• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KASUS PKL 2 TEKNIK PEMERIKSAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN KASUS PKL 2 TEKNIK PEMERIKSAAN"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI BIPOLAR

URETHROCYSTOGRAPHY DENGAN KASUS STRIKTUR URETHRA DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD GUNUNG JATI KOTA

CIREBON

LAPORAN KASUS Disusun untuk memenuhi tugas

Praktek Kerja Lapangan 2

Disusun Oleh :

Amilia

P1337430214032

PRODI DIPLOMA IV TEKNIK RADIOLOGI SEMARANG JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG 2016

PENGESAHAN

Laporan kasus ini telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan sebagai

laporan guna memenuhi tugas Praktek Lapangan Kerja 2 Program Studi Diploma

IV Teknik Radiologi Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Semarang.

(2)

NIM : P1337430214032

Judul Laporan Kasus : “ Teknik Pemeriksaan Radiografi Bipolar

Urethrocystography dengan Kasus Striktur Urethra di

Instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon”

Cirebon, Juni 2016

dilimpahkan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus “Teknik

Pemeriksaan Radiografi Bipolar Urethrocystography dengan Kasus Striktur

Uretra di Instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon” ini.

Laporan Kasus ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Praktek

Kerja Lapangan (PKL) 2 Semester IV, Prodi Diploma IV Teknik Radiologi

Poltekkes Kemenkes Semarang, yang bertempat di Instalasi Radiologi RSUD

Gunung Jati Kota Cirebon.

Dalam penyusunan laporan kasus ini tidak akan lepas dari segala bantuan

dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis juga mengucapkan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Allah swt

2. Kedua orang tua

Pembimbing

Angka Wijaya, AMR

NIP. 19840701 201001 1 008 Kepala Instalasi Radiologi

Nurrohman, S.ST

(3)

3. Ibu Rini Indrati, S.Si, M.Kes selaku Ketua Jurusan Teknik

Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes Semarang

4. Ibu Siti Masrochah, S.Si, M.Kes selaku Ketua Prodi Diploma IV Teknik

Radiologi Poltekkes Kemenkes Semarang

5. Bapak Jeffri Ardianto, M.App.Sc selaku penguji akademik

6. Bapak Nurrohman, S.ST selaku Kepala Instalasi Radiologi di RSUD

Gunung Jati Kota Cirebon

7. dr. Irene Max Emman Sp.Rad selaku Dokter Radiolog di Instalasi

Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon

8. Bapak Dawis Fitri Anggoro, S.ST selaku Clinical Instructor (CI) Praktek

Kerja Lapangan 2 di Instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon 9. Bapak Angka Wijaya, AMR selaku pembimbing dalam penyusunan

laporan kasus ini.

10. Seluruh Radiografer dan Staf Instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati Kota

Cirebon

11. Teman – teman seperjuangan pada Praktek Kerja Lapangan 2 di Instalasi

Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon

12. Semua pihak yang terlibat dalam pembuatan Laporan Kasus ini

Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan dalam penyusunan

laporan kasus ini. Oleh karena itu, penulis menerima kritik dan saran yang

membangun dari pembaca, guna memperbaiki laporan kasus selanjutnya. Penulis

juga berharap laporan kasus ini bermanfaat bagi penulis maupun para pembaca.

Cirebon, Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI

(4)

HALAMAN PENGESAHAN ...ii

KATA PENGANTAR ...iii

DAFTAR ISI ...v

DAFTAR GAMBAR...viii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1. Latar Belakang Masalah...1

