• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengayom masyarakat dalam segala kondisi sosial yang caruk maruk. Peran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengayom masyarakat dalam segala kondisi sosial yang caruk maruk. Peran"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Defenisi Peran Kepolisian

2.1.1 Defenisi Peran (Peranan)

Kepolisian memiliki peranan penting dalam mewujudkan keamanan dan kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat, kepolisian merupakan lembaga pengayom masyarakat dalam segala kondisi sosial yang caruk maruk. Peran kepolisian dapat dikatakan sebagai aspek kedudukan yang berhubungan dengan kedudukanya sebagai pelindung masyarakat.

Menurut Soejono Sukanto, Peran atau Peranan ( Role) merupakan aspek dinamis dari suatu kedudukan atau (status). Apabila seseorang melakukan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukanaya maka dia menjalankan suatu peran. Sedangkan menurut teori peranan ( roletheory ) yang di kutip oleh setiawan mengatakan bahwa “Peranan atau Peran adalah sekumpulan tingkah laku yang dihubungkan dengan suatu posisi tertentu” menurut teori ini, peranan yang berbeda menimbulkan tingkah laku itu sesuai dengan suatau situasi lain relatif bebas ( Independent ) tergantung pada orang yang menjalankan peran tersebut,

jadi setiap orang akan mempunyai peranan pada masing-masing situasi. 1

Menurut sitorus yang dikutip oleh Rahardjo sadjipto bahwa peranan dapat dibedakan menjadi 4 macam

1 Kurnia Rahma Daniaty, PDF, Mengkaji Kembali Peran Dan Fungi Polri Dalam Era Reformasi, Diakses pada tanggal 23 Oktober 2012

(2)

8

1. Peranan pilihan ( achieved role ), yakni peranan yang hanya dapat diperoleh melalui usaha tertentu. Peranan tersebut lahir dari kemampuan individual seseorang.

2. Peranan bawaan ( acriber role ), yakni peranan yang diperoleh secara otomatis bukan karna usaha. Misalnya seorang pangeran suatu saat akan menjadi raja karna faktor keturunan dari orang tuanya yang merupakan seorang raja.

3. Peranan myang diharapkan ( ekspected role ), yaitu peranan yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan bersama, Peran seperti ini biasanya dijalankan oleh petugas hukum dan aparat pemerintahan.

4. Peranan yang disesuaikan ( aktual role ) yaitu peranan yang disesuaikan

sesuai dengan situasi atau kondisi yang sedang terjadi.2

2.1.2 Defenisi Kepolisian

Ditinjau dari segi etimologis istilah polisi di beberapa negara memiliki ketidak samaan, seperti di Yunani istilah polisi dikenal dengan istilah “politeia” di Jerman dikenal dengan istilah “polizei” di Amerika Serikat dikenal dengan

nama “sheriff”3

Polisi merupakan alat penegak hukum yang dapat memberikan perlindungan,pengayoman, serta mencegah timbulnya kejahatan dalam kehidupan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahardi mengatakan bahwa

2 Kurnia Rahma Daniaty, PDF, Mengkaji Kembali Peran Dan Fungi Polri Dalam Era Reformasi, Diakses pada tanggal 23 Oktober 2012

3

(3)

9

“Kepolisian sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang

pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat”4

Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai pengertian kepolisian, Penulis mengemukakan pendapat para ahli antara lain:

Menurut Van Vollenhoven yang dikutip oleh Momo Kelana istilah polisi didefenisikan sebagai “organ dan fungsi, yakni sebagai organ pemerintahan dengan tugas mengawasi, jika perlu menggunakan paksaan supaya yang

diperintah menjalankan dan tidak melakukan larangan-larangan perintah”.5

Menurut Rianegara polisi berasal dari kata yunani Politea kata ini pada mulanya digunakan untuk menyebut orang yang menjadi warga negara dari kota Athena. Kemudian pengertian itu berkembang menjadi “kota” dan dipakai untuk menyebut “semua usaha kota” yang disebut juga polis. Politea atau polis diartikan sebagai semua usaha dan kegiatan negara juga termasuk kegiatan keagamaan.

