• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEPERAWATAN KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI PADA PASIEN ULKUS DIABETIK DI MAJAPAHIT WOUND CARE CANTRE MOJOKERTO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "ASUHAN KEPERAWATAN KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI PADA PASIEN ULKUS DIABETIK DI MAJAPAHIT WOUND CARE CANTRE MOJOKERTO"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI PADA PASIEN ULKUS DIABETIK DI MAJAPAHIT WOUND CARE

CANTRE MOJOKERTO

ENDIKE KHIFTIYAH MAISAROH NIM : 1312010010

SUBJECT

Asuhan Keperawatan, Diabetes Melitus, Ulkus Diabetik, Nutrisi.

DESCRIPTION:

Banyak penderita diabetes mellitus yang mengalami kegagalan dalam pengobatan, hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor salah satunya tidak menjalani diet dengan baik, ketidakpatuhan tersebut akan mengakibatkan adanya gangguan nutrisi pada penderita ulkus diabetik. Studi kasus ini bertujuan untuk melakukan asuhan keperawatan ketidakseimbangan nutrisi pada pasien ulkus diabetik.

Desain penelitian ini adalah studi kasus, jumlah responden yang diambil 2 Ny. B dan Ny. N dengan kriteria pasien yang kooperatif, pasien rawat jalan di majapahit Wound Care Centre Mojokerto, yang mengalami Diabetes Mellitus tipe 1 dan 2. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan menggunakan format pengkajian keperawatan medikal bedah. Pengkajian menggunakan 4 sumber utama yaitu perawat, keluarga klien, dan status medis klien. Pada penelitian ini responden mengalami gangguan ketidakseimbangan nurisi kurang dari kebutuhan tubuh, dengan total kalori yang dikonsumsi responden pertama 750 kkal sedangkan kalori yang dibutuhkan perhari 2.275 kkal, responden kedua 950 kkal sedangkan kalori yang dibutuhkan perharinya 1.750 kkal, intervensi yang dilakukan memberikan Health Education tentang makanan yang boleh dimakan, yang di batasi, dan yang tidak boleh dimakan, serta membuatkan jadwal makan interval 3 jam sekali sesuai kebutuhan kalori klien.

Hasil yang ditunjukkan dari pola makan interval 3 jam sekali pada kedua responden yaitu glukosa darahnya mengalami penurunan mendekati seimbang pada responden pertama GDA saat pengkajian 210 mg/dl setelah dilakukan intervensi selama tiga hari GDA menjadi 120 mg/dl, pada responden kedua GDA saat pengkajian 250 mg/dl, setelah dilakukan intervensi GDA turun menjadi 210 mg/dl. Dapat disimpulkan bahwa dengan mejalani diet secara tepat dan teratur yaitu interval 3 jam sekali glukosa dalam darah akan mengalami penurunan / dalam batas normal. Pada penederita ulkus diabetik yang mengalami ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, diharapkan dapat mengatur pola makan dengan memeperhatikan kebutuhan kalorinya.

ABSTRACT

(2)

The research desing was case study, there were two participants named Mrs. B and Mrs. N an outpatient at Majapahit Wound Care Centre Mojokerto. Data collection method using interview, observation, and documentation using the format for medical surgical nursing care. The assesment using 4 principal sources of client, nurse, family of the client, and medical status of the client. The result of assessment this study, respondents suffering from nutrient imbalance disorder less than body requirements, with total calories consumed by the first respondent was 750 kcal calories needed daily was 1.650 kcal, second respondent was 950 kcal calories needed daily was 1.465 kcal. The nursses intervention conducted was giving Health Education about foods they can consume, that need,

and the can’t consume, also made a diet schedule that appropriate with clients

need of calories.

The result offer intervention of eating pattern with use interval every 3 hour and the two respondent showed that their blood glucose level has decreased

close to normal. The first respondent’s randome blood glucose in assesment was 210 mg/dl, after intervention for three days 120 mg/dl, the second respondent’s

randome boold glucose in assesment was 250 mg/dl, after intervention 210 mg/dl. So, it can be concluded that by doing a proper diet which was 3 hour interval, blood glucose will decrese. Ulcer diabetic patients who suffer from nutrient disorder less than body’s requirements are expected to control their food

consumption by paying attention to calorie need.

