• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Teologi"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

1

Apakah Teologi Itu?

Sifat Agama Definisi Teologi

Menemukan Tempat Teologi Sistematika Dalam Peta Teologis

- Teologi Sistematika dan Teologi Alkitabiah - Teologi Sistematika dan Teologi Historis - Teologi Sistematika dan Teologi Filosofis Perlunya Teologi

Titik Tolak Teologi Teologi sebagai Ilmu Mengapa Harus Alkitab? Sifat Agama

Manusia adalah makhluk yang kompleks dan menakjubkan. Manusia mampu menghasilkan berbagai prestasi fisik yang hebat, mampu melakukan kalkulasi mental yang abstrak, serta mampu menghasilkan karya lukis dan karya musik yang sangat indah. Lagi pula, religiusnya sudah berurat berakar.

Agama merupakan suatu istilah yang dianggap sudah kita pahami dengan baik, namun hampir tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskannya dengan tepat. Di mana pun kita menjumpai perbedaan pendapat tentang sesuatu hal, kita dapat menyimpulkan bahwa hal tersebut kurang dipelajari dan kurang dipertimbangkan atau hal itu terlalu luas dan kaya sehingga mustahil dirangkum dalam satu pernyataan yang luas dan lengkap.

Definisi Teologi

Ilmu atau ajaran tentang Allah merupakan suatu definisi pokok yang cukup baik tentang teologi. Akan tetapi, Allah umat Kristen adalah Oknum yang aktif, sehingga definisi yang mula-mula itu tadi harus diperluas untuk meliputi karya-karya Allah serta hubungan-Nya dengan karya-karya-karya-karya itu. Jadi, teologi juga berusaha untuk memahami ciptaan Allah, khususnya manusia serta keadaannya, dan juga karya penebusan Allah dalam hubungan dengan umat manusia.

(2)

2

Teologi dan Filsafat

Jenis-Jenis Hubungan Antara Teologi dan Filsafat Beberapa Aliran Filsafat Abad ke-20

- Pragmatisme - Eksistensialisme - Filsafat Analitis

- Filsafat Perkembangan Penggunaan Filsafat oleh Teologi

Jenis-jenis Hubungan Antara Teologi dengan Filsafat

1. Hubungan antara teologi dan filsafat telah memperoleh berbagai bentuk yang berlainan. Bentuk pertama yang akan kita bahas ialah anggapan bahwa antara teologi dengan filsafat tidak ada hubungan sama sekali. Pendekatan ini sudah terdapat pada masaTertulianus (sekitartahun 160-230).

2. Pendapat kedua yang muncul dalam sejarah adalah pendapat Augustinus, yang merasa bahwa teologi dapat diuraikan dengan jelas oleh filsafat.

3

Metode Teologi

Situasi Teologi Masa Kini Proses Mengerjakan Teologi

1. Mengumpulkan Bahan Alkitab 2. Pengaturan Bahan Alkitab

3. Menganalisis Makna Ajaran Alkitab

4. Meneliti Pembahasan-Pembahasan Dalam Sejarah 5. Menemukan Hakikat Ajaran

6. Penerangan dari Sumber-Sumber Non Alkitab 7. Ungkapan Ajaran Masa Kini

8. Perkembangan Motif Penafsiran Inti 9. Stratifikasi Pokok-Pokok

Tingkatan Wibawa Berbagai Pernyataan Teologis

Salah satu pelajaran yang dapat kita tarik dari pembahasan singkat tentang status lingkungan teologi masa kini ialah bahwa kita tidak boleh terlalu akrab dengan sesuatu yang sedang populer di dalam kebudayaan. Perubahan-perubahan

(3)

yang cepat di bidang teologi hanya mencerminkan perubahan-perubahan cepat yang terjadi dalam kebudayaan pada umumnya. Pada masa terjadinya perubahan yang begitu cepat, sangatlah bijaksana untuk tidak berusaha terlalu mendekatkan teologi dengan dunia tempat dia diungkapkan. Sekalipun kita akan membahas hal menyesuaikan amanat Kristen dengan masa kini dalam bab lima, mungkin adalah bijaksana saat ini untuk melangkah kembali kepada amanat Kristen yang abadi, serta makin menjauh dari bentuk ultrakontemporernya. Saya teringat akan dua analogi, satu dari atletik dan satunya lagi dari mekanika. Tugas gelandang bertahan pada kesebelasan sepak bola atau regu bola basket harus berhati-hati untuk tidak bermain terlalu dekat dengan seorang pemain penyerang yang sangat gesit.

Bila hal itu dilakukannya, maka tidak mustahil lawan akan berhasil melewati sehingga dia kelabakan menjaga daerahnya. Demikian pula, sebaiknya sekrup-sekrup sebuah mesin jangan terlalu longgar karena hal itu akan membuatnya cepat menjadi usang, namun juga tidak boleh terlalu erat sehingga bagian-bagian mesin tidak ada kebebasan bergerak, dan bagian-bagian itu bisa patah.

4

Teologi dan Penelitian Kritis Terhadap Alkitab

Penelitian Bentuk Sastra Latar Belakang Berbagai Aksioma

Manfaat Penelitian Bentuk Sastra

Kritik Terhadap Penelitian Bentuk Sastra Penelitian Redaksi

Perkembangan dan Sifat Bidang Studi Kritik Terhadap Penelitian Redaksi Manfaat Penelitian Redaksi

(4)

Berbagai Garis Pedoman Dalam Mengevaluasi Metode-Metode Penelitian

Hendaknya jelaslah bahwa penelitian Alkitab tidak selalu harus menghasilkan hal-hal yang negatif. Bila metode itu diutarakan dengan memakai asumsi-asumsi yang terbuka terhadap kemungkinan adanya unsur adikodrati dan keaslian materi yang dipelajari, dan kriteria yang dipakai di bidang-bidang lain dari penyelidikan sejarah, pastilah akan memperoleh hasil yang sangat positif. Oleh karena itu, Joachim Jeremias mengatakan bahwa bahasa dan gaya penulisan Injil-injil Sinoptis menunjukkan “kesetiaan dan rasa hormat yang begitu tinggi terhadap tradisi ungkapan-ungkapan Yesus sehingga kita dibenarkan ketika memakai prinsip metode berikut ini : Dalam tradisi Sinoptis yang harus diberikan adalah ketidakaslian, dan bukan keaslian, ungkapan-ungkapan Yesus.”171 Tentu saja, sikap yang ada dapat diandalkan, namun jelas bahwa anggapan semacam ini bila diuji terhadap data yang tersedia, lebih tahan terhadap pemeriksaan daripada alternatifnya.

5

Menjadikan Amanat Krsiten Kontemporer

Tantangan Kekunoan

Tempat Keabadian Dalam Agama Kristen Sebuah Lembaga

Tindakan-Tindakan Allah Pengalaman-Pengalaman Doktrin-Doktrin

Gaya Hidup

Dua Pendekatan untuk Menjadikan Teologi Kontemporer Pengalih Bentuk

Pengalih Bahasa Kriteria Keabadian

Ketetapan Antar Budaya Lingkungan Universal

(5)

Hubungan yang Tak Terputuskan dengan Pengalaman Dianggap Perlu Sekali

Posisi yang menentukan Dalam Penyataan Progresif Posisi yang Menentukan Dalam Pernyataan Progresif

Kriteria terakhir berkaitan dengan soal pernyataan yang progresif. Bila kita memahami bahwa Allah telah berkarya dalam proses penebusan umat manusia, sambil menyatakan diri serta rencana-Nya secara bertahap, dengan sendirinya kita akan menganggap perkembangan-perkembangan yang kemudian sebagai lebih berbobot daripada perkembangan dalam tahap-tahap yang lebih awal. Asumsinya ialah bahwa kita mempunyai bentuk-bentuk yang sementara dalam kasus-kasus yang lebih awal, dan bahwa kasus terakhir merupakan bentuk terakhir yang tidak akan berubah lagi. Bila terdapat unsur kemutlakan di dalamnya, dapatlah disimpulkan bahwa kasus terakhir itu mengungkap hakikat doktrin yang sebenarnya; sedangkan bentuk-bentuk terdahulu itu hanya mengantisipasikan bentuk yang terakhir. Sebuah contoh adalah tindakan Kristus yang mengorbankan diri-Nya. Sedangkan Perjanjian Lama menuntut dipersembahkannya kurban-kurban secara terus-menerus di pelataran Bait Allah (Ibr. 9 : 1-10), dua kali sehari persembahan ukupan di Tempat Kudus, dan persembahan tahunan oleh imam besar di tempat Mahakudus, Kristus telah mengakhiri proses ini dengan cara menggenapinya (ay. 12). Mengorbankan darah-Nya sendiri itu adalah perbuatan yang sekali untuk selama-lamanya. Lagi pula, Yesus seringkali mengatakan, “kamu telah mendengar yang difirmankan ... Tetapi Aku berkata kepadamu ...” Dalam peristiwa-peristiwa ini Yesus sedang membuat pernyataan tentang hakikat doktrin untuk menggantikan perkiraan sebelumnya yang menantikannya.

6

Teologi dan Bahasanya

Bahasa Teologi dan Analisis Pembuktian :

Tuduhan bahwa Bahasa Itu Tidak Mempunyai Arti Bahasa Teologi dan Analisis Fungsional

(6)

Mempunyai Arti

Konsep Kerangka Acuan

Bahasa Teologi Sebagai Bahasa Perorangan

Bahasa Teologi dan Pembuktian yang Bersifat Eskatologis Bahasa Teologi dan Sintesis Metafisik

Bahasa Teologi Sebagai Sarana Menuju Kearifan dan Komitmen

ereja senantiasa memperhatikan bahasa yang dipakai-nya karena gereja aktif dalam menyampaikan dan percaya bahwa apa yang disampaikannya itu sangat penting. Oleh karena itu, Augustinus dan bahkan para teolog yang mendahuluinya memperhatikan dengan sangat saksama masalah sifat dan fungsi bahasa teologi. Akan tetapi, pada abad ke-20 perhatian ini semakin mendesak. Hal ini disebabkan karena filsafat, yaitu sejak dulu sering merupakan mitra bicara teologi, di abad ke-20 ini telah memberikan perhatian primer dan dalam kasus-kasus tertentu bahkan perhatian yang eksklusif terhadap analisa bahasa.

