• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Mengenai Gambaran Area Blockages yang Terjadi di PT. "X" pada Karyawan Office.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Persepsi Mengenai Gambaran Area Blockages yang Terjadi di PT. "X" pada Karyawan Office."

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui persepsi mengenai gambaran area blockages yang terjadi di PT. “X” pada karyawan office. Pemilihan sampel menggunakan teknik purosive sampling, dan sampel dalam penelitian ini berjumlah 91 orang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian deskriptif dengan metode pengumpulan data teknik survei.

Alat ukur yang digunakan merupakan “The Blockage Questionnaire” yang dirancang oleh Mike Woodcock & Dave Francis (1990) yang telah diterjemahkan oleh penulis. Menurut teori Mike Woodcock & Dave Francis, terdapat 14 area blockages yang dapat menghambat efektivitas dan efisiensi dari sebuah perusahaan. 14 area blockages tersebut adalah : Unclear aims, Unclear values, Inappropriate management philosophy, Lack of management development, Confused organizational structure, Inadequate control, Inadequate recruitment and selection, Unfair rewards, Poor training, Lack of personal development, Inadequate communication, Poor teamwork, Low motivation, Low creativity. Dalam kuesioner ini setiap area diwakili oleh 10 pernyataan sehingga keseluruhan item kuesioner berjumlah 140 item. Total skor dari setiap area dijumlahkan lalu dibuat ranking.

Berdasarkan pengolahan data, didapatkan bahwa terdapat 3 area blockage yang paling berpotensi menghambat efektivitas dan efisiensi perusahaan yaitu Unfair Rewards skor 887, Low Creativity skor 670, Lack of Management Development skor 625.

Peneliti mengajukan saran bagi perusahaan agar meninjau ulang sistem reward karyawan, meningkatkan kreativitas dan lebih berani dalam mengambil resiko, serta mengembangkan kompetensi para managernya melalui program-program pelatihan dan pengembangan

(2)

ABSTRACT

This study aims to determine the blockage areas happen in the organization through employees' perception. This study was conducted at PT. "X", one of Indonesia's garment and apparel manufacturer. Purposive sampling technique was used in this study with total of sample 91 employees. The method used in this study is descriptive and all data is collected through survey method.

The measuring instrument used is "The Blockage Questionnaire" designed by Mike Woodcock & Dave Francis (1990) that had been translated by the researcher. Based on blockage theory, there are 14 blockage areas that can obstruct organization's effectiveness and efficiency. The 14 blockage areas are : Unclear aims, Unclear values, Inappropriate management philosophy, Lack of management development, Confused organizational structure, Inadequate control, Inadequate recruitment and selection, Unfair rewards, Poor training, Lack of personal development, Inadequate communication, Poor teamwork, Low motivation, Low creativity. The total number of items in this questionnaire is 140 items, every area is represented in 10 statements. The total score of each areas is calculated and then ranked from one to fourteen.

The results have shown there are 3 main blockage areas that have the most potential in obstructing organization's effectiveness and efficiency. They are Unfair Rewards with the score of 887, Low Creativity with the score of 670, and Lack of Management Development with the score of 625.

Researcher suggests that the company review their employees' reward system, improve their creativity and have more courage in taking risks, also develop the managers' competency though training and development program.

(3)

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN...i

ABSTRAK...ii

KATA PENGANTAR………...iii-iv DAFTAR ISI………...…v-vii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah……....………...…….…...…...1

1.2 Identifikasi Masalah………..……..………...6

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian………....……...…...6

1.3.1 Maksud Penelitian………...…..……...…...6

1.3.2 Tujuan Penelitian………...……...…...6

1.4 Kegunaan Penelitian…………...….…...7

1.4.1 Kegunaan Teoritis………...…...7

1.4.2 Kegunaan Praktis………...…...7

(4)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Organisasi...18

2.2 Sumber Daya Manusia...18

2.3 Persepsi...18-20

2.4 14 Area Blockage...21

2.3.1 Blockage 1- Unclear Aims...21-22

2.3.2 Blockage 2 – Unclear Values...22

2.3.3 Blockage 3 – Inappropriate Management Philosophy...22-24

2.3.4 Blockage 4 – Lack of Management Development...24-25

2.3.5 Blockage 5 - Confused Organizational Structure...25-26

2.3.6 Blockage 6 – Inadequate Control...26-27

2.3.7 Blockage 7 – Inadequate Recruitment and Selection...27-28

2.3.8 Blockage 8 – Unfair Rewards...28-29

2.3.9 Blockage 9 – Poor Training...29-30

2.3.10 Blockage 10 – Lack of Personal Development...30

2.3.11 Blockage 11 – Inadequate Communication...31

(5)

