• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai School Engagement pada Siswa Kelas 4-6 sekolah Dasar "X" di Kota Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai School Engagement pada Siswa Kelas 4-6 sekolah Dasar "X" di Kota Bandung."

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAKSI

(2)

Abstract

(3)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS LAPORAN PENELITIAN ... iii

PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAKSI ... vii

Abstract ... viii

DAFTAR ISI ... iix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR BAGAN ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiiiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 4

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 4

1.3.1 Maksud Penelitian ... 4

1.3.2 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Kegunaan penelitian ... 5

1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 5

1.4.2 Kegunaan Praktis ... 5

1.5 Kerangka Pemikiran ... 5

1.6 Asumsi Penelitian ... 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13

2.1 School Engagement ... 13

2.1.1 Definisi School Engagement ... 13

2.1.2 Komponen-komponen dalam School Engagement ... 15

2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi School Engagement ... 18

2.1.4 Outcomes School Engagement ... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 29

3.1 Rancangan dan Prosedur Penelitian ... 29

3.2 Bagan prosedur penelitian ... 29

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 30

(4)

x

3.3.2 Definisi operasional ... 30

3.4 Alat ukur ... 31

3.4.1 Alat ukur school engagement ... 31

3.4.2 Data Pribadi dan data penunjang... 34

3.4.3 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 34

3.5 Populasi dan teknik penarikan sampel ... 37

3.5.1 Sasaran penelitian... 37

3.5.2 Karakteristik sampel... 37

3.6 Teknik Analisis Data ... 37

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 39

4.1 Gambaran Umum Subyek Penelitian ... 39

4.1.1 Gambaran Responden Berdasarkan Usia ... 39

4.1.2 Persentase Responden Berdasarkan Jenis Kelamin. ... 39

4.1.3 Persentase Responden Berdasarkan Klasifikasi Kelas. ... 40

4.2 Gambaran Hasil Penelitian ... 40

4.2.1 Gambaran school engagement secara umum ... 40

4.2.2 Gambaran masing-masing komponen school engagement ... 41

4.3 Pembahasan ... 45

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 55

5.1 Kesimpulan ... 55

5.2 Saran ... 56

DAFTAR PUSTAKA ... 58

DAFTAR RUJUKAN ... 59

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.3.1 Komponen, Indikator dan No. Item School Engagement ...43

[image:5.595.133.506.271.632.2]

Tabel 3.3.2 Sistem Penilaian Kuesioner School Engagement...44

Tabel 3.3.3 Kriteria vaiditas ...46

(6)

DAFTAR BAGAN

Bagan 1.5 Bagan Kerangka Pikir ...14

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A. Kisi-kisi Alat Ukur

Lampiran B. Tabel Uji Validitas Item

Lampiran C. Data Pribadi, Data penunjang dan Kuesioner School Engagement

Lampiran D. Hasil Tabulasi Silang School Engagement

Lampiran E. Hasil Tabulasi Silang Behavioral Engagement

Lampiran F.Hasil Tabulasi Silang Emotional Engagement

Lampiran G. Hasil Tabulasi Silang Cognitive Engagement

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan dapat membantu suatu negara dalam mencetak SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas, baik dari segi spiritual, intelegensi, dan skill. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud RI), Anies Baswedan, mengatakan bahwa SDM yang berkualitas itu artinya memiliki etos kerja yang kuat, karakter kerja yang baik, serta pengetahuan dan keterampilan yang baik sehingga pendidikan yang baik akan menciptakan sumber daya manusia (SDM) berkualitas.

Di dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tercantum bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

(9)

2

depan, karena itu dalam menerapkan pendidikan, perlu komponen-komponen yang mendukung berlangsungnya pendidikan agar terjadi keseimbangan dan keselarasan. Pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, berusaha untuk menghasilkan SDM yang berkualitas dengan memberikan panduan penyelenggaraan melalui kurikulum yang mendukung. Kurikulum itu sendiri merupakan perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja.

