1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman Sayuran merupakan salah komoditas penting dalam menunjung ketahanan pangan (food security) nasional Timor Leste. Tanaman tersebut mempunyai keragaman yang tinggi sebagai gizi keluarga yang mengandung karbohidrat, protein nabati, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi kesehatan masysrakat. Oleh karena itu permintaan terhadap tanaman sayuran terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga nilai ekonominya semakin besar dalam agribisnis sayur-mayur di pasaran lokal maupun nasional. Tanaman sayuran semakin dilirik oleh pedagang sebagai komoditas yang mempunyai peluang bisnis menguntungkan bagi para pedagang dan petani sebagai produsen. Proses produksi tanaman pertanian khususnya tanaman sayuran di Timor Leste mengalami banyak kendala yang ditandai oleh rendahnya kuantitas dan kualitas produksi tanaman dan juga produktivitas usaha tani secara keseluruhan (Rola- Ruben et. al., 2011), salah satu faktor penyebab rendahnya kuantitas dan kualitas produksi tersebut adalah gangguan hama dan penyakit tanaman yang menyerang tanaman pada setiap musim tanam di lapangan.
Liriomyza merupakan salah satu jenis hama dari family Agromizidae yang merusak tanaman sejak tumbuh sampai berproduksi. Liriomyza diperkirakan sudah masuk Indonesia sekitar tahun 1999-an melalui pengiriman bunga potong dari luar negeri (Rauf 1997,1999). Lalat tersebut bersifat polifag
2
yang menyerang lebih dari 70 spesies tanaman inang khususnya tanaman sayuran dan tanaman hias dari family Solanaceae, Cruciferae, Leguminosae, Cucurbitaceae, Liliaceae, Umbeliferae, Chenopodiaceae, Amaranthaceae dan Compositae (Rauf et al,.2000). Di Bali Liriomyza sudah ditemukan pada tahun 1996 yang menyerang tanaman kentang,tomat seledri, kacang merah, kubis, cabai, gambas, selada (Lettuce), bayam liar, wortel dan beberapa jenis tanaman hias (krisan) dan gulma (Supharta, 1999). Pada tahun 1998 hama tersebut telah merusak sekitar 33 hektar tanaman kentang di Candi Kuning Tabanan dan Pancasari Buleleng (Supartha et al., 1999). Pada pertengahan tahun 2001 hampir seluruh kawasan yang menanam sayuran di Bali telah terserang Liriomyza dengan tingkat serangan ringan, sedang sampai berat (Supartha, 2002). Gejala serangan yang ditimbulkan adalah bintik-bintik putih pada permukaan daun akibat tusukan ovipositor imago dan liang korokan berbentuk terowongan kecil yang dibuat oleh larva. Serangan berat mengakibatkan daun mengering dan gugur sebelum waktunya, sehingga kuantitas dan kualitas hasil tanaman menjadi menurun. Dampak serangan hama pengorok daun ini terhadap hasil tergantung pada jenis tanaman, saat terjadi serangan dan tingkat kerusakan. Secara umum, kerusakan akibat korokan larva lebih merugikan daripada kerusakan akibat tusukan ovipositor imago (Rauf, 2001). Pada tanaman kentang dapat menurunkan hasil 30% - 70% (Rauf & Shepard,1999). Jenis Liriomyza yang ditemukan di Bali, Lombok dan Sumbawa adalah L. huidobrensis dan L. sativae
3
(Supartha, 2002). Jenis Liriomyza yang umum menyerang tanaman sayuran di Timor Leste adalah L. sativae (Supartha, 2013 percom.).
Menurut Liu et al., (2008) terdapat lebih dari 330 spesies Liriomyza yang telah diidentifikasi dan banyak menjadi hama penting pada tanaman sayuran dan tanaman hias di belahan dunia, lebih dari 20 spesies Liriomyza spp.
dilaporkan sebagai hama ekonomi penting, dan kurang lebih enam spesies adalah polifag. Namvar (2011) genus Liriomyza spp. termasuk 300 spesies sudah tersebar di seluruh dunia dan 23 spesies secara ekonomi dianggap penting.
Dalam perkembangnya hama Liriomyza spp. sangat dipengaruhi faktor lingkungan abiotik dan biotik baik langsung maupun tidak langsung, seperti suhu dan kelembaban, curah hujan, angin dan ketinggian tempat, faktor - faktor tersebut sangat berpengaruh pada siklus hidup hama Liriomyza spp., banyak musuh alami seperti parasitoid dan patogen serangga yang selalu menyerang larva Liriomyza spp. Nonci dan Muis (2011) menyatakan bahwa musuh alami seperti parasitoid, predator, dan patogen serangga merupakan salah satu faktor pembatas pertumbuhan populasi serangga hama di alam. Telah diidentifikasi banyak parasitoid yang berasosiasi dengan hama Liriomyza spp. Menurut Liu et al., (2008) bahwa sudah terdaftar lebih dari 300 spesies parasitoid agromyzid, dan lebih dari 80 spesies yang dikenal untuk menyerang Liriomyza spp. La Salle dan Parrella (1991) menyatakan telah didaftarkan 23 Nearctic spesies parasitoids untuk Liriomyza spp. diketahui 14 spesies parasitoid saja dari Florida, 72 spesies parasitoid dari berbagai negara, dengan mayoritas berasal dari Amerika Selatan.
4
Telah dilaporkan beberapa parasitoid pengorok daun di Asia dan Kepulauan Pasifik, dimana 28 spesies terdapat di jepang , 14 spesies terdapat Cina, 11 spesies di Indonesia, 8 spesies di Malaisya dan 18 spesies di Vietnam.
Parrella (1987) dalam Supratha (1999) menganjurkan serangkaian penelitian yang mencakup identifikasi jenis- jenis parasitoid, estimasi kemampuan pengendalian, dan menentukan dampak penggunaan insektisida terhadap parasitoid, tanpa mengesampingkan data biologi secara rinci.
Penyebaran hama Liriomyza ke Timor Leste kemungkinan melalui impor komoditas sayuran dan bibit tanaman inang yang masuk melalui darat yang berasal dari Timor Barat (Indonesia). Hama tersebut telah menyebar luas pada areal pertanaman sayuran di dataran rendah maupun tinggi. Menurut Supartha (2013 percom) L. sativae telah ditemukan di daerah dataran rendah seperti di Viqueque (100 m dpl) dan Lospalos (600 m dpl) pada tanaman tomat sekitar pertengahan tahun 2009 serta di Liquidoe (Aileu) (700 m dpl) (tanaman tomat), Urlefa (Maubessi, Ainaro (1000 m dpl) pada tanaman caisin dan kentang pada tahun 2010. Spesies Liriomyza spp. yang sudah diidentifikasi di Timor Leste adalah Liriomyza sativa dan Liriomyza huidobrensis (Keys Lucid, 2008).
Walaupun demikian belum ada penelitian khusus tentang jenis-jenis Liriomyza dan parasitoidnya yang bersosiasi dengan berbagai jenis tanaman sayuran di Timor Leste. Demikian juga dengan kompleksitas parasitoid dan tingkat parasitisasinya terhadap Liriomyza di lapang belum tersentuh sampai saat ini.
5
Oleh karena itu perlu segera dilakukan penelitian di Timor Leste terutama di pusat - pusat pertanaman sayuran yang menyebar di dataran rendah dan tinggi.
1.2 Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang perlu dirumuskan dalam melaksanakan penelitian ini antara lain:
1.2.1 Bagaimanakah keragaman dan kelimpahan Populasi Liriomyza spp. yang menyerang berbagai jenis tanaman sayuran di lapangan.
2.2.2 Bagaimanakah keragaman dan kelimpahan populasi parasitoid yang berasosiasi dengan Liriomyza spp.
2.2.3 Bagaimanakah tingkat parasitisasi parasitoid terhadap Liriomyza spp.
dilapangan.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1.3.1 Untuk mengetahui keragaman dan kelimpahan populasi Liriomyza spp.
yang menyerang tanaman sayuran di lapang
1.3.2 Untuk mengetahui keragaman dan kelimpahan parasitoid yang berasosiasi Liriomyza spp.
1.3.3 Untuk mengetahui tingkat parasitisasi parasitoid terhadap Liriomyza spp.di lapang.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Secara teknik, penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi untuk menyusun rencana pengendalian Liriomyza spp. di tingkat lapang.
6
1.4.2 Untuk Institusi, penelitian ini sebagai data dasar untuk membuat kebijakan dalam menyusun strategi pengendalian hama Timor Leste khususnya hama Liriomyza spp. pada masa mendatang.
1.4.3 Untuk akademis, hasil penelitian dapat memperkaya kasanah ilmu pengetahuan khususnya mengenai ilmu hama tumbuhan.
7 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Taksonomi Pengorok Daun
Hama pengorok daun (Liriomyza spp.) dalam taksonomi serangga secara umum diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animal Philum : Antropoda Klas : Insekta Order : Diptera Famili : Agromyzidae
Genus : Liriomyza spp. (CPC.2000)
Liriomyza adalah salah satu dari lima genus lalat pengorok daun. Hingga saat ini sedikitnya telah diidentifikasi 26 spesies Liriomyza spp. dan identifikasi tingkat spesies lalat pengorok daun sulit dilakukan karena ukuran tubuhnya kecil adanya kemiripan antar spesies (Rauf, 1995).
