• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Laporan Tahunan

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

T.A 2020

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERKEBUNAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN

KEMENTERIAN PERTANIAN

2021

(3)

LAPORAN TAHUNAN

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan TA 2020

TIM PENYUSUN PENANGGUNG JAWAB Kepala Puslitbang Perkebunan KETUA TIM PENYUSUN Abdul Muis Hasibuan ANGGOTA

Elna Karmawati Deciyanto Soetopo I Ketut Ardana

1.

f. Dr. lna Karmawati (Ketua Kelti Analisis Kebijakan) REDAKSI PELAKSANA

Jumari

Wisnhu Novianto Esih Sukaesih

Disain sampul dan tata letak Agus Budiharto

Sumber Dana

DIPA Puslitbang Perkebunan TA 2021

Diterbitkan oleh

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERKEBUNAN Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111 – Indonesia Telp. (0251) 8313083. Faks. (0251) 8336194

e-mail: [email protected]

website: http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id ISBN : 978-979-8451-99-7

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karunianya sehingga Laporan Tahunan Puslitbang Perkebunan tahun anggaran 2020 dapat diselesaikan. Laporan Tahunan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi serta pengelolaan anggaran tahun 2020 yang didasarkan pada perencanaan strategis Kementerian Pertanian dan program Badan Litbang Pertanian dengan visi “Menjadi lembaga penelitian dan pengembangan terkemuka Penghasil Teknologi dan Inovasi Perkebunan Mendukung Pertanian Maju, Mandiri, dan Modern”.

Laporan Tahunan ini menyajikan berbagai informasi penting tentang Kinerja Puslitbang Perkebunan tahun 2020, sesuai Indikator Kinerja Utama (IKU) yang ditetapkan melalui Perjanjian Kinerja tahun 2020.

Puslitbang Perkebunan pada tahun 2020, telah menghasilkan beberapa varietas unggul baru, teknologi peningkatan produksi, teknologi diversifikasi dan peningkatan nilai tambah/ produk olahan, koleksi plasma nutfah, produksi benih sumber, rekomendasi kebijakan, serta pengembangan dan diseminasi informasi perkebunan.

Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dan berkontribusi dalam penyusunan dan penerbitan Laporan Tahunan 2020.

Bogor, Maret 2021

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan,

Ir. Syafaruddin, Ph.D NIP. 19640827 199303 1 001

(5)
(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... RINGKASAN ... xii

xiii

SUMMARY ... xvi

I. PENDAHULUAN ... 1

II. VARIETAS UNGGUL ... 4

2.1. Tembakau Jombang Varietas Jinten Pakpie 2 ... 4

2.2. Tembakau Banyuwangi Varietas Semarang Jahe 1 ... 4

2.3. Tembakau Banyuwangi Varietas Jepril 1 ... 5

2.4. Tembakau Banyuwangi Varietas Semarang Jahe 2 ... 5

2.5. Kelapa Dalam Varietas Odeska Apela ... 6

III. TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKSI ... 7

IV. TEKNOLOGI DIVERSIFIKASI dan PENINGKATAN NILAI TAMBAH/PRODUK OLAHAN ... 20

4.1. Pengembangan Teknologi Diversifikasi Produk Tanaman Pemanis (Gula Tebu Daun Stevia dan Bit) ... 20

4.2. Pengembangan Produk Pemanis Alami Dari Daun Stevia ... 22

V. PLASMA NUTFAH ... 25

VI. BENIH SUMBER ... 52

VII. REKOMENDASI KEBIJAKAN ... 84

7.1. Reformulasi Indikator Keberlanjutan Perkebunan Mendukung Akselerasi Peremajaan Sawit Rakyat ... 84

7.2. Percepatan Penyediaan Benih Komoditas Perkebunan Menggunakan Teknik Kultur Jaringan ... 84

7.3. Pengembangan Sistem Agribisnis Mendorong Peningkatan Nilai Tambah dan Daya Saing Jambu Mete ... 85

7.4. Pengendalian Hama Kakao Terpadu Mengantisipasi Dampak Perubahan Iklim ... 86

VIII. PENGEMBANGAN DAN DISEMINASI INFORMASI PERKEBUNAN ... 88

8.1. Publikasi Hasil Penelitian ... 88

8.2. Pameran ... 89

IX. SUMBERDAYA PENELITIAN ... 119

9.1. Sumberdaya Manusia ... 119

9.2. Sumberdaya Sarana dan Prasarana ... 120

9.3. Tata Kelola ... 121

9.4. Sumberdaya Keuangan ... 122

BAB X. P E N U T U P ... 128

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel Uraian Halaman

1 Hasil analisa proksimat serbuk stevia 20

2 Koleksi Sumber Daya Genetik Tanaman Perkebunan 2019-2020 25 3 Jumlah populasi plasma nutfah abaka IP2TP Karangploso 32 4 Rata-rata kadar air benih plasma nutfah hasil monitoring tahun

2020 38

5 Persentase daya berkecambah benih plasmanutfah hasil

monitoring tahun 2020 39

6 Capaian benih sumber tanaman perkebunan 2020 52

7 Target dan Realisasi Produksi benih Perkebunan APBN-P 52 8 Benih Tebu G2 yang dipanen dan terdistribusi tahun 2020 56

9 Petani penangkar binaan Balittro 65

10 Penyebaran benih UPBS Januari – Desember 2020 67 11 Data ketersediaan kalus, tunas, akar, jumlah rumpun serta hasil

G0 pada Bulan Oktober 2020 68

12 Varietas dan luasan produksi benih sumber tebu G1 di IP2TP

Asembagus 70

13 Varietas dan luas areal produksi benih sumber tebu G2 di IP2TP

Asembagus 70

14 Produksi benih sumber tebu G2 71

15 Distribusi benih sumber tebu G2 72

16 Produksi Benih Kelapa Dalam dan Genjah Unggul tahun 2020

sampai disalurkan tahun 2020 75

17 Penyaluran bibit kelapa Dalam dan Genjah tahun 2020 75

18 Distribusi Benih kopi Arabika Tahun 2019 77

19 Standar Mutu Benih Tanaman Kopi Perbanyakan Generatif 80

20 Distribusi benih kakao BL50 80

21 Rincian penghapusan benih perbulan 83

22 Rekapitulasi KTI Nasional dan Internasional lingkup Puslitbang

Perkebunan Tahun 2020 89

23 Rekapitulasi Perjanjian Kerja Sama TA. 2020 102

24 Kerja Sama TA.2020 dan Komoditas yang Dikerjasamakan 115 25 Kegiatan Kemitraan Puslitbang Perkebunan TA. 2020 117 26 Data Kerja Sama Lisensi Teknologi Perkebunan TA. 2020 117 27 Keragaan Pegawai Lingkup Puslitbang Perkebunan Menurut

Pendidikan Pada Tahun 2020 119

28 Jumlah Pegawai Lingkup Puslitbang Perkebunan Berdasarkan

Jabatannya Pada Tahun 2020 119

29 Keragaan Peneliti Berdasarkan Kepakaran/Bidang Ilmu lingkup

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan 2020 120 30 Realisasi Anggaran Lingkup Puslitbang Perkebunan berdasarkan

Sasaran Output Utama TA 2020 126

31 Target dan realisasi PNBP lingkup Puslitbang Perkebunan TA 127

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Uraian Halaman

1 Tembakau Jombang Varietas Jinten Pakpie 2 4

2 Tembakau Banyuwangi Varietas Semarang Jahe 1 5

3 Tembakau Banyuwangi Varietas Jepril 1 5

4 Tembakau Banyuwangi Varietas Semarang Jahe 2 6

5 Populasi Kelapa Kelapa Dalam Varietas Odeska Apela 6 6 Keragaan Tanaman Tebu Pada Kegiatan Aplikasi Bahan

Organik Pembenah Tanah 7

7 Keragaan Tebu RC Lebih Dari 3 Kali 8

8 Isolat Yang Telah Dimurnikan (a), Isolat Murni Yang Siap

Dikarakterisasi (b) 9

9 Ekstrak Simplisia Daun Pinus (a), Daun Mimba (b) Limbah Rami (c), Biji Pepaya (d), Limbah Agave sisalana (e), Buah Pepaya (f)

9

10 A. Proses Delinting Biji Kapas Kabu-Kabu Menggunakan Mesin Delinting Kecil. B (a) Biji Kapas Berkabu, (b) Serat Linter Kapas Hasil Delinting Tahap I, (c) Biji Kapas Sisa Pengambilan Tahap I, (d) Serat Linter Kapas Hasil Delinting Tahap II, (e) Biji Kapas Sisa Pengambilan Linter Kapas

10

11 Lignin Yield Tanaman Kenaf, Agave dan Rami 12

12 Pertumbuhan Kalus Varietas PSML 2 AGRIBUN Pada

Perlakuan Induksi Kalus P4 dan P8 13

13 (A) Dan (B) Pengamatan Karakter Vegetatif; (C) Bobokor Daerah Kelapa dan (D) Seludang Pertama Kelapa Dalam Mapanget

14

14 Jaringan Fertigasi Statis 15

15 (A) Kontruksi Robot Fertigasi 2018; (B) Robot Fertigasi 2019; (C) Modifikasi Pengembangan Tahun 2020; (D) Aktivitas Pengamatan Respon Panjang Sulur dan Jumlah Sulur