Menurut Sadjijono yang dikutip oleh Rahardi polisi dan kepolisian memiliki arti yang berbeda dinyatakan bahwa:

“Istilah polisi adalah sebagai organ atau lembaga pemerintahan yang ada dalam negara, Sedangkan istilah kepolisian adalah sebagai organ dan sebagi fungsi. Sebagi organ yaitu suatu lembaga pemerintahan yang terorganisasi dan terstruktur dalam organisasi negara. Sedangkan sebagai fungsi, yakni tugas dan wewenang serta tanggung jawab lembaga atas kuasa Undang-undang untuk

4 Sadjijono, Memahami hukum Kepolisian, cetakan I, P.T Laksbang Presindo, Yogyakarta, 2010, h.56

5

(4)

10

menyelenggarakan fungsinya, antara lain pemeliharaan keamanan, ketertiban

masyarakat, penegak hukum pelindung, pengayom, pelayananan masyarakat.6

Sesuai dengan Kamus Umum Bahasa Indonesia, bahwa

“polisi diartikan sebagai badan pemerintahan yang diberi tugas memelihara keamanan dan ketertiban umum”.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2002 pasal 1 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Menyebutkan bahwa:

1. Kepolisian adalah segala hal-ikhwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan peraturan Perundang-undangan

2. Anggota kepolisian negara republik indonesia adalah pegawai negeri pada kepolisian negara republik indonesia.

Menurut Hoegeng, yakni polisi merupakan lembaga resmi yang diberi mandat untuk memelihara ketertiban umum, perlindungan orang serta segala sesuatu yang dimilikinya dari keadaan bahaya atau gangguan umum serta tindakan-tindakan melanggar hukum.

Menurut Konerto, mempunyai pandangan tersendiri mengenai pengertian Polisi dalam pengertian sehari-hari yang tidak menghubungkan dengan pemerintahan negara.

“Polisi merupakan petugas atau pejabat karna dalam sehari-hari mereka berkiprah dan berhadapan langsung dengan masyarakat. Pada mulanya polisi berarti orang yang kuat dan dapat menjaga keamanan dan keselamatan anggota kelompoknya. Namun dalam bentuk polis atau negara kota, polisi sudah harus

(5)

11

dibedakan dengan masyarakat biasa, agar rakyat jelas kepada merekalah rakyat dapat meminta perlindungan, dapat mengadukan pengeluhan, dan seterusnya. Dengan diberikan atribut tersebut maksudnya dengan atribut tersebut polisi memiliki wewenang menegakan aturan dan melindungi masyarakat”.

Bicara sejarah kepolisian ada suatu hal ketika negara menganut sistem totaliter, Kepolisian dijadikan alat pemerintahan/penguasa. ( berlawanan dengan demokrasi ). Seperti gestapo di zaman hilter ( jerman), Polisi zaman penjajahan belanda dan kempetai ketika Jepang menjajah Indonesia. Abad XIII Kerajaan Majapahit punya pasukan Bhayangkara ( polisi) yang dipimpin Maha Patih Gajahmada dengan salah satu filosofis kerjanya: “ Satya Haprabu”. Setia kepada raja. Disinilah awal mulanya dikotomi lahirnya pendapat tentang polisi sebagai

alat penguasa yang dikenal dengan polisi antagonis,Tidak berpihak pada rakyat. 7

Berdasarkan pandangan dari beberapa pakar pengertian polisi nampak memiliki persamaan satu dan yang lainya, walaupun variasi kata bahasa dalam mengungkapkan makna ataupun pengertian polisi berbeda namun perbedaan itu tidak mempengaruhi arti sesungguhnya kepolisian yang utama yakni: sebagai pelindung, pengayom masyarakat dengan mencurahkan segala upaya demi terciptanya negara yang aman serta terbebas dari segala gangguan tindak kejahatan yang dapat merugikan masyarakat.

2.1.3 Fungsi Kepolisian

Dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2002. Menyatakan bahwa “ Fungsi kepolisian adalah menjalankan salah satu fungsi Pemerintahan negara dalam

(6)

12

tugas penegakan Hukum, selain perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat”

Dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 1997 pasal 3. Menyatakan bahwa “Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang penegakan hukum, perlindungan, dan pembibimbingan masyarakatdalam rangka terjaminya tertib dan tegaknya hukum serta terbinanya ketentraman masyarakat guna terwujudnya keamanan dan ketertiban masyarakat”

Menurut Sadjijono dalam menjalankan fungsinya sebagai aparat penegak hukum polisi wajib memahami asas-asas hukum yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan tugas yaitu:

1. Asas legalitas, dalam melaksanakan tugasnya sebagai penegak hukum wajib tunduk pada hukum

2. Asas Kewajiban, merupakan kewajiban polisi dalam menangani permasalahan dalam masyarakat yang bersifat diskresi, karna belum diatur dalam hukum.

