ANCAMAN TERHADAP
BERUANG MADU (Helarctos malayanus Raffles, 1821)
REPOSITORY
OLEH
BINAR ROBINSON MANURUNG
NIM. 1603115622
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2020
1
ANCAMAN TERHADAP BERUANG MADU (Helarctos malayanus Raffles, 1821) Binar Robinson Manurung1)*, Rr. Sri Catur Setyawatiningsih2)
1)Mahasiswa Program Studi S1 Biologi 2)Dosen Bidang Ekologi Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau Kampus Bina Widya Pekanbaru, 28293, Indonesia
ABSTRACT
The Malayan sun bear (Helarctos malayanus) is one of the largest mammals in Indonesia, residing in Kalimantan and Sumatra. This species is threatened with extinction due to the reduced population and habitat caused by natural and human disturbances. This paper identifies and describes threats to sun bear populations. Data collection includes literature and literature studies. The sun bear population faced threats due to human activities in the form of illegal hunting, deforestation and forest fragmentation through encroachment and logging.
Keywords: fragmentation, sun bear, enclave, competition
ABSTRAK
Beruang madu (Helarctos malayanus) adalah salah satu mamalia terbesar di Indonesia, yang berada di Kalimantan dan Sumatera. Jenis tersebut terancam punah oleh karena berkurangnya populasi dan habitatnya yang disebabkan oleh gangguan secara alami dan gangguan yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Penulisan ini mengidentifikasi dan mendeskripsikan ancaman terhadap populasi beruang madu. Pengumpulan data meliputi studi kepustakaan dan literatur. Populasi beruang madu menghadapi ancaman akibat aktiviatas manusia berupa perburuan ilegal, deforestrasi dan fragmentasi hutan melalui perambahan dan pembalakan hutan.
2
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara megabiodiversity yang menempati urutan pertama dalam hal kekayaan mamalia dengan 515 jenis dan menjadi habitat dari 1539 jenis unggas serta sekitar 45% jenis ikan di dunia hidup di Indonesia. Tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia sebanding dengan luas hutan yang mencapai 94,1 juta ha termasuk pulau Sumatra seluas 11,4 juta ha (KLHK 2020). Hutan hujan tropis Sumatera merupakan habitat penting bagi banyak mamalia besar yang
terancam punah, seperti: gajah,
harimau, orangutan dan beruang madu (Hedges et al. 2005; Linkie et al. 2006; Campbell-Smith et al. 2011).
Beruang madu (Helarctos malayanus Raffles, 1821) merupakan salah satu jenis satwa dari ordo carnivora tetapi bersifat omnivora. Makanan beruang madu adalah madu, biji-bijian dari buah yang ada di hutan (19 famili pohon seperti Fabaceae, Lauraceae, dan Euphorbiaceae) dan serangga. Mengingat beruang madu sebagai seed dispersal (penyebar biji) dari buah-buahan yang mereka makan (McConkey dan Galetti 1999; Augeri 2005), maka dapat dikatakan bahwa beruang madu ikut berperan dalam proses regenerasi hutan (Powel 1997). Dengan demikian, satwa ini memiliki peran penting bagi ekosistem baik dalam penyebaran biji, menjaga populasi serangga.
Beruang madu di Indonesia tersebar di pulau Sumatra dan Kalimantan. Persebaran beruang madu berada di seluruh jenis hutan yang ada di dalamnya (Augeri 2005; Steinmetz 2011). Hal tersebut berkaitan dengan relung hidup beruang madu yang luas
sehingga jenis ini digolongkan sebagai opportunistik (Augeri 2005).
Kebijakan untuk melindungi beruang madu di Indonesia diterbitkan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, mengelompokkan beruang madu ke dalam satwa yang dilindungi. Berdasarkan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) di tahun 2008 menggolongkan beruang madu termasuk ke dalam golongan vulnerable sampai saat ini (IUCN 2019). Menurut Convention of International Trade in Endangered Species (CITES), beruang madu masuk ke dalam daftar Appendiks 1, sehingga beruang madu dilarang untuk diperjualbelikan dalam segala bentuknya (CITES 2018).
Berdasarkan data IUCN Species Survival Commision (SSC) Bear Specialist Group memperkirakan bahwa populasi beruang menurun sebesar 35 % sejak 30 tahun terakhir dan akan mengalami penurunan hingga 40% dalam beberapa tahun ke depan (Fredriksson et al. 2008). Oleh karena itu penulisan ini bertujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan ancaman penurunan populasi beruang madu.
