4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. PanenPanen adalah serangkaian kegiatan – kegiatan dimulai dari memotong tandan matang panen sesuai dengan kriteria matang panen, mengumpulkan dan mengutip brondolan serta menyusun tandan ditempat pengumpulan hasil (TPH) berikut brondolan. Tujuan panen adalah memperoleh minyak sawit dan inti sawit yang optimal dan tandan buah segar (TBS) dengan mutu asam lemak bebas (ALB) yang standart (Sulistyo, 2010).
2.1.1. Kriteria Matang Panen
Penentuan saat panen sangat mempengaruhi kandungan ALB minyak sawit yang dihasilkan. Pemanenan buah yang dilakukan dalam keadaan lewat matang. Maka minyak yang dihasilkan mengandung AlB dalam persentase yang tinggi (>3%). Sebaliknya jika pemanenan dilakukan dalam keadaan buah belum matang, maka walau kadar ALB-nya rendah, rendemen minyak yang diperolehnya juga rendah. Pengetahuan mengenai kriteria matang panen berdasarkan jumlah brondolan yang jatuh berperan cukup penting dalam menentukan derajat kematangan buah.
Tingkat kematangan dapat dilihat pada perubahan warrna. Mula–mula buah kelapa sawit berwarna hitam, kemudian berwarna merah orange. Hal ini karena pengaruh zat warna beta karoten. Setelah mencapai warna orange, maka minyak sawit yang terkandung dalam buah telah dimaksimal dan setelah ini proses pewarnaan buah menjadi terhenti. Buah yang terlepas dari tandannya disebut brondolan. Buah yang sudah membrondol berarti buah tersebut sudah tidak memproduksi minyak lagi. Hal ini erat sekali kaitannya dengan kriteria panen (Lubis, 2008).
5
Berdasarkan jumlah berondolan yang lepas dari tandannya, tingkat kematangan buah dapat di kelompokan ke dalam fraksi–fraksi seperti yang tercantum pada table 2.1. berikut ini.
Tabel 2.1. Kriteria Tingkat Kematangan Buah
Fraksi Jumlah Berondolan Derajat
Kematangan
0 Tidak terdapat brondolan Sangat mentah
0 1 – 12,5% buah luar telah membrondol Mentah
1 12,5 – 25 % buah luar telah membrondol Kurang matang
2 25 – 50 % buah luaar telah membrondol Matang 1
3 50 – 75 % buah luar telah membrondol Matang 2
4 75 – 100 % buah luar telah membrondol Lewat matang 1
5 Buah dalam membrondol dan ada busuk buah Lewat matang 2 Sumber : Lubis (2008)
Berdasarkan kriteria yang tercantum pada tabel maka menurut Purba dan Lubis (1987), mutu panen yang di terima di pabrik kelapa sawit harus memenuhi persyaratan yaitu :
a) Jumlah berondolan di pabrik adalah 15 % dari berat tandan seluruhnya. b) Tandan terdiri dari fraksi 2 dan 3 minimal 65 % dari jumlah tandan. c) Tandan yang terdiri dari fraksi 1 minimal 20 % dari jumlah tandan dan d) Tandan yang terdiri dari fraksi 4 dan 5 maksimal 15 % dari jumlah
tandan. Pencapaian komponen tersebut antara lain ditentukan oleh drajad kematangan panen, terkumpulnya brondolan dan pengankutan yang lancar.
2.1.2. Alat–alat Panen
Alat–alat kerja untuk pemanenan buah yang akan digunakan berbeda–beda berdasarkan tinggi tanaman. Alat–alat panen yang akan digunakan adalah sebagai berikut :
- Dodos kecil : Panen buah tanaman umur 3 – 4 tahun - Dodos besar : panen buah tanaman umur 5 – 8 tahun
6
- Pisau egrek : Panen tua umur > 9 tahun, ketinggian pohon >3m
- Angkong : Sebagai alat pengangkut TBS ke TPH
- Keranjang dan goni : Sebagai wadah pengumpulan brondolan ke TPH
- Kapak : Memotong tangkai tandan yang panjang
- Batu asah : Pengasah dodos atau pisau egrek - Bambu/pipa paralon : Gagang pisau egrek
- Gancu : Alat bongkar muat TBS dari dari dan ke alat alat Transportasi (Irawan, 2016).
2.1.3. Persiapan Alat Panen
1. Dodos, egrek digosok dengan batu asah pada sore hari.
2. Dodos dan egrek setelah digosok dibungkus dengan karet atau alat sefty lainnya.
3. Pisau egrek setelah digosok kemudian mata pisau di tutup dengan karet /paralon atau alat sefty lainnya dan di ikat agar tidak membahayakan pada saat mengikuti apel pagi maupun pada saat perjalanan ke ancak panen.
