• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAYA KEPEMIMPINAN BUPATI BATU BARA OK. ARYA ZULKARNAIN SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "GAYA KEPEMIMPINAN BUPATI BATU BARA OK. ARYA ZULKARNAIN SKRIPSI"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

GAYA KEPEMIMPINAN BUPATI BATU BARA OK. ARYA ZULKARNAIN

SKRIPSI

Disusun untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana ( S-1 ) pada Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sumatera Utara

DISUSUN OLEH:

FADHLI MAHSAN 120906002

DEPARTEMEN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2017

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FADHLI MAHSAN (120906002)

GAYA KEPEMIMPINAN BUPATI BATU BARA OK. ARYA ZULKARNAIN Rincian isi Skripsi dari 73 halaman, 6 tabel, 11 buku, 2 internet, 3 dokumen, 14 wawancara.

ABSTRAK

OK. Arya Zulkarnain yang berlatar belakang sebagai mantan Sekretaris Daerah di Kabupaten Serdang Bedagai merupakan birokrat yang sudah banyak pengalamannya. Selain sebagai birokrat, kegiatan politik beliau adalah pemimpin LSM-Gemkara yang mewujudkan pemekaran kabupaten Batu Bara dari Kabupaten Asahan. Hal ini memunculkan gaya kepemimpinan tersendiri dari OK Arya. Gaya kepemimpinan tersebut dapat dilihat bagaimana beliau menyusun dan berhubungan dengan jajarannya terutama kepala dinas di 40 dinas yang ada di kabupaten Batu Bara

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif, dengan teknik analisa data secara deskrptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mendasarkan pada adanya hubungan sistematis antara variabel yang sedang diteliti. Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk mendapatkan makna hubungan variabel-variabel sehingga dapat di gunakan untuk menjawab masalah yang di rumuskan dalam penelitian.

Berdasarkan dari peneliti tentang gaya kepemimpinan ok arya zulkarnain adalah memiliki gaya kepemimpinan demokratis dimana terlihat dari narasumber yang menyatkan OK Arya Zulkarnain selalu menerima masukan dalam menjalankan pemerintahan. Masukan itu diterima olehnya meskipun ia telah memilki ide atau gagasan tersendiri dalam menjalankan suatu program.

Kata Kunci : Gaya Kepemimpinan, Demokratis, OK.Arya Zulkarnain

(3)

UNIVERSITY OF NORTH SUMATRA

FACULTY OF SOCIAL AND POLITICAL SCIENCES DEPARTMENT OF POLITICAL SCIENCE

FADHLI MAHSAN (120906002)

THE LEADERSHIP STYLE OF REGENT COAL OK. ARYA ZULKARNAIN Details of the contents of the Thesis of 73 pages, 6 tables, 11 books, 2 internet, 3 documents, 14 interview.

ABSTRACT

OK. Arya Zulkarnain backgrounds as former Secretary of Serdang Bedagai Regency Area is a bureaucrat who is already a lot of experience. In addition to the bureaucrats, political activities, he is a leader who embodies the Gemkara NGO-extraction district of Asahan Regency Coal. This gave rise to its own leadership style of OK Arya. Leadership style can be seen how he devised and is associated with the range especially head of Department at the 40 existing service in Coal County.

The methods used in the research is qualitative, data analysis techniques in deskrptif. Qualitative research is research based on the existence of a systematic relationship between the variables being studied. The purpose of qualitative research is to get the meaning of relationship variables so that it can be used to address problems in deduce in research.

Based from the researchers about the leadership style of ok arya zulkarnain is have a democratic leadership style which is visible from the resource menyatkan OK Arya Zulkarnain always accept input in running the Government.

Input was received by him even though he has had its own idea or ideas in the running of a program.

Keywords: Leadership Style, Democratic, OK. Arya Zulkarnain

(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

Halaman Persetujuan

Hasil skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan oleh:

Nama : Fadhli Mahsan NIM : 120906002 Departemen : Ilmu Politik

Judul : Gaya Kepemimpinan Bupati Batu Bara OK. Arya Zulkarnain

Menyetujui:

Ketua Departemen Ilmu Politik Dosen Pembimbing

Dra. T. Irmayani, M.Si Prof. Subhilhar Ph.D NIP. 196806301994032001 NIP. 196207181987101001

Wakil Dekan 1

Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik

(5)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

Halaman Pengesahan

Skripsi Ini Telah Dipertahankan Dihadapan Penguji Skripsi Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Dilaksanakan Pada:

Hari :

Tanggal : Pukul : Tempat :

Tim Penguji:

Ketua :

( )

Nip.

Anggota I :

( )

Nip.

Anggota II :

( )

Nip.

(6)

Karya ini dipersembahkan untuk Ibunda Tercinta dan Ayahanda Tercinta

(7)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Segala puji bagi Allah SWT yang memberikan manusia kemampuan berpikir dan hati hingga sebagai hambaNya, kita dapat selalu menuju kebenaran serta merendahkan hati dengan penuh syukur dan ikhlas agar mencapai ketaqwaan sebagai wujud penghambaan yang sesungguhnya. Shalawat dan salam juga kita berikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan kebenaran agar manusia dapat menjadi insan yang mulia di hadapan Allah SWT.

Alhamdulillah, ucapan syukur yang tiada hentinya saya ucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmatNya saya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gaya Kepemimpinan Bupati Batu Bara OK. Arya Zulkarnain”. Berkat rahmatNya saya diberikan kemudahan baik dalam proses pencarian ide untuk penulisan, penelitian, penulisan hingga sidang meja hijau sebagai bentuk ujian yang nyata terhadap kompetensi saya sebagai peneliti.

Terkhusus ucapan terima kasih pertama dan berjuta maaf sedalam-dalamnya kepada kedua orang tua saya Ayahanda Mahmuddin SP.d dan Ibunda Siti Saniah SP.d.SD , yang tidak pernah bosan mendoakan dan memberikan dukungan hingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini. kepada kedua adik Farisa Mahsan dan Farhan Mahsan terima kasih atas doa dan dukungannya selama ini. saya bangga punya adik seperti kalian, sama-sama kita berjuang buat bangga orangtua.

(8)

Penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Sehingga skripsi ini bermanfaat bagi siapapun yang memerlukannya. Karena penulis sadar apa yang telah ditulis ini masih jauh dari kata memuaskan.

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu S.H, M. Hum selaku Pejabat Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Muriyanto Amin. S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

3. Ibu Dra. T. Irmayani, M.Si selaku Ketua Departemen Ilmu Politik FISIP USU.

4. Bapak Prof. Subhilhar Ph.D selaku Dosen PA saya dan sekaligus dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, pemikiran, dan meluangkan waktunya selama proses penulisan Skripsi. selama menempuh studi di Departemen Ilmu Politik FISIP USU.

5. Seluruh Dosen dan Staff Pengajar Departemen Ilmu Politik FISIP USU.

6. Kepada seluruh pegawai dan terutama narasumber dari pemerintah Kabupaten Batu Bara.

7. Keluarga Besar Departemen Ilmu Politik, terkhusus kawan-kawan angkatan 2012.

(9)

8. Keluarga Besar HMI Komisariat FISIP USU Terkhusus kawan-kawan angkatan 2012

9. Keluarga Besar Sumatran Youth Food Movement (SYFM).

10. Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara dan Yayasan Sintesa.

11. Untuk sahabat terdekat, Ricki Santoso, Rakib Wahyudi, Ardiya acip,Andri Mora, Andry Harahap, Andry Aceh, Ridho Ramadhan, Fandy Blek, Nurul Huda, Marlan Lase, Javier Jeje, Haris Fadhil, Ananda Gema, Randa Tanadi, dan Joseph Allan.

12. Kepada kakanda senior, Bang Akbar Hadi, Bang Fahri Riza, Bang Ismael Naibaho, Bang Afgan Kaban, Bang Amri Pane, Bang Sandy Harahap, Bang Luthfan, Bang Randa Sinaga, Bang Aditya Hartomo, Bang Nurhadi Pratama, Bang Christian Pasaribu, Bang Zulfie Herwinsyah, Bang Ezone, Bang Jean Ari, dan Mas Purwanto.

