• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 5 NO. 1 MARET 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 5 NO. 1 MARET 2012"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN KENDALI PID DIGITAL PADA KELUARAN BUCK KONVERTER BERDASARKAN PERUBAHAN BEBAN

Irma Husnaini

1

ABSTRACT

This research about design of digital Proportional Integral Derivative (PID) controller to control output of buck konverter based of variable load. Buck konverter used to convertion of direct current voltage from 12 volt to 5 volt.

To see the performance of PID controller is done comparison with digital PI controller. From simulation, PI controller could control output of buck konverter to be 5 volt but although ossilation happaned than PID controller same with PI controller but could eliminate ossilation.

Control PID have better performance than PI controller to control stability of output buck konverter based of variable load.

Key word: Buck konverter, digital PI dan PID.

INTISARI

Penelitian ini difokuskan pada perancangan sistem pengontrolan tegangan keluaran pada buck konverter dengan menggunakan Porposional Integral Derivatif (PID) digital berdasarkan perubahan beban. Buck konverter digunakan untuk mengkonversikan tegangan 12 Volt dc menjadi 5 Volt dc.

Untuk melihat kinerja kontroler PID dilakukan perbandingan dengan kontroler PI dalam mengendalikan tegangan keluaran buck conveter berdasarkan perubahan beban. Hasil simulasi memperlihatkan pada saat terjadi perubahan beban penerapan kontroler PI mampu mempertahankan tegangan keluaran buck konverter sebesar 5 volt meskipun terjadi osilasi, sedangkan penerapan kontroler PID mampu mempertahankan tegangan keluaran sebesar 5 volt dan mengilangkan osilasi saat perubahan beban.

Kontroler PID memiliki performansi yang lebih baik dibandingkan kontroler PI untuk mengendalikan kestabilan keluaran dari rangkaian buck konverter yang disebabkan oleh pembebanan yang berubah-ubah pada saat rangkaian bekerja.

Kata kunci: Buck konverter, digital PI dan PID.

1

Dosen Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang

(2)

PENDAHULUAN

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi, peningkatan terhadap kebutuhan konverter daya dengan kinerja dinamik yang tinggi dalam banyak aplikasi sangat dirasakan terutama di industri dan penggunaan barang-barang elektronik. DC-dc konverter merupakan salah satu contohnya, dimana konverter ini bisa menghasilkan tegangan atau arus yang dapat diatur sesuai dengan keinginan yang berasal dari power supply atau baterey. Buck konverter merupakan rangkaian elektronika daya yang berfungsi menurunkan tegangan dc menjadi tegangan dc lain sesuai kebutuhan [1]. Pemilihan konverter dc-dc dikarenakan efisiensinya yang tinggi dalam perubahan daya input ke daya output.

Diantara beberapa kriteria kinerja dinamik yang sangat penting untuk dipertimbangkan adalah riak, tegangan output, dan waktu recovery.

Keuntungan pada konfigurasi Buck antara lain adalah efisiensi yang tinggi, rangkaiannya sederhana, tidak memerlukan transformer, riak (ripple) pada tegangan keluaran yang rendah sehingga penyaring atau filter yang dibutuhkan pun relatif kecil.

Kekurangan dari konfigurasi buck konverter adalah hanya satu keluaran yang dihasilkan, dan tingkat ripple yang tinggi pada arus masukan.

Umumnya tegangan output berubah berdasarkan variasi beban atau akibat perubahan tegangan input. Perubahan nilai tegangan output tergantung pada filter induktor dan nilai kapasitor dalam rangkaian dan frekuensi switching serta algoritma kontroler. Jika induktor, kapasitor dan frekuensi switching tetap, perbedaan algoritma kontroller menghasilkan perbedaan respon dinamik. Beberapa hal harus

dilakukan untuk memperbaiki respon dinamik tersebut. Oleh karena itu sangat penting menentukan kemungkinan kinerja dinamik terbaik untuk konverter daya. Untuk memperbaiki kinerja sistem dibawah variasi beban diperlukan kontroler.

