• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi dan Kebijakan terhadap Isu dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Strategi dan Kebijakan terhadap Isu dan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Strategi dan Kebijakan terhadap Isu dan Masalah Demografi di Indonesia

Firman Arif Rahman Kurniawan Luthfi Hasnan

Abstract:

Nowadays, the demography problems of Indonesia generally includes three aspects: quantity and quality. Seeing from the quantity, Indonesia has the high number of population in which on 2010, it was over 237.6 million people. Besides, Indonesia has low human resource quality. On 2009, it was in 108th position of 188th country in the world. Furthermore, Indonesia

has the unequal distribution of the population, where 58% of population is centered in Java whereas it is only 7% of the whole Indonesia’s land. The conditions above will impact the aspect of life and the development of Indonesia. Seeing from social economic, the problems that might occur are food, housing, health, education fulfillment problems, supply of job opportunity, and etc. Those problems will cause the high number of unemployment-and-poverty, crime, social conflicts, TKI (Indonesian Workers) problems, human trafficking and etc. Therefore, some policies and strategies is to be issued in order to overcome those problems and build Indonesia better.

Kata Kunci: kuantitas, kualitas, kebijakan, strategi, kependudukan, Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ketika era globalisasi dan informasi belum sepenuhnya diantisipasi Indonesia harus menghadapi krisis ekonomi dan reformasi yang berlanjut dengan berbagai tuntutan seperti otonomi, demokratisasi, dan perlindungan hak-hak asasi manusia. Berbagai hal itu saling terkait satu dengan lainnya. Tuntutan seperti itu pun merupakan hal yang wajar. Sayangnya, masalah-masalah besar itu tidak bisa dipecahkan segera dan serempak, bahkan fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa satu permasalahan pun seringkali tidak dapat dipecahkan dengan memuaskan. Karenanya, masalah yang dihadapi Indonesia sekarang sangat kompleks dan berlarut-larut.

(2)

Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 237 juta dengan laju pertumbuhan 1.49 persen. Dengan jumlah penduduk sebanyak itu, Indonesia kini menjadi negara dengan populasi terbanyak ke empat di dunia dibawah Cina, India dan AS. Jika pada tahun 1900 jumlah penduduk hanya 40,2 juta jiwa, maka sekarang telah bertambah hampir enam kali lipatnya. Kemajuan suatu bangsa dapat diukur dari jumlah kependudukannya. Berbagai indikator kependudukan tersebut berpengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan seperti ekonomi, sosial, politik, lingkungan dan budaya. Mengingat penduduk sebagai fokus dan dasar utama dalam berbagai aspek pembangunan sehingga kependudukan memegang peranan penting dalam pembangunan.

Dengan tingginya jumlah penduduk, saat ini Indonesia dihantui oleh berbagai masalah kependudukan mulai dari ledakan penduduk, rendahnya mutu pendidikan dan kualitas manusia. Masalah-masalah kependudukan tersebut akan menghambat proses pembangunan di Indonesia. Maka dari itu, semua permasalahan kependudukan di Indonesia haruslah terdata dan terungkap terlebih dahulu sebelum dapat dibuat kebijakan untuk mengendalikan permasalahan penduduk. Oleh karena itu, jurnal ini akan mengintrepretasikan dua pokok permasalah kependudukan di Indonesia, yaitu masalah kuantitas, kualitas dan mobilitas penduduk

BAB II

PEMBAHASAN MATERI

2.1 Isu dan Masalah-Masalah Kependudukan Indonesia saat ini

Sesungguhnya masalah kependudukan masih tetap berpusat pada masalah yang sebenarnya sudah terjadi sejak pemerintahan sebelumnya. Dari berbagai masalah kependudukan yang terjadi di Indonesia, yang mencakup tiga aspek diatas yakni kuantitas dan kualitas penduduk. Dapat disimpulkan isu strategis kependudukan sebagai berikut:

1. Isu dan Masalah Kuantitas Penduduk 2. Isu dan Masalah Kualitas Penduduk

2.2 Masalah Kuantitas Penduduk

Jumlah penduduk yang tinggi diibaratkan sesuatu yang memiliki dua sisi yaitu negatif dan positif. Mengelola jumlah penduduk dengan baik merupakan tugas yang berat bagi sebuah negara. Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali menimbulkan ledakan penduduk yang menimbulkan rentetan masalah lainnya seperti kelaparan jika tidak ada program pemenuhan kebutuhan yang baik. Di sisi lain, jumlah penduduk yang tinggi juga berdampak positif seperti suplai penduduk usia kerja yang baik karena banyak penduduk usia produktif.

(3)

Indonesia menduduki peringkat 1 sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di ASEAN, nomor 3 di Asia serta menduduki peringkat ke-4 di dunia. Jumlah penduduk sebanyak itu seharusnya mendapat perhatian serius mengingat dampak yang sangat luas dengan jumlah penduduk sebanyak itu berarti harus seimbang dengan pemenuhan kebutuhan sandang, papan, pangan, energi, kesempatan kerja, kesehatan, pendidikan dan hak dasar lainnya. Jika dilihat dari struktur penduduk, Indonesia dilihat dari kelompok umur dan jenis kelaminnya menunjukkan perubahan akibatnya terjadinya transisi demografi yang berlangsung di Indonesia. Transisi demografi tersebut ditandai dengan penurunan angka kelahiran dan penurunan angka kematian.

Meskipun upaya untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk sudah berhasil dilakukan, namun jumlah penduduk besar akan terus bertambah tiap tahunnya. Secara absolut pertambahan penduduk Indonesia masih akan meningkat sekitar 3 sampai 4 juta jiwa pertahun. Jika pada tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia adalah 237 juta, maka pada tahun 2030 diperkirakan berjumlah 300 juta atau lebih jika tidak ada upaya untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk yang lebih serius lagi. Tentu saja hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat fertilitas masyarakat. Jumlah penduduk yang tinggi akan menjadi masalah yang besar apabila kualitas manusianya rendah.

(4)

Peningkatan jumlah penduduk seperti ini sangatlah perlu mendapat perhatian karena dampaknya yang sangat luas. Jumlah pneuduk meningkat berarti pemenuhan kebutuhan juga meningkat seperti pangan, sandang papan, energi, kesempatan kerja, kesehatan, pendidika dan hak-hak dasar lainnya.