1.2. Rumusan Masalah...3

1.3. Tujuan Penulisan...3

1.4. Metode Pengumpulan Data ...4

1.5. Sistematika Penulisan...5

2.3.4. Persiapan Alat dan Bahan... 14

2.3.5. Persiapan Pasien... 14

2.3.6. Pemasukkan Media Kontras... 15

2.4. Teknik Radiografi Bipolar Urethrocystography... 15

2.4.1. Plain Foto... 15

2.4.2. Proyeksi AP ... 17

2.4.3. Proyeksi Oblik (RPO)... 18

2.4.4. Proyeksi Lateral (Optional)... 20

2.5. Proteksi Radiasi... 21

2.5.1. Proteksi bagi pasien ... 21

2.5.2. Proteksi bagi petugas ... 21

2.5.3. Proteksi bagi masyarakat umum ... 22

BAB III PROFIL KASUS DAN PEMBAHASAN... 23

3.1. Identitas Pasien... 23

3.2. Riwayat Pasien... 23

3.3. Prosedur Pemeriksaan... 24

3.3.1. Persiapan Alat dan Bahan... 24

3.3.2. Persiapan Pasien ... 25

3.3.3. Teknik Pemeriksaan ... 24

3.4. Hasil Pembacaan Radiograf... 32

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Vesika Urinaria ... 6

Gambar 2.2 Prostat ... 7

Gambar 2.3 Urethra ... 8

Gambar 2.4 Derajat Penyempitan Urethra ...11

Gambar 2.5 Posisi pasien plain foto posisi AP ...16

Gambar 2.6 Posisi pasien proyeksi AP ...17

Gambar 2.7 Hasil radiograf posisi AP ...18

Gambar 2.8 Posisi Pasien RPO ...18

Gambar 2.9 Hasil radiograf posisi RPO ...19

Gambar 2.10 Posisi pasien lateral kiri (Optional)...20

Gambar 2.11 Hasil radiograf proyeksi lateral...21

Gambar 3.1 Hasil radiograf plain foto Sdr.Y ...26

Gambar 3.2 Hasil radiograf Urethrography Sdr.Y posisi AP ...28

Gambar 3.3 Hasil radiograf Urethrography Sdr.Y posisi RPO ...29

Gambar 3.4 Hasil radiograf Cystography Sdr.Y posisi AP ...30

Gambar 3.5 Hasil radiograf Cystography Sdr.Y posisi RPO ...31

BAB I

(6)

1.1.

Latar Belakang

Sistem urinaria terdiri dari organ-organ yang memproduksi urine dan

mengeluarkannya dari tubuh. Sistem urinaria terdiri dari dua ginjal, dua

ureter yang membawa urine ke dalam sebuah kandung kemih untuk

penampungan sementara, dan urethra yang mengalirkan urine keluar tubuh

melalui orifisium urethra eksterna (Ethel Sloane, 2004).

Sistem urinaria adalah salah satu sistem tubuh yang memiliki organ –

organ yang kompleks dan rentan terhadap suatu penyakit. Berbagai jenis

penyakit dapat menyerang sistem urinari tubuh manusia dan salah satunya

adalah striktur urethra. Striktur urethra adalah penyempitan lumen urethra

akibat adanya jaringan parut dan kontraksi (C. Smeltzer, Suzanne; 2002).

Adanya jaringan parut dan kontraksi ini yang menyebabkan penderita

mengalami kesulitan saat berkemih atau bahkan tidak bisa berkemih.

Pemeriksaan radiologi yang digunakan untuk melihat adanya lokasi

penyempitan pada urethra adalah urethrography, sedangkan untuk melihat

lokasi dan panjang penyempitan adalah bipolar urethrocystography. Seperti

yang terjadi pada penderita dengan klinis striktur urethra, maka dilakukan

pemeriksaan bipolar urethrocystography dengan memasukkan cairan media

kontras melalui kateter cystotomy dan melalui orificium urethra secara

retrograde.

Dalam perkembangannya, banyak yang memperkirakan bahwa

gambar bergerak dari fluoroscopy benar-benar akan menggantikan X-ray

(7)

gambaran struktur tubuh melalui pemanfaatan paparan sinar-x secara real

time. Paparan sinar-x secara terus-menerus pada bagian tubuh dan

diteruskan pada monitor agar dapat terlihat anatomi dan fisiologi organ

secara terperinci.

Untuk memudahkan pemeriksaan radiologi khususnya dalam

pemeriksaan yang menggunakan media kontras, fluroscopy sangat

membantu dalam pemeriksaan tersebut. Yang bertujuan untuk memandu

dalam melihat kontras yang dimasukan kedalam tubuh pasien secara

langsung. Di Instalasi radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon telah

menggunakan fluoroscopy dalam pemeriksaan radiologi yang menggunakan

media kontras.

Penulis tertarik untuk mengkaji dan mempelajari lebih mendalam

tentang teknik pemeriksaan bipolar urethrocystography pada kasus striktur

urethra di Instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon. Oleh karena

itu, penulis membuat laporan kasus dengan judul “Teknik Pemeriksaan

Radiografi Bipolar Urethrocystography dengan Kasus Striktur Urethra di

Instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon”.

1.2.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disebutkan, maka

(8)

1. Bagaimana teknik pemeriksaan bipolar uretrocystography pada kasus

striktur urethra di Instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati Kota

Cirebon?

2. Apakah peranan pemeriksaan bipolar urethrocystography pada kasus

striktur urethra di Instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon?

1.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan laporan kasus ini sebagai berikut:

1. Mengetahui teknik pemeriksaan radiografi bipolar uretrocystography

pada kasus striktur urethra di Instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati

Kota Cirebon.

2. Mengetahui peranan pemeriksaan bipolar urethrocystography pada kasus

striktur urethra di Instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon.

3. Memenuhi tugas Praktek Kerja Lapangan (PKL) 2.

1.4. Metode Pengumpulan Data

Dalam penulisan laporan kasus ini, penulis menggunakan metode

pengumpulan data sebagai berikut: 1. Metode Kepustakaan

Yaitu metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencetak serta

(9)

dan media internet yang berhubungan dengan masalah yang

dikemukakan untuk mendukung pembahasan masalah. 2. Metode Observasi

Yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan melakukan

observasi secara langsung mengenai teknik pemeriksaan radiografi

bipolar urethrocystography pada kasus striktur urethra di Instalasi

Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon. 3. Metode Dokumentasi

Yaitu metode pengumpulan data dengan mengambil data dari

dokumen-dokumen antara lain dari hasil radiograf, rekam medik dan hasil

pembacaan radiograf.

