• Tidak ada hasil yang ditemukan

Melayani, Profesional, Terpercaya. h a l i

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Melayani, Profesional, Terpercaya. h a l i"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

h a l | i

(2)

h a l | 1

Jakarta, Februari 2020 Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat

ttd.

Susyanto, A.Ptnh., M.M.

NIP. 19630930 198503 1 004 KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat tahun 20202024 dapat terselesaikan. Renstra Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat tahun 20202024 adalah dokumen perencanaan pembangunan jangka menengah 5 (lima) tahun yang memuat tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan sesuai tugas pokok dan fungsi kantor Pertanahanan Kota Administrasi Jakarta Pusat.

Maksud dari penyusunan dokumen rencana strategis Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat ini adalah:

1. Sebagai kerangka dan arah yang transparan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun kedepan;

2. Sebagai dokumen yang menyelaraskan dan mengintegrasikan antara perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan program kegiatan yang dilaksanakan Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat;

3. Sebagai pedoman dalam Penyusunan Rencana Kerja Tahunan Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat selama periode 5 (lima) tahun kedepan;

4. Sebagai tolak ukur akuntabilitas Kinerja Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat selama 5 (lima) tahun kedepan.

Demikian, semoga rencana strategis yang telah disusun ini dapat bermanfaat sebagai pedoman kerja Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat.

(3)

h a l | ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR TABEL ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

I.1. Kondisi Umum ... 1

I.2. Potensi dan Permasalahan ... 3

I.2.1. Potensi ... 4

I.2.2. Permasalahan dan Isu Strategis ... 6

BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN KEMENTERIAN ATR/BPN ... 11

II.1. Visi Kementerian ATR/BPN ... 11

II.2. Misi Kementerian ATR/BPN ... 12

II.3. Tujuan Kementerian ATR/BPN ... 13

II.4. Sasaran Strategis Kementerian ATR/BPN ... 15

BAB III ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBANGAAN ... 17

III.1. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional ... 17

III.2. Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian ATR/BPN ... 19

III.3. Kerangka Regulasi pada Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat ... 33

III.4. Kerangka Kelembagaan ... 41

BAB IV TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN... 45

IV.1. Target Kinerja ... 45

IV.1.1. Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Sasaran Strategis ... 45

IV.1.2. Indikator Kinerja Program ... 47

IV.1.3. Indikator Kinerja Kegiatan ... 49

IV.2. Kerangka Pendanaan ... 69

(4)

h a l | iii

BAB V PENUTUP ... 71 LAMPIRAN ... 72 Lampiran 1: Matriks Kinerja dan Pendanaan

Lampiran 2: Matriks Kerangka Regulasi

(5)

h a l | iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar I.1.Isu Strategis Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional

Provinsi DKI Jakarta... 7

Gambar I.2. Registering Property di Jakarta ... 9

Gambar II.1.Visi dan Misi Tujuan dan Sasaran Strategis Pertanahan dan Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional 2020-2024 (Bagian 1) ... 13

Gambar II.2. Visi dan Misi Tujuan dan Sasaran Strategis Pertanahan dan Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional 2020-2024 (Lanjutan) ... 14

Gambar II.3. Perspektif Manajemen Kinerja Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional 2020-2024 ... 15

Gambar III.1. Misi RPJMN Tahun 2020─2024 ... 16

Gambar III.2. Tujuh Agenda dalam RPJMN ke IV ... 17

Gambar III.3. Lima Arahan Presiden Tahun 2020─2024 ... 18

Gambar III.4. Perspektif Global Pengelolaan Pertanahan (dan Ruang) dalam Pembangunan Berkelanjutan... 20

Gambar III.5. Tematik Tahunan Pembangunan Pertanahan dan Tata Ruang ... 26

Gambar III.6. Proses Kinerja Kementerian Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional ... 42

Gambar III.7. Struktur Organisasi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional ... 41

Gambar IV.1. Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Strategis (IKSS) pada Tujuan 1 ... 45

(6)

h a l | v

Gambar IV.2. IKSS 6 Terwujudnya Tata Kelola Kelembagaan yang

Komprehensif dan Berstandar Kepemerintahan yang Baik ... 47

Gambar IV.2. Gambaran Isu Strategis 1 di Provinsi DKI Jakarta ... 47

Gambar IV.3. Strategi dalam Mewujudkan Keadilan Pertanahan (Isu 1a) ... 48

Gambar IV.4. Rencana Kegiatan One Map Project bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta... 50

Gambar IV.5. Fiscal Policy (Isu 1b) ... 51

Gambar IV.6. Pengenalan Konsep Easment atau Servitude (Isu 1c) ... 54

Gambar IV.7. Uraian tentang EoDB di Indonesia ... 57

Gambar IV.8. Strategi Perbaikan Prosedur (Isu 2a) ... 59

Gambar IV.9. Prosedur Balik Nama ... 60

Gambar IV.10. Strategi Perbaikan Waktu (Isu 2b) ... 61

Gambar IV.11. Strategi Perbaikan Biaya (Isu 2c) ... 62

Gambar IV.12. Kualitas Data Administrasi Pertanahan DKI Jakarta ... 63

(7)

h a l | vi

DAFTAR TABEL

Tabel III.1. Arah dan Kebijakan Strategi ... 22

Tabel III.2. Arah Kebijakan AgendaPertama ... 26

Tabel III.3. Arah Kebijakan Agenda ke Dua ... 28

Tabel III.4. Kerangka Regulasi ... 34

Tabel III.5. Usulan dan Kerangka Matrik Regulasi... 38

Tabel IV.1. Target Kinerja Sasaran Strategis Kementerian ATR/BPN ... 46

Tabel IV.2. Tabel IKSS pada Tujuan 3 ... 51

Tabel IV.2. Matrik Kinerja Kegiatan pada Isu Strategis 1a ... 51

Tabel IV.3. Matrik Kinerja Kegiatan pada Isu Strategis 1b ... 54

Tabel IV.4. Target Kinerja Kegiatan Isu Strategis 2 ... 67

Tabel IV.5. Target Kinerja Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat ... 68

Tabel IV.6. Tabel Kerangka Pendanaan Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat ... 73

(8)

h a l | 1

BAB I PENDAHULUAN I.1. Kondisi Umum

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2020 tentang Kementerian Agraria dan Tata Ruang dan Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2020 tentang Badan Pertanahan Nasional sebagai penyempurnaan dari Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2015 tentang Kementerian Agraria dan Tata Ruang dan Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2015 tentang Badan Pertanahan Nasional, bertujuan untuk mewujudkan harapan keadilan hak atas tanah dan keadilan dalam pemanfaatan ruang bagi seluruh masyarakat Indonesia dan dalam rangka menjadikan tanah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sebagai institusi yang memiliki otoritas untuk mewujudkan tujuan tersebut tentunya tidak ada pilihan lain. Mewujudkan tujuan tersebut adalah suatu keharusan, namun yang tidak kalah penting adalah percepatan yang harus dilakukan untuk mewujudkan amanah tersebut.

Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat adalah instansi vertikal dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional ditingkat Kabupaten/Kota, merupakan ujung tombak Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dalam memberikan pelayanan masyarakat yang profesional, terpercaya, maju dan modern.

Kantor Pertanahan Kota Admnistrasi Jakarta Pusat dalam melaksanakan sebagian tugas Badan Pertanahan Nasional di tingkat Kabupaten/Kota, menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :

a. Penyusunan rencana, program, anggaran, dan pelaporan;

b. Pelaksanaan survei dan pemetaan;

c. Pelaksanaan penetapan hak dan pendaftaran tanah;

d. Pelaksanaan penataan dan pemberdayaan;

e. Pelaksanaan pengadaan tanah dan pengembangan pertanahan;

(9)

h a l | 2

g. Pelaksanaan modernisasi pelayanan pertanahan berbasis elektronik;

h. Pelaksanaan reformasi birokrasi dan penanganan pengaduan; dan i. Pelaksanaan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit

organisasi kantor pertanahan.

Penyusunan rencana strategis di tingkat satuan kerja merupakan salah satu amanat dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN).

Rencana Strategis satker daerah merupakan dokumen kebijakan serta program dan kegiatan dari satuan kerja dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

Dalam ketentuan lainnya yaitu Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 Tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah disebutkan bahwa Perencanaan Strategis merupakan langkah awal yang harus dilakukan agar mampu menjawab tuntutan lingkunganstrategis lokal, nasional, dan global. Disamping itu perencanaan strategis merupakan bagian dari tatanan sistem administrasi negara kesatuan Republik Indonesia.

Sehubungan dengan hal tersebut, satuan kerja Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat menyusun Rencana Strategis Tahun 2020–2024 yang mengacu pada Rencana Strategis Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Tahun 2020–2024 yang telah disusun dengan berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020–2024 yang telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020, serta mempertimbangkan berbagai kondisi yang dapat mempengaruhi pengembangan wilayah untuk mengurangi kesenjangan dan kesejahteraan masyarakat.

Dokumen Rencana Strategis Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat tahun 2020–2024 memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Diharapkan melalui Rencana Strategis yang disusun tersebut, arah kebijakan lima tahun kedepan dan

(10)

h a l | 3

implementasi kebijakan serta kinerja tahunan dari Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat dapat terukur dengan jelas dan transparan dalam rangka mendukung tercapainya tujuan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional sebagai institusi yang mempunyai kewenangan menyelenggarakan pengelolaan pertanahan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan menyelenggarakan penataan ruang yang adil, aman, nyaman, produktif dan lingkungan hidup yang berkelanjutan dengan memperhatikan pelayanan publikdan tata kelola pemerintahan yang berkualitas dan berdaya saing.

Rencana Strategis Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat yang dijabarkan dari Rencana Strategis Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi DKI Jakarta disusun untuk mengatasi dan menyelaraskan serta memudahkan masyarakat Jakarta dalam hal kemudahan berusaha melalui indikator registering property dan bagaimana tetap memanusiakan penduduk DKI Jakarta melalui target-target yang ada pada Sustainable Development Goals (SDG's) khususnya yang berkaitan dengan isu-isu pertanahan dan tata ruang. Capaian yang program yang dilaksanakan pada periode 2015-2019 menjadi baseline dalam penentuan target dan arah kebijakan yang akan dituju pada periode 2020-2024.

I.2. Potensi dan Permasalahan

Kota Administrasi Jakarta Pusat merupakan salah satu dari lima kota administrasi di wilayah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, mempunyai luas 48,13km2 dengan topografi yang relatif datar, sehingga sebagian besar wilayah Jakarta Pusat dipadati oleh bangunan dan gedung bertingkat. Kota Administrasi Jakarta Pusat yang berada dijantung Ibukota Jakarta mempunyai kekhususan, diantaranya sebagai pusat pemerintahan nasional, pusat keuangan dan bisnis, adapun potensi yang ada di kota administrasi Jakarta Pusat sebagai berikut:

(11)

h a l | 4

I.2.1. Potensi

a. Kota Administrasi Jakarta Pusat Sebagai Pusat Pemerintahan Peran Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara, pusat pemerintahan dankota internasional, menuntut DKI Jakarta mampu menampilkan citra bangsa dan negara bagi dunia luar.

Kota AdministrasiJakarta Pusat sebagai tempat berkedudukan hampir keseluruhan perangkat pemerintahan tingkat nasional dan perwakilan negara-negara asing. Hal tersebut menuntut Kota Administrasi Jakarta Pusatuntuk terus berbenah dan mampu melayani tuntutan masyarakat saat ini guna mengatasi dan mengantisipasi berbagai permasalahan serta untuk mencapai kesejahteraan masyarakat di DKI Jakarta.

Dalam melaksanakan peningkatan program dan layanan administrasi pertanahan, Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusatdidukung penuh oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dukungan yang diberikan tersebut dalam hal pembenahan regulasi, dukungan pembiayaan melalui dana hibah yang diterima oleh Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi DKI Jakarta, dan dukungan dalam pelaksanaan tugas serta fungsi pertanahan dan tata ruang di Provinsi DKI Jakarta. Terdapat beberapa Perjanjian Kerjasama (PKS) antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Kanwil BPN Provinsi DKI Jakarta diantaranya terkait Pengitegrasian Data dan Layanan Administrasi Pertanahan serta Legalisasi Aset yang didalamnya selain memuat tentang Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap juga memiliki ruang lingkup dalam Peningkatan Kualitas Data Bidang Tanah di Provinsi DKI Jakarta serta Pemetaan Nilai Tanah berbasis bidang yang dilaksanakan melalui Pendaftaran Tanah Kota Lengkap (PTKL).

b. Potensi Ekonomi dan Bisnis

Pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi biasanya diikuti oleh pengurangan angka kemiskinan, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), serta perluasan lapangan kerja.

(12)

h a l | 5

meningkatkan upaya-upaya pengurangan kemiskinan. Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat memiliki kontribusi besar terhadap kegiatan perekonomian, hal ini bisa terlihat dari kontribusi BPHTB dan pergerakan perekonomian melalui besarnya hak tanggungan. Hingga bulan Desember pada tahun 2020, kontribusi kegiatan pertanahan terhadap BPHTB Kantor pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat sebesar Rp.590.788.846.851,-dan besarnya hak tanggungan sebesar Rp.10.378.422.459.943,-.

c. Potensi Ruang

Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.

Ruang sebagai potensi membutuhkan penataan ruang yang di dalamnya merupakan suatu proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Dalam hal ini aspek perencanaan dan pemanfaatan tidak dapat lepas dari proses pengendalian pemanfaatan ruang yang bertujuan untuk menjamin tertib tata ruang dan keberlanjutan ruang. Oleh karena itu, penyelenggaraan penataan ruang menjadi penting untuk mengoptimalkan potensi ruang dalam pengembangan wilayah yang berkelanjutan.