3. Asas Partisipasi, Dalam rangka mengamankan lingkungan masyarakat polisi mengkoordinasikan pengamanan swakarsa untuk mewujudkan kekuatan hukum dikalangan masyarakat.

4. Asas Preventif selalu mengedepankan tindakan pencegahan dari pada penindakan kepada masyarakat.

(7)

13

5. Asas Subsidiaritas, melakukan tugas instansi lain agar tidak menimbulkan permasalahan yang lebih besar sebelum di tangani oleh

institusi yang membidangi.8

Berdasarkan asas-asas tersebut diatas maka fungsi polis yang terdapat dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2002 telah mengalami perubahan citra, maka fungsi polisi menjadi fleksibel dalam artian satua saat mereka harus tegas menangani suatu peristiwa, namun dalam situasi tertentu mereka harus sangat dekat dengan masyarakat guna menjalakan asas preventif. Oleh karenanya harus mampu dan memahami perkembangan yang terjadi dalam masyarakat, serta kebutuhan mereka, dalam mendapatkan perlindungan keamanan. Keadaan ini menuntut polisi untuk mengetahui kapan dan saat seperti apa mereka harus bertindak jika terjadi pelanggaran besar dalam masyarakat.

2.1.4 Tugas Dan Wewenang Kepolisian

Lembaga kepolisian memiliki tugas yang sangat besar untuk melindungi negara, dengan ruang lingkup yang sangat luas tersebut didalam tubuh kepolisian harus ada pemberian tugas yang jelas.

Dalam pasal 13 Undang-Undang No..2 Tahun 2002 disebutkan bahwa tugas kepolisian NKRI adalah:

1. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat 2. Menegakan hukum

3. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan perlindungan kepada masyarakat

8

(8)

14

Namun setelah adanya penetapan aturan tersebut timbul perdebatan mengenai tugas pokok tersebut, yakni mengenai pemeliharaan keamanan, ketertiban masyarakat, penegakan hukum, ketiganya bukan merupakan urutan prioritas namun ketiganya penting untuk dijalankan secara bersama-sama.

Menurut Rahardjo Sadjipto, pembagian tugas pokok kepolisian berdasarkan substansi tugas pokok dan sumber yang melandasi tugas pokok tersebut yakni sebagi berikut:

“Substansi tugas pokok memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat bersumber dari kewajiban umum kepolisian untuk menjamin keamanan umum. Sedangkan substansi tugas pokok menegakan hukum bersumber dari ketentuan peraturan perundang-undangan tertentu lainya. Selanjutnya substansi tugas pokok polri untuk memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat bersumber dari kedudukan dan fungsi kepolisian sebagai bagian dari fungsi pemerintahan negara yang pada hakekatnya bersifat pelayanan publik yang

termasuk dalam kewajiban umum kepolisian”.9

Mengenai tugas yang harus dilaksanakan oleh POLRI dalam pasal 14 Undang-undang No. 2 Tahun 2002 disebutkan, bahwa

a. Dalam melaksanakan Tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam pasal 13, Kepolisian bertugas:

a) Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai dengan kebutuhan;

9 Satjipto Rahardjo, (dalam Sitorus), 2003 Mengkaji Kembali Peran Dan Fungi Polri Dalam Era Reformasi, Makalah Seminar Nasional, Jakarta, , h.27-28

(9)

15

b) Menyelenggarakan segala kegiatan dan menjamin keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas dijalan;

c) Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang- undangan;

d) Turut serta dalam pembinaan hukum nasional;

e) Memelihara ketertiban dan menjamin keamaanan umum;

f) Melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan tekhnis kepada kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil, dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa;

g) Melakukan penyidikan dan penyelidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lain;

h) Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium porensik dan psikologi kepolisian;

i) Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat dan lingkungan hidup dan ganguan ketertiban dan atau bencana

termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan

menjunjung tinggi hak asasi manusia;

j) Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan atau pihak yang berwenang

k) Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingan dalam lingkup tugas kepolisian serta;

(10)

16

l) Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan

b. Kewenangan umum kepolisian negara republik indonesia diatur dalam pasal 15 Undng-Undang No. 2 Tahun 2002 yang menyebutkan :