Kurikulum terbaru adalah kurikulum 2013, yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2006 (KTSP). Mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim menyatakan bahwa kurikulum 2013 diciptakan untuk memberikan ruang agar anak dapat menguasai tiga kompetensi sekaligus yaitu sikap yang tercermin melalui perilaku, keterampilan, dan pengetahuan. (Rogeleonick, 2014) (Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah, Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar Dan Menengah).

(10)

3

tujuan pendidikan. Peran aktif siswa dalam kegiatan-kegiatan sekolah inilah yang sering dikenal dengan istilah school engagement, atau student engagement.

School engagement adalah komponen psikologis yang berkaitan dengan rasa

keterlibatan siswa di sekolahnya dan penerimaan nilai-nilai sekolah, dan komponen perilaku yang berkaitan dengan partisipasi dalam kegiatan sekolah (Willms, 2003). Fredricks (2004) mengemukakan bahwa School Engagement terdiri dari tiga komponen utama yang meliputi behavioral, emotional serta cognitive engagement.

Sekolah-sekolah pun berusaha mencapai tujuan pendidikan dengan mengusaha agar siswanya memiliki school engagement yang tinggi. Seperti halnya pada SD “X” di kota Bandung, yang menerapkan kurikulum terbaru, berusaha sebaik mungkin untuk meningkatkan school engagement dari siswa-siswanya. Untuk dapat meningkatkan school engagement siswa kita perlu mengetahui terlebih dahulu gambaran school engagement dari siswa-siswa tersebut.

(11)

4

dengan teman-teman atau gurunya dekat sedangkan 15 siswa (75%) mengatakan sering berbeda pendapat dengan teman bahkan sampai berkelahi, hal tersebut menggambarkan emotional engagement. 17 siswa (85%) mengatakan masih mencari informasi atau mengerjakan tugas sampai menemukan jalan keluar, sedangkan 3 siswa (15%) mengatakan tidak melakukan apapun untuk menemukan jalan keluar dalam menyelesaikan tugasnya, hal tersebut menggambarkan cognitive

engagement.

Hasil wawancara tersebut hanya merupakan gambaran awal dari school

engagement dari siswa-siswa di SD, sehingga perlu diadakan penelitian yang lebih

mendalam. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul studi deskriptif mengenai School Engagement pada siswa kelas 4-6 SD “X”di Kota Bandung.

1.2 Identifikasi Masalah

Dari penelitian ini ingin diketahui seperti apakah gambaran School

Engagement pada siswa kelas 4-6 SD “X” di Kota Bandung.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Maksud Penelitian

(12)

5

1.3.2 Tujuan Penelitian

Untuk memperoleh gambaran tentang school engagement pada siswa kelas 4-6 SD “X” di Kota Bandung yaitu engaged dan disengaged dan keterkaitannya

dengan faktor-faktor yang mempengaruhi.

1.4 Kegunaan penelitian

1.4.1 Kegunaan Teoritis

- Sebagai acuan bagi peneliti lain yang berminat melakukan penelitian lanjutan mengenai school engagement pada siswa kelas 4-6 SD.

1.4.2 Kegunaan Praktis

- Memberikan masukan bagi bidang ilmu psikologi pendidikan mengenai gambaran school engagement pada siswa SD, khususnya kelas 4-6.

- Memberikan informasi kepada kepala sekolah dan para guru SD “X” dalam upaya meningkatkan school engagement siswa dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi behavior, emotional dan cognitive.

1.5 Kerangka Pemikiran

School engagement adalah seberapa besar tindakan siswa melibatkan dirinya

di dalam aktivitas akademik dan non akademik (sosial dan ekstrakurikuler) yang meliputi keterlibatan komponen-komponen behavioral, emotional serta cognitive

engagement (Fredricks et al, 2004).

(13)

6

diberikan sedangkan peran guru lebih banyak sebagai fasilitator. Oleh karena itu dengan adanya school engagement yang tinggi dari para siswa, tujuan pengembangan potensi siswa semakin mudah dicapai. Siswa yang memiliki school

engagement yang tinggi diharapkan dapat belajar secara mandiri dan

mengembangkan segala potensi yang dimilikinya secara baik. Keterlibatan anak dalam pendidikan di sekolahnya inilah yang sering dikenal dengan istilah school

engagement. School engagement secara akademik dapat dilihat dari kegiatan siswa

ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, sedang secara nonakademik dapat dilihat dari kegiatan siswa ketika mengikuti ekstrakurikuler.

