i
KONTINUITAS DAN PERUBAHAN GENDANG PATAM-PATAM DALAM MUSIK TRADISIONAL KARO
SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O L E H
NOVALINDA TRINGANI GINTING NIM : 060707015
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA
DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI MEDAN
ii
KONTINUITAS DAN PERUBAHAN GENDANG PATAM-PATAM DALAM MUSIK TRADISIONAL KARO
SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O L E H
NOVALINDA TRINGANI GINTING NIM : 060707015
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Drs. Mauly Purba M.A.,Ph.D Drs. Perikuten Tarigan,M.Si NIP. 1961 0829 1989 031003 NIP. 1958 0402 1987 031003
Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat Ujian Sarjana Seni dalam bidang Ilmu Etnomusikologi.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA
DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI MEDAN
2012 Disetujui
iii FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI Ketua,
Drs. Muhammad Takari, M.Hum.,Ph.D NIP. 196512211991031001
iv PENGESAHAN
Diterima oleh:
Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Seni dalam bidang Etnomusikologi pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan.
Medan
Hari : Senin
Tanggal : 6 Februari 2012
FAKULTAS ILMU BUDAYA USU Dekan,
Dr. Syahron Lubis, M.A NIP. 1951 1013 1976 031001
PANITIA UJIAN
No. Nama Tanda Tangan
1. Drs. Muhammad Takari, M.Hum.,Ph.D ( )
2. Dra. Heristina Dewi M.Pd ( )
3. Prof. Drs Mauly Purba, M.A.,Ph.D ( )
4. Drs. Perikuten Tarigan, Msi ( )
5. Drs. Fadlin M.A ( )
v
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam skripsi ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, 11 Januari 2012
Novalinda Tringani Ginting Nim 060707015
vi
ABSTRAKSI
Skripsi ini berjudul Kontinuitas Dan Perubahan Gendang patam-patam Dalam Musik Tradisional Karo. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui bagaimana kontinuitas dan perubahan gendang patam-patam dalam musik tradisional Karo. Hal lainnya yaitu untuk melihat bagaimana pola umum ritem
gendang patam-patam bunga ncole yang dibawakan oleh tiga orang pemain musik
Karo yaitu Fakta Ginting, Sakti Sembiring dan Yanto Ginting.
Skripsi ini membicarakan bagaimana gendang patam-patam dalam kebudayaan masyarakat Karo,khususnya pada Karo Gugung, dan perubahan yang terjadi karena perubahan instrumen musiknya. Dengan adanya gendang kibod (sebutan lokal) gendang patam-patam yang dikenal sebagai salah satu komposisi musik tradisional Karo diprogram dalam bentuk pola ritem yang lagu-lagu apa saja dapat “dimasukkan” atau dimainkan. Pola ritem ini diprogram oleh musisi Karo yang mana koleksi program dari gendang patam-patam ada yang sama (dengan variasi) tetapi ada juga yang berbeda, baik dari sisi pola ritme, tempo maupun warna bunyi instrumentalnya.
Walaupun terjadi perubahan dalam gendang patam-patam namun ada pula unsur yang masih kontinu seperti melodi dan pola ritem dari gendang anak,
penganak, dan unsur bunyi gung. Meskipun telah terjadi perubahan pada instrumen
musik dan juga warna bunyi instrumennya namun gaya musik ini tetap disebut sebagai gendang patam-patam.
Kata Kunci: Gendang patam-patam bunga ncole, komposisi, pola ritem, program,
gendang lima sendalanen, gendang kibod, Fakta Ginting, Sakti Sembiring, dan
vii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan rahmat yang senantiasa diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul KONTINUITAS DAN PERUBAHAN GENDANG
PATAM-PATAM DALAM MUSIK TRADISIONAL KARO. Skripsi ini merupakan hasil
serta perjuangan dari ilmu yang telah penulis dapatkan selama menjalani kuliah di Departeman Etnomusikologi, Universitas Sumatera Utara kurang lebih lima tahun ini. Terwujudnya skripsi ini juga tidak terlepas dari doa serta dukungan dari orang-orang yang penulis kasihi, yaitu;
Kepada kedua orang tua yang sangat-sangat penulis sayangi yaitu Drs. Madju Ginting dan Rosmawati br. Pinem, saya mengucapkan terimakasih banyak atas doa yang senantiasa kalian panjatkan kepada saya, dan untuk kesabaran serta dukungan baik moril maupun materil. Kasih kalian tiada batasnya yang membuat saya tetap sabar dalam menghadapi semua masalah yang ada, begitu pula dengan nenek tigan saya yang telah mendoakan saya dengan setulus hati saya ucapkan terimakasih.
Kepada saudara/i saya, Ivo Nuhita Ginting, Mia Veraulin Ginting S.S, dan Segudan Bosco Ginting Amd, saya mengucapkan banyak terimakasih buat perhatian kakak dan abang yang begitu besar selama ini yang selalu mendoakan, memberi semangat dan juga mendukung saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
Kepada yang saya sayangi dan kasihi Berlin Immanuel Tambunan S.E yang setia menemani dan membantu saya selama proses penelitian dilapangan, saya ucapkan terimakasih atas doa, dukungan, kesabaran, motivasi sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.
viii
Kepada Ketua dan Sekretaris Departemen Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara Bapak Drs. Muhammad Takari, M. Hum.,Ph.D dan Ibu Dra. Heristina Dewi, M. Pd, saya mengucapkan banyak terimakasih untuk perhatian dan bantuannya selama menjalani proses penulisan skripsi saya hingga selesai.
Kepada Pembimbing I Bapak Prof. Mauly Purba M.A.,Ph.D, dan Pembimbing II saya Bapak Drs. Perikuten Tarigan, M.Si saya mengucapkan banyak terimakasih atas bimbingan yang telah Bapak berikan selama proses penulisan skripsi saya ini sehingga skripsi ini dapat saya selesaikan.
Kepada Seluruh Dosen Departemen Etnomusikologi yaitu Bapak Drs. Torang Naiborhu M.Hum selaku Dosen akademik, Drs. Bapak Kumalo Tarigan M.A, Ibu Dra. Rita Hutajulu M.A, Bapak Drs. Bebas Sembiring M.Si, Bapak Drs. Irwansyah Harahap M.A, Bapak Drs. Fadlin M.A, Bapak Drs. Dermawan Purba M.Si, Ibu Arifni Netriroza STT, dan Ibu Dra. Frida Deliana Harahap M.Si, serta seluruh Dosen lainnya saya mengucapkan banyak trimakasih atas ilmu yang telah diberikan selama menduduki bangku perkuliahan di Departemen Etnomusikologi.
Dan kepada informan serta narasumber saya Seter Ginting, Djasa Tarigan, Malem Ukur Ginting, Natangsa Barus S.Pd, saya ucapkan terimakasih banyak atas bantuan dan informasi yang telah diberikan kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
Kepada informan dan juga narasumber saya Seter Ginting, Djasa Tarigan, Malem Ukur Ginting, Natangsa Barus, Fakta Ginting, saya ucapkan terimakasih banyak atas bantuan dan informasi yang telah diberikan kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
Kepada staf/tata usaha di Departemen Etnomusikolgi Ibu Adri dan Bang Awang saya mengucapkan terimakasih untuk kerjasama dan bantuannya selama ini.
ix
Kepada sahabat-sahabat Tety Silva kurnia Ginting, Yunika Margaretha Ginting, Jerry Periance Saragih, Vanesia Amelia Sebayang S.Sn, Evi Nenta Sipahutar, Inta Junia Hasugian S.Sn, Rebekka Lumbantobing S.Sn, Rina Gustiani Simanjuntak S.Sn, Heydi Evelin Simorangkir S.Sn, Sansri Nuari Silitonga S.Sn, Eva Gusmala Yanti S.Sn, Jonnedi Nababan, Jefri Hutagalung S.Sn, Ananda Mora Ichsan, Amran Hutapean S.Sn, Daniel Limbong, Boby Sandy, Chical T, dan buat semua teman-teman Etnomusikologi lainnya senang rasanya mengenal kalian semua dan terima kasih teman-teman buat semangat yang selalu diberikan kepada saya untuk tetap sabar dan berjuang menyelesaikan skripsi ini.
