• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 HASIL PEMBAHASAN. PT. Tunas Arfanal Motor (PT. TAM) berdiri pada tahun Pada saat itu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 4 HASIL PEMBAHASAN. PT. Tunas Arfanal Motor (PT. TAM) berdiri pada tahun Pada saat itu"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

55   

4.1 Profil Perusahaan

4.1.1 Sejarah PT. Tunas Arfanal Motor

PT. Tunas Arfanal Motor (PT. TAM) berdiri pada tahun 1998. Pada saat itu perusahaan masih berdiri sendiri dan belum bekerja sama dengan pemerintah daerah dan hasil pelayanan perusahaan tersebut pada waktu itu belum cukup baik, untuk bersaing terhadap bengkel-bengkel lainnya sehingga pelayanan masih harus ditingkatkan.

Bengkel tersebut mengombinasikan pelayanan-pelayanan yang mencakup semua masalah-masalah mobil seperti cuci mobil, mesin, spare part, dan lain-lain, sehingga masalah mobil dapat dilayani dan diselesaikan dengan baik. Kepuasan konsumen dan kualitas pelayanan di perusahaan ini merupakan tanggung jawab langsung dari pemilik perusahaan.

Dengan metode tersebut perusahaan mulai berkembang dan pelanggan mulai banyak. Perusahaan mempekerjakan mekanik-mekanik mesin yang mengerti masalah mesin mobil agar perusahaan dapat memberikan pelayanan berkualitas dan hasil yang bermutu yang merupakan kunci sukses perusahaan untuk membuat para konsumen puas sesuai keinginan mereka.

4.1.2 Profil PT. Tunas Arfanal Motor

Pada awal berdirinya perusahaan ini, karyawan di perusahaan tersebut hanya 10 orang dan hanya berfokus pada masalah mesin mobil dan belum menyediakan pelayanan cuci mobil.

PT. TAM semakin berkembang dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat dari kerjasama perusahaan dengan Pemda sehingga perusahaan dapat menambah berbagai pelayanan yang

(2)

belum tersedia sebelumnya seperti cuci mobil yang menggunakan alat-alat untuk memberikan pelayanan yang bermutu dan berkualitas.

Tujuan perusahaan adalah memberikan berbagai macam pelayanan dalam satu bengkel dalam rangka memberikan efisiensi waktu para konsumen sehingga semua masalah-masalah mobil dapat diperbaiki dengan cepat dalam satu bengkel. Perusahaan juga menyediakan spare part yang bermutu sesuai dengan keinginan konsumen agar konsumen merasa puas.

4.1.3 Visi dan Misi PT. TAM

Visi PT. TAM:

• Unggul dalam pelayanan servis di bengkel.

• Unggul dalam menangani segala macam masalah mobil. • Unggul dalam menangani segala tipe dan merek mobil.

Misi PT. TAM:

• Mewujudkan pelayanan servis yang profesional.

• Mewujudkan keahlian mekanik dalam menangani masalah.

• Mewujudkan keahlian mekanik dalam menangani segala tipe dan merek mobil.

4.1.4 Struktur Organisasi dan Komposisi Karyawan PT. TAM

(3)

Sumber: PT. Tunas Arfanal Motor

Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT. TAM

Keterangan: 1. Direktur

Tugas:

• Menentukan arah perusahaan ke depannya.

• Mengambil keputusan dalam perusahaan secara keseluruhan.

• Menjalin hubungan dengan perusahaan lain untuk kepentingan perusahaan.

2. Keuangan (Administrasi/ Kasir) Tugas:

• Mengatur pengeluaran-pengeluaran yang berhubungan dengan perusahaan. • Mengurus pajak perusahaan.

Direktur

Pemasaran Keuangan Kepala Bengkel

(Administrasi/ Kasir)

Bagian Gudang Mekanik

Washing Steam/ Cuci

(4)

• Menyusun daftar gaji karyawan. • Bertanggung jawab kepada direktur.

• Bertanggung jawab penuh atas keluar masuk kas perusahaan.

3. Kepala Bengkel Tugas:

• Menjaga disiplin kerja dan menilai prestasi kerja bawahannya secara berkala.

• Menyusun jadwal pemeliharaan peralatan-peralatan pabrik agar tidak menghambat jalannya proses pelayanan.

• Mengadakan pencatatan mengenai besarnya biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing mesin/peralatan pabrik.

4. Pemasaran Tugas:

• Mempromosikan barang dan jasa kepada masyarakat (konsumen).

• Mengembangkan cara-cara dalam memasarkan barang dan jasa yang dijual perusahaan.

• Melakukan analisis dan evaluasi program pemasaran.

5. Bagian Gudang Tugas:

• Memeriksa dan menghitung jumlah barang.

• Mengoordinasi, mengarahkan, dan mengawasi pelaksanaa penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran barang dari gudang.

• Menyiapkan laporan secara berkala mengenai penerimaan, pemeriksaan, dan pengeluaran dari gudang.

(5)

6. Mekanik Tugas:

• Memperbaiki kerusakan-kerusakan pada mobil.

• Mengatasi masalah-masalah mobil sesuai keinginan konsumen. • Mengganti oli mobil.

• Meningkatkan kinerja mesin mobil.

7. Washing Steam/ cuci Tugas:

• Melakukan pencucian mobil.

• Bertanggung jawab kepada mekanik.

8. Asisten Mekanik Tugas:

• Membantu pekerjaan mekanik untuk mempercepat pekerjaan.

• Dapat menggantikan posisi kepala mekanik pada saat mekanik tidak hadir.

Tabel 4.1 Komposisi Karyawan PT. TAM

Jabatan Jumlah Direktur 1 Pemasaran 1 Keuangan (Administrasi/Kasir) 2 Kepala Bengkel 1 Bagian Gudang 1 Mekanik 6 Asisten Mekanik 4

Washing Steam/ cuci 2

Total Karyawan 18

(6)

4.1.5 Analisis Kompetitif Model Lima Kekuatan Porter pada PT. TAM

Michael Porter menentukan 5 hal dasar dalam industri, yaitu persaingan antarperusahaan saingan, potensi masuknya pesaing baru, potensi pengembangan produk-produk pengganti, daya tawar pemasok, dan daya tawar konsumen.

Berikut ini adalah gambaran secara singkat mengenai 5 kekuatan porter yang ada dalam PT. TAM:

• Persaingan Antarperusahaan Saingan

Dalam bisnis bengkel mobil terdapat banyak sekali pesaing-pesaing yang sudah terlebih dahulu berdiri maupun setelah PT. TAM didirikan. Terdapat 20 bengkel mobil yang beroperasi di jalan meruya hilir dan lapangan bola (kebon jeruk) yang berada dalam satu jalur dengan lokasi usaha PT. TAM. Namun di antara banyak bengkel tersebut yang paling bersaing adalah bengkel D.M.A Motor dan RPM Autozone.