Menurut Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2012 tentang Tata Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2030, wilayah Kota Administrasi Jakarta Pusat dimana semuanya sudah tertuang pada Peta JakartaSatu seperti kawasan pemerintahan, kawasan perkantoran, perdagangan jasa, kawasan terbuka hijau, kawasan perumahan, kawasan pemukiman, sehingga pembangunan kedepannya di Wilayah Kota Administrasi Jakarta Pusat harus sesuai peruntukannya.

d. Potensi Bidang Pertanahan

Estimasi jumlah bidang di Jakarta Pusat: 187.992 bidang, yang sudah terpetakan: 187.485 bidang (99,73%). Bidang tanah yang sudah bersertipikat: 116.228 bidang. Dari yang sudah

(13)

h a l | 6

bersertipikat, yang sudah terpetakan: 115.600 bidang, yang belum terpetakan (K4): 628 bidang. Sehingga seluruh wilayah Kota Administrasi Jakarta Pusat di Tahun 2024 sudah terpetakan dan tervalidasi. Data cakupan Peta ZNT di Jakarta Pusat : 100% (4.813 Ha). Hal ini, dapat digunakan untuk mendukung peningkatan pendapatan asli daerah. Sehingga diharapkan kerja sama dengan Pemerintah Daerah terkait pembaharuan Peta ZNT.

I.2.2. Permasalahan dan Isu Strategis

a. Permasalahan Pertanahan di Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat

Identifikasi permasalahan yang menjadi fokus sebagai isu strategis untuk ditangani Kantor Pertanahan Kota Admnistrasi Jakarta Pusat sebagai berikut:

1. Masih banyaknya penguasaan tanah oleh masyarakat di atas tanah yang bukan miliknya, seperti di atas tanah aset pemerintah, pemerintah daerah, dan BUMN maupun perorangan yang saat ini sudah menjadi permukiman padat penduduk menimbulkan dampak sosial, ekonomi dan lingkungan; (IS DKI 1)

2. Ketidakmampuan masyarakat membayar rekomendasi sewa kota praja dan BPHTB, menyebabkan banyak masyarakat yang enggan mensertipikatkan tanahnya; (IS DKI 1)

3. Di Jakarta Pusat, implementasi Land Management Paradigm (LMP) yang meliputi Land Value, Land Tenure, Land Use, dan Land Development masih perlu ditingkatkan;

(IS DKI 2)

4. Dalam rangka pelayanan elektronik masih memerlukan revalidasi data pertanahan, baik spasial maupun tekstual;

(IS DKI 2)

5. Masih adanya bidang tanah terdaftar yang belum terpetakan (K4); (IS DKI 2)

(14)

h a l | 7

6. Mewujudkan Jakarta Pusat sebagai kota lengkap; (IS DKI 2) 7. Kurangnya minat masyarakat untuk memanfaatkan sertipikat yang telah dimiliki sebagai modal pengembangan usahanya; (IS DKI 2)

8. Peta ZNT berbasis zona selama ini tidak menggambarkan nilai tanah yang sebenarnya, sehingga diperlukan pembaharuan peta ZNT dari berbasis zona menjadi berbasis bidang; (IS DKI 2)

9. Pembangunan Zona Integritas di Jakarta Pusat belum mendapat predikat WBK/WBBM. (IS DKI 2)

b. Isu Strategis Pertanahan dan Ruang di Provinsi DKI Jakarta Pelaksanaan pembangunan nasional mengharuskan adanya pengaturan dan pengelolaan bidang agraria/pertanahan dan tata ruang yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Hasil evaluasi Rencana Strategis Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015-2019 digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Strategis dan perbaikan kinerja Tahun 2020- 2024. Kinerja periode Tahun 2020-2024 akan diselenggarakan dengan mengoptimalkan mandat pengelolaan bidang agraria/pertanahan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 33 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) serta Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.Berdasarkan Evaluasi Renstra Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi DKI Jakarta Tahun 2014- 2019, terdapat 2 (dua) isu strategis yang harus direspon dan diselesaikan dalam lima tahun kedepan di Provinsi DKI Jakarta yaitu:

(15)

h a l | 8

Gambar I.1. Isu Strategis Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi DKI Jakarta

Isu strategis 1: Berkembangnya Kota Jakarta menjadi megacity melalui proses reorganisasi ruang yang sangat cepat, memberi dampak sosial, ekonomi maupun tekanan pada kelestarian lingkungan yang ditandai dengan:

a. Urbanisasi, ketimpangan sosial, gentrifikasi, komodifikasi tanah, sebagian lokasi tumpang tindih dengan kepemilikan pihak lain yang rawan menimbulkan sengketa/konflik.

b. Land to value yang belum optimal.

c. Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang terutama pemanfaatan sempadan sungai sebagian besar memerlukan penataan.

Lokasi-lokasi permukiman dari orang-orang yang menghidupi diri dalam sektor informal ini hidup memadati kampung-kampung kota. Secara historis, banyak lokasi kampung kotademikian itu adalah ruang sosial hasil dari perjuangan kolektif warga menempati tanah secara informal dan memodifikasi bermacam karakteristik tata guna tanah, mulai dari yang terbuka, terlantar, dan terabaikan, hingga bantaran sungai yang memiliki fungsi sabuk ekosistem perantara antara sungai dengan ruang lain, seperti permukiman, perkantoran, gudang, dan lainnya.

(16)

h a l | 9

Pada umumnya, kampung kota Jakarta jenis ini sangat lemah dalam hal bukti status kepemilikan dari tanah-tanah permukiman yang mereka huni itu. Kedudukan mereka lemah dalam status hukum kepemilikan tanah, terutama hal pembuktian klaim kepemilikan atas tanah yang menjadi alas huniannya, dan situasi itu menjadi jelas ketika harus berhadapan dengan pihak lain yang berkepentingan menggusur. Warga-warga kampong kota ini sangat sering harus kalah ketika berhadapan dengan kepentingan proyek- proyek infrastruktur transportasi, normalisasi sungai, perkantoran pemerintah hingga kepentingan pihak perusahaan-perusahaan properti/pengembang besar untuk membangun apartemen, real estate, atau usaha-usaha skala besar lainnya. Para warga yang tinggal di lokasi kampung kota hasil okupasi ini biasanya adalah kelompok-kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi lemah, yang tidak bias mendapatkan tempat tinggal dengan cara membeli tanah dan rumah secara formal. Kelompok-kelompok masyarakat ini bisa berasal dari dalam kota Jakarta sendiri, atau jugapara pendatang yang migrasi ke Jakarta karena terdesak pindah dari kota-kota lain, atau,yang mayoritas, migrasi penduduk yang tidak memiliki tanah pindah ke Jakarta dan menjadi penghuni kampung kota (informal settlement).

Isu strategis 2: Sistem Administrasi Pertanahan terintegrasi yang harus mendukung kemudahan berinvestasi (Registering Property dalam EoDB). Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 2019 tentang Percepatan Kemudahan Berusaha (EoDB), yang bertujuan mengidentifikasi dan mengkaji perundang–undanganyang dinilai menghambat kemudahan berusaha dan investasi di masing–

masing kementerian/ lembaga, maka Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Kementerian ATR/BPN) berusaha untuk meningkatkan performa di bidang pelayanan pertanahan, yaitu memperbaiki regulasi/peraturan perundang- undangan maupun kondisi data di Kantor Pertanahan.