Keyword : Nursing Care, Diabetes Mellitus, Ulcer Diabetic, Nutrient.

Cortibutor : 1. Eka Diah K, M.Kes

2. Vonny Nurmalya Megawasinta, M.Kep

Date : 03 September 2016

Type Material : Laporan Penelitian

Identifier :

-Right : Open Document

Summary : Latar belakang, Metodologi, Hasil, Simpulan dan Rekomendasi

LATAR BELAKANG

Diabetes Melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia (Brunner & Sudarth, 2001 dalam Santy, 2013 ). Penderita diabetes mellitus berisiko 50 kali terjadikomplikasi ulkus diabetes mellitus (Waspadji, 2006 dalamSetyoningrum, 2013). Ulkus diabetik merupakan salahsatu bentuk komplikasi kronik DM yang berupa luka terbuka pada permukaan kulit dan dapat disertai dengan kematian jaringan setempat (Robert, 2003 dalam Setyoningrum, 2013).

(3)

Badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO), memperkirakan Indonesia 21, 3 juta jiwa. Kondisi ini membuat indonesia menduduki peringkat empat, setelah amerika serikat, china, dan india (Asep, 2012 dalam Arwani , 2014), jumlah prevalensi Indonesia, mencapai 8,6% (Depkes RI, 2008 dalam Setyoningrum, 2013). Sedangkan menurut Pengurus Persatuan Diabetes Indonesia (Persaida) Subagio Adi di Jawa Timur jumlah penderita diabetes melitus 6% atau 2.248.605 orang dari total jumlah penduduk Jawa Timur sebanyak 37.476.757 orang (Persi, 2011 dalam aifah, 2015). Prevalensi di indonesia Sekitar 15% penderita diabetes melitus akan mengalami komplikasi berupa ulkus diabetik, 14-24% di antaranya penderita ulkus diabetik tersebut memerlukan tindakan amputasi (Asep, 2012 dalam Arwani, 2014). Angka amputasi di indonesia mencapai 30%, angka mortalisasi 32% (Ridwan, 2011 dalam Sulistyowati, 2015). Berdasarkan data studi pendahuluan di Majapahit Wound Care Centre, tiap bulannya terdapat 7 - 10 pasien penderita diabetes mellitus yang melakukan perawatan luka.

Ulkus diabetik sendiri merupakan komplikasi kronik dari diabetes melitus (Asep, 2012 dalam Arwani, 2014). Ada tiga faktor yang menunjang timbulnya ulkus diabetik yaitu gangguan persarafan (neuropati), infeksi, dan gangguan aliran darah. Gangguan saraf dapat berupa mati rasa, akibatnya kaki tidak dapat merasakan nyeri. Karena tak ada nyeri, penderita tak akan menyadari gesekan atau tumbukan kaki dengan benda-benda yang dapat menimbulkan luka. Rusaknya kulit akibat luka menyebabkan hilangnya pelindung fisik jaringan terhadap invasi kuman, sehingga kaki rentan infeksi. Pada penderita diabetes, infeksi pada kaki diabetik relatif sulit diatasi karena rusaknya pembuluh darah menuju lokasi luka. Keadaan ini akan menghambat proses penyembuhan, jika luka sudah kronis dan sulit disembuhkan, amputasi menjadi salah satu alternatif jalan keluar (Smeltzer, 2002 dalam Purnomo, 2014).Ulkus diabetik juga merupakan penyebab tersering dilakukan amputasi non traumatik , resiko amputasi 15-40 kali lebih sering pada penderita DM (Decroli, 2010 dalam Sunaryo, 2014). Ulkus diabetik juga merupakan penyebab dari (kesakitan) morbiditas, (ketidakmampuan) disabilitas, dan (kematian) mortalitas ( Prabowo, 2007 dalam Santy, 2013)

Hasil penelitian Basuki, 2004 terhadap pasien DM mengatakan bahwa terdapat 75% penderita DM tidak patuh terhadap diet yang dianjurkan. Ketidakpatuhan ini merupakan salah satu hambatan untuk tercapainya tujuan pengobatan, glukosa darah akan mengalami kenaikan dan kegagalan sekresi insulin atau penggunaan insulin dalam metabolisme yang tidak adekuat yang mengakibatkan antibiotik, oksigen, zat makanan, perangkat kekebalan tubuh (sel darah putih, dll) sulit mencapai lokasi sehingga menimbulkan keluhan sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadi gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan penderita ( Trisna, 2013).Oleh sebab itu, studi kasus ini ingin mengetahui tentang status nutrisi penderita ulkus diabetes militus dengan melakuakan “asuhan keperawatan ketidakseimbangan nutrisi pada penderita ulkus diabetik”.