Metode-metode atau algoritma kendali yang digunakan kontroler dalam proses pengendalian juga telah banyak berkembang. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna akan performansi atau efisiensi tertentu. Makin beragamnya jenis-jenis peralatan yang akan dikontrol melahirkan tuntutan akan kontroler yang dapat menanggani bermacam-macam jenis plant. Salah satu model pengendali otomatis yang dikenal yaitu PID (Proporsional Integral Derivatif) [2]. Agar kinerja dinamik konverter dc-dc terbaik dapat dicapai, kendali digital dapat digunakan untuk memperbaiki kinerja sistem dibawah variasi beban.

Penggunaan PID digital merupakan salah satu metode pengontrolan yang dapat digunakan untuk menghasilkan output yang konstan. Setiap kekurangan dan kelebihan dari masing–masing kontroler P, I dan D saling menutupi.

Pada penelitian ini kontroler PID digital digunakan untuk mengontrol keluaran buck konverter dalam keadaan beban berubah. Untuk melihat performasi dari kontroler PID digital dalam mengontrol keluaran buck konverter dalam keadaan beban berubah dilakukan perbandingan dengan kontroler PI digital.

PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH

Buck konverter

Buck konverter merupakan jenis

konverter yang banyak digunakan

dalam industri, khususnya mengenai

(3)

catu daya. Konverter ini mengkonversikan tegangan dc menjadi tegangan dc lain yang lebih rendah (Tegangan input lebih besar dari pada tegangan output).

Buck konverter terdiri ari satu saklar aktif (mosfet) dan satu saklar pasif (dioda). Untuk tegangan kerja yang rendah, saklar pasif sering diganti dengan saklar aktif sehingga susut daya yang terjadi bisa dikurangi.

Kedua saklar ini bekerja bergantian.

Setiap saat hanya ada satu saklar yang menutup. Nilai rata-rata tegangan keluaran konverter sebanding dengan rasio antara waktu penutupan saklar aktif terhadap periode pensaklarannya (faktor kerja).

Nilai faktor kerja bisa diubah dari nol sampai satu. Akibatnya, nilai rata- rata tegangan keluaran selalu lebih rendah dibanding tegangan masukannya. Buck konverter bisa disusun paralel untuk menghasilkan arus keluaran yang lebih besar. Jika sinyal ON-OFF masing-masing konverter berbeda sudut satu sama lainnya sebesar 360

0

/N, yang mana N menyatakan jumlah konverter, maka didapat konverter dc-dc N-fasa.

Konverter buck N-fasa inilah yang sekarang banyak digunakan sebagai regulator tegangan mikroprosesor

generasi baru. Dengan

memperbanyak jumlah fasa, ukuran tapis yang diperlukan bisa menjadi jauh lebih kecil dibanding konverter dc-dc satu-fasa. Selain digunakan sebagai regulator tegangan mikroprosesor, buck konverter multi fasa juga banyak dipakai dalam indusri logam yang memerlukan arus dc yang sangat besar pada tegangan yang rendah.

Gambar 1. Topologi buck konverter

Buck konverter pada keadaan ideal dengan periode pensaklaran T dan duty cycle D dapat dilihat pada gambar 1. Persamaan keadaan buck konverter dalam bentuk Continuos Cunduction Mode (CCM) diperoleh berdasarkan hukum kirchof. Ketika saklar ON, arus dinamik pada induktor I

L

(t) dan tegangan kapasitor V

C

(t) dapat diperoleh dari persamaan berikut;

1 ( )

, 0 , :

1 ( )

L

in o

o o

L

di V v

dt L

t dT Q ON

dv v

dt C i R

  

  

   



.(1)

dan ketika saklar OFF diperoleh persamaan berikut;

1 ( )

, , :

1 ( )

L

o

o o

L

di v

dt L dT t T Q OFF

dv v

dt C i R

  

  

   



…(2)

Sisem Kendali digital

Blok diagram yang

memperlihatkan suatu sistem kendali digital dapat dilihat pada Gambar 2.

Komputer digital melaksanakan fungsi

kompensasi didalam sistem. Antar

muka pada masukan komputer adalah

suatu pengubah analog ke digital

(A/D) yang diperlukan untuk

mengubah sinyal galat, yaitu suatu

sinyal waktu kontinyu kedalam suatu

bentuk linier yang dapat diproses

komputer. Antara muka pada keluaran

komputer diperlukan untuk

mengaktifkan kendalian , yang disebut

suatu pengubah digital ke analag

(D/A), (Phillip,1998).

