LAPORAN PERCOBAAN
I JUDUL PERCOBAAN
Titrasi Penetralan dan Aplikasinya
II HARI/ TANGGAL PERCOBAAN
Hari Jum’at/ Tanggal 04 Desember 2015 Pukul 13.00 WIB
III SELESAI PERCOBAAN
Hari Jum’at/ Tanggal 04 Desember 2015 Pukul 16.30 WIB
IV TUJUAN PERCOBAAN
1 Membuat dan menentukan standarisasi larutan basa 2 Menentukan kadar H2SO4 dalam accu zuur
V TINJAUAN PUSTAKA
Titrasi Penetralan (asidi – alkalimetri)
Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain untuk mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen adalah saat yang menunjukkan bahwa ekivalen perekasi-pereaksi sama. Di dalam prakteknya titik ekivalen sukar diamati, karena hanya meruapakan titik akhir teoritis atau titik akhir stoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberian indikator asam-basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi dapat diketahui. Titik akhir titrasi meruapakan keadaan di mana penambahan satu tetes zat penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator. Kadua cara di atas termasuk analisis titrimetri atau volumetrik. Selama bertahun-tahun istilah analisis volumetrik lebih sering digunakan dari pada titrimetrik. Akan tetatpi, dilihat dari segi yang yang keta, “titrimetrik” lebih baik, karena pengukuran volume tidak perlu dibatasi oleh titrasi.
Reaksi-reaksi kima yang dapat diterima sebagai dasar penentuan titrimetrik asam-basa adalah sebagai berikut :
- Jika HA meruapakn asam yang akan ditentukan dan BOH sebabagi basa, maka reksinya adalah : HA + OH→A- + H
- Jika BOH merupakan basa yang akan ditentukan dan HA sebagi asam, maka reaksinya adalah ; BOH + H+ → B+ = H
2O
Dalam analisis titrimetri, sebuah reaksi harus memenuhi beberapa persyaratan sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan, diantaranya: 1. Reaksi itu sebaiknya diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu dan
tidak adanya reaksi sampingan.
2. Reaksi itu sebaiknya diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. Dengan kata lain konstanta kesetimbangan dari reaksi tersebut haruslah amat besar besar. Maka dari itu dapat terjadi perubahan yang besar dalam konsentrasi analit (atau titran) pada titik ekivalensi.
3. Diharapkan tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik ekivalen tercapai. Dan diharapkan pula beberapa indikator atau metode instrumental agar analis dapat menghentikan penambahan titran. 4. Diharapkan reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat
dilakukan hanya beberapa menit. (anonim, 2009)
Reaksi asam -basa adalah reaksi yang terjadi antara larutan asam dengan larutan basa, hasil reaksi ini dapat bersifat netral disebut juga reaksi penetralan asam basa tergantung pada larutan yang direaksikan. Larutan yang direaksikan ini salah satunya disebut larutan baku. Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat dan dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan lain. Larutan baku ada dua yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder.
Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa).
H+ + OH- → H 2O
Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam, sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa.
Untuk menetapkan titik akhir pada proses netralisasi ini digunakan indikator. Menurut W. Ostwald, indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk asam (Hin) atau dalam bentuk basa (InOH) yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang lain pada
konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu.
Jalannya proses titrasi netralisasi dapat diikuti dengan melihat perubahan pH larutan selama titrasi, yang terpenting adalah perubahan pH pada saat dan di sekitar titik ekuivalen karena hal ini berhubungan erat dengan pemilihan indikator agar kesalahan titrasi sekecil-kecilnya.
Dalam asidi-alkalimetri, 1 ekivalen asam atau basa ialah sebanyak senyawa ini yang dapat melepaskan 1 mol ion H+ (atau H
3O+). Proses untuk menentukan banyaknya ekivalen asam dibutuhkan untuk menetralkan sevolume larutan basa atau sebaliknya dititrasi, seharusnya:
Jumlah ekivalen asam = jumlah ekivalen basa
Saat persamaan ini tercapai, disebut titik ekivalen. Bila kita mengerjakan titrasinya, tanda-tanda apa yang memberi petunjuk, yang kita harus mengthentikan titrasinya?
Jawabanya : perubahan warna indikator yang menandakan tercapainya titik akhir titrasi.
