BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Tempat Penelitian
1. Profil
Rumah Sakit Islam Sultan Agung (RSI-SA) adalah rumah sakit milik Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung Semarang. RSI-SA merupakan Rumah Sakit kelas B ( SK No. Hk. 03.05/I/513/2011 ) dan telah ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan Utama bagi Fakultas Kedokteran Unissula dengan SK penetapan No. HK.03.05/III/1299/11. RSI-SA berlokasi di Jalan Raya Kaligawe Km. 4 Semarang.
Dalam penyelanggaraan pelayanan RSI-SA memberikan pelayanan: layanan rawat jalan; layanan rawat inap terdiri VIP, kelas I, II dan III; layanan penunjang medis ( Laboratorium, Radiologi, Rehabilitasi Medik, Instalasi Farmasi, Instalasi Gizi); Rumah Sakit Islam Sultan Agung juga memiliki layanan unggulan diantaranya Semarang Eye Center yaitu pusat layanan mata dengan fasilitas peralatan yang lengkap dan pelayanan “one stop service”, Lasik Center yang merupakan pengembangan pelayanan Semarang Eye Center dengan pelayanan utama adalah pelayanan bidang refraksi mata dan Urologi Center yaitu pusat layanan bidang ginjal dan saluran kemih. Dilengkapi dengan alat ESWL dan TUNA, urologi center memberikan pelayanan komprehensif bagi penderita ginjal dan saluran kemih.
2. Gambaran Situasi Kerja Perawat
Shift kerja perawat di IGD dan ICU terbagi mejadi 3, terdiri
dari pagi, siang dan malam. Penjadwalan shift dilakukan oleh
penanggung jawab tiap intalasi. Kondisi kerja pada masing-masing
shift memiliki situasi yang bereda dalam hal banyak atau sedikitnya
pasien dan ringan atau beratnya penanganan pasien. Jika jumlah pasien banyak dan memerlukan tindakan khusus, ada perawat diluar
shift seharusnya yang diperbantukan dalam hal ini disebut lembur.
Kejadian demikian lebih sering dialami oleh perawat IGD, bahkan untuk mengurangi kelelahan perawat memilih tinggal atau menginap di rumah sakit karena jarak pergantian shift untuk satu perawat terlalu
dekat.
Kondisi kerja perawat IGD dan ICU membuat perawat tidak dapat beristirahat sesuai jam istirahat yang berlaku sesuai ketentuan untuk karyawan pada umumnya. Perawat harus beristirahat secara bergantian termasuk untuk ibadah dan makan. Perawat biasanya membeli makanan dari kantin rumah sakit, karena tidak mendapatkan makanan atau snack dari rumah sakit. Kecenderungan perawat
membeli makanan dari kantin rumah sakit tidak dapat menjamin terpenuhinya asupan gizi yang sesuai untuk kebutuhan tubuh dibandingkan jika perawat mendapatkan makan dari pihak rumah sakit yang sudah diperhitungkan kadar gizinya
B. Hasil penelitian
Penelitian di RSI sultan Agung Semarang dilakukan di ruang IGD dan ICU dengan jumlah responden 34 responden terdiri dari 17 perawat IGD dan 17 perawat ICU. Penelitian dilakukan pada tanggal 10 Maret sampai dengan 5 April 2014, didahului stadi pendahuluan di IGD pada tanggal 27 Januari 2014 dan di ICU pada tanggal 10 Maret 2014. Adapun hasil penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Analisis Univariat
a. Karakteristik Responden
1) Jenis kelamin
Responden dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bertugas di IGD dan ICU dengan distribusi frekuensi sebagai berikut:
Tabel 4.1 Distribusi Frekuansi Berdasarkan Jenis Kelamin Perawat IGD dan ICU di RSI Sultan Agung Semarang
Jenis Kelamin Frekuensi Prosentase
Laki-laki 10 29.4%
Perempuan 24 70.6%
Total 34 100.0%
Berdasarkan tabel 4.1, prosentase terbesar responden adalah perempuan dengan prosentase sebesar 70,6%.