• Potensi Masuknya Pesaing Baru

Dalam bisnis bengkel mobil yang merupakan industri pelayanan jasa sangat mudah untuk dimasuki pesaing baru, apalagi di Jakarta. Tetapi untuk membuka bisnis seperti ini membutuhkan modal yang tidak sedikit dan harus memiliki koneksi yang luas untuk mendapatkan produk dari pemasok. Namun jika dilihat dari kota Jakarta yang kendaraan bermotornya, khususnya mobil kian hari kian bertambah, kemungkinan masuknya pesaing baru sangatlah besar. Tercatat ada 2.730 buah bengkel mobil dari seluruh kota Indonesia yang memasang iklan di situs yellowpages.

• Potensi Pengembangan Produk Pengganti

Potensi pengembangan produk pengganti pada PT. TAM sangat kecil atau hampir tidak ada. Karena dalam bisnis perbengkelan, jasa manusia yang bertugas sebagai mekanik selama ini belum dapat digantikan oleh produk substitusi lain.

(7)

• Daya Tawar Pemasok

Dalam bisnis perbengkelan, ancaman dari pemasok tidak terlalu kuat. Dalam melayani, merakit atau memperbaiki mesin mobil dibutuhkan barang-barang seperti spare part, oli, dan lain-lain, di mana di Jakarta terdapat banyak toko yang menjual barang persediaan tersebut. Apabila ada pemasok yang terlambat melakukan pengiriman barang maka proses pelayanan jasa perbengkelan akan terhambat. Keterlambatan ini bisa disebabkan oleh kondisi lalu lintas di Jakarta yang sering macet. Yang menjadi pemasok dari perusahaan PT. TAM sekarang ini adalah Sumber Jaya Motor, PT. Prestasi Pelumasindo Unggul, dan PT. Sadikun Niagamas Raya.

• Daya Tawar Konsumen

Dalam bisnis perbengkelan, kekuatan konsumen sangatlah tinggi karena konsumen berhak untuk membeli atau menolak pembelian produk. Sebab terdapat banyak perusahaan sejenis yang dapat dipilih. Perusahaan pesaing bisa saja menawarkan garansi yang panjang atau layanan khusus untuk mendapatkan loyalitas konsumen manakala daya tawar konsumen kuat.

(8)

Sumber: Hasil Penelitian

Gambar 4.2 Model Lima Kekuatan Porter pada PT. TAM

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Faktor-faktor Eksternal Utama PT. TAM 4.2.1.1 Peluang Eksternal PT. TAM

Tabel 4.2 Peluang Eksternal PT. TAM

Peluang Eksternal PT. TAM O1. Produksi mobil yang cenderung bertambah

O2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik O3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia O4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat

O5. Tidak ada produk pengganti Sumber: PT. TAM

Keterangan tabel: O= Opportunities/peluang

Potensi pengembangan produk-produk pengganti:

belum ada

Pesaing dalam industri: - D.M.A Motor

- RPM Autozone

Potensi masuknya pesaing baru: Sangat besar

Daya tawar konsumen: Tinggi Daya tawar pemasok:

- Sumber Jaya Motor - PT. Sadikun

Niagamas Raya - PT. Prestasi

(9)

O1. Produksi mobil yang cenderung bertambah

Menurut data dari Gabungan Industri Kendaraan Motor Indonesia (GAIKINDO), produksi mobil (2005-2010) di Indonesia pada tahun 2005 sebesar 500.710 unit, 2006 sebesar 296.008 unit, 2007 sebesar 411.638 unit, 2008 sebesar 600.628 unit, 2009 sebesar 464.816 unit, dan 2010 sebesar 702.508 unit. Dan pada Januari-April 2011, tercatat sebesar 264.364 unit. Angka ini menunjukkan bahwa produksi mobil masih cukup baik dalam enam tahun sebelumnya, terutama pada tahun 2010 yang mencapai angka produksi mobil tertinggi sepanjang sejarah produksi mobil di Indonesia. Begitu juga pada tahun ini (2011), bulan Januari-April memproduksi sebesar 264.364 unit. Kondisi ini menjadi peluang yang sangat bagus bagi industri perbengkelan.

(10)

Berikut ini gambar data produksi mobil di Indonesia tahun 2005-April 2011:

Sumber: GAIKINDO

(11)

Sumber: GAIKINDO

Gambar 4.4 Data Produksi Mobil Januari-April 2011

O2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik

Terdapat pertumbuhan penjualan mobil yang masih cukup baik dari tahun 2005-Mei 2011, di mana tahun 2005 terjual sebesar 533.917 unit, 2006 sebesar 318.904 unit, 2007 sebesar 433.341 unit, 2008 sebesar 603.774 unit, 2009 sebesar 486.088 unit, 2010 sebesar 764.710 unit, dan Januari-Mei 2011 sebesar 347.530 unit. Alhasil, dengan situasi ini membuat peluang bisnis seperti perbengkelan, cuci, dan salon mobil meningkat karena memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan.

(12)

Berikut ini gambar data penjualan mobil di Indonesia tahun 2005-Mei 2011:

Sumber: GAIKINDO

(13)

Sumber: GAIKINDO

Gambar 4.6 Data Penjualan Mobil Januari-Mei 2011

O3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat menyebabkan kelas menengah Indonesia tumbuh pesat selama tujuh tahun terakhir. Berdasarkan data Bank Dunia, pada tahun 2003 jumlah kelas menengah di Indonesia hanya 37,7 persen dari populasi, namun pada 2010 kelas menengah Indonesia mencapai 134 juta jiwa atau 56,5 persen.

(14)

Menurut studi Bank Dunia, kalangan ini terbagi empat kelas. Pertama, kelas pendapatan US$2-US$4 atau Rp.1-1,5juta per bulan (38,5 persen). Kedua, kelas pendapatan US$4-6 atau Rp.1,5-2,6 juta perkapita per bulan (11,7 persen). Kelas berpendapatan US$6-US$10 atau Rp.2,6-5,2 juta per bulan (5 persen) serta golongan menengah berpendapatan US$10-US$20 atau Rp.5,2-6 juta per bulan (1,3 persen).

Dengan meningkatnya kelas menengah ini, membuat sebagian besar masyarakat Indonesia mampu membeli barang-barang yang selama ini menjadi kebutuhan sekunder. Kebutuhan sekunder meliputi mobil, motor, ponsel, produk elektronik, dan lain-lain. Salah satu bukti dari tumbuhnya kelas menengah ini adalah melonjaknya penjualan mobil di Indonesia.

O4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat

Permintaan jasa perbengkelan meningkat dikarenakan semakin bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di Indonesia, khususnya di Jakarta. Kondisi lalu lintas di Jakarta yang sering sekali mengalami kemacetan yang panjang dapat disebabkan oleh penjualan mobil yang cenderung meningkat.

O5. Tidak ada produk pengganti

Industri perbengkelan tidak memiliki produk pengganti yang dapat menggantikan jasa manusia sebagai mekanik selama ini. Menjadi peluang yang baik bagi bengkel mobil asalkan selalu menjaga dan mengembangkan kualitas daripada mekanik itu sendiri.

