• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kompetensi Keahlian Sekolah Menengah Kej (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kompetensi Keahlian Sekolah Menengah Kej (1)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Kompetensi Keahlian Sekolah Menengah Kejuruan :

Antara Kebijakan dan Realita

Agung Premono*)

*) Mechanical Engineering Department, Faculty of Engineering State University of Jakarta

engembangan Sekolah Menengah Kejuruan saat ini ditujukan untuk memenuhi prosentase SMU : SMK = 30 : 70. Pemberlakuan Kepmen No. 251/C/KEP/MN/2008 tentang Spektrum Keahlian SMK akan menimbulkan beberapa kemungkinan, yaitu : (1) Program Keahlian semakin banyak,(2) semakin berkurang, atau(3) tetap. Studi ini dilakukan untuk melihat kondisi Bidang Keahlian SMK saat ini dari sisi Kepmen No.251/C/KEP/MN/2008, dengan metode Sensus, yaitu mendata keseluruhan kompetensi keahlian yang ada di SMK di Kota Tangerang. Hasil survei menunjukkan bahwa terdapat 5 (lima) bidang keahlian yang dikembangkan di Kota Tangerang, yaitu : Bisnis Manajemen, Teknologi Rekayasa, TIK, Seni Pariwisata, dan Kesehatan. Ada satu bidang keahlian yang belum dikembangkan yaitu Agroindustri. Kompetensi keahlian SMK terbanyak di Kota Tangerang : Akuntansi, Teknik Kendaraan Ringan (Sepeda Motor), dan Teknik Komputer dan Jaringan. Penelitian ini menyarankan agar pemerintah Kota Tangerang mengembangkan SMK berdasarkan kebutuhan nyata. Penelitian ini menyerankan agar Pemerintah Kota Tangerang mengembangkan SMK berdasarkan kebutuhan nyata di kota tersebut.

Kata-kata kunci: bidang keahlian, kompetensi keahlian, pendidikan kejuruan.

Abstract

At present the Indonesian government is trying to balance the number of vocational schools to general/ academic schools to reach the ratio of 70-30. The development of vocational schools are based on the decree National Education Minister of No. 251/C/KEP/MN/2008 on the spectrum of vocational competences. This research focussed the study of vocational competences related to the man power needs in Tangerang City. The data collected show 5 (five) areas of vocational competences are being developed: Management Business, Engenering Technology, ICT, Tourism. and Health. Agroindustry is not developed yet.While the dominant vocational competences include accounting, automotive, and computer net working. This research recomends the Tangerang City Government to develop vocational schools based on the real local needs.

Keywords: areas of expertise, competency skills, vocational educational.

Abstrak

P

Pendahuluan

Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di masing-masing kabupaten/kota akan dilakukan hingga akhirnya akan dicapai perbandingan antara SMK dengan SMU menjadi 70 : 30. Upaya untuk terus memperbanyak SMK adalah karena lulusan SMK lebih mudah masuk

ke pasar kerja dibandingkan lulusan SMA karena umumnya mata pelajaran di SMK dengan disertai dengan praktik keterampilan.

(2)

Program keahlian yang diproyeksikan menga-lami perkembangan yang sangat pesat adalah kelompok program Pertanian, Pariwisata, Perikanan, Kelautan, dan Teknologi Informasi. Diperkirakan pada tahun 2020 jumlah SMK yang akan membuka kelompok program tersebut mencapai 6.151. Kelompok program cukup stabil dan diproyeksikan mengalami perkembangan yang wajar adalah kelompok program Teknologi dan Industri serta Kelompok Seni dan Kerajinan, yang diperkirakan akan mencapai 3.178 SMK yang menyelenggarakan program tersebut. Sedangkan kelompok program Bisnis dan Manajemen, merupakan program yang diproyek-sikan mengalami kejenuhan di pasar kerja dan jumlahnya cenderung akan menurun dan diproyeksikan pada tahun 2020 hanya 923 SMK yang menyelenggarakan program tersebut.

Diberlakukannya keputusan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah tentang spektrum keahlian pendidi-kan menengah kejuruan, menjadipendidi-kan SMK saat ini memiliki 121 kompetensi keahlian. Tujuan dikeluarkannya keputusan tersebut adalah agar SMK dalam mengembangkan program keahlian tidak semaunya membuat nama sendiri terhadap program tersebut dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja.

Kajian Pustaka

Pasal 12 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 tersebut menetapkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak menda-patkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan. Salah satu ben-tuk satuan pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Kejuruan.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat. Sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional, SMK merupakan pendi-dikan lebih mengutamakan pengembangan kemampuan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu, kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja, melihat peluang kerja dan mengembangkan diri di kemudian hari. Dengan

kata lain bahwa SMK berperan dalam menyiapkan peserta didik agar siap bekerja, baik bekerja secara mandiri maupun mengisi lowongan pekerjaan yang ada. Dengan demikian arah pengembangan SMK harus diorientasikan pada penentuan permintaan pasar kerja. Calhoun & Finch, 1982, seperti yang dikutip oleh As’ari Djohar, 2008, mengartikan pendidikan kejuruan sebagai berikut.