13. Kepada adinda, Akbar Tan, Sofyan Tole, Faiz Nasution, Boan Siregar, Erick Sitohang, Tanu Keliat, Agung Mipa, Tommy, Rudy

14. Kepada kawan-kawan PB. KEMBAR SUMUT, Irham, eri ernanda, wahyuni erwin, iqbal, dody, pihir, abar dan seluruh pengurus priode 2015 sampai 2017

(10)

Demikian ucapan syukur dan terimakasih penulis kepada semuanya yang telah berkontribusi dalam penulisan Skripsi ini, penulis sadar masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, tetapi penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 24 Januari 2017

FADHLI MAHSAN

(11)

DAFTAR ISI

Abstrak ... i

Abstract ... ii

Halaman Persetujuan ... iii

Halaman Pengesahan ... iv

Kata Pengantar ... v

Daftar Isi ... ix

BAB I Pendahuluan ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 6

1.3. Pembatasan Masalah ... 7

1.4. Tujuan Penelitian ... 7

1.5. Manfaat Penelitian ... 7

1.6. Kerangka Teori... 8

1.6.1. Kepemimpinan ... 8

1.6.2. Tipologi Kepemimpinan ... 9

1.6.3. Gaya Kepemimpinan ... 15

1.6.4. Kepemimpinan Politik ... 16

1.6.5. Studi Terdahulu ... 18

1.7. Metodelogi Penelitian ... 19

1.7.1. Jenis Penelitian ... 19

(12)

1.7.2. Teknik Pengumpulan Data ... 19 1.7.3. Teknik Analisa Data... 20 1.8. Sistematika Penulisan ... 21 BAB II Deskripsi Lokasi Penelitian

2.1. Deskripsi Kabupaten Batu Bara ... 22 2.2. Profil OK Arya Zulkarnain SH,MM ... 40 BAB III Analisis Gaya Kepemimpinan Bupati Batu Bara OK. Arya Zulkarnain

3.1. OK Arya Zulkarnain : Pemimpin Demokratis ... 47 3.2. Pembaharuan Dalam Membangun Kabupaten Batu Bara ... 54 3.3. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Ok Arya Zulkarnain Terhadap

Perkembangan Kabupaten Batu Bara ... 59 Daftar Pustaka ... 65 Lampiran

(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Reformasi sistem Pemerintahan Indonesia dimulai sejak tahun 1998 yang ditandai dengan perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi menjadi desentralisasi. Reformasi sistem pemerintahan tersebut turut memunculkan otonomi Daerah, yang di tandai dengan munculnya undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah. Undang-undang tersebut menjelaskan otonomi daerah sebagai kewenangan otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyrakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundan-undangan. Pembentukan daerah otonomi baru diharapkan mampu memanfaatkan peluang yang besar untuk mengelolah sumber daya Daerah masing-masing dalam rangka meningkatkan kesejahteraan di masyarakat tidak terkecuali di Sumatra Utara.1

Otonomi daerah tersebut merubah sistem pemerintahan yang awal bersifat sentralistik menjadi terdesentralisasi. Desentralisasi berasal dari bahasa latin, yaitu De yang berarti lepas dan centrum yang artinya pusat. Desentrum berarti melepas dari pusat dengan demikian, maka desentralisasi yang berasal dari sentralisasi yang mendapat awal de berarti melepas atau menjauh dari pemusatan.

Desentralisasi tidak putus sama sekali dengan pusat tapi hanya menjauh dari

1Prof.Drs.H.A.Widjaja,2002.Otonomi Daerah dan Daerah Otonom, Raja Grafindo Persad,Jakarta,Hal 1

(14)

pusat.2 Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 1992 menyatakan bahwa untuk melaksanakan otonomi daerah serta upaya meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat, maka otonomi daerah perlu diletakkan di daerah supaya kedudukannya lebih berhubungan langsung dengan masyarakat.3

Seiring berkembangnya tuntutan demokrasi, muncul tuntutan dari masyarakat untuk memilih kepala daerahnya sendiri. Hal tersebut diwujudkatn dengan muculnya undang-undang nomor 32 tahun 2004, yang menyatakan bahwa kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasanagan secara lansung oleh rakyat di daerah yang bersangkutan.4 Undang-undnag nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah juga mengatur tentang pembentukan daerah. Pasal 4 Ayat 3 menyatakan bahwa Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih.

Kabupaten Batu Bara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara yang dulunya merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Asahan.

Pembentukan Kabupaten Batu Bara disetujui DPR melalui Rancangan Undang- Undang pembentukannya tanggal 8 Desember 2006. Kabupaten ini diresmikan pada tanggal 15 Juni 2007, bersamaan dengan dilantiknya Penjabat Bupati Batubara, Drs. H. Sofyan Nasution, S.H. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Asahan dan beribukota di Kecamatan Limapuluh.

2 Hanif Nurcholis, Teori dan Praktik Pemerintahan dan Otonomi Daerah. ( Jakarta : Grasindo 2005), Hal 9.

3Suara pembaruan, Otonomi Daerah peluang dan tantangan. (jakarta : pustaka Sinar Harapan 1995), Hal 9.

(15)

Kabupaten Batu Bara adalah salah satu dari 16 kabupaten dan kota baru yang dimekarkan pada tahun 2006.

Kabupaten Batu Bara merupakan pemekaran dari Kabupaten Asahan dimana tujuh kecamatan di Kabupaten Asahan dikurangi dan dipindahkan wilayahnya menjadi wilayah kabupaten Batu Bara. Batu Bara berada di kawasan Pantai Timur Sumatera Utara yang berbatasan dengan Selat Malaka. Kabupaten Batu Bara menempati area seluas 90.496 Ha yang terdiri dari 7 Kecamatan serta 100 Desa/ Kelurahan Definitif. Berdasarkan luas daerah menurut kecamatan, daerah Lima Puluh merupakan kecamatan terluas dengan luas wilayah mencapai 239,55 Km² atau 26,47 persen dari luas total Batu Bara. Sedangkan Kecamatan Medang Deras merupakan wilayah terkecil dengan luas 65,47 Km² atau 7,23 persen dari luas total Batu Bara.5

Rancangan Undang-Undang Pembentukan Kabupaten Batu Bara melalui Usul Inisiatif Pemerintah oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pada tanggal 7 Desember 2006 di Jakarta selanjutnya disahkan menjadi undang- undang nomor 5 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Batu Bara di Provinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 nomor 7 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4681).

Terbentuknya Kabupaten Batu Bara adalah hasil perjuangan masyarakat.

Sejak dicetuskan pada tahun 1999, usaha dan keinginan masyarakat Batu Bara ini di tolak oleh Pemerintah Kabupaten Asahan melalui Peraturan Daerah nomor 6

5 http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Batu_Bara diakses pada 3 Maret 2016 Pukul 20.00 http://bappeda.batubarakab.go.id/ diakses pada 3 Maret 2016 Pukul 20.00

(16)

Tahun 2001 tentang Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) yang bertentangan dengan aspirasi masyarakat dan peraturan Pemerintah yang lebih tinggi. Isi PROPEDA tersebut tertuang pada angka 2 (dua) pada kegiatan pokok program pembangunan daerah menyebutkan “ Upaya rasional pola berfikir masyarakat melalui pendekatan persuasif, khususnya terhadap provokasi memisahkan diri dari wilayah kabupaten Asahan, serta sosialisasi kepada masyarakat bahwa sampai pada tahun 2005 tidak akan pernah ada pemekaran.

Pemerintah Kabupaten Asahan yang tidak merestui hal tersebut menyebabkan Masyarakat Batu Bara yang tergabung dalam Lembaga Sewadaya Masyarakat Gerakan Masyarakat Menuju Kabupaten Batu Bara (LSM- GEMKARA) mengumpulkan Sumber Daya Manusia yang berkompeten dan berasal dari putra asli daerah Batu Bara. Berdasarkan kesepakatan bersama, ditunjuklah Ok Arya Zulkarnain,SH,MM, menjadi pemimpin organisasi sekaligus pelaksana perjuangan pemekaran. Usah-usaha pendekatan persuasif kepada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, dengan prinsip “ Surut Berpantang Batu Bara Harus Menjadi Kabupaten”, akhirnya kerja berat ini berhasil diselesaikan dengan hasil yang memuaskan.6

Keberhasilan beliau dalam memimpin LSM tersebut yang menyebabkan mekarnya kabupaten Asahan dan terbentuknya kabupaten Batu Bara menyebabkan beliau dikenal masyarakat. OK Arya Zulkarnain dalam pemilihan Bupati Batu Bara membuktikan bahwa masyarakat menghargai perjuangan

(17)

pemekaran daerah yang dipimpin oleh beliau bersama masyarakat. Hal tersebut dibuktikan dengan terpilihnya OK Arya Zulkarnain sebagai Bupati Batu Bara dalam pemilihan kepala daerah pada tahun 2008 melalui jalur independen.

Terpilihnya OK Arya Zulkarnain menunjukkan bahwa ketokohan beliau sebagai pemimpin sangat dipandang oleh masyarakat karena OK Arya dinilai berhasil mewujudkan pemekaran Kabupaten Batu Bara dan layak menjadi Bupati Batu Bara. OK Arya Zulkarnain akan memikul tugas yang berat karena besarnya harapan masyarakat Batu Bara terhadap dirinya. Salah satu tugas utama OK Arya.