4. Pisau egrek dipasang pada ujung bambu atau pipa alumunium yang akan di gunakan sebagai gagang egrek, lalu diikat dengan kuat. Ikatan pertama menggunakan tali karet, yang diikat kuat dan penuh sepanjang tangkai pisau egrek (20 – 25 Cm). Kemudian dilakukan pengikatan kedua memakai tali plastik atau nilon di atas ikatan karet dengan ikatan yang kuat penuh sepanjang 25 – 30 cm menutupi ikatan egrek.
5. Angkong di persiapkan, periksa ban angkong, bearing roda angkong, mur dan baut pada badan angkong. Pastikan semuanya berada dalam kondisi yang benar (ban terisi angin yang cukup dan tidak bocor, bearing roda tidak bergoyang mur dan baut tidak kendor).
2.1.4. Frekuensi Panen atau Rotasi Panen
Panen dilaksanakan setiap hari pada ancak yang berbeda, agar pabrik dapat berjalan setiap hari minimal 5 hari kerja seminggu. Luas areal panen harian
7
harus disesuaikan dengan tenaga pemanen, efisiensi pengangkutan, dan kapasitas olah pabrik. Tiap areal panendapat dibagi menjadi 3 atau 4 hari panen, namun rotasi panen atau pusingan panen harus 7 hari. Hari panen harus di atur agar tersedia hari istirahat untuk pabrik. Dalam keadaan normal, panen dilakukan 5 kali seminggu, atau disebut system panen 5/7 rotasi panen diubah menjadi 9 – 12 hari pada panen rendah dan pada panen puncak 5 – 7 hari. Jam kerja berdasarkan peraturan, hari senin – kamis 7 jam, dan jumat 5 jam, sehingga selama 5 hari = 33 jam. Jika 1 afdeling terdapat 600 ha dengan sistem panen 5/7 setiap hari jumat luas areal panen adalah 16/21 x 600:5 x1 ha = 92 ha, sedangkan hari senin sampai kamis adalah 127 ha setiap hari.
Dengan demikian seorang Mandor panen dan Asisten harus benar–benar dalam pengaturan rotasi panen sesuai dengan kondisi lahan yang ada. Pengaturan rotasi panen akan berpengaruh besar pada tepat waktunya buah dipanen dan buah restan dan tidak tuntas dipanen akan berkurang. (Mangoensoekarjo, 2008).
Perkiraan panen harian =
2.1.5. Sistem Ancak Panen
Menurut sianturi (1991) ancak panen tergantung pada 3 faktor, yaitu : sebaran panen, topografi, dan sistem panen. Sebaran panen yaitu perbandingan jumlah tandan yang matang dengan pohon yang produktif. Sistem panenn ditentukan berdasarkan tinggi tanaman, yaitu:
- Panen jongkok : Tinggi tanaman 2 – 5 m, dengan menggunakan alat dodos.
8
- Panen berdiri : Tinggi tanaman 5 – 10 m, dengan menggunakan siam.
- Panenn egrek : Tinggi tanaman lebih dari 10 m, dengan menggunakan egrek.
a. Sistem Ancak Giring
Pada sistem ancak giring setiap pemanen melaksanakan panen pada ancak panen yang telah ditetapkan setiap harinya oleh mandor panen, bagian areal selalu berubah sesuai dengan kerapatan panen dankehadiran para pemanen. Pada sistem ini apabila suatu ancak telah selesai dipanen, pemanen pindah ke ancak berikutnya. Pada sistem ini pemanen secara bersama–sama memanen di 1 blok. Setelah selesai pindah ke blok lain. 1 orang pemanen memanen tiap 2 baris (1 gawangan). Kemudian berpindah kebaris yang belum dipanen, dan seterusnya sampai selesai 1 blok dan pindah ke blok lain
.
Kebaikan ancak giring ialah :
1. Pengawasan lebih intensif karena span of control ancak diperkecil
2. Buah dapat dipastikan akan sampai di TPH sebelum perpindahan yang biasanya sekitar jam 9.
3. Dapat diharapkan areal ancak akan lebih bersih, karena pengawasan yang lebih intensif, walaupun karyawan kurang bertanggung jawab terhadap ancaknya.
