KAJIAN FISKAL REGIONAL
Tahun
D.I.YOGYAKARTA
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas berkat rahmat dan karunia-Nya, penyusunan Kajian Fiskal Regional Tahun 2021 dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Gubernur D.I. Yogyakarta, Bupati/Walikota, Pimpinan Bank Indonesia Perwakilan D.I.Yogyakarta, Kepala Bappeda DIY, Kepala DPKAD/BKAD, Kepala Dinas Perijinan dan Penanaman Modal (BPPM) DIY, Kepala BPS DIY dan Kepala Dinas/Badan masing-masing Pemda , Kepala KPPN serta berbagai pihak yang telah membantu dan berkontribusi dalam penyediaan data untuk bahan penyusunan kajian ini. Dukungan dan sinergi dari semua mitra kerja Kanwil Ditjen Perbendaharaan D I Yogyakarta merupakan hal yang sangat penting bagi kami.
Penyusunan KFR Tahunan 2021 ini sedikit berbeda dengan periode sebelumnya. Sesuai dengan arahan Direktur Jenderal Perbendaharaan dan dalam rangka penguatan peran Kanwil Ditjen Perbendaharaan sebagai Regional Chief Economist (RCE) ), terdapat beberapa penajaman berupa simplifikasi analisis fiskal regional dengan menggabungkan analisis kinerja APBN, APBD dan Konsolidasian, penguatan analisis dan interpretasi data melalui penajaman analisis permasalahan dan
solusinya, termasuk analisis atas capaian output belanja, dilakukan percepatan penyusunan melalui KFR Preliminary dengan mengutamakan identifikasi dan analisis permasalahan dan solusi serta penyusunan analisis tematik pada setiap penyusunan KFR. Selanjutnya, seiring dengan release-nya Produk Domestik Bruto (PDB) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) triwulan laporan, KFR Preliminary tersebut dilengkapi dengan perkembangan perekonomian daerah dan analisis sektor unggulan dan potensial di daerah.
Penyusunan KFR ini tentunya masih jauh dari sempurna dan membutuhkan masukan yang membangun dari berbagai pihak, baik dari akademisi, ekonom, Pemerintah Daerah dan masyarakat luas. Semoga rekomendasi pada KFR ini dapat digunakan oleh para pemangku kepentingan dalam mengambil kebijakan yang akan digunakan dalam pembangunan di regional Provinsi D.I Yogyakarta.
Arif Wibawa
Kata Pengantar
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GRAFIK ... vii
RINGKASAN EKSEKUTIF ... viii
DASHBOARD MAKRO-FISKAL REGIONAL ... xii
BAB I SASARAN PEMBANGUNAN DAN TANTANGAN DAERAH ... 1
1.1. Pendahuluan ... 1
1.2. Tujuan dan Sasaran Pembangunan Daerah ... 1
1.3. Tantangan Daerah ... 5
1.3.1. Tantangan Ekonomi Daerah ... 5
1.3.2. Tantangan Sosial Kependudukan ... 6
1.3.3. Tantangan Geografis Wilayah ... 7
1.3.4. Tantangan Daerah Sebagai Dampak Covid-19 ... 8
BAB II ANALISIS EKONOMI REGIONAL ... 9
2.1. Analisis Indikator Makro Ekonomi ... 9
2.1.1. Produk Domestik Regional Bruto ... 9
2.1.2. Suku Bunga ... 14
2.1.3. Inflasi ... 15
2.1.4. Nilai Tukar ... 16
2.2. Analisis Indikator Kesejahteraan ... 17
2.2.1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ... 17
2.2.2. Tingkat Kemiskinan ... 18
2.2.3. Tingkat Ketimpangan (Rasio Gini) ... 21
2.2.4. Kondisi Ketenagakerjaan dan Tingkat Pengangguran ... 22
2.2.5. Nilai Tukar Petani (NTP) ... 24
2.2.6. Nilai Tukar Nelayan (NTN) ... 26
2.3. Reviu Capaian Kinerja Makro Kesra Regional ... 27
BAB III ANALISIS FISKAL REGIONAL ... 28
3.1. Pelaksanaan APBN Tingkat Provinsi ... 28
3.1.1. Pendapatan Negara ... 28
3.1.2. Belanja Negara ... 32
3.1.3. Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) ... 34
Daftar Isi
3.1.4. Surplus/Defisit APBN ... 36
3.1.5. Pengelolaan BLU Pusat ... 36
3.1.6. Pengelolaan Manajemen Investasi Pusat ... 39
3.1.7. Isu Strategis Pelaksanaan APBN di Daerah ... 40
3.2. Pelaksanaan APBD Tingkat Provinsi (Konsolidasi Pemda) ... 41
3.2.1. Pendapatan Daerah ... 41
3.2.2. Belanja Daerah ... 43
3.2.3. Surplus/Defiisit APBD ... 46
3.2.4. Pembiayaan Daerah ... 46
3.2.5. Perkembangan BLU Daerah ... 46
3.2.6. Isu Strategis Pelaksanaan APBD ... 46
3.3. Pelaksanaan Anggaran Konsolidasian ... 47
3.3.1. Pendapatan Konsolidasian ... 48
3.3.2. Belanja Konsolidasian ... 49
3.3.3. Surplus/Defisit ... 50
3.3.4. Pembiayaan Konsolidasian ... 50
3.3.5. Kontribusi Pengeluaran Pemerintah dalam Perekonomian ... 50
BAB IV ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN POTENSIAL REGIONAL ... 53
4.1. Pendahuluan ... 53
4.2. Sektor Unggulan Daerah ... 56
4.2.1. Profil Sektor Unggulan Daerah Berdasarkan Lapangan Usaha... 56
4.2.2. Kontribusi Sektor Unggulan Daerah Terhadap Ketenagakerjaan ... 58
4.2.3. Kontribusi Sektor Unggulan Daerah Terhadap Pendapatan Negara dan Daerah ... 58
4.2.4. Dukungan Alokasi Anggaran APBN dan APBD ... 59
4.2.5. Tantangan Fiskal Pada Sektor Unggulan Daerah ... 60
4.2.6. Dukungan Kebijakan dan Stimulus Fiskal yang Diperlukan ... 60
4.3. Sektor Potensial Daerah ... 60
4.3.1. Profil Sektor Potensial Daerah Berdasarkan Lapangan Usaha ... 60
4.3.2. Kontribusi Sektor Potensial Daerah Terhadap Ketenagakerjaan... 63
4.3.3. Kontribusi Sektor Potensial Daerah Terhadap Pendapatan Negara dan Daerah ... 64
4.3.4. Dukungan Alokasi Anggaran APBN dan APBD ... 64
4.3.5. Tantangan Fiskal Pada Sektor Potensial Daerah ... 65
4.3.6. Dukungan Kebijakan dan Stimulus Fiskal yang Diperlukan ... 66
BAB V ANALISIS HARMONISASI BELANJA PEMERINTAH PUSAT DAN
PEMERINTAH DAERAH ... 70
5.1. Pendahuluan ... 70
5.2. Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik, DAK Nonfisik, dan Dana Desa ... 70
5.2.1. Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Fisik ... 70
5.2.2. Harmonisasi Belanja K/L dengan DAK Nonfisik ... 72
5.2.3. Harmonisasi Belanja K/L dengan Dana Desa ... 74
5.3. Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah Berbasis Prioritas Nasional Pada RPJMN/D 76 5.3.1. Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah pada PN 1 ... 80
5.3.2. Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah pada PN 2 ... 81
5.3.3. Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah pada PN 3 ... 81
5.3.4. Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah pada PN 5 ... 81
5.3.5. Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah pada PN 6 ... 82
5.3.6. Harmonisasi Belanja Pusat-Daerah pada PN 7 ... 82
BAB VI ANALISIS TEMATIK 6.1 Pendahuluan ... 82
6.1.1 Latar Belakang ... 82
6.1.2. Tujuan dan Ruang Lingkup ... 83
6.1.3. Metode Analisis ... 84
6.2. Perkembangan IPM dan Belanja Pemerintah ... 84
6.2.1. Indeks Pembangunan Manusia... 84
6.2.2. Belanja Pemerintah untuk Meningkatkan IPM ... 87
6.2.3. Belanja Daerah Menurut Fungsi Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi ... 90
6.3. Analisis dan Pembahasan ... 91
6.4. Simpulan dan Saran ... 95
6.4.1. Simpulan ... 95
6.4.2. Rekomendasi ... 95
BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI... 96
7.1. Kesimpulan ... 96
7.2 Rekomendasi ... 99 DAFTAR PUSTAKA...
LAMPIRAN ...
Tabel 1.1 Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan Daerah sesuai RPJMD 2017-2022 ...
Tabel 1.2 Sasaran Indikator Kinerja Pembangunan Daerah DIY...
Tabel 1.3 Proyek Program Strategis DIY ...
Tabel 2.1 PDRB DIY ADHB dan dan ADHK Dari Sisi Pengeluaran Tahun 2019-2021 (dalam
Triliun) ...
