EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH
PROVINSI BALI TAHUN 2015
KERJASAMA
DEPUTI BIDANG EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN
KEMENTERIAN NEGARA PPN / BAPPENAS
DENGAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, kami telah
dapat menyusun Laporan Akhir Evaluasi Kinerja Pembangunan di Daerah Bali Tahun
2015. Dalam Laporan Akhir ini berisi latar belakang, tujuan, sasaran serta ruang
lingkup, dan anggota tim evaluasi provinsi, hasil evaluasi dan data base, serta
penutup. Laporan ini disusun oleh Tim Independen Evaluasi Kinerja Pemerintah
Daerah Bali dari Universitas Udayana. Berdasarkan atas analisis data awal serta
diskusi dari para anggota Tim dan Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda)
Provinsi Bali. Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) di 34 Provinsi bertujuan
untuk melaksanakan evaluasi tematik berdasarkan dimensi pembangunan dalam
RPJMN 2015-2019 dan membuat database databaselineterkait pelaksanaan RPJMN 2015-2019 di daerah.
Oleh karena ini merupakan Laporan Akhir, tentunya masih sangat jauh dari apa
yang diharapkan. Berkaitan dengan hal itu Tim sangat mengharapkan kritik dan saran
serta masukan dari semua pihak agar nantinya apa yang menjadi tujuan Evaluasi
Evaluasi Kinerja Pemerintah Daerah 2015 dapat dilaksanakan secara optimal.
Pada kesempatan ini Tim sangat berterimakasih kepada Ketua Bappeda
Provinsi Bali serta semua pihak yang telah membantu sehingga Laporan Akhir ini
dapat terwujud.
Denpasar, Nopember 2015 Rektor Universitas Udayana
Prof. Dr.dr. I Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... . iii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan, Sasaran dan Ruang Lingkup ... 2
C. Anggota Tim Evaluasi ... 3
BAB II. HASIL EVALUASI DAN DATA BASE A. Evaluasi Tematik ... 4
A.1. Prioritas Dimensi Pembangunan Revolusi Mental di Provinsi Bali ... 4
A.2. Pembangunan Pariwisata di Provinsi Bali ...
31B. Data Sasaran Pokok RPJMN 2015-2019 untuk menyusun database ... 60
BAB III. PENUTUP A. Kesimpulan ... 80
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Kunjungan Wisman ke Bali, Tahun 1969 - 2014 ... 31
2.2.
Perkembangan Kedatangan Wisman ke Bali
Berdasarkan Benua Asal, Tahun 2000 - 2014 ...
35
2.3. Pangsa Pasar Wisman di Bali Menurut Negara Asal Tahun 2014 ...
35
2.4. Peta Destinasi Pariwisata Bali ... 45
2.5. Perkembangan Luas Sawah di Bali, Tahun 1998 – 2012 ... 51
2.6. Produktivitas Tenaga Kerja Pertanian dan Non-Pertanian (RpJuta/orang/tahun), Tahun 2014 ...
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1. Sasaran Nawa Cita Revolusi Mental di Provinsi Bali ... 23
2.2 Perkembangan Kunjungan Wisatawan Asing Langsung Ke Bali dan Indonesia, Tahun 2010 – 2014 ...
32
2.3. Kunjungan Wisman di Provinsi Bali Menurut Negara Asal, Tahun 2013 dan 2014 ...
33
2.4. Distribusi Panjang Jalan, Dirinci Menurut Status Jalan dan Kondisinya di Provinsi Bali, 2013 ...
38
2.5. Perkembangan Jumlah dan Jenis Sarana Transportasi Darat di Provinsi Bali Selama Periode 2010 – 2013 ...
39
2.6. Daerah dan Atraksi Pariwisata ... 46
2.7. Akomodasi Pariwisata Menurut Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Perkapita Kabupaten/Kota di Provinsi Bali, Tahun 2014 ...
52
2.8. Investasi di Kabupaten Badung dan Kabupaten Lainnya di Provinsi Bali, Tahun 2013 ...
52
2.9. Investasi Menurut Tiga Sektor Utama di Provinsi Bali, Tahun 2014 ...
53
2.10. Kunjungan Wisman dan Penduduk Miskin di Provinsi Bali, Tahun 2000 – 2014 ...
54
2.11. Ringkasan Hasil Evaluasi Tematik Pembangunan Pariwisata 55
EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH
PROVINSI BALI TAHUN 2015
KERJASAMA
DEPUTI BIDANG EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN
KEMENTERIAN NEGARA PPN / BAPPENAS
DENGAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, kami telah
dapat menyusun Draft Laporan Akhir Evaluasi Kinerja Pembangunan di Daerah Bali
Tahun 2015. Dalam Draft Laporan Akhir ini berisi latar belakang, tujuan, sasaran serta
ruang lingkup, dan anggota tim evaluasi provinsi, hasil evaluasi dan data base, serta
penutup. Laporan ini disusun oleh Tim Independen Evaluasi Kinerja Pemerintah
Daerah Bali dari Universitas Udayana. Berdasarkan atas analisis data awal serta
diskusi dari para anggota Tim dan Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda)
Provinsi Bali. Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) di 34 Provinsi bertujuan
untuk melaksanakan evaluasi tematik berdasarkan dimensi pembangunan dalam
RPJMN 2015-2019 dan membuat database databaselineterkait pelaksanaan RPJMN 2015-2019 di daerah.
Oleh karena ini merupakan Draft Laporan Akhir, tentunya masih sangat jauh
dari apa yang diharapkan. Berkaitan dengan hal itu Tim sangat mengharapkan kritik
dan saran serta masukan dari semua pihak agar nantinya apa yang menjadi tujuan
Evaluasi Evaluasi Kinerja Pemerintah Daerah 2015 dapat dilaksanakan secara optimal.
Pada kesempatan ini Tim sangat berterimakasih kepada Ketua Bappeda
Provinsi Bali serta semua pihak yang telah membantu sehingga Draft Laporan Akhir
ini dapat terwujud.
Denpasar, September 2015 Rektor Universitas Udayana
Prof. Dr.dr. I Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... . iii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan, Sasaran dan Ruang Lingkup ... 2
C. Anggota Tim Evaluasi ... 2
BAB II. HASIL EVALUASI DAN DATA BASE A. Evaluasi Tematik ... 4
A.1. Prioritas Dimensi Pembangunan Revolusi Mental di Provinsi Bali ... 4
A.2. Pembangunan Pariwisata di Provinsi Bali ...
24B. Data Sasaran Pokok RPJMN 2015-2019 untuk menyusun database ... 49
BAB III. PENUTUP A. Kesimpulan ... 68
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Kunjungan Wisman ke Bali, Tahun 1969 - 2014 ... 25
2.2.
Perkembangan Kedatangan Wisman ke Bali
Berdasarkan Benua Asal, Tahun 2000 - 2014 ...
28
2.3. Pangsa Pasar Wisman di Bali Menurut Negara Asal Tahun 2014 ...
28
2.4. Peta Destinasi Pariwisata Bali ... 39
2.5. Perkembangan Luas Sawah di Bali, Tahun 1998 – 2012 ... 45
2.6. Produktivitas Tenaga Kerja Pertanian dan Non-Pertanian (RpJuta/orang/tahun), Tahun 2014 ...
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1. Sasaran Nawa Cita Revolusi Mental di Provinsi Bali ... 22
2.2 Perkembangan Kunjungan Wisatawan Asing Langsung Ke Bali dan Indonesia, Tahun 2010 – 2014 ...
25
2.3. Kunjungan Wisman di Provinsi Bali Menurut Negara Asal, Tahun 2013 dan 2014 ...
26
2.4. Distribusi Panjang Jalan, Dirinci Menurut Status Jalan dan Kondisinya di Provinsi Bali, 2013 ...
32
2.5. Perkembangan Jumlah dan Jenis Sarana Transportasi Darat di Provinsi Bali Selama Periode 2010 – 2013 ...
32
2.6. Akomodasi Pariwisata Menurut Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Perkapita Kabupaten/Kota di Provinsi Bali, Tahun 2014 ...
46
2.7. Investasi di Kabupaten Badung dan Kabupaten Lainnya di Provinsi Bali, Tahun 2013 ...
46
2.8. Investasi Menurut Tiga Sektor Utama di Provinsi Bali, Tahun 2014 ...
47
2.9. Kunjungan Wisman dan Penduduk Miskin di Provinsi Bali, Tahun 2000 – 2014 ...
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Evaluasi
Pembangunan diartikan sebagai suatu proses perubahan ke arah kondisi yang
lebih baik secara terencana. Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari
pembangunan nasional. Pembangunan pada daerah tersebut satu sama lainnya ada
dalam suatu keterkaitan dan keterpaduan membentuk dan menghasilkan
pembangunan nasional, sehingga keberhasilan pembangunan nasional tergantung dan
ditentukan oleh keberhasilan pembangunan daerah.