1.5. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembaca untuk memahami isi laporan kasus ini.

Penulis menyajikan sistematika penulisan dengan rincian sebagai berikut :

BAB I, Pendahuluan

Bab ini terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan penulisan, metode pengumpulan data, manfaat penulisan,

dan sistematika penulisan.

BAB II, Dasar Teori

Bab ini menjelaskan tentang anatomi, patologi dan teknik

pemeriksaan radiologi serta proteksi radiasi yang dijadikan

sebagai dasar teori dalam penulisan laporan kasus ini.

(10)

Bab ini berisi tentang profil kasus pasien yang mengalami

osteoarthritis, prosedur pemeriksaan, hasil pembacaan radiograf

serta pembahasannya. BAB IV, Penutup

Pada bab ini, dikemukakan kesimpulan dari bab-bab

sebelumnya serta saran dari penulis. DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

BAB II

DASAR TEORI

2.1. Anatomi

2.1.1. Vesika Urinaria

Gambar 2.1 Vesika urinaria (Netter, 2011)

Vesika urinaria atau yang sering disebut kandung kemih

merupakan viscera pelvis berongga yang tersusun oleh otot polos,

(11)

bentuk menyerupai buah pir (kendi) dan dilapisi oleh lapisan mukosa

sel epitel transional, muskulus yang tebal (detrusor muscle), jaringan

fibrous (kecuali pada bagian superior dibentuk oleh peritoneum

parietal).

Kandung kemih terletak di dalam panggul besar, sekitar bagian

posterosuperior dari simphysis pubis. Pada laki-laki terletak dibagian

anterior dari rectum sedangkan pada wanita terletak disebelah anterior

vagina dan uterus. Kandung kemih memiliki tiga bentuk membuka pada

daerah triangular yang disebut sebagai trigone.

Pada saat kosong, vesika urinaria akan terlihat kolaps dan akan

tampak rugae-rugae (kerutan). Apabila terisi penuh kandung kemih

akan menegang atau membesar dan rugae akan menghilang. Bentuk,

ukuran dan posisi vesika urinaria bervariasi tergantung dari jumlah

urine yang terdapat di dalamnya. Secara umum volume kandung kemih

berkisar antara 350 – 500 ml. Kandung kemih berfungsi sebagai tempat

penampungan sementara (reservoa) urine.

(12)

Gambar 2.2 Prostat (Netter, 2011)

Ukuran prostat kecil dan letaknya ke arah posterior dan inferior

dari simphysis pubis. Selain bentuknya yang kecil, kelenjar prostat

juga menyerupai kerucut dengan bagian dorsalnya berhimpit dengan

kandung kemih serta bagian apeksnya berhubung dengan bagian

bawah pelvis. Ukuran bagian transversalnya ialah sekitar 1,5 inchi

(3,75 cm) serta bagian anteroposterior sepanjang 1 inchi (2,5 cm).

Prostat hanya ditemukan pada laki-laki dan berfungsi untuk motalitas

semen selama reproduksi.

(13)

Gambar 2.3 Urethra (Netter, 2011)

Urethra merupakan saluran sempit yang terdiri dari mukosa

membrane dengan muskulus yang berbentuk spinkter pada bagian

bawah dari kandung kemih. Pada vesikourethra junction terdapat

penebalan dari muskulus detrusor yang disebut internal urethral

sphincter (involuntary). Sedangkan eksternal urethral sphincter

(voluntary) dibentuk oleh muskulus skeletal yang mengelilingi urethra

melalui diafragma urogenital. Dindingnya terdiri dari tiga lapisan

yaitu: epitel transional, columnair pseudostratified dan squamous

stratified. Letak urethra di atas dari orivisium internal urethra pada

kandung kemih dan terbentang sepanjang 1,5 inchi ( 3,75 cm) pada

(14)

Urethra pria dibagi atas :

1. Urethra Posterior, dibagi menjadi:

a. Pars prostatika : dengan panjang sekitar 2,5 cm, berjalan

melalui kelenjar prostate.

b. Pars membranacea : dengan panjang sekitar 2 cm, berjalan

melalui diafragma urogenital antara prostate dan penis

2. Urethra Anterior, dibagi menjadi:

a. Pars bulbaris : terletak di proksimal,merupakan bagian urethra

yang melewati bulbus penis.

b. Pars pendulum /cavernosa/spongiosa: dengan panjang sekitar

15 cm, berjalan melalui penis (berfungsi juga sebagai transport

semen).

c. Pars glandis: bagian urethra di gland penis. Urethra ini sanga

pendek dan epitelnya sangat berupa squamosa ( squamous

compleks noncornificatum)

Urethra berfungsi untuk transport urine dari kandung kemih ke

meatus eksterna, urethra merupakan sebuah saluran yang berjalan dari

leher kandung kemih hingga lubang air. (Pearce, 1999).

