• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alasan Indonesia Abstain dalam Resolusi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Alasan Indonesia Abstain dalam Resolusi"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Alasan Indonesia Abstain dalam Resolusi Dewan HAM PBB

Terkait Pelanggaran HAM di Suriah Pada Juli 2016

Oleh: Labib Syarief, S.Sos

Dewan HAM PBB didirikan dalam sidang umum PBB pada 15 Maret 2006 melalui

Resolusi 60/251 untuk menggantikan Komisi HAM PBB. Dewan HAM PBB yang berpusat

di Geneva ini merupakan salah satu organisasi PBB yang memiliki tanggung jawab untuk

menguatkan dan mempromosikan HAM di seluruh dunia, untuk memperhatikan situasi

kekerasan HAM serta untuk membuat rekomendasi terkait HAM. Sehingga Dewan HAM

PBB yang beranggotakan 47 negara dan dipilih dalam sidang umum PBB tersebut, memiliki

peran untuk membahas isu dan situasi HAM di dunia setiap tahun (OHCHR, 2016a).

Salah satu anggota pertama (founding member) sejak berdirinya Dewan HAM PBB

pada tahun 2006 adalah Indonesia. Selanjutnya pada tahun 2014, Indonesia terpilih kembali

menjadi anggota Dewan HAM PBB untuk yang ketiga kalinya untuk periode tahun

2015-2017. Desra Percaya, selaku Duta Besar Indonesia untuk PBB pada saat itu, menyatakan

bahwa terpilihnya kembali Indonesia sebagai anggota Dewan HAM PBB sebagai bukti nyata

kepercayaan masyarakat internasional terhadap upaya Indonesia dalam pemajuan dan

perlindungan HAM (Maulana, 2014). Selain itu, sebagai anggota Dewan HAM PBB,

Indonesia memiliki hak untuk memvoting dalam tiap rancangan resolusi Dewan HAM PBB.

Salah satu voting rancangan Resolusi Dewan HAM PBB tahunan adalah terkait isu

HAM di Suriah yang bertajuk „The Human Rights Situation in the Syrian Arab Republic' dalam pertemuan Dewan HAM PBB ke-32 pada tanggal 1 Juli 2016 di Geneva, Swiss. Isi

rancangan resolusi ini tercantum dalam A/HRC/RES/32/25. Hasilnya adalah 27 negara memvoting „yes‟, 6 negara memvoting „no‟, dan 14 negara memvoting „abstain‟. Indonesia merupakan salah satu negara yang memvoting abstain terkait resoulusi ini (OHCHR, 2016b;

Fitriyanti, 2016).

Abstainnya Indonesia dalam voting Dewan HAM PBB terkait isu HAM Suriah

menimbulkan pertanyaan, yaitu apa alasan Indonesia memvoting abstain dalam rancangan

resolusi Dewan HAM PBB terakit isu HAM Suriah pada pertemuan Dewan HAM ke-32 pada

tanggal Juli 2016? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dapat menggunakan satu perspektif

atau hanya dua konsep tertentu. Berikut ini analisis penulis untuk menjawab pertanyaan

tersebut.

Pertama menggunakan perspektif konstruktivis, di mana Jeffrey T. Checkel

(2)

dan identitas (Checkel, 2008, dalam Bahravesh, 2011). Berdasarkan perspektif ini, kebijakan

luar negeri abstain Indonesia dalam resolusi Dewan HAM terkait isu HAM di Suriah

dipengaruhi oleh norma dan identitas yang dimiliki oleh Indonesia. Menteri Luar Negeri

Retno Lestari Priansari Marsudi menyatakan bahwa (Darmajati, 2016):

“Delegasi RI mengambil sikap abstain atas rancangan resolusi karena rancangan

resolusi itu tidak seimbang yang hanya menyangkut pelanggaran HAM oleh Pemerintahan Bashar Al Assad, dan tidak memuat rujukan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh kelompok oposisi dan non-state actors lainnya"

Kemudian, Menteri Retno juga menambahkan bahwa rancangan resolusi Dewan HAM tersebut, diprakarsai antara lain oleh Amerika Serikat dan Arab Saudi. “Keduanya mengkritisi HAM tapi dari satu sisi saja. pelanggaran memanglah pelanggaran, tapi kalau

sudah memihak, maka itu kita tidak inginkan" ujar Menteri Retno. Sehingga ia menegaskan

bahwa Indonesia mengambil posisi yang tidak dikendalikan oleh negara lain (Darmajati,

2016).