METODE PENULISAN
Metode pengumpulan data penulisan ini adalah studi literatur, yaitu pengumpulan data dengan memanfaatkan sejumlah jurnal-jurnal sebagai penunjang dalam pengambilan teori dasar. Di samping itu juga digunakan bahan literatur berupa buku, internet, atau media lain yang ada
3
hubungannya dengan masalah karya tulis ini.
Hasil disajikan berdasarkan topik tulisan yang disusun menjadi kerangka tulisan kemudian data dikumpulkan, disarikan, disusun, dan ditafsirkan untuk kemudian dihasilkan sebuah simpulan. Simpulan dibuat dengan menggunakan pola pikir induktif yaitu menarik simpulan sebagian dari hasil penelitian serta sumber referensi data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keberadaann beruang madu saat ini mengalami ancaman terutama akibat aktivitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Ancaman langsung terhadap beruang madu berupa perburuan liar. Di pasar ilegal dan internasional, organ tubuh beruang madu diperjualbelikan sebagai obat dan dagingnya untuk dikonsumsi. Di Malaysia, kantung empedu beruang madu dimanfaatkan sebagai bahan baku pengobatan tradisional dari Tiongkok (Gomez et al. 2020). Pasar beruang madu di Cina dan Vietnam dilaporkan
sebagai pendorong utama dalam
perburuan beruang madu, khususnya sebagai obat tradisional dan daging di
Kamboja, Indonesia, Myanmar,
Thailand, dan Rusia (Burgess et al. 2014; Nijman et al. 2017; Livingstone
et al. 2018). Di Kalimantan, Bagian
tubuh beruang dijual sebagai suvenir atu
untuk tujuan dekorasi rumah
masyarakat termasuk gigi taringnya, cakar, tulang tengkorak kepala yang diukir secara tradisional Dayak, dan kulitnya (Meijaard, 1999).
Ancaman tidak langsung terhadap beruang madu berupa penurunan atau hilangnya habitat melalui deforestasi. Wong et al. (2013) menyatakan bahwa laju deforestrasi
yang tinggi mempengaruhi subpopulasi yang kecil, sedangkan laju deforestrasi yang rendah tidak mempengaruhi sub populasi beruang madu. Deforestrasi umumnya berupa alih fungsi lahan untuk untuk pemukiman, industri, pertanian,dan perkebunan. Meijaard (1999) memperkirakan habitat beruang madu hilang di Kalimantan sebesar 30-60% antara tahun 1960-1990, terutama melalui penebangan hutan dan konversi. Saat ini, sebagian besar beruang madu berada di kawasan lindung, seperti Suaka Marga Satwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Namun di dalam kawasan dilaporkan ada pemukiman penduduk (enclave). Letak pemukiman yang dekat dengan habitat beruang madu dilaporkan mempengaruhi kehadiran dan tingkat hunian beruang madu (Linkie et al. 2007). Aktivitas manusia tersebut membuat beruang madu merasa terganggu dan lebih memilih untuk menghindari manusia. Pada beberapa kondisi yang ekstrem, keberadaan pemukiman yang cenderung mendekati kawasan konservasi berpotensi menyebabkan terjadinya konflik atara beruang madu dengan manusia (Augeri 2005).
Di samping itu, adanya pemukiman di sekitar kawasan lindung meningkatkan ancaman terhadap penurunan luas habitat satwa melalui perambahan dan pembalakan. Kegiatan ini dapat menyebabkan habitat terfragmentasi. Menurut Wong et al. (2004), fragmentasi hutan akan menyebabkan ketersedian pakan beruang madu juga ikut terfragmensi, dimana pakan yang ada di dalam hutan akan mengikuti kondisi hutannya. Terfragmentasinya pakan beruang madu, akan berpengaruh juga terhadap wilayah jelajahnya. Beruang madu akan cenderung menghuni kawasan dengan
4
kondisi pakan yang masih baik. Penyempitan habitat ini meningkatkan resiko persaingan intraspesies yang berpengaruh terhadap keberadaan dan jumlah populasi.
Fragmentasi juga berpotensi terbentuknya subpopulasi. Jika antar fragmen habita tidak terdapat koridor, maka meningkatkan terbentuknya populasi yang kecil dan terisolasi. Akibatnya timbullah depresi perkawinan sedarah beruang madu yang berakibat pada tpenurunan variabilitas genetik (Poctor et al. 2005). Penurunan variabilitas genetik beruang madu mengancam keberadaan populasi di masa yang akan datang.