2.2.2 Ledakan Penduduk

(5)

Dikatakan, dengan pertambahan penduduk Indonesia sebanyak 32,5 juta jiwa atau tumbuh 1,49 persen menyebabkan tekanan penduduk makin besar dengan lapangan pekerjaan yang terbatas. Meskipun pengangguran sedikit, mereka yang bekerja tidak layak pun jumlahnya banyak.

Pengamat Perkotaan dan Kependudukan Universitas Trisakti, Yayat Supriatna mengatakan, pertambahan penduduk sebanyak 2,1 juta tiap tahun akan berakibat pada ancaman krisis pangan. Hal ini dikarenakan penduduk Indonesia sulit mengganti makanan pokok dengan makanan lainnya. Apalagi pemerintah hanya mengandalkan impor kebutuhan bahan bokok jika terjadi kekurangan persediaan bahan makanan. Menurutnya, BKKBN perlu direvitalisasi kembali. Antara lain, pola pikir harus dirombak bahwa BKKBN tidak hanya mengurus KB tetapi juga penduduk. Juga perlu dirombak sistem koordinasi ke seluruh kementrian, kepala daerah sehingga mereka mau dikordinasikan oleh BKKBN.

2.2.3 Ledakan Penduduk Usia Kerja

Penduduk merupakan titik sentral dalam pembangunan (people centered development) sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 52, 2009. Perubahan struktur umur menjadi sangat penting mengingat pertumbuhan penduduk terkait dengan pertumbuhan ekonomi. Bloom dan Williamson (1998), Williamson, Kelley, dan Schimdt (2001) sama-sama menyetujui bahwa peningkatan jumlah penduduk di bawah 15 tahun mempunyai dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangakan peningkatan penduduk usia kerja (diatas 15 tahun) meningkatakan GDP per kapita. Beberapa dekade terakhir ini telah terjadi transisi demografi di Indonesia ditandai dengan perubahan struktur penduduk yaitu menurunnya proporsi penduduk usia di bawah 15 tahun dan diikuti meningkatnya penduduk berusia di atas 15 tahun hingga 2010 secara nasional mencapai 171.017.416 jiwa.

Ledakan penduduk usia kerja adalah hal penting karena dengan peningkatan penduduk usia kerja memberikan peluang mendapatkan bonus demografi. Apabila ada respon kebijakan pemerintah daerah (Pemda) yang positif pada saat bonus demografi, maka akan terjadi peningkatan produktivitas. Bonus Demografi juga memberikan keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh menurunnya rasio ketergantungan penduduk usia non produktif sebagai hasil penurunan fertilitas jangka panjang1. Namun sejauh mana Pemda menyadari dan siap menghadapi kondisi ini. Oleh karena itu, penelitian dilakukan dengan tujuan teridentifikasinya kebijakan pemda terkait penduduk usia kerja, faktor pendukung dan penghambat terserapnya peluang kerja. Informasi digali dari para penentu kebijakan dari lembaga eksekutif, legislatif di lingkungan Pemda dengan menggunakan pendekatan kualitatif di Provinsi Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, yang masing-masing mewakili penduduk usia kerja di pulau Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Sementara itu tenaga kerja malah lebih terkonsentrasi hanya di perkotaan dan di wilayah Jawa dan Bali.

(6)

Peningkatan jumlah absolut dan relatif penduduk usia kerja yang besar sebagai akibat dari transisi demografi, dapat berdampak pada meningkatnya kebutuhan kesempatan kerja. Selain itu, juga perlu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, yang saat ini masih didominasi oleh pekerja berkualitas rendah.

Pada dasarnya, kelompok penduduk usia kerja muda seharusnya masih termasuk kelompok penduduk yang sedang menempuh pendidikan di tingkat SMA dan Perguruan Tinggi. Namun kenyataannya, persentase penduduk usia tersebut yang menyelesaikan pendidikan sampai jenjang SMA lebih kecil dibandingkan mereka yang mampu menyelesaikan pendidikan SMP.

Ternyata Pemda belum siap kebijakan khusus untuk merespon perubahan penduduk usia kerja, kecuali penetapan upah minimum regional. Namun demikian, secara umum dalam RPJMD dan RPJPD sudah ada kebijakan tentang peningkatan kualitas, dan penurunan angka pengagguran. Hal ini ditunjukkan oleh adanya kebijakan operasional tentang pelatihan keterampilan da kewirausahaan tentang peluang kerja yang diperoleh dari perusahaan swasta nampaknya pengelola program Kependudukan. Nampaknya Program Kependudukan dan KB (KKB) di Kota Medan, Deli Serdang, Kota Makassar, memiliki komitmen tinggi terhadap Program Keluarga Berencana (KB) Perusahaan. Pola pikir yang cenderung memilih bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dapat menjadi salah satu faktor penghambat penyerapan kerja yang tersedia. Lembaga legislatif hanya fokus pada peran pengawasan jika ada pengaduan tenaga kerja.belum ada kebijakan terpadu antar sektor terkait sebagai pendukung terciptanya penduduk usia kerja berkualitas dan penyerapan tenaga kerja maksimal. Maka dari itu, Pemerintah daerah perlu menegaskan kebijkan yang mengarah pada: 1). Pengendalian penduduk dengan menggalakkan program KKB; 2) Penanganan penduduk usia kerja yang terdiri dari: persiapan kualitas angkatan kerja dan ketersediaan lapangan kerja.

2.2.4 Jumlah Penduduk Lanjut Usia Meningkat

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin menigkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut UU Nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud usia adalah penduduk yang telah menapai usia 60 tahun ke atas.

Jika dibanding dengan kelompok penduduk lainnya, penduduk usia lanjut (umur 60 tahun atau lebih) Indonesia memang relatif kecil. Namun peningkatan proporsinya dinilai sangat cepat. Pada tahun 1971, proporsinya masih sekitar 4,5% meningkat hamipr dua kali lipatnya dalam kurun waktu 30 tahun, yaitu 7,1% pada tahun 2000. Pada tahun 2015 diproyeksikan akan meningkat menjadi 9,4% (Bappenas, 2007). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa di Indonesia proporsi penduduk usia lanjut ini perlu mendapat perhatian, terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan seperti layanan kesehatan.