Berdasarkan pernyataan Menteri Luar Negeri RI tersebut, alasan Indonesia abstain

adalah karena Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif yang tertera dalam UUD 45.

Di mana UUD 45 dan politik luar negeri bebas aktif bagi konstruktivis adalah identitas dan

norma yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan hal tersebut Indonesia memilih untuk netral,

atau Indonesia memilih untuk tidak memblok ke negara lain, atau tidak dikendalikan oleh

negara lain. Hal ini disebabkan rancangan resolusi hanya ditujukan untuk pelanggaran HAM

oleh Bashar al-Assad, tidak untuk keduanya, baik pelanggaran HAM oleh oposisi dan non

state actors lainnya, maupun untuk Assad. Apalagi telah diketahui bahwa Bashar al-Assad

didukung oleh negara lain, salah satunya Rusia. Sedangkan pihak oposisi Suriah didukung

juga oleh negara lain, di antaranya Amerika Serikat.

Bahkan menurut Direktur Jenderal Multilateral Kemlu Hasan Kleib yang diwawancarai

oleh Antara News mengatakan bahwa forum tersebut bersifat politisasi, tidak seimbang, dan

tidak mencakup isu-isu yang mempromosikan HAM (Fitriyani, 2016). Dengan demikian,

politik luar negeri bebas aktif dalam UUD 45 yang merupakan norma dan identitas yang

dimiliki oleh Indonesia berpengaruh dalam kebijakan abstain Indonesia. Di mana Indonesia

memilih untuk netral dan tidak memblok terhadap negara tertentu.

(3)

Mintz. Di mana konsep ini menjelaskan bahwa negara membuat pilihan-pilihan rasional

untuk menghitung tingkatan kepuasan demi tercapainya sasaran dan objek (kepentingan

nasional). RAM juga mengidentifikasi alternatif-alternatif beserta konsekuensinya dan

memilih salah satu alternatif yang dapat memaksimalisasi kepuasan (Mintz & Derouen,

2010). Berikut ini adalah langkah-langkah kebijakan luar negeri berdasarkan konsep RAM

(Mintz & Derouen, 2010):

1. Mengidentifikasi masalah;

2. Identifikasi tujuan yang dicapai kepentingan nasional;

3. Identifikasi alternatif untuk mencapai kepentingan nasional;

4. Menganalisa konsekuensi dari tiap alternative;

5. Memilih satu alternatif yang paling baik yang dapat memaksimalkan kepuasan;

6. Penerapan keputusan;

7. monitoring dan evaluasi.

Tujuan akhir dari RAM adalah untuk mendapatkan pilihan yang terbaik dari

kepentingan nasional berdasarkan alternatif yang ada. Di mana kepentingan nasional adalah

tujuan fundamental dan faktor penentu akhir yang mendorong para pembuat keputusan dalam

merumuskan kebijakan luar negerinya. Kepentingan nasional suatu negara sendiri memiliki

unsur-unsur yang membentuk kebutuhan negara yang vital, seperti pertahanan, keamanan,

militer dan kesejahteraan ekonomi (Yani, 2006).

Selain itu, kepentingan nasional juga dijelaskan oleh Donald E Nuechterlin yang

membagi kepentingan nasional menjadi empat. Salah satunya adalah kepentingan pertahanan

yang di antaranya adalah berupa perlindungan warga negara (Nuechterlin, 1976). Di mana

terkait perlindungan warga negara di luar negeri dilakukan oleh perwakilan Diplomatik yang

salah satu bentuk tugasnya adalah melindungi warga negara sendiri di negara lain

(Wiraatmaja, 1976)

Berikut ini langkah-langkah menganalisis kebijakan luar negeri abstain Indonesia

terhadap Resolusi Dewan HAM PBB tentang pelanggaran HAM di Suriah

1. Identifikasi Masalah

Rancangan Resolusi Pelanggaran HAM di Suriah oleh Dewan HAM PBB Juli 2016 (The Human Rights Situation in the Syrian Arab Republic)

Diketahui bahwa pelanggaran HAM hanya ditujukan untuk Bashar al-Assad, tidak ditujukan keduanya, baik Assad maupun pihak oposisi dan non state actor lainnya.