Kelemahan sistem ancak giring ialah:
1. Perpindahan akan menambah beban waktu dan jarak tempuh bagipemanen
2. Keharusan segera mengangkat buah ke TPH kurang disenangi apabilapekerja tidak mempunyai anggota Pada sistem ini, apabila suatu ancak telah selesai dipanen, pemanenan pindah ke ancak berikutnya yang telah ditunjuk oleh mandor, dan begitu seterusnya. Sistem ini
9
memudahkan pengawasan pekerjaan pemanenan dan hasil panen lebih cepat sampai ke TPH dan pabrik. Namun ada kecenderungan pemanen akan memilih buah yang mudah dipanen sehingga ada tandan buah atau berondolan yang tertinggal karena pemanenannya menggunakan sistem borongan (Irawan, 2017).
b. Sistem Acak Tetap
Pada sistem ini pemanen melaksanakan panen padaareal yang sama dikerjakan secara rutin bertanggung jawab menyelesaikan ancak sesuai dengan tanggung jawab yang telah ditentukan setiap hari yang tertinggal apabila pemanen tidak bekerja maka mandor harus mencari pekerja pengganti, sistem ini cocok diterapkan pada areal yang topografi terbuka/curam dan dengan tanam yang berbeda. Pada sistem ini pemanen diperolehnya TBS dengan kematangan yang optimal, rendemen minyak yang dihasilkan tinggi namun kelemahan sistem ini buah lebih lambat keluar sehingga lambat pula sampai ke pabrik. Sebagai contoh Blok A = 16 ha, ada 50 baris dipanen oleh 5 orang. Orang ke I memanen baris 1-10, orang ke II baris ke 11-20 dan seterusnya. (Irawan, 2017).
Kebaikan sistem ancak tetap ialah:
Mudah membagi ancak harian, sehingga mandor tidak terlalu banyak menyediakan waktu membagi ancak.
Pemanen tidak perlu pindah-pindah sehingga kemungkinan jalan-jalan terlalu banyak dapat dihindarkan.
Mandor mempunyai cukup waktu untuk control. Pencatatan hasil relatif lebih sederhana.
Kelemahannya sistem ancak tetap ialah:
Span of control areal terlalu lebar sehingga kemungkinan adanya bagian bagian yang tidak terkontrol oleh mandor lebih banyak.
10
Mandor kurang kreatif dalam usaha mengusahakan pengaturan kerja yang lebih efektif.
Pada pengaturan yang kurang tepat dapat terjadi ancak sebagian tidak tembus, sementara dilain pihak ada yang kekurangan ancak.
Pada panen puncak, pekerja kurang memperhatikan kebersihan ancak untuk mengejar hasil.
Pengangkutan buah yang cepat kurang dapatdiharapkan, terutama bila tidak ada keharusan uintuk segera mengangkut buah ke TPH.
2.1.6. Pengumpulan Hasil TBS
Adapun proses pengumpulan hasil TBS antara lain:
Buah diangkut dengan goni/pikulan atau kereta sorong ke TPH setelah selesai memanen 2 jam
TPH1:6 ;1 TPH tiap 6 gawangan
Tangkai tandan dipotong mepet atau berbentuk huruf V (cangkem/mulut kodok)
Tandan disusun tiap 10 tandan (tandan kecil) atau 5 (bila tandan besar) Nomor pemanen ditulis pada tangkai tandan
2.2. Pengangkutan
Pengangkutan TBS ke PKS merupakan sistem kerja berantai mulai dari penentuan taksasi, panen dan pengangkutannya. TBS yang sudah dipanen harus diusahakan diangkut ke PKS pada hari yang sama, guna mendapatkan mutu minyak yang baik. Peranan transportasi TBS sangat penting sekali agar buah dapat masuk segera ke pabrik pada hari panen. Beberapa kebun menyediakan truk sendiri dan ditambah atau disewa dari luar kebun jika tidak cukup terutama pada panen puncak.
Untuk pengangkutan TBS menjadi penting bagi koperasi untuk mencari atau menyediakan armada angkutan untuk kebutuhan transportasi TBS anggota. Angkutan yang diperbolehkan mengangkut TBS di TPH adalah yang sudah
11
tercatat dan terdata di kelompok dan bagian produksi koperasi. Hal ini harus dibuktikan dengan surat kontrak kerja angkutan TBS. Standar angkutan TBS adalah :
1. Alat angkut pada umumnya adalah truk.
2. Buah sawit segar diangkut paling lambat 48 jam setelah panen, setelah panen terkecuali terdapat permasalahan infrastruktur.