Tiran (2009) dalam Sahabudin et al., (2012) menyatakan bahwa ada 5 spesies Liriomyza spp. di antaranya adalah Liriomyza sativa, L. huidobrencis, L. Chinencis, L. Bryoniae, dan L. horticola. Menurut Nonci dan Muis (2011) terdapat 7 spesies Liriomyza spp. Liriomyza sativa, L. huidobrencis, L. Bryoniae, L. strigata, L. trifolii, L. brasicae, L. cicerina. Ciri morfologis yang relatif mudah dibedakan diantara berbagai jenis Liriomyza spp. adalah warna scutellum, pola warna tergite pada abdomen serta warna tungkainya. Tetapi karakter morfologi
8
yang banyak digunakan untuk membedakan diantara spesies Liriomyza spp.
adalah bentuk aedegus serangga jantan (Spencer, 1990: Shiao, 2004 dalam Sahabuddin et al., 2012).
2.2 Biologi Pengorok Daun
Lalat pengorok daun dapat diidentifikasi melalui panjang tubuhnya, yakni antara 1,7 - 2,3 mm. Sebagian besar tubuhnya berwarna hitam mengkilap, kecuali skutelum dan bagian samping toraks serta bagian tengah berwarna kuning.
Telurnya berwarna putih bening, berukuran 0,28 mm x 0,15 mm. Larva berwarna putih susu atau putih kekuning-kuningan, dan yang sudah besar berukuran ± 3,5 mm. Pupa berwarna kuning keemasan hingga coklat kekuningan berukuran 2,5 mm (Siagiaan, 2010). Imago lalat pengorok daun berukuran sekitar 2 mm.
Bagian dorsal berwarna gelap, namun skutelumnya kuning terang. Imago betina Liriomyza spp. memiliki ovipositor yang berkembang sempurna, ovipositor merupakan ciri pembeda dengan lalat jantan. Lalat betina membuat beberapa tusukan, pada bagian atas permukaan daun yang diawali pada daun bagian atas (Tengkano dan Soehardjan, 1985 dalam Anonim 2012). Menurut Tarumingkeng (1994) dan Price (1997) dalam Baliadi dan Tengkano (2011) bahwa serangga jenis ini menghasilkan keturunan yang banyak dalam waktu singkat karena cepat menggunakan sumber makanan, beradaptasi baik terhadap lingkungan, dan mempunyai kemampuan mengkolonisasi habitat. Betina dewasa memakan jaringan daun dengan menusuk permukaan daun dengan ovipositors mereka dan menghisap cairan isi sel, betina juga menusuk jaringan daun untuk meletakkan
9
telur mereka dan dapat hidup selama 7 sampai 10 hari. Telur akan menetas 2-5 hari setelah oviposisi. Setiap larva memakan jaringan daun membuat terowongan berkelok-kelok (leafmine serpentine) atau bercak pada daun. Daun gorokan ukuran menjadi semakin besar sebagai pakan larva dan berkembang melalui 3 tahap dewasa (instar). Setelah selesai makan, larva dewasa memotong celah di permukaan daun, keluar dari daun dan menjatuhkan diri ke tanah di mana larva Liriomyza spp. akan menjadi pupa . Dari telur berkembang menjadi dimago sekitar dua minggu pada suhu 95 ° F (35 ° C) atau selama delapan minggu pada suhu 60° F (16°C) (Bográn , 2005). Siklus hidup lalat pengorok daun berkisar antara 22 - 25 hari, dan stadium pupa 9-12 hari. Imago betina mampu hidup selama 6 - 14 hari, dan imago jantan 3 - 9 hari (Siagian, 2010). Setiap spesies dari Liriomyza spp. mempunyai siklus hidup yang berbeda - beda. Misalnya Liriomyza sativae berkisar antara 24−28 hari dan Liriomyza huidobrensis 17−25 hari, yaitu 2−3 hari stadia telur, 7−10 hari stadia larva, dan 5−7 hari stadia pupa.
Serangga dewasa bertahan hidup 3−6 hari (Espinosa-G dan Sanches-V 1982 dalam Baliado dan Tengkano, 2010 ). Perkembangan Liriomyza spp. atau sering disebut sebagai hama pengorok daun merupakan serangga yang bermetamorfosis sempurna. Siklus hidup serangga ini terdiri dari, telur, larva, pupa, dan imago.
Larva yang masih dalam masa perkembangan dan pertumbuhan membuat lubang- lubang gorokan pada daun bagian dalam, tepatnya di bawah lapisan epidermis sehingga terlihat menyerupai alur atau jalan yang berkelok-kelok. Larva akan terus mengorok selama masa perkembangan hingga gorokan yang menyerupai
10
jalan tersebut berangsur-angsur membesar sesuai dengan ukuran tubuh larva dan kemudian berakhir ketika stadia larva akan berakhir dan memasuki stadia larva - prepupa. Apabila stadia larva segera berakhir, biasanya di akhir gorokan tersebut akan nampak larva - prepupa yang warnanya berbeda dengan warna lubang yang telah ada sebelumnya, yaitu kuning agak keemasan. Larva tersebut akan keluar dari daun dan selanjutnya berubah menjadi pupa yang berwarna sama dengan ketika masih larva - prepupa. Pupa akan berada di atas daun atau turun ke tanah dan berubah menjadi imago.
2.3 Persebaran dan Tanaman Inang Liriomyza spp.
Liriomyza sativae tersebar di dataran rendah dan sedang 0 - 600 m dibawah permukaan laut dan banyak menimbulkan kerusakan berat pada sayuran dataran rendah seperti mentimun, tomat, dan kacang panjang (IPB-IHD/ACIAR, 2002 dalam Herlina, 2003). L. sativae merupakan hama polifag yang dapat menyerang berbagai jenis tumbuhan inang dari berbagai famili. Penyebaran Liriomyza huidobrensis yaitu pada dataran tinggi berkisar antara 900 – 1200 m diatas permukaan air laut. Karena lalat tersebut merupakan hama dari tanaman kentang jenis Solanaceae yang dapat tumbuh pada dataran tinggi (Rauf, 2005 ).
Liriomyza chinesis bersifat monofag dengan inang terbatas pada bawang merah dan bawang daun yang tumbuh di dataran rendah maupun tinggi (Rauf, 2005).
Lalat pengorok daun selain menyerang tanaman hias juga bisa menyerang tanaman sayuran, buah -buahan maupun tumbuhan liar. Jenis tanaman yang diserang meliputi kentang, tomat, seledri, wortel, ketimun, caisin, bit, selada,
11
kacang merah, kubis, cabai, bawang merah, buncis, terong, semangka, bayam liar, dan lain-lain. Dilihat dari banyaknya tanaman inang ini memungkinkan daya pencar yang cepat sehingga dapat menimbulkan dampak terhadap tanaman yang budidayakan (Siagian. 2010).
2.4 Gejala Serangan dan Kerugian Ekonomi
Gejala serangan lalat pengorok daun pada tanaman mudah dikenali dengan adanya liang korokan beralur warna putih bening pada bagian mesofil daun.
Apabila liang korokan tersebut dibuka, akan terlihat larva yang aktif bergerak.
Larva hidup dan makan di dalam liang korokan. Pada satu helaian daun dapat dijumpai lebih dari satu liang korokan. Pada serangan lanjut, warna liang korokan berubah menjadi kecoklatan, daun layu, dan gugur. Imago lalat pengorok daun menusukkan opivositornya pada daun-daun muda, walaupun gejala juga muncul pada daun-daun yang muncul berikutnya. Jumlah dan umur daun mempengaruhi kerapatan larva pada tanaman (Baliadi 2009 dalam Baliadi dan Tengkano, 2010).
12
Kerusakan yang disebabkan oleh Liriomyza spp. pada tanaman dibedakan menjadi dua, yakni kerusakan langsung dan tidak langsung. Kerusakan langsung disebabkan oleh perilaku makan larva. Aktivitas larva dapat menurunkan kapasitas fotosintesis tanaman (Trumble et al., 1985 dalam Baliadi dan tengkano, 2010). Menurut Spencer (1973) dalam Sudiarta (2006) bahwa perilaku penusukan tersebut mempunyai fungsi ganda yaitu (1) untuk memastikan bahwa tanaman tersebut adalah tanaman inang, (2) memasukan protein khusus ke dalam daun tanaman inang untuk keperluan perkembangan telur, dan (3) mendapatkan nutrisi yang tersedia pada tanaman inang tersebut. Kerusakan tersebut terjadi pada jaringan palisade daun saat larva membuat liang korokan serpentin.
Serangan berat mengakibatkan desikasi dan pengguguran daun lebih dini. Dari Liriomyza spp. dewasa hanya betina yang menyebabkan kerusakan melalui tusukan makan dan oviposisi.
Gamba 2.1 Ciri-ciri gejala serangan Liriomyza spp Sumber : Normes OEPP (2005).