Suatu indikator berubah warnanya pada daerah pH tertentu, misalnya: Metil jingga : merah pH 3,1 – pH 4,4 kuning
Bromtimol biru : kuning pH 6,0 – pH 7,6 biru Fenoftalin : bening pH 8,0 – pH 9,8 merah
Larutan baku primer adalah larutan baku yang konsentrasinya dapat ditentukan dengan jalan menghitung dari berat zat terlarut yang dilarutkan dengan tepat. Larutan baku primer harus dibuat dengan:
a. Penimbangan dengan teliti menggunakan neraca analitik b. Dilarutkan dalam labu ukur
Bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan membuat larutan standar primer harus memenuhi tiga persyaratan berikut:
a. Benar-benar ada dalam keadaan murni dengan kadar pengotor
b. Stabil secara kimiawi, mudah dikeringkan dan tidak bersifat higroskopis.
c. Memiliki berat ekivalen besar, sehingga meminimalkan kesalahan akibat penimbangan.
Pada percobaan kali ini larutan yang digunakan sebagai larutan baku primer adalah H2C2O4. 2H2O (asam oksalat). Asam oksalat adalah zat padat , halus, putih, larut baik dalam air. Asam oksalat adalah asam divalent dan pada titrasinya selalu sampai terbentuk garam normalnya. .berat ekivalen asam oksalat adalah 63. Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang konsentrasinya harus ditentukan dengan cara titrasi terhadap larutan baku primer. Pada percobaan kali ini larutan yang digunakan sebagai larutan baku sekunder adalah NaOH. Larutan NaOH tergolong dalam larutan baku sekunder yang bersifat basa. Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. NaOH bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbondioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. NaOH juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan KOH. NaOH tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non polar lainnya.
Indikator asam basa sebagai zat penunjuk derajat keasaman kelarutan adalah senyawa organik dengan struktur rumit yang berubah warnanya bila pH larutan berubah. Indikator dapat pula digunakan untuk menetapkan pH dari suatu larutan. Indikator merupakan asam lemah atau basa lemah yang memiliki warna cukup tajam, hanya dengan beberapa tetes larutan encer-encernya, indikator dapat digunakan untuk menetapkan titik ekivalen dalam titrasi asam basa ataupun untuk menentukan tingkat keasaman larutan. Pada percobaan kali ini indikator yang akan digunakan adalah indikator phenolphtalein atau sering disebut dengan indikator PP. Indikator PP memiliki warna asam tak berwarna, rentang pH perubahan warna antara 8,3 – 10,0 dan warna basa merah.
Aplikasi titrasi penetralan ini untuk menentukan kadar H2SO4 dalam accu zuur. Dalam keadaan murni cairan asam sulfat (H2SO4) tidak
berwarna dan memiliki viskositas tinggi. Didalam air, asam sulfat merupakan asam kuat menurut persamaan reaksi :
H2SO4 (aq) + H2O (l) → [H3O]+ (aq) + [HSO4-] (aq)
Didalam larutan encer, asam sulfat (H2SO4) dapat mengalami reaksi netralisasi dengan basa (seperti KOH) sesuai dengan persamaan sebagai berikut :
H2SO4 (aq) + 2 KOH (aq) → K2SO4 (aq) + 2 H2O (l)
Accu zuur berisi cairan asam sulfat (H2SO4). Konsentrasi asam sulfat dalam air accu zuur ini dalam keadaan encer dan kandungannya di pasaran berbeda-beda. Umumnya, konsentrasi asam sulfat dalam accu zuur adalah sebesar 30 % dengan berat jenis sebesar 1,28 kg/L dan pelarut 100 % air murni. Asam sulfat bersifat korosif, jika kontak dengan kulit akan menyebabkan gatal-gatal, jika kontak dengan mata akan menyebabkan iritasi mata, serta gangguan lain pada tubuh. Bahaya H2SO4 terhadap kesehatan tergantung pada konsentrasi larutannya. < 10 % bersifat intan dan > 10 % bersifat korosif.
Penentuan konsentrasi asam sulfat (H2SO4) dalam accu zuur dilakukan berdasarkan metode titrimetri yang merupakan cara analisis kuantitatif yang didasarkan pada prinsip stoikiometri reaksi kimia. Metode titrimetri yang dilakukan didasarkan pada prinsip netralisasi antara analit (titer) asam sulfat (H2SO4) yang dititrasi dengan titran NaOH yang telah diketahui konsentrasinya menurut persamaan sebagai berikut :
H2SO4 (aq) + 2 NaOH (aq) → Na2SO4 (aq) + 2 H2O (l)
Penentuan titik akhir titrasi atau titik ekuivalen dilakukan dengan penambahan indicator, metode titrasi potensiometri dan metode titrasi konduktometri.