(15)

4.2.1.2 Ancaman Eksternal PT. TAM

Tabel 4.3 Ancaman Eksternal PT. TAM

Ancaman Eksternal PT. TAM

T1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar T2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil

T3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama T4. Munculnya pesaing-pesaing baru

T5. Menurunnya jaminan keamanan nasional Sumber: PT. TAM

Keterangan tabel: T= Threats/ancaman

T1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

Terdapat 20 bengkel mobil lain yang lokasinya berdekatan atau sejalur dengan PT. TAM (jalan meruya hilir da lapangan bola). Hal ini menjadi sebuah ancaman bagi PT. TAM karena konsumen memiliki banyak pilihan bengkel untuk dikunjungi serta dilayani.

T2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil

Kondisi ini memengaruhi kondisi keuangan PT. TAM yang bergerak di bidang usaha perbengkelan, terutama dalam penentuan harga jasanya. Selain itu, harga beli barang-barang pendukung, seperti oli, spare part, dan sebagainya juga tidak menentu. Kondisi ini disebabkan oleh harga nilai rupiah terhadap nilai dollar tidak stabil (fluktuatif).

T3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama

Terdapat perusahaan yang bergerak di bidang yang sama antarperusahaan menjadi ancaman bagi PT. TAM terutama dalam persaingan brand image dan teknik pelayanan dan informasi yang diberikan. Misalnya Auto2000 yang merupakan dealer utama mobil Toyota di Indonesia, awalnya tidak bergerak di bidang bisnis perbengkelan, namun saat ini telah membuka bengkel Auto2000 untuk memenuhi permintaan para pelanggannya.

T4. Munculnya pesaing-pesaing baru

Kendati bisnis bengkel mobil ini membutuhkan modal yang tidak sedikit, tetapi tetap saja pesaing baru banyak bermunculan di daerah Jakarta. Banyak pebisnis yang melihat

(16)

semakin maraknya kendaraan bermotor di Jakarta sehingga pebisnis menganggap keadaan ini merupakan sebuah peluang yang bagus untuk bisnis perbengkelan.

T5. Menurunnya jaminan keamanan nasional

Demonstrasi dan ancaman bom yang ada di Indonesia dapat menyebabkan menurunnya jaminan keamanan nasional. Demostrasi misalnya, terutama pada ibu kota, Jakarta, sebagai tempat bekerja untuk para pejabat penting negara. Para demonstran cenderung melakukan demostrasi di sekitar gedung-gedung seperti istana presiden, DPR, dan lain-lain. Masih adanya tindakan korupsi yang dilakukan pejabat negara membuat para pengunjuk rasa semakin berang. Selain itu, ada juga isu-isu ancaman teroris yang semakin marak di Indonesia maupun dunia. Dalam kondisi seperti ini, dapat membuat masyarakat waswas untuk keluar rumah. Dengan demikian, bisnis perbengkelan menjadi terancam sepi konsumen.

4.2.2 Faktor-faktor Internal Utama PT. TAM 4.2.2.1 Kekuatan Internal PT. TAM

Tabel 4.4 Kekuatan Internal PT. TAM

Kekuatan Internal PT. TAM

S1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat S2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya

S3. Harga bersaing

S4. Lokasi usaha yang strategis

S5. Hubungan yang baik dengan pemasok Sumber: PT. TAM

Keterangan tabel: S= Strengths/kekuatan

S1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat

Dalam industri perbengkelan, salah satu kunci kekuatan utama adalah tenaga mekaniknya. Mekanik yang membongkar, memasang, dan memperbaiki segala masalah mobil yang dialami pelanggan. Baik buruknya service mobil pelanggan tergantung seberapa terampilnya seorang mekanik. Untuk itu, memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan

(17)

bersertifikat merupakan salah satu kunci sukses dalam usaha perbengkelan untuk menjaga kepercayaan bahkan loyalitas pelanggan.

S2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya

PT. TAM sudah berdiri sejak tahun 1998. Karena itu pengalamannya di bidang industri perbengkelan mobil sudah tidak usah diragukan lagi. Perusahaan sudah mengerti seluk-beluk industri ini.

S3. Harga bersaing

PT. TAM menawarkan harga yang bersaing dengan para pesaingnya, karena PT. TAM memiliki hubungan yang kuat dengan pemasoknya sehingga dapat menekan harga jual.

S4. Lokasi usaha yang strategis

Dengan lokasi usaha yang terletak di jalan raya, yang setiap harinya dilewati banyak orang akan membuat PT. TAM dengan mudah diingat oleh para pengendara yang melewati jalan raya tersebut. Situasi tersebut dapat membuat perusahaan lebih mudah diketahui masyarakat.

S5. Hubungan yang baik dengan pemasok

Memiliki hubungan yang baik dengan pemasok dapat menekan harga jual sehingga perusahaan dapat bersaing dengan para pesaing dalam penetapan harga produk.

4.2.2.2 Kelemahan Internal PT. TAM

Tabel 4.5 Kelemahan Internal PT. TAM

Kelemahan Internal PT. TAM

W1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing W2. Jumlah SDM sedikit

W3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

W4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi W5. Tidak memiliki cabang perusahaan

Sumber: PT. TAM

(18)

W1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing

Tujuan utama dari proses spooring adalah untuk menyelaraskan antara posisi roda kanan dan kiri. Efek yang ditimbulkan dari tidak seimbangnya roda kiri dan kanan ini bisa membuat mobil limbung dan bahkan berat sebelah. Sedangkan balancing adalah untuk membuat roda belakang menjadi paralel dengan roda depan. Balancing juga untuk menghindari adanya getaran kecil saat mobil dijalankan. Pada proses penyetelan harus diyakinkan bahwa roda belakang benar-benar paralel dengan roda depan karena roda belakang hanya mengikuti gerakan roda depan saat mobil dijalankan. Apabila kondisi ini tidak tercapai bisa menyebabkan ban akan cepat aus dan kestabilan mobil tergangu. Spooring dan balancing juga bertujuan untuk membuat keausan ban mobil merata sehingga pengendalian dan kenyamanan mobil tetap terjaga, efek limbung dapat terhindar dan keamanan berkendaraan pun senantiasa terjamin.

W2. Jumlah SDM sedikit

Jumlah SDM yang sedikit membuat PT. TAM tidak dapat melayani pelanggan yang banyak sekaligus sehingga mengharuskan pelanggan melakukan pengantrian untuk mendapatkan pelayanan.

W3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

Sistem komputerisasi di PT. TAM masih belum terlaksana dengan cukup baik. Dalam hal persediaan, penjualan, dan pembelian masih menggunakan pencatatan secara manual yang mengakibatkan kesalahan kecil dalam bidang pencatatan.

W4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi

Media-media seperti surat kabar, radio, televisi, yang terbukti manjur dalam memasarkan barang dan jasa suatu perusahaan tidak dimaksimalkan oleh PT. TAM untuk melakukan promosi barang dan jasanya. Biaya promosi yang mahal dengan menggunakan media-media tersebut yang menjadi pertimbangan khusus bagi PT. TAM.