Vocational education is organized educational programs which are directly related to the preparation of individuals for paid or unpaid employment, or for additional preparation for a career requirements other than a baccalaureate of advanced degree”

Di bagian lain, Djohar juga menyebutkan bahwa komponen yang menyangkut ketenaga-kerjaan mencakup tiga aspek pokok, yaitu (1) kesempatan kerja bagi semua yang memerlu-kannya dalam suatu struktur lapangan kerja yang menjamin kesinambungan antara pilihan perorangan, penghasilan yang memadai, dan pemenuhan masyarakat akan barang dan jasa; (2) pendidikan dan pelatihan yang mampu mengembangkan potensi manusia secara optimal; dan (3) mekanisme penyesuaian antara manusia dan pekerjaan, tanpa merugikan perorangan maupun jumlah produksi. Dari ketiga komponen tersebut sangat jelas, bahwa dunia pendidikan merupakan salah satu komponen penting dalam dunia ketenaga-kerjaan, khususnya dalam komponen kedua yang itu bisa dipenuhi oleh SMK (pada jenjang Sekolah Menengah) maupun pendidikan Vokasi (pada jenjang Pendidikan Tinggi).

Dalam akhir tulisannya, Djohar menyim-pulkan bahwa karena tingginya keterkaitan penyelenggaraan pendidikan kejuruan dengan tuntutan dunia kerja, maka pendidikan kejuruan haruslah memiliki sifat responsive-aktif, serta adaptasilitas dan fleksibilitas tinggi, seperti yang ditetapkan oleh sang pencetus, Calhoun & Finch yang menyebutkan bahwa :

Vocational education should be evaluated on the basis of economic efficiency. Vocational education is economically efficient when (a) it prepares students for specific jobs in the community on the basis of man power needs; (b) it insures an adequate labor supply for an occupational area; and (c) the student gets the job for which he was trained”

(3)

02 Mei 2005 Harian SINAR HARAPAN menulis headline tentang “Mendidik Tenaga Terampil dan Pintar Butuh Dukungan Industri”. Tulisan tersebut menyoroti perlunya sinergi antara dunia pendidikan dan dunia industri agar lulusannya memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia industri. Kondisi ini sudah dilakukan di bebe-rapa SMK dan Politeknik terkemuka di Indone-sia, seperti SMK PIKA Semarang, SMK Mikael Surakarta, POLMAN Bandung, ATMI Solo, POL-MAN ASTRA, dan Politeknik lainnya, sehingga para lulusannya 100 % terserap dunia kerja.

SMK sebagai salah satu institusi yang menyiapkan tenaga kerja, dituntut mampu menghasilkan lulusan sebagaimana yang diharapkan oleh dunia kerja. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang pekerjaannya, memiliki daya adaptasi dan daya saing yang tinggi. Atas dasar itu, pengembangan kurikulum dalam rangka penyempurnaan pendidikan menengah kejuruan harus disesu-aikan dengan kondisi dan kebutuhan dunia kerja serta dapat mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di samping kurikulum, pengembangan program keahlian juga harus

disesuaikan dengan kebutuh-an lapkebutuh-angkebutuh-an kerja. Berdasar-kan hal tersebut, program keahlian kemudian dikelom-pokkan menjadi kelompok bidang industri, usaha, dan profesi. Penamaan bidang keahlian dan program keahlian pada kurikulum SMK Edisi 2006 dikembang-kan mengacu pada nama bidang dan program keahlian yang berlaku pada kurikulum sebelumnya. Jenis keahlian baru diwadahi dengan jenis program keahlian baru atau spesialisasi baru pada prog-ram keahlian yang relevan.

Di dalam perkembangan-nya baperkembangan-nyak program keahlian

yang dikembangkan oleh masing-masing SMK penamaannya tidak mengikuti ketentuan yang

diberlakukan. Penamaan yang tidak berdasarkan ketentuan yang berlaku akan menyulitkan dalam pengelolaan dan penyediaan tenaga pendidik serta ketidakjelasan akan pengakuan masya-rakat pengguna. Oleh karena itu, Direktur Jenderal manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah pada tanggal 22 Agustus 2008 menerbitkan surat keputusan nomor 251/C/KEP/MN/2008 tentang spektrum keahlian pendidikan menengah kejuruan. Pertimbangan dikeluarkannya SK tersebut adalah spektrum keahlian yang telah diberlakukan sudah tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum tingkat satuan pendidikan, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan tuntutan dunia kerja. Spektrum keahlian pada dasarnya menggambarkan alur atau pola pengelom-pokkan program keahlian yang disusun berdasarkan kesetaraan atau kaitan dengan kompetensi kerja yang diperlukan oleh dunia kerja terkait.

Berdasarkan SK tersebut, ada enam bidang keahlian yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan, dengan total program studi keahlian sebanyak 40, dan kompetensi kaahlian sebanyak 121. Tabel berikut menunjukkan

jumlah program studi keahlian dan kompetensi keahlian masing-masing bidang keahlian.

(4)

Substansi atau materi yang diajarkan di SMK disajikan dalam bentuk berbagai kompetensi yang dinilai penting dan perlu bagi peserta didik. Kompetensi yang dimaksud meliputi kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi manusia Indonesia yang cerdas dan pekerja yang kompeten, sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan oleh industri, dunia usaha, dan asosiasi profesi. Oleh karena itu, substansi diklat dikemas dalam berbagai mata diklat yang dikelompokkan dan diorganisasikan menjadi program Normatif, Adaptif, Produktif, Muatan Lokal, dan Pengembangan Diri.

