BAB III ANALISIS FISKAL REGIONAL
3.3. Pelaksanaan Anggaran Konsolidasian
3.3.5. Kontribusi Pengeluaran Pemerintah dalam Perekonomian
Kontribusi Pemerintah terhadap PDRB dimaksud terutama berasal dari belanja Pemerintah (G) dan investasi (I). Nilai belanja Pemerintah (G) dicerminkan/diproxi dari nilai Pengeluaran
Konsumsi Pemerintah yang berasal dari kompensasi pegawai ditambah penggunaan barang dan jasa, konsumsi aset tetap, dan pembelian barang/jasa untuk transfer langsung ke rumah tangga (umumnya manfaat sosial dalam bentuk barang/jasa), dikurangi penjualan barang dan jasa. Sedangkan nilai Investasi Pemerintah dicerminkan/diproxi dari nilai Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB) yang merupakan nilai akuisisi aset tetap dikurangi penghentian aset tetap, dalam Laporan Operasional sama dengan nilai Aset tetap pada Transaksi Aset Non Keuangan Neto.
Kontribusi Pemerintah terhadap PDRB dari Belanja Pemerintah dihitung dengan cara membandingkan nilai Pengeluaran Konsumsi Pemerintah dengan PDRB. Sedangkan kontribusi Pemerintah terhadap PDRB dari Investasi dihitung dari perbandingan nilai PMTB dibagi dengan PDRB.
Tabel 5.8.
Laporan Operasional Statistik Keuangan Pemerintah Umum Tingkat Wilayah Provinsi DIY Periode Tahun 2019 s.d 2021
Uraian 2021 2020 2019
I. Pendapatan 44.491.076.197.726 33.340.563.245.926 36.470.883.150.747
a. Pajak 7.843.927.227.989 7.824.065.095.843 8.158.810.832.787
b. Kontribusi Sosial 0 0 0
c. Hibah 10.276.156.788.313 1.685.363.131.423 11.019.642.639.172
d. Pendapatan Lainnya 26.370.992.181.424 23.831.135.018.660 23.496.765.445.878
II. Beban 30.569.914.482.044 21.463.552.583.584 23.036.041.549.405
a. Kompensasi Pegawai 10.271.985.981.506 10.580.484.029.914 10.578.811.811.657 b. Penggunaan Barang dan Jasa 6.991.382.257.329 6.365.941.259.088 6.444.016.571.082
c. Konsumsi Aset Tetap 0 0 0
d. Bunga 0 229.756.865 1.936.272.145
e. Subsidi 73.318.555.056 78.044.846.317 0
f. Hibah 11.866.946.101.032 2.476.142.591.375 11.367.912.890.647
g. Manfaat Sosial 126.757.343.648 110.329.415.972 80.735.070.150
h. Beban Lainnya 1.239.524.243.473 1.852.380.684.053 1.215.162.208.428
Keseimbangan operasi bruto/neto 5.487.469.343.356 11.877.010.662.343 13.434.841.601.342
III. Transaksi Pada Aset Non Keuangan
a. Aset Tetap 4.931.228.524.850 3.208.627.709.122 4.848.967.107.027
b. Perubahan Persediaan 0 0 0
c. Barang Berharga 0 0 0
d. Aset Non Produksi 556.240.818.506 928.280.449.671 658.568.648.770
Net Lending/Borrowing 8.433.692.372.326 7.740.102.503.550 7.807.948.551.499 Transaksi Aset Keuangan dan
Kewajiban
a. Akuisisi Neto Aset Keuangan 8.433.692.372.326 7.736.177.211.385 7.407.049.189.936 - Domestik 8.433.692.372.326 7.736.177.211.385 7.407.049.189.936
- Luar Negeri 0 0
b. Keterjadian Kewajiban Neto -3.925.292.165 -72.059.148.993
- Domestik -3.925.292.165 -72.059.148.993
- Luar Negeri 0 0
PDRB ADHB 149.369.169.000.000 138.388.752.760.000 141.400.183.000.000 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (G)
=
17.390.125.582.483 17.056.754.704.974 18.113.114.127.751
A21+A22+A23+A27
Kontribusi belanja Pemerintah terhadap
PDRB 11,64% 12,33% 12,81%
PMTB =III.a 4.931.228.524.850 3.208.627.709.122 4.862.478.306.667
Kontribusi investasi Pemerintah terhadap PDRB
3,30% 2,32% 3,44%