Badan kesehatan dunia WHO menyatakan bahwa penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2020 mendatang sudah mencapai angka 11,34% atau tercatat 28,8 juta orang, balitanya tinggal 6,9% yang menyebabkan Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk lanjut usia terbesar di dunia.

(7)

tahun pada tahun 2000, dan 69, tahun pada 2015. Sementara proporsi penduduk usia lanjut meningkat dari 4,9 juta tahun 1950 menjadi 21,4 juta tahun 2010. Meskipun proporsi dan laju pertumbuhan penduduk usia lanjut tergolong rendah, namun pada tahun 2015, mencapai 5,9 persen atau 14,7 juta jiwa. Jumlah lansia meningkat dan mulai pesat setelah 2015. (lihat gambar di bawah ini)

Pada gambar tersebut penduduk usia lanjut dibagi menurut tiga kelompok, mengingat perbedaan kelompok umur tersebut akan berdampak pada perbedaan kebutuhan untuk perawatan dan pelayanan bagi penduduk usia lanjut tersebut. Pembagian kelompok umur penduduk lanjut usia diantaranya:

Young old, usia 60-69 tahun

Midle old, usia 70-79 tahun

(8)

Provinsi dengan usia harapan hidup yang lebih tinggi juga mempunyai jumlah penduduk usia lanjut yang lebih banyak. Suatu wilayah disebut berstruktur tua jika persentase lanjut usianya lebih dari 7 persen. Dari seluruh provinsi di Indonesia, ada 11 provinsi yang penduduk lansianya sudah lebih dari 7 persen, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, NTB, Jawa Barat dan NTT. Sedangkan lima provinsi dengan persentase lansia terendah adalah: Papua (2,15 persen); Papua Barat (2,92 persen), Kepulauan Riau (3,78 persen), Kalimantan Timur (4,53 persen ), dan Riau (4,86 persen).

(9)

Sebagai perempuan, diskriminasi yang disebabkan oleh struktur sosial dan budaya masyarakat sebenarnya sudah terjadi sejak usia muda. Hal ini kita ketahui sebagai akibat dari perbedaan yang bersifat kodrati maupun sebagai akibat dari perbedaan gender. Perbedaan tersebut juga dari status perkawinan. Lanjut usia yang sebagian besar berstatus cerai mati dan cerai hidup. Karena usia harapan hidup perempuan yang lebih panjang dibandingkan laki-laki, maka lebih banyak lanjut usia perempuan yang ditinggal mati lebih dulu oleh suaminya. Karena perbedaan gender menyebabkan perempuan terbiasa mengurus dirinya sendiri, sehingga lebih siap untuk tinggal sendiri.

Dilihat dari kualitas hidup, penduduk lanjut usia umumnya masih rendah. Kondisi ini disebabkan tingkat melek huruf lansia. Sebagian besar lanjut usia tidak/belum pernah sekolah dan tidak tamat SD. Jika dibandingkan antar jenis kelamin, pendidikan tertinggi yang ditamatkan lanjut usia perempuan secara umum lebih rendah dibandingkan lanjut usia laki-laki.

Angka buta huruf penduduk lanjut usia masih tinggi, sekitar 30,62 persen pada tahun 2007. Jika dibandingkan antar jenis kelamin, angka buta huruf lanjut usia prempuan jauh lebih tinggi dibandingkan laik-laki, yaitu 17,32 persen berbanding 42,07 persen. Tidak berbeda dengan angka buta huruf penduduk secara keseluruhan, angka buta huruf lanjut usia juga lebih besar di pedesaaan dibandingkan di perkotaan

Peningkatan jumlah dan proporsi penduduk usia lanjut ini perlu diperhatikan, terutama terkait dengan dampak dan permasalahan yang ditimbulkannya. Mengingat kebutuhan untuk penduduk usia lanjut berbeda dengan penduduk usia muda. Selain itu, penduduk lanjut meskipun berproduksi, tapi berbeda dengan ketika mereka berada pada usia kerja. Bahkan mungkin penduduk usia lanjut sudah tidak berproduksi lagi. Mengingat mereka sudah mengalami penurunan kondisi sosial, ekonomi dan kesehatan. Sementara itu mereka masih tetap mengkonsumsi. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam hal pemenuhan kebutuhannya. Apalagi jika tidak ada upaya pengendalian laju pertumbuhan penduduk, sehingga penduduk usia muda masih tetap tinggi. Diperkirakan di masa depan, proporsi penduduk usia muda dengan usia lanjut akan sama yang akan berdampak pada pelayanan kesehatan karena terjadi beban ganda penyakit.

2.3 Isu dan Maslah-masalah Kualitas Penduduk

Kemajuan sebuah negara sangatlah bergantung pada kualitas sumber daya manusia penduduknya. Saat ini, negara-negara maju notabene berasal dari negara yang miskin akan SDA tetapi unggul dalam bidang SDM. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik SDM suatu negara, maka tingkat kesejahteraannya akan semakin meningkat.

Dalam kualitas Sumber Daya Manusia, Indonesia termasuk negara yang terbelakang. Saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada pada peringkat ke-121 dari 187 negara. Kita berada jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura (peringkat 18), Malaysia (peringkat 64), Thailand (peringkat 103), dan Filipina (peringkat 114).

(10)

dengan produktivitas maka peningkatan jumlah penduduk produktif harus di imbangi dengan kualitasnya, agar mereka yang masuk ke usia tersebut dapat memperoleh kesempatan kerja.

Upaya pembangunan pada dasarnya menginginkan agar kualitas penduduknya tinggi. Suatu negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar tetapi jika kualitasnya rendah maka tidak bisa di katakana negara tersebut memeiliki kualitas penduduk. Lalu bagaimanakah mengukur kualitas penduduk? Kualitas penduduk sendiri ditentukan oleh 3 faktor yaitu tingkat kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

2.3.1 Kualitas di Bidang Kesehatan

Penduduk suatu negara dikatakn berkualitas tinggi apabila tingkat kesehatannya juga tinggi. Sebaliknya, jika tingkat kesehatannya rendah maka kualitas penduduknya juga rendah. Namun Indonesia masih tergolong tingkat kesehatannya masing rendah, hal ini dapat di nilai dari faktor makanan, lingkungan, fasilitas kesehatan dan ketersediaan tenaga medis. Selain itu tingkat kesehatan manusia dari suatu negara dapat dilihat dari tinggi rendahnya angka kematian, angka kematian bayi dan angka harapan hidup.