(4)

Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dan rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus asuhan keperawatan ketidakseimbangan nutrisi pada penderita ulkus diabetik di Majapahit Wocare Clinic Mojokerto, jumlah populasi seebanyak 2 orang dengan kriteria, pasien yang kooperatif, pasien rawat jalan di majapahit Wound Care Centre Mojokerto yang mengalami Diabetes mellitus tipe 1 dan 2. Penelitian ini di lakukan selama 8 hari pada tanggal 27 juli sampai tanggal 04 Agustus 2016 di Majapahit Wound Care Cantre Mojokerto. Pengukuran data dilakukn oleh peneliti sendiri dengan melakukan intervensi keperawata yaitu, Observasi TTV, observasi pemberiaan makan 3 jam sekali, Observasi GDA, Observasi luka, Memberikan jadwal makan yang sesuia menu diet, Memberikan edukasi makanan yang boleh dimakan, yang dibatasi, dan yang tidak boleh, selama 3 hari.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengkajian pada tanggal 27-07-2016 Ny. B telapak kaki sebelah kiri terasa cenut-cenut, 4 bulan yang lalu terdapat benjolan di telapak kaki sebelah kiri, karena sering dibuat jalan dan tergesek sendal, benjolan tersebut meletus timbulah luka.

Klien dilakukan pemeriksaan data fokus Luka, panjang luka 3 cm, lebar 2,5 cm, terdapat go’a sedalam 3 cm jarak antara jam 7 sampai jam 11, luka terdapat di telapak kaki sebelah kiri, dengan skal nyeri 3 / ringan.Pada penderita Diabetes Melitus komplikasi jangka panjang salah satunya adalah ulkus dibetik (Waspadji, 2006 dalam Setyoningrum, 2013).

Pada pengkajian Nutrisi di dapatkan hasil sebelum sakit, Klien makan tiga kali sehari, dengan porsi makan 1 piring, dengan lauk tahu, tempe, telur, ayam, semua makanan di makan dan tidak ada yang dibatasi, setelah sakit klien makan 2 x/hari di pagi hari dan sore hari, pada saat pengkajian klien sarapan pada jam 08.00 WIB dengan menu makan nasi putih satu centong (200 kkal), tempe satu potong (35 kkal), sayur asam (30 kkal), jam 10.00 WIB pasien mekanan kue yang terbuat dari jagung 5 keping (60 kkal), jam 17.00 WIB makan sore dengan menu yang sama, jumlah kalori (700 kkal) yang di makan setiap hari, sedangkan kalori setiap hari yang dibutuhkan adalah (2.275 kkal), hasil kalori menunjukan klien mengalami ketidakseimbangan nutrisi . Proses penyembuhan luka juga di dukung dengan pola asupan nutrisi klien, tanpa nutrisi yang adekuat proses penyembuhan luka akan memanjang atau lama, ( Ferdiana, 2013 ).

Syarat diet Diabetes Melitus dengan komplikasi ulkus/gangren sama dengan syarat diet Diabetes Melitus pada umumnya hanya prosentasi protein lebih banyak ( Wahyuni, 2008 ).

Di dapatkan hasil pemeriksaan fisik pada Ny. B adalah keadaan umum cukup, suhu 36,50C, Tekanan Darah140/90 mmHg, Nadi 87 x/menit, RR 20 x/menit, Tinggi badan 160 cm, Berat Badan 65 kg, GDA 210 mg/dl.

Pada tanggal 01 -08-2016 Ny.N Mengeluh jempol kaki sebelah kiri terasa cenut-cenut, klien mengatakan sudah 3 tahun menderita diabetes melitus , 1 bulan yang lalu klien berjalan lalu tersandung tangga di jempol kaki sebelah kiri.