Saat ini, pembukaan SMK baru dalam rangka memenuhi komposisi SMU : SMK = 30 : 70 perlu ditelaah lebih lanjut. Penelaahan ini terkait dengan tujuan dibukanya SMK yaitu menyiapkan tenaga kerja siap pakai untuk level operator, baik di bidang jasa, industri, maupun yang lain. Hal ini tentunya sangat terkait dengan potensi perkembangan industri daerah tersebut. Sebagai contoh, Provinsi Bali memiliki potensi yang besar dalam bidang pariwisata, seni, dan kerajinan. Dengan demikian seharusnya di Bali lebih diutamakan SMK bidang Seni, Pariwisata, dan Kerajinan. Akan berbeda dengan Kabupaten Bontang Kalimantan Timur memiliki potensi tambang yang cukup besar sehingga SMK yang cocok untuk Kab Bontang Kaltim adalah SMK Pertambangan. Namun, pembukaan SMK yang sesuai dengan potensi daerah tersebut terkadang terkendala dengan biaya pengadaan yang tidak murah. Seperti halnya untuk melengkapi sarana prasarana sebuah SMK bidang Seni Tari, Musik, dan Drama di daerah Bali cukup menelan biaya yang tidak sedikit. Apalagi untuk membuka SMK bidang pertambangan, atau pemesinan dan sejenisnya. Dengan kondisi ini, maka untuk memenuhi tuntutan prosentase SMU : SMK = 30: 70, Pemda bekerja sama dengan pihak swasta yang ingin menanamkan modal dalam bidang pendidikan mengambil jalan pintas membuka SMK sebanyak-banyaknya tetapi dalam program keahlian yang sama, yang tentunya memerlukan dana yang tidak mahal. Jelas pembukaan SMK yang demikian akan menim-bulkan permasalahan di kemudian hari karena tujuan dibukanya SMK tidak lagi untuk melihat kebutuhan pasar kerja daerah tersebut tetapi lebih kepada pemenuhan kebijakan

Kepmen-diknas. Jika ini dibiarkan, strategi Pemerintah untuk memperbanyak SMK dengan harapan lulusannya cepat masuk dunia kerja, yang terjadi justru sebaliknya karena jumlah lulusan SMK yang membludak, walaupun sebenarnya hanya pada satu program keahlian saja.

Dari paparan di atas jelaslah terlihat bahwa permasalahan utama saat ini terkait dengan pengembangan SMK adalah pengambilan kebijakan pembukaan SMK baru yang nampaknya tidak berdasar pada kondisi potensi yang ada di daerah tersebut dan hanya memenuhi keperluan pemenuhan prosentase SMU : SMK. Untuk itu, penelitian ini ditujukan untuk (1) menggali data melalui survei seluruh SMK di Kota Tangerang; dan (2) memberi rekomendasi tentang kebijakan pembukaan SMK yang ada di Kota Tangerang.

Analisis

Survei dilakukan di 92 SMK Negeri dan Swasta di Kota Tangerang. Dari keseluruhan jumlah SMK tersebut diperoleh data sebagai berikut.

I. Bidang Keahlian

Sesuai dengan surat keputusan nomor 251/ C/KEP/MN/2008, terdapat 6 bidang keahlian. Dari keenam bidang keahlian itu, saat ini SMK di Tangerang membuka hanya 5 bidang keahlian, dan satu bidang keahlian yang belum ada adalah Bidang Keahlian Agribisnis. Bidang keahlian yang memiliki prosentase terbesar adalah Bisnis Manaje-men sebesar 40 %; yang berikutnya adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi sebesar 33 %, Teknologi dan Rekayasa sebesar 22 %, Seni dan Pariwisata sebesar 4 %, dan yang terakhir adalah bidang keahlian Kesehatan sebesar 1 %. Adapun rekapitulasi bidang keahlian yang terdapat di SMK di Kota Tangerang terlihat dalam gambar 1.

Dari data pada gambar 1 penulis melihat bahwa sesuai dengan tujuan SMK yaitu menghasilkan tenaga kerja siap pakai untuk level operator, maka kebijakan Kota Tangerang tidak membuka SMK bidang keahlian Agribisnis sudah benar.

(5)

pandangan penulis, adalah kebijakan pihak Pemda serta swasta untuk tidak memberikan sarana dan prasarana SMK bidang Agribisnis. Selain sulitnya lahan pertanian yang harus disediakan, juga minimnya jumlah industri bidang Agribis-nis di Tangerang. Hal lain yang menjadi penyebab keengganan Pemda membuka SMK bidang Agribisnis adalah minimnya jumlah peminat yang mau menggeluti bidang Agribisnis. Hal ini dapat dilihat dari kasus nyata yang ada di daerah Pemalang Jawa Tengah, yang pada tahun 1980-an ada SMK bidang pertanian yang dikelola Pemda Kab. Pemalang. Pada era 80-an, SMK tersebut merupakan SMK favorit bagi para lulusan SMP (pada saat itu) untuk masuk ke sekolah tersebut. Harapan para siswa adalah menjadi penyuluh pertanian maupun menjadi petani yang mapan dengan berbekal ilmu pengetahuan. Namun, memasuki era 90-an, sekolah tersebut surut peminat dan bahkan saat ini SMK tersebut telah berubah menjadi SMK bidang Teknik Mesin dan Manajemen Keuangan. Di sisi lain, Indonesia sebagai Negara agraris seharusnya memajukan sektor industri agribisnis, namun dalam pandangan penulis, Pemerintah lebih tertarik untuk menggenjot pembangunan dari indutsri manufaktur.