(17)

h a l | 10

Indeks EoDB (Ease of Doing Business Index) merupakan sebuah indeks yang dibuat oleh bank dunia dalam rangka kemudahan berbisnis pada suatu negara (rangking) sejak tahun 2002. Peringkat yang tinggi menunjukkan peraturan untuk berbisnis yang lebih baik (usually as simple as possible) dan kuatnya perlindungan atas hak milik. Setiap negara di dunia berlomba lomba memperbaiki seluruh aspek atau indikator yang menjadi penilaian EoDB tersebut, tak terkecuali Indonesia, dalam hal ini Provinsi DKI Jakarta yang merupakan sebagai ibukota negara yang mencerminkan etalase pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Peringkat Indonesia pada EoDB tahun 2020 berada pada posisi 73 (urutan kedua terakhir di ASEAN) terhadap 10 indikator penilaian EoDB, Target Presiden Republik Indonesia harus meningkat menjadi peringkat 60 pada tahun 2021. Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu lokasi yang dipilih oleh World Bank dalam survei kemudahan berusaha di Indonesia.

Gambar I.2. Registering Property di Jakarta

(18)

h a l | 11

BAB II

VISI, MISI, DAN TUJUAN

KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/BADAN PERTANAHAN NASIONAL

II.1. Visi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional menetapkan Visi dan Misi untuk mendukung pencapaian Visi dan Misi Presiden yang tertuang dalam RPJMN. Visi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional selama lima tahun ke depan adalah :

Visi tersebut akan menjadi guidance, motivasi dan target kinerja yang ingin dicapai dalam lima tahun yang akan datang dengan mewujudkan pengelolaan ruang dan pertanahan dan yang terpercaya dan berstandar dunia guna mendukung Visi dan Misi Presiden dan Wakil Presiden dalam melayani masyarakat menuju

“Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong.’’ Visi ini secara langsung sangat relevan dengan 7 Agenda RPJMN 2020-2024 seperti agenda: “Memperkuat Ketahanan Ekonomi untuk Pertumbuhan yang Berkualitas” yang akan dioperasionalisasikan melalui penataan ruang serta pengelolaan dan pelayanan pertanahan. Agenda

“Infrastruktur untuk Mendukung Pengembangan Ekonomi dan Pelayanan Dasar” sangat bergantung pada kualitas dan reliabilitas administrasi pertanahan dan tata ruang. Begitu juga guna memenuhi

“Terwujudnya Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan yang Terpercaya dan Berstandar Dunia dalam Melayani Masyarakat untuk

Mendukung Tercapainya : “Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong.”

(19)

h a l | 12

agenda “Mengembangkan Wilayah untuk Mengurangi Kesenjangan”

dan “Membangun Lingkungan Hidup, Meningkatkan Ketahanan Bencana dan Perubahan Iklim”, kebijakan pertanahan dan penataan ruang yang kuat dan berkeadilan sangat menentukan. Agenda

“Meningkatkan Sumber daya Manusia yang Berkualitas dan Berdaya Saing”, akan didukung dengan Sasaran Strategis, Sasaran Program dan kegiatan yang terkait dengan Reforma Agraria dan pemberdayaan, yang diharapkan mampu meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat penerima program, sehingga berkontribusidalam upaya penanggulangan kemiskinan yang akan ber impact pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Frasa “berstandar dunia” dimaknai sebagai penerapan international best practices dalam upaya-upaya: meningkatkan efektivitas manajemen dan mutu pelayanan tanah dan ruang secara berkesinambungan; meningkatkan kepercayaan dan kepuasan masyarakat yang berdampak pada peningkatan manfaat dan kualitas (output to impact) layanan pertanahan dan penataan ruang serta pemeringkatan Easy Of Doing Business (kemudahan berusaha) khususnya dari aspek Registering Property.

II.2. Misi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional

Untuk mencapai visi tersebut, berdasarkan mandat Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dijalankan melalui 2 Misi dengan uraian sebagai berikut:

Misi Pertama: Menyelenggarakan Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan yang Produktif, Berkelanjutan, dan Menyelenggarakan Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan yang Produktif, Berkelanjutan, dan Berkeadilan.

1.

(20)

h a l | 13

Berkeadilan dioperasionalisasikan dengan berorientasi terhadap pembangunan yang berkelanjutan yang mencakup aspek-aspek: (1) aspek ekonomi: dengan penyelenggaraan penataan ruang dan pertanahan yang produktif; (2) aspek lingkungan: yaitu penyelenggaraan penataan ruang dan pertanahan yang berkelanjutan; dan (3) aspek sosial: yaitu penyelenggaraan penataan ruang dan pertanahan yang berkeadilan.

Sedangkan Misi Kedua ini diemban oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional untuk mewujudkan visi kementerian sehingga disamping penyelenggaraan pelayanan pertanahan dan penataan ruang yang dilakukan oleh kementerian adalah berstandar dunia agar mampu bersaing dengan negara lain dalam lingkup regional maupun global, tetapi juga mendorong terwujudnya masyarakat yang semakin sejahtera dan maju.

II.3. Tujuan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional

Tujuan disusun sebagai implementasi atau penjabaran Misi, dengan target yang spesifik dan terukur dalam suatu sasaran.

Tujuan dan Sasaran menjadi penting untuk dirumuskan dengan memperhatikan berbagai aspek secara komprehensif. Penjabaran Tujuan ke dalam Sasaran Strategis disusun dengan memperhatikan Paradigma Manajemen Ruang dan Pertanahan (Land Management Paradigm).

Dilandasi prinsip-prinsip tersebut, Misi Pertama yaitu:

“Menyelenggarakan Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan yang Produktif, Berkelanjutan, dan Berkeadilan” dilaksanakan untuk mencapai 2 (dua) tujuan, yaitu :

2. Menyelenggarakan Pelayanan Pertanahan dan Penataan Ruang yang Berstandar Dunia.

(21)

h a l | 14

1) Pengelolaan Pertanahan untuk Mewujudkan KesejahteraanRakyat 2) Penataan Ruang yang Adil, Aman, Nyaman, Produktif dan

Lingkungan Hidup yangBerkelanjutan

Sedangkan Misi Kedua yaitu: “Menyelenggarakan Pelayanan Pertanahan dan Penataan Ruang yang Berstandar Dunia”

dilaksanakan untuk mencapai tujuan, yaitu:

1) Pelayanan Publik dan Tata Kelola Kepemerintahan yang Berkualitas dan Berdaya Saing (disebut tujuan3).

