MAKALAH EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA
“TAKSONOMI BLOOM”
Disusun untuk memenuhi Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran Fisika
Dosen Pengampu : Dr. Nonoh Siti Aminah, M.Pd
Disusun oleh :
1. Agung Adi Nugroho (K2315006) 2. Hanung Vernanda P (K2315032)
3.
Yuli Julaila (K2315060)PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
BAB I
PENDAHULUAN
Secara bahasa taksonomi diambil dari bahasa Yunani yaitu tassein dan nomos. Tassein yang berarti untuk mengelompokkan dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi dapat pula diartikan secara istilah yaitu, sebagai pengelompokan suatu hal berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Di mana taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum atau masih luas dan taksonomi yang lebih rendah bersifat lebih spesifik atau lebih terperinci. Taksonomi dalam pendidikan dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Pada Taksonomi Bloom, tujuan pendidikan di bagi menjadi tiga yaitu:
1) Ranah Kognitif, yang meliputi aspek- aspek kognitif pada diri seseorang seperti cara berfikir, pengetahuan, pemahaman.
2) Ranah Afektif, yang meliputi aspek- aspek perasaan dan emosi seperti bakat, minat, sikap.
3) Ranah Psikomotorik, yang meliputi aspek- aspek psikomotor seperti olahraga, menggambar.
Dari setiap ranah tersebutdibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hierarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956, sehingga sering puladisebut sebagai "Taksonomi Bloom".
Guru sebagai seorang pendidik perlu memahami berbagai taksonomi tujuan untuk memperoleh wawasan yang lebih luas tentang tujuan pembelajaran, dan dapat memilih mana yang sesuai dengan ata pelajmaran yang diasuh dan kegiatan pembelajaran yang dirancangnya. Taksonomi tujuan pembelajaran diperlukan dengan pertimbangan sebagai berikut:
1) Perlu adanya kejelasan terminologi tujuan yang digunakan dalam tujuan pembelajaran karena tujuan pembelajaran berfungsi untuk memberikan arah kepada proses belajar dan menentukan perilaku yang dianggap sebagai bukti hasil belajar.
BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Taksonomi Bloom
Istilah Taksonomi Bloom digunakan oleh Benjamin Samuel Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan yang melakukan penelitian dan pengembangan mengenai kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran. Bloom, lahir pada tanggal 21 Februari 1913 di Lansford, Pennsylvania dan berhasil meraih doktor di bidang pendidikan dari The University of Chicago pada tahun 1942. Ia dikenal sebagai konsultan dan aktivis internasonal di bidang pendidikan dan berhasil membuat perubahan besar dalam sistem pendidikan di India. Ia mendirikan the International Association for the Evaluation of Educational Achievement, the IEA dan mengembangkan the Measurement, Evaluation, and Statistical Analysis (MESA) program pada University of Chicago.
Sejarah taksonomi bloom bermula ketika awal tahun 1950-an, dalam Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika, Bloom dan kawan-kawan mengemukakan bahwa dari evaluasi hasil belajar yang banyak disusun di sekolah, ternyata persentase terbanyak butir soal yang diajukan hanya meminta siswa untuk mengutarakan hapalan mereka. Akhirnya pada tahun 1956, Bloom, Englehart, Furst, Hill dan Krathwohl berhasil mengenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dinamakan Taxonomy Bloom. Pada tahun 1956 oleh Bloom dan kawan-kawannya, terbitlah karya “Taxonomy of Educational Objective Cognitive Domain”, dan pada tahun 1964 terbitlah karya “Taxonomy of Educataional Objectives, Affective Domain”, dan karyaya yang berjudul “Handbook on Formative and Summatie Evaluation of Student Learning” pada tahun 1971 serta karyanya yang lain “Developing Talent in Young People” (1985). Taksonomi ini mengklasifikasikan sasaran atau tujuan pendidikan menjadi tiga domain (ranah kawasan): kognitif, afektif, dan psikomotor (W.S. Wingkel, 1987:149) dan setiap ranah tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hierarkinya.
