BAB VI ANALISIS TEMATIK
6.2. Perkembangan IPM dan Belanja Pemerintah
6.2.1. Perkembangan IPM dan komponen pembentuk IPM di DIY Periode Tahun 2012 s.d 2021
Dalam kurun waktu 10 tahun, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DIY mengalami kenaikan. Di tahun 2021, IPM DIY mencapai angka 80,22 pada tahun 2021. Capaian ini membuat DIY berstatus provinsi dengan pembangunan manusia kategori Sangat Tinggi di Indonesia bersama
Provinsi DKI Jakarta.
Capaian IPM dalam kurun waktu 2017-2020 menunjukkan tren yang meningkat, dan selalu diatas capaian IPM Nasional. Pada tahun 2017 IPM DIY sebesar 78,89 (kategori Tinggi), meningkat hingga 79,99 di tahun 2019. Adanya pandemic Covid-19 yang mulai Maret 2020 melanda Indonesia, termasuk DIY berdampak luas terhadap berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat, termasuk IPM. Sempat turun 0,02 poin di tahun 2020, namun meningkat kembali menjadi 80,22 (kategori sangat tinggi) di tahun 2021. Capaian tersebut juga jauh lebih tinggi jika dibanding dengan IPM nasional yang tercatat sebesar 72,29. Di tingkat nasional, posisi IPM DIY 2021 kembali menempati tertinggi ke-2 setelah DKI Jakarta (81,11). Peningkatan capaian tersebut tidak terlepas dari peningkatan tiap komponen perhitungan IPM, yaitu : umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life) yang diukur dari Umur Harapan Hidup (UHH), pengetahuan (knowledge) yang diukur dari Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah penduduk berusia kerja (RLS), dan standar hidup layak (decent standard of living) yang diukur dari pendapatan per kapita riil yang telah disesuaikan dengan daya beli (Purchasing Power Parity/PPP) diwilayah yang bersangkutan.
Terkait perkembangan komponen pembentuk IPM itu sendiri, tabel-tabel berikut menyajikan data komponen yang menjadi tolok ukur, yaitu :
a. Usia Harapan Hidup (UHH)
Usia Harapan Hidup (UHH) merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. UHH dapat berbeda dari waktu ke waktu, juga berbeda pada tiap daerah maupun negara. Perbedaan angka harapan hidup ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari lingkungan, status kesehatan, hingga status ekonomi. Semakin tinggi angka harapan suatu wilayah maupun negara, menandakan semakin baik pula derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di dalamnya.
UHH di DIY pada tahun 2021 sebesar 75,04 tahun. Artinya, secara rata-rata bayi yang baru lahir pada tahun 2021 memiliki peluang untuk bertahan hidup sampai dengan 75,04 tahun.
Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, UHH di DIY selalu mengalami peningkatan, dengan rata pertumbuhan sebesar 0,09 persen per tahun. Semakin meningkatnya UHH di DIY ini mengindikasikan adanya perbaikan status kesehatan masyarakat, termasuk peningkatan kualitas kesehatan penduduk, terutama pada kelompok bayi, balita, dan wanita berusia subur. Perbaikan kualitas kesehatan ini ditandai oleh tingkat kemudahan penduduk dalam mengakses sarana dan prasarana kesehatan, peningkatan kualitas asupan gizi, serta berkurangnya angka kesakitan.
b. Harapan Lama Sekolah (HLS)
Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang.
Angka HLS menunjukkan peluang anak usia 7 tahun ke atas untuk mengenyam pendidikan formal pada waktu tertentu. HLS DIY pada tahun 2021 sebesar 15,64 tahun.
Artinya, secara rata-rata anak usia 7 tahun yang masuk jenjang pendidikan formal pada tahun 2021 memiliki peluang untuk bersekolah selama 15,64 tahun atau setara dengan Diploma IV/S1.
Meningkatnya harapan lama sekolah penduduk DIY didorong oleh angka partisipasi sekolah (APS) yang meningkat pada jenjang pendidikan menengah dan tinggi. Peningkatan APS terjadi pada kelompok APS 16-18 tahun (0,76 persen). Sedangkan APS kelompok APS 19-24 tahun mengalami penurunan sebesar 0,77 persen. Capaian APS 19-19-24 tahun relatif paling rendah. Di tahun 2021, sebesar 51,41 persen, menurun dibanding 2020. Selain karena ketersediaan dan jumlah daya tampung perguruan tinggi lebih sedikit dibandingkan jumlah lulusan SMA/SMK, hal tersebut juga dipengaruhi oleh mahalnya biaya pendidikan di perguruan tinggi.