G

7

Penyataan Allah yang Universal

Sifat Penyataan

Tempat Penyataan Umum

Realitas dan Manfaat Penyataan Umum Teologi Alamiah

Kritikan Terhadap Teologi Alamiah Penyangkalan Penyataan Umum

Pemeriksaan Beberapa Perikop yang Berhubungan Penyataan Umum Tanpa Teologi Alamiah

Penyataan umum dan Tanggung Jawab Manusia Berbagai Implikasi Penyataan Umum.

(7)

Karena manusia itu terbatas dan Allah tidak terbatas, apabila manusia akan mengenal Allah, maka pengenalan itu haruslah terjadi oleh Penyataan Allah tentang diri-Nya kepada manusia. Yang saya maksudkan ialah bahwa manifestasi Allah kepada manusia itu dilakukan sedemikian rupa sehingga manusia dapat mengenal Allah serta bersekutu dengan-Nya.

Terdapat duaa klasifikasi dasar dari penyataan Allah. Di satu pihak ialah penyataan umum, yaitu Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia di semua tempat dan di segala waktu. Di pihak lain, yaitu dinamakan penyataan khusus yang merupakan cara Allah berkomunikasi dan menyatakan diri-Nya kepada orang-orang tertentu pada waktu-waktu tertentu, komunikasi dan manifestasi yang kini dapat diketahui hanya dengan merujuk kepada beberapa naskah kudus tertentu.

8

Penyataan Khusus Allah

Definisi dan Perlunya Penyataan Khusus Gaya Penyataan Khusus

Sifat Pribadi Penyataan Khusus Sifat Antropi Penyataan Khusus Sifat Analogi Penyataan Khusus Cara-Cara Penyampaian Penyataan Khusus

Peristiwa –Peristiwa Dalam Sejarah Penjelmaan

Penyataan Khusus: Proposisional atau Pribadi Alkitab Sebagai Penyataan

Definisi dan Perlunya Penyataan Khusus

Yang dimaksudkan dengan penyataan khusus ialah manifestasi diri Allah kepada orang-orang tertentu dan pada saat dan tempat tertentu, sehingga memungkinkan orang-orang tersebut memasuki hubungan yang bersifat menebuskan dengan Allah. Istilah Ibrani yang dipakai untuk “menyatakan” adalah (galah). Istilah Yunani yang sering dipakai untuk “menyatakan” adalah

(8)

Kedua istilah tersebut di atas mengungkap gagasan menyingkapkan sesuatu yang tadinya tersembunyi. Istilah Yunani yang lain yaitu yang merujuk kepada pengertian manifestasi, juga sering dipakai.

Namun ketika dosa memasuki umat manusia, kebutuhan akan penyataan khusus menjadi lebih nyata. Kehadiran Allah secara langsung, yang merupakan bentuk penyataan khusus yang paling jelas dan sempurna, kini tak ada lagi. Lagi pula, Allah kini harus berbicara mengenai pokok-pokok yang sebelumnya tidak perlu dibicarakan. Masalah-masalah dosa, kesalahan, dan rendahnya moral manusia kini perlu dipecahkan; sarana-sarana untuk mengadakan pendamaian, penebusan, dan pemulihan kini harus dipersiapkan.

Dan kini dosa telah mengurangi pengertian manusia akan penyataan umum, sehingga manfaatnya sangat berkurang. Oleh karena itu, penyataan khusus haruslah bersifat memperbaiki dalam kaitan dengan pengetahuan manusia tentang Allah dan hubungannya dengan Allah.

9

Mengabadikan Penyataan

Pengilhaman

Definisi Pengilhaman Fakta Adanya Pengilhaman

Masalah-Masalah Dalam Merumuskan Teori Pengilhaman Teori-Teori Pengilhaman

Metode Merumuskan Teori Pengilhaman Jangkauan Pengilhaman

Intensifikasi Pengilhaman Sebuah Model Pengilhaman Definisi Pengilhaman

(9)

Yang dimaksudkan dengan pengilhaman Alkitab ialah pengaruh adikodrati Roh Kudus atas para penulis kitab dalam Alkitan sehingga membuat hasil karya mereka menjadi suatu catatan yang akurat tentang penyataan atau yang mengakibatkan karya mereka benar-benar merupakan Firman Allah.

Apabila, sebagaimana telah kita bahas dalam bab terdahulu, penyataan itu adalah penyampain kebenaran oleh Allah kepada manusia yang diperlukannya untuk dapat berhubungan secara benar dengan Allah, maka jelaslah bahwa pengilhaman itu juga perlu. Sementara penyataan itu menguntungkan orang yang langsung menerimanya, manfaatnya bisa saja hilang bagi mereka yang tidak termasuk kalangan penerima penyataan tersebut. Karena Allah tidak mengulang penyataanNya untuk semua orang, maka diperlukan suatu cara untuk mengabadkikan penyataan tersebut.

10

Keandalan Firman Allah : Sifat Tidak Mungkin

Bersalah

Berbagai Konsep Mengenai Sifat Tidak Mungkin Bersalah Pentingnya Sifat Tidak Mungkin Bersalah

Pentingnya dari Segi Teologi Pentingnya dari Segi Sejarah Pentingnya dari Segi Epistemologi Sifat Tidak Mungkin Bersalah dan Fenomena Mendefinisikan Sifat Tidak Mungkin Bersalah Pokok-pokok Persoalan Pelengkap

Sifat Tidak Mungkin Bersalah dan Fenomena

Jelas sekarang bahwa sifat tidak mungkin bersalah dari Alkitab bukanlah suatu kesimpulan induktif yang diperoleh sebagai hasil penelitian terhadap seluruh Alkitab. Karena sifat penelitian induktif, maka hasilnya yang paling baik pun masih merupakan kemungkinan saja. Demikian pula doktrin sifat tidak mungkin bersalah dari Alkitab ini tidak ditegaskan atau diajarkan secara eksplisit

(10)

dalam Alkitab. Doktrin ini adalah akibat dari doktrin Pengilhaman Alkitab secara menyeluruh. Pandangan tentang Alkitab yang dimiliki oleh para penulis Kitab Suci menyiratkan bahwa Alkitab dapat diandalkan sepenuhnya. Akan tetapi, pandangan mereka tersebut tidak menjelaskan secara terinci kepada kita bagaimana hal itu terjadi. Sebagaimana halnya pengetahuan bahwa Allah telah menyatakan diriNya sendiri tidak dapat menjelaskan isi amanatNya kepada kita, demikian pula implikasi bahwa Alkitab bebas dari kesalahan tidak menjelaskan apa yang hendak disampaikan dengan keadaan tidak adanya kesalahan itu.

Sekarang kita harus mengamati fenomena aktual Alkitab. Disini kita berjumpa dengan beberapa hal yang mungkin menimbulkan kesulitan. Beberapa diantaranya ialah berbagai ketidakcocokan yang nyata diantara perikop-perikop paralel dalam kitab-kitab Injil, atau dalam Kitab Samuel, Raja-Raja, Tawarikh. Rupanya dalam kitab-kitab ini terdapat cukup banyak persoalan sehingga memaksa kita untuk memikirkan masak-masak hubungannya dengan doktrin kita tentang Alkitab. Markus 6:8 menceritakan bahwa Yesus menyuruh murid-muridNya membawa tongkat, sedangkan dalam Matius 10:9-10 dan 9:3 Yesus melarang mereka untuk membawa tongkat. Dalam kisah Yesus dielu-elukan ketika memasuki Yerusalem, Lukas melaporkan bahwa orang banyak berseru, “. . . kemuliaan di tempat yang mahatinggi,” sedangkan berseru, “ . . . hosana di tempat yang mahatinggi!” Keempat Injil melaporkan tulisan diatas salib Yesus secara berbeda. Menurut Matius tulisan itu berbunyi, “Inilah Yesus Raja orang Yahudi,” menurut Markus, “Raja orang Yahudi,” sedangkan Yohanes, “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.”

11

Kuasa Firman Allah : Wewenang

Definis Wewenang Wewenang Keagamaan

Menetapkan Makna dan Asal-Usul Ilahi Alkitab Karya Internal Roh Kudus

(11)

dari Wewenang

Berbagai Pandangan Pencerahan Pandangan Augustinus Pandangan Daniel Fuller Pandangan Yohanes Calvin Alkitab, Nalar, dan Roh

Tradisi dan Wibawa

Kewenangan Historis dan Normatif Defenisi Wewenang

Dengan wewenang kita maksudkan hak untuk menuntut kepercayaan dan/atau tindakan tertentu. Istilah ini dapat diterapkan secara luas. Kita dapat berpikir tentang wewenang sebagai masalah pemerintahan atau kehakiman. Misalnya, seorang raja atau kaisar yang berhak melaksanakan tindakan tertentu. Akan tetapi, pelaksanaan wewenang itu mungkin tidak mengambil bentuk mendesak seperti itu. Seorang polantas yang mengatur lalu lintas di jalan raya serta seorang tuan tanah menuntut agar orang lain tidak memasuki tanah pekarangannya secara sembarangan sedang memberlakukan wewenang yang merupakan hak mereka yang sah.

(12)

12

Kebesaran Allah

Ciri Sifat-sifat Khas Allah

Pengelompokan Sifat-sifat Khas Allah

Sifat-sifat Khas yang Menunjukkan Kebesaran Allah Kerohanian

Personalitas Hidup

Ketidakterbatasan Tidak Berubah

oktrin tentang Allah merupakan titik pusat dari sebagian besar teologi lainnya. Pandangan seseorang tentang Allah bahkan dapat dianggap sebagai kerangka acuan umum di mana seseorang menyusun teologinya serta juga menjalani hidupnya. Pandangan tersebut menentukan corak gaya pelayanan dan falsafah hidup seseorang.

