Pengaruh penerapan pendekatan inkuiri terbimbing terhadap keaktifan dan hasil belajar siswa kelas X MIPA di SMA Bopkri 1 Yogyakarta pada pembelajaran Hukum Hooke tahun ajaran 2018/2019
Teks penuh
(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X MIPA DI SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA PADA PEMBELAJARAN HUKUM HOOKE TAHUN AJARAN 2018/2019. SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika. Disusun Oleh :. Desinta Putri Anastasia (151424045). PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019. i.
(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. SKRIPSI. PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN INI{UIRI TERBIMBING. TEREADAP KEAI(TIFAN DAN EASIL BELAJAft SISIilA KELAS X. MIPA I}I SMA BOPKRI. l. YOGYAKARTA PAI}A PEMBELAJARAN. IIUKUM IIOOKE TAIIUN AJAR{N. 2fi1812019. Drsusun ril+h". Desinta irutri Anastasia 15142404_s. Telah Disetujui Oleh:. Dosen Pembimbing Skripsi. Drs. Tarsisius Sarkim. fuI.Ed.. Ph.D. Tanggal. 4 Juli 2Gi9.
(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. SKRIPSI. PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN INKUIRI TERBIMBING TERIIADAP KEAKTITAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X MIPA DI SMA BOPKRI l YOGYAKARTA PADA PEMBELAJARAN EUKUM HOOKE TAHTEi AJARAN 281812019 OIeh:. Desinta Putri Anastasia 1s1424445. Telah dipertahankan di depan panitia penguji Pada tanggal 29 Juli 2019 dan diayatakan memenuhi syarat. Susunan Paaitia Peaguj. i. Nama. Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota. 'Ianda Tangan. Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd. Dr. Ignatius Edi Santosa, M.S. Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed", Ph.D. Drs. Domi Severinus,Ivf. Si. Dwi Nugrahsxi Rositarvati, M. Si.. Yogyakarta .29 luli 2019 Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan. Universitas Sanata Dharma Dekan. Ynhanes Harsovs, S.Pd., 1v{.Si. iii.
(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN. Matius 7:8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” “Agar sukses, kemauanmu untuk berhasil harus lebih besar dari ketakutanmu akan kegagalan” Bill Cosby. Karya tulis ini saya persembahkan kepada: Kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat dan rahmat-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Kepada Bapak Stevanus Warsino dan keluarga yang telah memberikan dukungan, doa, restu dan semangat selama proses perkulihan dan proses menyelesaikan skripsi ini. Kepada dosen-dosen pendidikan fisika Universitas Sanata Dharma, yang telah membimbing selama perkuliahan Kepada teman saya Elsa, Mel, Mariana yang sudah membantu dalam pengambilan data skripsi di SMA BOPKRI 1 Yogyakarta Kepada teman-teman pendidikan fisika 2015 yang saling memberikan semangat selama pengerjaan skripsi. iv.
(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PERNYATAAN KEASLIAAN KARYA Saya trenyatakan clengalt scsr-rnsguhn1,,'a bahu a skripsi \,an-s sava tulis t-tlet-nuat. ini. ticlak. karyii atau bagialt kan'a orang 1ain" kecr:ali 1,ang tclah cltscbutl<an tlalam. kutipatt clan tcrcantunr dalan-t cl.rfiar' pustaka. scbaqilinrana lavakuva. l<ar1,a. iln,iah.. Yogvakarta. 29 .lLrii 20 P. I)esinta. entrlis. I)r-rtt'i Anasl a-sia. 1. 9.
(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bctlancla tangan di bari ah ini. sa1,a ntahasisu'a Uuiversitas Sanata Dharrna. Nanra : Desinta Pr:tri. Ana.-stasia. NIN,I : I 51,12210:15. Dcrli. penget-nbangitn. ilnru 1-rcnuctahuan. sava nten-lberikiin. kc1;acla. I)crpustakaan Universitas Sanata Dhrnr-ra lnrtuk nreur inrpan liarYa ilntiah saya yalrg berjudLrl.. PENCAITUH PENEII.,.\I',.\N I'ENDEIi.\I-,\5 I\KTIIRI I'EIII}I]}tBINC 'fERfIADAP I(EAIi'IIF.,\N l),\N H-\SIt. tlllL.\.i.\R SIS\\'.\ KI--1,.{S X }IIPA DI SNIA BOPKRI I YOG\',\K,,\R.-I-.\ P,\DA PENIBE.I,,.\.I\R,\\ IIUKtTNI I{00Kti't'.LHLj}J,\.t.-\t{.{N 20 ltt/20 I 9 Dettgltn ilentjliian sl\ ll ilrcllbcrilill;r iicpurlrr 1)cr-pLrstal,aun t,l'ri..,t,r':,ittrs Sattala Ditarttta hltli ltittuli nrerrviinplur- nruir-glrjilrlilLn. rltiuil. b,.:rr1L:1'. ntciiiu llirt-. n-tcngelolanya clalant bentLrll Itenqhaian ilrtu. ruenrlistnbrrsikirn sccl.ll'ii 1ci-iriita:i. illir.r. rttetrpurl-rlikasikan cli intenret atau nreclia lain untuk kc1;entingan akacleniis tairpa perlu ntetninta ijin dat'i st-r r nraullLlu rnerrbcrikan rovalty kepacla saya selal-na tet;,rp rnencantur-nkan. nar-r-ia. sava sebagai penulis.. ini. Den-rikian perityatai,lit. sar a buat clengan scbenarn,va.. Dibuat cii Yogyakarta Pacla tar-iggal. 29. .luli. Yang menyatakar-r. Dcsinta Putri. l0l9.
(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRAK Desinta Putri Anastasia. 2019. Pengaruh Penerapan Pendekatan Inkuiri Terbimbing Terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Kelas X MIPA SMA BOPKRI 1 Yogyakarta pada Pembelajaran Hukum Hooke Tahun Ajaran 2018/2019. Skripsi. Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pembimbing: Drs. T. Sarkim, M. Ed., Ph.D.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh penerapan pendekatan inkuiri terbimbing terhadap keaktifan dan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah 25 siswa X MIPA 2 SMA BOPKRI 1 Yogyakarta. Dengan menggunakan satu kelas yang diberikan treatment pendekatan inkuiri. Instrumen yang digunakan dalam pengambilan data yaitu tes tertulis essai (pretest dan posttest) dengan 5 jumlah soal, beserta observasi. Peningkatan hasil belajar berdasarkan nilai yang diperoleh dari pretest dan posttest dianalisis secara statistik menggunakan program SPSS uji T-Dependent, keaktifan siswa kelas dianalisis dari lembar observasi dan diperkuat dari rekaman video. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan inkuiri pada pembelajaran hukum Hooke berpengaruh pada hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari nilai |thitung| (76,010) > ttabel (2,042) pada analisis uji T signifikan. Penerapan pendekatan inkuiri pada pembelajaran hukum Hooke meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar rata-rata pretest adalah 1,76, hasil belajar rata-rata posttest 81,88. Keaktifan siswa X MIPA 2 SMA BOPKRI 1 Yogyakarta berada pada kriteria aktif.. Kata kunci: pendekatan inkuiri, hasil belajar siswa, keaktifan siswa. vii.
(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRACT Desinta Putri Anastasia. 2019. The Influence of Guided Inquiry Approach Application Towards Students Participation and Student Learning Outcomes grade X MIPA on Senior High School BOPKRI 1 Yogyakarta about Hooke Laws of the Academic Year 2018/2019. Thesis, Phsic Education, Department of Mathematic Education and Science, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University Yogyakarta. Advisor: Drs. T. Sarkim, M. Ed., Ph.D. This study aims to figure out how for the influence of application guided inquiry approach towards student participation and student learning outcomes. The type of the research is a descriptive quantitative. The subjects of study were 25 students of class X MIPA 2. This research uses one class given the inquiry approach. The instruments used in the data collection are:written tests essay (pretest and posttest) with 5 number of questions along observations. Improvement of student learning outcomes based on the pretest and posttest were statically analyzed using SPSS T-Dependent, the level of activity student analyzed from observation and video recording. The results of this study indicate that the application of inquiry approach about Hooke laws has an effect on students learning outcomes. This can be seen from the value of |tcount| (76,010) > ttable (2,042) in T-test analysis. The interest of student in grade X MIPA SHS BOPKRI 1 Yogyakarta Hooke laws material can increase students learning outcomes. This can be seen from the mean of data pretest is equal to 1,76 and after applied inquiry approach posttest is equal to 81,88. Towards students participation in the class during learning includes active criteria.. Keywords: inquiry approach, student learning outcomes, student activity.. viii.
(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. KATA PENGANTAR Puji dan Syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Penrapan Pendekatan Inkuiri terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Kelas X MIPA di SMA BOPKRI 1 Yogyakarta Pada Materi Hukum Hooke Tahun Ajaran 2018/2019”. Penulisan ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada Program Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu peneliti sangat mengharapkan kritikan dan saran yang bisa menjadikan tulisan ini menjadi lebih baik. Peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada: 1.. Bapak Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D selaku dosen pembimbing yang telah memberikan masukkan yang sangat berguna bagi penulis untuk penyelesaian skripsi.. 2.. Bapak Dr. Ign. Edi Santosa, M.S., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma.. 3.. Romo Prof. Dr. Paul Suparno,S.J., M.S.T., selaku Dosen Pembimbing Akademik (DPA) pendidikan fisika 2015 yang memberikan motivasi dan semangat selama penyelesaian skripsi.. 4.. Ibu Ir. Sri Agustini Sulandari, M.Si sebagai validator yang bersedia memberikan masukkan dan saran kepada penulis dalam pembuatan instrument soal.. 5.. Bapak Drs. Domi Severinus M. Si selaku dosen yang bersedia memberikan masukkan dan saran kepada penulis dalam pembuatan lembar kerja siswa.. 6.. Bapak Drs. Andar Rujito, M.H. selaku kepala sekolah SMA BOPKRI 1 Yogyakarta yang bersedia memberikan ijin untuk pengmbilan data skripsi.. 7.. Bapak Yohanes, S.Pd selaku guru fisika di sekolah yang sudah membimbing selama proses pengambilan data skripsi.. ix.