OK. Arya Zulkarnain yang berlatar belakang sebagai mantan Sekretaris Daerah di Kabupaten Serdang Bedagai merupakan birokrat yang sudah banyak pengalamannya. Selain sebagai birokrat, kegiatan politik beliau aktif dan berhasil memimpin LSM-Gemkara hingga tewujudnya pemekaran kabupaten Asahan yang menghasilkan kabupaten Batu Bara. Sebagai kepala daerah, OK Arya memiliki tugas memimpin seluruh jajaran pemerintahan daerah di kabupaten Batu Bara dalam melaksanakan pembangunan di daerah dengan cara yang dianggapnya paling efektif. Cara memimpin jajarannya ini memunculkan gaya kepemimpinan tersendiri dari OK Arya. Gaya kepemimpinan tersebut dapat dilihat bagaimana beliau menyusun dan berhubungan dengan jajarannya terutama kepala dinas di 40 dinas yang ada di kabupaten Batu Bara. Susunan dan hubungan dengan jajarannya di dinas-dinas tersebut akan menjadi salah satu hal mempengaruhi pencapaian target pembangunan daerah yang telah ditetapkan.

(18)

1.2. Rumusan masalah

Gaya kepemimpinan tiap kepala daerah di Indonesia sudah pasti berbeda.

Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh budaya dan hal lain yang menjadi ciri khas daerah tersebut. OK Arya sebagai bupati Batu Bara yang merupakan kabupaten yang masih berumur 10 tahun dituntut untuk dapat melaksanakan pembangunan secara cepat dan tepat. Hal ini membutuhkan keuletan dan konsistensi serta ketegasan dan komunikasi yang baik antara kepala daerah dengan seluruh jajaran di bawahnya, terutama kepala dinas.

Sebagai mantan birokrat OK Arya pasti sudah memahami dan mengalami bagaimana menjadi bawahan dari kepala daerah. Oleh sebab itu, menarik untuk diteliti gaya kepemimpinan beliau yang dilihat dari hubungannya dengan jajaran di bawahnya terutama kepala dinas, dan juga dengan tokoh masyarakat sebagai upayanya dalam mewujudkan berbagai kebijakan pembangunan yang dibuatnya.

Selain dengan kepala dinas, hubungannya dengan tokoh masyarakat juga harus dilihat, karena pemekaran Batu Bara tidak lepas dari peranan tokoh masyarakat yang juga aktif bersamanya di LSM Gemkara. Berdasarkan uraian tersebut maka penulis merumuskan masalah yaitu bagaimana gaya kepemimpinan Bupati Batu Bara OK Arya Zulkarnain dalam pandangan kepala dinas dan tokoh masyarakat di kabupaten Batu Bara?

(19)

1.3. Pembatasan masalah

Agar penelitian ini lebih spesifik dalam melihat gaya kepemimpinan OK Arya, maka peneliti memberi batasan yaitu :

1. Melihat gaya kepemimpinan OK Arya Zulkarnain selama menjabat sebagai Bupati.

2. Melihat pandangan dari kepala dinas yang menjabat sejak OK Arya menjadi Bupati.

3. Hanya melihat pandangan tokoh masyarakat kab. Batu Bara.

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui gaya kepeimpinan OK. Arya Zulkarnain dalam menjalankan kebijakan pembangunannya.

2. Mengetahui pandangan jajaran pemerintahan di bawahnya dan tokoh masyarakat terhadap kepemimpinan OK. Arya Zulkarnain.

1.5. Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain :

1. Secara akademis,penelitian ini di harapkan mampu menambah khasnah pengetahuan di Departemen Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara tentang Gaya Kepemimpinan Bupati Batu Bara OK. Arya Zulkarnain.

(20)

2. Secara praktis,hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi atau sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam hal ini berkaitan dengan Gaya Kepemimpinan Bupati Batu Bara OK. Arya Zulkarnain.

3. Secara teoritis, penelitian merupakan kajian Ilmu Politik yang di harapakan mampu memberikan Kontribusi dalam kepemimpinan Bupati selanjutnya dan memberikan solusi atas kekurangan dan permaslahan.

1.6. Kerangka Teori 1.6.1. Kepemimpinan

Daniel C. Feldman dan Hugh J. Arnold mengatakan bahwa kepemimpinan pada dasarnya melibatkan seseorang pemimpin secara sadar mencoba mendapatkan orang lain (pengikut) untuk mengerjakan sesuatu yang pemimpin inginkan untuk dikerjakan oleh pengikutnya. Jika kepemimpinan dilihat sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan organisasi, maka terdapat tiga implikasi yang diterapkan yakni. Pertama, kepemimpinan harus melibatkan orang lain. Kesediaan menerima pengarahan daari pemimpin, anggota kelompok membantu menegaskan status pemimpin dan memungkinkan proses kepemimpinan. Kedua, Kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggota kelompok.

Semakin besar sumber kekuasaan, semakin besar potensinya untuk menjadi pemimpin yang efektif. Ketiga, kepemimpinan sebagai kemampuan untuk

(21)

menggunakan berbagai bentuk kekuasaan untuk mempengaruhi perilaku pengikut melalui sejumlah cara. Untuk alasan ini diharapkan pemimpin memiliki kewajiban khusus untuk mempertimbangkan etika dari keputusan mereka.7

Istilah pemimpin didefinisikan sebagai seorang anggota dari suatu kumpulan yang diberi kedudukan tertentu dan diharapkan dapat bertindak sesuai kedudukan. Jadi pemimpin adalah juga seseorang dalam suatu perkumpulan yang diharapkan dapat menggunakan pengaruhnya untuk mewujudkan dan mencapai tujuan kelompok. Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kecakapan tertentu yang dapat mempengaruhi para pengikutnya untuk melakukan kerjasama ke arah pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.8

1.6.2. Tipologi Kepemimpinan

Meskipun belum terdapat kesepakatan bulat tentang tipologi kepemimpinan yang secara luas dikenal dewasa ini, lima tipe kepemimpinan yang diakui keberadaannya ialah:

1. Tipologi yang Otokratik

Pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Egoismenya yang sangat besar akan mendorongnya memutar-balikkan kenyataan yang sebenar-benarnya sehingga sesuai dengan apa yang secara subjektif diinterpretasikan sebagai kenyataan. Pemimpin yang otokratik melihat peranannya sebagai sumber segala sesuatu dalam kehidupan organisasional seperti kekuasaan yang tidak perlu dibagi dengan orang lain dalam organisasi, ketergantungan total

7 Sartono. 2004. Kepemimpinan dalam MSDM Birokrasi yang Good Governance; Sulistyani (ed). Memahami Good Governance dalam Perspektif Sumber Daya maanusia. Yogyakarta: Gava Media

8 Pasolong.Harbani.2008.Kepemimpinan Birokrasi.bandung:Alfabeta

(22)

para anggota organisasi megenai nasib masing-masing dan lain sebagainya.

Berangkat dari persepsi yang demikian, seorang pemimpin yang otokratik cenderung menganut nilai organisasi yang berkisar pada pembenaran segala cara yang ditempuh untuk pencapaian tujuannya. Sesuatu tindakan akan dinilainya benar apabila tindakan itu mempermudah tercapainya tujuan dan semua tindakan yang menjadi penghalang akan dipandangnya sebagai sesuatu yang tidak baik dan dengan demikian akan disingkirkannya, apabila perlu dengan tindakan kekerasan.

Berdasarkan nilai-nilai demikian, seorang pemimpin otoriter akan menunjukkan berbagai sikap yang menonjolkan keakuannya antara lain dalam bentuk:

a. Kecenderungan melakukan para bawahan sama dengan alat-alat dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka.

b. Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengaitkan pelaksanaan tugas dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahan.

c. Pengabaian peranan bawahan dalam proses pengambilan keputusan, dengan cara memberitahukan kepada para bawahan tersebut bahwa ia telah mengambil keputusan tertentu dan para bawahan tertentu itu diharapkan dan bahkan dituntut untuk melaksanakannya saja.

Sikap pemimpin demikian akan menampakkan juga pada prilaku pemimpin yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan pihak lain, terutama dengan para bawahannya dalam organisasi. Yang menjadi masalah dalam hal

(23)

kepemimpinan otokratik ialah keberhasilan mencapai tujuan dan berbagai sasaran- sasaran itu semata-mata karena takutnya bawahan terhadap pemimpinnya dan bukan berdasarkan keyakinan bahwa tujuan yang telah ditentukan itu wajar dan layak untuk dicapai dan disiplin kerja yang terwujud pun hanya karena bawahan selalu dibayang–bayangi ancaman seperti pengenaan tindakan disiplin yang keras, penurunan pangkat, dan bahkan tanpa kesempatan membela diri.

2. Tipologi yang Paternalistik

Tipe pemimpin yang paternalistik banyak terdapat dilingkungan masyarakat yang masih bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat pedesaan.

Persepsi seorang pemimpin yang paternalistik tentang peranannya dalam kehidupan organisasional dapat dikatakan diwarnai oleh harapan para pengikutnya kepadanya. Harapan itu pada umumnya berwujud keinginan agar pemimpin mereka mampu berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi dan yang layak dijadikan sebagai tempat bertanya dan untuk memperoleh petunjuk. Para bawahan biasanya mengharapkan seorang pemimpin yang paternalistik mempunyai sifat- sifat tidak mementingkan dirinya sendiri, melainkan memberikan perhatian terhadap kepentingan kesejahteraan bawahannya. Akan tetapi sebaliknya, pemimpin yang paternalistik mengharapkan bahwa kehadiran atau keberadaannya dalam organisasi tidak lagi dipertanyakan oleh orang lain.