Secara umum menyebutkan kepolisian berwenang a. Menerima laporan atau pengaduan;

b. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat menggangu ketrtiban umum;

c. Mencegah dan menanggulangi timbulnya penyakit masyarakat; d. Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau

mengancam persatuan dan kesatuan bangsa;

e. Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administrasi kepolisian;

f. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagia bagaian dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan;

g. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;

h. Mengambil setik jaridan identitas lainya dan memotret seseorang i. Mencari keterangan dan barang bukti

j. Menyelenggarakan pusat informasi10

10

(11)

17

2.2 Defenisi Kejahatan Aborsi 2.2.1 Defenisi Aborsi

Dalam kamus Bahasa Indonesia sendiri, abortus diartikan sebagai wiladah sebelum waktunya atau keguguran. Pengertian aborsi atau Abortus Provocatus adalah penghentian atau pengeluaran hasil kehamilan dari rahim sebelum

waktunya.11

Gugur kandungan atau aborsi (bahasa latin: Abortus). Aborsi atau abortus adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian kandungan. Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran prematur. Istilah abortus dipakai untuk menunjukan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Abortus sebagai pengakhiran kehamilan

sebelum janin mencapai 500 gram atau usia kehamilan 20 minggu.12

Aborsi adalah keluarnya atau dikeluarkanya hasil konsepsi dari kandungan seorang ibu sebelum waktunya. Aborsi atau Abortus dapat terjadi secara spontan dan aborsi buatan. Aborsi secara spontan merupakan mekanisme alamiah keluarnya hasil konsepsi yang abnormal (keguguran). Sedangkan abortus buatan

atau juga disebut terminasi kehamilan.13

Menurut Joedono ( dalam Seno Adji) mendefenisikan abortus sebagai berikut:

11

W.J.S. Purwodarminto, 2008, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, h.202 12

http://www.tempo.co/read/news/2012/06/15/064410904/ diakses tanggal 23 oktober 2012 ).

13

(12)

18

“abortus diartikan keluarnya, atau dikeluarkanya embrio, factussebelum waktunya, yaitu sebelum dapat hidup sendiri diluar uterus. Berdasarkan defenisi ini maka abortus adalah keluarnya embrio atau janin sebelum umur kehamilan 20

minggu dan dengan berat dari 500 gram.14

Menurut Adami Chazawi pengertian abortus atau pengguguran kandungan adalah perbuatan yang bagaimanapun wujud dan caranya terhadap kandungan seorang perempuan yang menimbulkan akibat lahirnya bayi atau janin dari dalam

rahim seorang perempuan tersebut sebelum waktu dilahirkan.15

Adapun pengertian pengguguran kandungan (abortus) yang diberikan oleh pakar Ilmu Hukum adalah lahirnya buah kandungan sebelum waktunya karna perbuatan seseorang yang bersifat sebagai perbuatan pidana kejahatan.

Istilah populer lainya aborsi adalah pengguran kandungan, walaupun dari sudut hukum menggugurkan kandungan tidak sama persis artinya dengan praktik aborsi, karena dari sudut hukum (pidana) pada praktik aborsi terdapat dua bentuk perbuatan. Pertama Menggugurkan (afdrijven) kandungan. Kedua perbuatan

mematikan (dood’doen) kandungan.16

2.2.2 Kejahatan Aborsi

Pengguguran kandungan (abortus) adalah suatu kejahatan yang sangat meresahkan masyarakat utamanya bagi generasi muda, dimana hal ini sering menjadi topik utama. Dengan berbagai cara mengeluarkan janin yang dikandung entah dengan alat bantu atupun dengan ramuan khusus yang bersifat racun dengan

14

http://www.masbied.com/search/latar-belakang-terjadinya-abortus-di-indonesi 24 September

2012 15

Adami Chazawi, op.cit, hlm. 113 16

(13)

19

tujuan bayi dalam kandunganya meninggal. Aborsi dikatatakan sebagi tindakan pembunuhan karna hal ini berhubungan dengan nyawa sang janin yang dikandung sang ibu yang di keluarkan sebelum waktu bersalin tiba.

Kejahatan aborsi telah diatur dalam KUHP dan dilarang dilakukan oleh paramedis tanpa ada ijin medik terlebi dahulu. Rumusan kejahatan ini di catumkan pada pasal 346, subjek hukumnya adalah “seorang perempuan”, karena dalam pasal 346 tidak disyaratkan kandungan tersebut suadah berwujud sebagai bayi sempurna dan belum ada proses kelahiran bayi.