Tingkat kesehatan penduduk dikatakan tinggi apa bila angka kematian dan angka kematian bayi tergolong rendah namun angka harapan hidupnya tinggi. Sebaliknya, tingkat kesehatan penduduk dikatakan rendah apabila angka kematian dan angka kematian bayi tinggi namun angka harapan hidupnya rendah. Adapun untuk meningkatkan kualitas kesehatan yakni:

 Memperbanyak dan meningkatkan fungsi rumah sakit atau puskesmas

 Menambah serta menaikkan kualitas tenaga medis

 Menyelenggarakan penyuluhan kesehatan, gizi dan lingkungan

 Mengadakan imunisasi massal secara gratis

 Membangun posyandu

2.3.2 Kualitas di Bidang Pendidikan

Kualitas penduduk menurut tingkat pendidikannya dapat dikelompokkan menjadi penduduk yang buta hurf dan buta huruf.Salah satu faktor bidang pendidikan untuk mengukur Indeks Pembangunan Manusia(IPM) adalah angka melek huruf yang mempunyai definisi sebagai presentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis serti mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Angka Melek Huruf sendiri dapat digunakan untuk:

a. Mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf, terutama di daerah pedesaan Indonesia dimana di pedesaan masih tinggi penduduk yang belum sempat mengenyam pendidikan sekolah, baik SD, SMP maupun SMA

b. Menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari media

c. Menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis suatu daerah

(11)

penguasaan teknologi yang baik juga memudahkan penduduk untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga taraf hidup selalu meningkat.

Dalam kasus ini Indonesia masih di golongkan memilik tingkat pendidikan yang masih rendah hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

 Masih kurangnya kesadaran masyarkat akan pentingnya pendidikan

 Pendapatan penduduk yang rendah menyebabkan orang tua tidak mampu membiayai pendidikan

 Belum meratanya sarana pendidikan

Untuk meningkatkan kualitas penduduk, pemerintah mengambil langkah-langkah. Antara lain sebagai berikut :

 Membangun sekolah-sekolah baru terutama SD di daerah yang mengalami kekurangan sekolah

 Menambah dan meningkatkan kualitas penduduk

 Mencanangkan wajib belajar dan orang tua asuh

 Memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi

2.3.4 Kondisi Ekonomi

Akibat pertambahan penduduk yang tinggi, maka jumlah angkatan kerja tidak seharusnya terserap. Bahkan semakin ketat persaingan tenaga kerja, maka angkatan kerja nuda yang merupakan tenaga kerja kurang produktif pun ikut bersaing. Hal ini kurang menguntungkan usaha pembangunan secara nasional karena golongan muda kurang produktif tersebut merupakan beban.

Masalah tenaga kerja dan kesempatan kerja merupakan masalah yang harus ditangani secara serius karena sangat peka terhadap ketahanan nasional. Dalam hal ini pemerintah telah mengambil langkah sebagai berikut:

 Mengurangi angka pengangguran di daerah padat penduduk

 Meningkatkan penyaluran, penyebaran dan pemanfaatan tenaga kerja

 Meingkatkan keterampilan tenaga kerja

 Meningkatkan hubungan perburuhan yang baik

Besarnya penghasilan penduduk dapat berpengaruh terhadap taraf hidup seseorang. Semaking tinggi penghasilan, maka semakin tinggi juga pula taraf hidupnya. Taraf hidup seseorang dipengaruh oleh rata-rata perkapita negara tersebut. Pendapatan perkapita dipengaruhi oleh besar kecilnya pendapatan ekonomi nasional dalam satu tahun yang disebut GNP dan perkembangan jumlah penduduk.

2.3.5 Faktor Penghambat Peningkatan Kualitas Hidup Manusia

2.3.5.1 Persoalan Rendahnya Kualitas Hidup Manusia

(12)

2.3.5.2 Faktor Penghambat Peningkatan Kualitas Manusia di Bidang Kesehatan

Adapun faktor penentu rendahnya kualitas kesehatan masyarakatnya diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Disparitas status kesehatan

Meskipun secara nasional kualitas kesehatan masyarakat telah meningkat, akan tetapi disparitas status kesehatan antar tingkat sosial ekonomi, antar kawasan, dan antar perkotaan-perdesaan masih cukup tinggi. Kita ketahui bahwa kesehatan masyakarat di pedesaan masih jauh dari kata layak. Hal ini berbeda dengan masyarkat perkotaan mengingat titik akes kesehatan masih hanya tersedia di daerah perkotaan.

b. Beban Ganda Penyakit

Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), malaria, diare, dan penyakit kulit. Namun demikian, pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, serta diabetes mellitus dan kanker.sebenarnya hal ini dikarenakan beberapa faktor seperti kebersihan, kebersihan sendiri sangat penting mengingat banyaknya penyakit yang akan di bawa jika suatu daerah di nilai sebagai daerah yang kotor.

c. Kinerja Pelayanan Kesehatan yang Rendah

Masih rendahnya kinerja pelayanan kesehatan dapat dilihat dari beberapa indikator, seperti proporsi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, proporsi bayi yang mendapatkan imunisasi campak, dan proporsi penemuan kasus(Case Detection Rate) tuberkulosis paru. Pada tahun 2002, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan baru mencapai 66,7 persen, dengan variasi antara 34,0 persen di Propinsi Sulawesi Tenggara dan 97,1 persen di Propinsi DKI Jakarta. Pada tahun 2002, cakupan imunisasi campak untuk anak umur 12-23 bulan baru mencapai 71,6 persen, dengan variasi antara 44,1 persen di Propinsi Banten dan 91,1 persen di Propinsi D.I. Yogyakarta. Sedangkan proporsi penemuan kasus penderita tuberkulosis parupada tahun 2002 baru mencapai 29 persen.