School engagement, menurut Fredricks (2004), merupakan konstruk

multidimensional yang meliputi komponen behavioral, emotional serta cognitive

engagement. School engagement memiliki tiga komponen yaitu behavioral,

emotional, dan cognitive engagement (Fredricks, 2004 & 2005).

Komponen pertama yaitu behavioral engagement, atau dikenal sebagai tingkah laku engagement. Behavioral engagement pada siswa SD “X” dapat dilihat dari keterlibatannyasaat berada dalam kegiatan akademik maupun non akademik serta kepatuhan terhadap aturan sekolah yang berlaku. Siswa SD yang memiliki

behavioral engagement yang engaged, cenderung bersikap patuh pada aturan yang

berlaku, tidak membolos, berani bertanya atau menjawab saat guru menerangkan materi, rajin mengerjakan tugas yang diberikan dan aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya. Sedangkan, siswa yang memiliki behavioral

engagement yang disengaged, akan menunjukkan sikap yang pasif dalam kegiatan

(14)

7

kegiatan diskusi dan kerja kelompok, tidak tepat waktu mengumpulkan tugas yang diminta oleh guru, dan tidak aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang dipilihnya.

Komponen kedua yaitu emotional engagement, mencakup reaksi emosi siswa terhadap sekolah, guru dan juga teman-teman. Siswa yang antusias dalam mengikuti dan mendengarkan pelajaran yang diajarkan, senang dan suka terhadap lingkungan sekolah, terhadap kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh sekolah dan terhadap guru-guru dan teman-temannya, serta memiliki hubungan sosial yang baik dapat dikatakan memiliki emotional engagement yang engaged. Sedangkan siswa yang memiliki emotional engagement yang disengaged akan menunjukkan perasaanyang mudah bosan ketika belajar, kurang bersemangat, tidak suka terhadap lingkungan sekolah dan terhadap kegiatan yang diadakan oleh sekolah, serta tidak memiliki hubungan sosial yang baik.

(15)

8

terbaik saat mengerjakan tugas, hanya mempelajari apa yang diajarkan tanpa berusaha mendapatkan pengetahuan yang lebih, menetapkan target yang rendah dan tidak memiliki strategi belajar dapat dikatakan memiliki cognitive engagement yang

disengaged.

Beberapa faktor yang mempengaruhi school engagement menurut Fredricks (2004) yaitu school level factor, classroom context, dan individual needs. School

level factor terdiri atas kebebasan dalam memilih, partisipasi siswa dalam kebijakan

dan aturan sekolah, pengembangan akademis, tujuan yang jelas dan konsisten, serta ukuran kelas. Kesempatan siswa untuk memilih kegiatan, misalnya kebebasan mencipta dan kebebasan memilih kegiatan ekstrakurikuler, akan mempengaruhi

School Engagement. Siswa yang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, untuk

mengembangkan relasi sosial, dan memiliki tujuan pembelajaran yang jelas akan memiliki school engagement yang engaged.

School level factor ini melakukan penelitian di satu sekolah jadi tidak bisa

dibandingkan dengan sekolah lain. Hasilnya pun bukan hasil persepsi siswa jadi tidak akan diukur.

Classroom context terdiri atas dukungan guru, teman sebaya, struktur kelas,

dukungan kemandirian dan karakteristik tugas.Dalam dukungan guru, ketika guru memperlakukan siswa secara adil, hal tersebut dapat membuat hubungan yang positif antara siswa dan gurunya.

Pengaruh teman sebaya, dimana siswa SD “X” sedang berada pada masa

(16)

9

tersebut berpengaruh pada relasi sosial dan menjadikannya semakin positif. Siswa SD “X” akan berperilaku sesuai dengan lingkungan/aturan yang berlaku, juga

sesama siswa akan saling berdiskusi dengan teman sekelas secara aktif mengenai permasalahan akademik atau tugas yang mereka hadapi.