Visi, Misi, dan Tujuan tersebut, dalam 5 tahun ke depan diarahkan pada Sasaran Strategis sebagaimana dituangkan dalam diagram berikut:

Gambar II.1.Visi dan Misi Tujuan dan Sasaran Strategis Pertanahan dan Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan

Pertanahan Nasional 2020-2024 (Bagian 1)

(22)

h a l | 15

Gambar II.2. Visi dan Misi Tujuan dan Sasaran Strategis Pertanahan dan Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional 2020-2024 (Lanjutan)

II.4. Sasaran Strategis KementerianAgraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional

Sasaran Strategis beserta Indikator Kinerjanya dalam bagan (Gambar 11 dan 12) merupakan Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional yang menjadi tanggung jawab Menteri dan Wakil Menteri.

Perencanaan kinerja sebagai bagian dari manajemen kinerja (performance Management) yang mengalirkan (cascade) visi dan misi pada tujuan dan sasaran yang disertai indikator kinerjanya, akan dikelola berdasarkan 4 (empat) perspektif untuk memudahkan pengendalian dan evaluasi. Keempat perspektif adalah perspektif

(23)

h a l | 16

consumer dan stakeholders serta perspetif internal dan manajemen.

Secara lebih lengkap elaborasi keempat perspektif tersebut dijelaskan pada gambar berikut:

Gambar II.3. Perspektif Manajemen Kinerja Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional 2020─2024

Perspektif stakeholder dan customer akan menjadi alat ukur kinerja bagi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, agar kebijakan, program dan kegiatan yang dilaksanakan mampu menghasilkan dan memberikan impact yang positif bagi masyarakat. Dukungan manajemen dan perspektif internal yang akan selalu dikembangkan melalui institutional building dan capacity building merupakan agenda yang tidak dapat dipisahkan untuk mewujudkan impact dari kinerja Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.

(24)

h a l | 17

BAB III

ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN

III.1. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional

Rencana Strategis Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional disusun dengan mengacu pada RPJMN Tahun 2020-2024, untuk mendukung capaian Visi dan Misi Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2020-2024. Visi Presiden dan Wakil Presiden tahun 2020-2024 adalah:

Visi tersebut dipertajam dengan 9 (Sembilan) Misi, yaitu:

Gambar III.1. Misi RPJMN Tahun 2020─2024

(25)

h a l | 18

Misi RPJMN Tahun 2020-2024 berfokus pada peningkatan kualitas SDM, keberlanjutan kelestarian lingkungan dan kemajuan kebudayaan, penegakan hukum yang berkeadilan, serta sinergitas tata kelola pemerintahan diakselerasi dengan 7 (tujuh) agenda pembangunan berikut:

Gambar III.2. Tujuh Agenda dalam RPJMN ke IV Sumber: Kementerian PPN/Bappenas, RPJMN 2020-2024

Penekanan pembangunan lima tahun kedepan diarahkan untuk mendukung prioritas pembangunan nasional sebagaimana disebutkan dalam pidato pelantikan Presiden pada 20 Oktober 2019 di hadapan MPR, yang digambarkan sebagai berikut:

(26)

h a l | 19

Gambar III.3.Lima Arahan Presiden Tahun 2020─2024

Sebagai pendukung kebijakan nasional, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional juga berkewajiban mewujudkan 7 (tujuh) Agenda dalam RPJMN ke IV yaitu ”Memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan”, “Mengembangkan wilayah untuk mengurangi kesenjangan dan menjamin pemerataan”,

“Meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing”, “Revolusi mental dan pembangunan kebudayaan”,

“Memperkuat infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan dasar”, “Membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana dan perubahan iklim”, serta

“Memperkuat stabilitas polhukhankam dan transformasi pelayanan publik”.

III.2. Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian/Lembaga dan Satuan Kerja

(27)

h a l | 20

III.2.1. Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian/Lembaga

Cakupan objek kajian dalam Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional meliputi dua hal, yaitu: 1) tanah/lahan yang bersifat individu (piece of land as it is) yang mencakup di dalamnya nilai dan kepemilikan (value, tenure) dan segala hak yang melekat padanya, dan 2) tanah/lahan yang saling berkaitan dalam konteks kewilayahan karena di dalamnya mencakup faktor penggunaan dan pembangunan (use and development, or land with its connectiveness, as space), sehingga kajian multi sektor menjadi penting untuk dilekatkan dalam kinerja.

Secara garis besar, kedua hal tersebut menjadi main core pengelolaan organisasi di masa mendatang. Basis pengelolaan organisasi yang mengakomodir kedua komponen objek kajian tersebut adalah Land Management Paradigm.

Paradigma berdasarkan teori dan praktik yang mengakomodir objek kajian tersebut di atas senantiasa mengalami perkembangan dan tantangan yang dinamis. Pada era E- Governance (Electronic Governance) misalnya, tantangan untuk pengelolaan institusi yang berbasis data digital yang diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, efektivitas, reliabilitas dan akuntabilitas sistem yang berjalan. Sementara itu, di era T-Governance (Transformational Governance), potensi untuk meningkatkan keterlibatan dan keterhubungan semua pihak menjadi penting untuk membangun sistem pengelolaan organisasi. Tak luput, dengan munculnya A-Governance (Adaptive Governance), menuntut pola pengelolaan sistem menjadi lebih resilient terhadap adanya gangguan baik terduga maupun tak terduga, sehingga pengelolaan sistem menjadi siap dalam segala kondisi.

(28)

h a l | 21

Arah kebijakan yang dipilih Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional pada Tahun 2020- 2024 adalah dengan menerapkan paradigma manajemen pertanahan (Land Management Paradigm/LMP) yang terdiri dari Land Tenure, Land Value, Land Use, Land Development dan Cadastre and Land Infrastructure Information sebagai landasan untuk mencapai tujuan. Paradigma manajemen pertanahan diformulasikan sebagai kebijakan untuk mengelola urusan tanah dan ruang, dalam hal ini perencanaan dan penataan ruang merepresentasikan fungsi Land Use. Pengaturan penguasaan dan kepemilikan tanah merepresentasikan fungsi Land Tenure, serta penilaian dan pengembangan pertanahan masing-masing merepresentasikan Land Value dan Land Development.

Secara diagramatik, perspektif manajemen global yang dikaitkan dengan Pembangunan Berkelanjutan dapat disajikan dalam Gambar III.4., sebagai berikut:

Gambar III.4. Perspektif Global Pengelolaan Pertanahan (dan Ruang) dalam Pembangunan Berkelanjutan

(29)

h a l | 22

Dalam diagram tersebut komponen operasional dalam manajemen pertanahan pada dasarnya berupa operasionalisasi fungsi administrasi. Fungsi administrasi pertanahan akan sangat tergantung pada kondisi dan kapasitas di suatu negara yang mencakup (1) Kebijakan Pertanahan, (2) Ketersediaan dan kualitas informasi pertanahan, dan (3) Kerangka institusional yang berlaku.

Terkait dengan hal tersebut, dipandang relevan untuk menggarisbawahi komponen kebijakan pertanahan mencakup aneka hal, sebagian diantaranya adalah kebijakan tanah untuk kelompok miskin, pencegahan spekulasi atas tanah, pencegahan konflik atas tanah, serta manajemen keberlanjutan dan kontrol atas pemanfaatan tanah. Sehingga kegiatan penyediaan tanah menjadi relevan untuk mendukung poin terakhir. Kegiatan tersebut telah dan masih dilakukan oleh perangkat Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional sembari menunggu kehadiran Bank Tanah yang sedang dalam proses inisiasi regulasi dan kelembagaan.