(4)

Kontroler digital +

- r(t)

Plant C(t)

A/D D/A

H(s)

e(kT) m(kT) m (t )

e(t

)

Gambar 2. Sistem Kendali digital Berdasarkan Gambar 2,

pengubah A/D pada masukan pengendali akan mengubah sinyal waktu kontinyu e (t ) kesuatu deretan bilangan e (kT ) , pengendali digital akan mengolah deretan angka e (kT ) ini dan menghitung deretan angka keluaran m (kT ) . Deretan angka

) (kT

m ini kemudian dikonversikan

kesinyal waktu kontinyu m (t ) melalui pengubah D/A. Pengendali dan pengubah A/D dan D/A serta kendalian yang berkaitan dapat diberikan dalam bentuk diagram blok seperti terlihat pada Gambar 3.

Berdasarkan Gambar 3 diperoleh, ) (

* ) (

* ) ( ) ( ) ( )

( s R s G s H s D s E s

E   .(3)

) (

* ) (

* ) ( )

( s G s D s E s

C  ……….(4)

D(z) +

-

R(s)

G

p

(s)

C(s)

H(s)

E(z)

E*(s)

M(z) M*(s) E(s)

s eTs

 1

G(s)

Gambar 3. Sistem Kendali digital dengan Pengubah A/D dan D/A (Phillip,1995)

Tanda bintang persamaan untuik )

(s

E , dan menyelesaikan E * s ( ) diperoleh

) (

* ) (

* 1

) ( ) *

(

* D s G H s

s s R

E   ……..(5)

Transformasi z dari persamaan

untuk C (s ) dengan

mensubsitusikan E * s ( ) pada persamaan diatas diberikan oleh

) ) ( ( ) ( 1

) ( ) ) (

( R z

z H G z D

z G z z D

C   ……..(6)

Maka

) ( ) ( 1

) ( ) ( )

( ) ) (

( D z G H z

z G z D z

R z z C

T    ….(7)

Persamaan diatas merupakan fungsi transfer closed loop dari sistem kendali digital berdasarkan Gambar 3.

Jika pengendali digital yang digunakan adalah PID, dengan e (t ) adalah masukan ke alat kontrol PID, keluaran m(t) dari alat kontrol ini diberikan oleh [3]

dt t K de dt t e K t e K t

m

p

t i p

) ) (

( )

( )

(

0

  ...(8)

(5)

Algoritma pengendali PID dalam bentuk digital sebagai berikut

) 1 ( ) 1

( ) ( )

( E z

Tz K z z

Tz K K

z E z D z

M

p i d

 

   

 

 ..(9)

atau

) 1 (

) 1 (

1

1

E z

T K z z T K K

z

M

p i d

 

  

 

.(10)

 ( ) ) ) (

( E z

z z M

D

 

 

  

 

T K z z T K

p

K

i d

1

1

1

1

...(11) Pengendali PID digital diperlihatkan pada Gambar 4.

Kp

E(z)

+

+ +

1 z

Tz Ki

Tz z Kd( 1)

M(z)

Gambar 4. Pengendali PID digital [4]

Fungsi transfer pengendali PID dapat ditulis dalam bentuk :

n n

m m

z a z

a z a

z b z

b z b z b

D

 

....

1

...

)

(

1 2 2

1

2 2 1

0

1

..(12) Dimana :

T T K K K

b

0

p

i

d

...(13) )

2

1

(

T K K

b  

p

d

...(14)

T

b

2

Kd ...(15)

1

  1

a ...(16)

2

 0

a ...(17) dengan

K

p

= penguatan proporsional

K

i

= penguatan

integarl

K

d

= penguatan

turunan (derivatif)

T = perioda pencuplikan D(z)= Fungsi transfer pengendali PID

Pengendali PID memiliki fungsi alih sebagi berikut, (Phillips,1995, Tang,1999):

 

  

 

 

 

Tz

K z z

z K T K z

D

p I D

1

1 1 ) 2

( ...(18)

Tiga parameter pengendali, K

p

, K

i

dan K

d

ditentukan dengan proses perancangan.