Dalam faktor struktur kelas, ketika norma dan aturan yang didapatkan oleh siswa jelas dan efisien, pengaturan kelas baik, dan harapan terhadap siswa jelas, akan dapat mengurangi masalah kedisiplinan yang muncul. Siswa akan merasa lebih senang di kelas dan tentu saja akan mempengaruhi keterlibatan, performa dan tujuan belajar siswa SD “X”. Sedangkan dalam faktor autonomy support, ketika

siswa memiliki banyak pilihan untuk memilih kegiatan non akademik yang diikutinya contohnya seperti kegiatan ekstrakurikuler, turut aktif dalam kepanitiaan

bazaar di sekolah, dan lain-lain, akan dapat lebih lama bertahan saat menghadapi

suatu masalah dan akan meningkatkan minatnya dalam mempelajari materi. Faktor karakteristik tugas, akan mempengaruhi school engagement siswa SD “X” ketika komponen tugas yang diberikan menuntut siswa untuk mengerti dan

memahami lebih dalam, misalnya dengan mengumpulkan materi-materi yang berhubungan dengan tema yang sedang dipelajari, dan mengevaluasi tugas atau pekerjaan akan meningkatkan perilaku belajar yang lebih positif, daripada tugas yang hanya memerlukan menghafal dan mengingat kembali.

(17)

10

berkontribusi dalam meningkatkan relasi yang positif dan dalam meningkatkan

school engagement mereka.

Dalam kebutuhan otonomi, ketika siswa memiliki banyak kesempatan untuk memilih, memiliki kesempatan untuk mengeluarkan pendapat, memiliki kebebasan untuk menciptakan sesuatu, relatif bebas dari kontrol eksternal, siswa akan lebih bertindak dengan motivasi internalnya, akan lebih menyukai aktivitas tersebut dan berusaha mengerjakan tugas dengan baik.

(18)
(19)

12

1.6 Asumsi Penelitian

Berdasarkan uraian di atas, dapat diasumsikan bahwa

- School engagement siswa kelas 4-6 SD “X” di Kota Bandung dapat dilihat dari 3 komponen yaitu behavioral engagement, emotional engagement, dan

cognitive engagement.

(20)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran School

Engagement dari siswa kelas 4-6 di SD ‘X’ Kota Bandung. Dari hasil penelitian

dapat disimpulkan:

1. Siswa kelas 4-6 di SD “X” Kota Bandung memiliki persentase yang sama banyaknya antara siswa yang engaged (50,2%) dan siswa yang disengaged (49,8%)

2. Siswa SD “X” memiliki derajat engagement yang lebih banyak pada komponen cognitive (55,4% engaged), dibandingkan komponen emotional (53,2%

engaged) dan komponen behavioral (48,5% engaged).

3. Dari kelompok kelas 4-6, semakin tinggi tingkatan kelas terjadi penurunan jumlah siswa yang engaged. Hal ini dapat dipengaruhi rendahnya faktor

classroom setting context.

4. Faktor karakteristik tugas dan kebutuhan autonomi menunjukkan keterkaitan dengan school engagement secara keseluruhan.

(21)

56

6. Faktor dukungan guru, peers, karakteristik tugas, kebutuhan relasi, kebutuhan autonomi dan kebutuhan kompetensi menunjukkan keterkaitan dengan

emotional engagement.

7. Faktor yang memiliki keterkaitan dengan cognitive engagement yaitu: peers, karakteristik tugas, kebutuhan autonomi dan kebutuhan kompetensi.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat disampaikan oleh peneliti berdasarkan hasil penelitian adalah:

1. Saran teoritis

1. Observasi dan wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini hanya sebagai data pendukung, karena itu penelitian lebih lanjut dapat menggunakan metoda observasi dan wawancara yang lebih dalam sebagai alat ukur untuk mengkaji school engagement di SD “X” Kota Bandung. 2. Gambaran school engagement dalam penelitian ini hanya sebatas pada SD

“X”, sehingga dapat dilakukan penelitian yang lebih luas untuk dapat

memperoleh gambaran school engagement yang lebih luas.