13
Perilaku makan larva dimana kerokan larva menyurupai terowongan kecil dan meliuk-liuk seperti gerakan ular yang di dalamnya bersisi larva. Korokan larva instar-1 sulit di pantau dengan matan telanjang, kecuali korokan tersebut sudah mengering. Kerokan larva bisa tampak dari permukaan bagian atas maupun bagian bawah daun.kerokan larva instar -2 dan 3 masing-masing 3.4 kali dan 7.7 kali lebih lebar dibandingkan instar-1 (Supartha, 1998 ).
Besarnya kehilangan hasil yang disebabkan oleh hama penggorok daun berbeda – beda berdasarkan tempat, ketinggian dan jenis spesiesnya. Hal ini terlihat pada beberapa hasil penetilitian yang tela dilaksanakan. Kerusakan berat terjadi pada pertanaman kentang di Bogor, Malang, dan Probolinggo dengan taksiran penurunan hasil 40 – 60% (Rauf 1995, 1997). Di Mauritius, hama ini menyebabkan kerugian 20 – 65% pada tanaman kentang (Fagoonee & Toory 1983). Dalam tahun 1984, kerugian yang disebabkan oleh Liriomyza spp. pada tanaman sayuran di Hawai mencapai US$ 11,7 juta (Lologau, 2010).
2.5 Pengendalian Liriomyza sp.
Ada beberapa cara pengendalian hama Liriomyza spp. Menurut Baliadi dan Tengkano (2011) bahwa pengendalian Liriomyza dapat dilakukan dengan : a. Penggunaan varietas tahan.
b. Kultur tehnis,teknik pengendalian lalat pengorok daun secara kultur teknis antara lain dilakukan dengan pemasangan mulsa plastik, penanaman serentak, dan pergiliran tanaman. Pertanaman yang ditanam lebih akhir akan menderita serangan yang lebih berat. Oleh karena itu, penanaman lebih awal dan
14
serentak direkomendasikan sebagai salah satu teknik pengendalian yang efektif
c. Penggunaan Insektisida berspektrum luas masih sering digunakan untuk mengendalikan lalat pengorok daun. Di Indonesia, untuk mengatasi lalat pengorok daun, petani sayuran umumnya melakukan aplikasi insektisida setiap minggu, bahkan kadang-kadang seminggu dua kali. Ketidakefektifan insektisida karena larva lalat pengorok daun tinggal di dalam jaringan daun.
Hingga saat ini belum diperoleh jenis insektisida yang efektif mengendalikan lalat pengorok daun. Anonim (2012) perlu pemupukan berimbang, pemangkasan daun - daun yang terserang dan daun bagian bawah yang telah tua, Larva dikumpulkan dari sekitar tanaman yang rusak kemudian dimusnahkan, kemudian Tidak membawa bibit dari daerah endemik ke daerah lainnya.
d. Pengendalian hayati yaitu penggunaan musuh alami untuk mengendalikan hama pengorok daun. Musuh alami adalah suatu mikroorganisme yang dalam kelangsungan hidupnya memangsa/menumpang pada tubuh organisme lain. Musuh alami sebagai faktor pengendali secara alami terhadap hama sangat diperlukan keberadaannya didalam ekosistem atau agroekosistem.
Untuk itu perlu dijaga kelestarian dan ditingkatkan peranannya (Setyolaksono, 2012). Dalam kehidupan serangga dimana setiap serangga memiliki musuh alaminya sendiri, musuh alami itu bermacam - macam seperti parasitoid, predator, jamur, Virus dan bakteri. Musuh alami dikenal
15
sebagai organisme hayati yang mempengaruhi regulasi populasi hama atau organisme lain. Musuh alami itu bersifat umum seperti predator dan bersifat spesifik seperti parasitoid (Sembel, 2010).
2.6 Parasitoid
Parasitoid ialah organisme yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan bergantung pada organisme inang tunggal yang akhirnya membunuh dan sering mengambil makanan dalam proses itu (Sugiyanto, 2012). Liriomyza spp.
diketahui memiliki musuh alami, khusus di tempat aslinya. Setidaknya 23 spesies parasitoid telah digunakan dalam program pengendalian biologis terhadap Liriomyza trifolii Burgess dan L. sativae Blanchard (Diptera: Agromyzidae) di Senegal, California, Hawaii, Barbados, Marianas, Tonga, Taiwan dan Guam (Petcharat et al., 2002 dalam Çikman, 2011). Parasitoid dari famili Eulophidae, Braconidae dan Pteromalidae adalah parasitoid yang dominan yang menyerang stadia larva dan pupa dari lalat Agromizidae (Çikman, 2011). Menurut Noyes (2004) dalam Liu (2008) mengataakan bahwa terdapat lebih dari 300 spesies parasitoid agromyzidae, dan lebih dari 80 spesies yang dikenal untuk menyerang spesies Liriomyza spp. La Salle dan Parrella (1991) mendaftarkan 23 spesies parasitoids untuk Liriomyza. Berdasarkan informasi Majalah Serangga Online edisi 2012 dan Warsito (2004) dalam Baliadi dan tengkano (2010), menyatakan bahwa di Indonesia tercatat 19 jenis parasitoid berasosiasi dengan Liriomyza sativae dan 6 jenis parasitoid berasosiasi dengan Liriomyza huidobrensis. Pada kondisi alami larva Liriomyza spp. dapat terparasit oleh berbagi jenis parasitoid
16
dan imagonya dimangsa oleh predator. Jenis parasitoid Liriomyza spp. berbeda untuk setiap tanaman dan daerah geografi atau penyebarannya. Jenis parasitoid
yang umumnya muncul dari daun yang menyerang Liriomyza Sativae adalah Asecodes deluchii (Boucek), Quadrastichus liriomyzae Hansson & La
Salle, Chrysocharis sp. dan Hemiptarsenus varicornis (Girault) (Rauf, 2005).
Spesies parasitoid Liriomyza spp. dan wilayah penyebarannya tercantum pada Lampiran 1.
2.7 Perilaku Parasitoid Menemukan Inang
Proses menemukan inang oleh seekor parasitoid adalah sebuah proses yang sangat kompleks dan sophisticated, dimana proses itu berbeda tergantung jarak inang (long & short range). Penemuan inang pada jarak yang jauh dapat dilakukan karena inang mengeluarkan beberapa senyawa kemikal yang dapat ditangkap oleh parasitoid yang disebabkan karena parasitoid memiliki sistem navigasi untuk bisa mendeteksi keberadaan inang dari senyawa kemikal yang dikeluarkannya.
1) Proses penemuan inang pada jarak yang panjang (long range/distance), selalu ditentukan dengan kemikal berupa kairomon atau synomon yang secara umum berasal dari: (a) inang itu sendiri berupa kotoran inang, selama ganti kulit, selama proses makan dan feromon aggregasi, atau kairomon, (b) tanaman dimana inang menyerang berupa synomon untuk parasiroid, dan (c) berasal dari interaksi antara inang dan tanaman inang seperti kerusakan selama proses makan inang, ini berupa synomon pada parasitoid. Senyawa
17
kimia sangat menentukan parasitoid mengidentifikasi arah dimana inang itu berada. Senyawa kimia yang diproduksi oleh inang mungkin feromon sex atau senyawa kimia yang diproduksi ketika proses makan atau perkembangan inang.
Daun-daun yang terserang inang menunjukkan kenampakan yang berbeda dalam warna dan bentuk dengan daun yang tidak terserang inang, sehingga memberikan pengaruh ketertarikan yang berbeda bagi parasitoid selain itu suara yang diproduksi oleh inang kadang-kadang menjadi penyebab ketertarikan parasitoid (Purnomo, 2009).
2) Proses menemukan inang jarak pendek oleh parasitoid sangat ditentukan oleh senyawa kimia tertentu yang memberitahukan pada parasitoid, bahwa inangnya sudah dekat, yang membuat parasitoid semakin mengintensifkan pencariannya pada area tertentu. Senyawa kimia ini sering dinamakan arrestants yang berupa senyawa kimia yang kurang volatil dibandingkan senyawa attractans. Senyawa
ini sering diproduksi inang ketika dalam proses makan atau peletakan telur (Purnomo, 2009). Menurut Sugiyanto (2012), bahwa perilaku parasitoid
dalam menemukan inang sebagai berikut: a) lokasi habitat inang, b) lokasi inang, c) penerimaan inang, dan d) kesesuaian inang. Beberapa faktor penting berpengaruh terhadap perilaku parasitoid adalah waktu sebelum oviposisi (peletakkan telur), ritme harian dan status perkawinan merupakan faktor internal pada perilaku. Faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, cahaya dan angin, serta jenis tanaman, kepadatan dan kejelasan inang, adalah faktor eksternal pada
18
parasitoid. Stimulus fisik seperti suara, gerakan, vibrasi, ukuran, bentuk, dan tekstur dianggap sebagai faktor sekunder.
Parasitoid dalam tubuh host/inang mengisap cairan tubuh atau memakan jaringan bagian dalam tubuh inang. Parasitoid yang hidup di dalam tubuh inang disebut endoparasitoid dan yang menempel di luar tubuh inang disebut ektoparasitoid. Parasitoid umumnya mempunyai inang yang lebih spesifik, Gambar 2. 2 Beberapa spesies parasitoid Liriomyza spp.
sumber : Petcharat et al., 2002.