Hormat Saya,
x
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Pokok Permasalahan ... 6 1.3 Batasan Masalah ... 7 1.4 Tujuan Penelitian ... 7 1.5 Manfaat Penelitian ... 7 1.6 Konsep ... 8 1.7 Teori ... 11 1.8 Metode Penelitian ... 15 1.8.1 Studi Kepustakaan ... 16 1.8.2 Penelitian Lapangan ... 17 1.8.3 Kerja Laboratorium ... 19 1.8.3.1 Metode Transkripsi ... 21 1.8.4 Lokasi Penelitian ... 22
BAB II MUSIK TRADISIONAL MASYARAKAT KARO 2.1 Pengenalan Terhadap Masyarakat Karo ... 24
2.2 Musik Tradisional Masyarakat Karo ... 31
2.2.1 Ensambel musik tradisional Karo ... 31
2.2.1.1 Gendang lima sedalanen ... 31
2.2.1.2 Gendang telu sedalanen ... 35
2.2.2 Instrumen musik tradisional Karo non-ensambel ... 36
2.2.2.1 Kulcapi dan belobat (baluat) ... 36
2.2.2.2 Surdam dan murbab ... 37
2.2.2.3 Embal-embal dan empi-empi ... 38
2.2.3 Musik vokal tradisional Karo ... 39
2.2.4 Instrumen keyboard dalam kebudayaan musik tradisional Karo ... 40
2.3 Penggunaan Musik Tradisional Masyarakat Karo ... 44
2.3.1 Penggunaan ensambel tradisional Karo ... 45
2.3.1.1 Upacara adat perkawinan (kerja nereh-empo) .... 45
2.3.1.2 Upacara kematian ... 46
2.3.1.3 Upacara erpangir ku lau ... 47
2.3.1.4 Mengket rumah ... 47
2.3.1.5 Gendang guro-guro aron ... 48
xi
2.3.4 Penggunaan musik vokal tradisional Karo ... 51
2.3.5 Penggunaan instrumen keyboard ... 52
2.3.5.1 Upacara adat perkawinan (kerja nereh-empo) .... 53
2.3.5.2 Upacara kematian ... 54
2.3.5.3 Upacara erpangir ku lau ... 55
2.3.5.4 Mengket rumah ... 55
2.3.5.5 Gendang guro-guro aron ... 56
2.3.5.6 Acara hiburan lainnya ... 57
BAB III DESKRIPSI STRUKTUR GENDANG PATAM-PATAM PADA GENDANG LIMA SEDALANEN DAN GENDANG KIBOD 3.1 Proses Transkripsi ... 58
3.2 Gendang Patam-Patam Pada Gendang Lima Sedalanen ... 61
3.2.1 Elemen nada 3.2.1.1 Tangga nada ... 63 3.2.1.2 Melodi ... 64 3.2.1.3 Sistem Laras ... 65 3.2.2 Elemen waktu 3.2.2.1 Ritem ... 66 3.2.2.2 Meter ... 67
3.2.3 Elemen warna bunyi 3.2.3.1 Warna bunyi instrumen ... 68
3.3 Gendang Patam-patam Pada Gendang Kibod ... 69
3.3.1 Elemen nada 3.3.1.1 Tangga nada ... 69 3.3.1.2 Melodi ... 71 3.3.1.3 Harmoni ... 76 3.3.1.4 Sistem Laras ... 77 3.3.2 Elemen waktu 3.3.2.1 Ritem ... 78 3.3.2.2 Meter ... 80
3.3.3 Elemen warna bunyi (Timbre) ... 80
3.3.3.1 Warna bunyi instrumen ... 81
3.4 Pola Umum Ritem Gendang Patam-patam Pada Gendang Kibod ... 83
BAB IV KONTINUITAS DAN PERUBAHAN GENDANG PATAM-PATAM DALAM MUSIK TRADISIONAL KARO 4.1 Terminologi Gendang Patam-patam ... 84
4.2 Gendang Patam-patam Pada Masyarakat Karo ... 86
4.3 Penggunaan Gendang Patam-Patam Dalam Aktifitas Menari Dan Menyanyi Pada Masyarakat Karo ... 92
4.4 Kontinuitas dan Perubahan Gendang Patam-patam Dalam Musik Tradisional Karo ... 97
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 107
xii
DAFTAR PUSTAKA ... 112 DAFTAR INFORMAN ... 115 LAMPIRAN ... 116
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Aksara Karo ... 26
Gambar 2.2 Gendang Lima Sedalanen ... 34
Gambar 2.3 Gendang Telu Sedalanen ... 36
Gambar 2.4 Kulcapi dan Balobat ... 37
Gambar 2.5 Surdam dan Murbab ... 38
Gambar 2.6 Instrumen Keyboard ... 43
Gambar 2.7 Pemain Keyboard Karo ... 53
Gambar 3.1 Sarune ... 66
xiv
DAFTAR TABEL
3.1 Tabel nada yang digunakan pada gendang patam-patam ... 70 3.2 Tabel Harmoni Akord Gendang Patam-patam Oleh Ketiga
Pemain Keyboard ...77 4.1 Tabel struktur komposisi atau pola ritem dalam aktifitas menari
dan menyanyi dalam iringan musik tradisional Karo ... 95 4.2 Tabel struktur komposisi atau pola ritem dalam aktifitas menari
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karo merupakan salah satu dari beberapa etnis atau suku yang terdapat di daerah Propinsi Sumatera Utara. Nama suku ini dijadikan sebagai nama Kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami yaitu Kabupaten Karo. Kabupaten karo ini yang terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Ibu kota dari kabupaten Karo adalah Kabanjahe. Berdasarkan wilayah geografis, masyarakat Karo mendiami daerah Kabupaten Karo (meliputi Tanah Karo simalem dan sekitarnya) dan Kabupaten Langkat. Masyarakat Karo yang mendiami daerah kabupaten Karo sering disebut sebagai Karo Gugung yang artinya adalah masyarakat Karo yang mendiami dataran tinggi (pegunungan), dan masyarakat Karo yang menempati Kabupaten Langkat disebut sebagai Karo Jahe yang artinya adalah sebagian masyarakat Karo yang mendiami dataran rendah wilayah Langkat dan Deli Serdang1.
Walaupun secara wilayah budaya berbeda namun masyarakat Karo Jahe dan Karo Gugung memiliki beberapa persamaan dan juga variasi dalam kebudayaan musiknya. Adapun contoh persamaan dalam kebudayaan musik Karo Jahe dan Karo Gugung antara lain adalah gendang patam. Gendang
patam-patam merupakan sebuah istilah musikal dalam kebudayaan musik Karo. Selain
1
2
pada kebudayaan musik Karo Istilah ‘patam-patam’ ini juga dapat ditemukan dalam kebudayaan musik Melayu.
Berdasarkan penelitian pendahuluan yang penulis lakukan, gendang
patam-patam merupakan judul sebuah komposisi instrumental musik tradisional
Karo2. Komposisi yang dimaksud disini adalah melodi dan juga ritem yang dihasilkan dari permainan gendang lima sedalanen (lihat lampiran hal 116-119).
Pada masyarakat Karo Jahe gendang patam-patam awalnya digunakan untuk upacara penyembuhan baik secara fisik maupun psikis oleh guru
perdewel-dewel (dukun). Gendang patam-patam dalam konteks kebudayaan musik Karo
Jahe, selalu disajikan dengan ensambel gendang binge3. Berdasarkan hasil diskusi dan wawancara dengan Natangsa Barus mengatakan bahwa terdapat beberapa nama dari gendang patam pada musik tradisional Karo Jahe yaitu
patam-patam cemet, patam-patam-patam-patam rambung mbungkar, patam-patam-patam-patam bunga ncole, patam-patam gendang sikat, patam-patam anak munte, patam-patam pudi terang, patam malem ate, patam sereng, patam pak-pak, patam kebang kiung, patam limbey, patam pudi terang, dan patam-patam simpang empat. Penamaan dari gendang patam-patam-patam-patam sendiri berasal dari
guru perdewel-dewel (dukun) yang datang dari daerah yang berbeda4. Menurut
beliau hal inilah yang menyebabkan terdapat beberapa nama yang berbeda dari komposisi gendang patam-patam.
2
Hasil wawancara dengan Djasa Tarigan 14 maret 2011, Malem Ukur Ginting 22 Maret 2011, Natangsa Barus 5 April 2011.
3
Gendang Binge merupakan ensambel tradisional masyarakat Karo Jahe, jenis instrumennya
sama dengan instrumen gendang lima sedalanen pada Karo Gugung hanya saja ukuran gendang dan sarune jauh lebih besar dan panjang dan ukuran gung lebih kecil pada Gendang Binge. 4
3
Beberapa dari komposisi gendang patam-patam yang berasal dari Karo Jahe ini kemudian menyebar ke dalam kebudayaan musik Karo Gugung, seperti
patam bunga ncole, patam sereng, patam cemet, patam-patam rambung mbungkar, patam-patam-patam-patam kabang kiung, dan patam-patam-patam-patam pudi terang. Pada perkembangannya gendang patam-patam yang berada dalam
kebudayaan Karo Gugung hanya sedikit yang masih sering disajikan dan salah satunya adalah gendang patam-patam bunga ncole. Gendang patam-patam bunga
ncole inilah yang nantinya akan di deskripsikan struktur musiknya. Dari beberapa
daerah keberadaan gendang patam-patam yang disebutkan diatas yang akan menjadi fokus dalam penelitian ini adalah gendang patam-patam bunga ncole yang terdapat pada masyarakat Karo Gugung.
