BAB III ANALISIS FISKAL REGIONAL
3.1. Pelaksanaan APBN Tingkat Provinsi
3.1.1. Pendapatan Negara
Pendapatan pemerintah pusat terdiri dari penerimaan pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Realisasi pendapatan negara tahun 2021 mencapai Rp 7,46 triliun ( 96,08 persen),
Bab III
Analisis Fiskal Regional
Alokasi belanja Negara di DIY Rp22,46 triliun terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat Rp12,19 triliun dan TKD Rp 10,12 miliar.
tumbuh sebesar 2,62 persen dibandingkan tahun 2020. Sektor perpajakan masih mendominasi struktur penerimaan negara atau sebesar 65,84 persen.
3.1.1.1 Pendapatan Perpajakan
a. Analisis Perkembangan Pendapatan Perpajakan
Sampai dengan tahun 2021, Pajak Penghasilan (PPh) masih mendominasi dalam sumbangannya terhadap pendapatan negara di DIY yaitu sebesar 35,87 persen walaupun kontribusinya menunjukkan penurunan sejak tahun 2019. Pandemi Covid-19 yang dimulai sejak awal 2020 yang memukul perekonomian dunia termasuk Indonesia, membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan terkait relaksasi pajak penghasilan untuk membantu dunia usaha yang terkena dampak pandemi. Di satu sisi, kebijakan tersebut berdampak terhadap penurunan penerimaan PPh.
Berdasarkan Perpres 72 Tahun 2020, pajak masih menjadi tulang punggung penerimaan negara. Hal ini terlihat dari struktur pendapatan negara dari tahun 2019 sampai dengan tahun 2021 di mana tahun 2021 perpajakan memberikan kontribusi sebesar Rp 4,91 triliun (65,84 persen) dari total pendapatan di DIY sebesar Rp 7,46 triliun, sedangkan untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) memberikan kontribusi sebesar sebesar Rp 2,55 triliun (34,16 persen).
b. Analisis Pertumbuhan (Growth) Pendapatan Perpajakan
Tabel 3.2 Perkembangan Penerimaan Perpajakan Pemerintah Pusat Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta 2019-2021(dalam miliar rupiah)
Sumber: Kanwil DJP DIY, KPBC Yogyakarta, data SPAN (diolah) diakses tanggal 11-02-2022
Pertumbuhan penerimaan netto per jenis pajak secara umum mengalami pertumbuhan negatif terutama untuk jenis pajak yang dikenai kebijakan pemberian insentif pajak seperti Pajak
Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), bahkan penurunan penerimaan sudah terjadi sejak tahun 2020 sejak dimulainya pandemi Covid-19 yang diikuti dengan kebijakan pemerintah mengenai relaksasi perpajakan dengan memberikan insentif dan perlakuan khusus sejumlah aspek perpajakan.
Di tahun 2021 ini penyumbang penurunan penerimaan pajak terbesar berasal penerimaan pajak penghasilan non migas terutama PPh Final bunga tabungan dan deposito serta pph pegawai sebagai dampak dikeluarkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-05/PJ/2021 tentang Perubahan atas Perdirjen Pajak Nomor PER-07/PJ/2002 yang mengakibatkan PPh final bunga deposito harus diadministrasikan dalam KPP Large Tax Office (LTO), sedangkan penurunan PPh 21 pegawai karena mayoritas wajib pajak terutama dari perbankan adalah pegawai outsource dimana selama pandemi ini banyak dilakukan pengurangan pegawai. Untuk PPN dalam negeri sudah tumbuh positif seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi walaupun untuk jenis PPnBM mengalami penurunan yang cukup dalam karena adanya kesalahan pencantuman kode jenis pajak dalam penyetoran pajak oleh wajib pajak, sedangkan untuk pajak lainnya mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi karena adanya kenaikan tarif bea materai.
c. Analisis Tax Ratio Terhadap PDRB
Tax Ratio atau rasio pajak adalah perbandingan antara jumlah penerimaan pajak dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara yang artinya ratio pajak dapat menggambarkan kemampuan negara untuk menarik pajak dari penghasilan. Penerimaan pajak DIY tahun 2021 sebesar Rp 4,91 triliun sedangkan PDRB DIY tahun 2021 tercapai sebesar Rp 149,36 triliun sehingga rasio pajak (tax ratio) DIY 2021 sebesar 3,29 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan tax rasio tahun 2020 sebesar 3,61 persen. Penurunan tax ratio ini seiring dengan penurunan penerimaan pajak di tahun 2021 sebesar 1,85 persen.
d. Analisis pengaruh penerimaan perpajakan sektoral terhadap kontribusi PDRB menurut lapangan usaha.