Berdasarkan Undang–Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), diamanatkan 5 (lima) tujuan
pelaksanaan sistem perencanaan pembangunan nasional, yaitu : (1) untuk mendukung
koordinasi antar pelaku pembangunan, (2) menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi,
dan sinergi antar daerah, antar ruang, antar waktu, dan antar fungsi pemerintah, serta
antara pusat dan daerah, (3) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara
perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan, (4) mengoptimalkan
partisipasi masyarakat, dan (5) menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara
efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Mengacu pada 5 (lima) tujuan tersebut, maka dalam Rencana Strategis
(Renstra) Bappenas dijelaskan bahwa pelaksanaan tugas Kementerian PPN/Bappenas
mencakup 4 peran yang saling terkait, yaitu peran sebagai : (1) pengambil
kebijakan/keputusan (policy maker) dengan penjabaran pengendalian dan evaluasi
terhadap pelaksanaan rencana pembangunan, (2) koordinator, (3) think-tank, dan (4) administrator dengan penjabaran dan pengelolaan laporan hasil pemantauan terhadap
Terkait dengan peran utama Bappenas tersebut, maka evaluasi tahunan
terhadap pelaksanaan Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015–2019 mutlak diperlukan.
Untuk mengevaluasi pelaksanaan RPJMN di daerah, Bappenas bekerjasama dengan
34 Perguruan Tinggi Negeri di setiap provinsi melaksanakan Evaluasi Kinerja
Pembangunan Daerah (EKPD).
Mengingat RPJMN baru saja mulai dilaksanakan pada tahun ini dan EKPD
merupakan evaluasi tahunan untuk mengevaluasi pelaksanaan RPJMN di daerah,
maka pelaksanaan EKPD 34 provinsi tahun 2015 akan lebih fokus pada membangun
database berdasarkan sasaran pokok RPJMN di daerah. Database ini akan digunakan
sebagai bahan evaluasi kinerja pembangunan daerah di tahun-tahun berikutnya.
Selain membangun database, pelaksanaan EKPD tahun ini juga akan mencakup
evaluasitematik dari prioritas bidang pembangunan dalam RPJMN 2015-2019 dan
analisis kesiapan daerah.
Pelaksanaan evaluasi RPJMN 2015-2019 dilakukan secara eksternal dengan
harapan agar seluruh proses evaluasi tersebut beserta rekomendasinya berlangsung
dalam proses yang lebih independen. Walaupun bersifat independen, peran institusi
perencana di daerah (Bappeda) sangat penting sebagai mitra koordinasi dengan Tim
EKPD Provinsi. Oleh karena itu, Bappenas c.q. Deputi Evaluasi Kinerja pembangunan
melaksakan kegiatan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) bekerja sama
dengan Universitas Udayana Provinsi Bali yang melaksanakan Evaluasi Kinerja
Pembangunan Daerah di Provinsi Bali.
B. Tujuan, Sasaran, dan Ruang Lingkup B.1. Tujuan
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) di 34 Provinsi bertujuan untuk
melaksanakan evaluasi tematik berdasarkan dimensi pembangunan dalam RPJMN
2015-2019 dan membuat database data baseline terkait pelaksanaan RPJMN 2015-2019 di daerah.
B.2. Sasaran
Sasaran dari EKPD 34 Provinsi adalah melaksanakan evaluasi tematik
berdasarkan dimensi pembangunan dalam RPJMN 2015-2019 dan membuat database
B.3. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup EKPD 34 Provinsi adalah:
1. Melakukan evaluasi tematik berdasarkan dimensi pembangunan.
2. Menyusun rekomendasi (model) berdasarkan hasil evaluasi.
3. Mengidentifikasi indikator sesuai dengan RPJMN 2015–2019.
4. Identifikasi ketersediaan data berdasarkan indikator yang telah disinkronisasikan.
5. Mengumpulkan databaselineberdasarkan indikator yang telah ditentukan.
6. Membuat data Proyeksi berdasarkan data capaian indikator yang telah ditentukan.
C. Anggota Tim Evaluasi Provinsi
Para anggota Tim Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Bali / Universitas
Udayana tahun 2014 terdiri dari 8 orang narasumber sebagai berikut.
1) Prof. Dr. I Komang Gde Bendesa, M.A.D.E., (Koordinator), dosen Tetap
Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, ahli di bidang ekonomi.
2) Prof. Dr.dr. I Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD, dosen Tetap Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana, ahli di bidang kesehatan.
3) Prof. Dr. Made Suyana Utama, SE., MS. (Wakil kordinator), dosen Tetap
Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, ahli di bidang ekonomi pembangunan.
4) Prof. Dr. Ketut Sudibia, SU., dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas
Udayana, ahli di bidang ekonomi dan kependudukan.
5) Prof. Dr. Ir. Made Antara, MS., dosen Tetap Fakultas Pertanian Universitas
Udayana, ahli di bidang sosial ekonomi pertanian.
6) Prof. Dr. Ir. Made Sudiana Mahendra, MSc., dosen Tetap Fakultas Pertanian
Universitas Udayana, ahli di bidang lingkungan.
7) Prof. Dr. dr. Putu Gde Adiatmika, M.Kes, dosen Tetap Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana, ahli di bidang kesehatan.
8) Prof. Dr. Ir. I Made Alit Karyawan, DEA., dosen Tetap Fakultas Teknik
BAB II
HASIL EVALUASI DAN
DATABSE
A. Evaluasi Tematik
Evaluasi tematik yang dilakukan pada EKPD 2015 merupakan exante dalam proses evaluasi. Hasil dari evaluasi tematik diharapkan dapat membantu dalam
perencanaan RKPD tahun-tahun berikutnya. Evaluasi Tematik Provinsi Bali akan
menganalisis prioritas dimensi pembangunan revolusi mental dan pembangunan
pariwisata.
A.1. Prioritas Dimensi Pembangunan Revolusi Mental di Provinsi Bali Pendahuluan
Revolusi mental menyangkut keadaan kejiwaaan, roh, spiritual dan nilai-nilai
(vested interest) yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang dalam sebuah
ruang lingkup kecil atau bahkan dalam sebuah Negara. Secara istilah, ada dua kata
yang membutuhkan penjelasan, yaitu revolusi dan mental. Menurut kamus besar
bahasa Indonesia (KBBI), revolusi adalah perubahan yang cukup mendasar dalam
suatu bidang, sedangkan mental adalah bersangkutan dengan batin dan watak
manusia, yang bukan bersifat badan dan tenaga. Dengan demikian dapat ditarik
benang merah dari istilah ini bahwa revolusi mental adalah perubahan yang cukup
mendasar terhadap kejiwaaan, roh, spiritual dan nilai-nilai (vested interest) dalam diri seseorang atau sekelompok orang dalam sebuah ruang lingkup kecil atau bahkan
dalam sebuah Negara dalam meningkatkan kesejahteraan bersama.
Revolusi Mental berawal dari alam pikiran untuk menuntun bangsa dalam
meraih cita-cita bersama dan mencapai tujuan kolektif bernegara:(1) memajukan
Indonesia. Revolusi Mental bertujuan membangkitkan kesadaran bahwa bangsa
Indonesia memiliki kekuatan besar untuk berprestasi tinggi, produktif danberpotensi
menjadi bangsa maju dan modern, serta mengubah cara pandang, pikiran, sikap,
perilaku yang berorientasi pada kemajuan dan kemodernan, sehingga Indonesia
menjadi bangsa besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Provinsi Bali terdiri dari satu pulau utama, yaitu Pulau Bali dan beberapa pulau
kecil lainnya. Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi 8 kabupaten, 1 kota,
57 kecamatan, 715 desa/kelurahan, 1.480 desa pakraman (desa adat), dan 1.604
subak sawah serta 1.107 subak abian. Luas wilayah Provinsi Bali secara keseluruhan
adalah 5.636,66 km2 atau hanya 0,29 persen dari luas wilayah Indonesia.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, penduduk Bali berjumlah 3.890.757
jiwa, sedangkan jumlah penduduk pada Sensus Penduduk 2000 adalah 3.146.999
jiwa. Secara rata-rata pertumbuhan penduduk Bali dalam periode tahun 2000-2010
adalah 2,15% per tahun dan termasuk rangking 13 tertinggi di Indonesia. Mayoritas
penduduk di Provinsi beragama Hindu.
Pemerintah Provinsi Bali melalui RPJMD tahun 2013 – 2018 sebenarnya telah
menuangkan pembangunan revolusi mental melalui Visi dan Misi Bali Mandara Jilid 2.
Disebutkan bahwa tujuan pembangunan daerah di Provinsi Bali adalah untuk
perbaikan pada seluruh tatanan penyelenggara pemerintahan dan pembangunan,
serta perbaikan pada pola pikir dan perilaku seluruh komponen masyarakat yang
sejalan dengan cita-cita dan semangat pembangunan nasional.
Keselarasan program-program Bali Mandara dengan revolusi mental karena
sama-sama bertujuan melakukan perubahan dan perbaikan di seluruh aspek
kehidupan masyarakat dengan pola terintegrasi. Visi dan Misi Bali Mandara Jilid 2
dilandasi 5 prinsip dasar pembangunan, yaitu: Peningkatan Pertumbuhan (Pro-Growth), Pengentasan Kemiskinan (Pro-Poor), Perluasan Lapangan Kerja (Pro-job), dan pelesatrian lingkungan (Pro-environment) serta pengembangan dan pelestarian kebudayaan (Pro-Culture).
Visi Pembangunan Bali Mandara ini merupakan kelanjutan dari visi Bali
Mandara sebelumnya (Bali Mandara Jilid I). Visi Bali Mandara Jilid II ini diharapkan
akan dapat mewujudkan keinginan dan amanat masyarakat Provinsi Bali dengan tetap
mengacu pada pencapaian tujuan nasional seperti diamanatkan dalam Pembukaan
UUD 1945 khususnya bagi masyarakat provinsi Bali, selaras dengan RPJM Nasional
“Bali Maju” adalah Bali yang dinamis, Bali yang terus bergerak menurut
dinamika pergerakan dan perkembangan dunia. Bali yang senantiasa bergerak dan
maju dengan tetap menjunjung kesucian dan keiklasan demi tegaknya dharma. Bali
yang maju adalah Bali yang harus tetap “metaksu” yang senantiasa meningkatkan kualitas dirinya sebagai daerah tujuan wisata yang handal, berkharisma dan religius.