Tabel 2.2 PDRB DIY ADHB dan ADHK Dari Sisi Lapangan Usaha 2019-2021 (dalam juta Rupiah) ...
Tabel 2.3 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) D.I Yogyakarta Periode September 2019 – September 2021 ...
Tabel 2.4 Realisasi Indikator Makro Provinsi DIY dan Nasional Tahun 2021 ...
Tabel 3.1 I-ACCOUNT REALISASI APBN DIY TAHUN 2019-2021 (dalam miliar rupiah) ...
Tabel 3.2 Perkembangan Penerimaan Perpajakan Pemerintah Pusat Tingkat Daerah
Istimewa Yogyakarta 2019-2021(dalam miliar rupiah) ...
Tabel 3.3 Pajak Sektoral dan PDRB Per Jenis Lapangan Usaha Daerah Istimewa
Yogyakarta Tahun 2020 dan 2021 (dalam juta rupiah) ...
Tabel 3.4 Penerimaan PNBP Pemerintah Pusat per Jenis PNBP Tingkat DIY, Tahun 2019- 2021 (dalam miliar rupiah) ...
Tabel 3.5 Perkembangan Pagu dan Realisasi Berdasarkan Jenis Belanja di DIY (dalam miliar rupiah) ...
Tabel 3.6 Perkembangan Pagu dan Realisasi Berdasarkan Bagian Anggaran Di D.I
Yogyakarta (dalam Miliar Rupiah) ...
Tabel 3.7 Perkembangan Pagu dan Realisasi Berdasarkan Fungsi di D.I.Yogyakarta (dalam miliar Rupiah) ...
Tabel 3.8 Perkembangan Anggaran dan Realisasi Dana Transfer DIT Tahun 2019-2021 (dalam miliar Rupiah) ...
Tabel 3.9 Perbandingan Anggaran dan Realisasi Dana Alokasi Umum DIY dan Nasional 2019- 2021 (dalam miliar rupiah) ...
Tabel 3.10 Perbandingan Anggaran dan Realisasi Dana Bagi Hasil DIY dan Nasional 2019- 2021 (dalam miliar rupiah) ...
Tabel 3.11 Perbandingan Anggaran dan Realisasi Dana Alokasi Khusus DIY dan Nasional 2019-2021 (dalam miliar rupiah) ...
Tabel 3.12 Perbandingan Anggaran dan Realisasi DAK Non Fisik DIY dan Nasional 2019- 2021 (dalam miliar rupiah) ...
Tabel 3.13 Perbandingan Anggaran dan Realisasi DID, Dana Otonomi Khusus dan Dana Keistimewaan DIY dan Nasional 2019-2021 (dalam miliar rupiah) ...
Tabel 3.14 Perbandingan Anggaran dan Realisasi Dana Desa DIY dan Nasional 2019-2021 (dalam miliar rupiah) ...
Daftar Tabel
Tabel 3.15 Perkembangan Surplus/Defisit APBN di DIY Tahun 2019-2021 (dalam miliar
rupiah) ...
Tabel 3.16 Perkembangan peneglolaan asset satker blu di diy ...
Tabel 3.17 Perkembangan pagu satker blu di diy ...
Tabel 3.18 Profil dan jenis layanan satker pengelola pnbp ...
Tabel 3.19 Potensi satker pnbpmenjadi satker blu tahun 2021 ...
Tabel 3.20 Perhitungan pemenuhan persyaratan teknis blu penyediaan barang/jasa ...
Tabel 3.21 Analisis kemandirian blu pusat D.I.Yogyakarta ...
Tabel 3.22 Realisasi penyaluran kredit usaha rakyat ...
Tabel 3.23 Realisasi penyaluran pembiayaan umi per kabupaten/kota ...
Tabel 3.24 Realisasi APBD lingkup provinsi ...
Tabel 3.25 Indeks kemandirian fiscal pemda ...
Tabel 3.26 Profil Aset BLUD Provinsi DIY Tahun 2019-2021 ...
Tabel 3.27 Profil APBD prov DIY...
Tabel 3.29 Profil asset blud ...
Tabel 4.1 Analisis Shift Share menurut Lapangan Usaha di DIY Berdasarkan Pertumbuhan Regional,Perrtumbuhan Proporsional dan Pertumbuhan Pangsa Wilayah, Tahun 2014-2021 ...
Tabel 4.2 Nilai LQ menurut lapangan Usaha di DIY Tahun 2014-2021 ...
Tabel 4.3 Alokasi Anggaran APBN dalam Sektor Informasi dan Komunikasi ...
Tabel 4.4 Dukungan Alokasi Anggaran APBD terhadap Sektor Unggulan Daerah Sektor Informasi dan Komunikasi ...
Tabel 4.5 Alokasi Anggaran APBN dalam Sektor Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum ...
Tabel 4.6 Alokasi Anggaran APBD dalam sector Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum ....
Tabel 6.1 Angka Partisipasi Sekolah (APS) DIY 2019-2021 ...
Tabel 6.2 Capaian Output Strategis Bidang Kesehatan Periode Tahun 2021 ...
Tabel 6.3 Capaian Output Strategis Bidang Pendidikan Periode Tahun 2021 ...
Tabel 6.4 Perkembangan Pagu Realisasi dan Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah Fungsi Pendidikan ...
Tabel 6.5 Perkembangan Pagu, Realisasi, dan Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah
Fungsi Kesehatan...
Tabel 6.6 Perkembangan Pagu, Realisasi, dan Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah
Fungsi Ekonomi ...
Tabel 6.7 Koefisien Determinasi (Uji R2) ...
Tabel 6.8 Uji t ...
Tabel 6.9 Uji F ...
Tabel 6.10 Pengaruh Belanja Fungsi Pendidikan (X1), Fungsi Kesehatan dan Fungsi Ekonomi Terhadap IPM DIY Tahun 2017-2021 ...
Grafik 2.1 Laju Pertumbuhan PDRB (y-on-y) DIY 2019-2021 ... 10
Grafik 2.2 Laju Pertumbuhan PDRB (q-to-q) DIY 2019-2021 ... 10
Grafik 2.3 Kontribusi Konsumsi RT Terhadap PDRB ADHB DIY Tahun 2019-2021 ... 11
Grafik 2.4 Kontribusi Investasi (PMTB+Inventori) Terhadap PDRB ADHB DIY Tahun 2019- 2021 ... 11
Grafik 2.5 Kontribusi Konsumsi Pemerintah Terhadap PDRB ADHB DIY Tahun 2019-2021 .... 11
Grafik 2.6 Perkembangan Pangsa Distribusi dan Laju Pertumbuhan Industri Pengolahan Tahun 2019-2021 ... 13
Grafik 2.7 Perkembangan Pangsa Distribusi dan Laju Pertumbuhan Infokom Tahun 2019- 2021 ... 13
Grafik 2.8 Perkembangan Pangsa Distribusi dan Laju Pertumbuhan Konstruksi Tahun 2019- 2021 ... 14
Grafik 2.9 Perkembangan PDRB Per Kapita DIY dan PDB Per Kapita Nasional Tahun 2019- 2021 ... 14
Grafik 2.10 BI-7 Day Reserve Repo Rate dan Laju Inflasi DIY 2019 – 2021 ... 15
Grafik 2.11 BI-7 Day RR dan Rata-rata Suku Bunga Kredit 2019-2021 ... 15
Grafik 2.12 Perkembangan Laju Inflasi Bulan DIY-Nasional Periode 2019-2021 (Dalam Persen)... 16
Grafik 2.13 Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Valuta Asing Dollar AS Per Bulan tahun 2021 ... 17
Grafik 2.14 IPM 2021 ... 18
Grafik 2.15 Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin di DIY Periode September 2019 s.d September 2021 ... 19
Grafik 2.16 Persentase Penduduk Miskin di Pulau Jawa Tahun 2021 ... 20
Grafik 2.17 Perkembangan Rasio Gini DIY Periode September 2019 s.d September 2021 ... 22
Grafik 2.18 Distribusi Pengeluaran Penduduk DIY September 2019 S.D September 2020 ... 22
Grafik 2.19 Komposisi Penduduk Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan ... 23
Grafik 2.20 Komposisi Penduduk Bekerja Menurut Kegiatan Formal/Non Formal ... 24
Grafik 2.21 Perkembangan TPT Menurut Kabupaten/Kota di DIY Agustus 2019-Agustus 2021 . 24 Grafik 2.22 Struktur Tenaga Kerja Terdampak Covid-19 di DIY ... 25
Grafik 2.23 Perkembangan NTP DIY Tahun 2019-2021 ... 25
Grafik 2.24 Perkembangan NTN DIY Tahun 2019-2021 ... 26
Grafik 3.1 Kontribusi Komponen Perpajakan Terhadap Pendapatan Negara Tahun 2019 - 2021 di DIY ... 31
Grafik 3.2 Kontribusi Penerimaan Perpajakan Terhadap Pendapatan Negara Tahun 2019 - 2021 di DIY (dalam triliun rupiah) ... 31
Daftar Grafik
Grafik 3.3 Perbandingan Target dan Realisasi PNBP di DIY, Tahun 2019-2021 (Triliun
Rupiah) ... 33
Grafik 3.4 Perkembangan Pagu,Realisasi dan Penyerapan Belanja Pemerintah Pusat di DIY Tahun 2019-2021 ... 34
Grafik 3.5 Pendapatan Transfer dari Pem.Pusat 2019-2021 ... 44
Grafik 3.6 Belanja Operasi Prov DIY Tahun 2019-2021 ... 45
Grafik 3.7 Belanja Modal Prov DIY 2019-2021 ... 46
Grafik 3.8 Belanja Tidak Terduga Prov DIY 2019-2021 ... 46