Tabel 6.1.
Angka Partisipasi Sekolah (APS) DIY 2019-2021
Indikator 2019 2020 2021 Pertumbuhan
2019-2020 2020-2021
APS 7-12 tahun 99,90 99,89 99,70 -0,01% -0,19%
APS 13-15 tahun 99,56 99,45 99,43 -0,11% -0,02%
APS 16-18 tahun 88,97 88,95 89,63 -0,02% 0,76%
APS 19-24 tahun 51,85 51,81 51,41 -0,08% -0,77%
c. Rata-rata Lama Sekolah (RLS)
Rata-rata Lama Sekolah (RLS)/ Mean Years School (MYS) didefinisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. RLS dapat menggambarkan kualitas pendidikan dari sisi capaian/output. RLS DIY 2021 tercatat sebesar 9,64 tahun. Artinya, secara rata-rata penduduk di Provinsi
DIY yang berusia 25 tahun ke atas telah menempuh pendidikan selama 9,64 tahun atau setara tamat SMP. Secara umum, hal ini menggambarkan adanya peningkatan kualitas manusia dari sisi pendidikan terutama penduduk yang baru masuk dalam kelompok di atas usia 25 tahun.
d. Paritas Daya Beli Masyarakat
Pengeluaran riil per kapita adalah biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi semua anggota rumah tangga selama sebulan dibagi dengan banyaknya anggota rumah tangga yang telah disesuaikan dengan paritas daya beli.
Penghitungan paritas daya beli mengacu pada Kota Jakarta Selatan, sementara tahun rujukan adalah 2012.
Dalam kurun waktu 2017-2021 pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan di DIY rata-rata meningkat 0,67 persen. Pandemi Covid-19 yang menyebabkan penurunan aktivitas ekonomi, dimana hal tersebut berdampak negative terhadap ketenagakerjaan ( terjadi peningkatan jumlah pengangguran) merupakan factor utama penyebab tahun 2020 pengeluaran riil per kapita di DIY sempat mengalami penurunan, dari Rp14.394 di tahun 2019 menjadi Rp14.015 dan Rp14.111 di tahun 2021.
6.2.2. Perkembangan Belanja Pemerintah Untuk Meningkatkan IPM
a. Proporsi Alokasi Belanja Fungsi Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Terhadap Total Pagu K/L di DIY
Dalam kurun waktu tahun 2016 s.d 2020, proposi Alokasi Belanja Fungsi Pendidikan rata-rata sebesar 28,88 persen dari total Pagu K/L, dan propoporsi alokasi belanja Kesehatan rata-rata mencapai 11,99 persen dari total Pagu K/L. Sementara itu, proporsi alokasi belanja fungsi Ekonomi rata-rata mencapai 11,35 persen.
b. Tren Alokasi dan Realisasi Belanja Pemerintah Pusat (Belanja K/L) Fungsi Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Tahun 2016 s.d 2020
1) Belanja Pemerintah Pusat (K/L) Fungsi Pendidikan
Alokasi anggaran fungsi pendidikan mencerminkan upaya pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam bidang pendidikan dan sebagai salah satu upaya untuk memenuhi amanat konstitusi bahwa alokasi anggaran pendidikan
sekurang-kurangnya 20% dari belanja daerah. Di wilayah DIY, belanja fungsi Pendidikan diampu oleh 12 K/L yaitu Pertanian, Perindustrian, Dikbud Riset dan Teknologi, Kesehatan, Agama, Ketenagakerjaan, PU& Perumahan Rakyat, Perpusnas, Kominfo, Kemendes PDTT, Batan dan Kemenpora.
Dalam kurun waktu 2016 s.d 2020, realisasi belanja fungsi Pendidikan di DIY mempunyai tren yang meningkat, dengan rata-rata peningkatan sebesar 3,67 persen.
