1 SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sosial
Universitas Sumatera Utara
Oleh :
Wahyudi Ade Utama 150902044
DEPARTEMEN KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
i
Kemiskinan merupakan fenomena dan masalah sosial yang terus menerus dikaji dan menjadi perhatian pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Di Indonesia, masalah kemiskinan masih menjadi sorotan utama terkait dengan usaha-usaha pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. Dalam usaha penanggulangan kemiskinan, pemerintah menggulirkan kebijakan Program Keluarga Harapan (PKH) Program ini merupakan pengembangan sistem perlindungan sosial yang dapat meringankan dan membantu rumah tangga sangat miskin dalam hal mendapatkan akses pelayanan kesehatan dan Pendidikan Dasar dengan harapan program ini dapat mengurangi kemiskinan. Penelitian dilakukan di
Desa Sei Muka Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara. Program Keluarga
Harapan (PKH) di gulirkan di Kabupaten Batu Bara untuk merespons permasalahan yang ada, seperti yang terdapat di Desa Sei Muka Kecamatan Talawi. Dengan adanya Program Keluarga Harapan (PKH) ini dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat miskin yang ada di Kabupaten Batu Bara khususnya yang terdapat di Desa Sei Muka Kecamatan Talawi untuk ikut berperan serta terhadap program PKH yang nantinya akan memberikan dampak yang baik bagi kehidupan mereka terutama pada kondisi Sosial Ekonomi melalui kesehatan dan pendidikan yang nantinya diharapkan dapat menanggulangi kemiskinan yang selama ini menjerat rumah tangga sangat miskin (RTSM).
Kata kunci: Program Keluarga Harapan (PKH), Sosial, Ekonomi
ii
Poverty is a phenomenon and social problem that is constantly being studied and is the concern of the central government and regional governments. In Indonesia, the problem of poverty is still the main focus related to government efforts to improve the social welfare of the community. In an effort to reduce poverty, the government rolled out the Hope Family Program (PKH). This program is the development of a social protection system that can alleviate and help very poor households in terms of gaining access to health services and basic education in the hope that this program can reduce poverty. The study was conducted in Sei Muka Village, Talawi District, Batu Bara District. The Hope Family Program (PKH) is rolled out in Batu Bara District to respond to existing problems, such as those found in Sei Muka Village, Talawi District. With the existence of the Family Hope Program (PKH), it can provide opportunities for the poor in Batu Bara District, especially those in Sei Muka Village, Talawi District to participate in the PKH program which will have a good impact on their lives, especially in conditions Socio-economic through health and education which will be expected to overcome poverty which has ensnared very poor households (RTSM).
Keywords: Hope Family Program (PKH), Social, Economic
iii
Kesejahteraan Sosial, Fakaultas Ilmu Sosial dan Ilmi Politik, Universitas Sumatera Utara serta dapat merampungkan penulisan skripsi dengan judul
“Pengaruh Program Keluarga Harapan Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Sei Muka Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara”.
Selama masa penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Baik secara moril maupun materil. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar- besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, selaku rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Muryanto, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Agus Suriadi S.Sos, M.Si selaku Ketua Jurusan Departemen Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Fajar Utama Ritonga ,S.Sos,M.Kessos selaku Dosen Pembimbing, saya ucapkan banyak terimakasih telah bersedia membimbing, membantu, meluangkan waktu, tenaga, dan kesabaran dalam penyelesaian pengerjaan skripsi saya ini.
5. Ibu Mia Aulina Lubis, S.Sos, M.Kessos selaku Dosen Penguji, saya ucapkan banyak terimakasih telah bersedia membimbing, membantu, meluangkan
iv
Kesejahteraan Sosial USU yang telah memberikan bimbingan dan bantuan selama perkuliahan.
7. Kepada kedua orang tua tercinta, Bapak Irwan Nasution dan Ibu Haremi yang telah memberikan kasih sayangnya sepenuh hati kepada penulis. Beliau berjuang memberikan segalanya berupa doa agar penulis diberikan kemudahan selalu dalam menggapai cita-cita, memberikan motivasi yang besar serta nasehat yang membuat diri ini menjadi lebih baik, berjuang selalu dalam penyelesaian pendidikan anaknya. Mas ingin mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada ayah dan mamak atas jasa kalian dalam mendukung pendidikan ini, yang mana Mas tau pengorbanan setiap orang tua itu amat sangat besar buat anak-anaknya. Keringat yang ayah dan mamak keluarkan demi masa depan anak-anaknya adalah menjadi saksi bagi penulis bahwa yang paling berharga di dunia ini adalah keikhlasan dari ayah dan ibu.
Ayah yang bekerja keras dari pagi sampai sore tanpa pernah mengeluh membuat penulis semakin semangat dalam mengejar cita-cita. Ibu adalah sosok perempuan terhebat yang dikirim Allah SWT untuk penulis jadikan teladan karena keikhlasannya dalam menjalani suka dan duka kehidupan.
Tanpa pernah lelah kalian memberikan cinta kasih pada anak-anaknya.
Ketika anak hendak pulang merantau ke Medan kalian selalu berjuang agar anaknya membawa makanan yang ia sukai dan membawakan segala kebutuhan anak hingga sering mengecek barang anak agar tidak ada yang
v
kesehatan, umur panjang, kemurahan rezeki, perlindungan disetiap perjalanan hidup yang akan dijalankan dan anak-anak dari ayah dan mamak dapat menjaga serta merawat ayah dan ibu di masa tua kalian nantinya.
8. Kepada keluarga besar ayah dan ibu, penulis ucapkan terima kasih atas doa dan dukungan terhadap penulis. Semoga keluarga besar penulis dapat sehat selalu serta murah rezeki.
9. Kepada Bunda Asrita penulis ucapkan terima kasih atas doa dan dukungan terhadap penulis yang telah membantu setiap saat penulis membutuhkan apapun itu,dan sebagai mamak ke dua yang paling baik dan Semoga Allah SWT memberikan ayah dan mamak kesehatan, umur panjang, kemurahan rezeki, perlindungan disetiap perjalanan hidup yang akan dijalankan.
10. Kepada adik terbaik penulis Risa Mila Oktavia yang sangat penulis sayangi.
Terima kasih atas semangat dan doa yang di berikan buat Mas ya. Semoga kita dapat berhasil yang akan berguna bagi agama, keluarga dan negara.
Semangat selalu dalam menjalani kehidupan ini ya adek. Mas amat sangat sayang dan akan berjuang buat kamu juga. Semoga kamu selalu dalam lindungan Allah SWT dan bisa menyelesaikan pendidikan sampai jenjang sarjana.
11. Kepada guru saya tercinta yang berkat kalian juga penulis dapat menyelesaikan gelar sarjananya. Guruku dari SDN 010152 Sei Muka, SMPN 1 Talawi dan SMAN 1 Talawi. Terima kasih pahlawanku yang telah
vi bangsa yang bertanggung jawab.
12. Kepada sahabat penulis, yang mana penulis banyak sekali dititipkan oleh Allah SWT sahabat sejati seperti mereka, si Konco ( Winda, Novi, Mutia, yang selalu mengingatkan penulis untuk mengerjakan skripsi ini dan menunjukan jalan kebenaran ) dan Genk Boru Club ( Miss Kessos LegiSandra, yang paling cantik katanya, Afifahcur, Bellacur, Ulpekcur, Viocur, Autiscur, Badok Boti, Ilsa Bencong Padang , Mekcur ) saya ucapkan terimakasih atas doa dan dukungan kalian. Kalian selalu ada dalam suka dan duka selama dibangku kuliah..
13. Kepada orang yang sudah penulis anggap kakak dan keluarga kandungnya, Kak Ningsih dan Siti Barokokok yang selalu ada dalam suka dan duka.
Mereka adalah penyemangat, pemberi motivasi dan menjadi penghibur penulis dalam menciptakan canda dan tawa. Terima kasih telah hadir di kehidupan penulis. Tetaplah menjadi Kakak dan keluarga terbaik penulis ya.
Semoga sehat dan sukses.