Grafik 3.9 Belanja Transfer Prov DIY Tahun 2019-2021... 47
Grafik 3.10 Perkembangan Kontribusi Komponen Pendapatan Konsolidasian 2019-2021 ... 47
Grafik 3.11 perkembangan kontribusi komponen belanja konsolidasian 2019-2021 ... 49
Grafik 3.12 Pajak Perkapita Konsolidasian Per Kab/Kota Tahun 2021 ... 48
Grafik 3.11 Perkembangan kontribusi komponen pendapatan konsolidasian 2019-2021 ... 49
Grafik 3.12 Perkembangan Pajak Per Kapita di DIY 2019-2021 ... 49
Grafik 3.13 Perkembangan Kontribusi Komponen Belanja Konsolidasian 2019-2021 ... 49
Grafik 3.12 Perkembangan Belanja Per Kapita di DIY 2019-2021 ... 49
Grafik 4.1 Kontribusi terhadap PDRB DIY 2021 (%) ... 57
Grafik 4.2 Tingkat Pertumbuhan DIY 2021 (%) ... 57
Grafik 4.3 Rata-Rata Konsumsi Rumah Tangga untuk Telekomunikasi DIY (Ribu Rupiah) ... 58
Grafik 4.4 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki/Menguasai Telepon Seluler, Kommputer, dan Telepon Tetap Kabel DIY 2015-2020 ... 58
Grafik 4.5 Kontribusi Sektor Unggulan terhadap Ketenagakerjaan Tahun 2021 ... 59
Grafik 4.6 Kontribusi Sektor Informasi dan Komunikasi Terhadap Pendapatan Negara ... 60
Grafik 4.7 Kontribusi Sektor Unggulan terhadap Ketenagakerjaan Tahun 2021 ... 61
Grafik 4.8 Perkembangan TPK Hotel Bintang di DIY dan Indonesia tahun 2019-2021 (Persen) 62 Grafik 4.9 Perkembangan LOS Bulanan Hotel Bintang di DIY ,Tahun 2019-2021 (Hari) ... 63
Grafik 4.10 Perkembangan LOS Bulanan Hotel Non Bintang di DIY,Tahun 2019-2021 (Hari) .. 63
Grafik 4.11 Jumlah Wisatawan ke DIY , Tahun 2016-2021 (Ribu Orang) ... 64
Grafik 4.12 Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Obyek Wisata DIY Tahun 2016-2020 (Ribu Orang) 64 Grafik 4.13 Kontribusi Sektor Akomodasi Makan Minum Terhadap Ketenagakerjaan Tahun 2021 ... 64
Grafik 4.14 Kontribusi Sektor Potensial Daerah Terhadap Pendapatan Negara ... 65
Grafik 4.14 Kontribusi Sektor Potensial Daerah Tahun 2019 sd 2021... 65
Grafik 6.1 Perkembangan IPM DIY dan Nasional Tahun 2012-2021 ... 53
Grafik 6.2 Perkembangan Umur Harapan Hidup (UHH) DIY Tahun 2017-2021 ... 53
Grafik 6.3 Perkembangan Harapan Lama Sekolah(HLS) DIY Tahun 2016-2021 ... 53
Grafik 6.4 Perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) DIY dan Nasional Tahun 2012- 2021 ... 53
Grafik 6.5 Perkembangan Paritas Daya Beli Masyarakat DIY Tahun 2016-2021 ... 53
Grafik 6.6 Proporsi Alokasi Fungsi Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Terhadap Total
Pagu K/L DIY Tahun 2016-2020 ... 53 Grafik 6.7 Perkembangan Realisasi dan Pertumbuhan Belanja K/L Fungsi Pendidikan DIY
Tahun 2016-2020 ... 53 Grafik 6.8 Perkembangan Realisasi dan Pertumbuhan Belanja K/L Fungsi Kesehatan DIY
Tahun 2016-2020 ... 53 Grafik 6.9 Perkembangan Realisasi dan Pertumbuhan Belanja K/L Fungsi Ekonomi DIY
Tahun 2016-2020 ... 53 Grafik 6.10 Proporsi Alokasi Fungsi Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Terhadap Total
Pagu APBD DIY Tahun 2016-2020 ... 53
KAJIAN FISKAL REGIONAL
Tahun
D.I.YOGYAKARTA
Eksekutif
Ringkasan
I. Kondisi Daerah (Ekonomi, Sosial, Wilayah), Sasaran Pembangunan dan Tantangan yang dihadapi Daerah
Tema RKPD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2021 adalah “Penguatan SDM Unggul dan Percepatan Pemulihan Sosial Ekonomi Masyarakat DIY”. Sejalan dengan tema tersebut, maka maka tujuan prioritas pembangunan DIY adalah : (1) Penguatan SDM Unggul, (2) Aktivitas Perekonomian yang Berkelanjutan, (3) Penguatan Infrastruktur Strategis, dan (4) Pendukung Prioritas Pembangunan.
Dalam mencapai tujuan pembangunan sebagaimana tersebut diatas, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY menghadapi sejumlah tantangan. Dari sisi ekonomi, Pemda DIY dihadapkan pada tingginya angka kemiskinan dan indeks Gini. Dari sisi Sosial Kependudukan permasalahan yang dihadapi adalah alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan permukiman/real estate sedang marak di DIY beberapa tahun ini, terutama daerah perkotaan. Selain itu, kondisi geografis DIY yang merupakan daerah dengan potensi terdampak bencana yang besar (gunung meletus, gempa dan tsunami) merupakan tantangan Pemda DIY dari sisi geografi wilayah, sehingga dalam merencanakan pembangunan wilayah, Pemda DIY harus tetap memperhatikan risiko bencana serta dilakukan mitigasi bencana. Memasuki awal tahun 2021, Pemerintah dan masyarakat global masih menghadapi pandemi Covid-19 yang belum mereda. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (disingkat dengan PPKM) yang merupakan kebijakan Pemerintah Indonesia sejak awal tahun 2021 untuk menangani pandemi Covid-19 di Indonesia sebagai pengganti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang berlangsung di sejumlah wilayah di Indonesia, berpengaruh pada penurunan aktifitas perekonomian.
Yang pada akhirnya berdampak terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat, menjadikan hal ini sebagai kondisi yang extraordinary sehingga memerlukan penanganan dan langkah kebijakan yang extraordinary namun tetap akuntabel.
II. Perkembangan Indikator Ekonomi Makro dan Kesejahteraan
Ekonomi DIY kembali menggeliat seiring dengan mulai adanya aktivitas masyarakat.
Seiring dengan dilonggarkannya PPKM di Triwulan I dan IV 2021 mengakibatkan pertumbuhan ekonomi DIY secara kumulatif mengalami pertumbuhan yang positif.
Pertumbuhan ekonomi yang positif ini mencerminkan kinerja pemerinta daerah dalam merespon kebijakan Pemerintah pusat antara lain kebijakan countercyclical di masa pandemi COVID-19 dan kebijakan struktural di tingkat pusat maupun daerah. Tren pertumbuhan ekonomi positif menciptakan optimisme bagi proses pemulihan ekonomi tingkat regional.
Ringkasan Eksekutif
Capaian berbagai indikator yang menggambarkan aspek kesejahteraan rakyat di DIY berada pada kondisi yang baik. Sebagian besar angkanya berada di atas level nasional.
Perkembangan indikator Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) triwulan IV- 2021 mencapai Rp38,81 triliun dan Atas Dasar Harga konstan 2010 mencapai Rp27,46 triliun. Perekonomian DIY selama 2021 tumbuh sebesar 5,53 persen (c-to-c). Kondisi ini lebih baik jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 2,68 persen. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha jasa lainnya dan hanya dua lapangan usaha yang mengalami kontraksi. Sementara dari sisi pengeluaran, semua komponen tumbuh positif, kecuali net ekspor antar daerah. Sedangkan secara year on year (y-on-y) perekonomian DIY tumbuh sebesar 2,82 persen dan tumbuh sebesar 3,68 persen (q-to-q)
Struktur ekonomi DIY tahun 2021 didominasi oleh lapangan usaha industri pengolahan, informasi dan komunikasi, dan konstruksi. Sementara dari sisi pengeluaran, pengeluaran konsumsi rumah tangga masih mendominasi dengan kontribusi 64,32 persen, disusul oleh pembentukan modal tetap bruto 32,83 persen, dan pengeluaran konsumsi pemerintah 15,45 persen.