16

16 Pengelolaan Hara Pada Kebun Induk Lada Dengan Fertigasi

Statis 17

17 Pengamatan Pertumbuhan Tanaman Lada 18

18 (kiri) Serbuk Gula Stevia dan (kanan) Hasil Gula Stevia

Dengan Loyang Teflon Pada Suhu 55oC 21

19 Serbuk Gula Stevia 21

20 Desain Alat budchip Tebu 22

21 Perspektif Desain Alat budchip Tebu 23

22 Perspektif Desain body Alat pedot oyot Tebu 23

23 Perspektif Desain Alat pedot oyot Tebu 24

24 Penanaman 80 aksesi tanaman kapas dan pertumbuhan

kapas umur 8 HST 28

(9)

26 Kegiatan selfing tanaman kapas 29 27 Pertumbuhan tanaman umur 62 HST dan kegiatan panen

kapas berbiji 29

28 Penampilan beberapa aksesi plasma nutfah kenaf 30 29 Seleksi terhadap kebenaran aksesi, Pengerodongan bunga

dan Pengerodongan pada tanaman yang telah dipilih 30 30 Penampilan plasma nutfah abaka di Kebun Cobanrondo 31 31 Penampilan plasma nutfah abaka di IP2TP Karangploso 32 32 Penampilan plasma nutfah agave di IP2TP Karangploso(kiri)

dan kebun Kalipare (kanan) 33

33 Penampilan tanaman sebagai sumber benih untuk rejuvinasi

plasma nutfah rami di Kebun Cobanrondo 34

34 Penampilan plasma nutfah rami di IP2TP Karangploso

setelah pemangkasan 34

35 Plasma nutfah stevia di IP2TP Karangploso yang dikonservasi di lapangan. a) Aksesi turunan BPP 72; b) Aksesi Tianjin dan Ningxia; c) Aksesi Cibodas Manis

35

36 Plasma nutfah stevia di IP2TP Karangploso yang

dikonservasi di polybag 35

37 Keragaan plasma nutfah tebu di IP2TP Karangploso : a) Kondisi pertanaman; b)Aksesi plasma nutfah tebu yang tidak tahan keprasan

36

38 Penanaman plasma nutfah tebu di kebun percobaan Ngemplak, Pati. a) Penanaman 256 aksesi hasil eksplorasi dan b) Penanaman 330 aksesi hasil persilangan P3GI

36

39 Keragaan plasma nutfah tebu di kebun percobaan

Ngemplak,Pati 37

40 Kegiatan panen plasma nutfah tebu di IP2TP Karangploso

dan KP. Ngemplak 37

41 Kelompok Eryanthus yang tidak ditebang di IP2TP

Karangploso 37

42 Kuantifikasi DNA dari 24 aksesi tebu untuk optimasi PCR 40

43 Persiapan dan pelaksanaan optimasi PCR 41

44 (a) Optimasi PCR pada aksesi-aksesi tebu menggunakan primer I-4 (b) Representasi marka-marka yang dihasilkan dari aksesi-aksesi tebu menggunakan primer I4

41

45 Koleksi Kelapa Dalam di KP Mapanget 42

46 Koleksi Kelapa Dalam Bido yang sudah berbuah di KP

Mapanget 42

47 Koleksi Kelapa Genjah di KP Paniki 42

48 Koleksi Kelapa Genjah Kopyor di KP Kima Atas 42 49 Kelapa Genjah Orange Sagerat yang sudah berbunga di KP

Mapanget 43

50 Kelapa Genjah Tebing Tinggi yang memiliki bole (hibrid

alami) 43

51 Koleksi Sagu di KP Kayuwatu 43

(10)

54 Koleksi tanaman kopi Robusta 45 55 Koleksi tanaman karet, dan porang di KP. Pakuwon 46

56 Koleksi tanaman kakao di KP. Pakuwon 46

57 Koleksi kopi kuljar di KP. Gunung Putri 47

58 Koleksi teh di KP. Gunung Putri 47

59 Koleksi jarak pagar di K.P. Pakuwon 48

60 Pemeliharaan tanaman (pemupukan, penyemprotan gulma)

dan pembuatan lubang tanam kopi untuk batang bawah 48 61 Pemberian Furadan pada tanaman jarak pagar dan bobokor

tanaman kopi 49

62 Tampilan depan data pasport plasma nutfah Balittri 49 63 a. Tampilan dokumentasi data passport plasma nutfah kopi

b.Tampilan dokumentasi data passport plasma nutfah teh c. Tampilan dokumentasi data passport plasma nutfah

kakao

d.Tampilan dokumentasi data passport plasma nutfah karet

50 50 51 51 64 Teknik produksi benih tebu G0 melalui kultur jaringan

menggunakan metode organogenesis tidak langsung (fase kalus): a. Induksi kalus; b. Induksi/regenerasi tunas; c.

multiplikasi tunas

53

65 Teknik produksi benih tebu G0 melalui kultur jaringan menggunakan metode organogenesis langsung (induksi tunas aksiler): a. Induksi tunas aksiler; b. regenerasi tunas;

c. multiplikasi tunas

53

66 Aklimatisasi benih Tebu G0 di rumah kaca: a. Tanaman disungkup plastik selama 2 minggu; b. Tanaman siap dikirim ke lapang

54

67 Pengiriman benih G0 dari labortorium UPBUP Bogor ke IP2TP Muktiharjo Pati Jawa Tengah: a. Penataan benih G0 menjadi dua tingkat; b. Penutupan benih dengan paranet

54

68 Penanaman benih G0 di IP2TP Muktiharjo dengan jarak

tanam 100 x 40 cm, umur 4 Minggu setelah tanam (MST) 55 69 Penampilan tanaman produksi benih G1 di IP2TP Muktiharjo

umur 17MST; a. varietas KK; b. varietas Bululawang; c.

varietas PA 0218; d. varietas AAS Agribun

55

70 Penampilan pertanaman produksi benih tebu G2 varietas

AAS Agribun 56

71 Pemilihan bahan tanam di Kebun Percobaan Pakuwon (a), letak embrio di dalam buah kelapa (b), bibit kelapa umur 1,5 tahun (c), dan umbut yang siap distelirisasi (d)

57

72 Pembukaan lahan dan lahan sudah siap untuk ditanami serai

wangi di KP Manoko 58

73 Serai wangi setelah dipanen, dan serai wangi umur 11 bulan

di KP Manoko 58

74 Penampakan serai wangi tanam 2018 dan lahan yang baru

dibuka November 2020 di KP Laing 58

(11)

76 Benih vanili 5-7 daun 60

77 Pengiriman benih vanili 60

78 Surat keterangan pemulia dan SK. Penetapan Kebun Induk Vania 1 Nomor 57/Kpts/KB.020/8/2020

60

79 Benih lada siap salur 61

80 Benih lada varietas natar 1 dan petaling 1 siap salur 61 81 Kebun sumber benih lada di KP Sukamulya dan KP Cibinong 61 82 SK. Penetapan Kebun Induk Lada Varietas Natar 1 Nomor

58/Kpts/KB.020/8/2020 61

83 Nilam varietas sidikalang 3 BST yang terserang virus 62

84 Nilam setelah dipangkas dan hasil pangkasan 63

85 Nilam Varietas pachoulina 3 BST dan 1 BST 63

86 Penyetekan nilam, sortasi dan kondisi tanaman setelah

disetek 63

87 Rimpang jahe hasil pemurnian benih dan lokasi tanam T.A

2020 64

88 Kondisi pertanaman 1 BST di Nagrak 64

89 Peremajaan 10 Varietas unggul lada dengan sistim irigasi 66

90 Pertanaman lada dan sereh dapur 66

91 Pertanaman Sereh wangi dan akar wangi 66

92 Pertanaman vanili di emplasemen UPBS 67

93 Perkembangan kalus, tunas, akar dan aklimatisasi tebu 69

94 Pertumbuhan tanaman tebu G2 umur 120 HST 71

95 a. Pembibitan setek rami umur 0 hari, b. Umur 8 hari dan c.

umur 1 dan 2 bulan 73

96 a. Pengolahan lahan, b. Penanaman rhizome rami dan c.

Penanaman setek rami 74

97 Pendederan Kelapa di KP Kima Atas (Kiri), Pendederan

Kelapa di KP Mapanget 76

98 Pembibitan Kelapa Dalam Mapanget di KP. Kima Atas (kiri), Pembibitan Kelapa Dalam Mapanget di KP. Mapanget (kanan)

76

99 Penataan polibeg yang dibagi berdasarkan nomor bedengan 78 100 Benih dalam polibeg berumur 1 bulan setelah transplanting 78 101 Pengendalian hama dan penyakit kopi pada perbenihan 79 102 Benih kopi Arabika yang telah siap untuk disertifikasi 79 103 Pengiriman benih kakao ke Kebun Percobaan Cahaya Negeri 81 104 Penanaman benih kakao BL50 di Kebun Percobaan Pakuwon

(Koordinat GPS-6.829931025338655, 106.7465933509639) 81 105 Penanaman benih kakao BL50 di Kebun Percobaan Pakuwon

(6.831022751206626, 106.74018850113255)

82 106 Penghapusan benih kakao yang sudah kadaluarsa dan afkir 83

107 Talk Show Pameran HUT PDIP 90

108 Penandatanganan Kesepakatan Bersama Pembuatan B100

Bio fuel dan bahan bakar 91

(12)

Grand Launching Museum Tanah di Bogor

110 Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal 93

111 Hari Tani Nasional 94

112 Hari Perkebunan ke 63 Tahun 95

113 Pembuatan Logo Kementerian Pertanian dan Logo Agro

Inovasi 96

114 Pembuatan Kalender, banner, poster, backdrop, jaket eucalyptus, kaos eucalyptus, stiker eucalyptus, masker eucalyptus