2) Umur
Responden dalam penelitian memiliki umur minimal 20 tahun dan umur maksimal 35 tahun. Rara-rata umur responde yaitu 27,85 tahun dan standar deviasi 3,686. Berdasarkan nilai median 29,00 maka kategori umur dibagi menjadi 2 yaitu < 29 tahun dan ≥ 29 tahun.
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Perawat IGD Dan ICU Di RSI Sultan Agung Semarang
Umur Frekuensi Prosentase
<29 18 52.9%
≥ 29 16 47.1%
Total 34 100.0%
Berdasarkan tabel 4.2, dilihat bahwa prosentase tertinggi pada responden yang berumur<29 tahun yaitu sebesar 52,9%.
3) Masa Kerja
a) Masa Kerja di Rumah Sakit
Masa kerja minimum responden dalam penelitian ini 8 bulan dan maksimal 13 tahun. Rata-rata masa kerja adalah 4,66 tahun dan standar deviasi masa kerja yaitu 2,9131. Berdasarkan nilai rata-rata maka kategori masa kerja di rumah sakit dibagi menjadi dua, yaitu < 5 tahun dan ≥5 tahun
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Masa Kerja Perawat IGD Dan ICU di RSI Sultan Agung Semarang
Masa Kerja Frekuensi Prosentase
< 5 20 58.8%
Berdasarkan tabel 4.3, prosentase tertinggi berada pada responden dengan masa kerja < 5 tahun sebanyak 58,8%. b) Masa Kerja Ruang
Minimal masa kerja responden di ruangan (IGD atau ICU) 6 bulan dan maksimal 7 tahun. Rata-rata masa kerja di ruang IGD dan ICU diperoleh 3,035 tahun dan standar deviasi masa kerja di ruang IGD dan ICU yaitu 1,6823. Masa kerja ruang dikategorikan berdasarkan nilai median 3,00 yaitu ≤ 3 tahun dan > 3 tahun.
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Masa Kerja Ruang Perawat IGD Dan ICU di RSI Sultan Agung
Semarang
Masa Kerja Frekuensi Prosentase
≤ 3 tahun 21 61.8%
> 3 tahun 13 38.2%
Total 34 100.0%
Berdasarkan tabel 4.4, prosentase tertinggi berada pada responden dengan masa kerja ≤ 3 tahun sebanyak 61,8%.
b. Toleransi Stres
Nilai minimum toleransi stres adalah 31 dan nilai maksimalnya 59, rata-rata yaitu 44,35. Standar deviasi pengukuran toleransi stres adalah 6,461. Hasil pengukuran toleransi stres selanjutnya dikategorikan menjadi baik jika nilai < 30, kurang jika nilai antara 30-50 dan buruk jika nilai antara 51-80. Untuk distribusi frekuensi toleransi stres responden dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kategori Toelransi Stres Perawat IGD Dan ICU Di RSI Sultan Agung Semarang
Toleransi Stres Frekuensi Prosentase
Baik 28 82.4%
Kurang 6 17.6%
Buruk 0 0%
Total 34 100.0%
Berdasarkan tabel 4.5, mayoritas responden memiliki toleransi stres yang baik dengan prosentase 82.4% dan tidak ada responden dengan toleransi stres yang buruk.
c. Shift Kerja
Shift kerja dalam penelitian ini dikategorikan menjadi tiga kategori
yaitu pagi, siang dan malam.
Tabel 4.6 Distribusi Frekuansi Berdasarkan Shift Kerja Perawat
IGD Dan ICU Di Rsi Sultan Agung Semarang
Shift Kerja Frekuensi Prosentase
Pagi 11 32.4%
Siang 12 35.3%
Malam 11 32.4%
Total 34 100.0%
Berdasarkan tabel 4.6, responden paling banyak berada pada shift
siang dengan prosentase 35,3%.
d. Status Gizi
Nilai minimum pengukuran IMT adalah 17.2248 dan nilai maksimalnya 32,4619. Rata-rata dari pengukuran IMT yaitu 2,2658. Standar deviasi pengukuran toleransi stres adalah 3,9034. Status gizi dalam penelitian ini dikategorikan menjadi lima kategori yaitu sangat kurus, kurus, normal, gemuk dan obesitas.