Tingkat Inflasi di wilayah DIY pada tahun 2021 pada level 2,29 persen, sesuai dengan sasaran inflasi yang ditetapkan pada 3±1 persen (yoy). Sepanjang tahun 2021, inflasi tertinggi terjadi di bulan Desember yang mencapai 0,71 persen. Inflasi tersebut disebabkan oleh kombinasi dari tarikan permintaan (demand pull) maupun dorongan penawaran (cost push). Secara umum tarikan permintaan pada Desember 2021 mengalami lonjakan, utamanya pada saat hari raya natal dan tahun baru, sehingga mendorong naiknya volatile food di DIY. Dari sisi dorongan penawaran, faktor kenaikan harga energi global mulai berimbas pada harga komoditas dalam negeri (imported inflation). Beberapa komoditas seperti minyak goreng (5,5%; mtm) dan bahan bakar rumah tangga (1,2%; mtm) tercatat mengalami peningkatan di akhir 2021.
Terkait angka kemiskinan, persentase penduduk miskin DIY tercatat selalu berada di atas rata-rata Nasional. Persentase penduduk miskin di DIY yang sebesar 11,91 persen per September 2021, berada pada posisi 11 dari 34 provinsi di Indonesia. Dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa, DIY menjadi provinsi dengan angka persentase kemiskinan terbesar. Dengan berbagai skema bantuan Pemerintah yang diberikan untuk masyarakat, laju kemiskinan di Wilayah DIY diharapkan lebih dapat ditekan lagi.
Indeks Gini di DIY periode September 2021 tercatat 0,436, berada diatas rata-rata Nasional yang sebesar 0,381. Capaian tersebut menempatkan DIY sebagai provinsi dengan tingkat ketimpangan tertinggi di Indonesia. Di masa Pandemi Covid-19, terlihat bahwa peningkatan rasio gini di Kawasan perkotaan lebih besar daripada perdesaan.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) DIY kondisi Agustus 2021 sebesar 4,56 persen, meningkat 0,01 poin berbasis persen dibanding TPT Agustus 2020. Angka ini lebih rendah dari TPT Nasional kondisi Agustus 2021 (7,29 persen). Wilayah dengan TPT
tertinggi adalah Kota Yogyakarta (9,13 persen).
Nilai Tukar Petani DIY terus mengalami penurunan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, Di tahun 2021 NTP DIY tercatat sebesar 97,38, Kembali menurun jika dibandingkan rata-rata tahun 2020 (101,52) dan tahun 2019 yang sebesar 102,57.
Pandemi Covid-19 menyebabkan hasil panen tidak terserap secara maksimal di pasaran.
Turunnya daya beli masyarakat, adanya pembatasan sosial berskala besar, dan faktor kelancaran distribusi menjadi penyebab turunnya NTP di tahun 2021
Nilai Tukar Nelayan (NTN) rata-rata NTN DIY tahun 2021 sebesar 115,83, meningkat signifikan jika dibandingkan ratarata tahun 2020 (106,66) dan tahun 2019 (101,9) Pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan bagi nelayan berupa: (i) insentif jaring pengaman sosial berbentuk bantuan sosial, PKH, bantuan sosial tunai, BLT Desa, paket sembako dan subsidi listrik gratis, (ii) subsidi bunga kredit, (iii) stimulus modal kerja, dan (iv) instrumen kebijakan non fiskal berupa kelancaran supply chain dengan menyediakan sarana produksi perikanan.
III. Perkembangan dan Pengaruh Fiskal di Daerah (APBN dan Daerah) – Program dan Output Strategis di Daerah
Membaiknya perekonomian di DIY tahun 2021 mempengaruhi penerimaan perpajakan. Realisasi pendapatan negara hingga 31 Desember 2021 sebesar Rp 7,46 triliun atau 96,07 persen dari target APBN 2021 yang sebesar Rp 7,77 triliun atau tumbuh 2,62 persen dibandingkan dengan tahun 2020. Penerimaan pajak menjadi kontributor utama sebesar 65,84 persen diikuti PNBP 34,15 persen dan hibah 0,01 persen. PPh masih masih mendominasi penerimaan perpajakan, sedangkan sumber utama PNBP berasal dari Penerimaan BLU. Sementara itu, penerimaan cukai dan bea masuk mencapai Rp 486,86 miliar atau 107,1 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN 2021 sebesar Rp454,5 miliar.
Dari sisi belanja, realisasi APBN sampai dengan 31 Desember 2021 berasal dari realisasi Belanja Pemerintah Pusat yang mencapai 12,06 triliun (98,85 persen), naik sebesar 19,79 dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama di tahun 2020, realisasi Belanja Pemerintah Pusat tertinggi adalah Belanja pegawai Rp4.575,31 miliar diikuti oleh Belanja Barang Rp3,89 triliun, Belanja Modal Rp3,22 triliun, Belanja Bansos Rp16,04 miliar. Adapun Realisasi Transfer ke Daerah dan Dana desa telah terealisasi 100,56 persen dari pagu (Rp10,12 triliun) dengan rincian realisasi Dana Alokasi Umum (DAU) Rp5,19 triliun (100 persen) realisasi Dana Bagi Hasil (DBH) mencapai Rp381,55 miliar (155 persen). Realisasi Dana Transfer Khusus terdiri dari DAK Fisik Rp570,30 miliar (89,88) dan DAK Non Fisik Rp1,93 triliun (99,23 persen), dan realisasi Dana Otonomi Khusus Keistimewaan Rp1,320 miliar (100 persen) dan Dana Insentif Daerah (DID) Rp326,02 miliar (100 persen) serta Dana desa Rp460,45 miliar (100 persen). Adapun realisasi Dana Bagi Hasil (DBH) melebihi pagu karena adanya kelebihan pembayaran
pajak daerah tahun sebelumnya (tahun 2019) yang dibayarkan di tahun 2021.
Terdapat kenaikan defisit di tahun 2021 sebesar 14,15 persen ( Rp14,79 triliun).
Adanya kenaikan realisasi belanja negara sebesar 10 persen hanya diimbangi kenaikan pendapatan sebesar 2,62 persen sehingga menyumbang kenaikan defisit tersebut.
Kenaikan belanja tersebut dikarenakan efek belanja modal yang bersifat multiyears yang merupakan efek refocusing belanja di tahun 2020 serta kebijakan akselerasi belanja K/L tahun 2021untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun 2021 meningkat sebesar Rp 2,06 triliun (54,71 persen) dan 30.514 debitur (24,30 persen) dibandingkan dengan tahun 2020.
Hal ini menunjukkan bahwa para pelaku usaha di DIY memanfaatkan KUR untuk meningkatkan produktivitas usaha terutama di masa pandemi Covid-19 ini untuk menjembatani percepatan pemulihan ekonomi
Penyaluran Kredit Ultra Mikro (Kredit UMi) tahun 2021 di wilayah DIY mengalami penurunan sebesar 38,92 persen dibanding penyaluran di tahun 2020. Penerapan PPKM level 4 di DIY sangat berdampak terhadap capaian penyaluran UMi karena Sebagian besar debitur dan calon debitur UMi adalah level usaha mikro yang sangat berpengaruh omsetnya dengan adanya PPKM. Selain itu adanya kebijakan skema kredit Supermikro yang disalurkan perbankan
Terkait kinerja APBD, dalam kurun waktu 3 tahun 2019-2021 Pendapatan Asli Daerah (PAD) mengalami fluktuasi, dimana pada tahun 2019 mencapai Rp4,74 triliun sementara pada tahun 2020 mengalami penurunan 11,64 persen menjadi Rp 4,19 triliun dan di tahun 2021 mengalami kenaikan 2,5 persen dibanding tahun 2020 menjadi Rp4,30 triliun. Fluktuasi penerimaan ini dipengaruhi dengan adanya Pandemi COVID-19 yang mulai masuk di Indonesia per Maret 2020 yang berdampak pada kegiatan masyarakat dengan kebijakan penerapan Work From Home dan Study at Home . Hal tersebut sedikit banyak hal ini mempengaruhi Pajak Daerah dikarenakan banyak bidang usaha yang menutup kegiatan usahanya
Selama kurun waktu tahun 2019-2021, pendapatan transfer dari Pemerintah Pusat merupakan penyumbang kontribusi paling tinggi terhadap Pendapatan Daerah dengan porsi 67 persen dari total pendapatan Daerah. Pendapatan transfer di tahun 2021 sebesar Rp 9,78 triliun secara persentase sedikit mengalami penurunan sekitar 0,04 persen dibanding tahun 2020
Surplus/defisit APBD Pada tahun 2021 surplus APBD sebesar Rp 666,93 miliar naik 19,52 persen dibandingkan tahun 2020. Surplus APBD secara umum disebabkan karena pendapatan daerah lebih besar dari belanja daerah. Hal ini membuktikan semakin menguatkan adanya fenomena dana idle yang terjadi di daerah.
