BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Setiap agama memiliki pedoman hukum berupa kitab suci, begitu juga halnya dengan islam. Agama Islam memiliki al-Quran sebagai kitab suci
sekaligus dasar rujukan pertama, dan Hadis Nabi sebagai sumber hukum kedua.1
Antara keduanya tidak bisa dipisahkan. Al-Quran sebagai sumber yang memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum dan global, yang perlu dijelaskan lebih lanjut
dan terperinci. Disinilah hadis menempati posisinya sebagai penjelas al-Quran.2
Imam Syafi’i> menyebutkan terdapat lima fungsi hadis terhadap al-Quran, yaitu bayan al-tafshil (penjelasan dengan memerinci ayat-ayat mujmal),
bayan
al-takhs}is}
(penjelasan Nabi dengan cara membatasi atau mengkhususkanayat-ayat al-Quran yang bersifat umum, sehingga tidak berlaku pada bagian-bagian tertentu yang mendapat pengecualian), bayan al-ta’yin (penjelasan Nabi yang berfumgsi menentukan mana yang dimaksud diantara dua atau tiga perkara yang mungkin dimaksudkan oleh al-Quran), bayan al-tasyri’ (penjelasan hadis yang berupa penetapan suatu hukum atau atau aturan syar’i yang tidak didapati dalam al-Quran), bayan al-nasakh (penjelasan hadis yang menghapus ketentuan
hukum yang terdapat dalam al-Quran).3
1Muhid dkk, Metodologi Penelitihan Hadis (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2013), 7
2Idri, Study hadis (Jakarta: KENCANA, 2010), 24 3Ibid
2
Banyak ayat al-Quran dan hadis nabi yang menjelaskan fungsi hadis sebagai sumber hukum islam selain al-Quran yang wajib diikuti sebagaimana
mengikuti al-Quran.4 Dalam surat al- nisa’ ayat 59 Allah berfirman;
$pκš‰r'¯≈tƒ t⎦⎪Ï%©!$# (#þθãΨtΒ#u™ (#θãè‹ÏÛr& ©!$# (#θãè‹ÏÛr&uρ tΑθß™§9$# ’Í<'ρé&uρ ÍöΔF{$# óΟä3ΖÏΒ ( βÎ*sù ÷Λä⎢ôãt“≈uΖs? ’Îû &™ó©x« ùs ã Š– ρ νç )Î <n ’ #$ ! « ρu #$9 § ™ ßθ Α É )Î β .ä Ψ ⎢äΛ÷ ?è σ÷ ΒÏ Ζã θ β t /Î $$ ! « ρu #$9ø ‹u θö ΘÏ #$ ψ F z ÅÌ 4 Œs ≡9Ï 7 y z yö× ρu &r m ô ¡ |⎯ß ?s 'ù ρÍ ƒ ξ ¸ ٥ .
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Dalam salah satu hadis Nabi terdapat pernyataan mengenai kewajiban menjadikan al-Quran dan hadis sebagai pedoman utama, sebagaimana hadis berikut:
ُﺖْﻛَﺮَـﺗ
ُﻜﻴِﻓ
ْﻢ
ِﻦْﻳَﺮْﻣَأ
ْﻦَﻟ
اﺪﺑأاﻮﱡﻠِﻀَﺗ
ﺎَﻣ
ْﻢُﺘْﻜﱠﺴََﲤ
ﺎَﻤِِ
:
َبﺎَﺘِﻛ
ِﱠﻟﻠﻪا
َﺔﱠﻨُﺳَو
ِﻪِﻟﻮُﺳَر
٦.
Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian, dan kalian tidak akan tersesat selama-lamanya sepanjang kalian masih berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa berpegang teguh kepada hadis atau menjadikan hadis sebagai pegangan dan pedoman hidup adalah wajib, sebagaimana wajibnya berpegang teguh kepada al-Quran. Hadis merupakan pembicaraan yang diriwayatkan atau disosialisasikan kepada Nabi Muhammad
4Muhid dkk, Hadits, 7
5Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahanya, 128
6Muslim ibn al-H}ajj>aj Abu> al-H}asan al-Qushayri> al-Naysa>bu>ri>, S}ah}i>h} Muslim, (Beirut:
3
saw. Ringkasnya, segala sesuatu yang berupa berita yang dikatakan berasal dari Nabi disebut Hadis. Boleh jadi berita itu berwujud ucapan, tindakan, pembiaran (taqrir), keadaan, dan lain-lain.7
Kemudian, karena hadis itu berasal dari Nabi dan setiap orang islam harus mengikuti jejaknya, maka hadis merupakan suatu ajaran islam disamping al-Quran. Maka ada rumusan, al-Quran disebut wahyu yang matluw karena dibicarakan oleh malaikat Jibril dan hadis disebut wahyu yang ghairu matluw sebab tidak dibicarakan oleh malaikat Jibril, tetapi ia semacam ilham yang masuk
dalam hati nurani Nabi.8
Dilihat dari segi bentuknya, hadis Nabi dapat diklasifikasikan menjadi lima, yaitu: hadis yang berupa ucapan (hadis qawli), hadis yang berupa perbuatan (hadis fi’li), hadis yang berupa persetujuan (hadis taqriri), hadis yang berupa hal ihwal (hadis ahwali), hadis yang berupa cita-cita (hadis hammi).9 Sebagaimana manusia pada umumnya, Nabi mempunyai cita-cita, sebagian cita-cita itu tercapai sebagian tidak. Hadis yang berisi tentang cita-cita Nabi disebut dengan hadis hammi, yaitu hadis yang berupa keinginan atau hasrat Nabi yang belum terealisaikan. Seperti halnya hasrat berpuasa pada hari ke sembilan muharram. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas berikut ini;
ُﻦْﺑا ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ﱡيِﺮْﻬَﻤْﻟا َدُواَد ُﻦْﺑ ُنﺎَﻤْﻴَﻠُﺳ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
َﻊَِﲰ ُﻪﱠﻧَأ ُﻪَﺛﱠﺪَﺣ ﱠﻲِﺷَﺮُﻘْﻟا َﺔﱠﻴَﻣُأ َﻦْﺑ َﻞﻴِﻌَْﲰِإ ﱠنَأ َبﻮﱡﻳَأ ُﻦْﺑ َﲕَْﳛ ِﱐَﺮَـﺒْﺧَأ ٍﺐْﻫَو
َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﱠﻟﻠﻪا ﻰﱠﻠَﺻ ﱡِﱯﱠﻨﻟا َمﺎَﺻ َﲔِﺣ ُلﻮُﻘَـﻳ ٍسﺎﱠﺒَﻋ َﻦْﺑ ِﱠﻟﻠﻪا َﺪْﺒَﻋ ُﺖْﻌَِﲰ ُلﻮُﻘَـﻳ َنﺎَﻔَﻄَﻏ ََأ
اَرﻮُﺷﺎَﻋ َمْﻮَـﻳ
ِﻪِﻣﺎَﻴِﺼِﺑ ََﺮَﻣَأَو َء
7 Muh Zuhri, Hadis Nabi (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2003), 1
8 Ibid, 2 9 Idri, hadis, 8
4
ْﻴَﻠَﻋ ُﱠﻟﻠﻪا ﻰﱠﻠَﺻ ِﱠﻟﻠﻪا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻘَـﻓ ىَرﺎَﺼﱠﻨﻟاَو ُدﻮُﻬَـﻴْﻟا ُﻪُﻤِّﻈَﻌُـﺗ ٌمْﻮَـﻳ ُﻪﱠﻧِإ ِﱠﻟﻠﻪا َلﻮُﺳَر َ اﻮُﻟﺎَﻗ
ُﻞِﺒْﻘُﻤْﻟا ُمﺎَﻌْﻟا َنﺎَﻛ اَذِﺈَﻓ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪ
ْﻘُﻤْﻟا ُمﺎَﻌْﻟا ِتَْ ْﻢَﻠَـﻓ ِﻊِﺳﺎﱠﺘﻟا َمْﻮَـﻳ ﺎَﻨْﻤُﺻ
َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﱠﻟﻠﻪا ﻰﱠﻠَﺻ ِﱠﻟﻠﻪا ُلﻮُﺳَر َِّﰲُﻮُـﺗ ﱠﱴَﺣ ُﻞِﺒ
١٠Dalam sebuah hadis dari ibn ‘abbas dinyatakan bahwa ketika nabi berpuasa pada hari asyura pada tanggal sepuluh dan memerintahkan para sahabat berpuasa, mereka berkata wahai nabi hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang yahudi dan nasrani, Nabi bersabda; tahun akan datang insya allah aku akan berpuasa pada hari ke sembilan, namun tidak sampai pada tahun akan datang Rasullah SAW wafat.