Imago parasitoid Liriomyza spp. yang terdapat di Thailand Selatan :
A) Imago betina Asecodes sp. Nr. Notandus (silvestri) (Hymenoptera:Eulophidae).
B) Betina Cirrospilus ambiguous hansson & LaSalle (Hymenoptera:Eulophidae).
C) Jantan dan betina Hemiptarsenus variconis (Grirault) (Humenoptera: Eulophidae.
D) Betina Neochrysocharis Formosa (Westwood) (Hymenoptera: Eulophidae).
E) Betina Opius dissitus (Muesebeck) (Hymenoptera: Braconidae).
F) Betina Quadrastichus sp. nr. Liriomyzae (Hymenoptera:Eulophidae). Bar =0.05.
19
sehingga dalam keadaan tertentu parasitoid lebih efektif mengendalikan hama.
Kelemahan dari parasitoid itu karena adanya parasitoid tertentu yang dapat terkena parasit lagi oleh parasitoid lain. Kejadian seperti itu disebut hiperparasitisme dan parasitoid lain tersebut disebut parasit sekunder. Bila parasit sekunder ini terkena parasit lagi disebut parasit tersier. Parasit sekunder dan parasit tersier disebut sebagai hyperparasit (Anonim, 2012).
Menurut Sembel (2010), bahwa karakter-karakter musuh alami yang baik adalah : a) memiliki kemampuan mencari inang yang tinggi, b) memiliki spesifitas inang, memiliki kecepatan bertambah yang tinggi, c) kemampuan untuk hidup dalam zona iklim yang luas, d) kemampuan untuk diperbanyak secara artificial, e) kemampuan untuk membedakan inang yang cocok. Anonim (2011) mengatakan ada beberapa faktor yang mendukung efektivitas parasitoid dalam pengendalian hayati antara lain: a) Daya kelangsungan hidup yang baik, b) hanya satu atau sedikit individu inang yang diperlukan untuk melengkapi daur hidup, c) kemampuan dalam mencari inang (searching capacity), d) sebagian besar parasitoid bersifat monofag atau oligifag, e) sehingga memiliki kisaran inang yang sempit. Selain itu Parasitoid juga memiliki kelemahan seperti berikut: a) daya
mencari inang sering dipengaruhi oleh keadaan, cuaca atau faktor lain, b) parasitoid dengan daya cari tinggi umumnya jumlah telur yang dihasilkan
rendah, c) parasitoid di alam mempunyai musih alami terutama hiperparasitoid, d) peran parasitisme didominsi oleh parasitoid dalam oviposisi betina untuk kelangsungan generasinya.
20
2.8 Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Kehidupan Serangga.
2.8.1 Faktor dalam (Internal)
Beberapa faktor dalam yang mempengaruhi kemampuan serangga untuk berkembang biak adalah:
1. Kemampuan berkembang biak
Kemampuan berkembang biak suatu jenis serangga dipengaruhi oleh kecepatan berkembang biak, keperidian dan fekunditas (Natawigena,1990).
Keperidian (natalitas) adalah besarnya kemampuan jenis serangga untuk melahirkan keturunan baru. Serangga umumnya memiliki keperidian yang cukup tinggi. Semakin kecil ukuran serangga, biasanya semakin besar keperidiannya.
Sedangkan fekunditas (kesuburan) adalah kemampuan yang dimiliki oleh seekor betina untuk memproduksi telur. Lebih banyak jumlah telur yang dihasilkan, maka lebih tinggi kemampuan berkembang biaknya. Kecepatan berkembang biak dari sejak terjadinya telur sampai menjadi dewasa yang siap berkembang biak, tergantung dari lamanya siklus hidup serangga. Serangga yang memiliki siklus hidupnya pendek, akan memiliki frekuensi bertelur yang lebih tinggi atau lebih sering dibandingkan dengan serangga lainnya yang memiliki siklus hidup lebih lama (Natawigena, 1990 dalam Anonim, 2010). Kemampuan berkembang biak (reproductive potensial) akan menentukan tinggi rendahnya, populasi hama.
Apabila di telusuri lebih lanjut, kemampuan berkembang biak itu bergantung kepada kecepatan berkembang biak (rate of multiplication) dan perbandingan sex
21
ratio serangga hama. Kemudian kecepatan berkembang biak ditentukan oleh keperidian (fecundity) dan jangka waktu perkembangan (Anonim, 2012).
2. Perbandingan kelamin (Sex ratio)
Perbandingan serangga jantan dan serangga betina atau lebih dikenal dengan sex ratio sangat penting dalam menentukan cepatnya pertumbuhan populasi hama.
Serangga hama pada umumnya berkembang biak melalui perkawinan walaupun ada beberapa spesies tertentu yang menghasilkan keturunannya tanpa melalui pembuahan telurnya yang disebut parthenogenesis (Anonim, 2012). Perbedaan jenis kelamin ini dipengaruhi oleh factor - faktor lingkungan, diantaranya keadaan musim dan kepadatan populasi. Seandainya populasinya menjadi lebih padat, maka akan lahir jenis betina-betina yang bersayap, sehingga dapat menyebar dan berkembang biak di tempat-tempat yang baru. Pada musim panas, telur-telur betina hasil pembiakan secara parthenogenesis akan menghasilkan individu- individu jenis jantan maupun jenis betina, yang selanjutnya menghasilkan telur- telur yang dibuahi (Natawigana, 1990 dalam Anonim, 2010).
3. Sifat mempertahankan diri
Untuk kelangsungan hidupnya serangga juga memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Beberapa kemampuan serangga untuk mempertahankan diri yaitu a) kamuflase (penyamaran), digunakan serangga berbaur pada lingkungan mereka agar terhindar dari pendeteksian pemangsa, seperti menyerupai ranting atau daun tanaman, b) Taktik menakuti musuh, yaitu serangga tertentu mampu mengelabui musuh dengan cara meniru spesies serangga
22
lain agar terhindar dari pemangsanya, yang dikenal dengan istilah serangga mimikri. Cara meniru serangga mimikri terhadap serangga lain, misalnya perilaku, ukuran tubuh, maupun bentuk pola warna, c) Pengeluaran senyawa kimia dan alat penusuk (penyengat) adalah kemampuan serangga mengeluarkan senyawa kimia beracun atau bau untuk menghindari serangan musuhnya. Terdapat alat penusuk pada serangga digunakan untuk menyengat atau membunuh lawan/
mangsanya. (Natawigena, 1990 dalam Anonim, 2010).
4. Siklus hidup
Daur hidup adalah waktu yang dibutuhkan semenjak terjadinya telur sampai serangga menjadi dewasa yang siap untuk berkembang biak. Daur hidup serangga umumnya pendek. Serangga yang memiliki daur hidup yang pendek, akan memiliki frekwensi bertelur yang lebih tinggi atau lebih sering, bila dibandingkan dengan serangga lainnya yang memiliki daur hidup lebih lama (Natawigena, 1990 dalam Anonim, 2010). Pada sebagian serangga hama jangka waktu perkembangan dari telur sampai dewasa berlangsung pendek, tetapi pada serangga lain perkembangannya berlangsung lama. Serangga yang mengalami metamorfosa holometabola perkembangan serangga dimulai dari telur-larva-pupa/kepompong - dewasa. Pada serangga yang mengalami metamorfasa hemimetabola atau paurometabola perkembangannya dimulai dari telur-nimfa-dewasa. Pada umumnya serangga yang kebutuhan nutrisinya terpenuhi dan berimbang, siklus hidupnya akan lebih cepat bila dibandingkan dengan serangga hama yang
23
kebutuhan nutrisinya tidak cukup. Berbagai spesies serangga masing-masing mempunyai jangka perkembangan yang berbeda - beda pula (Anonim, 2012).
