• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Tabel 1.1 Review Penelitian Terdahulu. Objek/Variabel

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Tabel 1.1 Review Penelitian Terdahulu. Objek/Variabel"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang digunakan sebagai acuan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1 Review Penelitian Terdahulu

No. Nama,

(Tahun) Judul

Objek/Variabel

/Analisis Hasil

1. Maulydina et al (2020)

Pengaruh Corporate Governanc e Terhadap Islamicity Performan ce Index

Objek :

Bank Syariah di Indonesia selama periode pengamatan 2014-2018.

Variabel :

Corporate Governance, Profit Sharing Ratio; Zakat Performance Ratio;

Equitable Distribution Ratio; Islamic Income.

Teknik Analisis:

menggunakan software IBM SPSS versi 25 dengan uji deskriptif statistik, analisis regresi linier sederhana, serta uji

hipotesis.

- Corporate governance tidak berpengaruh terhadap Profit Sharing Ratio

- Corporate governance tidak berpengaruh terhadap equitable distribution ratio - Corporate governance tidak

berpengaruh terhadap Islamic income.

- Corporate governance berpengaruh terhadap zakat performance ratio.

2. Nisa (2020) Pengaruh Corporate Governance Dan Manajemen Risiko

Terhadap Islamicity Performance Index

Objek:

9 Bank Umum Syariah

Variabel:

profit sharing ratio, zakat performance

ratio, directore employee welfare ratio, equitable distribution ratio, Islamic income

vs non Islamic income, corporate governance

Analisis data:

menggunakan software SmartPLS 3.0 dengan Outer Mode, Inner Model, uji hipotesis

- Corporate governance berpengaruh terhadap Profit Sharing Ratio

- Corporate governance tidak berpengaruh terhadap zakat performance ratio

- Corporate governance berpengaruh terhadap equitable distribution ratio - Corporate governance tidak

berpengaruh terhadap directore employee welfare ratio

- Corporate governance tidak berpengaruh terhadap Islamic income vs non Islamic income

(2)

No. Nama,

(Tahun) Judul

Objek/Variabel

/Analisis Hasil

3. Widiastuti et al (2017)

Good Governance Bisnis Shariah Terhadap Islamicity Financial Performance Index Bank Umum Syariah

Objek:

Bank Islam yang terdaftar di BI selama periode pengamatan 2011- 2015.

Variabel:

Good Sharia Business Governance, Islamicity Financial Performance Index Teknik Analisis:

menggunakan software spss 22,0 dengan uji normalitas, uji heteroskedasitas, uji multikolinearitas, uji koefisien

determinasi (R2), uji ketepatan model, uji parsial (T)

- Variabel good governance bisnis shariah dewan komisaris berpengaruh terhadap kinerja keuangan bank syariah di Indonesia

4. Endah et al (2015)

Hubungan Penerapan Good Governance Business Syariah Terhadap Islamicity Financial Performance Index Bank Syariah Di Indonesia

Objek:

Bank Umum Syariah (BUS) beroperasi secara nasional yang terdaftar di Bank Indonesia dalam periode 2011 – 2014

Variabel:

Good Governance Business Syariah, Islamicity Financial performance index, Islamic Bank Performance

Teknik Analisis:

pearson correlation atau product moment pearson

- Good Governance Business Syariah (GGBS) berpemgaruh siginifikan terhadap peningkatan kinerja bank syariah di Indonesia

5. Ali (2018)

Islamic Corporate Governance And Islamic Banking Financial Performance

Objek:.

Bank syariah tahun 2012-2016 Variabel:

corporate governance, kuran dewan komisaris, ukuran komite audit, ukuran dewan pengawas syariah, jumlah rapat dewan komisaris syariah, financial performance

Teknik Analisis:

Menggunakan software SPSS 22 dengan uji Classic Assumption, uji Autocorrelation, uji Multicollinearity, uji Multiple Linear Regression, uji Partia

- Variabel frekuensi rapat dewan pengawas syariah, ukuran komite audit

berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan bank syariah.