2.3.13 Blockage 13 – Low Motivation...32

2.3.14 Blockage 14 – Low Creativity...32-33 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan & Prosedur Penelitian...34

3.2 Bagan Prosedur Penelitian...34

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional...35

3.3.1 Variabel Penelitian...35

3.3.2 Definisi Konseptual...35

3.3.3 Definisi Operasional...35-37 3.4 Alat Ukur...37

3.4.1 Spesifikasi Alat Ukur...37-40 3.4.2 Prosedur Pengisian...40

3.4.3 Penilaian Kuesioner...40-41 3.4.4 Data Pribadi...41

3.4.5 Data Penunjang...41

3.4.5 Validitas dan Reliabilitas...42

3.4.5.1 Validitas...42

3.4.5.2 Reliabilitas...42

(6)

3.5.1 Populasi Sasaran...43

3.5.2 Karakteristik Populasi...43

3.5.3 Teknik Penarikan Sampel...43

3.6 Teknik Analisis Data...43

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian...44

4.1.1 Gambaran Sampel Penelitian...44-48 4.2 Gambaran Hasil Penelitian...48-55 4.3 Pembahasan...55-59 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan...60

5.1.1 Area blockage utama...60

5.2 Saran...60

5.2.1 Saran Teoretis...60

5.2.2 Saran Praktis...60-61 DAFTAR PUSTAKA...62

(7)

LAMPIRAN

Area - Area Blockages yang Terjadi di Tiap Divisi...

Uji Validitas...

Uji Reliabilitas...

Kata Pengantar...

Lembar Persetujuan...

Petunjuk Pengisian...

Lembar Jawab Kuesioner...

(8)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

PT. “X” merupakan salah satu perusahaan garmen besar di Indonesia yang

berkontribusi pada perekonomian nasional. PT. “X” yang berdiri sejak tahun

1989 merupakan subsidiary company dari Triputra Group dalam Strategic

Business Units (SBU) dan bisnisnya termasuk ke dalam suatu group yang terdiri dari 4 perusahaan yang tersebar di Jakarta, Semarang dan Bogor. Bisnis

utama PT. “X” yaitu Global Manufacturing and Retail of Apparel. Saat ini PT. “X” sebagai suatu grup telah berhasil menjangkau Malaysia, Inggris,

Portugal, Australia, Jerman, Swedia, Taiwan dan Jepang terutama untuk

seragam, industrial wear dan fashion. PT. “X” memproduksi pakaian pria,

wanita, dan seragam untuk diekspor ke luar negeri dengan jumlah produksi

mencapai 1.700.000 buah per tahunnya. Sedangkan untuk domestik, PT. “X”

memproduksi pakaian kantoran pria dan wanita sebanyak 720.000 buah per

tahunnya untuk dipasarkan di Indonesia. Merek sendiri yang diproduksi oleh

PT. “X” diantaranya adalah Valino, Christian Kent, Harry Martin, Sierra

Morena, dan Valino Donna. Sedangkan merek yang memiliki lisensi dari luar

yaitu Van Heusen, Geoffrey Beene dan Arnold Palmer. Visi PT. “X” yaitu

untuk menjadi perusahaan apparel terdepan yang memberikan produk pilihan

(9)

2 mengembangkan bisnis melalui keunikan brand dibawah orang-orang yang

sangat kompeten, berkomitmen untuk menyediakan branded apparel

berdasarkan kebutuhan pelanggan, untuk menciptakan tempat kerja yang

terbuka dan saling menghormati yang didasarkan pada CHIC. CHIC

merupakan kepanjangan dari Customer driven, Harmony, Integrity, Courage,

yaitu nilai yang ditanamkan oleh PT. “X” pada karyawannya.

Saat ini PT. “X” memiliki 240 orang karyawan pada bagian office dan

2570 orang karyawan pada bagian operator. Setiap harinya PT. “X” mampu

memproduksi sekitar 3500 pcs. Hasil produksi PT. “X” didistribusikan di 12

show room dan 480 counter department store seperti Matahari, Centro, Star dan Sogo yang tersebar di seluruh Indonesia.