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Status Gizi Perawat IGD Dan ICU Di RSI Sultan Agung Semarang
Status Gizi Frekuensi Prosentase
Normal 21 61.8% Kurus 3 8.8% Gemuk 5 14.7% Sangat Kurus 0 0% Obesitas 5 14.7% Total 34 100.0%
Berdasarkan tabel 4.7, prosentase terbesar berada pada responden dengan status gizi normal sebanyak 61,8% dan responden dengan
dengan status gizi kurus memiliki prosentase paling kecil yaitu 8,8%.
e. Kelelahan
Nilai minimum waktu reaksi 189,74 mili detik dan nilai maksimum 718,18mili detik. Nilai rata-rata waktu reaksi 3,076mili detik dan standar deviasi 9,87674. Hasil waktu reaksi selanjutnya dikategorikan menjadi empat kategori, yaitu: Normal, KKR, KKS dan KKB. Untuk distribusi sesuai kateori tersebut dapat dilihat pada tabel 4.15.
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kelelahan Perawat IGD Dan ICU Di RSI Sultan Agung Semarang
Kelelahan Frekuensi Prosentase
Normal 9 26.5%
KKR 22 64.7%
KKS 2 5.9%
KKB 1 2.9%
Total 34 100.0%
Berdasarkan tabel 4.8, prosentase paling tinggi berada pada kejadian KKR sebanyak 64,7% dan prosentase minimum 2,9% pada kejadian KKB.
2. Analisis Bivariat
untuk menentukan uji analisis bivariat maka masing-masing variabel numerik terlebih dahulu diuji kenormalan datanya. Adapun hasil uji kenormalan data yaitu sebagai berikut:
Tabel 4.9 Hasil Uji Kenormalan Data
Variabel P Keterangan
Toleransi Stres 0,200 Normal
Status Gizi 0,045 Tidak normal
Kelelahan 0,098 Normal
Berdasarkan hasil uji kenormalan data maka uji bivariat yang digunakan adalah:
a. Person product moment untuk uji hipotesis antara toleransi stres dengan kelelahan
b. Chi-square untuk uji hipotesis antara shift kerja dengan kelelahan c. Rank-spearman untuk uji hipotesis antara status gizi dengan
kelelahan
a. Hubungan antara Toleransi Stres dengan kelelahan
Uji analisis bivariat antara toleransi stres dengan kelelahan menggunakan person product moment.Diperoleh koefisien korelasi
-0,132, artinya toleransi stres mempunyai hubungan yang lemah dengan kelelahan. untuk lebih jelasnya dapat ditunjukkan dalam diagram dibawah ini:
Gambar 4.1 Diagram Tebar Korelasi Antara Toleransi Stres dengan Kelelahan
Berdasarkan gambar 4.1 dapat disimpulkan bahwa tidak dapat diihat hubungan antara antara toelransi stres dengan kelelahan. Hasil uji person product momentjuga menunjukkan nilai p=0,455lebih besar dari p-value (0,05), sehingga disimpulkan
bahwa “tidak ada hubungan antara antara toleransi stres dengan kelelahan ”.
b. Hubungan antara Shift Kerja dengan Kelelahan
Berdasarkan frekuensi shift kerja dan kelelahan, maka dapat dilihat
distribusi frekuensi kelelahan berdasarkan shiftkerja responden
sebagai berikut :
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Kelelahan Berdasarkan Shift Kerja
Pada Perawat IGD Dan ICU Di RSI Sultan Agung Semarang Kelelahan
Shift Normaln % n KKR % n KKS % KKB n % n Total % p
pagi 4 33.3 7 58.3 1 8.3 0 .0 12 35.2 0,599
siang 3 27.3 7 63.6 1 9.1 0 .0 11 32.8
malam 2 18.2 8 72.7 0 .0 1 9.1 11 32.8
Total 9 26.5 22 64.7 2 5.9 1 2.9 34 100.0
Berdasarkan tabel 4.10, pada shiftpagi sebagian mengalami
kelelahan kerja ringan (58,3%) dan tidak ada yang mengalami kelelahan kerja berat. Pada shift siang sebagian besar mengalami kelelahan kerja ringan (63,6%) dan tidak ada yang mengalami kelelahan kerja berat. Pada shift malam sebagian besar mengalami
kelelahan kerja ringan (72,7%) dan tidak ada yang mengalami kelelahan kerja sedang.