(19)

W5. Tidak memiliki cabang perusahaan

Dengan memiliki bengkel mobil hanya di satu tempat/daerah, otomatis pelayanannya menjadi terbatas. PT. TAM hanya dapat melayani pelanggan di tempat tersebut saja. Sedangkan di daerah lain masih terdapat banyak konsumen yang membutuhkan jasa bengkel mobil. Konsumen yang bertempat tinggal jauh dari lokasi PT. TAM cenderung merasa malas, apalagi kondisi lalu lintas di Jakarta kerap kali macet.

4.2.3 Faktor Penentu Keberhasilan dalam CPM pada PT. TAM

Tabel 4.6 Faktor Penentu Keberhasilan dalam CPM pada PT. TAM

Faktor Penentu Keberhasilan dalam CPM CP1. Kualitas mekanik

CP2. Kualitas kepelatihan CP3. Kualitas produk CP4. Daya saing harga

CP5. Sikap karyawan terhadap pelanggan CP6. Loyalitas pelanggan

CP7. Pemilihan lokasi usaha CP8. Teknologi yang digunakan CP9. Referensi pelanggan CP10. Manajemen yang handal Sumber: PT. TAM

Keterangan tabel: CP= Competitive Profile/profil kompetitif

4.2.4 Hasil Kuesioner Pembobotan Faktor Eksternal, Faktor Internal, dan Profil Kompetitif PT. TAM

Tabel 4.7 Hasil Kuesioner Pembobotan Faktor Eksternal PT. TAM

Keterangan

Mana yang lebih

penting

Bobot O1. Produksi mobil yang cenderung bertambah

O2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik

O2 2 O1. Produksi mobil yang cenderung bertambah O3 4

(20)

O3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia O1. Produksi mobil yang cenderung bertambah

O4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat

O1 4 O1. Produksi mobil yang cenderung bertambah

O5. Tidak ada produk pengganti

O1 3 O1. Produksi mobil yang cenderung bertambah

T1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

O1 4

O1. Produksi mobil yang cenderung bertambah T2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil

T2 3 O1. Produksi mobil yang cenderung bertambah

T3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama

O1 4 O1. Produksi mobil yang cenderung bertambah

T4. Munculnya pesaing-pesaing baru

T4 3 O1. Produksi mobil yang cenderung bertambah

T5. Menurunnya jaminan keamanan nasional

T5 4 O2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik

O3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia

O3 2 O2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik

O4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat

O4 2 O2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik

O5. Tidak ada produk pengganti

O2 3 O2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik

T1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

O2 2

O2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik T2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil

T2 4 O2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik

T3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama

O2 2 O2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik

T4. Munculnya pesaing-pesaing baru

T4 3 O2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik

T5. Menurunnya jaminan keamanan nasional

T5 4 O3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia

O4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat

O3 1 O3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia

O5. Tidak ada produk pengganti

O3 3 O3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia

T1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

O3 2

O3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia T2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil

T2 3 O3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia

T3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama

(21)

O3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia T4. Munculnya pesaing-pesaing baru

T4 1 O3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia

T5. Menurunnya jaminan keamanan nasional

T5 3 O4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat

O5. Tidak ada produk pengganti

O4 2 O4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat

T1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

T1 2

O4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat T2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil

T2 4 O4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat

T3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama

T3 3 O4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat

T4. Munculnya pesaing-pesaing baru

T4 3 O4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat

T5. Menurunnya jaminan keamanan nasional

T5 4 O5. Tidak ada produk pengganti

T1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

T1 3

O5. Tidak ada produk pengganti

T2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil

T2 4 O5. Tidak ada produk pengganti

T3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama

T3 3 O5. Tidak ada produk pengganti

T4. Munculnya pesaing-pesaing baru

T4 4 O5. Tidak ada produk pengganti

T5. Menurunnya jaminan keamanan nasional

T5 4 T1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha

perusahaan besar

T2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil

T2 4

T1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

T3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama

T1 2

T1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

T4. Munculnya pesaing-pesaing baru

T4 3

T1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

T5. Menurunnya jaminan keamanan nasional

T5 4

T2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil

T3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama

T2 4 T2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil

T4. Munculnya pesaing-pesaing baru

(22)

T2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil T5. Menurunnya jaminan keamanan nasional

T2 2 T3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama

T4. Munculnya pesaing-pesaing baru

T4 3 T3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama

T5. Menurunnya jaminan keamanan nasional

T5 4 T4. Munculnya pesaing-pesaing baru

T5. Menurunnya jaminan keamanan nasional

T5 4 Sumber: PT. TAM

Tabel 4.8 Hasil Kuesioner Pembobotan Faktor Internal PT. TAM

Keterangan

Mana yang lebih

penting

Bobot S1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan

bersertifikat

S2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya

S1 3

S1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat

S3. Harga bersaing

S1 4

S1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat

S4. Lokasi usaha yang strategis

S1 4

S1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat

S5. Hubungan yang baik dengan pemasok

S1 4

S1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat

W1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing

S1 3

S1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat

W2. Jumlah SDM sedikit

S1 3

S1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat

W3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

S1 4

S1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat

W4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi

S1 4

(23)

bersertifikat

W5. Tidak memiliki cabang perusahaan

S1 4 S2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya

S3. Harga bersaing

S3 2 S2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya

S4. Lokasi usaha yang strategis

S4 2 S2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya

S5. Hubungan yang baik dengan pemasok

S2 3 S2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya

W1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing

S2 4

S2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya W2. Jumlah SDM sedikit

S2 3 S2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya

W3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

W3 1

S2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya

W4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi

W4 2

S2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya W5. Tidak memiliki cabang perusahaan

S2 3 S3. Harga bersaing

S4. Lokasi usaha yang strategis

S3 4 S3. Harga bersaing

S5. Hubungan yang baik dengan pemasok

S3 3 S3. Harga bersaing

W1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing S3 4 S3. Harga bersaing W2. Jumlah SDM sedikit S3 2 S3. Harga bersaing

W3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

S3 4

S3. Harga bersaing

W4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi

W4 1

S3. Harga bersaing

W5. Tidak memiliki cabang perusahaan

S3 3 S4. Lokasi usaha yang strategis

S5. Hubungan yang baik dengan pemasok

S4 3 S4. Lokasi usaha yang strategis

W1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing

S4 3

(24)