(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 8.. Bapak Budi selaku pegawai laboratorium yang sudah menyiapkan alat-alat percobaan hukum hooke untuk siswa.. 9.. Siswa-siswi kelas. X MIPA 2 SMA BOPKRI 1 Yogyakarta yang menjadi. subyek penelitian 10.. Segenap Dosen Universitas Sanata Dharma. yang telah. membantu. memberikan bekal pengetahuan selama penulis berkuliah. 11. Segenap. karyawan sekretariat JPMIPA yang telah memberikan bantuan. dalam pembuatan surat izin penelitian.. t2. Bapak Stevanus Warsino dan keluarga yan1 selalu memberikan semangat, doa dan motivasi. 13. Elsa,. Mel, Mariana, Gracella yang membantu dalam mengobservasi keaktifan. siswa saat pembelaj ar an 14. Teman-teman pendidikan fisika 2015 yang selalu memberi semangat dan doa dalam penyelesaian skripsi.. Yogyakarta,29 Jdi2019. \A. A^; Desinta Putri Anastasia.
(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL……………………………………………………………...i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………………………………..ii LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………..……iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................ iv PERNYATAAN KEASLIAAN KARYA ............................................................ v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ........................................................... vi ABSTRAK ........................................................................................................... vii ABSTRACT ......................................................................................................... viii KATA PENGANTAR .......................................................................................... ix DAFTAR ISI……………………………………………………………………..xi BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 LATAR BELAKANG ................................................................................. 1 1.2 RUMUSAN MASALAH ............................................................................. 3 1.3 TUJUAN PENELITIAN ............................................................................. 3 1.4 MANFAAT PENELITIAN ......................................................................... 3 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 PEMBELAJARAN PENDEKATAN INKUIRI ....................................... 4 2.1.1 Pengertian Inkuiri ...................................................................................... 4 2.1.2 Inkuiri Terbimbing .................................................................................... 5 2.1.3 Tahap - Tahap Pendekatan Inkuiri ....................................................... 6. xi.
(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 2.1.4 Syarat Pendekatan Inkuiri ....................................................................... 9 2.1.5 Kelebihan-kelebihan Pendekatan Inkuiri ............................................ 9 2.2 KEAKTIFAN SISWA ............................................................................... 10 2.2.1 Pengertian Keaktifan Siswa ................................................................... 10 2.2.2 Prinsip Keaktifan Siswa ......................................................................... 11 2.3 HASIL BELAJAR SISWA ....................................................................... 13 2.3.1 Pengertian Hasil belajar ......................................................................... 13 2.3.2 Faktor-Faktor Hasil belajar .................................................................. 13 2.4 MATERI HUKUM HOOKE ................................................................... 14 2.4.1 Hukum Hooke ........................................................................................... 14 2.4.2 Hukum Hooke Untuk Susunan Pegas ................................................. 16 2.5 PENDEKATAN INKUIRI DENGAN PERCOBAAN DALAM PEMBELAJARAN HUKUM HOOKE ......................................................... 19 2.6 PENELITIAN YANG RELEVAN ........................................................... 20 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 JENIS PENELITIAN ................................................................................ 23 3.2 WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN ................................................ 23 3.3 SUBYEK PENELITIAN ........................................................................... 23 3.4 DESAIN PENELITIAN ............................................................................ 24 3.5 INSTRUMEN PENELITIAN ................................................................... 26 3.5.1 Instrumen pembelajaran ........................................................................ 26 3.5.2 Instrumen pengumpulan data ............................................................... 26 3.6 VALIDITAS ............................................................................................... 30 3.7 TEKNIK ANALISIS DATA ............................................................................ 30. xii.
(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 3.7.1 Analisis Hasil Belajar Siswa .................................................................. 30 3.7.2 Analisis Keaktifan Siswa ........................................................................ 32 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 DESKRIPSI PENELITIAN...................................................................... 35 4.2 DESKRIPSI PELAKSANAAN PENELITIAN ...................................... 37 4.3 DATA, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ................................. 39 4.3.1 Nilai pretest dan posttest ........................................................................ 39 4.3.2 Penilaian Lembar Kerja Siswa (LKS)................................................. 46 4.3.3 Lembar Observasi .................................................................................... 49 4.4 PEMBAHASAN ......................................................................................... 52 BAB 5 PENUTUP 5.1 KESIMPULAN .......................................................................................... 55 5.2 SARAN ....................................................................................................... 55 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 56 LAMPIRAN……………………………………………………………………..58. xiii.
(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Sintakis untuk Pelajaran Berbasis Inkuiri………………………….8 Tabel 3.1 Desain Pembelajaran Hukum Hooke……………………………....24 Tabel 3.2 Kisi-kisi Soal Pretest pada pembelajaran Hukum Hooke………...27 Tabel 3.3 Kisi-kisi Soal Posttest pada pembelajaran Hukum Hooke………..28 Tabel 3.4 Kisi- Kisi Instrumen Lembar Observasi Keaktifan Siswa……….29 Tabel 3.5 Interval keaktifan siswa……………………………………………..33 Tabel 3.6 Indikator keaktifan siswa…………………………………………...34 Tabel 4.1 Jadwal Penelitian…………………………………………………….36 Tabel 4.2 Deskripsi Kegiatan Pertemuan Pertama…………………………...39 Tabel 4.3 Deskripsi Kegiatan Pertemuan Kedua……………………………..39 Tabel 4.4 Nilai Pretest Kelas X MIPA 2……………………………………….40 Tabel 4.4 Nilai Posttest Kelas X MIPA 2……………………………………....42 Tabel 4.6 Hasil analisis menggunakan aplikasi SPSS………………………...44 Tabel 4.7 Hasil Belajar Siswa berdasarkan KKM untuk Pretest……………45 Tabel 4.8 Hasil Belajar Siswa berdasarkan KKM untuk Posttest...………...46 Tabel 4.9 Nilai LKS (Lembar Kerja Siswa) kelas X MIPA 2…………...........46 Tabel 4.10 Analisis setiap jawaban kelompok di LKS………………………..48 Tabel 4.11 Hasil Lembar Observasi Keaktifan Siswa pertemuan I……........49 Tabel 4.12 Hasil Analisis Lembar Observasi pertemuan I…………….…….49 Tabel 4.13 Hasil Lembar Observasi Keaktifan Siswa pertemuan II………..51 Tabel 4.14 Hasil Lembar Observasi Keaktifan Siswa pertemuan II………...51. xiv.
(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR GAMBAR. Gambar 2.1 Pertambahan panjang pegas……………………………….…….15 Gambar 2.2 Dua pegas tetapan gaya k1 dan k2 disusun seri ks.................…...16 Gambar 2.3 Dua pegas tetapan gaya k1 dan k2 yang disusun pararel kp........18. xv.
(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR DIAGRAM. Diagram 3.1 Desain Penelitian………………………………………………....24 Diagram 4.1 Deskripsi Pelaksanaan Penelitian……………………………… 37. xvi.
(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR LAMPIRAN. Lampiran 1 Surat Perijininan Melakukan Penelitian…………………………….58 Lampiran 2 Surat Edaran Penerbitan Keterangan………………………………..59 Lampiran 3 Rencana Rancangan Pembelajaran………………………………….60 Lampiran 4 Validasi Pretest daan Posttest……………………………………….66 Lampiran 5 Pretest Siswa………………………………………………………...77 Lampiran 6 Posttest Siswa……………………………………………………….78 Lampiran 7 Lembar Kerja Siswa………………………………………………...80 Lampiran 8 Lembar Observasi…………………………………………………...84 Lampiran 9 Rubrik penilaian ……………………………………………………88 Lampiran 10 Dokumentasi……………………………………………………...101 Lampiran 11 Soal dan Kunci Jawaban Pretest………………………………….103 Lampiran 12 Soal dan Kunci Jawaban Posttest………………………………...109. xvii.