14. Terimakasih buat teman seperjuangan penulis Kesejahteraan Sosial 2015 yang telah berjuang untuk menjadi seorang pekerja sosial nantinya. Semoga teman-teman sehat selalu, kita dapat dipertemukan kembali di dunia kerja, silahturahmi dapat terjalin dengan lancar ya teman-teman dan apa yang kita cita-cita semoga dapat terwujud. Semoga suatu hari nanti kita dapat berkumpul dengan sudah menjadi seorang pekerja sosial yang professional
vii
Hanif, Eva, Jojo, Tiara, Reza Pahlevi, Dedek, Amoy, Reza Pompom, Ferry, Widya, Pajri, Eti, Fristman, Agustinus, Tania, Iyan BB, Ulan, Badok, Fifah, Dian Permata, Rika, Novia, Santa, Jonly, Salma, Yuana, Pebin, Ilsa, Juny, Jonathan, Zami, Ulfa, Inggrid, Wahyudi, Kasbadin, Yanna, Lusi, Lukman, Irwan, Iyeng, Della, Asmi, Romeo, Legik, Bella, Siti Aminah.
15. Kepada keluarga baruku yang penulis dipertemukan oleh Allah SWT lewat kegiatan Kuliah Kerja Nyata ( KKN ). Terimakasih sudah menjadi bagian yang terindah dalam hidup penulis. Teman-teman hadir lewat pertemuan singkat namun cinta kasih pertemanan bagi penulis tidaklah singkat. Kita berada dalam satu atap selama satu bulan dalam waktu 24 jam, yang mana banyak memberikan pelajaran berharga bagi penulis. Salah satunya, kebersamaan, kekeluargaan, kerjasama yang baik, tanggung jawab, kepedulian, kasih sayang, keikhlasan , tolong menolong, kesabaran, semangat. Semuanya penulis dapat dari kalian teman-teman. Terimakasih teruntuk, Arman, Ayu, Mamak Putri, Khaira, Salmaito, Winda Fatika, Dedek Yoga, Dedek Andriani, Tiwi, Sarah, Laya (Lia), Salsa, Septi, Hanna, . Kita sama sama satu perjuangan di stambuk 2015 Universitas Sumatera Utara.
Semoga studi teman teman untuk meraih gelar sarjana dapat berjalan dengan lancar ya. Semoga silahturahmi kita dapat berjalan dengan baik, sukses dan sehat selalu team, semoga panjang umur pertemanan.
viii
baik kepada saya menggap saya seperti adiknya sendiri. Menyambut kedatangan kedua saya di desa dengan penuh kasih sayang hingga membuat acara manggang ayam bersama keluarga. Sangat bahagia dipertemukan beliau. Jadilah kakak bagi saya yang sudah saya anggap kakak kandung bagi saya. Semoga kakak sehat selalu bersama keluarga kakak dimanapun kakak berada dan murah rezeki kakak ya.
17. Kepada seluruh informan pada tugas akhir saya Bapak Mukhlis selaku Kordinator PKH Desa Sei Muka yang telah bersedia menyediakan waktu serta informasi yang sangat penting dan membantu penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
18. Kepada seluruh orang yang hadir dalam hidup penulis, memberikan doa, dukungan, dan menolong penulis dalam segala hal. Saya ucapkan terimakasih dan mohon maaf nama kalian tidak dapat penulis sebut satu persatu namun wajah dan senyum ikhlas kalian selalu dikenang oleh penulis.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita semua. Terutama bagi kemajuan Kesejahteraan Sosial kedepannya.
Medan,25 Mei 2019 Penulis,
WAHYUDI ADE UTAMA
ix
DAFTAR TABEL... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah... 6
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
1.3.1 Tujuan Penelitian ... 7
1.3.2 Manfaat Penelitian ... 7
1.4 Sistematika Penulisan ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1 Landasan Teoritis ... 10
2.1.1 Pengaruh ... 10
2.1.1.1 Pengertian Pengaruh ... 10
2.1.2 Program Keluarga Harapan (PKH) ... 11
2.1.2.1 Pengertian Program Keluarga Harapan ... 11
2.1.2.2 Tujuan PKH ... 12
2.1.2.3 Penerima PKH... 13
2.1.2.4 Hak dan Kewajiban Peserta PKH ... 14
2.1.3 Kondisi Sosial Ekonomi ... 17
2.1.3.1 Pengertian Kondisi Sosial ... 17
2.1.3.2 Pengertian Kondisi Ekonomi ... 19
2.1.3.3 Indikator Menentukan Sosial Ekonomi ... 23
2.1.4 Keluarga ... 29
2.1.4.1 Pengertian Keluarga ... 29
2.1.4.2 Keluarga Sejahtera ... 31
2.1.4.3 Kriteria Keluarga Sejahtera ... 32
2.1.5 Kesejahteraan Sosial ... 35
2.1.5.1 Pengertian Kesejahteraan Sosial ... 35
2.1.5.2 Tujuan Kesejahteraan Sosial ... 37
2.2 Penelitian Yang Relevan ... 37
2.3 Pengajuan Hipotesis ... 39
2.4 Kerangka Pemikiran ... 40
2.5 Defenisi Konsep ... 43
2.6 Definisi Operasional ... 46
BAB III METODE PENELITIAN ... 47
3.1 Jenis Penelitian ... 47
3.2 Lokasi Penelitian ... 47
3.3 Populasi dan Sampel ... 48
3.3.1 Populasi ... 48
x
3.6.1 Uji Kelayakan Variabel ... 57
3.6.1.1 Uji Normalitas ... ……….57
3.6.1.2 Jenis Analisis ... ……….58
BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN ... 62
A. Temuan Umum ... 62
4.1 Letak Geografis Lokasi Penelitian ... 62
4.2 Sejarah Perkembangan Lokasi Penelitian... 63
4.3 Profil Lokasi Penelitian ... 63
4.3.1Penduduk Berdasarkan Golongan Usia dan Jenis Kelamin ... 63
4.3.2 Penduduk Berdasarkan Pendidikan ... 64
4.3.3 Penduduk Berdasarkan Agama Yang Dianut ... 64
4.3.4 Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan ... 65
4.3.5 Penduduk Berdasarkan Tingkat Kesejahteraan Keluarga…66 4.4 Visi, Misi, dan Tujuan Lokasi Penelitian ... 66
4.4.1 Visi ... 66
4.4.2 Misi ... 66
4.5 Struktur Organisasi Desa Sei Muka... 67
4.6 Kondisi Umum Tentang Petugas ... 68
4.7 Kondisi Umum Tentang Klien ... 69
4.8 Keadaan Sarana dan Prasana Lokasi Penelitian………..70
4.8.1 Prasarana Peribadatan ... 70
4.8.2 Prasarana Pendidikan ... 71
4.8.3 Prasarana Kesehatan... 71
BAB V HASIL PENELITIAN ... 72
5.1 Deskripsi Hasil Penelitian ... 72
5.1.1 Karakteristik Umum Responden ... 73
5.1.2 Pengaruh Program Keluarga Harapan ... 75
5.2 Pembahasan Hasil Penelitian ... 88
5.2.1 Regresi linear sederhana... 88
5.2.2 Uji T Statistik (Uji Parsial)... 89
5.2.3 Koefisien Determinasi (R-Square) ... 90
5.3 Analisis Terhadap Penelitian Terdahulu... 90
5.4 Keterbatasan Penelitian ... 92
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 94
6.1 Kesimpulan ... 94
6.2 Saran ... 95
DAFTAR PUSTAKA ... 97
xi
Tabel 3.2 Skala Likert... 52
Tabel 4.1 Tabel Golongan Usia dan Jenis Kelamin Penduduk... 63
Tabel 4.2 Pendidikan Penduduk ... 64
Tabel 4.3 Penduduk Berdasarkan Agama Yang Dianut ... 65
Tabel 4.4 Struktur Mata Pencaharian / Jenis Pekerjaan ... 65
Tabel 4.5 Penggolongan Penduduk Berdasarkan Tingkat Kesejahteraan Keluarga ... 66
Tabel 4.6 Kondisi Umum Petugas Desa Sei Muka ... 68
Tabel 4.7 Penerima Program Keluarga Harapan yang Dijadikan Sampel Per Dusun ... 69
Tabel 4.8 Prasarana Peribadatan Desa Sei Muka... 70
Tabel 4.9 Prasarana Pendidikan Desa Sei Muka ... 71
Tabel 4.10 Prasarana Kesehatan Desa Sei Muka ... 71
Tabel 5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 73
Tabel 5.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 73
Tabel 5.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan ... 74
Tabel 5.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 74
Tabel 5.5 Karakteristik responden berdasarkan pendapatan ... 75
1
Kemiskinan merupakan masalah yang sangat kompleks yang dihadapi oleh seluruh Pemerintah. Secara konseptual pekerja sosial memandang bahwa Kemiskinan adalah suatu keadaan yang bersifat multidimensional. Artinya kemiskinan merupakan masalah yang harus dihadapi dan menjadi perhatian banyak orang.
