Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik Chapter III VI

19 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan rancangan penelitian cross-sectional. Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian di Instalasi Radiologi Kedokteran Gigi dan Instalasi Prostodonsia Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Medan.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari – Februari 2017.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien wanita dan mahasiswa wanita di Instalasi Prostodonsia Universitas Sumatera Utara.

3.3.2 Sampel

(2)

Kriteria inklusi adalah:

1. Pada kelompok edentulus, memiliki rahang yang tidak bergigi seluruhnya dan telah menopause.

2. Pada kelompok bergigi, memiliki rahang yang bergigi seluruhnya dan belum menopause.

Kriteria eksklusi adalah:

1. Memiliki riwayat terdiagnosa kista, tumor rahang dan menderita penyakit sistemik yang bermanifestasi terhadap tulang.

2. Menolak menjadi sampel penelitian.

Pemilihan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Jumlah sampel diambil berdasarkan kebutuhan sampel.

Penentuan besar sampel dilakukan dengan rumus sebagai berikut:

n = 2. σ² (Zα + Zβ)² (μο – μa)

Dengan ketentuan:

n : besar sampel

Zα : taraf signifikan 5% = 1, 96 Zβ : taraf signifikan 10% = 1, 282 (μο – μa

σ : 4, 25 (Ural dkk, 2011) ) : selisih rata-rata = 18%

n = 2. 4,25²(1,96+1,282)² (0.18)²

n = 11,71 = 20 sampel.

(3)

3.4 Variabel dan Definisi Operasional

3.4.1 Variabel Penelitian

Adapun variabel-variabel penelitian ini adalah:

1. Variabel bebas : Wanita edentulus dan wanita bergigi.

2. Variabel terikat : Pengukuran ketinggian maxillary alveolar ridge pada radiograf panoramik.

3.4.2 Definisi Operasional

Definisi operasional dari variabel tersebut adalah :

No Variabel Definisi Operasional Cara Pengukuran

Hasil

Pengukuran Skala 1 Radiografi lengkung gigi maksila dan mandibula

Jarak antara garis infraorbita dan alveolar crest (Panchbhai, 2013).

Komput erisasi Dalam satuan rahang tidak bergigi seluruhnya dan telah menopause (Putra, 2015).

Kuesioner Wanita

edentulus Nominal

4 Wanita Bergigi

Wanita dengan rahang bergigi

seluruhnya dan belum menopause (Putra, 2015).

Kuesioner Wanita bergigi

(4)

3.5 Alat dan Bahan Penelitian Alat

1. Pesawat radiografi panoramik merk Instrumentarium type OC 200 D 1-4-1 2. Software CliniView versi 10. 1. 2

3. Kaca mulut 4. Pinset 5. Sonde 6. Nierbekken 7. Alat tulis 8. Sensor Bahan

1. Lembar pencatatan 2. Alkohol 70% 3. Kapas

3.6 Prosedur Penelitian

1. Pengambilan sampel dilakukan di Instalasi Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

2. Peneliti melakukan pemeriksaan intra oral pada sampel dengan menggunakan alat kaca mulut, pinset dan sonde.

3. Peneliti memberikan lembar kuesioner kepada sampel. Kuesioner berisi pertanyaan mengenai usia dan riwayat penyakit sistemik yang bermanifestasi terhadap tulang.

4. Sampel dipilih sesuai kriteria inklusi, hasil dari pemeriksaan intraoral dan lembar kuesioner.

5. Meminta kesediaan sampel untuk mengikuti penelitian dengan memberi lembar persetujuan atau inform consent.

6. Melakukan radiografi panoramik terhadap sampel.

(5)

• Tekan search untuk membuka foto panoramik yang akan diamati.

• Tekan image dan create copy untuk menghasilkan suatu foto panoramik yang sama dengan aslinya.

• Tekan contrast brightness untuk memperjelas keberadaan alveolar ridge supaya lebih jelas dan terang.

• Tekan drawing toolbar (line) untuk membuat garis lurus vertikal dan garis lurus horizontal pada bagian yang akan diperiksa. Garis lurus ditarik secara horizontal pada infraorbital (garis O) dan pada zigomatik (garis Z).