3. Dalam hal ini seluruh komponen termasuk koperasi harus mencari alternatif jalan keluar.
4. Brondolan yang terdapat dalam TPH harus dimuat, baik yang sudah dikumpul pemanen maupun yang membrondol di TPH.
5. Janjang kosong tidak boleh dimuat, buah yang kurang dari 3 Kg ditinggal. 6. Sanksi angkutan diberlakukan yaitu berupa teguran, pemotongan
pembayaran, hingga pencabutan kontrak apabila sudah dinilai tidak mengikuti atau mengindahkan isi perjanjian kontrak kerja (SOP Agronomi, 2016)
2.2.1. Jenis–jenis Alat Angkut Tandan Buah Segar (TBS) 1. Truk Biasa
Merupakan alat transportasi yang digunakan untuk mengangkut TBS dengan kapasitas 5 – 6 ton, Truck ini biasanya digunakan dilahan datar dan kurang cocok untuk digunakan dilahan berbukit.Kekurangan truck ini pada saat membongkar muatan dipabrik, harus memerlukan tenaga manusia untuk membongkar muatannya.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
12 2. Dump Truk
Merupakan alat pengangkutan yang digunakan untuk mengangkut TBS, kapasitas dari truck biasa 7 - 10 ton. Dump Truck ini digunakan apabila jarak kebun ke PKS jauh, untuk mengurangi jumlah kendaraan yang digunakan maka digunakanlah Dump Truk ini.
Gambar 2.2. Dump Truk 3. Wheel Tractor
Merupakan alat angkut kelapa sawit yang memiliki kapasitas kecil yaitu ± 1,5 ton, biasanya di gunakan untuk mengangkut TBS pada kondisi jalan yang rusak.Wheel Tractor ini selain digunakan untuk mengangkut TBS biasanya juga digunakan untuk mengangkut pupuk pada areal jalan yang rusak dan sulit untuk dilalui oleh kendaraan lain.
13 2.2.2. Perencanaan Pengangkutan TBS
Perencanaan bertujuan untuk mengatur tersedianya TBS yang akan diangkut sehingga jangka waktu antara panen dan pengolahan dapat sesingkat mungkin, dan seluruh TBS yang sudah dipanen dapat sampai di PKS pada hari yang sama. Dalam merencanakan pengangkutan TBS perlu diperhatikan faktor sebagai berikut :
Produksi kebun (semua Divisi) Hasil TBS tiap Divisi atau blok Waktu tersedianya TBS di TPH Jumlah kendaraan yang diperlukan
Menghitung kebutuhan kendaraan angkut TBS sebagai berikut :
Jumlah trip kendaraan =
Jumlah TBS yang dapat diangkut/truk = Jumlah trip x kapasitas (ton TBS/trip)
Kebutuhan kendaraan =
Penyusunan kebutuhan kendaraan angkutan TBS harus berdasarkan produksi bulan paling rendah. Misalnya : Produksi TBS kebun ditaksirkan ± 72.000 kg, kapasitas kerja truk/hari = 10 jam, kapasitas angkut rata-rata 5 ton TBS/trip, waktu muat 1 trip = 130 menit, maka kebutuhan kendaraan :
Jumlah trip kendaraan =
= 4 trip
Jumlah TBS yang dapat diangkut/truk = 4 trip x 5 ton TBS/trip = 20 ton tiap truk
Kebutuhan kendaraan =
= 4 truk
Alat transportasi yang umum digunakan dalam perkebunan kelapa sawit ada dua tipe, yaitu transport darat, dan transport air.
14 2.2.3. Kecepatan Pengangkutan TBS
Pengangkutan TBS merupakan sistem kerja terpadu dan berkesinambungan mulai dari panen, pengumpulan di TPH, pengangkutan dari TPH ke PKS sampai ke perebusan. Apabila salah satu mata rantai terganggu, akan menimbulkan hambatan pada proses kerja lainya. Kelancaran pengangkutan TBS harus memperhatikan faktor penghambat sebagai berikut :
a. Pengumpulan TBS di TPH
Pengumpulan TBS di TPH di lakukan tepat waktu, serentak dan disusunrapi. Untuk memudahkan pemuatannya, brondolan dikumpulkan, dimasukan ke dalam karung dan dituangkan kedalamkendaraan. Karung tidak boleh ikut ke PKS.
b. Ukuran dan Bobot TBS
Jumlah dan ukuran TBS yang dipanen berpengaruh terhadap waktu dan kecepatan proses panen dan pengangkutannya. TBS dimuat ke atas truk menggunakan tenaga manusia, sehingga ukuranya berpengaruh terhadap kecepatan pemuatannya keatas kendaraan.
c. Kondisi Jalan
Pada kondisi jalan kurang baik akan menurunkan mutu produksi dan peningkatan biaya perawatan alat-alat angkut dan pada kondisi jalan yang baik akan memudahkan pengangkutan TBS menuju ke PKSdan meminimalisir buah yang bermalam, oleh karena itu perawatan jalan perlu dilakukan secara rutin.