D

Berbagai persoalan dan kesulitan pada dua tingkat menjelaskan perlunya suatu pemahaman yang tepat tentang Allah. Yang pertama adalah tingkat populer atau praktis. Dalam bukunya, Your God Is Too Small, J. B. Philips telah menunjukkan beberapa pemahaman yang salah tentang Allah. 397 Beberapa orang mengira bahwa Allah adalah semacam polisis surgawi yang mencari kesempatan untuk bertindak terhadap orang yang melakukan kesalahan atau pelanggaran. Perusahaan-perusahaan asuransi dengan rujukan mereka kepada “tindakan-tindakan Allah” – yang selalu merupakan bencana atau malapetaka – rupanya menganggap Allah sebagai oknum yang berkuasa lagi kejam. Ada pula yang berpandangan bahwa Allah adalah seorang kakek yang sabar dan pemurah, namun lemah. Menurut pandangan ini Allah tidak akan mengurangi kesenangan hidup manusia. Berbagai pandangan salah semacam ini dan juga banyak yang lainnya tentang Allah perlu diluruskan, agar kehidupan rohani kita dapat memiliki makna yang nyata dan mendalam.

(13)

Kebaikan Allah Sifat-sifat Moral Kemurnian Moral Kekudusan Kebenaran Keadilan Integritas Keaslian Kejujuran Kesetiaan Kasih Kebajikan Kasih Karunia Kemurahan Kegigihan

Kasih dan Keadilan Allah – Suatu Hal yang Menimbulkan Ketegangan ?

Cara Terbaik untuk Menyelidiki Sifat-sifat Allah Sifat-sifat Moral

Bila sifat-sifat yang menunjukkan kebesaran Allah yang sudah kita bahas sebelumnya itu merupakan satu-satunya sifat Allah. Ia mungkin dapat dibayangkan sebagai Oknum yang tidak bermoral, yang memberlakukan kuasa dan pengetahuan-Nya secara sembarangan atau bahkan kejam. Tetapi sebenarnya kita sedang berhubungan dengan Allah yang baik, yaitu sifat-sifat yang menunjukkan kebesaran-Nya maupun kebaikanNya. Dalam pasal ini kita akan membahas sifat-sifat moral Allah, maksudnya, sifat-sifat yang menunjukkan bahwa Allah adalah Oknum yang bermoral. Untuk memudahkan penelaahan kita, kita akan mengelompokkan sifat-sifat moral mendasar dari Allah ini sebagai kemurnian, integritas, dan kasih.

(14)

Dekat dan Jauhnya Allah : Imanensi dan Transendensi

Imanensi

Dasar Alkitab

Versi-versi Imanentisme Modern Liberalisme Tradisional Paul Tillich

Teologi Kematian Allah

Pokok-pokok yang Tersimpul dalam Pemahaman Imanensi

Transendensi

Dasar Alkitab

Model-Model Transendensi Model Tradisional Model Karl Barth

Model Tanpa Ruang Søren Kierkegaard Model Sejarah Teologi Pengharapan Pokok-Pokok yang Tersimpul dalam Pemahaman

Transendensi Imanensi

Dasar Alkitab

Kita mulai dengan mempelajari imanensi Allah. Yang dimaksudkan dengan istilah ini ialah kehadiran dan aktivitas Allah dalam alam semesta ini. “Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? Demikianlah Firman Tuhan. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? Demikianlah Firman Tuhan.” Paulus memberi tahu ahli filsafat di bukit Mars Athena, “Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu, Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.” (Kis. 17:27-28).

(15)

Ketritunggalan Allah : Trinitas

Ajaran Alkitab Keesaan Allah

Keilahian Tiga Oknum Ketritunggalan

Penyusunan Formula Trinitas dalam Sejarah Pandangan “Ekonomis” tentang Trinitas Monarkhianisme Dinamis

Monarkhianisme Modalistik Formulasi Ortodoks

Unsur-Unsu Esensial Doktrin Trinitas Mencari Analogi yang Tepat

alam doktrin Trinitas, kita menemukan salah satu doktrin Kristen yang benar-benar istimewa. Diantara agama-agama di dunia, iman Kristen adalah unik karena berkeyakinan bahwa Allah itu esa, namun juga ada tiga yang adalah Allah. Dengan berpendapat demikian, ajaran ini mengemukakan sesuatu yang kelihatannya menentang diri sendiri. Lagi pula, doktrin ini tidak dinyatakan secara jelas dalam Alkitab. Sekalipun demikian, para pemikir yang saleh telah berkesimpulan demikian pada waktu mereka berusaha menghargai kesaksian Alkitab.

D

Doktrin Trinitas sangat penting bagi kepercayaan Kristen. Doktrin tersebut berkaitan dengan siapakah Allah itu, bagaimanakah Dia, bagaimana cara kerja-Nya, dan bagaimana Ia harus didekati. Lagi pula, masalah keilahian Yesus Kristus, yang dalam sejarah merupakan sumber perdebatan sengit, sangat terkait dengan pengertian kita tentang Trinitas. Pandangan kita terhadap Trinitas ini akan sangat mempengaruhi doktrin kita tentang Kristus.

16 Rencana Allah

(16)

Definisi –Definisi Pokok Ajaran Alkitab

Terminologi

Ajaran Perjanjian Lama Ajaran Perjanjian Baru Sifat Rencana Ilahi

Yang Lebih Dahulu Berdasarkan Logika: Rencana Allah atau Tindakan Manusia?

Sebuah Model Calvinis Moderat Berbagai Pemahaman tentang Sejarah Definisi-Definisi Pokok

Kadang-kadang kita menyebut rencana Allah itu sebagai ketetapan-ketetapan Allah. Namun terdapat beberapa alasan, mengapa di dalam buku ini kita akan memakai istilah rencana dan bukan ketetapan. Pertama, istilah rencana menekankan kesatuan antara maksud Allah dengan kemantapan dan pertalian yang diakibatkan oleh tindakan-tindakan-Nya. Kedua, yaitu apa yang Ia kehendaki, dan bukan apa yang harus dilakukan oleh manusia atau apa yang terjadi pada manusia sebagai akibat dari kehendak Allah. Ketiga, istilah rencana menekankan dimensi akal dari keputusan-keputusan Allah.

Kita dapat mendefinisikan rencana Allah sebagai keputusan kekal-Nya yang membuat pasti segala sesuatu yang akan terjadi. Terdapat beberapa analogi yang sekalipun terbatas sifatnya, dapat membantu kita memahami konsep ini. Rencana Allah adalah bagaikan rencana seorang arsitek, yaitu mula-mula digambar dalam pikirannya dan kemudian dituangkan dalam kertas gambar, sesuai dengan maksud dan racangannya dan sesudah itu barulah dikerjakan dalam bentuk yang sebenarnya.

Atau Allah dapat dibayangkan seperti pelatih atletik yang mempunyai rencana bertanding yang disusun dengan cermat dan yang regunya berusaha jalankan. Atau Ia bisa disamakan dengan seorang eksekutif bisnis yang merencanakan strategi dan taktik perusahaannya. Allah adalah laksana mahasiswa yang secara cermat

(17)

merencanakan jadwal kerjanya selama dengan baik dan menyelesaikannya pada waktunya.

17

Karya Mula-Mula Allah : Penciptaan

Alasan-Alasan untuk Belajar Doktrin Penciptaan Unsur-Unsur Ajaran Alkitab tentang Penciptaan

Penciptaan dari Kekosongan

Sifat Penciptaan yang Mencakup Semua Penolakan Terhadap Dualisme

Karya Allah Tritunggal

Maksud Penciptaan : Kemuliaan Allah Karya Penciptaan Allah Selanjutnya

Makna Teologis Doktrin Penciptaan

Doktrin Penciptaan dan Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan

Masa Penciptaan

Perkembangan di Dalam Penciptaan Keunikan Karya Penciptaan Allah

Berbagai Implikasi dari Doktrin Penciptaan

Alasan-Alasan untuk Belajar Doktrin Penciptaan

1. Terdapat beberapa alasan untuk belajar doktrin penciptaan secara cermat. Yang pertama ialah karena Alkitab cukup banyak menekankan asal penciptaan.

2. Doktrin penciptaan telah merupakan bagian yang penting dari iman gereja; doktrin penciptaan merupakan aspek yang sangat berarti dari ajaran dan pemberitaan gereja. Pasal pertama dari Pengakuan Iman Rasuli berbunyi.

(18)

3. Pengertian kita tentang doktrin penciptaan itu penting karena ada pengaruhnya terhadap pengertian kita tentang doktrin-doktrin yang lain. 4. Doktrin penciptaan membantu membedakan agama Kristen dengan

agama-agama dan pandangan-pandangan umum yang lain.

5. Pelajaran tentang doktrin penciptaan merupakan satu pokok dari dialog yang potensial antara agama Kristen dengan ilmu-ilmu alam.

6. Diperlukan suatu pengertian yang cermat tentangn doktrin penciptaan karena kadang-kadang terdapat ketidaksepakatan yang tajam di kalangan Kristen.

18

Karya Berkesinambungan Allah : Pemeliharaan

Pemeliharaan Sebagai Pelestarian Pemeliharaan Sebagai Pemerintahan

Jangkauan Kegiatan Pemerintahan Allah

Hubungan Antara Kegiatan Pemerintahan Allah dengan Dosa Ciri-Ciri Utama Pemerintahan Allah

Pemeliharaan dan Doa Pemeliharaan dan Mukjizat

Doktrin pemeliharaan sering kali muncul dalam pembahasan tentang penyataan umum serta dalam uraian-uraian tentang teologi alamiah, karena memang doktrin ini berkaitan dengan aspek-aspek tersebut dari pekerjaan Allah yang sampai taraf yang luas dapat dipahami oleh semua orang. Setidak-tidaknya orang bisa melihat tangan Allah dalam berbagai peristiwa sejarah dan alam. Jadi disini akan ada sedikit tumpang tindih antara teologi dengan sejarah dan sains. Karena sejarah bukanlah sekadar penyusunan kronologis dari berbagai peristiwa yang terjadi, tetapi juga merupakan usaha untuk menafsirkan peristiwa-peristiwa tersebut atau usaha untuk menemukan semacam pola tertentu dalam peristiwa-peristiwa itu, maka karya sejarawan dapat mendukung doktrin pemeliharaan. Akan tetapi, jika sejarawan itu tidak menemukan pola, karyanya akan bertentangan dengan doktrin tersebut. Lagi pula, pemeliharaan sebagaimana diuraikan di dalam Alkitab juga menjangkau peristiwa-peristiwa luar biasa yang

(19)

disebut mukjizat. Yang tampaknya menentang gambaran ilmiah tentang keteraturan alam semesta. Karena itu terdapat kemungkinan muncul perselisihan antara sains dengan doktrin Kristen tentang pemeliharaan juga.