(4)

Pilihan Tindakan Indonesia dalam merespon „The Human Rights Situation in the

Syrian Arab Republic' dalam Pertemuan Dewan HAM PBB ke-32 pada Juli 2016

2. Tujuan (Kepentingan

Nasional)

3. Tindakan 4. Konsekuensi

Menjaga Kedutaan Besar

Republik Indonesia untuk

Suriah untuk Melindungi

Warga Negara Indonesia di

Negara Indonesia, karena

keberpihakan blok

Menjaga Kedutaan Besar

Republik Indonesia untuk

Suriah untuk Melindungi

Warga Negara Indonesia di

Suriah

No 1. Memblok terhadap

negara yang pro dengan

Assad seperti Rusia

2. Warga Negara Indonesia

dapat terancam oleh

oposisi

3. Netralitas Indonesia

hilang

Menjaga Kedutaan Besar

Indonesia untuk Suriah untuk

Melindungi Warga Negara

Indonesia di Suriah

Do Nothing

(Abstain)

1. Tidak memblok kedua

pihak yang berkonflik,

termasuk tidak memblok

terhadap negara-negara

tertentu yang mendukung

kedua blok tersebut.

(5)

tugas melindungi Warga

Negara Indonesia di

Suriah dengan lancar

tanpa konsekuensi

diplomatik, serta Warga

Negara Indonesia aman

3. Netralitas Indonesia

terjaga

5. Pemilihan Opsi Terbaik

Menjaga Kedutaan Besar

Indonesia untuk Suriah untuk

Melindungi Warga Negara

Indonesia di Suriah

Do Nothing

(Abstain)

1. Tidak memblok kedua

pihak yang berkonflik,

termasuk tidak memblok

terhadap negara-negara

tertentu yang mendukung

kedua blok tersebut.

2. KBRI dapat melakukan

tugas melindungi Warga

Negara Indonesia di

Suriah dengan lancar

tanpa konsekuensi

diplomatik, serta Warga

Negara Indonesia aman

3. Netralitas Indonesia

(6)

6. Penerapan

Indonesia “Abstain” Atas Rancangan Resolusi Pelanggaran HAM Suriah oleh Dewan HAM

PBB Juli 2016 (The Human Rights Situation in the Syrian Arab Republic)

Sumber: (Detik.com)

Berdasarkan kalkulasi RAM, maka kepentingan nasional yang paling menguntungkan

Indonesia dalam Resolusi HAM Dewan PBB terkait Suriah adalah do nothing atau abstain.

Karena dengan abstain, kepentingan nasional yang berupa perlindungan warga negara yang

dilakukan oleh KBRI Indonesia untuk Suriah lebih dapat dilakukan, dengan konskuensi

diplomatik yang tidak ada atau nol. Hal ini terbukti dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri

Retno Marsudi pada Desember 2016 bahwa “Kita (Indonesia) menghitung berdasar kepentingan nasional kita. (Karena) masih ada ribuan warga negara kita di Suriah”

Pernyataan Menlu tersebut telah dijelaskan sebelumnya oleh Direktur Jenderal

Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal

pada Maret 2016, bahwa pemerintah Indonesia telah memulangkan sekitar 12.217 dari total

12.500 orang yang tercatat oleh Pemerintah RI. Di mana Pemerintah RI memulangkan TKI

tersebut melalui 273 gelombang sejak tahun 2011 (tahun dimulainya konflik Suriah) hingga

tahun Maret 2016 (Arungbodoyo, 2016: Kemala, 2016).

Meskipun Pemerintah RI telah melarang mengirim TKI ke Suriah sejak Tahun 2011,

tetapi jumlah TKI di Suriah bukanlah tersisa sekitar 200-300 orang. Justru bertambah, di

mana Lalu Muhammad Iqbal juga menyatakan bahwa jumlah TKI di Suriah diperkirakan

menjadi 1.100 orang. Jumlah tersebut naik turun karena banyak TKI ilegal yang dibawa oleh

(7)

Selain itu, menurut Pejabat Konsuler II merangkap Fungsi Penerangan Sosial dan

Budaya KBRI Damaskus, AM. Sidqi, menjelaskan bahwa penyebab maraknya pengiriman

TKI ilegal ke Suriah adalah karena pemerintahan Damaksus masih tetap mengakui Indonesia

sebagai salah satu negara pengirim tenaga kerja. “Kami di Damaskus terus mendorong Pemerintah Suriah agar mengeluarkan (keputusan, untuk) dikeluarkan dari daftar nama

pengirim TKI ke Suriah. Namun demikian, semangat dan upaya yang sama juga perlu

dilakukan oleh Pemerintah Pusat di Jakarta” ujarnya (Samosir, 2016). Berdasarkan pentingnya upaya KBRI untuk Suriah dalam melindungi WNI tersebut, sehingga keberadaaan

