• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tantangan Geografis Wilayah

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL (Halaman 26-0)

BAB I SASARAN PEMBANGUNAN DAN TANTANGAN DAERAH

1.3. Tantangan Daerah

1.3.3. Tantangan Geografis Wilayah

Luas wilayah DIY mencapai 3.185,83 km2 dan memiliki letak geografis antara Gunung Merapi dan Samudera Hindia merupakah daerah yang subur yang menjadikannya daerah pertanian yang menghasilkan padi dan palawija sekaligus juga memiliki resiko terjadinya bencana alam berupa gempa bumi vulkanik dan tektonik.

Sebagian besar wilayah DIY atau sebesar 65,65 persen wilayah terletak pada ketinggian antara 100-499 m dari permukaan laut, 28,84 persen wilayah dengan ketinggian kurang dari 100 meter, 5,04 persen wilayah dengan ketinggian antara 500-999 m, dan 0,47 persen wilayah dengan ketinggian di atas 1000 m. Daerah-daerah yang relatif datar, seperti wilayah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul adalah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan memiliki kegiatan sosial ekonomi berintensitas tinggi, sehingga merupakan wilayah yang lebih maju dan berkembang serta ketersediaan sarana dan prasarana wilayah yang baik.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan wilayah pegunungan di kabupaten Gunungkidul.

ketersediaan sarana dan prasarana wilayah yang relatif masih kurang memicu naiknya indeks ketimpangan antar wilayah. Dewasa ini kawasan pantai selatan kabupaten Gunungkidul memiiliki potensi pariwisata yang cerah dan ditunjang dengan dikucurkannya Dana Desa maka sedikit demi sedikit ketertinggalan infrastruktur jalan penunjang pariwisata dapat teratasi. Mengingat kondisi geografisnya merupakan daerah dengan potensi terdampak bencana yang besar,maka dalam merencanakan pembangunan wilayah DIY harus tetap memperhatikan risiko bencana serta dilakukan mitigasi bencana.

Kawasan rawan bencana di DIY dilihat dari besarnya bencana diantaranya adalah:

1. Kawasan rawan bencana dan terdampak gunung berapi di lereng Gunung Merapi.

Kawasan ini mencakup hampir seluruh wilayah DIY terutama Kabupaten Sleman bagian utara dan wilayah sekitar sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Status Gunung Merapi telah naik dari waspada (level II) menjadi siaga (level III) pada 5 November 2020 pukul 12.00 WIB. Peningkatan status tersebut didasarkan pada aktivitas vulkanik saat ini, yang dapat berlanjut ke erupsi dan baru di awal tahun 2021 telah terjadi beberapa kali guguran lava dari puncak Merapi namun tidak sampai mengakibatkan kerusakan yang cukup besar dibandingkan letusan tahun 2010 yang lalu. 2

2 https://www.kompas.com/tren, diunduh tanggal 21 Januari 2022.

2. Kawasan rawan gempa bumi tektonik. Jawa Tengah bagian selatan, termasuk kota Yogyakarta dan sekitarnya, merupakan salah satu wilayah rawan gempa bumi. Dan di DIY merupakan wilayah yang dilewati oleh sesar Opak merupakan patahan aktif sehingga kerap kali menjadi penyebab terjadinya gempa yang mengguncang Jogja seperti yang terjadi di tahun 2006 dengan kekuatan gempa 6,3 SR yang mengakibatkan sekitar 6000 korban jiwa.

3. Kawasan rawan bencana Tsunami. Kawasan rawaan bencana tsunami di DIY adalah wilayah pantai dari Kabupaten Kulon Progo, Bantul dan Gunungkidul dengan ketinggian kurang dari 30 meter dari permukaan laut.

1.3.4. Tantangan Pandemi bagi Daerah

Tahun 2021 merupakan masa transisi dari penanganan pandemi Covid-19 pada tahun 2020 yang berdampak pada sosial, ekonomi dan keuangan, menuju periode normal untuk pemulihan. Kebijakan ekonomi makro dan fiskal tahun 2021 diarahkan untuk mempercepat pemulihan pasca pandemi Covid-19 serta menjadi momentum untuk melakukan reformasi kebijakan dalam rangka mempersiapkan fondasi yang kokoh untuk melaksanakan transformasi ekonomi mencapai Visi Indonesia Maju 2045.