5. Kompetisi
Kompetisi akan terjadi pada individu-individu dalam suatu habitat untuk mendapatkan sumber kebidupan. Kompetisi antar individu dapat terjadi dalam bentuk: 1) Kompetisi dalam hal makanan, kompetisi dalam hal makanan biasanva terjadi karena populasi makanan saat itu berkurang, sedangkan populasi serangga stabil atau bahkan meningkat. Akibatnya akan bekerja faktor yang bersifat density dependent, yang berkaitan dengan suplai makanan tersebut, terjadinya penurunan populasi serangga karena meningkatnya mortalitas (Anonim, 2010). Pada serangga hama tertentu meletakkan telur satu per satu dan dalam jumlah yang tidak begitu banyak, namun mayoritas serangga hama akan meletakkan telur secara berkelompok dan begitu menetas akan terjadi kompetisi diantara serangga sendiri. 2) Kompetisi dalam hal ruang gerak, Kompetisi itu terjadi pada serangga hama yang hidup dan berkembang pada ruang gerak terbatas, 3) Kompetisi dalam hal tempat berlindung,
2.8.2 Faktor luar (External) 1. Faktor Abiotik
a. Suhu/temperatur
Setiap serangga memupunyai kisaran suhu yang berebeda dimana serangga itu dapat hidup dan pada umumnya kisaran suhu yang efektif serangga masih hidup normal adalah suhu minimum. Jadi serangga memiliki kisaran suhu tertentu
24
untuk kehidupannya. Di luar kisaran suhu itu serangga tidak berkembang dengan normal aktivitas serangga menurun kadang serangga tersebut mengalami kematian pada kisaran suhu yang lain. Menurut Natawigena (1990) dalam Anonim (2010) bahwa umumnya kisaran suhu yang efektif adalah 15ºC (suhu minimum), 25ºC suhu optimum dan 45ºC (suhu maksimum). Pada suhu yang optimum kemampuan serangga untuk melahirkan keturunan akan besar dan kematian (mortalitas) sebelum batas umur akan sedikit.
b. Kelembaban udara
Kelembaban udara mempengaruhi kehidupan serangga langsung atau tidak langsung. kelembaban harus dilihat sebagai keadaan lingkungan dan kelembaban sebagai bahan yang dibutuhkan organisme untuk melangsungkan proses fisiologis dalam tubuh. tidak ada organisme yang dapat hidup tanpa air karena sebagian besar jaringan tubuh dan kesempurnaan seluruh proses vital dalam tubuh akan membutuhkan air. Bagi serangga pada umumnya kisaran toleransi terhadap kelembaban udara yang optimum terletak didalam titik maksimum 73 sampai 100 persen. Cuaca yang lembab merangsang pertumbuhan populasi, sedang cuaca yang sangat kering atau keadaan yang banyak hujan menghambat pertumbuhan tersebut (Anonim, 2012).
c. Faktor cahaya, warna dan bau.
Cahaya adalah faktor ekologi yang besar pengaruhnya bagi serangga, diantaranya lamanya hidup, cara bertelur, dan berubahnya arah terbang. Banyak jenis serangga yang memilki reaksi positif terhadap cahaya dan tertarik oleh
25
sesuatu warna, misalnya oleh warna kuning atau hijau. Pengaruh cahaya terhadap perilaku serangga berbeda antara serangga yang aktif siang hari dengan yang aktif pada malam hari. Pada umumnya radiasi yang berpengaruh terhadap serangga adalah radiasi infra merah, dalam hal ini berpengaruh untuk memanaskan tubuh serangga (Anonim, 2012).
d. Angin
Angin dapat berpengaruh secara langsung terhadap kelembaban dan proses penguapan badan serangga dan juga berperan besar dalam penyebaran suatu serangga dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Baik memiliki ukuran sayap besar maupun yang kecil, dapat membawa beberapa ratus meter di udara bahkan ribuan kilometer (Natawigena, 1990 dalam Anonim, 2010).
e. Makanan
Tersedianya makanan baik kualitas yang cocok maupun kualitas yang cukup bagi serangga, akan menyebabkan meningkatnya populasi serangga dengan cepat.
Sebaliknya apabila keadaan kekurangan makanan, maka populasi serangga dapat menurun (Anonim, 2010). Keberadaan faktor makanan akan dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, curah hujan dan tindakan manusia. Apabila semua faktor lain sangat mendukung perkembangan serangga maka pertambahan populasi serangga akan sejalan dengan makin bertambahnya makanan. Keadaan sebaliknya akan menurunkan populasi serangga hama, Hubungan faktor makanan dengan populasi serangga itu disebut hubungan bertautan padat atau density independent. Menurut Jumar (2000), dalam Setyolaksono (2012) bawa dalam hubungannya dengan
26
makanan, masing-masing jenis serangga memiliki kisaran inang yang berbeda yaitu monofag (hidup dan makan hanya pada satu atau beberapa spesies dalam
satu famili tertentu), polifag (hidup dan makan pada berbagai spesies pada berbagai famili), dan oligofag (hidup dan makan pada berapa spesies dalam
satu famili).
2. Faktor biotik
Faktor Penting dari komponen biotik adalah predator, parasitoid, dan entomopatogen. Predator yaitu binatang atau serangga yang memangsa binatang atau serangga lain. Predator tidak spesifik terhadap pemilihan mangsa. Oleh karena itu predator adalah serangga atau hewan lain yang memakan serangga hama secara langsung. Untuk perkembangan larva menjadi dewasa dibutuhkan banyak mangsa. Predator yang monophagous (mempunyai satu inang) menggunakan serangga hama sebagai makanan utamanya. Predator seperti ini biasanya efektif tetapi mempunyai kelemahan, yaitu apabila populasi hama
yang menjadi mangsanya berkurang, biasanya predator tidak dapat bertahan hidup lama, pada umumnya predator tidak bersifat monophagous.
Entomopatogen dapat menimbulkan penyakit, meliputi cendawan, bakteri, virus, nematoda atau hewan mikro lainnya yang dapat mempengaruhi kehidupan serangga hama (Anonim, 2012).
27
BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Berpikir
Penyebaran Liriomyza spp. pada awalnya hanya di California kemudian menyebar ke berbagai Negara di Amerika Selatan, di Afrika, Europa, dan Asia melalui perdagangan bunga potong dan sayuran segar (Spencer 1973 dalam Baliado dan Tengkano, 2010). Di Indonesia Liriomyza sp. pertama kali ditemukan
menyerang pertanaman kentang di daerah Cisarua, Bogor pada tahun 1994 (Rauf,1995). Hama ini kemudian menyebar ke beberapa daerah di Jawa,
Sumatera, dan Sulawesi yang menimbulkan kerusakan berat pada tanaman mentimun, buncis, dan kacang merah (Rauf et al.,2000). Selain itu Liriomyza spp.
telah dilaporkan termasuk beberapa tanaman inang di Bali, Lombok, dan Sumbawa (Supartha, 2003 dalam Supartha et. al., 2005).
Menurut Tiran (2009) dalam Sahabudin et al., (2012) menyatakan terdapat 5 spesies Liriomyza spp. menyerang tanaman sayuran di antaranya adalah Liriomyza sativa, L. huidobrencis, L. Chinencis, L. Bryoniae, dan L. horticola.
Sedangkan Nonci dan Muis (2011) menyatakan terdapat 7 spesies Liriomyza spp. menyerang tanaman sayuran yaitu Liriomyza sativa, L. huidobrencis, L.
Bryoniae, L. strigata, L. trifolii, L. brasicae, dan L. cicerina.
Liriomyza spp. merupakan hama polifag yang menyebabkan kerusakan ekonomi pada tanaman sayur-sayuran (Hernandes et al., 2010). Dampak
28
serangan hama ini terhadap hasil tergantung pada jenis tanaman, saat serangan terjadi, dan tingkat kerusakan. Secara umum kerusakan karena korokan larva lebih merugikan daripada kerusakan karena tusukan ovipositor.
Namun pada sayuran daun, gejala bintik-bintik putih akibat tusukan ovipositor menurunkan kualitas tanaman sehingga menurunkan harga jual (Rauf
& Shepard, 2001 dalam Herlina, 2004). Menurut Spencer (1989) dalam Herlina et al., (2005) pada keadaan populasi tinggi, serangan dapat menyebabkan kegagalan panen atau kematian tanaman. Serangan Liriomyza sativae pada tanaman kentang dan ketimun di Jawa Barat dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai dengan 60 % (Rauf, 1999 dalam Sulaeha et al., 2009). Di Bali serangan Liriomyza pada tanamaan sayuran di dataran rendah menimbulkan kerugian antara 30 – 60 % per musim tanam (Supartha,2002 dalam Supartha et al., 2005).
Sejauh ini upaya pengendalian hama lalat pengorok daun masih bertumpu pada penggunaan insektisida sintetik, bahkan aplikasinya dapat menncapai 2-3 kali per minggu (Rauf, 1999 dalam Rustan et al., 2009). Penggunaan insektisida yang berlebihan tersebut dapat menimbulkan dampak buruk seperti resistensi dan resurgensi hama, terbunuhnya musuh alami, dan pencemaran lingkungan (CEQ, 1971 dalam Rustandi et al., 2009). Untuk mengurangi penggunaan pestisida tersebut perlu dilakukan pengendalian yang lebih ramah lingkungan, seperti penggunaan musuh alami.
29
Pada kondisi alami di lapang larva Liriomyza spp.terparasit oleh berbagai jenis parasitoid dan predator (Minkerbeg dan van Lenteren,1986; dalam Baliadi dan Tengkano, 2010). Hama Liriomyza spp mempunyai banyak musuh alami salah satunya adalah parasitoid dimana terdapat beberapa spesies parasitoid menyerang Liriomyza spp. di lapang. Di Indonesia tercatat 19 jenis parasitoid berasosiasi dengan Liriomyza sativae dan 6 jenis parasitoid berasosiasi dengan Liriomyza huidobrensis (Warsito, 2004 dalam Baliadi dan tengkano 2010).
Jenis parasitoid yang umumnya muncul dari daun dan menyerang Liriomyza Sativae adalah Asecodes deluchii (Boucek), Quadrastichus liriomyzae Hansson
& LaSalle, Chrysocharis sp. dan Hemiptarsenus varicornis (Girault) (Rauf, 2005). Oleh karena itu perlu penelitian musuh alami di Timor Leste untuk mengetahui jenis parasitoid Liriomyza spp. sebagai agen pengendalian hayati.