W2. Jumlah SDM sedikit

S4. Lokasi usaha yang strategis

W3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

S4 3

S4. Lokasi usaha yang strategis

W4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi

S4 2

S4. Lokasi usaha yang strategis W5. Tidak memiliki cabang perusahaan

S4 3 S5. Hubungan yang baik dengan pemasok

W1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing

S5 2

S5. Hubungan yang baik dengan pemasok W2. Jumlah SDM sedikit

W2 1 S5. Hubungan yang baik dengan pemasok

W3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

S5 3

S5. Hubungan yang baik dengan pemasok

W4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi

W4 3

S5. Hubungan yang baik dengan pemasok W5. Tidak memiliki cabang perusahaan

S5 2 W1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan

balancing

W2. Jumlah SDM sedikit

W1 2

W1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing

W3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

W1 3

W1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing

W4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi

W4 3

W1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing

W5. Tidak memiliki cabang perusahaan

W1 3

W2. Jumlah SDM sedikit

W3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

W2 3

W2. Jumlah SDM sedikit

W4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi

W4 2

W2. Jumlah SDM sedikit

W5. Tidak memiliki cabang perusahaan

(25)

W3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

W4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi

W4 4

W3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

W5. Tidak memiliki cabang perusahaan

W5 2

W4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi

W5. Tidak memiliki cabang perusahaan

W4 4

Sumber: PT. TAM

Tabel 4.9 Hasil Kuesioner Pembobotan Profil Kompetitif PT. TAM

Keterangan Mana yang lebih penting Bobot CP1. Kualitas mekanik CP2. Kualitas kepelatihan CP1 3 CP1. Kualitas mekanik CP3. Kualitas produk CP1 2 CP1. Kualitas mekanik

CP4. Daya saing harga

CP1 3 CP1. Kualitas mekanik

CP5. Sikap karyawan terhadap pelanggan

CP1 2 CP1. Kualitas mekanik

CP6. Loyalitas konsumen

CP1 4 CP1. Kualitas mekanik

CP7. Pemilihan lokasi usaha

CP1 3 CP1. Kualitas mekanik

CP8. Teknologi yang digunakan

CP1 3 CP1. Kualitas mekanik

CP9. Referensi pelanggan

CP1 4 CP1. Kualitas mekanik

CP10. Manajemen yang handal

CP1 2 CP2. Kualitas kepelatihan

CP3. Kualitas produk

CP2 2 CP2. Kualitas kepelatihan

CP4. Daya saing harga

CP2 3 CP2. Kualitas kepelatihan

CP5. Sikap karyawan terhadap pelanggan

CP5 4

(26)

CP6. Loyalitas konsumen CP2. Kualitas kepelatihan CP7. Pemilihan lokasi usaha

CP7 3 CP2. Kualitas kepelatihan

CP8. Teknologi yang digunakan

CP2 1 CP2. Kualitas kepelatihan

CP9. Referensi pelanggan

CP2 3 CP2. Kualitas kepelatihan

CP10. Manajemen yang handal

CP10 2 CP3. Kualitas produk

CP4. Daya saing harga

CP3 3 CP3. Kualitas produk

CP5. Sikap karyawan terhadap pelanggan

CP3 1 CP3. Kualitas produk

CP6. Loyalitas konsumen

CP3 2 CP3. Kualitas produk

CP7. Pemilihan lokasi usaha

CP3 2 CP3. Kualitas produk

CP8. Teknologi yang digunakan

CP3 2 CP3. Kualitas produk

CP9. Referensi pelanggan

CP3 4 CP3. Kualitas produk

CP10. Manajemen yang handal

CP10 1 CP4. Daya saing harga

CP5. Sikap karyawan terhadap pelanggan

CP5 3 CP4. Daya saing harga

CP6. Loyalitas konsumen

CP6 2 CP4. Daya saing harga

CP7. Pemilihan lokasi usaha

CP4 1 CP4. Daya saing harga

CP8. Teknologi yang digunakan

CP4 3 CP4. Daya saing harga

CP9. Referensi pelanggan

CP4 3 CP4. Daya saing harga

CP10. Manajemen yang handal

CP10 2 CP5. Sikap karyawan terhadap pelanggan

CP6. Loyalitas konsumen

CP5 4 CP5. Sikap karyawan terhadap pelanggan

CP7. Pemilihan lokasi usaha

CP5 2 CP5. Sikap karyawan terhadap pelanggan

CP8. Teknologi yang digunakan

CP5 3 CP5. Sikap karyawan terhadap pelanggan

CP9. Referensi pelanggan

(27)

CP5. Sikap karyawan terhadap pelanggan CP10. Manajemen yang handal

CP5 2 CP6. Loyalitas konsumen

CP7. Pemilihan lokasi usaha

CP7 2 CP6. Loyalitas konsumen

CP8. Teknologi yang digunakan

CP6 3 CP6. Loyalitas konsumen

CP9. Referensi pelanggan

CP6 4 CP6. Loyalitas konsumen

CP10. Manajemen yang handal

CP10 2 CP7. Pemilihan lokasi usaha

CP8. Teknologi yang digunakan

CP8 3 CP7. Pemilihan lokasi usaha

CP9. Referensi pelanggan

CP7 4 CP7. Pemilihan lokasi usaha

CP10. Manajemen yang handal

CP10 2 CP8. Teknologi yang digunakan

CP9. Referensi pelanggan

CP8 4 CP8. Teknologi yang digunakan

CP10. Manajemen yang handal

CP10 1 CP9. Referensi pelanggan

CP10. Manajemen yang handal

CP10 4 Sumber: PT. TAM

4.2.5 Hasil Kuesioner Penentuan Peringkat Faktor Eksternal, Faktor Internal, dan Profil Kompetitif PT. TAM

Tabel 4.10 Hasil Kuesioner Penentuan Peringkat Faktor Eksternal PT. TAM

Faktor Eksternal Utama Peringkat O1. Produksi mobil yang cenderung bertambah 3 O2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik 4 O3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia 3 O4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat 3

O5. Tidak ada produk pengganti 2

T1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar 3 T2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil 2 T3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama 2

T4. Munculnya pesaing-pesaing baru 3

T5. Menurunnya jaminan keamanan nasional 2 Sumber: PT. TAM

(28)

Tabel 4.11 Hasil Kuesioner Penentuan Peringkat Faktor Internal PT. TAM

Faktor Internal Utama Peringkat S1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat 4 S2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya 3

S3. Harga bersaing 3

S4. Lokasi usaha yang strategis 3

S5. Hubungan yang baik dengan pemasok 3

W1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing 1

W2. Jumlah SDM sedikit 2

W3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

2 W4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi 1

W5. Tidak memiliki cabang perusahaan 2

Sumber: PT. TAM

Tabel 4.12 Hasil Kuesioner Penentuan Peringkat Profil Kompetitif PT. TAM

Faktor Penentu Keberhasilan dalam CPM

PT. TAM D.M.A Motor RPM Autozone Peringkat Peringkat Peringkat

CP1. Kualitas mekanik 4 3 4

CP2. Kualitas kepelatihan 3 3 3

CP3. Kualitas produk 3 3 4

CP4. Daya saing harga 3 3 3

CP5. Sikap karyawan terhadap pelanggan 3 3 4

CP6. Loyalitas konsumen 3 3 3

CP7. Pemilihan lokasi usaha 3 3 3

CP8. Teknologi yang digunakan 2 2 3

CP9. Referensi pelanggan 2 2 2

CP10. Manajemen yang handal 2 2 3

(29)