Bali yang maju adalah Bali yang modern menurut ukuran dan tuntutan nilai-nilai
universal yang tidak menyimpang dan atau bertentangan dengan nilai-nilai agama
Hindu (Bali) serta adat istiadat Bali. Kemodernan dalam rangka meningkatkan kualitas
hidup dan peradaban sebagai masyarakat yang berada di perkampungan dunia yang
terbuka.
“Bali Aman” adalah Bali yang ”dabdab” teratur sekala niskala. Bali yang memiliki keseimbangan antara korelasi kebutuhan hubungan antar manusia dengan
manusia lainnya, hubungan manusia dengan alam lingkungannya, serta hubungan
manusia dengan Tuhan nya sejalan dengan konsep Tri Hita Karana. Bali yang aman adalah Bali yang terhindar dari ancaman intervensi virus-virus ideologi yang
bertentangan dengan Tri Hita Karana seperti: terorisme, anarkisme dan virus non traditional threat lainnya yang mewarnai jaman Kali.
“Bali Damai” adalah Bali yang diselimuti atmosfir kesejukan lahir bathin serta
selalu dalam kondisi “tis” dan kondusif. Bali Damai adalah Bali yang menggambarkan adanya komunitas masyarakat Bali, baik di perkotaan maupun pelosok pedesaan yang
kental dengan suasana “briyag-briyug, pakedek pakenyem”. Hal tersebut sebagai
indikator optimisme masyarakat dalam menatap masa depan yang menjanjikan.
“Bali yang Sejahtera” adalah Bali yang “sukerta sekala niskala” sebagai diperolehnya kemajuan, keamanan dan kedamaian yang sejati. Artinya, segala aspek
kejadian yang bervibrasi spiritual dan kontekstual potensial menyebabkan Daerah dan
Masyarakat Bali maju, aman serta terasanya kedamaian, akan mengantarkan Daerah
dan Masyarakat Bali pada kesejahteraan hidup sepanjang masa.
Perwujudan visi pembangunan Provinsi Bali jangka menengah ditempuh melalui
misi pembangunan daerah. Misi merupakan komitmen untuk melaksanakan
agenda-agenda utama yang menjadi penentu keberhasilan pencapaian visi pembangunan.
Untuk mewujudkan visi “Bali Mandara” di atas, maka ditetapkan “Misi Pembangunan
Provinsi Bali 2013-2018”, sebagai berikut.
2) Mewujudkan Bali yang Aman, Damai, Tertib, Harmonis, serta Bebas dari
Berbagai Ancaman.
3) Mewujudkan Bali yang Sejahtera danSukerta Lahir Bhatin.
Sasaran Nawacita dan Kegiatan Pendukung Pembangunan Revolusi Mental di Provinsi Bali
Sasaran nawacita dalam pembangunan revolusi mental di Provinsi Bali
meliputi tujuh (7) sasaran sebagai berikut.
1) Peningkatan kepatuhan dan penegakan hukum dan reformasi birokrasi
lembaga peradilan.
2) Perkuatan kelembagaan politik dan reformasi birokrasi pemerintahan.
3) Peningkatan kemandirian ekonomi dan daya saing bangsa.
4) Pembangunan pendidikan yang berkualitas dan kebudayaan yang memacu
daya cipta dan inovasi.
5) Pemanfaatan modal sosial dan modal budaya.
6) Pengembangan kepribadian dan peneguhan jati diri bangsa.
7) Peningkatan peran lembaga sosial, agama, keluarga dan media publik.
1) Peningkatan kepatuhan dan penegakan hukum dan reformasi birokrasi lembaga peradilan
Produk hukum yang dikeluarkan bukan saja hukum nasional, namun banyak
sekali yang dibuat di daerah. Oleh karena dalam RPJMD Provinsi Bali arah
kebijakan dalam melaksanakan strategi ”Menjaga Ketentraman, Ketertiban dan
Keamanan” disebutkan bahwa dalam hal pembuatan, pelaksanaan tertib hukum,
yang dapat meningkatkan citra dan wibawa pemerintah dan pengawasan
produk-produk hukum agar benar-benar aspiratif. Demikian juga dalam penegakan hukum
dapat dilakukan oleh pemerintah daerah dengan bekerja sama dengan berbagai
pihak, yaitu DPRD, kepolisian, kejaksaan, TNI, lembaga tradisional, LSM dan
masyarakat luas.
Peningkatan kinerja reformasi birokrasi lembaga peradilan dilakukan
dengan meningkatkan profesionalitas aparatur dan efektivitas lembaga peradilan,
karena akan berdampak bagi masyarakat mengenai citra lembaga peradilan dan
sangat menentukan keberhasilan penyelenggaraan pembangunan. Berkaitan
2013 - 2018 berkaitan dengan pembangunan revolusi mental tertera dalam arah
dan strategi bidang “Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi
Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian” yang
diuraikan sebagai berikut.
(1) Memantapkan penegakan hukum dalam rangka menciptakan kepastian
hukum dan menegakkan supremasi hukum dalam pembangunan yang
menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, untuk menciptakan rasa aman dan
damai lahir bathin.
(2) Melibatkan masyarakat dan lembaga-lembaga adat sejak awal, berkaitan
dangan pembuatan ataupun sosialisasi produk-produk hukum.
(3) Meningkatkan kualitas SDM dan profesionalisme aparat penegak hukum dan
juga senantiasa melakukan komunikasi dengan masyarakat dalam rangka
meningkatkan kesadaran hukumnya.
(4) Mewujudkan penyelesaian kasus sosial dan adat di Bali secara damai.
2) Perkuatan kelembagaan politik dan reformasi birokrasi pemerintahan
Dalam upaya meningkatkan kecerdasan masyarakat dalam berpolitik
diperlukan terciptanya mindset yang sama dalam pembangunan politik yang
ditempuh melalui forum komunikasi dan konsultasi ormas, LSM, dan yayasan
provinsi Bali. Memfasilitasi kegiatan organisasi kemasyarakatan, dan
pengembangan dan pemberdayaan partai politik, sebagai bagian infrastruktur
politik untuk menunjang program pemerintah dalam pembangunan politik.
Dalam rangka perkuatan kelembagaan politik dan reformasi birokrasi
pemerintahan, dalam RPJMD Provinsi Bali tahun 2013 – 2018 antara lain
dituangkan melalui arah kebijakan dalam melaksanakan strategi ”Menjaga
Ketentraman, Ketertiban dan Keamanan”, yaitu:
(1) Memujudkan kehidupan politik dan pemerintahan yang bersih dan berwibawa,
mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari masyarakat luas, serta mampu
memberikan pelayanan prima, sejalan dengan prinsip Clean Government dan Good Governance.
(2) Mengupayakan peningkatan kecerdasan dan kedewasaan masyarakat dalam
berpolitik, melalui pendidikan politik yang teratur dan berkesinambungan serta
Untuk perkuatan reformasi birokrasi pemerintahan, dalam RPJMD Provinsi
Bali tahun 2013 – 2018 antara lain dituangkan dalam kebijakan umum Otonomi
Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah,
Kepegawaian dan Persandian, antara lain:
(1) Meningkatkan profesionalisme aparat pemerintahan mulai dari tingkat desa,
kecamatan, kabupaten/kota sampai pada tingkat provinsi melalui pendidikan,
pelatihan dan koordinasi yang lebih baik guna meningkatkan kinerja dan
pelayanan kepada masyarakat.
(2) Meningkatkan kualitas aparatur, meningkatkan kesadaran partisipasi
masyarakat, membuat perencanaan pembangunan yang aspiratif, serta
meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar berbagai sektor.
(3) Mengupayakan efektivitas dan efisiensi, serta transparansi dalam penggalian
dan pengelolaan sumber-sumber dana bagi penyelenggara pemerintah daerah.
Mengacu pada ketentuan pasal 40 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah telah ditetapkan bahwa DPRD merupakan lembaga
perwakilan rakyat daerah dan berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan
pemerintahan daerah yang memiliki fungsi sesuai pasal 41 Undang-undang Nomor
32 Tahun 2004 sebagai legislasi, penganggaran dan pengawasan. Sesuai Perda
Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat
Daerah Provinsi Bali menetapkan sekretariat dalam melaksanakan tugasnya
secara teknis operasional berada dibawah dan bertanggungjawab kepada gubernur
melalui sekretaris daerah. Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa kegiatan
yang perlu dilaksanakan yaitu:
(1) Untuk mendukung fungsi legislasi dilaksanakan kegiatan pembahasan perda
dan kebijakan daerah lainnya.
(2) Untuk mendukung fungsi penganggaran dilaksanakan kegiatan pembahasan
Ranperda mengenai LKPJ Gubernur, Pertanggungjawaban Pelaksanaan
APBD, Perubahan APBD, dan Penyusunan APBD Tahun berikutnya.
(3) Untuk mendukung fungsi pengawasan dilaksanakan kegiatan reses,
kunjungan kerja pimpinan dan anggota DPRD, pengaduan aspirasi
masyarakat.