2.2. Patologi Striktur Urethra

Striktur urethra adalah penyempitan lumen urethra akibat adanya

jaringan parut dan kontraksi (C. Smeltzer, Suzanne; 2002 hal 1468). Adanya

jaringan parut dan kontraksi ini yang menyebabkan penderita mengalami

(15)

Striktur urethra dapat terjadi karena :

1. Kelainan Kongenital, misalnya kongenital meatus stenosis, klep urethra

posterior

2. Operasi rekonstruksi dari kelainan kongenital seperti hipospadia,

epispadia

3. Trauma, misalnya fraktur tulang pelvis yang mengenai urethra pars

membranasea; trauma tumpul pada selangkangan (straddle injuries) yang

mengenai urethra pars bulbosa, dapat terjadi pada anak yang naik sepeda

dan kakinya terpeleset dari pedal sepeda sehingga jatuh dengan urethra

pada bingkai sepeda pria; trauma langsung pada penis; instrumentasi

transurethra yang kurang hati-hati (iatrogenik) seperti pemasangan

kateter yang kasar, fiksasi kateter yang salah.

4. Post operasi, beberapa operasi pada saluran kemih dapat menimbulkan

striktur urethra, seperti operasi prostat, operasi dengan alat endoskopi.

(16)

Gambar 2.4 Derajat Penyempitan Urethra (Purnomo, 2003)

Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktur urethra dibagi

menjadi tiga tingkatan, yaitu derajat:

1. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen urethra. 2. Sedang: jika terdapat oklusi 1/3 sampai dengan ½ diameter lumen urethra 3. Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen urethra

Pada penyempitan derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di

korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.

2.3. Bipolar Urethrocystography 2.3.1. Pengertian

Pemeriksaan radiologi untuk melihat fungsi dari urethra dan

vesica urinaria yang mengalami gangguan berupa penyempitan dan

sumbatan sehingga menimbulkan gangguan pada urethra dan vesica

urinaria. Dikatakan Bipolar Urethrocystografi karena teknik pemasukan

kontras media melalui dua saluran, yaitu saluran urethra dan kandung

kemih yang dilakukan secara cystotomi. Cystotomi adalah pembentukan

lubang kedalam kandung kemih dengan cara membuat lubang pada

(17)

dengan tujuan untuk memasang cystofix sehingga pasien dapat

melakukan miksi.

Cystofix adalah suatu kateter sementara yang dipasang pada

daerah supra pubis dan berguna untuk mengalirkan urin dari kandung

kemih. Teknik pemasukan bahan kontras secara bipolar (antegrade dan

retrograde) dilakukan karena adanya kelainan atau gangguan yang

menghalangi urine dari kandung kemih menuju urethra, sehingga jika

kontras media hanya dimasukkan melalui urethra kemungkinan besar

kontras media tidak akan sampai masuk ke kandung kemih.

2.3.2. Indikasi

1. Striktur urethra

Striktur urethra adalah penyempitan lumen urethra akibat adanya

jaringan parut yang dialami dinding urethra dan terjadinya

kontraksi.

2. Retensi urine

Kesulitan dalam berkemih.

3. Kelainan congenital

Kelainan bawaan dari lahir, hal ini jarang terjadi.

4. Fistule

Saluran abnormal yang terbentuk antara dua buah organ yang

seharusnya tidak berhubung.

(18)

Lesi padat yang terbentuk akibat pertumbuhan sel yang tidak

normal.

2.3.3. Kontra Indikasi 1. Cystitis akut

Peradangan akut pada kandung kemih yang biasanaya disebabkan

oleh infeksi bakteri.

2. Alergi terhadap media kontras

3. Urethritis akut

Peradangan akut pada saluran kemih.

2.3.4. Persiapan Alat dan Bahan 1. Pesawat sinar x

2. Kaset dan film ukuran 24 x 30 cm beserta marker

3. Media kontras urografin

4. Gliserin

5. Kateter

6. Spuit

7. Kassa steril

8. Bengkok atau mangkuk steril

9. Kapas alcohol

10. Plester

(19)

12. Handscoon

2.3.5. Persiapan Pasien

1. Penjelasan tindakan yang akan dilaksanakan dan penandatanganan

inform consent

2. Tidak ada persiapan khusus

3. Vesica urinaria dikosongkan semaksimal mungkin

2.3.6. Pemasukkan Media Kontras

1. Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan

2. Daerah orificium urethra diolesi dengan gliserin

3. Masukkan media kontras melalui kateter sebanyak 12 cc untuk

urethrography

4. Lakukan pemotretan dengan beberapa proyeksi

5. Masukkan media kontras sebanyak 150 – 500 cc melalui kateter

cystotomi untuk cystography

6. Lakukan pemotretan dengan beberapa proyeksi

2.4. Teknik Radiografi Bipolar Urethrocystography 2.4.1. Plain Foto

Dilakukan dengan foto pelvis tampak urethra dengan proyeksi AP. Tujuan plain foto :