Kondisi lain menunjukkan bahwa dari data BPS, pertanian di Kota Tangerang hanya menyumbang sekitar 10 % dari perekono-mian di Kota Tangerang. Apabila program keahlian ini dibuka, maka dihasilkan akan

lulusan SMK yang menganggur karena tidak ada industri bidang agroindutsri. Yang perlu dikritisi dalam pengembangan keahlian SMK di wilayah Tangerang adalah besarnya prosentase SMK bidang Bisnis Manajemen. Dari data menunjukkan bahwa prosentase SMK bidang Bisnis Manajemen mencapai 40 %, padahal perekonomian di Kota Tangerang, dari segi usaha dan jasa, menyumbang hanya sekitar 20 % perekono-mian Kota Tangerang. Inipun BPS tidak memberikan data secara jelas tentang usaha riilnya. Kondisi jika Dinas Pendidikan Kota Tangerang terus memberikan ijin pendirian SMK bidang Bisnis dan Manajemen, maka akan mengakibatkan kejenuhan jumlah lulusan karena terlalu banyaknya lulusan SMK yang ada, sementara perekonomian segi jasa dan usaha tidak meningkat. Oleh sebab itu, Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Pendidikan harus menghen-tikan pengeluaran ijin pendirian SMK bidang Bisnis Manajemen, karena apabila SMK bidang ini terus dibuka dengan tujuan hanya untuk memenuhi perbandingan SMU dan SMK yang ada di Kota Tangerang agar memenuhi angka 30 : 70, maka tujuan pembukaan SMK sudah tidak lagi sesuai dengan pendirian SMK yang seharusnya, yaitu ditujukan untuk menyiapkan lulusan memasuki pasar kerja, seperti yang dituliskan oleh Calhoun & Finch, 1982, yang menyebutkan bahwa pendidikan vokasi (SMK) akan efisien ketika: (1) para siswanya siap untuk memasuki dunia kerja yang didasarkan atas kebutuhan; (2) lulusannya

Gambar 1: Bidang Keahlian SMK di Kota Tangerang

40%

22% 32%

2% 4%

Bisnis Manajemen

Teknologi Rekayasa

Tehnik Informasi dan Komunikasi

Seni Pariwisata

(6)

akan terserap oleh dunia kerja; dan (3) lulusannya akan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang dipelajari pada saat sekolah di SMK.

Telaah ini jelas menunjukkan bahwa pemberian ijin SMK bidang Bisnis dan Manajemen di Kota Tangerang tidak berdasar pada analisis kebutuhan pasar. Hal ini terlihat dari data bahwa sektor jasa dan usaha hanya menyumbang 20 % perekonomian kota Tangerang, jadi seha-rusnya data sebaran SMK bidang Bisnis dan Manajemen juga tidak melebihi angka 20 %. Tetapi, yang ada sampai 40%. Ini akan mengakibatkan kelebihan jumlah lulusan SMK, sehingga akan menghasilkan pengangguran terdidik pada jenjang lulusan pendidikan menengah.

Dari bidang keahlian Teknologi dan Rekayasa, Dinas Pendidikan Kota Tangerang perlu mengintensifkan penambahan SMK bidang tersebut, karena jumlah industri manufaktur di Kota Tangerang memberikan kontribusi 30 % terhadap pemasukan ekonomi di Tange-rang. Jumlah ini masih belum bisa dipenuhi oleh jumlah lulusan SMK di Kota Tange-rang. Hal ini terlihat dari jumlah SMK bidang Teknologi dan Rekayasa yang hanya sekitar 22 %. Hal ini terjadi karena pembukaan SMK bidang Teknologi dan Rekayasa tidaklah murah. Perlu investasi yang cukup besar jika dibanding Bisnis dan Manajemen, sehingga investor pun enggan membuka SMK bidang ini. Walaupun dilihat dari kebutuhan, seharusnya jumlah SMK bidang Teknologi dan Rekayasa seharusnya lebih banyak. Jika ditinjau dari tujuan SMK untuk memenuhi tenaga teram-pil dalam satu bidang tertentu, maka seharusnya Pemerintah Kota Tangerang, melalui Dinas Pendidikan, meningkatkan jumlah SMK bidang Teknologi Rekayasa. Hal ini jelas akan mendorong pertumbuhan ekonomi di kota Tangerang, karena dari prediksi angka penyumbang perekonomian dan jumlah sekolah yang ada, masih terjadi kekurangan SMK. Oleh sebab itu, hendak-nya Pemkot melalui Dinas Pendidikan mendorong alih keahlian dari SMK bidang

Bisnis dan Manajemen ke Teknologi dan Rekayasa.