d. Perilaku Masyarakat yang kurang Mendukung pola hidup bersih dan sehat

Perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung peningkatan status kesehatan penduduk. Perilaku masyarakat yang tidak sehat dapat dilihat dari kebiasaan merokok, rendahnya pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, tingginya prevalensi gizikurang dan gizi lebih pada anak balita, serta kecenderungan meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS, penderita penyalahgunaan narkotika, psikotropika, zat adiktif(NAPZA) dan kematian akibat kecelakaan.

e. Rendahnya Kondisi Kesehatan Lingkungan

(13)

terhadap air yang layak untuk dikonsumsi baru mencapai 50 persen, dan akses rumah tangga terhadap sanitasi dasar baru mencapai 63,5 persen.

f. Terbatasnya tenaga kesehatan dan distribusi tidak merata

Indonesia mengalami kekurangan pada hampir semua jenis tenaga kesehatanyang diperlukan. Pada tahun 2001, diperkirakan per 100.000 penduduk baru dapat dilayani oleh 7,7 dokter umum, 2,7 dokter gigi, 3,0 dokter spesialis, dan 8,0 bidan. Untuk tenaga kesehatan masyarakat, per 100.000 penduduk baru dilayani oleh 0,5 Sarjana Kesehatan Masyarakat, 1,7 apoteker, 6,6 ahli gizi, 0,1 tenaga epidemiologi dan 4,7 tenaga sanitasi (sanitarian). Banyak puskesmas belum memiliki dokter dan tenaga kesehatan masyarakat. Keterbatasan ini diperburuk oleh distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata. Bila dilihat keadaan sesungguhnya, tenaga medis di daerah pedesaan lebih sedikit mengingat layanan atau fasilitas yang di terima oleh tenaga medis atau bisa juga karena upah yang membuat tenaga medis enggan untuk menempati daerah terpencil.

g. Rendahnya status kesehatan penduduk miskin

Angka kematian bayi pada kelompok termiskin adalah 61 dibandingkan dengan 17 per 1.000 kelahiran hidup pada kelompok terkaya. Penyakit infeksi yang merupakan penyebab kematian utama pada bayi dan anak balita, seperti ISPA, diare, tetanus neonatorum dan penyulit kelahiran, lebih sering terjadi pada penduduk miskin. Penyakit lain yang banyak diderita penduduk miskin adalah penyakit tuberkulosis paru, malaria dan HIV/AIDS. Rendahnya status kesehatan penduduk miskin terutama disebabkan oleh terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan karena kendala geografis dan kendala biaya (cost barrier).

2.3.5.3 Faktor Penghambat Peningkatan Kualitas Manusia di bidang Pendidikan

a. Tingkat Pendidikan yang Masih Rendah

(14)

pendidikan yang cukup lebar antar kelompok masyarakat seperti antara penduduk kaya dan penduduk miskin, antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan, antara penduduk di perkotaan dan perdesaan, dan antar daerah.

Fasilitas pelayanan pendidikan khususnya untuk jenjang pendidikan menengah pertama dan yang lebih tinggi belum tersedia secara merata. Fasilitas pelayanan pendidikan di daerah perdesaan, terpencil dan kepulauan yang masih terbatas menyebabkan sulitnya anak-anak terutama anak perempuan untuk mengakses layanan pendidikan.

Kualitas pendidikan relatif masih rendah dan belum mampu memenuhi kebutuhan kompetensi peserta didik. Hal tersebut terutama disebabkan oleh (1) ketersediaan pendidik yang belum memadai baik secara kuantitas maupun kualitas, (2) 9 kesejahteraan pendidik yang masih rendah, (3) fasilitas belajar belum tersedia secara mencukupi, dan (4) biaya operasional pendidikan belum disediakan secara memadai.

Anggaran pembangunan pendidikan belum tersedia secara memadai. Apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, alokasi anggaran pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Data Human Development Report 2004 mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu 1999-2001 Indonesia hanya mengalokasikan anggaran pemerintah (public expenditure) sebesar 1,3 persen dari produk domestik bruto (PBD). Sementara dalam kurun waktu yang sama Malaysia, Thailand, dan Filipina secara berturut-turut telah mengalokasikan anggaran sebesar 7,9 persen, 5,0 persen, dan 3,2 persen dari PDB.

b. Kualitas Manusia Masih Rendah

Manusia yang berkualitas merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan bonus demografi atau the Window of Opportunity. Dengan SDM yang memadai sebuah negara dapat berkembang dengan baik walau dengan sumber daya alam yang terbatas sekalipun seperti Singapura.

Di era globalisasi ini, manusia yang berkualitas sangat diperlukan untuk dalam rangka meningkatkan daya saing antar bangsa. Untuk menjadi manusia yang berkualitas, manusia dituntut untuk lebih berpendidikan, mempunyai keterampilan, berdaya saing tinggi, menguasai matematik, bahasa, komunikasi dan teknologi. Maka dari itu, negara harus mempersiapkan manusia yang sehat dan berpendidikan sedini mungkin.

Tidak lama lagi Indonesia akan menghadapi era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Persaingan dalam pasar tenaga kerja menjadi lebih luas dan menuntut kualitas SDM yang prima dan siap bersaing. Jika kondisi tersebut tidak segera diperbaiki, tentu potensi yang dimiliki bangsa ini justru akan dimanfaatkan oleh negara lain. Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi surplus produksi negara-negara lain dan akan memicu neraca perdagangan Indonesia menjadi semakin terpuruk.

c. Data Kependudukan yang Belum Memadai

(15)

Sebagai contoh, pada pemilu presiden tahun 2014 kemarin yang dilaksanakan beberapa bulan lalu, di suatu kabupaten di daerah Madura ketidakwajaran hasil pemilu, di mana hasilnya 100 berbanding 0 persen. Ini merupakan keanehan karena tidak mungkin di pemilihan apapun dengan hasil seperti itu jika tidak terjadi kecurangan. Bahkan, di daerah itu nama-nama orang yang sudah meninggal pun tercatat melakukan pemilihan. Ini sungguh menggambarkan data-data kependudukan belum dikelola dan diawasi dengan baik.