19

Kejahatan dan Dunia Milik Allah : Sebuah Masalah Khusus

Sifat dari Masalahnya Bentuk-bentuk Penyelesaian

Finitisme : Penolakan Terhadap Kemahakuasaan Modifikasi Atas Pengertian Kebaikan Allah Penolakan Terhadap Kejahatan

Pokok-Pokok untuk Menghadapi Masalah Kejahatan

Kejahatan Sebagai Hal yang Perlu Menyertai Penciptaan Manusia Evaluasi Ulang Atas Apa yang merupakan Kebaikan dan Kejahatan Kejahatan Khusus Sebagai Akibat dari Dosa pada Umumnya Allah Sebagai Korban Kejahatan

Kehidupan di Akhirat Sifat dari Masalahnya

Kita sudah membahas tentang sifat pemeliharaan Allah serta telah mengetahui bahwa sifatnya adalah universal : Allah mengendalikan segala sesuatu yang terjadi. Dia memiliki suatu rencana bagi seluruh alam semesta dan bagi segala masa, dan Ia sedang bekerja untuk mewujudkan rencana yang baik tersebut. Namun sebuah bayangan gelap menimpa kejahatan.

Masalah itu dapat diungkapkan secara sederhana atau dengan cara yangg lebih rumit. David Hume mengungkapkannya dengan jitu sekali ketika ia menulis mengenai Allah; “Adakah Allah mau mencegah kejahatan kejahatan, tetapi tidak mampu? Kalau begitu Dia tidak berdaya. Adakah Allah tidak mampu, tetapi tidak mau? Kalau begitu dari manakah kejahatan itu?”542Adanya kejahatan juga dapat dilihat sebagai menimbulkan masalah bagi doa sebelum makan yang diajarkan kepada banyak anak-anak, “Allah luar biasa. Allah baik. Terima kasih kepadaNya

(20)

atas makanan ini.” Baila Allah luar biasa, Dia mampu mencegah terjadinya kejahatan. Bila Allah baik, Dia tidak akan menginginkan kejahatan terjadi. Namun justru ada kejahatan yang jelas di sekitar kita. Jadi masalah kejahatan ini dapat dianggap sebagai sebuah konflik yang melibatkan tiga konsep; di dunia ini. Akal sehat tampaknya memberi tahu kita bahwa ketiga hal ini tidak mungkin cocok.

20

Agen-Agen Khusus Allah : Malaikat

Sejarah Doktrin Ini

Malaikat-Malaikat yang Baik Terminologi

Asal-usul, Sifat dan Kedudukan Mereka Penampakan Mereka

Kemampuan dan Kekuatan Mereka Organisasi

Istilah-Istilah Sulit Malaikat yang Jahat

Status Daimonologi Saat Ini Asal-Usul Roh Jahat

Pemimpin Roh Jahat Kegiatan Roh Jahat Kerasukan Setan

Nasib Akhir Iblis dan Roh Jahat Peranan Doktrin tentang Malaikat

Bila kita sampai pada pembahasan tentang malaikat, kita memasuki pokok pembahasan yang dalam beberapa hal paling aneh dan paling sulit dalam keseluruhan teologi. Karl Barth, yang telah membahas pokok ini secara paling luas di antara buku-buku teks teologi dewasa ini, menggambarkan topik mengenai malaikat sebagai “paling luar biasa dan paling sulit.”583Oleh karena itu, pokok ini sering kali dihapus atau diabaikan. Sebagian orang mengatakan bahwa doktrin

(21)

Kristen tidak akan terpengaruh apabila pokok ini tidak dibahas, dan dalam beberapa hal pernyataan tersebut memang betul. Mungkin bisaorang membicarakan doktrin penciptaan dan doktrin pemeliharaan Allah tanpa menyebut adanya malaikat, karena Allah menciptakan segala sesuatu dan dapat menyokong serta membimbing alam semesta ini langsung sendiri tanpa memakai malaikat. Sekalipun demikian, Alkitab mengajarkan bahwa Allah telah menciptakan makhluk-makhluk rohani ini serta memilih untuk melakukan banyak hal melalui mereka. Oleh karena itu, apabila kita ingin menjadi siswa-siswa setia Alkitab, kita mau-tidak-mau harus membicarakannya.

Yang dimaksud dengan malaikat ialah makhluk-makhluk rohani yang oleh Allah diciptakan lebih tinggi daripada manusia, yang sebagian diantaranya tetap setia kepada Allah dan hingga kini melaksanakan kehendakNya, dan ada pula malaikat-malaikat yang memberontak sehingga sampai saat ini mereka kehilangan kesucian mereka serta melawan dan menghalangi rencana Allah.

Telah disebutkan tadi tentang sulitnya pokok bahasan ini, Salah satu alasannya ialah karena sekalipun ada cukup banyak ayat yang membahas tentang malaikat dalam Alkitab, ayat-ayat itu tidak terlalu membantu kita untuk memahami keadaan mereka. Setiap ayat tentang malaikat selalu berkaitan dengan pokok yang lain. Tidak pernah malaikat dibahas secara tersendiri. Penyataan Allah tidak pernah dimaksudkan untuk memberi tahu kita tentang wujud para malaikat. Ketika malaikat disebut, selalu dalam rangka memberikan keterangan selanjutnya kepada kita tentang Allah, apa yang Ia lakukan dan bagaimana Dia melakukannya. Karena rincian tentang malaikat tidak penting untuk maksud tersebut maka mereka cenderung diabaikan.

21

Pengantar Kepada Doktrin Kemanusiaan

Pentingnya Doktrin Kemanusiaan Gambar-gambar Mengenai Manusia

Manusia Sebagai Mesin Manusia Sebagai Hewan

(22)

Manusia Sebagai Makhluk Ekonomis Manusia Sebagai Bidak Semesta Alam Manusia Sebagai Makhluk Bebas Manusia Sebagai Makhluk Sosial Pandangan Kristen Tentang Manusia

Pokok-pokok doktrinal dari teologi Kristen memiliki hubungan yang serupa satu dengan yang lain. Pada batas tertentu setiap doktrin merupakan doktrin yang paling penting ketika sedang dibahas. Doktrin Alkitab merupakan doktrin yang paling penting bagi maksud-maksud epistemologis.

Doktrin Allah merupakan doktrin yang paling penting dari sudut ontologi. Doktrin Kristus adalah doktrin yang paling penting berkenaan dengan penebusan dan keselamatan kita. Doktrin keselamatan merupakan doktrin yang paling penting, karena doktrin ini membahas perubahan keberadaan dan kehidupan kita. Doktrin gereja merupakan doktrin yang paling penting karena membahas kedudukan dan peranan orang percaya di dalam masyarakat Kristen. Dan eskatologis merupakan doktrin yang paling penting berkenaan dengan sejarah, karena menerangkan kepada kita tentang tujuan akhir kehidupan kita semua.

Namun terdapat beberapa alasan mengapa doktrin kemanusiaan ini merupakan doktrin yang terutama penting:

1. Doktrin tentang manusia itu penting karena hubungan dengan doktrin-doktrin Kristen lain yang utama. Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang termulia diatas muka bumi ini.

Alkitab menyatakan bahwa hanya manusia yang telah dijadikan oleh Allah menurut gambar dan rupaNya (Kej 1:26-27) memahami Allah.

Doktrin tentang manusia juga membuat kita lebih memahami pribadi Kristus, karena Alkitab mengajarkan bahwa Oknum Kedua dari Tritunggal Allah telah menjelma menjadi manusia. Kenyataan itu berarti bahwa untuk memahami sifat Kristus, perlulah kita memahami kemanusiaan. Betapapun, kita harus memastikan bahwa kita membedakan manusia yang hakiki, atau manusia sebagaimana ia diciptakan Oleh Allah, dengan manusia eksistensial, atau manusia empiris, sebagaimana kita menemukannya sekarang dalam eksistensinya yang

(23)

aktual. Metode berteologi begerak kedua arah dalam hal ini. Sementara penyelidikan ajaran Alkitab tentang manusia akan membantu memahami sifat manusiawi Yesus, penyelidikan sifat manusiawi Yesus, penyelidikan sifat manusiawi Yesus akan membantu kita untuk lebih membantu kita untuk lebih memahami apa yang sebenarnya tidak direncakan bagi manusia.

Selanjutnya, doktrin tentang manusia dalam banyak hal merupakan pintu untuk memahami doktrin-doktrin lainnya yang hubungannya tidak begitu jelas. Bila Allah tidak menciptakan manusia, mungkin sekali tidak pernah akan ada penjelmaan dan pendamaian. Tidak akan ada yang perlu dilahirkan kembali dan dibenarkan. Orang yang mempelajari atau mengerjakan teologi ini pada saat bersamaan juga merupakan manusia. Sebagai akibatnya, sang teolog kini menjadi obyek studi, bukan sebagai teolog melainkan sebagai manusia Kristologi, terkecuali soteriologi

2. Doktrin tentang manusia penting karena doktrin ini merupakan titik bertemu diantara penyataan alkitabiah dengan urusan kemanusiaan. Manusia modern mungkin tidak memiliki kepastian tentang ada atau tidaknya Allah, atau apakah memang ada tokoh yang namanya Yesus dari Nazaret, atau apakah mukjizat-mukjizat yang dilakukanNya itu benar-benar terjadi atau tidak.

Apologetik : Pembelaan melalui Argumen Kerigman : Mewartakan

3. Doktrin tentang manusia secara khusus sangat penting dewasa ini karena berbagai mata kuliah memberi perhatian khusus terhadap manusia.

