• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS AKHIR. ANALISIS RISIKO KEBANGKRUTAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL ALTMAN Z-SCORE PADA PT. BEKASI FAJAR INDUSTRIAL ESTATE, Tbk (PERIODE )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TUGAS AKHIR. ANALISIS RISIKO KEBANGKRUTAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL ALTMAN Z-SCORE PADA PT. BEKASI FAJAR INDUSTRIAL ESTATE, Tbk (PERIODE )"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL ALTMAN Z-SCORE PADA PT. BEKASI FAJAR INDUSTRIAL ESTATE, Tbk

(PERIODE 2018-2020)

OLEH:

JIHAN NATASYA EL SIMA 182101051

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Studi Diploma III

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEUANGAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Alhamdulillah penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah banyak melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah serta karunia-Nya yang telah memberikan kesehatan dan banyak kesempatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Analisis Risiko Kebangkrutan Dengan Menggunakan Model Altman Z-Score Pada PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk (Periode 2018-2020)”. Tugas akhir ini diselesaikan sebagai salah satu persyaratan untuk meraih gelar Ahli Madya (AMd) dalam bidang Keuangan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Penulis juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada Ayahanda terkasih Ir. Suheiry, M.T dan Ibunda tercinta Ir. Irma Suryani beserta kakak tersayang Adesima Qistee Permata S.Sos dan Aulia Hafni Elsima S.E yang senantiasa mengiringi langkah ini dengan lantunan do’a dan kasih sayang yang tiada akhir beserta dukungan yang selalu menyertai hingga terselesaikannya tugas akhir ini.

Pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu keberhasilan penyusunan tugas akhir ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Fadli, SE., M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Bongsu Hutagalung, M.Si, selaku ketua Program Studi Diploma III Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Yasmin Chairunisa Muchtar, SP, MBA, selaku sekretaris Program Studi Diploma III Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan juga sekaligus sebagai Dosen Pembimbing Penulis yang telah

(5)

meluangkan waktunya dan memberikan banyak masukan, dukungan, serta saran kepada penulis.

4. Ibu Dra. Yulinda M.Si selaku dosen penguji yang telah meluangkan waktunya untuk menguji hasil tugas akhir penulis dan telah memberikan arahan dan masukan selama proses sidang berlangsung, serta memberikan saran-saran kepada peneliti.

5. Seluruh Dosen dan Staf pengajar yang telah memberikan bimbingan dan ilmu kepada penulis selama duduk di bangku perkuliahan.

6. Kepada yang tersayang Dwi Kurnia dan teman-teman yang telah memberikan dukungannya; Rizqia, Lulu Nadhifa, Rissa Nadiah, Regitta Nurul, Dayafa Miranda dan seluruh mahasiswa angkatan tahun 2018 lainnya yang tidak mungkin disebutkan namanya satu persatu.

7. Annisha, Hafni, Indah, Jenny, Raysha, Serena, dan Chairy yang telah banyak memberi dukungan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

Semoga Allah SWT segala amal dan membalas budi baik yang diberikan oleh berbagai pihak kepada penulis selama ini. Akhir kata, penulis berharap tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi para pembaca namun masih terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan tugas akhir ini. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan ini.

Sehingga dapat dipergunakan untuk menambah pengetahuan dan bahan masukan bagi penulis selanjutnya, terima kasih.

qMedan, 2021 Peneliti

Jihan Natasya El Sima

NIM. 182101051

(6)

DAFTAR ISI

Halaman LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PERNYATAAN

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.5 Jadwal Penelitian ... 5

1.6 Sistematika Penulisan ... 6

BAB II PROFIL PT. BEKASI FAJAR INDUSTRIAL ESTATE, Tbk 2.1 Sejarah Singkat PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk ... 8

2.2 Visi, Misi dan Logo PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk ... 11

2.3 Struktur Organisasi ... 12

2.4 Job Description ... 12

2.5 Jaringan Usaha Kegiatan ... 16

2.6 Anak Perusahaan... 19

2.7 Kinerja Usaha Terkini ... 19

2.8 Rencana Kegiatan ... 21

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Pengertian Laporan Keuangan ... 23

3.2 Tujuan Laporan Keuangan... 24

3.3 Syarat-Syarat Laporan Keuangan ... 26

3.4 Sasaran Laporan Keuangan ... 26

3.5 Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan ... 27

3.6 Pihak-Pihak Yang Memerlukan Laporan Keuangan ... 28

3.7 Jenis Laporan Keuangan ... 30

3.8 Analisis Laporan Keuangan ... 32

3.9 Pengertian Rasio Keuangan ... 32

3.10 Jenis Rasio Keuangan ... 33

3.11 Risiko ... 35

3.12 Kebangkrutan ... 35

3.13 Model Altman Z-Score ... 36

3.14 Laporan Posisi Keuangan Perusahaan ... 39

3.15 Hasil Penelitian ... 45

(7)

3.16 Analisis Altman Z-Score ... 45

3.17 Hasil Uji Standar Industri dan Analisis Altman Z-Score ... 52

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 56

4.2 Saran ... 57

DAFTAR PUSTAKA ... 59

LAMPIRAN ... 61

(8)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

1.1 Ikhtisar Data Keuangan Perusahaan ... 3

1.2 Jadwal Penelitian ... 6

3.1 Laporan Posisi Keuangan ... 39

3.2 Laporan Posisi Keuangan Lanjutan ... 40

3.3 Laporan Posisi Keuangan Lanjutan ... 42

3.4 Hasil Penelitian ... 45

3.5 Perhitungan Working Capital / Total Asset X1 ... 47

3.6 Perhitungan Retained Earnings / Total Asset X2 ... 48

3.7 Perhitungan EBIT / Total Asset X3 ... 49

3.8 Perhitungan Market Value Equity / Book Value of Debt X4 .. 50

3.9 Perhitungan Sales / Total Asset X5 ... 51

3.10 Hasil Uji Standar Industri dan Analisis Altman Z-Score ... 52

(9)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

2.1 Logo PT. Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk ... 11 2.2 Struktur Organisasi ... 12

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1 Laporan Posisi Keuangan PT. Bekasi Fajar Estate Tbk

Untuk Tahun Berakhir 31 Desember 2018 dan 2019 ... 64 2 Laporan Laba Rugi PT. Bekasi Fajar Estate Tbk Untuk

Tahun Berakhir 31 Desember 2018 dan 2019 ... 66 3 Laporan Posisi Keuangan PT. Bekasi Fajar Estate Tbk

Untuk Tahun Berakhir 31 Desember 2019 dan 2020 ... 67 4 Laporan Laba Rugi PT. Bekasi Fajar Estate Tbk Untuk

Tahun Berakhir 31 Desember 2019 dan 2020 ... 69

(11)

1.1 Latar Belakang

Perkembangan bidang industri properti dan real estate merupakan ladang bisnis yang menjanjikan. Hal ini disebabkan karena semakin berkembangnya jumlah penduduk sementara itu penawaran pada tanah bersifat dengan tetap.

Selain itu, perlu diketahui bahwa bidang industri properti dan real estate memiliki nilai yang sangat penting karena merupakan bagian dari sebuah investasi jangka panjang.

Seperti diketahui kinerja ekonomi global sepanjang 2018 telah mengalami laju penurunan terutama pada semester kedua dan kuartal terakhir yang berdampak pada seluruh sektor kawasan industri di Indonesia. Hal ini dapat ditunjukkan dalam indeks perdagangan manufaktur di tingkat global. Tahun 2019 dan 2020 merupakan tahun yang memiliki fenomena bagi sektor manufaktur dunia dikarenakan tingkat perekonomian global. Di Indonesia sendiri, hal ini membawa pengaruh besar dengan adanya ketidakpastian politik terkait tahun pemilihan umum serta pandemi Covid-19.

Dampak pandemi Covid-19 telah menimbulkan perlambatan pertumbuhan ekonomi lokal maupun global dan berpengaruh sangat signifikan dalam perdagangan dan iklim investasi yang akan berpengaruh pada tertundanya keputusan pelaku usaha untuk melakukan ekspansi fasilitas industri atau pembangunan fasilitas industri baru. Sehingga secara keseluruhan, hal ini akan

(12)

2

memberikan tekanan pada pendapatan perusahaan terutama dari penjualan lahan industri.