4.2.6 Tahap Masukan (Input Stage)

4.2.6.1 Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (External Factor Evaluation—EFE)

Sumber: Hasil Input Data Kuesioner

Gambar 4.7 Penentuan Bobot Faktor Eksternal PT. TAM dengan menggunakan Software Expert Choice

(30)

Sumber: Hasil Pengolahan Data

Gambar 4.8 Hasil Pembobotan Faktor Eksternal PT. TAM dengan menggunakan Software Expert Choice

(31)

Tabel 4.13 Matriks EFE PT. TAM

No. Faktor-faktor Eksternal Utama Bobot Peringkat Skor Bobot

Peluang (Opportunities)

1 Produksi mobil yang cenderung bertambah 0,088 3 0,264 2 Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih

cukup baik

0,066 4 0,264 3 Semakin bertambahnya kelas menengah di

Indonesia

0,105 3 0,315 4 Permintaan jasa perbengkelan meningkat 0,049 3 0,147 5 Tidak ada produk pengganti 0,027 2 0,054

Ancaman (Threats)

6 Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

0,052 3 0,156 7 Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil 0,226 2 0,452 8 Banyaknya perusahaan yang bergerak di

bidang yang sama

0,049 2 0,098 9 Munculnya pesaing-pesaing baru 0,121 3 0,363 10 Menurunnya jaminan keamanan nasional 0,216 2 0,432

Total 1,000 2,545

Sumber: Hasil Penelitian

Dari tabel Matriks EFE di atas, diperoleh total skor bobot untuk PT. TAM adalah sebesar 2,545. Skor ini mengindikasikan bahwa respons PT. TAM terhadap peluang dan ancaman yang ada di bisnis bengkel mobil di atas rata-rata atau dapat dikatakan baik. Dengan kata lain, PT. TAM mampu menarik keuntungan dari peluang eksternal dan meminimalkan ancaman yang menghadang perusahaan.

(32)

4.2.6.2 Matriks Evaluasi Faktor Internal (Internal Factor Evaluation—IFE)

Sumber: Hasil Input Data Kuesioner

Gambar 4.9 Penentuan Bobot Faktor Internal PT. TAM dengan menggunakan Software Expert Choice

(33)

Sumber: Hasil Pengolahan Data

Gambar 4.10 Hasil Pembobotan Faktor Internal PT. TAM dengan menggunakan Software Expert Choice

(34)

Tabel 4.14 Matriks IFE PT. TAM

No. Faktor-faktor Internal Utama Bobot Peringkat Skor Bobot

Kekuatan (Strengths)

1 Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat

0,267 4 1,068 2 Pengalaman perusahaan dalam bidangnya 0,098 3 0,294

3 Harga bersaing 0,158 3 0,474

4 Lokasi usaha yang strategis 0,118 3 0,354 5 Hubungan yang baik dengan pemasok 0,057 3 0,171

Kelemahan (Weaknesses)

6 Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing

0,057 1 0,057

7 Jumlah SDM sedikit 0,057 2 0,114

8 Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

0,034 2 0,068 9 Tidak memaksimalkan media yang ada untuk

melakukan promosi

0,119 1 0,119 10 Tidak memiliki cabang perusahaan 0,036 2 0,072

Total 1,000 2,791

Sumber: Hasil Penelitian

Berdasarkan tabel Matriks IFE di atas, diperoleh total skor bobot untuk PT. TAM adalah sebesar 2,791. Skor ini mengindikasikan bahwa PT. TAM memiliki posisi internal yang kuat atau di atas rata-rata. Perhatikan juga bahwa terdapat faktor terpenting untuk berhasil di bisnis perbengkelan adalah “memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat”, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai bobot 0,267 yang merupakan nilai bobot tertinggi di antara faktor. Dan PT. TAM berhasil dalam “memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat” karena memiliki nilai peringkat 4 dalam faktor tersebut.

(35)

4.2.6.3 Matriks Profil Kompetitif (Competitive Profile Matrix—CPM)

Sumber: Hasil Input Data Kuesioner

Gambar 4.11 Penentuan Bobot Profil Kompetitif PT. TAM dengan menggunakan Software Expert Choice

(36)

Sumber: Hasil Pengolahan Data

Gambar 4.12 Hasil Pembobotan Profil Kompetitif PT. TAM dengan menggunakan Software Expert Choice

(37)

Tabel 4.15 Matriks CPM PT. TAM Faktor-faktor Penentu Keberhasilan Bobot PT. Tunas Arfanal Motor

D.M.A Motor RPM Autozone Peringkat Skor Bobot Peringkat Skor Bobot Peringkat Skor Bobot Kualitas mekanik 0,204 4 0,816 3 0,612 4 0,816 Kualitas kepelatihan 0,078 3 0,234 3 0,234 3 0,234 Kualitas produk 0,115 3 0,345 3 0,345 4 0,460 Daya saing harga 0,064 3 0,192 3 0,192 3 0,192 Sikap karyawan terhadap pelanggan 0,170 3 0,510 3 0,510 4 0,680 Loyalitas konsumen 0,082 3 0,246 3 0,246 3 0,246 Pemilihan lokasi usaha 0,082 3 0,246 3 0,246 3 0,246 Teknologi yang digunakan 0,074 2 0,148 2 0,148 3 0,222 Referensi pelanggan 0,025 2 0.050 2 0,050 2 0,050 Manajemen yang handal 0,106 2 0,212 2 0,212 3 0,212 Total 1,000 2,999 2,795 3,358

Sumber: Hasil Penelitian

Dari tabel Matriks CPM di atas, diketahui bahwa ada dua pesaing utama PT. TAM, yakni RPM Autozone dan D.M.A Motor. Total skor bobot untuk PT. TAM sebesar 2,999, D.M.A Motor 2,795, dan RPM Autozone 3,358. Skor ini mengindikasikan bahwa RPM Autozone adalah perusahaan yang terkuat dan D.M.A Motor adalah yang terlemah. Sedangkan PT. TAM di bawah RPM Autozone dan di atas D.M.A Motor. Maka dapat diketahui bahwa PT. TAM memiliki daya saing yang cukup kuat dengan para pesaingnya.