Senada dengan hadis tentang puasa tasu’ah dan sebagai penguat terhadap hadis tersebut, yaitu sebagai berikut;
11
َﻊ ِﺳﺎﱠﺘﻟا ﱠﻦَﻣﻮُﺻََﻷ ٍﻞِﺑﺎَﻗ َﱃِإ ُﺖﻴِﻘَﺑ ْﻦ ِﺌَﻟ:ﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪﻴَﻠَﻋ ُﱠﻟﻠﻪا ﻰ ﱠﻠَﺻ ِﱠﻟﻠﻪا لﻮُﺳَر لﺎﻗ ،لﺎﻗ ﺎﻤُﻬﻨَﻋ ُﱠﻟﻠﻪا َﻲِﺿَر سﺎﺒﻋ ﻦﺑا ﻦﻋو
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan”Hadis diatas menjelaskan tentang puasa
ta>su>‘a>’
yaitu puasa di hari kesembilan pada bulan muharram. Dalam riwayat hadis dari Abu> Hurairah r.a dia di
dalam menjelaskan puasa yang terdapat pada bulan muharram ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,
12
ِﻞْﻴﱠﻠﻟا ُةَﻼَﺻ ِﺔَﻀﻳِﺮَﻔْﻟا َﺪْﻌَـﺑ ِةَﻼﱠﺼﻟا ُﻞَﻀْﻓَأَو ُمﱠﺮَﺤُﻤْﻟا ِﱠﻟﻠﻪا ُﺮْﻬَﺷ َنﺎَﻀَﻣَر َﺪْﻌَـﺑ ِمﺎَﻴِّﺼﻟا ُﻞَﻀْﻓَأ
Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam.
Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan
10Sulaima>n ibn al-Ash’as ibn Ish}a>q ibn Bashi>r ibn Syida>d ibn Amr al-Azdi> al-Sijistani>,
Sunan Abi> Da>wud, Vol 4(Kairo: Da>r al-H}adi>th, 1999), 429 11Muslim >, S}ah}i>h} Muslim, Jilid 4505
5
lainnya, setelah bulan Ramadhan disaat Rasulullah berpuasa di pada tanggal sepuluh di bulan muharram atau yang di sebut dengan puasa
‘a>shu>>ra’>
kemudian beliau memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa di hari itu, para sahabatnya memberi tahu bahwa saat itu puasa bagi pemeluk yahudi dan nasrani, karena hari ‘ashu>ra’>
adalah hari dimana Allah selamatkan Musa a.s dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar. Hal tersebut berdasarkan hadis riwayat dari Ibnu ‘Abb>as,، َبﻮﱡﻳَأ ْﻦَﻋ ، ُنﺎَﻴْﻔُﺳ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ، َﺮَﻤُﻋ ِﰊَأ ُﻦْﺑا ِﲏَﺛﱠﺪَﺣو