Secara umum, langkah kebijakan pemulihan ekonomi daerah diambil dengan memperhatikan arahan Pemerintah, yang fokus pada tiga aspek, yakni: Menjaga kesehatan masyarakat, Melindungi daya beli khususnya masyarakat golongan tidak mampu melalui penguatan dan perluasan jaring pengaman sosial, serta Melindungi dunia usaha dari kebangkrutan. Untuk itu, Pemerintah Daerah juga melakukan refocusing dan re-alokasi pada manajemen pembangunan daerah sejak tahun 2020 hingga tahun-tahun mendatang. Adanya pergeseran rancang desain sasaran pembangunan daerah sejak pandemi Covid-19 ini bergulir berserta dampaknya, diharapkan penanganan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah juga mengalami penyesuaian dengan pertimbangan-pertimbangan teknis tertentu. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah regulasi yang dikeluarkan pemerintah terkait upaya penanganan pandemi Covid-19 agar upaya pemulihan ekonomi bisa berdampak. Kebijakan pemulihan ekonomi yang berdampak tersebut merupakan Langkah-langkah yang harus diambil oleh Pemerintah Daerah, untuk menangani resesi ekonomi, menjaga ketahanan daya beli masyarakat, pemulihan KUMKM, dan memulihkan sektor strategis (pariwisata dan pendidikan) secara bertahap dalam koridor mengikuti standar protokol kesehatan dalam pengendalian laju penyebaran pandemi Covid-19. 3

3 Kajian BAPPEDA : “Kebijakan Ekonomi Pemulihan Daerah Terdampak Covid-19”.

KAJIAN FISKAL REGIONAL

Tahun

D.I.YOGYAKARTA

Analisis Ekonomi Regional

Bab II

& KESEJAHTERAAN

Laju Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi pada triwulan IV 2021:

§ 2,82% (Y-on-Y)

§ 3,68% (Q-to-Q)

§ 5,53% (C-to-C)

Inflasi

Tingkat inflasi bulanan (m-to-m) tertinggi selama triwulan IV 2021 terjadi di bulan Desember 2021 sebesar 0,71%.

Tiga Komoditas yang paling mempengaruhi inflasi di bulan Desember 2021

Kelompok makanan, minuman dan

tembakau

2,38%

Dalam Persen (%)

Kelompok Transportasi

Kelompok Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga

0,72% 0,21%

Tingkat Pengangguran Terbuka

Angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di DIY Agustus 2021

4,56%

TPT berdasarkan Jenjang Pendidikan

PDRB ADHB: Rp149,37 T PDRB ADHK: Rp107,31 T

TPT Menurut Kabupaten/Kota (%)

jan 21 feb 21 mar 21 apr 21 mei 2 1 juni 21 juli 21 Agt 21 Sept 21 okt 20 21 nov 2 021 des20 21

Yogyakart a Nas

0,57 0,71

0,436

Indeks Harga yang Diterima Petani (lt) DIY : 104,75 Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) : 111,41.

Tanaman

Indeks Harga yang Diterima Nelayan (lt) DIY : 124,86 Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) : 108,38.

Jumlah Penduduk Miskin DIY September

Indeks Gini DIY September 2021 : 0,436

Distribusi Pengeluaran Penduduk Per Kapita, dan Gini Ratio Per September 2021

Sep-16 Mar-17 Sep-17 Mar-18 Sep-18 Mar-19 Sep-19 Mar-20 Sep-20 Mar-21 Sep-21

488,83488,53

Mar'20 Juni'20 Sept 20 Des 20 Mar 21 Juni 21 Sept 21 Des 21 DIY Nas

Mar'20 Juni'20 Sept 20 des 20 mar 21 juni 21 Sept 21 Des 21

2.1. Analisis Indikator Makro Ekonomi

2.1.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Kondisi perekonomian DIY pada triwulan IV 2021 mulai membaik seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat sebagai dampak positif penurunan kasus harian Covid-19. Kinerja perekonomian DIY sepanjang tahun 2021 yang diukur dari laju pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tumbuh 5,53 persen (c-to-c), melampaui pertumbuhan ekonomi Nasional 2021 yang sebesar 3,69 persen (c-to-c) dan pulau Jawa (3,66 persen). Secara nominal atau Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB), PDRB DIY 2021 mencapai Rp149,37 triliun, PDRB ADHK sebesar Rp107,31 triliun dan PDRB perkapita 2021 mencapai Rp40,23 juta.1

a. Laju Pertumbuhan Ekonomi (PDRB)