(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik saat siswa mampu memahami materi pembelajaran. Sering, terjadi pada proses pembelajaran guru lebih aktif untuk memberikan materi kepada siswa, yang terkesan hanya menstranfer ilmu kepada siswa. Proses belajar siswa terutama melalui kegiatan “mengalami” dan bukan transfer pengetahuan (Severinus Domi, 2004:2). Pada kenyataannya dalam proses pembelajaran terutama mata pelajaran Fisika siswa hanya menghafal rumus-rumus tanpa mengetahui konsep-konsep yang ada. Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru yang tepat akan membuat siswa memahami materi yang disampaikan. Metode untuk mengajar sangat banyak sekali macamnya, maka menjadi guru harus mampu memilih metode yang tepat digunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran Fisika. Beberapa metode pembelajaran Fisika, yaitu : metode inquiry, discovery, eksperimen, simulasi, permainan, demonstrasi, diskusi kelompok dan masih banyak lagi. Kindsvatter, Wilen, & Ishler (1996) menjelaskan inquiry sebagai model pembelajaran dimana guru melibatkan kemampuan berpikir kritis siswa untuk menganalisis dan memecahkan persoalan secara sistematik. Yang utama dari metode inquiry adalah menggunakan pendekatan induktif yang menemukan pengetahuan dan berpusat kepada keaktifan siswa. Jadi bukan pembelajaran yang berpusat pada guru, melainkan kepada siswa. Itulah sebabnya pendekatan ini sangat dekat dengan prinsip konstruktivis, dimana pengetahuan itu dikonstruksi oleh siswa. Keberhasilan pembelajaran siswa dalam proses belajar mengajar bisa diukur pada keaktifan dan hasil belajar yang di dapat pada akhir pembelajaran. Pada proses pembelajaran guru dapat mengamati keaktifan siswa di dalam kelas, indikator keaktifan yaitu siswa antusias dalam pembelajaran, menjawab pertanyaan yang diajukan guru atau siswa lain, mengerjakan tugas yang diberikan guru,. 1.
(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. mempresentasikan hasil percobaannya di depan kelas, berani bertanya kepada guru dan mengikuti diskusi kelompok, melakukan eksperimen. Selanjutnya, hasil belajar siswa didapat dari tugas individu, tugas kelompok beserta nilai ulangan hariannya. Berdasarkan observasi di SMA BOPKRI 1 Yogyakarta ada beberapa masalah saat proses pembelajaran berlangsung. Permasalahan yang sering terjadi saat proses belajar-mengajar yaitu beberapa siswa masih malu untuk menjawab pertanyaan dari guru serta siswa masih takut untuk bertanya kepada guru terhadap kesulitan materi yang dihadapi. Sementara itu, siswa masih kurang percaya diri saat mempresentasikan hasil percobaanya, dan yang sering terjadi saat guru memberikan tugas siswa hanya menyalin hasil pengerjaan siswa yang lain. Lalu, hasil belajar yang diperoleh selama pembelajaran akan kurang maksimal. Permasalahan yang terjadi mengakibatkan siswa tidak mencapai tujuan pembelajaran dengan maksimal. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya permasalahan tersebut adalah bisa berasal dari dalam diri siswa dan dari luar diri siswa. Faktor dari dalam diri siswa yaitu adanya persepsi siswa bahwa materi fisika terlalu banyak rumus, angka dan sulit untuk dipahami. Faktor dari luar siswa yaitu terdapat pada kesalahan guru dalam menggunakan metode pelajaran. Observasi juga dilakukan saat guru pamong mengajar di kelas, saat pembelajaran siswa cenderung diam hanya mendengarkan materi dari guru dan mencatat materi saja. Sering terjadi juga saat guru menjelaskan siswa sibuk bermain smartphone dan membuat gaduh suasana kelas. Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk meneliti apakah ada pengaruh keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika saat menggunakan pendekatan inkuiri. Proses pembelajaran dibatasi pembelajaran hukum Hooke. Oleh karena itu judul penelitian ini adalah “PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN INKUIRI TERHADAP KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X MIPA DI SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA PADA PEMBELAJARAN HUKUM HOOKE PADA TAHUN AJARAN 2018/2019”.
(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. 1.2 RUMUSAN MASALAH. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka penulis merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana pengaruh penerapan pendekatan inkuiri pada pembelajaran hukum Hooke terhadap hasil belajar siswa? 2. Bagaimana pengaruh penerapan pendekatan inkuiri pada pembelajaran hukum Hooke terhadap keaktifan siswa?. 1.3 TUJUAN PENELITIAN. Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini untuk: 1. Mengetahui pengaruh penerapan pendekatan inkuiri pada pembelajaran hukum Hooke terhadap hasil belajar siswa. 2. Mengetahui pengaruh penerapan pendekatan inkuiri pada pembelajaran hukum Hooke terhadap keaktifan siswa. 1.4 MANFAAT PENELITIAN. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, calon guru, peneliti dan siswa. Untuk guru dan calon guru, penelitian ini diharapkan memahami gambaran bagaimana pembelajaran pendekatan inkuiri dalam proses pelajaran fisika. Guru dapat mengetahui hasil belajar dan tingkat keaktifan siswa. Untuk siswa, melalui lembar kerja siswa dapat bereksperimen yang berhubungan dengan pembelajaran hukum Hooke dan siswa mengalami proses pelajaran fisika menggunakan pendekatan inkuiri..
(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II LANDASAN TEORI 2.1 PEMBELAJARAN PENDEKATAN INKUIRI 2.1.1 Pengertian Inkuiri. Secara bahasa, inkuiri berasal dari kata inquiry yang merupakan kata dalam bahasa inggris yang berarti; penyelidikan/ meminta keterangan; terjemahan bebas untuk konsep ini “siswa diminta untuk mencari dan menemukan sendiri”. Pembelajaran berbasis inkuiri sangat tepat dilakukan pada kurikulum 2013, yang memiliki ketentuan siswa yang aktif dan guru menjadi fasilitator. Dalam metode ini siswa sungguh dilibatkan untuk aktif berpikir dan menemukan pengertian yang ingin diketahuinya. Dalam metode pembelajaran ini siswa dilibatkan dalam proses penemuan melalui pengumpulan data dan tes hipotesis. Secara umum inkuiri adalah proses di mana para saintis mengajukan pertanyaan tentang alam dunia ini dan bagaimana mereka secara sistematis mencari jawabnya (Trowbridge dan Bybee, 1996). Welch mendefinisikan inkuiri sebagai proses di mana manusia mencari informasi atau pengertian, maka sering disebut disebut a way of thought. Kindsvatter, Wilen, & Ishler (1996) lebih menjelaskan inkuiri sebagai model pembelajaran dimana guru melibatkan kemampuan berpikir kritis siswa untuk menganalisis dan memecahkan persoalan secara sistematik. Yang utama dari pendekatan inkuiri adalah menggunakan pendekatan induktif yang menemukan pengetahuan dan berpusat kepada keaktifan siswa. Jadi bukan pembelajaran yang berpusat pada guru, melainkan kepada siswa. Itulah sebabnya pendekatan ini sangat dekat dengan prinsip konstruktivis, di mana pengetahuan itu dikonstruksi oleh siswa. Adapun jenis-jenis pendekatan inkuiri (Sitiatava Rizema Putra, 2013:Hal 96100), yaitu: a. Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry Approach) Pendekatan inkuiri saat guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan kepada suatu diskusi. Dengan pendekatan ini, siswa belajar lebih berorientasi kepada bimbingan. 4.
(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. dan petunjuk dari guru, sehingga siswa mampu memahami konsep-konsep pembelajaran b. Inkuiri Bebas (Free Inquiry Approach) Pendekatan inkuiri ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Hal tersebut dikarenakan di dalam pendekatan ini, siswa seolah-olah bekerja sebagai seorang ilmuan. Siswa pun diberi kebebasan dalam menentukan permasalahan yang akan diselidiki, menemukan dan menyelesaikan masalah secara mandiri, serta merancang prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan. Selama proses itu, bimbingan dari guru sangat sedikit diberikan bahkan tidak diberikan sama sekali. c. Inkuiri Bebas yang Dimodifikasi Pendekatan dari kedua pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas. Meskipun demikian, permasalahan yang dijadikan topic untuk diselidiki tetap diberikan atau mengarahkan acuan kurikulum yang telah ada. Siswa tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri, namun siswa belajar dengan pendekatan ini dalam menerima masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap menerima bimbingan. Tetapi bimbingan yang diberikan lebih sedikit daripada inkuiri terbimbing.. 2.1.2 Inkuiri Terbimbing. Inkuiri terbimbing merupakan kegiatan inkuiri dimana siswa bebas menentukan gaya belajar namun tetap sesuai dengan bimbingan guru. Inkuiri terbimbing menuntut siswa untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dikemukakan oleh guru dibawah bimbingan yang intensif dari guru, jadi siswa tidak hanya duduk, mendengarkan penjelasan guru lalu menulis. Guru memiliki peran untuk mengarahkan siswa untuk berpikir mengenai materi yang akan diberikan.. 5.
(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Dalam pendekatan inkuiri siswa menyelidiki suatu masalah, yang diberi bimbingan oleh guru berupa petunjuk pertanyaan sehingga siswa dapat menemukan pengetahuan. 2.1.3 Tahap - Tahap Pendekatan Inkuiri. Pengajaran berbasis inkuiri adalah model pengajaran lain yang telah dikembangkan untuk tujuan mengajarkan siswa cara berpikir. Model inkuiri dipengaruhi oleh karya awal John Dewey (1916) dan Jerome Bruner (1960). Perencanaan pelajaran berbasis inkuiri memiliki dua tugas utama yaitu menentukan tujuan dan mengidentifikasi masalah yang sesuai inkuiri. Pelajaran berbasis inkuiri memiliki tujuan isi dan proses yang bermaksud guru ingin siswa memperoleh pengetahuan baru yang menjadi fokus inkuiri dari pelajaran tersebut. Hasil pembelajaran untuk pengajaran berbasis inkuiri yaitu mendapatkan pengetahuan, mengembangkan. ketrampilan. berpikir. dan. penalaran,. mengembangkan. ketrampilan metakognitif dan mengembangkan sikap positif terhadap inkuiri dan penghargaan untuk kesementaraan pengetahuan. Penting bagi guru untuk jelas mengenai tujuan isi maupun tujuan proses dan mengomunikasikan hal tersebut kepada siswa dengan cara yang mudah. Pengajaran berbasis inkuiri meliputi mengidentifikasi situasi bermasalah atau pertanyaan untuk memicu inkuiri. Beberapa orang percaya bahwa masalah harus dimunculkan sebagai peristiwa yang tidak sesuai (Suchman, 1962). Pada dasarnya peristiwa yang tidak sesuai adalah situasi membingungkan yang mengejutkan siswa akan memotivasi siswa untuk mencari tahu dan terlibat dalam inkuiri. Seringkali peristiwa yang tidak sesuai adalah situasi yang berlawanan dengan apa yang biasanya diharapkan. Seperti contoh berikut: ‘Guru mempunyai tiga gelas. Satu diisi dengan air keran biasa, satu lagi diisi dengan air garam, yang ketiga diisi dengan air gula. Guru meletakkan telur yang sudah direbus di setiap gelas. Saat telur rebus di dalam gelas yang berisi air keran telur tersebut tenggalam sedangkan saat telur rebus di dalam gelas yang berisi air garam dan air gula telur tersebut tenggalam.’. 6.