Dengan demikian, ekonomi Indonesia pada tahun 2020 telah mengalami pertumbuhan negatif dan bahkan memasuki resesi. Kepanikan di pasar modal global mengakibatkan dana asing keluar dari Indonesia sehingga menimbulkan tekanan pada mata uang domestik dan mengancam stabilitas sektor keuangan dimana PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk tidak terhindar dari penurunan kinerja bisnis, meskipun adanya dukungan stimulus fiskal, moneter dan keuangan yang besar dari pemerintah.

PT. Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk merupakan perusahaan industri atau manufaktur yang telah bergerak di bidang pengembangan, pembangunan serta pengelolaaan kawasan industri yang termasuk sarana dan prasana khususnya properti dan real estate. Perusahaan ini sebagai pengembang dan operator terkemuka untuk kawasan industri kelas dunia khususnya yang menjadi pertama di Indonesia. Namun, Perusahaan Bekasi Fajar Industrial Estate menyediakan jumlah lahan di kawasan industri yang siap untuk dibangun dan didukung oleh infrastruktur kawasan yang lengkap dan fasilitas lainnya.

PT. Bekasi Fajar Industrial Estate memperbaiki kinerja keuangan yang semakin berat di tengah pandemi Covid-19. Selama pandemi Covid-19 perusahaan ini telah membatasi penjualan lahan industri. Penurunan tersebut mengikuti penurunan potensi pra-penjualan lahan industri di tengah pandemi Covid-19.

(13)

Berikut ini akan dilampirkan ikhtisar data keuangan pada perusahaan PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk :

Tabel 1.1

Ikhtisar Data Keuangan PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk Periode 2018-2020

Tahun 2018 2019 2020

Working Capital

2,399,980,146,210 2,372,567,848,872 2,464,157,411,203 Retained

Earning

323,818,206,952 296,766,647,579 112,092,181,624 Total Asset 6,290,126,551,391 6,399,477,523,890 6,282,180,229,732

EBIT 588,686,588,540 571,309,537,333 259,014,960,374 Market Value

of Equity

2,006,640,719,200 2,083,819,208,400 1,813,694,496,200 Book Value of

Debt

2,118,132,306,800 1,930,728,238,615 1,925,523,126,081 Sales 962,801,481,480 950,545,546,999 242,320,700,845 Sumber : Data Diolah 2021

Dengan status keuangan perusahaan di atas, dapat dijelaskan bahwa status keuangan perusahaan PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk sedang dalam kondisi tidak sehat karena laporan keuangan perusahaan mengalami penurunan setiap tahunnya. Untuk itu, peneliti tertarik untuk mempelajari dan menganalisis perusahaan pada PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk yang merupakan salah satu perusahaan industri atau manufaktur di wilayah Indonesia dalam bentuk Tugas Akhir yang berjudul “Analisis Risiko Kebangkrutan Dengan Menggunakan Model Altman Z-Score Pada PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk (Periode 2018-2020)”.

(14)

4

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan urain dalam latar belakang permasalahan yang telah dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perumusan masalah dalam penelitian ini akan membuktikan :

1. Bagaimana analisis risiko kebangkrutan dengan mengunakan Model Altman Z-Score?

2. Bagaimana memprediksi kebangkrutan PT. Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk dengan menggunakan Model Altman Z-Score pada periode 2018, 2019 dan 2020?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang ingin diteliti, yaitu sebagai berikut :

1. Agar mengetahui, memahami, serta menganalisis risiko kebangkrutan dari rasio keuangan perusahaan.

2. Agar mengetahui, memahami, serta menganalisis industri atau manufaktur pada PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk untuk memprediksi bangkrut atau tidaknya yang akan dinilai atau dihitung dengan menggunkan Model Altman Z-Score.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian dalam penulisan ini adalah : 1.4.1 Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini dapat memberikan evaluasi pada kinerja keuangan di perusahaan dan sebagai masukan kepada pihak-pihak yang berkepentingan khususnya pada perusahan ini agar meningkatkan peran perusahaan dalam

(15)

mengambil keputusan saat menentukan kebijakan dalam menambah kualitas pada perusahaan yang sedang diteliti yaitu PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk.

1.4.2 Bagi Penulis

Untuk menambah pemahaman, pengalaman, wawasan, serta ilmu pengetahuan penulis perihal tentang analisis prediksi risiko kebangkrutan berdasarkan laporan keuangan yang menggunakan model Altman Z-score pada perusahaan industri atau manufaktur di Indonesia.

1.4.3 Bagi Penulis Lain

Sebagai tambahan alternatif atau bahan rekomendasi bagi peneliti-peneliti yang nantinya akan melakukan penelitian yang berkaitan dengan permasalahan perusahaan tentang kebangkrutan dimasa yang akan datang dan bersifat ingin melanjutkan atau melengkapi penelitian ini.

1.5 Jadwal Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan oleh penulis pada perusahaan PT. Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk berdasarkan data sekunder yang ada di IDX.COM.

Penelitian berlangsung mulai tanggal 02 Mei 2021 sampai dengan 04 Juli 2021 dapat di lihat dari tabel berikut ini :

(16)

6

Tabel 1.2 Jadwal Penelitian

1.6 Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penelitian dari Tugas Akhir ini mencakup dari 4 bab, yaitu :

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini peneliti mendeskripsikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, jadwal penelitian dan sistematika penulisan peneliti yang sudah dilaksanakan.

BAB II PROFIL PERUSAHAAN

Dalam bab ini peneliti mendeskripsikan tentang sejarah ringkas perusahaan, logo perusahaan, struktur organisasi, job description, jaringan usaha atau kegiatan, anak perusahaan, kinerja usaha terkini, serta rencana kegiatan pada perusahaan.

No Kegiatan Mei – 21

Jun – 21

Jul – 21 I II III IV I II III IV I 1 Pengajuan Judul

2

Pengajuan Dosen Pembimbing dan Dosen Penguji 3 Pengumpulan Data 4 Penyusunan Tugas

Akhir

5 Bimbingan Tugas Akhir

6 Penyelesaian Tugas Akhir

(17)

BAB III PEMBAHASAN

Dalam bab ini peneliti mendeskripsikan dan menganalisis data keuangan perusahaan sesuai dengan topik seperti laporan keuangan, rasio keuangan, risiko, dan prediksi kebangkrutan serta hasil dari pengujian analisis risiko kebangkrutan dengan Model Altman Z-score.

BAB IV PENUTUP

Dalam bab ini peneliti menyampaikan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan pada perusahaan PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk dan saran yang dapat dievaluasi agar meningkatkan kualitas perusahaan PT.

Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk di masa yang akan datang.

(18)

BAB II

PROFIL PT. BEKASI FAJAR INDUSTRIAL ESTATE Tbk

2.1 Sejarah Singkat PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk didirikan tanggal 24 Agustus 1989 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1989. PT Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk atau dikenal dengan BeFa adalah perusahaan sebagai salah satu pengembang dan operator manajemen pada perusahaan lainnya yang terkemuka untuk kawasan industri pertama di Indonesia serta sebagai industri kelas dunia. Kantor pusat BEST berkedudukan di Kawasan Industri MM 2100, Jl.

Sumatera, Cikarang Barat, Bekasi 17520 dengan kantor perwakilan di Wisma Agro Manunggal Lt. 10, Jl. Jendral Gatot Subroto Kav. 22 – Jakarta Selatan 12930.

Berdasarkan Keputusan Para Pemegang Saham Perseroan No. 49 tanggal 9 Desember 2011, tentang perubahan seluruh Anggaran Dasar Perseroan dalam rangka Penawaran Umum Perdana Saham, termasuk peningkatan modal dasar, modal ditempatkan dan disetor, perubahan nilai nominal dan klasifikasi saham, perubahan status perseroan dari perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka, dan perubahan nama perseroan menjadi PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk.

Keputusan mengenai perubahan seluruh Anggaran Dasar tersebut telah memperoleh persetujuan dari Menkumham Republik Indonesia dengan keputusannya No. AHU-62997.AH.01.02. Tahun 2011 tanggal 20 Desember 2011. Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Bekasi Fajar

(19)

Industrial Estate Tbk, antara lain: PT Argo Manunggal Land Development (48,13%) dan Daiwa House Industry Co. Ltd. (10,00%).

Pada tanggal 10 April 2012, perusahaan ini unggul dalam kualitas dan inovasi serta merupakan perusahaan go public. Saham pada perusahaan Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk telah di perdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan kode (BEI: BEST). Seiring berjalannya waktu, produk andalan Bekasi Fajar Industrial Estate Kota Industri MM2100 yang berlokasi di Jabodetabek, memiliki reputasi sebagai pusat riset, inovasi, dan manufaktur terbaru bagi perusahaan- perusahaan domestik dan internasional terkemuka.