97

115 Pembuatan stiker gugus tugas covid-19, banner Dirgahayu

Indonesia, dan banner kegiatan Menteri Pertanian 98 116 Pembuatan Banner Covid-19, Budaya kerja, dan Narkoba 99 117 Grafik rekapitulasi update berita pada web site Puslitbang

Perkebunan tahun 2020 100

118 Grafik jumlah kontak pengunjung Website Puslitbang

Perkebunan tahun 2020 101

119 Grafik negara pengunjung Website Puslitbang Perkebunan

tahun 2020 berdasarkan Google Analytics 101

120 Peta kerjasama Puslitbang Perkebunan Tahun 2020 118 121 Alokasi anggaran lingkup Puslitbang Perkebunan

berdasarkan jenis Belanja TA 2020

122 122 Alokasi anggaran lingkup Puslitbang Perkebunan

Berdasarkan Satker TA 2020 123

123 Alokasi Anggaran Lingkup Puslitbang Perkebunan Berdasarkan Output Diluar Anggaran Dukungan Manajemen Litbang TA 2020

123

124 Persentase Realisasi Anggaran Puslitbang Perkebunan TA

2016-2020 124

125 Realisasi Anggaran Lingkup Puslitbang Perkebunan Berdasarkan Satker TA 2020

124

126 Realisasi Anggaran UK/UPT TA 2020 125

127 Realisasi Anggaran Berdasarkan Jenis Belanja TA 2020 (dalam ribu rupiah)

125

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Uraian Halaman

1 Hasil sertifikasi benih tebu G2 oleh BBP2TP di IP2TP Muktiharjo pada varietas AMS Agribun Tahun 2020

130 2 Hasil sertifikasi benih tebu G2 oleh BBP2TP di IP2TP

Muktiharjo pada varietas AAS Agribun Tahun 2020 131 3 Hasil sertifikasi benih tebu G2 oleh BBP2TP di IP2TP

Muktiharjo pada varietas CMG Agribun Tahun 2020 132 4 Hasil sertifikasi benih tebu G2 oleh BBP2TP di IP2TP

Muktiharjo pada varietas BL Tahun 2020 133

5 Hasil sertifikasi benih tebu G2 oleh BBP2TP di IP2TP

Muktiharjo pada varietas PS 862 Tahun 2020 134 6 Hasil sertifikasi benih tebu G2 oleh BBP2TP di IP2TP

Muktiharjo pada varietas PS 864 Tahun 2020 135 7 Surat permohonan pembelian benih tebu G2 oleh CV

Lahan Hijau 136

8 Berita acara serah terima benih tebu G2 137

9 Bukti Setoran PNBP hasil Benih Tebu G2 Tahun 2020 138 10 Bukti Setoran PNBP hasil Benih Tebu G1 APBN 2019 yang

dipakai dalam kegiatan swakelola produksi benih G2 oleh IP2TP Muktiharjo 2020

138

(14)

RINGKASAN

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan sebagai salah satu unit kerja Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian memiliki tugas dan fungsi sebagai penghasil teknologi dan rekomendasi kebijakan khususnya di bidang perkebunan.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan selalu mendukung visi Kementerian Pertanian dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian serta terus berupaya untuk menghasilkan teknologi perkebunan yang mudah diterapkan, efektif, efisien dan berdaya saing. Kegiatan penelitian dan pengembangan selama tahun 2020 telah menghasilkan banyak teknologi inovatif yang terkait dengan upaya peningkatan biodiversitas dan jumlah bahan tanaman, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan, teknologi pengolahan hasil, benih sumber, dan sintesis kebijakan.

VARIETAS UNGGUL

Pada tahun anggaran 2020 Puslitbang Perkebunan telah berhasil melepas 5 varietas unggul baru tanaman perkebunan yang terdiri dari : VUB Tembakau (4 varietas), dan Kelapa (1 varietas).

TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TANAMAN PERKEBUNAN Hasil-hasil penelitian teknologi peningkatan produktivitas tanaman perkebunan selama TA 2020 yang telah dihasilkan sebanyak 14 teknologi terdiri atas komoditas Tebu (3 teknologi); kapas (1 teknologi); abaka (1 teknologi); sisal (1 teknologi);

kenaf (1 teknologi); rami (1 teknologi); lada (4 teknologi); kakao (1 teknologi); dan Kelapa (1 teknologi). Teknologi-teknologi yang sudah dihasilkan tersebut mencakup komponen-komponen teknologi pemupukan, teknologi pemanfaatan mikroba, teknologi budidaya tanaman, teknologi pengendalian hama dan penyakit, dan teknologi pengolahan.

TEKNOLOGI DIVERSIFIKASI DAN PENINGKATAN NILAI TAMBAH/

PRODUK OLAHAN

Puslitbang Perkebunan pada tahun anggaran 2020 telah menghasilkan teknologi diversifikasi dan peningkatan nilai tambah/produk olahan tanaman perkebunan sebanyak 2 produk yaitu pengembangan teknologi diversifikasi produk tanaman pemanis gula tebu daun stevia dan bit (2 teknologi). Teknologi yang dihasilkan adalah berupa pengembangan produk pemanis alami dari daun stevia dan

(15)

peningkatan efektivitas dan efisiensi budchip dan pedot oyot mendukung sistem pembenihan dan budidaya tebu.

PLASMA NUTFAH TANAMAN PERKEBUNAN

Untuk mendukung kegiatan pemuliaan tanaman, diperlukan materi genetik tanaman perkebunan. Sampai dengan tahun anggaran 2020, Puslitbang Perkebunan telah memiliki sebanyak 11.482 aksesi yang terdiri dari 4.022 aksesi tanaman rempah dan obat, 6.098 aksesi tanaman pemanis dan serat, 334 aksesi tanaman palma dan 1.028 aksesi tanaman penyegar dan industri lainnya.

BENIH SUMBER TANAMAN PERKEBUNAN

Produksi benih sumber tanaman perkebunan dicapai melalui kegiatan pengelolaan UPBS, dengan output berupa benih sumber : (1) tanaman rempah dan obat meliputi seraiwangi (750.000 anakan); vanili (20.000 polibeg); lada (20.000 polibag); jahe (3.000 kg); nilam (1.629 polibeg); (2) tanaman pemanis dan serat berupa tebu GO (12.071 mata); tebu G1 (90.000 mata); dan tebu G2 (282.562 mata); (3) tanaman kelapa dalam (54.000 butir); dan (4) tanaman industri dan penyegar berupa kopi arabika (100.000 benih); dan kakao (4370 benih).

REKOMENDASI KEBIJAKAN

Kinerja rekomendasi kebijakan dicapai melalui kegiatan analisa kebijakan. Selama TA 2020 telah terealisasi sebanyak 4 (empat) rekomendasi kebijakan yaitu: (1) Reformulasi indikator keberlanjutan perkebunan mendukung akselerasi peremajaan sawit rakyat; (2) Percepatan penyediaan benih komoditas perkebunan menggunakan teknik kultur jaringan; (3) Pengembangan sistem agribisnis mendorong peningkatan nilai tambah dan daya saing jambu mete; dan (4) Pengendalianhama kakao terpadu mengantisipasi dampak perubahan iklim.

PENGEMBANGAN DAN DISEMINASI INFORMASI PERKEBUNAN

Adopsi teknologi oleh pengguna/petani telah dirintis percepatan penyampaian inovasi hasil penelitian melalui diseminasi dan publikasi hasil penelitian serta kerjasama penelitian dengan mitra kerja swasta, pemerintah, dan perguruan tinggi.

SUMBERDAYA KEUANGAN

Pagu anggaran UK/UPT lingkup Puslitbang Perkebunan Tahun 2020 sebesar Rp.

95.484.395.000,-. Berdasarkan jenis belanja, realisasi belanja pegawai, belanja

(16)

97,93%; 99,38%; dan 97,85%. Realisasi untuk semua jenis belanja mencapai angka di atas 95% menunjukkan bahwa penyerapan anggaran telah melebihi target yang telah ditetapkan, dan pelaksanaan kegiatan berjalan lancar.

Realisasi PNBP di Puslitbang Perkebunan sebesar 154,41%, Balittro 94,45%, Balittas 100,19%, Balitpalma 51,10%, dan Balittri 64,78%. Realisasi PNBP di lingkup Puslitbang Perkebunan TA.2020 sebesar Rp. 2.966.961.782,- (88,48%) dari target Rp. 3.353.247.000,-.

(17)

SUMMARY

Indonesian Center for Estate Crops Research and Development (ICECRD) as one of the centers of the Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD) has the task and functions as a provider of technology and policy recommendations, especially in estate crops. ICECRD always support the vision of Ministry of Agriculture and the Indonesian Agency for Agricultural Research and Development, as well as continually strive to produce a competitive, effective and efficient estate crops technology that easy to be applied. There were quite a lot of innovative technologies resulted during 2020 related to the improvement of biodiversity, plant materials, quality and productivity of estate crops, processing quality, seed sources, and policy recommendations.

HIGH YIELDING VARIETIES

In 2020, ICERD released 5 new high yielding varieties of estate crops, i.e.Tobacco (4 varieties), and Coconut (1 varieties).

PRODUCTIVITY IMPROVEMENT TECHNOLOGY OF ESTATE CROPS

The research results of technology research in increasing the productivity of estate crops during FY 2020 that have been produced as many as 14 technologies consisting of sugar cane (3 technologies); cotton (1 technology); abaca (1 technology); sisal (1 technology); kenaf (1 technology); hemp (1 technology);

pepper (4 technologies); cocoa (1 technology); and coconut (1 technology). The technologies that have been produced include the components of fertilization technology, microbial utilization technology, plant cultivation technology, pest and disease control technology, and processing technology.