Kesemuanya ini penting untuk memastikan kontrol dan pengelolaan obyek tanah dan ruang fisik berikut outcome ekonomi, sosial dan lingkungannya. Hal tersebut untuk menjamin bahwa Tujuan Kementerian yang mengacu pada LMP sejalan dengan target pemerintah dalam mewujudkan tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Strategi yang diterapkan dalam rangka mewujudkan tujuan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional berbasis LMP adalah penguatan aspek spasial (data bidang tanah terkait kepentingan hak, batasan dan tanggung jawab yang ditimbulkan dari penguasaan, pemilikan, pemanfaatan tanah dan ruang), aspek institusional (mekanisme, prosedur dan proses melibatkan para pihak

(30)

h a l | 23

terkait urusan tanah dan ruang), aspek legal (kebijakan dan peraturan yang diperlukan untuk memastikan tercapainya tujuan Kementerian) yang berbasis data dengan cakupan yang lengkap, memiliki reliabilitas tinggi, dan transparan.

Salah satu ciri menonjol dalam penerapan LMP adalah kepastian informasi terkait bidang tanah. Dalam hal ini proses penyusunan output produk kadaster dan informasi pertanahan perlu disusun secara efisien dan efektif, meniadakan proses redundansi yang tidak perlu dan menutup celah yang ada. Dalam hal ini, peran teknologi informasi dan komunikasi dalam mendukung pencapaian misi pertama dan kedua melalui digitalisasi proses dan layanan sangat krusial untuk mendukung implementasi kebijakan pertanahan. Arah Kebijakan dan Strategi digambarkan pada Tabel berikut:

Tabel III.1. Arah Kebijakan dan Strategi

(31)

h a l | 24

(32)

h a l | 25

Berdasarkan strategi dan arah kebijakan di atas maka tema tahunan selama 5 (lima) tahun periode rencana strategis dijelaskan sebagai berikut. Fokus perencanaan di dua tahun pertama diawali dengan peningkatan kualitas pada tahun 2020-2021. Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional berupaya melakukan percepatan dan peningkatan kapasitas untuk siap memasuki transformasi digital di tahun 2021. Hal ini meliputi percepatan pendaftaran bidang tanah di seluruh Indonesia, penyiapan kelengkapan data, infrastruktur fisik, metode layanan serta kompetensi sumber daya manusia.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi hal utama mengingat sumber daya manusia merupakan penggerak utama untuk mewujudkan visi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, dimana diperlukan nilai-nilai organisasi yang bisa mengarahkan pegawai bergerak menuju ke tujuan yang

(33)

h a l | 26

sama, mengarahkan dan mendasari perilaku pegawai dalam menjalankan tugas, membentuk budaya kerja organisasi, sehingga dapat melayani masyarakat dengan kejelasan prosedur, biaya dan ketepatan waktu.

Dalam mewujudkan institusi berstandar dunia, diperlukan strategi, komitmen serta perspektif baru dalam menyikapi peralihan media layanan sehingga pada tahun 2022 dan 2023 layanan pertanahan dan tata ruang semakin mudah diakses dan transparan berbasis elektronik. Dimana saat ini Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional telah berhasil mengalihkan beberapa pelayanan menjadi layanan elektronik, seperti mengimplementasikan Hak Tanggungan elektronik secara nasional.

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional terus berbenah menuju ke arah perubahan. Dengan inovasi-inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas, integritas dan kualitas organisasi, inovasi juga dihasilkan untuk memberikan kemudahan dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat. Setelah 4 (empat) tahun membangun pondasi layanan pertanahan dan tata ruang berkualitas serta berbasis elektronik, di tahun 2024 diharapkan memberikan dampak pada kepastian hak atas tanah yang selanjutnya mendukung tercapainya visi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional pada tahun 2024 menjadi institusi berstandar dunia. Adapun tematik tahunan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dapat dilihat pada gambar berikut:

(34)

h a l | 27

Gambar III.5. Tematik Tahunan Pembangunan Pertanahan dan Tata Ruang

III.2.2. Arah Kebijakan dan Strategi Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat (20202024)

Beberapa isu strategis Kementerian ATR/BPN harus direspon dan/atau ditindaklanjuti oleh kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat dalam lima tahun kedepan terkait dengan keberadaan Agenda Prioritas (Nasional) sebagai upaya pencapaian Visi Misi Presiden dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Agenda Pertama: Pelayanan Publik Dan Tata Kelola Kepemerintahan Berkualitas dan Berdaya Saing.

Tabel III.2. Arah Kebijakan AgendaPertama

Isu Daerah Sasaran Indikator Strategi

Sistem Manajemen Pelayanan Pertanahan di Jakarta Pusat belum terintegrasi sehingga belum mendukung kemudahan berinvestasi (Registering Property dalam EoDB)

Data pertanahan belum terintegrasi dan masih

tersebar di instansi teknis terkait lainnya.

Prosentase integrasi data NOP, NIB dan NIK.

Melakukan kerjasama dengan instansi terkait (Dispenda,

Disdukcapil, dan Kantor Pajak);

Melakukan pertukaran data dengan instansi terkait.

(35)

h a l | 28

2. Agenda ke Dua: Pengelolaan Pertanahan Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

Tabel III.3. Arah Kebijakan Agendake Dua Pelayanan

publik di kantah yang belum

optimal.

Perbaikan tata kelola organisasi;

Keterbukaan informasi publik.

Prosentase pelayanan pertanahan sesuai SOP;

Prosentase penyelesaian pengaduan masyarakat.

Diklat peningkatan kapasitas SDM yang berkaitan dengan

pelayanan publik ;

Perencanaan anggaran yang

mendukung kegiatan;

Program sosialisasi pelayanan pertanahan dan pengelolaan pengaduan masyarakat;

Memanfaatkan media sosial untuk strategi komunikasi.

Kota Jakarta Pusat sebagai kota yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang berada diatas rata-rata pertumbuhan nasional memberi dampak sosial, ekonomi maupun tekanan pada kelestarian lingkungan.

Mengatasi masalah

petanahan yang berkaitan dengan penyerobotan lahan kosong dan munculnya

pemukiman di sempadan sungai.

Prosentase

jumlah kasus pertanahan.

Terbentuknya tim penyelesaian

sengketa konflik (Tim GTRA);

Mengoptimalkan aplikasi

penanganan sengketa konflik.

Integrasi data KKP dengan data Pajak.

Prosentase data NOP, NIB, dan NIK yang terintegrasi.

Perjanjian kerja sama dengan Kantor Pajak, Dispenda dan Dukcapil (instansi terkait) dan pertukaran data.

Isu Daerah Sasaran Indikator Strategi

(36)

h a l | 29

Penguasaan tanah oleh masyarakat diatas tanah yang bukan miliknya.

Penguasaan tanah di atas aset pemerintah dan di atas hak milik konversi.