3. Dapat dilakukan penelitian lanjutan yang mengembangkan penelitian yang menghubungkan variabel lain denganschool engagementdalam sosial konteks (guru, orangtua, basic needs satisfaction).

2. Saran praktis

(22)

57

masing-masing komponen school engagement.

(23)

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI SCHOOL ENGAGEMENT PADA SISWA KELAS 4-6 SEKOLAH DASAR “X” DI KOTA BANDUNG

SKRIPSI

Diajukan untuk menempuh sidang sarjana pada Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung

Disusun Oleh:

Mira Angelina

0730224

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

FAKULTAS PSIKOLOGI

(24)
(25)
(26)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat dan karunia-Nya yang begitu besar tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini, peneliti mengambil topik mengenai School Engagement. Secara khusus, peneliti mengambil judul penelitian Studi Deskriptif mengenai School Engagement pada siswa kelas 4-6 SD “X” di Kota Bandung.

Dalam penyusunannya, peneliti menemukan beberapa kesulitan, oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu peneliti dalam menghadapi masalah yang dihadapi selama penyusunan tugas akhir ini. Secara khusus peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Irene Prameswari Edwina, M.Si., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung.

2. Lie Fun Fun, M.Psi., Psikolog selaku Ketua Jurusan Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung.

3. Jane Savitri, M.Si., Psikolog selaku dosen pembimbing utama yang telah meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan semangat serta membagikan informsi dan ilmu kepada peneliti.

(27)

vi

5. Drs. Paulus H. Prasetya, M.Si., Psikolog selaku dosen wali yang telah meluangkan waktu, memberikan dorongan dan semangat serta ide-ide.

6. Th. Lanny Yuniarti, S.Pd.SD selaku Kepala Sekolah dan Dra. Ancilla M.T. Widyarti selaku Guru BK dan semua guru-guru serta para siswa kelas 4-6 SD “X” Bandung, tempat dimana peneliti melakukan penelitian.

7. Staff Tata Usaha Fakultas Psikologi dan Staff perpustakaan Universitas Kristen Maranatha, atas bantuannya dalam hal administrasi dan perijinan, serta bantuan dalam pencarian pustaka pendukung tugas akhir ini.

8. Kak Belle, Kak Anthy, dan Kak Desta yang selalu mendampingi selama peneliti menyelesaikan tugas akhir penelitian ini.

9. Mama, cici, koko, dan keponakan semua yang selalu memberikan dukungan baik secara moril dan materiil dan para sahabatku tersayang Kak Paula, Widya, Anissa, dan Sorta, untuk canda tawa dan menjadi tempat berbagi, doa, dukungan dan bantuannya selama ini.

Akhir kata dengan semua keterbatasan yang dimiliki, peneliti memohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan ataupun menyinggung hati dan apabila terdapat beberapa kesalahan atau kekurangan dalam penelitian ini.

Bandung, Juni 2016

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Amir, R., Saleha, A., Jelas, Z. M., Ahmad, A. R., & Hutkemri. (2014). Students’ Engagement by Age and Gender: A Cross-Sectional Study in Malaysia.

Middle-East Journal of Scientific Research 21 (10), 1886-1892.

Connell, J. P., Halpern-Felsher, B. L., Clifford, E., Crichlow, W., & Usinger, P. (1995). Hanging in there: Behavioral, psychological, and contextual factors affecting whether African American adolescents stay in school. Journal of

Adolescent Research, 41-63.

Connell, J. P., Spencer, M. B., & Aber, J. L. (1994). Educational risk and resilience in African American. Child Development(65), 493-506.

Fredricks, J. A., & McColskey, W. (2012). The Measurement of Student Engagement: A Comparative Analysis of Various Methods aand Student Self-report Instruments. Handbook of Research on Student Engagement(37), 763-782.

Fredricks, J. A., Blumenfeld, P. C., & Paris, A. H. (2004). School Engagement: Potential of the Concept, Stage of the Evidence. Review of Educational

Research, 74, 59-109.