PRODUCT DIVERSIFICATION TECHNOLOGY AND ADDED VALUE ENHANCEMENT/ PROCCESSING PRODUCT

Plantation Research Center for Fiscal Year (TA) 2020 has produced diversification technology and an increase in added value / processed products for plantation crops, namely the development of technology for product diversification of sugar cane stevia leaves and beets (2 technologies). There technologies are the form of developing natural sweetener products from stevia leaves and increasing the effectiveness and efficiency of budchips and pedot oyot to support sugarcane seeding and cultivation systems.

(18)

ESTATE CROPS GERMPLASM

To support plant breeding activities, the genetic material of estate crops is neccessary. Up to 2020, the ICECRD had collected as many as 11, 482 accessions consisting of 4,022 accessions of spices and medicinal crops, 6,098 accessions of sweetener and fiber, 334 accessions of palma plants, and 1,028 accessions of beverage and industrial crops.

SEED SOURCE OF ESTATE CROPS

The number of seed sources are achieved through UPBS management activities by the output of: (1) spices and medicinal crops including pepper lemongrass (750,000 tillers); vanilla (20,000 polibags); pepper (20,000 polibags) ginger (3,000 kg);

patchouli (1,629 polibags); (2) sweetener and fiber plants in the form of sugar cane, sugarcane G0 (12,071 buds); sugarcane G1 (90,000 buds); and sugarcane G2 (282,562 buds); (3) coconut plants (54,000 seeds); and (4) industrial plants and refiners in the form of arabica coffee (100,000 seeds); and cocoa (4370 seeds).

POLICY RECOMMENDATION

Policy recommendation was resulted from policy analisys activities. During FY 2020, 4 (four) policy recommendations were issur, namely: (1) Reformulation of plantation sustainability indicators to support accelerated rejuvenation of smallholder palms;

(2) Accelerating provision of plantation commodity seeds using tissue culture techniques; (3) Development of an agribusiness system encourages increased added value and competitiveness of cashew nuts; (4) Integrated cocoa pest control anticipates the impacts of climate change.

DEVELOPMENT AND DISSEMINATION OF ESTATE INFORMATION

For technology adoption by the user/farmer, the acceleration of delivery of innovation had been initiated through dissemination and the publication, and research collaboration with private government, and universities.

(19)

FINANCIAL RESOURCES

In Fy 2020, the total budget for ICECRD and its technical implementation units were IDR. 95.484.395.000,-. Based on the type of expenditure, the realization of employee expenditure, goods expenditure and capital expenditure as of December 31, 2020 respectively reached 96.39%; 97.93%; 99.38% and 97.85%. Realization for all types of expenditure reached above 95% shows that the budget absorption has exceeded the target set, and the implementation of activities runs smoothly.

Realization of non for income of ICECRD was (154.41%), ISMCRI (94.45%), ISFCRI (100.19%), IPRI (51.10%), and IIBCRI (64,78%.) The realization of PNBP within the scope of the TA.2020 was IDR. 2,966,961,782 (88.48%) of the target of IDR.3,353,247,000, -.

(20)

I. PENDAHULUAN

Komoditas perkebunan memiliki kontribusi besar dalam pembangunan ekonomi dengan perannya sebagai penyumbang devisa negara, penyedia lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi nasional. Agar kontribusi tersebut dapat dipertahankan dan bahkan ditingkatkan, pembangunan usaha perkebunan harus selalu didukung oleh IPTEK melalui pengembangan teknologi dan inovasi untuk menghadapi permasalahan dan tantangan pertanian kedepan.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan sebagai salah satu unit kerja Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian memiliki tugas dan fungsi sebagai penghasil teknologi dan kebijakan khususnya di bidang perkebunan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan selalu mendukung visi Kementerian Pertanian dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian serta terus berupaya untuk menghasilkan inovasi teknologi perkebunan yang mudah diterapkan, efektif, efisien dan berdaya saing.

Mengacu pada sasaran strategis Renstra Puslitbang Perkebunan 2020-2024 dan sebagai basis dalam proses perencanaan kegiatan, kegiatan penelitian dan pengembangan selama tahun 2020 telah menghasilkan banyak inovasi teknologi yang terkait dengan upaya peningkatan produktivitas dan mutu hasil tanaman perkebunan serta hasil sintesis kebijakan.

Puslitbang perkebunan tahun 2020-2024 fokus pada upaya mendukung empat program strategis Kementerian Pertanian yaitu : (1) pencapaian swasembada gula, (2) nilai tambah, (3) daya saing, dan (4) menghadapi kampanye negatif yang berkaitan dengan lingkungan dan kesehatan. Kegiatan yang sudah dilakukan meliputi, perakitan varietas unggul baru tebu dan komoditas perkebunan lainnya, penyediaan benih sumber tebu hasil kultur jaringan dan benih sumber tanaman perkebunan lainnya, penelitian peningkatan produktivitas tebu, peningkatan produktivitas dan diversifikasi komoditas perkebunan lainnya melalui perakitan teknologi budidaya pendukung serta Good Agricultural Practice (GAP) untuk memenuhi standar kualitas produk olahan komoditas perkebunan. Sesuai dengan perubahan lingkungan strategis, Puslitbang Perkebunan juga berupaya mengembangkan berbagai komoditas dan teknologi bioenergi.

(21)

Pada Tahun anggaran 2020 telah dihasilkan 12.071 mata benih tebu G0, 90.000 mata benih tebu G1, dan 282.562 mata benih tebu G2 untuk mendukung upaya pencapaian swasembada gula. Upaya peningkatan produktivitas tebu dan komoditas perkebunan lainnya, melalui perakitan varietas unggul telah dihasilkan 5 VUB, yang terdiri dari: Tembakau (4 varietas), dan Kelapa (1 varietas). Selain itu, juga dihasilkan 14 teknologi peningkatan produksi komoditas lada, tebu, kapas, abaka, sisal, kenaf, rami, kelapa, dan kakao.

Kegiatan litbang untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas perkebunan telah menghasilkan 2 produk olahan yaitu: Pengembangan produk pemanis alami dari daun stevia, dan Peningkatan efektivitas dan efisiensi budchip dan pedot oyot mendukung sistem pembenihan dan budidaya tebu.

Selain itu, telah dihasilkan 14 teknologi proses, yaitu (1) teknologi perbaikan kualitas tanah untuk tebu, (2) teknologi rawat ratun tebu lebih dari 3 kali, (3) formula antibakteri untuk mengurangi penurunan sukrosa tebu setelah tebang, (4) data morfologi serat linter kapas dan abaka untuk penetapan metode pembuatan pulp untuk kertas sekuritas, (5) bahan aktif biofarmaka yang berfungsi sebagai antibakteri dari biomassa sisa penyeratan sisal, (6) teknik ekstraksi lignin yang terdapat dalam biomassa kenaf, rami, dan sisal, (7) teknologi perbaikan induksi dan regenerasi kalus tanaman tebu melalui kultur jaringan, (8) pemupukan organik untuk peningkatan produktivitas tanaman kelapa rakyat, (9) teknologi pengawetan alami nira dengan tanin debu sabut kelapa untuk meningkatkan mutu gula, (10) teknologi peningkatan efisiensi pengelolaan hara pada kebun produksi lada, (11) teknologi fertigasi dan larik ganda untuk mendukung budidaya lada secara berkelanjutan, (12) teknologi pengolahan nib kakao dengan tekanan puffing sebagai makanan ringan tinggi anti oksidan, (13) aplikasi pupuk hayati dan amelioran untuk meningkatkan produktivitas kakao di lahan kering masam, (14) keefektifan insektisida nabati berbahan asap cair dari limbah perkebunan untuk mengendalikan Helopeltis.

Agar inovasi teknologi dan kelembagaan pertanian dapat segera menyentuh masyarakat maka diseminasi teknologi merupakan suatu keharusan dengan memanfaatkan berbagai saluran dan media yang tepat dan efektif. Umpan balik diseminasi teknologi dari masyarakat berperan penting sebagai acuan dalam perencanaan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan teknologi yang lebih sesuai dengan kebutuhan para penggunanya.

Dalam upaya peningkatan efektivitas dan efisiensi kinerja, Balitbangtan

(22)

untuk menciptakan teknologi unggul dan inovasi, dan penelitian adaptif (adaptive research) untuk pematangan teknologi yang siap dilepas. Program penelitian dan pengembangan mendukung Agenda Riset Nasional (ARN) merupakan bentuk kemitraan dan kerja sama dengan berbagai lembaga penelitian nasional (Kemenristek Dikti, LAPAN, LIPI, PT dll) dan internasional. Pembenahan organisasi dan peningkatan kemampuan sumber daya penelitian dan tenaga penunjang terus diupayakan untuk meningkatkan produktivitas kinerja.

(23)

II. VARIETAS UNGGUL

Varietas unggul merupakan hasil penelitian yang mempunyai daya ungkit peningkatan produktivitas tanaman atau mempunyai sifat keunggulan dibandingkan varietas yang terdahulu. Selama TA 2020, Puslitbang Perkebunan telah melepas 5 varietas unggul baru tanaman perkebunan yang terdiri dari : VUB Tembakau (4 varietas), Kelapa (1 varietas), Varietas unggul yang telah dilepas beserta keunggulannya adalah sebagai berikut:

TEMBAKAU

1. Tembakau Jombang Varietas Jinten Pakpie 2

Varietas unggul baru Tembakau Jombang Varietas Jinten Pakpie 2 mempunyai keunggulan potensi produksi 1,40-2,08 ton/ha, indeks mutu 70,90 – 79,96, indek tanaman 104,99 – 160,33, kadar nikotin 3,26-4,05%, moderat tahan terhadap jamur Phytophtora nicotiana dan bakteri Ralstonia solanacearum.