Dari sisi belanja konsolidasian, Realisasi belanja dan transfer konsolidasian DIY tahun 2021 mencapai Rp27,53 triliun, yang terdiri dari belanja pemerintah pusat/daerah sebesar Rp26,44 triliun (96,06 persen) dan transfer sebesar Rp1,08 triliun (0,04 persen).
Dari hasil perbandingan nilai Pengeluaran Konsumsi Pemerintah dengan PDRB dan perbandingan nilai Investasi pemerintah dengan PDRB, diketahui kontribusi pemerintah terhadap PDRB DIY pada tahun 2021 sebesar 11,64 persen, menurun jika dibandingkan dengan tahun 2020 yang sebesar 12,33 persen dan tahun 2019 yang sebesar 12,81 persen. Sedangkan kontribusi Pemerintah terhadap PDRB dari Investasi yang sebesar 3,30 persen, meningkat jika dibanding tahun 2020 yang sebesar 2,32 persen, namun masih lebih kecil dibanding kontribusi pemerintah di tahun 2019 yang mencapai 3,44 persen. Dalam struktur pembentuk PDRB DIY Menurut Pengeluaran tahun 2021, kontribusi PMTB mencapai 32,83 persen. Dengan demikian kontribusi pemerintah terhadap PDRB dari Investasi yang sebesar 3,30 persen jika dibanding total kontribusi PMTB hanya sebesar 10,05 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sektor swasta mempunyai peran yang cukup besar dalam investasi di DIY.
IV. Sektor Unggulan dan Potensial Regional DIY
Berdasarkan laju pertumbuhan dan daya saing yang dimiliki, sektor-sektor unggulan di DIY adalah: i) Infokom, ii) Konstruksi, dan iii) Jasa Pendidikan. Sektor Informasi dan Komunikasi sebagai sektor unggulan daerah memberikan kontribusi dalam penyediaan lapangan kerja dengan menyerap sebesar 1,35 persen tenaga kerja, yaitu sebanyak 29.750 jiwa, dimana tahun 2021 telah tumbuh sebesar 7,54 persen, setelah tahun sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 14,26 persen karena pandemi Covid-19.
Sedangkan kontribusi terhadap pendapatan negara, sektor infokom berkontribusi sebesar 2,72 persen. Sedangkan sektor potensial DIY adalah Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum, Jasa Pendidikan dan Infokom. sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum memberikan kontribusi sebesar terhadap perekonomian DIY (9,16 persen) dan mampu tumbuh sebesar 7,55 persen selama tahun 2021 (c to c). Dari total 2,20 juta penduduk bekerja di DIY. Kontribusi Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum memberikan kontribusi sebesar 8,56 persen tenaga kerja, yaitu sebanyak 188.480 jiwa dalam penyerapan tenaga kerja, sedangkan terhadapa pendapatan negara dan daerah, sektor ini memberikan kontribusi sebesar 2,03 persen.
V. Harmonisasi Belanja Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
Berdasarkan hasil analisa atas harmonisasi belanja kementerian lembaga dengan DAK Fisik, DAN Non Fisik dan Dana Desa dapat ditarik kesimpulan bahwa belanja telah selaras.
Salah satu contoh dalam bidang Jalan, dimana belanja KL diperuntukkan pada Jalan dengan status Jalan Nasional / penghubung antar Provinsi dan Proyek Strategis Nasional (PSN) sementara untuk DAK Fisik dan Dana Desa diperuntukkan pada status jalan antar / dalam kabupaten serta jalan permukiman yang ada di desa.
Untuk DAK Non Fisik dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan seperti pembayaran BOS serta Tunjangan Profesi Guru pada PNS Daerah. Sejauh ini
pelaksanaan kegiatan telah berjalan sesuai dengan kewenangan yang ada. Sebagai contoh pada penyaluran Dana BOS, ada yang disalurkan melalui Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama dimana penyaluran yang di bawah Kementerian Pendidikan disalurkan langsung dari RKUN ke Rekening Sekolah sementara untuk yang di bawah kewenangan Kementerian Agama disalurkan melalui DIPA pada satker Kementerian Agama. Demikian pula dengan pemberian tunjangan profesi guru, untuk PNS Daerah disalurkan melalui DAK Non Fisik Dana TPG PNS Daerah dan Dana Tamsil melalui Rekening Kas Umum Daerah sementara yang terdapat pada satker Kementerian Agama disalurkan melalui DIPA satker.
VI. Analisis Tematik : Peran Fiskal dalam Peningkatan Kualitas SDM, Analisis Indeks Pembangunan Manusia.
Dalam mengukur suatu kesejahteraan masyarakat, terdapat beberapa indikator yang umum digunakan, salah satunya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Peran pemerintah sebagai penyusun kebijakan sangat dibutuhkan untuk memberi kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidup melalui keterlibatan masyarakat dalam pembangunan. Terkait hal tersebut, perlu dianalisis pengaruh dari realisasi belanja pemerintah, yang direpresentasikan dengan variabel Belanja Fungsi Pendidikan, Fungsi Kesehatan dan Fungsi Ekonomi serta variabel Dana Alokasi Khusus sektor Pendidikan dan Kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di DIY.
Dengan menggunakan metode analisis regresi berganda, diperoleh hasil bahwa ; (i) Belanja Pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap IPM, artinya jika belanja pendidikan ditingkatkan maka akan meningkatkan nilai IPM di DIY, (ii) Belanja Kesehatan berpengaruh positif namun tidak nyata terhadap IPM, artinya besar pengeluaran belanja pemerintah bidang kesehatan ternyata belum berpengaruh secara nyata dalam peningkatkan IPM di DIY.; (iii) Belanja Ekonomi berpengaruh positif namun tidak nyata terhadap IPM, artinya jika belanja pendidkan ditingkatkan maka akan meningkatkan nilai IPM di DIY.
VII. Rekomendasi Kebijakan
Terkait Analisis Sektor Unggulan dan Potensial : (i) Diperlukan adanya peningkatan Belanja yang Fokus pada Sektor Potensial Provinsi DIY yaitu sektor Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum melalui APBN (Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian) dan APBD melalui Dinas Kesehatan, DPKP, Disdikpora, DPUPESDM, Diskop, DP3AP2, Diskominfo, BPBD, Badan Kesbangpol, SatpolPP, Bahubda Biro Tapem, Taman Budaya, Museum Sono Budoyo, Biro Bina Bermas, Dispar, serta (ii) penerapan standar protokol kesehatan pada semua destinasi wisata secara kolaboratif dan berkelanjutan, mendorong operasionalisasi terbatas sektor pariwisata dengan penerapan protokol kesehatan secara terpadu, Penguatan pasar domestik atau wisatawan lokal dengan tetap penerapan protokol kesehatan secara ketat pada semua destinasi wisata dan komponen pendukungnya,
Penerbitan rekomendasi uji coba operasional terhadap destinasi wisata, Menumbuhkan dan merangsang MICE secara bertahap di wilayah DIY, Bekerjasama dengan lintas kewenangan secara kemitraan terkait reservasi online (Visiting Jogja), dan (iii) melakukan dinamisasi pasar, dan Perbaikan skema pembinaan pada KUMKM agar naik kelas, melalui revitalisasi SiBAKUL-JOGJA, serta melakukan kolaborasi lintas sektoral, lintas kewenangan, dan lintas kepentingan.
Terkait Harmonisasi Belanja Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, direkomendasikan : (i) Perlunya keselarasan antara RPJMN dengan implementasi rincian kegiatan yang dapat dikategorikan dalam prioritas nasional, (ii) Perlunya mitigasi resiko untuk optimalisasi capaian output terkait adanya kegiatan dengan capaian output lebih rendah dibanding capaian realisasi belanjanya serta memperhitungkan kejadian force major untuk kegiatan yang memiliki resiko tinggi
Terkait analisis Tematik : Peran Fiskal dalam Peningkatan Kualitas SDM, Analisis Indeks Pembangunan Manusia, atas kondisi tersebut diberikan rekomendasi : (i) Diharapkan pemerintah baik pusat maupun daerah DIY untuk mengalokasikan lebih besar belanja pada fungsi kesehatan dan ekonomi, (ii) Isu terkait IPM adalah disparitas/ketimpangan pendapatan dan kemiskinan. Terkait hal tersebut perlu adanya penguatan sinergi antara pemerintah pusat, pemda dan pemerintah desa untuk memetakan, atau memutakhirkan data kemiskinan secara partisipatif yang mencerminkan aspek pendapatan dan pengeluaran rumah tangga sampai level desa, peningkatan efektivitas kebijakan, program, dan anggaran yang berorientasi pada pemerataan akses masyarakat terhadap kesempatan kerja dan kebijakan pengupahan yang layak dan berpihak pada kelompok marjinal, memacu pembangunan dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di daerah pinggiran dan berbasis pedesaan. Selanjutnya diharapkan Pemda dapat mengurangi simpanan di perbankan dan menggunakan dana tersebut untuk belanja daerah, serta perlunya menemukan peluang untuk membuka lapangan usaha baru dalam sektor industri, meningkatkan kerja sama dengan perusahaan pemerintah di wilayah Provinsi DIY, dan membangun perusahaan-perusahaan lokal dengan orientasi ekspor untuk meningkatkan pendapatan daerah serta menekan angka ketimpangan pendapatan.