Dengan perkataan lain, legitimasi kepemimpinannya dipandang sebagai hal yang wajar dan normal, dengan implikasi organisasionalnya seperti kewenangan memerintah dan mengambil keputusan tanpa harus berkonsultasi

(24)

dengan para bawahannya. Ditinjau dari segi nilai-nilai organisasional yang dianut, biasanya seorang pemimpin yang paternalistik kepentingan bersama dan perlakuan yang seragam terlihat menonjol juga. Artinya pemimpin yang bersangkutan berusaha untuk memperlakukan semua orang dan semua satuan kerja yang terdapat didalam organisasi seadil dan serata mungkin. Dalam organisasi demikian tidak terdapat penonjolan orang atau kelompok tertentu, kecuali sang pemimpin dengan dominasi keberadaanya.

3. Tipe yang Kharismatik

Seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkrit mengapa orang tertentu tidak dikagumi. Sesungguhnya sangat menarik untuk memperhatikan bahwa para pengikut seorang pemimpin yang kharismatik tidak mempersoalkan nilai-nilai yang dianut, sikap dan prilaku dan gaya yang digunakan pemimpin yang diikutinya itu. Penampilan fisik ternyata bukan ukuran yang berlaku umum karena ada pemimpin yang dipandang sebagai pemimpin yang kharismatik yang kalau dilihat dari penampilan fisiknya saja sebenarnya tidak atau kurang mempunyai daya tarik. Usia pun tidak selalu dapat dijasikan ukuran. Sejarah telah membuktikan bahwa seorang yang berusia relatif muda pun mendapat julukan sebagai pemimpin yang kharismatik. Jumlah harta yang dimiliki pun nampaknya tidak bisa digunakan sebagai ukuran. Hanya saja jumlah pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang kharismatik tidak besar dan mungkin jumlah yang sedikit ini juga yang menyebabkan, sehingga tidak

(25)

cukup data empirik yang dapat digunakan untuk menganalisis secara ilmiah karakteristik pemimpin yang sedemikian dengan rinci.

1. Tipe yang Laissez Faire

Dapat dikatakan bahwa persepsi seorang pemimpin yang laissez faire tentang peranannya sebagai seorang pemimpin berkisar pada pandangannya bahwa pada umumnya organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa-apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan seorang pemimpin tidak terlalu sering melakukan intervensi dalam kehidupan organisasional. Dengan sikap yang persuasif, prilaku seorang pemimpin yang laissez faire cenderung mengarah kepada tindak-tanduk yang memperlakukan bawahan sebagai rekan kerja, hanya saja kehadirannya sebagai pemimpin diperlukan sebagai akibat dari adanya struktur hirarki organisasi. Dengan telah mencoba mengidentifikasi karakteristik utama seorang pemimpin yang laissez faire ditinjau dari kriteria persepsi, nilai dan prilaku diatas, mudah menduga bahwa gaya kepemimpinan yang digunakannya adalah sedemikian rupa sehingga:

a. Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif.

b.Pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pemimpin yang lebih rendah dan kepada para petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang ternyata menuntut keterlibatannya secara langsung.

c. Status quo organisasional tidak terganggu.

(26)

d. Pertumbuhan dan pengembangan kemampuan berfikir dan bertindak yang inovatif dan kreatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang bersangkutan sendiri.

e. Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan prilaku dan prestasi kerja yang memadai intervensi pimpinan dalam perjalanan organisasi berada pada tingkat yang minimum.

5. Tipe yang Demokratik

Tipe pemimpin yang paling ideal dan paling didambakan adalah pemimpin yang demokratik. Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi sehingga bergerak sebagai suatu totalitas. Seorang pemimpin yang demokratik menyadari benar bahwa akan timbul kecenderungan dikalangan para pejabat pemimpin yang paling rendah dan dikalangan para anggota organisasi untuk melihat peranan suatu kerja dimana mereka berada sebagai peranan yang paling penting, paling strategis dan paling menentukan keberhasilan organisasi mencapai berbagai sasaran organisasional, prilaku mendorong para bawahan menumbuhkan dan mengembangkan daya inovasi dan kreativitasnya.

Dengan sungguh-sungguh ia mendengarkan pendapat, saran dan bahkan kritik dari orang lain, terutama bawahannya. Bahkan seorang pemimpin yang demokratik tidak akan takut membiarkan para bawahannya berkarya meskipun ada kemungkinan prakarsa itu akan berakibat kesalahan. Jika terjadi kesalahan, pemimpin yang demokratik berada disamping bawahan yang berbuat kesalahan

(27)

itu, bukan untuk menindak atau menghukumnya, melainkan meluruskannya sedemikian rupa sehingga bawahan tersebut belajar dari kesalahannya itu dan dengan demikian menjadi anggota organisasi yang lebih bertanggung jawab.

Karakteristik penting seorang pemimpin yang demokratik yang sangat positif ialah dengan cepat menunjukkan penghargaannya kepada para bawahan yang berprestasi tinggi.9

1.6.3. Gaya Kepemimpinan

Istilah gaya kepemimpinan secara kasar adalah sama dengan cara yang dipergunakan pemimpin didalam mempengaruhi para pengikutnya. Gaya kepemimpinan merupakan norma prilaku yang digunakan oleh sesorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi prilaku orang seperti ia lihat.

Adapun gaya kepemimpinan yang dikenal antara lain:

1. Gaya Kepemimpinan Kontinum

Ada dua bidang yang berpengaruh yang ekstrem. Pertama, bidang pengaruh pimpinan dan kedua, bidang pengaruh kebebasan bawahan. Kedua bidang pengaruh ini dipergunakan dalam hubungannya kalau pemimpin melakukan aktivitas pembuatan keputusan.

2. Gaya Kepemimpinan Grid

Dalam pendekatan ini, manager berhubungan dengan dua hal, yakni produksi di satu pihak dan orang-orang dipahak lain. Managerial Grid ditekankan bagaimana pemimpin memikirkan mengenai produksi dan hubungan kerja dengan

9 Prof.DR.Sondang P.Siagian MPA, Teori dan Praktek Kepemimpinan, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 1998, hal.27-45.

(28)

manusianya.10 Dalam hal ini ia harus mengetahui kualitas atau kebijakan- kebijakan yang diambil, memahami proses dan prosedur, melalui penelitian dan kreativitas, memahami kualitas pelayanan staffnya, melakukan efisiensi dalam bekerja.

1.6.4. Kepemimpinan Politik

Secara teoritis, untuk membangun sebuah sistem yang demokratis dibutuhkan pemimpin yang memiliki komitmen yang kuat pada demokrasi.11 Pemimpin yang tidak memiliki komitmen kepada demokrasi, berdasarkan kekuasaan yang dimilikinya, akan dengan mudah menghancurkan sendi-sendi demokrasi yang ada dalam sistem tersebut.

Kris Nugroho membedakan dua tipe kepemimpinan politik. Pertama, kepemimpinan politik yang personal dan kepemimpinan politik pluraistic.12 Tipe kepemimpinan personal lebih didasarkan pada kedudukan sebagai bagian dari elite masyarakat, sedangkan kepemimpinan pluralistic didasarkan pada dukungan yang luas dari masyarakat yang secara politik pluralistic. Menurut Nugroho, untuk alasan pembenaran politik tertentu, kekuasaan personal dalam satu segi mendukung terciptanya kohesivitas elite massa serta mampu meredam krisis politik yang akan terjadi. Namun, untuk menghasilkan pemerintahan yang demokratis, kekuasaan personal merupakan hambatan bagi terbentuknya sistem

10 Miftah Toha, Prilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Jakarta: PT.Grafindo Persada, 1993, hal.306.

11 Alfian, Masalah dan Prospek Pembangunan Politik di Indonesia: (Kumpulan Karangan), Jakarta:

PT.Gramedia Pustaka Utama, Hal.179

12 Kris Nugroho, Mengembangkan Kepemimpinan Demokratis dari Kekuasaan Personal ke Pluralistik, Makalah pada Seminar Nasional XI dan Kongres III Asosiasi Ilmu Politik Indonesia

(29)

politik demokrasi. Untuk menuju sistem politik yang demokratis sistem politik yang bersangkutan perlu mengembangkan budaya politik yang berorientasi pada pluralistik politik13

Pada sisi lain, apa yang disebut Nugroho sebagai pemimpin personal ini hampir sama dengan apa yang pernah disebut Max Weber sebagai pemimpin kharismatik. Tipe pemimpin ini mendasarkan legitimasi kepemimpinannya pada sifat-sifat ghaib unggul atau paling sedikit pada kekuatan-kekuatan khas dan luar biasa. Artinya, status kepemimpinan tersebut diperoleh berdasarkan ’mitos-mitos’

tertentu yang melekat pada dirinya.14

1.6.5. Studi Terdahulu

Penelitian ini pada dasarnya tidak bisa di lepaskan dari penelitian- penelitian terdahulu yang pernah dilakukan penelitian terdahulu menjadi rujukukan dan pembanding dalam penelitian ini adabeberapa penelitian terdahulu yang di jadikan acuan dalam penelitian ini tersebut. “Analisis Gaya Kepemimpinan Fauzi Bahar Sebagai Walikota Padang Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan” yang diteliti oleh Yuan Ihsan. Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas, memaparkan tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: mengetahui gaya kepemimpinan Fauzi Bahar sebagai Walikota Padang dalam penyelenggaraan pemerintahan Kota