Hasil penelitian yang penulis lakukan pada tahun 2008 menunjukkan bahwa hampir 50 % tenaga kerja yang bekerja di industri di wilayah Kota Tangerang bukan penduduk asli Tangerang.

(7)

saat ini, khususnya di UNJ, baru dikeluarkan SK Dikti pembukaan Prodi Pendidikan Teknologi, Informatika, dan Komputer dan baru akan menerima mahasiswa pada tahun akademik 2010/ 2011. Untuk memenuhi guru bidang ini, penulis melihat hampir semua SMK yang memiliki bidang keahlian Teknologi Informasi mengambil guru yang bukan berasal dari LPTK dan meng-upgrade guru yang ada untuk dikursuskan komputer dan selanjutnya mengajar sebagai guru TIK. Ini kondisi yang cukup dipertimbangkan oleh Dinas Pendidikan Kota maupun Kabupaten terkait pengembangan SMK bidang Teknologi dan Informasi. Prospek pasar yang bagus tanpa dibarengi oleh guru yang profesional maka yang dihasilkan adalah lulusan yang kurang kompetitif.

Bidang seni dan pariwisata Kota Tangerang saat ini, dilihat dari prosentase kegiatan perekonomian yang ada tidak begitu tinggi. Dengan demikian pengembangan bidang ini perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Telaah SMK bidang Seni akan dilakukan di luar tulisan ini untuk mengetahui, bagaimana meningkatkan kualitas seni dan pariwisata Indonesia menuju taraf internasional melalui pemberdayaan SMK. Sementara itu untuk bidang Keahlian Kesehatan, jumlah SMK yang ada terlalu sedikit. Banyak faktor yang menyebabkan SMK bidang Kesehatan menurun jumlah dan kecenderungannya adalah untuk memenuhi tenaga medis rata-rata lulusan Diploma. Untuk seorang bidan saja, saat ini minimal Diploma 1 kebidanan dan tidak ada syarat khusus yang mengharuskan calon mahasiswa bidang kesehatan harus lulusan dari SMK bidang Kesehatan. Kondisi ini semakin menengge-lamkan SMK bidang kesehatan. Sebenarnya jika ditelaah profesi bidang kesehatan, lulusan SMK bidang Kesehatan tidak akan pernah mengalami kejenuhan. Karena dalam tingkatan profesi bidang kesehatan dikenal adanya dokter, perawat, dan juru rawat, selain tentunya profesi yang sejenis. Selain kondisi lapangan kerja, investasi yang mahal untuk mendirikan sebuah SMK

bidang kesehatan juga merupakan kendala terbesar minimnya jumlah SMK bidang kesehatan. Namun, apabila Pemda dan Dinas Pendidikan dapat memberikan rancangan pembangunan pendidikan yang sesuai, maka seharusnya minimal ada satu SMK bidang Kesehatan dalam tiap kabupaten/kota. Untuk memenuhi minimal tenaga medik yang dibutuhkan rumah sakit di daerah tersebut.

Dari keseluruhan analisis dalam bidang keahlian, masih terdapat ketimpangan kondisi SMK yang ada. Di satu sisi, pengembangan SMK bidang Kesehatan, serta Teknologi dan Rekayasa sangat dibutuhkan karena sangat sesuai dengan potensi daerah yang ada, justru jumlahnya sampai saat ini sangat minim, bahkan penulis melihat adanya kecenderungan kekurangan. Namun di sisi lain, jumlah SMK bidang Bisnis dan Manajemen memiliki jumlah SMK yang sangat banyak. Ini tidak terlepas dari mahalnya sarana dan prasarana yang harus dipenuhi apabila akan membuka SMK di bidang Teknologi dan Rekayasa maupun Kesehatan. Untuk hal ini hendaknya Dinas Pendidikan Kota Tangerang lebih selektif lagi memberikan ijin pendirian SMK baru, dengan memberi-kan pertimbangan terhadap potensi yang masih terbuka. Ini semua terkait dengan tujuan SMK untuk menghasilkan lulusan yang langsung masuk dunia kerja.

II. Kompetensi Keahlian

Sesuai dengan SK surat keputusan nomor 251/C/KEP/MN/2008, terdapat 121 Kompetensi Keahlian yang terdapat dibawah 6 (enam) bidang keahlian yang ada. Adapun kompetensi keahlian yang ada akan dibahas sesuai dengan program studi keahlian yang ada di bawah ini

a. Program Studi Keahlian Pada Bidang

Keahlian Teknologi dan Rekayasa

(8)

dikembang-kan di SMK. Namun karena keterba-tasan tempat, yang ditampilkan dalam grafik 2 hanya 8 kompetensi keahlian yang memiliki prosentase besar. Dari 8 (delapan) kompetensi yang dikem-bangkan, yang paling banyak dikembangkan adalah program studi keahlian teknik kendaraan ringan (sepeda motor) yang mencapai 48 %. Komposisi selengkapnya dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2 menunjukkan kompetensi keahlian Sepeda Motor yang mengalami jumlah yang cukup banyak, karena sampai saat ini jumlah kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor, cenderung naik. Bahkan dalam setiap tiga bulanan hampir setiap ATPM mampu menjual ratusan ribu sepeda motor. Selain itu, kompetensi bidang ini juga memiliki daya tarik tersendiri bagi para siswa SMK karena mampu membuat lulusan SMK berwirausaha bengkel sepeda motor atau menjadi operator mekanik bengkel sepeda motor yang saat ini banyak. Yang perlu diantisipasi dan dijaga ialah jumlah lulusan tidak melimpah, jauh melebihi kebutuhan. Jumlah lulusan perlu selalu dipantau agar tidak menjadi bumerang bagi pengembangan SMK. Penyiapan SDM dan sarana prasarana

kompetensi keahlian sepeda motor juga tidak menghadapi banyak kendala karena sarana dan prasarana bidang ini tidak terlalu mahal.