ٍسﺎﱠﺒَﻋ ِﻦْﺑا ِﻦَﻋ ، ِﻪﻴِﺑَأ ْﻦَﻋ ، ٍْﲑَـﺒُﺟ ِﻦْﺑ ِﺪﻴِﻌَﺳ ِﻦْﺑ ِﱠﻟﻠﻪا ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ
َلﺎَﻘَـﻓ ،َءاَرﻮُﺷﺎَﻋ َمْﻮَـﻳ ﺎًﻣﺎَﻴِﺻ َدﻮُﻬَـﻴْﻟا َﺪَﺟَﻮَـﻓ ، َﺔَﻨﻳِﺪَﻤْﻟا َمِﺪَﻗ ِﱠﻟﻠﻪا َلﻮُﺳَر ّنَأ ،ﺎَﻤُﻬْـﻨَﻋ ُﱠﻟﻠﻪا َﻲِﺿَر
اَﺬَﻫ ﺎَﻣ " : ِﱠﻟﻠﻪا ُلﻮُﺳَر ْﻢَُﳍ
ُمْﻮَـﻴْﻟا
َـﻗَو َنْﻮَﻋْﺮِﻓ َقﱠﺮَﻏَو ،ُﻪَﻣْﻮَـﻗَو ﻰَﺳﻮُﻣ ِﻪﻴِﻓ ُﱠﻟﻠﻪا ﻰَْﳒَأ ،ٌﻢﻴِﻈَﻋ ٌمْﻮَـﻳ اَﺬَﻫ : اﻮُﻟﺎَﻘَـﻓ ،" ؟ُﻪَﻧﻮُﻣﻮُﺼَﺗ يِﺬﱠﻟا
ﻰَﺳﻮُﻣ ُﻪَﻣﺎَﺼَﻓ ُﻪَﻣْﻮ
َﻓ ، ْﻢُﻜْﻨِﻣ ﻰَﺳﻮُِﲟ َﱃْوَأَو ﱡﻖَﺣَأ ُﻦْﺤَﻨَـﻓ " : ِﱠﻟﻠﻪا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻘَـﻓ ،ُﻪُﻣﻮُﺼَﻧ ُﻦْﺤَﻨَـﻓ ،اًﺮْﻜُﺷ
" ِﻪِﻣﺎَﻴِﺼِﺑ َﺮَﻣَأَو ِﱠﻟﻠﻪا ُلﻮُﺳَر ُﻪَﻣﺎَﺼ
١٣Ketika tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa
‘a>shu>ra>’
. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya, ”Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?” orang-orang yahudi tersebut menjawab, ”Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lantas berkata, ”Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.”. Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.Hanya saja Rasulullah berniat untuk berpuasa hari ke sembilan sebagai penyelisihan terhadap Ahlul Kitab, setelah dikhabarkan kepada beliau bahwa hari
6
tersebut diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashara. Oleh karena itu Imam Nawawi berkata, “ Imam Shafi‘i dan para Sahabatnya, Ah}mad, Ish}aq dan selainnya berpendapat ; Disunnahkan untuk berpuasa hari ke sembilan dan ke sepuluh karena Nabi berpuasa hari ke sepuluh serta berniat untuk puasa hari ke sembilan. Sebagian Ulama berkata, “Barangkali sebab puasa hari ke sembilan bersama hari ke sepuluh adalah agar tidak menyerupai orang-orang Yahudi jika hanya berpuasa hari kesepuluh saja. Dan dalam hadis tersebut memang terdapat indikasi ke arah itu.