Desa Sei Muka Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara merupakan lokasi yang dijadikan objek dalam tulisan ini. Adapun sasaran pelaksanaan yaitu Program Keluarga Harapan (PKH) meliputi di Desa Sei Muka Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara,
Desa Sei Muka berada di Kecamatan Talawi kabupaten Batu Bara. dari data demografi penduduk jumlah desa Sei Muka sebanyak 3.688 jiwa, dengan perincian 1.751 berjenis kelamin laki-laki, dan 1.938 berjenis perempuan.
Jumlah data penduduk Desa Sei Muka
No. Jenis Kelamin Jumlah
1. Laki-laki 1751
2. Perempuan 1938
Jumlah 3688
Sumber Data : Kependudukan Desa Sei Muka Tahun 2018
Desa Sei Muka Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara merupakan wilayah yang terletak pada dataran rendah daerah Pertanian, dengan cuaca tropis
Data jumlah penerima PKH di desa sei muka
Jumlah penerima Program Keluarga Harapan Desa Sei Muka Tahun 2018
1. SUNGAIMUKA 14
2. MERBO LUAR 14
3. MERBO DALAM 14
4. KALI REJO 27
5. SIDOREJO 16
6. KEBUN SAYUR 5
7. SAHATA 12
8. CINTAMAJU 23
9. PARULIAN 20
Jumlah 145
Sumber data Desa Sei Muka Tahun 2018
Pada setiap kecamatan tidak semua Desa mendapatkan bantuan PKH, hanya desa-desa yang masuk dalam kriteria- kriteria penerima PKH, salah satunya yaitu di Desa Sei Muka Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara. Program Keluarga Harapan (PKH) di gulirkan di Kabupaten Batu Bara untuk merespons permasalahan yang ada, seperti yang terdapat di Desa Sei Muka Kecamatan Talawi. Dengan adanya Program Keluarga Harapan (PKH) ini dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat miskin yang ada di Kabupaten Batu Bara khususnya yang terdapat di Desa Sei Muka Kecamatan Talawi untuk ikut berperan serta terhadap program PKH yang nantinya akan memberikan dampak yang baik bagi kehidupan mereka terutama pada kondisi Sosial Ekonomi melalui kesehatan dan pendidikan yang nantinya diharapkan dapat menanggulangi kemiskinan yang selama ini menjerat rumah tangga sangat miskin (RTSM) dapat disadari sepenuhnya bahwa PKH ini dilakukan melalui pendekatan kesejahteraan bagi keluarga miskin dengan cara memberikan bantuan tunai langsung kepada
Program Keluarga Harapan di Desa Sei Muka yang sudah berjalan mulai tahun 2012 sampai sekarang, dan selama 6 tahun ini antusias masyarakat peserta PKH ini sangat tinggi dilihat dari semangat para masyarakat untuk menghadiri setiap pertemuan yang dilakukan setiap bulannya yang dipimpin oleh pendamping PKH Desa Sei Muka. Meskipun mereka tidak berpendidikan tinggi tetapi mereka diberi arahan untuk tidak membiarkan anak-anak mereka ikut terbelenggu dan jauh dari dunia pendidikan, sehingga kelak mereka bisa memiliki masa depan yang lebih baik.
Kabupaten Batu Bara yang beribukota Lima Puluh adalah kabupaten yang baru dimekarkan dari Kabupaten Asahan sesuai dengan UU RI Nomor 5 Tahun 2007 pada tanggal 15 Juni 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Batu Bara Terdiri dari 7 Kecamatan 10 Kelurahan dan 141 Desa.
Penduduknya berjumlah 400803 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 422.64 jiwa per kilometer persegi.
Batu Bara merupakan salah satu kabupaten yang baru berkembang.namun untuk tingkat kemajuan pembangunan di Kabupaten Batu Bara begitu cepat sejak tahun 2012 pemerintah menggulirkan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Bara dengan harapan untuk meningkatkan kualitas hidup sosial dan ekonomi masyarakat Batu Bara. serta menunjang pembangunan yang merata sesuai dengan semboyan Kabupaten Batu Bara yaitu Sejahtera Berjaya.
penanggulangan kemiskinan merupakan perlindungan segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Di Indonesia, masalah kemiskinan masih menjadi sorotan utama terkait dengan usaha-usaha pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. Kemiskinan dan pengangguran bagaikan setumpuk gunung es yang harus segera terpecahkan. Fenomena-fenomena tersebut sebenarnya tidaklah berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan terhubung satu sama lain. Para pemerhati sosial, politik, ekonomi dan budaya telah mengemukakan.Kemiskinan merupakan fenomena dan masalah sosial yang terus menerus dikaji dan menjadi perhatian pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Salah satu faktor penyebab ketertinggalan dan penghambat dalam pembangunan suatu bangsa adalah tingginya angka kemiskinan. Kemiskinan dapat menimbulkan dampak yang bersifat menyebar (multiplier effects) terhadap tatanan kemasyarakatan secara menyeluruh. Kemiskinan juga merupakan muara dari masalah sosial lainnya. Persoalan kemiskinan ini juga dipicu oleh banyaknya masyarakat yang masuk dalam kateogori pengangguran terselubung, dimana mereka tidak produktif dalam pekerjaannya (musiman). Pengangguran model tersebut menempati porsi yang cukup besar dalam lapisan masyarakat Indonesia, sehingga banyak keluarga Indonesia masih mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,
tentang Jaminan Sosial yang ditindaklanjuti dengan Perpres Nomor 15 Tahun 2010 tentang percepatan penangulangan kemiskinan. Program ini merupakan pengembangan sistem perlindungan sosial yang dapat meringankan dan membantu rumah tangga sangat miskin dalam hal mendapatkan akses pelayanan kesehatan dan Pendidikan Dasar dengan harapan program ini dapat mengurangi kemiskinan. Program ini dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan utama pembangunan yaitu masih besarnya jumlah penduduk miskin serta rendahnya kualitas sumber daya manusia.
Pada masa pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah membuat suatu kebijakan untuk mengatasi problematika kemiskinan, kurangnya pendidikan, lemahnya perekonomian dalam masyarakat dengan membentuk Program Keluarga Harapan (PKH). Program Keluarga Harapan (PKH) dibentuk oleh Dinas Sosial yang mengadopsi program dari luar negeri yang dicoba untuk diterapkan di Indonesia. Bidikan Program tersebut mengarah pada pendidikan anak dan pada kesehatan. Oleh karena itu, dalam pembentukan Program Keluarga Harapan (PKH) Dinas sosial bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan. Bidikan ke arah pendidikan bertujuan untuk meningkatkan mutu dari keluarga tersebut. Dan bidikan ke arah kesehatan bertujuan agar para anggota keluarga tercukupi gizinya dan tidak terserang gizi buruk (PKH Kemsos, 2017).
Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan suatu program pengembangan sistem perlindungan sosial yang dapat meringankan dan
dapat mengurangi kemiskinan. Program ini dilatar belakangi oleh adanya permasalahan utama pembangunan yaitu masih besarnya jumah penduduk miskin serta rendahnya kualitas SDM (PKH Kemsos, 2017).
Program tersebut mempunyai tujuan untuk dapat mengurangi beban keluarga miskin dalam hal pendidikan anak, kesehatan balita dan ibu hamil, serta lansia. PKH juga bertujuan untuk memutus rantai kemiskinan dan menghilangkan adanya kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat. PKH dapat sebagai program yang bertujuan untuk memutus rantai kemiskinan,kemiskinan merupakan Persoalan yang sangat mengguncang Dunia. Artinya kemiskinan merupakan masalah yang harus dihadapi dan menjadi perhatian banyak orang di dunia.