(5)

membatasi dietnya, setelah sakit saat pengkajian klien sarapan pada jam 11.30 WIB dengan menu makan nasi rawon (400 kkal), daging 1 potong (80 kkal), snack kuping-kupingan 5 keping (100 kkal), jam 14.00 WIB mie goreng 3 sendok (170 kkal), jam 17.00 WIB makan 2 pisang rebus (200 kkal), jumlah kalori (950 kkal) setiap hari yang dihabiskan, sedangkan kalori setiap hari yang di butuhkan adalah 1750 kkal, data kalori ini menunjukan bahwa klien mengalami ketidakseimbangan nutrisi.

Didapatkan pemeriksaan fisik Ny. N Nadi 88 x/menit, pernapasan 20 x/menit, suhu 360celcius, Nadi 88 x/menit, Tinggi Badan 152 cm, Berat Badan 50 kg, GDA 250 mg/dl. Pendapat penulis antara fakta dan teori sama, bahwa dengan banyak penderita ulkus diabeteik yang tidak patuh dengan dietnya sehingga dapat memeperlambat penyembuhan luka.

1. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang muncul pada kedua responden sama ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, tetapi faktor penyebabnya yang berbeda. Ketidakseimbangaan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sendiri adalah asupan nutrisi yang yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metaboilik dengan batasan karakteristik, berat badan kurang dari berat badan ideal, kehilangan berat badan dengan asupan makanan yang adekut ( Wilkinson, 2012 )

Pada pasien pertama mengalami hiperglikemia, karen menjalani diet ketat makan 2 kali sehari. Diet yang benar yaitu dengan 3 kali makan makanan utama, dan tiga kali makan makanan selingan, dengn interval 3 jam sekali ( Waspadji, 2007 ). Makanan yang dikonsumsi dengan kandungan kalori 700 kkal perhari, tidak sesuai dengan kebutuhan kalori, sedangkan yang di butuhkan yaitu 1.650 kkal perhari.

Pada pasien ke dua klien mengalami stress tinggi yang mengakibatkan hiperglikemia. Stress menyebabkan produksi berlebih pada kortisol, kortisol adalah, suatu hormon yang melawan efek insulin dan menyebabkan kadar gula darah tinggi, juka seseorang mengalami stress berat yang dihasilkan dalam tubuhnya, maka kortisol yang dihasilkan akan semakin banyak, ini akan mengurangi sensitivitas tubuh terhadap insulin. Kartisol merupakan musuh dari insulin sehingga membuat glukosa lebih sulit untuk memasuki sel dan meningkatkan gula darah ( Watkins, 2010 dalam Nugroho, 2010 ). Dari stress tersebut klien membatasi makannya sehingga pola makan klien tidak teratur, kalori yang di konsumsi setiap harinya 950 kkal, sedangkan kalori yang dibutuhkan 1495 kkal perhari. Pendapat penulis tentang penegakan diagnosa diatas sama bahwa dengan melakukan diet yang teratur dapat mengontrol kadar glukosa darah dan tingkat stress yang tinggi dapat meningkatkan kadar glukosa darah.

2. Intervensi

Intervensi yang akan dilakukan pada kedua partisipan tidak sama. Untuk klien yang pertama :

(6)

makanan apa saya yang boleh dikonsumsi, yang dibatasi, dan yang tidak boleh dikonsumsi, oleh penderita Diabetes Melitus dengan penyakit penyerta Asam Urat, membuatkan jadwal makan yang sesuai. Diet yang benar yaitu dengan 3 kali makan makanan utama, dan tiga kali makan makanan selingan, dengn interval 3 jam sekali ( Waspadji, 2007 ). .

Klien kedua setelah dilakukan asuhan keperawatan 2x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi teratasi sebagian atau terpenuhi dengan kriteria hasil GDA dalam batas normal, TTV dalam batas normal, luka tidak bau, tidak bengkak, klien patuh dengan menu dietnya. Intervensi yang dilakukan adalah observasi TTV, observsi GDA, observasi Luka, Menjelaskan makanan apa saya yang boleh dikonsumsi, yang dibatasi, dan yang tidak boleh dikonsumsi, oleh penderita Diabetes Melitus, membuatkan jadwal makan yang sesuai.

Pendapat penulis antara fakta dan teori sama bahwa dengan melakukan jadwal makan interval 3 jam sekali dapat mengontrol glukosa dalam darah.