Berdasarkan Laporan Operasional (LO) pada tabel diatas, nilai belanja Pemerintah tahun 2021 sebesar Rp17,39 triliun dan nilai Investasi Pemerintah sebesar Rp4,93 triliun. Sehingga kontribusi pemerintah terhadap PDRB DIY pada tahun 2021 sebesar 11,64 persen, menurun jika dibandingkan dengan tahun 2020 yang sebesar 12,33 persen dan tahun 2019 yang sebesar 12,81 persen. Sedangkan kontribusi Pemerintah terhadap PDRB dari Investasi yang sebesar 3,30 persen, meningkat jika dibanding tahun 2020 yang sebesar 2,32 persen, namun masih lebih kecil dibanding kontribusi pemerintah di tahun 2019 yang mencapai 3,44 persen. Dalam struktur pembentuk PDRB DIY Menurut Pengeluaran tahun 2021, kontribusi PMTB mencapai 32,83 persen. Dengan demikian kontribusi pemerintah terhadap PDRB dari Investasi yang sebesar 3,30 persen jika dibanding total kontribusi PMTB hanya sebesar 10,05 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sektor swasta mempunyai peran yang cukup besar dalam investasi di DIY.
KAJIAN FISKAL REGIONAL
Tahun
D.I.YOGYAKARTA
Analisis Sektor Unggulan
& Potensial Regional
Bab IV
4.1. PENDAHULUAN
Potensi Ekonomi suatu daerah adalah kemampuan ekonomi yang ada di daerah yang mungkin dan layak dikembangkan, sehingga akan terus berkembang menjadi sumber penghidupan rakyat setempat bahkan dapat mendorong perekonomian daerah secara keseluruhan untuk berkembang dengan sendirinya dan berkesinambungan1. Kemampuan pemerintah daerah untuk melihat sektor yang memiliki keunggulan dan kelemahan di wilayahnya menjadi sangat penting, karena tidak setiap daerah memiliki potensi ekonomi yang sama, sehingga diperlukan penelitian secara terusmenerus agar pembangunan di daerah dapat dilakukan lebih cepat dan tepat, sesuai dengan keadaan daerah tersebut. Penelitian terkait potensi ekonomi daerah dalam suatu wilayah diperlukan sebagai pedoman dalam merumuskan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut.
Pembangunan ekonomi suatu wilayah terdiri dari beberapa komponen pertumbuhan wilayah, antara lain: Pertumbuhan Regional (PR), Pertumbuhan Proporsional (PP) dan Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW).
Untuk melakukan analisis yang menyeluruh terhadap sektor atau bidang yang dianggap menjadi sektor/bidang unggulan disuatu daerah, dapat dilakukan dengan menggunakan alat analisis Shift Share, Location Quotient (LQ), dan Tipologi Klassen. Dengan analisis ini dapat diketahui seberapa besar tingkat spesialisasi sektor basis atau unggulan di suatu wilayah. Selanjutnya analisis Shift Share digunakan untuk mengkaji kinerja berbagai sektor ekonomi yang berkembang di suatu daerah dan membandingkannya dengan perekonomian nasional2. Data yang digunakan adalah PDRB ADHK D.I Yogyakarta dan data PDB ADHK Indonesia tahun 2014 s.d tahun 2021.
Sesuai Petunjuk Teknis Penyusunan Kajian Fiskal Regional Tahunan 2021 Tingkat Wilayah, tujuan Analisis Sektor Unggulan dan Potensial Regional antara lain untuk menyajikan hasil analisis yang terkait dengan:
a) Pengembangan dan analisis sektor unggulan dan potensial daerah sebagai manisfestasi pertumbuhan ekonomi berdasarkan lapangan usaha;
b) Kontribusi sektor terhadap ketenagakerjaan;
c) Kontribusi sektor terhadap pendapatan negara dan daerah;
d) Dukungan alokasi anggaran APBN dan APBD untuk pengembangan sektor
1
https://media.neliti.com/media/publications/44668-ID-analisis-pola-pertumbuhan-ekonomi-dan-sektor-potensial-kabupaten-2Sri Wahyuni “Analisis Sektor-Sektor ekonomi Unggulan di Provinsi D.I. Yogyakarta (Periode 2003-2007)”- Skripsi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Bogor, 2009
BAB IV
ANALISIS SEKTOR UNGGULAN
DAN POTENSIAL REGIONAL
unggulan dan potensial;
e) Dukungan kebijakan dan stimulus fiskal yang diperlukan, f) Analisis permasalahan dan solusi
Analisis Shift Share
Dengan menggunakan analisis Shift Share, didapat hasil penghitungan sebagai berikut:
Tabel 4.1.