Ada 4 (empat) perbuatan yang dilarang dalam pasal 346, yakni; 1. Menggugurkan kandungan;

2. Mematikan kandungan;

3. Menyuruh orang lain menggugurkan kandungan;

4. Menyuruh orang lain mematikan kandungan;17

Adapun kejahatan mengenai pengguguran kandungan dan pembunuhan kandungan jika dilihat dari subjek hukumnya dapat dibedakan menjadi:

a. yang dilakukan sendiri (346)

“Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandunganya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam pidana penjara paling lama empat tahun”

(14)

20

b. yang dilakukan orang lain, yang dalam hal ini dibedakan menjadi 2, ialah: 1) tanpa persetujuanya (347),

“Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuanya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan”

2) atas persetujuanya (348)

“Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuanya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun”

Pelarangan mengenai aborsi bukan hanya dikenal dalam pidana namun dalam hukum Islam juga ada pelarangan mengenai tindakan kejahatan ini seperti dalam Firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya:

"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar…"(QS. Al-Israa': 33)

Ayat-ayat di atas menegaskan larangan membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, kecuali jiwa-jiwa yang dibolehkankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk dibunuh sebagaimana telah dijelaskan oleh para Ulama berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur'an dan sunnah seperti pembunuh (qishah), orang muhsan yang berzina dan lain-lain.

Diantara bentuk pembunuhan yang disebutkan oleh para ulama adalah aborsi tanpa alasan yang dibenarkan oleh Syar'iat Islam, dan aborsi termasuk pembunuhan terhadap jiwa yang tidak berdosa, karena janin yang digugurkan belum memiliki dosa yang karenanya dia harus dibunuh. Pada kesempatan kali ini marilah kita simak bersama hikmah dibalik larangan aborsi tersebut.

(15)

21

Aborsi pada dasarnya dibagi atas 2 bagian yaitu: 1. Aborsi yang tidak sengaja

2. Aborsi yang disengaja

2.2.3 Aborsi yang tidak disengaja

Pengguguran kandungan (abortus) yang tidak disengaja atau yang dikenal dengan sebutan adalah pengguguran kandungan (abortus) yang terjadi dengan sendirinya tanpa adanya pengaruh dari orang lain atupun dari luar, pengguguran kandungan seperti ini dapat terjadi dengan sendirinya karna disebabkan hal-hal lain, seperti karna masalah kesehatan sang ibu atau karna sebuah kecelakaan, Pengguguran kandungan seperti ini tidak dapat dihukum.

Menurut ilmu kedokteran Abortus Spontaneus adalah (Aborsi

Spontan/Alamiah), yaitu : berlangsung tanpa tindakan apapun atau tidak disengaja. Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma, kecelakaan dan sebagainya.

Menurut Bambang Poernomo merumuskan pengertian abortus spontaneous sebagi berikut:

“Abortus Spontaneous adalah abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa

adanya pengaruh dari luar”18

Menurut Kurnia pengertian abortus spontaneos adalah gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami. Dalam bahasa

sehari-hari, istilah "keguguran" biasanya digunakan untuk Abortus Spontaneous.19

(16)

22

Yang termasuk dalam Abortus Spontaneous adalah seperti;

1. Imminence (aborsi yang mengancam) berupa pendarahan yang disertai oleh kontraksi pada uterus. Aborsi imminence ini masih bisa dipertahankan, biasanya ibu diminta istirahat baring (bed-rest) dan diberi obat untuk menguatkan kehamilan kembali.

2. Aborsi incipience yaitu aborsi yang sedang berlangsung, yang biasanya tidak dapat dipertahankan lagi kehamilannya. Biasanya ini ditandai dengan adanya pendarahan yang begitu hebat.

3. Incomplete abortion (aborsi yang tidak lengkap) dimana sebagian hasil konsepsi keluar sedang sebagian masih tertinggal di dalam. Biasanya hal ini disertai pendarahan hebat atau banyak sekali, karena sebagian hasil konsepsi tertinggal didalam, akan diperlukan tindakan kuret untuk mernbersihkan sisa konsepsi tadi.

4. Complete abortion dimana semua hasil konsepsi keluar secara utuh, sehingga dalam hal ini tidak dibutuhkan tindakan dengan alat lain jika telah dipastikan oleh dokter bahwa hasil konsepsi telah keluar semua.

2.2.4 Aborsi yang disengaja

Aborsi yang disengaja atau yang dikenal dengan sebutan abortus provocatus adalah suatu jenis pengguguran kandungan (abortus) yang sengaja dibuat oleh seseorang dengan suatu maksud tertentu Abortus Provocatus (disengaja, digugurkan) .