KAJIAN FISKAL REGIONAL
Tahun
D.I.YOGYAKARTA
Sasaran Pembangunan
& Tantangan Daerah
Bab I
1.1. PENDAHULUAN
Tujuan utama penyelenggaraan pemerintahan baik di tingkat pusat maupun di daerah adalah untuk mewujudkan keselarasan antara pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata. Oleh sebab itu, untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan yang baik maka harus disertai dengan unsur pendanaan yang berasal dari penghimpunan pendapatan maupun dari pengalokasian anggaran belanja baik pada APBN maupun APBD.
Sesuai dengan Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003, pemegang kekuasaan tertinggi pengelolaan keuangan negara adalah Presiden, sedangkan di daerah adalah Gubernur/
Bupati/ Walikota, oleh karena itu dalam tataran implementasi kebijakan fiskal di daerah, maka diperlukan sinergi dan harmonisasi kebijakan serta pengelolaan keuangan pusat dan daerah agar tujuan dan sasaran pembangunan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Selanjutnya, kebijakan fiskal sebagai alat pemerintah untuk mencapai sasaran pembangunan dan kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab pusat dan daerah dalam memastikan efektifitasnya. Dengan tiga fungsi utamanya sebagai alat alokasi, distribusi, dan stabilisasi, maka kebijakan fiskal yang efektif diharapkan mampu meningkatkan perbaikan dan kualitas indikator-indikator ekonomi makro dan kesejahteraan di daerah. Oleh karena itu, kebijakan fiskal yang efektif dapat terlihat dari perbaikan-perbaikan indikator makro ekonomi dan indikator-indikator kesejahteraan.
Tidak terlepas dari hal tersebut, maka hal pertama yang harus menjadi dasar bagi perumusan kebijakan fiskal yang efektif dan efisien adalah daerah harus memetakan terlebih dahulu tantangan-tantangan daerah yang dihadapi baik dari sisi ekonomi, sosial- kependudukan, serta tantangan wilayahnya, sehingga intervensi kebijakan fiskal melalui program prioritas dapat langsung menjawab tantangan daerah yang dihadapi.
1.2. TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH
Guna menjamin keselarasan dan sinkronisasi antar tahapan pembangunan, disusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) serta Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
RPJPD merupakan suatu dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun yang digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana
BAB I
Sasaran Pembangunan dan Tantangan Daerah
Dalam tataran implementasi kebijakan fiskal di daerah, diperlukan sinergi dan harmonisasi kebijakan serta pengelolaan keuangan pusat dan daerah agar tujuan dan sasaran pembangunan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk setiap jangka waktu 5 (lima) tahun. Setelah RPJMD ditetapkan, pemerintah daerah menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang merupakan penjabaran dari RPJMD untuk jangka waktu 1 tahun dengan mengacu pada RPJMD.
1.2.1. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sebagai satu kesatuan perencanaan daerah yang utuh, RPJMD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tahun 2017-2022 sebagaimana tertuang pada Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2018 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2017-2022, RPJMD DIY merupakan irisan sebagai salah satu tahapan untuk mewujudkan tujuan perencanaan pembangunan jangka panjang Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu mewujudkan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Tahun 2025 sebagai Pusat Pendidikan, Budaya, dan Daerah Tujuan Wisata Terkemuka di Asia Tenggara dalam lingkungan Masyarakat yang Maju, Mandiri dan Sejahtera.
Atas dasar hal tersebut, di dalam perencanaan jangka menengah Tahun 2017-2022 perlu dirumuskan Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran pembangunan jangka menengah yang mampu mewujudkan cita-cita pembangunan jangka panjang DIY, terutama dengan mewujudkan program/ kegiatan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Hal ini tentu juga tidak bisa dilepaskan dari tujuan keistimewaan sebagaimana tertuang di dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 yang salah satunya adalah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui semangat keistimewaan hamemayu hayuning bawana, sangkan paraning dumadi dan manunggaling kawula gusti.
RPJMD DIY 2017-2022 sebagai terjemahan dari visi dan misi Gubernur DIY periode 2017- 2022, dalam penyusunannya berpedoman pada RPJM Nasional Tahun 2015-2019. Visi Gubernur DIY pada periode 2017-2022 mengambil Tema “Menyongsong Abad Samudera Hindia untuk Kemuliaan Martabat Manusia Jogja”. Tema visi tersebut menggambarkan makna pembangunan yang ingin dicapai oleh Pemerintah DIY pada tahun 2017–2022.
Visi politis tersebut kemudian diselaraskan dengan data-data maupun analisa teknokratik untuk dapat dicapai melalui upaya-upaya yang tergambarkan dalam misi. Rumusan misi Gubernur DIY dalam RPJMD dikembangkan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis, baik eksternal dan internal yang mempengaruhi serta kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada dalam pembangunan daerah di DIY. Visi Gubernur DIY dapat diejawantahkan dalam dalam rumusan 2 (dua) misi pembangunan DIY tahun 2017–2022 sebagai berikut: 1) Meningkatkan Kualitas Hidup, Kehidupan Dan Penghidupan Masyarakat Yang Berkeadilan dan Berkeadaban. 2) Mewujudkan Tata Pemerintahan yang Demokratis.
RPJMD DIY merupakan irisan sebagai salah satu tahapan untuk mewujudkan tujuan perencanaan pembangunan jangka panjang DIY,
Mengacu pada visi dan misi yang telah ditetapkan, selanjutnya ditetapkan tujuan dan sasaran pembangunan daerah selama lima tahun. Rumusan tujuan dan sasaran merupakan dasar dalam menyusun pilihan-pilihan strategi pembangunan, sebagai berikut:
Tabel 1.1 Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan Daerah sesuai RPJMD 2017-2022 Visi : “Terwujudnya Peningkatan Kemuliaan Martabat Manusia Jogja”
No Misi Tujuan Pembangunan Daerah Sasaran Pembangunan Daerah
1. Meningkatkan Kualitas Hidup, Kehidupan Dan Penghidupan Masyarakat Yang Berkeadilan dan Berkeadaban
Meningkatnya kualitas hidup, kehidupan dan penghidupan masyarakat dengan tatanan sosial yang menjamin menjamin ke-bhineka- tunggal-ika-an dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia serta
mampu menjaga dan
mengembangkan budaya Yogyakarta
1) Meningkatnya Derajat Kualitas SDM.
2) Meningkatnya derajat ekonomi masyarakat.
3) Terpelihara dan berkembangnya Kebudayaan.
4) Meningkatnya aktivitas perekonomian yang berkelanjutan.
5) Menurunnya kesenjangan ekonomi antar wilayah.
2. Mewujudkan Tata Pemerintahan yang Demokratis
Terwujudnya reformasi Tata Kelola Pemerintahan yang baik (good governance)
1) Meningkatnya kapasitas tata kelola pemerintahan.
2) Meningkatnya Kapasitas Pengelolaan Keistimewaan.
3) Meningkatnya Pengelolaan dan pemanfaatan tanah Kasultanan, Kadipaten dan tanah desa
Sumber : RPJMD DIY 2017-2022
1.2.2. Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
Secara hierarki dan keterkaitan antar dokumen, tema pembangunan RPJMD DIY 2017- 2022 mempertimbangkan tema indikatif yang dirumuskan dalam RPJPD DIY 2005-2025.