Analisis Shift Share menurut Lapangan Usaha di DIY Berdasarkan Pertumbuhan Regional, Pertumbuhan Proporsional dan Pertumbuhan Pangsa Wilayah, Tahun 2014-2021
Lapangan Usaha PPij PPWij
Miliar Rp % Miliar Rp %
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan -257,6 -3,4 -750,6 -10,0
Pertambangan dan Penggalian -114,3 -24,3 5,5 1,2
Industri Pengolahan -475,0 -4,5 -230,4 -2,2
Pengadaan Listrik dan Gas -7,0 -5,6 14,2 11,3
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 13,3 16,1 -8,2 -9,9
Konstruksi 421,9 5,6 664,7 8,9
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor -299,3 -4,6 322,9 4,9
Transportasi dan Pergudangan -153,7 -3,5 -971,4 -22,2
Penyediaan akomodasi dan Makan Minum -534,2 -7,2 192,9 2,6
Informasi dan Komunikasi 4516,9 53,4 1006,4 11,9
Jasa Keuangan dan Asuransi 495,0 17,5 -288,0 -10,2
Real Estat 127,1 2,2 183,2 3,2
Jasa Perusahaan 141,2 15,3 -195,4 -21,1
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib -289,8 -4,9 -57,4 -1,0
Jasa Pendidikan 363,8 5,2 804,5 11,6
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 912,0 44,2 -105,3 -5,1
Jasa Lainnya 466,6 22,0 -217,7 -10,3
PPij:komponen pertumbuhan proporsional sektor i utk DIY;
PPWij:komponen pertumbuhan pangsa wilayah sektor i utk DIY Sumber: BPS, diolah
Berdasarkan tabel 4.1 sektor-sektor ekonomi di D.I Yogyakarta dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Sektor yang memiliki laju pertumbuhan cepat (nilai Ppij>0) dan mampu bersaing dengan wilayah lain di Indonesia (PPWij>0), yaitu Informasi dan Komunikasi, Konstruksi, Jasa Pendidikan, dan Real Estate.
Sektor yang memiliki laju pertumbuhan cepat (nilai Ppij>0) tetapi tidak mampu bersaing dengan wilayah lain di Indonesia (PPWij<0), yaitu Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, Jasa Keuangan dan Asuransi, Jasa Lainnya, Jasa Perusahaan, dan Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang
Sektor yang memiliki laju pertumbuhan lambat (nilai Ppij<0) tetapi mampu bersaing dengan wilayah lain di Indonesia (PPWij>0), yaitu Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, Real Estat, Pengadaan Listrik dan Gas, Pertambangan dan Penggalian.
Sektor yang memiliki laju pertumbuhan lambat (nilai Ppij<0) dan tidak mampu bersaing dengan wilayah lain di Indonesia (PPWij<0), yaitu Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; Industri Pengolahan, Transportasi dan Pergudangan, danAdministrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib.