Pada bulan November 2017, perseroan melakukan rebranding atau perubahan logo yang telah disepakati. Adapun nama yang telah diganti oleh Perseroan “BeFa” yang merupakan singkatan dari “Bekasi Fajar”. Sesuai dengan simbolisasi bergantinya logo perusahaan, strategi BeFA tidak lagi terbatas pada perusahaan-perusahaan di Bekasi, namun juga melihat kesempatan untuk mendirikan kawasan industri di luar Bekasi sebagai alternatif dari kawasan industri premium MM2100.

Pengembangan situs web perusahaan merupakan komitmen dalam meningkatkan transparansi sekaligus meningkatkan akses pemegang saham serta pemangku kepentingan lainnya atas informasi perusahaan yang aktual dan terkini, sebagai penerapan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Namun, terdapat nilai-nilai perusahaan pada Bekasi Fajar Industrial Estate, tbk yang disingkat

“LEADING” memiliki arti yang bermakna, yaitu sebagai berikut :

(20)

10

1. Lead by Example : Kami bertanggung jawab penuh untuk menjunjung tinggi integritas sebagai komitmen pribadi dan menjadi teladan untuk BeFa.

2. Excellence : Kami berusaha sekuat tenaga untuk unggul dalam segala hal dan selalu belajar demi pengembangan diri.

3. Active Collaboration : Kami bekerja bersama sebagai satu tim BeFa.

4. Discipline : Kami fokus dan konsisten menjalankan aturan dan standar perilaku.

5. Innovation : Kami berpikir terbuka, adaptif, dan kreatif untuk berinovasi secara terus menerus.

6. Go Extra Miles : Kami secara proaktif melaksanakan pekerjaan kami melebihi harapan pelanggan eksternal dan internal Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BEST adalah menjalankan usaha dalam bidang pembangunan dan pengelolaan kawasan industri dan perumahan.

Pada tanggal 29 Maret 2012, BEST memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BEST (IPO) kepada masyarakat sebanyak Rp 1.765.000.000,- dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp170,- per saham disertai dengan Waran Seri I yang diberikan sebagai insentif sebanyak Rp 882.500.000,- dengan pelaksanaan sebesar Rp200,- per saham. Setiap pemegang saham Waran berhak membeli satu saham perusahaan selama masa pelaksanaan yaitu mulai tanggal 10 Oktober 2012 sampai dengan 10 April 2015. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 10 April 2012.

(21)

2.2 Visi, Misi dan Logo PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk 2.2.1 Visi PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk

Pada perusahaan Bekasi Fajar Industrial Estate memiliki visi yaitu sebagai perusahaan yang berkomitmen untuk menjadi pengembang di lingkungan khususnya bidang bisnis yang komprehensif, terkemuka (terkenal) dan terpilih di wilayah Indonesia dan juga sekitarnya.

2.2.2 Misi PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk

Pada perusahaan Bekasi Fajar Industrial Estate memiliki misi perusahaan, yaitu sebagai berikut :

1. Berusaha agar tetap memberikan nilai tambah dan kepuasan dibidang bisnis khususnya para pelanggan.

2. Menjunjung integritas secara kolaboratif dan pro-aktif.

3. Menciptakan kebanggaan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi semua pemangku yang berkepentingan.

2.2.3 Logo PT. Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk

Sumber :www.befa.id.com, 2021 Gambar 2.1

Logo PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk

(22)

12

2.3 Struktur Organisasi

Sumber : www.befa.id , 2021

Gambar 2.2

Struktur Organisasi PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk 2.4 Job Description

Berikut ini merupakan Uraian Tugas (Job Description) pada PT Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk yang terdiri dari :

1. Dewan Komisaris

Dewan Komisaris bertugas sebagai pengawas dalam melaksanakan kebijakan dan manajemen perusahaan yang dilakukan oleh Direksi, memberi saran kepada Direksi terkait pelaksanaan kebijakan serta sistem dan prosedur manajemen. Dewan Komisaris juga melakukan tugas, tanggung jawab dan wewenang sesuai dengan ketentuan anggaran dasar perusahaan dan keputusan RUPS, Dewan Komisaris membuat laporan tentang tugas pengawasan yang telah dilakukan selama tahun buku yang baru lampau untuk disampaikan kepada RUPS.

(23)

Dalam melakukan fungsi pengawasan dan pemberian nasehat kepada Direksi, Dewan Komisaris dibantu oleh Komite Audit dan Komite Nominasi dan Remunerasi.

2. Komite Audit

Komite Audit bertanggung jawab memberikan petunjuk dan masukan yang objektif dan professional kepada Dewan Komisaris terkait rekomendasi dari Direksi. Komite Audit terbentuk dan bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris. Komite Audit memili tugas dengan melakukan pemantauan dan evaluasi atas perencanaan dan pelaksanaan audit serta pemantauan atas tindak lanjut hasil audit dalam rangka menilai kecukupan pengendalian internal termasuk kecukupan proses pelaporan keuangan.

Komite Audit melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap : a. Pelaksanaan tugas Divisi Audit Internal (DAI).

b. Kesesuaian pelaksanaan audit oleh Kantor Akuntan Publik dengan Standar Audit yang berlaku.

c. Kesesuaian Laporan Keuangan dengan Standar Akuntansi yang berlaku.

d. Memberikan pendapat independen dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara manajemen dan Kantor Akuntan Publik atas jasa yang diberikannya.

e. Pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas hasil temuan DAI dan Akuntan Publik.

(24)

14

3. Komite Nominasi dan Remunerasi

Pada komite nominasi bertugas sebagai menyusun dan memberikan rekomendasi mengenai sistem serta prosedur pemilihan atau penggantian anggota Dewan Komisaris dan Direksi kepada Dewan Komisaris untuk disampaikan kepada Rapat Umum Pemegang Saham, serta memberikan rekomendasi mengenai pihak independen yang akan menjadi anggota Komite Audit dan Komite lainnya (jika ada) kepada Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan.

Pada komite remunerasi bertugas sebagai melakukan evaluasi dan menyusun serta memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai sistem/kebijakan remunerasi dan nominasi bagi Komisaris dan Direksi Perusahaan. Komite remunerasi setiap tahun menelaah serta menetapkan tujuan dan sasaran kinerja tahunan atau berkala yang berkaitan dengan kompensasi untuk Dewan Komisaris dan Direksi.

4. Direksi

Direksi berperan untuk mengelola kegiatan operasional perusahaan dengan orientasi kepentingan terbaik. Tugas, wewenang dan kewajiban Direksi dituangkan dalam Anggaran Dasar Perusahaan. Dalam melaksanakan tugasnya Direksi berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan dan pengurusan perusahaan, serta wajib mengelola perusahaan sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya sebagaimana diatur dalam anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(25)

Jika Direksi ingin mengevaluasi dan menyetujui rencana bisnis perusahaan serta menetapkan penggunaan laba atau keuntungan perusahaan maka memerlukan persetujuan dari Dewan Komisaris.

5. Internal Audit

Internal Audit memiliki tugas dan tanggung jawab, antara lain menyusun dan melaksanakan Rencana Audit Internal Tahunan, menguji dan mengevaluasi pelaksanaan pengendalian internal dan sistem manajemen risiko sesuai dengan kebijakan perusahaan, melakukan pemeriksaan dan penilaian atas efisiensi dan efektivitas di bidang keuangan, akuntansi, operasional, sumber daya manusia, pemasaran, teknologi informasi, dan kegiatan lainnya.

Penerapan sistem pengendalian pada internal audit dilakukan oleh perusahaan yang mencakup aspek keuangan dan kegiatan operasional, untuk memastikan bahwa:

a. Semua risiko yang ada telah diidentifikasi dan dikelola secara memadai.

b. Interaksi antara Internal Audit dengan berbagai satuan pengelola (governance groups) di dalam perusahaan berlangsung semestinya.

c. Semua informasi keuangan, manajerial, dan kegiatan operasional yang penting disajikan secara akurat, dapat dipercaya, dan tepat waktu.

d. Semua tindakan karyawan tidak ada yang bertentangan dengan kebijakan, standar, prosedur, dan ketentuan hukum, maupun peraturan perundangan yang berlaku.