Dalam rangka meningkatkan kinerja pemerintahan dan meningkatkan
pemerintahan yang berbasis pada Teknologi Informasi (TI) yang disebut dengan
sistem E-Government. Pada tahun 2010 diadakan penyempurnaan sistem
jaringan serta perangkat lunak dan perangkat keras yang nantinya secara
bertahap akan dapat menghubungkan secaraon-line seluruh SKPD yang ada di Pemerintahan Provinsi Bali. Pemerintah Provinsi Bali pada tahun 2011
membentuk Komisi Informasi di tingkat provinsi dengan tugas yakni; Menerima,
memeriksa, dan memutus permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik
melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi; Menetapkan kebijakan umum
pelayanan Informasi Publik; dan Menetapkan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk
teknis.
3) Peningkatan kemandirian ekonomi dan daya saing bangsa
Peningkatan kemandirian ekonomi dan daya saing bangsa Provinsi Bali sesuai
dengan penjelasan undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyatakan
bahwa pemberian otonomi yang luas kepada daerah diarahkan untuk
mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan
pelayanan, pemberdayaan serta peran serta masyarakat, disamping itu untuk
meningkatkan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsif-prinsif demokrasi,
pemerataan, keadilan dan seterusnya.
Berkenaan dengan peningkatan kemandirian ekonomi dan daya saing bangsa,
strategi dan arah pembangunan daerah di Provinsi Bali sesuai dengan RPJMD
tahun 2013 - 2018 dituangkan dalam tiga pilar ekonomi, yaitu: (1) peningkatan
pengembangan pariwisata budaya dan ekonomi kreatif, (2) pengembangan industri
kecil, koperasi dan UMKM, serta (3) mempercepat peningkatan produksi pertanian
dalam memantapkan ketahanan pangan daerah serta meningkatkan pendapatan
petani.
Arah Kebijakan dalam Melaksanakan Strategi ”Peningkatan Pengembangan
Pariwisata Budaya dan Ekonomi Kreatif”.
(1) Pengembangan kepariwisataan yang berkualitas, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan dan menjunjung kearifan lokal guna memperluas kesempatan kerja
dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
(2) Mengembangkan “pariwisata kerakyatan” yang dapat memberikan efek ganda
(3) Melakukan demokratisasi usaha pariwisata, dalam rangka lebih
memberdayakan masyarakat lokal, seperti: memberikan kesempatan kepada
masyarakat lokal melalui koperasi untuk mengelola peningkatan kontribusi
dunia pariwisata terhadap pelestarian budaya.
(4) Menggali dan menemukan gagasan baru atau inovasi agar terjadi rejuvenation
atau penemuan kembali aktivitas kehidupan pariwisata, sehingga terhindar dari
stagnasi dan penurunan drastis (decline) kegiatan pariwisata.
(5) Mewujudkan suasana dan kondisi yang kondusif bagi perkembangan industri
pariwisata Bali, yang didukung oleh bersinerginya berbagai komponen
pariwisata.
(6) Meningkatakan kuantitas maupun kualitas sarana dan prasarana, pemeliharaan
obyek wisata baik keaslian maupun kebersihannya, menjaga kelestarian dan
keamanannya, memberdayakan dan memberikan manfaat sebesar-besarnya
kepada masyarakat sekitar obyek wisata sebagai penyangga utamanya.
(7) Memberikan perlindungan dan insentif khusus kepada lembaga, perorangan,
pelaku pariwisata yang benar-benar mengabdikan dirinya pada kelestarian
pariwisata yang menjadi daya tarik wisatawan.
(8) Peningkatan pengelolaan destinasi, pemasaran dan SDM pariwisata.
(9) Pengembangan ekonomi kreatif.
Arah Kebijakan dalam Melaksanakan Strategi ”Peningkatan Investasi,
Pengembangan Industri Kecil, Koperasi dan UMKM”.
(1) Meningkatkan jiwa kewirausahaan masyarakat Bali.
(2) Pengembangan industri kecil dan rumah tangga berdaya saing tinggi, melalui
berbagai usaha perbaikan mutu disain dan akses pasar dengan
memanfaatakan kemajuan teknologi olahan terkini yang sesuai.
(3) Mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi dengan meminimalisir resiko kredit
modal kerja dan kredit investasi.
(4) Mewujudkan ekonomi kerakyatan yang tangguh sehingga mampu
mengembangkan ekonomi kerakyatan yang mantap dan stabil, serta
terwujudnya distribusi, komposisi yang berimbang, dan terwujudnya iklim
berinvestasi yang sehat.
(5) Penyederhanaan kebijakan dan aturan main berinvestasi, sehingga dapat
(6) Peningkatan Jaminan Kredit Daerah (Jamkrida).
(7) Peningkatan dan pemerataan iklim investasi.
(8) Peningkatan dukungan terhadap pengusaha lokal dan kemitraan pemasaran
hasil industri kecil dan menengah.
(9) Peningkatan kualitas dan kuantitas ekspor.
(10) Peningkatan daya saing Koperasi dan UMKM.
Arah Kebijakan dalam Melaksanakan Strategi ” Mempercepat Peningkatan
Produksi Pertanian dalam Memantapkan Ketahanan Pangan Daerah serta
Meningkatkan Pendapatan Petani”.
(1) Peningkatan peran sektor pertanian dalam perekonomian Bali terutama
dalam memperkokoh ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan
petani melalui optimalisasi pengelolaan sumber daya alam dan SDM Bali,
penguatan kelembagaan, memperbaiki akses petani terhadap permodalan,
teknologi, pemasaran dan fasilitas penunjang lainnya.
(2) Mengembangkan pertanian dalam arti luas, yang tangguh menuju
kemandirian, sejahtera dan berkeadilan.
(3) Menetapkan kebijakan untuk memberikan insentif bagi petani dalam usaha
meningkatkan produksi hasil pertanian, seperti: keringanan pajak, subsidi
pupuk, subsidi pakan ternak, subsidi benih dan bibit ternak, kemudahan kredit,
terlebih lagi yang ada dalam jalur hijau atau kawasan wisata.
(4) Meningkatkan kerjasama penelitian dan pengembangan budidaya pertanian,
disertai dengan pelatihan pemanfaatan kemajuan teknologi, termasuk
pengembangan penanganan pasca panen, guna memberi nilai tambah
terhadap hasil industri pertanian.
(5) Peningkatan Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri).
(6) Peningkatan kerjasama pengembangan budidaya, pelatihan dan
pemanfaatan teknologi pertanian.
(7) Pengembangan dan pemantapan komoditas andalan/unggulan pertanian.
(8) Peningkatan produktivitas dan produksi pertanian dalam arti luas.
(9) Peningkatan pengelolaan sumberdaya ikan serta ekosistem perairan, pesisir
dan daratan.
(10) Mewujudkan ekonomi kerakyatan yang tangguh.
(12) Meningkatkan peran sektor kelautan dan perikanan terhadap kesejahteraan
masyarakat Bali.
(13) Meningkatakan kerja sama penelitian dan pengelolaan potensi laut, dengan
menyediakan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai.
Dalam hal peningkatan kemandirian ekonomi dan daya saing bangsa Provinsi
Bali secara umum memiliki kesamaan dengan arah pembangunan daerah yang
digariskan oleh pemerintah pusat. Sesuai dengan Strategi dan Arah Kebijakan
RPJMD Provinsi Bali tahun 2013 – 2018 peningkatan kemandirian ekonomi dan
daya saing bangsa dijabarkan lebih rinci ditekankan pada aspek-aspek:
(1) peningkatan kualitas SDM sehingga bisa menjadi aset utama keunggulan
kompetitif provinsi;
(2) pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur untuk mempercepat
pemerataan pembangunan ekonomi;
(3) pengembangan pertanian dalam arti luas sehingga dapat menghasilkan
produk unggulan yang mampu bersaing di pasar nasional;
(4) perbaikan lingkungan hidup; dan
(5) penanganan kemiskinan dengan prioritas pendidikan dan pelayanan
kesehatan masyarakat.
Kelima prioritas pembangunan tersebut dipadukan dalam kerangka vitalisasi
dan aktualisasi melalui pelaksanaan strategi, seperti peningkatan kapasitas dan
kualitas pelayanan publik yang sulit terlaksana tanpa diimbangi oleh peningkatan
kualitas SDM. Selain itu, untuk meningkatkan daya saing penduduk Bali dan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional, dilakukan pengendalian laju
pertumbuhan penduduk sebagai akibat meningkatnya migrasi masuk.
4) Pembangunan pendidikan yang berkualitas dan kebudayaan yang memacu daya cipta dan inovasi
Dalam RPJMD Provinsi Bali tahun 2013 – 2018 menyebutkan bahwa
strategi pembangunan di Provinsi Bali sesuai dengan program revolusi mental
Pemerintah Pusat, yang mana dalam rangka melaksanakan Misi I Program Bali
Mandara Jilid II, yaitu strategi dalam mewujudkan bali yang berbudaya, metaksu, dinamis, maju dan modern. Berdasarkan analisis kekuatan dan potensi yang ada
yang diwujudkan dalam pelaksanaan prioritas program pendidikan tahun
2013-2018 adalah “Meningkatkan Akses Pendidikan dan Mengimplementasikan Sistem
Pendidikan Disesuaikan dengan Kebutuhan Pasar Kerja”. Strategi ini merupakan
upaya untuk mendukung capaian sasaran yang akan dilakukan pada tujuan misi
pertama. Suatu perbaikan system pendidikan memerlukan perencanaan yang
holistik terhadap seluruh pelaku sistem, baik aspek manajemen (organisasi,
prosedur, dan pengendalian), aparatur (tenaga pendidik dan kependidikari), sarana
dan prasarana, faktor penunjang lain bagi peserta didik, dan infrastruktur
pendidikan, dan komponen lainnya. Suatu perbaikan sistem diharapkan dapat
mengefisiensikan biaya dan mengefektifkan tujuan sistem pendidikan antara lain
menghasilkan siswa yang bermutu dan sesuai kriteria. Sementara itu, sistem
pendidikan yang telah diperbaiki, khususnya pendidikan dasar, ditindaklanjuti
dengan agenda pembangunan untuk memenuhi syarat aksesibilitas; baik secara
geografis maupun teraksesnya pendidikan dasar oleh masyarakat ekonomi lemah.