Analisis Location Quotient
Berdasarkan hasil penghitungan menggunakan analisis LQ, didapati nilai LQ sebagai berikut :
Tabel 4.2
Nilai LQ menurut lapangan Usaha di DIY Tahun 2014-2021
Lapangan Usaha 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 0,70 0,69 0,67 0,66 0,65 0,63 0,65 0,64
Pertambangan dan Penggalian 0,06 0,06 0,06 0,07 0,07 0,07 0,07 0,06
Industri Pengolahan 0,59 0,58 0,58 0,59 0,60 0,61 0,60 0,58
Pengadaan Listrik dan Gas 0,14 0,14 0,15 0,16 0,15 0,16 0,16 0,15
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Daur Ulang 1,26 1,21 1,21 1,19 1,19 1,21 1,15 1,18
Konstruksi 0,95 0,93 0,94 0,94 1,00 1,08 0,94 1,02
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor 0,58 0,60 0,62 0,62 0,63 0,63 0,62 0,61
Transportasi dan Pergudangan 1,41 1,37 1,33 1,28 1,28 1,25 1,17 1,15
Penyediaan akomodasi dan Makan Minum 3,02 3,06 3,07 3,10 3,13 3,22 2,98 3,08
Informasi dan Komunikasi 2,31 2,21 2,20 2,13 2,12 2,08 2,25 2,46
Jasa Keuangan dan Asuransi 0,93 0,93 0,89 0,87 0,89 0,90 0,86 0,86
Real Estat 2,35 2,39 2,40 2,43 2,48 2,48 2,46 2,41
Jasa Perusahaan 0,70 0,70 0,68 0,66 0,64 0,62 0,56 0,60
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan
Jaminan Sosial Wajib 2,12 2,14 2,18 2,24 2,18 2,15 2,10 2,10
Jasa Pendidikan 2,76 2,76 2,74 2,79 2,81 2,81 2,86 3,00
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 2,37 2,38 2,37 2,34 2,32 2,28 2,43 2,30
Jasa Lainnya 1,66 1,66 1,62 1,58 1,54 1,48 1,30 1,55
Sumber: BPS, diolah
Berdasarkan tabel 4.2 diketahui terdapat tiga sektor ekonomi yang memiliki nilai LQ>1 tertinggi, yaitu Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, Jasa Pendidikan, dan Informasi dan Komunikasi.
Sektor-sektor tersebut dikategorikan sebagai sektor basis, artinya komoditas sektor yang bersangkutan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi di D.I Yogyakarta dan juga mampu mengekspor ke luar daerah.
Analisis Tipologi Klassen
Berdasarkan hasil penghitungan menggunakan analisis Tipologi Klassen, didapati hasil sebagai berikut:
6,82
Grafik 4.2 Tingkat Pertumbuhan DIY 2021 (%)
Sumber : BRS BPS DIY (diolah)
Grafik 4.1 Kontribusi terhadap PDRB DIY 2021 (%)
Dari gambar 4.1 diketahui bahwa terdapat empat sektor ekonomi yang berada di kuadran 1, yang merupakan sektor maju dan tumbuh pesat, yaitu Informasi dan Komunikasi, Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, serta Jasa Pendidikan.
Akhirnya, dari ketiga analisis di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa sektor lapangan usaha Informasi dan Komunikasi merupakan sektor unggulan wilayah DIY dan sektor lapangan usaha Penyediaan Akomodasi Makan Minum merupakan sektor potensial regional di DIY.
4.2. SEKTOR UNGGULAN DAERAH
4.2.1 Profil Sektor Unggulan Daerah Berdasarkan Lapangan Usaha
Terdapat beberapa sektor ekonomi yang menjadi sektor unggulan di DIY tahun 2021, dengan tiga nilai shift share tertinggi yaitu : i) Informasi dan Komunikasi; ii) Konstruksi; dan iii) Real estat. Demikian juga dengan analisis Tipologi Klassen juga mempertegas Sektor Informasi dan Komunikasi sebagai sektor unggulan di DIY.
Untuk tahun 2020, sektor ekonomi yang menjadi sektor unggulan di DIY dengan nilai shift share tertinggi adalah: i) Jasa Pendidikan; dan ii) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial.
117,56 135,89
125,60
147,35 147,97
159,71
2015 2016 2017 2018 2019 2020
Sumber: BPS DIY
Grafik 4.3 Rata-Rata Konsumsi Rumah Tangga untuk Telekomunikasi DIY (Ribu Rupiah)
Sebagai sektor unggulan daerah, sektor Informasi dan Komunikasi mampu memberikan kontribusi sebesar 10,72 persen terhadap perekonomian DIY dan mampu tumbuh sebesar 16,69 persen selama tahun 2021 (c to c).
Profil sektor Informasi dan Komunikasi DIY antara lain terlihat melalui trend berikut:
1) Rata-Rata Konsumsi Rumah Tangga Untuk Telekomunikasi
Di masa pandemi COVID-19, teknologi informasi dituntut untuk lebih dinamis seiring dengan perkembangan zaman yang menuntut digitalisasi, sehingga terus mengalami perbaikan. Pengeluaran rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi ini digambarkan melalui rata-rata konsumsi rumah tangga untuk telekomunikasi. Perkembangan besaran konsumsi rumah tangga untuk telekomunikasi di wilayah DIY selama 6 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik 4.3.