(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Peristiwa yang disajikan guru akan mendorong siswa untuk bertanya mengenai fenomena yang telah diamati siswa maka akan memunculkan hipotesis, dan memikirkan cara menguji hipotesis tersebut. Magnuson dan Pallincsar (1995) memiliki pendekatan yang sedikit berbeda untuk mendefinisikan dan mengidentifikasi sebuah masalah inkuiri. Mereka percaya bahwa masalah tersebut tidak harus sesuai, tetapi masalah haruslah membingungkan dan memenuhi kriteria yaitu: secara konseptual kaya dalam hal kesempatan untuk inkuiri yang bermakna, fleksibel dalam kaitannya dengan masalah-masalah perkembangan, dan relevan dengan kehidupan anak-anak sehingga masalah tersebut dapat diakses dan menarik. Contoh – contoh menyatakan situasi bermasalah dengan cara ini misalnya: Mengapa pada percobaan hukum Hooke massa beban mempengaruhi pertambahan panjang pegas? Mengapa setiap benda jatuhnya ke bawah? Dalam proses pelaksanaan pelajaran inkuiri peran utama guru yaitu memfasilitasi dan membantu. siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Tujuan. terpenting pendidikan adalah mengajarkan siswa cara berpikir, salah satu cara dengan pelajaran berbasis inkuiri. Dalam pembelajaran dalam kelas penting untuk mendapatkan perhatian siswa dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang terencana. Ketika guru menggunakan pelajaran berbasis inkuiri untuk pertama kali maka guru menjelaskan tujuan pelajaran dan kegiatan pembelajaran pada siswa. Pelajaran berbasis inkuiri biasanya guru menggunakan demonstrasi dan presentasi untuk mengomunikasikan situasi bermasalah kepada siswa. Tahapan dalam pelajaran berbasis inkuiri :. 7.
(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Tabel 2.1 Sintaks untuk Pelajaran Berbasis Inkuiri Tahapan. Perilaku Guru. Mendapatkan perhatian dan. Guru menyiapkan siswa untuk belajar. menjelaskan proses inkuiri. dan. menjabarkan. proses. untuk. pelajaran Menyajikan permasalahan. Guru menyajikan situasi bermasalah. inkuiri atau kejadian yang. kepada siswa. tidak sesuai Meminta siswa merumuskan. Guru. mendorong. siswa. hipotesis untuk menjelaskan. menanyakan. permasalahan atau kejadian. situasi bermasalah atau kejadian yang. pertanyaan. untuk. mengenai. tidak sesuai dan menyatakan hipotesis yang akan menjelaskan apa yang sedang terjadi Mendorong siswa untuk. Guru menanyai siswa mengenai cara. mengumpulkan data untuk. mereka mengumpulkan data untuk. menguji hipotesis. menguji hipotesis. Dalam beberapa kasus, dapat dilakukan percobaan dalam kelas. Guru meminta siswa. Guru menutup inkuiri lebih dekat. merumuskan penjelasan dan. dengan meminta siswa merumuskan. kesimpulan. kesimpulan dan generalisasi. Merefleksikan situasi. Guru meminta siswa untuk berpikir. bermasalah dan proses. mengenai proses pemikiran mereka. berpikir yang digunakan untuk sendiri menyelidikinya. dan. proses inkuiri.. 8. untuk. merefleksikan.
(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. 2.1.4 Syarat Pendekatan Inkuiri. Syarat agar inkuiri dapat berjalan baik Suchman dalam Throwbridge et.al. (1996: 179) menjelaskan beberapa syarat agar terjadi inkuiri yang baik, yaitu : a. Kebebasan: perlu ada kebebasan siswa untuk menemukan dan mencari informasi. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan hipotesisnya, menyusun eksperimen yang mau digunakan, dan mencari informasi apapun yang dianggap perlu untuk memecahkan persoalan dalam penelitaannya.. b. Lingkungan atau suasana yang responsif: ada laboratorium, computer, kelas, pustaka, dan sarana yang mendukung terjadinya proses inkuiri.. c. Fokus: persoalan yang mau didalami harus jelas arahnya, dan dapat dipecahkan siswa. Dalam inkuiri, yang terarah persoalan memang harus sangat jelas. Bila muncul banyak persoalan yang diajukan oleh siswa dengan melihat gejala yang ada, dapat dipilih salah satu yang terpenting dan soal itu memang mungkin dipecahkan oleh siswa. Sedangkan untuk inkuiri yang bebas, persoalan tidak perlu terarah dan tidak perlu hanya diambil satu. Biarlah tiap kelompok siswa menentukan persoalannya sendiri.. d. Low pressure: tidak banyak tekanan dari siapa dan manapun sehingga siswa dapat lebih berpikir kreatif dan kritis. Kadang siswa tidak dapat melakukan penyelidikan secara sungguh-sungguh mendalam karena ada tekanan dari luar seperti tekanan dari guru, waktu yang dikejar-kejar, teman kelompok yang tidak cocok, maupun bentuk pelaporannya. Hal-hal ini perlu disingkirkan atau diminimalisir.. 2.1.5 Kelebihan-kelebihan Pendekatan Inkuiri. Berikut ini adalah beberapa kelebihan pembelajaran yang menggunakan pembelajaran inkuiri: Bruner (Amin, 1987, hlm, 133), seorang Psikolog dari Harvard University di Amerika Serikat menegaskan metode inkuiri memiliki kelebihan sebagai berikut: a. Siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik.. 9.
(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. b. Membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi-situasi proses belajar yang baru.. c. Mendorong siswa untuk berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.. d. Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.. e. Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik.. f. Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.. 2.2 KEAKTIFAN SISWA 2.2.1 Pengertian Keaktifan Siswa. Keaktifan siswa dalam belajar merupakan persoalan penting dan mendasar yang harus dipahami, disadari dan dikembangkan oleh setiap guru di dalam proses pembelajaran. Siswa harus dapat aktif dalam menerapkan materi di kegiatan belajar. Keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optimal, baik intelektual, emosional dan fisik jika dibutuhkan. Pandangan mendasar yang perlu menjadi kerangka pikir setiap guru adalah bahwa pada prinsipnya anak-anak adalah mahluk yang aktif. Individu merupakan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin tahu. Keaktifan siswa dapat dilihat melalui aktivitas siswa ketika pembelajaran dimulai. Aktivitas tersebut bukan hanya mendengarkan dan mencatat. Paul Diedrich (dalam Sadirman 2007: 101) membuat suatu daftar kegiatan siswa yang dapat digolongkan sebagai berikut: a. Visual. activities,. yang. termasuk. didalamnya. misalnya,. membaca,. memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain. b. Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.. c. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.. d. Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.. 10.
(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. e. Drawing activities, misalnya menggambar, membuat grafik, peta, diagram.. f. Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model merepasi, bermain, berkebun, beternak.. g. Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.. h. Emotional activities, seperti misalnya, menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup. Daya keaktifan yang dimiliki anak secara kodrati itu akan dapat berkembang. kearah yang positif bilamana lingkungannya memberikan ruang yang baik untuk tumbuh suburnya keaktifan itu. Keadaan ini menyebabkan setiap guru perlu menggali potensi-potensi keberagaman siswa melalui keaktifan yang mereka aktualisasikan dan selanjutnya mengarahkan aktifitas mereka kearah tujuan positif atau tujuan pembelajaran. Hal ini pula yang mendasari pemikiran bahwa kegiatan pembelajaran harus dapat memberikan dan mendorong seluas-luasnya keaktifan. Ketidaktepatan pemilihan pendekatan pembelajaran sangat memungkinkan keaktifan siswa menjadi tidak tumbuh subur, bahkan mungkin justru menjadi kehilangan keaktifannya.. 2.2.2 Prinsip Keaktifan Siswa. Implikasi prinsip keaktifan atau aktivitas bagi guru di dalam proses pembelajaran : a. Memberi kesempatan, peluang seluas-luasnya kepada siswa untuk berkreativitas dalam proses belajarnya. b. Memberi kesempatan melakukan pengamatan, penyelidikan atau inkuiri dan eksperimen. c. Memberi tugas individual dan kelompok melalui kontrol guru. d. Memberikan pujian verbal dan non verbal terhadap siswa yang memberikan respons terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. e. Menggunakan multi metode dan multi media di dalam pembelajaran.. 11.