Kesesuaian lahan di sawah dan tegal.

Gambar 1. Tembakau Jombang Varietas Jinten Pakpie 2

2. Tembakau Banyuwangi Varietas Semarang Jahe 1

Varietas unggul baru Tembakau Banyuwangi Varietas Semarang Jahe 1 mempunyai keunggulan potensi produksi 1045,97 kg/ha,indeks mutu 59,74, indeks tanaman 62,18, kadar nikotin 2,36%, moderat tahan terhadap jamur Phytophtora nicotiana dan rentan terhadap bakteri Ralstonia solanacearum.

(24)

Gambar 2. Tembakau Banyuwangi Varietas Semarang Jahe 1 3. Tembakau Banyuwangi Varietas Jepril 1

Varietas unggul baru Tembakau Banyuwangi Varietas Jepril 1 mempunyai keunggulan potensi produksi 806,96 kg/ha, indek mutu 66,35, indek tanaman 53,33, kadar nikotin 3,43%, tahan terhadap jamur Phytophtora nicotiana dan moderat tahan terhadap bakteri Ralstonia solanacearum.

Gambar 3. Tembakau Banyuwangi Varietas Jepril 1

4. Tembakau Banyuwangi Varietas Semarang Jahe 2

Varietas unggul baru Tembakau Banyuwangi Varietas Semarang Jahe 2 mempunyai keunggulan potensi produksi 996,46 kg/ha, indek mutu 59,48, indek tanaman 58,30, kadar nikotin 2,62%, tahan terhadap jamur Phytophtora nicotiana dan sangat rentan terhadap bakteri Ralstonia solanacearum.

(25)

Gambar 4. Tembakau Banyuwangi Varietas Semarang Jahe 2

5. Kelapa Dalam Varietas Odeska Apela

Kelapa Dalam Varietas Odeska Apela berasal dari Sulawesi Utara sudah lulus/diterima untuk dilepas sebagai varietas unggul dalam sidang Pelepasan Varietas yang dipimpin oleh Tim Pelepas Varietas Tanaman Perkebunan pada Bulan Oktober 2019. Keunggulannya yaitu produksi tinggi, yakni 3,8-4,0 ton/ha/tahun, protein tinggi, kadar minyak tinggi, kandungan asam lemak rantai pendek-sedang tinggi, daging buah tebal, dan pemeliharaan minimal, sangat berpeluang untuk dijadikan sebagai tetua jantan dalam perakitan varietas unggul baru. Kegunaan lain adalah sebagai sumber benih untuk pengembangan kelapa dan sebagai bahan baku industri pangan maupun non pangan.

(26)

III. TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKSI

Menghadapi permasalahan di bidang pertanian berupa penurunan produktivitas tanaman, serta serangan hama dan penyakit memerlukan teknologi budidaya yang tepat yang dapat meningkatkan produktivitas. Teknologi budidaya perkebunan mencakup perbenihan, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Teknologi budidaya tanaman perkebunan yang dihasilkan selama TA 2020 adalah sebagai berikut:

3.1. Teknologi Perbaikan kualitas tanah untuk tebu

Teknologi perbaikan kualitas tanah melalui aplikasi biomassa Crotalaria juncea 10 t/ha yang dibenamkan ke dalam tanah di pangkal tanaman dapat meningkatkan potensi hasil tebu (70,76 t/ha). Kombinasi bahan pembenah tanah yang diproses melalui pembakaran (biochar, abu ketel) dan bahan pembenah tanah yang masih memiliki asam organik (serasah, kompos, Crotalaria juncea, blotong), relatif lebih baik pengaruhnya dalam memperbaiki kualitas tanah berpasir untuk mendukung pertumbuhan tebu. Kedua jenis bahan pembenah tanah ini bersinergi meningkatkan kualitas tanah untuk mendukung pertumbuhan tebu. Perlakuan kombinasi abu ketel 5 t/ha + blotong 5 t/ha mencapai potensi hasil tertinggi (69,51 t/ha).

Gambar 6. Keragaan Tanaman Tebu pada kegiatan Aplikasi bahan organik pembenah

(27)

3.2. Teknologi rawat ratun tebu lebih dari 3 kali

Teknologi rawat ratun dengan aplikasi biochar serasah tebu 10 t/ha menghasilkan potensi produktivitas tertinggi tebu ratun 5, 7 dan 9. Pada ratun 5, potensi produktivitas tebu perlakuan biochar serasah tebu mencapai 71,09 t/ha (hablur 5,13 t/ha). Pada ratun 7, potensi produktivitas tebu perlakuan biochar serasah tebu mencapai 99,13 t/ha (hablur 4,90 t/ha). Pada ratun 9, potensi produktivitas tebu perlakuan biochar serasah tebu mencapai 91,46 t/ha (hablur 5,27 t/ha). Dari rata-rata Ratun 5+7+9, perlakuan biochar serasah tebu 10 t/ha meningkatkan potensi produktivitas tebu 41,94 t/ha (92,62%), atau peningkatan hablur 2,81 t/ha (122,72%) dibanding kontrol petani.

Gambar 7. Keragaan tebu RC lebih dari 3 kali

3.3. Formula antibakteri untuk mengurangi penurunan sukrosa tebu setelah tebang

Penurunan kadar sukrosa tebu (deteriorasi tebu) adalah masalah umum dan penting bagi petani dan pabrik gula. Kondisi deteriorasi tebu ini dapat disebabkan karena faktor kimia atau faktor biologi, seperti adanya bakteri yang menginfeksi. Tahapan formulasi antibakteri deteriorasi tebu antara lain isolasi bakteri, pemurnian bakteri, karakterisasi bakteri, ekstraksi bahan antibakteri dan uji efektifitas simplisia antibakteri terhadap bakteri.

Pada kegiatan isolasi bakteri penyebab deteriorasi tebu, isolasi dilakukan pada jaringan parenkhim batang tebu dari 5 aksesi koleksi Balittas, yaitu aksesi PBG 2, KDI 11, Cening, PSDK dan PA 0218. Eksplorasi dan isolasi bakteri pada tebu diperoleh 15 isolat kemudian dimurnikan untuk

(28)

a. b.

Gambar 8. Isolat yang telah dimurnikan (a) Isolat murni yang siap dikarakterisasi (b)

Tahap berikutnya adalah karakterisasi bakteri, hasilnya adalah terdapat kesamaan genus bakteri yaitu genus Lactobacillus, Flavobacterium, Enterobacter, Leuconostoc, Cornybacterium dan yeast. Tahap keempat adalah ekstraksi bahan tanaman yang memiliki sifat antibakteri. Bahan tanaman yang digunakan adalah pepaya (buah dan biji), daun mimba, daun pinus, limbah agave dan limbah rami. Tahapan preparasi bahan- bahan simplisia antibakteri meliputi tahapan pencucian, pengeringan serta penyerbukan. Ekstraksi bahan aktif dari bahan simplisia dilakukan dengan metode maserasi.

a. b. c.

d. e. f.

Gambar 9. Ekstrak simplisia daun pinus (a), daun mimba (b), limbah rami (c), biji pepaya (d), limbah Agave sisalana (e), buah pepaya (f)

Sel murni

(29)

Uji efektifitas antibakteri simplisia terhadap bakteri penyebab turunnya kadar sukrosa tebu pasca panen dilakukan dengan metode difusi cakram. Ekstrak simplisia daging buah pepaya dan limbah agave memiliki potensi terbesar sebagai antibakteri karena hampir semua bakteri uji dapat dihambat pertumbuhannya oleh kedua ekstrak simplisia ini yang ditandai dengan zona bening.

3.4. Data morfologi serat linter kapas dan abaka untuk penetapan metode pembuatan pulp untuk kertas sekuritas

Rendemen dan kualitas pulp yang akan dihasilkan sangat bergantung pada kualitas dan karakter bahan baku yang digunakan. Oleh karena itu, pengujian kualitas dan karakter bahan baku berupa serat linter kapas dan abaka perlu dilakukan sebelum proses pembuatan pulp. Hasil pengujian juga berguna dalam menentukan kondisi proses pemasakan yang dibutuhkan sehingga diperoleh rendemen dan kualitas pulp yang optimum.

Uji komponen kimia serat linter dua tahap delinting dapat menghasilkan serat panjang sesuai standar SNI 0698:2010-Pulp kraft putihkayujarum (NBKP), yaitu minimal 2,1 mm. Komponen kimia sangat baik sebagai bahan baku pulp karena mempunyai kadar holoselulosa dan selulosa alfa lebih dari 95% dan kadar lignin dan kadar sari yang sangat rendah yaitu kurang dari 5. Kadar holoselulosa dan selulosa alfa yang tinggi akan menghasilkan rendemen pulp yang tinggi. Kadar lignin dan kadar sari yang rendah akan mempermudah proses pemasakan pulp karena membutuhkan lebih sedikit bahan kimia dan proses pemulihan lindi lebih ringan.