- Variabel ukuran DPS dan ukuran komite tidak

berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan

(3)

No. Nama,

(Tahun) Judul

Objek/Variabel

/Analisis Hasil

6. Amelinda et al (2021)

Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja

Keuangan Bank Umum Syariah Di Indonesia

Objek:

bank umum syariah di Indonesia

Variabel:

Good Corporate Governance, Financial Performance, Islamic Bank , dewan komisaris, dewan direksi, dewan pengawas syariah, komite audit, Return On Asset

Teknik analisis:

Menggunakan software eviews 9 dengan uji regresi panel

- Variabel dewan komisaris, tidak berpengaruh terhadap ROA

- Variabel dewan direksi tidak berpengaruh terhadap ROA - Variabel dewan pengawas

syariah berpengaruh terhadap ROA

- Variabel dewan komite audit berpengaruh terhadap ROA

7. Fadhillah (2018)

Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Dan Resiko

Pembiayaan Di Bank Umum Syariah

Objek:

Perbankan Syariah di Indonesia tahun 2013-2017

Variabel:

Good Corporate Governance, Kinerja Keuangan, Pengembalian Pembiayaan, Risiko Pembiayaan, dan Bank Umum Syariah.

Teknik Analisis:

-

- Good corporate governance berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pada Rasio profitabilitas dengan indikator Return On Asset.

- Good corporate governance juga berpengaruh negatif terhadap risiko pembiayaan dengan indikator tingkat non performing financing.

- Good corporate governance juga berpengaruh Non Performing Financing - Good corporate governance

juga berpengaruh Return On Asset.

B. Teori dan Kajian Pustaka 1. Stakehoder Theory

Penelitian ini mengadopsi stakeholder theory. Teori stakeholder membahas oprasional perusahaan yang tidak hanya untuk kepentingan perusahaan pribadi tetapi juga memberi manfaat bagi para stakeholder. Sehingga keberadaan suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan stakeholder kepada perusahaan (Ghozali et al, 2007). Stakeholder dapat dibagi menjadi dua berdasarkan karakteristiknya yaitu stakeholder primer dan stakeholder sekunder (Clarkson, 1995). Stakeholder primer adalah seseorang atau kelompok yang

(4)

tanpanya perusahaan tidak dapat bertahan untuk going concern, meliputi:

shareholder dan investor, karyawan, konsumen dan pemasok, bersama dengan yang didefinisikan sebagai kelompok stakeholder publik, yaitu: pemerintah dan komunitas. Kelompok stakeholder sekunder didefinisikan sebagai mereka yang mempengaruhi, atau dipengaruhi perusahaan, namun mereka tidak berhubungan dengan transaksi dengan perusahaan.

Kegiatan bank syariah tidak terlepas hubungannya dengan masyarakat, sehingga penerapan teori stakeholder primer yang paling berpengaruh bagi penggunaan Good Governance Business Syariah (GGBS). Penerapan Good governance business syariah (GGBS) yang baik pada perbankan syariah akan memberikan keseimbangan pemenuhan kepentingan seluruh stakeholders.

2. Good Corporate Governane

Menurut Bank Indonesia dalam PBI nomor 11/33/PBI/2009, good corporate governance, adalah suatu tata kelola Bank yang menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan, akuntabilitas, pertanggung jawaban, professional, dan kewajaran.

GCG sebagai suatu mekanisme tata kelola organisasi secara baik dalam melakukan pengelolaan sumber daya organisas secara efisien, efektif, ekonomis ataupun produktif dengan prinsip-prinsip keterbukaan, akuntabilitas, pertanggungjawaban, independen, dan adil dalam rangka mencapai tujuan organisasi (Syakhroza, 2005).

Konsep tata kelola perusahaan dari perspektif islam tidak banyak berbeda dengan konvensional karena hal tersebut merupakan pengarahan dan pengendalian perusahaan dalam mencapai tujuannya dengan tetap melindungi kepentingan hak stakeholder. Akan tetapi, paradigma Islam memperlihatkan perbedaan karakteristik atau ciri-ciri yang berbeda dengan konvensional dalam hal konsep pengambilan keputusan yang lebih luas dengan dasar pemikiran

(5)

epistimologi sosial-ilmiah Islam yang merujuk kepada ketauhidan Allah SWT.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa GCG pada bank syariah merupakan suatu konsep yang mengatur pola hubungan bersinergi antara peran dewan komisaris, direksi, komite audit, dewan pengawas syariah, RUPS, dan stakeholder dalam pengendalian operasional bank syariah yang akuntabel, transparan, independen, responsif dan jujur dalam operasionalnya.

