• Tidak ada hasil yang ditemukan

CeMAT Southeast Asia/TransAsia/Cold Chain Indonesia 2017 Interisland Air & Sea Connectivity Development

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CeMAT Southeast Asia/TransAsia/Cold Chain Indonesia 2017 Interisland Air & Sea Connectivity Development"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

CeMAT Southeast Asia/TransAsia/Cold Chain Indonesia 2017

“Interisland Air & Sea Connectivity Development”

BY:

PORT DEVELOPMENT PLANNING DIRECTORATE OF PORT AFFAIRS

(2)

1

MINISTRY OF TRANSPORTATION

DIRECTORAT GENERAL OF SEA TRANSPORTATION

LETAK GEOGRAFIS INDONESIA

STRUKTUR PELABUHAN DI INDONESIA

5

PELUANG INVESTASI PELABUHAN DI INDONESIA

6

PENGEMBANGAN PELABUHAN DI INDONESIA

7

4

KEBIJAKAN PELABUHAN NASIONAL

(3)

SEKILAS TENTANG INDONESIA

Luas Wilayah : 7.8 Juta Km²

Luas Area Perairan : 5.9 Juta Km²

Laut Nusantara : 2.9 Juta Km²

Laut Teritorial : 0.3 Juta Km²

ZEE : 2.7 Juta Km²

Luas Daratan : 1.9 Juta Km²

Provinsi : 34 Provinsi

Jumnlah Pulau : 17,504 Pulau

94,156 km panjang garis pantai terbesar

ke 4 di dunia

Diantara Benua Asia dan Australia

Terbagi menjadi 3 ALKI

GEOSPATIAL

Penduduk : 252.2 Juta

Pertumbuhan : 1.35%

Indeks Pengembangan SDM : 73.8

GDP : 10,542.7 Triliun

GDP Per Kapita : 41.8 Juta

Pertumbuhan Ekonomi: 5%

(4)

DAYA SAING LOGISTIK INDONESIA

GLOBAL COMPETITIVENESS INDEX (GCI)

YEAR LPI RANK(OUT OF)

INDICATORS RANK

INFRASTRUCTURE INTERNATIONAL SHIPMENTS AND COMPETENCELOGISTIC QUALITY

2012 59 (155) 85 57 62

2014 53 (160) 56 74 41

2016 63 (160) 73 71 55

LOGISTIC PERFORMANCE INDEX (LPI)

Terdiri dari 12 Pilar:

Lembaga, Infrastruktur, Ekonomi Makro Lingkungan, Kesehatan & Pendidikan Dasar, Pendidikan Tinggi

dan Pelatihan, Barang Efisiensi Pasar, Efisiensi Pasar Tenaga

Kerja, Pengembangan Pasar Keuangan, Kesiapan

ANALISA LPI SUATU NEGARA PADA 6 KOMPONEN:

Efisiensi kepabeanan dan manajemen area perbatasan, Kualitas perdagangan dan infrastruktur transportasi, kemudahan dalam penentuan

biaya pengirman yang bersaing, kompetensi dan kualitas pelayanan logistik, Kemampuan untuk melacak dan menelusuri pengiriman dan Frekuensi pengiriman sampai penerima barang sesuai jadwal atau waktu

(5)

599.0 214.5 182.1 126.6 960.2 413.2 293.2 477.7

DAYA SAING PERDAGANGAN INDONESIA

MARITIME TRANSPORT INDICATORS

2011 8,966,146 TEUs

2012 9,638,607 TEUs

2013 11,273,450 TEUs

2014 11,900,763 TEUs

1,74% from global throughput – Peringkat 12 (in 2014)

Dry Bulk Liquid General Cargo Container

2012 2030

PROYEKSI KARGO(MILLION TONS) CONTAINER THROUGHPUT (2014)

TAHUN 2030 DIBUTUHKAN 47.066 MILYAR USD UNTUK PENGEMBANGAN

PELABUHAN

(6)

Kondisi saat ini, beban logistik terkonsentrasi di Kawasan Barat Indonesia (KBI), oleh karena itu dalam rangka untuk menyamakan beban ke Kawasan Timur Indonesia (KTI), mengoptimalkan kerjasama antara masing-masing sektor seperti industri, pertanian, pertambangan, dll diperlukan. Di sisi lain, didukung oleh peningkatan infrastruktur pelabuhan di Indonesia Timur seperti menyediakan peralatan pelabuhan sehingga efisien

TANTANGAN TRANSPORTASI LAUT TERHADAP KETIMPANGAN KARGO ANTARA KAWASAN BARAT INDONESIA (KBI) DAN KAWASAN TIMUR INDONESIA (KTI)

(7)

1 2 3 4 5 6

SIMPUL DALAM JARINGAN TRANSPORTASI SESUAI DENGAN HIERARKINYA

PINTU GERBANG KEGIATAN PEREKONOMIAN

TEMPAT KEGIATAN ALIH MODA TRANSPORTASI

PENUNJANG KEGIATAN INDUSTRI DAN/ATAU PERDAGANGAN

TEMPAT DISTRIBUSI, PRODUKSI, DAN KONSOLIDASI MUATAN ATAU BARANG

MEWUJUDKAN WAWASAN NUSANTARA DAN KEDAULATAN NEGARA

PELABUHAN MERUPAKAN INFRASTRUKTUR PUBLIK YANG

BERORIENTASI

KEPADA BENEFIT MAKRO BUKAN SEMATA PROFIT CENTER

PERAN PELABUHAN DALAM

PEMBANGUNAN NASIONAL

(8)

BIDANG KEPELABUHANAN STRATEGI :

• Memperlancar kegiatan bongkar-muat di pelabuhan dan menghilangkan ekonomi biaya tinggi.

• Menata kembali pelabuhan yang terbuka bagi perdagangan luar negeri dan pelabuhan yang berfungsi untuk lintas batas.

• Mengembangkan prasarana dan sarana pelabuhan untuk mencapai tingkat pelayanan yang optimal dengan meningkatkan partisipasi pihak swasta. • Mengembangkan manajemen pelabuhan sehingga

secara bertahap dan terseleksi terjadi pemisahan fungsi regulator dan operator, serta memungkinkan kompetisi pelayanan antarterminal di suatu

pelabuhan dan antarpelabuhan.

IMPLEMENTASI

 Peningkatan peran penyelenggara pelabuhan (Otoritas Pelabuhan Utama, KSOP dan UPP).  Penerapan Kebijakan pembangunan

pelabuhan yang mengacu pada fungsi ship

promote the trade, pelayanan perintis,

pengembangan daerah tertinggal dan perbatasan, disamping mengembangkan pelabuhan komersial sebagai pendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

 Pengembangan pelabuhan laut sesuai dengan Visi dan Misi Presiden serta Nawa Cita

KEBIJAKAN TRANSPORTASI LAUT BIDANG

KEPELABUHANAN

(9)

KONEKTIVITAS NASIONAL

TARGET – KEBIJAKAN -STRATEGI

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019 RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN(RENST RA) 2015-2019

TARGET, KEBIJAKAN & STRATEGI DITJEN HUBLA PADA TAHUN 2015-2019 TERKAIT PERKUATAN KONEKTIVITAS NASIONAL UNTUK MENCAPAI TUJUAN

PEMBANGUNAN

 Meningkatkan kapasitas infrastruktur transportasi dan sistem yang

terintegrasi dari multimodal dan intermodal untuk menurunkan angka backlog dan bottleneck fasilitas kapasitas infrastruktur dan transportasi untuk intermodal dan antarpulau berdasarkan sistem transportasi nasional dan cetak biru transportasi multimoda

 Meningkatkan pelayanan transportasi di daerah rawan bencana, perbatasan

negara, pulau terluar dan wilayah non komersial

 Peningkatan investasi swasta untuk penyediaan layanan pelabuhan

 Pembangunan infrastruktur pelabuhan dan suprastruktur melalui skema pembiayaan yang inovati

 Pengembangan 24 pelabuhan strategis untuk mendukung jalan raya maritim  Pengembangan fasilitas pelabuhan untuk pelabuhan non komersial

 Mempercepat pembangunan fasilitas pelabuhan di daerah perbatasan, daerah terluar, daerah terpencil dan wilayah rawan bencana

TARGET

(10)

KEPELABUHANAN KESELAMATAN DAN KEAMANAN PELAYARAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN ANGKUTAN DI PERAIRAN PERLINDUNGAN LINGKUNGAN MARITIM PP NO 20/2010 JO PP NO 22/2011  Cabotage  Angkutan untuk

daerah tertinggal atau terpencil  Pemberdayaan industri pelayaran nasional PP NO 61/2009 JO PP 64/2015  Menghapus Monopoli  Menciptakan kesempatan yang lbh luas utk investasi  Menciptakan kompetisi

yang sehat

 Pemisahan Fungsi Regulator & Operator

PP NO 5/2010  Penyelenggaraan SBNP  Alur Pelayaran PP NO 21/2010  Pencegahan dan penanggulangan pencemaran laut dari kapal

(11)

KEBIJAKAN TRANSPORTASI LAUT

BIDANG

ANGKUTAN LAUT

IMPLEMENTASI

 Penerapan Azas Cabotage pada penyelenggaraan angkutan laut nasional sehingga angkutan laut dalam negeri seluruhnya dilayani oleh kapal-kapal berbendera Indonesia

 Pemenuhan Domestic Connectivity dengan pengembangan

armada niaga nasional dan armada kapal perintis serta pengaturan jaringan trayek angkutan laut dengan

memberikan insentif kepada kapal-kapal dengan trayek tetap dan teratur,

 Penerapan INAPORTNET pada pelabuhan utama guna mendukung National Single Windows (NSW)

STRATEGI :

• Meningkatkan peran armada angkutan laut nasional terutama untuk angkutan domestik antar pulau.

• Melanjutkan kewajiban pemerintah memberikan pelayanan angkutan laut perintis untuk wilayah terpencil dan kawasan perbatasan.

• Mempercepat Pengimplementasian Sistem Inaportnet Dalam Rangka

Mendukung Penerapan National Single Window di Indonesia

(12)
(13)

STRUKTUR PELABUHAN DI INDONESIA

Berdasarkan Keputusan Menhub No. KP 901 TAHUN 2016

1661 TERSUS & TUKS

(Desember 2016) 1864 PELB NON KOMERSIAL DIKELOLA OLEH PEMERINTAH 111 PELB KOMERSIAL DIOPERASIKAN OLEH: - PT. PELINDO I - IV - BP SABANG - BP BATAM 3672 PELABUHAN & TERMINAL 2011 PELABUHAN/TERMINAL UMUM (Sampai 2030) PELB UTAMA 30 PELB PENGUMPUL 185

PELB PENGUMPAN REG 103

PELB PENGUMPAN REG 53

PELB PENGUMPAN LOK 22

PELB PENGUMPAN LOK 336

RENC LOKASI (LOKAL) 1246 TERMINAL UMUM 36 340 PELB UNT MELAYANI ANGK LAUT 389 WILKER 36 TERMINAL UMUM DIKELOLA OLEH BUP

KELAS I 126 KELAS II 161 KELAS III 159 446 PELB LAUT MELAYANI PENYEBERANGAN PENGUMPUL 37 PENGUMPAN 676

713 PELB SUNGAI & DANAU

(14)

No. HUB

1 Pelabuhan Belawan / Kuala Tanjung* 2 Pelabuhan Tg. Priok

3 Pelabuhan Tg. Perak 4 Pelabuhan Makassar 5 Pelabuhan Bitung *

• Konsep Tol Laut : penyelenggaraan angkutan laut secara tetap dan teratur (Liner) yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan dari Barat hingga ke Timur, dengan menggunakan kapal-kapal berukuran besar sehingga diperoleh manfaat ekonomisnya (harga per satuan barang menjadi lebih rendah)

• Pada Prinsipnya, Tol Laut merupakan penataan rute tetap (liner) terhadap rute yang sudah ada, yang keberhasilannya diperlukan langkah-langkah : • Mengefisienkan sistem transportasi maritim Indonesia;

• Kelembagaan dan regulasi serta pendanaan; • Dukungan lintas sektoral

KEBIJAKAN TRANSPORTASI LAUT

PEMBANGUNAN POROS MARITIM NASIONAL /TOL LAUT

BELAWAN BATAM SURABAYA MAKASAR SORONG MALAHAYATI P.BAI PONTIANAK JAMBI PALEMBANG BITUNG AMBON JAYAPURA BANJARMASIN BALIKPAPAN SAMARINDA KUPANG SEMARANG PANTOLOAN PANJANG KENDARI TERNATE TELUK BAYUR SAMPIT TJ PRIOK No. FEEDER 1 Pelabuhan Malahayati 2 Pelabuhan Batam

3 Pelabuhan Jambi (Talang Duku) 4 Pelabuhan Palembang 5 Pelabuhan Panjang 6 Pelabuhan Teluk Bayur 7 Pelabuhan Tg. Emas / Semarang 8 Pelabuhan Pontianak

9 Pelabuhan Banjarmasin 10 Pelabuhan Sampit

11 Pelabuhan Balikpapan / Kariangau 12 Pelabuhan Samarinda / Palaran 13 Pelabuhan Tenau / Kupang 14 Pelabuhan Pantoloan 15 Pelabuhan Ternate 16 Pelabuhan Kendari 17 Pelabuhan Sorong 18 Pelabuhan Ambon 19 Pelabuhan Jayapura

Rencana Pelabuhan Hub Rencana Pelabuhan Feeder

(15)

PETA JARINGAN TRAYEK TOL LAUT TA. 2016

No Pangkalan Distribusi

Kode

Trayek Jaringan Trayek

Jumlah

Jarak (MIL) Kapasitas Keterangan 1 Tg. Perak T-1 Tg. Perak -700- Wanci -290- Namlea Fakfak -182- Kaimana -215- Timika -215- Kaimana -182- Fakfak

-326-Namlea -290- Wanci -700- Tg. Perak 3426 115 TEUS Sudah berjalan 2 Tg. Perak T-2 Tg. Perak -731- Kalabahi -232- Moa Saumlaki -240-Dobo -510- Merauke -510- Dobo -240- Saumlaki

-224-Moa -232- Kalabahi -731- Tg. Perak 3874 350 TEUS Sudah berjalan 3 Tg. Perak T-3 Tg. Perak -656- Larantuka -32- Lewoleba Rote -80- Sabu -119- Waingapu -119- Sabu -80- Rote

-152-Lewoleba -32- Larantuka -656- Tg. Perak 2078 115 TEUS Sudah berjalan 4 Tg. Priok T-4 Tg. Priok -794- Makassar -1078- Manokwari -120- Wasior -110- Nabire Serui -120- Biak -120- Serui

-100-Nabire -110- Wasior -120- Manokwari -1078- Makassar -794- Tg. Priok 4644 350 TEUS Sudah berjalan 5 Makassar T-5 Makassar -780- Tahuna -100- Lirung -152- Morotai -27- Tobelo Ternate -97- Babang -97- Ternate

-150-Tobelo -27- Morotai -152- Lirung -100- Tahuna -780- Makassar 2608 350 TEUS Sudah berjalan

(SK Dirjen Hubla AL.108/6/2/DJPL-15 Tanggal 26 Oktober 2015 J.O. SK Dirjen Hubla No AL.108/7/8/DJPL-15 Tanggal 21 Desember 2015 )

KM. CARAKA JN III-22

KM. CARAKA JN III-32

(16)

T-7 T-8

T-9

RENCANA 3 TRAYEK TAMBAHAN TOL LAUT TA. 2017

T-7 : Tg. Priok –286- Enggano Mentawai -174- Pulau Nias -113- Sinabang -113- Pulau Nias -174- Mentawai

-340-Enggano -286- Tg. Priok (Total: 1826 Mil Laut)

T-8 : Tg. Perak -82- Bawean -433- Belang Belang -207- Sangatta -318- Pulau Sebatik -318- Sangatta -207- Belang

Belang -433- Bawean -82- Tg. Perak (Total: 2080 Mil Laut)

T-9 : Tg. Perak Kisar -308- Namrole -299- Gebe -170- Tobelo -170- Gebe -299- Namrole -308- Kisar

(17)

OVERVIEW PENGEMBANGAN

PELABUHAN DI INDONESIA

(18)

SUBANG – JAWA BARAT

DKI JAKARTA BANDUNG Cirebon SUBANG Indramayu KAB. SUBANG KAB. INDRAMAYU PLTU Indramayu RENCANA PELABUHAN PATIMBAN Karawang

Long Term (Phase III) Mid Term (Phase II) Short Term (Phase I-2) Short Term (Phase I-1)

PHASE 1 (STAGE 1)  CONTAINER TERMINAL 300 M (CAPACITY 250,000 TEUS)  CAR TERMINAL 250 M (CAPACITY 217,391 PHASE 1 (STAGE 2)  CONTAINER TERMINAL 1860 M OF TOTAL 2160 M (CAPACITY 3,500,000 OF TOTAL 3,750,000 MILLION TEUS)

 CAR TERMINAL 440 M OUT OF 690 M (CAPACITY 382,609 OF TOTAL 600.000 CBU)  CONTAINER TERMINAL 840 M OF TOTAL 3000 M (CAPACITY 1,458,333 OF TOTAL 5.208.333 TEUS) PHASE 2  CONTAINER TERMINAL 1320 M OF TOTAL 4,320 M PHASE 3

(19)

Prakiraan Biaya Investasi :

Term. Petikemas Fase I

Lapangan Penumpukan : 120,000 m2 Dermaga : 350 m

Reklamasi + Lap. penumpukan : ± USD 73 M Dermaga : ± USD 23 M Peralatan : ± USD 70 M

FASILITAS EKSISTING PENGEMBANGAN

A : Term. Petikemas Fase I → Reklamasi oleh Pemerintah (IDB Loan) dan Terminal Petikemas akan

dioperasikan melalui Konsesi

B : Term. Petikemas FaseII → konstruksi oleh PT. Pelindo I (Persero) sebagai pemegang konsesi dari Otoritas

Pleabuhan Utama Belawan

Rencana Induk Pelabuhan Belawan telah ditetapkan oleh Menteri Perhubungan No. PM 21 Tahun 2012

(20)
(21)

TERMINAL PETIKEMAS

Diasumsikan demand petikemas pada Terminal Hub Internasional sebesar 13 Juta TEUS, sedangkan demand pada Terminal Multipurpose sebagai berikut:

RIP KUALA TANJUNG NOMOR KP 148 TAHUN 2016 TERMINAL MULTIPURPOSE TAHAP I

(22)

PENGEMBANGAN TERMINAL TELUK LAMONG

PROGRESS

1. PT. Pelindo III (persero) telah menyelesaikan pembangunan Tahap I dengan luas lahan± 38,86 Ha yang meliputi :

• Dermaga petikemas internasional (500 x 50 m); • Dermaga petikemas domestik (450 x 30 m);

• Lapangan Penumpukan Curah kering dan Petikemas (CY) dengan luas = 23,86 Ha; • Fasilitas penunjang lainnya.

2. Telah dilakukan penandatanganan Perjanjian Konsesi tanggal 19 Mei 2015 antara OP Utama Tanjung Perak dengan PT. Pelindo III (Persero)

RENCANA PENGEMBANGAN S.D TAHAP IV DAN AREA INDUSTRI

KONDISI EKSISTING (PENGEMBANGAN TAHAP I)

(23)

RENCANA PENGEMBANGAN MAKASSAR NEW PORT

Lokasi eksisting Pelabuhan Makassar

Makassar New Port

Terminal Petikemas sepanjang: 320 x 27 m2

Lapangan Penumpukan: 16 Ha

Kapasitas: 400.000 TEUs

Nilai Investasi: 1,89 T

Jangka Waktu Konsesi: 70 Tahun

(24)

RENCANA LOKASI PENGEMBANGAN PELABUHAN BITUNG

SEBAGAI HUB INTERNASIONAL

PENGEMBANGAN DI LOKASI EKSISTING PENGEMBANGAN DI LOKASI KEK

PENGEMBANGAN DI LOKASI PULAU LEMBEH

Rencana lokasi Pengembangan Pelabuhan Bitung sebagai Hub Internasional Kapasitas Petikemas

(TEUs)

Panjang Dermaga

(m)

(25)

BITUNG DEVELOPMENT

AS HUB INTERNATIONAL PORT CAPACITY(TEUS) LENGTH (M)WHARF

1. Bitung Port Development in Existing

Location 1.500.000 850

2. Bitung Port Development in SEZ 600.000 410 3. Bitung Port Development in Lembeh Island 600.000 410

TOTAL 3.700.000 1670

(26)

Project Timeline :

CT Phase I (38.86 Ha)

Construction has finished & prepare for operation (950 m length wharf and container yard 23.86 Ha)

CT Phase II

Preparation for Construction: year of 2015

CT Phase I I-IV

Container Yard : 238,000 m2 Wharf : 1160 m length

Total estimated investment (infrastructure & equipment): ± USD 1,627 M

Executing Agency :

Director General of Sea Transportation

DETAIL USED TO CAPACITY (METER)LENGTH (METER)BREAD (MLWS)DRAFT WHARF Internasional

Container 435.456 Teu’s 500 50 -14

WHARF Domestic

Container 342.144Teu’s 450 30 -13

BRIDGE 1 CausewayInland to 3 lane ± 800 12,5

-BRIDGE 2 Causeway to Wharf 4 lane ± 970 16

-CAUSEWAY Access road 6 lane

CONTAINER

(27)

ESTIMATED COST

CT Phase I

Container Yard : 460,000 m2  Wharf : 1000 m length  Total estimated investment : ± USD 431 M

Project Timeline :

CT Phase I Section 1 (320 m Wharf) – PT. Pelindo IV as Concessionaire

Land acquisition & Construction for Access Road (2015)

Construction for Wharf & Container (2017)

CT Phase I Section 2 & 3 (680 m Wharf) – Open for Investment

Market Sounding & Bidding for Investment (2015-2016)

Executing Agency :

(28)

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun katu fermentasi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap warna karkas, tidak menurunkan berat karkas dan

Dapat di simpulkan bahawa, kualitas kehidupan kerja adalah respon perusahaan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan karyawan seperti tunjangan-tunjangan, gaji, bonus,

Pada proses pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan di proyek Apartemen LA MAISON BARITO yang dilaksanakan selama kurang lebih 12 minggu, secara umum progress

2) Judul lampiran ditempatkan 1,5 spasi di atas lampiran ( lihat contoh ). 3) Nomor dan judul lampiran ditulis di sudut kiri atas (left aligned) halaman dengan huruf tegak

Badan Ridho yang lebih besar darinya, serta hukum alam yang dengan jelas menunjukkan bahwa laki-laki memiliki kekuatan fisik yang lebih dibandingkan perempuan,

2) Menyebarluaskan informasi dan prosedur pemanfaatan Program Tenaga Sukarela KOICA di Indonesia kepada institusi-institusi terkait.. 3) Menentukan lnstitusi

However, the SILK layer cases produce better performance as could be seen in the VoIP application selection performance results with the speech data (Table 6). The remaining

Pada tanggal 21 April 2007, rangkaian KA 174A yang berjalan pada Km 220 hingga Km 223 diberlakukan perjalanan KA secara BH (berjalan hati-hati) sesuai dengan Bentuk No 8 (Bentuk