b. Program Studi Keahlian pada Bidang Keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Program studi keahlian yang dikem-bangkan pada bidang keahlian Tekno-logi Informasi dan Komunikasi lebih dominan pada pengembangan

kompe-tensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan, yaitu sebesar 56 %. Untuk kompetensi keahlian bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, kompetensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan memiliki jumlah terbanyak. Kondisi ini dapat dimengerti dengan naiknya teknologi komputer di masyarakat. Jika dilihat dari tujuan pendirian SMK, maka kompetensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan sangat meme-nuhi tuntutan tujuan tersebut. Yang menjadi masalah sampai saat ini adalah belum ada satupun LPTK yang menghasilkan guru bidang Teknik Komputer dan Jaringan. Jika masalah ini tidak diantisipasi, maka tenaga guru yang mengajar dipastikan kurang profesionalitasnya. Kondisi lebih lanjut

Gambar 2: Persentase Kompetensi Keahlian pada Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa

48%

9% 5%

11% 27%

Teknik Kendaraan Ringan

Teknik Mekanik Otomotif

Persiapan Grafika

Teknik Mesin

(9)

yang perlu diantisipasi adalah lulusan yang kurang kompetitif karena diajar oleh guru yang belum profesional. Oleh sebab itu, hendaknya Dinas Pendidikan melakukan pelatihan secara intensif guru yang mengajar bidang TIK, karena rata-rata guru yang mengajar bidang ini adalah bukan lulusan Pendidikan Teknologi Informatika dan Komputer, sehingga dikhawatirkan tujuan utama pembentukan lulusan SMK bidang TIK tidak maksimal. Selain itu perlu juga dikendalikan perubahan bidang keahlian SMK dari bidang lain ke bidang TIK. Hal ini mungkin terjadi karena banyaknya peminat SMK bidang TIK sehingga banyak SMK yang mengubah bidang keahliannya ke bidang SMK sementara baik dari tenaga guru, sarana dan prasarana belum disiapkan secara memadai. Hal ini perlu dilakukan diawasi oleh Dinas Pendidikan.

c. Program Studi Keahlian Pada Bidang Keahlian Kesehatan

Untuk bidang keahlian kesehatan hanya terdapat dua SMK yang mengembang-kan kompetensi keahlian bidang Kesehatan, yaitu satu SMK Farmasi dan satu SMK Analis Kese-hatan. Kondisi ini sebenarnya perlu dilihat oleh Dinas Pendidikan Kota Tangerang sebagai sebuah peluang besar untuk membuka SMK bidang Kesehatan, khususnya perawat. Namun, karena pendirian SMK bidang kesehatan memerlukan biaya yang tidak sedikit, maka baik Pemda maupun pihak swasta seolah

kurang tertarik membuka SMK bidang kesehatan, khususnya perawat. Jika kondisi ini dibiarkan yang menjadi masalah justru terjadi di tempat kerja, khususnya Rumah Sakit, karena tenaga operator perawat tidak ada. Saat ini kebanyakan rumah sakit, khususnya tenaga perawat diisi oleh lulusan Diploma III (ahli madya perawat).

d. Program Studi Keahlian pada Bidang

Keahlian Seni, Kerajinan dan Pariwi-sata.

Dalam bidang keahlian Seni, Kerajinan dan Pariwisata, terdapat 5 kompetensi keahlian. Berdasarkan data yang diperoleh, ternyata hanya ada 7 sekolah yang mengembangkan bidang Keahlian Seni, Kerajinan, dan Pariwisata. Dari ketujuh sekolah tersebut 4 di antaranya mengembangkan kompetensi Akomo-dasi Hotel, satu sekolah mengembang-kan kompetensi keahlian Busana Butik, satu sekolah mengembangkan kompe-tensi keahlian kecantikan kulit, dan satu sekolah mengembangkan kompe-tensi keahlian restoran. Sebenarnya kota Tangerang memiliki potensi yang besar untuk mengem-bangkan kompetensi keahlian bidang seni, kerajinan, dan pariwisata. Untuk akomodasi perho-telan, Kota Tangerang yang merupakan gerbang internasional memasuki Indonesia karena bandara terletak di kota ini, memiliki peluang yang sangat besar untuk mengem-bangkan bidang perhotelan. Dan inipun terlihat dari beberapa hotel berbintang yang terletak 41%