(26)

16

6. Sekretaris Perusahaan

Sekretaris perusahaan memiliki tugas dan wewenang seperti bekerja sama dengan divisi hukum perusahaan dalam memastikan perusahaan mematuhi semua perundang-undangan dan peraturan yang terkait dengan pasar modal, bertindak sebagai contact person perusahaan untuk pertukaran informasi dengan pihak luar, terutama pemerintah, pihak berwenang di pasar modal, media, dan para pemangku kepentingan terkait. Namun sekretaris perusahaan wajib memberikan masukan kepada Direksi dan Dewan Komisaris Emiten atau perusahaan publik untuk mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal dan membantu Direksi dan Dewan Komisaris dalam pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik serta sebagai penghubung antara emiten atau perusahaan publik dengan pemegang saham emiten atau perusahaan publik, Otoritas Jasa Keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya.

2.5 Jaringan Usaha Kegiatan

Adapun jaringan usaha kegiatan pada kawasan industri perusahaan PT.

Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk menyediakan kavling siap bangun untuk kebutuhan industri yang dilengkapi dengan berbagai infrastruktur dan fasilitas lainnya, yaitu sebagai berikut :

1. Kavling Industri Siap Bangun

Produk ini terdiri dari sebidang tanah yang sudah matang, sehingga konsumen dapat langsung membangun pabrik di atasnya. Luas kavling industri siap bangun sangat bervariasi tergantung dari luasan yang

(27)

diperlukan masing-masing konsumen, mulai dari 10.000m2 sampai 300.000m2.

2. Penyewaan Standard Factory Building Standard Factory Building (SFB) yang dibangun oleh perusahaan berdasarkan desain dan konstruksi bertaraf internasional yang dibangun dengan luas sekitar 10.000 m2. Di dalam SFB terdapat ruangan untuk bekerja yang dapat digunakan sebagai pabrik.

Infrastruktur dan Jasa Pelayanan Perseroan melakukan pembangunan infrastruktur dan jasa pelayanan/penyediaan sarana dan prasarana yang lengkap serta memenuhi standar internasional. Kawasan Industri MM2100 memiliki infrastruktur, sarana dan prasarana yang lengkap serta memenuhi standar internasional, dengan diperolehnya sertifikat OHSAS 18001:2007 dan ISO 14 001:200 4, dan beroperasi sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang ramah lingkungan, dengan diperolehnya peringkat Green Prope.

Terdapat 3 jasa pelayanan perusahaan PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk yaitu sebagai berikut :

1. Jasa Pengolahan Lahan Kawasan Industri MM2100 memberikan jasa pelayanan kepada penghuni kawasan industri, seperti pengumpulan sampah, penjagaan keamanan, pemeliharaan lingkungan, pelayanan dan pemeliharaan setiap fasilitas umum serta infrastruktur, jalan-jalan utama dan pendukung, lanskap, penerangan jalan umum hingga mengelola pasukan pemadam kebakaran dan tim keamanan siaga selama 24 jam.

2. Jasa Penyediaan Air Bersih Kawasan Industri MM2100 menyediakan fasilitas penyediaan air untuk keperluan industri dan keperluan penghuni.

(28)

18

Wilayah MM2100 dikelilingi oleh dua sungai air baku, yaitu Sungai Citarum dan Sungai Cikarang. Air baku adalah air yang telah memenuhi ketentuan baku mutu air yang dapat diolah menjadi air minum.

3. Jasa Pengelolaan Air Kotor (Limbah) Kawasan Industri MM2100 menyediakan jasa berupa pengolahan air limbah untuk kawasan industri khususnya pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah dimana air limbah yang sudah diproses harus dibuang dan dialirkan melalui kanal ke laut Jawa.

Kawasan Industri MM2100 memiliki fasilitas pengolahan air limbah yang berlokasi di kawasan industri, dengan tujuh danau buatan untuk penampungan sementara air limbah yang telah diolah, sebelum dialirkan kembali ke luar wilayah industri. Perusahaan selalu melakukan tes atas air limbah yang diterima dari pabrik-pabrik, dan juga air yang telah diproses sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup.

Komersial dan fasilitas pendukung saat ini BeFa juga telah melengkapi dengan berbagai fasilitas, sarana dan prasarana di Kawasan Industri MM2100 seperti: Enso Hotel yang menyandang hotel bintang 4. Memiliki 174 kamar (Superior & Premier) dengan berbagai fasilitas penunjang, serta kantor BeFa Square memiliki 5 lantai yang berdampingan dengan Enso Hotel.

MM2100 terdiri dari serviced apartemen, restoran termasuk restoran Jepang, pusat data, pasar swalayan, bank, kantor polisi, pos pemadam kebakaran, kantor pos, pom bensin, sekolah menengah kejuruan, hotel bintang empat dan masjid.

(29)

2.6 Anak Perusahaan

Terdapat 3 entitas anak pada perusahaan PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, yaitu sebagi berikut :

a. PT. Bekasi Matra Industrial Estate (BMIE)

Kegiatan bidang usaha yang dikelola oleh perusahaan sampai dengan saat ini, bergerak dalam bidang pembangunan dan pengelolaan kawasan industri, serta properti seluruh sarana dan prasarana pendukungnya dan perusahaan ini beroperasi secara komersial mulai tahun 2010.

b. PT. Bekasi Surya Pratama (BSP)

Pada anak perusahaan ini kegiatan bidang usahanya seperti pengembangan usaha dibidang pembangunan dan pengelolaan kawasan industri baru, perusahaan telah membentuk anak perusahaan PT Bekasi Surya Pratama

"BSP" di bawah BMIE pada tahun 2012.

c. PT. Best Sinar Nusantara (BSN)

Kegiatan bidang usaha yang telah dikelola oleh anak perusahaan ini antara lain pembangunan hotel berikut sarana dan prasarana, serta perusahaan ini beroperasi secara komersial mulai tahun 2017.

2.7 Kinerja Usaha Terkini

Kawasan industri di Indonesia terus berlanjut, melalui Kementerian Perindustrian memastikan bahwa kegiatan operasional sektor industri dapat berjalan beriringan dengan upaya pencegahan penyebaran Covid-19, kegiatan industri merupakan hal yang penting agar rantai pasok dan ketersediaan bahan baku dapat tetap berjalan dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan

(30)

20

adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menangani Covid-19 telah diberlakukan di berbagai daerah di hampir seluruh provinsi di Indonesia, salah satunya adalah Kawasan Industri MM2100 di Bekasi. Perusahaan memastikan bahwa kegiatan industri dapat terus berjalan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perindustrian.

Dampak pandemi Covid-19 telah menimbulkan perlambatan pertumbuhan ekonomi lokal maupun global, serta sangat berpengaruh signifikan dalam perdagangan dan iklim investasi yang akan berimbas pada tertundanya keputusan pelaku usaha untuk melakukan ekspansi fasilitas industri atau pembangunan fasilitas industri baru. Sehingga secara keseluruhan, hal ini akan memberikan tekanan pada kinerja perusahaan terutama dari penjualan lahan industri. Proyeksi pendapatan di tahun 2020 ini cenderung mengalami penurunan dimana tetap didominasi oleh penjualan lahan industri dengan proporsi pendapatan berulang yang lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pada tahun 2020 terdapat 3 hal yang menyebabkan perusahaan PT. Bekasi Fajar Industrial Estate bangkrut akibat pandemi Covid-19, yaitu sebagai berikut : 1. Dilihat dari penjualan tanah industri

Penjualan pada perusahaan ini mengakibatkan tertundanya atau gagal dalam rencana investasi, perusahaan tidak mencapai target marketing sales revisi pada tahun 2020, serta marketing sales berdampak pada realisasi akuntansi penjualan perusahaan.

(31)

2. Pendapatan Berulang dan lainnya

Pendapatan stabil untuk layanan terkait industri dan bisnis persewaan.

3. Manajemen Kas Konservatif

Manajemen kas perusahaan membuat saldo kas akhir tahun 2020 lebih tinggi dari tahun 2019, serta pada pembelanjaan modal selektif, penagihan piutang yang berhasil dan pembiayaan kembali pinjaman pada tahun 2020 menghasilkan arus kas bersih yang positif dengan saldo akhir Rp 799 miliar dan mempertahankan net gearing pada 0,2 kali.

2.8 Rencana Kegiatan

Selama pandemi Covid-19 bisnis e-commerce telah menjadi kebutuhan utama publik dalam bertransaksi dan akan terus berkembang menjadi salah satu standar pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Perusahaan meyakinkan bahwa tantangan pandemi Covid–19 di era revolusi industri 4.0 dapat dikelola menjadi peluang diantaranya yaitu Kawasan Industri MM2100, menjadi pusat data yang semakin dibutuhkan sejalan dengan tren digitalisasi. Selain itu bisnis logistik pergudangan serta kecepatan distribusi barang secara padat yang sangat diperlukan dan akan semakin berkembang untuk mendukung pertumbuhan konsumsi maupun industri.

