ABSTRAKSI
Abstract
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN ORISINALITAS LAPORAN PENELITIAN ... iii
PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAKSI ... vii
Abstract ... viii
DAFTAR ISI ... iix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR BAGAN ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiiiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 4
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 4
1.3.1 Maksud Penelitian ... 4
1.3.2 Tujuan Penelitian ... 5
1.4 Kegunaan penelitian ... 5
1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 5
1.4.2 Kegunaan Praktis ... 5
1.5 Kerangka Pemikiran ... 5
1.6 Asumsi Penelitian ... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13
2.1 School Engagement ... 13
2.1.1 Definisi School Engagement ... 13
2.1.2 Komponen-komponen dalam School Engagement ... 15
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi School Engagement ... 18
2.1.4 Outcomes School Engagement ... 26
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 29
3.1 Rancangan dan Prosedur Penelitian ... 29
3.2 Bagan prosedur penelitian ... 29
3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 30
x
3.3.2 Definisi operasional ... 30
3.4 Alat ukur ... 31
3.4.1 Alat ukur school engagement ... 31
3.4.2 Data Pribadi dan data penunjang... 34
3.4.3 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 34
3.5 Populasi dan teknik penarikan sampel ... 37
3.5.1 Sasaran penelitian... 37
3.5.2 Karakteristik sampel... 37
3.6 Teknik Analisis Data ... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 39
4.1 Gambaran Umum Subyek Penelitian ... 39
4.1.1 Gambaran Responden Berdasarkan Usia ... 39
4.1.2 Persentase Responden Berdasarkan Jenis Kelamin. ... 39
4.1.3 Persentase Responden Berdasarkan Klasifikasi Kelas. ... 40
4.2 Gambaran Hasil Penelitian ... 40
4.2.1 Gambaran school engagement secara umum ... 40
4.2.2 Gambaran masing-masing komponen school engagement ... 41
4.3 Pembahasan ... 45
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 55
5.1 Kesimpulan ... 55
5.2 Saran ... 56
DAFTAR PUSTAKA ... 58
DAFTAR RUJUKAN ... 59
DAFTAR TABEL
Tabel 3.3.1 Komponen, Indikator dan No. Item School Engagement ...43
[image:5.595.133.506.271.632.2]Tabel 3.3.2 Sistem Penilaian Kuesioner School Engagement...44
Tabel 3.3.3 Kriteria vaiditas ...46
DAFTAR BAGAN
Bagan 1.5 Bagan Kerangka Pikir ...14
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A. Kisi-kisi Alat Ukur
Lampiran B. Tabel Uji Validitas Item
Lampiran C. Data Pribadi, Data penunjang dan Kuesioner School Engagement
Lampiran D. Hasil Tabulasi Silang School Engagement
Lampiran E. Hasil Tabulasi Silang Behavioral Engagement
Lampiran F.Hasil Tabulasi Silang Emotional Engagement
Lampiran G. Hasil Tabulasi Silang Cognitive Engagement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan dapat membantu suatu negara dalam mencetak SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas, baik dari segi spiritual, intelegensi, dan skill. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud RI), Anies Baswedan, mengatakan bahwa SDM yang berkualitas itu artinya memiliki etos kerja yang kuat, karakter kerja yang baik, serta pengetahuan dan keterampilan yang baik sehingga pendidikan yang baik akan menciptakan sumber daya manusia (SDM) berkualitas.
Di dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tercantum bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
2
depan, karena itu dalam menerapkan pendidikan, perlu komponen-komponen yang mendukung berlangsungnya pendidikan agar terjadi keseimbangan dan keselarasan. Pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, berusaha untuk menghasilkan SDM yang berkualitas dengan memberikan panduan penyelenggaraan melalui kurikulum yang mendukung. Kurikulum itu sendiri merupakan perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja.
Kurikulum terbaru adalah kurikulum 2013, yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2006 (KTSP). Mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim menyatakan bahwa kurikulum 2013 diciptakan untuk memberikan ruang agar anak dapat menguasai tiga kompetensi sekaligus yaitu sikap yang tercermin melalui perilaku, keterampilan, dan pengetahuan. (Rogeleonick, 2014) (Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah, Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar Dan Menengah).
3
tujuan pendidikan. Peran aktif siswa dalam kegiatan-kegiatan sekolah inilah yang sering dikenal dengan istilah school engagement, atau student engagement.