Sejak tahun 2018 rata-rata konsumsi rumah tangga untuk komunikasi menunjukkan kenaikan, terlebih di saat masa pandemi ini, kebutuhan rumah tangga relatif banyak dipenuhi melalui komunikasi digital. Hal tersebut terlihat dari pengeluaran rata-rata konsumsi rumah tangga untuk komunikasi tahun 2020 sebesar Rp 159.705,87 meningkat sebesar Rp 11.736,87 dari periode tahun 2019.
2) Perkembangan Kepemilikan Telepon Seluler, Komputer, dan Telepon Tetap Kabel Geliat kontribusi sektor
informasi dan komunikasi dalam pertumbuhan ekonomi regional didukung oleh berbagai infrastruktur pendukung. Salah satu infrastuktur yang dimaksud adalah perangkat yang digunakan dalam kegiatan informasi dan komunikasi itu sendiri.
Dari grafik (xxx) diketahui bahwa Pandemi COVID-19 yang dimulai sejak tahun 2020 telah berdampak pada peningkatan penggunaan perangkat komputer sebesar 1,04% dan telepon seluler sebesar 1,52%.
89,83 89,92 87,82 87,83 89,7 91,06
34,73 34,18 33,19 34,99 34,69 35,05
6,99 6,7 4,92 4,91 4,65 4,66
2015 2016 2017 2018 2019 2020 Grafik 4.4 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki/Menguasai Telepon Seluler, Kommputer, dan
Telepon Tetap Kabel DIY 2015-2020
Telepon Seluler Komputer Telepon Tetap Kabel
Hal tersebut dikarenakan adanya peningkatan kebutuhan perangkat komunikasi sebagai dampak kebijakan pembatasan wilayah yang menggeser berbagai aktivitas seperti sekolah, perdagangan, dan perkantoran yang sebelumnya dilaksanakan secara luring menjadi daring.
Berikut adalah peta lokus sektor unggulan di DIY:
4.2.2 Kontribusi Sektor Unggulan Daerah Terhadap Ketenagakerjaan
Dari total sebanyak 2.201,51 ribu orang penduduk bekerja di DIY pada Februari 2021, bertambah 71,02 ribu orang dari Februari 2020, Sektor Informasi dan Komunikasi sebagai sektor unggulan daerah memberikan kontribusi dalam penyediaan lapangan kerja dengan menyerap sebesar 1,35 persen tenaga kerja, yaitu sebanyak 29.750 jiwa, dimana tahun 2021 telah tumbuh sebesar 7,54 persen, setelah tahun sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 14,26 persen karena pandemi covid-19.
4.2.3 Kontribusi Sektor Unggulan Daerah Terhadap Pendapatan Negara dan Daerah
Kontribusi Sektor Unggulan Daerah Terhadap Pendapatan Negara
Walaupun merupakan sektor unggulan, Sektor Informasi dan Komunikasi masih relatif kecil dalam memberikan kontribusi dalam pendapatan negara tahun 2021, yaitu hanya sebesar 2,72 persen, atau sebesar Rp125,89 miliar dari pendapatan pajak sektoral DIY sebesar Rp4,62 triliun meningkat sebesar 508 persen setelah periode sebelumnya mengalami penurunan
J. INFOKOM 2,72%
F. KONSTRUKSI 10,01%
C. INDUSTRI PENGOLAHAN
10,07%
K. JASA KEUANGAN
10,33%
O.
ADMINISTRASI PEM 14,22%
G.
PERDAGANGAN 26,66%
Grafik 4.6 Kontribusi Sektor Informasi dan Komunikasi Terhadap Pendapatan Negara penerimaan di tahun 2020 sebesar 4,84
persen apabila dibandingkan dengan tahun 2019. Lima besar sektor penyumbang kontribusi pendapatan negara di DIY adalah Sektor Perdagangan Besar dan Eceran Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, Sektor Administrasi Pemerintahan, Sektor Pertahanan Wajib dan Jaminan Sosial Wajib, Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi, Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Konstruksi.