Tema RKPD DIY tahun 2021 adalah “Penguatan SDM Unggul dan Percepatan Pemulihan Sosial Ekonomi Masyarakat DIY” dengan prioritas: 1) Penguatan SDM Unggul, 2) Aktivitas Perekonomian yang Berkelanjutan, 3) Penguatan Infrastruktur Strategis, 4) Pendukung Prioritas Pembangunan. Sejalan dengan RPJMD, maka Sasaran pembangunan DIY pada RKPD tahun 2021 adalah sebagai berikut :
Tabel 1.2. Sasaran Indikator Kinerja Pembangunan Daerah DIY
No Sasaran Indikator Tahun 2017
(Baseline)
Tahun 2018
Tahun 2019 Tahun 2020
Tahun 2021
Tahun 2022 1. Meningkatnya
Derajat Kualitas SDM
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
79,73 80,29 80,72 81,08 81,40 81,68 Indeks Pemberdayaan
Gender (IDG)
69,80 69,91 70,02 70,12 70,22 70,32 2. Meningkatnya
Derajat Ekonomi Masyarakat
Indeks GINI 0,440 0,3917 0,3846 0,3776 0,3705 0,3635 Persentase Angka
Kemiskinan (%)
12,36% 11,26% 9,78% 8,82% 7,85% 7,00%
3. Terpelihara dan Berkembangnya Kebudayaan
Persentase Peningkatan Jumlah Budaya Benda dan Tak benda yang diapresiasi (%)
10,98 % 11.46% 11.68% 11.72% 11.99% 12.04%
4. Meningkatnya Aktivitas
Perekonomian yang Berkelanjutan
Pertumbuhan Ekonomi 5,21% 5,24% 5,26% 5,29% 5,31% 5,34%
IKLH (Indeks Kualitas Lingkungan Hidup)
56,65 58,58 60,51 62,44 64,18 66,15 Persentase Kesesuaian
Pemanfaatan Ruang
75% 76.5% 78% 79.5% 81% 82.5%
Prioritas:
Pembangunan DIY 2021 : 1) Penguatan SDM Unggul, 2) Aktivitas Perekonomian yang
Berkelanjutan, 3) Penguatan Infrastruktur Strategis, 4) Pendukung Prioritas Pembangunan
No Sasaran Indikator Tahun 2017 (Baseline)
Tahun 2018
Tahun 2019 Tahun 2020
Tahun 2021
Tahun 2022 Capaian Penataan
Ruang Pada Satuan Ruang Strategis Keistimewaan
11.11% 21,11% 30,42% 40,69% 49,03% 54,44%
5. Menurunnya Kesenjangan Ekonomi Antar Wilayah
Indeks Williamson 0.4577 0,4559 0,4542 0,4524 0,4506 0,4489
6. Meningkatnya Kapasitas Tata Kelola Pemerintahan
Opini BPK WTP WTP WTP WTP WTP WTP
Nilai Akuntabilitas Pemerintah (AKIP)
A A A A A A
7. Meningkatnya Kapasitas Pengelolaan Keistimewaan
Persentase Capaian Sasaran Pelaksanaan Keistimewaan
N/A 65.22 73.91 82.61 86.96 91.30
8. Meningkatnya Pengelolaan dan Pemanfaatan Tanah Kasultanan, Kadipaten dan Tanah Desa
Bidang tanah kasultanan, kadipaten, dan tanah desa yang terfasilitasi untuk dikelola serta dimanfaatkan
5.369 7.919 9.419 13.419 17.619 21.877
Sumber : RPJMD DIY 2017-2022
Pada periode RPJMD 2017 -2022, target kinerja perekonomian DIY meningkat seiring dengan beberapa pembangunan terutama di sektor sarana dan prasarana yang didukung dengan beberapa proyek fisik besar. Beberapa proyek program strategis DIY sebagai berikut:
Tabel 1.3. Proyek Program Strategis DIY
No Kelompok Pembangunan Infrastruktur Rincian Kegiatan 1. Pembangunan Jalan dan Jembatan Pembangunan Jalur Jalan Lingkar Selatan (JJLS)
Pembangunan Jogjakarta Outer Ring Road (JORR) Pembangunan Jalan/Jembatan Prambanan – Gading Pembangunan Akses Bandara Internasional baru Pembangunan Akses Kawasan Industri Piyungan Bantul Pembangunan Underpass Gejayan, Monjali dan Kentungan Pengembangan Jalan Selokan Mataran
2. Penyediaan Air Baku Pembangunan Bendung Kamijoro
3. SPAM Regional Pembangunan Jaringan Distribusi Air Baku, Jaringan Distribusi Air Bersih dan Jaringan Distribusi Utama 4. Pembangunan Bandara Internasional baru Pembangunan Sisi Udara dan Sisi Darat Airport City 5. Pembangunan Stasiun Interchange Pengembangan Stasiun KA Palbapang, Stasiun Kedundang
dan Stasiun Pathukan
6. Pembangunan Terminal Angkutan Barang Pembangunan Terminal Angkutan Barang 7. Pengembangan Pengelolaan Sampah Pengembangan TPA Regional Piyungan
8. Pengembangan Jalan Bebas Hambatan Pembangunan jalan tol Jogjakarta – Solo, Bawen - Jogjakarta dan Jogjakarta - Cilacap
Sumber : RPJMD DIY 2017-2022
1.3. TANTANGAN DAERAH
Dalam setiap tahapan pembangunan, terdapat berbagai kondisi permasalahan yang perlu diperhatikan dalam pembangunan daerah sekaligus juga menjadi isu strategis daerah mengingat dampak signifikan yang ditimbulkan.
1.3.1. Tantangan Ekonomi Daerah
Seiring dengan pandemi Covid-19 yang terjadi pada semua negara, hal ini berdampak juga bagi perekonomian di negara Republik Indonesia, khususnya Perekonomian DIY selama tahun 2021.
Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan IV tahun 2021 mencapai Rp38,81 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp27,46 triliun.
Perekonomian DIY selama 2021 tumbuh sebesar 5,53 persen (c-to-c). Kondisi ini lebih baik jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 2,68 persen.
Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha jasa lainnya dan hanya dua lapangan usaha yang mengalami kontraksi. Sementara dari sisi pengeluaran, semua komponen tumbuh positif, kecuali net ekspor antar daerah. Perekonomian DIY triwulan IV tahun 2021 terhadap triwulan IV tahun 2020 mengalami tumbuh sebesar 2,82 persen (y-on-y).
Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Pertanian sebesar 25,41 persen, diikuti jasa lainnya dan transportasi. Dari sisi pengeluaran, semua komponen, kecuali pengeluaran konsumsi lembanga swasta nonprofit dan perubahan inventori, tumbuh positif. Ekspor dan impor luar negeri mengalami pertumbuhan lebih dari dua digit. Dibanding triwulan III tahun 2021 perekonomian DIY tumbuh sebesar 3,68 persen (q-to-q). Lapangan usaha yang tumbuh tinggi adalah jasa lainnya, diikuti oleh transportasi dan penyediaan akomodasi dan makan minum. Dari sisi pengeluaran, terutama dididorong oleh pertumbuhan konsumsi pemerintah, ekspor luar negeri, dan pembentukan modal tetap bruto.
Struktur ekonomi DIY tahun 2021 didominasi oleh lapangan usaha industri pengolahan, informasi dan komunikasi, dan konstruksi. Sementara dari sisi pengeluaran, pengeluaran konsumsi rumah tangga masih mendominasi dengan kontribusi 64,32 persen, disusul oleh pembentukan modal tetap bruto 32,83 persen, dan pengeluaran konsumsi pemerintah 15,45 persen.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) DIY sebesar 4,56 persen pada Agustus 2021, meski lebih rendah dibanding level nasional (6,49 persen), dan TPT Agustus 2021 turun 1 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2020. Indeks Gini di DIY periode September 2021 tercatat 0,436 berada diatas rata-rata Nasional yang sebesar 0,381 dan merupakan angka tertinggi ketimpangan sosial di Indonesia. Demikian juga dengan angka kemiskinan DIY per September 2020 masih di angka 11,91 persen, melebihi rata-rata Nasional 9,71 persen dan juga merupakan angka tertinggi di pulau Jawa. Melihat kondisi ini, diperlukan extra effort dalam usaha menaikkan pertumbuhan perekonomian DIY serta
Tantangan Daerah meliputi : Tantangan Ekonomi Daerah, Tantangan Sosial Kependudukan, Tantangan Geografis Wilayah dan Tantangan Pandemi di Daerah
menurunkan angka kemiskinan dan tentunya tidak mengabaikan protokol kesehatan dalam menghadapi penyebaran Covid-19.
1.3.2. Tantangan Sosial Kependudukan
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, DIY memiliki penduduk sebanyak 3,68 juta jiwa dan 1,25 juta kepala keluarga per Juni 2021. Dari jumlah tersebut terdapat 2,54 juta jiwa (69,03%) merupakan kelompok usia produktif (15-64 tahun) pada Juni 2021. Dan 1,14 juta jiwa (30,97%) penduduk yang termasuk kelompok usia belum produktif. Berdasarkan jenis kelamin, terdapat 1,82 juta jiwa (49,53%) penduduk Yogyakarta yang berjenis kelamin laki- laki dan ada pula 1,86 juta jiwa (50,47%) perempuan. Yogyakarta, provinsi yang terletak di sebelah selatan Jawa memiliki wilayah seluas 3.133 km persegi. Kepadatan penduduknya mencapai 1.173 jiwa per km persegi. 1
Pertumbuhan lansia dunia berjalan cepat dan pesat, tak terkecuali Indonesia.