School engagement adalah komponen psikologis yang berkaitan dengan rasa
keterlibatan siswa di sekolahnya dan penerimaan nilai-nilai sekolah, dan komponen perilaku yang berkaitan dengan partisipasi dalam kegiatan sekolah (Willms, 2003). Fredricks (2004) mengemukakan bahwa School Engagement terdiri dari tiga komponen utama yang meliputi behavioral, emotional serta cognitive engagement.
Sekolah-sekolah pun berusaha mencapai tujuan pendidikan dengan mengusaha agar siswanya memiliki school engagement yang tinggi. Seperti halnya pada SD “X” di kota Bandung, yang menerapkan kurikulum terbaru, berusaha sebaik mungkin untuk meningkatkan school engagement dari siswa-siswanya. Untuk dapat meningkatkan school engagement siswa kita perlu mengetahui terlebih dahulu gambaran school engagement dari siswa-siswa tersebut.
4
dengan teman-teman atau gurunya dekat sedangkan 15 siswa (75%) mengatakan sering berbeda pendapat dengan teman bahkan sampai berkelahi, hal tersebut menggambarkan emotional engagement. 17 siswa (85%) mengatakan masih mencari informasi atau mengerjakan tugas sampai menemukan jalan keluar, sedangkan 3 siswa (15%) mengatakan tidak melakukan apapun untuk menemukan jalan keluar dalam menyelesaikan tugasnya, hal tersebut menggambarkan cognitive
engagement.
Hasil wawancara tersebut hanya merupakan gambaran awal dari school
engagement dari siswa-siswa di SD, sehingga perlu diadakan penelitian yang lebih
mendalam. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul studi deskriptif mengenai School Engagement pada siswa kelas 4-6 SD “X”di Kota Bandung.
1.2 Identifikasi Masalah
Dari penelitian ini ingin diketahui seperti apakah gambaran School
Engagement pada siswa kelas 4-6 SD “X” di Kota Bandung.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian
5
1.3.2 Tujuan Penelitian
Untuk memperoleh gambaran tentang school engagement pada siswa kelas 4-6 SD “X” di Kota Bandung yaitu engaged dan disengaged dan keterkaitannya
dengan faktor-faktor yang mempengaruhi.
1.4 Kegunaan penelitian
1.4.1 Kegunaan Teoritis
- Sebagai acuan bagi peneliti lain yang berminat melakukan penelitian lanjutan mengenai school engagement pada siswa kelas 4-6 SD.
1.4.2 Kegunaan Praktis
- Memberikan masukan bagi bidang ilmu psikologi pendidikan mengenai gambaran school engagement pada siswa SD, khususnya kelas 4-6.
- Memberikan informasi kepada kepala sekolah dan para guru SD “X” dalam upaya meningkatkan school engagement siswa dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi behavior, emotional dan cognitive.
1.5 Kerangka Pemikiran
School engagement adalah seberapa besar tindakan siswa melibatkan dirinya
di dalam aktivitas akademik dan non akademik (sosial dan ekstrakurikuler) yang meliputi keterlibatan komponen-komponen behavioral, emotional serta cognitive
engagement (Fredricks et al, 2004).
6
diberikan sedangkan peran guru lebih banyak sebagai fasilitator. Oleh karena itu dengan adanya school engagement yang tinggi dari para siswa, tujuan pengembangan potensi siswa semakin mudah dicapai. Siswa yang memiliki school
engagement yang tinggi diharapkan dapat belajar secara mandiri dan
mengembangkan segala potensi yang dimilikinya secara baik. Keterlibatan anak dalam pendidikan di sekolahnya inilah yang sering dikenal dengan istilah school
engagement. School engagement secara akademik dapat dilihat dari kegiatan siswa
ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, sedang secara nonakademik dapat dilihat dari kegiatan siswa ketika mengikuti ekstrakurikuler.
School engagement, menurut Fredricks (2004), merupakan konstruk
multidimensional yang meliputi komponen behavioral, emotional serta cognitive
engagement. School engagement memiliki tiga komponen yaitu behavioral,
emotional, dan cognitive engagement (Fredricks, 2004 & 2005).
Komponen pertama yaitu behavioral engagement, atau dikenal sebagai tingkah laku engagement. Behavioral engagement pada siswa SD “X” dapat dilihat dari keterlibatannyasaat berada dalam kegiatan akademik maupun non akademik serta kepatuhan terhadap aturan sekolah yang berlaku. Siswa SD yang memiliki
behavioral engagement yang engaged, cenderung bersikap patuh pada aturan yang
berlaku, tidak membolos, berani bertanya atau menjawab saat guru menerangkan materi, rajin mengerjakan tugas yang diberikan dan aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya. Sedangkan, siswa yang memiliki behavioral
engagement yang disengaged, akan menunjukkan sikap yang pasif dalam kegiatan
7
kegiatan diskusi dan kerja kelompok, tidak tepat waktu mengumpulkan tugas yang diminta oleh guru, dan tidak aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang dipilihnya.