Hasil uji chi-squaremenunjukkan nilai p= 0,921 lebih besar dari p-value (0,05). Kesimpulan dari uji analisis “tidak ada hubungan
antara antara shift kerja dengan kelelahan”.
c. Hubungan antara Status Gizi dengan Kelelahan
Uji analisis bivariat antara status gizi dengan kelelahan menggunakan rank-spearmen.Diperoleh koefisien korelasi -0,040
artinya status gizi mempunyai hubungan yang lemah dengan kelelahan. untuk lebih jelasnya dapat ditunjukkan dalam diagram dibawah ini:
Gambar 4.2 Diagram Tebar Korelasi Antara Status Gizi dengan Kelelahan
Berdasarkan gambar 4.2 dapat disimpulkan bahwa tidak dapat dilihat hubungan antara antara status gizi dengan kelelahan. Hasil uji rank-spearmen juga menunjukkan nilai p=0,823lebih besar dari p-value (0,05), sehingga disimpulkan bahwa “tidak ada hubungan
antara antara status gizi dengan kelelahan ”.
C. Pembahasan 1. Toleransi Stres
Berdasarkan tabel 4.5, mayoritas perawat memiliki toleransi stres yang baik dengan prosentase 79,4%. Perawat dengan toleransi stres kurang sebanyak 20,6%. Dari pemeriksaaan didapat nilai rata-rata toleransi stres yang menunjukkan rata-rata toleransi stres perawat di IGD dan ICU adalah baik. Hal ini dikarenakan, rata-rata responden berada pada usia dewasa muda sehingga kemandirian yang telah terekam dalam memori dapat menjadi orientasi dalam ketahanan
terhadap stres. Responden juga memiliki perbedaan pendidikan yang tidak signifikan, seluruh responden mendapatkan pengetahuan tentang kejiwaan pada masa pendidikan keperawatan. Seluruh responden memiliki kondisi fisik yang baik (tidak memiliki kecacatan fisik). Lingkungan kerja dengan beban mental yang dihadapi setiap hari dialami oleh setiap responden, tetapi stimulus keagamaan yang diterima setiap harinya membentuk toleransi stres yang baik.
Toleransi terhadap stres (stres tolerance) adalah kemampuan
untuk menahan ketegangan juga penderitaan karena kegagalan, namun tidak mempengaruhi keadaan psikologis atau fisiologis yang tidak semestinya.47Stimulus yang merugikan fisik atau lingkungan psikologis stres yang terakumulasi secara terus-menerus dapat menjadi pengaruh menurunnya ketahanan terhadap stres.79 jika upaya prtahanan yang dilakukan untuk melawan stres ternyata gagal dan stres tetap ada, individu akan mengalami kelelahan.56 Toleransi terhadap stres bersifat individual. Setiap individu memiliki toleransi terhadap stres yang berbeda satu sama lain, dari yang buruk hingga pada toleransi stres yang baik.
Secara umum, kesalehan dan seiring mengikuti kegiatan agama, baik sendiri maupun bersama, berhubungan dengan kesehatan mental yang baik. Sejumlah penduduk Amerika (± 20-40%) mengatakan bahwa agama adalah salah satu faktor penting yang membantu mereka mengatasi situasi hidup yang penuh stres. Orang-orang yang lebih religius tampaknya memiliki secara keseluruhan tingkat mortalitas lebih rendah dan pada lebih dari 80% penelitian yang menunjukkan adanya hubungna antara agama dengan kesehatan fisik.80
2. Shift Kerja
Shift kerja di RSI Sultan Agung Semarang, terbagi menjadi 3 shiftyaitu pagi, siang dan malam. Jumlah perawat pada tiap shift
berbeda. Perawat pada shift pagi di IGD 7 perawat dan di ICU 5
5 orang di IGD dan 4 orang di ICU. Berdasarkan tabel 4.6, perawat yang menjadi responden dalam penelitian paling banyak adalah perawat yang bertugas pada shift siang dengan prosentase 35,3%,
perawat yang bertugas apada shift pagi dan malam memiliki prosentase
yang sama yaitu 32,4%. Hal ini dikarenakan pelaksanaan penelitian bersamaan dengan persiapan akreditasi rumah sakit dan pelatihan karyawan, sehingga pada perawat shift pagi ada yang mengikuti
pelatihan dan rapat persiapan akreditasi karena itu perawat pada shift
pagi yang seharusnya memiliki jumlah lebih banyak menjadi sama dengan shift malam.