(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. Di dalam belajar diperlukan aktivitas karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah ditingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Saat tidak ada aktivitas maka tidak ada belajar. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi belajar-mengajar. Sebagai rasionalitasnya hal ini juga mendapatkan pengakuan dari berbagai ahli pendidikan. Frobel mengatakan bahwa “manusia sebagai pencipta”. Dalam ajaran agama pun diakui bahwa manusia adalah sebagai pencipta kedua (setelah Tuhan). Guru merasa khawatir bahwa kreatifitas misalnya membuat peraturan di kelas untuk duduk secara melingkar akan membuat siswa-siswa sibuk bermain. Guru mungkin merasa bahwa tak ada waktu untuk melakukan semua ini, karena siswa-siswa harus melanjutkan pembelajaran dengan kurikulum yang sudah diformalkan. Memang harus diakui ada banyak tekanan bagi guru untuk menemukan cara yang paling sederhana dan tidak bertele-tele untuk memenuhi target-target yang sudah ditetapkan (Campbell dkk.1993;Wood 1995). Sayangnya banyak guru yang hanya mengejar target penyelesaian materi tanpa memperhatikan pemahaman siswa, maka guru sering menggunakan metode pembelajaran yang kurang baik. Pembelajaran yang terjadi seharusnya melibatkan lebih dari sekedar mampu mengatakan bahwa seorang siswa telah melakukan tugas-tugas tertentu dan sekarang siswa tersebut sudah mencapai tingkat tertentu. Pembelajaran melibatkan interaksi yang kompleks antara siswa, guru dan konteks. Kegiatan-kegiatan yang tampaknya hanya sekedar bermain atau hanya sekedar kreatifitas perlu dibentangkan supaya guru dapat melihat bahwa siswa melibatkan lebih dari sekedar pembelajaran hapalan, meniru atau tugas-tugas dengan kertas dan pensil lainnya yang hanya memberikan sedikit tantangan. Maka dengan kreatifitas guru, siswa mampu memahami konsep yang diajarkan. Guru membebaskan siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan yang dimiliki siswa.. 12.
(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. 2.3 HASIL BELAJAR SISWA 2.3.1 Pengertian Hasil belajar. Menurut Herman Hudojo (1988; 144) sesorang dikatakan berpikir bila orang itu melakukan kegiatan mental, bukan kegiatan motorik, walaupun kegiatan motorik ini dapat pula bersama-sama dengan kegiatan mental tersebut. Dalam kegiatan mental itu, orang menyusun hubungan-hubungan antara bagian- bagian informasi yang telah diperoleh sebagai pengertian. Karena itu orang menjadi memahami dan menguasai hubungan-hubungan tersebut sehingga orang itu dapat menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang dipelajari, inilah merupakan hasil belajar. Hasil belajar menurut Sudjana (1990:22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dari pengertian tadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh siswa setelah siswa tersebut mengalami aktivitas belajar. Gagne mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar, yakni: informasi verbal, kecakapan intelektul, strategi kognitif, sikap dan keterampilan. Sementara Bloom mengungkapkan tiga tujuan pengajaran yang merupakan kemampuan seseorang yang harus dicapai dan merupakan hasil belajar yaitu : kognitif, afektif dan psikomotorik (Sudjana, 1990:22).. 2.3.2. Faktor-Faktor Hasil belajar. Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu: a. Faktor dari dalam diri siswa, meliputi kemampuan yang dimilikinya, motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. b. Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan, terutama kualitas pengajaran. Hasil belajar yang dicapai siswa menurut Sudjana (1990:56), melalui proses belajar mengajar yang optimal ditunjukkan dengan ciri-ciri sebagai berikut:. 13.
(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. a. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsik pada diri siswa. Siswa tidak mengeluh dengan prestasi yang rendah dan ia akan berjuang lebih keras untuk memperbaikinya atau setidaknya mempertahankan apa yang telah dicapai. b. Menambah keyakinan dan kemampuan dirinya, artinya ia tahu kemampuan dirinya dan percaya bahwa ia mempunyai potensi yang tidak kalah dari orang lain apabila ia berusaha sebagaimana mestinya. c. Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya, seperti akan tahan lama diingat, membentuk perilaku, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain, kemauan dan kemampuan untuk belajar sendiri dan mengembangkan kreativitasnya. d. Hasil belajar yang diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif), yakni mencakup ranah kognitif, pengetahuan atau wawasan, ranah afektif (sikap) dan ranah psikomotorik, keterampilan atau perilaku. e. Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan diri terutama dalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya.. 2.4 MATERI HUKUM HOOKE. 2.4.1. Hukum Hooke Hukum Hooke menyatakan “Jika gaya tarik yang bekerja pada pegas tidak. melampaui batas elastisitas pegas, maka pertambahan panjang pegas berbanding lurus dengan gaya yang bekerja pada pegas”. Semakin besar gaya tarik yang bekerja pada pegas, semakin besar pertambahan panjang pegas.. 14.
(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15. Gambar 2.1 Pertambahan panjang pegas (sumber:http://repository.uma.ac.id/bitstream/123456789/8190/1/128120009.pdf). Dari gambar di atas dapat terlihat bahwa ketika suatu pegas tidak diberi gaya luar F maka pegas memiliki panjang awal X0, namun ketika pegas diberikan gaya luar F maka panjang pegas berubah lebih panjang X. Perubahan panjang pegas disimbolkan dengan ΔX. Setiap pegas memiliki koefisian elastisitas k yang berbedabeda, batas koefisien elastisitas inilah yang menentukan kekuatan suatu benda elastis. Pada setiap pegas akan berlaku persamaan berikut: ⃗⃗⃗ 𝐹𝑝 = −𝑘 ⃗⃗⃗⃗ ∆𝑥. (1). Keterangan : Fp = gaya pemulih (N) K = konstanta pegas (N/m) ∆𝑥 = pertambahan panjang pegas (m) Tanda negatif (-) menunjukkan bahwa arah gaya pemulih selalu menuju titik setimbang dan berlawanan dengan arah gaya penyebabnya. Besarnya K dihitung dengan: |𝐹𝑝 | = 𝑘 |∆𝑥|. (2). 15.
(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16. |𝑚 𝑔| = 𝑘 |∆𝑥| 𝑘=. 𝑚𝑔. (3). ∆𝑥. 2.4.2 Hukum Hooke Untuk Susunan Pegas. Dua pegas atau lebih dapat disusun secara seri maupun pararel. Susunan dua pegas atau lebih yang dirangkai secara seri atau pararel tersebut dapat ditentukan konstanta pegas penggantinya. a. Susunan pegas secara seri Prinsip susunan beberapa buah pegas adalah sebagai berikut:. Gambar 2.2 Dua buah pegas masing-masing dengan tetapan gaya k1 dan k2 yang disusun secara seri ks (Sumber:https://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/sumberbelajar/tampil/Elas. tisitas-Benda-2009/konten8.html). Pada susunan pegas secara seri berlaku ketentuan sebagai berikut: 1 Gaya Tarik pegas pengganti sama dengan gaya Tarik yang dialami oleh masingmasing pegas yang disusun seri. Jika gaya tarik yang dialami oleh setiap pegas sebesar F1 dan F2, maka besar gaya tarik pegas pengganti susunan seri adalah sebesar (F): F= F1= F2 Keterangan:. 16. (5).
(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17. F= gaya tarik pegas pengganti susunan seri (N) F1 dan F2 = gaya tarik pegas 1 dan pegas 2 (N) 2 Pertambahan panjang pegas pengganti susunan seri (Δx), sama dengan jumlah pertambahan panjang masing-masing pegas. Δx = Δx1 + Δx2. (6). Hubungan antara pegas pengganti dengan konstanta masing-masing pegas yang disusun seri dapat ditentukan dengan menggunakan Hukum Hooke sebagai berikut: 𝐹. F= ks Δx. sehingga 𝛥𝑥 = 𝑘. F1= k1 Δx1. sehingga ∆𝑥1 = 𝑘. F2= k2 Δx2. sehingga ∆𝑥2 = 𝑘. 𝑠. 𝐹 𝑠. 𝐹 𝑠. Δx = Δx1 + Δx2, sehingga diperoleh persamaan berikut. Δx = Δx1 + Δx2 𝐹 𝐹 𝐹 = + 𝑘𝑠 𝑘1 𝑘2 1 1 1 = + 𝑘𝑠 𝑘1 𝑘2 Dengan demikian maka dapat diperoleh bahwa kebalikan konstanta pegas pengganti susunan seri sama dengan jumlah kebalikan konstanta masing-masing pegas yang disusun seri tersebut. 1 𝑘𝑠. 1. 1. =𝑘 +𝑘 +⋯ 1. 2. (7). Jika sebanyak n pegas disusun seri dengan konstanta masing-masing pegas sebesar k, maka konstanta pegas pengganti susunan seri dapat dihitung dengan menggunakan rumus: 𝑘. 𝑘𝑠 = 𝑛. (8). Keterangan: ks = konstanta pegas pengganti susunan seri (N/m) k = konstanta masing-masing pegas (N/m) n = jumlah pegas yang disusun seri. 17.