4. Doktrin tentang manusia penting karena dewasa ini terdapat krisis pengenalan diri. Bukan saja terdapat perhatian yang besar pada jawaban, “Apakah manusia itu?” Juga terdapat kerancuan jawaban yang diberikan, karena berbagai peristiwa perkembangan mutkahir telah membuat orang meragukan jawaban yang telah dikemukakan. Seorang majikan misalnya, hanyalah tertarik untuk mengetahui kekuatan, tenaga serta kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. Berlandaskan sikap semacam ini, sang majikan ‘menyewa’ pegawai untuk jangka waktu tertentu setiap hari (ada

(24)

majikan yang beranggapan bahwa mereka berhak atas seluruh kehidupan pegawai orang yang diupahinya). Bahwa manusia sering kali dianggap sebagai mesin terbukti ketika pemakaian mesin mengakibatkan seorang pegawai di-PHK. Sebuah robot lebih akurat dan konsisten serta sering kali melakukan pekerjaan dengan lebih baik; lagi pula, robot tidak perlu diawasi terus, tidak menuntut kenaikan gaji dan pernah cuti sakit serta mekanisme perangsang-tanggapan yang lebih terlatih.

Pandangan ini tentang manusia mungkin telah berkembang sepenuhnya dalam psikologi perilakuan. Menurut aliran ini motivasi manusia terutama dipandang berkenaan dengan dorongan-dorongan biologis semata. Pengenalan akan manusia didapat bukan melalui introspeksi, melainkan dengan mengadakan percobaan pada hewan. Misalnya, kesimpulan-kesimpulan tentang manusia diperoleh dari penemuan bahwa bila air dituangkan kedalam tenggorokan seekor tikus tetapi dicegah untuk mengalir kedalam lambungnya. Teori-teori Freud ini dilandaskan pada pengertian bahwa semua perilaku manusia pada dasarnya berasal dari dorongan dan tenaga seksual menunjukkan bahwa perilaku, jika tidak dari afirmasi intelektual padangan manusia pada dasarnya makhluk seksual dewasa ini dianut oleh peradaban modern, injili, dikritik masyarakat. Pandangan ini memusatkan perhatian pada unsur materiak dari kebutuhan hidup. Sandang, pangan, dan papan yang memadai merupakan kebutuhan terpenting umat manusia, komunisme. Yang pertama adalah perbudakan; pada tahap ini para tuan dalam masyarakat memiliki semua kekayaan, termasuk juga manusia lain. Kemudian muncullah feodalisme, dengan hubungan antara tuan dan hamba. Kemudian muncullah kapitalisme, yaitu pandangan dimana kelompok yang memerintah memiliki sarana-sarana produksi serta mengepalai orang lain untuk bekerja bagi mereka. Dalam sistem kapitalisme liberal, masih terdapat kepemilikan pribadi atas tanah-tanah pertanian serta pabrik-pabrik, tetapi pemerintah memberlakukan batasan-batasan tertentu pada para pemilik. Dalam masyarakat tanpa perbedaan golongan ini kejahatan akan memudar dan akhirnya lenyap. Pada tahap terakhir dari materialisme dialektik ini akan terwujudlah moto komunisme- “Dari setiap orang menurut kemampuannya, kepada setiap orang menurut kebutuhannya.” Kekuatan material dan ekonomis akan mendorong sejarah kepada puncak

(25)

sasarannya. Kemungkinan mereka mencerminkan apa yang diberi tahu pemungutan suara sebagai hal yang dianggap paling penting.

Manusia Sebagai Bidak di Semesta Alam

Eksistensialis = Aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu, bebas tanpa pikir mana benar dan salah.

Manusia berada dalam kekuasaan berbagai kekuatan dalam dunia yang mengatur arah hidupnya namun tidak peduli akan kesejahteraannya. Pada dasarnya pandangan ini bersifat pesimistik yang melukiskan manusia sebagai dihimpit oleh mempedulikan kesejahteraan dan kebutuhan manusia. Akibatnya manusia merasa tidak berdaya, putus ada dan sia-sia.

Kehidupan Manusia adalah singkat dan tak berdaya; malapetaka yang dengan perlahan namun pasti akan menimpa diri manusia dan bangsanya tanpa mengenal belas kasihan. Manusia buta terhadap kehancuran, zat ini bergerak terus tanpa ampun; Manusia, yang hari ini terhukum untuk kehilangan. “laisse-faire.” Pengaturan yang berlebihan hendaknya dihindari. Yang juga harus dijauhi adalah bentuk paternalisme yang menyediakan semua kebutuhan serta meniadakan kemungkinan untuk gagal. Lebih baik gagal, namun memiliki kebebasan daripada jaminan bebas dari segala kebutuhan tanpa ada kesempatan untuk memilih.Kebutuhan pokok manusia adalah informasi sehingga menjadikan manusia mampu untuk mengadakan pilihan dengan cerdas. Menurut tiga syarat untuk bertindak-mengetahui apa yang harus dilakukan, kemauan untuk melakukan apa yang kita tahu harus dilakukan dan kemampuan untuk melakukan apa yang kita mau lakukan.

Pandangan ini beranggapan bahwa bukan saja manusia memiliki kemampuan untuk memilih, tetapi bahwa dia harus memilih. Menjadi manusia sepenuhnya, seseorang harus menerima tanggung jawab yaitu mampu membuat keputusan sendiri. Begitu pula, setiap usaha untuk merampas hak orang lain untuk mengambil keputusan dengan bebas adalah tindakan yang tidak terpuji,

Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Kemudian ada pandangan bahwa manusia pada dasarnya merupakan anggota dari masyarakat. Makhluk-makhluk sosial lainnya belum sepenuhnya

(26)

menjadi manusia, dimana seseorang belum sepenuhnya manusia kelompok sosial tertentu, tidak memiliki jati diri subtansi tertentu atau koneksi dengan orang lain dapat menjadi sepenuhnya manusia. Gereja dapat menolong seseorang mewujudkan tujuan hidupnya dengan menyediakan suasana serta mendorong terjalinnya hubungan sosial yang positif dan membangun.

Pandangan Kristen Tentang Manusia

Pandangan-pandangan yang lain gagal karena sekalipun bertolak dari perspektif mereka terdapat kebutuhan-kebutuhan dasar manusia (misalnya kebutuhan ekonomi atau seksual) masih saja ada perasaan hampa dan tidak puas. Pandangan Kristen tentang manusia yang merupakan pokok bahasan dari Bagian Lima buku ini, ialah bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang dibuat sesuai dengan gambar Allah. Pertama, ini berarti, bahwa manusia harus diartikan bukan sebagai berasal dari proses evolusi yang kebetulan, melainkan lewat suatu tidakan yang sadar dan terarah dari Allah.

Kedua, gambar manusia yang mampu memiliki hubungan pribadi secara sadar dengan Penciptanya serta dapat menanggapi-Nya. Manusia dapat mengenal Allah serta mengerti apa yang dikehendaki Sang Pencipta dari dirinya. Manusia juga memiliki dimensi abadi, yang abadi depan yang abadi pula. Kesejahteraan jasmaniah kita penting, sehingga sudah selayakanya, sehingga rasa sakit atau kelaparan dapat mempengaruhi rohaninya. Alkitab mengajarkan bahwa setiap orang berharga serta dikenal oleh Allah; setiap helai rambut dikepala kita dihitung olehNya (Mat. 10:28-31).

22

Asal Usul Umat Manusia

Arti “Asal-usul”

Status Adam dan Hawa

Berbagai Pandangan Tentang Permulaan Manusia

Evolusi Alamiah

(27)

Evolusi Deistik Evolusi Teistik

Kreasonisme Progresif Usia Manusia

Empat Pandangan Konservatif

Masalah Unsur-unsur Neolitik dalam Kejadian 4

Makna Teologis Dari Penciptaan Manusia

Dalam pengertian keberadaan individual, permulaan dari kehidupan setiap orang sama: awal tersebut terjadi ketika sperma laki-laki berpadu dengan sel telur seorang wanita. Namun, dari sudut pandang duniawi, asal-usul setiap kehidupan tidaklah sama. Sesungguhnya, dalam beberapa hal malah dapat dikatakan tidak dibenarkan untuk memakai istilah asal-usul. Perencanaan yang kehendak oleh dua orang untuk mempunyai anak, dikehendaki oleh dua orang, mungkin sebagai akibat kesembronoan manusia.

Gambar Alkitab tentang asal-usul manusia adalah bahwa Allah yang mahabijaksana, mahakuasa dan baik telah menciptakan umat manusia agar manusia mengasihi dan melayani Dia, serta menikmati hubungan yang akrab dengan-Nya.

Status Adam dan Hawa

Yang pertama, dalam 1 :26-27, hanya mencatat (1) keputusan Allah untuk menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, dan (2) tindakan Allah dalam melaksanakan keputusan ini. Kisah yang pertama ini lebih menekankan maksud dan alasan bagi penciptaan manusia; yaitu bahwa manusia harus berkembang biak (ay. 28) serta menguasai bumi. Kisah yang kedua, Kejadian 2 : 7, sangat berbeda, “Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu

(28)

menjadi makhluk yang hidup.” Rupanya di sini tekanannya adalah pada cara yang digunakan Allah untuk menciptakan manusia,

Banyak sekali penafsiran yang berbeda tentang status pasangan manusia yang pertama telah dikemukakan dan disebarluaskan. Terdapat perbedaan yang tajam tentang Adam dan Hawa merupakan tokoh sejarah yang sesungguhnya, ataukah mereka sekadar lambang saja. Pandangan tradisional ialah bahwa mereka adalah tokoh-tokoh yang sesungguhnya dan peristiwa-peristiwa dalam kisah Alkitab terjadi di dalam ruang dan waktu tertentu. Namun pandangan ini telah disanggah oleh sejumlah pakar teologi.