Shiftkerja merupakan suatu periode waktu yang dikerjakan oleh
sekompok pekerja yang mulai bekerja ketika kelompok yang lain selesai.61Shift kerja berpengaruh negative terhadap kesehatan fisik,
mental dan sosial; mengganggu psychophysiology homeostatis seperti circadian rhythms, waktu tidur dan makan; mengurangi kemampuan kerja, dan meningkatnya kesalahan dan kecelakaan; menghambat hubungan sosial dan keluarga; dan adanya faktor resiko pada saluran pencernaan, sistem syaraf, jantung dan pembuluh darah.81Keseimbangan yang buruk antara pekerjaan dan waktu kerja yang disediakan untuk istirahat dan pemulihan, jadwal kerja dan jam kerja yang panjang akan mengakibatkan kelelahan kronis. Konsekuensi dari kelelahan akan mengurangi kewaspadaan yang melamban dalam bereaksi dan mengantuk, yang pada akhirnya akan meningkatkan risiko.68
3. Status gizi
Status gizi dalam penelitian ini dilihat melalui nilai IMT yang kemudian dikategorikan sesuai dengan kategori IMT yang baku yaitu sangat kurus, kurus, normal, gemuk dan obesitas. Berdasarkan tabel 4.7, status gizi perawat cukup beragam tetapi prosentase paling tinggi status gizi perawat adalah normal dengan prosentase 61,8%. Perawat dengan status gizi kurus memiliki prosentase 5,9%, gemuk 20,6%,
sangat kurus 2,9% dan obesitas 8,8%. Hal ini dikarenakan, sekalipun perawat tidak mendapatkan makan dari pihak RSI Sultan Agung, namun perawat mendapatkan tambahan insentive sebagai uang makan. Untuk shift malam juga diberikan mie instan dan 1 gelas susu.
Kata gizi berasal dari kata “nutrition”, artinya sesuatu yang
mempengaruhi proses perubahan semua jenis makanan yang masuk ke dalam tubuh, yang dapat mempertahankan kehidupan. Zat gizi adalah elemen yang ada dalam makanan yang dapat dimanfaatkan secara langsung dalam tubuh, seperti : karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air.61Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat –zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan (BB) ideal.Konsumsi makanan erat kaitannya dengan status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi jika tubuh memperoleh zat-zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup sehingga dapat digunakan secara efisien untuk pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kamampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat yang setinggi mungkin.63
4. Kelelahan
Berdasarkan tabel 4.10, pada shift pagi sebagian mengalami
kelelahan kerja ringan (58,3%) dan tidak ada yang mengalami kelelahan kerja berat. Pada shift siang sebagian besar mengalami kelelahan kerja ringan (63,6%) dan tidak ada yang mengalami kelelahan kerja berat. Pada shift malam sebagian besar mengalami
kelelahan kerja ringan (72,7%) dan tidak ada yang mengalami kelelahan kerja sedang. Kelelahan kerja ringan paling banyak dialami pada shift malam, selain itu juga terdapat pula kelelahan kerja berat
pada shiht malam. Hal ini sejalan denganpenelitian yang dilakukan
Anita Mayasari yang menyatakan bahwa tingkat kelelahan pada perawat shift malam lebih tinggi daripada shift pagi dikarenakan
manusia mempunyai circardian rhythem yaitu fruktuasi dari berbagai
macam fungsi tubuh selama 24 jam.17
Kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut, sehingga dengan demikian terjadilah pemulihan setelah istirahat. Kelelahan (fatigue) merupakan suatu perasan yang subyektif.18Tanda-tanda kelelahan yang mendasar adalah hambatan terhadap fungsi kesadaran otak dan perubahan-perubahan yang terjadi pada organ-organ di luar kesadaran serta proses pemulihan. Orang yang lelah akan dengan sendirinya mengalami penurunan perhatian, perlambatan dan hambatan persepsi, menjadi lambat dan sukar berpikir, penurunan kemampuan atau dorongan untuk kerja, kurang efisiennya kegiatan-kegiatan fisik dan mental.31 Waktu reaksi dianggap salah satu penanda yang paling sensitif dari kerusakan struktural dan fungsional dalam sistem saraf pusat.35 Pengukuran waktu reaksi dapat digunakan untuk memantau kondisi individu dari waktu ke waktu, untuk mengidentifikasi orang dengan perlambatan yang ekstrim, atau untuk menentukan efektivitas intervensi.36