(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18. b. Susunan pegas secara pararel Prinsip susunan beberapa buah pegas adalah sebagai berikut:. Gambar 2.3 Dua buah pegas masing-masing dengan tetapan gaya k1 dan k2 yang disusun secara pararel kp (sumber:https://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/sumberbelajar/tampil/Elast isitas-Benda-2009/konten8.html) Pada susunan pegas secara pararel berlaku ketentuan sebagai berikut: 1. Gaya tarik pada pegas pengganti F sama dengan total gaya tarik pada tiap pegas (F1 dan F2) 𝐹 = 𝐹1 + 𝐹2. (9). 2. Pertambahan panjang tiap pegas sama besar dan pertambahan panjang sama dengan pertambahan panjang pegas pengganti ∆𝑥1 = 𝛥𝑥2 = 𝛥𝑥. (10). Dengan menggunakan hukum Hooke dan kedua prinsip susunan pararel beberapa pegas, dicari hubungan antara tetapan gaya pengganti (kp) dengan tetapan gaya tiap pegas (k1 dan k2) yaitu: Untuk susunan pararel, kedua pegas mengalami pertambahan panjang yang sama bila dikenai gaya F, maka 𝐹 = 𝐹1 + 𝐹2 𝐹 = 𝑘1 ∆𝑥 + 𝑘2 ∆𝑥 𝐹 = (𝑘1 + 𝑘2 )∆𝑥 𝐹 = (𝑘1 + 𝑘2 ) ∆𝑥. 18.
(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19. Karena = 𝑘 ∆𝑥 , maka konstanta pegas total untuk rangkai pegas pararel adalah: 𝑘𝑝 = 𝑘1 + 𝑘2. (11). Untuk n buah pegas identik yang disusun pararel, dengan tiap pegas memiliki tetapan gaya k , tetapan gaya pegas pengganti pararel kp dapat dihitung dengan persamaan: 𝑘𝑝 = 𝑛𝑘. 2.5 PENDEKATAN. (12). INKUIRI. DENGAN. PERCOBAAN. DALAM. PEMBELAJARAN HUKUM HOOKE. Penelitian ini menggunakan pendekatan inkuiri yang berarti bahwa siswa menemukan sesuatu persamaan dengan bimbingan guru. Pendekatan inkuiri peneliti menggunakan bantuan percobaan untuk membimbing siswa menemukan sesuatu. Dalam melakukan percobaan siswa mendapat LKS (Lembar Kerja Siswa) yang berisi langkah-langkah percobaan, tabel data dan beberapa pertanyaan yang mengacu pada pokok bahasan hukum Hooke. Setelah siswa mendapatkan data dari percobaan dilanjutkan dengan menganalisis, dari analisis data dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan, lalu siswa akan mendapatkan persamaan dari data tersebut. Siswa melakukan diskusi saat menganalisis data dan menjawab beberapa pertanyaan LKS. Siswa mendapatkan persamaan dengan berdiskusi kelompok yang berisi 5 siswa setiap kelompoknya. Selanjutnya siswa mempresentasikan dengan menjawab pertanyaan yang ada. Setelah siswa mempresentasikan data dan hasil diskusi yang disediakan dalam LKS, maka siswa dapat menyimpulkan hukum Hooke pada pegas. Peneliti bertugas untuk meluruskan jika ada miskonsepsi dalam membahas hukum Hooke. Pembelajaran hukum hooke pada pegas dilanjutkan dengan pembelajaran hukum Hooke pada pegas yang disusun secara seri dan pararel. Pada pokok bahasan materi pegas yang disusun secara seri menggunakan percobaan dengan adanya LKS, lalu dilanjutkan membahas pegas yang disusun secara pararel menggunakan diskusi. Siswa diperbolehkan mencari materi di dalam buku atau internet lalu 19.
(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20. didiskusikan dengan kelompoknya. Maka akan mendapatkan persamaan hukum Hooke pada pegas baik yang disusun secara seri dan pararel. 2.6 PENELITIAN YANG RELEVAN. Untuk menunjang penelitian tentang pembelajaran berbasis inkuiri dalam upaya meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa, peneliti menggunakan jurnal sebagai dasar kajian penelitian yang relevan, seperti penelitian berikut: 1.. Theresia Maya Vitasari (131424003) Judul penelitian yaitu “ Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri dengan Bantuan Simulasi Komputer untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Fisika dan Ketrampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas X SMA N 6 Yogyakarta Pada Materi Getaran Harmonis Sederhana”. Jenis penelitian pada jurnal tersebut adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data dalam penelitian tersebut diperoleh dari hasil observasi dan hasil pemahaman akhir siswa. Penelitian berjumlah 49 siswa terdiri dari 24 siswa kelompok kelas kontrol dan 25 siswa kelompok kelas eksperimen. Untuk kelas kontrol menggunakan metode ceramah siswa aktif dan kelas eksperimen menggunakan metode inkuiri. Dalam pembahasan dijelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan pemahaman konsep fisika dan ketrampilan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan baik kelas kontrol dan kelas eksperimen. Dalam penelitian siswa baik di kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki pemahaman dan ketrampilan berpikir yang sama sebelum diberi perlakuan dapat diketahui dari hasil pretest. Dari hasil uji test-t nilai p = 0.000 < 0.05 maka hasil signifikan, yang berarti kedua kelas yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki pemahaman yang berbeda. Analisis dapat dijelaskan bahwa peningkatan pemahaman pada kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol. Lalu, berdasarkan pendekatan kualitatif terlihat di pemahaman konsep kelas kontrol cenderung menggunakan jawaban yang sama seperti yang guru katakana sedangkan kelas eksperimen menggunakan kata-kata sendiri. Selanjutnya hasil. 20.
(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. uji test-t nilai p =0.000 < 0.05 maka hasil signifikan, yang berarti dua kelas memiliki perbedaan ketrampilan berpikir kritis. Peningkatan ketrampilan berpikir kritis pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Di kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran inkuiri terlihat bahwa siswa antusias sedangkan di kelas kontrol terlihat siswa pasif. 2. Tammy Leskona (111424028) Judul penelitian yaitu “Pengaruh Penerapan Metode Inquiry Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Dan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI IPA Pada Materi Persamaan Gas Ideal Di SMA Kristen Tual”. Jenis penelitian pada jurnal tersebut adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif untuk mengetahui pemahaman konsep siswa melalui hasil posttest sedangkan pendekatan kualitatif untuk mengetahui adanya motivasi siswa melalui kegiatan pengamatan dan eksperimen. Sampel penelitian berjumlah 56 siswa terdiri dari 25 siswa kelompok kelas kontrol dan 28 siswa kelompok kelas eksperimen. Untuk kelas kontrol menggunakan metode ceramah siswa aktif dan kelas eksperimen menggunakan metode inkuiri. Dalam penelitian siswa di kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki pemahaman konsep dan motivasi belajar siswa yang berbeda sebelum diberi perlakuan metode inkuiiri maupun ceramah aktif, dengan menggunakan kuesioner dan pretest. Kelas eksperimen memiliki pemahaman konsep dan motivasi belajar siswa lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol, walaupun nilainya berbeda tipis. Setelah diberi perlakuan baik kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar siswa. Peningkatan pemahaman konsep dan motivasi belajar siswa di kelas eksperimen yang menggunakan metode inkuiri lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan metode ceamah aktif. Selama pembelajaran di kelas yang menggunakan metode inkuiri terlihat bahwa siswa lebih aktif dan memiliki pemahaman konsep yang benar, sedangkan pembelajaran di kelas yang menggunakan metode ceramah aktif siswa cenderung pasif dan beberapa pemahaman konsep yang belum benar .. 21.
(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22. Berdasarkan hasil kedua penelitian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode inkuiri lebih baik dibandingkan dengan metode ceramah aktif. Siswa yang diberi pembelajaran dengan metode inkuiri siswa akan lebih aktif, suasana kelas menyenangkan, siswa mengkonstruksi pengetahuan sendiri, siswa berani bertanya, siswa berani menjawab sedangkan siswa yang diberi pembelajaran dengan metode ceramah aktif siswa pasif, suasana kelas menegangkan, siswa hanya ikut materi apa kata gurunya, siswa masih malu bertanya atau menjawab. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri mampu meningkatkan pemahaman konsep, motivasi dan ketrampilan berpikir. Dalam penelitian ini akan menggunakan pembelajaran berbasis inkuiri yang diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar dan keaktifan, dan menggunakan inkuiri terbimbing yang berbantuan dengan praktikum yang membutuhkan beberapa alat pada materi hukum hooke. Penelitian ini akan dilakukan siswa kelas X MIPA SMA BOPKRI 1 Yogyakarta.. 22.
(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 JENIS PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan termasuk jenis penelitian kuantitatif deskriptif, karena penulis ingin mengetahui hasil belajar siswa dan keaktifan siswa. Penelitian ini deskriptif dengan menggambarkan data kuantitatif yang diperoleh dari sebuah populasi. Instrumen penelitian ada dua, yaitu pertama instrumen pembelajaran berupa Rencana Program Pembelajaran (RPP), kedua instrument data seperti pretest, posttest, lembar observasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus yang memiliki penjelasan penelitian terhadap suatu subyek, keadaan atau kejadian khusus, bahan yang diteliti kecil lingkupnya, sehingga hasil penelitian ini hanya berlaku pada siswa yang diteliti saja. Kesimpulan yang diperoleh tidak dapat digunakan untuk semua siswa yang diluar kasus yang diteliti.. 3.2 WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN. Waktu penelitian: Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2019 di SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA pada semester genap tahun ajaran 2018/2019 Tempat penelitian: Penelitian dilaksanakan di SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA. Alamat Jl. Waardhani No.2, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224.. 3.3 SUBYEK PENELITIAN. Subyek yang diteliti siswa kelas X MIPA 2 SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA.. 23.