Salah seorang pakar yang dengan tegas menolak pandangan ini adalah Emil Brunner. Berbeda dengan Karl Barth, Brunner menyadari bahwa kesejarahan kisah penciptaan Adam dan Hawa adalah penting. Barth telah mengatakan bahwa masalah yang penting bukanlah apakah ular di Firdaus itu benar-benar berbicara atau tidak, tetapi yang penting adalah apa yang telah dikatakan ular itu. Tetapi Brunner menganggap pendapat Barth ini sebenarnya hanyalah mengelak masalah yang seharusnya tidak dielak. Pertanyaan itu perlu diajukan dan dibahas, bukan saja karena tujuan apologetik semata, namun juga untuk maksud teologis.

Menurut Brunner, kisah Adam dan Hawa harus dianggap sebagai bukan sejarah aktual baik berdasarkan alasan eksternal ialah pertimbangan empiris. Seperti misalnya evolusi biologis, paleontologi, dan sejarah jelas menunjukkan pertentangan dengan tradisi gereja. Hasilnya adalah bahwa kita menemukan manusia makin rendah dalam kedudukannya yang sekarang kita amati, pada mulanya diciptakan sempurna serta tak bercacat dan baru kemudian jatuh ke dalam dosa.

Oleh karena itu, Brunner merasa bahwa gereja harus meninggalkan keyakinan bahwa Adam dan Hawa adalah tokoh-tokoh aktual, karena menjadikan gereja sasaran cemoohan dan ejekan. Kisah Adam dan Hawa terjadi pada tingkat sejarah empiris. Bila dipandang demikian, Alkitab bertentangan dengan penjelasan ilmiah tentang awal manusia. Berdasarkan fakta yang sesungguhnya, maka orang menerima pandangan ilmiah mau tidak mau harus meninggalkan kisah alkitabiah itu.

(29)

Brunner beranggapan bahwa sama sekali tidak ada yang rugi bila meninggalkan pandangan bahwa kisah Adam dan Hawa mencatat peristiwa-peristiwa sejarah aktual. Selama kisah Alkitab dipandang sebagai mengisahkan pengalaman kedua orang itu (Adam dan Hawa), maka kisah tersebut tidak ada hubungannya dengan siapapun juga, termasuk kita.

Brunner menjadikan kisah penciptaan sebuah perumpamaan seperti perumpamaan anak yang hilang, ini dianggap sebagai suatu kisah sejarah yang benar-benar terjadi, dikehendaki oleh Yesus, yaitu sebagai perumpamaan, maka kisah itu dapat dipakai bagi kita dan menjadi sesuai dengan kita saat ini. Kisah tersebut memberitahukan sesuatu tentang diri kita, sebaiknya kisah Adam dan Hawa sebaiknya jangan dianggap sebagai kisah sejarah yang aktual dalam kehidupan dua orang yang nyata “manusia”. Apa yang tercatat dalam Kitab Kejadian sebagai dialami oleh Adam dan Hawa, sebenarnya juga berlaku bagi masing-masing kita dewasa ini.

Bagaimana menanggapi penafsiran yang penting bila kisah Adam dan Hawa bersifat historis adalah bentuk dimana mengungkapkan doktrin. Perjanjian Baru memandang Adam. Memang benar bahwa istilah Adam dapat dianggap (“manusia”) dan bukan sebuah nama orang. Namun dalam dua bagian Alkitab, yaitu Roma 5 dan 1 Korintus 15, Paulus mengaitkan keadaan dosa manusia kepada Adam sedemikian rupa sehingga sulit untuk menganggap “Adam” sebagai sekadar suatu istilah representatif. Di Roma 5:12-21, Paulus berkali-kali merujuk kepada pelanggaran “satu orang” saja. Orang yang dimaksud yaitu Yesus Kristus.” Kesejajaran diantara satu orang bernama Adam dan “satu orang yaitu Yesus Kristus. Adam sebagai tokoh sejarah. Dosa, kesalahan, serta kematian merupakan fakta-fakta universal. Adam adalah tokoh.

Fakta sejarah sebagaimana ia yakini pula pada saat manusia Yesus Kristus itu dan kematiannya yang mendatangkan kedamaian.

Dalam 1 Korintus 15 pendapat Paulus ini bahkan menjadi lebih jelas lagi. Di sini Paulus mengatakan bahwa kematian itu diakibatkan oleh satu orang (ay. 21) dan kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud itu adalah Adam (Ay. 22), Adam sebagai “manusia pertama”, bahwa Adam dan Hawa adalah tokoh sejarah yang aktual.

(30)

Makna Teologis dari Penciptaan Manusia

1. Kenyataan bahwa manusia diciptakan berarti manusia tidak mempunyai eksistensi sendiri. Kenyataan harus membuat manusia bertanya tentang makna keberadaannya.

23

Gambar Allah Dalam Manusia

Ayat-ayat Alkitab yang Berhubungan Pendapat Tentang Gambar Allah

Pendapat yang Subtantif Pendapat yang Relatif

Evaluasi Tentang Pendapat-pendapat Tersebut Berbagai Kesimpulan Tentang Sifat Gambar Allah

Implikasi Ajaran ini.

Ada tiga cara yang beranggapan bahwa gambar Allah tersebut terdiri atas berbagai ciri khas di dalam sifat manusia Pendapat subtantif. Orang lain menganggap gambar Allah ini tidak terdapat didalam diri manusia, melainkan sebagai mengalami hubungan diantara manusia dengan Allah atau diantara dua atau lebih manusia dikenal sebagai pendapat relatif.

Barth dengan gigih menolak setiap hubungan antara Allah dengan manusia, setiap kemampuan manusia untuk menerima Firman Allah.

Barth melihat gambar Allah terdapat bukan saja dalam hubungan vertikal antara manusia dengan Allah, tetapi juga dalam hubungan horizontal antara manusia dengan manusia

1. telah diciptakan menurut gambar Allah. Tidak ada pembatasan larangan-larangan ini yang dilandaskan pada kenyataan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah.

2. Gambar Allah tidak hilang sebagai akibat dosa atau khususnya setelah jatuh kedalam dosa.

(31)

3. Tidak ada petunjuk khusus bahwa gambar Allah itu terdapat dalam kadar yang lebih besar di dalam seseorang daripada kadar gambar Allah didalam diri orang lain. Memiliki kemampuan alamiah yang lebih unggul.

4. Gambar Allah ini tidaklah berkaitan dengan variabel apa pun hanya mengatakan bahwa Allah memutuskan untuk menciptakan manusia menurut gambarNya lalu Ia melakukan keputusan tersebut.

5. Mengingat pertimbangan-pertimbangan sebelumnya gambar Allah hendaknya dipahami sebagai sesuatu yang terutama substantif atau struktural.

6. Gambar Allah menunjuk kepada unsur-unsur dalam susunan manusia sehingga manusia mampu memenuhi panggilan hidupnya.

24

Sifat Hakiki Manusia

Pandangan-pandangan Pokok Tentang Sifat Hakiki Manusia Trikhotomisne Dikhotomisme Monisme Pertimbangan-pertimbangan Alkitabiah Pertimbangan-pertimbangan Filosofis

Sebuah Model Alternatif: Kesatuan Bersyarat Implikasi Kesatuan Bersyarat

Trikhotomisme

“Trikhotomisme” terdiri dari tiga unsur, yang pertama adalah tubuh jasmaniah. Yang kedua adalah jiwanya. Jiwa itulah yang membedakan manusia dan hewan dari tanaman. Yang ketiga, yaitu roh. Hal-hal rohani serta menanggapi rangsangan rohani.

Trikhotomisme terpengaruh oleh metafisika Yunani kuno diantara jiwa dengan roh, semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna. Ibrani 4:12 jiwa dan roh. “Manusia duniawi” (Yunani:σαρκικός) (ψυχικός – secara harfiah)

(32)

“manusia rohani” (πνευματικός) tubuh alamiah (ψυχ ) dengan tubuh rohaniah

(πνευματικός).

Trikhotomisme menjadi populer secara khusus dikalangan para bapa gereja di Aleksandria pada abad-abad permulaan sejarah gereja.

Dikhotomisme

Unsur material yaitu tubuh, dan unsur non-material, yaitu jiwa dan roh. Menyusul konsili di Konstantinopel pada tahun 381, pendapat ini ini makin populer dan secara resmi diterima oleh gereja. Sifat abadi ini yang membedakan manusia dengan semua makhluk yang lain.

Dikhotomisme merupakan alasan yang menentang pendapat trikhotomisme. Lukas 10:27, “Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Selanjutnya “roh” maupun “jiwa” dipakai untuk menunjuk kepada ciptaan Allah yang rendah. Roh manusia harus dipandang sebagai “tidak bertubuh dan tidak berwujud, yang mendiami dan bertindak melalui tubuh. Tubuh merupakan tempat dan sarana dari kehidupan kita sekarang ini, namun bukan merupakan bagian yang penting dari kepribadian.

Monisme

Monisme mendesak bahwa manusia tidak boleh dianggap sebagai terdiri atas beberapa bagian atau berbagai kesatuan, tetapi hanya sebagai suatu kepribadian.

Monisme yang muncul antara lain sebagai reaksi terhadap gagasan liberal mengenai keabadian jiwa. Karena ada beberapa persoalan, khususnya dibidang eskatologi, yang sulit dijawab oleh pandangan monistik yang terang-terangan. Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja. (Ibrani 9:27) “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. (Roma 14:8). Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus (1 Kor. 15:22).

(33)

Pertimbangkanlah juga kematian Yesus yang mendamaikan. Alkitab dengan jelas mengatakan, “Kristus telah mati fungsi-fungsi jasmaniahnya saja yang berhenti bekerja.