Arah Kebijakan dalam Melaksanakan Strategi ”Meningkatkan Akses Pendidikan
dan Mengimplementasikan Sistem Pendidikan Disesuaikan dengan Kebutuhan
Pasar Kerja”, dirinci sebagai berikut.
(1) Meningkatkan kualitas SDM lahir dan bathin dengan meningkatkan kualitas
dan akses pendidikan melalui wajib belajar 12 tahun, serta meningkatkan
penguasaan dan penerapan IPTEK.
(2) Memantapkan paradigma baru pembangunan pendidikan yang bertumpu
pada tiga pilar utama, yakni: kemandirian dalam pengelolaan, akuntabilitas
(accountability) dan jaminan mutu (quality assurance).
(3) Mensinergikan pembangunan pendidikan yang mengacu pada 2 dimensi
dasar, yakni: dimensi lokal yang menekankan pada keharusan untuk
mengakomodir dan mengintegrasikan unsur-unsur akuntabilitas, relevansi,
kualitas, otonomi dan jaringan kerjasama; sementara dimensi global menuntut
agar segala aktivitas didasari oleh aspek kompetitif, kualitas dan jaringan
kerjasama.
(4) Mengembangkan pembangunan pendidikan berbudaya sejalan dengan
kekhasan yang dimiliki masyarakat Bali.
(5) Mengupayakan untuk memperkokoh lembaga-lembaga pendidikan sebagai
pusat pengembangan kebudayaan dan memelihara kelestarian budaya yang
(6) Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan termasuk kualitas
pengelolanya, serta memberikan perhatian khusus (bea sisiwa) kepada
penduduk yang kurang mampu.
(7) Mengembangkan pendidikan berbasis kejuruan sesuai kebutuhan pasar.
(8) Meminimalkan ketimpangan kualitas pendidikan antar sekolah antar
kabupaten/kota.
(9) Meningkatkan kualifikasi guru.
(10) Meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
5) Pemanfaatan modal sosial dan modal budaya
Salah satu dimensi pembangunan revolusi mental seharusnya didukung
oleh pemanfaatan modal sosial dan modal budaya yang sudah berkembang di
masyarakat. Modal sosial adalah bagian-bagian dari organisasi sosial seperti
kepercayaan, norma dan jaringan yang dapat meningkatkan efisiensi masyarakat
dengan memfasilitasi tindakan-tindakan yang terkoordinasi di dalam sebuah
masyarakat atau bagian-bagian tertentu dari masyarakat tersebut. Selain itu,
konsep ini juga diartikan sebagai serangkaian nilai atau norma informal yang
dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan
terjalinnya kerjasama.
Modal sosial dan modal budaya di Bali banyak dilatarbelakangi oleh budaya
Bali yang selalu menjaga dan menjunjung tinggi keseimbangan hidup sesuai
dengan warisan filsafat leluhur yang terus masih berlangsung di Bali yang
berlandaskan ajaran agama Hindu dengan falsafah tersebut adalah Tri Hita Karana.
Tri Hita Karana sebagai pola kehidupan masyarakat Bali yang dimaknai sebagai
tiga unsur yang menyebabkan kesejahteraan masyarakat yaitu; parhyangan,
pawongan, dan palemahan. Aspek parhyangan mempunyai makna keterikatan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang
dilandasi oleh nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali yang religious. Aspek
pawongan dimaknai sebagai hubungan manusia dengan sesama di dalam kehidupan yang terorganisir di dalam keluarga, warga, desa pekraman, kecamatan,
lkabupaten/kota, dan provinsi sebagai wadah interaksinya. Aspek palemahan
dimaknai sebagai hubungan manusia dengan lingkungannya. Ketiga aspek
tersebut saling terkait dalam mewujudkan keserasian dan keseimbangan.
Strategi untuk melindungi dan melestarikan budaya adat Bali seperti yang
meningkatkan pembangunan di segala bidang. Pelestarian budaya adat Bali
secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pula pada pelestarian
pariwisata di Bali sebagai lokomotif pembangunan ekonomi di Bali. Kondisi seni
budaya di Bali perkembangannya selama lima tahun ini cukup baik,
penyelenggaran event-event seni budaya selalu banyak diminati masyarakat Bali.
Strategi dan arah kebijakan pembangunan yang berkaitan dengan revolusi
mental pada dimensi pemanfaatan modal sosial dan modal budaya dalam RPJMD
Provinsi Bali tahun 2013 – 2018 yang merupakan untuk mendukung capaian
sasaran yang akan dilakukan pada tujuan misi pertama program Bali Mandara Jilid
II dalam Mewujudkan Bali yang Berbudaya, Metaksu, Dinamis, Maju dan Modern Meningkatkan Peran Lembaga Adat dalam Mengembangkan Nilai-nilai Budaya dan
Kearifan Lokal.
Pada dasarnya strategi ini berupaya untuk melindungi dan melestarikan
budaya adat Bali sebagai roh dalam meningkatkan pembangunan di segala bidang.
Pelestarian budaya adat Bali secara langsung maupun tidak langsung akan
berdampak pula pada pelestarian pariwisata di Bali sebagai lokomotif
pembangunan ekonomi di Bali. Pembangunan ekonomi yang sangat pesat di Bali,
merupakan salah satu keberhasilan masyarakat Bali dalam mempertahankan
sendi-sendi budaya lokal. Pemerintah daerah akan selalu berupaya proaktif
memfasilitasi proses dan agenda pembangunan yang dapat memelihara nilai-nilai
budaya daerah serta memberikan kesempatan ruang gerak yang lebih banyak
untuk pembangunan yang berorientasi pada pengembangan budaya lokal/adat.
Pemerintah daerah berupaya melindungi kelestarian budaya dan eksistensi
lembaga-lembaga adat yang ada, memperkuat kelembagaan tradisional
kemasyarakatan guna mengusung dan mengawal pelestarian dan pengembangan
kebudayaan Bali sesuai dengan dinamika dan perubahan lingkungan strategis.
Modal sosial dan modal budaya yang merupakan bagian dari kelembagaan.
Oleh karena itu, Kebijakan umum Daerah Provinsi Bali dalam rangka
pembangunan revolusi mental yang berkaitan dengan peningkatan modal sosial
dan modal budaya yang dituangkan dalam RPJMD Provinsi Bali 2013 – 2018
adalah sebagai berikut.
(1) Pelestarian dan pengembangan kebudayaan Bali, sesuai dengan dinamika
dan perubahan lingkungan strategis yang terjadi, dengan memperkuat
(2) Mewujudkan ketentraman, kedamaian, kenyamanan dan kerukunan hidup
bermasyarakat dalam kemajemukan, serta meminimalkan dampak patologi
sosial, dengan mengoptimalkan peran dan fungsi lembaga tradisional
penunjang kebudayaan daerah, seperti: desa pakraman, banjar dan berbagai
sekaa.
(3) Mengedepankan kemandirian, sikap toleransi dan tenggang rasa, kepedulian
sosial, saling hormat menghormati dan meningkatkan rasa kekeluargaan
serta persaudaraan dalam konteks NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan
Pancasila dengan meningkatkan fungsi lembaga tradisional yang ada Bali.
(4) Meningkatkan kuantitas maupun kualitas pelestarian nilai-nilai budaya dan
apresiasi terhadap kearifan budaya lokal dalam kehidupan bermasyarakat.
6) Pengembangan kepribadian dan peneguhan jati diri bangsa
Salah satu bidang pembangunan nasional yang sangat penting dan menjadi
fondasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara adalah
pengembangan kepribadian dan peneguhan jati diri bangsa. Pengembangan
kepribadian dan peneguhan jati diri bangsa atau yang juga dikenal sebagai
pembangunan karakter bangsa yang sudah diupayakan dengan berbagai bentuk,
hingga saat ini belum terlaksana dengan optimal. Hal itu tecermin dari
kesenjangan sosial-ekonomi-politik yang masih besar, kerusakan lingkungan
yang terjadi di berbagai di seluruh pelosok negeri, masih terjadinya ketidakadilan
hukum, pergaulan bebas dan pornografi yang terjadi di kalangan remaja,
kekerasan dan kerusuhan, korupsi yang dan merambah pada semua sektor
kehidupan masyarakat. Saat ini banyak dijumpai tindakan anarkis, konflik sosial,
penuturan bahasa yang buruk dan tidak santun, dan ketidaktaataan berlalu lintas.