2.3.5.4 Faktor Penghambat Peningkatan Kualitas Manusia di Bidang Ekonomi Permasalahan kemiskinan akan dilihat dari aspek pemenuhan hak dasar, beban kependudukan serta ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender.

a. Kegagalan pemenuhan hak dasar, antara lain:

(1) terbatasnya kecukupan dan mutu pangan; (2) Terbatasnya Akses dan Rendahnya Mutu Layanan Kesehatan; (3) Terbatasnya Akses dan Rendahnya Mutu Layanan Pendidikan; (4) Terbatasnya Kesempatan Kerja dan Berusaha; (5) Terbatasnya Akses Layanan Perumahan dan Sanitasi; (6) Terbatasnya Akses terhadap Air Bersih; (7) Lemahnya Kepastian Kepemilikan dan Penguasaan Tanah; (8) Memburuknya Kondisi Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam, serta Terbatasnya Akses Masyarakat Terhadap Sumber Daya Alam; (9) Lemahnya Jaminan Rasa Aman; (10) Lemahnya Partisipasi.

b. Beban Kependudukan

Beban masyarakat miskin makin berat akibat besarnya tanggungan keluarga dan adanya tekanan hidup yang mendorong terjadinya migrasi. Menurut data Badan Pusat Statistik, rumahtangga miskin mempunyai rata-rata anggota keluarga lebih besar daripada rumahtangga tidak miskin. Rumah tangga miskin di perkotaan rata-rata mempunyai anggota 5,1 orang, sedangkan rata-rata anggota rumah tangga miskin di perdesaan adalah 4,8 orang. Dengan beratnya beban rumah tangga, peluang anak dari keluarga miskin untuk melanjutkan pendidikan menjadi terhambat dan seringkali mereka harus bekerja untuk membantu membiayai kebutuhan keluarga.

c. Ketidaksetaraan dan Ketidakadilan gender

Laki-laki dan perempuan memiliki pengalaman kemiskinan yang berbeda. Dampak yang diakibatkan oleh kemiskinan terhadap kehidupan laki-laki juga berbeda dari perempuan. Sumber dari permasalahan kemiskinan perempuan terletak pada budaya patriarki yang bekerja melalui pendekatan, metodologi, dan paradigma pembangunan. Praktek pemerintahan yang bersifat hegemoni dan patriarki, serta pengambilan keputusan yang hirarkis telah meminggirkan perempuan secara sistematis dalam beberapa kebijakan, program dan lembaga yang tidak responsif gender.

(16)

tawar yang lemah, sementara suara perempuan dalam memperjuangkan kepentingannya tidak tersalurkan melalui mekanisme pengambilan keputusanformal.

Masalah keterwakilan suara dan kebutuhan perempuan dalam pengambilan keputusan untuk merumuskan kebijakan publik tersebut sangat penting karena produk kebijakan yang netral gender hanya akan melanggengkan ketidak setaraan dan ketidakadilan terhadap perempuan yang berakibat pada pemiskinan kaum perempuan.

Kebijakan Pembangunan Kependudukan Era Globalisasi

Arah kebijakan pembangunan kependudukan di Indonesia meliputi 3 sasaran utama, antara lain: upaya pengendalian laju pertumbuhan penduduk, peningkatan kualitas dan pengembangan SDM

1. Upaya Pengendalian Laju Pertumbuhan Penduduk

Pengendalian laju pertumbuhan penduduk diharapkan guna mencipatakan keseimbangan antara jumlah penduduk dengan daya tamping lingkungannya. Untuk itu diperlukan kesadaran akan bahaya pertumbuhan penduduk yang terlalu tinggi. Rencana yang di perlukan adalah penurunan angka kelahiran dan angka kematian, ujungnya dapat diwujudkannya jumlah penduduk yang selaras dan seimbang dengan lingkungannya.

Kaitannya dengan pengendalian pertumbuhan serta kuantitas penduduk, dirasa perlu mengembangkan upaya-upaya di bidang pendidikan kependudukan dan pendidikan KB, utamanya menyangkut masalah pemahaman tentang agung dan indahnya sex sebagai anugerah tuhan yang harus di rawat dan disucikan. Pula harus di mantapkan perubahan perilaku reproduksi di masa remaja, pencegahan penyakit kelamin(HIV,aids,raja singa). Sehingga para peserta didiknya memahami tujuan NKKBS(norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera)

2. Peningkatan Kualitas Kependudukan dan Pengembangan SDM.

Disamping pengendalian kuantitas penduduk juga tidak kalah pentingnya kualitas dan pengembangan SDM, yang semakin hari keliatan semakin menentukan arah pembangunan bangsa (Prijono, 1998)

Penignakatan kualitas kependudukan meliputi kualitas fisik, di antaranya melalui pemantapan gizi penduduk, layanan kesehatan, kebugaran jasmani dan layanan bagi para penduduk lansia. Sedangkan peningkatan kualitas non fisik meliputi kualitas kepribadian, kemandirian, disiplin dan rasa ingin memanfaatkan alam sekitarnya dengan sebaik-baiknya.

Kualitas penduduk juga mengandung makna kualitas bermasyarakat, artinya setiap insan Inhatdonesia mampu mengembangkan diri di tengah masyarakat dengan selaras dan seimbang antar fungsinya sebagai makhluk social, makhluk budaya, makhluk ekonomi dan makhluk politik yang sehat dan berwacana keimanan.

3. Peningkatan SDM

(17)

memahami makna kewiraswastaan yang handal hingga mampu mengembang manfaat lingkungan hidupnya demi kesejahteraan diri dan bangsanya.

Pengembangan SDM juga memperhatikan fungsi gender, serta memberi kesempatan kerja seluas-luasnya dan di berbagai jenis pekerjaan bagi para wanita. Terlebih-lebih apabila kita sadari dunia wanita Indonesia saat ini tengah mengalami perubahan sifat kerjanya, awalnya di sektor domistik bergeser ke arah sektor public, guna meningkatkan status ekonomi setiap keluarga. Apabila strutktur dan jenis pekerjaan yang dimiliki para wanita masih terbatas seperti masa-masa lalu, revolusi sifat kerja tersebut akan terhambat, sebagai akbiatnya tampak dari jumlah TKI yang saat ini mencapai kurang80 lebih 1.962.000 orang, ternyata 80% adalah para TKW

Menyadari permasalahan di atas maka peningkatan kualitas hidup dan pengembangan SDM selayaknya ditujukan ke semua kelompok dan strata umur penduduk, dari bayi, balita, remaja, dewasa dan lansia. Hasilnya di harapkan didapatnya SDM yang andal, mandiri, beretos kerja dan dedikasi tinggi, memiliki sifat wiraswasta, dapat memanfaatkan lingkungan secara optimal, serta berkesadaran mengurangi pertumbuhan penduduk secara proporsional.