• Tekan measurement (length) dan garis lurus ditarik secara vertikal dari garisan O ke alveolar crest pada midline, premolar pertama dan molar pertama pada regio kanan dan kiri (garis A, B, C).

• Hasil pengukuran akan keluar secara otomatis. 8. Mencatat hasil pengukuran maxillary alveolar ridge. 9. Analisis data dari hasil kelompok bergigi dan tidak bergigi.

(6)

Gambar 8. Pengukuran ketinggian maxillary alveolar ridge pada wanita edentulus.Garis O- garis infraorbital; garis Z-garis zigomatik; garis A, B, C-garis O ke alveolar crest pada midline rahang berpedoman pada septum nasi, foramen nasopalatina dan anterior nasal spine (A), titik premolar pada mesial foramen infraorbita (B) dan titik molar pada titik inferior processus zygomaticus (C) pada regio kanan dan kiri (arsip pribadi)

3.7 Pengolahan dan Analisis Data

3.7.1 Pengolahan Data

Data yang diperoleh diolah menggunakan program komputer berupa SPSS 20.

3.7.2 Analisis Data

(7)

3.8 Etika Penelitian

Etika penelitian dalam penelitian ini mencakup: 1. Lembar persetujuan

Peneliti melakukan pendekatan dan memberikan lembar persetujuan kepada responden kemudian menjelaskan lebih dahulu tujuan penelitian, tindakan yang akan dilakukan serta menjelaskan manfaat yang diperoleh dari hal-hal lain yang berkaitan dengan penelitian.

2. Ethical clearance

(8)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Nilai Rata-Rata Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge

Pengukuran ketinggian maxillary alveolar ridge dilakukan pada 40 sampel yang telah memenuhi kriteria yang dibutuhkan, terdiri dari 20 wanita bergigi dan 20 wanita edentulus.

Pada tabel 1, terlihat bahwa pengukuran nilai rata-rata ketinggian maxillary alveolar ridge baik pada gigi insisif, gigi premolar kanan, gigi molar kanan, gigi premolar kiri dan gigi molar kiri lebih tinggi pada wanita bergigi daripada wanita edentulus.

Tabel 1. Hasil pengukuran nilai rata-rata ketinggian maxillary alveolar ridge pada titik insisif, titik premolar kanan, titik molar kanan, titik premolar kiri dan titik molar kiri

Gigi Sampel N Mean Standar

Deviasi

Standar Error Mean Insisif

(midline)

Edentulus 20 35.30 2.79 .62

Bergigi 20 37.57 3.34 .75

Premolar Kanan Edentulus 20 33.81 3.01 .67

Bergigi 20 35.87 3.10 .69

Molar Kanan Edentulus 20 31.84 3.85 .86

Bergigi 20 33.87 2.81 .63

Premolar Kiri Edentulus 20 33.93 2.88 .64

Bergigi 20 36.33 3.04 .68

Molar Kiri Edentulus 20 31.90 3.47 .78

(9)

Pada tabel 2, terlihat bahwa pengukuran nilai rata-rata ketinggian maxillary alveolar ridge pada wanita bergigi lebih besar dibandingkan wanita edentulus.

Tabel 2. Hasil pengukuran nilai rata-rata ketinggian maxillary alveolar ridge pada wanita edentulus dan wanita bergigi

Sampel N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Edentulus 100 25.00 41.10 33.35 3.43

Bergigi 100 28.00 42.40 35.66 3.21

4.2 Analisis Data

Sebelum dilakukan uji validitas dan uji perbedaan, dilakukan uji normalitas dengan menggunakan Shapiro Wilk test. Pada tabel 3, hasil uji normalitas dengan menggunakan uji Shapiro Wilk test, diperoleh seluruh nilai Sig. > 0,05. Hal ini berarti data memenuhi asumsi normalitas sehingga uji beda yang digunakan adalah uji beda 2 sampel independen dengan uji t (independent sample t test).

Tabel 3. Data uji Shapiro Wilk test

Sampel

Shapiro Wilk

Gigi Statistik df Sig.