Perusahaan berusaha mempersiapkan infrastruktur, organisasi serta sumber daya yang dapat terus mengikuti perkembangan industri ini. Kawasan Industri MM2100 memiliki akses strategis yang berdampingan dengan infrastruktur strategis nasional seperti Jakarta Outer Ring Road II, Tol Jakarta-Cikampek Elevated, Light Rail Transport (LRT), Tol Jakarta- Cikampek Selatan. Perusahaan

(32)

22

juga memiliki peluang usaha untuk terus berkembang, melihat riwayat prestasi yang memuaskan, fasilitas yang baik, serta masih terbatasnya penyedia kawasan industri yang memiliki fasilitas yang terpercaya dan terbaru.

PT Bekasi Fajar Industrial Estate mempertahankan target penjualan lahan 10 hingga 15 hektar dengan rata-rata harga jual Rp 2,6 hingga 3,2 juta per m2, adapun rencana kegiatan yang dilakukan pada tahun 2020, yaitu sebagai berikut : a. Pada permintaan belum pulih ke tingkat sebelum pandemi tetapi ada

beberapa kepercayaan bisnis yang meningkat di pasar konsumen dan investasi karena peluncuran vaksin dan Omnibus law.

b. Strategi pemasaran yang ditargetkan pada perusahaan berfokus pada industri yang lebih tangguh selama pandemi.

c. Permintaan per 31 Desember 2020 adalah 56 hektar.

d. Perusahaan mengharapkan pendapatan berulang memiliki pertumbuhan yang stabil, mulailah dengan saldo kas yang sehat sebesar Rp 799 miliar dan lanjutkan dengan manajemen kas konservatif.

(33)

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Laporan Keuangan

Menurut Harahap (2016:105) laporan keuangan merupakan media yang paling penting untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan.

Laporan keuangan dapat menggambarkan posisi keuangan perusahaan, hasil usaha perusahaan dalam suatu periode dan arus dana (kas) perusahaan dalam suatu periode tertentu.

Menurut Astawinetu, E. & Handini, S. (2020:13-14) laporan keuangan merupakan bagian terpenting yang harus dipahami oleh pengelola perusahaan maupun pihak-pihak lain yang berhubungan dengan perusahaan. Laporan keuangan didampingi dengan pembuatan anggaran kas yang dibuat secara rutin seperti akhir bulan hingga akhir tahun.

Menurut Yuesti, A. & Kepramareni, P. (2019:20) laporan keuangan merupakan laporan yang menyediakan informasi keuangan mengenai suatu badan usaha yang akan dipergunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan sebagai bahan pertimbangan di dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi.

Menurut Birgham & Houston (2010:85) laporan keuangan merupakan beberapa lembar kertas yang berisi tulisan angka-angka namun sangat penting juga untuk memikirkan aset yang berada di balik angka.

Menurut Herispon (2020:8) laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data

(34)

24

keuangan atau aktivitas perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut.

Menurut Syahyunan (2013:25) laporan keuangan merupakan produk dari manajemen dalam rangka mempertanggung jawabkan (stewardship) penggunaan sumber daya dan sumber dana yang dipercayakan kepadanya. Laporan keuangan harus disajikan secara wajar, transparan, mudah dipahami dan dapat diperbandingkan dengan tahun sebelumnya ataupun antar perusahaan sejenis.

Menurut Rivai, H.V, Sofyan, Sarwono, Arifiandy (2013:375) laporan keuangan merupakan laporan periodik yang disusun menurut prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum tentang status keuangan dari individu, asosiasi atau organisasi bisnis yang terdiri dari neraca, laporan laba-rugi dan laporan perubahan ekuitas pemilik.

Menurut Kasmir (2019:7) Laporan keuangan merupakan laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu.

Maka dapat disimpulkan laporan keuangan merupakan laporan atau hasil akhir dari proses pencatatan dan perhitungan yang berisi ringkasan dari transaksi- transaksi keuangan selama beberapa periode yang dibuat secara rutin seperti akhir bulan hingga akhir tahun dan terdiri dari neraca, laporan laba-rugi dan laporan perubahan ekuitas pemilik, laporan ini juga bersifat transparan.

3.2 Tujuan Laporan Keuangan

Menurut Yuesti, A. & Kepramareni, P. (2019:21-23) adapun tujuan laporan keuangan, yaitu sebagai berikut :

(35)

a. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber-sumber ekonomi dan kewajiban perusahaan.

b. Memberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.

c. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba.

d. Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan harta dan kewajiban.

e. Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan para pemakai laporan.

Menurut Rivai, H.V, Sofyan, Sarwono, Arifiandy (2013:375) adapun tujuan laporan keuangan yaitu sebagai berikut :

a. Memberikan informasi kas yang dapat dipercaya mengenai posisi keuangan perusahaan (termasuk bank) pada suatu saat tertentu.

b. Memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai hasil usaha perusahaan selama periode akuntansi tertentu.

c. Memberikan informasi yang dapat membantu pihak-pihak yang berkepentingan untuk menilai atau menginterpretasikan kondisi dan potensi suatu perusahaan.

d. Memberikan informasi penting lainnya yang relevan dengan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan kebutuhan yang bersangkutan.

(36)

26

3.3 Syarat-Syarat Laporan Keuangan

Menurut pendapat Rivai, H.V, Sofyan, Sarwono, Arifiandy (2013:376) terdapat 7 syarat-syarat laporan keuangan, yaitu diantaranya sebagai berikut : a. Relevan : Data yang diolah ada kaitannya dengan transaksi.

b. Jelas dan dapat dipahami : Informasi yang disajikan, harus ditampilkan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh semua pembaca laporan keuangan.

c. Dapat diuji kebenarannya : Data dan informasi yang disajikan harus dapat ditelusuri kepada bukti asalnya.

d. Netral : Laporan keuangan yang disajikan dapat dipergunakan oleh semua pihak.

e. Tepat Waktu : Laporan keuangan harus memiliki periode pelaporan. Waktu penyajiannya harus dinyatakan dengan jelas dan disajikan dalam tepat waktu.

f. Dapat Diperbandingkan : Laporan keuangan yang disajikan harus dapat diperbandingkan dengan periode-periode sebelumnya.

g. Lengkap : Data yang disajikan dalam informasi akuntansi, harus lengkap sehingga tidak memberikan informasi yang menyesatkan bagi para pemakai laporan keuangan.

3.4 Sasaran Laporan Keuangan

Menurut Herispon (2020:11) terdapat 2 sasaran pokok pada laporan keuangan, yaitu sebagai berikut :

(37)

a. Melaporkan hasil-hasil keuangan perusahaan kepada pimpinan, para penanam modal dan badan pemerintahan yang terkait. Untuk memenuhi tuntutan kepentingan hukum dan masyarakat akan informasi keuangan.

Sasaran ini merupakan tanggung jawab yang utama kepada bagian keuangan.

b. Memantau dan mengendalikan kinerja seluruh perusahaan yang berkaitan dengan tujuan-tujuan dan ukuran-ukuran yang telah ditentukan. Sasaran ini memerlukan dukungan dan partisipasi pimpinan dan para manajer pada masing-masing unit operasi.

3.5 Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan

Menurut pendapat Rivai, H.V, Sofyan, Sarwono, Arifiandy (2013:376) laporan keuangan memiliki 3 sifat, yaitu diantaranya :

a. Bersifat historis, merupakan kejadian yang telah lewat.

b. Bersifat umum dan bukan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu.

c. Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian dan alternatif yang menghasilkan laba bersih.

Menurut Kasmir (2012:16) Laporan keuangan yang disusun pasti memiliki keterbatasan tertentu. Berikut ini terdapat 5 keterbatasan laporan keuangan yang dimiliki perusahaan yaitu :

1. Pembuatan laporan keuangan disusun berdasarkan sejarah (historis), di mana data-data yang diambil dari data masa lalu.

2. Laporan keuangan dibuat umum, artinya untuk semua orang. Bukan hanya untuk pihak tertentu saja.

(38)

28

3. Proses penyusunan tidak terlepas dari taksiran-taksiran dan pertimbangan- pertimbangan tertentu.

4. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi situasi ketidakpastian. Misalnya dalam suatu peristiwa yang tidak menguntungkan selalu dihitung kerugiannya. Sebagai contoh harta dan pendapatan, nilainya dihitung dari yang paling rendah.