Ruang lingkup sasaran pengembangan kepribadian dan peneguhan jati
diri bangsa meliputi:
(1) Lingkup Keluarga. Keluarga merupakan wahana pembelajaran dan
pembiasaan karakter yang dilakukan oleh orang tua dan orang dewasa lain
dalam keluarga terhadap anak sebagai anggota keluarga sehingga
diharapkan dapat terwujud keluarga berkarakter mulia yang tecermin dalam
perilaku keseharian. Proses itu dapat dilakukan melalui komunitas keluarga
dan partisipasi keluarga dalam pengelolaan pendidikan dan pemberdayaan
mana orang tua bertindak sebagai pemeran utama dan panutan bagi anak.
Proses itu dapat dilakukan dalam bentuk pendidikan, pengasuhan,
pembiasaan, dan keteladanan. Pendidikan karakter dalam lingkup keluarga
dapat juga dilakukan kepada komunitas calon orang tua dengan penyertaan
pengetahuan dan keterampilan, khususnya dalam pengasuhan dan
pembimbingan anak.
(2) Lingkup Lembaga Pendidikan. Satuan pendidikan merupakan wahana
pembinaan dan pengembangan kepribadian dan peneguhan jati diri bangsa
yang dilakukan dengan menggunakan (a) pendekatan terintegrasi dalam
semua mata pelajaran, (b) pengembangan budaya satuan pendidikan, (c)
pelaksanaan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, serta (d) pembiasaan
perilaku berbudaya dalam kehidupan di lingkungan lembaga pendidikan.
Pembangunan karakter melalui satuan pendidikan dilakukan mulai dari
pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi
Dalam rangka
pengembangan kepribadian dan peneguhan jati diribangsa secara implisit telah dicanangkan dalam RPJMD Provinsi Bali tahun 2013
– 2018 antara lain melalui arah kebijakan:
(1) Mengembangkan pembangunan pendidikan berbudaya sejalan dengan
kekhasan yang dimiliki masyarakat Bali.
(2) Mengupayakan untuk memperkokoh lembaga-lembaga pendidikan sebagai
pusat pengembangan kebudayaan dan memelihara kelestarian budaya yang
adiluhung.
Secara eksplisit lembaga-lembaga pendidikan formal di Provinsi Bali,
khususnya di Universitas Udayana telah memberikan pendidikan karakter untuk
meningkatkan pengembangan kepribadian dan peneguhan jati diri bangsa.
Pendidikan karakter diberikan melalui kurikulum pendidikan Kewarganegaraan,
Agama dan Pancasila yang merupakan mata kuliah wajib. Pemberian pendidikan
karakter di Universitas Udayana juga dilakukan dengan mengandeng TNI agar
para mahasiswa mendapatkan pencerahan terkait karakter dan bela negara.
7) Peningkatan peran lembaga sosial, agama, keluarga dan media publik.
Lembaga-lembaga sosial berperan dan dan berfungsi mengatur kehidupan
makanan, pakaian, dan perumahan, akan tetapi terdapat banyak kebutuhan lain
seperti kebutuhan untuk rekreasi, keadilan, keamanan, pendidikan, spiritual dan
lain sebagainya.
Lembaga sosial mempunyai sejumlah ciri atau karakteristik. Ciri-ciri umum
dari lembaga sosial adalah:
(1) Lembaga sosial biasanya memiliki kekekalan tertentu yang berlangsung lama.
Hal ini terjadi sebab adanya anggapan bahwa lembaga sosial berisi
sekumpulan norma-norma yang harus dipertahankan. Norma tersebut
dibutuhkan untuk mengatur kehidupan atau hubungan antar manusia,
contohnya kehidupan atau hubungan dalam keluarga.
(2)
Lembaga sosial memiliki satu atau lebih tujuan tertentu, misalnya lembagapendidikan memiliki tujuan untuk mentransfer nilai, norma, dan ilmu
pengetahuan kepada generasi berikutnya.
(3)
Lembaga sosial memiliki sejumlah perangkat untuk mencapai tujuan yangtelah ditetapkan sebelumnya, misalnya bendera atau lambang pada lembaga
politik, uang sebagai alat tukar pada lembaga ekonomi, dan lain-lain. Dalam
masyarakat yang heterogen seperti di Indonesia, terdapat berbagai jenis
lembaga sosial yang saling berhubungan dan saling melengkapi satu sama
lain.
Lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat tersebut adalah (1) keluarga,
(2) lembaga agama, (3) lembaga ekonomi, (4) lembaga pendidikan, (5)
lembaga budaya, dan lembaga politik.
Strategi peningkatan peran lembaga sosial, agama, keluarga dan media
publik merupakan roh dalam meningkatkan pembangunan di segala bidang.
Pembangunan ekonomi yang sangat pesat di Bali, merupakan salah satu
keberhasilan masyarakat Bali dalam mempertahankan sendi-sendi budaya lokal.
Pemerintah daerah berupaya melindungi kelestarian budaya dan eksistensi
lembaga-lembaga adat yang ada, memperkuat kelembagaan tradisional
kemasyarakatan guna mengusung dan mengawal pelestarian dan pengembangan
kebudayaan Bali sesuai dengan dinamika dan perubahan lingkungan strategis
yang terjadi dan meningkatan Pemberdayaan Desa Pekramaan dan Subak/Subak
Kebijakan umum Daerah Provinsi Bali dalam rangka pembangunan revolusi
mental yang berkaitan dengan peningkatan peran lembaga keluarga secara implisit dituangkan dalam RPJMD Provinsi Bali 2013 – 2018 melalui pemberdayaan
masyarakat desa adalah sebagai berikut.
(1) Menggiatkan empowering yakni ”memotivasi” warga masyarakat untuk sadar
akan masalah yang dihadapi, sadar akan potensi yang dimiliki untuk
memecahkan masalah tersebut, mampu melihat alternatif yang dapat diambil
serta mampu memutuskan alternatif mana (dari yang tersedia) yang paling
mungkin dan paling menguntungkan untuk diambil.
(2) Meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam
pembangunan melalui Gerakan Pembangunan Desa Terpadu (Gerbangsadu).
(3) Mendorong dan membangkitkan potensi yang dimiliki keluarga dan
masyarakat serta penguatan kelembagaannya.
(4) Membuka berbagai peluang kemajuan ekonomi masyarakat.
(5) Meningkatkan prasarana dan sarana, pendayagunaan teknologi tepat guna
serta pemantapan keterpaduan pembangunan.
(6) Meningkatkan peran pemerintahan desa dan kelurahan dalam pemberdayaan
masyarakat.
Kebijakan umum Daerah Provinsi Bali dalam rangka pembangunan revolusi
mental yang berkaitan dengan peningkatan peran lembaga agama, lembaga
politik, dan media masa secara implisit dituangkan dalam RPJMD Provinsi Bali 2013 – 2018 melalui arah kebijakan dalam melaksanakan strategi menjaga
ketentraman, ketertiban dan keamanan, yaitu:
(1) Memujudkan kehidupan politik dan pemerintahan yang bersih dan berwibawa,
mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari masyarakat luas, serta mampu
memberikan pelayanan prima, sejalan dengan prinsip Clean Government dan Good Governance.
(2) Mengupayakan peningkatan kecerdasan dan kedewasaan masyarakat dalam
berpolitik, melalui pendidikan politik yang teratur dan berkesinambungan serta
bekerjasama dengan lembaga pendidikan, LSM, Media massa dan partai politik.
Kebijakan umum Daerah Provinsi Bali dalam rangka pembangunan revolusi
eksplisi dituangkan dalam RPJMD Provinsi Bali 2013 – 2018 melalui arah
kebijakan dalam bidang kebudayaan, yaitu:
(1) Memperkuat kelembagaan tradisional kemasyarakatan guna mengusung dan
mengawal pelestarian dan pengembangan kebudayaan Bali, sesuai dengan
dinamika dan perubahan lingkungan strategis yang terjadi.
(2) Mengoptimalkan peran dan fungsi lembaga tradisional penunjang
kebudayaan daerah, seperti: desa pakraman, banjar dan berbagai sekaa
dalam mewujudkan ketentraman, kedamaian, kenyamanan dan kerukunan
hidup bermasyarakat dalam kemajemukan, serta meminimalkan dampak
patologi sosial.
(3) Meningkatkan fungsi lembaga tradisional Bali yang ada dengan
mengedepankan kemandirian, sikap toleransi dan tenggang rasa, kepedulian
sosial, saling hormat menghormati dan meningkatkan rasa kekeluargaan
serta persaudaraan dalam konteks NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan
Pancasila.
Kebijakan umum Daerah Provinsi Bali dalam rangka pembangunan revolusi
mental yang berkaitan dengan peningkatan peran lembaga ekonomi dan
lembaga pendidikan telah bibahas dalam dimensi peningkatan daya saing bangsa.
Penentuan Target Pencapaian Sasaran Nawacita di Provinsi Bali
Provinsi Bali terdiri dari satu pulau utama, yaitu Pulau Bali dan beberapa pulau kecil lainnya, yang luas wilayahnya secara keseluruhan adalah 5.636,66 km2 atau hanya 0,29 persen dari luas wilayah Indonesia. Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi 8 kabupaten, 1 kota, 57 kecamatan, 715 desa/kelurahan, 1.480 desa pakraman (desa adat), dan 1.604 subak sawah serta 1.107 subak abian.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, penduduk Bali berjumlah 3.890.757 jiwa, sedangkan jumlah penduduk pada Sensus Penduduk 2000 adalah 3.146.999 jiwa. Secara rata-rata pertumbuhan penduduk Bali dalam periode tahun 2000-2010 adalah 2,15% per tahun dan termasuk rangking 13 tertinggi di Indonesia. Mayoritas penduduk di Provinsi beragama Hindu dengan falsafah kehidupan dengan konsep Tri Hita Karana Bali. Falsafan ini mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan hubungan antar manusia dengan manusia lainnya, hubungan manusia dengan alam lingkungannya, serta hubungan manusia dengan Tuhan.