1. Manusia harus diperlakukan sebagai suatu kesatuan.

2. Manusia adalah makhluk yang kompleks. Sifatnya tidak dapat dikurangi menjadi satu prinsip tunggal.

Keuniversalan Umat Manusia

Semua Bangsa

Kedua Jenis Kelamin : Wanita dan Pria Orang-orang dari Semua Status Ekonomi Orang-orang yang Sudah Lanjut Usia Janin yang Belum Lahir

Orang yang Belum Kawin (Bujangan)

Semua Bangsa

Hal pertama yang harus diperhatikan ialah bahwa semua bangsa termasuk dalam keluarga Allah dan karena itu menjadi orang-orang yang dikasihi-Nya. Rasisme ilahi membagi bangsa manusia menjadi dua kategori: “kita” dan “mereka”. Rasialis kulit putih yang benar-benar bersikap begitu jauh sampai mengingkari kemanusiaan orang berkulit hitam atau, dengan kata lain, mengingkari bahwa orng kulit hitam mempunyai jiwa. Ini adalah upaya untuk mebenarkan ketidaksamaan antara para budak dan pemilik budak. Teologi palsu yang paling umum yang dikemukakan adalah bahwa sifat ketiga putra Nuh akan menjadi ciri keturunan mereka sejak sampai akhir zaman. Bahwa Ham berkulit hitam sejak lahir, Ham terkena kutuk karena kejahatannya. Jadi, harus diartikan bahwa semua orang berkulit hitam berada dibawah kutukan Allah, dan perbudakan dapat dibenarkan sebab Allah yang menghendakinya. Suatu variasi lain dari pendapat ini adalah anggapan bahwa Kain, yang dikutuk karena membunuh adiknya, Habel, diperhambakan dan kulitnya menjadi hitam (tanda yang ditaruh pada Kain – Kej. 4 :13-15). Menurut dugaan, Ham terkutuk dua kali lipat. Suatu anggapan lain bahwa orang kulit hitam sebenarnya tidak termasuk

(34)

bangsa Adam, biasanya anggapan ini berbunyi bahwa orang kulit hitam itu manusia, tetapi merupakan manusia jenis lain.

Sebuah pendapat tambahan ialah bahwa orang kulit hitam harus dipahami sebagai binatang berkaki dua. Karena orang kulit hitam hadir bersama kita sekarang ini, maka mereka pasti ada di dalam bahtera Nuh. Hanya delapan jiwa yang diselamatkan dan semuanya telah diberi penjelasan oleh keluarga Nuh. Orang kulit hitam tidak mempunyai jiwa untuk diselamatkan. Orang kulit hitam bukan manusia, mereka tidak memiliki hak seperti yang dimiliki oleh manusia.

Tidak ada dukungan alkitabiah bagi pendapaat bahwaa orang kulit hitam tidak sepenuhnya manusia atau manusia yang rendah mutunya. Tidak ada bukti yang mengusulkan bahwa Ham itu berkulit hitam. Anggapan bahwa orang kulit hitam bukan manusia menentang bukti antropolgi, seperti kemampuan menghasilkan keturunan antar bangsa yang satu dengan yang lain.

Yang lebih penting bagi kita semua adalah bukti positif tentang cara Allah memperhatikan semua bangsa dan kebangsaan. Tema ini dikembangkan di dalam Alkitab terutama mengenai hubungan orang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Orang mungkin menyimpulkan dari kedudukan Israel sebagai bangsa pilihan bahwa keprihatinan dan minat kepada umat manusia terbatas pada bangsa Yahudi. Jelaslah bahwa orang Yahudi dipilih bukan agar secara khusus menjadi penerima berkat Allah, melainkan menjadi penerima dan penerus berkat itu. Pada zaman Perjanjian Lama orang bukan Yahudi untuk menjadi penganut iman israel. Rahab dan Rut, perempuan Moab menjadi contoh-contoh yang terkemuka dan bahkan terdapat dalam silsilah Yesus (mat. 1:5)

Dalam pelayanan Yesus kita menemukan sikap yang terbuka terhadap orang-orang yang bukan dari rumah Israel. Keprihatinan-Nya kepada Wanita Samaria (Yoh. 4) dan tawaranNya untuk memberikan air yang hidup kepadanya menunjukkan bahwa keselamatan tidak terbatas kepada orang-orang Yahudi saja. Siro-Fenisia agar anak perempuannya dibebaskan dari kerasukan serta dikabulkan (Mrk. 7:24-30). Mungkin peristiwa yang luar biasa adalah berkaitan dengan perwira Romawi yang datang kepada Yesus memohon kesembuhan bagi hambanya yang sakit lumpuh (mat. 8:5-13). Dalam ayat ini terdapat penantian

(35)

akan masa Penyampaian anugerah Allah kepada tak terhitung banyaknya orang tanpa menghiraukan kebangsaan mereka.

Ketika kita sampaikan ke Kitab Kisah Para Rasul, sifat universalitas anugerah Allah menjadi sangat jelas. Penglihataan Petrus (Kis. 10:9-16). Kornelius (ay. 17-33)

Pelayanan Paulus mencakup banyak peristiwa yang mengandung banyak pelajaran bagi kita mengenai status orang bukan Yahudi. Di Efesus 2 :14, Paulus menegaskan bahwa Kristus telah merubuhkan tembok pemisah di antara mereka. Paulus merasa perlu untuk menentang dia secara terang-terangan (Gal. 2 :11). Di Galatia 3 :6-9 Paulus mengemukakan bahwa semua orang yang mempunyai iman Abraham adalah pewaris Abraham, tanpa memperhatikan kebangsaan mereka.

Kedua Jenis Kelamin

Adakalanya kaum wanita paling banter dianggap sebagai anggota golongan kelas dua umat manusia. Mereka tidak diizinkan mempunyai hak memilih atau menggunakan hak-hak lain yang dimiliki oleh kaum lelaki. Didunia pada zaman Alkitab kaum wanita mempunyai sedikit hak, atau setidak-tidaknya jauh lebih sedikit daripada kaum lelaki. Dari mula pertama ada petunjuk bahwa dalam pemandangan Allah wanita mempunyai status yang sederajat.

Di Kejadian 1:26-27 terdapat tekanan khusus, rupa-rupanya untuk memastikan pengertian kita bahwa wanita memiliki gambar Allah, sama seperti lelaki. Kejadian 1:27, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya” dan “menurut gambar Allah diciptakanNya dia” ayat 26. Dalam peristiwa yang terakhir tambahan tersebut menjelaskan bahwa “manusia” yang diciptakan menurut gambar Allah itu adalah laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki gambar Sang Pencipta.

Kejadian 5 :1-2, “Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah : laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama “Manusia” kepada mereka menurut gambar Allah. Perempuan dengan laki, karena perempuan diambil dari laki-laki sebagai “penolong”. Ungkapan “pembantu” yang dipakai dalam beberapa versi yang lebih tua, sebenarnya menerjemahkan dua kata Ibrani (neged), berarti “sesuai dengan” atau “sama dengan “ dia. Kata yang diterjemahkan “penolong”.

(36)

Kejadian 2:18 pada hakikatnya tidak lebih rendah daripada orang yang ditolong, malahan penolong itu dianggap sebagai rekan orang yang memberi kemampuan. Kejadian 3 :16 “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak, dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu. Kata diterjemahkan “berkuasa atas (mashal). Kata yang sering diterjemahkan “memerintah” dapat diterjemahkan “menjadi seperti”, Satu terjemahan dari ayat ini memperhatikan kemiripan diantara kuktukan atas laki-laki meliputi kerja keras dan kutukan atas perempuan meliputi kesakitan ketika melahirkan anak. Kata yang sama digunakan untuk kesakitan perempuan dan kerja keras laki-laki arti pokoknya adalah “kesedihan” atau “penderitaan”. Kejadian 3:16, bukan saja si perempuan akan mengalami penderitaan, tetapi suaminya akan mengalami penderitaan serupa, dalam kata Ibrani (ba’al) yang berarti “tuan”. Di Kejadian 20:3 kata tersebut dipakai menggambarkan hubungan Sarai dengan Abraham.

Allah digambarkan sebagai ibu Israel di Ulangan 32:18. “Gunung batu yang memperanakkan engkau telah kau lalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau. Yang dilihat disini, perumpamaan untuk menggambarkan kekhawatiran Allah dan pencarian-Nya akan orang-orang yang terhilang, domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang. Tokoh yang utama adalah perempuan sebagai teladan kedermawanan dalam hal memberi (Luk. 21:1-4).

Yesus bercakap-cakap dengan perempuan Samaria yang berzinah, karena Ia mempedulikan rohaninya. Perempuan yang sakit pendaharan. Maria dan Marta terhitung diantara sahabat-sahabat Yesus, Perempuan yang mengurapi Yesus di Betania. Yesus menyatakan diriNya pertama-tama kepada Maria Magdalena. Sesungguhnya, kaum perempuan memainkan peran yang berarti dari awal permulaan kehidupan dan kehidupan dan pelayanan Yesus, Bukan Yusuf, melainkan Maria yang mengungkapkan pujian kepada Allah berhubungan dengan pemberitahuan kelahiran Yesus yang akan terjadi (Luk. 1:46-55). Hana, mungkin adalah murid wanita Yesus yang pertama, “Sungguh mencolok bahwa Yesus tidak memperlakukan perempuan sebagai perempuan tetapi sebagai seorang pribadi, sebagai martabat mereka.

(37)

Orang-orang dari Semua Status Ekonomi

Alkitab berbicara banyak mengenai orang miskin. Allah menaruh perhatian istimewa terhadap orang miskin. Keprihatinan ini nyata ketika Ia membebaskan Israel dari perbudakan dan kemiskinann yang mereka alami di Mesir.

Seringkali ketetapan dibuat untuk kesejahteraan orang miskin. Setiap tahun ketiga uang persepuluhan harus diberikan kepada orang Lewi dan orang asing, anak yatim dan janda (Ul. 14:28-29) “Tahun sabat (tiap tahun ketujuh) para pemilik tanah tidak boleh menabur di ladang mereka dan orang miskin harus diperbolehkan untuk mengumpulkan hasil untuk diri mereka dari tanaman yang tumbuh sendiri (Kel. 23:10-11; Im. 25:3-6), mereka bekerja selam enam tahun (Kel. 21:2) Ada juga tahun Sabat, tahun Yobel, tahun yang kelima puluh, kepada pemiliknua (Im. 25:8-17) Sebagian dari hasil ladang dan kebun orang miskin (Im. 19:9-10). Buah dan gandum yang masak diladang boleh diambil dan dibawa pergi orang yang memiliki harta harus memberi pinjaman kepada orang miskin tanpa membebankan bunga uang kepadanya (Kel. 22:25) harus dianggap sebagai orang upahan (Im. 25:39-40), dan tidak b oleh diperlakukan dengan kejam. Tak seorang pun boleh mengambil kilangan sebagai gadai.