5. Laporan keuangan selalu berpegang teguh kepada sudut pandang ekonomi dalam memandang peristiwa-peristiwa yang terjadi bukan kepada sifat formalnya.

3.6 Pihak-Pihak Yang Memerlukan Laporan Keuangan

Menurut Harahap (2016:120) laporan keuangan umumnya sangat dibutuhkan para masyarakat didalam dunia bisnis yang dapat menghasilkan keuntungan. Terdapat beberapa pihak-pihak yang memerlukan atau memakai laporan keuangan yang terdiri atas 12 pihak, yaitu diantaranya sebagai berikut : 1. Pemegang Saham

Pemegang saham ingin mengetahui kondisi perkembangan keuangan perusahaan dalam mengelola manajemen, pemegang saham dapat mengambil keputusan apakah mempertahankan atau menjualnya.

2. Investor

Bagi investor akan melihat kemungkinan potensi keuntungan yang akan diperoleh dari perusahaan yang dilaporkan.

(39)

3. Analis Pasar Modal

Analis pasar modal melakukan analisis yang lengkap terhadap laporan keuangan perusahaan yang go public maupun yang berpotensi masuk pasar modal.

4. Manajer

Manajer berhak mengetahui situasi ekonomis perusahaan untuk kondisi keuangan yang baik pada posisi neraca.

5. Karyawan dan Serikat Pekerja

Seorang karyawan perlu mengetahui kondisi keuangan perusahaan untuk mengetahui hasil usaha perusahaan, modal yang dimiliki agar dapat menilai laporan tersebut.

6. Instansi Pajak

Kewajiban pajak akan tergambar dalam laporan keuangan, dengan demikian instansi pajak (fiskus) dapat menggunakan laporan keuangan sebagai dasar penentuan kebenaran perhitungan pajak.

7. Kreditur

Kreditur ingin mengetahui informasi situasi dan kondisi perusahaan baik yang sudah diberi pinjaman maupun yang akan diberi. Bagi yang sudah diberi pinjaman, laporan keuangan dapat menyajikan informasi tentang kondisi keuangan penggunaan dana seperti likuiditas, solvabilitas, serta rentabilitas.

(40)

30

8. Supplier

Laporan keuangan dapat menjadi informasi untuk mengetahui apakah perusahaan layak diberikan kredit atau tidak.

9. Pemerintah

Pemerintah sangat membutuhkan laporan keuangan, karena ingin mengetahui perusahaan telah mengikuti standar laporan yang ditetapkan atau tidak. Jika tidak maka lembaga pemerintah dapat memberikan teguran atau sanksi.

10. Lembaga Konsumen

Konsep ekonomi pasar dan ekonomi persaingan, konsumen sangat diuntungkan. Dalam kondisi ini konsumen terlindungi dari kemungkinan praktik yang merugikan dari segi kualitas atau kuantitas.

11. Lembaga Swadaya Masyarakat

LSM membutuhkan laporan keuangan untuk menilai seberapa jauh perusahaan merugikan pihak tertentu yang telah dilindungi.

12. Akademisi

Akademisi sangat penting karena sebagai data primer dalam melakukan penelitian terhadap topik tertentu yang berkaitan dengan laporan keuangan atau sebuah perusahaan.

3.7 Jenis Laporan Keuangan

Menurut Yuesti, A. & Kepramareni, P. (2019:24) berdasarkan cara penyajiannya, menurut PSAK Nomor 1 jenis laporan keuangan terdapat 5 laporan, yaitu diantaranya :

(41)

a. Neraca

Neraca merupakan daftar yang memuat informasi secara terperinci tentang gambaran posisi keuangan yang menunjukkan aktiva, kewajiban perusahaan serta modal pemilik pada waktu tertentu. Terdapat 2 aktiva yaitu aktiva lancar dan aktiva tidak lancar.

b. Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi merupakan ringkasan aktivitas transaksi pada perusahaan yang akan berpengaruh pada stabilitas, risiko dan prediksi pada suatu periode yang menghasilkan usaha bersih atau kerugian yang timbul dari kegiatan usaha atau kinerja keuangan.

c. Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan perubahan ekuitas merupakan laporan yang menyajikan peningkatan maupun penuruna aktiva-aktiva bersih atau kekayaan perusahaan selama periode tertentu.

d. Laporan Arus Kas Informasi

Laporan arus kas informasi berfungsi untuk meneliti kecermatan dan ketepatan perkiraan/taksiran arus kas masa depan yang telah dibuat sebelumnya dan menentukan hubungan antara profitabilitas dan arus kas bersih serta dampak perubahan harga menurut aktivitas operasi, investasi serta pendanaan.

(42)

32

e. Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan meliputi rincian jumlah yang tertera dalam neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, serta laporan perubahan ekuitas.

Catatan ini mencakup informasi penyajian laporan keuangan.

3.8 Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan merupakan suatu analisis yang dilakukan untuk melihat pada suatu keadaan keuangan perusahaan, bagaimana pencapaian keberhasilan perusahaan masa lalu, saat ini serta prediksi dimasa mendatang, analisis ini akan digunakan dasar pengembalian keputusan oleh pihak-pihak yang berkepentingan (Menurut Sujarweni, V.W. (2020:35).

Analisis laporan keuangan merupakan suatu metode yang membantu para pengambil keputusan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan melalui informasi yang didapat dari laporan keuangan, hal ini berguna bagi investor dan kreditor dalam pengambilan keputusan investasi dan kredit (Menurut Hery (2020:113).

Analisis laporan keuangan merupakan alat analisis bagi manajemen keuangan perusahaan yang bersifat menyeluruh, dapat digunakan untuk mendeteksi atau mendiagnosis tingkah kesehatan perusahaan, melalui analisis kondisi arus kas atau kinerja organisasi perusahaan baik yang bersifat parsial maupun kinerja organisasi secara keseluruhan (Menurut Harmono (2020:104).

3.9 Pengertian Rasio Keuangan

Rasio keuangan merupakan aktivitas untuk menganalisis laporan keuangan dengan cara membandingkan satu akun dengan akun lainnya yang ada dalam

(43)

laporan keuangan, perbandingan tersebut dapat antar akun dalam laporan keuangan neraca maupun laba rugi (Menurut Sujarweni, V.W. (2020:59).

Rasio keuangan dihitung dengan cara membagi suatu elemen dengan elemen lainnya dalam laporan keuangan perusahaan untuk mengetahui perbandingan atas kedua elemen tersebut, hal ini sangat penting untuk menilai kondisi keuangan pada perusahaan (Menurut Sukamulja, S. (2019:85).

Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen dalam satu laporan keuangan atau antar komponen yang ada diantara laporan keuangan. Kemudian angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu periode maupun beberapa periode (Menurut Kasmir (2019:104).

Rasio keuangan merupakan suatu perhitungan rasio dengan menggunakan laporan keuangan yang berfungsi sebagai alat ukur dalam menilai kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Rasio keuangan menunjukkan hubungan yang sistematis dalam bentuk perbandingan antara perkiraan-perkiraan pada laporan keuangan (Menurut Hery (2020:138).

3.10 Jenis Rasio Keuangan

Menurut Hery (2020:142-144) Secara garis besar, terdapat 5 jenis rasio keuangan yang sering digunakan untuk menilai kondisi keuangan dan kinerja keuangan, yaitu diantaranya :

a. Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh

(44)

34

tempo. Rasio ini sangat diperlukan untuk kepentingan analisis kredit atau analisis risiko keuangan. Rasio likuiditas terdiri atas rasio lancar (current ratio), rasio cepat (quick ratio) serta rasio kas (cash ratio).

b. Rasio solvabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Rasio ini sangat diperlukan untuk kepentingan analisis kredit atau analisis risiko keuangan. Rasio solvabilitas terdiri atas rasio utang, rasio utang terhadap ekuitas, rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas, rasio kelipatan bunga yang dihasilkan, serta rasio laba operasional terhadap kewajiban.

c. Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi atas pemanfaatan sumber daya yang dimiliki perusahaan atau untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya sehari- hari. Terdapat 5 rasio aktivitas yaitu perputaran piutang usaha, perputaran persediaan, perputaran modal kerja, perputaran aset tetap, serta perputaran total aset.

d. Rasio profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan mengukur tingkat pengembalian atas investasi yang dilakukan. Terdapat 5 rasio profitabilitas yaitu hasil pengembalian atas aset (ROA), hasil pengembalian atas ekuitas (ROE), marjin laba kotor, marjin laba operasional, serta marjin laba bersih.

e. Rasio penilaian atau rasio ukuran pasar merupakan rasio yang digunakan untuk mengestimasi dan membandingkan nilai intrinsik perusahaan (nilai saham). Rasio ukuran pasar terdiri atas laba per lembar saham biasa, rasio

(45)

harga terhadap laba, imbal hasil dividen, rasio pembayaran dividen, serta rasio harga terhadap nilai buku.