Nabi bercita-cita atau berkeinginan untuk berpuasa pada hari ke sembilan bulan muharram, hasrat dan cita-cita itu belum sempat terealisir karena beliau
wafat sebelum datangnya bulan muharram tahun berikutnya. Sikap Nabi seperti
demikian untuk menghindari waktu yang bersamaan dengan hari besar dan puasa
orang-orang Yahudi dan Nasrani.14
Hasrat Nabi Muhammad untuk berpuasa pada hari ke sembilan muharram
belum terwujudkan dan masih berada dalam ide dan keinginan yang pelaksanaanya akan di lakukan pada masa setelahnya. Karena itu pada hakekatnya hadis kategori ini bukan perbuatan, perkataan, persetujuan atau sifat-sifat nabi tetapi perbuatan yang akan di lakukan oleh nabi pada masa-masa berikutnya dan
belum terwujud ketika nabi menginginnannya.15
Dari riwayat di atas, bisa kita ambil pelejaran, Pertama, tujuan Nabi SAW melaksanakan puasa dihari
ta>su>‘a>’
adalah untuk menunjukkan sikap14Idri, Hadis, 20
7
yang berbeda dengan orang Yahudi. Kedua, Nabi SAW belum sempat melaksanakan puasa itu. Namun sudah beliau rencanakan. Sebagian ulama menyebut ibadah semacam ini dengan istilah sunah hammiyah (sunah yang baru dicita-citakan, namun belum terealisasikan sampai beliau meninggal). Ketiga, fungsi puasa
ta>su>‘a>’
adalah mengiringi puasa ‘a>shu>ra’
>. Sehingga tidak tepat jika ada seorang muslim yang hanya berpuasata>su>‘a>’
saja. Tapi harus digabung dengan ‘a>shu>ra’
di tanggal sepuluh besoknya.16Sebagian ulama’ menjelaskan dengan mengharapkan mudah-mudahan
adanya puasa di hari ke sembilan muharram dengan sepuluh muharram tidak
menjadi penyerupaan dengan orang yahudi yang hanya mereka berpuasa tanggal
sepuluh muharram saja, dan dalam hadis di atas tentang berpuasa ditanggal
sembilan (
ta>su>‘a>’
) mengisyaratkan berhati-hati di dalam menghasilkan puasa pada sepuluh muharram yang sering di kenal dengan puasa‘a>shu>ra’
Penyerupaan ini dikenal dengan istilah tashabbuh. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi SAW bersabda,ْﻦَﻣ
ﱠﺒَﺸَﺗ
َﻪ
ٍمْﻮَﻘِﺑ
َﻮُﻬَـﻓ
ْﻢُﻬْـﻨِﻣ
١٧Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.
Dari hadis diatas perihal puasa
ta>su>‘a>’
akan di lakukan penelitiantentang kualitas, ke-
h}ujjah
-an hadis, ma’ani hadis, serta penerapan padakehidupan didalam melakukan puasa sunnah dibulan muharram, dengan cara
pema’naan hadis, kritik sanad dan matan sekaligus dengan
takhrij h}adits
.
16Abi> al-T}ayyib Muhammad Shamsi al-H}aq al-‘Adhi>m Aba>dima‘, ‘Aun al- Ma‘bu>d
Sharh} Sunan Abi> Da>wud, Vol. 4,(Da>r al-Kitab al-‘Alamiyah: Beirut,t.t), 80 17Abu> Da>wud, Da>wud. 721
8
B. Identifikasi masalah
Hadis yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah hadis riwayat Ima>m Abi> Da>wud dalam Kitab
Sunan Abi> Da>wud
nomor indeks 2445. Maka dalam skripsi ini, dapat diidentifikasi beberapa masalah yang akan dibahas, di antaranya:1. Persoalan tentang puasa dihari kesembilan pada bulan muharram (
ta>su>‘a>’
) 2. Gambaran mengenai kitabSunan Abi> Da>wud
beserta pengarangnya (Ima>mSulaiman ibn Ash’as ibn Isha>q ibn Basyi>r ibn Syida>d ibn Amr Azdi al-Sijistani).
3. Kualitas hadis dalam kitab
Sunan Abi> Da>wud
nomor indeks 2445. 4. Kehujjahan hadis dalam kitabSunan Abi> Da>wud
nomor indeks 2445.5. Pemaknaan hadis tentang puasa
ta>su>‘a>’
dalam kitabSunan Abi> Da>wud
nomor indeks 2445.6. Bagaimana penerapan hadis tentang puasa
ta>su>‘a>’
pada masyarakatAgar mendapat hasil penelitian yang maksimal, diperlukan adanya batasan masalah untuk meghindari perluasan dalam penelitian, dengan demikian penulisan skripsi ini bisa terfokus pada batasan masalah yang ingin dibahas. Dari beberapa masalah yang sudah teridentifikasi, peneliti membatasi pada 4 permasalahan, diantaranya:
1. Kualitas hadis tentang puasa
ta>su>‘a>’
. 2. kehujjahan hadis tentang puasata>su>‘a>’
. 3. Pemaknaan hadis tentang puasata>su>‘a>’
. 4. Penerapan pada masyarakat.