4.2.4 Dukungan Alokasi Anggaran APBN dan APBD
Dukungan Alokasi Anggaran APBN terhadap Sektor Unggulan Daerah Sektor Informasi dan Komunikasi
Tabel 4.3
Alokasi Anggaran APBN dalam Sektor Informasi dan Komunikasi
Alokasi Anggaran APBN terhadap Sektor Unggulan Daerah Sektor Informasi dan Komunikasi telah digelontorkan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika sebesar Rp93,57 miliar dan telah direalisasikan sebesar 97,05 persen.
Dukungan Alokasi Anggaran APBD terhadap Sektor Unggulan Daerah Sektor Informasi dan Komunikasi
Tabel 4.4
Dukungan Alokasi Anggaran APBD terhadap Sektor Unggulan Daerah Sektor Informasi dan Komunikasi
Dukungan Anggaran APBD terhadap Sektor Unggulan Daerah Sektor Informasi dan Komunikasi dialokasikan melalui Diskominfo dengan pagu Rp6,49 miliar dan terrealisasi 96,47 persen.
4.2.5 Tantangan Fiskal Pada Sektor Unggulan Daerah
Beberapa tantangan fiskal pada sektor Unggulan Daerah antara lain :
1. Adanya ketidakpastian kapan pandemi berakhir mengakibatkan penundaan investasi oleh swasta
2. Aktivitas Pendidikan masih sangat terbatas, memberikan peluang untuk sektor informasi dan komunikasi untuk tumbuh dalam mendukung perekonomian DIY
3. Ekonomi digital di masa pandemi dapat mempercepat akselerasi literasi digital pelaku usaha. Beberapa sektor mampu menggunakan peluang ekonomi digital, seperti: free ongkir UMKM, pameran virtual, bisnis digital
4.2.6 Dukungan Kebijakan dan Stimulus Fiskal yang Diperlukan
Perlunya peningkatan Belanja yang Fokus pada Sektor Unggulan Provinsi DIY yaitu sektor Informasi dan Komunikasi melalui APBN (Kementerian Komunikasi dan Informatika) dan APBD (Dinas Kominfo)
4.3. SEKTOR POTENSIAL DAERAH
4.3.1. Profil Sektor Potensial Daerah Berdasarkan Lapangan Usaha
Terdapat beberapa sektor ekonomi yang menjadi sektor potensial di DIY tahun 2021, dengan tiga nilai LQ tertinggi yaitu : i) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; ii) Informasi dan Komunikasi; dan iii) Jasa Pendidikan. Untuk tahun 2020, sektor ekonomi yang menjadi sektor potensial di DIY dengan tiga nilai LQ tertinggi adalah: i) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; ii) Jasa Pendidikan; dan iii) Real Estate.
Grafik 4.7
Kontribusi Sektor Unggulan terhadap Ketenagakerjaan Tahun 2021
Sebagai sektor potensial daerah, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum memberikan kontribusi sebesar terhadap perekonomian DIY (9,16 persen) dan mampu tumbuh sebesar 7,55 persen selama tahun 2021 (c to c).
Berikut adalah map lokus keberadaan sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebagai sektor potensial daerah di kabupaten/kota wilayah DIY:
Profil sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum antara lain terlihat melalui tren berikut:
1) Tingkat Penghunian Kamar Hotel
Potensi wisata di DIY mendorong para pengusaha untuk menambah fasilitas atau mengembangkan usaha akomodasinya. Berdasarkan data dari Aplikasi Dataku Bappeda Yogyakarta tentang Jumlah Hotel di DIY tahun 2018-2021, jumlah akomodasi hotel bintang di DIY tahun 2021 sebanyak 180 hotel atau meningkat 4,65 persen dibanding tahun 2020 (172 hotel). Sedangkan jumlah hotel non bintang tahun 2021 sebanyak 621 hotel atau meningkat 0,49 persen dibanding tahun 2020 (618 hotel). Jumlah hotel di DIY setiap tahun mengalami kenaikan meskipun tidak cukup signifikan3.