Laju pertumbuhan sebesar 5,53 persen (c-to-c) tersebut, jauh lebih baik jika dibanding tahun sebelumnya yang terkontraksi sebesar 2,68 persen. Andil pertumbuhan tertinggi berasal dari Jasa Lainnya sebesar 21,53 persen, Infokom sebesar 16,69 persen dan Konstruksi sebesar 10,82 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, kecuali net ekspor antar daerah, semua komponen tumbuh positif, dengan petumbuhan tertinggi terjadi pada komponen Ekspor Luar Negeri sebesar 21,68 persen, perubahan inventori sebesar 8,63 persen dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 8,20 persen.

Secara year on year (yoy), perekonomian DIY triwulan 2021 dibanding triwulan IV-2020 (yoy) tumbuh sebesar 2,82 persen, atau membaik jika dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 0,69 persen. Membaiknya kondisi perekonomian ini terutama didukung oleh pertumbuhan lapangan usaha pertanian dan jasa lainnya. Keduanya tumbuh mencapai 2 digit, yaitu 25,41 persen dan 13,34 persen, disusul lapangan usaha transportasi dan listrik masing-masing tumbuh 9,56 persen dan 8,51 persen.

Secara quarter to quarter (q-to-q), dibanding triwulan III 2021, perekonomian DIY triwulan IV 2021 tumbuh sebesar 3,86 persen (q-to-q), lebih baik dibanding triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 0,09 persen. Pertumbuhan ekonomi ini terutama didukung oleh pertumbuhan lapangan usaha jasa lainnya yang mencapai 42,01 persen, diikuti transportasi dan pergudangan sebesar 27,23 persen dan penyediaan akomodasi, makan, dan minum sebesar 17,95 persen.

1https://www.bps.go.id/indicator/52/288/1/-seri-2010-produk-domestik-regional-bruto-per-kapita.html

Analisis Ekonomi Regional

Bab II

Perekonomian DIY Tahun 2021 tumbuh 5,53 persen (c-to-c) , Ekonomi DIY Trwiulan IV 2021 tumbuh 2,82 persen (y-on-y) , Ekonomi DIY Trwiulan IV 2021 Tumbuh 3,68 persen (q-to-q)

b. Nominal PDRB

1. PDRB Sisi Pengeluaran

Struktur PDRB ADHB DIY tahun 2021 dari sisi pengeluaran didominasi oleh konsumsi RT, yaitu sebesar Rp96,07 triliun atau 64,32 persen terhadap total PDRB (Rp149,37 triliun), kemudian PMTB sebesar Rp49,03 triliun (32,83 persen) dan konsumsi pengeluaran pemerintah sebesar Rp23,07 triliun (15,45 persen).

Tabel 2.1

PDRB DIY ADHB dan ADHK Dari Sisi Pengeluaran Tahun 2019-2021 (dalam Triliun)

Sumber : BPS Provinsi DIY

Dibanding tahun 2020, nilai nominal PDRB seluruh komponen pengeluaran tahun 2021 tercatat mengalami peningkatan. Secara persentase, peningkatan terbesar terjadi pada komponen Ekspor Luar Negeri sebesar Rp1,99 triliun atau 25,54 persen, diikuti komponen PMTB (meningkat sebesar Rp4,71 triliun atau 10,63 persen) dan komponen Impor Luar Negeri (meningkat Rp538,56 miliar atau 10,11 persen).

Secara pangsa distribusi, konsumsi RT masih mendominasi struktur PDRB ADHB DIY 2021 dengan kontribusi sebesar Rp96,07 triliun atau 64,32 persen dari total nilai PDRB. Hal ini berarti bahwa sebagian besar perekonomian DIY dipengaruhi oleh konsumsi RT. Tingginya porsi konsumsi RT dalam struktur PDRB disatu sisi menguntungkan karena merefleksikan tingginya aktivitas ekonomi dan permintaan domestik yang biasanya lebih stabil ditengah gejolak ekonomi global. Namun, perlu diperhatikan bahwa komponen yang bersifat konsumtif bukan sebagai penggerak perekonomian yang ideal, karena itu perlu adanya dorongan investasi dan peningkatan kinerja ekspor.