KESIMPULAN
Ancaman terhadap beruang madu dapat disebabkan oleh perburuan ilegal, dan adanya aktvitas manusia berupa deforestrasi dan fragmentasi hutan melalui perambahan, pembalakan hutan.
DAFTAR PUSTAKA
Augeri, DM. 2005. On the Biogeographic Ecology of the Malayan Sun Bear [disertasi]. Department of Anatomy Faculty of Biological Sciences University of Cambridge. Cambridge, UK. Central Borneo. Journal of Tropical Ecology 15: 237-241.
Burgess, EA., Stoner, SS., and Foley KE. 2014. Bring to bear: an
analysis of seizures across Asia (2000−2011). TRAFFIC, Petaling
Jaya, Selangor
Campbell-Smith, G., Campbell-Smith, M., Singleton, I. and Linkie, M. (2011). Apes in space: saving an
imperilled orangutan population in Sumatra. PLoS ONE 6, 1–8. CITES. 2018. Export Quotas for
Specimens of Species Included in the CITES Appendices. http://www.cites.org. [18 September 2019].
Fredriksson, G., Steinmetz, R., Wong, S., dan Garshelis, DL. (IUCN SSC Bear Specialist Group) (2008). Helarctios malayanus. IUCN (2013). IUCN Red List of
Threatened Species. Version
2013.1. www. Iucnredlist.org.
Viewed on 26 October 2020\ Gomez, L., Shepherd, CR. and Khoo,
M.S. 2020. Illegal trade of sun bear parts in the Malaysian states of Sabah and Sarawak. Endang
Species Res. 41: 279–287
Hedges, S., Tyson, M.J., Sitompul, A.F., Kinnard, M.F., Gunaryadi, D. and Aslan (2005). Distribution, status, and conservation needs of Asian elephants (Elephas maximus) in Lampung Province, Sumatra, Indonesia. Biol. Conserv. 124, 35–48.
Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 2020. Hutan dan Deforestasi Indonesia Tahun 2019.
http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pe rs/browse/2435
Linkie, M., Dinata, Y., Nugroho, A., and Haidir, IA. 2007. Estimating occupancy of a data deficient mammalian species living in tropical rainforests: sun bears in the Kerinci Seblat region, Sumatra. Biological Conservation 137: 20-27.
5
Linkie, M., Chapron, G., Martyr, DJ., Holden, J., and Leader-Williams, N. 2006. Assessing the viability of tiger subpopulations in a fragmented landscape. J. Appl. Ecol. 43, 576–586.
Livingstone, E., Gomez, L., and Bouhuys, J. 2018. A review of bear farming and bear trade in
Lao People’s Democratic
Republic. Glob Ecol Conserv 13: e00380
Mcconkey, K., and Galetti, M. 1999. Seed dispersal by the sun bear Helarctos malayanus in Central Borneo. Journal of Tropical Ecology 15: 237-241.
Meijaard, E. 1999. Human-imposed
threats to sun bears in
Borneo. Ursus, 185-192.
Nijman, V., Oo , H., and Shwe, NM. 2017. Assessing the illegal bear
trade in Myanmar through
conversations with poachers:
topology, perceptions and trade links to China. Traffic Bull 27: 44−46
Poctor, M.F., McLellan, BN., Strobeck, C., and Barclay, RMR. 2005. Analisis genetik mengungkapkan fragmentasi demografis beruang
grizzly yang menghasilkan
populasi kecil yang rentan.
Prosiding Royal Society B. 272
(1579): 2409-2416
Powel, JA. 1997. The Ecology of Forest Elephants (Loxodonta africana cyclotis Matschie 1900) in Bangyang-Mbo and Korup forests, Cameroon, with
Particular Reference to Their Role as Seed Dispersal Agents [Thesis]. United Kingdom : University of Cambridge.
Steinmetz, R. 2011. Ecology and distribution of sympatric Asiatic black bears and sun bears in the seasonally dry forests of Southeast Asia. Smithsonian Institution Scholarly Press, Washington, DC.
Wong, ST., Servheen, C , and Ambu, L. 2004. Home range, movement and activity patterns, and bedding sites of Malayan sun bears Helarctos malayanus in the Rainforest of Borneo. Biological Conservation 119: 169-181.
Wong, WM., Leader‐Williams, N., andLinkie, M. 2013. Quantifying changes in sun bear distribution
and their forest habitat in
Sumatra. Animal