Belanja Pendidikan juga gunakan untuk melanjutkan dan memperluas kebijakan yang sudah berjalan seperti penyediaan BOS (Bantuan Operasional Sekolah), BOPTN (Bantuan Operasional PTN), bantuan Pendidikan bagi sisa/mahasiswa miskin melalui PIP dan KIP kuliah, penyediaan berbagai tunjangan guru dan dosen serta mendukung reformasi sistem Pendidikan dalam rangka akselerasi peningkatan kualitas Pendidikan.
2) Belanja Pemerintah Pusat (Belanja K/L) Fungsi Kesehatan
Realisasi Belanja Pemerintah fungsi Kesehatan di wilayah DIY dalam kurun waktu 2016 s.d 2020 berpola fluktuatif, cenderung meningkat, dengan rata-rata peningkatan sebesar 15,04 persen per tahun. Fungsi ini diampu oleh tiga K/L, yaitu Kementerian Kesehatan, BKKBN, dan Badan Pengawas Obat Makanan. Relatif rendahnya ralisasi fungsi Kesehatan di tahun 2020, terutama dipengaruhi rendahnya realisasi pada Kementerian Kesehatan yang memiliki alokasi Rp1,61 triliun dengan realisasi hanya sebesar Rp1,35 triliun (83,82 persen) .
3) Belanja Pemerintah Pusat (Belanja K/L) Fungsi Ekonomi
Dalam kurun waktu 2018 s.d 2020 realisasi belanja fungsi ekonomi denderung terus menurun, Di tahun 2020, nampak bahwa alokasi belanja ekonomi mengalami penurunan yang signifikan (49,57 persen).
Hal ini karena Kementerian PUPR merelaksasi atau men-delay beberapa pekerjaan, dari yang tadinya single years
jadi multiyears, atau yang belum lelang diprioritaskan di tahun 2021.
c. Capaian Output Strategis Belanja Kesehatan
Pemerintah berkomitmen untuk memenuhi alokasi anggaran kesehatan sebesar 5% dari belanja negara, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Alokasi fungsi kesehatan diarahkan untuk : (1) percepatan peningkatan dan pemerataan kepesertaan; (2) peningkatan akses dan kualitas layanan program JKN; (3) mendorong supply side melalui sinkronisasi pemerintah pusat dan daerah; (4) mendorong pola hidup sehat melalui Germas; (5) peningkatan nutrisi ibu hamil, menyusui dan balita, serta imunisasi; (6) akselerasi penurunan stunting melalui skema Program for Result (PforR); dan (7) pemerataan akses layanan kesehatan melalui DAK Fisik dan pembangunan rumah sakit di daerah menggunakan skema KPBU.
Tabel 6.2
Capaian Output Strategis Bidang Kesehatan Periode Tahun 2021
d. Capaian Output Strategis Belanja Pendidikan
Titik berat pelaksanaan fungsi pendidikan dilaksanakan oleh 3 (tiga) Kementerian/ Lembaga yaitu Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama. Adapun output capaian fungsi Pendidikan antara lain :
Tabel 6.10
Capaian Output Strategis Bidang Pendidikan Periode Tahun 2021
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pagu dan realisasi terbesar untuk belanja fungsi pendidikan adalah BOS untuk siswa di lingkungan madrasah dan pesantren dengan pagu
Rp85,13 miliar dan realisasi Rp 85,08 miliar serta jumlah penerima sebanyak 75.334 siswa/santri, sedangkan Tunjangan Guru Non PNS memperoleh alokasi dan realisasi terkecil yaitu pagu sebesar Rp. 638 juta dan realisasi Rp 638 juta. Capaian tersebut telah sesuai dengan arah dan kebijakan program prioritas nasional APBN 2020.
e. Capaian Output Strategis Belanja Ekonomi
Pengeluaran pemerintah pada fungsi ekonomi ditujukan untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas melalui pembangunan transportasi, infrsatruktur, energi, dan kedaulatan pangan, serta pengembangan UMKM dan koperasi. Di wilayah DIY, belanja fungsi ekonomi diampu oleh 15 K/L, yaitu Pertanian, Perindustrian, ESDM, Naker, KLH & Kehutanan, Kelautan Perikanan, PU dan Perumahan Rakyat, KUKM, Kominfo, BKPM, BMKG, BPPT, Kemendag, BNP2TKI dan Basarnas.