9
Dari batasan masalah di atas, peneliti dapat merumuskan beberapa permasalahan untuk memperkuat fokus penelitian ini, di antaranya:
1. Bagaimana kualitas dan ke
-h}ujjah
-an hadis tentang puasata>su>‘a>’
dalamSunan Abi> Da>wud
No Indeks 2445?2. Bagaimana pemaknaan tentang hadis puasa
ta>su>‘a>’
dalamSunan Abi>
Da>wud
No Indeks 2445?3. Bagaimana penerapan hadis tentang puasa
ta>su>‘a>’
pada masyarakat? D. Tujuan penulisanSesuai dengan rumusan masalah di atas, penelitian ini mempunyai beberapa tujuan, di antaranya:
1. Untuk mengetahui kualitas dan ke-
h}ujjah
-an hadis puasata>su>‘a>’
dalamSunan Abi> Da>wud
No Indeks 2445.2. Untuk memahami pemaknaan tentang hadis puasa
ta>su>‘a>’
dalam SunanAbi>
Da>wud
No Indeks 2445.3. Untuk mengetahui penerapan hadis tentang puasa
ta>su>‘a>’
pada masyarakat. E. Kegunaan penelitihanHasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk hal-hal sebagai berikut:
1. Secara teoritis penelitian ini akan menambah khazanah keilmuan dalam bidang hadis dan
‘Ulu>m al-H}adi>th
serta memperkaya terhadap pengetahuan kajian hadis tentang puasata>su>‘a>’
dalam SunanAbi> Da>wud
No Indeks 2445. 2. Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi pemahaman yang
10
3. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan penelitian yang sejenis.
4. Penelitian ini di harapkan untuk di lakukan kajian lanjut oleh peneliti setelahnya.
F. Kajian Pustaka
Ada beberapa karya yang membahas masalah yang hampir serupa dengan penelitian ini;
1. Skripsi dari Fakultas Ushuluddin Dan Filsafat dengan judul: Studi kualitas hadis tentang puasa
‘a>shu>ra>’
dalam kitab Sunan Abi> Da>wud dan musnad ahmad bin hambal Skripsi oleh M. Sholeh dari fakultas Ushuluddin Iain Sunan ampel surabaya tahun 2007, dalam skripsi ini dijelaskan dalam kehujjahannya puasa‘a>shu>ra>’
hukumnya sunnah dan tidak wajib, para ulama salaf dan khalaf bersepakat bahwa hari ‘Asyura merupakan hari kesepuluh pada setiap bulan muharram.G. Metode penelitihan 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif beberapa kata-kata tertulis atau lisan dari suatu objek yang dapat diamati dan diteliti.18 Di samping itu, penelitian ini juga menggunakan penelitian library research (penelitian perpustakaan), dengan mengumpulkan data dan informasi dari data-data
18 Lexy J. Moleing, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), 3.
11
tertulis baik berupa literatur berbahasa arab maupun literatur berbahasa indonesia yang mempunyai relevansi dengan penelitian.
2. Sumber Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini, bersumber dari dokumen perpustakaan tertulis, seperti kitab, buku ilmiah dan referensi tertulis lainnya. Data-data tertulis tersebut terbagi menjadi dua jenis sumber data. Yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder, yaitu:
a. Sumber data primer merupakan rujukan data utama dalam penelitian ini, yaitu:
1)
Sunan Abi> Da>wud.
