemilikan milik sendiri sebanyak 75%, atap terluas menggunakan seng sebanyak 41,5%, dinding berupa kayu sebanyak 93,9% begitu juga lantainya, sumber penerangan menggunakan listrik PLN sebanyak 89,9% dengan daya terpasang paling banyak 450 Watt (64,4%), dan sumber air minum terbanyak menggunakan sumur bor yaitu 47,7%.

Ditinjau dari segi sanitasi dan kebersihan lingkungan, yaitu dilihat dari keberadaan fasilitas buang air besar, masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah 56% memiliki sendiri fasilitas ini, 15% milik bersama, 7% memakai fasilitas WC umum, dan ada 22% rumahnya yang tidak memiliki WC.

Karena pesatnya pertumbuhan penduduk terutama di perkotaan, yang umumnya berasal dari urbanisasi, dan masih rendahnya kemampuan serta kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, kemudian diperparah belum diimbanginya kemampuan pelayanan kota sehingga berakibat pada semakin meluasnya lingkungan perumahan dan permukiman kumuh. Berdasarkan hasil data primer, yaitu melalui pengamatan langsung dan data citra satelit serta masukan dari instansi teknis, telah ditetapkan kawasan kumuh di Kabupaten Hulu Sungai Tengah khususnya di wilayah perkotaan Barabai oleh Bupati Hulu Sungai Tengah dengan SK Nomor 050.13 / 26 / 051 / TAHUN 2011 tanggal 8 Maret 2011 tentang Penetapan Lokasi Lingkungan Perumahan dan Pemukiman Kumuh di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, yaitu di Wilayah Kampung Sasak (Kel. Barabai Utara Kec. Barabai, luas 8 Ha, 360 unit rumah, 360 KK dan 1.440 jiwa) dan Bantaran Sungai Barabai (Kel. Bukat, Kel. Barabai Darat, Kel. Barabai Selatan, dan Kel. Barabai Timur Kec. Barabai, luas 42 Ha, 800 unit rumah, 800 KK, dan 3.200 jiwa).

2.5 Kelembagaan Pemerintah Daerah

Dalam rangka melaksanakan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 13 Tahun 2007 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang kemudian direvisi kembali dengan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Berdasarkan Perda Nomor 11 Tahun 2011 tersebut, perangkat Daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah terdiri dari :

1. Sekretariat Daerah

2. Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 3. Dinas Daerah

a) Dinas Pekerjaan Umum b) Dinas Pendidikan

c) Dinas Pendapatan Daerah

d) Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika e) Dinas Kesehatan

f) Dinas Perindustrian, Pasar, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah g) Dinas pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

Gambar

Tabel 2.1 Pembagian Administrasi dan Luas Wilayah Kecamatan  Kabupaten Hulu Sungai Tengah
Tabel  2.2  Kelas Lereng Lahan Kabupaten Hulu Sungai Tengah
Tabel 2.4 Formasi Batuan Kabupaten Hulu Sungai Tengah
Tabel 2.7  Data Penggunaan Lahan Kabupaten Hulu Sungai Tengah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara juga dapat meningkatkan nilai PDRB sektor pertanian karena memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap

Rumitnya permasalahan tersebut, dimana peningkatan penerimaan daerah dari sektor pertambangan terus diupayakan dan pertumbuhan ekonomi menjadi prioritas utama pemerintah

Berdasarkan pekerjaan utama sebagian besar penduduk bekerja di sektor pertanian, antara Tahun 2005 ke Tahun 2010 persentase menurun dari 43% menjadi 38%, secara

memberikan sumbangan terhadap PDRB kabupaten Mukomuko?.. c) Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh sub sektor perkebunan dalam. meningkatkan kesejahteraan masyarakat di

Sektor pertanian berperan cukup besar dalam pembangunan daerah Desa Wonokerto, baik berperan langsung terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten

Pengelolaan potensi pariwisata di daerah ini menjadi perhatian khusus pemerintah daerah, hal ini tercermin dalam arah kebijakan (visi) pemerintah bahwa tujuan utama

4. Sudah sadar membawa anaknya yang sakit ke sarana/petugas kesehatan. Sumber penghasilan utama sebagian besar penduduk. Sumber penghasilan utama sebagian besar penduduk adalah

pada tahun 2012 Aceh akan tumbuh menjadi negeri makmur yang berkeadilan dan adil dalam. makmur yang berkeadilan dan adil dalam