(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24. 3.4 DESAIN PENELITIAN Desain yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Diagram 3.1 Desain Penelitian. Pretest. Percobaan hukum hooke. Diskusi pegas yang disusun seri dan pararel. Posttest. Diskusi hukum hooke. Tabel 3.1 Desain Pembelajaran Hukum Hooke Menggunakan Pendekatan Inkuiri Pertemuan I Mengerjakan soal Pretest dan praktikum hukum Hooke Kegiatan Pembelajaran 1. Siswa mengerjakan pretest berjumlah 5 butir soal. Sumber belajar 1. Buku: Fisika Siswa. yang disertai cara pengerjannya durasi waktu satu. Kelas X,. jam pelajaran. Kemendikbud, Tahun. 2. Siswa dibagi kelompok dengan ketentuan satu kelompok berjumlah 5 orang. 2016 2. Buku: Erlangga. 3. Siswa melakukan percobaan hukum Hooke pegas. Straight Point Series. 4. Siswa berdiskusi mengenai analisis data dan. Fisika Kelas X, Tahun. pembahasan dari percobaan hukum Hooke pegas. 2016.
(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25. 5. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil. 3. Buku: Pembelajaran. jawaban dari diskusi. Berbasis Inkuiri. 6. Guru dan siswa menarik kesimpulan dari materi yang4. Internet telah didiskusikan 7. Guru menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan selanjutnya yaitu diskusi tentang susunan pegas seri dan pararel. Pertemuan II Berdiskusi materi Hukum hooke dalam susunan pegas seri dan susunan pegas pararel dan mengerjakan posttest Kegiatan Pembelajaran. Sumber belajar. 1. Siswa berdiskusi dengan panduan pertanyaan di LKS1. Buku: Fisika Siswa (Lembar Kerja Siswa). Kelas X,. 2. Siswa untuk berdiskusi tentang pokok bahasan. Kemendikbud, Tahun. hukum Hooke dalam susunan pegas seri dan pararel 3. Siswa menyampaikan hasil diskusi tentang pokok. 2016 2. Buku: Erlangga. bahasan hukum Hooke dalam susunan pegas seri dan. Straight Point Series. pararel. Fisika Kelas X, Tahun. 4. Guru dan siswa menarik kesimpulan dari diskusi. 2016. tentang hukum Hooke dalam susunan pegas seri dan3. Buku: Pembelajaran pararel. Berbasis Inkuiri. 5. Guru memberikan posttest ke siswa yang berjumlah 4. 5 Internet butir soal dan diberikan waktu satu jam pelajaran untuk siswa mengerjakan.
(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26. 3.5 INSTRUMEN PENELITIAN. 3.5.1. Instrumen pembelajaran Instumen pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu. rancangan kegiatan pembelajaran didalam kelas dan laboratorium yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan membuat lembar kerja siswa (LKS). a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Rencana. Pelaksanaan. Pembelajaran. (RPP). adalah. rencana. yang. menggambarkan prosedur, dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan. Proses mempersiapkan kegiatankegiatan secara sistematis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) No 19 tahun 2005 pasal 20 berbunyi bahwa perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar dan penilaian hasil belajar. b. Lembar Kerja Siswa (LKS) Menurut tim instruktur PKG dalam Sudiati (2003; 11-12) tujuan dari pembuatan lembar kerja siswa yaitu sebagai alternatif guru untuk mengarahkan pengajaran dan melatih siswa berfikir lebih mantap dalam kegiatan belajar mengajar.. 3.5.2. Instrumen pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian meliputi: pretest, posttest, lembar observasi, angket, dan rekaman audio video untuk mengetahui keaktifan siswa dan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode praktikum : a. Pretest Menurut Purwanto, pretest yakni tes yang diberikan sebelum pengajaran dimulai, dan bertujuan untuk mengetahui sampai dimana penggunaan siswa terhadap bahan pengajaran (pengetahuan dan ketrampilan) yang akan diajarkan..
(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27. Pretest juga sangat bermanfaat karena mendorong siswa untuk lebih aktif dalam belajar dan siswa menjadi tahu materi-materi dan informasi penting yang nantinya akan diujikan oleh guru.. Tabel 3.2 Kisi-kisi Soal Pretest pada pembelajaran Hukum Hooke KD : 3.6 Menganalisis sifat elastis bahan dalam kehidupan sehari-hari 4.6 Mengolah dan menganalisis hasil percobaan tentang sifat elastisitas suatu bahan indikator No. Indikator. Indikator Butir. 3.6.1. Menjelaskan pengertian hukum Hooke. 3.6.2. Menentukan konstanta suatu pegas Menghitung konstanta suatu pegas yang disusun secara seripararel. 3.6.3. 3.6.4. Menghitung konstanta suatu pegas yang disusun secara seri dan pararel (gabungan). Siswa mampu menjelaskan bunyi dari hukum Hooke beserta menuliskan persamaannya Siswa dapat menentukan konstanta suatu pegas Siswa dapat menentukan pertambahan panjang suatu pegas seri ketika diberikan gaya tertentu Siswa dapat menentukan pertambahan panjang suatu pegas pararel ketika diberikan gaya tertentu Siswa dapat menentukan pertambahan panjang sistem pegas yang disusun gabungan secara seri dan pararel. No soal 1. 2 3. 4. 5. b. Posttest Posttest (tes akhir) adalah tes yang diberikan pada setiap akhir program satuan pengajaran. Yang memiliki tujuan untuk mengetahui sampai di mana pencapaian. siswa. terhadap. bahan. pengajaran. (pengetahuan. maupun. ketrampilan). Manfaat posttest adalah untuk memperoleh gambaran tentang kemampuan yang dicapai setelah selesai proses pembelajaran..
(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28. Tabel 3.3 Kisi-kisi Soal Posttest pada pembelajaran Hukum Hooke KD : 3.6 Menganalisis sifat elastis bahan dalam kehidupan sehari-hari 4.6 Mengolah dan menganalisis hasil percobaan tentang sifat elastisitas suatu bahan indikator No. Indikator. 3.6.1 Menjelaskan pengertian hukum Hooke. 3.6.2 Menentukan konstanta suatu pegas 3.6.3 Menghitung konstanta suatu pegas yang disusun secara seripararel. 3.6.4 Menghitung konstanta suatu pegas yang disusun secara seri dan pararel (gabungan). Indikator Butir Siswa mampu menjelaskan bunyi dari hukum Hooke beserta menuliskan persamaannya Siswa dapat menentukan konstanta suatu pegas Siswa dapat menentukan massa suatu pegas seri ketika diberikan gaya tertentu Siswa dapat menentukan pertambahan panjang suatu pegas pararel ketika diberikan gaya tertentu Siswa dapat menentukan pertambahan panjang sistem pegas yang disusun gabungan secara seri dan pararel. No soal 1. 2 3. 4. 5. c. Observasi Observasi merupakan tahapan yang berhubungan dengan mencermati, mengamati dan merekam tindakan-tindakan yang dilakukan sebagai objek penelitian, dalam observasi juga penelitian dapat direkam dan memiliki dasar faktual. Data observasi dapat bernilai secara kuantitatif, data-data tersebut diterapkan melalui prosedur pengukuran yang jelas, yaitu setiap perilaku diberi skor menurut aturan tertentu, sehingga berdasarkan skor-skor tersebut dapat disusun kesimpulan. Menurut Hopkin ada tiga ketrampilan yang perlu dikuasai: Pertama, tidak cenderung terburu-buru untuk memberi judgement atau penilaian. Kedua, ada ketrampilan interpersonal yang perlu dikuasai jika kita hendak ‘meneliti ruang orang lain’; ketrampilan ini meliputi usaha menciptakan rasa kepercayaan dan sikap suportif dalam situasi-situasi tertentu ketika orang lain.
(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29. mungkin merasa terancam dengan keberadaan kita. Ketiga, ketrampilan teknis, yakni. mengetahui. bagaimana. merancang jadwal-jadwal. observasi. yang. memungkinkan observer dapat mengumpulkan informasi yang sesuai tentang pengajaran, atau mengetahui checklist apa yang paling sesuai untuk digunakan dalam situasi-situasi tertentu.. Tabel 3.4 Kisi- Kisi Instrumen Lembar Observasi Keaktifan Siswa No. 1.. Indikator. Sub Indikator. Nomer. Jumlah. Item. Item. 1-2. 2. 3-4. 2. 5-6. 2. b. Siswa mengemukakan gagasan. 7. 1. a. Siswa bertanggung jawab dalam. 8-9. 2. 10. 1. a. Siswa datang tepat waktu. 11. 1. b. Siswa menjaga ketertiban. 12. 1. 13-14. 2. 15. 1. Terlibat dalam. Siswa membawa buku pelajaran. pembelajaran. fisika Siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru. 2.. Mengemukakan a. Siswa memecahkan masalah pendapat. 3. Inisiatif. dalam kelompok. pengerjaan tugas b. Siswa sepenuhnya melaksanakan pembelajaran 4. 5. Disiplin. Kerjasama a. Siswa berdiskusi bersama kelompok b. Siswa menghargai pendapat teman. Peneliti dibantu oleh rekan untuk pengamatan dikelas, dengan ketentuan satu rekan menilai 10 siswa yang dibagi kedalam 2 kelompok, untuk mengetahui ada tidaknya keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, dan disertai dengan pengambilan video..