Insisif (midline) Edentulus .99 20 .99

Bergigi .92 20 .08

Premolar Kanan Edentulus .96 20 .60

Bergigi .97 20 .66

Molar Kanan Edentulus .96 20 .51

Bergigi .99 20 .99

Premolar Kiri Edentulus .97 20 .68

Bergigi .96 20 .44

Molar Kiri Edentulus .96 20 .63

(10)

Pada tabel 4, menggunakan hasil uji Levene, diketahui nilai Sig. sebesar 0,38 (>0,05). Hasil pada baris equal variances assumed menggunakan Sig. (2-tailed) didapatkan nilai sebesar 0,03 (<0,05). Maka secara statistik terdapat perbedaan signifikan antara ketinggian maxillary alveolar ridge gigi insisif wanita bergigi dengan wanita edentulus.

Tabel 4. Data uji perbedaan nilai ketinggian maxillary alveolar ridge menggunakan independent t test pada gigi insisif

t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the

Difference

Difference Lower Upper

(11)

Pada tabel 5, menggunakan hasil uji Levene, diketahui nilai Sig. sebesar 0,64 (>0,05). Hasil pada baris equal variances assumed menggunakan Sig. (2-tailed) didapatkan nilai sebesar 0,04 (<0,05). Maka secara statistik terdapat perbedaan signifikan antara ketinggian maxillary alveolar ridge gigi premolar kanan wanita bergigi dengan wanita edentulus.

Tabel 5. Data uji perbedaan nilai ketinggian maxillary alveolar ridge menggunakan independent t test pada gigi premolar kanan

t-test for Equality of Means

95%

Difference Lower Upper

(12)

Pada tabel 6, menggunakan hasil uji Levene, diketahui nilai Sig. sebesar 0,25 (>0,05). Hasil pada baris equal variances assumed menggunakan Sig. (2-tailed) didapatkan nilai sebesar 0,07 (>0,05). Maka secara statistik terdapat perbedaan namun tidak signifikan (perbedaan tipis secara statistik) antara ketinggian maxillary alveolar ridge gigi molar kanan wanita bergigi dengan wanita edentulus.

Tabel 6. Data uji perbedaan nilai ketinggian maxillary alveolar ridge menggunakan independent t test pada gigi molar kanan

t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the

Difference

Difference Lower Upper

(13)

Pada tabel 7, menggunakan hasil uji Levene, diketahui nilai Sig. sebesar 0,83 (>0,05). Hasil pada baris equal variances assumed menggunakan Sig. (2-tailed) didapatkan nilai sebesar 0,01 (<0,05). Maka secara statistik terdapat perbedaan signifikan antara ketinggian maxillary alveolar ridge gigi premolar kiri wanita bergigi dengan wanita edentulus.

Tabel 7. Data uji perbedaan nilai ketinggian maxillary alveolar ridge menggunakan independent t test pada gigi premolar kiri

t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the

Difference

Difference Lower Upper

(14)

Pada tabel 8, menggunakan hasil uji Levene, diketahui nilai Sig. sebesar 0,19 (>0,05). Hasil pada baris equal variances assumed menggunakan Sig. (2-tailed) didapatkan nilai sebesar 0,01 (<0,05). Maka secara statistik terdapat perbedaan signifikan antara ketinggian maxillary alveolar ridge gigi molar kiri wanita bergigi dengan wanita edentulus.

Tabel 8. Data uji perbedaan nilai ketinggian maxillary alveolar ridge menggunakan independent t test pada gigi molar kiri

t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the

Difference

Difference Lower Upper

(15)

BAB 5 PEMBAHASAN

Pengukuran maxillary alveolar ridge dilakukan pada 40 sampel yang telah memenuhi kriteria yang dibutuhkan, terdiri dari 20 wanita bergigi dan 20 wanita edentulus. Penelitian dilakukan di Instalasi Prostodonsia dan Instalasi Radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Medan.

Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata ketinggian maxillary alveolar ridge wanita bergigi lebih besar dibandingkan wanita edentulus pada masing-masing titik pengukuran. Pada gigi insisif (midline), nilai rata-rata lebih besar pada wanita bergigi yaitu 37,57mm ± 3,34mm, dibandingkan dengan wanita edentulus yaitu 35,30mm ± 2,79mm. Hasil ini sesuai dengan penelitian Panchbhai (2013) di India, yang mendapatkan hasil bahwa pada gigi insisif (midline), nilai rata-rata lebih besar pada wanita bergigi yaitu 4,40 mm, dibandingkan dengan wanita edentulus 3,75 mm.6 Penelitian Canger et al (2013) di Turki, mendapatkan hasil bahwa nilai rata-rata gigi insisif (midline), lebih besar pada wanita bergigi yaitu 45,98mm ± 3,64mm, dibandingkan dengan wanita edentulus 40,19mm ± 3,28mm.

Pada gigi premolar kanan, nilai rata-rata lebih besar pada wanita bergigi yaitu 35,87mm ± 3,10mm, dibandingkan dengan wanita edentulus 33,81mm ± 3,01mm. Pada gigi premolar kiri, nilai rata-rata lebih besar pada wanita bergigi yaitu 36,33mm ± 3,04mm, dibandingkan dengan wanita edentulus 33,93mm ± 2,88mm. Hasil ini sesuai dengan penelitian Panchbhai (2013) di India, yang mendapatkan hasil bahwa pada gigi premolar, nilai rata-rata lebih besar pada wanita bergigi yaitu 4,19 mm, dibandingkan dengan wanita edentulus 3,52 mm.

7

6

(16)

Pada gigi molar kanan, nilai rata-rata lebih besar pada wanita bergigi yaitu 33,87mm ± 2,81mm, dibandingkan dengan wanita edentulus 31,84mm ± 3,85mm. Pada gigi molar kiri, nilai rata-rata lebih besar pada wanita bergigi yaitu 34,67mm ± 2,62mm, dibandingkan dengan wanita edentulus 31,90mm ± 3,47mm. Hasil ini sesuai dengan penelitian Panchbhai (2013) di India, yang mendapatkan hasil bahwa pada gigi molar, nilai rata-rata lebih besar pada wanita bergigi yaitu 3,93 mm, dibandingkan dengan wanita edentulus 3.20 mm.6 Penelitian Canger et al (2013) di Turki, mendapatkan hasil bahwa pada gigi molar, nilai rata-rata lebih besar pada wanita bergigi yaitu 23,38mm ± 3,47mm, dibandingkan dengan wanita edentulus 21,1mm ± 2,63mm.

Nilai rata-rata maxillary alveolar ridge secara keseluruhan pada wanita bergigi lebih besar dibandingkan wanita edentulus. Rata-rata ketinggian maxillary alveolar ridge pada wanita edentulus adalah 33,35mm ± 3,43mm dan pada wanita bergigi adalah 35,66mm ± 3,21mm. Hasil ini sesuai dengan penelitian Saed et al (2010) di J Bagh College, yang mendapatkan hasil bahwa nilai rata-rata sampel kelompok bergigi lebih besar dibandingkan kelompok edentulus. Nilai rata-rata lebih besar pada wanita bergigi yaitu 10,36 mm dibandingkan dengan wanita edentulus 6,99 mm.

7

30

Penelitian Putra (2015) di Indonesia, mendapatkan hasil bahwa nilai rata-rata ketinggian maxillary alveolar ridge pada kelompok bergigi lebih besar dibandingkan dengan kelompok edentulus.

Pada rahang edentulus tersebut tidak mendapatkan rangsangan mekanis yang cukup sehingga metabolisme tulang dapat terganggu yaitu terjadinya stimulasi osteoklas yang meningkat dan stimulasi osteoblas yang menurun sehingga menyebabkan resorpsi pada alveolar ridge dan menyebabkan penurunan ketinggian maxillary alveolar ridge.