Prosentase sengketa dan konflik.

Kolaborasi dengan pemerintah daerah, penegak hukum dan instansi terkait (GTRA);

Sosialisasi peraturan pertanahan.

Ketimpangan penguasan lahan

perorangan.

Pembatasan kepemilikan penguasaan tanah lebih dari lima bidang.

Prosentase kepemilikan tanah lebih dari lima bidang.

Inventarisasi penguasaan tanah lebih dari lima bidang.

Mempermudah akses reform untuk peserta PTSL.

Rendahnya minat masyarakat dalam

berwirausaha.

Prosentase UMKM.

Pemberdayaan masyarakat dan pendampingan Access Reform.

Masih ada bidang-bidang tanah yang belum menjadi obyek PTSL

Masyarakat yang tidak mampu membayar rekomendasi Sewa Kota Pradja dan BPHTB.

Jumlah

pembayar Sewa Kota Pradja dan BPHTB.

Mensosialisasikan kebijakan Pemda tentang

pengurangan pembayaran BPHTB;

Mengusulkan kepada Pemda untuk

membebaskan pembayaran BPHTB dan

(37)

h a l | 30

Kota Administrasi Jakarta Pusat mengarahkan kebijakan dan Strateginya pada Implementasi Land Management Paradigm (LMP) yang meliputi Land Value, Land Tenure, Land Use, dan Land Development dalam rangka memperbaiki peringkat EoDB, dengan uruaian kegiatan sebagai berikut :

1. Survei dan Pemetaan

Penyediaan Peta Dasar dan infrastruktur lainnya bagi kepentingan agraria, tata ruang dan pertanahan dalam upaya meningkatkan kualitas data base pertanahan dalam rangka mewujudkan kota

retribusi Sewa Kota Pradja terhadap obyek PTSL.

Pembaharuan peta ZNT dari berbasis zona menjadi

berbasis bidang

Banyak variabel yang

mempengaruhi nilai tanah.

Jumlah variabel yang

mempengaruhi nilai tanah.

Melakukan survei lapangan untuk pembaharuan peta ZNT berbasis bidang.

Deklarasi Kelurahan lengkap di Jakarta Pusat

Kualitas data tekstual dan spasial (No Gap, No Overlap)

Jumlah data anomali;

Prosentase Buku Tanah valid;

Prosentase Persil valid;

Jumlah Persil No Gap, No Overlap

Melakukan revalidasi data spasial dan tekstual;

Melakukan pengukuran adjusment block untuk mengetahui posisi persil

sebenarnya.

(38)

h a l | 31

lengkap. Program utama Kantor Pertanahan kota Administrasi Jakarta Pusat adalah melakukan revalidasi data spasial dan tekstual, melakukan pengukuran adjusment blok untuk mengetahui posisi persil yang sebenarnya.

2. Penetapan Hak dan Pendaftaran

Kegiatan legasisasi aset tanah melalui Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap bagi masyarakat yang memenuhi persyaratan untuk dilanjuti sampai dengan penerbitan sertipikat hak atas tanah. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai aturan dan mekanisme pengurangan pembayaran BPHTB dan mengusulkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta untuk membebaskan pembayaran BPHTB dan retribusi sewa kota praja terhadap objek PTSL.

3. Penataan dan Pemberdayaan

Ketersediaan tanah yang terbatas dan jumlah penduduk yang menempati wilayah administrasi Jakarta Pusat yang cukup tinggi, hal ini menyebabkan penguasaan tanah oleh masyarakat diatas tanah yang bukan milik (tanah aset, tanah sewa kota pradja, daerah aliran sungai, area rel PT. KAI, dan tahan milik orang lain). Meningkatkan inventarisasi penguasaan tanah negara oleh masyarakat.

4. Pengadaan Tanah dan Pengembangan

Dalam peningkatan kemudahan investasi dewasa ini. Kantor Jakarta Pusat melakukan pembaharuaan peta zona nilai tanah yang sebelumnya berbasis zona menjadi berbasis bidang. Dengan

(39)

h a l | 32

tersedianya informasi nilai tanah yang berbasis bidang, maka stakeholder dapat menyusun perencanaan pembangunan (penyediaan lahan untuk kepentingan umum seperti, jalan, jalur hijau, DAS, dll) dan bisnis yang lebih akurat dalam mengambil keputusan.

5. Pengendaliaan dan Penanganan Sengketa

Untuk mewujudkan target penanganan masalah pertanahan hingga sedikitnya berkurang sampai dengan 50%, upaya yang telah dilakukan oleh Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat antara lain melalui mediasi, pelaksanaan putusan pengadilan yang sudah incracht, pemaparan perkara/sengketa, dan pemanfaatan teknologi informasi (membuat aplikasi) untuk penyusunan data base pelaporan penanganan sengketa/perkara.

6. Pengorganisasian dan Sumber Daya

Dalam rangka program reformasi birokrasi, Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat secara berkesinambungan melakukan penataan SDM sesuai dengan Undang‐undang Aparatur Sipil Negara dengan melaksanakan Penataan Jabatan Fungsional, Sasaran Kerja Pegawai (SKP), dan Updating Database Pegawai (SIMPEG). Untuk peningkatan Indeks Profesionalisme ASN diperlukan pengembangan kapasitas SDM dilaksanakan melalui Pendidikan dan Pelatihan serta bimbingan Teknis.

7. Pengawasan, Akuntabilitas dan Kendali Mutu Dalam rangka percepatan pencapaian target‐

target program teknis yang sudah ditentukan, perlu senantiasa untuk memperhatikan ketentuan

(40)

h a l | 33

peraturan perundangan, taat asas dan tepat waktu agar hasil yang dicapai dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Kesesuaian antara peraturan dengan pelaksanaan menjadi kunci akuntabilitas.

Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat melaksanakan tindak lanjut atas hasil pemeriksaan inspektorat jenderal, khususnya terhadap temuaan yang berulang, harus menjadi prioritas dan urgensi untuk perbaikan kinerja kantor pertanahan. Menerapkan sistem pengendalian intern secara kontinu dan konsisten dalam upaya mempertahankan opini Laporan Keuangan.

Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Pusat selalu berusaha meningkatkan akuntabilitas kinerjanya dari tahun ke tahun.

III.3. Kerangka Regulasi

Dalam rangka melaksanakan kebijakan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional untuk periode Tahun 20202024 diperlukan sejumlah rancangan produk legislasi, yaitu:

(41)

h a l | 34

Tabel III.4. Kerangka Regulasi

No.