Persaingan dalam industri garmen baik dalam negeri maupun secara global

semakin meningkat. Para buyer dari luar negeri telah mulai bersaing ketat dan

menilai kualitas produk garmen Indonesia masih lebih kompetitif

dibandingkan dengan negara lain seperi Bangladesh dan mulai menandingi

Tiongkok. Dari sisi harga, industri garmen Indonesia masih lebih bersaing

dibandingkan dengan Vietnam, Filipina, Tiongkok dan Kamboja (Harian

Media Indonesia, 21/08/2008). Terlebih lagi pada tahun 2015 ini, pasar bebas

ASEAN akan diberlakukan sehingga setiap masyarakat yang berada di negara

ASEAN dapat dengan bebas melakukan usaha dan bekerja di semua negara

yang tergabung dalam negara ASEAN. Hal ini tentunya memberikan

tantangan yang tidak mudah bagi dunia bisnis untuk dapat terus berkembang

(10)

Dengan adanya tantangan dari pasar garmen Indonesia dan dunia, PT. “X”

harus mampu bertahan dan meningkatkan produktivitas perusahaan untuk

tetap bersaing. Perusahaan menyadari bahwa untuk meningkatkan kualitas

produknya harus dengan meningkatkan kualitas karyawannya (Majalah

TREN/Edisi I/Oktober 2008). Pada akhir tahun 2014 lalu, seluruh perusahaan

di bawah Triputra Group sedang membudayakan improvement. Dikatakan

bahwa diperlukan usaha yang keras, kesabaran dan konsistensi untuk terus

mengingatkan dan mendorong partisipasi aktif seluruh karyawan untuk dapat

terus menggulirkan roda aktivitas improvement. Untuk membudayakan

improvement maka harus dimulai dari pimpinan tertinggi di perusahaan hingga karyawan operasional (Majalah TREN/Edisi 22/September2014).

Dalam rangka merealisasikan budaya improvement ini maka terlebih

dahulu perlu ditinjau lebih lanjut masalah-masalah yang terjadi dalam

perusahaan yang dapat menghambat efektivitas dan efisiensi perusahaan

secara keseluruhan. Dari hasil wawancara dengan HRD PT. “X” terdapat

beberapa masalah yang berpotensi menghambat kinerja perusahaan. Salah

satu masalah PT. “X” yaitu adanya kesenjangan antara potensi karyawan

dengan posisi yang tersedia terutama pada posisi yang membutuhkan

spesifikasi khusus. Hal ini biasa terjadi pada posisi-posisi atas. Oleh karena

keterbatasan sumber daya manusia maka biasanya karyawan tetap

ditempatkan di posisi tertentu walau kurang sesuai. Penempatan posisi yang

tidak sesuai denan kompetensi karyawan dapat menghambat efektivitas

(11)

4 yaitu ketidaksesuaian perencanaan budget dengan penerapannya. Perencanaan

budget di awal biasanya tidak bermasalah, namun terkadang jumlah yang

diminta pada saat perencanaan berbeda dengan yang diperlukan oleh bagian

marketing pada saat melakukan kegiatannya sehingga akhirnya menurunkan

efisiensi perusahaan. Lalu ada pula masalah koordinasi dari satu bagian

dengan bagian lainnya sehingga koordinasi bagian-bagian menjadi kurang

optimal dan berakibat pada keterlambatan membuat koleksi.

Masalah-masalah ini berpotensi menghambat efektivitas dan efisiensi

perusahaan. Mike Woodcock dan Dave Francis (1990) dalam bukunya

“Unblocking Your Organization” menyebut masalah-masalah dalam

perusahaan ini sebagai “blockages” yang secara harafiah dapat diartikan

sebagai penyumbat atau penghambat. Masalah-masalah dalam suatu

organisasi akan menghambat alur dari suatu bagian ke bagian lain sehingga

berdampak pada berkurangnya efisiensi dari sistem organisasi secara

keseluruhan. Blockages menghambat sumber daya manusia menggunakan

kecerdasan, energi dan usaha mereka untuk meningkatkan produktivitas kerja.

Mike Woodcock dan Dave Francis mengemukakan bahwa terdapat 14 area

blockages yang umum terjadi pada suatu organisasi. Ke 14 area blockages tersebut adalah Unclear aims, Unclear values, Inappropiate management

(12)

Peneliti melakukan survei awal terhadap 14 orang karyawan PT. “X”.