13 Ibid, hal.307

14 Anthony Giddens, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim, dan Max Weber, Jakarta:UI Press, Hal.197.

(30)

Padang, juga ingin mencari-tahu tentang hal-hal yang mempengaruhi gaya kepemimpinan Fauzi Bahar, serta bagaimana pengaruh gaya kepemimpinan beliau tersebut terhadap kehidupan pemerintahan Kota Padang.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti menemukan bahwa Walikota Padang Fauzi Bahar mengkombinasikan antara metode kepemimpinan militer dengan metode kepemimpinan sipil di dalam kepemimpinannya di Pemerintah Kota Padang. Sehingga, menghasilkan kombinasi antara gaya kepemimpinan otokratis bijak dengan gaya kepemimpinan konsultatif. Selain itu peneliti juga menemukan hal-hal lainnya yang ikut mempengaruhi gaya kepemimpinan, tindakan, dan kebijakan yang diambil oleh Walikota Padang Fauzi Bahar, yaitu latar belakang kehidupan keluarga, lingkungan tempat tinggal, sisi akademis dan kebijakan yang pernah beliau ambil di dalam pemerintahan Kota Padang.

Terakhir, peneliti juga menemukan adanya pengaruh atau hasil dari gaya kepemimpinan Fauzi Bahar terhadap kehidupan pemerintahan Kota Padang, terutama dalam hal kinerja dari aparatur Pemerintah Kota Padang.

1.7 Metodelogi Penelitian 1.7.1. Jenis Penelitian

Metode merupakan Unsur pokok yang harus ada dalam penelitian Ilmu penegtahuan untuk mendapatkan data akurat, tepat,lengkap, dan dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya secara ilmiah. Pemilihan metode penelitian yang tepat merupakan unsur yang sangat penting dalam mencapai-mencapai

(31)

tujuan secara optimal. Metode penelitian yang akan digunakan dalam kajian ini adalah metode Deskriftif kualitatif.

1.7.2. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data dan informasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari objek atau lokasi penelitian. Perolehan adta primer dalam hal ini dilakukan dengan cara wawancara. Wawancara adalah alat pengumpul data berupa tanya jawab antara pihak pencari informasi dengan sumber yang berlangsung secara lisan15. Adapun yang menjadi informan pada penelitian ini adalah:

1. Bupati Batu Bara OK. Arya Zulkarnain 2. Drs. Darwis, M. Si (Kepala dinas pendidikan)

3. Ir.Riswan Simarmata (Kadis TARUKIM dan Kebersihan) 4. Ishak (Kepala dinas peumuda dan olah raga)

5. Drs.Bahrumsyah (Kepala dinas sosial)

6. MHD. Nasir S.Sos (Kepala dinas pemberdayaan masyrakat desa) 7. Sahala nainggolan (kepala badan ketahanan pangan)

8. Muh. Nasir yuhanan M.Si (kepala badan penanggulan bencana daerah)

9. Anwardi, MM (kepala kantor perpustakaan dan arsip )

15 Hadari Nawawi dan Martini Hadari, 1995. instrumen penelitian bidang sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Hal 98

(32)

10. OK.Saharuddin (Tokoh Masyarakat) 11. Khairil Anwar (Tokoh Masyarakat) 12. Khairul S.Pd (Tokoh Masyarakat) 13. Dumroh Nasution (Tokoh Masyarakat) 14. Hamdan Zakaria (Tokoh Masyarakat)

b. metode library research atau studi pustaka. Metode Library research (studi pustaka) yakni dengan cara pengumpulan data dengan menghimpun buku-buku, makalah-makalah dan dokumen-dokumen serta sarana informasi lainnya yang tentu saja berhubungan dengan masalah-masalah penelitian ini.16

1.7.3. Teknik Analisa Data

Data-data yang telah terkumpul akan ditampilkan dalam bentuk uraian kemudian dianalisis dengan menggunakan teori yang telah dijelaskan sebelumnya.

Data yang akan di ananlisis adalah hasil wawancara dengan pihak narasumber yang telah di tentukan.

(33)

1.8. Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran yang terperinci dan untuk mempermudah isi daripada skripsi ini, maka penulis membagi sistematika penulisan ke dalam 4 bab, yaitu :

BAB I : Pendahuluan

Pada bab I ini akan menjelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, metodelogi penelitian, sistematika penulisan.

BAB II : Deskripsi Lokasi Penelitian

Pada bab II ini akan mendeskripsikan sejarah Kab. Batu Bara dan profil OK. Arya Zulkarnain.

BAB III : Analisis Gaya Kepemimpinan Bupati Batu Bara OK. Arya Zulkarnain.

Pada bab III ini akan menyajikan analisis hasil penelitian mengenai Gaya Kepemimpinan Bupati Batu Bara OK. Arya Zulkarnain.

BAB IV : Penutup

Pada bab IV ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil pembahasan pada bab-bab sebelumnya.

(34)

BAB II

Deskripsi Lokasi Penelitian

2.1. Deskripsi Kabupaten Batu Bara a. Sejarah Kab. Batu Bara

Perkembangan sosial pasca reformasi pada masyarakat Batu Bara adalah adanya kebebasan untuk berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Hak untuk mendapatkan keadilan atas sistem politik pusat dan daerah dalam upaya meningkatkan kemandirian ekonomi sosial dan budaya terus digulirkan sehingga terbitlah Undang-undang No. 2 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Dalam Undang-undang tersebut pemerintah daerah diberikan wewenang untuk mengatur rumah tangganya sendiri terkait pengolaan keuangan daerah, dan dari segi ekonomi banyak sekali keuntungan daerah dari penerapan sistem desentralisasi atau otonomi daerah, misalnya pemerintahan daerah akan sangat mudah mengelola sumberdaya alam yang dimilikinya sehingga pendapatan daerah dan penapatan masyarakat akan meningkat.17

Otonomi daearah secara umum diartikan sebagai pemberian kewenagan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakasa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Dinyatakan juga, pemerintah pusat menyerahkan sebagian kewenangan kepada pemerintah

(35)

provinsi dan kabupaten untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam pelayanan umum kepada masyarakat tempatan. Untuk menjamin proses desentralisasi berlangsung dan berkesinambungan, pada prinsipnya acuan dasar dari otonomi daerah telah diwujudkan melalui diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 Tahun 1999 serta regulasi pelaksanaan berupa Peraturan Pemerintah No. 104 sampai dengan Peraturan Pemerintah No. 110 Tahun 2000 yang berlaku Efektip 1 Januari 2001 dan PP No. 129 Tahun 2000 tentang Persyaratan pembentukan dan kriteria Pemekaran, penghapusan dan Penggabungan Daerah.18

Dengan dikeluarkannya undang- undang dan peraturan pemerintah tersebut, maka terjadi perubahan secara menyeluruh terhadap pelaksanaan tata pemerintahan yang telah dilaksanakan oleh aparatur pemerintah dari prinsip sentralisasi ke prinsip desentralisasi. dengan adanya otionomi daerah, maka daerah otonom mempunyai kewenangan dan dapat mengambil keputusan terkasit kepentingan daerah serta mengembangkan segala potensi yang ada untuk meningkatkan kemakmuran rakyat dan kemajuan bangsa termasuk juga untuk melakukan pemekaran, penghapusan dan penggabungan daerah. Begitu juga halnya dengan masyarakat yang saat ini berada di Kabupaten Batu Bara, peluncuran ( launching) undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur pelaksanaan otonomi daerah mendapat aspirasi yang luar biasa. Semangat kemandirian untuk “BERDIKARI” mengutip istilah dari Soekarno, yaitu berdiri

18Ibid. Hal. 180

(36)

di kaki sendiri sebagai Kabupaten Otonom dari Kabupaten Induknya yaitu Kabupaten Asahan telah menginspirasi banyak tokoh dan pemuda untuk memekarkanKabupaten Asahan menjadi Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batu Bara. Inilah ikhwal awal pertama sekali “ Sejarah Pembentukan Kabupaten Batu Bara” di perjuangakan sebagai tuntutan para pendahulunya sejak Tahun 1947.19

Pembentukan Kabupaten Batu Bara tidak dapat dilepaskan atas partisipasi dari beberapa tokoh yang merupakan pioner perjuangan yang setia, setiap saat menunjukan baktinya untuk masyarakat. Tokoh- tokoh tersebut tentu tidak dapat dilupakan begitu saja sebagian dari proses pembentukan sejarah sosial politik Batu Bara. Nama mereka layak dihormati sebagai pemberi isnpirasi dan diabadikan dengan tinta emas oleh masyarakat, terlepas apapun posisi mereka setelah itu, yang pasti, mereka telah membuat sejarah. “ Jangan Sekali-kali melupakan seejarah” ( Jasmerah ) kata Bung Karno. Adalah suatu penghormatan kepada para tokoh yang berjuang untuk kepentingan masyarakat dan layak jadi teladan dalam pembentukan karakter.20