Meskipun dalam tingkatan yang berbeda, tidak ada satupun Negara sejagat raya ini “kebal”dari kemiskinan. Semua Negara di dunia sepakat bahwa kemiskinan merupakan problema kemanusiaan yang menghambat kesejahteraan dan peradab an Program Keluarga Harapan (PKH).
Persoalan Kemiskinan dan Kesejahteraan Masyarakat di Desa Sei Muka masih menjadi fakta menyedihkan dalam perkembangan pembangunan ekonomi nasional maka dengan hadirnya Program Keluarga Harapan (PKH) untuk mengatasi masalah kondisi sosial dan ekonomi, maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul “ Pengaruh Program Keluarga Harapan Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi di Desa Sei Muka Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara’’
Dengan memperhatikan latar belakang masalah diatas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :
Seberapa Besar Pengaruh Program Keluarga Harapan(PKH) terhadap Kondisi Sosial Ekonomi di Desa Sei Muka Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara ?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui Seberapa besar pengaruh program keluarga harapan (PKH) terhadap kondisi sosial ekonomi di Desa Sei Muka Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai referensi dalam rangka :
1. Secara Akademik, penelitian ini diharapkan mampu memperkaya khasanah penelitian program keluarga harapan (PKH), khususnya bagi Departemen Kesejahteraan Sosial, Fakultas Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Secara Teoritis, dari hasil penelitian ini dapat melatih diri dan mengembangkan pemahamanan serta kemampuan berfikir melalui penulisan ilmiah dengan menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama
3. Secara praktis, diharapkan semakin menambah pengetahuan serta dapat juga dijadikan sebagai bahan rujukan untuk penelitian terkait selanjutnya, serta diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan memperluas cakrawala pengetahuan tentang program keluarga harapan (PKH).
1.4 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini terdiri atas :
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 4. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Landasan Teoritis
2. Penelitian Yang Relevan 3. Pengajuan Hipotesis 4. Kerangka Pemikiran 5. Definisi Konsep 6. Definisi Operasional
BAB III METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian
2. Lokasi Penelitian 3. Populasi dan Sampel 4. Teknik Analisis Data
BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Temuan Umum
1. Letak Geografis Lokasi Penelitian
4. Visi, Misi dan Tujuan Lokasi Penelitian
5. Struktur Organisasi/Lembaga Lokasi Penelitian 6. Kondisi Umum Tentang Klien
7. Kondisi Umum Tentang Petugas
8. Keadaan Sarana dan Prasarana Lokasi Penelitian BAB V HASIL PENELITIAN
1. Deskripsi Data Hasil Penelitian 2. Pengujian Hipotesis
3. Pembahasan Hasil Penelitian 4. Keterbatasan Penelitian
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
2. Saran
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
10 2.1.1 Pengaruh
2.1.1.1 Pengertian Pengaruh
Menurut Stuart dalam Hafied Cangara (2002:163) Pengaruh merupakan efek yang terjadi setelah dilakukannya proses penerimaan pesan sehingga terjadilah proses perubahan baik pengetahuan, pendapat, maupun sikap. Suatu pengaruh dikatakan berhasil apabila terjadi sebuah perubahan pada sipenerima pesan seperti apa yang telah disampaikan dalam makna sebuah pesan. “pengaruh atau efek ialah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh peneri ma sebelum dan sesudah menerima pesan”. Sedangkan menurut Hafied Cangara (2002:163) “pengaruh adalah salah satu elemen dalam komunikasi yang sangat penting untuk mengetahui berhasil tidaknya komunikasi yang kita inginkan”.
Pengaruh dapat dikatakan jika perubahan yang terjadi pada penerima sama dengan tujuan yang diinginkan oleh komunikator. Pengaruh dapat terjadi dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku. Pada tingkat pengetahuan pengaruh bisa terjadi dalam bentuk perubahan persepsi dan perubahan pendapat. Adapun yang dimaksud dengan perubahan sikap ialah adanya perubahan internal pada diri seseorang yang diorganisir dalam bentuk prinsip, sebagai hasil evaluasi yang dilakukannya terhadap suatu objek baik yang terdapat di dalam maupun diluar dirinya.
Perubahan perilaku ialah perubahan yang terjadi dalam bentuk tindakan.
Antara perubahan sikap dan perilaku terdapat hubungan yang erat, sebab perubahan perilaku biasanya didahului oleh perubahan sikap. Tetapi dalam hal tertentu, bisa juga perubahan sikap didahului oleh perubahan perilaku.
Berdasarkan pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengaruh adalah perbedaan apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan sebelum dan setelah menerima pesan sehingga terjadi perubahan pada diri individu baik pengetahuan, sikap maupun perilaku.
2.1.2 Program Keluarga Harapan (PKH) 2.1.2.1 Pengertian Program Keluarga Harapan
Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program bantuan tunai bersyarat kepadarumah tangga sangat miskin (RTSM), jika mereka memenuhi persyaratan yang terkait dengan kriteria kemiskinan menurut BPS. Program PKH mencakup komponen yaitu pendidikan, kesehatan, disabilitas & lansia. Tujuan dari program PKH Pendidikan adalah untuk meningkatkan angka partisipasi sekolah, khususnya bagi anak-anak rumah tangga sangat miskin (RTSM), serta mengurangi angka pekerja anak.
Tujuan program PKH kesehatan yaitu untuk ikut serta meningkatkan upaya perbaikan status kesehatan ibu dan anak, khususnya masyarakat miskin.Program Keluarga Harapan dilaksanakan oleh unit pelaksana program keluarga harapan (UPPKH) Pusat, UPPKH Kabupaten/Kota dan Pendamping
PKH. Masing-masing pelaksana memegang peran penting dalam menjamin keberhasilan PKH, mereka adalah:
a. Unit pelaksana program keluarga harapan (UPPKH) Pusat merupakan badan yang merancang dan mengelola persiapan dan pelaksanaan program. UPPKH Pusat juga melakukan pengawasan perkembangan yang terjadi di tingkat daerah serta menyediakan bantuan yang dibutuhkan.
b. Unit pelaksana program keluarga harapan (UPPKH) Kabupaten/Kota melaksanakan program dan memastikan bahwa alur informasi yang diterima dari kecamatan ke pusat dapat berjalan dengan baik dan lancar.
UPPKH Kabupaten/Kota juga berperan dalam mengelola dan mengawasi kinerja pendamping serta memberi bantuan jika diperlukan.
c. Pendamping merupakan pihak kunci yang menjembatani penerima manfaat dengan pihak lain yang terlibat di tingkat kecamatan maupun dengan program di tingkat kabupaten/kota. Tugas pendamping termasuk didalamnya melakukan sosialisasi, pengawasan dan mendampingi para penerima manfaat dalam memenuhi komitmennya.
2.1.2.2 Tujuan PKH
Tujuan PKH adalah untuk mengurangi angka dan memutus rantai kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mengubah perilaku yang kurang mendukung peningkatan kesejahteraan dari kelompok
paling miskin. tujuan ini berkaitan langsung dengan upaya mempercepat pencapaian target Millennium Development Goals (MDGs). Secara khusus, tujuan PKH adalah:
1. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan . bagi Peserta PKH
2. Meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu hamil (bumil), ibu nifas, bawah lima tahun (balita) dan anak prasekolah anggota Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM)/Keluarga Sangat Miskin (KSM).