Berbeda dari Karo Jahe, pada masyarakat Karo Gugung komposisi
gendang patam-patam disajikan sebagai hiburan. Gendang patam-patam ini
berawal dan berkembang dalam gendang guro-guro aron5, sebagi salah satu
komposisi dalam mengiringi aron menari. Gendang patam-patam yang berkembang di Karo Gugung pada awalnya dimainkan dengan ensambel gendang
lima sedalanen. Namun setelah instrumen keyboard masuk ke dalam kebudayaan
musik Karo yakni pada tahun 1991 instrumen keyboard mulai digunakan oleh musisi Karo. Beberapa seniman Karo mengasumsikan bahwa hadirnya instrumen
keyboard dalam kebudayaan musik Karo diperkenalkan oleh Djasa Tarigan yang
merupakan salah satu seniman dan musisi tradisional Karo yang cukup
5
Gendang guro-guro aron adalah suatu pesta muda-mudi yang dilaksanakan berdasarkan adat dan kebudayaan Karo, dengan memakai musik Karo dan perkolong-kolong (Prints, 2004:280).
4
berpengaruh dalam perkembangan musik Karo khususnya gendang kulcapi,
gendang kibod,dan juga dalam memprogram gendang patam-patam.
Awalnya instrumen keyboard yang digabungkan dengan gendang lima
sedalanen digunakan untuk penambahan bunyi perkusi yang tersedia pada
instrumen keyboard. Instrumen keyboard ini kemudian dikenal dengan istilah
gendang keyboard (dibaca gendang kibod6). Gendang kibod merupakan istilah yang sering diucapkan oleh masyarakat Karo terhadap jenis ritem musik yang diprogram secara khusus di dalam keyboard. Pada perkembanganya, gendang
kibod dapat dimainkan secara tunggal untuk mengiringi upacara-upacara adat
pada masyarakat Karo.
Walaupun gendang kibod dapat menggantikan kehadiran dari gendang
lima sedalanen, namun gendang patam-patam tetap kontinu dalam kebudayaan
musik tradisional Karo. Perubahan pada ensambel musik yang digunakan yaitu dari gendang lima sedalanen ke gendang kibod juga memberi perubahan pada unsur komposisi gendang patam-patam. Dengan menggunakan instrumen
keyboard gendang patam-patam diprogram menjadi sebuah pola ritem dengan
unsur bunyi yang diimitasikan atau ditiru dari unsur bunyi yang terdapat pada
gendang lima sedalanen. Dan pada perkembangannya unsur bunyi musikal yang
digunakan dalam program gendang patam-patam kini sudah tidak mirip seperti instrumen musik tradisional yang terdapat dalam gendang lima sedalanen. Dengan menggunakan instrumen keyboard, gendang patam-patam yang
6
Penyebutan pada masyarakat Karo pada umumnya adalah Gendang kibod yang selanjutnya akan digunakan penulis.
5
sebelumnya merupakan sebuah komposisi musik tradisional yang dimainkan dengan gendang lima sedalanen kini di format menjadi pola ritem. Dengan pola ritem dari gendang patam-patam telah diprogram ini lagu apa saja, bahkan dari luar kebudayaan musik Karo, dapat ‘dimasukkan’ atau dimainkan.
Dari pengamatan penulis dan berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa seniman Karo Gugung mengatakan bahwa mereka (para musisi/pemain musik) memiliki program khusus gendang patam-patam. Program tersebut dapat disimpan dalam hard disk7, disket8, atau memory card/chip (penyimpan data).
Koleksi program gendang patam-patam yang terdapat pada masing-masing
keyboard ada yang sama (dengan variasi) tetapi ada juga yang berbeda, baik dari
sisi pola ritem, warna bunyi instrumen serta gaya penggarapan ornamentasi musikal.
Persamaan maupun variasi atau perbedaan dari koleksi gendang
patam-patam khusunya gendang patam-patam-patam-patam bunga ncole juga dapat dilihat dari ketiga perkibod (pemain keyboard) yaitu Fakta Ginting, Sakti Sembiring dan Yanto
Tarigan yang sering sekali diundang untuk mengiringi upacara adat maupun hiburan dalam kebudayaan musik Karo. Perbedaan dalam program gendang
patam-patam wajar terjadi karena setiap pemain gendang kibod memiliki
kemampuan bermain musik yang berbeda.
7
Hard disk adalah sebuah komponen perangkat keras yang menyimpan data sekunder dan berisi
piringan magnetis (http://id.wikipedia.org./wiki/cakram_keras). 8
Disket adalah sebuah perangkat penyimpanan data yang terdiri dari sebuah medium penyimpanan
magnetis bulat yang tipis dan lentur dan dilapisi lapisan plastik berbentuk persegi atau persegi panjang (http://id.wiki.org/wiki/disket).
6
Berdasarkan uraian diatas, terlihat bahwa gendang patam-patam telah mengalami perkembangan dalam musik tradisionalnya oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti bagaimana kontinuitas dan perubahan gendang
patam-patam dalam musik tradisional Karo. Kotinuitas dan perubahan ini akan dilihat
dari era sebelum dan sesudah instrumen keyboard hadir dalam kebudayaan musik Karo atau dari tahun 1990 – sekarang.
Penelitian ini bermaksud untuk mengungkap bagaimana latar belakang
gendang patam-patam khususnya pada kebudayaan Karo Gugung, bagaimana
kontinuitas dan perubahan gendang patam-patam dari ensambel gendang lima
sedalanen beralih ke gendang kibod, dan bagaimana pola ritem gendang patam-patam yang umum yang didapat dari permainan ketiga perkibod yaitu Fakta
Ginting, Sakti Sembiring dan Yanto Tarigan. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis memberi judul penelitian ini: Kontinuitas Dan Perubahan Gendang
Patam-patam Dalam Musik Tradisional Karo.
1.2 Pokok Permasalahan.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka skripsi ini akan membahas dua pokok permasalahan yaitu:
1. Bagaimana kontinuitas dan perubahan gendang patam-patam dalam musik tradisional Karo.
2. Bagaimana pola umum ritem gendang patam-patam bunga ncole pada gendang
7 1.3 Batasan Masalah
Agar pembahasan tidak terlalu meluas dan lebih fokus maka penulis memberi batasan masalah. Dalam mengamati kontinuitas dan perubahan gendang
patam-patam dalam musik tradisional Karo, penulis akan membatasi berdasarkan
era sebelum dan sesudah instrumen keyboard hadir dalam kebudayaan musik Karo atau dari tahun 1990 – sekarang. Penulis juga ingin memberi batasan bahwa
gendang patam-patam yang akan menjadi fokus dalam mendeskripsikan struktur
musiknya adalah gendang patam-patam bunga ncole yang terdapat dalam kebudayaan musik tradisional Karo Gugung.
1.4 Tujuan Penelitian.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana kontinuitas dan perubahan gendang patam-patam dalam musik tradisional Karo.
2. Untuk mengetahui bagaimana pola umum ritem gendang patam-patam bunga
ncole pada gendang kibod.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai dokumentasi dan sarana literatur tentang kontinuitas dan perubahan
gendang patam-patam dalam musik tradisional Karo.
2. Pengembangan ilmu pengetahuan di bidang Etnomusikologi yang berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai budaya daerah khususnya Karo.
8 1.6 Konsep
Kontinuitas adalah sesuatu yang berlangsung secara berkesinambungan dalam jangka waktu tertentu. Kontinuitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2000:591) adalah berkesinambungan; kelangsungan; kelanjutan; keadaan kontinu. Konsep kontinuitas yang dimaksud disini adalah keberlanjutan gendang
patam-patam dalam musik tradisional Karo. Dimana dengan adanya fenomena gendang kibod, konsep/ide musik tersebut masih terus berlanjut namun telah
terjadi perubahan ataupun variasi.