Pengendali PIDi praktis dapat digunakan untuk semua kondisi proses. Kendali proporsional akan mengurangi waktu naik (rise time) dan galat keadaan tunak (steady state error) . Tetapi tidak bisa menghilangkan galat tersebut. Kendali integral akan menghilangkan galat keadaan tunak tetapi akan membuat respon transien memburuk karena akan mengakibatkan overshoot.

Sedangkan kendali derivatif akan meningkatkan kestabilan sistem , mengurangi overshoot dan memperbaiki respon transien

Pengendali Proposional

Elemen pertama dari kendali PID yang akan dikembangkan yaitu kendali proporsional. Dinamika dari pengendali proporsional adalah memberikan suatu nilai dalam bentuk konstanta yang besarnya dapat diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan keluaran sistem yang hendak dicapai. Untuk pengendali proporsional, hubungan antara masukan pengendali m (t ) dengan sinyal galat aktuasi e (t ) adalah :

) ( )

( t K e t

m

p

...(19)

(6)

Kekurangan pengendali ini adalah terjadinya kesalahan mantap (galat offset) bila ada perubahan beban. Dengan demikian sistem ini harus dapat direset secara manual dan sebaliknya perubahan beban tidak besar. Error steady state dapat dikurangi dengan memperbesar penguatan , akan tetapi penguatan yang terlalu besar akan mengakibatkan semakin besarnya derau dan sistem menjadi tidak stabil . Pengendali Proporsional Plus Integral (PI)

Kekurangan pengendali proporsional dapat dihilangkan dengan memasukkan elemen pengendali integral. Bentuk persamaan pengendali PI adalah sebagai berikut (Phillips, 1998).

dt t e K t e K t m

t i

p

0

) ( )

( )

( ...(20)

Sehingga fungsi alihnya dapat ditulis sebagai berikut

1 ) ( 1 )

) ( (

) (

 

z

K z K z z D

E z M

I

p

…(21)

Elemen pengendali integral mempunyai kelemahan dalam respon dinamik, dimana pengaturan lingkar tertutup berosilasi dengan amplitudo yang mengecil secara perlahan atau bahkan amplitudo yang membesar, biasanya kedua hal ini tidak diinginkan. Beberapa sifat pengendali Proporsional plus Integral, (Ogata,1997):

a. Aksi kendali proporsional cendrung menstabilkan sistem b. Aksi kendali integral cendrung

menghilangkan atau

memperkecil galat keadaan tunak dari tanggapan terhadap berbagai masukan

Perancangan Sistem

Pada penelitian ini, sistem yang dirancang adalah;

Tegangan input (Vin) = 12 Volt Tegangan output (Vout) = 5 Volt Frekuensi switching = 100 kHz D = 50 %

Hasil penelitian berupa grafik tegangan keluaran buck konverter terhadap waktu. Spesifikasi perancangan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah tegangan output buck konverter tetap stabil tanpa adanya osilasi meskipun terjadi perubahan beban.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Kontroler

Pengujian ini dilakukan untuk melihat performasi kontroler yang berhubungan dengan kestabilan sistem dalam mengontrol keluaran buck konverter berdasarkan perubahan beban. Langkah pertama dilakukan pengujian sistem menggunakan kontroler PI. Setelah itu dilanjukan pengujian kontroler PID untuk mengontrol keluaran buck konverter. Pengujian ini dilakukan pada saat beban berubah-ubah.

Pengujian sistem tanpa kontroler PI dan PID

Pengujian sistem tanpa kontroler dilakukan untuk memperoleh respon loop terbuka plant buck konverter.

Gambar berikut memperlihatkan plant

buck konverter dan respon sistem

tanpa adanya kontroler.

(7)

Gambar 5. Sistem kendali loop terbuka plant buck konverter

Gambar 6. Respon loop terbuka sistem tanpa kontroler Respon plant tanpa kontroler berupa tegangan output Vo dan arus induktor iL. Gambar 6 memperlihatkan adanya overshoot pada keluaran sistem tanpa kontroler. Langkah berikutnya dilakukan perancangan kontroler PI dan PID untuk memperbaiki kinerja sistem tersebut.