2.1 Prinsip Good Corporate Governance

Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) yang tertuang dalam pedoman umum good corporate governance tahun 2006, terdapat 5 (lima) asas yang menjadi pedoman dalam penerapan GCG yaitu, terbuka dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan serta mudah didapat dan dipahami oleh pemangku kepentingan, akuntabel dalam pengelolaannya, cepat tanggap dan patuh terhadap aturan yang berlaku baik internal maupun eksternal bank syariah, bebas dari tekanan pihak manapun, serta adil dalam hal kepentingan terhadap pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya (Komite Nasional Kebijakan Govermance, 2006).

2.2 Manfaat Good Corporate Governance

Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) tahun 2001 manfaat dari penerapan GCG dapat meningkatkan kinerja perusahaan karena adanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik yang menyebabkan efisiensi operasional dan pelayanan kepada stakeholder meningkat. Selain itu juga mempermudah diperolehnya dana pembiayaan baik dari stakeholder maupun masyarakat yang disebabkan kepercayaan kepada perusahaan sehingga nantinya akan meningkatkan nilai perusahaan dan nilai saham dari perusahaan tersebut. Selain itu, penerapan GCG diajukan agar

(6)

tercapainya laporan keuangan perusahaan yang lebih transparan bagi semua pengguna laporan keuangan. Struktur GCG yang baik membantu memastikan bahwa manajemen menggunakan sumber daya perusahaan dengan tepat sesuai dengan kepentingan prinsipal dan melaporkan kondisi laporan keuangan dan kinerja operasi perusahaan kepada para prinsipal. Sehingga, fungsi utama dari GCG adalah untuk melakukan pemeriksaan atas kekuatan manajemen dan untuk memastikan bahwa kepentingan pemegang saham telah terpenuhi.

2.3 Mekanisme Good Corporate Governance

Menurut Caprio et al, (2003) mekanisme tata kelola perusahaan akan mampu mengurangi perampasan sumber daya bank dan mempromosikan efisiensi bank. Hal ini merupakan salah satu fakta mengenai pentingnya tata kelola perusahaan di bank syariah. Corporate Governance biasanya mengacu pada sekumpulan mekanisme yang mempengaruhi keputusan manajer ketika ada pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian beberapa dari pengendalian ini terletak pada fungsi dari dewan direksi, pemegang saham institusional, dan pengendalian dari mekanisme pasar. Sehingga sukses tidaknya perusahaan sangat ditentukan oleh keputusan atau strategi yang diambil perusahaan. Dewan memegang peranan yang sangat signifikan bahkan peran utama dalam penentuan strategi perusahaan tersebut. Indonesia merupakan negara yang menggunakan konsep twotier, dimana dewan terdiri dari Dewan Direksi dan Dewan Komisaris.

3. Good Governance Bisnis Shariah (GGBS)

Bisnis syariah telah lama berkembang di Indonesia. Dewasa ini telah banyak bisnis syariah, utamanya sektor keuangan dan perbankan, yang menyatakan diri sebagai entitas bisnis syariah. Guna mendukung kegiatan bisnis syariah tersebut, dalam pelaksanaan bisnis syariah perlu menggunakan

(7)

konsep Good Governance Bisnis Shariah (GGBS) yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG).

Pelaksanaan Good Governance Bisnis Shariah (GGBS) didasarkan dari dua sudut pandang yaitu; sudut pandang spiritual, dan sudut pandang operasional Komite Nasional Kebijakan Govermance (Komite Nasional Kebijakan Govermance, 2011). Sudut pandang secara spiritual, penerapan GGBS perlu komitmen ketakwaan atas berbagai hal terkait kegiatan bisnis.

Terdapat dua aspek yaitu halal dan baik (tayyib), sebagaimana firman Allah SWT dalam surah berikut ini;

Surah Al-A’raf/7: 96

َك ْهِكٰل َو ِض ْرَ ْلْا َو ِءۤاَمَّسلا َهِّم ٍتٰكَزَب ْمِهْيَلَع اَىْحَتَفَل ا ْىَقَّتا َو ا ْىُىَمٰا يٰٰٓزُقْلا َلْهَا َّنَا ْىَل َو ْمُهٰوْذَخَاَف ا ْىُبَّذ

َن ْىُبِسْكَي ا ْىُواَك اَمِب Artinya :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri."