3. Implementasi

Hasil pengkajian bahwa responden 1 dan 2 mengalami masalah yang sama. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Dalam melaksanakan diet diabetes sehari-hari hendaklah di ikuti pedoma 3 J yaitu:

J I : Jumlah makanan, jumlah makanana yang diberikan dengan status gizi penderita DM, bukan berdasarkan tinggi rendahnya guladarah. Jumlah kalori yang disarankan berkisar antara 1100-2900 kkal.

J 2 : Jenis makanan, penderita diabetes melitus harus mengetahui dan memahami jenis makanan apa yang bebas dimakan, dibatasi dan yang tidaak boleh dimakan

J 3 : Jadwal makan, penerita diabetes melitus harus membiasakan diri untuk makan tepat pada waktu yang telah ditentukan.. Penerita diabetes melitus makan sesuai jadwal, yaiu 3 kli makan utama, 3 kali makanan selingan, dengan interval 3 jam sekali. Ini dimaksudkan agar terjadi perubahan pada kandungan glukosa darah penderita DM, sehingga diharapkan dengan perbandingan jumlah makanan dan jadwal yang tepat maka kadar glukosa darah akan tetap stabil dan penderita DM tidak merasa lemas akibat kekurangan zat gizi. Jadwal makan standar yang digunakan oleh penderita DM ( Waspadji, 2007 ).

Rencana tindakan yang dilakukan pada kedua Responden mengobservasi TTV, Mengobservasi GDA untuk mengetahui glukosa darah dalam batas normal atau tidak, Mengobservasi luka karena proses penyembuhan luka juga di dukung dengan pola asupan nutrisi klien, tanpa nutrisi yang adekuat proses penyembuhan luka akan memanjang / lama, ( Ferdiana, 2013 ). Menjelaskan makanan apa saya yang boleh dikonsumsi, yang dibatasi dan yang tidak boleh dikonsumsi, memberikan jadwal makan sesuai kebutuhan klien.

(7)

Responden pertama pada tanggal 29 Juli 2016 klien mematuhi dietnya dengan makan pertiga jam sekali, dengan menu makanJam 07.00 WIB, nasi putih 1 centong, sambal 1 sendok, 1 butir telor, 1 potong tempe, Jam 10.00 WIB, 1 buah pisang, 13.00 WIB, Nasi putih 1 centong, Sambai 1 sendok, 1 butir telur, 1 potong tempe, Jam 16.00 WIB, kue jagung 5 keping. Tekanan darah 140/90 mmHg, Suhu 30,6 celcius, Nadi 88 x/menit, RR 20x/menit, GDA :189 ml/dl , Luka tertutup perban. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sebagian, Melanjutkan intervensi 1, 2, 3, 6.

Pada tanggal 30 juli 2016 klien mengatakan sudah patuh dengan makan pertiga jam sekali, dengan menu makan Jam 07.00 WIB, Nasi putih 1 centong, Sayur sop, 1 potong tempe, 1 potong tahu, Jam 10.00 WIB, Makan kerupuk 2, Kue jagung 3 keping, 13.00 WIB, Nasi putih 1 centong, Sayur sop, 1 potong tempe, 1 potong tahu, Jam 16.00 WIB, Singkong 1 potong. Tekanan darah 140/90 mmHg, Suhu 30,6 celcius, Nadi 88 x/menit, RR 20x/menit, GDA : 170 mg/dl, luka tertutup perban. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sebagian, Melanjutkan intervensi 1, 2, 3, 6.

Pada tanggal 31 juli 2016 klien mengatakan sudah patuh dengan makan pertiga jam sekali, Jam 07.00 WIB, Nasi putih satu centong, Lalapan bayam, 2 potong tempe, Sambal, Jam 10.00 WIB, Makan pepes tahu, 13.00 WIB, Nasi putih 1 centong, Sambal, Pepes tahu, Kerupuk 2, 16.00 WIB, 1 buah pisng. Tekanan darah 150/90 mmHg, Suhu 30,6 celcius, Nadi 88 x/menit, RR 20x/menit, GDA 120 mg/dl , luka tertutup perban. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sebagian< melanjutkan intervensi 1, 2, 3, 6.