2.1.2.3 Penerima PKH
Sejak tahun 2012, untuk memperbaiki sasaran penerima PKH, data awal untuk penerima manfaat PKH diambil dari Basis Data Terpadu hasil PPLS 2011, yang dikelola oleh TNP2K. Sampai dengan tahun 2014, ditargetkan cakupan PKH adalah sebesar 3,2 juta keluarga. Sasaran PKH yang sebelumnya berbasis Rumah Tangga, terhitung sejak saat tersebut berubah menjadi berbasis Keluarga Perubahan ini untuk mengakomodasi prinsip bahwa keluarga yaitu orang tua ayah, ibu dan anak adalah satu orang tua memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan masa depan anak. Karena itu keluarga adalah unit yang sangat relevan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam upaya memutus rantai kemiskinan antar generasi. Beberapa keluarga dapat berkumpul dalam satu rumah tangga yang mencerminkan satu kesatuan
pengeluaran konsumsi yang dioperasionalkan dalam bentuk satu dapur. PKH diberikan kepada Keluarga Sangat Miskin (KSM). Data keluarga yang dapat
menjadi peserta PKH didapatkan dari Basis Data Terpadu dan memenuhi sedikitnya satu kriteria kepesertaan program berikut, yaitu:
1. Memiliki ibu hamil/nifas/anak balita
2. Memiliki anak usia 5-7 tahun yang belum masuk pendidikan dasar (anak pra sekolah)
3. Anak usia SD/MI/Paket A/SDLB (usia 7-12 tahun) 4. Anak SLTP/MTs/Paket B/SMLB (Usia 12-15)
5. Anak 15-18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar termasuk anak dengan disabilitas.
6. Lanjut Usia > 65 Tahun
Seluruh keluarga di dalam suatu rumah tangga berhak menerima bantuan tunai apabila memenuhu kriteria kepercayaan program dan memenuhi kewajiban.
2.1.2.4 Hak dan Kewajiban Peserta PKH 1. Hak Peserta PKH
RTSM yang terpilih sebagai pesertan PKH berhak memperoleh bantuan seperti :
a. Bantuan uang tunai yang besarnya disesuaikan dengan beban atau tanggungan yang ada di RTSM.
b. Menerima pelayanan kesehatan (ibu dan bayi) di Puskesmas, Posyandu, Polindes dan lain-lain.
c. Menerima pelayanan pendidikan bagi anak usia wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun sesuai ketentuan yang berlaku.
2. Tingkat Pendidikan
Peserta PKH diwajibkan memenuhi persyaratan berkaitan dengan pendidikan dan mengikuti kehadiran di satuan pendidikan/rumah singgah minimal 85% dari hari sekolah dalam sebulan selama tahun ajaran berlangsung dengan catatan sebagai berikut:
a. Peserta PKH yang memiliki anak usia 7-15 tahun diwajibkan untuk didaftarkan/terdaftar pada lembaga pendidikan dasar (SD/MI/SDLB/Salafi yah Ula/Paket A atau SMP/ MTs/ SMLB/ Salafiyah Wustha/Paket B termasuk SMP/MTs terbuka) dan mengikuti kehadiran di kelas minimal 85
% dari hari belajar efektif setiap bulan selama tahun ajaran berlangsung.
Apabila ada anak yang berusia 5-6 tahun yang sudah masuk sekolah dasar dan sejenisnya, maka yang bersangkutan dikenakan persyaratan pendidikan.
b. Bagi anak penyandang disabilitas yang masih mampu mengikuti pendidikan regular dapat mengikuti program SD/MI atau SMP/MTs, sedangkan bagi yang tidak mampu dapat mengikuti pendidikan non reguler yaitu SDLB atau SMLB.
c. Peserta PKH yang memiliki anak usia 15-18 tahun dan belum menyelesaikan pendidikan dasar; maka diwajibkan anak tersebut didaftarkan /terdaftar ke satuan pendidikan reguler atau nonreguler(SD/MI atau SMP/MTs, atau Paket A, atau Paket B).
d. Anak peserta PKH yang bekerja atau menjadi pekerja anak atau telah meninggalkan sekolah dalam waktu yang cukup lama,maka anak tersebut harus mengikuti program remedial yakni mempersiapkannya kembali ke satuan pendidikan.Program remedial yakni mempersiapkannya kembali ke satuan pendidikan. Program remedial ini adalah layanan rumah singgah atau shelter yang dilaksanakan Kementerian Sosial untuk anak jalanan dan Kemenakertrans untuk pekerja anak. Bila kedua persyaratan di atas, kesehatan dan pendidikan, dapat dilaksanakan secara konsisten oleh Peserta PKH, maka mereka akan memperoleh bantuan secara teratur.
e. Besaran Bantuan Penerimaan Program Keluarga Harapan (PKH) Penerimaan Program Keluarga Harapan (PKH) di Batu Bara pertama dilaksanakan pada tahun 2012, penerimaan bantuan tersebut hanya disalurkan kepada anak usia balita/ Ibu Hamil, SD dan SMP. Kriteria tersebut hanya sampai pada tahun 2014. Pada tahun 2015 kriteria penerima PKH ditambah sampai aanak usia SMA. Pada tahun 2016 menambah 2 kriteria lagi, yaitu disabilitas dan lansia di atas 65 Tahun.
2.1.3 Kondisi Sosial Ekonomi 2.1.3.1 Pengertian Kondisi Sosial
Menurut Dalyono (2005), Kondisi Soial adalah semua orang atau manusia lain yang mempengaruhi kita. Kondisi sosial yang mempengaruhi individu melalui dua cara yaitu langsung dan tidak langsung. Secara langsung yaitu seperti dalam pergaulan sehari–hari baik dari keluarga, teman dan pekerjaan. Secara tidak langsung melalui media masa baik cetak, audio maupun audio visual. Selanjutnya juga dijelaskan lingkungan sosial yang sangat berpengaruh pada proses dan hasil pendidikan adalah teman bergaul, lingkungan tetangga dan aktivitas dalam masyarakat.
Menurut Linton (2000) mengatakan kondisi sosial masyarakat mempunyai lima indikator yaitu : umur dan jenis kelamin, pekerjaan, prestise, family atau kelompok rumah tangga,dan keanggotaan dalam kelompok perserikatan. Dari kelima indikator tersebut, hanya indikator umur dan kelamin yang tidak terpengaruh oleh proses pendidikan, sehingga hanya empat indikator yang perlu diukur tingkat perbaikannya, guna mengetahui tingginya manfaat sosial bagi masyarakat.
Menurut Ihsan (2003) kondisi masyarakat di mana memiliki latar belakang pendidikan yang cukup, terdapat lembaga–lembaga pendidikan dan sumber belajar didalamnya akan memberikan pengaruh positif terhadap semangat dan perkembangan belajar generasi muda.
Dalam hal ini di mana kondisi sosial ini berpengaruh secara negatif terhadap pendidikan, maka kondisi ini menjadi pembatas pendidikan. Orang tua sebagai pendidik secara kodrati harus mampu mengantisipasi pengaruh yang ada karena tidak semua pengaruh kondisi sosial merupakan pengaruh yang baik. Hal ini berarti bahwa lingkungan sosial juga mempengaruhi pencapaian pendidikan anak. Kondisi sosial masyarakat mempengaruhi proses dan hasil pendidikan.
1. Status Sosial
Dalam pembagian kelompok atau masyarakat (individu) memiliki apa yang dinamakan Status Sosial. Status Sosial merupakan kedudukan seseorang (individu) dalam suatu kelompok pergaulan hidupnya. Status seorang individu dalam masyarakat dapat dilihat dari dua aspek yakni:
a. Aspek statis
Status kedudukan dan derajat seseorang di dalam suatu kelompok yang dapat dibedakan dengan derajat atau kedudukan individu lainnya.Seperti petani dapat dibedakan dengan nelayan, pegawai negeri, pedagang dan lain-lain.
b. Aspek dinamis
Yaitu berhubungan erat dengan peranan sosial tertentu yang berhubungan dengan pengertian jabatan, fungsi, dan tingkah laku yang formal serta jasa yang diharapkan dari fungsi dan jabatan tersebut.
Peranan Sosial, adalah suatu cara atau perbuatan atau tindakan seseorang individu dalam usahanya memenuhi tanggung jawab hak-hak dari status
sosialnya. Maka seseorang akan terlihat menjalankan kegiatan atau tidak yang sesuai dengan status sosialnya masing-masing, dapat dilihat dari peranan.
Pada prinsipnya setiap individu dalam pergaulan hidupnya memiliki status sosial yang pokok (key status) yang berupa :
1. Pekerjaan seseorang (merupakan status yang terpenting) 2. Status dalam sistem kekerabatan
3. Status religius dan status politik 2.1.3.2 Pengertian Kondisi Ekonomi
Menurut Sumardi dan Evers (2001) keadaan ekonomi adalah suatu kedudukan yang secara rasional dan menetapkan seseorang pada posisi tertentu dalam masyarakat. Pemberian posisi itu disertai pula dengan seperangkat hak dan kewajiban yang harus dimainkan oleh si pembawa status.