Sejauh ini upaya pengendalian hama lalat pengorok daun masih tertumpu pada penggunaan insektisida sintetik, bahkan aplikasinya dapat menncapai 2-3 kali per minggu (Rauf, 1999 dalam Rustan et al., 2009). Padahal penggunaan insektisida yang berlebihan dapat menimbulkan dampak buruk seperti resistensi dan resurgensi hama, terbunuhnya musuh alami, dan pencemaran lingkungan (CEQ,1971 dalam Rustandi et al., 2009).
Pengendalian hayati merupakan pengendalian alternatif yang dilakukan untuk menekan populasi Liriomyza. Penelitian awal dapat dilakukan adalah pemetaan keragaman dan kelimpahan parasitoid. Data tersebut bisa digunakan sebagai acuan untuk mengendalikan Liriomyza spp. di lapang.
30
Sampel daun dan pelihara larva atau pupa di laboratorium
3.2. Kerangka Konsep Penelitian
Di bawah ini adalah kerangka konsep penelitian lapangan yang disajikan dalam bagan alur pada gambar 1.
Eksplorasi keragaman Liriomyza spp. dan parasitoid di lapang
Koleksi sampel gejala serangan Liriomyza spp. pada tanaman inang di lapang.
Identifikasi species Liriomyza spp. dan
parasitoid
Pengamatan Liriomyza dan parasitoid yang muncul per sampel daun inang
Gambar 3.1 Bagan alur konsep penelitian
Menghitung
tingkat parasitisasi parasitoid terhadap Liriomyza spp.
Keragaman dan kelimpahan populasi Liriomyza spp.
pada tanaman inang Liriomyza spp.
Data awal pengendalian Liriomyza spp.
31 2.3 Hipotesis Penelitian
Adapun Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ;
2.3.1 Terdapat beberapa jenis Liriomyza spp. pada berbagai tanaman inang.
2.3.2 Terdapat beragaman spesies parasitoid yang berasosiasi dengan Liriomyza spp.
2.3.3 Jenis keragaman, kelimpahan dan tingkat parasitisasi masing - masing parasitoid sangat dipengaruhi oleh jenis Liriomyza spp., tanaman inang dan ketinggian tempat.
32 BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Timor Leste dengan lokasi Distrik (Kabupaten) Dili, Aileu, Ainaro, Ermera, dan Distrik Bobonaro, dengan tiga kategori ketinggian tempat yaitu dataran rendah 4 – 49 meter dari permukaan laut, dataran sedang 229 meter sampai 965 meter dari permukaan laut, dataran tinggi 1446 meter sampai 2130 meter dari permukaan laut. Timor Leste memiliki topografi yang bergunung - gunung dengan titik koordinat 8°50′LU 125°55′BT, luas 15,007 km2 memiliki 13 distrik, titik tertinggi 2,963 m dpl. Wilayah Timor Leste sebagian besar terdiri dari daerah - daerah pegunungan yang membentang dari timur ke barat. Bentangan-bentangan pegunungan itu ada kalanya terputus, sehingga membentuk lembah-lembah serta jurang-jurang yang curam. Timor Leste tergolong memiliki iklim tropis dengan suhu minimum 18°C - 21°C, sedangkan suhu tertinggi bervariasi antara 26°C - 32°C. Penentuan lokasi itu untuk mengetahui persebaran jenis Liriomyza dan parasitoidnya berdasarkan ketinggian tempat, karena faktor lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan, persebaran, dan keseragaman spesies hama Liriomyza dan parasitoid. Karena sebaran geografik suatu organisme dibatasi oleh faktor-faktor fisik yaitu: suhu, kelembapan, air dan cahaya di habitatnya (Krebs (1978).
Pemeliharaan serangga dan identifikasi dilaksanakan di Laboratorium Departement Perlindungan Tanaman Pertanian Timor Leste, Kementerian
33
Pertanian dan Perikanan Timor Leste, yang dimulai pada bulan Juli 2013 sampai November 2013.
4.2 Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitiani ini adalah : Alkohol 90%, sampel daun tanaman terserang Liriomyza spp. gunting pangkas, Geography Position System (GPS), pinset, kuas kecil, kantong plastik, kain kasa, mikroskop, kotak serangga 40 x 40 cm, aspirator, stoples, isolasi, botol koleksi, label, dan alat tulis menulis.
4.3 Metode Penelitian
Eksplorasi dilakukan pada tanaman inang Liriomyza spp. pada beberapa lokasi dengan ketinggian yang berbeda-beda yaitu 5 – 2130 meter diatas permukaan laut. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah Jenis - jenis tanaman inang Liriomyza spp. keragaman dan kelimpahan Liriomyza spp. yang
berasosiasi dengan tanaman inang, keragaman dan kelimpahan parasitoid yang berasosiasi dengan Liriomyza spp. dan tingkat parasitisasi parasitoid
Liriomyza spp.
4.4 Metode Pengambilan Sampel.
Pengambilan sampel daun tanaman dilapangan dengan metode purposive sampling, mengambil daun tanaman yang terdapat gejala serangan Liriomyza spp. Jumlah sampel daun yang dikoleksi 100 – 200 helai daun. Sampel daun tanaman dimasukan ke dalam kantong plastik zeepblock, kemudian diberi label atau dikode dengan informasi: lokasi, tanggal pengambilan, nama tanaman, dan
34
ketinggian tempat. Sampel daun dibawa ke laboratorium dan disortir, kemudian sampel daun dimasukkan ke dalam toples plastik transparan yang dasarnya dialasi dengan jalinan kawat. Kemudian toples dikode berdasarkan lokasi, jenis tanaman inang, tanggal koleksi, dan ketinggian tempati.
4.5 Pengamatan
Pengamatan laboratorium dilakukan mulai dari satu hari setelah sortiran sampel daun tanaman di laboratorium. Adapaun data yang diamati adalah jumlah imago, nisba kelamin Liriomyza spp. serta jumlah imago parasitoid yang muncul dari masing-masing tanaman inang. Imago Liriomyza dan parasitoid dikumpulkan dalam botol koleksi yang terpisah dan dikoleksi dalam botol berisi alkohol 90%.
Identifikasi Liriomyza spp. dan parasitoid dilakukan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Pertanian, Departemen Perlindungan Tanaman Pertanian Timor Leste. Karakter morfologi Liriomyza yang diamati adalah warna skutelum, pola warna tergit, abdomen, bentuk antena dan warna tungkai. Tetapi karakter morfologi yang banyak digunakan untuk mengidentifikasi spesies Liriomyza yaitu bentuk aedegus serangga jantan (Spencer,1990; Shiao, 2004 dalam Shahabuddin et al., 2012). Identifikasi parasitoid berdasarkan referensi kunci identififikasi Liriomyza parasitoid di Asia Tenggara (Fisher et al., 2000).
4.6 Menghitung Tingkat Parasitisasi Parasitoid Terhadap Liriomyza Untuk mengetahui tingkat parasitisasi parasitoid dihitung berdasarkan jumlah imago Liriomyza dan parasitoid yang muncul per sampel daun tanaman.
35
Untuk menghitung tingkat parasitisasi parasitoid terhadap Liriomyza menggunakan rumus parasitisasi (Prabowo, 2009).
∑IP
Tingkat parasitisasi (TP) = --- X 100%
∑IL + ∑IP
∑IP = jumlah imago parasitoid yang muncul
∑IL = jumlah imago penggorok daun yang muncul 4.7 Parameter Penelitian
Data yang dikumpulkan adalah sebagai sebagai berikut”
a) jenis tanaman inang,
b) keragaman dan kelimpahan Liriomyza spp.,
c) keragaman dan kelimpahan spesies parasitoid yang berasosiasi dengan Liriomyza spp., dan
d) Tingkat parasitisasi parasitoid terhadap Liriomyza spp.
BAB V
36
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Jenis Tanaman Inang
Hama Liriomyza spp. merupakan hama polifag yang ditemukan menyerang banyak tanaman. Hasil penelitian lapangan di 5 distrik di Timor Leste ditemukan 29 jenis tanaman inang yang teridentifikasi terserang Liriomyza, 29 jenis tanaman inang tersebut adalah dari famili Brasicacea, Cucurbitacea, Solananaceae, dan Fabaceae kemudian Amaranthaceae, Convolvulaceae, Asteraceae dan Euphorbiceae. Menurut Siagiaan (2010) banyaknya tanaman inang mempunyai daya pencar yang cepat sehingga dapat menimbulkan dampak terhadap tanaman yang dibudidayakan. Tanaman inang adalah tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan gizi, perilaku maupun pertumbuhan dan perkembangan hama Liriomyza (Nonci dan Muis, 2011).