Pertumbuhan lansia yang cepat akibat adanya transisi demografi yaitu perubahan tingkat kelahiran dari tingkat kelahiran tinggi menjadi angka kematian rendah. Angka harapan hidup sekitar 273,65 juta jiwa penduduk Indonesia pada tahun 2025 diprediksi dapat mencapai 73,7 tahun. Meningkat 4,7 tahun dari angka harapan hidup saat ini yang hanya 69,0 tahun, meningkat 8,5%. Dalam catatan BPS 2020 yakni 74,82 tahun, sementara secara nasional 71, 25 tahun. Kabupaten Kulonprogo menempati urutan pertama di DIY yakni 75, 20 tahun. Fakta tersebut menjadikan DIY memasuki provinsi aging society atau berpenduduk tua. Di Gunungkidul misalnya, dari jumlah penduduk sebanyak 722.479 jiwa, sebanyak 169.748 jiwa atau 23,5% penduduknya berusia lansia. Adanya tantangan bonus demografi Lansia menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah DIY
Permasalahan alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan permukiman/real estate sedang marak di DIY beberapa tahun ini, terutama daerah perkotaan (Sleman dan Yogyakarta). Penyebabnya adalah peningkatan jumlah penduduk yang selain di pengaruhi oleh angka kelahiran juga sebagai akibat dari besarnya jumlah imigran, mengingat Yogyakarta merupakan kota pelajar, pariwisata,budaya dan perdagangan.
Seiring dengan banyaknya perguruan tinggi yang ada, tingginya intensitas pembangunan rumah kos serta meluasnya kawasan permukiman mengakibatkan makin menurunnya kawasan pertanian dan kawasan terbuka hijau. Hal tersebut mengakibatkan ketimpangan kesejahteraan antar kelas di masyarakat dan antar kawasan perkotaan dan perdesaan di Yogyakarta semakin melebar.
Di sisi lain perkembangan teknologi juga memicu perubahan nilai, baik nilai lokal maupun nilai sosial, yaitu nilai-nilai keluarga dan kebudayaan di DIY. Gadget menyebabkan anak anak kurang berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan minimnya pemuda yang memiliki rasa ketertarikan dengan pengembangan budaya. Pemda DIY mendorong terciptanya
1 https://databoks.katadata.co.id/datapublish, diunduh pada tanggal 29 Januari 2022.
keluarga tangguh yang mampu menjadi pilar kehidupan masyarakat yang berkarakter, berbudaya, maju, mandiri dan sejahtera, menyongsong peradaban baru sehingga jogja tidak kehilangan kejogjaannya.
1.3.3. Tantangan Geografis Wilayah
Luas wilayah DIY mencapai 3.185,83 km2 dan memiliki letak geografis antara Gunung Merapi dan Samudera Hindia merupakah daerah yang subur yang menjadikannya daerah pertanian yang menghasilkan padi dan palawija sekaligus juga memiliki resiko terjadinya bencana alam berupa gempa bumi vulkanik dan tektonik.
Sebagian besar wilayah DIY atau sebesar 65,65 persen wilayah terletak pada ketinggian antara 100-499 m dari permukaan laut, 28,84 persen wilayah dengan ketinggian kurang dari 100 meter, 5,04 persen wilayah dengan ketinggian antara 500-999 m, dan 0,47 persen wilayah dengan ketinggian di atas 1000 m. Daerah-daerah yang relatif datar, seperti wilayah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul adalah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan memiliki kegiatan sosial ekonomi berintensitas tinggi, sehingga merupakan wilayah yang lebih maju dan berkembang serta ketersediaan sarana dan prasarana wilayah yang baik.
Hal tersebut berbanding terbalik dengan wilayah pegunungan di kabupaten Gunungkidul.
ketersediaan sarana dan prasarana wilayah yang relatif masih kurang memicu naiknya indeks ketimpangan antar wilayah. Dewasa ini kawasan pantai selatan kabupaten Gunungkidul memiiliki potensi pariwisata yang cerah dan ditunjang dengan dikucurkannya Dana Desa maka sedikit demi sedikit ketertinggalan infrastruktur jalan penunjang pariwisata dapat teratasi. Mengingat kondisi geografisnya merupakan daerah dengan potensi terdampak bencana yang besar,maka dalam merencanakan pembangunan wilayah DIY harus tetap memperhatikan risiko bencana serta dilakukan mitigasi bencana.
Kawasan rawan bencana di DIY dilihat dari besarnya bencana diantaranya adalah:
1. Kawasan rawan bencana dan terdampak gunung berapi di lereng Gunung Merapi.
Kawasan ini mencakup hampir seluruh wilayah DIY terutama Kabupaten Sleman bagian utara dan wilayah sekitar sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Status Gunung Merapi telah naik dari waspada (level II) menjadi siaga (level III) pada 5 November 2020 pukul 12.00 WIB. Peningkatan status tersebut didasarkan pada aktivitas vulkanik saat ini, yang dapat berlanjut ke erupsi dan baru di awal tahun 2021 telah terjadi beberapa kali guguran lava dari puncak Merapi namun tidak sampai mengakibatkan kerusakan yang cukup besar dibandingkan letusan tahun 2010 yang lalu. 2
2 https://www.kompas.com/tren, diunduh tanggal 21 Januari 2022.
2. Kawasan rawan gempa bumi tektonik. Jawa Tengah bagian selatan, termasuk kota Yogyakarta dan sekitarnya, merupakan salah satu wilayah rawan gempa bumi. Dan di DIY merupakan wilayah yang dilewati oleh sesar Opak merupakan patahan aktif sehingga kerap kali menjadi penyebab terjadinya gempa yang mengguncang Jogja seperti yang terjadi di tahun 2006 dengan kekuatan gempa 6,3 SR yang mengakibatkan sekitar 6000 korban jiwa.
3. Kawasan rawan bencana Tsunami. Kawasan rawaan bencana tsunami di DIY adalah wilayah pantai dari Kabupaten Kulon Progo, Bantul dan Gunungkidul dengan ketinggian kurang dari 30 meter dari permukaan laut.
1.3.4. Tantangan Pandemi bagi Daerah
Tahun 2021 merupakan masa transisi dari penanganan pandemi Covid-19 pada tahun 2020 yang berdampak pada sosial, ekonomi dan keuangan, menuju periode normal untuk pemulihan. Kebijakan ekonomi makro dan fiskal tahun 2021 diarahkan untuk mempercepat pemulihan pasca pandemi Covid-19 serta menjadi momentum untuk melakukan reformasi kebijakan dalam rangka mempersiapkan fondasi yang kokoh untuk melaksanakan transformasi ekonomi mencapai Visi Indonesia Maju 2045.
Secara umum, langkah kebijakan pemulihan ekonomi daerah diambil dengan memperhatikan arahan Pemerintah, yang fokus pada tiga aspek, yakni: Menjaga kesehatan masyarakat, Melindungi daya beli khususnya masyarakat golongan tidak mampu melalui penguatan dan perluasan jaring pengaman sosial, serta Melindungi dunia usaha dari kebangkrutan. Untuk itu, Pemerintah Daerah juga melakukan refocusing dan re-alokasi pada manajemen pembangunan daerah sejak tahun 2020 hingga tahun-tahun mendatang. Adanya pergeseran rancang desain sasaran pembangunan daerah sejak pandemi Covid-19 ini bergulir berserta dampaknya, diharapkan penanganan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah juga mengalami penyesuaian dengan pertimbangan-pertimbangan teknis tertentu. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah regulasi yang dikeluarkan pemerintah terkait upaya penanganan pandemi Covid- 19 agar upaya pemulihan ekonomi bisa berdampak. Kebijakan pemulihan ekonomi yang berdampak tersebut merupakan Langkah-langkah yang harus diambil oleh Pemerintah Daerah, untuk menangani resesi ekonomi, menjaga ketahanan daya beli masyarakat, pemulihan KUMKM, dan memulihkan sektor strategis (pariwisata dan pendidikan) secara bertahap dalam koridor mengikuti standar protokol kesehatan dalam pengendalian laju penyebaran pandemi Covid-19. 3
3 Kajian BAPPEDA : “Kebijakan Ekonomi Pemulihan Daerah Terdampak Covid-19”.
KAJIAN FISKAL REGIONAL
Tahun
D.I.YOGYAKARTA
Analisis Ekonomi Regional
Bab II
& KESEJAHTERAAN
Laju Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi pada triwulan IV 2021:
§ 2,82% (Y-on-Y)
§ 3,68% (Q-to-Q)
§ 5,53% (C-to-C)
Inflasi
Tingkat inflasi bulanan (m-to-m) tertinggi selama triwulan IV 2021 terjadi di bulan Desember 2021 sebesar 0,71%.
Tiga Komoditas yang paling mempengaruhi inflasi di bulan Desember 2021
Kelompok makanan, minuman dan
tembakau
2,38%
Dalam Persen (%)
Kelompok Transportasi
Kelompok Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga
0,72% 0,21%
Tingkat Pengangguran Terbuka
Angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di DIY Agustus 2021
4,56%
TPT berdasarkan Jenjang Pendidikan
PDRB ADHB: Rp149,37 T PDRB ADHK: Rp107,31 T
TPT Menurut Kabupaten/Kota (%)
jan 21 feb 21 mar 21 apr 21 mei 2 1 juni 21 juli 21 Agt 21 Sept 21 okt 20 21 nov 2 021 des20 21
Yogyakart a Nas
0,57 0,71