- Ketepatan positioning

- Koreksi faktor eksposi

- Melihat kemungkinan adanya patologi lain pada urethra

1. Posisi pasien

(20)

Gambar 2.5 Posisi pasien plain foto posisi AP (Bontrager, 2014)

2. Posisi objek

a. MSP tubuh di tengah meja pemeriksaan

b. Kedua tangan diletakkan di samping tubuh

c. Daerah pelvis dan urethra ditempatkan persis di pertengahan

meja pemeriksaan serta kedua kaki direnggangkan

d. Batas bawah : tampak urethra

3. Pengaturan sinar dan eksposi

a. Arah sinar/central ray (CR) : vertikal tegak lurus kaset

b. Titik bidik/central pint (CP) : 5 cm diatas symphysis pubis

c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm

d. Film dan kaset khusus fluoroscopy dengan ukuran 24 x 30 cm

e. Eksposi : ekspirasi tahan napas

4. Kriteria radiograf

(21)

2.4.2. Proyeksi AP 1. Posisi pasien

Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan

Gambar 2.6 Posisi pasien proyeksi AP (Merrill’s, 2010)

2. Posisi objek

a. MSP tubuh di tengah meja pemeriksaan

b. Kedua tangan diletakkan di samping tubuh

c. Daerah pelvis dan urethra ditempatkan persis di pertengahan

meja pemeriksaan serta kedua kaki direnggangkan

d. Batas bawah : tampak urethra

3. Pengaturan sinar dan eksposi

a. Arah sinar/central ray (CR) : 10o – 15o caudad

b. Titik bidik/central pint (CP) : 5 cm diatas symphysis pubis

c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm

d. Film dan kaset khusus fluoroscopy dengan ukuran 24 x 30 cm

(22)

Gambar 2.7 Hasil radiograf posisi AP (Merrill’s, 2010)

4. Kriteria radiograf

Tampak gambaran tulang pelvis (ilium, ischium, sacrum dan

symphisis pubis). Tampak rongga pelvis, tampak kandung kemih

dan urethra yang terisi media kontras dengan kandung kemih tidak

superposisi dengan symphisis pubis.

2.4.3. Proyeksi Oblik (RPO) 1. Posisi pasien

Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan dan daerah panggul

dimiringkan 35 – 40o.

(23)

2. Posisi objek

a. Daerah panggul diatur miring kira-kira 35 – 40o ke kanan

dengan kaki kiri ditekuk sebagai tumpuan namun tidak

menutupi gambaran.

b. Daerah pelvis dan urethra ditempatkan persis di pertengahan

meja pemeriksaan.

3. Pengaturan sinar dan eksposi

a. Arah sinar/central ray (CR) : vertical tegak lurus kaset

b. Titik bidik/central pint (CP) : 5 cm di atas symphysis

pubis dan 5 cm ke arah medial dari SIAS

c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm

d. Film dan kaset khusus fluoroscopy dengan ukuran 24 x 30 cm

e. Eksposi : ekspirasi tahan napas

Gambar 2.9 Hasil radiograf proyeksi RPO (Merrill’s, 2010)

4. Kriteria radiograf

Tampak kontras mengisi urethra (Pars cavernosa, Pars

(24)

1. Posisi pasien

Pasien tidur miring di salah satu sisi

Gambar 2.10 Posisi pasien lateral kiri (Optional) (Bontrager, 2014)

2. Posisi objek

a. Kedua lutut ditekuk sebagai fiksasi dan kedua lutut diberi

bantalan

b. Daerah pelvis berada tepat pada pertengahan meja pemeriksaan

3. Pengaturan sinar dan eksposi

a. Arah sinar/central ray (CR) : vertikal tegak lurus kaset

b. Titik bidik/central pint (CP) : 5 cm diatas menuju ke belakang

symphysis pubis

c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm

d. Ukuran film dan kaset khusus fluoroscopy ukuran 24 x 30 cm

(25)

Gambar 2.11 Hasil radiograf proyeksi lateral (Merrill’s, 2010)

4. Kriteria radiograf

a. Hip joint dan femur superposisi

b. Tampak vesica urinaria terisi dengan kontras

2.5. Proteksi Radiasi

2.5.1. Proteksi bagi pasien

1. Pemeriksaan dengan sinar-x hanya dilakukan atas permintaan

dokter

2. Mengatur luas lapangan pemeriksaan sesuai dengan kebutuhan

3. Waktu penyinaran sesingkat mungkin

2.5.2. Proteksi bagi petugas

1. Tidak menggunakan berkas sinar–x yang mengarah ke petugas

2. Berlindung dibalik tabir saat melakukan eksposi

3. Menggunakan alat monitoring radiasi secara continue selama

bertugas

(26)