1. Status Ekonomi
Menurut (Kartono, 2006) dalam (Suparyanto, 2010), Status ekonomi dapat dilihat dari pendapatan yang disesuaikan dengan harga barang pokokStatus ekonomi kemungkinan besar merupakan pembentuk gaya hidup keluarga.
Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak, karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik primer maupun sekunder.
Arsyad dalam Kholidah (2010) melihat bahwa kelengkapan perabot rumah tangga yang meliputi kepemilikan barang–barang mebel, alat komunikasi elektronika, sarana transportasi serta peralatan dapur yang ada, sangat berkaitan dengan gaya hidup pemiliknya dan juga akan menumbuhkan kualitas kedudukan ekonomi dan kedudukan sosial tersendiri dalam masyarakat. Marx dalam (Salim, 2002) melihat bahwa economic structure adalah sebagai awal dari semua kegiatan manusia. Economic structure adalah penggerak perubahan yang akan memimpin perubahan termasuk proses perubahan sosial.
Susanto (2010) menyebutkan penilaian sebyektif seseorang mengenai lapisan masyarakat, yaitu :
a. Bentuk rumah, ukuran, kondisi, perawatan rumah dan tata kebun.
b. Wilayah tempat tinggal atau lingkungan dapat menentukan status.
c. Pekerjaan atau profesi yang dipilih seseorang menunjukkan keinginan dengan lapisan masyarakat tertentu.
d. Sumber pendapatan dapat menentukan status sosial ekonomi seseorang.
2. Kondisi Sosial Ekonomi
Menurut Mubyarto (2001) berpendapat tinjauan Sosial Ekonomi penduduk meliputi aspek sosial, aspek sosial budaya, dan aspek Desa yang berkaitan dengan kelembagaan dan aspek peluang kerja. Aspek ekonomi Desa dan peluang kerja
berkaitan erat dengan masalah kesejahteraan masyarakat Desa. Kecukupan pangan dan keperluan ekonomi bagi masyarakat baru terjangkau bila pendapatan rumah tangga mereka cukup untuk menutupi keperluan rumah tangga dan pengembangan usaha-usahanya.
Menurut Sumardi dan Evers (2002) keadaan Sosial Ekonomi yaitu sebagai berikut :
a. Lebih berpendidikan
b. Mempunyai status sosial yang ditandai dengan tingkat kehidupan, kesehatan,pekerjaan, pengenalan diri terhadap lingkungan
c. Mempunyai tingkat mobilitas ke atas lebih besar d. Mempunyai ladang luas
e. Lebih berorientasi pada ekonomi komersial produk f. Mempunyai sikap yang lebih berkenaan dengan kredit
g. Pekerjaan lebih spesifik
Kondisi Sosial Ekonomi menurut Sastropradja (2000) adalah keadaan atau kedudukan seseorang dalam masyarakat sekeliling, Menurut Ahmed (2001) manfaat dalam konteks Sosial Ekonomi bagi masyarakat dari suatu program pendidikan adalah berupa perbaikan dalam hal penghasilan, produktivitas,
kesehatan, nutrisi, kehidupan keluarga, kebudayaan, rekreasi, dan partisipasi masyarakat. Perbaikan penghasilan dan sebagian produktivitas adalah merupakan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Perbaikan dari sebagian produktivitas, kesehatan, makanan, kehidupan keluarga, kebudayaan, rekreasi, dan partisipasi adalah merupakan manfaat sosial bagimasyarakat.
Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang baik maka orang tua harus pandai mengarahkan agar anaknya tidak terpengaruh apabila kondisi sosial mereka tidak mendukung tercapainya pendidikan dengan baik. Orang tua juga harus mengusahakan agar lingkungan sosial di sekitar dapat dijadikan sebagai pendukung tercapainya pendidikan yang maksimal.
3. Ukuran Sosial Ekonomi
Menurut Hermana dan Ruskandi (2001), kriteria yang biasa dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat ke suatu lapisan adalah sebagai berikut :
a. Ukuran Kekayaan
Barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak, termasuk lapisan teratas. Kekayaan tersebut, biasanya dapat dilihat pada bentuk rumahnya, mobil pribadinya, cara-cara mempergunakan pakaian serta bahan yang dipakainya, kebiasaan berbelanja barang-barang mahal dan seterusnya.
b. Ukuran kekuasaan
Barang siapa yang memiliki kekuasaan atau wewenang terbesar, menempati lapisan teratas.
c. Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan atau kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat teratas. Ukuran semacam ini banyak dijumpai pada masyarakat tradisional, seperti golongan tua atau mereka yang pernah berjasa.
d. Ukuran ilmu pengetahuan
Ilmu pengetahuan sebagai ukuran, dipakai oleh masyarakat yang menghargainya. Ukuran ini kadang-kadang berakibat negatif karena ternyata bukan mutu ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran, akan tetapi gelar sarjananya. Hal ini akan memacu segala macam usaha untuk mendapat gelar walaupun tidak halal.
e. Klasifikasi Tingkat ekonomi
Menurut Hermana dan Ruskandi (2001), lapisan yang ada dalam masyarakat ada tiga macam, yaitu :
1. Lapisan atas (upperclas)
2. Lapisan menengah (middleclass)
3. Lapisan bawah (lowerclass)
2.1.3.2 Indikator Menentukan Sosial Ekonomi
Menentukan tinggi rendahnya sosial ekonomi keluarga dimasyarakat dalam memenuhi sosial ekonomi keluarga dibutuhkan beberapa indikator. Menurut Murniati secara garis besar indikatornya dapat di klasifikasikan sebagai berikut:
1.Pemenuhan kebutuhan hidup yaitu pendapatan, pendidikan, sandang, pangan, papan, kesehatan dan kepemilikan kekayaan.
2.Interaksi sosial, yaitu kegiatan bernegosiasi, kegiatan yang berhubungan antar keluarga dan kegiatan sosial lainnya. (Murniati, 2004:206)
Berikut ada beberapa indikator untuk menentukan sosial ekonomi keluarga dipenelitian ini yaitu pendapatan, pendidikan, papan/tempat tinggal, Pekerjaan, kesehatan, Tabungan dan interaksi sosial.
a. Pendapatan
Menurut Christoper dalam Sumardi, 2004 mendefenisikan pendapatan berdasarkan kamus ekonomi adalah uang yang diterima seseorang dalam bentuk gaji, upah, sewa, bunga, dan laba. Berdasarkan penggolongannya, BPS 2016 membedakan pendapatan menjadi 4 golongan adalah:
1.Golongan pendapatan sangat tinggi, adalah jika pendapatan rata- rata lebih dari Rp 3.500.000, - per bulan.
2.Golongan pendapatan tinggi adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp 2.500.000, - s/d Rp 3.500.000, - per bulan.
3.Golongan pendapatan sedang adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp 1.500.000,- s/d Rp 2.500.000,- per bulan.
4.Golongan pendapatan rendah adalah jika pendapatan rata-rata Rp 1.500.000, - per bulan. (BPS 2016. Upah Minimum Regional/Provinsi (UMR/UMP) per bulan (dalam rupiah))
b.Pendidikan
Pendidikan berperan penting dalam kehidupan manusia, pendidikan dapat bermanfaat seumur hidup manusia. Dengan pendidikan, diharapkan seseorang dapat membuka pikiran untuk menerima hal-hal baru baik berupa teknologi, materi, sistem teknologi maupun berupa ide-ide baru serta bagaiman cara berpikir secara alamiah untuk keberlangsungan hidup dan kesejahteraan dirinya, masyarakat dan tanah airnya.
UU RI No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 juga menjelaskan pendidikan bertujuan untuk “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan
jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan diselenggarakan melalui jalur pendidikan sekolah (pendidikan formal) dan jalur pendidikan luar sekolah (pendidikan luar sekolah). Jalur pendidikan sekolah (pendidikan formal) terdapat jenjang pendidikan sekolah yang pada dasarnya terdiri dari pendidikan pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Berdasarkan tingkat pendidikan, UU No, 20 Tahun 2003 menggolongkan dalam tiga bagian yaitu rendah, menengah, tinggi:
1. Pendidikan rendah yaitu pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasa Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat. Serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.
2. Pendidikan menengah merupakan pendidikan lanjutan dari pendidikan dasar, pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat.
3. Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas
c. Papan atau Tempat Tinggal
Menurut Kaare Svalastoga dalam Sumarrdi 2004 untuk mengukur tingkat sosial ekonomi seseorang dari rumahnya dapat dilihat dari:
1.Status rumah yang ditempati, bisa rumah sendiri, rumah dinas, menyewa, menumpang pada saudara atau ikut orang lain.
2. Kondisi fisik bangunan dapat berupa permanen, kayu dan bambu.
Keluarga yang keadaan sosial ekonominya tinggi pada umumnya menempati rumah permanen, sedangkan keluarga yang keadaan sosial ekonomi keluarganya menengah kebawah menggunakan semi permanen atau tidak permanen.
3.Besarnya rumah yang ditempati, semakin luas rumah yang ditempati pada umumnya semakin tinggi tingkat sosial ekonominya. Rumah dapat mewujudkan suatu tingkat sosial ekonomi bagi keluarga yang menempati.
Apabila rumah tersebut berbeda dalam hal ukuran kualitas rumah. Rumah yang dengan ukuran besar, permanen dan milik pribadi dapat menunjukkan bahwa kondiri sosial ekonominya tinggi berbeda dengan rumah yang kecil,
semi permanen menyewa menunjukan bahwa kondisi sosial ekonominya rendah. (Sumardi, 2004)
d.Pekerjaan
Pekerjaan akan menentukan status sosial ekonomi karena dari bekerja segala kebutuhan akan dapat terpenuhi. Pekerjaan tidak hanya memiliki nilai ekonomi namun usaha manusia untuk mendapatkan kepuasan dan memdapatkan imbalan atau upah, berupa barang dan jasa akan terpenuhi kebutuhan hidupnya.
Pekerjaan seseorang akan mempengaruhi kemampuan ekonominya, untuk itu bekerja merupakan suatu keharusan bagi setiap individu sebab dalam bekerja mengandung dua segi, yaitu kepuasan jasmani dan terpenuhi kebutuhan hidup.
Ditinjau dari segi sosial, tujuan bekerja tidak hanya berhubungan dengan aspek ekonomi/mendapatkan pendapatan (nafkah) untuk keluarga saja, namun orang yang bekerja juga berfungsi untuk mendapatkan status untuk diterima menjadi bagian dari satu unit status sosial ekonomi dan untuk memainkan suatu peran dalam statusnya (Kartono, 1992:21)
e.Kesehatan
Menurut BKKBN 1995, kesehatan setiap anggota keluarga merupakan syarat penting untuk dapat bekerja secara produktif, sehingga menghasilkan pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kesehatan keluarga tidak dapat dipisahkan dari ketahanan pangan keluarga. Keduanya saling
berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kesehatan keluarga juga dipengaruhi faktor lain yaitu pelayanan kesehatan dan perubahan lingkungan.
f. Tabungan
Menurut Undang – Undang NO. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang telah disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan menggunakan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Tabungan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikonsumsikan.
g.Interaksi Sosial
Interaksi diartikan sebagai hal saling melakukan aksi, berhubungan, atau saling mempengaruhi. Jadi, pengertian interaksi sosial adalah hubungan timbal balik (sosial) berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok.
Gillin and Gillin 1954) beliau berpendapat bahwa, pengertian interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara individu dan kelompok atau antar kelompok. Di dalam hubungan tersebut, individu atau kelompok bekerja sama atau berkonflik, melakukan interaksi, baik formal atau tidak formal, langsung atau tidak langsung.
Manusia pasti membutuhkan bantuan dari individu atau kelompok lain, oleh karena itu sebagai manusia sebenarnya melakukan interaksi sosial dengan
tujuan utama untuk bertahan hidup. Interaksi sosial antar keluarga, antar kelompok maupun antar masyarakat merupakan faktor terpenting dalam membina hubungan interaksi sosial yang baik dengan sesama. Kegiatan berelasi dengan orang lain atau kegiatan hubungan antar keluarga merupakan kegiatan yang tidak boleh diabaikan. (Murniati, 2004:208)
2.1.4 Keluarga
2.1.4.1 Pengertian Keluarga
Menurut (Soerjono, 2004: 23), Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah dan bersatu.Keluarga didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah yang masih mempunyai hubungan kekerabatan/hubungan darah karena perkawinan, kelahiran, adopsi dan lain sebagainya. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang belum menikah disebut keluarga batih.
Berdasarkan Undang-Undang 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Bab I pasal 1 ayat 6 pengertian Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri; atau
suami, istri dan anaknya; atau ayah dan anaknya (duda), atau ibu dan anaknya (janda).
Keluarga adalah merupakan kelompok primer yang paling penting dalam masyarakat. Keluarga merupakan sebuah grup yang terbentuk dari perhubungan laki-laki dan wanita, perhubungan yang sedikit banyak berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak. Jadi keluarga dalam bentuk yang murni merupakan satu kesatuan sosial yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak yang belum dewasa. Satuan ini mempunyai sifat-sifat tertentu yang sama, dimana saja dalam satuan masyarakat manusia. Keluarga mempunyai tujuh sifat khusus, yaitu :
a. Universal, merupakan bentuk yang universal dari seluruh organisasi sosial.
b. Dasar emosional, merupakan rasa kasih sayang, kecintaan sampai kebanggan suatu ras.
c. Pengaruh yang normatif, keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama-tama bagi seluruh bentuk hidup yang tertinggi dan membentuk watak dari pada individu.
d. Besarnya keluarga yang terbatas
e. Kedudukan yang sentral dalam struktur sosial.
f. Pertanggungjawaban dari pada anggota-anggota.
g. Adanya aturan-aturan sosial yang homegen (Ahmadi, 2002 :243)
2.1.4.2 Keluarga Sejahtera
Sejahtera adalah suatu kondisi dinamis keluarga dimana terpenuhi semua kebutuhan fisik materil, mental spiritual, dan sosial yang memungkinkan keluarga dapat hidup wajar sesuai dengan lingkungannya serta memungkinkan anak-anak tumbuh kembang dan memperoleh perlindungan yang diperlukan untuk membentuk sikap mental dan kepribadian yang matang sebagai sumber daya manusia yang berkualitas (Mongid, 1995: 10).
Keluarga sejahtera didefinisikan persis seperti tertuang dalam Pasal 1 Ayat 11 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992, yang berbunyi sebagai berikut :
“Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras, seimbang antara anggota dan antar anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungan”.
Keluarga sejahtera merupakan kondisi terpenuhinya kebutuhan primer dan sekunder dalam kehidupan suatu keluarga di masyarakat. Upaya pemberdayaan keluarga merupakan upaya yang dilakukan untuk menjadikan keluarga sebagai pelaku dalam pembangunan dimana suatu keluarga tidak hanya mampu memberdayakan keluarganya, namun juga memberdayakan masyarakat Indikator keluarga sejahtera yaitu terpenuhinya kebutuhan pokok bagi keluarga.
Ukuran taraf pemenuhan kebutuhan dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis, dan kebutuhan pengembangan (Tamadi, 2000: 16).
2.1.4.3 Kriteria Keluarga Sejahtera
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) (2005:14) menggunakan kriteria kesejahteraan keluarga untuk mengukur kemiskinan. Lima pengelompokkan tahapan keluarga sejahtera menurut BKKBN adalah sebagai berikut:
1. Keluarga Pra Sejahtera
Keluarga pra sejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih dari 5 kebutuhan dasarnya (basic needs) sebagai keluarga Sejahtera I, seperti kebutuhan akan pengajaran agama, sandang, pangan, papan, dan kesehatan.
2. Keluarga Sejahtera Tahap I
Keluarga sejahtera tahap I adalah keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan yang sangat mendasar, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Indikator yang digunakan, yaitu :
a. Anggota keluarga melaksanakan ibadah menurut agama yang dianut.
b. Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 kali sehari atau lebih.
c. Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian.
d. Bagian yang terluas dari lantai rumah bukan dari tanah.