ADHB ADHK Pertumbuhan Laju (%)

Dist ADHB

(%) ADHB ADHK Pertumbuhan Laju (%)

Dist ADHB

(%) ADHB ADHK Pertumbuhan Laju (%)

Dist ADHB (%) Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 92,46 59,75 3,81 65,39 92,75 58,08 -2,75 67,02 96,07 59,11 1,01 64,32

Pengeluaran Konsumsi LNPRT 4,61 2,91 9,58 3,26 4,38 2,72 -6,56 3,16 4,47 2,73 0,01 2,99

Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 22,46 13,98 3,12 15,88 22,89 13,85 -0,93 16,54 23,07 13,89 0,04 15,45 Pembentukan Modal Tetap Bruto 49,52 29,97 9,74 35,02 44,32 26,00 -13,41 32,03 49,03 28,13 2,10 32,83

Perubahan Inventori 1,50 1,14 3,04 1,06 1,63 1,21 6,24 1,18 1,79 1,31 0,10 1,20

Ekspor Luar Negeri 8,97 5,42 -0,22 6,34 7,78 4,71 -12,88 5,62 9,77 5,74 1,01 6,54

Impor Luar Negeri 6,93 4,74 -9,16 4,9 5,33 3,83 -14,87 3,85 5,86 4,11 0,28 3,93

Net Ekspor Antar Daerah -31,19 -3,94 -9,95 -22,06 -30,04 -1,06 -74,71 -21,71 -28,98 0,52 1,55 -19,40 Total 141,40 104,49 6,60 100,00 138,39 101,68 -2,69 100,00 149,37 107,31 5,53 100,00

2019

Investasi diperlukan untuk kesinambungan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Dalam buku A system of National Accounts (SNA) yang diterbitkan oleh PBB, dijelaskan bahwa realisasi investasi di suatu wilayah pada tahun tertentu merupakan penjumlahan nilai PMTB dan perubahan inventori. Nilai PMTB di DIY tahun 2021 sebesar Rp49,03 triliun, meningkat sebesar Rp4,7 triliun dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp44,32 triliun.

Nilai Perubahan inventori 2021 tercatat sebesar Rp162,04 miliar, meningkat 9,93 persen dibanding 2020. Total investasi di DIY tahun 2021 sebesar Rp50,82 triliun meningkat 10,61 persen dibanding 2020.

Pemerintah sebagai konsumen akhir berperan melalui instrumen belanja pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Peran pemerintah dilakukan dalam bentuk intervensi program yang berpihak pada masyarakat berpenghasilan rendah, subsidi, bantuan sosial maupun hibah. Komponen konsumsi Pemerintah merupakan kontributor terbesar ketiga dalam struktur PDRB DIY, dengan rata-rata share berkisar pada angka 16 persen dalam kurun waktu 2019-2021.

Pada tahun 2021, konsumsi pemerintah memberikan kontribusi sebesar Rp23,07 triliun (15,45 persen). Angka ini menurun dibanding tahun lalu dimana share konsumsi pemerintah mencapai 16,54 persen. Dalam kurun waktu 2019-2020, kontribusi konsumsi pemerintah berpola fluktuatif cenderung stagnan dalam kisaran 15,88 persen sampai dengan 16,54 persen. Hal ini menunjukkan bahwa peran pemerintah dalam menggerakkan perekonomian di DIY cukup stabil, baik melalui kebijakan perencanaan maupun tahapan implementasi pembangunan.

2) PDRB sisi Lapangan Usaha (LU)

Tidak ada lapangan usaha (LU) yang secara mencolok mendominasi struktur PDRB DIY 2021. Tiga kontributor terbesar dalam struktur PDRB DIY sisi lapangan usaha adalah Industri Pengolahan sebesar Rp18,46 triliun (12,36 persen), kemudian Informasi dan Komunikasi sebesar Rp16,02 triliun (10,72 persen) dan Konstruksi sebesar Rp15,15 triliun (10,14 persen). Sementara itu sektor Pertanian, Kehutanan & Perikanan yang menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian masyarakat DIY menduduki urutan ke-4 dengan kontribusi sebesar Rp14,52 triliun (9,72 persen) dan penyediaan akomodasi dan makan minum sebagai salah satu pendukung sektor pariwisata berkontribusi sebesar 9,16 persen.