A B

Gambar 10. A. Proses delinting biji kapas kabu-kabu menggunakan mesin delinting kecil. B (a) Biji kapas berkabu, (b) Serat linter kapas hasil delinting tahap I, (c) Biji kapas sisa pengambilan tahap I, (d) Serat linter kapas hasil delinting tahap II, (e) Biji kapas sisa

(30)

3.5. Bahan aktif biofarmaka yang berfungsi sebagai antibakteri dari biomassa sisa penyeratan sisal.

Proses penyeratan sisal dengan alat dekortikator akan menghasilkan limbah berupa padatan dan cairan (95%). Biomassa sisa penyeratan sisal tersebut diuji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri S. aureus dan E. coli. Hasil uji antibakteri dengan metode difusi dari 7 klon sampel cair limbah agave dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan S. aureus yang ditandai dengan adanya zona bening disekitar lubang sampel, sedangkan kontrol (aquades) tidak memperlihatkan adanya zona bening disekitar lubang sampel.

Hal ini menunjukkan bahwa sampel cair limbah agave mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan E. coli.

Sampel limbah cair sisa penyeratan agave BALITTAS 13 dan 18 memiliki zona hambat yang kuat terhadap bakteri E. coli dan S. aureus. Hasil analisa LC-MS terhadap sampel cair sisa penyeratan klon Balittas 13, diketahui terdapat 175 senyawa penyusunnya. Senyawa-senyawa yang dipastikan sebagai komponen ekstrak kasar dari sampel tersebut adalah yang mempunyai similarity > 95%

dengan library mzCloud Best Match, yaitu trans-3-Indoleacrylic acid (metabolit dari tritophan), Valylproline (senyawa dipeptida), dan Dibutyl phthalate (kelompok esther).

3.6. Teknik ekstraksi lignin yang terdapat dalam biomassa kenaf, rami, dan sisal.

Teknik ekstraksi lignin yang terdapat dalam biomassa kenaf, rami dan sisal dilakukan dengan metode Klason. Dalam metode Klason, proses ekstraksi dimulai dengan teknik sokletasi menggunakan pelarut heksan. Tahap berikutnya adalah proses delignifikasi untuk memisahkan lignin dari selulosa dan hemiselulosa. Hasil ekstraksi lignin adalah biomassa rami menghasilkan lignin yield yang paling tinggi yaitu 46,33±1.35 g lignin/100 g biomassa dibandingkan kenaf dan agave secara berurutan 21,65±0.11 g lignin/100 g biomass dan 17,35±0.04 g lignin/100 g biomassa (Gambar 11).

(31)

Gambar 11. Lignin yield tanaman kenaf, agave dan rami

Ektraksi lignin dengan metode Klason mampu mengekstrak lignin hingga 17 – 46 % lignin dari biomassa rami, kenaf dan agave. Waktu 1 jam yang diperlukan dalam proses delignifikasi pada metode Klason merupakan waktu yang optimum untuk H2SO4 72 % dapat memisahkan senyawa lignin dari depolimerisasi selulosa dan hemiselulosa serta mengkondensasikan senyawa lignin tersebut.

3.7. Teknologi perbaikan induksi dan regenerasi kalus tanaman tebu melalui kultur jaringan.

Teknologi kultur jaringan baik melalui jalur organogenesis atau embriogenesis somatik telah terbukti dapat dijadikan sebagai teknologi perbanyakan bahan tanaman yang memiliki sejumlah keunggulan dibanding teknik perbanyakan secara konvensional. Beberapa keunggulan teknik perbanyakan kultur jaringan di antaranya adalah tidak tergantung pada musim, daya multiplikasi tinggi, tanaman yang dihasilkan seragam serta bebas dari penyakit seperti bakteri dan jamur.

Perlakuan media MS + 6 mg/l 2,4 D + 10% air kelapa merupakan kombinasi yang terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan kalus tebu. Terdapat satu kombinasi perlakuan terbaik untuk memacu pembentukan kalus lebih cepat, yaitu MS + 7,5 mg/l 2,4 D + 2 mg/l TDZ + 10% air kelapa. Khusus untuk beberapa varietas yang diduga memiliki fenolik tinggi kombinasi ZPT yang sesuai yaitu 6 mg/l + 300 mg/l PVP untuk karakter warna dan tekstur kalus. Varietas PSMLG 2 merupakan varietas yang mampu merespon

(32)

diamati. Sedangkan perlakuan yang terbaik untuk tahap regenerasi kalus tebu menggunakan kombinasi media P3 : MS + 1 mg/l NAA + 0,5 mg/l Kinetin + 2 mg/l casein hidrolisa + 10% air kelapa untuk karakter jumlah tunas, jumlah daun, panjang daun, dan bobot plantlet (Gambar 12). Hasil teknologi perbaikan perbanyakan benih tebu melalui induksi dan regenerasi kalus, melalui kombinasi media terpilih, mampu menurunkan harga benih tebu G0 dari harga semula Rp. 2.124 menjadi Rp. 1.563.

Gambar 12. Pertumbuhan kalus varietas PSMLG 2 AGRIBUN pada perlakuan induksi kalus P4 dan P8

3.8. Pemupukan organik untuk peningkatan produktivitas tanaman kelapa rakyat

Hasil penelitian pemupukan organik untuk peningkatan produktivitas kelapa rakyat belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap produktivitas tanaman kelapa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan organik memberikan respon yang berbeda-beda pada setiap umur tanaman kelapa yang diuji. kelapa Dalam Mapanget pada umur 13 tahun di KP Kima atas memiliki respon yang berbeda setiao karakter yang diamati. Karakter tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan pemupukan NPK sebanyak 4 kg/pohon/tahun yaitu setinggi 8,61. Pada perlakuan yang sama, juga menghasilkan karakter pertambahan jumlah terbanyak yaitu 6,17 tandan.

Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk yang cepat tersedia oleh tanaman sehingga mudah diserap oleh tanaman. Persentase jumlah buah jadi tertinggi pada perlakuan pemupukan organic sebanyak 10 kg/pohon/tahun. Karakter pertambahan jumlah tandan, persentase buah jadi dan jumlah bunga betina yang terbanyak pada perlakuan 30 kg/pohon/tahun. Sedangkan karakter pertambahan jumlah daun yang terbanyak pada perlakuan NPK sebanyak 4

P

4

P

8

(33)

Umur 8 tahun kelapa Dalam Mapanget memberikan hasil yang terbaik pada perlakuan pemupukan sebanyak 30 kg/pohon/tahun. Dan Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa perlakuan 30 kg/pohon/tahun mampu menghasilkan tandan bunga betina yang mengurangi penggunaan pupuk Anorganik dan ramah lingkungan. Dengan demikian, teknologi ini perlu diinfomasikan kepada penyuluh, petani dan peneliti untuk pemanfaatan pupuk organik pada tanaman Kelapa.

Gambar 13. (A) dan (B) Pengamatan karakter vegetatif ; (C) Bobokor daerah kelapa dan (D) Seludang pertama Kelapa Dalam Mapanget

3.9. Teknologi pengawetan alami nira dengan tanin debu sabut kelapa untuk meningkatkan mutu gula

Teknologi pengawetan alami nira dengan memanfaatkan debu sabut kelapa dengan proporsi sebesar 63,31% merupakan bahan baku potensial sebagai sumber tanin. Teknologi yang dihasillkan dengan ekstraski debu sabut kelapa menggunakan air panas dan air dingin, masing-masing selama 3 jam. Hasil ekstraksi tanin debu sabut kelapa memiliki tingkat kemasanan (pH) sekitar 6.

Selanjutnya ekstrak debu sabut dimasukkan dalam wadah penampung dan

A B

C D

(34)

sadapan diukur kemasamnnya, hasil yang diperoleh berkisar pH berkisar 4-6 dan kondisi nira agak kental.

3.10. Teknologi peningkatan efisiensi pengelolaan hara pada kebun produksi lada

Tanaman lada termasuk tanaman dengan kebutuhan akan hara yang sangat tinggi. Upaya peningkatan efisiensi pengelolaan hara perlu dilakukan agar pertumbuhan dan produksi lada dapat diperoleh secara optimal. Teknologi fertigasi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan hara sekaligus pengelolaan air dalam pengelolaan kebun produksi lada. Pada umur tanaman lada memasuki 3 tahun sudah mulai berbuah.

Apabila melihat pertumbuhan tanaman lada menunjukkan tanaman lada yang dipupuk dengan fertigasi statis lebih baik dibandingkan dengan tanaman lada yang dipupuk dengan cara konvensional.

Gambar 14. Jaringan fertigasi statis

3.11. Teknologi fertigasi dan larik ganda untuk mendukung budidaya lada secara berkelanjutan

3.11.1.Teknologi pengelolaan hara dan air beraplikasi robot fertigasi pada budidaya lada

Perbaikan tata air dan hara merupakan salah satu faktor pengungkit untuk meningkatkan efisiensi pada budidaya lada. Fertigasi sebagai teknik pemberian hara yang sinergis dengan irigasi telah digunakan secara meluas pada komoditas tertentu bernilai ekonomi tinggi, seperti hortikultura. Meskipun fertigasi memiliki keunggulan dalam pengelolaan hara, namun belum banyak diterapkan pada budidaya lada. Anggapan kurang ekonomis dan menambah beban pembiayaan untuk pengadaan jaringan pipa pada sistem fertigasi statis merupakan salah satu alasannya.