3%

56%

Teknik Komputer Jaringan

Multimedia

Rekayasa Perangkat Lunak

(10)

di sekitar bandara. Kondisi ini tentu berimplikasi kepada kebutuhan tenaga kerja siap pakai pada level operator di bidang perhotelan, baik sebagai juru masak profesional, tata layanan hotel itu sendiri, serta seni pertunjukan yang bisa ditampilkan di event-event pertunjukan di hotel itu sendiri. Namun, pembukaan SMK bidang Perhotelan memerlukan sarana dan prasarana yang cukup mahal serta memerlukan banyak kerjasama dengan stakeholders, sehing-ga SMK bidang perhotelan tidak banyak. Untuk SMK bidang Seni, yang menjadi kendala adalah kurangnya SDM (guru) dan minimnya minat siswa yang mendalami bidang seni pertunjukan, khususnya budaya tradisional.

e. Program Studi Keahlian pada Bidang

Keahlian Agribisnis dan Agroteknologi. Bidang keahlian Agribisnis dan Agroteknologi tidak terdapat di Kota Tangerang karena Kota Tangerang tidak memiliki lahan pertanian yang memadai. Lahan pertanian yang dimiliki Kota Tangerang hanyalah sawah tadah hujan yang dapat diolah satu tahun sekali. Program studi keahlian pada bidang ini, tidak banyak berkembang karena sedikitnya industri di Indonesia yang mengembangkan agribisnis dan agroteknologi. Ini tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah pusat yang sepertinya kurang tertarik mengembangkan industri agribisnis dan agroteknologi. Padahal bidang inilah yang seharusnya menjadi andalan Indonesia sebagai negara agraris. Namun, yang terjadi adalah kebalikannya. Sangat disayangkan adanya impor produk-produk pertanian, seperti beras, kedelai, gandum, dan produk agro lainnya, sementara Indonesia adalah negara yang hampir 50 % penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Tidak adanya proteksi produk pertanian dalam negeri menyebabkan nasib petani di Indonesia bisa dikatakan kurang baik dan turunnya minat

generasi muda mendalami bidang agribisnis dan agroindustri. Indonesia seharusnya belajar dari Negeri Belanda yang dulu mengetahui persis potensi bangsa Indonesia, sehingga hanya dari ekspor bunga potong, Belanda mendapat pendapatan yang cukup besar dari sektor ini. Nampaknya gembar-gembor slogan pengembangan agroindustri dan agrobisnis agar para pemuda berminat menekuni bidang ini akan hanya menjadi isapan jempol manakala tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan para petani dan industri olahan terkait. Dalam pengembangan SMK bidang agroin-dustri dan agribisnis, perlu adanya upaya menyeluruh agar sektor pertanian, agroindustri, dan agribisnis dapat berkembang, tidak hanya dibebankan kepada dinas pendidikan maupun sekolah.

f. Bidang Keahlian Bisnis dan

Mana-jemen

Terdapat tiga program studi keahlian dalam bidang keahlian bisnis dan manajemen, yaitu program studi keahlian administrasi, keuangan, tata niaga. Dari ketiga program studi keahlian tersebut, program studi keahlian keuangan menjadi pilihan utama hingga mencapai 42,79 % untuk dikembangkan di SMK, kemudian disusul program keahlian administrasi (36,65 %) dan yang terakhir adalah program studi keahlian tata niaga yang hanya 20,56 %. Komposisi persentase program studi keahlian selengkapnya dapat dilihat pada gambar 4.

(11)

peker-47%

36%

11% 6%

Akuntansi

Administrasi Kantor Penjualan

Sekretaris

Gambar 4: Persentase Program Studi Keahlian pada Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen

jaan. Kondisi ini memang benar, namun jika ditelaah lebih mendalam, pekerjaan yang dijalani oleh para lulusan bidang ini hampir bisa dikatakan tidak memerlukan kompetensi seorang lulusan SMK bidang akuntansi, karena hampir kebanyakan bekerja sebagai pelayan toko dan sejenisnya, dan tidak memegang tata buku atau pengelolaan keuangan dari segi jasa usaha tersebut. Responden di komplek pertokoan yang ada di ITC BSD, pada saat dilakukan wawancara secara acak terhadap hampir 50 orang pelayan di toko tersebut adalah rata-rata lulusan SMK bidang Bisnis dan Manajemen. Sebenar-nya pekerjaan tersebut tidaklah memerlukan standar lulusan SMK, bahkan seorang lulusan SMP juga bisa melakukan dan dapat diterima bekerja, namun karena tidak ada pekerjaan lain, maka kondisi itupun dijalani. Kondisi banyaknya SMK bidang Akuntansi disebabkan pembukaan SMK di bidang ini tidak memerlukan biaya yang banyak, sementara di pihak orang tua siswa karena lulusan SMK bidang Akuntansi dapat diterima sebagai pramuniaga, maka SMK bidang Akuntansi berkembang mencapai jumlah yang banyak. Begitupun dengan pihak Dinas Pendidikan Kabupaten yang terhimpit kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan jumlah SMK jauh lebih banyak dari SMU, sehingga walaupun jumlah SMK bidang

akuntansi sudah banyak, tetapi pada saat pihak swasta membuka SMK bidang Akuntansi tetap diberikan ijin. Jika jumlah SMK dengan kompetensi keahlian akuntansi ini tidak diberikan batasan maksimal prosentase dari seluruh jumlah SMK yang ada di suatu kabupaten / kota, maka jumlah SMK dengan kompetensi ini akan sangat banyak dan menyebabkan kejenuhan lulusan.

