38 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bab III ini menjelaskan jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, definisi operasional, instrumentasi dan teknik analisis data yang digunakan terkait dengan penelitian tentang kemampuan menyusun bahan ajar Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ) terpadu di kalangan guru yang berlatar belakang pendidikan ekonomi di SMP Negeri Kota Salatiga.
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian tentang kemampuan menyusun bahan ajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu dikalangan guru yang berlatar belakang pendidikan ekonomi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di kota Salatiga adalah jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah “jenis penelitian yang memberikan gambaran atau uraian atas satuan keadaan sejauh mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek yang diteliti”.
1Fungsi deskriptif, “terbatas pada mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagai mana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum”.
2Metode penelitian deskriptif dalam penelitian ini, dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan menyusun bahan ajar Ilmu Pengetahuan Sosial
1
Sugiono, 2002, Statistik untuk Penelitian, Penerbit, Alfabeta. Bandung. hal. 21.
2
Sugiyono, 2010. Statistik Untuk Penelitian, Cetakan ke 18, Penerbit. Alfabeta, Bandung,
hal. 29.
39
(IPS) Terpadu dikalangan guru yang berlatar belakang pendidikan ekonomi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kota Salatiga.
3.2. Tempat Penelitian
Penelitian tentang kemampuan menyusun bahan ajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu dikalangan guru yang berlatar belakang pendidikan ekonomi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di kota Salatiga dilaksanakan oleh peneliti di 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri yang terdapat di kota Salatiga, yaitu; Sekolah Menegah Pertama (SMP) N 1, Sekolah Menegah Pertama (SMP) N 2, Sekolah Menegah Pertama (SMP) N 3, Sekolah Menegah Pertama (SMP) N 4, Sekolah Menegah Pertama (SMP) N 7, Sekolah Menegah Pertama (SMP) N 8, Sekolah Menegah Pertama (SMP) N 9, Sekolah Menegah Pertama (SMP) N 10. Melihat waktu dan keterbatasan dana maka peneliti hanya membatasi pada 10 SMP Negeri saja.
3.3. Populasi dan Sampel
Objek penelitian diperlukan untuk memperoleh sumber data dalam suatu penelitian. Objek penelitian tersebut akan mudah diperoleh apabila terlebih dahulu ditentukan populasi dan sampel penelitianya. “Populasi adalah suatu kumpulan menyeluruh dari suatu objek merupakan perhatian peneliti”.
3Sampel Sering juga disebut “contoh” yaitu “himpunan bagian (subset) dari suatu populasi yang memberikan gambaran yang benar mengenai populasi”.
4Yang menjadi target populasi dan sekaligus sampel dari penelitian ini adalah semua
3
Roni Kountur, 2004. Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, PPM, Jakarta, hal. 137.
4
W. Gulo, 2002. Metodologi Penelitian, Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta,
hal. 77.
40
guru mata pelajaran IPS terpadu yang berlatar belakang S
1pendidikan ekonomi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di kota Salatiga yang berjumlah 21 orang guru. Mengingat ada dua SMP Negeri yang tidak terbuka untuk diteliti yaitu ; SMP Negeri 5 dan SMP Negeri 6, sehingga yang menjadi riil populasi sekaligus menjadi sampel dari penelitian ini adalah semua guru mata pelajaran IPS terpadu yang berlatar belakang S
1pendidikan ekonomi di 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di kota Salatiga yang berjumlah 16 orang guru.
Tabel 3.1. Populasi dan Sampel Riil 16 Guru yang Berlatar Belakang Pendidikan Ekonomi di 8 SMP Negeri Kota Salatiga tahun ajaran 2012/2013.
No Sekolah Guru
1 Sekolah Menegah Pertama (SMP) 1 2 2 Sekolah Menegah Pertama (SMP) 2 1 3 Sekolah Menegah Pertama (SMP) 3 3 4 Sekolah Menegah Pertama (SMP) 4 2 5 Sekolah Menegah Pertama (SMP) 7 3 6 Sekolah Menegah Pertama (SMP) 8 1 7 Sekolah Menegah Pertama (SMP) 9 2 8 Sekolah Menegah Pertama (SMP) 10 2
Jumlah 16
3.4. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian tentang kemampuan menyusun bahan ajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu dikalangan guru yang berlatar belakang pendidikan ekonomi di 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kota Salatiga adalah data primer “Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan mengenakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada objek sebagai sumber informasi yang dicari”.
55
Sukardi, 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan, “kompetensi dan
Praktiknya”. Bumi Aksara. Jakarta, hal. 207.
41
Metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah kuisoner atau angket. “Kuisioner atau angket adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya”.
63.5. Definisi Operasional
Bahan ajar adalah segala sesuatu yang menjadi isi pesan dalam proses pembelajaran yang diramu dari berbagai sumber untuk mendukung penguasaan kompetensi serta disusun secara terpadu dan sistematis guna untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Kemampuan menyusun bahan ajar adalah tinggi rendahnya kadar prosentase yang dicapai oleh guru dalam menyusun bahan ajar dilihat dari kelengkapan dan kesesuaian langkah – langkah pemilihan bahan ajar, kadar keterpaduan dan pemilihan sumber bahan ajar dalam menyusun bahan ajar yang siap disajikan, serta rencana strategi pengajaran.
Guru yang berlatar belakang sarjana pendidikan ekonomi adalah seseorang yang diangkat sebagai guru berdasarkan ijazah strata satu pendidikan ekonomi.
Guru IPS yang berlatar belakang sarjana pendidikan ekonomi tahu dan sadar bahwa tidak dilatih secara khusus bagaimana menempatkan materi ekonomi dan materi lainya kedalam IPS secara tetrpadu.
Materi IPS tidak hanya dari ekonomi, geografi, sejarah, dan sosiologi,
6
Sugiyono, 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan, Alfabeta, Bandung, hal. 199.
42
tetapi juga politik, psikologi, sosial. Pada umumnya tidak dipelajari secara khusus di S
1JP-IPS, khususnya progdi pendidikan ekonomi. Tetapi sebagai IPS terpadu maka suatu keharusan bagi guru untuk membuat materi pelajaran benar-benar terpadu sebagai “Social Studies” bukan “ dan bukan sekedar mengkait-kaitkan dengan disiplin ilmu sosial ( Correlated Curriculum).
Mengingat bahwa pengorganisasian materi atau bahan ajar yang lebih menjamin keterpaduan materi dalam IPS adalah dengan menerapkan penyajian secara tematik (proyek) atau interdisiplinier, dengan demikian yang dimaksud dengan kemampuan menyusun bahan ajar dalam penelitian dari skripsi ini adalah kegiatan menyusun bahan ajar yang meliputi idikator kelengkapan langkah- langkah pemilihan bahan ajar, kadar keterpaduan dan pemilihan sumber bahan ajar serta strategi pengajaran ( kelenturan waktu maupun pengelompokan siswa dalam pengajaran IPS terpadu ).
3.6. Instrumentasi
Instrumen digunakan dalam upaya memperoleh informasi yang akurat dan terpercaya. “instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpul data”, sedangkan “instrumentasi adalah proses pengumpulan data”.
77
Saifuddi Azwar, 2001. Metode Penelitian. Pustaka Pelajar. Yogyakarta, hal. 151.
43
Tabel 3.2. Instrumen Penelitian Kemampuan menyusun bahan ajar IPS terpadu dikalangan 16 guru yang berlatar belakang pendidikan ekonomi di SMP negeri kota salatiga Tahun Ajaran 2012/2013.
Variabel Indikator Pernyataan pokok Kemampuan
menyusun bahan ajar IPS terpadu di kalangan guru yang berlatar belakang pendidikan ekonomi di SMP negeri kota salatiga.
1. kelengkapan dan
kesesuaian langkah – langkah pemilihan bahan ajar
1.1 Kegiatan Penyusunnan bahan ajar.
1.2 Kesesuaian urutan penyusunan bahan ajar.
2. Kadar keterpaduan Bahan Ajar.
2.1 Tematik 2.2 Interdisiplinier
3. Sumber bahan ajar.
3.1 Keragaman sumber 4. Rencana
strategi pembelajaran .
4.1 Agihan waktu yang
digunakan dalam
pembelajaran.
3.7. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian tentang kemampuan menyusun bahan ajar ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu dikalangan guru yang berlatar belakang pendidikan ekonomi di 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di kota Salatiga adalah analisis deskriptif kuantitatif adalah
“Analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan data varabel yang diperoleh dari kelompok subjek yang diteliti dan tidak dimaksudkan untuk pengujian hipotesis”.
88
ibid, hal. 126.
44
Data kuisoner diolah berdasarkan instrumen yang disebarkan. Teknik pengolahan data kuisoner adalah dengan mengecek jumlah lembar jawaban kuisoner, menghitung kuisoner, memeriksa kelengkapan kuisoner. Penentuan jawaban pengisian kuisoner menggunakan kriteria, yaitu responden dapat menjawab lebih dari satu alternatif pilihan jawaban dengan masing-masing option diberi gradasi skor yang bergerak dari 1-100, sehingga jumlah jawaban bervariasi, kemudian jumlah skor dikonversi menjadi prosentase. Tinggi rendahnya prosentase menggambarkan tinggi rendahnya kadar kemampuan.
3.7.1. Distribusi Prosentase
Prosentase adalah “perbandingan dari frekuensi mutlak suatu kategori dengan jumlah seluruh pengamatan yang dilakukan pada dasar bilangan 100”.
9Rumus Prosentase:
Keterangan :
Pi: Proporsi kategori tertentu fi: Frekuensi kategori tertentu n: Jumlah pengamatan
3.7.2. Kadar Kemampuan Menyusun Bahan Ajar
Mengingat tekanan pada pengajar IPS terpadu adalah keterpaduan materi, maka untuk mengetahui kadar skor kemampuan menyusun bahan ajar IPS terpadu di kalangan guru SMP yang berlatar belakang pendidikan ekonomi, dalam setiap indikator kemampuan menyusun bahan ajar di beri bobot yang berbeda yaitu;
1. Kelengkapan dan kesesuain langkah. ( 10 % )
2. Sumber bahan ajar. ( 20 % )
9