Dengan falsafah tersebut, dalam RPJMD Provinsi Bali tahun 2013 -2018 Pemerintah Provinsi Bali telah merealisasikan program revolusi mental dalam program pembangunan Daerah Bali melalui Visi dan Misi Bali Mandara Jilid 2. Pembangunan daerah melalui revolusi mental di Provinsi Bali adalah perbaikan pada seluruh tatanan penyelenggara pemerintahan dan pembangunan, serta perbaikan pada pola pikir dan perilaku seluruh komponen masyarakat yang sejalan dengan cita-cita dan semangat pembangunan nasional.
Peningkatan Pertumbuhan (Pro-Growth), Pengentasan Kemiskinan (Pro-Poor), Perluasan Lapangan Kerja (Pro-job), dan pelesatrian lingkungan (Pro-environment) serta pengembangan dan pelestarian kebudayaan (Pro-Culture). Program-program Bali Mandara pada hakekatnya merupakan revolusi mental dengan perubahan dan perbaikan di seluruh aspek kehidupan masyarakat dengan pola terintegrasi. Visi dan Misi Bali Mandara Jilid II ini diharapkan akan dapat mewujudkan keinginan dan amanat masyarakat Provinsi Bali dengan tetap mengacu pada pencapaian tujuan nasional seperti diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 khususnya bagi masyarakat provinsi Bali, selaras dengan RPJM Nasional 2010-2014, dan RPJPD Provinsi Bali 2005-2025.
Dengan dukungan berbagai lembaga dari tingkat pusat sampai ke daerah baik yang formal atau non formal serta masyarakat program pembangunan revolusi mental yang dijabarkan dalam sasaran nawacita akan berhasil dalam jangka waktu 4 tahun ke depan.
Adapun ringkasan sasaran Nawa Cita dan kegiatan pendukung pembangunan
Nasional Provinsi Kab/Kota No. Sasaran Nawa
Cita Provinsi BaliTarget Kegiatan Pendukung PelaksanaanDurasi Pemerintah/
BUMN pemerintahNon Pemerintah/BUMN pemerintahNon Pemerintah/BUMN pemerintahNon 1) Meningkatkan
profesionalitas aparatur lembaga peradilan;
2016 - 2018 Kemenkum &HAM, Porli, Kejagung, KPK
Pemda Pemda
2) Penegakan hukum bekerjasama dengan DPRD, kepolisian, kejaksaan, TNI, lembaga tradisional, LSM dan masyarakat;
2016 2018 Kemenkum &HAM, Porli, Kejagung, KPK Pemda, DPRD, Polisi, TNI LSM,
Masyarakat Pemda,DPRD, Polisi, TNI LSM, Masyarakat 1. Peningkatan kepatuhan dan penegakan hukum dan reformasi birokrasi lembaga peradilan. 100 persen tahun 2018
3) Sosialisasi produk-produk
hukum 2016 2018 Kemenkum&HAM, Porli, Kejagung, KPK
Pemda, Polisi LSM, Masyarakat, Media masa
Pemda, Polisi LSM, Masyarakat, Media masa 1)Pendidikan politik yang
teratur dan berkesinambungan
2016 2018 Kemendagri, Kemen PAN, KPK, Kemendiknas Pemda LSM, Masyarakat, Media masa Pemda LSM, Masyarakat, Media masa 2. Perkuatan kelembagaan politik dan reformasi birokrasi pemerintahan. Pembinaan thd 996 ormas, LSM, OKP
2)Meningkatkan kualitas dan profesionalisme aparat pemerintahan
2016 2018 Kemendagri, Kemen PAN, KPK, Kemendiknas
Pemda Perguruan
[image:34.842.67.788.120.421.2]1)Meningkatkan kuantitas maupun kualitas sarana dan prasarana, pemeliharaan obyek wisata
Kemen Par,
Kemen PU Pemda Pemda
2)Peningkatan pengelolaan destinasi, pemasaran dan SDM pariwisata
2016 2018 Kemen Par,
Kemen BUMN Pemda Pemda
3)Pengembangan ekonomi
kreatif 2016 2018 Kemen Ekraf,Kemenindag, Kemenkop
Pemda Pemda
4)Meningkatkan jiwa
kewirausahaan masyarakat 2016 2018 Kemen Ekraf,Kemenindag, Kemenkop
Pemda Pemda
5)Peningkatan daya saing
Koperasi dan UMKM 2016 2018 Kemen Ekraf,Kemenindag, Kemenkop
Pemda Pemda
3. Peningkatan kemandirian ekonomi dan daya saing bangsa.
Pertumbuhan ekonomi 7,5 8,5 persen, pertumbuhan ekspor 12,5 persen tahun 2018
6)Penguatan kelembagaan petani, memperbaiki akses petani terhadap permodalan, teknologi, pemasaran dan fasilitas penunjang lainnya
2016 2018 Kemen Ekraf, Kemenindag, Kemenkop
1) Meningkatkan kualitas dan
akses pendidikan Kemendikbud,Kem Ristek & Dikti,
Pemda Pemda
2) Meningkatkan penguasaan
dan penerapan IPTEK. 2016 2018 Kemendikbud,Kem Ristek & Dikti,
Pemda Pemda
3) Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan termasuk kualitas pengelolanya
2016 2018 Kemendikbud, Kem Ristek & Dikti,
Pemda CSR BUMD Pemda
4) Memberikan bea siswa kepada penduduk yang kurang mampu
2016 2018 Kemendikbud, Kem Ristek & Dikti,
BUMN Pemda BUMD Pemda BUMD
4. Pembangunan pendidikan yang berkua-litas dan kebudayaan yang memacu daya cipta dan inovasi.
Target melek huruf 90,92, RLS 9,97 tahun 2018
5) Meningkatkan kualifikasi
guru 2016 2018 Kemendikbud,Kem Ristek & Dikti,
Pemda Pemda
1) Pelestarian dan pengembangan kebudayaan Bali
2016 2018 Kemensos, Kemendikbud,, Kemen Desa, PDT Pemda Perguruan Tinggi Pemda 5. Pemanfaatan modal sosial dan modal budaya. Target pembinaan 11.950 grup kesenian, terbangun 15 gedung kesenian
2) Mengoptimalkan peran dan fungsi lembaga tradisional penunjang kebudayaan daerah
2016 2018 Kemensos, Kemendikbud,, Kemen Desa, PDT
Pemda Perguruan
3) Pemberian pendidikan kepribadian dan peneguhan jati diri bangsa yang terintegrasi dalam semua mata pelajaran
2016 - 2018 Kemendikbud, Kemenag, Kemendagri, Kemensos
Pemda Perguruan
Tinggi, LSM Pemda 6. Pengembangan
kepribadian dan
peneguhan jati diri bangsa.
4) Pembiasaan perilaku berbudaya dalam kehidupan di lingkungan lembaga pendidikan
2016 2018 Kemendikbud, Kemenag, Kemendagri, Kemensos
Pemda LSM Pemda
1) Memotivasi warga masyarakat untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk kemajuan ekonomi
2016 2018 Kemendikbud, Kemenag, Kemendagri, Kemensos, Kemenkominfo, Kemen PP & PA, BKKBN, Pemda Majelis Agung Desa Pekraman (MADP), PHDI, LSM Pemda Majelis Madya Desa Pekraman (MMDP), LSM 7. Peningkatan peran lembaga sosial, agama, keluarga dan media publik. Target pembinaan terhadap 996 LSM, Ormas dan OKP
2) Meningkatkan peran pemerintahan desa dan kelurahan dalam
pemberdayaan masyarakat
2016 2018 Kemendikbud, Kemenag, Kemendagri, Kemensos, Kemenkominfo, Kemen PP & PA, BKKBN,
3) Mengoptimalkan kerjasama dengan lembaga
pendidikan, LSM, Media massa untuk peningkatan kecerdasan dan
kedewasaan masyarakat dalam berpolitik, melalui pendidikan politik yang teratur dan
berkesinambungan
2016 2018 Kemendikbud, Kemenag, Kemendagri, Kemensos, Kemenkominfo, Kemen PP & PA, BKKBN,
Pemda LSM Pemda LSM
4) Mengoptimalkan peran dan fungsi lembaga tradisional penunjang kebudayaan daerah
2016 2018 Kemendikbud, Kemenag, Kemendagri, Kemensos, Kemenkominfo, Kemen PP & PA, BKKBN,
Cita Provinsi Bali Pelaksanaan Pendanaan Regulasi Kelembagaan Lainnya 1) Meningkatkan profesionalitas
aparatur lembaga peradilan; 2016 - 2018 Agak sulitmerealisasi anggaran
Bukan merupakan urusan wajib daerah
2) Penegakan hukum bekerjasama dengan DPRD, kepolisian, kejaksaan, TNI, lembaga tradisional, LSM dan masyarakat;
2016 2018 1. Peningkatan kepatuhan dan penegakan hukum dan reformasi birokrasi lembaga peradilan. 100 persen tahun 2018
3) Sosialisasi produk-produk hukum 2016 2018
1) Pendidikan politik yang teratur dan
berkesinambungan 2016 2018
2. Perkuatan kelembagaan politik dan reformasi birokrasi pemerintahan. Pembinaan thd 996 ormas, LSM,
OKP 2) Meningkatkan kualitas dan profesionalisme aparat pemerintahan
2016 2018
1) Meningkatkan kuantitas maupun kualitas sarana dan prasarana, pemeliharaan obyek wisata
2016 2018 Terbatasnya anggaran pemda untuk prasaran dan sarana pariwisata 2) Peningkatan pengelolaan destinasi,
pemasaran dan SDM pariwisata 2016 2018 Kurang terkordinasi nyaantar pelaku pariwisata dalam melakukan promosi
3) Pengembangan ekonomi kreatif 2016 2018 Kurang jaringan kerjasama
UKM 3. Peningkatan kemandirian ekonomi dan daya saing bangsa. Pertumbuhan ekonomi 7,5 8,5 persen, pertumbuhan ekspor 12,5 persen tahun 2018
4) Meningkatkan jiwa kewirausahaan
masyarakat 2016 2018 Meningkatnyatenaga kerja asing
[image:39.842.71.794.123.536.2]5) Peningkatan daya saing Koperasi
dan UMKM 2016 2018 Akses modalUMKM rendah
6) Penguatan kelembagaan petani, memperbaiki akses petani terhadap permodalan, teknologi, pemasaran dan fasilitas penunjang lainnya
2016 2018 Petani kurang termotivasi
karena Luas garapan petani kurang dari 0,5 ha.