3.11 Risiko

Risiko merupakan ketidakpastian yang berdampak pada sasaran. Dampak merupakan penyimpangan (deviasi) dari sasaran yang telah diharapkan. Dapat menimbulkan sebagai akibat dari suatu tindakan, kegagalan atas suatu peluang atau ancaman. Sementara itu, maksud dari kata risiko umumnya dalam ungkapan seperti sumber risiko, peristiwa yang dapat terjadi, serta dampak pada peristiwa tersebut (Menurut Susilo, L. J. & Kaho, V. R. (2018:32).

Menurut Syahyunan (2015:01) Risiko merupakan kemungkinan terjadinya kerugian atau return negatif dari suatu investasi. Dalam statistika, ukuran risiko adalah standar deviasi yang dihitung dari gejolak turun-naiknya atau volatilitas harga (perubahan harga yang dialami sekuritas dalam periode waktu tertentu).

3.12 Kebangkrutan

Kebangkrutan merupakan kondisi perusahaan tidak mampu lagi untuk melunasi kewajibannya. Kondisi ini biasanya tidak muncul begitu saja diperusahaan. Rasio keuangan dapat digunakan sebagai indikasi tingkat kebangkrutan pada perusahaan (Menurut Prihadi, Toto (2019:464).

Menurut Hanafi (2015:638) perusahaan dapat dikatakan bangkrut apabila perusahaan itu mengalami kesulitan yang ringan (seperti masalah likuiditas), dan sampai kesulitan yang lebih serius, yaitu solvabel (utang lebih besar dibandingkan dengan aset).

(46)

36

Altman dikenal sebagai pelopor teori kebangkrutan dengan Z-Score. Setiap model selalu terdapat kemungkinan salah prediksi dan perbedaan tingkat akurasi.

Analisis ini berguna untuk mengantisipasi terjadinya kebangkrutan di masa yang akan datang. Kondisi keuangan perusahaan akan menunjukkan bagaimana tingkat kesehatan keuangan perusahaan.

Model Altman berhasil dipergunakan untuk mengklasifikasikan perusahaan kedalam kelompok yang mempunyai kemungkinan yang tinggi untuk bangkrut atau kelompok perusahaan yang kemungkinan mengalami bangkrut rendah.

3.13 Model Altman Z-Score

Model yang dinamakan Z-Score ini pada dasarnya adalah mencari nilai Z, yaitu nilai yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan, apakah dalam keadaan sehat atau tidak dan menunjukkan kinerja perusahaan yang sekaligus merefleksikan prospek perusahaan dimasa mendatang. Model Altman Z-score memungkinkan untuk memperkirakan kebangkrutan sampai dua tahun sebelum kebangkrutan terjadi.

Menurut Prihadi, T. (2019:468) Z-Score merupakan suatu persamaan multivariable yang digunakan oleh Altman dalam rangka memprediksi tingkat kebangkrutan. Altman menggunakan model statistik yang disebut dengan analisis diskriminan, tepatnya yaitu multiple discriminat analysis (MDA). MDA mulai digunakan pada penelitian biologi pada tahun 1930-an. Pada MDA sampel dibagi kedalam dua kelompok, dalam hal ini adalah perusahaan yang bangkrut dan perusahaan tidak bangkrut.

(47)

Menurut Prihadi, T. (2019:470) adapun model Altman pada Z-Score mempunyai beberapa rasio-rasio keuangan yang penting, berikut ini rumus yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut :

(Z) Z-Score = 1,2 X1 + 1,4 X2 + 3,3 X3 + 0,6 X4 + 1,0 X5 Dimana:

Z = Z-Score

X1 = Working Capital / Total Asset X2 = Retained Earning / Total Asset X3 = EBIT / Total Asset

X4 = Market Value of Book / Book Value of Debt X5 = Sales / Total Asset

Altman mempergunakan 5 jenis bagian yang mewakili 4 rasio-rasio keuangan tentang perhitungan Z-Score, yaitu diantaranya :

1. Rasio Likuiditas yang disebut dengan X1

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dan untuk mengukur tingkat likuiditas aktiva perusahaan. Working capital atau modal kerja dapat diperoleh dengan rumus Aset Lancar - Kewajiban Lancar.

2. Rasio Profitabilitas yang disebut dengan X2 dan X3

Rasio ini merupakan pengukuran profitabilitas dengan retained earning (laba ditahan) dan Earning Before Interest and Taxes (laba sebelum bunga dan pajak) terhadap total asset. Laba ditahan yang rendah mungkin menunjukkan tahun yang buruk atau pengurangan umur bagi perusahaan.

(48)

38

Laba ditahan dapat diperoleh dengan rumus Laba Bersih – Dividen. Laba sebelum pajak dan bunga digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan. Earning Before Interest and Taxes (laba sebelum bunga dan pajak) dapat diperoleh dengan

rumus jumlah laba rugi + Beban Keuangan + Beban Pajak.

3. Rasio Solvabilitas yang disebut dengan X4

Rasio ini merupakan pengukuran solvabilitas (leverage) yang berupa kemampuan finansial jangka panjang suatu perusahaan dan untuk mengetahui besarnya modal perusahaan yang digunakan untuk menanggung beban hutang. Untuk mengetahui Market Value of Equity (Nilai saham Biasa) dapat diperoleh dengan rumus jumlah saham beredar x harga saham.

4. Rasio Kinerja yang disebut dengan X5

Rasio ini berfungsi untuk mengukur kemampuan manajemen dalam menggunakan aktiva untuk menghasilkan penjualan dan menggambarkan tingkat perputaran seluruh aktiva perusahaan.

Menurut Hanafi (2014:657) perusahaan-perusahaan yang diteliti kemudian digolongkan menjadi 3 golongan yaitu perusahaan yang tidak bangkrut, perusahaan yang termasuk rawan dan perusahaan yang berpotensi bangkrut.

Penggolongan ini berdasarkan nilai Z yang merupakan indeks keseluruhan dari fungsi multiple discriminant analysis dengan kriteria penilaian sebagai berikut:

1. Z-Score > 2,99 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat sehingga dapat dikategorikan dalam perusahaan tidak bangkrut.

(49)

2. 1,81 < Z-Score < 2,99 berada di daerah rawan dimana perusahaan tersebut tidak dapat ditentukan apakah termasuk perusahaan yang bangkrut atau tidak.

3. Z-Score < 1,81 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan berisiko bangkrut.

3.14 Laporan Keuangan PT. Bekasi Fajar Industrial Estate

Berikut ini merupakan laporan keuangan pada perusahaan PT. Bekasi Fajar Industrial Estate, tbk periode 2018-2020.