1. Pintu pemeriksaan tertutup rapat

2. Tidak mengarahkan sinar sumber sinar – x keruangan umum

3. Bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke ruang

pemeriksaan

BAB III

PROFIL KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1. Identitas Pasien

Nama : Tn. Y

Jenis Kelamin : Laki – laki

Tanggal Lahir : 13 Juli 1969

Alamat : Cirebon

No. RM : 9179**

Dokter Pengirim : dr. Tommy Yuwono Santoso, Sp.U

(27)

Permintaan Pemeriksaan : Urethrocystography

Keterangan Klinik : Striktur Urethra

3.2. Riwayat Pasien

Pada hari sabtu tanggal 7 Mei 2016 pasien mendatangi RSUD Gunung

Jati Kota Cirebon untuk memeriksakan kelainan yang dialaminya. Pasien

tidak bisa buang air kecil dan merasakan sakit pada alat kelaminnya saat ingin

buang air kecil. Oleh dokter, pasien dipasang kateter melalui urethra sebagai

pengganti saluran kencingnya. Namun, pemasangan kateter mengalami

kegagalan sehingga dibuatlah kateter sementara kedalam vesica urinaria

dengan proses cystotomi. Untuk melihat kelainan yang dialami pasien, maka

dokter urologi meminta untuk dilakukan pemeriksaan bipolar

urethrocystography.

3.3. Prosedur Pemeriksaan

3.3.1. Persiapan Alat dan Bahan

1. Pesawat Sinar-X yang dilengkapi dengan fluoroscopy

Merk : Hitachi

Tipe : PM-155VC II (U51)

No. Seri : KC12747407

kV max : 150 kV

mA max : 630 mA

Manufactured : May 2004

(28)

3. Aquabides

4. Media kontras Iopamiro 300 mg/ml

5. Gliserin

6. Handscoon

7. Kateter

8. Mangkok dan Bengkok

9. Plester

10. Gunting klem

11. Spuit

12. Kassa steril

13. Kapas alkohol

14. Baju pasien

15. Automatic processing

3.3.2. Persiapan Pasien

1. Keluarga pasien dan pasien diberikan penjelasan tentang tindakan

yang akan dilakukan atau jalannya pemeriksaan dan

penandatanganan inform consent

2. Tidak ada persiapan khusus

3. Pasien telah dipasang kateter cystotomi oleh dokter pengirim

3.3.3. Teknik Pemeriksaan

(29)

1. Posisi pasien

Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan

2. Posisi objek

a. MSP tubuh di tengah meja pemeriksaan

b. Kedua tangan diletakkan di samping tubuh

c. Daerah pelvis dan urethra ditempatkan persis di

pertengahan meja pemeriksaan serta kedua kaki

direnggangkan

d. Batas bawah : tampak urethra

3. Pengaturan sinar dan eksposi

a. Arah sinar/central ray (CR) : vertikal tegak lurus

b. Titik bidik/central pint (CP) : symphysis pubis

c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm

d. Film dan kaset khusus fluoroscopy dengan ukuran 24

x 30 cm

(30)

Gambar 3.1 Hasil radiograf plain foto Sdr.Y

4. Kriteria radiograf

Tampak gambaran tulang pelvis, kandung kemih dan

urethra.

3.3.3.2. Urethrography Proyeksi AP 1. Posisi pasien

Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan

2. Posisi objek

a. MSP tubuh di tengah meja pemeriksaan

(31)

c. Daerah pelvis dan urethra ditempatkan di

pertengahan meja pemeriksaan serta kedua kaki

direnggangkan

d. Pasien diinstruksikan untuk menarik saluran urethra

e. Batas bawah : tampak urethra

3. Pengaturan sinar dan eksposi

a. Arah sinar/central ray (CR) : vertikal tegak lurus

kaset

b. Titik bidik/central pint (CP) : 5 cm inferior

symphysis pubis

c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm

d. Film dan kaset khusus fluoroscopy dengan ukuran

24 x 30 cm

Gambar 3.2 Hasil radiograf Urethrography Sdr.Y posisi AP

4. Kriteria radiograf

Tampak gambaran tulang pubis dan urethra. Tampak

(32)

3.3.3.3. Urethrography Proyeksi RPO (Right Posterior Oblique)

1. Posisi pasien

Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan dan daerah

panggul dimiringkan 35 – 40o.