Komponen kedua yaitu emotional engagement, mencakup reaksi emosi siswa terhadap sekolah, guru dan juga teman-teman. Siswa yang antusias dalam mengikuti dan mendengarkan pelajaran yang diajarkan, senang dan suka terhadap lingkungan sekolah, terhadap kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh sekolah dan terhadap guru-guru dan teman-temannya, serta memiliki hubungan sosial yang baik dapat dikatakan memiliki emotional engagement yang engaged. Sedangkan siswa yang memiliki emotional engagement yang disengaged akan menunjukkan perasaanyang mudah bosan ketika belajar, kurang bersemangat, tidak suka terhadap lingkungan sekolah dan terhadap kegiatan yang diadakan oleh sekolah, serta tidak memiliki hubungan sosial yang baik.
8
terbaik saat mengerjakan tugas, hanya mempelajari apa yang diajarkan tanpa berusaha mendapatkan pengetahuan yang lebih, menetapkan target yang rendah dan tidak memiliki strategi belajar dapat dikatakan memiliki cognitive engagement yang
disengaged.
Beberapa faktor yang mempengaruhi school engagement menurut Fredricks (2004) yaitu school level factor, classroom context, dan individual needs. School
level factor terdiri atas kebebasan dalam memilih, partisipasi siswa dalam kebijakan
dan aturan sekolah, pengembangan akademis, tujuan yang jelas dan konsisten, serta ukuran kelas. Kesempatan siswa untuk memilih kegiatan, misalnya kebebasan mencipta dan kebebasan memilih kegiatan ekstrakurikuler, akan mempengaruhi
School Engagement. Siswa yang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, untuk
mengembangkan relasi sosial, dan memiliki tujuan pembelajaran yang jelas akan memiliki school engagement yang engaged.
School level factor ini melakukan penelitian di satu sekolah jadi tidak bisa
dibandingkan dengan sekolah lain. Hasilnya pun bukan hasil persepsi siswa jadi tidak akan diukur.
Classroom context terdiri atas dukungan guru, teman sebaya, struktur kelas,
dukungan kemandirian dan karakteristik tugas.Dalam dukungan guru, ketika guru memperlakukan siswa secara adil, hal tersebut dapat membuat hubungan yang positif antara siswa dan gurunya.
Pengaruh teman sebaya, dimana siswa SD “X” sedang berada pada masa
9
tersebut berpengaruh pada relasi sosial dan menjadikannya semakin positif. Siswa SD “X” akan berperilaku sesuai dengan lingkungan/aturan yang berlaku, juga
sesama siswa akan saling berdiskusi dengan teman sekelas secara aktif mengenai permasalahan akademik atau tugas yang mereka hadapi.
Dalam faktor struktur kelas, ketika norma dan aturan yang didapatkan oleh siswa jelas dan efisien, pengaturan kelas baik, dan harapan terhadap siswa jelas, akan dapat mengurangi masalah kedisiplinan yang muncul. Siswa akan merasa lebih senang di kelas dan tentu saja akan mempengaruhi keterlibatan, performa dan tujuan belajar siswa SD “X”. Sedangkan dalam faktor autonomy support, ketika
siswa memiliki banyak pilihan untuk memilih kegiatan non akademik yang diikutinya contohnya seperti kegiatan ekstrakurikuler, turut aktif dalam kepanitiaan
bazaar di sekolah, dan lain-lain, akan dapat lebih lama bertahan saat menghadapi
suatu masalah dan akan meningkatkan minatnya dalam mempelajari materi. Faktor karakteristik tugas, akan mempengaruhi school engagement siswa SD “X” ketika komponen tugas yang diberikan menuntut siswa untuk mengerti dan
memahami lebih dalam, misalnya dengan mengumpulkan materi-materi yang berhubungan dengan tema yang sedang dipelajari, dan mengevaluasi tugas atau pekerjaan akan meningkatkan perilaku belajar yang lebih positif, daripada tugas yang hanya memerlukan menghafal dan mengingat kembali.
10
berkontribusi dalam meningkatkan relasi yang positif dan dalam meningkatkan
school engagement mereka.