Para tokoh ini dapat kita cacat antara lain Abdullah Eteng sebagai Bupati Pertama di Asahan, Batu Bara di dalamnya, beliau tidak sungkan untuk menyuarakan Batu Bara berpemerintah sendiri di luar Asahan, ada Usman YS, Talib Siregar, Abdul Murad Tanjung, Yunta Bahrum, Muctar Tanjung dab tentu banyak lagiyang lain. Apa yang menjadi motivasi beliau tentu tidak dapat dilpaskan dari keinginan masyarakat Batu Bara secara luas. Beliau adalah figur

19Ibid.hal 180- 181

(37)

yang tampil dalam permusyawaratan para tokoh Batu Bara di Pulau Raja ketika masa pengungsian terkait dengan perang kemerdekaan. Setelah Negara Sumatera Timur dibubarkan maka oleh Usman YS diupayahkanlah menyosialisaikan kepda pemuka masyarakat dan partai politik di Batu Bara Utara dan Selatan cita-cita pembentukan Kabupaten ini. Pada pertemuan yang diadakan di Labuhan Ruku tanggal 15 Agustus tahun 1950 disepakati peningkatan sumberdaya manusia dengan cara mendirikan Sekolah Menengah Pertama di Labuhan Ruku Tahun 1950. Penyedian SDM adalah langkah positif untuk kemajuan suatu komunitas sosial, para tokoh ini telah menunjukkan visionerismenya yang progresif untuk membangun daerah.21

Perjuangan membentuk Kabupaten ini tidak serta merta terwujud, situasi perpolitikan pada dasawarsa awal kemerdekaan memeang masih dalam suasana yang belum kondusif. Walaupun kemerdekaan telah digenggam, ganguan pihak belanda secara militer dan politik bergulir kemudian berhasil dieliminir, namun kekuasan- kekuasaanlokal semakin mengeliat untuk menunjukan jadi dirinya.

Aspirasi pembentukan Kabupaten Batu Bara lewat perjuangan panjang.

Padahal Batu Bara jauh sebelumnya sama kedudukannya dengan Kabupaten Asahan pada masa itu.sejarah telah mencatat, untuk pertama kalinya pada tahun 1957, telah lahirnya aspirasi di tengah-tengah masyarakat ketika itu yang tersebar 5 kecamatan wilayah Batu Bara bergabung dan berkoordinasi guna mengwujudkan terbentuknya Kabupaten Otonom yang baru dan tetap diberi nama

21Ibid. Hal 186-187

(38)

Baru Bara seperti sedia kala. Keinginan luhur tersebut mengantarkan terbentuknya Panitia Pembentukan Otonomi Batu Bara ( PPOB ) yang diprakasai oleh Abdul Karim AS. Salah seorang tokoh masyarakat masyarakat putra daerah simpang Dolok yang pertama kali katika itu menjadi anggota DPRD di legislatif Asahan dari partai Masyumi. Namun undang-undang otonomi belum dikeluarkan oelh pemerintah, perjuangan untuk memisahkan diri dari kabupaten Asahan guna membentuk Kabupaten Batu Bara saat itu tertunda.22

Periode untuk pembentukan kabupaten baru dapat dikatakan hanya sebatas

“mengingat kembali perjuangan”. Periode kedua ini tetap merupakan tonggak penting yang sangat singnifikan bagi usaha menbentuk Kabupaten. Setelah sunyi senyap lebih tiga dasawarsa, pada tahun 1999 kesempatan untuk mengwujudkan cicta-cita berpemrintahan sendiri terbuka lebar.Diawal pemerintahan orde baru, pada tahun 1967, Abdul Karim AS dan kawan-kawan kembali menyuarakan keinginan luhur masyarakat ini guna mengwujudkan aspirasi membentuk Kabupaten Batu Bara dengan pusat kegiatan bersekretiatan di Jalan Merdeka, Kecamatan Tanjung Tiram. Melihat gejolak ini, pemerintah Kabupaten Asahan dibawah Bupati Abdul Manan Simatupang, mengambil kebijaksanaan dengan memindahkan ibukota Kabupaten Asahan dari Tanjung Balai ke Kisaran pada tanggal 20 Mei 1986, dengan dalih pertimbangan posisi strategis memperdekat layanan adminitrasi pemerintahan kepada masyarakat, khususnya Batu Bara.

(39)

Pemindahan ibukota ini secara dejure adalah melalui Pereturan Pemerintah, Nomor 19 Tahun 1980.23

Tokoh pemuda perantauan mengadakan pertemuan dengan para tokoh Melayu Sumatera Utara yang bergabung dalam Gerakan Tabungan Serentak (Gertak 2000) yang di hadiri Gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin, Bupati Langkat Syamsul Arifin, Bupati Asahan Risuddin. Penyelengara pertemuan ini mengundang Ketua MPR Prof. DR. M. Amin Rais, MA sebagai narasumber tentang otonomi daerah. Diskusi tentang otonomi daerah diperlukan untuk mempertegas dan memperluas wawasan tentang pembentukan Kabupaten, sebab UU Otonomi Dearah memang berkaitan langsung dengan cita-cita masyarakat yang sudah ada sejak proklamasi. Dalam pemaparannya, Ketua MPR dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa pemekaran Asahan menjadi dua Kabupaten dapat diwujudkan. Hal ini senada juga disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten Asahan dalam hal ini Buapati H. Risuddin.24

Mendapat angin yang begitu menyejukkan para tokoh dan masyarakat kemudian menindak lanjuti dengan membentuk badan atau wadah yang dapat menyatukan aspirasi karena kenyataan di lapngan hasrat untuk membentuk Kabupaten ini masih menimbulkan pro dan kontra. Untuk mengelimir perbedaan wawasan sekaligus menyatupadukan persepsi, dibentuk wadah penyatu aspirasi yakni GEMKARA ( Gerakan Muda Kabupaten Batu Bara ) oleh kelompok pemuda, antara lain Wahid, Hidayat, Arsyad dan lain-lain. Agar tujuan lebih

23Ibid. Hal 189

24Ibid. Hal 190

(40)

fokus dan tegas, Gemkara berubah menjadi Gerakan Meunju Kabupaten Batu Bara. Fungsi dengan Badan Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Batu Bara ( BP3KB). Adalah merupakan historik bahwa perjuangan ini tidak mendapat restu sepenuh hati dari Pemerintah Kabupaten Asahan, banyak gesekan yang terjadi di lapangan maupun dalam wacana. Hampir selama kurun waktu lima tahun acap terjadi “pertengkaran” yang tidak jarang memuncak jadi “perkelahian” dan menimbulkan korban fisik. Setelah DPRD Kabupaten Asahana tidak keberatan pembentukan Kabupaten Batu Bara, termasuk DPRD Sumatera Utara, merekomendikasikan dan mendukung pembentukan Kabupaten Batu Bara.

Gubernur Sumatera Utara menerbitkan surat No. 135/549/2004 yang ditujukan kepada Menteri Dalam negeri perihal Kunjungan TIM DPOD. Demikian juga surat DPR RI No. PW.006/1538/DPR RI/2005 tanggal 3 maret 2005 prihal Tindak Lanjut Pembentukan Kabupaten Batu Bara, di tujukan ke Komisi II DPR RI mengusulkan kepada Presiden lewat usul inisiatif DPR RI.25

Persiapan Pembentukan Kabupaten Batu Bara ( BP3KB ) dan Gerakan Mayarakat Menuju Kabupaten Batu Bara ( GEMKARA) kepemimpinannya dikepercayakan kepada OK. Arya Zulkarnain, SH. MM, beliau salah satu faktor utama mempercepat proses terbentuknya Kabupaten Batu Bara. Demikian juga pula dengan dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, khususnya Gubernur H.Tengku Rizal Nurdin. Akhirnya, lewat perjuangan panjang ini, tanggal 8 Desember 2006 dengan peretujuan DPR RI diterbitkan Rancangan Undang-

(41)

undang Pembentukan Kabupaten Batu Bara, yang selanjutnya pada tanggal 15 juni 2007, berdasarkan Undang-undang No. 5 Tahun 2007, Kabupaten Batu Bara resmi menjadi Kabupaten dengan ibukotanya Kecamatan Lima Puluh.26

b. Struktur Pemerintah Kabupaten Batu Bara A. Sekretariat Daerah :

I. Asisten Pemerintahan Dan Kesejahteraan Rakyat 1. Bagian Pemerintahan Umum

2. Bagian Kesejahteraan Rakyat 3. Bagian Hubungan Kemasyarakatan

II. Asisten Perekonomian Dan Pembangunan 1. Bagian Pembangunan

2. Bagian Sumber Daya Alam 3. Bagian Perekonomian III. Asisten Administrasi Umum

1. Bagian Hukum

2. Bagian Umum Dan Perlengkapan 3. Bagian Organisasi

26Ibid. Hal 191-192

(42)