KBRI untuk Suriah masih sangat diperlukan. Di mana Menurut Jubir Kemenlu, Amanta Nasir

pada Desember 2016 menyatakan bahwa tidak banyak negara yang membuka kedutaan

besarnya, salah satunya Indonesia, hal ini sebagai bentuk perwujudan perindungan

pemerintah Indonesia kepada warga negaranya (Sindonews, 2016).

Berdasarkan konsep RAM dan kepentingan nasional yang berupa perlindungan warga

negara di luar negeri. Maka, alasan Indonesia asbtain adalah karena untuk melindungi warga

negara Indonesia di Suriah. Hal ini dibuktikkan dengan pernyataan pejabat Kementerian Luar

Negeri Indonesia yang telah dijelaskan di atas.

Penulis:

Labib Syarief, S.Sos

(8)

Sumber:

Arungbudoyo, Wikanto. 2016. “Banyak Dipulangkan Jumlah WNI di Suriah Malah Bertambah” Okezone. Diakses pada 26 Desember 2016 dari (http://news.okezone.com/read/2016/04/11/18/1360126/banyak-dipulangkan-jumlah-wni-di-suriah-malah-bertambah)

Damarjati, Danu. “Ramai Dibahas, Ini Penjelasan Menlu Tentang Abstainnya RI soal HAM di Suriah” Detik News. Diakses pada 26 Desember 2016 dari

Maulana, Victor. 2014. “Indonesia Kembali Terpilih Jadi Anggota HAM PBB”. Sindonews.

Diakses pada 26 Desember 2016 dari

(http://international.sindonews.com/read/913952/40/indonesia-kembali-terpilih-jadi-anggota-ham-pbb-1413951596)

Mintz, Alex. dan Karl Derouen. 2010. Understanding Foreign Policy Making: Decision Making/ New York: Cambridge University Press.

Nuechterlein, Donald E. 1976. “National Interests and Foreign Policy: A Conceptual Framework for Analysis and Decision-Making” British Journal of International Studies. 2(3):246-266.

Sindonews. 2016. “Pemerintah Tak Tahu Pasti Jumlah WNI di Suriah” Sindonews. Diakses pada 26 Desember 2016 dari (http://video.sindonews.com/play/28996/pemerintah-tak-tahu-pasti-jumlah-wni-di-suriah)

Wiraatmaja, Suwardi. 1970. Pengantar Hubungan Internasional. Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Piagam PBB, Dewan Keamanan PBB mengambil kesimpulan bahwa yang terjadi di Suriah dapat mengancam perdamaian dunia dan dalam Piagam tersebut juga

Pada penelitian ini, konsep peran tersebutlah yang akan lebih difokuskan, yaitu dikeluarkannya resolusi oleh Dewan Keamanan PBB, sebagai suatu bentuk konkrit kekuatan

Sikap tegas pemerintahan Trump tersebut diperlihatkan AS di forum PBB, dengan memveto draf resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB yang menolak pengakuan Jerusalem sebagai ibu

Dan lagi, dalam resolusi tahun 1989/64, yang diadopsi pada tanggal 24 Mei 1989, Dewan Ekonomi dan Sosial PBB merekomendasikan bahwa negara anggota PBB memperkuat

Tuduhan yang dilakukan oleh beberapa Negara Pasifik terhadap Indonesia di dalam forum PBB yang menganggap bahwa telah terjadi pelanggaran HAM di Papua, dinilai Indonesia

Perbedaan yang menjadikan penelitian penulis orisinil yakni menekankan pada faktor-faktor yang memengaruhi sikap abstain Amerika Serikat dalam Sidang DK PBB pada

Ketika masalah Indonesia diterima masuk dalam agenda Dewan Keamanan PBB pada tanggal 30 Juli 1947, Australia menyerahkan rancangan resolusi' yang menyerukan agar semua

Hasil Penelitian: Hasil yang diperoleh adalah Intervensi kemanusiaan dewan keamanan PBB terhadap tindakan pelanggaran HAM di Myanmar dapat dibenarkan sesuai dengan hukum