57.1% (8 orang) mempersepsi bahwa terdapat Unfair Rewards yaitu karyawan

bagian office tidak diberikan uang lembur sedangkan untuk operator ada

hitungan lembur. 42.8% (6 orang) mempersepsi bahwa terdapat Inadequate

Control yaitu atasan langsung jarang ada di tempat sehingga kesulitan dalam menjalankan pekerjaan yang memerlukan konfirmasi atasan. 35.7% (5

orang)mempersepsi bahwa terdapat Lack of personal development yaitu

banyak karyawan yang sudah bekerja bertahun-tahun tidak naik jabatan dan

tidak mendapatkan keahlian baru. 35.7% (5 orang) mempersepsi bahwa

terdapat Inadequate Recruitment and Selection yaitu beberapa karyawan

merasa bahwa ada orang-orang yang ditempatkan pada jabatan tertentu tidak

sesuai dengan kompetensinya. 28.6% (4 orang) mempersepsi bahwa terdapat

Confused Organizational Structure yaitu dikarenakan struktur organisasi yang berubah sampai tiga kali dalam setahun sehingga jika tidak memperhatikan

perubahan struktur karyawan tidak mengetahui jalur birokrasi yang baru.

28.6% (4 orang) mempersepsi bahwa terdapat Low Motivation yaitu para

karyawannya hanya bekerja monoton dan tidak bersemangat dalam bekerja.

28.6% (4 orang) mempersepsi bahwa terdapat Poor Teamwork yaitu antar

department terkadang saling menyalahkan melemparkan tanggung jawab atas suatu pekerjaan. 21.4% (3 orang) mempersepsi bahwa terdapat Lack of

Management Development yaitu bawahan tidak dipersiapkan untuk menggatikan atasannya. 14.3% (2 orang) mempersepsi bahwa terdapat Poor

(13)

6 hanya bagian SFA saja yang mendapatkan training secara rutin. 7.14% (1

orang) mempersepsi bahwa terdapat Unclear Aims yaitu para pekerja hanya

bekerja tanpa mengetahui apa tujuan dari yang dikerjakannya.

Melihat adanya gejala-gejala masalah yang berpotensi menghambat

kinerja PT. “X” untuk berfungsi secara optimal, maka peneliti tertarik meneliti

lebih jauh untuk mengetahui area blockages mana yang paling bermasalah.

Dengan diketahuinya 3 area blockages utama yang paling bermasalah maka

akan memudahkan perusahaan untuk memfokuskan penyelesaian masalah di

area-area tersebut terlebih dahulu dalam rangka meningkatkan efektivitas

kontribusi sumber daya manusia dalam perusahaan.

1.2Identifikasi Masalah

Dari penelitian ini ingin diketahui area apakah yang menjadi tiga blockages

utama di PT. “X”

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran

mengenai area blockages yang terjadi di PT. “X”

1.3.2 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran

mengenai tiga area blockages utama yang terjadi di PT. “X”

(14)

1.4Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Teoretis

1 Menambah pemahaman teoretis tentang blockages, sehingga

menambah pengetahuan khususnya di bidang Psikologi Indusri

dan Organisasi

2 Memberikan informasi mengenai landasan teori bagi peneliti

lain yang tertarik untuk melakukan penelitian lain mengenai

blockages yang terdapat di organisasi 1.4.2 Kegunaan Praktis

1 Memberikan informasi kepada PT. “X” mengenai tiga area

blockages utama yang terjadi di PT. “X” sebagai landasan bagi pihak perusahaan dalam mengelola kebijakan dan menangani

sumber daya manusia.

2 Memberikan informasi kepada karyawan PT. “X” mengenai

hal-hal apa saja yang dapat menjadi hambatan bagi efektivitas

dan efisiensi perusahaan.

1.5Kerangka Pikir

Sumber daya manusia merupakan inti dari berjalannya suatu perusahaan.

PT. “X” membutuhkan karyawan untuk mencapai tujuan perusahaan begitu

pula karyawan PT. “X” membutuhkan PT. “X” untuk mencapai tujuan

(15)

8 “X” menyatakan bahwa mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan finansial

baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga, memenuhi kebutuhan untuk

karir, mengasah kompetensi, menambah pengalaman, bersosialisasi dan

mengisi waktu. Karyawan mengharapkan PT. “X” dapat memenuhi sebagian

besar dari kebutuhan-kebutuhannya tersebut.