4. Perlu adanya unit Jaringan Informasi Kependudukan

Guna lebih memantapkan program kerja kea rah terwujudnya semua tujuan di atas, perlu di pikirkan adanya lembaga atau unit jaringan informasi kependudukan, yang diharapkan mampu menganilisis permasalahan kependudukan dan menyiapkan seperangkat data guna menunjang kebijakan kebijakan kependudukan masa mendatang(Salladien, 1998)

2.4 Hal yang diperlukan diperhatikan dalam meninjau kembali kependudukan yang ada dan merumuskan kebijakan baru

Visi dan arah dari pembangunan kependudukan perlu diperjelas. Sebelum ini, arah kebijakan dan program-program kependudukan lebih banyak ditujukan pada target-target kuantitatif dari parameter-parameter demografis seperti penurunan angka fertilitas dan mortalitas, serta jumlah peserta transmigrasi. Orientasi seperti ini sebenarnya merupakan hal yang wajar dan dipraktekan di berbagai negara. Sayangnya, target-target tersebut menjadi sesuatu yang seolah-olah tidak bisa ditawar dan harus tercapai, apa pun jalan yang harus ditempuh. Akibatnya, di kalangan pelaksana program biasanya diikuti dengan pendekatan yang kurang simpatik terhadap kelompok sasaran.

Hasil-hasil dari kebijakan dan program dengan orientasi seperti itu jelas tidak cukup memadai. Kalaupun hasilnya dianggap memadai, seperti cakupan dan prevalensi penggunaan kontrasepsi, keberlangsungannya di pertanyakan. Oleh karenanya, orientasi pada kualitas, baik dalam proses implementasi program maupun hasil yang dijarapkan yaitu kualitas penduduk, sudah saatnya mejadi arah kebijakan dan program yang baru.

(18)

masyarakat. Penduduk atau anggota masyarakat seolah-olah tidak perlu mengetahuinya. Pada era reformasi seperti seakrang ini sudah seharusnya setiap orang dapat mengetahui data data itu. Dengan kata lain, setiap orang berhak mendapatkan berbagai informasi kependudukan. Apalagi sebenarnya tersedianya informasi yang memadai mengenai data kependudukan sebenarnya amat penting bukan hanya untuk pemerintah dan para peniliti semata-mata, tetapi juga bagi kalangan bisnis. `

Akses mereka yang amat terbatas terhadap data demografi dan kependudukan sering mempersulit pengambilan keputusan mereka untuk melakukan investasi.

Berkatian dengan isu di atas, masalah kelembagaan dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaan program-program kependudukan hingga sekarang belum jelas pengaturannya. Kantor menteri negara kependudukan yang sebelumnya berdiri sendiri. Pada awal pemerintahan presiden abdurrahmaan wahid lembaga ini di gabung menjadi satu dengan kementrian transmigrasi, dan sekarang tidak jelas keberadaannya. Perubahan ini tentu memiliki implikasi yang tidak sederhana terhadap orientasi dan arah kebijakan kependudukan. Perubahan struktur seperti ini mencerminkan kurang pekanya pemerintah pusat terhadap masalah kependudukan.

Sementara masalah transmigrasi di anggap masih penting, sepertinya yang tampak dalam struktur kementrian yang digabung dengan departemen tenaga kerja, masalah kependudukan yang lebih luas tidak cukup diperhatikan. Hal seperti ini tentu akan menimbulkan masalah baru terutama dalam penyusunan prioritas dan arah kebijakan kependudukan di masa mendatang.

Masalah kelembagaan lain adalah tingginya fragmentasi lembaga yang terlibat dalam pembangunan kependudukan. Begitu banyaknya kementrian dan lemabga non departemen yang membuat kebijakan dan program kependdukan menjadi tumpang tindih dan tidak jelas arahnya sekedar contoh, dalam pengembangan data informasi kependudukan ada begitu banyak lembaga yang terlibat diantaranya: Badan Pusat Statistik, BKKBN, Departemen Dalam Negeri serta Departemen kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. Contoh lain adalah penanganan penduduk miskin yang dilakukan oleh BKKBN, Bappenas dan beberapa departemen lain. Akibatnya, ada duplikasi dan benturan dari program-program sejenis yang dilakukan oleh berbagai departemen dan lembaga nondepartemen.

(19)

Ada beberapa isu lama yang masih terus menjadi perhatian seperti masalah perempuan, penduduk usia lanjut, penduduk miskin dan penduduk di pedesaan (Dwiyanto 1997). Beberapa isu ini sering menjadi sorotan pada tingkat kebijakan dan program secara angina-anginan. Di samping itu, seperti disebutkan pada pembahasan isu kedua kelompok penduduk ini lebih banyak dijadikan sebagai objek kebijakan dan program pembanguna tanpa ada upaya secara lebih serius untuk menanganinya.

Indonesia yang aktif berpartisipasi dalam berbagai pertemuan tingkat dunia untuk masalah kependudukan maupun perempuan dan meratifikasi hasil-hasilnya, tidak cepat mengimplementasikan dalam bentuk program-program nyata. Oleh karenanya, tidak mengherankan bila aparat kehakiman masih ada yang tidak ibat dengan korban pemerkosaan. Pemerintah sepertinya juga menutup mata terhadap para tenaga kerja perempuan yang nasibny seperti sapi perahan, baik ketika di dalam negeri maupun luar negeri.

Kebijakan pemerintah untuk mengatasi permasalahan yang muncul berkaitan dengan meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut juga tidak jelas. Ada kesan yang kuat bahwa permasalahan usia lanjut diserahkan pada keluarga. Sikap seperti ini menunjukkan ketidaksensitifan pemerintah terhadap masalah yang berkembang. Bagaimana mungkin orang usia lanjut dapat mengandalkan anak-anaknya untuk memelihara mereka sementara bentuk dan struktur keluarga telah berubah derastis. Sikap tidak mengacuhkan kondisi usia lanjut seperti ini menyebabkan orang-orang lanjut usia merasa sangat tidak terjamin hidupnya. Mereka kemudian ingin mati saja daripada harus menderita.