VI ALAT DAN BAHAN :
Alat :
Buret
Statif dan klem Erlenmeyer 250 mL Gelas kimia Corong Neraca analitik Pipet gondok Pro pipet Labu ukur 250 mL Tempat klise film Pipet tetes
Bahan: larutan HCl
air suling (aquades) Na2CO3
Indikator PP
Air Accu zuur Larutan NaOH 0,1 N H2C2O4.2H2O
Indikator metil jingga
VII ALUR KERJA
Pembuatan Larutan NaOH ± 0,1N a. Cara pertama b. Cara kedua 4,2 gram
- Dilarutkan dalam air suling
- Diencerkan sampai volume 1L
- Dikocok dengan baik agar tercampur
Larutan NaOH
50 gram NaOH
Endapan Na2CO3 kotor
- Dituang dalam gelas kimia yang berisi 50ml air suling
-Dibiarkan sampai larutan mengendap
6,5mL larutan NaOH pekat
Larutan NaOH 0,1N
Diencerkan dengan air suling sampai 1L dan disimpan
Pembuatan Larutan NaOH ± 0,1N Dengan asam sebagai baku
1,6 gram H2C2O4.2H2O - Dipipet 25mL menggunakan pipet seukuran - Dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250mL
- Ditambahkan 25mL air suling - Ditambahkan 2-3 tetes
indikator PP Larutan baku H2C2O4.2H2O
- Dipindahkan dalam labu ukur 250mL
- Dilarutkan dengan air suling - Diencerkan sampai tanda batas
-Kocok labu ukur agar tercampur dengan baik
Perubahan warna
-Catat angka pada skala buret
Penentuan Kadar H2SO4 dalam Accu Zuur
-Dilakukan sebanyak 3 kali
Hasil
Accu Zuur
-Dituang ke dalam labu ukur 100mL yang berisi 10mL aquades
Larutan Accu Zuur
- Diambil 10ml menggunakan pipet seukuran
- Dimasukkan ke dalam erlenmeyer
- Ditambahkan beberapa tetes indikator metil jingga
Perubahan warna
- Dicatat angka pada skala buret
-Dilakukan 3 kali
VIII HASIL PENGAMATAN
N Prosedur Percobaan
Hasil Pengamatan
Dugaan / Reaksi Kesimpulan Sebelu
m
Sesudah
1. Pembuatan Larutan NaOH ± 0,1N
c. Cara pertama d. Cara kedua NaOH = tidak berwarna Air suling = tidak berwarna NaOH = tidak berwarna Air suling = tidak berwarna NaOH + air suling = tidak berwarna NaOH + air suling = tidak berwarna NaOH (s) + H2O → NaOH (aq) H2O → H+ + OH - 4,2 gram Larutan NaOH
- Dilarutkan dalam air suling
- Diencerkan sampai volume 1L
- Dikocok dengan baik agar tercampur
50 gram NaOH
Pembuatan Larutan NaOH ± 0,1N
Dengan asam sebagai baku
NaOh pekat = tidak berwarna H2C2O4.2H2O = serbuk berwarna putih Indikator PP = tidak berwarna
NaOH pekat + air suling = todak berwarna H2C2O4.2H2O + air suling = tidak berwarna H2C2O4.2H2O + air suling + indikator PP = tidak berwarna H2C2O4.2H2O + air suling + indikator PP + NaOH = NaOH (s) + H2O (l) → NaOH (aq) 2NaOH +H2C2O4 → Na2C2O4 H2C2 + H2O → H2C2O4 Penambahan indikator PP bermaksud untuk menentukan titik akhir titrasi (terjadinya perubahan warna akibat terdapat titran berlebih yang mengakibatkan lonjakan asam atau basa) Dalam percobaan ini diperoleh hasil titrasi sebagai berikut: V1 = 1,5mL V2 = 1,5mL V3 = 1,5mL
- Dituang dalam gelas kimia yang berisi 50ml air suling
-Dibiarkan sampai larutan mengendap
-Diencerkan dengan air suling sampai 1L dan disimpan 6,5mL larutan
NaOH pekat
Larutan NaOH 0,1N
merah muda Dan mengalami
perubahan warna menjadi pink (merah muda soft) Trayek pH pada phenolptalien = 8,0 – 9,6 Dan perubahan warna yang menunjukkan adanya basa
- Dipindahkan dalam labu ukur 250mL
- Dilarutkan dengan air suling - Diencerkan sampai tanda batas
-Kocok labu ukur agar tercampur dengan baik
Larutan baku H2C2O4.2H2O
Perubahan warna - Dipipet 25mL menggunakan pipet seukuran - Dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250mL
- Ditambahkan 25mL air suling - Ditambahkan 2-3 tetes
indikator PP
Volume NaOH
-Catat angka pada skala buret
Hasil