Kitab Hadis Nabawi karangan Ima>m Sulaima>n ibn Ash’ash ibn Ish}a>q ibn Bashi>r ibn Syida>d ibn Amr Azdi> al-Sijistani>.b. Sumber data sekunder, merupakan referensi pelenkap sekaligus sebagai data pendukung terhadap sumber data primer. Adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini diantaranya:
1)
‘Au>n al-Ma’bu>d, Sharh}
dari kitab Sunan Abi> Da>wud karanganAbi>
al-T}ayyib Muhammad shamsh al-Haq al-‘Az}i>m a>ba>di>
2)
Sah}i>h} Muslim
, karya Muslim ibn al-H}ajj>aj Abu> al-H}asan al-Qusyairi> al-Naisa>bu>ri3) Musnad
Ima>m Ah}mad ibn H}anbal
, karya Imam Ahmad ibn Hanbal4)
‘Mu’jam al-Mufahras li alfa>z} al-Hadi>th,
karya A. J. Wensinck 5) Metodologi Rijalil Hadis, karya Suryadi
12
7) Metode Takhrij Penelitian Sanad Hadis, karya Mahmud al-Thahan 8) Telaah Matan Hadis: Sebuah Tawaran Metodologis karya M. Zuhri 9) Kritik Hadis: Pendekatan Historis Metodologis, Karya Umi
Sumbullah
3. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau
variabel yang berupa catatan, transkip, skripsi, buku, dan sebagainya.19
4. Langkah-langkah Penelitian
Dalam penelitian hadis, diperoeh tahapan-tahapan sebagai berikut: a.
Takhri>j
Berdasarkan metode
Takhri>j,
peneliti berusaha menelusuri asalhadis secara lengkap, dari segi matan dan keadaan sanadnya dengan lengkap. Kegiatan dalam penelitian ini dengan melakukan penelusuran
dari kata kunci dari sebagian matan hadis yang bisa dicari dengan
Mu’jam
al-Mufahras li Alfa>z} al-H}adi>th
karya A. J. Wensinck.20Takhri>j al-H}adi>th
ini merupakan suatu pekerjaan yang cukup melelahkan, karena jarus membongkar seluruh kitab hadis yang terkait. Jadi harus dihadapi dengan kesabaran, ketekunan dan kemauan yang keras. Tanpa ini, semua sulit dihasilkan dari yang diinginkan.Adapun faedah dari
takhri>j al-H}adi>th
ini antara lain:19 Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipa, 1996), 234.
13
1) Akan dapat banyak sedikitnya jalur periwayatan suatu hadis yang sedang menjadi topik kajian.
2) Dapat diketahui kuat dan tidaknya periwayatan. Makin banyaknya jalur periwayatan akan menambah kekuatan riwayat. Sebaliknya tanpa dukungan periwayatan lain, berarti keuatan periwayatan tidak bertambah.
3) Kekaburan suatu periwayatan dapat diperjelas dari periwayatan jalur
isna>d
yang lain, baik dari segira>wi>, isna>d
maupunmatn al-h{adith.
4) Dapat diketahui persamaan dan perbedaan atau wawasan yang lebihluas tentang berbagai periwayatan dan beberapa hadis yang terkait.21
b.
I‘tiba>r
I’tiba>r hadis dalam istilah ilmu hadis adalah menyertakan sanad-sanad lain untuk suatu hadis tertentu, yaitu hadis itu pada bagian
sanadnya tampak hanya seorang perawi saja.22 Kegiatan in dilakukan
untuk mengetahui jalur-jalur sand-sanad hadis dari nama-nama perawi serta metode periwayatan yang dipakai oleh setiap perawi.
c. Penelitian Sanad
Setelah melakukan
takhri>j
dan‘itibar,
langkah selanjutnya adalah kritik sanad. Dalam hal ini penulis melakukan penelitian, dan penelusuran sanad hadis tentang individu perawi dan proses penerimaan hadis dari guru mereka masing-masing dengan berusaha menemukan kekeliruan dan21 Ahmad Husnan, Kajian Hadis Metode Takhrij (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1993), 107. 22 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: PT Bulan bintang, 1992), 51.
14
kesalahan dalam rangkaian sanad untuk menemukan kebenaran, yaitu kualitas hadis itu sendiri.