Perubahan dalam suatu kebudayaan sangat wajar terjadi, karena tidak ada kebudayan yang tidak berubah. Perubahan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2000:1234) adalah hal (keadaan) berubah; peralihan; pertukaran. Perubahan merupakan suatu proses dimana suatu keadaan berubah dan bisa juga dikatakan peralihan dari suatu masa/era. Perubahan yang dimaksud dalam konsep ini adalah suatu perubahan/peralihan yang terjadi pada instrumen musik tradisional Karo yang tentu saja memberi perubahan terhadap musiknya khususnya gendang patam-patam. Dalam hal ini penulis bermaksud melihat perubahan yang terjadi merupakan sebuah tindakan yang dilakukan oleh seniman Karo dengan adanya inovasi dan kreatifitas dalam musik tradisionalnya. Kontinuitas dan perubahan ini akan dibatasi pada era sebelum dan sesudah instrumen keyboard hadir dalam kebudayaan musik Karo.
9
Pada masyarakat Karo kata gendang mempunyai makna jamak sesuai dengan konteks penggunaanya. Jabatin Bagun menguraikan tujuh pengertian
gendang yaitu:
(1) gendang sebagai ensambel; gendang lima sedalanen adalah sekumpulan instrumen yang terdiri dari satu buah sarune, dua buah
gendang (gendang singanaki dan gendang singindungi: “gendang
berarti sebagai instrumen), serta dua buah gong (gung dan
penganak). Kelima instrumen tersebut berjalan/ bermain bersama
sebagai satu grup atau ensambel; (2) gendang sebagai repertoar (kumpulan komposisi). Gendang guru adalah suatu kumpulan komposisi, yang ditampilkan secara alternatif. Artinya ada beberapa komposisi yang mungkin dipilih untuk ditampilkan, misalnya: komposisi untuk trance (gendang peselukken); (3) gendang sebagai upacara, ini dapat dilihat pada gendang cawir metua. Gendang cawir
metua adalah satu upacara kematian “sempurna”, dengan pengertian
bahwa seluruh keturunannya (anak-anaknya) sudah berkeluarga dan mempunyai keturunan; (4) gendang sebagai instrumen. Masyarakat Karo hanya memiliki dua gendang sebagai instrumen yaitu gendang
singanaki dan gendang singindungi; (5) gendang sebagai komposisi
(nyanyian). Sebelumnya telah disebutkan gendang sebagai repertoar yang merupakan sekumpulan komposisi. Yaitu, gendang odak-odak,
gendang simalungen rayat dan gendang patam; (6) gendang sebagai
musik. Musik dalam hal ini mengacu pada pengertian suatu bunyi yang teratur dan yang terdiri dari pola ritmis dan melodi. Bunyi yang ditata dengan berbagai bentuk terlihat dari produk instrumen dan vocal yang ada pada saat pelaksanaan suatu pesta adat perkawinan masyarakat Karo; (7) gendang sebagai arti ganda. Terminologi
gendang apabila digabung dengan terminologi kekerabatan, maka gendang mempunyai arti lebih dari satu, dapat dua atau tiga arti
sekaligus. Sebagai contoh gendang kalimbubu, pengertian gendang dalam konteks ini berarti acara/ upacara, musik, repertoar/ komposisi untuk kalimbubu. Disisi lain, pengertian gendang pada konteks ini dapat juga berarti waktu atau kesempatan yang diberikan kepada kalimbubu untuk landek (menari).
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa pengertian dari kata ‘gendang’ mengikuti kata di depannya. Dalam penelitian ini kata gendang yang melekat pada kata patam-patam dapat diartikan sebagai sebuah judul komposisi instrumental musik tradisional Karo. Komposisi menurut Kamus Besar
10
Bahasa Indonesia adalah (1) susunan; (2) tata susun; (3) musik gubahan, baik instrumental maupun vokal. Komposisi yang dimaksud penulis disini adalah keseluruhan unsur-unsur musik, baik melodi maupun ritem yang telah ditata atau disusun. Melodi adalah suatu kombinasi dari unsur ritme dan nada didalam satu kesatuan yang berjalan/bergerak di dalam waktu, sedangkan ritem adalah pengaturan bunyi dalam waktu atau dapat juga diartikan sebagai panjang pendeknya bunyi/nada yang digunakan dalam sebuah melodi atau harmoni (akord).
Setelah masuknya instrumen keyboard kedalam kebudayaan musik Karo pada tahun 1991, yang kemudian dikenal dengan istilah gendang kibod, gendang
patam memiliki konsep yang sedikit berbeda. Konsep dari gendang patam-patam yang dimainkan dengan gendang kibod merupakan sebuah format pola
ritem gendang patam-patam yang telah diprogram. Format pola ritem yang dimaksud disini adalah panjang pendeknya bunyi/nada yang digunakan secara teratur dengan pola/bentuk yang tetap.
Pada perkembangannya melalui program gendang patam-patam pada
gendang kibod lagu-lagu populer apa saja dapat dimainkan dengan pola ritem gendang patam-patam tersebut. Walaupun secara konsep sedikit berubah namun
gaya musik ini tetap disebut sebagai gendang patam-patam. Dalam pembahasan ini ada dua konsep gendang patam-patam yang digunakan penulis sesuai dengan kebutuhan yaitu; pertama sebagai sebuah komposisi yang terdiri dari melodi serta ritem dan yang kedua adalah sebagai format pola ritem yang telah diprogram dengan instrumen keyboard yang dapat memainkan lagu-lagu apa saja. Seniman
11
atau musisi tradisional Karo lebih sering menggunakan sebutan ‘patam-patam’ tanpa kata ‘gendang’ didepannya, namun penulis akan menggunakan kata ‘gendang’ untuk menegaskan bahwa patam-patam merupakan sebuah komposisi intrumental musik tradisional Karo.
Masyarakat Karo memiliki konsep tersendiri tentang musik. Musik dalam masyarakat Karo yaitu; musik instrumental, vokal, dan gabungan keduanya. Dalam melakukan aktifitas bermusik masyarakat Karo memiliki dua konsep yaitu
ergendang (bermain musik) dan rende (bernyanyi). Musik yang dimaksud penulis
dalam konsep ini adalah musik instrumental.
Musik tradisional adalah musik yang hidup di masyarakat secara turun temurun, yang berasal dari suatu daerah dengan ciri khas dari daerah tersebut. Musik tradisional Karo yang dimaksud oleh penulis disini adalah musik yang hidup di masyarakat Karo secara turun temurun dan yang digunakan sebagai sarana adat serta hiburan yang disajikan dalam upacara-upacara tradisional masyarakat Karo
1.7 Teori
Teori dapat digunakan sebagai landasan kerangka berfikir dalam membahas permasalahan. Untuk itu penulis mencoba mengambil beberapa teori sebagai acuan dalam penulisan skripsi ini.
Alan P Merriam (1964:303) mengemukakan bahwa perubahan bisa berasal dari dalam lingkungan kebudayaan atau internal, dan perubahan juga bisa berasal dari luar kebudayaan atau eksternal. Perubahan secara internal merupakan
12
perubahan yang timbul dari dalam dan dilakukan oleh pelaku-pelaku kebudayaan itu sendiri, dan juga disebut inovasi. Sedangkan perubahan eksternal merupakan perubahan yang timbul akibat pengaruh yang dilakukan oleh orang-orang dari luar lingkup budaya tersebut atau akulturasi.
Perubahan yang terjadi dalam gendang patam-patam merupakan hasil kreatifitas seniman/musisi Karo yang berakulturasi dengan kebudayaan Barat dengan menggunakan instrumen musik keyboard yang secara perlahan dapat diterima oleh masyarakat Karo dan menjadi milik bersama.
Meskipun awalnya kehadiran dari instrumen keyboard ditolak karena dianggap dapat mengikis kebudayaan musik Karo namun pada akhirnya masyarakat Karo dapat menerima perubahan instrumen musik tersebut. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kebudayaan luar dapat mempengaruhi kebudayaan lain, hal ini dikemukakan oleh L.Dyson dalam Sujarwa (1987:39) yang mengatakan bahwa sikap menerima dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : faktor kebutuhan, keuntungan langsung yang dapat dinikmati, senang pada satu hal yang baru (novelty), dan sifat inovatif yang ingin slalu berkreasi. Ada juga sikap menolak yang disebabkan oleh anggapan bahwa hal-hal yang baru itu merugikan, atau bertentangan dengan tata nilai yang sudah dianut sebelumnya. Selain itu ada pula yang menolak tanpa alasan.
Bagi masyarakat Karo hadirnya gendang kibod sudah menjadi suatu kebutuhan yang memberi keuntungan (dalam hal eknomomis) dalam pelaksanaan upacara adat maupun hiburan. Hal ini terlihat dari banyaknya upacara adat
13
masyarakat Karo maupun hiburan yang lebih dominan diiringi dengan menggunakan gendang kibod.
Gendang patam-patam yang merupakan musik rakyat (folk music) yang
dipelajari secara oral oleh seniman Karo dapat mengalami kontinuitas dan perubahan dalam musiknya, hal ini diungkapkan oleh Bruno Nettl dan Gerald Behague (1991:4) yang mengatakan bahwa:
...in a folk or nonliterate culture..a song must be sung, remembered, and taught by one generation to the next. If this does not happen, it dies and is lost forever.There is another alternative: if it is not accepted by it’s audience, it may bechange to fit the needs and desires of the people who perform and hear it.
Bruno Nettl dan Gerald Behague mengatakan bahwa sebuah kebudayaan rakyat atau kebudayaan tidak tertulis, sebuah lagu/musik harus dinyanyikan diingat dan diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jika hal ini tidak terjadi lagu/musik itu akan mati dan hilang atau punah. Namun ada alternatif lain, jika musik tersebut tidak diterima oleh audiens/penonton, hal ini mungkin dapat diubah untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan dari orang-orang yang mepertunjukkan dan mendengarnya. Berdasarkan pernyataan dari Bruno Nettl dan Gerald Behague tersebut dapat penulis jadikan sebagai acuan bahwa perubahan yang terjadi dalam gendang patam-patam wajar terjadi dan perubahan tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan musik tradisional Karo agar tidak hilang atau punah.
Dalam suatu kebudayaan musik tradisi lisan atau oral suatu perubahan dapat terjadi, karena proses transmisi atau pengajarannya dilakukan secara lisan.
14
Menurut Bruno Netll (1983:193) terdapat empat tipe sejarah, perubahan yang terjadi dalam transmisi musik; (1) menyatakan bahwa musik/nyanyian yang diwariskan, tidak mengalami perubahan sama sekali. Dengan kata lain lagu tersebut dinyanyikan sama persis, baik sebelum maupun sesudah diwariskan, (2) menyatakan bahwa musik/nyanyian yang diwariskan, mengalami perubahan, tetapi hanya dalam versi tunggal atau satu petunjuk, sehingga dari warisan itu berbeda dari aslinya tanpa proliferasi dari elemen-elemennya, (3) menyatakan bahwa musik yang diwariskan menghasilkan banyak variasi atau perubahan, bahkan beberapa dari musik itu ditinggalkan dan dilupakan; dengan kata lain sebagai ide tetap stabil, sedangkan selebihnya mengalami perubahan, (4) menyatakan perubahan benar-benar total dari musik yang asli, sebagian besar ide musik/nyanyian/lagu itu dirubah sama sekali, bahkan ada yang cenderung menyimpang dari pengembangan ide aslinya.
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Netll diatas, perubahan yang terjadi dalam gendang patam-patam mengarah kepada poin yang ketiga. Hal tersebut dapat dilihat dari perubahan yang dilakukan oleh musisi Karo generasi muda yang melakukan eksperimen terhadap gendang patam-patam melalui instrumen keyboard, namun ide atau ciri khas dari gendang patam-patam tersebut tetap stabil.
Gendang patam-patam bunga ncole sebagai sebagai sebuah komposisi dan
juga style musik tradisional Karo dapat dideskripsikan dengan memperhatikan beberapa aspek tertentu. Mark Slobin dan Jeff Titon (1984:5) mengatakan bahwa
15
bunyi musikal itu sendiri antara lain; (1) Elemen nada: tangga nada, modus, melodi, harmoni, sistem laras (2) Elemen waktu: ritem dan meter (3) Elemen warna suara: kualitas suara dan warna suara instrumen (4) Intensitas suara: keras-lembutnya suara.
Teori diatas akan penulis jadikan sebagai panduan dalam mendeskripsikan elemen-elemen musik yang terdapat dalam gendang patam-patam, namun ada beberapa bagian dari elemen yang tidak dibahas karena tidak sesuai dan tidak terdapat dalam konsep musik Karo. Adapun elemen yang tidak akan dibahas dalam tulisan ini adalah modus, kualitas suara dan intensitas suara; keras-lembutnya suara.
1.8 Metode Penelitian
Didalam tulisan ini penulis menggunakan metode penelitian deskrptif yang bersifat kualitatif. Kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 1989:3).
Pendekatan emik dan etik juga menjadi penting karena penulis adalah “orang dalam” (insider). Dalam penelitian lapangan, pendekatan emik merupakan identifikasi fenomena budaya menurut pandangan pemilik budaya tersebut, sedangkan etik adalah identifikasi menurut peneliti yang mengacu pada konsep-konsep sebelumnya (Kaplan dan Manners 1999:256-8). Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan pendekatan emik dan etik untuk mendapatkan data yang objektif.
16
Dalam mengumpulkan data-data dilapangan penulis mengacu kepada teknik penelitian yang diungkapkan oleh Curt Sachs dalam Nettl (1964 : 62) yang mengatakan bahwa:
Curt Sachs (1962) divides ethnomusicological reserch into two kinds of work, field work and desk work. Field work denotes the gathering of recordings and the first-hand experience of musical life in a particular human culture, while deskwork includes transcription, analysis, and the drawing of conclusions.
Menurut Curt Sachs penelitian dalam etnomusikologi dapat di bagi menjadi dua, yaitu: kerja lapangan (field work) dan kerja laboratorium (desk
work). Kerja lapangan meliputi pengumpulan dan perekaman data dari aktivitas
musikal dalam sebuah kebudayaan manusia, sedangkan kerja laboratorium meliputi pentranskripsian, menganalisis data dan membuat kesimpulan dari keseluruha data.
Penelitian ini akan menggunakan metode yang diungkapkan oleh Curt Sach, namun sebelum melakukan kerja lapangan (field work) dan kerja laboratorium (deks work) penulis akan melakukan studi kepustakaan terlebih dahulu. Adapun tujuan dari studi kepustakaan ini dalah untuk mengumpulkan data-data awal dalam penelitian ini.
1.8.1 Studi kepustakaan
Dalam mengumpulkan data-data awal penelitian penulis melakuakan studi kepustakaan. Studi kepustakaan perlu dilakukan untuk mengumpulkan data-data atau sumber bacaan untuk mendukung penelitian. Sumber bacaan ini dapat berupa
17
buku-buku, skripsi etnomusikologi, jurnal, maupun bacaan yang diperlukan untuk mendukung penelitian.
Dalam hal ini penulis telah membaca skripsi sarjana Etnomusikologi yaitu Jhon Bregman Ginting, Herujen Tarigan, dan Vanesia Amelia Sebayang, dan skirpsi lainnya yang berhubungan dengan tulisan saya. Penulis juga membaca buku-buku antropologi dan etnomusikologi yaitu Pengantar Ilmu Antropologi,
The Anthropology Of Music, Folk and Traditional Music Of The Western Continents, Worlds Of Music, Etnomusikologi, dan beberapa buku lainnya. Studi
kepustakaan juga dilakukan terhadap topik-topik lain yang berkaitan dengan penelitian skripsi ini antara lain sosiologi, dan topik tentang kebudayaan masyarakat Karo.
1.8.2 Penelitian lapangan
Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain (Lonfland dan Lonfland dalam Moleong, 1989). Selain kata-kata dan tindakan perekaman audio ataupun materi musik juga menjadi sumber data yang utama dalam penelitian ini. Oleh karena itu penulis menggunakan dua teknik dalam pengumpulan data di lapangan yaitu:
1. Wawancara
Wawancara diperlukan untuk mendukung penelitian tentang musik
Gendang patam-patam dalam kebudayaan masyarakat Karo. Dalam mengambil
18
seniman dan musisi tradisional Karo maupun informan lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
Teknik wawancara yang penulis lakukan adalah wawancara berfokus (focus interview) yaitu melakukan pertanyaan selalu berpusat pada pokok permasalahan. Selain wawancara berfokus peneliti juga melakukan wawancara bebas (free interview) yaitu pertanyaan tidak selalu berpusat pada pokok permasalahan tetapi pertanyaan dapat berkembang ke pokok permasalahan lainnya dengan tujuan untuk memperoleh data yang beraneka ragam namun tidak menyimpang dari pokok permasalahan (Koentjaraningrat 1985:139).
2. Perekaman
Perekaman dalam penelitian sangat penting untuk mengumpulkan data dilapangan. Perekaman ini akan menggunakan kamera Sony DSC-T2 dan canon IXUS 80 IS. Penulis akan merekam hasil wawancara dengan narasumber yang dilakukan dilapangan. Adapun narasumber yang penulis wawancarai antara lain Seter Ginting, Djasa Tarigan, Malem Ukur Ginting, Natangsa Barus. Selain merekam hasil wawancara penelitian ini juga akan merekam materi musik yang akan menjadi di deskripsikan nantinya.
Untuk materi musik gendang patam-patam bunga ncole yang dimainkan dengan menggunakan gendang lima sedalanen penulis mengambil sampel dari rekaman yang sudah ada yaitu kelompok pemusik Wardin Ginting. Sedangkan untuk gendang patam-patam bunga ncole yang dimainkan dengan gendang kibod penulis mengambil sampel secara langsung ke lapangan. Gendang patam-patam
19
bunga ncole pada gendang kibod ini dimainkan oleh tiga perkibod yaitu Fakta
Ginting, Sakti Sembiring dan Yanto Tarigan. Pengambilan sampel ini dilakukan penulis langsung pada saat gendang guro-guro aron diadakan yang berlangsung di Desa Tiga Binanga pada tanggal 17-19 Juni 2011, Jambur9 Tamsaka Medan
pada tanggal 29 Juli 2011, dan Desa Juhar 16-18 Agustus 2011. 1.8.3 Kerja laboratorium (Deks work)
Setelah semua data di lapangan diperoleh dan bahan dari hasil studi kepustakaan terkumpul, selanjutnya dilakukan pembahasan dan penyusunan tulisan. Sedangkan untuk mendeksripsikan materi musik terlebih dahulu dilakukan pentranskripsian dan selanjutnya dideskripsikan.
Dalam mendeksripsikan materi musik pada kerja laboratorium, terdapat dua pendekatan yang diungkapkan oleh Bruno Nettl (1964:98) sebagai berikut: Approaches to the describe of music: (1) we can analyze and describe what we hear, and (2) we can in some way write it on paper and describe what we see.
Nettl mengatakan bahwa ada dua pendekatan untuk mendeskripsikan musik; (1) kita dapat menganalisis dan mendeskripsikan apa yang didengar, dan (2) kita dapat dengan cara menuliskannya apa yang kita dengar tersebut diatas kertas lalu mendeskripsikan apa yang kita lihat.
Dari kedua pendekatan tersebut penulis akan menggunakan pendekatan yang kedua dalam mendeskripsikan struktur gendang patam-patam. Pendekatan
9 Jambur merupakan sebuah balai yang digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan adat-istiadat masyarakat Karo seperti upacara perkawinan, kematian, gendang guro-guro aron dan lain sebagainya.
20
pertama tidak dilakukan karena peneliti tidak mungkin hanya mengandalkan pendengaran dan daya ingat yang terbatas tanpa menuliskannya. Hal ini juga dikemukakan oleh Netll (1964:98) dalam pembahasan yang sama yaitu:
If human ears were able to preceive all of the acoustic contens of a musical utterance, and if the mind could retain all of what had been perceived, then analysis of what is heard would be preferable. ...But since human memory is hardly able to retain, what was heard ten seconds ago along what is being heard in the present, notation of some sort has become essential for reseacrh in music.
Netll mengungkapkan bahwa seandainya telinga manusia dapat merasakan semua isi akustik sebuah ungkapan musik, dan seandainya daya ingat manusia dapat menyimpan semua yang telah dirasakan, maka analisis terhadap apa yang didengar tersebut akan menjadi pilihan utama. Tetapi karena daya ingat manusia hampir tidak dapat mengingat persis apa yang didengar sepuluh detik yang lalu, suatu bentuk notasi menjadi penting dalam penelitian musik.
Untuk mendeskripsikan bunyi musikal dari gendang patam-patam harus dilengkapi dengan analisis yang didasarkan atas materi yang terlihat dalam bentuk notasi. Oleh karena itu dalam kerja laboratorium penulis akan melakukan transkripsi. Transkirpsi adalah proses memindahkan bunyi (menotasikan), mengalihkan bunyi yang didengar menjadi simbol visual.
21 1.8.3.1 Metode Transkripsi
Dalam proses transkripsi penulis mentranskripsikan gendang patam-patam
bunga ncole yang disajikan dengan gendang lima sedalanen sendiri. Dalam
mentranskripsikan gendang patam-patam bunga ncole ini penulis tidak mengalami banyak kesulitan karena penulis pernah mengikuti praktek musik Karo pada masa kuliah. Sedangkan untuk gendang patam-patam bunga ncole yang dimainkan dengan gendang kibod penulis tidak mentranskripsikan sendiri melainkan meminta bantuan kepada seorang teman --Berlin Immanuel Tambunan S.E-- yang sudah mahir dan profesional dalam memainkan instrumen keyboard. Adapun alasan mengapa penulis tidak mentranskripsikan sendiri program
gendang patam-patam bunga ncole dikarenakan kurangnya pengetahuan penulis
akan instrumen keyboard serta keterbatasan penulis dalam mengidentifikasi setiap bunyi instrumen yang dimainkan secara bersamaan pada program gendang
patam-patam.
Dalam hal ini sipentranskipsi mendapatkan keuntungan karena lebih mengenal dan mengetahui secara langsung bagaimana kejadian bunyi instrumen serta pola ritem pada gendang patam-patam bunga ncole, namun walaupun demikian penulis tetap melakukan komunikasi yang cukup baik dengan sipentranskripsi sehingga sedikit banyak penulis juga mendapatkan informasi penting yang berhubungan dengan kepentingan deskripsi struktur gendang
patam-patam bunga ncole. Adapun keuntungan yang penulis dapatkan melalui bantuan
tersebut adalah proses pentranskripsian gendang patam-patam bunga ncole dapat diselesaikan lebih cepat, selain itu penulis juga terbantu karena keterbatasan
22
penulis dalam mengidentifikasi bunyi instrumen yang pada akhirnya hasil rekaman dari gendang patam-patam bunga ncole dapat dilihat dalam bentuk notasi.
Dalam mendeskripsikan struktur gendang patam-patam bunga ncole penulis akan melihat berdasarkan hasil transkripsi pola ritem yang dihasilkan dari permainan gendang lima sedalanen dengan pola ritem pada gendang kibod. Dari hasil transkripsi ini penulis akan melihat setiap bagian dari pola ritem gendang
patam-patam bunga ncole pada masing-masing instrumen perkusif yang masih
kontinu atau masih digunakan dan yang telah berubah ataupun penambahan pola ritem yang baru.
1.8.4 Lokasi penelitian
Para budayawan, musisi/seniman tradisional Karo merupakan sumber dari data yang diperlukan oleh penulis dalam penelitian ini. Karena sumber data dalam penelitian ini berupa rekaman audio dan juga wawancara maka lokasi penelitian ini mengacu kepada dimana para seniman/musisi tradisional dan pemain keyboard bertempat tinggal/berdomisili. Dari wawancara yang pernah penulis lakukan ada yang berdomisili di Medan yaitu Djasa Tarigan dan Malem ukur Ginting, ada pula di daerah Deli Serdang yaitu Natangsa Barus dan di Juhar (Taneh Karo) yaitu Seter Ginting.
Penulis juga mengamati beberapa acara gendang guro-guro aron di beberapa tempat yaitu di desa Tigabinanga 17-19 Juni 2011, desa Juhar 16-18 Agustus 2011, dan juga di Medan tepatnya di Jambur Tamsaka 29 Juli 2011.
23
Pengamatan pada saat gendang guro-guro aron dilakukan karena pada acara inilah awalnya gendang patam-patam berkembang dan pada saat acara inilah
gendang patam-patam bunga ncole sering disajikan.
Berdasarkan hal tersebut penelitian ini tidak hanya dilakukan pada satu daerah/tempat penelitian saja, namun pada saat dimana gendang guro-guro aron berlangsung. Karena yang menjadi penelitian ini penulis ingin melihat gendang
patam-patam bunga ncole yang dimainkan oleh beberapa pemain keyboard Karo
dan sesuai dengan kebutuhan penelitian ini penulis ingin mengambil sampel gendang patam-patam bunga ncole yang akan di traskripsi nantinya.
24
BAB II
MUSIK TRADISIONAL MASYARAKAT KARO
2.1 Pengenalan Terhadap Masyarakat Karo
Pengertian masyarakat dapat dipahami sebagai suatu kesatuan hidup manusia yang berinteraksi dan bertingkah laku menurut suatu sistem adat tertentu yang bersifat kontinu, dimana setiap anggotanya terikat oleh satu rasa identitas bersama (Koentjaranigrat, 2002:146). Masyarakat sangat erat hubungannya dengan kebudayaan karena masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaaan (Soekanto, 1978:149).
Kata kebudayaan berasal dari kata sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “kekal”. Kebudayan menurut para antropologi adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dangan belajar (Koentjaraningrat, 2002:180).
Karo adalah salah satu dari beberapa etnis yang terdapat di daerah Propinsi Sumatera Utara. Karo juga merupakan sebutan untuk satu wilayah administratif kabupaten yaitu kabupaten Karo yang wilayahnya meliputi seluruh dataran tinggi Karo. Secara administratif pemerintahan masyarakat Karo berada di dataran tinggi Kabupaten Karo dengan ibukota Kabanjahe. Secara umum geografis masyarakat Karo berada di daerah Kabupaten Karo (meliputi Tanah Karo simalem dan
25
sekitarnya) atau yang sering disebut sebagai Karo Gugung dan Kabupaten Langkat atau yang sering disebut sebagai Karo Jahe.
Istilah Karo Jahe dan Karo Gugung ini muncul menurut Sarjani Tarigan (2009:34-35) dikarenakan terjadi pergerakan atau migrasi dari pesisir/pantai ke pedalamam/pegunungan. Hal ini terjadi setelah penaklukan Kerajaan Haru II Deli Tua, orang Karo lari ke pedalaman dataran tinggi Karo Seberaya, dan karena pertumbuhan penduduk dan arus pendatang berikutnya terjadilah pertumbuhan desa dipegunungan. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, (terutama kebutuhan akan garam) dan dalam rangka perluasan kekuasaan/perladangan masyarakat Karo mulai mencari hubungan dengan masyarakat di sekitar pantai. Orang Karo yang berada di dataran tinggi kembali ke pesisir/pantai seperti Deli Serdang, Medan dan Langkat dan membentuk komunitas baru.
Bagaimana daerah domisili masyarakat Karo dapat pula dilihat seperti apa yang digambarkan oleh J.H. Neuman dalam Sarjani Tarigan (2009:36) yaitu:
“Wilayah yang didiami oleh suku Karo dibatasi sebelah timur oleh pinggir jalan yang memisahkan dataran tinggi dari Serdang. Di sebelah Selatan kira-kira dibatasi oleh sungai Biang (yang diberi nama sungai Wampu, apabila memasuki Langkat), disebelah Barat dibatasi oleh gunung Sinabung dan disebelah Utara wilayah itu meluas sampai kedataran rendah Deli dan Serdang.”
Menurut Sarjani Tarigan dari gambaran luas daerah diatas terlihat bahwa ada beberapa kelompok masyarakat Karo yang berdomisili di daerah pantai hidup berdampingan dengan penduduk Melayu, dan secara bertahap kedua suku dengan
26
kebudayaan yang berbeda tersebut saling berbaur dan berakulturasi antara sesamanya.
Selain dari kedua daerah diatas masyarakat Karo juga mendiami beberapa daerah lainnya yaitu; Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Pak-pak Dairi dan Kabupaten Aceh Tenggara dan beberapa wilayah di Kota Medan.
Masyarakat Karo memiliki bahasa yang sering digunakan dalam upacara adat maupun dalam kehidupan sehari-hari yaitu bahasa Karo. Selain memiliki bahasa sendiri masyarakat Karo juga memiliki aksara Karo. Aksara Karo ini adalah aksara kuno yang dipergunakan oleh masyarakat Karo, akan tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas sekali bahkan hampir tidak pernah digunakan lagi.
Gambar 2.1 :Aksara Karo (Sumber: http://id.wikipedia.org)
Setiap etnis/suku yang ada di Sumatera Utara khususnya etnis Karo memiliki sistem kekerabatan dalam kebudayaannya. Masyarakat Karo
memiliki sistem kekerabatan yang dikenal dengan istilah merga silima, daliken si
27
yang digunakan untuk mengatur kehidupan sehari-hari pada masyarakat Karo dalam hubungan bermasyarakat dan berbudaya.
a. Merga silima
Masyarakat Karo mempunyai sistem marga (klan) atau dalam bahasa Karo disebut merga untuk laki-laki, dan beru untuk perempuan. Merga/beru adalah identitas masyarakat Karo yang unik dan setiap orang Karo memiliki merga/beru.
Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok, yang disebut dengan merga silima, yang berarti marga yang lima. Kelima merga tersebut adalah (1)
Karo-Karo, (2) Tarigan, (3) Ginting, (4) Sembiring, dan (5) Perangin-angin.
Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang (misalnya : Jusuf
Tarigan).
Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing dan setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara otomatis dari ayah, merga dari ayah sama dengan merga untuk anaknya. Kalau laki-laki bermerga sama maka mereka disebut ersenina10 (bersaudara), sama halnya antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru yang sama. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang11, sehingga pada umumnya dilarang melakukan perkawinan secara adat.
10
Ersenina terdiri dari dua kata yaitu er dan senina, er yang dapat diartikan “ber” dan senina yang berarti “saudara”, jadi ersenina adalah bersaudara baik saudara sedarah maupun tidak.
11
Erturang memiliki pengertian yang sama dengan ersenina yaitu bersaudara, sebutan ini terjadi antara laki-laki dan perempuan yang bermerga/beru yang sama.
28 b. Daliken si telu
Daliken si telu adalah bagian dari masyarakat Karo yang merupakan
landasan bagi sistem kekerabatan dan semua kegiatan khususnya kegiatan yang berhubungan dengan pelaksanaan adat-istiadat dan interaksi antar sesama masyarakat Karo. Daliken si telu ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Setiap hubungan dalam adat istiadat ditentukan oleh adanya tiga kelompok ini yaitu (1) kalimbubu, sebagai keluarga pemberi isteri, (2) anak beru, keluarga yang mengambil atau menerima isteri, dan (3) senina, keluarga keturunan semerga atau keluarga inti.
Menurut Drs. Pertampilan Brahmana, daliken sitelu terdiri dari tiga kata yaitu daliken yang berarti ‘batu atau tungku’, si yang berarti ‘yang’, dan telu yang berarti ‘tiga’. Secara etimologis, daliken Sitelu berarti tungku yang tiga. Arti ini menunjuk pada kenyataan bahwa untuk menjalankan kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak lepas dari yang namanya tungku untuk menyalakan api (memasak) (http://repository.usu.ac.id).
Daliken si telu dalam sistem kekerabatan masyarakat Karo merupakan
simbol/lambang yang mempunyai makna. Jika secara etimologis daliken si telu adalah “tungku yang tiga” yang berfungsi dalam kehidupan masyarakat Karo sehari-hari sebagai penopang untuk memasak, daliken si telu dalam hubungan kekerabatan masyatakat Karo juga mempunyai peran sebagai penopang sukut (yang menyelenggarakan pesta) dalam suatu upacara adat.
Menurut Drs. Pertampilan Brahmana, daliken si telu sebagai bagian dari budaya Karo tetap berperan penting dalam pengendalian sosial masyarakat Karo.
29
Karena bila terjadi masalah sosial didalam keluarga, suatu masalah dapat dikatakan selesai atau tuntas bila daliken si telu dari keluarga yang bermasalah ikut berpartisipasi dalam menyelesaikannya. Lebih jauh beliau mengatakan:
Daliken si telu ini merupakan alat pemersatu masyarakat Karo, sekaligus dapat mengikat atau terikat kepada hubungan perkerabatan yang sekaligus pula sebagai dasar gotong royong, dan saling hormat menghormati, maka di dalam segenap aspek kehidupan masyarakat Batak Karo, daliken si telu ini sangat berperan penting, dia merupakan dasar bagi sistem kekerabatan dan menjadi landasan untuk semua kegiatan yang bertalian dengan pelaksanaan adat dan juga interaksi dengan sesama masyarakat Karo (http://repository.usu.ac.id).
Jadi daliken si telu merupakan landasan sistem kekerabatan serta landasan bagi semua kegiatan baik pelaksanaan adat istiadat maupun interaksi antar sesama masyarakat Karo. Atau dengan bahasa lain, daliken si telu adalah suatu jaringan kerja sosial-budaya yang bersifat gotong royong dan kebersamaan yang terdapat pada masyarakat Karo.
Selain daliken si telu dikenal juga istilah rakut (ikat) si telu yang berarti “ikatan yang tiga” yang mengartikan bahwa setiap individu masyarakat Karo mempunyai ikatan dari tiga kekerabatan ini.
c. Tutur Siwaluh
Untuk menunjukkan tingkatan kekerabatan di dalam masyarakat Karo dikenal istilah ertutur. Ertutur adalah salah satu ciri orang Karo untuk berkenalan dengan orang yang belum pernah dikenalnya. Biasanya dengan menanyakan
merga, kemudian bere-bere (marga ibu), bahkan mungkin menanyakan trombo
30
Tutur siwaluh terdiri dari delapan golongan (1) puang kalimbubu, (2) kalimbubu, (3) senina, (4) sembuyak, (5) senina sipemeren, (6) senina sepengalon/sedalanen, (7) anak beru, dan (8) anak beru menteri.
Masyarakat Karo juga mempunyai kain tradisional yang disebut sebagai
uis yang dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Kain atau uis adat
tradisional Karo merupakan pakaian adat yang digunakan dalam kegiatan adat maupun dalam kehidupan sehari-hari. Uis Karo memiliki warna dan motif yang berhubungan dengan penggunaannya atau dengan pelaksanaan kegiatan budaya/adat.
Dahulu pada umumnya dahulu uis pada masyarakat Karo dibuat dari bahan kapas, dipintal dan ditenun secara manual dan menggunakan zat pewarna alami (tidak menggunakan bahan kimia pabrikan). Namun sekarang ada juga beberapa diantaranya menggunakan bahan kain pabrikan yang dicelup (diwarnai) dengan pewarna alami dan dijadikan kain adat Karo. Warna kain tradisional Karo biasanya didominasi dengan warna hitam dan merah.
Pada umumnya masyarakat Karo yang tinggal di Kabupaten Karo secara tradisional memiliki mata pencaharian bertani, yaitu menanam padi di lahan kering (ladang) atau lahan basah (sawah). Selain padi tanaman jagung juga menjadi alternatif yang cukup banyak dilakukan masyarakat Karo. Kabupaten Karo juga dikenal sebagai salah satu penghasil buah yang cukup menonjol di Sumatera Utara (Tarigan, 2004:109). Sedangkan pada masyarakat Karo yang
31
bertempat tinggal di kota sebagian besar memiliki pekerjaan diluar bertani, seperti bekerja di kantor maupun pengusaha ataupun wiraswasta, dan lain-lain.
2.2 Musik Tradisional Masyarakat Karo
Masyarakat Karo memiliki konsep tersendiri tentang musik. Musik dalam masyarakat Karo yaitu; musik instrumental, vokal, dan gabungan keduanya. Dalam melakukan aktifitas bermusik masyarakat Karo memiliki dua konsep yaitu
ergendang (bermain musik) dan rende (bernyanyi). Musik tradisional Karo yang
akan dibahas penulis disini adalah adalah ensambel tradisional Karo, instrumen musik tradisional Karo non-ensambel, musik vokal tradisional Karo, dan instrumen keyboard dalam kebudayaan musik tradisional Karo.
2.2.1 Ensambel musik tradisional Karo
Dalam penyebutan ensembel musiknya masyarakat Karo menggunakan kata ‘gendang ’12. Ensembel musik Karo jika diklasifikasikan secara umum dan
yang paling sering digunakan pada konteks upacara adat adalah gendang lima
sedalanen dan gendang telu sedalanen. Penjelasan mengenai ensembel musik
tradisional Karo ini akan dijelaskan lebih lanjut lagi.
2.2.1.1. Gendang lima sedalanen
Gendang lima sedalanen (sering juga disebut gendang sarune) merupakan
ensambel musik yang paling dikenal dalam kasanah musik tradisional Karo. Istilah gendang pada kasus ini dapat diartikan dengan “alat musik”, lima yang
12
32
berarti “lima”, dan sedalanen yang berarti “sejalan”. Dengan demikian gendang
lima sedalanen mengandung pengertian “lima buah alat musik yang dimainkan
sejalan atau bersama-sama” (Tarigan, 2004:110).
Gendang lima sedalanen yang merupakan sekumpulan instrumen terdiri
dari satu buah sarune sebagai pembawa melodi, dua buah gendang yaitu gendang
anak dan gendang indung (gendang berarti sebagai instrumen) sebagai instrumen
ritmis, serta gung dan penganak sebagai pembawa/pengatur tempo. Kelima instrumen tersebut dimainkan bersamaan sebagai sebuah ensambel.
Gendang lima sendalanen sering juga disebut dengan istilah Gendang
Sarune13. Di kalangan musisi tradisional Karo istilah gendang sarune lebih sering
dinggunakan, sementara itu di berbagai tulisan tentang kebudayaan musik Karo lebih banyak menggunakan istilah gendang lima sendalanen. Untuk konsistensi penulisan, dalam tulisan ini penulis menggunakan istilah gendang lima
sendalanen. Ini tidak berarti istilah gendang lima sendalanen lebih mewakili dari
pada gendang sarune karena memang kedua istilah tesebut selalu digunakan dalam masyarakat Karo.
Orang yang memainkan kelima instrumen musik dalam gendang lima
sedalanen masing-masing memiliki sebutan sesuai dengan alat musik atau
instrumen yang dimainkannya. Untuk pemain sarune disebut sebagai penarune, pemain gendang anak dan pemain gendang indung disebut sebagai penggual,
13
Istilah Gendang Sarune muncul karena dalam ensambel tersebut sarune merupakan alat musik pembawa melodi
33
pemain gung disebut sebagai simalu gung dan pemain penganak disebut sebagai
simalu panganak.
Sekumpulan pemain musik ini sering disebut sebagai sierjabaten (“yang memiliki jabatan”) atau penggual ketika bermain/mengiringi dalam suatu konteks upacara adat masyarakat Karo. Dalam konteks upacara adat sierjabaten atau
penggual yang memainkan gendang lima sedalanen/telu sedalanen diberikan
tempat yang khusus dengan beralaskan amak mbentar (tikar anyaman berwana putih). Walaupun sekarang gendang lima sedalanen/telu sedalanen sudah digantikan dengan alat elektronik modern yaitu gendang kibod, perlakuan terhadap sierjabaten tetap sama. Dalam hal memberi upah, dulu sierjabaten atau
penggual diberi beras, garam, kelapa, dan ayam dalam mengiringi suatu acara
adat, namun sekarang sierjabaten atau penggual dibayar dengan uang sebagai ganti upah untuk mengiringi jalannya acara adat.
34
Gambar 2.2 Gendang lima sedalanen; (a) sarune; (Dok: Perikuten Tarigan, Sumber: http://Karosiadi.blogspot.com) (b) gendang indung, (c) gendang anak,
35 2.2.1.2 Gendang Telu Sedalanen
Sama halnya dengan gendang lima sedalanen, secara harfiah Gendang telu
sendalanen memiliki pengertian “tiga alat musik yang sejalan atau dimainkan
secara bersama-sama”. Ketiga alat musik tersebut adalah (1) kulcapi/balobat
(two-stranged fretted-necked lute/end blown flute), (2) keteng-keteng (idiokordofon: tube-zhyter), dan (3) mangkuk mbentar (chinese bowl).
Dalam ensambel ini ada dua istrumen yang bisa digunakan sebagai pembawa melodi yaitu instrumen kulcapi dan balobat. Sedangkan instrumen
keteng-keteng dan mangkuk merupakan alat musik pengiring yang menghasilkan
pola-pola ritem yang bersifat konstan dan repetitif.
Pemakaian kulcapi atau balobat sebagai pembawa melodi dilakukan secara terpisah dalam upacara yang berbeda (tergantung kebutuhan). Prinsipnya sebenarnya sama hanya saja instrumen pembawa melodinya yang berbeda. Jika
kulcapi digunakan sebagai pembawa melodi maka ensembel musiknya disebut
sebagai gendang kulcapi, dan jika balobat digunakan sebagai pembawa melodi maka ensambel musiknya disebut sebagai gendang balobat.
36
Gambar 2.3 Gendang telu sedalanen: (a) gendang kulcapi, (b) gendang belobat (Dok: Irwansyah Harahap, Sumber: http://Karosiadi.blogspot.com) 2.2.2 Instrumen musik tradisional Karo non-ensambel
Selain dari pada ketiga ensambel musik diatas, masih banyak instrumen musik tradisional Karo non-ensambel yang dapat dimainkan secara tunggal tanpa diiringi alat musik lainnya, namun hanya beberapa yang masih dapat ditemukan. Adapun Instrumen musik tersebut adalah:
2.2.2.1 Kulcapi dan balobat (baluat)
Selain dapat digunakan secara ensambel, instrumen kulcapi dan belobat (baluat) dapat dimainkan secara tunggal. Kedua instrumen musik ini dapat dimainkan dimana saja dan oleh siapa saja. Kulcapi adalah alat musik petik berbentuk lute yang terdiri dari dua buah senar (two-stranged fretted-necked lute). Senarnya kulcapi terbuat dari metal, namun dulu kala terbuat dari akar pohon aren (enau). Kulcapi memiliki lubang resonator yang juga berfungsi untuk