Hasil yang didapatkan pada responden pertama dari evaluasi pertama sampai ketiga kadar glukosa darah turun pada, glukosa darah saat pengkajian 210 mg/dl, evaluasi hari pertama 189 mg/dl, evaluasi hari kedua 170 mg/dl, hari ketiga 120 mg/dl.

Responden kedua pada tanggal 02 Agustus 2016 Pasien mengatakan sudah patuh dengan dietnya dengan menu makan, Jam 07.00 WIB, 1 centong nasi jagung, 1 potong ayam, 2 sendok tumis pepaya, Jam 10.00 WIB, Makan buah pepaya 1 potong, Jam 13.00 WIB, Makan nasi jagung, 1 potong ayam, 2 sendok tumis pepaya, Jam 16.00 WIB, Makan 2 buah pisang rebus. Tekanan darah saat pengkajian 120/90, Suhu 30,6 celcius, nadi 88 x/menit, RR : 20x/menit, dengan GDA 212 mlg/dl. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi sebagian, Melanjutkan intervensi 1, 2, 3, 6.

Pada tanggal 03 Agustus 2016 pasien mengatakan sudah patuh dengan dietnya dengan menu makan, jam 07.00 WIB, 1 centong nasi, 1 potong ayam, Sayur sop, Jam 10.00 WIB, Makan buah pisang 1 potong, Jam 13.00 WIB, 1 centong nasi putih, 1 potong ayam, Sayur sop, Jam 16.00 WIB, Makan 2 buah pisang rebus. Tekanan darah saat pengkajian 110/90, Suhu 30,6 celcius, nadi 88 x/menit, RR : 20x/menit, dengan GDA 179 mlg/dl. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi sebagian, Melanjutkan intervensi 1, 2, 3, 6.

(8)

Salah satu tujuan diet Diabetes Melitus yang dilakukan secara teratur adalah untuk mempertahankan kadar glukosa darah sekitar normal ( Wahyuni, 2008 ). Dari penelitian yang sudah dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan kalori perhari pasien yang dihitung dari tinggi badan dan berat badan, memberikan jadwal makan yang tepat, dan dilakukan secara teratur dapat memurunkan kadar glukosa darah yang tidak terkontrol bisa menjadi normal ( Wahyuni, 2008 ). Menurut penulis antara teori dan fakta sama bahwa dengan memeperhatikan kebutuhan kalori pasien perhari, dan memperhatiakan jadwal makan pasien jika dilkaukan dengan tarut dapat mempertahankan kadar glukosa darah yang tidak terkontrol bisa turun menjadi normal atau mendekati normal.

Perawat perlu mengevaluasi kriteria hasil dari tindakan keperawatan dan waspada akan tanda-tanda bahwa tujuan telah tercapai. Pastikan waktu yang adekuat untuk menguji setiap pendekatan keperawatan terhadap masalah.(Perry dan Potter, 2010). Pendapat penulis antara fakta dan teori sama bahwa perkembangan kebutuhan nutrisi pasien dapat tercapai sebagian.

SIMPULAN

Data hasil pengkajian tanda dan gejala ulkus diabetik yang dialami kedua klien sama yaitu ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhn tubuh. Tetapi terdapat perbedaan dari manifestasi klinis pada klien pertama ulkus diabetik dengan komplikasi asam urat, pada klien kedua tingkat stresnya tinggi. Setelah dilakukan intervnsi pada opasien pertama dengan modifikasi makanan yang boleh dimakan, dibatassi, dan yang tidak boleh oleh pnderita ulkus diabetik dan asam urat selama hari tingkat glukossa darah turun, pada pasien kedua setelah dilakukan modifikasi makanan yang boleh dimakan, yang dibatasi dan yang tidak boleh selam tiga hari juga menglami penurunan.

REKOMENDASI

Diharapkan asuhan keperawatan pada pasien ulkus diabetik selalu dilakukan pelayanan seoptimal mungkin dan selalu meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit / klinik.

Institusi kesehatan harus lebih mengoptimalkan program standar praktek keperawatan dan meningkatkan mutu dari keperawatan dimana tenaga keperawatan tidak hanya memberikan pelayanan pada klien sakit tetapi juga sebagai tenaga pendidik, agar klien dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan baik. Hasil studi kasus ini dapat dijadikan data dasar untuk studi kasus lebih lanjut tentang klien ulkus diabetik.