5. Hubungan antara Toleransi Stres dengan Kelelahan
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki toleransi stres yang baik. Hal ini diharapkan perawat dapat melewati tahap pertahanan dengan baik sehingga meminimalisir kerusakan pada tubuh yang disebabkan oleh kondisi psikis, namun hasil uji statistik menunjukkan bahwa perawat yang memiliki toleransi stres yang baik tetap mengalami kelelahan. Hasil uji hipotesis dengan
person product moment menunjukkan nilai p=0,455lebih besar dari p-value (0,05), sehingga disimpulkan bahwa “tidak ada hubungan antara
antara toleransi stres dengan kelelahan ”. Kondisi ini disebabkan setiap hari perawat selalu dihadapkan pada beban kerja tinggi baik fisik maupun mental. Keadaan demikian yang terakumulasi secara terus menerus membuat perawat mengalami penurunan ketahanan, sehingga
meskipun toleransi stres perawat baik, perawat tetap mengalami kelelahan akibat beban kerja setiap harinya, namun dalam penelitian ini beban kerja tidak dihitung.
Hal tersebut sejalan dengan teori yang menyatakan keadaan psikologis yang tidak seimbang dapat melemahkan dan mendorong timbulnya kelelahan. Salah satu faktor psikologis yang sering dikaitkan dengan kelelahan adalah stres.27 Faktor internal psikis individu dalam menghadapi stres salah satunya dipengaruhi oleh toleransi terhadap stres pada individu tersebut. Toleransi terhadap stres adalah kemampuan untuk bertahan pada situasi yang penuh dengan stres tanpa mempengaruhi keadaan psikis maupun psikologis sehingga tetap dapat aktif dan positif.47,48
Hal yang sama juga dijelaskan pada teori sindrom adaptasi umum (general adaptation syndrome/GAS). GAS terdiri dari tiga
tahapan, yaitu tahap peringatan, tahap perlawanan dan tahap kelelahan. Pada tahap pertahanan, tubuh dipenuhi oleh hormon stres, tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh dan pernafasan semua meningkat, jika semua upaya yang dilakukan untuk melawan stres ternyata gagal dan stres tetap ada, individu akan memasuki tahap kelelahan (exhaused) dimana kerusakan pada tubuh semakun meningkat, orang
yang bersangkutan mungkin akan jatuh pingsan ditahap kelelahan ini dan kerentanan terhadap penyakit akan meningkat.50
6. Hubungan antara Shift Kerja dengan Kelelahan
Hasil uji analisis menunjukkan responden paling banyak adalah pada shift siang. Responden pada setiap shift memiliki kecenderungan
tingkat kelelahan yang sama, sehingga tidak ada hubungan antara antara shift kerja dengan kelelahan dikuatkan dengan hasil uji chi-squaremenunjukkan nilai p=0,921 lebih besar dari p-value (0,05).
Berdasarkan teori, pekerja yang telah bekerja denggan sistem
shift menunjukkan tanda-tanda lebih sakit daripada orang pada hari
bertugas shiftatau mungkin hanya terlihat setelah beberapa
tahun.59 Keseimbangan yang buruk antara pekerjaan dan waktu kerja yang disediakan untuk istirahat dan pemulihan, jadwal kerja dan jam kerja yang panjang akan mengakibatkan kelelahan kronis. Konsekuensi dari kelelahan akan mengurangi kewaspadaan yang melamban dalam bereaksi dan mengantuk, yang pada akhirnya akan meningkatkan risiko.63 Namun teori ini bertolak belakang dengan hasil penelitian yang menunjukkan kelelahan yang dialami perawat baik
shift pagi, siang maupun malam sebagian besar memiliki kelelahan
yang sama yaitu kelelahan kerja ringan.