Pengambilan sampel di distrik Aileu yaitu di subdistrik (kecamatan) Aileu kota (vila) dan di tiga desa (Suco). Di Desa Fahiria terdapat tanaman sawi putih sendok, kubis,mentimun,tomat, cucumber sp. ceplukan, gambas, ubi jalar, Saburia dan desa Liurai dilokasi itu terdapat tanaman sawi putih, kubis, mentimun, tomat, cucumber sp. kacang koro, sawi putih sendok, fabas, kecubung, dan pada tanaman sawi, pada tanaman kubis tidak ditemukan gejala serangan Liriomyza, sedangkan di Suco (Desa) Saburia terdapat tanaman cucumber sp. kubis tetapi tidak ditemukan gejala serangan Liriomyza pada tanaman kubis, dan di Suco Liurai terdapat tanaman mentimun, cucumber sp. kentang, dan sawi putih. Tidak ada gejala serangan Liriomyza pada tanaman sawi, terong dan kubis walaupun
37
masih dalam satu subdistrik (kecamatan) terdapat tanaman inang tetapi tidak ditemukan gejala serangan Liriomyza spp. Keragaman tanaman inang dapat mempercepat penyebaran hama Liriomyza dan dapat menyediakan makanan bagi parasitoid untuk bertahan hidup.
Di daerah tropis keragaman hayati dari tumbuhan yang menghasilkan nektar sangat banyak sebagai sumber makanan dari musuh-musuh alami, terutama parasitoid (Sembel,2010.) Nektar tumbuhan dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan berbunga, nektar bunga mengandung asam - asam amino, protein, karbohidrat, dan vitamin. Hasil penelitian tentang jenis tanaman inang yang terserang Liriomyza disajikan pada Tabel 5.1.
Table 5.1
Jenis tanaman inang yang teridentifikasi terserang Liriomyza spp.
Famili Nama ilmiah Nama umum
Ketinggian tempat (m dpl)
Keterangan
Amarantaceae Amaranthus spinosus L
Bayam 229 Tanaman
Budidaya
Amaranthaceae A. viridis Bayam liar 45 Gulma
Asteraceae Sonchus arvensis Tempuyung 2102 Gulma Brassicaceae Brassica oleraceae Kembang kol 920 Tanaman
Budidaya Brassicaceae B. rapa L Sawi putih
sendok
920 Gulma
Brassicaceae B.rapa Subsp.
Pekinensis
Sawi cina 920 Tanaman
Budidaya Tabel 5.2 lanjutan
Famili Nama ilmiah Nama umum Elevasi Keterangan
38
(m dpl) Brassicaceae B.junceae L Sawi putih
/caisim
14,230 Tanaman Budidaya Brassicaceae B. chinensis Petsay 1664,21
09
Tanaman Budidaya Cucurbitaceae Luffa
acutangulata
Gambas 920 Tanaman
budidaya Cucurbitaceae Cucumis
sativus
Mentimun 920,943 Tanaman
budidaya Cucurbitaceae Sechium edium
(Jacq)
Labu siam 920 Tanaman
budidaya Cucurbitaceae Cucurbita
maxima
Labu wuluh 229,231 Tanaman budidaya Cucurbitaceae Cucurbita sp
- 943,965 Tanaman
budidaya Convolvulveae Ipomoea triloba -
800 Gulma
Convolvulceae I..batatas L Ubi jalar 920 Tanaman Boraginaceae Heliotropium
indicum L.
Buntut tikus 5 Gulma
Euphorbiceae Ricinus communis L
Jarak Kepyar 4 Gulma
Fabaceae Phaseolus lunatus L
kacang merah 14, 715 Tanaman Budidaya Fabaceae vigna sinencis kacang panjang 4,476 Tanaman Budidaya Fabaceae Canavalis
ensiformis
Kacang Karo 920 Tanaman Budidaya Fabaceae Pisum sativum Kacang Kapri 2102 Tanaman Budidaya Fabaceae Calopagorium
mucunoides Desv
Kacang Asu 800 Gulma
Tabel 5.2 lanjutan
Famili Nama ilmiah Nama umum Elevasi Keterangan
39
(m dpl) Solanaceae Solanum
lycopersicum
Tomat 14,476, 715,920
Tanaman Budidaya Sonalaceae S. melongenae Terong 715 Tanaman
Budidaya Solanaceae Physalis
angulata L
Ceplukan 9, 715 Gulma Solanaceae Datura metel L Kecubung 49 Gulma Solanaceae S. nigrum Rante/Leuca 4, 920 Gulma
Asteraceae - tempuyung
bulat
2102 Gulma
- -
Sirgota (nama local)
2134 Gulma
5.2 Keragaman dan Kelimpahan Populasi Liriomyza spp. Berasosiasi dengan Tanaman Inang
Berdasarkan hasil identifikasi terdapat 2 spesies Liriomyza yang hidup berasosiasi dengan tanaman inang di lapangan yaitu Liriomyza sativae (Blanchard) dan Liriomyza sp (Blanchard), ordo Diptera, famili Agromizidae.
Dari kedua spesies tersebut L. sativae mempunyai inang yang cukup banyak yaitu tanaman mentimun, tomat, kacang karo, dan labu waluh, terong, bayam, kacang merah, sawi putih, dan kacang panjang dan beberapa gulma.
Kelimpahan populasi dari kedua spesies berbeda-beda berdasarkan tanaman inang. Kelimpahan L. sativae berdasarkan tanaman inang di lapang menunjukan proporsi terbanyak pada tanaman tomat sebanyak 363 ekor dan persentase betinanya adalah 55.92 persen, kemudian kacang merah dengan jumlah imago 126 ekor dan persentase betinanya adalah 57.69 persen, kemudian labu wuluh
40
dengan jumlah imagonya 127 ekor, persentase betinanya adalah 56.69 persen, pada cucmber sp. jumlah imagonya adalah 101 ekor dan persentase betinanya adalah 47.52 persen. Herlina (2003) menyatakan L. sativa adalah hama polifag yang dapat menyerang berbagai jenis tanaman dari berbagai famili. Tanaman tersebut adalah terutama pada famili Cucurbitaceae , Fabaceae, dan Solanaceae (Nonci dan Muis, 2011).
Spesies kedua adalah Liriomyza sp. mempunyai tanaman inang terbatas hanya menyerang beberapa tanaman yaitu petsay, kacang kapri, lempuyeng, Lempuyeng bulat, dan sirgota. Kelimpahan populasi Liriomyza sp terbanyak pada tanaman petsai sebanyak 124 ekor dan presentase betinanya adalah 39.51 persen, dan pada tanaman lempuyeng bulat kelimpahan populasi sebesar 18 ekor dan persentase betinanya adalah 33.33 persen.
Kelimpahan populasi Liriomyza dipengaruhi faktor lingkungan dan biotik, nutrisi tanaman yang mempengaruhi pemilihan tanaman inang oleh Liriomyza spp. Supartha (1999) menyatakan bahwa faktor kuantitas dan kualitas gizi tanaman inang, distribusi, kerapatan trikoma, kandungan fenol dan nutrisi tanaman mempengaruhi pemilihan tanaman inang oleh imago Liriomyza spp.
Proses pemilihan inang oleh serangga termasuk Liriomyza spp. didasari oleh banyak faktor seperti (1) faktor nutrisi, dan (2) faktor non-nutrisi. Faktor nutrisi yaitu protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan air, sedangkan faktor non nutrisi meliputi allelokimia dan morfologi tanaman (Parella, 1987).
41
Faktor makanan dipengaruhi suhu, kelembaban, curah hujan dan tindakan manusia, dan apabila semua faktor lain sangat mendukung perkembangan serangga maka pertambahan populasi serangga akan sejalan dengan makin bertambahnya makanan. Hasil Penelitian tentang keragaman dan kelimpahan populasi Liriomyza di sajikan dalam Table 5.3.
Tabel 5.3
Kelimpahan dan keragaman Liriomyza berdasarakan jenis tanaman inang Jenis tanaman Jenis
Liriomyza
Jumlah Imago
Jantan Betina % betina Chinnes
cabbage
L.sativae 1 1 0 0
Kacang merah L. sativae 156 66 90 57.69
Kacang panjang L.sativae 2 2 100
Cucurbita sp L.sativae 101 56 48 47.52
Labu wuluh L.sativae 127 55 72 56.69
Tomat L. sativae 363 170 203 55.92
Mentimun L.sativae 27 8 19 70.37
Sawi putih L. sativae 48 8 38 79.16
Lempuyeng bulat
Liriomyza sp 18 12 6 33.33
Lempuyeng Liriomyza sp 5 5 0 0
Petsay Liriomyza sp 124 75 49 39.51
Sirgota Liriomyza sp 7 3 4 57.14
42
Gambar 5.1 Daun tanaman yang memiliki gejala serangan Liriomyza spp.
5.3 Keragaman dan Kelimpahan Populasi Liriomyza Berdasarkan Lokasi dan Ketinggian Tempat
Hasil penelitian lapangan menunjukan bahwa sebaran dari kedua spesies Liriomyza berdasarkan ketinggian ketempat di Timor Leste berbeda - beda.