Fredricks, J. A., Blumenfeld, P., Friedel, J., & Paris, A. (2003). School Engagement. Indicators of Positive Development Conference. Child Trends. Fredricks, J., McColskey, W., Meli, J., Mordica, J., Montrosse, B., & Mooney, K.

(2011). Measuring student engagement in upper elementary through high school: a description of 21 instruments. (Issues & Answers Report, REL 2011–

No. 098).

Juvonen, J., Espinoza, G., & Casey, K. (2012). The Role of Peer Relationships in Student Academic and Extracurricular Engagement. (S. L. Christenson, A. L. Reschly, & C. Wylie, Penyunt.) Handbook of Research on Student

Engagement, 387-401.

Mahatmya, D., Lohman, B. J., Matjasko, J. L., & and Farb, A. F. (2012). Engagement Across Developmental Periods. Handbook of Research on

Student Engagement, 45-63.

Pianta, R. C., Hamre, B. K., & Allen, J. P. (2012). Teacher-Student Relationships and Engagement: Conceptualizing, Measuring, and Improving the Capacity of Classroom Interactions. Handbook of Research on Student Engagement, 365-385.

(29)

DAFTAR RUJUKAN

Handrio, N. P. (2010, November 1). Norma Dalam Psikometri. Diambil kembali

dari http://nindyaajja.blogspot.co.id/:

http://nindyaajja.blogspot.co.id/2010/11/norma-dalam-psikometri.html Ivon, Lies. 2013. Skripsi : Studi Deskriptif Mengenai School Engagement Pada

Siswa Kelas X SMA "X" Bandung. Universitas Kristen Maranatha Bandung. Nydia. 2015. Skripsi : Studi Deskriptif Mengenai School Engagement pada Siswa Kelas 5 & 6 SD "X" Yang Berbasis Pendidikan Entrepreneur di Bandung. Universitas Kristen Maranatha Bandung

PADNRA, A. (2014). Validitas, Reliablitas dan Norma dalam Psikometri. Padang:

www.academia.edu. Diambil kembali dari

http://www.academia.edu/11874189/VALIDITAS_RELIABLITAS_DAN _NORMA_DALAM_PSIKOMETRI

Rogeleonick, Aline (2014, September 8). Wamendik: Semua Pihak Berkontribusi

Menyukseskan Kurikulum 2013 . Dipetik November 17, 2015, dari

www.kemdikbud.go.id:

http://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2014/09/wamendik-semua-pihak-berkontribusi-menyukseskan-kurikulum-2013--3160-3160-3160

Saragih, Frisca Fitriani. 2014. Skripsi : Studi Deskriptif Mengenai School

Engagement pada Siswa-Siswi Boarding School SMA "X" di Bandung.

Universitas Kristen Maranatha Bandung.

Gambar

Tabel 3.3.3 Kriteria vaiditas ..................................................................................46

Referensi

Dokumen terkait

Cara kerja kopling kering mekanis yaitu kampas kopling dijepit oleh roda gila dan pelat penekan agar daya dari mesin bakar dapat diteruskan ke transmisi

Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perlakuan jenis benih kopi arabika memberikan persentase kecambah tumbuh yang tinggi dengan laju

[r]

Berdasarkan fakta bahwa hanya ada sedikit atau tidak ada penelitian untuk menunjukkan tidak adanya korelasi antara motivasi kerja guru dengan kinerja guru untuk

1) Terpengaruh setelah melihat orang lain melakukan menyontek dimana pada awalnya dia tidak memiliki niat. 2) Soal ujian yang buku sentris yang hapalan memaksa untuk membuka buku

Gambar 17 Nilai k perubahan daya iris selama penyimpanan pada tempe yang dipanaskan dengan Pv lebih dari 15 menit dan dikemas vakum dalam aluminium foil (a) dan HDPE

Sebelum membuka bisnis ini, kami sudah merencanakan rencana tata letak dimana kami memilih daerah bandung timur sebagai pusat bisnis agenda furniture yang bekanngan ini

(2) Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendaftarkan pasangan calon apabila memenuhi persyaratan perolehan