PT. “X” memiliki sistem dan kebijakan yang diperuntukkan mengatur

jalannya perusahaan agar sistematis dan efisien untuk mencapai tujuannya

yang disebut sebagai management system. Selain itu sistem ini dibuat untuk

memfasilitasi para karyawannya untuk pemenuhan kebutuhan karyawannya

tersebut. Management system ini terdiri atas visi misi perusahaan, nilai,

aturan, stuktur organisasi, birokrasi, job description, standard operating

procedures, dan sistem penggajian karyawan. Strategi yang digunakan oleh perusahaan berupa management system ini dipersepsi oleh karyawan PT. “X”.

Hasil yang diharapkan dengan adanya management system dalam

perusahaan mungkin tidak sejalan dengan hasil yang ada sebenarnya. Maka

dari itu berhasil atau tidaknya strategi perusahaan dalam mencapai efektivitas

dan efisiensi kerja dapat dilihat melalui persepsi karyawan mengenai

peraturan-peraturan yang ada di perusahaan. Persepsi merupakan pemaknaan

dari sensasi. Sensasi merupakan proses diterimanya stimulus oleh alat indera

(Sunaryo, 1994). Persepsi karyawan PT. “X” yaitu pemaknaan karyawan

mengenai segala jenis peraturan, kebijakan dan strategi perusahaan.

Menurut Mike Woodcock dan Dave Francis (1997), pada suatu

(16)

terdapat pada organisasi dapat diketahui melalui persepsi karyawan mengenai

hal-hal apa saja yang menjadi hambatan dalam organisasi tempat karyawan

tersebut bekerja. Mike Woodcock dan Dave Francis dalam bukunya

Unblocking Your Organization (1997), menyatakan bahwa terdapat 14 area blockage organizational yang dapat terjadi dalam suatu organisasi.

Unclear aims atau ketidakjelasan tujuan. Dalam hal ini karyawan mempersepsi bahwa alasan untuk melakukan tugas-tugas di PT. “X”. Jika

karyawan mempersepsi bahwa PT. “X” memahami kemana tujuan dari

perusahaan dan alasannya , maka tidak ada masalah dalam penetapan tujuan

di PT. “X”. Jika karyawan PT. “X” mempersepsi bahwa tujuan dalam

melakukan sesuatu pekerjaan (job description) dan alasannya tidak jelas atau

disampaikan dengan buruk, maka ada masalah dalam kejelasan tujuan yang

menghambat organisasi.

Unclear values atau ketidakjelasan nilai-nilai perusahaan. Nilai-nilai merupakan dasar dari perilaku dan sangat penting bagi para manajer untuk

mengarahkan perilaku bawahannya. Jika para karyawan mempersepsi bahwa

nilai-nilai yang ditanamkan oleh perusahaan jelas dan mudah dimengerti,

maka tidak ada masalah dalam nilai-nilai di PT. "X". Jika karyawan

mempersepsi nilai-nilai yang ditanamkan tidak jelas dan sulit direalisasikan,

maka terdapat masalah dalam kejelasan nilai-nilai perusahaan.

Inappropriate management philosophy atau filosofi manajemen yang tidak tepat. Dalam hal ini prinsip manajemen yang disadari maupun tidak

(17)

10 yang tidak realistik dan tidak manusiawi. Jika karyawan mempersepsi bahwa

para manager mengemban tanggung jawab mereka dengan serius dan

mengecek pemikiran mereka dengan apa yang terjadi dalam praktisnya, maka

tidak ada masalah dalam filosofi manajemen di PT. “X”. Jika karyawan

mempersepsi bahwa visi misi dan values yang mendasari sistem manajemen

di PT. “X” menciptakan suasana yang tidak realistis dan tidak manusiawi,

maka terdapat masalah pada prinsip manajemen perusahaan dan dapat

menghambat jalannya perusahaan.