Dalam penelitian sanad, digunakan metode krtik sanad dengan pendekatan keilmuan
Tari>kh al-Ruwa>h
danJarh} wa al-Ta‘di>l
.23 Peneliti berusaha mengetahui kualitas suatu hadis dengan memenuhi syarat tertentu sehingga bisa diterima atau ditolak. Jika suatu hadis memeiliki ketersambungan sanad antara peraw-perawinya, periwayatnya bersifat ‘a>dil
dand}abit}
serta terhindar darishadh
dan‘illat,
maka sanad hadistersebut sudah memenuhi syarat dan dapat diterima. d. Penelitan Matan
Melalui penelitian matan, peneliti mengkaji dan menguji keabsahan matan hadis, dengan memastikan matan hadis tersebut sesuai atau bertentangan dengan ayat al-Quran, logika, sejarah, dan hadis yang bernilai sahih atau lebih kuat kualitasnya.
5. Metode Analisis Data
Metode Analisis Data berarti menjelaskan data-data yang diperoleh melalui penelitian. Dari penelitian hadis yang secara dasar terbagi dalam dua komponen, yakni sanad dan matn, maka analisis data hadis akan meliputi dua komponen tersebut.
Dalam penelitian sanad, digunakan metode kritik sanad dengan pendekatan keilmuan
rija>l al-h}adi>th
danal-jarh} wa al-ta'di>l
, serta mencermati silsilah guru-murid dan proses penerimaan hadis tersebut (tahammul wa al-
15
ada>' ). Hal itu dilakukan untuk mengetahui integritas dan tingkatan intelektualitas seorang periwayat serta validitas pertemuan antara guru dan murid dalam periwayatan hadis.
Dalam penelitian matan, analisis data akan dilakukan dengan
menggunakan analisis isi (
content analysis
). Pengevaluasian atas validitasmatan diuji pada tingkat kesesuaian hadis (isi beritanya) dengan penegasan eksplisit Alquran, logika atau akal sehat, fakta sejarah, informasi hadis-hadis
lain yang bermutu
s}ah}i>h}
serta hal-hal yang diakui oleh masyarakat umumsebagai bagian dari integralitas ajaran Islam.24
Dalam hadis yang akan diteliti ini, pendekatan keeilmuan yang digunakan untuk analisis ini adalah
‘ilm al-ma’a>ni al-hadi>th
ynag digunakan dalam memahami arti ma’na yang terdapat dalam matan hadis. Sehingga dalam analisis ini akan diperoleh pemahaman suatu hadis yang komprehensif.H. Sistematika Pembahasan
Masalah pokok yang disebutkan di atas dalam penelitian ini dibagi menjadi lima bab antara lain:
Bab pertama, pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Bab ini digunakan sebagai pedoman acuan dan arahan sekaligus target penelitian, agar penelitian dapat terlaksana secara terarah dan pembahasannya tidak melebar.
16
Bab kedua, landasan teori yang menjelaskan tentang teori-teori yang digunakan sebagai landasan yanng menjadi tolak ukur dalam penelitian hadis. Diantaranya adalah kaidah ke-s
}
ah}
i>
h}
-an hadis, Teori Jarh}
wa al ta’di>
l, kaidah ke-h}
ujjah-an hadis dan kaidah pemaknaan hadis.Bab ketiga, tinjauan redaksional hadis tentang puasa
ta>su>‘a>’
dalam hadis Nabi Saw. yang membahas tentang biografi Ima>m Abu> Da>wud dan kitabnya Sunan Abi> Da>wud. Serta menampilkan hadis tentang puasata>su>‘a>’
yaitu meliputi:data hadis, skema sanad hadis nomor indeks 2445, I’tiba
>
r serta skema sanadnyasecara keseluruhan.
Bab keempat, merupakan analisis pemaknaan hadis tentang puasa
ta>su>‘a>’
, mengenai kehujjahan hadis tersebut, analisis makna secara umum, dan analisi penerapan hadis dalam kehidupan.Bab kelima, penutup yang berisi tentang kesimpulan dari penelitian ini, yang merupakan jawaban dari rumusan masalah, dan saran dari penulis untuk penelitian ini yang ditujukan untuk masyarakat Islam dan penelitian lebih lanjut.