6.2.3. Perkembangan Belanja Pemerintah Daerah Untuk Meningkatkan IPM
a. Proporsi Alokasi Belanja Daerah Fungsi Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Terhadap Total Pagu APBD di DIY
Dalam kurun waktu tahun 2016 s.d 2020, proposi Alokasi Belanja Dearah Fungsi Pendidikan rata-rata sebesar 20,55 persen dari total Pagu K/L, dan propoporsi alokasi belanja Kesehatan rata-rata mencapai 3,74 persen dari total Pagu K/L, dan proporsi alokasi belanja fungsi Ekonomi rata-rata mencapai 5,55 persen.
b. Tren Alokasi dan Realisasi Belanja Daerah Fungsi Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Tahun 2016 s.d 2020.
1) Belanja Pemerintah Daerah Fungsi Pendidikan
Tabel 6.3
Perkembangan Pagu, Realisasi , dan Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah Fungsi Pendidikan
Tahun Fungsi Pagu Realisasi % Realisasi
Thd Pagu
Growth realisasi 2016 Pendidikan 351.510.180.394,00 335.268.257.571,00 95,38%
2017 Pendidikan 1.246.497.288.167,00 1.231.183.470.104,00 98,77% 267,22%
2018 Pendidikan 1.332.372.750.888,00 1.214.912.794.765,00 91,18% -1,32%
2019 Pendidikan 1.352.922.822.829,00 1.278.014.488.777,00 94,46% 5,19%
2020 Pendidikan 1.539.034.851.425,00 1.180.373.732.754,00 76,70% -7,64%
Sumber : SIKD
Dalam kurun waktu 2016 s.d 2020, realisasi belanja daerah fungsi Pendidikan di DIY mempunyai tren yang terus meningkat. Peningkatan tertinggi di tahun 2017 yang mencapai
267 persen, dari Rp335,27 miliar menjadi Rp1,23 triliun.
2) Belanja Pemerintah Daerah (APBD) Fungsi Kesehatan
Tabel 6.4
Perkembangan Pagu, Realisasi , dan Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah Fungsi Kesehatan
Tahun Fungsi Pagu Realisasi % Realisasi
Thd Pagu
Growth Realisasi
2016 Kesehatan 230.539.066.842,00 228.934.824.027,73 99,30%
2017 Kesehatan 209.986.150.682,50 204.539.525.595,56 97,41% -10,66%
2018 Kesehatan 181.072.168.412,00 180.579.167.924,69 99,73% -11,71%
2019 Kesehatan 194.261.007.293,00 193.460.274.364,22 99,59% 7,13%
2020 Kesehatan 172.370.728.752,00 167.100.367.247,00 96,94% -13,63%
Sumber : SIKD
Berdasarkan data pada table 6.4 diatas, nampak bahwa baik dari sisi alokasi maupun realisasi belanja, pada belanja daerah fungsi Kesehatan cenderung menurun, dengan rata-rata penurunan sebesar 7,2 persen. Penurunan terdalam terjadi di tahun 2020, yaitu sebesar 13,63 persen.
3) Belanja Pemerintah Daerah (APBD) Fungsi Ekonomi
Tabel 6.5
Perkembangan Pagu, Realisasi , dan Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah Fungsi Ekonomi
Tahun Fungsi Pagu Realisasi
% Realisasi Terhadap
Pagu
Growth Realisasi 2016 Ekonomi 322.562.957.264,00 302.765.174.261,92 93,86%
2017 Ekonomi 342.112.848.782,00 328.319.830.753,81 95,97% 8,44%
2018 Ekonomi 371.673.802.269,00 363.369.241.670,52 97,77% 10,68%
2019 Ekonomi 195.085.865.454,00 177.352.722.842,34 90,91% -51,19%
2020 Ekonomi 227.956.827.635,00 136.055.736.949,00 59,68% -23,29%
Sumber : SIKD
Dalam kurun waktu tahun 2016 s.d 2017, alokasi pagu belanja fungsi ekonomi cenderung menurun, dengan penurunan rata-rata sebesar 6,67 persen, yang tentunya diikuti dengan penurunan realisasi belanjanya dengan penurunan rata-rata sebesar 7,27 persen tiap tahun.