Liriomyza sativae mendominasi pada kategori ketinggian tempat yaitu 4 meter sampai 965 meter di atas permukaan laut (dpl) di empat distrik yaitu Aileu, Bobonaro, Dili, dan Ermera. Kelimpahan populasi L. sativae terbanyak pada ketinggian 229 meter sampai 231 meter di atas permukaan laut (dpl) di distrik Bobonaro dengan proporsi imago sebanyak 358 ekor. Pada ketinggian 476 meter dan 715 meter dpl di distrik Ermera kelimpahan populasi L. sativae sebanyak 154 ekor, dan pada ketinggian 800 meter sampai 965 di distrik Aileu kelimpahan populasinya adalah sebanyak 128 ekor, dan kelimpahan populasi yang terendah
a.Gejala serangan Liriomyza sp.
a.Gejala serangan L. sativae
43
pada ketinggian 4 meter sampai 49 meter di atas permukaan laut di distrik Dili populasi L. sativa sebesar 66 ekor. Hasil penelitian ACIAR, (2002) dalam Herlina, (2003) melaporkan bahwa L. sativae tersebar di dataran rendah dan sedang 0 – 600 meter dibawa permukaan laut dan banyak menimbulkan kerusakan berat pada sayuran dataran rendah seperti mentimun, tomat, dan kacang panjang.
Spesies Liriomyza sp. mendominasi pada ketiggian 1665 meter sampai 2130 meter di atas permukaan laut di distrik Ainaro, kelimpahan populasinya adalah 151 ekor.
Perbedaaan ketinggian berpengaruh pada kelimpahan populasi Liriomyza karena faktor pemeliharaan tanaman dan lingkungan yang berpengaruh pada kelimpahan dan keragaman Liriomyza. Parella (1987) menyatakan bahwa tekanan fisik dan tekanan yang bersifat abiotik dapat mempengaruhi kelimpahan populasi serangga. Dominasi kedua spesies tersebut berkaitan erat dengan jenis tanaman inang yang biasanya melimpah di masing - masing ketiggian yang menjadi daerah penyebaran awal masing-masing spesies Liriomyza, lain halnya dengan Liriomyza sativa mempunyai pola adaptasi yang tinggi terhadap ketinggian dan tanaman inang yang ditujukan oleh kemampuan menyerang berbagai jenis tanaman inan (Supartha et al., 2005).
Dalam perkembangan setiap spesies Liriomyza mempunyai toleransi yang berbeda terhadap suhu dan kelembaban lingkungan jika ada perubahan suhu maka akan terjadi penurunan atau peningkatan populasi. Menurut Nonci dan
44
Muis (2011) spesies L. sativa, L. Huidobrensis dan L. chinensis paling toleran terhadap suhu dingin. Lokasi yang berbeda menyebabkan perbedaan toleransi suhu terhadap spesies-spesies penggorok daun, pemindahan atau migrasi spesies - spesies Liriomyza berhubungan dengan adaptasi suhu pada lokasi tersebut (Kang et al., 2009). Kelimpahan dan penyebaran Liriomyza pada kategori ketinggian tempat berbeda karena tanaman inang yang melimpah di tempat yang dapat mendukung perkembangan Liriomyza. Hasil penelitian mengenai keragaman dan kelimpahan populasi Liriomyza berdasarkan lokasi dan ketinggian tempat disajikan pada Tabel 5.4.
Tabel 5.4
Keragaman dan kelimpahan dan populasi Liriomyza berdasarkan lokasi dan ketinggian tempat di Timor Leste
Loaksi Ketinggian tempat (m dpl)
Jenis Liriomyza
Jumla imago
∑ jantan
∑ Betina
Dili 4 – 49 Liriomyza sativae 66 29 37
Bobonaro 229 – 231 L. sativae 358 169 189
Ermera 476, 715 L. sativae 154 90 56
Aileu 800 – 965 L. sativae 128 61 67
Ainaro 1665- 2130 Liriomyza sp 151 95 58
5.4 Identifikasi Spesies Liriomyza yang Ditemukan di Timor Leste
Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa Liriomyza yang menyerang tanaman sayuran di lapang adalah Liriomyza sativae dan Liriomyza sp. yang disajikan pada gambar 5.3.
45 Keterangan:
a. Liriomyza sativae, kepala dengan frons dan orbit kuning, segmen anten ketiga kuning, femora kuning cerah, mesonotum hitam, berkilau, femora kuning cerah, mesonotum hitam, berkilau, bulu yang tegak lurus bagian luar dasar hitam , dan bulu vertikal yang bagian dalam berwarna kuning. Hind margin (pinggiran kepala) kebanykan hitam.
b. Liriomyza sp. femur (paha) berwarna hitam, segmen antenna ketiga berwarna hitam, mesonotum berwarna hitam. Hind margin berwarna hitam. Posisi strilatpry file berwarna kuning krem.
5.5 Keragaman dan Kelimpahan Populasi Parasitoid Serta Tingkat Parasitisasi Parasitoid Terhadap Liriomyza
5.5.1 Keragaman dan kelimpahan populasi parasitoid berdasarkan jenis tanaman dan Liriomyza
Hasil identifikasi laboratorium menunjukan terdapat 5 spesies parasitoid yang berasosiasi dengan Liriomyza spp. yaitu H. varicornis (Girault), N. formosa (Westwood), N.okazakii (Kamijo), Opius sp. dan Diglyphus sp. pada berbagai
Liriomyza sativa(Blanchard) Liriomyza sp.
Gambar 5.3 Spesies Liriomyza spp. yang ditemukan di Timor Leste
46
tanaman sayuran di dataran rendah sampai dataran tinggi di Timor Leste. Kelima parasitoid tersebut mempunyai kelimpahan populasi yang berbeda-beda.
Keragaman parasitoid berdasarkan tanaman inang dan serangga inang terbanyak pada tanaman labu wuluh yaitu 4 spesies parasitoid terdiri dari H.varicornis, N. formosa, N. okazakii, dan Opius sp. yang berasosiasi dengan L.sativa. Pada tanaman tomat dan kacang merah terdapat 3 spesies parasitoid yaitu H.varicornis, N. okazakii, dan N. Formosa berasosiasi dengan L.sativa.
Pada kacang kapri keragaman parasitoid 2 spesies yaitu Diglyphus sp. dan H.
varicornis berasosiasi dengan Liriomyza sp. sedangkan pada tanaman cucumber sp. terdapat 2 spesies parasitoid yaitu H. varicornis, dan N. okazakii berasosiasi dengan L. sativa. Kelimpahan populasi parasitoid tertinggi adalah Diglyphus sp.
sebanyak 108 ekor yang berasosiasi dengan Liriomyza sp. pada tanaman kacang kapri, disusul dengan parasitoid H. varicornis sebanyak 85 ekor yang berasosiasi dengan Liriomyza sp. pada tanaman tempuyeng bulat, kemudian parasitoid N.okazakii proporsi 68 ekor yang berasosiasi dengan Liriomyza sativa pada tanaman tomat. Kelima parasitoid tersebut terdiri dari 2 famili yaitu Eulophidae Himiptarsenus varicornis, Neocryshochaers okazakii, N. Formosa, dan Diglyphus sp. dan family Braconidae yaitu Opius sp. Famili Braconidae merupakan salah satu kelompok utama parasitoid yang terdiri dari spesies - spesies yang sangat efektif untuk menekan kenaikan populasi hama penting pada tanaman (Whartono 2000 dalam Susanti 2012). Kelimpahan parasitoid sangat dipengaruhi oleh serangga inang serta jenis tanaman inang. Jenis serangga inang
47
menentukan tingkat parasitisasi, nisbah kelamin serta kesesuaian parasitoid dengan serangga inang. Tanaman mempunyai peranan penting bagi parasitoid untuk menemukan serangga inangnya.
Weseloh (1981) menyatakan tumbuhan ternyata memiliki peran yang besar dan penting dalam pencarian serangga inang paraitoid, parasitoid menemukan inangnya melalui senyawa kimia yang tergolong Synomone yang diproduksi tumbuhan inang dari serangga inangnya, dan Synomone berperan penting dalam upaya parasitoid menemukan habitatnya. Penerimaan inang oleh parasitoid melalaui suatu proses diterima atau ditolak untuk meletakkan telur setelah terjadi kontak. Terdapat empat proses yang dilalui oleh parasitoid yaitu dalam menemukan kesesuaian inang yaitu tahap kontak, penerimaan inang, penusukan dengan ovipositor, pemasukan ovipositor dan peletakan telur. Perinemaan inang dipandu oleh rangsangan fisik dan kimia (Rusli, 2002).
Parasitoid yang ditemukan pada semua jenis Liriomyza dan tanaman inang adalah Hemiptarsenus varicornis yang merupakan parasitoid dominan di lapangan berdasarkan jenis Liriomyza dan tanaman inang, dan parasitoid yang ditemukan pada berbagai jenis tanaman dan hanya menyerang satu jenis Liriomyza yaitu parasitoid Neochrysochaers Formosa dan N.okazakii.
Keberadaan parasitoid yang dominan dan berlimpah di lapangan dapat meningkatkan jumlah kematian lalat penggorok daun. Kelimpahan parasitoid akan meningkat sejalan dengan meningkatnya populassi serangga inang dan akan menurun apabila populasi serangga inang menurun (Rustan et al,. 2008;