2.4.4 Arah Kebijakan Kependudukan

Program kependudukan adalah investasi jangka panjang untuk beberapa generasi, yang hasilnya tidak dapat dirasakan seketika. Namun merupakan upaya sistematis dan terencana untuk membangu kualitas manusia, pembangunan berkelanjutan, dan peningkatan taraf hidup rakyat.

Arah kebijakan yang perlu dilakukan ke depan diantaranya:

 Mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk secara konsisten.

 Melakukan advokasi atau sosialisasi terhadap dampak laju pertumbuhan penduduk tinggi terhadap pemenuhan hak-hak dasar penduduk.

 Memastikan early childhood development yang baik.

 Wajib belajar lebih dari 9 tahun untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas SDM generasi muda masa depan serta mempermudah akses untuk menempuh perguruan tinggi.

 Membina remaja agar memiliki karakter yang kuat dan baik yang kuat mengatasi akibat negatif dari tereksposnya HIV/AIDS, narkoba, seks bebas, serta berbagai ancaman baru dalam kesehatan

 Peningkatan kualitas sumberdaya penduduk usia kerja.

(20)

 Peningkatan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan lanjut usia dalam mencapai active ageing.

Mengingat bahwa meskipun laju pertumbuhan penduduk telah menurun, namun jumlah absolute penduduk Indonesia masih akan terus bertambah di masa yang akan datang. Semakin banyak jumlah penduduknya, maka pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, papan, energi, pendidikan, pelayanan kesehatan, pekerjaan dan pelayanan publik lainnya.

Oleh karena itu, arah kebijakan yang seharusnya dilakukan dalam rangka menurunkan pertambahan jumlah penduduk diantaranya:

1. Meneruskan upaya pengendalian penduduk dengan sangat memperhatikan hak reproduksi, hak azasi, serta kesejahteraan keluarga, hal yang dapat dilakukan pemerintah diantaranya

a. Meneruskan dan merevitalisasi kembali program KB dengan penentuan sasaran yang jelas.

b. Memantapkan kembali pelembagaan paradigm keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Dalam hal ini keluarga-keluarga perlu diarahkan kepada perubahan paradigma cara berfikir tentang nilai anak. Anak sebagai keturunan perlu biaya social, ekonomi, dan psikologi agar menjadi anak yang mandiri, sehat dan berpendidikan. Untuk itu agar mereka memiliki anak sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka.

2. Pengendalian mobilitas penduduk. Dalam rangka mengatasi permasalahan terkait dengan mobilitas, maka perlu adanya kerja sama dari Pemda dengan lembaga terkait untuk pemerataan pembangunan.

3. Urbanisasi dan kemiskinan. Masalah urbanisasi yang tidak dapat diatasi dengan baik akan berdampak pada kemiskinan penduduk. Maka dari itu, untuk mengantisipasi hal ini perlu ada kerjasama dengan sektor lain yang menangani masalah kemiskinan dan urbanisasi.

4. Peningkatan kualitas SDM. Peningkatan kualitas SDM harus dilakukan sejak dini dan harus bersinergi dengan upaya pemenuhan kesehatan dan pendidikan dasar serta pendidikan budaya dan bela negara.

5. Sensus penduduk masih tetap dilaksanakan. Untuk data menjadi acuan dalam perencanaan pembangunan, maka data yang diperoleh dari sensus penduduk sangatlah penting.

6. Sosialisasi akan pentingnya data administrasi penduduk. Dalam hal ini KIE perlu mengubah sikap pasif menjadi aktif. Dari penduduk untuk melapor peristiwa kependudukan dan peristiwa penting.

(21)

DAFTAR PUSTAKA

“2013, Penempatan TKI mencapai 512.168 orang

http://www.jpnn.com/read/2014/04/01/225678/2013,-Penempatan-TKI-Capai-512.168- (diakses

15 Oktober 2014)

Adioetomo, Sri Moertiningsih & Lilis Heri Mis Cicih. “Isu Strategis Kependudukan Indonesia”.

“Dampak Negatif Urbanisasi“, http://matakristal.com/dampak-negatif-urbanisasi/

(diakses 19 Oktober 2014)

“Dampak Positif dan Negatif dari Mobilitas Penduduk”http://brainly.co.id/tugas/44244

(diakses 18 Oktober 2014)

Direktorat Analisis Dampak Kependudukan, BKKBN, “Isu-Isu Strategi Dalam Analisis Dampak Kependudukan Terhadap Sosial Ekonomi” Abstraksi.

Faturrochman dan Agus Dwiyanto. 2011. “Reorientasi Kebijakan Kependudukan”. Yogyakarta: Aditya Media

Munir, Syaiful.”Kualitas SDM Rendah, Indonesia Perlu REvolusi Mental”

(22)

Nurhayat, Wiji. “Jumlah TKI mencapai 6,5 juta jiwa tersebar di 142 negara “

Referensi

Dokumen terkait

Untuk meningkatkan kemampuan/kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kabupaten Dairi maka Badan Kepegawaian Daerah melakukan pengembangan pegawai dengan pendekatan formal yaitu

asupan natrium dan kalium terhadap tekanan darah pada Pegawai Negeri. Sipil (PNS) Dinas Kesehatan

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi penataan dan pemerataan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) jenjang SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo. Penelitian

Peraturan cuti Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tercantum dalam PP nomor 24 Tahun 1976 tentang cuti PNS, selama ini tidak pernah dirasakan penting, karena dosen dapat libur

Peraturan cuti Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tercantum dalam PP nomor 24 Tahun 1976 tentang cuti PNS, selama ini tidak pernah dirasakan penting, karena dosen dapat libur

Kriteria dalam menentukan sampel adalah: “Seluruh Pegawai Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Banten yang berstatus Pegawai Pegawai Negeri Sipil (PNS)”. yang berjumlah 65

Untuk meningkatkan kemampuan/kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kabupaten Dairi maka Badan Kepegawaian Daerah melakukan pengembangan pegawai dengan pendekatan formal yaitu

Analisis Motivasi Kerja terhadap Kinerja Pegawai Negeri Sipil PNS Sekretariat DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan hasil analisis deskriptif pada tabel 5.7 diketahui bahwa