(17)

23

Dalam hal ini aborsi dilakukana dengan maksud tertentu entah dengan alasan medis ataupun tanpa adanya alasan dari dunia medis.

Menurut Obstetri Patologi abortus provocatus pada dasarnya terbagi atas dua:

a. Abortus Provacatus Criminalis, adalah pengguguran kandungan (abortus) tanpa alasan medis yang sah dan dilarang oleh hukum. Seperti dalam rumusan Pasal 346,347,348

b. Abortus Provacatus therapeuticus adalah pengguguran kandungan

(abortus), biasanya dengan alat-alat,dengan alasan kehamilan

dapatmembahayakan nyawa sang ibu, dan pengguguran kandungan ini mendapatkan pertimbangan medik menurut ilmu kedokteran.

Dasar hukum mengenai Abortus Provacatus therapeuticus dirumuskan dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Pasal 15;

“Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinya dapat dilakukan tindakan medis tertentu”

Kemudian dalam Undang-Undang Kesehatan No.36 Tahun 2009 Pasal mengenai aborsi ini lebih dipertegas lagi. Dalam Pasal 75 Ayat 1 dinyatakan dengan tegas bahwa;

“Setiap orang dilarang melakukan aborsi

Selanjutnya dijelaskan bahwa tindakan medis tertentu atau aborsi hanya dapat dilakukan:

a. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut. b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan.

(18)

24

c. Disetujui oleh ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya. d. Pada sarana kesehatan tertentu

Ketentuan larangan aborsi ini dikecualikan berdasarkan Undang-Undang Kesehatan No.36 Tahun 2009 Pasal 75 Ayat 2, berdasarkan

a. Indikasi kegawatdaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan cacat bawaan maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup diluar kandungan.

b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.

Pengguguran yang disengaja dengan melanggar ketentuan hukum (Abortus Provacatus Criminalis) yang terdapat dalam KUHP menganut prinsip “ilegal tanpa kecuali” dinilai para medis sangat memberatkan paramedis dalam melakukan tugasnya. Pasal tentang aborsi yang diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana juga bertentangan dengan Pasal 75 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, dimana melarang dilakukanya aborsi dalam segala alasan dan sisi lain memperbolehkanya dengan alasan dan berdasarkan indikasi medis untuk menyelamatkan ibu hamil.

Pengguguran kandungan (Abortus Provacatus Criminalis) apapun alasanya tidak dibenarkan oleh hukum pidana ataupun hukum norma agama. Hal itu dikarenakan bertentangan dengan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat,karna tindakan aborsi sama saja dengan tindakan pembunuhan karna menghilangkan nyawa terhadap janin yang dikandung yang seharusnya

(19)

25

dilindungi. Alasam inilah sehingga KUHP Pada Buku II bab XIX menentuknya sebagi kejahatan terhadap nyawa khusnya tehadap janin yang dikandung.

Abortus Provacatus Criminalis tersebut didalam norma hukum yang diatur secara tegas dalam rumusan pasal 346, 367, 348, dan 349.Dengan demikian aborsi jenis ini memberikan ancaman pidana bagi yang melakukanya.

Referensi

Dokumen terkait

IDENTIFIKASI DATA DASAR 

Kegiatan Penyuluhan Anti Narkoba diberikan kepada peserta yang hadir merupakan target potensial penyebaran narkoba yang terdiri kalangan geenrasi muda yaitu siswa

Untuk mengetahui proses itu, penulis melakukan wawancara dengan 2 (dua) narasumber dari Tempo, wartawan dan redaktur yang menulis berita Jokowi, dan 2 (dua)

Oleh karena itu sebagai orang tua, sebagai pendidik, sebagai orang dewasa yang peduli terhadap perkembangan anak, maka saat anak pada usia emas berikan mereka stimulus

If multivariate analysis methods are applied to phenotypic traits according to the UPOV descriptor for the standard grain quality maize inbreds there is a clear indication that

Bahwa berdasarkan alasan-alasan sebagaimana tersebut di atas, baik berdasarkan ketentuan Pasal 69 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek maupun berdasarkan

Media Pembelajaran merupakan perantara yang berfungsi untuk memudahkan proses pembelajaran, pemahaman materi dan mencapai tujuan pembelajaran. Media dapat berupa perangkat keras

Foto FESEM untuk sampel dengan konsentrasi 100 mM dan aspek rasio 1:1 menunjukkan bahwa nanopartikel ZnO yang tumbuh di atas substrat FTO lebih merata dan