Bappeda Provinsi DIY. (n.d.). Dataku. Retrieved from http://bappeda.jogjaprov.go.id/:
http://bappeda.jogjaprov.go.id/dataku/data_dasar/index/212-jumlah-hotel
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sept Okt Nov Des
2019 50,19 54,19 56,77 62,75 34,69 64,31 67,86 59 51,6 59,92 63,93 72,43
2020 52,93 56,32 33,9 5,36 6,13 15,5 27,83 39,86 36,22 45,52 44,99 45,31
2021 24,91 26,87 40,42 36,78 32,27 45,73 13,32 20,91 41,13 61,65 64,66 68,77
2019
2020
2021
0 20 40 60 80
Grafik 4.8 Perkembangan TPK Hotel Bintang di DIY dan Indonesia tahun 2019-2021 (Persen)
2019 2020 2021
Salah satu indikator untuk mengetahui produktivitas hotel dapat dilihat dari Tingkat Penghunian Kamar Hotel (TPK). TPK sekaligus juga menjadi tolok ukur keberhasilan suatu daerah dalam menarik kunjungan wisatawan dan peran hotel sebagai penyedia akomodasi dapat digunakan untuk mengetahui seberapa banyak wisatawan yang berkunjung. Dari Grafik 4.8 dapat dilihat bahwa tahun 2021 presentase TPK masih berfluktuatif seperti tahun 2020 yang diakibatkan oleh penyebaran covid-19. Namun demikian, pada akhir tahun 2020 maupun 2021 mengalami peningkatan karena adanya pelonggaran pembatasan wisatawan. Hal tersebut menunjukkan bahwa animo wisatawan yang terbilang cukup tinggi dalam menjadikan DIY sebagai tempat tujuan wisata meskipun di tengah terpaan pandemi covid-19.
2) Rata-rata Lama Menginap
Selain tingkat hunian tamu hotel, rata-rata lama menginap atau Length of Stay (LOS) merupakan indikator pengukuran kinerja pariwisata selain jumlah wisatawan.
Semakin tinggi nilai LOS menunjukkan makin lama waktu wisatawan untuk tinggal, sehingga semakin besar pengeluaran konsumsinya. Dengan bertambahnya konsumsi, dapat dipastikan bahwa sektor-sektor perekonomian yang terkait terutama industri hotel, restoran dan jasa lainnya ikut meningkat. Perkembangan LOS hotel berbintang di DIY dari tahun 2019 sampai tahun 2021 dapat dilihat pada grafik 4.9. Secara umum, LOS wisatawan di hotel berbintang pada tahun 2020-2021 lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2019. Sementara itu, Perkembangan LOS hotel non bintang di DIY dari tahun 2019 sampai tahun 2021 dapat dilihat pada grafik 4.10. Pada 2021 perkembangan LOS dimulai pada bulan April dan dan ulai menunjukkan geliatnya hingga akhir tahun, walaupun masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan masa sebelum pandemi tahun 2019. Sementara itu, pada tahun 2020 tidak terdapat data LOS pada hotel non bintang di wilayah DIY, karena pembatasan aktivitas masyarakat di masa awal pandemi covid-19.
Target sasaran pembangunan sektor pariwisata dalam RKPD DIY Tahun 2021 antara lain lama tinggal (LOS) baik wisatawan nusantara maupun mancanegara adalah 2,3 hari. Melihat perkembangan LOS selama tahun 2021, terlihat bahwa rata-rata lama tinggal wisatawan pada hotel berbintang sebesar 1,53 hari sementara pada hotel non berbintang adalah 0,9 hari.
Namun demikian, walaupun capaian LOS pada tahun 2021 belum dapat mencapai target baik pada hotel berbintang maupun non bintang akibat pembatasan sosial dan beberapa faktor lainnya antara lain faktor ragam atraksi, atmosfer wisata, faktor pilihan akomodasi, dan pilihan
0 0 0
1,13 1,21 1,17 1,22 1,18 1,28 1,27 1,18 1,17
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sept Okt Nov Des Sumber:BRS BPS
Grafik 4.10 Perkembangan LOS Bulanan Hotel Non Bintang di DIY,Tahun 2019-2021 (Hari)
2019 2020 2021
1,64
1,47 1,52 1,51 1,51 1,44
1,6 1,53 1,53 1,56 1,55 1,55
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sept Okt Nov Des Sumber:BRS BPS
Grafik 4.9 Perkembangan LOS Bulanan Hotel Bintang di DIY ,Tahun 2019-2021 (Hari)
2019 2020 2021
moda transportasi lokal4 namun telah cukup baik untuk menumbuhkan lagi roda perekonomian DIY
3) Tingkat Kedatangan Wisatawan
Tingkat kedatangan wisatawan yang berkunjung ke DIY menjadi salah satu indikator kinerja sektor pariwisata DIY. Jumlah kunjungan wisatawan dapat diukur dengan pendekatan jumlah tamu yang menginap di hotel atau menurut catatan pengunjung di setiap kawasan wisata. Berdasarkan data terakhir yang tersedia, jumlah kunjungan wisata ke DIY selama periode tahun 2016–2019 cenderung meningkat kemudian mengalami penurunan yang sangat signifikan di tahun 2020 dan 2021. Pada tahun 2021 tingkat kedatangan wisatawan masih mengalami penurunan karena diberlakukannya pembatasan wilayah akibat merebaknya gelombang kedua pandemi covid-19 varian delta.