8

8

(17)

Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan ketinggian maxillary alveolar ridge antar regio, regio anterior pada titik insisif memiliki nilai ketinggian paling besar dan titik molar memiliki nilai ketinggian paling kecil. Hal ini sesuai dengan penelitian Reich et al (2011) di France, yang mendapatkan hasil bahwa regio anterior memiliki nilai ketinggian paling besar dan regio posterior memiliki nilai ketinggian paling kecil.5 Penelitian Zhang et al (2015) di USA, mendapatkan hasil bahwa pada bagian anterior maksila, resorpsi alveolar ridge pada insisivus lateralis adalah paling kecil. Pada wanita edentulus, resorpsi paling kecil terjadi pada bagian gigi anterior.10 Hal ini dapat disebabkan beberapa faktor. Pertama, ketinggian alveolar ridge pada keadaan normal yang paling rendah terletak pada regio posterior yaitu molar, kemudian diikuti premolar dan paling tinggi di anterior sesuai dengan kurva spee. Kedua, pada regio anterior mandibula terdapat perlekatan otot genial, sehingga gaya yang diberikan daerah tersebut pada saat oklusi menstimulasi adaptasi metabolisme alveolar ridge di maksila sehingga memiliki ketinggian yang lebih besar.

Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan ketinggian maxillary alveolar ridge pada wanita edentulus dan bergigi. Secara statistik, terdapat perbedaan signifikan antara kelompok bergigi dengan edentulus pada masing-masing titik pengukuran kecuali gigi molar kanan. Pada gigi molar kanan, terdapat perbedaan namun tidak signifikan antara wanita bergigi dengan wanita edentulus. Penelitian Abdulhadi et al (2009) di Malaysia, mengatakan bahwa resorpsi alveolar ridge terjadi setelah kehilangan gigi. Lamanya kehilangan gigi mempengaruhi besarnya resorpsi alveolar ridge dan menyebabkan penurunan ketinggian alveolar ridge.

8

32

(18)

ini sesuai dengan penelitian D’Souza (2012) di India, yang mendapatkan hasil bahwa faktor anatomi yaitu kuantitas dan kualitas tulang dari alveolar ridge memainkan peranan penting untuk terjadinya resorpsi alveolar ridge.17 Kemungkinan hal ini juga disebabkan karena ketinggian maxillary alveolar ridge pada masing-masing sampel bervariasi pada kelompok wanita bergigi dan kelompok wanita edentulus. Didapatkan ketinggian maxillary alveolar ridge pada beberapa sampel kelompok wanita bergigi lebih rendah daripada kelompok wanita edentulus. Hal ini berhubungan dengan kurva spee di mana keadaan dalam normal ketinggian alveolar ridge pada titik molar lebih rendah daripada titik yang lain.8

Radiograf panoramik digunakan untuk pemeriksaan penunjang dibidang kedokteran gigi karena mampu memberikan gambaran gigi dan struktur pendukungnya baik di maksila maupun mandibula. Radiograf panoramik juga digunakan sebagai alat bantu diagnostik dalam perencanaan perawatan menggunakan implan. Desain implan yang dapat digunakan yaitu implan endosseous dengan diameter 3,75mm dan panjang bervariasi antara 7mm, 10mm, 13mm dan 15mm. Pemasangan implan dilakukan apabila linggir cukup lebar dan jarak antara implan dengan sinus maksilaris adalah 2mm.

Hal inilah yang kemungkinan menyebabkan nilai rata-rata ketinggian maxillary alveolar ridge wanita edentulus dan wanita bergigi mengalami perbedaan tetapi tidak signifikan pada titik molar kanan.

34

(19)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Terdapat perbedaan ketinggian maxillary alveolar ridge secara signifikan pada wanita edentulus dan bergigi kecuali gigi molar kanan.

2. Rata-rata ketinggian maxillary alveolar ridge pada wanita edentulus adalah 33,35mm ± 3,43mm dan pada wanita bergigi adalah 35,66mm ± 3,21mm.

6.2 Saran

1. Diharapkan pada penelitian selanjutnya dilakukan pengukuran maxillary alveolar ridge secara khusus pada regio anterior dan posterior dengan menggunakan pesawat radiograf yang lain seperti CBCT.