Untuk sudut padang operasional, penerapan GGBS menuntut berfungsinya empat pilar, yaitu negara, ulama, pelaku bisnis syariah dan masyarakat. Berfungsinya keempat pilar tersebut merupakan wujud peran manusia dalam mengemban amanah kekhalifahan dan kepemimpinan dalam mengelola seluruh sumberdaya di muka bumi (Komite Nasional Kebijakan Govermance, 2011).

Bank Indonesia (2009) menyediakan pedoman untuk melaksanakan GCG Bisnis Syariah dalam pratbrktik perbankan berdasarkan prinsip Syariah.

Good Governance Bisnis Shariah (GGBS) adalah salah satu elemen penting dalam mempertahankan keberlanjutan pertumbuhan usaha. Menurut Bank

(8)

Indonesia (2009) pelaksanaan GCG Bisnis Syariah oleh bank Syariah tercermin dalam :

- Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Direksi.

- Kelengkapan dan pelaksanaan tugas dan komite-komite dan fungsi yang menjalankan pengendalian internal Bank Umum Syariah.

- Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Pengawas Syariah (DPS).

- Penerapan fungsi kepatuhan, audit internal dan audit eksternal.

- Batas maksimum penyaluran dana.

- Transparansi kondisi keuangan dan non-keuangan Bank Umum Syariah.

4. Islamice Financial Performance (IFP)

Kinerja perusahaan dapat dinilai melalui berbagai macam indikator atau variable untuk mengukur keberhasilan perusahaan, pada umumnya berfokus pada informasi kinerja yang berasal dari laporan keuangan.

Laporan keuangan tersebut bermanfaat bagi para pengguna laporan keuangan dalam rangka membuat keputusan investasi, penempatan dana, pembiayaan, serta prospek bank syariah dimasa mendatang. Cara mengukur kinerja lembaga keuangan syariah dapat dilakukan salah satunya melalui Islamicity Index (Hameed et al, 2004), sehingga kinerja dari lembaga keuangan Islam dapat benar-benar diukur. Islamicity index terdiri dari tujuh rasio yang merupakan gambaran dari kinerja bank syariah yaitu : a. Profit Sharing Ratio (PSR).

Salah satu tujuan utama dari Bank Syariah memiliki tujuan utama dalam hal bagi hasil. Sehingga sangatlah penting untuk ngenalisis (mengidentifikasi) sejauh mana bank syariah berhasil Dalam mencapai tujuan mereka atas bagi hasil melalui rasio ini. Pendapatan dari bagi hasil dapat diperoleh melalui dua akad:

- Akad mudharabah yaitu penanaman dana dari pemilik kepada

(9)

pengelola dana untuk melakukan kegiatan usaha tertentu, dengan pembagian berdasarkan profit and loss sharing.

- Akad musyarakah yaitu perjanjian antara pemilik modal untuk mencampurkan modal mereka pada suatu usaha tertentu dengan pembagian keuntungan yang telah disepakati sebelumnya, dan kerugian ditanggung semua pemilik modal sesuai pembagian modal masing- masing.

b. Zakat Performance Ratio (ZPR).

Zakat merupakan salah Satu tujuan utama akuntansi syariah terlebih zakat merupakan salah satu kewajiban dalam Islam. Sehingga kinerja bank syariah harus didasarkan pada zakat yang dibayarkan oleh Bank untuk menggantikan indikator kinerja konvensional yaitu rasio laba per saham. Untuk kekayaan bank syariah didasarkan pada aktiva bersih dari pada laba bersih yang ditekankan pada metode konvensional.

Maka apabila aktiva bersih bank semakin tinggi, maka tentunya akan membayar zakat yang tinggi pula.

c. Equitable Distribution Ratio (EDR)

Selain kegiatan bagi hasil, akuntansi syariah juga berusaha untuk memastikan meratanya distribusi diantara semua pihak. Oleh karena itu rasio ini pada dasarnya mencoba untuk menemukan bagaimana pendapatan yang diperoleh oleh bank-bank syariah sudah didistribusikan di antara berbagai pihak pemangku kepentingan. Pihak- pihak tersebut dibagi menjadi empat kelompok, yaitu pemegang saham, masyarakat, karyawan, dan perusahaan sendiri. Rasio ini digambarkan oleh jumlah yang dikeluarkan untuk qard (pinjeman) dan dana kebajikan, upah karyawan dan lain-lain. Perhitungan dilakukan pada setiap item, dengan cara dihitung jumlah yang didistribusikan