Dalam kebutuhan otonomi, ketika siswa memiliki banyak kesempatan untuk memilih, memiliki kesempatan untuk mengeluarkan pendapat, memiliki kebebasan untuk menciptakan sesuatu, relatif bebas dari kontrol eksternal, siswa akan lebih bertindak dengan motivasi internalnya, akan lebih menyukai aktivitas tersebut dan berusaha mengerjakan tugas dengan baik.
12
1.6 Asumsi Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, dapat diasumsikan bahwa
- School engagement siswa kelas 4-6 SD “X” di Kota Bandung dapat dilihat dari 3 komponen yaitu behavioral engagement, emotional engagement, dan
cognitive engagement.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran School
Engagement dari siswa kelas 4-6 di SD ‘X’ Kota Bandung. Dari hasil penelitian
dapat disimpulkan:
1. Siswa kelas 4-6 di SD “X” Kota Bandung memiliki persentase yang sama banyaknya antara siswa yang engaged (50,2%) dan siswa yang disengaged (49,8%)
2. Siswa SD “X” memiliki derajat engagement yang lebih banyak pada komponen cognitive (55,4% engaged), dibandingkan komponen emotional (53,2%
engaged) dan komponen behavioral (48,5% engaged).
3. Dari kelompok kelas 4-6, semakin tinggi tingkatan kelas terjadi penurunan jumlah siswa yang engaged. Hal ini dapat dipengaruhi rendahnya faktor
classroom setting context.
4. Faktor karakteristik tugas dan kebutuhan autonomi menunjukkan keterkaitan dengan school engagement secara keseluruhan.
56
6. Faktor dukungan guru, peers, karakteristik tugas, kebutuhan relasi, kebutuhan autonomi dan kebutuhan kompetensi menunjukkan keterkaitan dengan
emotional engagement.
7. Faktor yang memiliki keterkaitan dengan cognitive engagement yaitu: peers, karakteristik tugas, kebutuhan autonomi dan kebutuhan kompetensi.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan oleh peneliti berdasarkan hasil penelitian adalah:
1. Saran teoritis
1. Observasi dan wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini hanya sebagai data pendukung, karena itu penelitian lebih lanjut dapat menggunakan metoda observasi dan wawancara yang lebih dalam sebagai alat ukur untuk mengkaji school engagement di SD “X” Kota Bandung. 2. Gambaran school engagement dalam penelitian ini hanya sebatas pada SD
“X”, sehingga dapat dilakukan penelitian yang lebih luas untuk dapat
memperoleh gambaran school engagement yang lebih luas.
3. Dapat dilakukan penelitian lanjutan yang mengembangkan penelitian yang menghubungkan variabel lain denganschool engagementdalam sosial konteks (guru, orangtua, basic needs satisfaction).
2. Saran praktis
57
masing-masing komponen school engagement.
STUDI DESKRIPTIF MENGENAI SCHOOL ENGAGEMENT PADA SISWA KELAS 4-6 SEKOLAH DASAR “X” DI KOTA BANDUNG
SKRIPSI
Diajukan untuk menempuh sidang sarjana pada Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung
Disusun Oleh:
Mira Angelina
0730224
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
FAKULTAS PSIKOLOGI
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat dan karunia-Nya yang begitu besar tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini, peneliti mengambil topik mengenai School Engagement. Secara khusus, peneliti mengambil judul penelitian Studi Deskriptif mengenai School Engagement pada siswa kelas 4-6 SD “X” di Kota Bandung.
Dalam penyusunannya, peneliti menemukan beberapa kesulitan, oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu peneliti dalam menghadapi masalah yang dihadapi selama penyusunan tugas akhir ini. Secara khusus peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Irene Prameswari Edwina, M.Si., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung.
2. Lie Fun Fun, M.Psi., Psikolog selaku Ketua Jurusan Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung.
3. Jane Savitri, M.Si., Psikolog selaku dosen pembimbing utama yang telah meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan semangat serta membagikan informsi dan ilmu kepada peneliti.
vi
5. Drs. Paulus H. Prasetya, M.Si., Psikolog selaku dosen wali yang telah meluangkan waktu, memberikan dorongan dan semangat serta ide-ide.
6. Th. Lanny Yuniarti, S.Pd.SD selaku Kepala Sekolah dan Dra. Ancilla M.T. Widyarti selaku Guru BK dan semua guru-guru serta para siswa kelas 4-6 SD “X” Bandung, tempat dimana peneliti melakukan penelitian.
7. Staff Tata Usaha Fakultas Psikologi dan Staff perpustakaan Universitas Kristen Maranatha, atas bantuannya dalam hal administrasi dan perijinan, serta bantuan dalam pencarian pustaka pendukung tugas akhir ini.