(38)

4.2.7 Tahap Pencocokan (Matching Stage) 4.2.7.1 Matriks SWOT

Tabel 4.16 Matriks SWOT PT. TAM

Kekuatan (S)

1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat

2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya

3. Harga bersaing 4. Lokasi usaha yang

strategis

5. Hubungan yang baik dengan pemasok

Kelemahan (W)

1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing 2. Jumlah SDM sedikit 3. Sistem persediaan,

penjualan, dan

pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi 5. Tidak memiliki cabang

perusahaan

Peluang (O)

1. Produksi mobil yang cenderung bertambah 2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih cukup baik 3. Semakin bertambahnya kelas menengah di Indonesia 4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat 5. Tidak ada produk

pengganti

Strategi SO

Pengembangan produk (S1, S3, S5, O1, O2, O3,

O4)

Strategi WO

Pengembangan produk (W1, W3, O1, O2, O3, O4)

Ancaman (T)

1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil

3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama 4. Munculnya pesaing-pesaing baru Strategi ST Penetrasi pasar (S1, S2, S3, S4, T1, T3, T4) Strategi WT Pengembangan produk (W2, T1, T3, T4)

(39)

5. Menurunnya jaminan keamanan nasional Sumber: Hasil Penelitian

Terdapat dua strategi alternatif dalam Matriks SWOT di atas, antara lain: 1. Pengembangan Produk

Adalah dengan cara meningkatkan kualitas barang dan jasa. Misalnya menggunakan teknologi komputer untuk spooring dan balancing. Selain itu, penambahan jumlah SDM dalam perusahaan dapat juga dilakukan demi mempercepat pelayanan supaya pengantrian konsumen dapat diminimalkan. Pengembangan produk dilakukan dengan maksud menjawab kebutuhan konsumen serta menjaga loyalitas konsumen.

2. Penetrasi Pasar

Tujuannya adalah meningkatkan pangsa pasar untuk barang dan jasa yang ada di pasar saat ini melalui upaya-upaya pemasaran yang lebih besar. Misalnya, melakukan promosi atau memasarkan produk dengan memasangkan iklan di surat kabar, majalah, radio, atau pun internet.

4.2.7.2 Matriks IE (Internal-External Matrix)

Matriks IE bertujuan untuk mendapatkan suatu strategi bisnis dengan mengacu pada total skor bobot faktor eksternal (EFE) dan faktor internal (IFE) perusahaan. Dari Matriks EFE PT. TAM diperoleh total skor bobot 2,545 dan Matriks IFE PT. TAM diperoleh total skor bobot 2,791.

(40)

V

Kuat Sedang Lemah 3,0 – 4,0 2,0 -2,99 1,0 – 1,99 4,0 3,0 2,0 1,0 Tinggi 3,0-4,0 3,0 Sedang 2,0-2,99 2,0 Rendah 1,0-1,99 1,0

Sumber: Hasil Penelitian

Gambar 4.13 Matriks IE PT. TAM

Berdasarkan hasil dari Matriks EFE (Tabel 4.13) dan Matriks IFE (Tabel 4.14), dapat diketahui bahwa nilai EFE sebesar 2,545 dan nilai IFE sebesar 2,791. Dengan nilai tersebut, maka PT. TAM berada di sel V dalam Matriks IE, di mana sel V termasuk dalam divisi

menjaga dan mempertahankan. Strategi yang umum digunakan dalam divisi ini adalah: ¾ Penetrasi pasar ¾ Pengembangan produk I II III IV PT. TAM (EFE 2,545, IFE 2,791) VI VII VIII IX

SKOR BOBOT TOTAL EFE

(41)

PT. TAM

1,0 2,5 4,0

Kuadran II Kuadran I

Kuadran III Kuadran IV

4.2.7.3 Matriks Strategi Besar (Grand Strategy Matrix)

PERTUMBUHAN PASAR YANG CEPAT

POSISI POSISI

KOMPETITIF KOMPETITIF

YANG LEMAH YANG KUAT

PERTUMBUHAN PASAR YANG LAMBAT

Sumber: Hasil Penelitian

Gambar 4.14 Grand Strategy Matrix PT. TAM

Dilihat dari gambar Matriks Strategi Besar PT. TAM di atas, diketahui PT. TAM berada pada kuadran I. Hal ini mengindikasikan PT. TAM berada pada industri yang memiliki pertumbuhan pasar yang cepat dan memiliki posisi bersaing yang cukup kuat. Perusahaan bengkel mobil di Indonesia adalah industri yang memiliki pertumbuhan pasar yang cepat karena produksi dan penjualan mobil di Indonesia yang cenderung bertambah sehingga membuat kebutuhan akan jasa perbengkelan bertambah/meningkat pula. Alhasil, hal ini memicu banyaknya pebisnis yang ingin berkiprah di industri perbengkelan tersebut.

(42)

PT. TAM memiliki posisi persaingan yang cukup kuat di industri perbengkelan ini, dilihat dari hasil analisis Matriks CPM (Competitive Profile Matrix), di mana PT. TAM memiliki total skot bobot sebesar 2,999 (lebih tinggi dari skor rata-rata yakni 2,5).

Terdapat beberapa strategi yang dapat digunakan perusahaan yang berada pada kuadran I, antara lain:

¾ Pengembangan pasar

¾ Penetrasi pasar

¾ Pengembangan produk

¾ Diversifikasi terkait

4.2.8 Tahap Keputusan (Decision Stage)

4.2.8.1 Matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix)

Matriks QSPM secara objektif menunjukkan strategi mana yang terbaik. QSPM menggunakan analisis input dari Tahap 1 (Tahap Masukan) dan hasil pencocokan dari analisis Tahap 2 (Tahap Pencocokan) untuk secara objektif menentukan strategi yang hendak dijalankan di antara strategi-strategi alternatif. Itu artinya, Matriks EFE, Matriks IFE, dan Matriks CPM yang menyusun Tahap 1, ditambah dengan Matriks SWOT, Matriks IE, dan Matriks Grand Strategy yang menyusun Tahap 2, menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk menyusun QSPM (Tahap 3/Tahap Keputusan). QSPM adalah alat yang memungkinkan para penyusun strategi mengevaluasi berbagai strategi alternatif secara objektif, berdasarkan faktor-faktor keberhasilan penting eksternal dan internal yang diidentifikasi sebelumnya.

Berdasarkan analisis pada tahap pencocokan, yaitu Matriks SWOT, Matriks IE, dan Matriks Strategi Besar, diperoleh beberapa strategi alternatif antara lain strategi penetrasi pasar, pengembangan produk, pengembangan pasar, dan diversifikasi terkait. Seperti dapat dilihat pada tabel 4.17 dibawah ini.

(43)

Tabel 4.17 Hasil Strategi Alternatif dari Tahap Pencocokan

Strategi Alternatif Tahap Pencocokan Pengembangan pasar Matriks Strategi Besar

Penetrasi pasar Matriks SWOT, Matriks IE, Matriks Strategi Besar Pengembangan produk Matriks SWOT, Matriks IE, Matriks Strategi Besar Diversifikasi terkait Matriks Strategi Besar

Sumber: Hasil Analisis Tahap Pencocokan

Berdasarkan Tabel 4.17, maka dapat dilihat bahwa strategi alternatif yang paling banyak keluar dalam Tahap Pencocokan adalah Penetrasi Pasar dan Pengembangan Produk. Maka dari itu, kedua strategi ini akan dievaluasi dalam QSPM.