Lack of management development atau pengembangan manajemen yang kurang memadai. Dalam hal ini karyawan mempersepsi bahwa PT. “X” tidak

membuat perencanaan yang memadai untuk pengisian jabatan di masa

mendatang. Jika karyawan mempersepsi bahwa PT. “X” mempersiapkan

keperluan-keperluan staffing di masa mendatang dan perusahaan membuat

talent pool yang memadai bagi perusahaan, maka tidak ada masalah dalam pengembangan manajemen di PT. “X”. Apabila karyawan mempersepsi

bahwa persiapan untuk pengisian jabatan di masa mendatang seperti pelatihan

terhadap bahawan yang akan menjadi penerus tidak memadai dan

diantisipasi, maka terdapat masalah pada perencanaan dan manajemen di PT.

“X”.

Confused organization structure yaitu ketidakjelasan struktur organisasi. Dalam hal ini para karyawan mempersepsi cara perusahaan

mengorganisasikan para karyawannya. Jika karyawan mempersepsi kerangka

(18)

masalah pada struktur organisasi PT. “X”. Sebaliknya, jika banyak karyawan

yang mempersepsi bahwa job description, standard operation procedure

(SOP), jalur birokrasi dan struktur organisasi tidak jelas atau menghambat , maka menunjukkan adanya masalah dalam struktur organisasi yang menjadi

hambatan bagi perusahaan.

Inadequate control atau pengendalian yang tidak adekuat. Dalam hal ini karyawan mempersepsi keputusan yang dibuat kurang tepat disebabkan oleh

informasi yang salah ditangan orang-orang yang tidak tepat. Jika karyawan

mempersepsi bahwa pengendalian dengan jelas ditangani oleh orang-orang

yang sesuai dalam pengambilan keputusan, maka tidak ada masalah dalam

pengendalian di PT. “X”. Namun jika kebanyakan karyawan PT. “X”

mempersepsi bahwa pengambilan keputusan dilakukan oleh atasan yang tidak

kompeten, supervisi yang kurang oleh atasan dan karyawan umumnya tidak

terlibat dalam pengambilan keputusan, maka terdapat masalah dalam

pengendalian di PT. “X”.

Inadequate recruitment and selection yaitu kurang tepatnya proses rekrutmen dan seleksi. Dalam hal ini para karyawan mempersepsikan bahwa

karyawan yang dipekerjakan di PT. “X” memiliki pengetahuan, kepribadian

atau kemampuan yang sesuai atau kurang sesuai dengan kebutuhan

organisasi. Jika banyak karyawan mempersepsi bahwa karyawan yang

dipekerjakan sesuai dengan ketentuan dan dapat berkembang dalam

pekerjaannya maka tidak terdapat masalah pada proses rekrutmen dan seleksi

(19)

12 karyawan yang diperjakan di PT. “X” tidak sesuai dengan jabatannya, tidak

kompeten dalam bekerja, maka hal ini menunjukkan adanya masalah di

proses rekrutmen dan seleksi yang menghambat perusahaan.

Unfair rewards atau ketidakadilan penghargaan yang diberikan. Dalam hal ini para karyawan tidak diberi penghargaan dalam cara yang dapat

memuaskan mereka, atau sistem reward bertentangan dengan ‘kesehatan’

organisasi. Jika karyawan mempersepsi bahwa PT. “X” memberi

penghargaan tertinggi kepada karyawan yang berkontribusi paling besar

terhadap perusahaan dan sistem penggajian dipersepsi adil dan beralasan,

maka tidak ada masalah dalam sistem penghargaan di PT. “X”. Jika karyawan

PT. “X” mempersepsi bahwa gaji, bonus dan uang lembur yang diberikan

tidak memuaskan, maka ada masalah dalam sistem penghargaan PT. “X”.

Poor training atau kurangnya pelatihan. Dalam hal ini karyawan mempersepsi bagaimana karyawan mempelajari hal yang dapat meningkatkan

kinerjanya secara efisien. Jika karyawan mempersepsi bahwa karyawan

diberikan fasilitas untuk belajar hal-hal yang bersangkutan dengan pekerjaan

secara cepat, maka tidak ada masalah dalam pengembangan dan pelatihan di

PT. “X”. Jika para karyawan mempersepsi bahwa para karyawan tidak

mendapatkan cukup pelatihan untuk meningkatkan kinerjanya atau pelatihan

yang diberikan kurang dirasakan manfaatnya, maka terdapat masalah pada

area pelatihan dan hal ini dapat menghambat perusahaan.