Secara khusus, Jangan engkau hak orang miskin diantaramu dalam perkaranya, para penganiaya orang miskin seperti singa di dalam orang yang Yesus sendiri juga miskin.

Dua ekor anak merpati” Kenyataan bahwa keluarga Yesus mempersembahkan “sepasang burung tekukur atau dua ekor anak merpati”. Sementara Yesus dalam pelayanan tidak menderita kesusahan. Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi orang miskin dan kemiskinan, yesaya 6:1-2 kepada orang miskin (Luk. 4:18, 21) Kepedulian kepada orang miskin di pusat pelayananNya (Lukas 6 :20).

Kepada orang miskin menjelaskan lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum daripada orang kaya masuk kedalam Kerajaan Allah” (Mrk. 10:20) Perumpamaan orang kaya dan Lazarus dibawa ke pangkuan Abraham Lazarus segala menderita (Luk. 16:25) menjadi kemiskinan kekayaan yang menjadi penjatuhan hukuman Yesus orang-orang seorang miskin masuk, ia kaya dikritik

(38)

dengan keras, jahat? Dengarkanlah, hai saudar-saudara Bukankah Allah memilih orang-orang miskin oleh dunia (Yak. 2:4-5)

Banyak ayat lain di Alkitab menekankan dan orang kaya sederajat beriman, Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas. (Ams. 22:1-2) lebih baik seorang yang bersih kelakuannya daripada seorang pemohong” (Ams. 19:1) sorang sangat banyak memberikan kekayaan dan yang dimana kekayaan dan kemiskinan serta menganggap orang kaya dan miskin.

Orang-orang yang Lanjut Umurnya

Kadang-kadang direndahkan paling lengkap dianggap kurang bermanfaat, mereka tidak mampu menyumbangkan kesukaran orang Ibrani menghormati yang lanjut usia, Engkau harus bangun berdiri terhadap orang ubana dan harus takut Allahmu; Akulah Tuhan” (Im. 19:32) Suatu masa Yeremia adalah yang tua dipahami dari berkat ilahi “Hiasan orang muda ialah kekuatannya, dan keindahan orangtua ialah urban” Usia tua dianggap suatu karunia dari Allah panjang umur akan Kukenyangkan (Mzm. 91:16) diberi kepastian bahwa Allah Dia rambutku Aku menggendong (Yes. 46:4). Janji umur kepada mereka yang menghormati orangtua Baru usia disertai dalam Ayub 12:20 “Dia Allah tidak mengasihi kita hanya karena apa yang kita lakukan bagi-Nya, tetapi karena apa yang dapat Ia lakukan.

Janin yang Belum Lahir

Itu harus dianggap sebagai manusia maka pengguguran atau aborsi adalah tindakan membunuh nyawa manusia dan mempunyai akibat moral yang serius. Janin itu benar-benar biologis kerap kali keduanya dimanfaat bersama-sama. Pendapat yang biologis memakai berbagai peneylidikan ilmiah periode kehamilan datanya identitas pribadi janin itu secara pasti ditentukan janin yang belum lahir.

Mazmur 51, diperanakkan ibuku (ay. 7) “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Sini Daud berbicara seakan-akan masih berada dalam

(39)

rahim ibunya. Adalah Lukas 1:41-44 Maria, anaknya yang datang hendak menyampaikan bahwa ia Maria akan melahirkan sang Mesias melonjaklah yang di dalam rahimnya dan Elisabet lalu berseru dengan suara nyaring, penuh dengan Roh. (“ia melonjak kegirangan”) Ibrani 7:9-10 Melkisedek Abraham dipungut juga persepuluhan menerima persepuluhan bapa dikandung Lewi adalah cicit laki-laki penghamilan aborsi pembinasaan nyawa manusia sebagai (setidaknya mempunyai potensi untuk dengan Allah.

Orang yang Belum Kawin (Bujangan)

Di masyarakat Amerika menganggap pernikahan sebagai keadaan yang teladan. Orang bujangan sering tidak diikutsertakan atau setidaknya merasa diikutsertakan. “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu” dianggap manusia ketika mereka menghasilkan keturunan

Membujang sebagai keadaan yang rendah. Alkitab tidak memandang. Sesungguhnya Tuhan kita tidak pernah menikah, sekalipun beberapa bahwa Ia pernah menikah, tanpa menikah menjadi seperti dirinya (1 Kor. 7:7) janda-janda agar membujang seperti Allah” (Ay.25) bahwa bagaimanapun juga selama pelayanannya keadaannya (ay.26) tetap tinggal menikah, janda tidak menikah menyenangkan suami atau Tuhan untuk menyenangkan Tuhan (Ay.35) Gereja sebaiknya tidak pernah dalam pelayanan yang dahulu dan diaken “suami dari satu istri,” haruslah seorang yang sudah menikah seorang yang setia kepada satu istri, melainkan paling banyak satu sedikit istri, melainkan paling banyak satu istri “menikah hanya satu kali atau lain yang serupa.

26 Sifat Dosa

Hubungan di Antara Doktrin Tentang Dosa dengan Doktrin-doktrin Lainnya

Kesulitan Dalam Membahas Dosa Metode Dalam Mempelajari Dosa Istilah-istilah untuk Dosa

(40)

Ketidaktahuan Kesalahan

Kekurangan Perhatian

Istilah-istilah yang Menekankan Sifat Dosa Salah Sasaran

Kefasikan Pelanggaran

Kejahatan atau Kekurangan Integritas Pemberontakan

Pengkhianatan Penyimpangan Kekejian

Istilah-istilah yang Menekankan Akibat-akibat Dosa Bergolak atau Ketidaktenteraman

Kejahatan atau Keburukan

Berbagai metode Dalam Menelaah Dosa

Dosa dapat ditelaah dengan berbagai cara. Salah satunya ialah dengan pendekatan empiris atau induktif. Seseorang dapat mengamati kekuatan manusia modern atau kelakuan tokoh dalam Alkitab, lalu kemudian menarik kesimpulan mengenai perilaku mereka dan sifat dosa tersebut. Dalam kasus ini, ciri-ciri umum dari dosa disimpulkan dari berbagai contoh kasus.

Pendekatan kedua disebut cara paradigma. Kita dapat memilih satu jenis dosa tertentu (atau satu istilah untuk dosa), lalu kemudian menetapkannya sebagai contoh umum tentang dosa. Kita kemudian menganalisis jenis-jenis dosa lainnya (atau istilah Alkitab lainnya) dengan mengacu kepada model utama ini serta menganggapnya sebagai variasi atau penjelasan dari paradigma kita.

Pendekatan ketiga bertolak dari memperhatikan semua istilah dalam Alkitab yang menunjuk kepada dosa. Dengan demikian akan muncul aneka ragam pengertian. Konsep-konsep ini kemudian diselidiki untuk menemukan unsur hakiki dari dosa. Faktor mendasar ini kemudian dapat dipakai sebagai pusat

(41)

perhatian dalam mempelajari dan memahami sifat contoh-contoh khusus dari dosa. Pendekatan ini akan dipakai sebagai pendekatan utama dalam bab ini.

27 Sumber Dosa

Berbagai Pemikiran Tentang Sumber Dosa Watak Kehewanan

Takut akan Keterbatasan Keterasingan Eksistensial Pergumulan Ekonomis

Individualisme dan Persaingan Ajaran Alkitab

Implikasi Berbagai Pandangan Itu – Penawar bagi Dosa

Ajaran Alkitab

Adalah sangat penting untuk memperhatikan bahwa Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa dosa disebabkan oleh Allah. Yakobus dengan cepat sekali menutup kemungkinaan terjadinya penafsiran semacam itu “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata, ‘Pencobaan ini datang dari Allah? ‘Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun” (1:13). Alkitab juga tidak membuka kemungkinan untuk beranggapan bahwa dosa merupakan akibat yang tidak terelakkan dari struktur kenyataan. Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa manusialah bertanggung jawab atas dosa yang diperbuatnya.

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan ddipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu setelah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yak. 1:14-15). Dengan menganalisis ayat ini dan ayat-ayat yang lain, kitadapat menentukan apa yang diajarkan Alkitab tentang landasan atau sumber dosa.

28

Referensi

Dokumen terkait

Hal lain yang dutegaskan di sini, yang juga menjadi berita Perjanjian Baru ialah bahwa umat Tuhan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan tugas penginjilan karena hak istimewa

Ilmu kalam disebut juga dengan Teologi dalam Islam dikarenakan persoalan penting yang menjadi pembicaraan pada abad permulaan hijrah tentang firman Tuhan (kalam Allah),

Tuhan disenangkan oleh karena kita melakukan sesuatu yang menjadi kepentinganNya Matius 25: 14-30 adalah sebuah pengajaran dengan "perumpamaan" yang

Umumnya proses hidup manusia lahir, masa kanak-kanak, remaja, bertumbuh dewasa, menikah, menjadi orang tua, manula dan kembali ke Sang Pencipta. 39) Dalam semua proses kehidupan

Firman Tuhan di atas bisa menjadi suatu dorongan iman umat percaya untuk selalu memberikan yang terbaik untuk Tuhan, salah satunya adalah dalam pelayanan diakonia

Orang Kristen di Galatia dibingungkan dengan ajaran Taurat, sunat dsb, sehingga Paulus harus menjelaskan maksud Tuhan yang sebenarnya, bahwa hubungan manusia dengan Allah menjadi

Paulus mengatakan orang yang menjadi percaya Tuhan Yesus setelah menikah, maka orang yang menjadi percaya itu jangan bercerai melainkan justru mengasihi, menjadi teladan dan

12 mengutamakan firman Tuhan saja yang menjadi acuan dalam mengenal Allah dan hanya firman Tuhan yang dapat mengubahkan hati dan kehidupan manusia.45 Dalam tulisan-tulisannya, Calvin