3. Keluarga Sejahtera Tahap II
Keluarga sejahtera tahap II yaitu keluarga-keluarga yang disamping telah dapat memenuhi kriteria keluarga sejahtera I, harus pula memenuhi syarat sosial psikologis 6 sampai 14 yaitu :
a. Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur.
b. Paling kurang, sekali seminggu keluarga menyediakan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk.
c. Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru per tahun.
d. Luas lantai rumah paling kurang delapan meter persegi tiap penghuni rumah.
e. Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam keadaan sehat.
f. Paling kurang 1 (satu) orang anggota keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap.
g. Seluruh anggota keluarga yang berumur 10-60 tahun bisa membaca tulisan latin.
h. Seluruh anak berusia 5 - 15 tahun bersekolah pada saat ini.
i. Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga yang masih pasangan usia subur memakai kontrasepsi (kecuali sedang hamil).
4. Keluarga Sejahtera Tahap III
Keluarga sejahtera tahap III yaitu keluarga yang memenuhi syarat 1 sampai 14 dan dapat pula memenuhi syarat 15 sampai 21, syarat pengembangan keluarga yaitu :
a. Mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama.
b. Sebagian dari penghasilan keluarga dapat disisihkan untuk tabungan keluarga.
c. Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan itu dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga.
d. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat dilingkungan tempat tinggalnya.
e. Mengadakan rekreasi bersama diluar rumah paling kurang 1 kali/6 bulan.
f. Dapat memperoleh berita dari surat kabar/TV/majalah.
g. Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi yang sesuai dengan kondisi daerah setempat.
5. Keluarga Sejahtera Tahap III Plus
Keluarga sejahtera tahap III plus yaitu keluarga yang dapat memenuhi kriteria I sampai 21 dan dapat pula memenuhi kriteria 22 dan 23 kriteria pengembangan keluarganya yaitu:
a. Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial masyarakat dalam bentuk materi.
b. Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan/yayasan/institusi masyarakat.
2.1.5 Kesejahteraan Sosial
2.1.5.1 Pengertian Kesejahteraan Sosial
Menurut (Fahrudin, 2012 : 8), Kesejahteraan berasal dari kata “sejahtera”
sejahtera ini mengandung pengertian dari bahasa Sansekerta “Catera” yang berarti payung. Dalam konteks ini sejahtera yang terkandung dalam arti “Catera”
(payung) adalah orang yang sejahtera yaitu orang yang dalam hidupnya bebas dari kemiskinan, kebodohan, ketahutan, atau kekhawatiran sehingga hidupnya aman dan tentram, baik lahir maupun batin. Sedangkan sosial berasal dari kata “Socius”
yang berarti kawan, teman dan kerja sama. Orang yang sosial adalah orang dapat berelasi dengan orang lain dan lingkungan dengan baik. Jadi kesejahteraan sosial dapat dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana orang dapat memenuhi kebutuhannya dan dapat berelasi dengan lingkungannya secara baik.
Menurut Rukminto (2005:17), Kesejahteraan sosial adalah suatu ilmu terapan yang mengkaji dan mengembangkan kerangka pemikiran serta metodelogi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup (kondisi) masyarakat antara lain melalui pengelolaan masalah sosial,pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat, dan pemaksimalan kesempatan anggota masyarakat untuk berkemban
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2009, kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya, dan penyelenggaraan kesejahteraan sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan
berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial. Dimana dalam penyelanggaraannya dilakukan atas dasar kesetiakawanan, keadilan, kemanfaatan, keterpaduan, kemitraan, keterbukaan, akuntabilitas, partisipasi, profesionalitas dan keberlanjutan.
Kesejahteraan menurut Badan Pusat Statistik (2007), adalah suatu kondisi dimana seluruh kebutuhan jasmani dan rohani dari rumah tangga tersebut dapat dipenuhi sesuai dengan tingkat hidup.
Rambe (2004), Kesejahteraan adalah sebuah tata kehidupan dan penghidupan sosial, material, maupun spiritual yang diikuti dengan rasa keselamatan, kesusilaan dan ketentraman diri, rumah tangga serta masyarakat lahir dan batin yang memungkinkan setiap warga negara dapat melakukan usaha pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri sendiri, rumah tangga, serta masyarakat dalam menunjang tinggi hak-hak asasi.
2.1.5.2 Tujuan Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan sosial mempunyai tujuan yaitu:
1. Untuk mencapai kehidupan yang sejahtera dalam arti tercapainya standar kehidupan pokok seperti sandang, perumahan, pangan, kesehatan dan relasi-relasi sosial yang harmonis dengan lingkungannya.
2. Untuk mencapainya penyesuaian diri yang baik khususnya dengan masyarakat di lingkungannya, misalnya dengan menggali sumber-sumber, meningkatkan, dan mengembangkan taraf hidup yang memuaskan.
Selain itu Schneiderman dalam Fahrudin, (2012: 11) mengemukakan tiga tujuan utama dari sistem kesejahteraan sosial yang sampai tingkat tentu tercermin dalam semua program kesejahteraan sosial, yaitu pemiliaharaan sistem, pengawasan sistem dan perubahan sistem.
2.2 Penelitian Yang Relevan
1. Penelitian yang dilakukan oleh Munawwarah Sahib, yang membahas tentang “Pengaruh Program Keluarga Harapan Terhadap Penanggulangan Kemiskinan (Studi kasus di Kecamatan Bajeng Kab. Gowa)” pada tahun 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi (mix) Kuantitatif dan Kualitatif yaitu prosedur penelitian untuk mengungkapkan fakta yang mengakomodasi bentuk angka-angka dalam pengolahan data statistik dan diperkuat dengan analisis peneliti melalui observasi dan wawancara sebagai pelengkap dari data kuantitatif yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanapengaruh Keluarga Harapan Terhadap Penanggulangan Kemiskinan (Studi kasus di Kecamatan Bajeng Kab. Gowa). Focus penelitian ini adalah program penanggulangan kemiskinan melalui program keluarga harapan di Kecamatan Bajeng . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program
keluarga harapan di Kecamatan Bajeng mampu merubah pola pikir masyarakat miskin tentang pentingnya pendidikan dan kesehatan sebagai langkah awal untuk memutus rantai kemiskinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Keluarga Harapan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penanggulangan kemiskinan di Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Herman Susanto, yang membahas tentang
“Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan”. Penelitian ini menggunakan Metode penelitian Deskriptif Kuantitatif. Sampel responden diambil dengan pembagian kuesioner. Penelitian ini didasarkan pada tingginya jumlah rumah tangga miskin di Kecamatan Kebayoran Lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pelaksanaan program keluarga harapan di Kecamatan tersebut dalam rangka untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PKH yang dilaksanakan di daerah tersebut ternyata mampu memberikan bukti nyata dalam pencapaian tujuannya dan membktikan bahwa peserta penerima PKH setiap tahunnya mengalami penurunan.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Dyah Ayu Virgoreta, yang membahas tentang”implementasi program keluarga harapan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masayrakat (Studi kasus Desa Beji
Kecamatan Jenu,Kabupaten Tuban)” Penelitian ini menggunakan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif, Penelitian ini didasarkan pada tingginya jumlah rumah tangga miskin di Kecamatan Jenu, Penelitian ini bertujuan Untuk menganalisis tentang implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Beji Kecamatan Jenu, hasil penelitian ini menunjukan berdasarkan data yang ada diketahui bahwa setiap tahunnya jumlah peserta PKH di desa Beji mengalami penurunan. terbukti dengan menurunnya jumlah peserta PKH dari 158 pada tahun 2007 dan menurun dari tahun ketahun sampai pada tahun 2014 ini dengan jumlah 130. Hal ini membuktikan dengan adanya bantuan PKH tersebut setidaknya akan mengurangi angka kemiskinan.
2.3 Pengajuan Hipotesis
Secara etimologis, hipotesis dibentuk dari dua kata, yaitu kata hypo dan thesis. Hypo berarti kurang dan thesis adalah pendapat. Kedua kata itu kemudian digunakan secara bersama menjadi hypothesis dan penyebutan dalam dialek Indonesia menjadi hipotesa kemudian berubah menjadi hipotesis yang maksudnya adalah suatu kesimpulan yang masih kurang atau kesimpulan yang masih belum sempurna. Pengertian ini kemudian diperluas dengan maksud sebagai kesimpulan penelitian yang belum sempurna, sehingga perlu disempurnakan dengan membuktikan kebenaran hipotesis itu melalui penelitian. Pembuktian itu hanya