Tidak ada lapangan

Tabel 2.2

PDRB DIY ADHB dan ADHK Dari Sisi Lapangan Usaha 2019-2021 (dalam Juta Rupiah)

Sumber : BPS Provinsi DIY

Kontributor terbesar pembentuk struktur PDRB DIY 2021 menurut lapangan usaha adalah Industri Pengolahan, yaitu sebesar Rp17,76 triliun atau 12,83 persen dari total PDRB DIY, dengan laju pertumbuhan sebesar 0,37 persen.

UKM di DIY yang bergerak di LU industri pengolahan di DIY kurang lebih sebesar 70 persen2, dimana secara jumlah unit cukup banyak, namun output yang dihasilkan tidak besar. Hal inilah yang menyebabkan sumbangan sektor Industri Pengolahan terhadap PDRB DIY cenderung stagnan selama 3 tahun terakhir. Namun demikian, keberadaan dan dominasi UKM berperan besar dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi di DIY. Berbahan baku lokal, modal yang tidak terlalu besar

dan produk yang dihasilkan dekat dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari, merupakan faktor-faktor yang membuat UKM mampu lebih bertahan dari dampak krisis global.

Namun, dimasa Pandemi Covid-19 di tahun 2020 ini, sektor inilah yang paling terdampak secara ekonomi. Salah penyebabnya adalah masyarakat masih mengonsumsi barang dan jasa tapi dalam kondisi tidak bekerja sehingga menyebabkan tidak berputarnya roda perekonomian. Melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), pemerintah

2 Berdasarkan data dari https://sibakuljogja.jogjaprov.go.id/publik/diy_ukm.php?c=3 jumlah UKM di DIY sebanyak 302.799 unit, dan yang bergerak pada Sektor Industri Pengolahan sebanyak 211.476 unit. (diakses tanggal 12 Februari 2022).

Kontribusi Industri Pengolahan dalam struktur PDRB sebesar 12,83 persen, dengan laju pertumbuhan sebesar 0,37 persen

memprioritaskan dukungan terhadap UMKM dengan alokasi anggaran khusus untuk mendukung UMKM, antara lain: Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM), Imbal Jasa Penjaminan (IJP), penempatan dana perbankan, subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan bantuan pedagang kaki lima (PKL).

Kontributor terbesar kedua dalah LU Informasi dan Komunikasi yang mempunyai sharing 10,72 persen.

Sektor ini bahkan mencatat pertumbuhan positif selama tiga tahun berturut-turut yaitu 7,45 persen, 19,7 persen

dan di tahun 2021 tumbuh 16,69 persen. Pertumbuhan positif di sektor infokom ini didorong oleh tingginya permintaan terhadap jasa komunikasi dan ekonomi digital di tengah pandemi. Seiring dengan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) dalam rangka jaringan baru dan juga investasi bisnis digital telecommunications, sama seperti di tahun 2020, pertumbuhan sektor ini juga ditopang oleh kebijakan work from home dan study at home. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa internet berperan besar dalam memfasilitasi masyarakat agar tetap dapat terkoneksi dalam melakukan aktivitas interaktif secara online. Hal tersebut direfleksikan dari meningkatnya animo masyarakat untuk berbelanja secara online. Dari data statistik kesejahteraan rakyat DIY tahun 2021 yang dirilis oleh BPS, pengguna internet di DIY 2021 mencapai 74 persen. Secara wilayah, pengguna tertinggi berada pada Kota Yogyakarta (85,27 persen), disusul Kab Sleman (81,85 persen), Kab Bantul (75,14 persen), Kab Kulonprogo (66,35 persen) dan paling rendah adalah Kab Gunungkidul (57,45 persen). Mayoritas penggunaan internet digunakan untuk media social, kemudian informasi/berita, sarana hiburan, pembelajaran dan pembelian barang/jasa.

Kontributor terbesar ketiga adalah LU Konstruksi. Ditahun 2021 sektor ini menyumbang Rp15,15 triliun (10,14 persen). Di tahun 2019, kontribusi Konstruksi mampu mencapai 11,11 persen, namun menurun hingga sebesar 10,14

persen di tahun 2021. Pertumbuhan lapangan usaha Konstruksi tahun 2021 mencapai 10,82 persen, lebih tinggi dibanding 2020 (9,63). Pertumbuhan LU konstruksi sejalan dengan peningkatan investasi Proyek Strategis Nasional (PSN) maupun Proyek Strategis Daerah, antara lain Kereta Api (KA) Akses Bandar Udara Baru Yogyakarta-Kulon Progo, Penambahan Lingkup Tol-Solo Yogyakarta-Kulon Progo dan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Kamijoro (Bantul, Kulon Progo).