2. Penentuan Kadar H2SO4 dalam Accu Zuur Larutan accu zuur = tidak berwarna Indikator metil jingga = jingga NaOH = tidak berwarna Accu zuur + indikator metil jingga = merah Accu zuur + indikator metil jingga + NaOH = kuning H2SO4 + 2NaOH → Na2SO4 + 2H2O Penambahan metil jingga mengubah larutan menjadi berwarna merah
Pada saat titik akhir titrasi mengalami perubahan dari merah menjadi kuning Trayek pH indikator metil jingga = 3,1 – 4,4 Dalam percobaan ini diperoleh hasil titrasi sebagai berikut: V1 = 5,75mL V2 = 5,83mL V3 = 5,92mL Dan perubahan warna yang menunjukkan adanya H2SO4 Accu Zuur Perubahan warna Hasil
- Dicatat angka pada skala buret -Dilakukan 3 kali - Diambil 10ml menggunakan pipet seukuran - Dimasukkan ke dalam erlenmeyer
- Ditambahkan beberapa tetes indikator metil jingga
-Dituang ke dalam labu ukur 100mL yang berisi 10mL aquades
IX ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1 Menentukan (standarisasi) larutan NaOH dengan H2C2O4. 2H2O sebagai baku
Sebelum melakukan standarisasi hendaknya membuat larutan NaOH dengan menimbang NaOH 4,2 gram kemudian dilarutkan kedalam air suling dan diencerkan sampai volume 1 liter dengan dikocok agar tercampur dengan baik. Dalam pembuatan standarisasi Asam Oksalat harus menimbang Asam Oksalat 0,09 gram. H2C2O4. 2H2O yang sudah ditimbang dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL. Sisa KIO3 dalam roll film dicuci hingga tidak ada yang tersisa dan dimasukkan ke dalam labu ukur. Ditambahkan aquades yang berfungsi untuk mengencerkan kedalam labu ukur hingga sebelum tanda batas, ditambahkan lagi aquades menggunakan pipet tepat pada tanda batas. Dikocok hingga menjadi larutan homogen. Sehingga didapatkan larutan H2C2O4. 2H2O jernih tak berwarna sebagai larutan baku. Diambil 10 mL dengan pipet seukuran, dimasukkan kedalam labu erlenmeyer 250 ml. Kemudian ditambahkan 2-3 tetes indikator PP (phenolptalin) dengan rentang pH 8,0-9,6 tidak berwarna merupakan indikator yang baik untuk larutan basa dan bertujuan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Dari penambahan yang dilakukan dihasilkan larutan tidak berwarna, kemudian larutan ini dititrasi dengan larutan NaOH tidak berwarna hingga larutan berwarna merah muda. Perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda ketika larutan mencapai pH sekitar 8,2 atau melewatinya.
Percobaan ini dilakukan sampai tiga kali dengan diperoleh data volume NaOH yang digunakan sebagai berikut: V1= 1,5 mL, V2= 1,5 mL, V3= 1,5 mL. Untuk menentukan konsentrasi NaOH maka harus diketahui konsentrasi H2C2O4. Konsentrasi H2C2O4 dapat dicari
dengan rumus N=Mr ×V , dengan n= 2, massa yang digunakan 0,09n x gr
sebesar 0,02 N. Diperoleh konsentrasi NaOH : N1= 0,13 N, N2= 0,13 N, N3= 0,13 N, sehingga N rata-rata = 0,13 N
2 Menentukan kadar H2SO4 dalam Accu Zuur
Pada aplikasi titrasi iodometri untuk
menentukan kadar H2SO4 dalam Accu Zuur. Langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang massa piknometer kosong 18,2649 gram dan massa piknometer isi accu zuur sebanyak 0,8 mL 19,3722 gram dengan volume 25 mL. kemudian accu zuur didalam piknometer dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL untuk diencerkan dan didiamkan selama 15 menit. Dari 100 mL diambil 10 mL dari larutan accu zuur (jernih tak berwarna) dan dimasukkan kedalam erlenmeyer lalu ditambahkan beberapa tetes indikator metil jingga dengan rentang pH 3,1-4,4 (jingga) merupakan indikator yang berwarna merah dalam larutan asam serta menjadi kuning dalam larutan alkali dan basa. Dari penambahan yang dilakukan ini diperoleh larutan berwarna merah. Kemudian dititrasi dengan NaOH tidak berwarna sampai larutan berwarna kuning.
Percobaan ini dilakukan sampai tiga kali dengan
diperoleh data volume NaOH yang digunakan sebagai berikut: V1= 5,75 mL, V2= 5,83 mL, V3= 5,92 mL Dengan diketahuinya massa H2SO4 maka dapat dihitung kadar H2SO4 dengan rumus :
% H2SO4 ¿
NNaOH ∙VNaOH ∙BE .100
2
massa total x 100
Sehingga diperoleh kadar H2SO4 sebesar 33,07% ; 33,53%; 34,05% ,maka kadar H2SO4 rata-rata = 33,55%.
X KESIMPULAN
Dari percobaan ini dapat diketahui: 1 Normalitas rata-rata NaOH = 0,13N 2 Kadar H2SO4 rata-rata = 33,55%
JAWABAN PERTANYAAN STANDARISASI
1. Mengapa pada pembuatan larutan NaOH harus memakai air yang sudah dididihkan?
Jawab :
Tujuan menggunakan air yang mendidih yaitu untuk menghindari ledakan, sebab reaksi logam alkali (Na) bersifat eksoterm.Dan juga logam alkali (Na) mudah bereaksi dengan air.mudah bereaksi dengan air.
2. Apakah beda antara :
a. larutanbaku dan larutan standar? b. asidimetri dan alkalimetri? Jawab:
a) larutan baku: dimana larutan itu konsentrasinya diketahui dari hasil penimbangan dan pengenceran, konsentrasi ditentukan dari hasil perhitungan larutan standar: dimana larutan itu konsentrasinya sudah ditetapkan dengan akurat.
b) asidimetri : dimana menitrasi larutan menggunakan larutan baku asam alkalimetri : dimana menitrasi larutan menggunakan larutan baku basa.
3. Berikan alasan penggunaan indikator pada titrasi di atas! Jawab :
Pada titrasi antara HCl dengan Na2CO3 menggunakan indikator metil-jingga karena titrasi tersebut antara asam kuat dengan basa lemah yang memiliki rentang pH 3,1-4,4. Pada umumnya indikator digunakan untuk menentukan titik equivalen atau titik akhir titrasi tepat pada pH tertentu.
APLIKASI
1. 1,2 gram sampel NaOH dan Na2CO3 dilarutkan dan dititrasi dengan 0,5N HCl dengan indikator pp. setelah penambahan 30 mL HCl larutan menjadi tidak berwarna. Kemudian indikator metil jingga ditambahkan dan dititrasi lagi dengan HCl. Setelah penambahan 5mL HCl larutan menjadi berwarna. Berapa prosentase Na2CO3 dan NaOH dalam sampel?
Jawaban: Diketahui:
- Massa NaOH = 1,2 gram - Mr NaHCO3 = 84,008 gr/mol - M HCl = 0,5 N
- V1 = 30mL - V2 = 5mL
Ditanya: persentase Na2CO3 dan NaOH Jawab:
NaOH = M(V1 – V2)
= 0,5 mmol/ml (30 – 5)ml = 12,5 mmol
= 0,0125 mol
Massa NaOH = 0,0125 mol x 40g/mol
= 0,5 gram Kadar NaOH = 0,5 100 41,667% 1, 2 g x g Na2CO3 = M.V2 = 0,5 mmol/ml . 10ml = 2,5 mmol = 0,0025 mol
Massa Na2CO3 = 0,0025 mol x 106 g/mol
= 0,265 gram Kadar Na2CO3 = 0, 265 100 22, 083% 1, 2 g x g
2. Pada pH berapa terjadi perubahan warna indikator pp? Jawaban:
DAFTAR PUSTAKA
Chun, van der. 2011. Titrasi Penetralan Dan Aplikasi (Online) http://chunmizz.blogspot.co.id/2011/12/laporan-praktikum.html diakses pada tanggal 01 Desember 2015
Day. R.A Underwood. A.L. 1986.Quantitative Analysis (fifth ed.).New York: Prentice Hall.
(Terjemahan oleh A. Hadyana. 1992. Analisis Kimia Kuantitatif (ed. Ke 5).Jakarta: Erlangga)
Harjadi, W. 1990.Ilmu Kimia Analitik Dasar (cetakan kedua). Jakarta: PT. Gramedia.
Harmilton, F. Leicester. 1960. Calculations of Analytical Chemistry (Sixth
ed). New York : MC. Graw Hill Book Company. Inc.
Piola, wina. 2012. Laporan Praktikum Asidi-Alkalimetri (online).
http://winapiola.blogspot.co.id/2012/12/laporan-praktikum-asidi-alkalimetri.html
diakses pada tanggal 01 Desember 2015
Setiarso, Pirim, dkk. 2015. Petunjuk Praktikum Kimia Analitik I (DDKA). Surabaya : Unipress
Svehla, G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro. Edisi ke-5.
Jakarta: PT. Kalman Media Pusaka.
Widodo, Didik Setyo, dan Retno Ariadi. 2010. Kimia Analisis Kuantitatif
Dasar Penguasaan
Aspek Eksperimental. Yogyakarta : Graha Ilmu
LAMPIRAN PERHITUNGAN
Diketahui : massa H2C2O4 = 0,45 Ct = 0,45 x 0,2 = 0,09 gram Volume H2C2O4 = 10 mL
Mr H2C2O4 = 90
gr mol
Volume larutan = 100 mL = 0,1 L V NaOH : - percobaan 1 : V awal = 14,25
V akhir = 15,75 - percobaan 2 : V awal = 11,25 V akhir = 12,75 - percobaan 3 : V awal = 12,75 V akhir = 14,25 a.) Percobaan 1 ( 1,5 mL ) H2C2O4 . xH2O = NaOH Va . Na = Vb . Nb Va . n . Mr . Vg = Vb . Nb 10 mL . 2 . 0,09 g 90 g mol. 0,1 L = 1,5 mL . Nb 0,2 = 1,5 mL . Nb Nb = 0,13 N b.) Percobaan 2 ( 1,5 mL ) H2C2O4 . xH2O = NaOH Va . Na = Vb . Nb Va . n . Mr . Vg = Vb . Nb 1,5 mL 1,5 mL 1,5 mL
10 mL . 2 . 0,09 g 90 g mol. 0,1 L = 1,5 mL . Nb 0,2 = 1,5 mL . Nb Nb = 0,13 N c.) Percobaan 3 ( 1,5 mL ) H2C2O4 . xH2O = NaOH Va . Na = Vb . Nb Va . n . Mr . Vg = Vb . Nb 10 mL . 2 . 0,09 g 90 g mol. 0,1 L = 1,5 mL . Nb 0,2 = 1,5 mL . Nb Nb = 0,13 N N NaOH rata-rata = 0,13+0,13+0,133 =0,13 N
Kadar H2SO4 dalam accu zuur Diketahui : N NaOH = 0,13 N M accu zuur = 1,1073 g = 1107,3 mg Mr H2SO4 = 98 gr mol 1.) Percobaan 1 : ( 5,75 mL ) V NaOH = 5,75 mL % H2SO4 = V NaOH . N NaOH . Be H2SO4.100 10 mgtotal x 100 %
= 5,75 mL. 0,13 N . 98 2 .10 1107,3 x 100 % = 0,3307 x 100 % = 33,07 % 2.) Percobaan 2 : ( 5,83 mL ) V NaOH = 5,83 mL % H2SO4 = V NaOH . N NaOH . Be H2SO4. 100 10 mgtotal x 100 % = 5,83 mL. 0,13 N .98 2 .10 1107,3 x 100 % = 0,3353 x 100 % = 33,53 % 3.) Percobaan 3 : ( 5,92 mL ) V NaOH = 5,92 mL % H2SO4 = V NaOH . N NaOH . Be H2SO4.100 10 mgtotal x 100 % = 5,92 mL. 0,13 N . 98 2 . 10 1107,3 x 100 % = 0,3405 x 100 % = 34,05 % % H2SO4 rata-rata = 33,07 +33,53 +34,05 3 =33,55