(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30. 3.6 VALIDITAS. Sebuah instrument dikatakan valid jika mampu mengukur atau menentukan apakah suatu test sungguh mengukur apa yang mau diukur, apa sesuai tujuan. Suatu instrument yang valid berarti sesuai tujuan, sebaliknya suatu instrument yang tidak valid berarti tidak sesuai tujuan (Suparno, 2007: 68). Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Instrumen yang divalidasi yaitu soal pretest dan posttest yang diuji validitasnya dengan berpedoman pada indikator. Soal tes dan pendapat dosen yang berkompeten di bidangnya. Validator instrument untuk penelitian ini adalah Ibu Ir. Sri Agustini Sulandari, M.Si. Adapun hasil uji validasi instrument penelitian dapat dilihat pada lampiran.. 3.7 TEKNIK ANALISIS DATA 3.7.1. Analisis Hasil Belajar Siswa. Analisis pretest dan posttest pada kelas yang diberikan treatment pendekatan inkuiri mengunakan aplikasi SPSS T-Test. a. Teknik Penskoran Pretest dan Posttest Soal pretest masing-masing terdiri dari 5 nomor soal dan skor maksimal untuk masing-masing soal benar disesuaikan dengan bobot soal. Penilaian pretest dan posttest menggunakan rubrik yang ada dilampiran.. b. Analisis Pretest dan Posttest Analisis pretest ini untuk mengetahui kemampuan awal siswa tentang materi hukum Hooke pada kelas treatment. Dalam mengolah data pretest dan posttest menggunakan analisis sebagai berikut: 1) Analisis menggunakan SPSS Uji T-Dependent Setelah diberi skor untuk pretest dan posttest, kemudian untuk melihat bagaimana pengaruh penerapan pendekatan inkuiri digunakan uji T dengan menggunakan SPSS 17. Uji T yang digunakan adalah T-Test Dependent. Menurut Suparno (2018:87) uji T dependent dapat digunakan untuk.
(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31. mengetes satu kelompok yang diberi tes dua kali. Langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut: Maka menggunakan hipotesis bahwa: H0: Penerapan pendekatan inkuiri tidak berpengaruh positif pada hasil belajar siswa kelas X MIPA 2 SMA BOPKRI 1 Yogyakarta H1: Penerapan pendekatan inkuiri berpengaruh positif pada hasil belajar siswa kelas X MIPA 2 SMA BOPKRI 1 Yogyakarta Menentukan tingkat signifikansi (α) Tingkat signifikansi (α) menunjukkan peluang kesalahan yang ditetapkan peneliti dalam mengambil keputusan untuk menolak dan mendukung H0. Penggunaan tingkat signifikansi beragam, tergantung keinginan peneliti, tingkat signifikansi yang umumnya digunakan yaitu 0,01 (1%), 0,05 (5%),0,10 (10%). Tingkat signifikansi yang digunakan penelitian ini adalah 0,05 (5%) . Penentuan thitung dan ttabel. . Mengambil keputusan: Jika H0 diterima, maka H1 ditolak berarti penerapan pendekatan inkuiri tidak berpengaruh positif pada hasil belajar siswa kelas X MIPA 2 SMA BOPKRI 1 Yogyakarta Jika H0 ditolak, maka H1 diterima berarti penerapan penedekatan inkuiri berpengaruh positif pada hasil belajar siswa kelas X MIPA 2 SMA BOPKRI 1 Yogyakarta. 2) Analisis berpedoman KKM (Kriteria Kelulusan Minimal) Hasil pretest dan posttest siswa dapat dikategorikan berdasarkan KKM. Sekolah SMA BOPKRI 1 Yogyakrata memiliki Kriteria Kelulusan Minimal (KKM) yaitu 73. Dari KKM dapat dijelaskan bahwa siswa yang mendapatkan nilai ≥ 73 dinyatakan tuntas dan siswa yang mendapatkan nilai < 73 dinyatakan tidak tuntas. Indikator keberhasilan pembelajaran salah satunya adalah nilai yang didapat melebihi Kriteria Kelulusan Minimal (KKM) c. Analisis LKS.
(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32. LKS terdiri dari penilaian pada tabel data dan 5 jawaban masing-masing kelompok, skor maksimal untuk masing-masing jawaban yang tepat disesuaikan dengan bobot soal. Nilai maksimal dari pengerjaan LKS yaitu 100. Penilaian LKS mengguanakan rubrik yang terlampir. Teknik penilaian LKS dengan menjumlahkan semua skor dari tabel data dan 6 pertanyaan.. 3.7.2. Analisis Keaktifan Siswa. Mengamati keaktifan siswa pada saat pembelajaran fisika pada materi hukum hooke pada pegas, keaktifan siswa dinilai secara berkelompok dengan ketentuan satu kelompok terdapat 5 siswa. Data keaktifan siswa diperoleh dalam bentuk video dan diamati langsung dengan observer. Untuk mengetahui apakah ada efektivitas pembelajaran fisika menggunakan pendekatan inkuiri terhadap keaktifan siswa. Peneliti menganalisis hasil observasi kegiatan pembelajaran berdasarkan intrepetasi skor. a.. Teknik Penskoran Lembar Observasi Data yang sudah didapatkan dilanjutkan dengan analisis untuk melihat keaktifan siswa di kelas saat pembelajaran menggunakan pendekatan inkuiri. Hasil observasi dari pemberian skor diklasifikasikan dari jumlah total pernyataan pada lembar observasi berjumlah 15 butir Skor maksimal dalam lembar observasi keaktifan siswa adalah 45. Skor maksimal didapat dari setiap kelompok siswa yang melakukan aktivitas sebanyak 15 sub indikator. Satu sub indikator memiliki skor maksimal 3 dan skor minimal 1. Setelah peneliti mendapatkan data dari setiap observer yang mengamati dua kelompok dengan ketentuan satu kelompok terdiri dari 5 siswa. Dalam penilaian keaktifan siswa saat pembelajaran hukum hooke menggunakan penilaian berdasarkan kelompok. Penilaian keaktifan siswa dibantu dengan observer dan rekaman video saat pembelajaran. Penskoran lembar observasi dengan menggunakan rubrik yang terlampir.. b. Analisis Lembar Observasi Langkah selanjutnya membuat tabel rujukan dengan cara berikut:.
(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33. 1. Menetapkan persentase tertinggi = skor maksimal/skor ideal x 100% Maka: 3 𝑥100% = 100 % 3 2. Menetapkan persentase terendah = skor minimal/skor ideal x 100% 1 𝑥100% = 33 % 3 3. Menetapkan rentangan persentase 4. Menetapkan kelas interval 𝐿𝑒𝑏𝑎𝑟 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 =. 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 − 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑙𝑎𝑠𝑖𝑓𝑖𝑘𝑎𝑠𝑖. (Sudjana, 1996 : 47) 𝐿𝑒𝑏𝑎𝑟 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 =. 100 − 33 = 22 3. 5. Interval Berdasarkan perhitungan tabel dan kriteria keaktifan siswa maka intervalnya sebagai berikut : Tabel 3.5 Interval keaktifan siswa No. Interval. Kriteria keaktifan siswa. 1. 79 % - 100 %. Aktif. 2. 56 % - 78 %. Cukup Aktif. 3. 33 % - 55 %. Tidak Aktif. Dalam perhitungan interval keaktifan menggunakan angka pembulatan agar tidak terlalu banyak angka. Setelah mendapatkan interval keaktifan siswa, selanjutnya menganalisis dengan hitungan dan membuat grafik dengan bantuan Microsoft Excel. Menilai keaktifan siswa dilakukan selama 2 kali pertemuan dengan bantuan observer dan video. Dalam analisis menilai dari setiap indikator dengan teknik penskoran sebagai berikut:.
(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34. Tabel 3.6 Indikator keaktifan siswa No. Indikator. Jumlah item. Skor maksimal. 1. Terlibat dalam pembelajaran. 4. 12. 2. Mengemukakan pendapat. 3. 9. 3. Inisiatif. 3. 9. 4. Disiplin. 2. 6. 5. Kerjasama. 3. 9. Teknik penskoran dengan masing-masing indikator sebagai berikut: 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑝𝑒𝑟 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑘𝑎𝑡𝑜𝑟 =. 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑘𝑎𝑡𝑜𝑟 × 100% 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑘𝑎𝑡𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑏𝑢𝑡.
Gambar
Garis besar
Dokumen terkait
Dari isu yang dipilih tersebut yaitu mengenai tidak ada cadangan data buku induk karena masih dilakukan secara manual, maka kegiatan yang dirancang sebagai pemecahan isu
Sejarah hermeneutika al-Qur‟an dari aspek ini sebenarnya bisa saja disamakan dengan tafsir dan ta‟wil yang bernuansa hermeneutis yang telah ada dalam tradisi Islam klasik.
Temuan ini sesuai dengan pendapat Rosyada (2004: 156) bahwa pembelajaran selain harus diawali dengan perencanaan yang bijak juga harus didukung dengan pengembangan
Escherichia coli (gram negatif) yang tumbuh baik pada media MSG, maka media ini dapat dijadikan sebagai penyubur alternatif dan memiliki potensi yang sebagai
Non value added time yang begitu besar pada current state BYM line tersebut disebabkan oleh beberapa waste yang terdapat pada BYM line. Jenis-jenis waste
Kepala Dinas mempunyai tugas memimpin Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, menyiapkan kebijakan Daerah, kebijakan umum dan menetapkan kebijakan
Bank Berhad layak untuk membayar baki simpanan atau kredit seperti sewajarnya, kepada pemegang yang tinggal dan jika lebih daripada seorang pemegang dalam nama bersama,
Mencari tempat yang strategis untuk PKL berjualan sehingga pendapatan dari PKL dapat meningkat, serta terus menambah jumlah kerja sama dengan para penyedia tempat agar seluruh