Pengujian kontroler PI

Pengujian pertama sistem kendali dilakukan dengan penerapan kontroler PI untuk mengontrol keluaran dari buck konverter dengan beban berubah. Parameter kontrol yang dipilih Kp =0.01 dan Ki=1800.

Sedangakan respon sistem dapat dilihat pada pada gambar berikut

Gambar 7. Respon lup tertutup sistem kendali dengan beban berubah

Gambar 7 memperlihatkan respon sistem dengan kontroler PI untuk Start-up, 50-100% dan 100-50%

transien beban. Kontroler PI dapat mengendalikan kestabilan keluaran dari rangkaian buck konverter yang disebabkan oleh pembebanan yang berubah-ubah pada saat rangkaian bekerja meskipun muncul osilasi .

Gambar 8. Respon lup tertutup

sistem terkendali dengan

beban berubah-ubah

Gambar 8 memperlihatkan

penerapan kontroler PID untuk Start-

up, 50-100% dan 100-50% transien

beban. Berdasarkan gambar dapat

dilihat bahwa kontroler PID mampu

menghilangkan osilasi pada transien

beban. Parameter kontroler yang

dipilih Kp=0,01, Ki=2500, dan

Kd=0.000003. Kontroler PID memiliki

(8)

performansi yang lebih baik dibandingkan kontroler PI untuk mengendalikan kestabilan keluaran dari rangkaian buck konverter yang disebabkan oleh pembebanan yang berubah-ubah pada saat rangkaian bekerja.

KESIMPULAN

1. Kontroler PI yang dirancang untuk mengontrol keluaran dari buck konverter dengan beban berubah mampu memenuhi kriteria yang diinginkan yaitu tegangan keluaran sebesar 5 volt meskipun terjadi osilasi pada tegangan dan arus saat terjadi perubahan beban.

2. Penerapan kontroler PID mampu menstabilkan keluaran buck konverter dalam keadaan beban berubah tanpa menimbulkan osilasi pada keluaran tegangan dan arus buck konverter .

3. Kontroler PID memiliki performansi yang lebih baik dibandingkan kontroler PI untuk mengendalikan kestabilan keluaran dari rangkaian buck konverter yang disebabkan oleh pembebanan yang berubah- ubah pada saat rangkaian bekerja.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Ogata, K. 1997. Modern Control Engineering, 3

rd

Edition, Prentice Hall International. Inc.

[2] Tang, Jianxin. 2002. Real- time Adaptive PID Controller Using the TMS320C31 DSK, North Dartmouth.

[3] Astrom K. J, Hagglund T.H.

1995. New Tuning Methods for PID Controllers, Proc. 3

rd

European Control

Conference,p.2456-62.

[4] Phillips, L. Charles. 1995. Digital

control System, 3

rd

Edition,

Prentice Hall International. Inc.

Referensi

Dokumen terkait

Keputusan pencairan Kredit suatu Nasabah dapat menggunakan Sistem Pendukung Keputusan ( Decision Support System ) yang menggunakan 5C yaitu character, capital, capacity,

diperoleh hasil yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan dan kemampuan peserta dalam mengoperasikan komputer, membuat bahan ajar dengan teknologi computer

menggunakan model Fuzzy Mamdani, masukan dari proses penalaran adalah himpunan fuzzy yang diperoleh dari komposisi aturan-aturan fuzzy, sedangkan keluaran yang

Dengan demikian kita dapat melihat dengan jelas bahwa tingkat kedatangan pelanggan untuk melayani, dan tingkat pelayanan fasilitas yang melayani merupakan dua unsur

Permasalahan penelitian dirumuskan sebagai berikut: (1) berapa peluang keberhasilan proses pengenalan sidikjari menggunakan LVQ dengan ekstraksi ciri transformasi

Kompensator PI mampu menghilangkan kesalahan pada saat keadaan tunak tetapi memiliki respon transien sistem yang kurang baik sedangkan kompensator Lead memiliki respon

heatsink sebagai pendingin dan resistansi beban yang hampir sama dengan resistansi dalam thermogenerator, maka efisiensi daya pada satu modul thermogenerator sama

E-learning merupakan suatu penggunaan internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang berlandaskan tiga kriteria [2] yaitu: (1) e-learning