Tabel 3.1

Laporan Posisi Keuangan PT. Bekasi Fajar Estate Tbk Untuk Tahun Berakhir 31 Desember 2018 – 2020

2018 2019 2020

Aset

Aset Lancar

Kas dan setara kas 1,128,567,996,205 678,968,087,047 799,043,722,652 Piutang usaha

Piutang usaha pihak

ketiga 47,767,903,822 532,994,827,050 48,136,375,343 Piutang usaha pihak

berelasi 15,997,757,360 9,303,038,512 2,312,196,188 Piutang lainnya

Piutang lainnya pihak

ketiga 686,444,856 2,819,445,887 2,277,061,448

Piutang lainnya pihak

berelasi 80,636,298,860 -

Persediaan 1,248,314,477,904 1,143,529,793,010 1,577,388,250,740 Pajak dibayar dimuka

lancar 324,566,633 5,322,465,866 15,566,550,265

Biaya dibayar dimuka

lancar 1,204,060,133 6,207,799,691 656,448,648

Uang muka lancar Uang muka lancar atas

investasi 231,117,934,204 221,276,932,292 276,661,542,414 Uang muka lancar atas

pembelian aset tetap 403,464,370 308,587,500 785,122,500 Jumlah aset lancar 2,755,020,904,347 2,600,730,976,855 2,722,827,270,198

(50)

40

Sumber : www.idx.co.id, 2021

Tabel 3.2

Laporan Posisi Keuangan (Lanjutan) PT. Bekasi Fajar Estate Tbk Untuk Tahun Berakhir 31 Desember 2018 – 2020

2018 2019 2020

Liabilitas dan ekuitas

Liabilitas Liabilitas jangka pendek

Utang usaha Utang usaha

pihak ketiga 11,949,832,498 18,502,833,152 24,524,002,152 Utang usaha

pihak berelasi 19,495,667,928 23,464,504,210 18,471,007,268 Utang lainnya

Utang lainnya

pihak ketiga 3,773,657,849 10,636,543,266 2,646,478,582 Beban akrual

jangka pendek 16,877,157,554 20,049,726,256 14,937,471,219 Utang pajak 37,271,993,893 30,518,878,677 1,945,394,307 Uang jaminan

jangka pendek 52,581,902,600 6,563,044,647 6,781,357,768 Aset tidak lancar

Aset keuangan tidak lancar

Aset keuangan tidak lancar tersedia untuk dijual

80,636,298,860 107,072,298,860 96,072,298,860 Aset keuangan tidak

lancar lainnya 71,803,397,250 37,750,689,500 46,814,250,000 Persediaan tidak lancar

Aset real estate tidak

lancar 3,030,285,958,202 3,300,531,304,185 3,086,234,039,820 Properti Investasi 169,061,229,449 165,968,146,708 165,532,544,033 Aset tetap 180,889,635,342 185,394,346,501 162,736,426,651 Aset tidak lancar non-

keuangan lainnya 2,429,127,941 2,029,761,281 1,963,400,170 Jumlah aset tidak

lancar 3,535,105,647,044 3,798,746,547,035 3,559,352,959,534 Total Aset 6,290,126,551,391 6,399,477,523,890 6,282,180,229,732

(51)

Pendapatan diterima dimuka jangka pendek

19,203,671,821 7,857,159,025 15,519,210,199 Liabilitas jangka

panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun atas utang bank

193,886,873,994 110,570,438,750 173,844,937,500

Jumlah liabilitas

jangka pendek 355,040,758,137 228,163,127,983 258,669,858,995 Liabilitas jangka

Panjang

Liabilitas jangka panjang setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun Liabilitas jangka panjang atas utang bank

1,703,410,916,496 1,650,608,662,652 1,629,280,247,036 Uang jaminan

jangka panjang 18,855,778,120 18,297,238,120 18,493,690,120 Kewajiban

imbalan pasca kerja jangka panjang

20,259,312,763 23,440,428,755 19,006,475,486 Liabilitas

keuangan jangka panjang lainnya

20,565,541,284 10,218,781,105 72,854,444 Jumlah liabilitas

jangka Panjang 1,763,091,548,663 1,702,565,110,632 1,666,853,267,086 Jumlah

Liabilitas 2,118,132,306,800 1,930,728,238,615 1,925,523,126,081 Ekuitas

Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk

Saham biasa 964,731,115,000 964,731,115,000 964,731,115,000 Tambahan modal

disetor 231,153,572,841 231,153,572,841 231,153,572,841

(52)

42

Saldo laba (akumulasi kerugian) Saldo laba yang telah ditentukan penggunaannya

192,946,223,000 192,946,223,000 192,946,223,000 Saldo laba yang

belum ditentukan penggunaannya

2,782,696,528,419 3,079,487,751,169 2,967,437,496,155 Jumlah ekuitas

yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk

4,171,527,439,260 4,468,318,662,010 4,356,268,406,996 Kepentingan no-

pengendali 466,805,331 430,623,265 388,696,655

Jumlah

Ekuitas 4,171,994,244,591 4,468,749,285,275 4,356,657,103,651 Jumlah liabilitas

dan Ekuitas

6,290,126,551,391 6,399,477,523,890 6,282,180,229,732 Sumber : www.idx.co.id, 2021

Tabel 3.3

Laporan Posisi Keuangan (Lanjutan) PT. Bekasi Fajar Estate Tbk Untuk Tahun Berakhir 31 Desember 2018 – 2020

2018 2019 2020

Penjualan dan pendapatan

usaha 962,801,481,480 950,545,546,999 242,320,700,845 Beban pokok

penjualan dan pendapatan

(271,640,106,964) (317,295,643,689) (114,885,453,491) Jumlah laba

bruto 691,161,374,516 633,249,903,310 127,435,247,354 Beban

penjualan (6,404,971,806) (5,944,992,687) (660,897,023) Beban umum

dan administrasi (114,957,599,787) (120,278,248,034) (104,617,323,464) Beban keuangan (141,253,647,916) (162,544,837,559) (137,978,107,454) Bagian atas laba

(rugi) entitas asosiasi yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas

2,518,734,622 - -

(53)

Pendapatan

lainnya 808,473,252 64,282,874,744 6,418,663,355 Keuntungan

(kerugian) lainnya

15,560,577,743 - -

Jumlah laba (rugi) sebelum pajak

penghasilan

447,432,940,624 408,764,699,774 (109,402,417,232) Pendapatan

(beban) pajak (24,895,991,937) (28,611,762,515) (5,817,217,844) Jumlah laba

(rugi) dari operasi yang dilanjutkan

422,536,948,687 380,152,937,259 (115,219,635,076) Jumlah laba

(rugi) 422,536,948,687 380,152,937,259 (115,219,635,076) Pendapatan

komprehensif lainnya, sebelum pajak Pendapatan komprehensif lainnya yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi, sebelum pajak Pendapatan komprehensif lainnya atas pengukuran kembali kewajiban manfaat pasti, sebelum pajak

(2,245,630,235) 1,027,682,883 3,127,453,452

Jumlah pendapatan komprehensif lainnya yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi, sebelum pajak

(2,245,630,235) 1,027,682,883 3,127,453,452

Jumlah

pendapatan (2,245,630,235)

1,027,682,883 3,127,453,452

(54)

44

komprehensif lainnya, setelah pajak

Jumlah laba rugi

komprehensif

420,291,318,452 381,180,620,142 (112,092,181,624) Laba (rugi)

yang dapat diatribusikan Laba (rugi) yang dapat diatribusikan ke entitas induk

422,616,335,148 380,177,503,903 (115,177,565,623) Laba (rugi)

yang dapat diatribusikan ke kepentingan non-pengendali

(79,386,461) (24,566,644) (42,069,453)

Laba rugi komprehensif yang dapat diatribusikan Laba rugi komprehensif yang dapat diatribusikan ke entitas induk

420,370,818,463 381,205,195,313 (112,050,255,014)

Laba rugi komprehensif yang dapat diatribusikan ke kepentingan non-pengendali

(79,500,011) (24,575,171) (41,926,610)

Laba (rugi) per saham

Laba per saham dasar diatribusikan kepada pemilik entitas induk Laba (rugi) per saham dasar dari operasi yang dilanjutkan

43.81 39.41 (11.94)

Laba (rugi) per

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini penulis tertarik untuk menganalisis laporan keuangan guna menilai kinerja keuangan menggunakan alat analisis rasio keuangan diantaranya rasio likuiditas,

Dengan mengadakan analisis keuangan terhadap data keuangan perusahaan antara neraca dan laporan rugi laba akan dapat mengetahui perkembangan keuangan perusahaan dan dapat

(2011) Analisis Laporan Keuangan untuk Memprediksi Kebangkrutan Perusahaan dengan Menggunakan Metode Z-Score Altman pada Perusahaan Foods and Beverages yang Terdaftar di

Analisis Laporan Keuangan untuk Memprediksi Kebangkrutan Perusahaan dengan Menggunakan Metode Z-Score Altman pada Perusahaan Foods and Beverages yang Terdaftar di Bursa

Analisis Z-Score adalah metode untuk memprediksi keberlangsungan hidup suatu perusahaan dengan mengkombinasikan beberapa rasio keuangan yang umum dan pemberian bobot

Altman berusaha mengkombinasikan beberapa rasio keuangan menjadi suatu model prediksi dengan teknik statistik, yaitu analisis diskriminan yang dapat digunakan untuk

Pengertian Analisis Laporan Keuangan menurut (Hutauruk, 2017) terdiri dari dua kata yaitu Analisis dan Laporan Keuangan. Untuk menjelaskan pengertian kata ini, maka

Menurut Harahap (2002 :190), analisis laporan keuangan adalah menguraikan pos- pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya