Pros. SemNas. Peningkatan Mutu Pendidikan Volume 1, Nomor 1, Januari 2020
Halaman 536 - 541 E-ISSN: 2745-5297
Pelatihan Guru pembina olimpiade sains nasional bidang IPA
di Sekolah Dasar
Dea Stivani Suherman , Fanny Rahmatina Rahim, dan Syamsu Arlis
Universitas Negeri Padang, Jln. Prof. Hamka, Padang, Sumatera Barat, IndonesiaEmail: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya kompetensi guru dalam pembinaan olimpiade sain nasional untuk siswa sekolah dasar. Tujuan pengabdian ini adalah memberikan pelatihan guru pembina olimpiade sain nasional bidang IPA disekolah dasar. Metode pelaksanaan yaitu orientasi awal, praktek terbimbing, dan praktek mandiri. Hasil pengabdian menunjukan adanya peningkatkan kemampuan guru dalam menjawab soal olimpiade sains nasional bidang IPA disekolah dasar. Implikasi pengabdian ini dapat dijadikan acuan dalam proses peningkatan kemampuan olimpiade sains nasional guru sekolah dasar.
Kata kunci: pelatihan, olimpiade sain nasional, sekolah dasar
ABSTRACT
This research is motivated by the low competence of teachers in developing a national science olympiad for elementary school students. This service aims to provide training for teachers of national science Olympiad coaches in the field of science in elementary schools. The implementation methods are initial orientation, guided practice, and independent practice. The results of the dedication showed an increase in the ability of teachers to answer questions about the national science olympiad in the natural science field in elementary schools. The implications of this service can be used as a reference in the process of improving the ability of the national science Olympics of elementary school teachers.
1. PENDAHULUAN
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang alam dan sekitarnya (Kenedi, 2017). IPA merupakan sebuah pembelajaran yang berkaitan dalam proeses mengamati dan menganalisis fenomena-fenomena alam (Surahman, Paudi, & Tureni, 2015) IPA merupakan sebagai sebuah teori yang kebenaranya telah diuji mengenai pola-pola alam yang dapat diamati (Kleden & Uliyanti, 2010). IPA dapat diartikan sebagai sebuah interpretasi dan penyelidikan dari tubuh, fisik, lingkungan dan kejadian alam (Agustiningsih, 2015). IPA juga berarti ilmu yang berkaitan dengan gejala alam yang berasal dari hasil observasi dan hasil eksperimen (Rahman & Marli, 2014). Oleh sebab itu IPA dapat disimpulkan sebagai ilmu yang berkaiatan dengan fenomena maupan gejala alam dan sekitarnya yang didapati dari proses observasi dan eksperimen.
Pembelajaran IPA merupakan pembelajaran yang wajib dibelajarkan disekolah dasar. Hal ini dikarenakan pembelajaran IPA memiliki kaitan yang erat dengan proses kehidupan sehari-hari. Pembelajaran IPA bertujuan untuk mengembangkan rasa ingin tahu siswa dan mengembangkan kemampuan bertanya jawab mengenai fenomena dan gejala alam serta meningkatkan kemampua berpikir secara ilmiah (Rini, Tangkas, & Said, 2014). Kementrian pendidikan dan kebudayaan menyatakan bahwa IPA memiliki berbagi tujuan antara lain meningkatkan nilai religius melalui keyakinan kepada Tuhan yang Maha Kuasa, megembangkan pengetahuan mengenai konsep IPA, meningkatkan kesadaran mengenanai hubungan IPA, masyarakat dan teknologi, mengembangkan keterampilan proses siswa, meningkatkan kepedulian lingkungan sisa, serta meningkatkan untuk menghargai kondisi alam (Aldarmono, 2015). IPA mampu menuntut siswa untuk mamahami alam sekitanya.IPA juga dapat mengembangkan keetrampilan-keterampilan lainya seperti keterampilan proses, berpikir kritis dan kreatif yang bertujuan untuk membantu siswa dalam memecahkan permasalahan sehari-hari (Kiswanto, 2017). IPA mengembangkan sikap ilmiah yang bertuuan untuk menjalin hubungan dengan alam, sesama makhluk dan menyadari akan kebesaran tuhan yang maha esa (Widiadnyana, Sadia, & Suastra, 2014). Selain itu IPA juga membekali siswa untuk melanjutkan pendidikanya ke jenjang yang lebih tinggi (Sulthon, 2016). Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA bertujuan untuk mendampingi siswa untuk dapat hidup dengan alam pada kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu IPA perlu diajarkan secara maksimal oleh guru dalam proses pembelajaran di sekolah dasar.
Namun tujuan tersebut belum dapat terlaksana dengan baik. Hal ini didasari oleh fakta penelitian lembaga peneliti dunia PISA (Programme for International Student Assesment) pada tahun 2015 menyatakan indonesia menduduki peringkat sains 63 dari 73 peserta dunia (Safitri & Mayasari, 2018). Hal
ini membuktikan bahwa siswa Indonesia masih belum mampu mencapai tujuan pembelajaran IPA secara maksimal. Oleh sebab itu perlunya upaya untuk meningkatkan kualitas IPA siswa di Indonesia.
Peningkatatan ini dimulai dari tingkat sekolah dasar. Sekolah dasar memiliki peranan besar dalam mengembangkan IPA siswa. Sekolah dasar merupakan pendidikan formal pertama (Kenedi et al, 2019). Sehingga apabila IPA dibelajarkan secara maksimal akan berpengaruh kepada proses dan kemampuan siswa selanjutnya. Pada sekolah dasar perlunya upaya meningkatkan kemampuan siswa pada bidang IPA agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran IPA.
Fakta menyatakan bahwa banyak siswa yang memiliki potensi lebih terhadap pembelajaran IPA (Astalini et al, 2019). Artinya pada proses pembelajaran disekolah dasar guru harus mampu mengembangkan potensi-potensi lebih yang dimiliki oleh siswa sekolah dasar, termasuk siswa yang memiliki minat dan bakat terhadap pembelajaran IPA. Hal ini perlu adanya upaya khusus oleh guru untuk mengembangkan potensi lebih yang dimiliki oleh siswa. Termasuk pada pembelajaran IPA. Guru harus memfasilitasi siswa sekolah dasar yang memiliki potensi lebih dalam pembelajaran IPA agar potensi tersesbut dapat disalurkan dengan baik dan tepat. Hal ini juga didukun oleh peraturan pemerintan nomor 17 tahun 2010 tentamg pengelolaan pendidikan. Peraturan tersebut menatakan bahwa guru harus mampu membina siswa yang memiliki kercerdasan lebih baik dibidang pengetahuan, teknologi, seni, dan/ atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. Guru harus mampu mengembangkan potensi tersebut dengan maksimal.
Pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan juga telah memfasilitasi sarana untuk melakukan pengukuran dalam bentuk perlombaan bagi siswa yang memiliki potensi lebih, tidak terkecuali siswa yang memiliki potensi lebih dalam bidang IPA. Salah satu upaya pemerintah adalah menyelenggarakan dan mengembangkan olimpiade sains nasional tingkat sekolah dasar yang dikenal dengan OSN-SD.
OSN-SD merupakan salah satu cara untuk mengukur potensi siswa terhadap proses pemebelajaran IPA. OSN-SD ini bertujuan untuk mengembangkan potensi dan jiwa kompotensi siswa sekolah dasar. Materi yang dikembangkan dalam OSN-SD merupakan materi yang berada pada kurikulum SD namun disesuaikan dengan tingkat penalaran yang lebih tinggi. Sehingga materi tersebut tidak disediakan didalam buku yang dipakai oleh guru dan siswa pada pembelajaran IPA sehari-hari. Oleh sebab itu guru memiliki peranan yang penting dalam membina siswa sekolah dasar yang akan mengikuti OSN-SD ini.
Namun berdasarkan penyebaran angket yang peneliti lakukan disalah satu kota disimpulkan bahwa guru kurang mampu dalam melakukan pembinaan
terhadap siswa sekolah dasar yang akan melaksanakan OSN-SD. Adapun guru yang membina masih mengajarkan materi yang berada pada buku sekolah yang biasa dipakai dalam proses pembelajaran sehari-hari. Hal ini berdampak kepada jarangya siswa sekolah dasar yang mampu memenangkan OSN-SD tersebut. Guru juga meminta adanya pelatihan untuk pengembangan kegiatan tersebut.
Berdasarkan analisis peneliti terhadap hasil angket tersebut adalah rendahnya kemampuan guru dalam melakukan pembinaan OSN-SD dalam mempersiapkan siswa sekolah dasar mengikuti ajang tersebut sehingga perlunya diberikan pelatihan untuk guru SD dalam rangka pembinaan persiapan OSN-SD. Oleh sebab itu tujuan pengabdian ini adalah memberikan pelatihan kepada guru SD dalam membina OSN-SD dibidang IPA.
2. METODE PENELITIAN
Pengabdian ini dilaksanakan untuk guru sekolah dasar di Kota Bukittinggi sebanyak 20 orang. Metode pelaksanaan yang dilakukan bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang dialami oleh mitra. Dalam PKM ini metode yang digunakan adalah orientasi awal, praktek terbimbing, dan praktek mandiri.
Orientasi awal bertujuan untuk mengurus administrasi surat- menyurat, alat bahan pendukung PKM, materi pengabdian, dan instrumen yang digunakan selama PKM. Praktek terbimbing bertujuan menyelesaikan soal-soal OSN IPA dibimbing oleh tim pengabdi. Praktek mandiri menyelesaikan soal-soal OSN IPA yang bertujuan untuk melihat kepemahaman guru dalam memahami materi OSN-SD.
Evaluasi terdiri dari dua tahapan yaitu evaluasi awal dan evaluasi akhir. Pengabdian dikatakan berrhasil jika terjadinya peningkatan pengetahuan guru dalam menjawab soal OSN-SD.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan dilaksanakan dalam dua pembagian utama yaitu praktek mandiri dan praktek terbimbing. Adapun penjelasanya sebagai berikut
Pada praktek terbimbing guru diajarkan mengenai kisi-kisi OSN-SD. Awal penyajian materi, pemateri menyampaikan bahwa OSN-SD bidang IPA bertujuan agar siswa mampu melakukan analisis terhadapa fenomena alam yang terjadi. Pemateri menytakan bahwa OSN-SD bidang IPA perlu dikembangkan didalam pembelajaran SD. Hal ini dikarenakan pembelajaran IPA memiliki dampak yang besar terhadap proses kehidupan siswa SD. Selain itu dengan diikutkannya siswa SD pada kegiatan OSN-SD akan menimbulkan jiwa kompetitif siswa. Inilah yang perlu dikembangkan pada abad 21. Pemateri menyajikan materi dapat dilihat pada gambar 1.
Setelahnya pemeteri menyampaikan bahwan materi OSN-SD merupakan materi yang ada didalam kurikulum SD/MI. Namun adanya peningkatan bentuk kajian dari soal rutin diganti menjadi soal tidak rutin. Selain itu materi yang dikembangkan dijadikan materi yang bersifat higher order thinking skill (HOTS). Pemateri menyatakan ada tiga belas materi yang ada pada OSN-SD bidang IPA yaitu keterampilan dan metode ilmiah; pengelompokan makhluk hidup; proses dan mekanisme yang terjadi pada makhluk hidup; interaksi organiseme dan hewan langka; perkembangan dan permasalahan kesehatan, lingkungan dan teknologi; mekanika; wujud benda; listrik dan kemagnetan; gelombang dan optik; suhu dan panas; energi dan perubahanya; struktur atom; serta bumi, tatasurya dan galaksi. Pemateri menjelaskan satu persatu ruang lingkup dan contoh yang berkatitan dengan materi tersebut. Terlihat pada sesi ini guru semangat dan aktif memberikan respon terhadap materi yang diberikan oleh pemateri.
Gambar 2. Guru Melakukan Praktek terbimbing
Kegiatan selanjutnya adalah praktek mandiri. Guru diminta untuk mengerjakan soal-soal yang berhubungan dengan materi yang telah diajarkan oleh pemateri sebelumnya. Hal ini juga bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman guru terhadap soal OSN-SD bidang IPA. Guru melakukan praktek terbimbing dapat dilihat pada gambar 2.
Setelah guru menjawab soal tersebut lembaran jawaban dikumpulkan dan akan dianalisis oleh tim pengabdi. Setelahnya soal yang diujikan tadi diperiksa kembali secara bersamaan untuk meluruskan jawaban guru yang telah dibuat pada proses pelaksanaan praktek terbimbing tersebut.
Setelah meluruskan jawaban kegiatan diakhiri, gambar 3. Namun tim pengabdi melakukan analisis terhadap hasil jawaban guru. Pada studi pendahuluan tim pengabdi jug atelah mengukur kemampuan awal guru sehingga kita dapat mengetahui kemampuan awal dan kemampuan sesudah diberikan pelatihan. Adapun hasil keduanya dapat dilihat pada gambar 4.
Berdasarkan gambar 4 dapat terlihat bahwa guru memiliki rata-rata kemampuan awal sebesar 30 dan meningkatkan menjadi 74 setelah diberikan pelatihan. Hal ini membuktikkan terjadinya peningkatan kemampuan guru setelah diberikan pelatihan. Sehingga pengabdian ini dinyatakan berhasil karena telah memenuhi indikator keberhasilan.
Peningkatan ini terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor. Diawal studi pendahuluan guru menyatakan
bersedia diberikan pelatihan ini dikarenakan OSN-SD perlu dikembangkan kepada siswa sekolah dasar agar dapat berprestasi. Hal ini membuktikan bahwa guru SD memiliki motivasi yang tinggi untuk mengikuti pelatihan ini. Motivasi memiliki kaitan erat terhadap prestasi belajar (Fatmasari, 2014). Motivasi merupakan dorongan yang mampu membuat seseorang untuk melakukan sesuatu (Emda, 2018). Dengan adanya harapan guru untuk berubah maka dalam pribadi guru dorongan untuk belajar giat agar dapat mengikuti pelatihan ini. Keaktifan guru dalam proses pelaksanaan pelatihan juga merupakan salah satu indikator terjadinya peningkatan kemampuan guru. Dalam proses pelatihan guru terlihat aktif merespon semua penyajian yang diberikan oleh pemateri. Keaktifan ini mampu mengembangkan pola pikir untuk mencari tahu lebih informasi yang diinginkan sehingga guru merasa perlu mencari informasi lebih giat lagi melalui proses bertanya jawab (Juwariah, Kumayadi, & Usodo, 2017). Semangat guru dalam proses pelatihan juga menjadi faktor yang mampu meningkatkan kemampuan guru. Kegiatan ini dilakukan dengan beberpa kali pertemuan diluar jam mengajar namun guru masih semangat untuk mengikuti. Semangat memberikan suasana yang efektif. Sehingga guru mudah memahami materi dalam pelatihan (Alwi, Sylvana, & Risnaashari, 2017). Faktor-faktor tersebutlah yag mampu meningkatkan kemampuan guru tersebut.
Gambar 4. Grafik Peningkatan Kemampuan Guru
4. SIMPULAN
Berdasarkan pengabdian yang dilaksanakan terjadinya peningkatkan kemampuan guru dalam menjawab soal olimpiade sains nasional bidang IPA disekolah dasar.
5. UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih kepada Universitas Negeri Padang yang telah membantu pengabdian ini melalui dana PNPB Universitas sehingga pengabdian ini dapat dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA
Agustiningsih, Y. (2015). Pengelolaan Pembelajaran Sains Kelas Iv Sd Muhammadiyah Alam Surya Mentari Surakarta (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Aldarmono, A. (2015). Pendekatan Edutainment Dalam Pembelajaran IPA SD. Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial, 9(2), 61-75.
Alwi, M., Sylvana, A., & Risnaashari, R. (2017). Pengaruh Semangat Kerja Pegawai Terhadap Keefektifan Organisasi Unit Program BelajarJarak Jauh Universitas Terbuka Makassar. JAKPP (Jurnal Analisis Kebijakan & Pelayanan Publik), 2(1), 31-46.
Astalini, A., Kurniawan, D. A., Melsayanti, R., & Destianti, A. (2019). Sikap Terhadap Mata Pelajaran Ipa Di SMP Se-Kabupaten Muaro Jambi. Lentera Pendidikan: Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 21(2), 214-227.
Emda, A. (2018). Kedudukan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran. Lantanida Journal, 5(2), 172-182.
Fatmasari, F. (2014). Pengaruh Motivasi Kerja Dan Kemampuan Mengajar Guruterhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Gugus Iisekolah Dasar Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah. Jurnal Ilmiah Didaktika: Media Ilmiah Pendidikan dan Pengajaran, 14(2), 426-441. Juwariah, N., Kusmayadi, T. A., & Usodo, B. (2017).
Pola Pikir (Mindset) Guru Dalam Menerapkan Pendekatan Saintifik Pada Pembelajaran
Matematika Ditinjau Dari Gender. Jurnal Pembelajaran Matematika, 3(4),418-427.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2014). Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Depdikbud
Kenedi, A. K. (2017). Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Ipa Dengan Menerapkan Strategi Problem Based Learning (PBL) Di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(1), 17-32. Kenedi, A. K., Helsa, Y., Ariani, Y., Zainil, M., &
Hendri, S. (2019). Mathematical Connection of Elementary School Students to Solve Mathematical Problems. Journal on Mathematics Education, 10(1), 69-80.
Kiswanto, A. (2017, September). The Effect Of Learning Methods And The Ability Of Students Think Logically To The Learning Outcomes On Natural Sciences Of Grade IvS Student. In 9th International Conference for Science Educators and Teachers (ICSET 2017). Atlantis Press. Kleden, C. P., & Uliyanti, E. (2010). Peningkatan
Hasil Belajar Siswa Menggunakan Media Gambar pada Pelajaran IPA di Sekolah
Dasar. Jurnal Pendidikan dan
Pembelajaran, 4(12),1-10.
Rahman, A., & Marli, S. (2014). Peningkatan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Energi dan Penggunaanya melalui Metode Eksperimen di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 3(7),1-10.
Rini, R., Tangkas, I. M., & Said, I. (2014). Meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan metode demonstrasi pada mata pelajaran IPA di kelas III SDN Inpres Tunggaling. Jurnal Kreatif Online, 2(1), 67-81. Safitri, Y., & Mayasari, T. (2018, May). Analisis
tingkat kemampuan awal siswa SMP/MTS dalam berliterasi sains pada konsep IPA. In Quantum: Seminar Nasional Fisika, dan Pendidikan Fisika (pp. 165-170).
Sulthon, S. (2016). Pembelajaran IPA Yang Efektif
Dan Menyenangkan Bagi Siswa
Surahman, S., Paudi, R. I., & Tureni, D. (2015). Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPA Pokok Bahasan Makhluk Hidup Dan Proses Kehidupan Melalui Media Gambar Kontekstual Pada Siswa Kelas II SD Alkhairaat Towera. Jurnal Kreatif Online, 3(4), 91-107.
Widiadnyana, I. W., Sadia, I. W., & Suastra, I. W. (2014). Pengaruh model discovery learning terhadap pemahaman konsep IPA dan sikap ilmiah siswa SMP. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia, 4(1),1-10.