8. Kak Belle, Kak Anthy, dan Kak Desta yang selalu mendampingi selama peneliti menyelesaikan tugas akhir penelitian ini.
9. Mama, cici, koko, dan keponakan semua yang selalu memberikan dukungan baik secara moril dan materiil dan para sahabatku tersayang Kak Paula, Widya, Anissa, dan Sorta, untuk canda tawa dan menjadi tempat berbagi, doa, dukungan dan bantuannya selama ini.
Akhir kata dengan semua keterbatasan yang dimiliki, peneliti memohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan ataupun menyinggung hati dan apabila terdapat beberapa kesalahan atau kekurangan dalam penelitian ini.
Bandung, Juni 2016
DAFTAR PUSTAKA
Amir, R., Saleha, A., Jelas, Z. M., Ahmad, A. R., & Hutkemri. (2014). Students’ Engagement by Age and Gender: A Cross-Sectional Study in Malaysia.
Middle-East Journal of Scientific Research 21 (10), 1886-1892.
Connell, J. P., Halpern-Felsher, B. L., Clifford, E., Crichlow, W., & Usinger, P. (1995). Hanging in there: Behavioral, psychological, and contextual factors affecting whether African American adolescents stay in school. Journal of
Adolescent Research, 41-63.
Connell, J. P., Spencer, M. B., & Aber, J. L. (1994). Educational risk and resilience in African American. Child Development(65), 493-506.
Fredricks, J. A., & McColskey, W. (2012). The Measurement of Student Engagement: A Comparative Analysis of Various Methods aand Student Self-report Instruments. Handbook of Research on Student Engagement(37), 763-782.
Fredricks, J. A., Blumenfeld, P. C., & Paris, A. H. (2004). School Engagement: Potential of the Concept, Stage of the Evidence. Review of Educational
Research, 74, 59-109.
Fredricks, J. A., Blumenfeld, P., Friedel, J., & Paris, A. (2003). School Engagement. Indicators of Positive Development Conference. Child Trends. Fredricks, J., McColskey, W., Meli, J., Mordica, J., Montrosse, B., & Mooney, K.
(2011). Measuring student engagement in upper elementary through high school: a description of 21 instruments. (Issues & Answers Report, REL 2011–
No. 098).
Juvonen, J., Espinoza, G., & Casey, K. (2012). The Role of Peer Relationships in Student Academic and Extracurricular Engagement. (S. L. Christenson, A. L. Reschly, & C. Wylie, Penyunt.) Handbook of Research on Student
Engagement, 387-401.
Mahatmya, D., Lohman, B. J., Matjasko, J. L., & and Farb, A. F. (2012). Engagement Across Developmental Periods. Handbook of Research on
Student Engagement, 45-63.
Pianta, R. C., Hamre, B. K., & Allen, J. P. (2012). Teacher-Student Relationships and Engagement: Conceptualizing, Measuring, and Improving the Capacity of Classroom Interactions. Handbook of Research on Student Engagement, 365-385.
DAFTAR RUJUKAN
Handrio, N. P. (2010, November 1). Norma Dalam Psikometri. Diambil kembali
dari http://nindyaajja.blogspot.co.id/:
http://nindyaajja.blogspot.co.id/2010/11/norma-dalam-psikometri.html Ivon, Lies. 2013. Skripsi : Studi Deskriptif Mengenai School Engagement Pada
Siswa Kelas X SMA "X" Bandung. Universitas Kristen Maranatha Bandung. Nydia. 2015. Skripsi : Studi Deskriptif Mengenai School Engagement pada Siswa Kelas 5 & 6 SD "X" Yang Berbasis Pendidikan Entrepreneur di Bandung. Universitas Kristen Maranatha Bandung
PADNRA, A. (2014). Validitas, Reliablitas dan Norma dalam Psikometri. Padang:
www.academia.edu. Diambil kembali dari
http://www.academia.edu/11874189/VALIDITAS_RELIABLITAS_DAN _NORMA_DALAM_PSIKOMETRI
Rogeleonick, Aline (2014, September 8). Wamendik: Semua Pihak Berkontribusi
Menyukseskan Kurikulum 2013 . Dipetik November 17, 2015, dari
www.kemdikbud.go.id:
http://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2014/09/wamendik-semua-pihak-berkontribusi-menyukseskan-kurikulum-2013--3160-3160-3160
Saragih, Frisca Fitriani. 2014. Skripsi : Studi Deskriptif Mengenai School
Engagement pada Siswa-Siswi Boarding School SMA "X" di Bandung.
Universitas Kristen Maranatha Bandung.