(35)

Teknologi fertigasi robotik yang portable dipandang menjadi opsi alternatif untuk menghindari beban kebutuhan jaringan pipa. Modifikasi robot fertigasi 2018 dan 2019 menghasilkan bentuk robot fertigasi yang terpisah antara unit ferigator dengan unit distributor air dan hara ke tanaman. Dengan model robot fertigasi 2020 memungkinkan unit fertigator dengan stok air dan larutan hara dalam volume besar cukup ditaruh dan ditinggalkan di tepi jalan blok kebun, sedangkan unit distributor bergerak lincah menuju ke pertanaman lada untuk mencari target tanaman yang akan disiram air atau larutan hara. Unit distributor dilengkapi dengan alat rol selang yang gerakan melepas selang atau menarik selang disesuaikan dengan gerakan roda penggerak unit distributor. Dengan dilengkapi camera wifi dan wireless system, operator dapat mengontrol gerakan unit distributor dari kejauhan dengan radius 250 m. Blok tanaman dengan perlakuan irigasi dan fertigasi nyata lebih baik pertumbuhan vegetatif dan produksinya dibandingkan tanaman kontrol. Secara keseluruhan memperlihatkan bahwa teknik fertigasi robotik berpotensi diterapkan dalam pengelolaan hara dan air yang lebih presisi pada budidaya lada, dan aplikasi fertigasi selama musim kering sangat berdampak positif bagi pertumbuhan dan produksi tanaman lada.

Gambar 15. (A) Kontruksi robot fertigasi 2018; (B) Robot fertigasi 2019;

(C) Modifikasi pengembangan tahun 2020; (D) Aktivitas

A B

C D

(36)

3.11.2. Teknologi peningkatan efisiensi pengelolaan hara pada kebun induk lada dengan fertigasi statis

Permasalahan utama dalam memproduksi benih/setek lada adalah terbatasnya kebun induk/kebun benih lada yang mampu menghasilkan benih bermutu secara berkelanjutan. Pengaturan komposisi hara NPK dan pemberian air pada setiap periode pertumbuhan (pertumbuhan awal, sebelum pemangkasan dan setelah pemangkasan) dengan teknik fertigasi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif sehingga dapat meningkatkan produksi dan mutu setek. Pertumbuhan tanaman lada pada tiang panjat mati lebih baik dibanding tiang panjat hidup.

Gambar 16. Pengelolaan hara pada kebun induk lada dengan fertigasi statis

3.11.3. Teknologi larik ganda untuk peningkatan produktivitas lahan pertanaman lada

Larik ganda pada tanaman lada merupakan sistem pertanaman yang memperhatikan larikan tanaman antara dua larikan dengan memodifikasi jarak tanam yang menyisakan ruang yang cukup luas sehingga cukup untuk ditanami tanaman semusim tanpa mengurangi jumlah populasi tanaman lada. Penelitian teknologi larik ganda bertujuan mendapatkan model pola tanam larik ganda yang dapat

(37)

produktivitas lahan dan pendapatan mendukung keberlanjtan produksi dan pendapatan. Hasil penlitian menunjukkan rata-rata tinggi tanaman lada antara 127,94 cm – 172,0 cm, jumlah sulur rata-rata 3 buah, dan jumlah cabang buah rata-rata 10,33 – 15,61 cabang.

Gambar 17. Pengamatan pertumbuhan tanaman lada

3.12. Teknologi pengolahan nib kakao dengan tekanan puffing sebagai makanan ringan tinggi anti oksidan

Proses pengolahan biji kakao cukup panjang untuk dapat dikonsumsi. Proses ini berpotensi mengurangi kandungan polifenol dan antioksidan. Pengolahan Nib kakao dengan tekanan Puffing dapat menjadi solusi untuk menjaga kandungan antioksidan dan polifenol serta dapat diadopsi oleh petani karena tidak membutuhkan mesin dan peralatan yang terlalu mahal dan tidak ada bahan tambahan sehingga dapat meningkatkan nilai tambah. Hasil penelitian menunujukkan bahwa bahan dasar biji kakao fermentasi dan tekanan puffing 3 bar menghasilkan rasa dan aroma yang terbaik. Penggunaan teknologi puffing dengan perlakuan terbaik kandungan kimia, warna dan citarasa adalah pada perlakuan tekanan puffing 4 kg/cm2 untuk jenis biji fermentasi (A1B1) dengan aktivitas antoksidan >80%.

(38)

3.13. Aplikasi pupuk hayati dan amelioran untuk meningkatkan produktivitas kakao di lahan kering masam

Perkebunan kakao di tanah marginal seperti tanah kering masam memerlukan perlakuan tambahan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologinya sehingga diperoleh produktivitas optimal. Data hasil penelitian pada tahun 2020 menunjukkan bahwa pemberian amelioran dan pupuk hayati berpotensi meningkatkan efisiensi pemupukan anorganik. Pemberian perlakuan pupuk anorganik, pupuk organik, biochar meningkatkan kadar hara terutama pada lapis atas (0-15 cm). Pemberian amelioran pupuk kandang dan biochar meningkatkan populasi bakteri dan cendawan dalam tanah. Pemberian biochar dan pupuk organik menghasilkan bobot buah/pohon dan per ha lebih tinggi dibandingkan perlakuan pupuk organik saja.

3.14. Keefektifan insektisida nabati berbahan asap cair dari limbah perkebunan untuk mengendalikan Helopeltis

Helopeltis sp. merupkan hama pada buah kakao yang sampai saat ini belum bisa diatasi. Hama ini menyerang pucuk dan buah kakao dengan cara menusukkan stiletnya untuk mengisap cairan sel. Gejala akibat serangan Helopeltis adalah adanya bercak-bercak cekung berukuran 3-4 mm berwarna cokelat kehitaman. Penggunaan asap cair sebagai pengendali hama telah banyak dilaporkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kefektifan toksisitas asap cair kulit buah kakao menghasilkan mortalitas sebesar 85% bila disemprot pada serangga uji, sedangkan bila disemprot pada pakan, asap cair tempurung kelapa menghasilkan mortalitas sebesar 66,7%. Dengan menggunakan asap cair berbagai bahan limbah perkebunan (tempurung kelapa, kulit buah kakao, kayu/ranting kakao, serbuk gergaji) konsentrasi 5%, mortalitas serangga uji tidak berbeda nyata dibanding dengan perlakuan pestisida kimia.

(39)

IV. TEKNOLOGI DIVERSIFIKASI dan PENINGKATAN NILAI TAMBAH/PRODUK OLAHAN

Selama TA 2020 Puslitbang Perkebunan telah menghasilkan Teknologi diversifikasi dan Peningkatan Nilai Tambah /Produk Olahan tanaman perkebunan. Teknologi ini berperan penting dalam meningkatkan pendapatan petani dan pengembangan agribisnis.

4.1. Pengembangan teknologi diversifikasi produk tanaman pemanis (gula tebu daun stevia dan bit)

4.1.1. Pengembangan teknologi pembuatan gula tebu yang efektif dan sesuai standard SNI

Proses pembuatan produk gula tebu sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Gula merah ini dibuat dengan menggunakan nira tebu varietas PS 862. Pengolahan gula merah tebu ada 2 macam, yaitu gula merah cetak dan gula tanjung (gula merah dalam bentuk butiran). Gula merah cetak dibuat dengan bentuk bulat (koin).

Pembuatan gula tebu ini masih terkendala penstabilan suhu pada saat pemasakan nira, karena menggunakan bahan bakar berupa kayu bakar. Upaya yang dilakukan adalah dengan menggunakan thermometer agar suhu dapat terkontrol dengan baik. Pemasakan dilakukan pada kisaran suhu larutan mencapai 95-1100C.

Pemasakan dilakukan sampai nira mengental, yang membutuhkan waktu 3-5 jam.

4.1.2. Pengembangan produk pemanis alami dari daun stevia

Serbuk stevia berwarna hijau agak pucat, hasil analisa serbuk stevia kering ditampilkan dalam Tabel 1. Hasil analisa proksimat untuk kadar air, kadar abu, dan protein tidak jauh beda dengan yang dilaporkan oleh Wahyuni (2016). Kadar karbohidrat, lemak, dan serat kasar sangat berbeda dengan yang dilaporkan (Wahyuni, 2016).

Tabel 1. Hasil analisa proksimat serbuk stevia

Parameter Hasil Penelitian Wahyuni (2016)

Kadar Air 7,39 % 6,27 %

Kadar Abu 8,09 % 7,83 %

Karbohidrat 2,16 % 57,46 %

Lemak 1,5 % 3,36 %

Protein 13,12 % 14,29 %

Serat Kasar 25,55 % 10,78 %

(40)

Pembuatan gula stevia dilakukan dengan percobaan pendahuluan untuk menentukan metode pengeringan yang tepat. Hasil percobaan pendahuluan metode pengeringan yang mendapatkan hasil paling bagus adalah dengan pengeringan menggunakan loyang stainless steel pada suhu 70oC. Serbuk gula stevia yang dihasilkan berwarna coklat terang seperti Gambar 18 (kiri).

Pengeringan menggunakan loyang teflon pada suhu 55oC menghasilkan serbuk gula stevia dengan warna yang lebih gelap seperti Gambar 18 (kanan).

Gambar 18. (kiri) Serbuk gula stevia dan (kanan) hasil gula stevia dengan loyang teflon pada suhu 55oC

Percobaan pembuatan gula stevia yang sudah dilakukan dengan penambahan malodekstrin 10% menggunakan filtrat stevia dengan lama ekstraksi 15 menit dan 30 menit. Gula stevia yang dihasilkan dari filtrat yang diekstraksi 15 menit (Gambar 19 a) dan 30 menit (Gambar 19 b) mempunyai warna yang hampir sama. Warna gula stevia dapat dipengaruhi oleh konsentrasi maltodekstrin yang digunakan, semakin banyak maltodekstrin yang ditambahkan akan meningkatkan kecerahan serbuk gula stevia.

Gambar 19. Serbuk gula stevia

a b

(41)

4.2. Peningkatan efektivitas dan efisiensi budchip dan pedot oyot mendukung sistem pembenihan dan budidaya tebu

Ruang lingkup kegiatan meliputi penelitian alat budchip tebu dan pedot oyot pada tanaman tebu. Kegiatan yang dilakukan adalah menyiapkan gambar untuk modifikasi alat budchip tebu dan menyiapkan untuk modifikasi pedot oyot tebu.