Tabel 3.3 Pajak Sektoral dan PDRB Per Jenis Lapangan Usaha Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2020 dan 2021(dalam juta rupiah)
No Sektor/lapangan Usaha Pajak
PDRB ADHB Rasio Pajak (%)
2020 2021 %Growth
1 Perdagangan Besar dan Eceran 1.082,18 1.223,43 13,05% 12.169.431 10,05%
2 Industri Pengolahan 527,42 506,41 -3,98% 18.458.784 2,74%
3 Jasa Keuangan dan Asuransi 629,87 477,13 -24,25% 5.954.918 8,01%
4 Administrasi pemerintahan 428,15 448,57 4,77% 12.056.096 3,72%
5 Konstruksi 340,06 376,97 10,85% 15.147.860 2,49%
6 Jasa Pendidikan 151,07 198,92 31,68% 13.234.223 1,50%
7 Transportasi dan Pergudangan 208,37 194,19 -6,81% 6.609.464 2,94%
8 Jasa Lainnya 180,07 184,20 2,30% 3.888.295 4,74%
9 Informasi dan Komunikasi 115,35 118,05 2,34% 16.015.667 0,74%
10 Jasa Kesehatan dan Sosial 134,74 114,64 -14,92% 4.729.131 2,42%
Sampai dengan triwulan empat 2021, dari sepuluh sektor dominan penerimaan pajak di tahun 2021, lima sektor yang mencatatkan pertumbuhan positif, lima sektor lainnya mengalami pertumbuhan negatif bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2020. Sektor
Perdagangan Besar dan Eceran dengan penerimaan pajak tertinggi, tumbuh sebesar 13,05 persen dan memiliki kontribusi paling tinggi terhadap PDRB yaitu sebesar 10,05 persen disusul sektor Jasa Keuangan dan Asuransi, walaupun mengalami pertumbuhan negatif sebesar 24,25 persen sebagai akibat dikeluarkannya Peraturan Dirjen Pajak Nomor 07/PJ/2020 jo PER-05/PJ/2021, namun mampu memberikan sumbangan terhadap PDRB sebesar 8,01 persen.
Sedangkan untuk sektor Industri Pengolahan dan Konstruksi walaupun masuk dalam lima besar sektor dominan penerimaan pajak, namun memberikan kontribusi yang kecil terhadap PDRB masing-masing sebesar 2,74 persen dan 2,49 persen. Sektor Industri Pengolahan tumbuh negatif karena adanya restitusi 25 Miliar dari salah satu WP Besar KLU Industri.
3.1.1.2 Penerimaan Negara Bukan Pajak a. Analisis Perkembangan PNBP
Selain sektor perpajakan, pendapatan negara yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) saat ini mulai diperhitungkan untuk dijadikan andalan untuk memaksimalkan penerimaan negara. Realisasi PNBP DIY tahun 2021 sebesar Rp2,54 triliun (119,54 persen). Dari sisi capaian penerimaan, persentase di tahun 2021 mengalami kenaikan 12,49 persen dibandingkan dengan realisasi penerimaan tahun 2020.
Kenaikan tersebut berasal dari pendapatan BLU. b. Analisis Pertumbuhan PNBP
Penyumbang PNBP terbesar berasal dari pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) yaitu sebesar 85,68 persen sedangkan PNBP lainnya sebesar 14,32 persen. PNBP lainnya mengalami penurunan sebesar 13,81 persen disebabkan antara lain karena adanya penutupan layanan sementara karena kurangnya animo pengunjung sebagai dampak pandemi Covid-19 dan kebijakan penurunan tarif SPP karena mahasiswa kesulitan dalam membayar SPP normal.
Tabel 3.4
Penerimaan PNBP Pemerintah Pusat per Jenis PNBP Tingkat DIY, Tahun 2019-2021 (dalam miliar rupiah)
URAIAN
2019 2020 %Growth
2019-2020
2021 %Growth
2020-2021
PAGU REALISASI %REAL PAGU REALISASI %REAL PAGU REALISASI %REAL
PNBP Lainnya 387,26 543,33 140,30 265,42 423,47 159,55 -22,06 221.87 364,97 164,50 -13,81
Pendapatan BLU 1.199,25 1.596,99 133,17 1.905,29 1.842,11 96,68 15,35 1.910,22 2.183,65 114,31 18,54 Total 1.586,51 2.140,32 134,91 2.170,71 2.265,58 104,37 104,37 2.132,09 2.548,62 119,54 12,49
Sumber :Data laporan GFS Audited 2019 & 2020, Data SIKRI Tw IV 2021
3.1.1.3 Penerimaan Hibah
Hibah pemerintah yang selanjutnya disingkat Hibah adalah setiap penerimaan negara dalam bentuk devisa, devisa yang dirupiahkan, rupiah, barang, jasa dan/atau surat berharga yang
diperoleh dari pemberi hibah yang tidak perlu dibayar kembali, yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri. Penerimaan hibah uang dalam negeri tahun 2021 yang seluruhnya berasal dari Pemerintah Daerah wilayah DIY sebesar Rp 9,79 miliar sedangkan untuk realisasinya sebesar Rp 9,77 miliar untuk 33 satker (terlampir). Mayoritas penerima hibah di wilayah DIY adalah satker di bawah Kementerian Agama yaitu madrasah berupa hibah untuk kegiatan BOS, Kantor Kemenag untuk kegiatan Pengelolaan dan Pembinaan Pendidikan Madrasah dan satker Korem untuk Penyelenggaraan Intelijen dan Pengamanan Matra Darat serta KPU dan Bawaslu untuk Pelaksanaan Tahapan Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, Pemilukada, Publikasi dan Sosialisasi serta partisipasi Masyarakat dan PAW.