B. Pengertian Taksonomi Bloom
dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi. Tentunya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, level yang rendah harus dipenuhi lebih dulu. Taksonomi dalam bidang pendidikan, digunakan untuk klasifikasi tujuan instruksional; ada yang menamakannya tujuan pembelajaran, tujuan penampilan, atau sasaran belajar, yang digolongkan dalam tiga klasifikasi umum atau ranah (domain), yaitu: (1) ranah kognitif, berkaitan dengan tujuan belajar yang berorientasi pada kemampuan berpikir; (2) ranah afektif berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai, dan sikap hati); dan (3) ranah psikomotor (berorientasi pada keterampilan motorik atau penggunaan otot kerangka). Menurut Rochmad (2012) Taksonomi tujuan pendidikan (the taxonomy of educational objective) adalah suatu kerangka untuk mengklasifikasikan pernyataan-pernyataan yang digunakan untuk mempredikasi kemampuan peserta didik dalam belajar sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran.
C. Klasifikasi Taksonomi Bloom
Adapun, taksonomi atau klasifikasi nya adalah sebagai berikut : 1. Ranah Kognitif
Ranah kognitif merupakan segi kemampuan yang berkaitan dengan aspek-aspek pengetahuan, penalaran, atau pikiran (Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta:Rineka Cipta, 2009:298). Bloom membagi ranah kognitif ke dalam enam tingkatan atau kategori dari yang sederhana (mengetahui) sampai dengan yang lebih kompleks (mengevaluasi), yaitu :
a. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan dalam hal ini melibatkan proses mengingat kembali hal hal yang spesifik dan universal, mengingat kembali pola, struktur atau setting. Pengetahuan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1) Pengetahuan tentang hal-hal pokok, yaitu mengingat kembali hal-hal yang spesifik, penekannya pada simbol-simbol dari acuan yang konkret. Pengetahuan ini dibagi menjadi dua, yakni : Pengetahuan tentang terminologi, Pengetahuan tentang fakta yang spesifik.
3) Pengetahuan tentang hal yang umum (universalitas) dan abstraksi dalam suatu bidang, yaitu pengetahuan tentang skema-skema dan pola-pola pokok untuk mengorganisasi fenomena dan ide. Pengetahuan tentang ini dibagi menjadi dua yakni : Pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi, Pengetahuan tentang teori dan struktur
b. Pemahaman (Comprehension)
Menurut W.S. Winkel dalam buku Psikologi Pengajaran halaman 150, pemahaman bersangkutan dengan inti dari sesuatu, ialah suatu bentuk pengertian atau pemahaman yang menyebabkan seseorang seseorang memiliki kemampuan untuk menangkap makna dan arti tentang hal yang dipelajari. Pemahaman dibedakan menjadi tiga, yakni:
1) Penerjemahan (translasi) yaitu kemampuan untuk memahami suatu ide yang dinyatakan dengan cara lain dari pada pernyataan asli yang dikenal sebelumnya.
2) Penafsiran (interpretasi) yaitu penjelasan atau rangkuman atas suatu komunikasi, misalnya menafsirkan berbagai data sosial yang direkam, diubah, atau disusun dalam bentuk lain seperti grafik, tabel, diagram. 3) Ekstrapolasi yaitu meluaskan kecenderungan melampaui datanya untuk
mengetahui implikasi, konsekuensi, akibat, pengaruh sesuai dengan kondisi suatu fenomena pada awalnya.
c. Penerapan (Application)
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, prinsip di dalam berbagai situasi atau dalam problem yang konkret atau nyata dan baru. Contoh : ketika ingin mendidihkan air maka wadah harus ditutup. Orang perlu menyirami tanaman agar tidak layu (bidang biologi).
d. Analisis (Analisys)
Analisis diartikan sebagai pemecahan atau pemisahan suatu komunikasi (peristiwa, pengertian) menjadi unsur-unsur penyusunnya, sehingga ide itu relatif menjadi lebih jelas dan/atau hubungan antar ide-ide lebih eksplisit. Di tingkat analisis, sesorang mampu memecahkan informasi yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil dan mengaitkan informasi dengan informasi lain. Kategori analisis dibedakan menjadi tiga, yakni:
2) Analisis hubungan yaitu analisis koneksi dan interaksi antara elemen-elemen dan bagian-bagian dari suatu komunikasi
3) Analisis prinsip pengorganisasian yaitu analisis susunan dan struktur yang membentuk suatu komunikasi.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis adalah memadukan atau penyusunan elemen-elemen dan bagian-bagian untuk membentuk suatu kesatuan. Kategori sintesis dibedakan menjadi tiga yakni:
1) Penciptaan komunikasi yang unik, yaitu penciptaan komunikasi yang di dalamnya penulis atau pembicara berusaha mengemukakan ide, perasaan, dan pengalaman kepada orang lain
2) Penciptaan rencana yaitu penciptaan rencana kerja atau proposal operasi 3) Penciptaan rangkaian hubungan abstrak yaitu membuat rangkaian
hubungan abstrak untuk mengklasifikasikan data tertentu f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi adalah kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap suatu materi pembelajaran, argumen yang berkenaan dengan sesuatu yang diketahui, dipahami, dilakukan, dianalisis dan dihasilkan. Kategori evaluasi dibedakan menjadi dua, yakni: Evaluasi berdasarkan bukti internal dan Evaluasi berdasarkan bukti eksternal.