(20)

karyawan. Jika karyawan mempersepsi bahwa para karyawan di PT. “X”

semakin lama semakin berkembang sebagai individual dan organisasi

mendukung dan menghargai efektivitas personal yang tinggi, maka tidak ada

masalah dalam stagnasi personal di PT. “X”. Apabila karyawan PT. “X”

mempersepsi bahwa para karyawan tidak pernah naik jabatan, tidak

menambah kemampuan lain dari sejak masuk kerja sampai saat ini, maka

terdapat masalah stagnasi personal di PT. “X” dan menimbulkan hambatan

bagi perusahaan.

Inadequate communication atau kurangnya komunikasi dalam perusahaan. Organisasi perlu memiliki visi untuk masa mendatang dan visi

ini harus sebarluaskan diantara para manajer yang memegang kuasa dan

dikomunikasikan kepada seluruh karyawan yang bekerja di PT. "X". Jika para

karyawan mempersepsi bahwa atasannya mengkomunikasikan visi,

tujuan-tujuan, informasi dengan jelas dan dimengerti, maka tidak ada masalah dalam

komunikasi di PT. "X". Jika karyawan mempersepsi bahwa informasi dari

manajer tidak tersampaikan pada karyawan-karyawan dibawahnya,

kurangnya rasa percaya dan banyak prasangka, atasan kurang dapat

berkomunikasi dengan baik pada bawahannya, maka terdapat masalah

komunikasi di PT. "X".

Poor teamwork atau kurangnya kerja sama tim. Dalam hal ini, karyawan PT. “X” melihat bahwa para karyawan yang seharusnya

berkontribusi pada tugas umum tidak berharap untuk bekerja sama atau

(21)

14 yang perlu bekerja sama mempersepsi bahwa pengalaman bekerja sama

adalah hal yang menyenangkan, membangun dan dapat saling bertukar

pikiran maka tidak ada masalah dalam kerjasama di PT. “X”. Sebaliknya, jika

banyak karyawan PT. “X” yang mempersepsi bahwa para karyawan tidak

bersedia bekerjasama satu dengan yang lain dalam tim dan saling

melemparkan tanggung jawab pekerjaan tanpa bersedia mengerjakannya,

maka terdapat masalah pada kerja sama antar karyawan di PT. “X”.

Low motivation atau motivasi yang rendah. Dalam hal ini karyawan mempersepsi seberapa besar dirinya termotivasi dalam bekerja di PT. “X”.

Jika karyawan mempersepsi bahwa para karyawan yang bekerja di PT. “X”

memiliki keinginan agar perusahaannya maju dan berusaha mencapai

kesuksesan, maka tidak ada masalah dalam pengendalian di PT. “X”. Jika

kebanyakan karyawan mempersepsi bahwa karyawan tidak merasa peduli

terhadap organisasi, bekerja tanpa semangat untuk memberikan hasil yang

baik dan tidak ingin mengeluarkan banyak usaha untuk mencapai goal

organisai, maka terdapat masalah motivasi pada karyawan PT. “X”.

Low creativity atau kreativitas yang rendah. Dalam hal ini karyawan tidak menggunakan ide-ide baik untuk peningkatan dengan sepatutnya

sehingga menimbulkan stagnasi. Jika karyawan mempersepsi bahwa ide-ide

yang baru dan bagus diimplementasikan untuk mempertahankan kinerja

perusahaan yang baik, maka tidak ada masalah dalam pengembangan

(22)

para karyawannya tidak memberikan ide-ide baru untuk peningkatan

perusahaan, maka terdapat masalah kreativitas di PT. “X”.

Untuk mengetahui area blockage organizational yang terdapat di PT.

“X” dapat dijaring melalui Blockage Organizational Questionnaire dari Mike

Woodcock dan Dave Francis (1990). Dari kuesioner ini, didapatkan ranking

hambatan yang terjadi dalam suatu organisasi. Mike Woodcock dan Dave

Francis dalam bukunya menyatakan bahwa tiga skor tertinggi yang

didapatkan dari kuesioner merupakan hambatan utama dalam perusahaan

yang perlu segera diteliti lebih lanjut dan ditangani agar perusahaan dapat

berkembang dengan optimal dan berjalan secara efektif. Pengukuran

menggunakan Blockage Organizational Questionnaire akan menjadi lebih

valid jika lebih banyak karyawan dalam perusahaan yang mengisi kuesioner

ini karena dengan demikian persepsi mengenai apa yang perlu dilakukan atau

masalah pada area apa yang paling bermasalah dapat dibandingkan

(23)