Figur

Gambar 7.  Pengukuran  ketinggian  maxillary alveolar ridge pada wanita bergigi. Garis O-                       garis  infraorbital;  garis  Z–garis  zigomatik;  garis A, B, C–garis O ke alveolar                      crest  (1,2  mm  dari  cementoenamel  junction)  pada  midline rahang  atau titik                      tengah kedua insisif sentral (A), distal  premolar  pertama  (B) dan  distal molar                      pertama (C) pada regio kanan dan kiri (arsip pribadi)
Gambar 7 Pengukuran ketinggian maxillary alveolar ridge pada wanita bergigi Garis O garis infraorbital garis Z garis zigomatik garis A B C garis O ke alveolar crest 1 2 mm dari cementoenamel junction pada midline rahang atau titik tengah kedua insisif sentral A distal premolar pertama B dan distal molar pertama C pada regio kanan dan kiri arsip pribadi . View in document p.5
Gambar 8. Pengukuran ketinggian                      kanan dan kiri (arsip pribadi)                    (B) dan  titik  molar  pada  titik  inferior                     garis  infraorbital; garis Z-garis  zigomatik;  garis A,  B, C-garis  O ke                      crest                     dan  maxillary alveolar ridge pada wanita edentulus.Garis O- alveolar  pada midline rahang berpedoman pada septum nasi, foramen nasopalatina  anterior nasal  spine (A), titik  premolar  pada  mesial foramen  infraorbita   processus  zygomaticus  (C) pada regio
Gambar 8 Pengukuran ketinggian kanan dan kiri arsip pribadi B dan titik molar pada titik inferior garis infraorbital garis Z garis zigomatik garis A B C garis O ke crest dan maxillary alveolar ridge pada wanita edentulus Garis O alveolar pada midline rahang berpedoman pada septum nasi foramen nasopalatina anterior nasal spine A titik premolar pada mesial foramen infraorbita processus zygomaticus C pada regio . View in document p.6
Tabel 1.  Hasil  pengukuran  nilai rata-rata  ketinggian  maxillary  alveolar ridge pada                   titik  insisif, titik  premolar  kanan, titik  molar  kanan, titik  premolar  kiri dan                  titik molar kiri
Tabel 1 Hasil pengukuran nilai rata rata ketinggian maxillary alveolar ridge pada titik insisif titik premolar kanan titik molar kanan titik premolar kiri dan titik molar kiri . View in document p.8
Tabel 2.  Hasil  pengukuran  nilai  rata-rata  ketinggian  maxillary  alveolar  ridge  pada                 wanita edentulus dan wanita bergigi
Tabel 2 Hasil pengukuran nilai rata rata ketinggian maxillary alveolar ridge pada wanita edentulus dan wanita bergigi . View in document p.9
Tabel 4. Data  uji  perbedaan  nilai  ketinggian maxillary alveolar ridge               menggunakan   independent t test pada gigi insisif
Tabel 4 Data uji perbedaan nilai ketinggian maxillary alveolar ridge menggunakan independent t test pada gigi insisif . View in document p.10
Tabel 5.  Data  uji  perbedaan nilai  ketinggian maxillary alveolar ridge                menggunakan  independent t test pada gigi premolar kanan
Tabel 5 Data uji perbedaan nilai ketinggian maxillary alveolar ridge menggunakan independent t test pada gigi premolar kanan . View in document p.11
Tabel 6.  Data uji  perbedaan  nilai  ketinggian maxillary alveolar ridge                menggunakan  independent t test pada gigi molar kanan
Tabel 6 Data uji perbedaan nilai ketinggian maxillary alveolar ridge menggunakan independent t test pada gigi molar kanan . View in document p.12
Tabel 7.  Data  uji  perbedaan  nilai ketinggian maxillary alveolar ridge                menggunakan  independent t test pada gigi premolar kiri
Tabel 7 Data uji perbedaan nilai ketinggian maxillary alveolar ridge menggunakan independent t test pada gigi premolar kiri . View in document p.13
Tabel 8.  Data  uji  perbedaan  nilai ketinggian maxillary alveolar ridge                menggunakan  independent t test pada gigi molar kiri
Tabel 8 Data uji perbedaan nilai ketinggian maxillary alveolar ridge menggunakan independent t test pada gigi molar kiri . View in document p.14

Referensi

Memperbarui...