2. Ranah Afektif
Ranah Afektif mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, penghargaan, semangat,minat, motivasi, dan sikap. Ada lima karakteristik afektif yaitu :
1) Sikap, adalah suatu kecenderungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal.
2) Minat, merupakan keinginan yang mendorong seseorang dan didasarkan oleh hatiuntuk melakukan sesuatu. Menurut Slameto (2010: 180) minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarika pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh.minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan di luar diri.
3) Konsep diri, merupakan evaluasi diri sendiri untuk mengetahui kemampuan dan kelemahan diri sendiri.
4) Nilai, merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk.
5) Moral, berkaitan dnegan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain.
Pembagian ranah afektif ini disusun oleh Bloom bersama dengan David Krathwol, antara lain:
No Kategori Penjelasan Kata Kerja Kunci
1 Penerimaan Kemampuan untuk
menunjukkan atensi dan penghargaan terhadap orang lain. Contoh: mendengar termotivasi untuk segera mengambil tindakan atas suatu kejadian. Contoh: berpartisipasi dalam diskusi kelas
Menjawab, membantu, mentaati, memenuhi, menyetujui, mana yang baik dan kurang baik
Menunjukkan,
terhadap suatu kejadian/obyek, profesi, mengakui perlunya keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.
Mentaati, mematuhi, merancang, mengatur, mengidentifikasikan, kooperatif dalam aktivitas kelompok.
3. Ranah Psikomotor
Perkataan Psikomotor berhubungan dengan kata “motor”, sensory motor atau Perceptual Motor”. Jadi, ranah psikomotor berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan geraknya tubuh atau bagiannya. Yang termasuk dalam klasifikasi gerak disini mulai dari gerak yang paling sederhana, yaitu melipat kertas sampai dengan merakit suku cadang televisi serta komputer. Secara mendasar perlu dibedakan antara dua hal, yaitu keterampilan (skills) dan kemampuan (abilities). Contoh : “seberapa terampil para siswa dalam menyiapkan alat-alat”, seberapa terampil siswa menggunakan alat-alat. Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi oleh ahli lain berdasarkan domain yang dibuat Bloom.
a. Persepsi (Perception), yaitu penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
b. Kesiapan (Set), merupakan kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.
c. Respon Terpimpin (Guided Response), yaitu tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk didalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.
d. Mekanisme (Mechanism), membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.
e. Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response), gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.
f. Penyesuaian (Adaptation), keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
g. Penciptaan(Origination), membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.
Sasaran psikomotor digolongkan sebagai :
1. Kemampuan otot lurik, sasaran kemampuan otot lurik menuntut siswa untuk menggunakan tubuhnya melakukan kerja fisik dalam parameter terinci tertentu (misalnya waktu, berat,dan jarak).
D. Taksonomi Bloom Sesudah Direvisi
Taksonomi Bloom mengalami perbaikan seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman serta teknologi. Salah seorang murid Bloom yang bernama Lorin Anderson merevisi taksonomi Bloom pada tahun 1990. Hasil perbaikannya dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Dalam revisi ini ada perubahan kata kunci, pada kategori dari kata benda menjadi kata kerja.
Ada beberapa alasan mengapa Handbook Taksonomi Bloom perlu direvisi, yakni: pertama, terdapat kebutuhan untuk mengarahkan kembali fokus para pendidik pada handbook, bukan sekedar sebagai dokumen sejarah, melainkan juga sebagai karya yang dalam banyak hal telah “mendahului” zamannya (Rohwer dan Sloane, 1994). Hal tersebut mempunyai arti banyak gagasan dalam handbook Taksonomi Bloom yang dibutuhkan oleh pendidik masa kini. Alasan kedua adalah adanya kebutuhan untuk memadukan pengetahuan-pengetahuan dan pemikiran-pemikiran baru dalam sebuah kerangka kategorisasi tujuan pendidikan. Alasan yang ketiga adalah taksonomi merupakan sebuah kerangka berpikir khusus yang menjadi dasar untuk mengklasifikasikan tujuan-tujuan pendidikan.