16 1. Unclear Aims

2. Unclear Values

3. InappropriateManagement Philosophy 4. Lack of Management Development 5. Confused Organizational Structure 6. Inadequate Control

7. Inadequate Recruitment and Selection 8. Unfair Rewards

9. Poor Training

10.Lack of Personal Development 11.Inadequate Communication 12.Poor Teamwork

13.Low Motivation 14.Low Creativity Skema kerangka pikir dari penelitian ini yaitu :

Persepsi

Karyawan Management

System

Karyawan

PT. "X"

3

Hambatan

Utama Area

(24)

1.6Asumsi Penelitian

1 Karyawan PT. "X" mempersepsi bahwa PT. “X” memiliki satu atau lebih

hambatan dalam organisasi berupa Unclear Aim, Unclear Values,

Inappropriate Management Philosophy, Lack of Management Development, Confused Organizational Structure, Inadequate Control, Inadequate Recruitment and Selection, Unfair Rewards, Poor Training, Lack of Personal Development, Inadequate Communication, Poor Teamwork, Low Motivation, dan Low Creativity.

2 PT. “X” memiliki 3 hambatan utama yang menghambat kinerja dan

(25)

60 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

5.1.1 Area Blockage Utama

Tiga area blockage utama yang dipersepsi oleh karyawan PT. "X" level

staff yang berpotensi menghambat efektivitas kinerja perusahaan adalah Unfair

Rewards skor 887, Low Creativity skor 670, Lack of Management Development skor 625.

5.2 Saran

5.2.1 Saran Teoretis

Memberikan masukan bagi peneliti lain yang berminat melakukan

penelitian mengenai area blockage yang terjadi pada organisasi.

5.2.2 Saran Praktis

Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja, PT. "X" perlu

memfokuskan pada penyelesaian masalah yang berpotensi paling besar dalam

menghambat kinerja karyawan, antara lain dengan cara:

1. Meninjau ulang sistem reward karyawan agar pihak perusahaan dan

karyawan sama-sama merasa adil dan puas dengan sistem yang

diberlakukan. Dengan demikian karyawan akan lebih termotivasi

(26)

2. Meningkatkan kreativitas perusahaan yaitu dengan lebih berani

mengambil resiko, lebih mendorong karyawan untuk memberi ide-ide

baru dan merealisasikannya untuk kemajuan perusahaan. Hal ini juga

meningkatkan daya saing perusahaan.

3. Mengembangkan kompetensi para manajer dengan pelatihan, seminar

dalam hal kemampuan, pengetahuan, sikap, konsep diri dan ketajaman

perseptual baik secara individual maupun dalam tim. Pengembangan

kemampuan para manajer sangat penting dan berkontribusi besar bagi

(27)

62 DAFTAR PUSTAKA

As’ad, Mohammad. 1991. Seri Ilmu Sumber Daya Manusia : Psikologi Industri

(Ed.4), Yogyakarta : Liberty.

Gulo, W. 2002. Metodologi Penelitian, Jakarta : Grasindo.

Nazir, Mohammad. 1988. Metodologi Penelitian, Jakarta : Grasindo.

Robbins, Stephen P. 2002. Organizational Behavior : concepts, controversies,

application (Perilaku Organisasi : konsep, kontroversi, aplikasi). Terjemahan Dr. Hadyana Pujaatmaka. 1996. Jakarta : PT. Prenhallindo.

Woodcocok, Mike; Dave Francis. 1990. Unblocking Your Organization.

(28)

DAFTAR RUJUKAN

Anton. 2008. Skripsi. "Studi Deskriptif Mengenai Persepsi Karyawan Tentang

Blockage di Divisi Struktur Perusahaan "X" Jakarta".

Puji, W. Nurcipta. 2005. Skripsi. "Studi Deskriptif Mengenai Opini Pegawai

Tentang Blockage Di Lembaga "X" Bandung". www.kemenperin.go.id/download/5138

Referensi

Dokumen terkait

Supervisor yang memiliki resiliency at work akan mampu menunjukkan tiga HardiAttitudes (commitment, control, challenge) yang ketiganya tinggi serta mampu menguasai

Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar karyawan yang akan memasuki masa pensiun dalam waktu 1 tahun mendatang pada umumnya memiliki self-efficacy