Kerangka Regulasi/

Kebutuhan Regulasi

Urgensi Pembentukan Berdasarkan Evaluasi Regulasi Eksisting, Kajian dan Penilitian

Unit Penanggung

Jawab

Unit Terkait/

Instutusi

Target

Penyelesaian 1 Rancangan

undang- Undang tentang Pertanahan

Dalam mewujudkan tujuan, sasaran dan program serta kegiatan di dalam Renstra Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional Tahun 2020-2024 diperlukan perubahan khususnya UUPA, khususnya terkait dengan:

 Stelsel positif dalam pendaftarantanah

 Landreform

 Pengembangan pertanahan dengan cara penyediaan lembaga (Bank Tanah) yang bertugas mengatur persediaan tanah, termasuk dengan pembentukan regulasi guna melayani ketersediaan tanah baik untuk kepentingan pembangunan maupun untuk agenda reformaagraria

 Kedudukan bikti kepemilikan tanah berbentukdigital

 Penyelesaian kasuspertanahan

 Pengembangan nilai tanah melalui penguatan konsolidasi tanah, dan penguatan kewenangan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dalam menentukan nilai tanah sebagai objek pajak

Sinkronisasi dengan reulasi yang dibuat oleh K/L lain mengenai tanah seperti bukti-bukti

kepemilikan atas tanah, kewenangan hak atas tanah, hak ulayat, dan reforma agraria

Kementerian Agraria dan Tata

Ruang/Badan Pertanahan Nasional

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Sekretariat Negara, DPR RI

2 tahun

(42)

h a l | 35

No.

Kerangka Regulasi/

Kebutuhan Regulasi

Urgensi Pembentukan Berdasarkan Evaluasi Regulasi Eksisting, Kajian dan Penilitian

Unit Penanggung

Jawab

Unit Terkait/

Instutusi Target

Penyelesaian 2. Rancangan

Peraturan Presiden tentang Sinkronisasi Pengaturan Pajak Atas Tanah

Pemberian kewenangan kepada

KementerianAgraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional untuk mengatur tanah sebagai objek pajak

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/

Badan Pertanahan Nasional

Kementerian Hukum dan HAM, Sekretariat Negara

1 tahun anggaran

3. Rancangan Peraturan Menteri Agraria dan Tata

Ruang/Kepala Badan

Pertanahan Nasional tentang Revisi Regulasi Jenis dan Tarif PNBP

Penyesuaian besaran tarif atas layanan-layanan pertanahan (PNBP Fungsional) Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, penyederhanaan jenis tarif atas layanan yang dupungut kepada masyarakat dan menambahkan jenis-jenis layanan pertanahan baru yang belum terakomodir pada PP 128 Tahun 2015 seperti layanan berbasis elektronik serta layanan-layanan baru pada dirjen-dirjen teknis launnya selain layanan pada Dirjen IK, Dirjen HHK, dan Dirjen Pengadaan Tanah

Sekretariat

Jenderal Kementerian

Keuangan 1 tahun

4. Rancangan Peraturan Menteri tentang Regulasi

Perbaikan, Validasi dan Verifikasi Data Pertanahan

Proses teknis dalam pelaksanaan kegiatan perbaikan dalam rangka validasi dan verifikasi data pertanahan secara kontinu perlu dilakukan sehingga pengujian materiil terhadap data hasil kegiatan tersebut dapat dilakukan, hal ini mendukung proses-proses peningkatan kualitas data, informasi dan layanan pertanahan untuk masyarakat

Pusdatin 1 tahun

anggaran

(43)

h a l | 36

No.

Kerangka Regulasi/

Kebutuhan Regulasi

Urgensi Pembentukan Berdasarkan Evaluasi Regulasi Eksisting, Kajian dan Penilitian

Unit Penanggung

Jawab

Unit Terkait/

Instutusi

Target

Penyelesaian 5. Rancangan

Peraturan Menteri tentang Regulasi Penilaian Maturitas Sistem Pengendalia n Intern Pemerintah (SPIP)

Draf Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional tentang SPIP di Lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional menunggu pengesahan pimpinan, sehingga diharapkan tahun 2020 regulasi ini berjalan, untuk itu diperlukan aturan sebagai pedoman penilaian tingkat maturitas SPIP yang telahdijalankan

Inspektorat

Jenderal 1 tahun

6. Rancangan Peraturan Menteri Agraria dan Tata

Ruang/

Kepala Badan Pertanahan Nasional tentang Regulasi Manajemen Risiko

Untuk menjamin terwujudnya visi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional maka pemilik risiko (satuan kerja) harus melakukan manajemen risiko, dimulai dari identifikasi risiko, analisa risiko, evaluasi risiko, dan penanganan risiko. Untuk itu perlu disiapkan aturan sebagai pedoman satker untuk melakukan manajemenrisiko.

Inspektorat Jenderal dan Sekretariat Jenderal

1 tahun

(44)

h a l | 37

No.

Kerangka Regulasi/

Kebutuhan Regulasi

Urgensi Pembentukan Berdasarkan Evaluasi Regulasi Eksisting, Kajian dan

Penilitian

Unit Penanggun

g Jawab

Unit Terkait/

Instutusi Target Penyelesaia

n 7 Rancangan Peraturan

Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional tentang regulasi pembangunan dan penilaiazona

integritas

Dalam rangka mencapai target reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, yang telah ditetapkan dan sebagai upaya meningkatkan kepuasan masyarakat atas pelayanan pertanahan perlu disusun regulasi pembangunan dan penilaian zona integritas agar ZI tersebut dapat terinternalisasi di seluruh satuan kerja

Inspektor at

Jenderal

Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dan Kementerian Hukum dan HAM

1 tahun

8 Rancangan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Nomor 11 Tahun 2017 tentang Perubahan atas

Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 33 Tahun 2016 tentang Surveyor Kadaster Berlisensi

Penambahan materi/substansi mengenai

standarisasi surveyor kadaster berlisensi Direktorat Pengukura n dan Pemetaan Dasar

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

1 tahun anggaran

Referensi

Dokumen terkait

Pengadilan merupakan Satuan Kerja dibawah Mahkamah Agung dan sebagai mitra Pemerintahan diharapkan merupakan Satuan Kerja yang mampu melaksanakan fungsi pelayanan

 Rapat TKPP dalam rangka melakukan koordinasi, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program pertanahan dilaksanakan setiap 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan

Upaya yang dilakukan oleh Kantor Sadan Pertanahan Nasional (BP ) Kota Administrasi Jakarta Timur pada proses pemberian ganti kerugian dalam menyelesaikan hambatan

Hambatan dalam penyelesaian sengketa pertanahan melalui mediasi sebagai Alternative Dispute Resolution (ADR) di Kantor Pertanahan Kota Administratif Jakarta Timur berasal

Laporan ini disusun untuk memberikan informasi kinerja yang terukur atas kinerja yang telah dan seharusnya dicapai, berisi laporan kegiatan yang tercantum dalam DPA

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Jakarta Utara yang mulai dibentuk pada tahun 2007, merupakan Kantor Pelayanan Pajak yang telah mengimplementasikan organisasi modern. Sesuai

Larangan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) serta Penipuan Cukup Jelas 5. Larangan Pertentangan Kepentingan Cukup Jelas 6. Pendayagunaan Produksi Dalam Negeri

Karakter yang dimliki oleh stakeholder khususnya eselon II dan eselon III di DPKP Kota Administrasi Jakarta Pusat dalam mendukung pelaksanaan SKKL tercantum dengan jelas hingga ke