Jumlah kunjungan wisatawan di tahun 2021 merupakan jumlah kunjungan terendah dalam kurun waktu 6 tahun terakhir. Sejalan hal tersebut, kunjungan wisatawan asing juga mengalami hal serupa sebagai dampak masih ditutupnya penerbangan internasional di Yogyakarta.
Adapun wisatawan mancanegara yang berkunjung ke DIY di tahun 2021 yang hanya sebanyak 2,88% dari total kunjungan wisatawan, merupakan wisatawan yang masuk dari Jakarta atau Bali
4.3.2. Kontribusi Sektor Potensial Daerah Terhadap Ketenagakerjaan
Dari total 2,20 juta penduduk bekerja di DIY, Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum memberikan kontribusi dalam penyediaan lapangan kerja dengan menyerap sebesar 8,56 persen tenaga kerja, yaitu sebanyak 188.480 jiwa, dimana tahun 2021 telah tumbuh sebesar 7,54 persen, setelah tahun sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 14,26 persen karena pandemi covid-19.
2016 2017 2018 2019 2020 2021
Sumber: Statistik Kepariwisataan 2021, Dinas Pariwisata DIY
Grafik 4.11 Jumlah Wisatawan ke DIY , Tahun 2016-2021 (Ribu Orang)
Grafik 4. 12 Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Obyek Wisata DIY Tahun 2016-2020 (Ribu Orang)
Wisnus Total Wisman
Grafik 4.14
Kontribusi Sektor Potensial Daerah Terhadap Pendapatan Negara
Grafik 4.15
Kontribusi Sektor Potensial Daerah tahun 2019 sd 2021
4.3.3. Kontribusi Sektor Potensial Daerah Terhadap Pendapatan Negara dan Daerah Walaupun merupakan sektor potensial,
Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum masih relatif kecil dalam memberikan kontribusi dalam pendapatan negara tahun 2021, yaitu hanya sebesar 2,03 persen, atau sebesar Rp94 miliar dari pendapatan pajak sektoral DIY sebesar Rp4,62 triliun. Lima besar sektor penyumbang kontribusi pendapatan negara di DIY adalah Sektor Perdagangan Besar dan Eceran Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, Sektor Administrasi Pemerintahan,
Sektor Pertahanan Wajib dan Jaminan Sosial Wajib, Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi, Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Konstruksi.
Berdasarkan data tahun 2019 sampai dengan tahun
2021, terjadi penurunan kontribusi dalam pendapatan negara, seiring dengan pandemi COVID-1 yang terjadi mulai tahun 2020, dimana growth penurunan pendapatan negara dari sektor Penyediaan Makan Minum berturut-turut mencapai angka 30,28 persen dan menurun lagi sebesar 8,99 persen.
4.3.4. Dukungan Alokasi Anggaran APBN dan APBD
Dukungan Alokasi Anggaran APBN terhadap Sektor Potensial Daerah Sektor Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum
Tabel 4.5
Alokasi Anggaran APBN dalam Sektor Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum
Alokasi Anggaran APBN terhadap Sektor Potensial Daerah Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum telah digelontorkan pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, sebesar Rp185,10 miliar dan telah direalisasikan sebesar 97,02 persen.
Dukungan Alokasi Anggaran APBD terhadap Sektor Potensial Daerah Sektor Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum
Tabel 4.6
Alokasi Anggaran APBD dalam Sektor Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum
Alokasi Anggaran APBD terhadap Sektor Potensial Daerah Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum telah digelontorkan pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan, DPKP, Disdikpora,
Alokasi Anggaran APBD terhadap Sektor Potensial Daerah Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum telah digelontorkan pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan, DPKP, Disdikpora,