2. Posisi objek

a. Daerah panggul diatur miring kira-kira 35 – 40o ke

kanan dengan kaki kiri ditekuk sebagai tumpuan

namun tidak menutupi gambaran.

b. Pasien diinstruksikan untuk menarik saluran urethra

3. Pengaturan sinar dan eksposi

a. Arah sinar/central ray (CR) : vertikal tegak lurus

b. Titik bidik/central pint (CP) : ditujukan ke

pertengahan urethra

c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm

(33)

Gambar 3.3 Hasil radiograf Urethrography Sdr.Y posisi RPO

4. Kriteria radiograf

a. Tampak gambaran tulang pubis dalam posisi oblik.

b. Tampak gambaran urethra yang terisi media kontras.

c. Tampak terjadinya penyempitan pada urethra

3.3.3.4. Cystography Proyeksi AP 1. Posisi pasien

Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan

2. Posisi objek

a. MSP tubuh di tengah meja pemeriksaan

b. Kedua tangan diletakkan di samping tubuh

c. Daerah pelvis ditempatkan di pertengahan meja

pemeriksaan

(34)

a. Arah sinar/central ray (CR) : vertikal tegak lurus

kaset

b. Titik bidik/central pint (CP) : 5 cm superior

symphysis pubis

c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm

d. Film dan kaset khusus fluoroscopy dengan ukuran

24 x 30 cm

Gambar 3.4 Hasil radiograf Cystography Sdr.Y posisi AP

4. Kriteria radiograf

Tampak gambaran tulang pelvis. Tampak kandung kemih

yang terisi media kontras.

(35)

Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan dan

daerah panggul dimiringkan 35 – 40o.

2. Posisi objek

Daerah panggul diatur miring kira-kira 35 – 40o ke kanan

dengan kaki kiri ditekuk sebagai tumpuan namun tidak

menutupi gambaran.

3. Pengaturan sinar dan eksposi

a. Arah sinar/central ray (CR) : vertikal tegak lurus

b. Titik bidik/central pint (CP) : 5 cm di atas

symphysis pubis dan 5 cm ke arah medial dari SIAS

c. Focus Film Distance (FFD) : 100 cm

d. Film dan kaset khusus fluoroscopy ukuran 24 x 30 cm

Gambar 3.5 Hasil radiograf Cystography Sdr.Y posisi RPO

4. Kriteria radiograf

a. Tampak gambaran pelvis dalam posisi oblik.

b. Tampak gambaran kandung kemih yang terisi media

kontras.

(36)

Tak tampak opasitas patologis pada kavum pelvis// Tak tampak deformitas

sacrococcygeal.

Bipolar urethrography :

 Kontras dimasukkan melalui kateter cystotomy mengisi optimal VU,

dinding irregular bentuk pine tree, additional shadow (-).

 Kemudian kontras water soluble dimasukkan secara retrograde melalui

orificium urethra eksternum, mengisi urethra pars penile, pars bulbosa,

pars membranasea, prostatica dan dapat mencapai vesica urinaria.

 Permukaan urethra anterior regular, filling defect (-), intravasasi kontras

(-), additional shadow (-).

 Tampak penyempitan abrupt pada urethra posterior pars bulbosa.

KESAN :

Severe cystitis

Suspect striktur urethra pars bulbosa

(37)

Striktur urethra adalah penyempitan lumen urethra akibat adanya

jaringan parut dan kontraksi. Adanya jaringan parut dan kontraksi ini yang

menyebabkan penderita mengalami kesulitan saat berkemih atau bahkan

tidak bisa berkemih.

Penyempitan urethra pada kasus Sdr.Y menyebabkan pasien harus

dipasangi kateter pada saluran urethranya sebagai saluran berkemih. Namun

pemasangan kateter melalui urethra pada Sdr.Y mengalami kegagalan

sehingga dilakukan pemasangan kateter cystotomi melalui vesica urinarianya.

Untuk menilai penyempitan lumen tersebut maka dilakukan

pemeriksaan radiologi yakni bipolar urethrocystography. Pemeriksaan ini

menggunakan jenis pesawat fluoroscopy. Digunakannya jenis pesawat

fluoroscopy yakni agar dapat mengamati gambaran struktur organ dan

gerakan organ secara dinamik (real time imaging).

Media kontras yang digunakan pada pemeriksaan bipolar

urethrocystography di Instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon

adalah Iopamiro dengan konsentrasi 300 mg/ml. Pada teori dikatakan bahwa

media kontras yang digunakan yaitu 150 – 500 cc untuk kontras yang

dimasukkan ke dalam vesica urinaria. Di Instalasi Radiologi RSUD Gunung

Jati Kota Cirebon untuk vesica urinaria menggunakan 150 cc kontras dengan

perbandingan sekitar 1:3 dan untuk urethra menggunakan 20-25 cc.

Pemeriksaan pertama yang dilakukan adalah urethrography untuk

melihat adanya kelainan atau gangguan yang menghalangi urine dari kandung

(38)

melalui urethra kemungkinan besar kontras media tidak akan sampai masuk

ke kandung kemih. Sehingga setelah pemeriksaan urethrography dilanjutkan

dengan pemeriksaan cystography untuk melihat bagaimana kontras media

mengisi vesica urinaria.

Pemeriksaan bipolar urethrocystography terhadap Sdr.Y di Instalasi

Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon menggunakan dua arah

pemasukkan media kontras yaitu untuk urethrography pemasukkannya secara

retrograde melalui orificium urethra eksternum dan untuk cystography

pemasukkannya secara antegrade melalui kateter cystotomi.