Tingginya alih fungsi lahan
1) Meningkatkan kualitas dan akses
pendidikan 2016 2018 Sekolah jauh daripemukiman
warga. Daya tampung SLP/SLA masih terbatas 2) Meningkatkan penguasaan dan
penerapan IPTEK. 2016 2018
3) Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan termasuk kualitas pengelolanya
2016 2018 Masih ada Kab/ kota yang anggar-an pendidikanggar-annya kurang 20% 4) Memberikan bea siswa kepada
penduduk yang kurang mampu 2016 2018 Biaya sekolahmasih belum terjangkau oleh masy. Miskin Apresiasi orang tua masih rendah, shg masih mempe-kerjakan anak usia sekolah 4. Pembangunan pendidikan yang berkua-litas dan kebudayaan yang memacu daya cipta dan inovasi.
Target melek huruf 90,92, RLS 9,97 tahun 2018
1) Pelestarian dan pengembangan
kebudayaan Bali 2016 2018
5. Pemanfaatan modal sosial dan modal budaya. Target pembinaan 11.950 grup kesenian, terbangun 15 gedung kesenian
2) Mengoptimalkan peran dan fungsi lembaga tradisional penunjang kebudayaan daerah
2016 2018
1) Pemberian pendidikan kepribadian dan peneguhan jati diri bangsa yang terintegrasi dalam semua mata pelajaran
2016 2018 6. Pengembangan
kepribadian dan
peneguhan jati
diri bangsa. 2) Pembiasaan perilaku berbudaya dalam kehidupan di lingkungan lembaga pendidikan
2016 2018
1) Memotivasi warga masyarakat untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk kemajuan ekonomi
2016 2018
2) Meningkatkan peran
pemerintahan desa dan kelurahan dalam pemberdayaan masyarakat
2016 2018
3) Mengoptimalkan kerjasama dengan lembaga pendidikan, LSM, Media massa untuk peningkatan kecerdasan dan kedewasaan masyarakat dalam berpolitik, melalui pendidikan politik yang teratur dan berkesinambungan.
2016 2018 7. Peningkatan peran lembaga sosial, agama, keluarga dan media publik. Target pembinaan terhadap 996 LSM, Ormas dan OKP
4) Mengoptimalkan peran dan fungsi lembaga tradisional penunjang kebudayaan daerah
A.2. Evaluasi Tematik Pembangunan Pariwisata di Provinsi Bali
Perkembangan Kedatangan Wisatawan
Sebagai daerah tujuan wisata Pulau Bali sudah dikenal oleh wisatawan asing
pada tahun 1920-an. Dengan potensi kepariwisataan yang dimiliki Provinsi Bali, yaitu
panorama yang indah, keanekaragaman kesenian dan budaya, maka dalam sejak
dilaksanakannya program Pembangunan Lima Tahun Tahap I (1969 – 1974)
pembangunan ekonomi diletakkan pada sektor pertanian dan pengembangan
pariwisata serta industri kerajinan tangan. Pemberian prioritas pada sektor pariwisata
dalam program pembangunan di Provinsi Bali juga didasari pertimbangan karena luas
wilayah ini sangat sempit, yaitu hanya 0,29 persen dari wilayah Republik Indonesia. Di
samping itu, daerah ini tidak memiliki potensi sumber daya alam mineral dan energi,
serta kurang memungkinkannya pengembangan sektor industri pengolahan yang
berskala besar. Dengan semakin dikenalnya Bali sebagai salah satu daerah tujuan
wisata, menyebabkan Bali menjadi primadona bagi para wisatawan yang berkunjung
ke Indonesia. Hal ini terbukti dengan terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan
asing ke Bali, demikian juga andil terhadap pariwisata nasional juga meningkat.
Kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) yang datang ke Bali meningkat terus
sejak tahun 1969, kecuali disela penurunan pada tahun 2002 dan 2006 yang
[image:43.595.128.495.490.736.2]disebabkan karena Bom Bali (lihat Gambar 2.1).
Gambar 2.1
Perkembangan kedatangan wisatawan asing yang langsung ke Indonesia dan
Bali selama tahun 2010 - 2014 dapat dilihat pada Tabel 2.2. Pada tahun 2010
kunjungan wisatawan ke Bali sebanyak 2.385.122 orang, mengalami pertumbuhan
sebesar 8,01 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Selama tahun 2011,
2012, 2013, dan 2014 kunjungan wisatawan asing terus meningkat, dan pada tahun
2014 kunjungan wisatawan asing mencapai 3.766.638 orang atau dengan peningkatan
14,89 persen dari tahun 2013. Pada tahun 2010 andil kunjungan wisatawan asing ke
[image:44.595.107.515.314.461.2]Bali sebesar 34,06 persen, dan pada tahun 2014 meningkat menjadi 39,92 persen.
Tabel 2.2
Perkembangan Kunjungan Wisatawan Asing Langsung Ke Bali dan Indonesia, Tahun 2010 - 2014
Kunjungan Wisman ke Bali
Tahun
Jumlah (orang)
Pertumbuhan (%)
Kunjungan Wisman ke Indonesia
(orang)
Andil Bali Terhadap Indonesia (%)
2010 2.385.122 8,01 7.002.944 34,06
2011 2.576.142 9,73 7.649.731 33,68
2012 2.826.709 4,34 8.044.462 35,14
2013 3.278.598 11,16 8.802.129 37,25
2014 3.766.638 14,89 9.435.411 39,92
Sumber: Biro Pusat Statistik, Tahun 2015 (diolah)
Pariwisata merupakan sektor penggerak lokomotip ekonomi di Bali, dengan
pariwisata seluruh perkembangan ekonomi kerakyatan di perdesaan dapat
berkembang dengan pesat di Bali. Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga
pertumbuhan pariwisata telah membuat berbagai program, baik program promosi di
dalam atau di luar negeri, juga melakukan program-program pemeliharaan dan
peningkatan kualitas sumberdaya pariwisata yang ada di Bali.
Tingkat capain kinerja dari program-program yang telah dilaksanakan dalam
bidang pariwisata dilakukan dengan melihat dari beberapa indikator diuraikan sebagai
berikut.
1) Perkembangan kunjungan wisatawan manca negara selama tahun 2010
sampai tahun 2014 terus meningkat, pada tahun 2010 kunjungan wisatawan ke
2) Kunjungan wisatawan nusantara juga mengalami peningkatan dari tahun 2010
s/d tahun 2014. Pada tahun 2010 sebanyak 4.646.343 jiwa, sedangkan pada
tahun 2014 menjadi sebanyak 6.392.460 jiwa.
3) Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB dari tahun 2010 sd tahun 2014
juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 61,78%, pada tahun 2014
meningkat menjadi 66,29 %.
4) Rata-rata lama tinggal kunjungan wisatawan ke daerah Bali khususnya manca
pada tahun 2010 selama 9,49 hari, pada tahun 2014 selama selama 9,1 hari.
Wisatawan nusantara pada tahun 2010 memiliki lama tinggal rata-rata selama
4,20 hari, sedangkan pada tahun 2014 selama 3,6 hari.
Kunjungan Wisman berdasarkan negara asal seperti ditunjukkan pada Tabel
2.3 menunjukkan bahwa sumber utama Wisman masih berasal dari Asia, termasuk
[image:45.595.99.528.403.746.2]juga anggota Asean.
Tabel 2.3
Kunjungan Wisman di Provinsi Bali Menurut Negara Asal, Tahun 2013 dan 2014
Negara Asal 2013
(orang)
2014 (orang)
2013 (%)
2014 (%)
I. ASEAN 418.012 483.487 12,7 12,8
Pertumbuhan (%) 11,89 15,66
1 Malaysia 199.223 223.205 6,1 5,9
2 Philippines 29.840 32.727 0,9 0,9
3 Singapore 138.397 178.174 4,2 4,7
4 Thailand 34.722 30.247 1,1 0,8
5