Kontribusi

c. PDRB per kapita

PDRB Per Kapita DIY tahun 2021 mencapai Rp40,23 juta, yang berarti secara hitungan matematis setiap penduduk DIY memperoleh sekitar Rp3,35Juta/bulan.

Jika dibanding dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp37,75 juta, PDRB Per Kapita DIY mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi di DIY mulai menunjukkan perbaikan. Jika dibandingkan PDB ADHB Per Kapita Nasional tahun 2021 yang tercatat sebesar Rp62,24 juta, nampak masih terdapat gap yang cukup jauh.

2.1.2. Suku bunga

Sampai akhir tahun 2021, BI 7 day Reserve Repo Rate (BI7DRR) bertahan pada angka 3,75 persen, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25 persen. Kebijakan yang diambil oleh Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 15-16 Desember 2021 ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, di tengah prakiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia terus mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung upaya perbaikan ekonomi lebih lanjut antara lain melalui Melanjutkan kebijakan nilai tukar Rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, melanjutkan penguatan strategi operasi moneter, memperkuat kebijakan transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK), memfasilitasi penyelenggaraan promosi perdagangan dan investasi dan lain sebagainya. Dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan dan meningkatkan kredit/pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, ekspor, serta inklusi ekonomi dan keuangan, BI terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) 3. Pengaruh BI 7 Day Reserve Repo Rate (BI7DRR) Terhadap Inflasi dan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) di DIY

Di tahun 2021, dapat dikatakan BI7DRR tidak cukup berpengaruh (tidak signifikan) pada tingkat Inflasi di wilayah DIY (nilai koef korelasi = 0,437056). Hal ini disebabkan karena naik turunnya inflasi yang bersifat sementara dan yang hanya disebabkan oleh situasi dan kondisi keadaan tertentu dan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK). Pengaruh suku bunga yang dinaikkan atau diturunkan oleh bank sentral akan direspon oleh pelaku pasar dan penanam modal, sehingga berefek terhadap perekonomian. Apabila suku bunga acuan turun, industri perbankan diprediksi juga akan menurunkan suku bunga kreditnya.

PDRB Per Kapita

Sampai dengan posisi akhir November 2021, berdasarkan data pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rata-rata suku bunga dasar kredit dari 95 Bank adalah : Kredit Korporasi 8,34 persen, Kredit Ritel 8,88 persen, Kredit Mikro 9,32 persen, Kredit Konsumsi KPR 8,43 persen dan Kredit Konsumsi Non KPR sebesar 9,07 persen.

Di tahun 2021, penurunan BI7DRR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan seluruh suku bunga dasar kredit, baik Kredit Korporasi, Kredit Ritel, Kredit Mikro, Kredit Konsumsi KPR maupun Kredit Konsumsi Non KPR (nilai koef korelasi masing-masing; 0,568016192; 0,425584803; 0,354282399; 0,450694081; dan 0,416492202). Penurunan BI7DRR sejak Februari 2021 nampak direspons perbankan dengan menurunkan suku bunga kredit mulai Mei 2021. Sampai dengan November 2021, SBDK masih dalam tren menurun meskipun dalam besaran yang terbatas.

2.1.3. Inflasi

Tingkat inflasi di DIY diwakili oleh Kota Yogyakarta, dengan pertimbangan bahwa kota Yogyakarta adalah ibukota DIY dan sebagai pusat kegiatan perdagangan barang dan jasa.

Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Desember) 2021 dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Desember 2020 terhadap Desember 2021) mencapai 2,29 persen, berada diatas tingkat inflasi nasional (1,87 persen), namun lebih rendah dari asumsi makro APBD Perubahan DIY 2021 yang sebesar 3±1 persen (yoy). Capaian inflasi ini merupakan sebuah prestasi tersendiri, mengingat dari provinsi se-Jawa hanya DIY dan Jawa Timur yang mampu mengendalikan inflasi sesuai sasaran yang ditetapkan.4

Sepanjang tahun 2021 di Yogyakarta terjadi inflasi sebanyak 10 kali dan deflasi sebanyak 2 kali (Juni dan September). Inflasi tertinggi di Yogyakarta terjadi pada bulan Desember sebesar 0,71 persen (mtm). Hal ini menjadi kenaikan yang tertinggi dalam 3 tahun terakhir jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Secara umum tarikan permintaan pada Desember 2021 mengalami lonjakan, utamanya pada saat hari raya Natal dan tahun baru serta momentum liburan akhir tahun yang meningkatkan aktivitas pariwisata di DIY. Dari sisi permintaan, saat ini terindikasi masyarakat kian optimis dengan perbaikan ekonomi

4 https://www.krjogja.com/berita-lokal/diy/yogyakarta/inflasi-diy-2021-penuhi-target/ diakses tanggal 17 Januari 2022.