(10)

dari total pendapatan setelah dikurangi zakat dan pajak.

d. Directors - Employees welfare Ratio. (DER)

Banyaknya isu yang menyatakan bahwa upah direktur jauh lebih besar dari kinerja yang mereka lakukan. Sehingga rasio ini bertujuan untuk mengukur apakah direktur mendapat gaji yang berlebih dibandingkan dengan pegawai lainnya, karena remunerasi direktur merupakan isu yang penting.

e. Islamic Income (II)

Praktik perekonomian Islam saat ini telah secara tegas melarang transaksi yang melibatkan riba, gharar dan judi. Namun masih banyak dijumpai praktik perdagangan yang tidak sejalan dengan ajaran Islam.

Sehingga sangatlah penting bagi bank-bank syariah untuk mengungkapkan dengan jujur setiap pendapatan mana yang dianggap halal, dan mana yang dilarang dalam Islam. Bank syariah hanya menerima pendapatan dari sumber yang halal. Jika terdapat pendapatan dari transaksi bank syariah yang non-halal, maka bank harus mengungkapkan informasi seperti jumlah, sumber, bagaimana penentuannya dan yang terpenting prosedur apa saja yang tersedia untuk mencegah masuknya transaksi yang dilarang oleh syariah.

Laporan keuangan bank syariah jumlah pendapatan non-halal dapat dilihat dalam laporan sumber dan penggunaan qardh.

C. Perumusan Hipotesis

1. Good Governance Business Shariah (GGBS) terhadap Profit Sharing Ratio (PSR)

Good Governance Business Shariah (GGBS) perlu diterapkan pada perbankan syariah guna terwujudnya sistem perbankan yang adil sesuai dengan ajaran Islam. Terlebih lagi penerapan Good Governance Business

(11)

Shariah (GGBS) pada aspek Islamic financial performance akan memberikan dampak pada perusahaan maupun pada pihak stakeholder.

Penerapan Good Governance Business Shariah (GGBS) yang baik dan tepat akan memberika dampak yang baik pada profit sharing ratio (PSR).

Karena dengan penerapan GGBS pada bank syariah sesuai dega ajaran islam (adil) maka pembiayaan yang di lakukan oleh bank syariah akan rata dan adil. Hal tersebut akan berdampak pada kepercayaan investor (stakeholder) dan berdampak pada pendapatan yang didapat oleh bank syariah.

H1: Good governance business shariah (GGBS) berepengaruh terhadap profit sharing ratio (PSR)

2. Good governance business shariah (GGBS) terhadap zakat performance ratio (ZPR)

Zakat Performance Ratio merupakan rasio yang mengukur seberapa banyak zakat dikeluarkan oleh bank bila dibandingkan dengan aktiva bersih yang dimiliki. Penerapan Good Governance Business Shariah (GGBS) yang baik akan memberikan dampak perbankan syariah dalam pembayaran dana zakat, dan sebaliknya. Pernyataan ini juga didukung dengan hasil penelitian dari (Maulydina et al. 2020) menunjukkan bahwa Good Governance Business Shariah (GGBS) berpengaruh terhadap Zakat Performance Ratio (ZPR).

H2: Good governance business shariah (GGBS) berpengaruh terhadap Zakat Performance Ratio (ZPR)

3. Good Governance Business Shariah (GGBS) terhadap Equitable Distribution Ratio (EDR)

Equitable Distribution Ratio (EDR) bertujuan untuk mengukur besar persentase pendapatan yang didistribusikan ke jumlah stakeholder..

(12)

Penerapan Good Governance Business Shariah (GGBS) yang baik akan berdampak baik pula pada pembiayaan dana donasi dan dana pinjaman yang dikeluarkan oleh perbankan kepada stakeholder. Pembiayaan dana yang baik tersebut akan berdampak terhadap pekembangan perbankan dan juga mempertahankan kepercayaan stakeholder, sehingga dapat meminimalisir kemungkinan resiko yang timbul kedepannya.