Alamat Correspondensi :

- Email : ikkemayfeehily@gmail.com

- No. Hp : 085731999552

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Aifah, Siti Nur. 2015. Perkembangan Luka Gangren Pada Penderita Diabetes Melitus di Rsud dr. Wahidin Sudirohusodo Kota Mojokerto.

Arwani, SiswantoPuji, Sugijana Ramelan. 2014. Perbedaan Tingkat Perfusi Perifer Ulkus Kaki Diabetik Sebelum Dan Sesudah olahraga pernafasan Dalam di Ruang Wijaya Kusuma RSUD Dr. RS soeprapto cepu. Vol.1 No.1 Mona Eva, Bintanah Sufiati, Astuti rahayu. 2012. Hubungan Frekuensi

pemberian konsultasi gizi dengan kepatuhan diit serta kadar gula darah penderita diabetes melitustipe II rawatjalan di RSUD tugu rejo semarang.Vol.1 No.1

Nugroho, S. A, 2010. Hubungan Antara Tingkat Stress Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Dibetes Melitus Di Wilayah Kerja Pukesmas Sukoharjo 1 Kabupaten Sukoharjo. Vol.1 No.1

Potter Patricia A, Perry Anne G 2010.Fundamental Keperawatan Edisi 7 Buku 1. Jakarta : Salema Medikal.

Purnomo S Eko, Dwiningsih Sri Utami, Lestari Kurniatipuji. 2014. Efektifitas Penyembuhan luka Menggunakan NaCl 0,9% dan Hydrogel pada ulkus diabetes melitus di RSU kota semarang.Vol.2 No.1

Puspitaningsih, Dwi Harini. Kartiningrum, Eka Diah. Puspitasari, Widya. 2015. Buku Panduan Studi Kasus Prodi D3 keperawatan , LPPM Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto.

Setyoningrum Irma Astuti, Yunie Armiyati, Rahayu Astuti. 2013. Tingkat Depresi Berdasarkan Derajat ulkus Diabetes Meitus Yang Berobat di Rsud Kota Semarang.

Sulistyowati dwi arini . 2015. Efektifitas Elevasi Ekstermitas Bawah Terhadap Proses Penyembuhan Ulkus Diabetik Di Ruang Melati Rsud dr.Moewardi. Vol.3 No.1

Wahyuni, S. 2008.Gambaran Asupan Energi, Zat Gizi Mikro, Kadar Gula Darah dan Perkembangan Kesembuhan Luka Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe II Dengan Komplikasi Gangren Di Bangsal Melati 1 RSUD Dr.Moewardi Surakarta. Program Studi Diploma III Gizi Fakultas ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Waspadji, 2007. Komplikasi Kronik Diabetes : Mekanisme Terjadinya Diagnosa dan Strategi Pengelolaan. In d. Aru W, Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Jakarta : FKUI.

Wesiana Heris Santy. 2013. Negative Pressure Wound Therapy (NPWT) For the Management Of Diabetic Food wound.

Referensi

Dokumen terkait

sebuah konsep komunikasi (Deri dan Prabawa, 2014). J-Project belum memiliki tagline yang dapat membantu membangun kesadaran merek perusahaan tersebut. Tagline yang

Hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas yang terdiri dari konten radio terhadap pengambilan keputusan mendengarkan radio adalah sebesar 51,1% sedangkan sisanya 48,9

Indikator Soal : Disajikan 1 buah senyawa, peserta didik dapat menganalisis ikatan – ikatan yang terdapat dalam senyawa tersebut. Untuk menjawab soal di atas, peserta didik

This study investigates metacognitive and cognitive strategies used in reading short stories as reflected in the English literature students’ reading process.. This study

Dibawah peritoneum terdapat jaringan penyambung padat yang dinamakan kapsula Glisson, yang meliputi seluruh permukaan organ; kapsula ini melapisi mulai dari hilus atau

Dalam pengertian diatas, perubahan sosial sangat erat kaitanya dengan sebuah konsepsi waktu, dimana perubahan sosial diamati antara sebelum dan sesudah jangka

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) karakteristik konsumen pengguna jasa warung internet “Rajawali”, (2) kepuasan konsumen warung internet “Rajawali” terhadap jasa

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung sagu terhadap karaketeristik fisik dan sensori bakso dan menentukan konsentrasi tepung sagu