Tingkat Inflasi DIY tahunan sebesar 2,29%, lebih rendah dari asumsi makro APBD Perubahan DIY 2021 yang sebesar 3±1 persen (yoy).

seiring dengan percepatan vaksinasi. Inflasi tersebut disebabkan oleh kombinasi dari tarikan permintaan (demand pull) maupun dorongan penawaran (cost push). Secara umum tarikan permintaan pada Desember 2021 mengalami lonjakan, utamanya pada saat hari raya natal dan tahun baru, sehingga mendorong naiknya volatile food di DIY. Dari sisi dorongan penawaran, faktor kenaikan harga energi global mulai berimbas pada harga komoditas dalam negeri (imported inflation). Beberapa komoditas seperti minyak goreng (5,5%; mtm) dan bahan bakar rumah tangga (1,2%; mtm) tercatat mengalami peningkatan di akhir 2021.

2.1.4. Nilai tukar

Dollar Amerika Serikat merupakan acuan mata uang di seluruh dunia. Asumsi ini sangat berpengaruh terhadap penerimaan, pengeluaran serta pembiayaan dalam APBN. Pada APBN 2021, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan berada pada angka Rp13.900 hingga Rp14.800 per dolar AS.

Rupiah masih bergerak volatile sepanjang tahun ini sehingga melemah 1,5 persen sekalipun masih di bawah target pemerintah dalam APBN 2021 di level Rp14.600 per dolar AS. Rupiah mengawali awal tahun dengan penguatan, bahkan sempat menyentuh Rp13.895 per dolar AS pada perdagangan 6 Januari. Namun sinyal pelemahan mulai terlihat di pertengahan Februari hingga puncaknya rupiah melemah ke Rp14.615 pada

Nilai tukar rupiah menutup tahun 2021 di level Rp14.263 per dolar AS. Rupiah melemah 213 poin dari posisi awal tahun atau 1,5 persen.

pertengahan April. Sentimen pelemahan mulai mereda menuju pertengahan tahun sehingga rupiah sempat berbalik ke level Rp14.189 pada pekan kedua Juni. Namun, kemunculan varian Covid-19 Delta mendorong kekhawatiran pasar meningkat seiring lonjakan kasus di dalam negeri. Meski sempat menguat, memasuki bulan-bulan akhir 2021 sejumlah sentimen koreksi terhadap rupiah kembali menguat. Nilai tukar rupiah menutup tahun 2021 di level Rp14.263 per dolar AS. Rupiah melemah 213 poin dari posisi awal tahun atau 1,5 persen. Meski melemah, posisi rupiah sepanjang tahun ini masih lebih baik dibandingkan negara-negara Asia maupun emerging market lainnya. Adapun pelemahan rupiah sepanjang tahun ini juga dipengaruhi oleh aksi investor asing yang ramai-ramai kabur dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada sepanjang tahun ini, sekalipun pembelian di pasar saham masih cukup tinggi. 5

2.2. Analisis Indikator Kesejahteraan

2.2.1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) /Human Development Index (HDI)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator komposit yang cukup representatif untuk menggambarkan capaian kualitas pembangunan manusia antar wilayah di Indonesia. Pada tahun 2021, IPM di DIY mencapai 82,22 berada pada kategori IPM sangat tinggi (sangat tinggi/IPM≥80). Capaian ini lebih tinggi 0,25 poin dibanding

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator komposit yang cukup representatif untuk menggambarkan capaian kualitas pembangunan manusia antar wilayah di Indonesia. Pada tahun 2021, IPM di DIY mencapai 82,22 berada pada kategori IPM sangat tinggi (sangat tinggi/IPM≥80). Capaian ini lebih tinggi 0,25 poin dibanding

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL (Halaman 26-0)