Hal ini disebabkan perbedaan jumlah pasien pada setiap shift
tidak terlalu signifikan. Jumlah pasien dan tindakan yang diberikan menentukan beban kerja perawat. Semakin banyak dan rumitnya tindakan yang diberikan pada pasien, maka beban kerja baik fisik maupun psikis makin tinggi. Hal ini memungkinkan adanya perbedaan beban kerja, namun beban kerja dalam penelitian ini tidak dihitung. Pada saat dilaksanakan penelitian jumlah pasien pada shift pagi lebih
banyak dan lebih memerlukan tindakan yang lebih rumit dibandingkan dengan shift malam, sehingga perawat pada shift malam memiliki
waktu untuk istirahat sedangkan perawat shift pagi tidak memeiliki
waktu untuk istirahat. Waktu shift yang ditempuh juga tidak memiliki perbedaan yang signifikan, sehingga memungkinkan kelelahan yang dialami adalah sama.
7. Hubungan antara Status Gizi dengan Kelelahan
Hasil uji statistik menunjukkan prosentase tertinggi status gizi perawat berdasarkan IMT adalah normal dan berdasarkan waktu reaksi prosentase tertinggi perawat mengalami kelelahan kerja ringan. Perawat dengan status gizi normal tetap mengalami kelelahan yang sama yaitu kelelahan gizi ringan. dari hasil tersebut disimpulkan bahwa tidak ada hubugan antara status gizi dengan kelelahan,
dibuktikan juga dengan hasil uji hubungan dengan rank-spearmenyang
menunjukkan nilaip=0,823lebih besar dari p-value (0,05).
Berdasarkan teori tentang zat gizi esensial yang harus diterima tubuh dari makanan, fungsi gizi terbagi menjadi tiga, yaitu sebagai sumber energi, zat pengetur dan zat pembangun.67 Pekerja memerlukan energi untuk dapat bekerja. Pemenuhan gizi untuk dapat bekerja tidak hanya harus dipenuhi secara kuantitatifnya saja, tetapi juga secara kualitas gizi dari makanan yang dikonsumsi. 30 Makan yang cukup dan seimbang pada siang hari dan sebelum tidur secara signifikan mempengaruhi kewaspadaan dan kualitas tidur. Menjaga kesehatan dan kondisi berat badan tidak hanya meningkatkan stamina tetapi juga dapat mengurangi kemungkinan gangguan tidur. Gizi yang tepat dan kondisi fisik yang baik memberikan pengaruh yang sangat penting pada efek kelelahan.27Namun teori ini bertolak belakang dengan hasil penelitian yang telah dilakukan.
Hal ini dikarenakan pembagian kerja pada masing-masing perawat tidak dibagi secara jelas, sehingga memunculkan terjadi perbedaan beban kerja antar perawat dalam satu shift yang
memungkinkan perawat yang mengalami status gizi normal memiliki beban kerja lebih tinggi dibandingkan perawat dengan status gizi tidak normal (kurus, gemuk, sangat kurus dan obesitas). Kecenderungan rasa tidak enak yang dirasakan pada perawat muda terhadap perawat dengan masa kerja yang lebih lama juga memicu munculnya perbedaan beban kerja pada masing-masing perawat, namun beban kerja dalam penelitian ini tidak dihitung.
D. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam pelaksanaan penelitian ini diantaranya :
1. Dalam penelitian pemeriksaan kelelahan hanya diukur secara fisik dengan reaction timer, tanpa mengukur kelelaha yang dirasakan oleh responden.
2. Dalam desain penelitian, pemeriksaan reaction timer dalam pegukuran kelelahan fisik dilakukan pada akhir shift, namun dalam
pelaksanaannya tidak dapat dilaksanakan pada akhir shift melainkan
satu jam sebelum shift berakhir. Hal ini dilakukan sesuai saran dari
kepala ruang mengingat kecenderungan perawat akan segera pulang setelah jam shift selesai.