Tabel 4.18 Hasil Kuesioner QSPM

ALTERNATIF STRATEGI Penetrasi Pasar Pengembangan Produk Faktor-faktor Utama AS AS Peluang

1. Produksi mobil yang cenderung bertambah 3 2 2. Tingkat pertumbuhan penjualan mobil masih

cukup baik

4 3 3. Semakin bertambahnya kelas menengah di

Indonesia

4 3 4. Permintaan jasa perbengkelan meningkat 4 3

5. Tidak ada produk pengganti 1 1

Ancaman

1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

4 3 2. Ancaman kondisi ekonomi yang tidak stabil - -

3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama

3 3 4. Munculnya pesaing-pesaing baru 3 2

5. Menurunnya jaminan keamanan nasional - -

Kekuatan

1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat

4 3 2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya 2 1

3. Harga bersaing 4 2

(44)

5. Hubungan yang baik dengan pemasok 1 3

Kelemahan

1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing

1 3

2. Jumlah SDM sedikit 1 2

3. Sistem persediaan, penjualan, dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

- - 4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk

melakukan promosi

4 2 5. Tidak memiliki cabang perusahaan 2 1

Sumber: PT. TAM

Tabel 4.19 Matriks QSPM PT. TAM

ALTERNATIF STRATEGI Penetrasi

Pasar

Pengembangan Produk

Faktor-faktor Utama Bobot AS TAS AS TAS

Peluang (Opportunities)

1. Produksi mobil yang cenderung bertambah

0,088 3 0,264 2 0,176 2. Tingkat pertumbuhan penjualan

mobil masih cukup baik

0,066 4 0,264 3 0,198 3. Semakin bertambahnya kelas

menengah di Indonesia

0,105 4 0,42 3 0,315 4. Permintaan jasa perbengkelan

meningkat

0,049 4 0,196 3 0,147 5. Tidak ada produk pengganti 0,027 1 0,027 1 0,027

Ancaman (Threats)

1. Persaingan untuk bengkel sejenis di lokasi usaha perusahaan besar

0,052 4 0,208 3 0,156 2. Ancaman kondisi ekonomi yang

tidak stabil

0,226 - -

3. Banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang yang sama

0,049 3 0,147 3 0,147 4. Munculnya pesaing-pesaing baru 0,121 3 0,363 2 0,242 5. Menurunnya jaminan keamanan

nasional

0,216 - -

1,00

Kekuatan (Strengths)

1. Memiliki tenaga mekanik yang berpengalaman dan bersertifikat

(45)

2. Pengalaman perusahaan dalam bidangnya

0,098 2 0,196 1 0,098 3. Harga bersaing 0,158 4 0,632 2 0,316 4. Lokasi usaha yang strategis 0,118 - -

5. Hubungan yang baik dengan pemasok

0,057 1 0,057 3 0,171

Kelemahan (Weaknesses)

1. Tidak menggunakan mesin komputer untuk spooring dan balancing

0,057 1 0,057 3 0,171 2. Jumlah SDM sedikit 0,057 1 0,057 2 0,114 3. Sistem persediaan, penjualan,

dan pembelian yang belum terkomputerisasi dengan baik

0,034 - -

4. Tidak memaksimalkan media yang ada untuk melakukan promosi

0,119 4 0,476 2 0,238 5. Tidak memiliki cabang

perusahaan

0,036 2 0,072 1 0,036

TOTAL 1,00 4,504 3,353

Sumber: Hasil Penelitian

Dari Matriks QSPM di atas, dapat dilihat bahwa total nilai daya tarik yang terbesar dimiliki strategi penetrasi pasar, yaitu 4,504. Sedangkan total nilai daya tarik strategi pengembangan produk sebesar 3,353. Angka ini mengindikasikan bahwa strategi penetrasi pasar memiliki daya tarik yang lebih besar untuk diterapkan perusahaan.

4.3 Implikasi Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil analisis Matriks QSPM, yang merupakan tahap terakhir dalam kerangka penyusunan strategi yang komprehensif, yakni tahap keputusan, diperoleh hasil bahwa strategi penetrasi pasar lebih menarik untuk diterapkan perusahaan.

Strategi penetrasi pasar dapat dilakukan dengan beberapa tindakan, antara lain:

ƒ Melakukan usaha pemasaran melalui pemasangan iklan di media-media seperti surat kabar, majalah, radio, ataupun media online (internet). Khusus untuk media online, dapat memasang iklan pada surat kabar online terkemuka yang memberikan segala

(46)

informasi, seperti www.kompas.com, www.detik.com, www.okezone.com, dan lain-lain. Dapat juga dengan membuat akun situs jejaring sosial seperti facebook ataupun twitter, cantumkan alamat perusahaan beserta produknya, kemudian menambahkan daftar teman sebanyak-banyaknya. Ini merupakan sebuah cara yang terbilang murah untuk melakukan pemasaran.

ƒ Memberikan bonus bagi pelanggan yang mengajak/membawa konsumen lain untuk memakai jasa bengkel PT. TAM. Bonusnya bisa berupa diskon harga bagi pelanggan yang membawa konsumen. Cara ini selain mendapat referensi dari pelanggan, juga dapat mempererat hubungan dengan pelanggan sehingga loyalitas konsumen dapat terjaga dengan baik.

ƒ Memberikan penawaran dan promosi-promosi menarik dalam bentuk diskon khusus bagi pelanggan yang menggunakan jasa perusahaan. Misalnya 5 kali servis mesin, dapat diskon harga untuk servis ke enam kalinya.

Gambar

Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT. TAM
Tabel 4.1 Komposisi Karyawan PT. TAM
Gambar 4.2 Model Lima Kekuatan Porter pada PT. TAM
Gambar 4.3 Data Produksi Mobil Tahun 2005-2010
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pangsa pasar industri ini adalah di dalam negeri, dan pada tahun 2007 telah membukukan tingkat pertumbuhan rata-rata 8%, selain itu rata-rata modal saham

Produk-produk yang ditawarkan oleh PT Mandom Indonesia Tbk sangatlah beragam, tetapi produk-produk tersebut hanya memiliki target pasar yang sangat terbatas, produk dari PT

Setelah penerapan IFRS mengenai Investment Property terdapat keuntungan dan kerugian yang timbul dari selisih penilaian properti investasi yang dinilai dengan menggunakan model

Pembukaan outlet baru Roti Mum yang berlokasi di perumahan Taman Palem Lestari ini membidik dan menentukan target pasar dengan segmen daya beli menengah hingga atas

Ha 2 . 1  0: Stress kerja berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan pada bagian produksi jahit order men’s pyjama di PT. Leading Garment Industries

Jawaban dari indikator keempat kuesioner terbuka evaluasi keahlian pemakai teknologi informasi cenderung sama untuk ketiga responden. Pelatihan yang pernah diikuti

Kelancaran proses produksi merupakan jumlah produk yang dihasilkan (Output dibagi Target), kualitas produk (Output dibagi produk yang memenuhi standar kualitas

Nissan Motor Indonesia dirancang untuk memproduksi 1000 unit / pertahun, perakitan mobil dengan satu sistem kerja dari pagi hingga sore dikarenakan kebutuhan bangsa pasar