IV. Staf Ahli Bupati B. Sekretariat Dewan :

1. Bagian Umum 2. Bagian Keuangan

3. Bagian Risalah Dan Persidangan

4. Bagian Perundang – Undangan Dan Kehumasan C. Dinas Daerah :

1. Dinas Pendidikan 2. Dinas Kesehatan 3. Dinas Sosial

4. Dinas Tenaga Kerja

5. Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil

6. Dinas Perhubungan, Komunikasi Dan Informatika 7. Dinas Pekerjaan Umum

8. Dinas Tata Ruang, Permukiman, Dan Kebersihan 9. Dinas Koperasi, Perindustrian, Dan Perdagangan 10. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda Dan Olahraga 11. Dinas Pendapatan

12. Dinas Pertanian 13. Dinas Peternakan

14. Dinas Kehutanan Dan Perkebunan 15. Dinas Kelautan Dan Perikanan

(43)

D. Lembaga Teknis Daerah : 1. Inspektorat

2. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah 3. Badan Kepegawaian Daerah

4. Badan Pemberdayaan Masyarakat Dan Pemerintahan Desa 5. Badan Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Berencana 6. Badan Ketahanan Pangan Dan Pelaksana Penyuluhan 7. Badan Pengelolaan Keuangan Dan Asset Daerah 8. Satuan Polisi Pamong Praja

9. Kantor Lingkungan Hidup

10. Kantor Kesatuan Bangsa Dan Politik

11. Kantor Perpustakaan Arsip Dan Dokumentasi E. Kecamatan

1. Kecamatan Tanjung Tiram 2. Kecamatan Talawi

3. Kecamatan Lima Puluh 4. Kecamatan Seibalai 5. Kecamatan Air Putih 6. Kecamatan Sei Suka 7. Kecamatan Medang Deras

(44)

F. Kelurahan dan Desa

Adapun desa-desa dan kelurahan yang ada di kabupaten Batu Bara adalah:

Kecamatan Medang Deras

Kelurahan yang ada di Kecamatan Medang Deras ada 3 yaitu :

1. Kelurahan Pangkalan Dodek, 2. Kelurahan Pangkalan Dodek Baru, 3. Kelurahan Pagurawan,

Desa yang ada di Kecamatan Medang Deras ada 18 desa yaitu :

1. Sidomulyo, 2. Aek Nauli, 3. Sei Buah Keras, 4. Nenassiam, 5. Durian,

6. Pematang Nibung, 7. Medang,

8. Medang Baru, 9. Sei Rakyat, 10. Sei Raja, 11. Lalang, 12. Mandarsah,

(45)

14. Pakam Raya,

15. Pakam Raya Selatan, 16. Pem. Cengkering 17. Cengkering Pekan, 18. Tanjung Sigoni

Kecamatan Sei Suka

Kelurahan yang ada di Kecamatan Sei Suka hanya ada 1 kelurahan yaitu :

1. Kelurahan Perkebunan Sipare-Pare,

Desa yang ada di Kecamatan Sei Suka berjumlah yaitu :

1. Laut Tador,

2. Planggiran L. Tador, 3. Tanjung Prapat, 4. Tanjung Kasau,

5. Perkebunan Tanjung Kasau, 6. Dewi Sri,

7. Sei Simujur, 8. kandangan, 9. Tanjung Seri, 10. Mekar Sari, 11. Sei Suka Deras,

(46)

12. Tanjung Gading, 13. Simpang Kopi, 14. Simodong, 15. Brohol,

16. Kuala Tanjung, 17. Kula Indah, 18. Pematang Jering, 19. Pematang Kuing

Kecamatan Air Putih

Kelurahan yang ada di Kecamatan Air Putih berjumlah 2 kelurahan yaitu :

1. Indrapura 2. Indrasakti

Sedangkan desa yang ada di Kecamatan Air Putih berjumlah 16 desa yaitu :

1. Sipare-Pare, 2. Titi Payunh, 3. Pasar Lapan, 4. Perkotaan, 5. Tanjung Kubah, 6. Tanjung Mulia, 7. Tanjung Harapan,

(47)

8. Aras,

9. Tanah Merah, 10. Tanah Tinggi, 11. Tanah Rendah, 12. Tanjung Muda, 13. Sukaraja,

14. Pematang Panjang, 15. Limau Sundai, 16. Sukaramai

Kecamatan Lima Puluh

Kelurahan yang ada di Kecamatan Lima Puluh berjumlah 1 yaitu :

1. Lima Puluh Kota

Sedangkan desa yang ada di Kecamatan Lima Puluh berjumlah 33 desa yaitu :

1. Gambus Laut, 2. Perupuk, 3. Guntung, 4. Pasir Permit, 5. Pematang Panjang, 6. Titi Putih,

7. Titi Merah,

(48)

8. Bulan Bulan, 9. Gunung Bandung, 10. Lubuk Cuik, 11. Pematang Tengah, 12. Tanah Itam Hilir, 13. Tanah Itam Ulu, 14. Simpang Gambus,

15. Perkembunan Lima Puluh, 16. Sumber Makmur,

17. Mangkai Lama, 18. Mangkai Baru, 19. Perkebunan Dolok, 20. Sumber Padi,

21. Perkebunan Limau Manis, 22. Antara,

23. Kwala Gunung,

24. Perkebunan Kwala Gunung, 25. Empat Negeri,

26. Sumber Rejo, 27. Lubuk Besar, 28. Lubuk Hulu, 29. Pulau Sejuk,

(49)

30. Simpang Dolok, 31. Cahaya Pardomuan, 32. Air Hitam,

33. Barung Barung

Kecamatan Talawi

Kelurahan yang ada di Kecamatan Talawi berjumlah 1 yaitu :

1. Labuhan Ruku

Sedangkan desa di kematan Talawi berjumlah yaitu :

1. Dahari Selebar, 2. Dahari Indah, 3. Mesjid Lama, 4. Indramayaman, 5. Padang genting, 6. Panjang,

7. Gunung Rante, 8. Pahang, Benteng, 9. Sei Muka,

10. Sumber Tani, 11. Binjai Baru, 12. Bangun Sari,

(50)

13. Perkebunan Tanah Datar, 14. Perkebunan Petatal, 15. Petatal,

16. Mekar Baru, 17. Glugur Makmur, 18. Karang Baru

Kecamatan Tanjung Tiram

Kelurahan yang ada di Kecamatan Tanjung Tiram berjumlah 2 yaitu :

1. Tanjung Tiram 2. Bagan Arya

Sedangkan desa yang ada di Kecamatan Tanjung Tiram berjumlah 19 yaitu :

1. Bogak, Pahlawan, 2. Bandar Rahmat, 3. Sukamaju,

4. Kampung Lalang, 5. Bagan Dalam, 6. Sukajaya, 7. Guntung, 8. Sentang, 9. Lima Laras,

(51)

10. Mekar Laras, 11. Tanjung Mulia, 12. Jati Mulia, 13. Ujung Kubu, 14. Bandar Sono, 15. Sei Mentaram, 16. Pematang Rambai, 17. Bagan Baru, 18. Tali Air Permai, 19. Kapal Merah

Kecamatan Sei Balai

Kecamatan Sei Balai tidak ada kelurahan, semua masih desa yaitu 14 desa :

1. Sei Balai, 2. Tanah Timbul, 3. Benteng Jaya, 4. Sei Bejangkar,

5. Perkebunan Sei Bejangkar, 6. Sukaramai,

7. Sukorejo, 8. Mekar Mulio, 9. Sidomulyo,

(52)

10. Kwala Sikasim, 11. Mekar Baru, 12. Durian,

13. Perkebunan Sei Balai, 14. Perjuangan

G. Lembaga Lain :

1. Badan Penanggulangan Bencana Daerah 2. Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu 3. Sekretariat Dewan Pengurus Korpri.27

2.2. Profil OK Arya Zulkarnain SH,MM

a. Latar belakang pendidikan dan pengalaman organisasi OK.Arya Zulkarnain

OK Arya Zulkarnain anak pertama dari pasangan (almarhum) OK Zulkafli bin OK Arsyad dari labuahan Ruku dan ibu HJ.Basrah binti Amershah, beliau lahir di solo, jawa tengah pada 24 maret 1956. Setelah berusia empat tahun orang tua OK Arya membawanya kembali ke sumatera utara, tepatnya ke rumah kakeknya (almarhum) H.OK Arsyad bin OK teruna di tanjung putus, kecamatan talawi ayahnya merupakan wiraswasta eks pegawai tenanga kerja, sedangkan ibundanya seorang dosen di fakultas hukum universitas sumatera utara (usu).

(53)

Semasa kecilnya dahulu OK Arya memiliki berapa sifat baik, dari sifat baiknya itulah kemudian membuat banyak orang menyukai kepribadiannya hingga membawa keberkahan dalam keberhasilan yang seperti saat ini dilihat.