Dengan adanya refocusing karena pandemi covid-19, maka kegiatan sampai pada pembuatan desain alat budchip tebu tipe tegakan serta modifikasi pedot oyot direncanakan dilakukan tahun depan (2021). Adapun persiapan masih berupa gambar desain alat budchip tebu seperti pada Gambar 20 dan Gambar 21 di bawah ini.

Gambar 20. Desain alat budchip tebu

(42)

Gambar 21. Perspektif desain alat budchip tebu

Sedangkan persiapan untuk alat pedot oyot masih berupa gambar desain seperti pada Gambar 22 dan Gambar 23 di bawah ini.

Gambar 22. Perspektif desain body alat pedot oyot tebu

(43)

Gambar 23. Perspektif desain alat pedot oyot tebu

(44)

V. PLASMA NUTFAH

Untuk mendukung kegiatan pemuliaan tanaman, diperlukan materi genetik tanaman perkebunan. Sampai dengan TA 2020, Puslitbang Perkebunan memiliki koleksi plasma nutfah yang tersebar di Balai-balai komoditas meliputi tanaman rempah dan obat sebanyak 4.022 aksesi, tanaman pemanis dan serat sebanyak 6.098 aksesi, tanaman Palma 334 aksesi, serta tanaman penyegar dan industri lainnya sebanyak 1.028 aksesi, seperti yang disajikan pada Tabel 2. Kegiatan Sumber Daya Genetik (SDG) meliputi eksplorasi, koleksi/konservasi, karakterisasi, evaluasi, dan rejuvenasi. Kegiatan yang dilakukan disesuaikan dengan status plasma nutfah. Koleksi yang mulai mengalami gangguan viabilitas, segera diremajakan melalui kegiatan rejuvenasi, koleksi yang belum lengkap deskripsinya dikarakterisasi, dan yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan, dievaluasi.

Komoditas yang masih sedikit.

Tabel 2. Koleksi Sumber Daya Genetik Tanaman Perkebunan 2019-2020

NO KOMODITAS JUMLAH AKSESI PADA

TAHUN

2019 2020

BALITTRO (Tanaman Rempah dan Obat)

1 Cengkeh 325 245

2 Jahe 76 67

3 Jambu mete 221 221

4 Lada 92 91

5 Pala 321 89

6 Kayu manis 274 88

7 Tanaman Rempah,obat dan atsiri lainnya

5.133 3.221

Sub Jumlah *6.442 *4.022

BALITTAS (Tanaman Pemanis dan Serat)

1 Abaca 70 67

2 Agave 25 24

3 Bunga matahari 78 78

4 Jarak kepyar 175 175

5 Jarak pagar 453 453

6 Kapas 841 841

7 Kapok 152 142

8 Kemiri Sunan 60 -

9 Kenaf dan spesies lainnya 1559 1511

10 Linum 12 12

11 Rami 83 75

12 Tebu 1065 1103

(45)

13 Tembakau 1370 1370

14 Wijen 75 75

15 Stevia - 24

16 Rosela - 148

Sub Jumlah 6.018 6.098

BALIT PALMA (Tanaman Palma)

1 Aren 16 11

2 Kelapa 92 85

3 Kelapa sawit 204 204

4 Pinang 39 24

5 Sagu 19 10

Sub Jumlah 370 334

BALITTRI (Tanaman Penyegar dan Industri)

1 Kakao 245 245

2 Karet 50 50

3 Kopi 289 294

4 Teh 59 59

5 Makadamia - 2

6 Kemiri Sunan - 24

7 Jarak Pagar - 354

Sub Jumlah 643 1.028

Keterangan:

*Untuk koleksi SDG Balittro, jumlah tersebut adalah jumlah populasi yang dipelihara di tujuh Kebun Percobaan.

Kegiatan Sumber Daya Genetik (SDG) yang dilakukan pada TA 2020 meliputi koleksi/konservasi, karakterisasi, evaluasi dan dokumentasi. Volume kegiatan dan tingkat pencapaiannya berbeda antar Balai.

TANAMAN REMPAH DAN OBAT

Koleksi Sumber Daya Genetik atau plasma nutfah tanaman rempah dan obat terdiri dari kelompok tanaman rempah, obat, atsiri dan jambu mete. Total koleksi yang dimiliki saat ini adalah 4.611 aksesi yang terdiri dari 1.114 spesies di tujuh kebun percobaan dan rumah kaca. Kegiatan yang dilakukan pada tahun 2020 meliputi koleksi dan konservasi serta dokumentasi plasma nutfah.

Koleksi dan Konservasi

Sumber Daya Genetik tanaman rempah dan obat dikonservasi secara ek-situ di lapangan. Untuk mempertahankan kelestarian koleksi, beberapa aksesi dikonservasi pada beberapa kebun percobaan, sehingga aksesi yang sama ada di

(46)

percobaan di rumah kaca berjumlah 165 spesies dengan 231 aksesi. Koleksi plasma nutfah tersebar di kebun-kebun percobaan yaitu di KP. Cikampek sebanyak 5 spesies dengan 228 aksesi, di KP Cimanggu sebanyak 381 spesies dengan 2.105 aksesi, di KP. Cibinong sebanyak 4 spesies dengan 18 aksesi, di KP Cicurug sebanyak 175 spesies dengan 703 aksesi, di KP Sukamulia sebanyak 11 spesies dengan 615 aksesi, di KP Manoko terdiri dari 222 spesies dengan 476 aksesi, di KP Laing sebanyak 151 spesies dengan 235 aksesi, di Rumah Kaca terdiri dari 165 spesies dengan 231 aksesi. Seluruh koleksi berjumlah sebanyak 1.114 spesies dengan 4.611 aksesi.

kegiatan tahun 2020 adalah pendataan koleksi plasma nutfah Tanaman Rempah dan Obat di tujuh kebun percobaan telah mendata dan merekam sebanyak 1.114 spesies tanaman dengan jumlah aksesi sebanyak 4.611 aksesi. Konservasi plasma nutfah tanaman rempah dan obat di KP. Cimanggu telah dilakukan terhadap 381 spesies dengan 2.105 aksesi. Konservasi dan rejuvenasi koleksi kerja di kebun percobaan Cicurug adalah 175 spesies dengan 703 aksesi tanaman rempah dan obat. Untuk KP Sukamulya adalah melakukan pemeliharaan terhadap 11 spesies dengan 615 aksesi. Untuk KP Cikampek, telah dilakukan pemeliharaan koleksi dasar dan koleksi kerja 26 aksesi jambu mete hasil sambung dan 3 aksesi asam jawa hasil sambung, koleksi mete hasil persilangan dan hasil eksplorasi. Untuk KP Cibinong memelihara 10 aksesi cabe jawa (Piper retrofractum). Untuk KP Manoko adalah memelihara koleksi plasma nutfah berjumlah sebanyak 222 spesies dengan 476 aksesi, dan untuk KP Laing adalah 151 spesies dengan 235 aksesi.

Dokumentasi Plasma Nutfah

Kegiatan dokumentasi plasma nutfah tanaman rempah dan obat sampai bulan Desember 2020 meliputi pendataan ulang jumlah koleksi plasma nutfah di tujuh kebun percobaan lingkup Balittro dan rumah kaca. Pendataan ulang bertujuan untuk mengetahui perubahan data koleksi tanaman yang meliputi jumlah spesies dan aksesi yang mati, yang bertambah serta perbaikan data nama jenis yang belum lengkap pada setiap kebun dan rumah kaca. Perubahan koleksi tanaman yang bertambah atau berkurang pada setiap kebun percobaan dan rumah kaca dijadikan bahan untuk memperbaiki data koleksi yang berada pada buku induk plasma nutfah di setiap kebun. Selanjutnya perubahan data tersebut secara keseluruhan direkam ke dalam system database secara komputerisasi.

Referensi

Dokumen terkait

Program Balai Penelitian Tanaman Hias bertujuan (1) Menghasilkan varietas unggul baru (VUB), benih sumber bermutu tinggi, dan teknologi inovatif mendukung industri

Sasaran 3 : Tersedianya benih sumber, yaitu dihasilkannya benih sumber sayuran, benih sumber buah tropika dan subtropika, benih sumber tanaman hias bermutu tinggi, dan benih

Salah satu komponen teknologi yang penting dalam pengem- bangan karet adalah tersedianya bahan tanaman unggul. Proses pemuliaan untuk merakit klon unggul karet

Sesuai dengan program Badan Litbang Pertanian yang diarahkan untuk penciptaan inovasi teknologi dan varietas unggul berdaya saing dan inovasi teknologi, diseminasi dan

1) Memfokuskan penciptaan inovasi teknologi varietas unggul baru dan teknologi pendukungnya untuk mendukung pemantapan swasembada beras serta untuk peningkatan

Renstra Puslitbang Hutan 2020-2024 tentunya masih jauh dari kesempurnaan, namun diharapkan dapat menjadi salah dasar dan arah kebijakan pelaksanaan kegiatan

01 Tersedianya Benih Sumber, Varietas Unggul Baru, dan Peningkatan Inovasi Teknologi Tanaman Pangan Mendukung Pencapaian Swasembada Padi dan peningkatan produksi Tanaman Pangan

Arah kebijakan umum ditetapkan dalam rangka mendukung kegiatan BBPPTP Ambon tahun 2020-2024 yaitu dukungan pengujian dan pengawasan mutu benih serta penyiapan teknologi