Gambar 3. Perubahan dari Kerangka Pikir Asli ke Revisi (Anderson dan Krathwohl, 2001:268)
Lorin Anderson dan Krathwohl merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi, yaitu: 1) dimensi proses kognitif, 2) dimensi pengetahuan. Perspektif dua dimensi Anderson dan Krathwohl dapat digambarkan dengan tabel berikut.
a. Dimensi proses kognitif 1. Mengingat
Proses mengingat adalah mengambil pengetahuan yang dibutuhkan dari memori jangka panjang. Pengetahuan mengingat penting sebagai bekal
untuk belajar yang bermakna dalam
menyelesaikan masalah karena pengetahuan tersebut di pakai dalam tugas tugas yang lebih kompleks.
Proses kognitif yang berpijak pada kemampuan transfer dan ditekankan di sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi ialah memahami. Proses-proses kognitif dalam Proses-proses memahami meliputi menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum,menyimpulkan, membandingkan dan menjelaskan.
3. Mengaplikasikan
Mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan prosedural. Dalam mengimplementasikan, memahami pengetahuan konseptual merupakan prasyarat untuk dapat mengaplikasikan pengetahuan prosedural.
4. Menganalisis
Menganalisis melibatkan proses memecah-mecah materi jadi bagian bagian kecil dan menentukan bagaimana hubungan antara bagian dan antara setiap bagian dan struktur keseluruhannya.
5. Mengevaluasi
Mengevaluasi didefinisikan sebagai membuat keputusan berdasarkan kreteria dan standar. Kriteria-kriteria yang paling sering digunakan adalah kualitas, efektivitas, efisiensi, dan konsistensi.
6. Mencipta
Mencipta melibatkan proses menyusun elemen-elemen jadi sebuah keseluruhan yang koheren atau fungsional.Tujuan-tujuan yang diklasifikasikan dalam mencipta meminta siswa membuat produk baru
dengan mengorganisasi sejumlah elemen atau
bagian jadi suatu pola atau struktur yang tidak pernah ada sebelumnya. b. Dimensi Pengetahuan
Aspek-aspek dari dimensi pengetahuan pada revisi Taksonomi Bloom meliputi:
1. Pengetahuan factual
Peserta didik harus mengetahui elemen dasar untuk sebuah disiplin atau cara memecahkan masalah di dalamnya.
2. Pengetahuan konseptual
3. Pengetahuan procedural
Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu. Pengetahuan ini mencangkup pengetahuan tentang keterampilan, algoritme, teknik, dan metode yang semuanya disebut sebagai prosedur. 4. Pengetahuan metakognitif
BAB III KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Tawadlu’un. 2014. Konsep Taksonomi Bloom. Diperoleh pada 2 Maret 2017, dari http://eprints.walisongo.ac.id/4050/4/083911004_bab3.pdf
W. S. Winkel. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia. Diperoleh pada 2 Maret 2017, dari http://eprints.walisongo.ac.id/4050/4/083911004_bab3.pdf
Imam Gunawan dan Anggarini Retno Palupi. 2008. Taksonomi Bloom – Revisi Ranah Kognitif: Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, Dan Penilaian.
Diperoleh pada 2 Maret 2017, dari
https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/01/revisi-taksonomi-bloom.pdf Krathwohl, D. R. 2002. A Revision of Bloom’s Taxonomy: An Review. Theory IntoPractice.
Volume 41, Number 4. College Education. The Ohio State University.
Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta:Bumi Aksara Prihantoro, Agung. 2010. Pembelajaran, Pengajaran dan Asesmen, RevisiTaksonomi. Yogyakarta: Pustaka Pengajar
Sari, Nurty Gofita. 2013. Aspek Afektif Taksonomi Bloom Pada Pembelajaran Matematika Siswa Kelas VI Sekolah Dasar Se Kecamatan Alian.. Jurnal Universitas
Muhammadiyah Purworejo. 20, (2), 21-22. https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj7tq7 0rrSAhWFqJQKHb9mATwQFggjMAE&url=http%3A%2F
%2Fdownload.portalgaruda.org%2Farticle.php%3Farticle%3D9332%26val
%3D612&usg=AFQjCNHVlBVfZS1mDD5RyGPHQ35qcCFV7A&sig2=t2zlmTJZd pRgO2UaGkP4JA&bvm=bv.148747831,d.dGo. 3 Maret 2017.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mmpengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Utari, Retno. 2011. TAKSONOMI BLOOM Apa dan Bagaimana Menggunakannya?.