Pada pemasukkan media kontras secara retrograde pada urethrography,

pasien diinstruksikan untuk menarik urethra agar utrethra yang memiliki

struktur melengkung menjadi lurus sehingga dapat dinilai penyempitannya.

Instruksi ini dilakukan pada saat proyeksi AP dan RPO. Proyeksi AP

dilakukan untuk melihat dimana letak penyempintannya. Proyeksi RPO

dilakukan agar urethra tidak superposisi dengan softissue yang ada di

sekitarnya.

Proyeksi lateral tidak digunakan pada pemeriksaan bipolar

urethrocystography di Instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon

dikarenkan proyeksi AP dan RPO sudah mampu untuk melihat kelainan yang

dialami pasien.

Secara keseluruhan, pemeriksaan bipolar uretocystography Sdr.Y sudah

dapat menunjukkan penyempitan urethra pada pars bulbosa yang

(39)

cystotomi. Dari pemeriksaan ini, dokter urologi dapat mengetahui panjang

penyempitan dan lokasi penyempitan sehingga mampu untuk mengambil

keputusan bagaimana tindakan selanjutnya.

BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

1. Pemeriksaan bipolar urethrocystography tidak memerlukan persiapan

pasien secara khusus, hanya mengosongkan vesika urinaria.

(40)

Radiologi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon menggunakan dua arah

pemasukkan media kontras yaitu untuk urethrography pemasukkannya

secara retrograde melalui orificium urethra eksternum dan untuk

cystography pemasukkannya secara antegrade melalui kateter cystotomi. 3. Pemeriksaan bipolar uretrocystography di RSUD Gunung Jati Kota

Cirebon menggunakan pesawat fluoroscopy.

4. Pemeriksaan bipolar uretrocystografi pada pasien Sdr.Y dengan kasus

striktur urethra mempunyai peranan yang penting yaitu dapat

menunjukkan lokasi striktur, panjang striktur dan total striktur sehingga

mampu memberikan informasi diagnostik bagi dokter urologi untuk

melakukan penanganan selanjutnya terhadap kasus ini. 4.2. Saran

1. Radiografer perlu memberikan penjelasan secara jelas pada pasien agar

pasien mengerti dan dapat bekerja sama saat dilakukannya pemeriksaan.

2. Memposisikan objek tepat pada daerah lapangan penyinaran sehingga

dapat meminimalisasi waktu pemeriksaan dan mmengurangi dosis radiasi

(41)

DAFTAR PUSTAKA

Ballinger, P. W. 2003. Merrill’s Atlas of Radiographic Positioning and

Procedures, Volume Two, Tenth Edition. St. Louis : CV Mosby Company Bontrager, Kenneth L. 2014. Textbook of Radiographic Positioning and Related

Anatomy, Eighth Edition. St. Louis : Mosby Elsevier

Netter, Frank H. 2011. Atlas of Human Anatomy, Fifth Edition. Philadelphia :

Saunders Elsevier

Pearce, Evelyn C. 1999. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT.

(42)

Purnomo, Basuki B. 2003. Dasar Dasar Urologi, Edisi Dua. Jakarta : Sagung

Seto.

Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC

Gambar

Gambar 2.1 Vesika urinaria (Netter, 2011)
Gambar 2.2 Prostat (Netter, 2011)
Gambar 2.3 Urethra (Netter, 2011)
Gambar 2.4 Derajat Penyempitan Urethra (Purnomo, 2003)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pemasukan Penawaran untuk Pekerjaan Belanja Modal Pengadaan Alat-Alat Kedokteran Umum pada RSUD Gunung Jati Kota Cirebon, dengan hasil sebagai berikut :. Waktu penutupan pemasukan

Lingkup pekerjaan : Pengadaan makanan, Minuman pasien dan pegawai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunung Jati Kota Cirebon untuk tahun 2014..

Pemeriksaan radiografi clavicula dengan klinis fraktur di Instalasi Radiologi RSUD RAA Soewondo Pati menggunakan proyeksi Antero Posterior (AP) dengan arah sinar

Penelitian tentang estimasi dosis radiasi yang diterima pasien pada pemeriksaan Thorax PA yang dilakukan di Instalasi Radiologi RSUD Kabupaten Buleleng dengan melakukan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di depo farmasi rawat jalan lantai 1 RSUD Gunung Jati Kota Cirebon tentang waktu tunggu pelayanan resep yang didasari oleh

Pemeriksaan CT Stonography adalah jenis pemeriksaan CT Scan tanpa menggunakan media kontras yang secara spesifik digunakan untuk memperlihatkan kelainan berupa

Teknik Pemeriksaan Sinus Paranasal di Instalasi Radiologi RSUD Kota Semarang Tidak Disetujui (Studi Kasus pada penderita sinusitis).. 21 10.1.045 Hikmah Nurul Hidayah

Laporan Kerja Praktik mahasiswa Teknik Sipil Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon sebagai syarat akademik pembangunan gedung di ITB Innovation