OK Arya Zulkarnain,SH,MM, menjadi pemimpin organisasi sekaligus pelaksana perjuangan pemekaran. Usah-usaha pendekatan persuasif kepada pemerintah provinsi di dan pemerintah pusat, dengan prinsip “ Surut Berpantang Batu Bara Harus Menjadi Kabupaten, akhirnya kerja berat ini berhasil diselesaikan dengan hasil yang memuaskan. 28 OK.Arya terus memimpin perjuangan masyarakan untuk menuntut pemekaran Kabupaten Batu Bara.

1. Nama : H.OK Arya Zulkarnain SH,MM

2. Nip : 195603241986021001

3. Pangkat golongan : Pebina utama muda (IV/C) 4. Tempat/tanggal lahir : Solo,24 Maret 1956

5. Jabatan sekarang : Bupati Batu Bara priode 2013-2018

6. Pendidikan terakhir : S2 magister manajemen pasca sarjana USU

` tahun 2003

Riwayat Pendidikan

1. Tahun 1968 : Sekolah Dasar Harapan Medan

2. Tahun 1971 : Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Harapan Medan 3. Tahun 1974 : Sekolah Asiten Apoteker Negeri Medan

28 http://batubara.siap.web.id/2011/07/18/sejarah-singkat- kabupaten-batubara/

(54)

4. Tahun 1975 : Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Widyasana Utama Medan

5. Tahun 1987 : S1 Fakultas Hukum USU

6. Tahun 2003 : S2 Magister Manajemen Pasca Sarjana USU

Pengalaman organisasi :

1. Tahun 1978 : Anggota LAKSAWI Medan 2. Tahun 1979 : Angota SOKSI Medan 3. Tahun 1980 : Angota GOLKAR Medan 4. Tahun 1980 : Anggota AMPI Medan

5. Tahun 1985 : Tim BAPPILU GOLKAR Medan 6. Tahun 2001 : Anggota GEMKARA/BP3KB 7. Tahun 2003 : Ketua GEMKARA/BP3KB 8. Tahun 2005 : Pembina SOKSI Serdang Bedagai

9. Tahun 2005 : Pembina Karang Taruna Serdang Bedagai29

b. Karir Politik OK Arya Zulkarnain

Pada awalnya OK.Arya bertugas di pemko medan bagian Keuangan, kemudian pindah ke Deli Serdang juga sebagai Kabag Keuangan, secara bersamaan terjadi pemekaran Deli Serdang yakni Kab Serdang Bedagai dan Kab

29 Ahmad Fauzi Hutasuhut, H. OK Arya Zulkarnain, SH, MM. Membawa Amanah, Merajut Pesan

(55)

Deli Serdang, beliau di tunjuk sebagai kepala Dinas Pendapatan (Kadispenda) dan sekaligus sebagai Sekretaris Daerah (PJ Sekda).

Dalam menjalankan kariernya di Serdang Bedagai, OK. Arya berhasil dengan baik meskipun hampir setiap hari turun ke Batu Bara untuk menjalankan misi pemekaran, tapi tugas yang di emban sebagai Kadispenda dan Sekda tetap di jalani dengan maksimal. Karena keberhasilan dalam berkarir, beliau di anugerahi oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono berupa penghargaan satya lencana wira karya tahun 2007.

Setelah Batu Bara dimekarkan tahun 2007, dan beliau akhirnya kembali ke Batu Bara dengan meninggalkan masa karier gemilangnya sebagai PJ Sekda dan Kadispenda Serdang Bedagai. Terpilihnya OK Arya Zulkarnain sebagai Bupati Batu Bara dalam pemilihan kepala daerah pada tahun 2008 melalui jalur independen. Keterpilihan OK Arya Zulkarnain menunjukkan bahwa ketokohan beliau sebagai pemimpin sangat dipandang, OK. Arya Zulkarnain merupakan Birokrat dan Politisi sejati yang selalu arif dalam mengambil sikap menghadapi tantangan yang datang dari dalam maupun luar Kabupaten.30

Riwayat kepangkatan

1. Tahun 1986 : Pengatur Muda 2. Tahun 1988 : Pengatur Muda 3. Tahun 1988 : Pengatur

30 7 http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2013/09/09/49538/membaca-manuver- politik-ok-arya/#.VtldNn197IU

(56)

4. Tahun 1992 : Penata Muda

5. Tahun 1996 : Penata Muda Tingkat I 6. Tahun 1998 : Penata

7. Tahun 2001 : Penata Tingkat I 8. Tahun 2001 : Pembina

9. Tahun 2003 : Pembina Tingkat I 10. Tahun 2007 : Pembina Utama Muda

Riwayat Jabatan

1. Tahun 1995 : Kepala Sub Bagian (kasubbag) anngaran bagian

keuangan Pemerintahan kota Medan.

2. Tahun 1997 : Pejabat (PJ) kepala bagian keungan pemerinthan kota medan

3. Tahun 1998 : kepala bagian keungan pemerinthan

4. Tahun 2001 : kepala sub bagian tata usaha bagian keuangan pemerintahan kabupaten deli serdang

5. Tahun 2001 : kepala bagian keungan pemerintahan kabupaten deli serdang

6. Tahun 2002 : kepala dinas pendapatan kabupaten deli serdang 7. Tahun 2005 : kepala dinas pendapatan kabupaten serdang

bedagai

(57)

8. Tahun 2005 : pelaksana tugas (plt) sekretaris daerah kabupaten serdang bedagai

9. Tahun 2007 : kepala dinas perikanan dan kelautan pemerintah kabupaten batu bara

10. Tahun 2008 : bupati terpilih kabupaten batu bara priode 2008- 2013

Riwayat Pendidikan Pelatihan (diklat) A. Diklat kedinasan dan kepentingan

1. Tahun 1996 : diklat adumla angkatan IX di banda aceh 2. Tahun 1998 : diklat SPAMA angkatan XVI di medan 3. Tahun 2004 : diklat PIM tingkat II angkatan XI di medan B. Diklat fungsional:

1. Tahun 1991 : diklat bendaharawan di medan

2. Tahun 1993 : diklat administrasi keuangan di medan C. Diklat teknis :

1. Tahun 1993 : diklat bendaharawan di medan

2. Tahun 1994 : diklat LP2ER di Universitas gajah mada (UGM) 3. Tahun 1995 : diklat orientasi kepegawaian di medan

4. Tahun 1996 : diklat menejemen proyek di medan

5. Tahun 1996 : diklat menejemen sektor ekonomi di UGM 6. Tahun 1996 : diklat menejemen perkotaan di jakarta

(58)

7. Tahun 1999 : diklat menejemen perkotaan di medan

8. Tahun 1999 : diklat intensifikasi PPN,PPH dan PPH-BM di jakarta 9. Tahun 1999 : diklat teknis pembinaan penyelesaian kerugian negara

(TP-TGR) di jakarta

10. Tahun 2004 : diklat administrasi keuangan daerah di jakarta

11. Tahun 2004 : diklat sosialisasi dan konsultasi rancangan undang-undnag tentang pajak daerah dan retribusi daerah di jakarta

Perestasi yang diraih :

1. Tahun 2004 : penerima nilai terbaik pembinaan staf dari Bupati Deli Serdang

2. Tahun 2005 : penerima nilai terbaik pembinaan staf dari Bupati Serdang Bedagai

3. Tahun 2007 : penerima Bintang Satya Lencana Wirakarya

4. Tahun 2010 : penerima penghargaan K-3 danSMK-3 dari Menakertrans 5. Tahun 2010 : penerima penghargaan Adibakti Mina Bahari DariMenteri

Kelautan Dan Perikanan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini yaitu faktor infrastruktur menjadi faktor yang paling penting dalam meningkatkan daya saing ekonomi Kabupaten Batu Bara dengan bobot sebesar 0,353,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam mengenai dampak perkembangan wisata bahari bagi ekonomi masyarakat Kabupaten Batu Bara serta mengatahui

Hasil dari penelitian ini yaitu faktor infrastruktur menjadi faktor yang paling penting dalam meningkatkan daya saing ekonomi Kabupaten Batu Bara dengan bobot sebesar

Adapun upaya-upaya yang dilakukan KPAD Kabupaten Batu Bara dalam meningkatkan minat baca masyarakat adalah dengan mengadakan perpustakaan keliling, publikasi dan sosialisasi

Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti paparkan, dapat disimpulkan bahwa penggunaan sapaan kekerabatan dalam tuturan masyarakat Kabupaten Batu Bara, Provinsi

Dengan adanya Program Keluarga Harapan (PKH) ini dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat miskin yang ada di Kabupaten Batu Bara khususnya yang terdapat di Desa

Salah satu tradisi yang memiliki keunikan tersendiri dan keistimewaan yang menarik adalah Tradisi Pesta Tapai masyarakat Melayu Talawi Batu Bara yang telah menjadi tradisi

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan kebijakan menjadi daerah otonom oleh Kabupaten Batu Bara memberikan dampak yang sangat baik untuk daerah