H3: Good governance business shariah (GGBS) berpengaruh terhadap Equitable Distribution Ratio (EDR)

4. Good governance business shariah (GGBS) terhadap directors- employees welfare ratio (DER)

Directors-Employee Welfare Ratio merupakan rasio yang membandingkan antara gaji direktur berbanding dengan dana kesejahteraan pegawai.

Penerapan Good Governance Business Shariah (GGBS) untuk melihat prinsip-prinsip keadilan yang ditegakkan di lembaga-lembaga Islam apakah sudah sesuai dengan syariat islam dan prinsip-prinsip keadilan maka akan dapat mengikis kesenjangan antara pimpinan dengan karyawan. Dengan penerapan GGBS yang baik tersebut diharapkan terpenuhinya kesejateraan karyawan dengan baik, hal tersebut juga akan berdampak pada kinerja kayawan. Semakin baik kinerja karyawan maka akan meningkat pula pendapatan yang dihasilkan oleh perusahaan.

H4: Good Governance Business Shariah (GGBS) berpengaruh terhadap Directors-Employees Welfare Ratio (DER)

5. Good governance business shariah (GGBS) terhadap Islamic income (II)

Islamic income merupakan rasio yang membandingkan total pendapatan yang diperoleh Islam bank secara keseluruhan (halal dan non halal).

Penerpan Good Governance Business Shariah (GGBS) yang baik sesuai

(13)

Equitable Distribution Ratio Good

Governanc e Business Shariah (GGBS)

Zakat performance Ratio Profit Sharing Ratio

Directors - Employees welfare Ratio

Islamic Income

dengan prinsip-prinsip dasar bank syariah bebas dari unsur-unsur riba (Aisjah, 2014), diharapkan dengan penerapan GGBS tersebut akad yang dilakukan antara bank dan stakeholder dapat memberikan keadilan tanpa mengutamakan keuntungan satu belah pihak. Jika akad yang dilakukan sesuai dengan syariah Islam yang mengutamakan kesmaslahatan bersama perusahaan dapat meminimalisir resiko yang terjadi kedepannya dan stakeholder akan mendapat keadilan sesuai dengan perjanjian yang telah dilakukan. Hal tersebut akan meningkatkan kepercayaan stakeholder dan juga mempertahankan keberlangsungan perusahaan.

H5: Good Governance Business Shariah (GGBS) berpengaruh terhadap Islamic Income (II)

D. Model Penelitian

Gambar 1. Model Penelitian

Dari diagram kerangka pemikiran teoritis di atas, dapat disimpulkan untuk dua variabel, yaitu:

1. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Good Governance Business Shariah (X).

2. Variabe dependen Islamic financial performance dengan proxy Profit sharing ratio (Y1), Zakat performance ratio (Y2), Equitable distribution

(14)

ratio (Y3), Directors-Employees Welfare Ratio (Y4), Islamic Income (Y).

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini mengungkapkan bahwa pandemi Covid-19 berdampak terhadap sektor pertanian diantaranya menurunnya tingkat bahan pokok, intervensi distribusi dari daerah

1) Keterlibatan dengan produk seseorang akan terlibat dengan suatu produk tertentu dan bermaksud untuk membicarakan mengenai hal itu dengan orang lain, sehingga terjadi

Terdapat lima tahap dari proses keputusan pembelian yang dikembangkan oleh (Kotler & Keller, 2016). 1) Pengenalan masalah : Proses keputusan pembelian diawali dengan

Semakin banyak sertifikasi lingkungan yang diperoleh perusahaan maka semakin baik dan luas pengungkapan tangung jawab sosialnya, karena sertifikasi lingkungan yang

keinginan membeli secara umum didasarkan pada upaya mencocokkan motif pembelian dengan atribut atau karakteristik merek yang tengah dipertimbangkan dengan melibatkan

1) Sesuai dengan harapan. Menilai suatu destinasi wisata sesuai dengan harapan. Memiliki minat untuk berkunjung kembali di masa yang akan datang. Bersedia untuk memberikan

Berdasarkan Gambar 2.2 tersebut menunjukkan bagaimana nantinya pengaruh Country of Origin (X1) atau negara asal terhadap keputusan pembelian selain itu, mencari pengaruh

Keputusan investasi juga merupakan suatu keputusan diambil dalam penanaman modal yang dimiliki untuk memperoleh keuntungan dari kegiatan investasi yang telah