Kesimpulan

(12)

dan Teknik Komputer dan Jaringan (TIK), namun belum mendapat penanganan serius. Oleh karena itu perlu penekanan agar kedua program studi keahlian ini menjadi titik berat pengembangan SMK di Kota Tangerang. Lulusan SMK prodi Kendaraan Ringan dan TIK sampai saat ini masih dibutuhkan, dan masih belum dapat mengimbangi pertumbuhan ekonomi di kedua bidang tersebut. Namun, yang perlu diperhatikan dalam pengembangan SMK bidang TIK adalah penyiapan tenaga guru yang profesional sehingga lulusannya mampu memenuhi standar kompetensi lulusan SMK bidang TIK. Ini menjadi penekanan karena sampai saat ini guru yang mengajar di SMK TIK rata-rata adalah guru bidang lain yang beralih fungsi menjadi guru TIK berbekal pengalaman guru tersebut dalam menggunakan TIK. Untuk itu, Dinas Pendidikan hendaknya melakukan pelatihan yang intensif dan terstruktur agar para guru TIK mampu memenuhi tuntutan profesionalitas bidang TIK. Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah pengembangan SMK bidang Kesehatan, yang sampai saat ini sangat minim jumlah dan ragamnya. Padahal kebutu-han akan tenaga medis semakin tinggi dengan makin banyaknya penduduk di Kota Tangerang yang merupakan kawasan industri di sekitar Jakarta.

Terakhir setiap Pemerintah Kota/Kabupa-ten, khususnya Pemkot Tangerang perlu selalu melihat kondisi tingkat kejenuhan lapangan ker-ja dalam memberikan izin pembukaan SMK baru, tidak hanya berdasar atas pemenuhan prosen-tase SMU dan SMK mencapai angka 30 : 70.

Rekomendasi

Berdasar hasil survei, maka dalam rangka pemenuhan prosentase SMU : SMK = 30 : 70, maka Pemerintah Kota Tangerang hendaknya melihat data bahwa Kompetensi Keahlian Akuntansi sudah mencapai angka yang cukup banyak, sehingga apabila Pemerintah Kota Tangerang akan mengembangkan SMK guna memenuhi target prosentase, lebih baik membuka kompetensi keahlian yang masih sedikit dan sesuai dengan pengembangan daerah khususnya sebagai daerah industri. Pemerintah Kota Tangerang hendaknya tidak

hanya melihat jumlah SMK yang sudah mencapai 70% tetapi dengan kondisi kompetensi keahlian yang homogen, yaitu Akuntansi. Perkembangan SMK bidang Akuntansi harus segera dikendalikan agar tidak terjadi kelebihan jumlah lulusan. Yang perlu dikembangkan adalah SMK bidang Teknologi dan Rekayasa serta Bidang Teknologi Informatika dan Komputer (TIK) dengan tetap melihat perkembangan jumlah lulusan yang ada. Selain itu, SMK bidang Kesehatan dengan kompetensi keahlian perawat juga perlu dikembangkan karena sampai saat ini belum ada.

Daftar Pustaka

A World Bank Review. (1995). Priorities and strategies for education. Washington D.C: The World Bank Publication

Carnoy, Martin & H.M. Levin. (1976) . Limits of educational reform. New York: David Mc Kayco

Delors, J. (1997). Learning : The traesure within. Paris: Unesco

Soedijarto. (2008). Meningkatnya mutu pendidikan nasional sebagai suatu keharusan bagi dapat terlaksananya fungsi konstitusional sistem pendidikan nasional dalam mencerdaskan

kehidupan bangsa. Makalah yang

disajikan dalam Seminar Nasional Pasca Penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun. Jakarta

UNESCO. (1990). Deklarasi Pendidikan untuk Semua

Whitehead, Alfred North. The scinece and the modern world

---.Keputusan Menteri No. 251/C/KEP/ MN/2008 Tentang Spektrum Keahlian SMK

---UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

---.PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasiona Pendidikan

---.UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen

---.PERMEN No 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi

Gambar

grafik 2 hanya 8 kompetensi keahlian

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui apakah ada pengaruh positif sikap siswa terhadap pelaksanaan kurikulum SMK edisi 2004 bidang keahlian bisnis dan manajemen, kompetensi guru, dan kultur

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Gambaran kompetensi guru, khususnya kompetensi pedagogik dan profesional guru SMK bidang keahlian Adminstrasi

sebesar 126,90 masuk kategori baik; (2) proses pembelajaran aspek pengelolaan kelas berdasarkan kurikulum 2013 di SMK Swasta Bidang Keahlian Bisnis Dan Manajemen,

Dari perhitungan nilai-nilai statistik diatas dapat disimpulkan bahwa dari sebelas sekolah SMK Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen Se-Kabupaten Sleman sebagian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penilaian hasil belajar oleh pendidik berdasarkan Kurikulum 2013 pada SMK Swasta Bidang Keahlian Bisnis

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Keterserapan lulusan Kompetensi Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Bidang Studi Keahlian Bisnis dan Manajemen di Kabupaten

Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan manajemen praktik kerja industri pada Kompetensi Keahlian Teknik Sepeda Motor di SMK Negeri 2 Bandar

Profesi Tenaga Administrasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) cukup beragam dan membutuhkan bidang keahlian serta jenjang pendidikan yang berbeda pula sehingga