15 d. Iklim/Cuaca
Pengangkutan TBS sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim/cuaca, karena pada musim hujan sering terjadi hujan dipagi hari sehingga pemanen tidak dapat bekerja tepat waktunya. Selain itu hujan yang berkepanjangan sebagai penyebab kerusakan jalan. (Irawan, 2017).
2.2.4. Komunikasi Pengangkutan
Salah satu faktor penting untuk menunjang kelancaran pengangkutan TBS adalah komunikasai antara petugas di lapangan, divisi dengan petugas di PKS dan kontraktor pengangkutan.Pemanfaatan sarana komunikasi (misal Radio HT) atau mengadakan sistem komunikasi yang efektif sangat membantu kelancaran pengangkutan TBS.
2.3. Faktor–faktor yang Mempengaruhi Kelancaran Transportasi TBS
1. Organisasi
Panen rotasi panen dijaga antara 6 - 8 hari, sehingga persentase brondolan terhadap janjang maksimum 7 - 9%. Hal ini perlu agar jangan terlampau banyak waktu yang dibutuhkan untuk mengangkat brondolan dari TPH ke kendaraan, buah harus diletakkan oleh pemanendi TPH yang telah ditentukan. Sesudah selesai dipotong satu pasar rintis, karyawan potong buah harus segerah mengeluarkannya ke TPH. Hal ini perlu agar transport buah sudah dapat dimulai paling lambat jam 08.30 setiap hari panen. Potong buah hari minggu sebaiknya dihindari untuk memberi kesempatan waktu untuk reparasi ala-alat transport dan istirahat kepada supir dan kenek.
2. Bentuk/Pola Pasar Motor disuatu Kebun
Sedapat mungkin harus diusahakan lurus dan jarak antara pasar pikul maksimum ± 300 m (33 pohon), pasar-pasar buntu (tidak tembus) diminimalkan dan sebaiknya tidak ada, diareal yang berbukit diusahakan pasar dibangun dikaki bukit bukan diatas bukit.
16 3. Perawatan Alat- alat Transportasi
Perawatan alat-alat transportasi dibanyak perusahaan perkebunan masih termasuk titik lemah. Banyak faktor penyebabnya, tetapi salah satu penyebab utama ialah kurangnya pengetahuan teknik Aspek-aspek yang kurang dapat perhatian ialah :
a. Lemahnya pengetahuan teknis karyawan di bengkel b. Kurangnya disiplin
c. Muatan kenderaan (tonase) yang berlebihan d. Pengetahuan teknis pada supir yang minim e. Kondisi pasar yang tidak memadai
f. Sistem premi transport yang kurang menarik 4. Organisasi Pengoperasian
Alat-alat Transportasi Penyediaan kenderaan (truk dan wheel tractor) oleh perusahaan di perkebunan kelapa sawit adalah terutama untuk transport buah dan kemudian untuk angkutan lain-lain.
Apabila semuah pekerjaan dikelolah dengan baik dan kebun sudah mapan maka persentase pemakaian kendaraan adalah sebagai berikut :
Angkutan buah= 75 - 80 %
Angkutan lain (pupuk, karyawan)= 20 - 25%
Oleh karena itu penentuan jumlah kenderaan per Afdeling terutama ditentukan oleh jumlah produksi per hari.
Efisiensi pengoperasian alat-alat transport yang akan didapat maksimal apabila tiap hari Asisten Afdeling merencanakan tonase produksi dan angkutan lain-lain untuk besok setiap sore hari, realisasi produksi tidak boleh terlampau jauh meyimpang dari taksasi, maksimal 2%. Hal ini penting untuk penentuan jumlah kendaraan oleh mandor transport, angkutan TBS per trip minimal 5 ton, angkutan pupuk dan angkutan lain-lain sudah harus selesai paling lambat jam 08.30, agar jam 08.30 sudah mulai diangkut buah (Sastrosayono, 2013).
17 2.4. Kondisi/Perawatan Jalan
Faktor utama kelancaran transport ialah kondisi/perawatan jalan. Masih banyak staf lapangan beranggapan bahwa apabila tidak lancar transport FFB maka perlu penambahan alat transport, padahal kapasitas per unit alat transportnya masih jauh dibawah kapasitas standarnya. Penyebab utama dari keadaan tersebut ialah kondisi jalan yang tidak memadai. Merupakan suatu gejala umum di perkebunan selama ini yaitu Road Greader yang disediakan perusahaan banyak digunakan untuk menarik kendaraan yang amblas oleh karena kerusakan jalan. Sebaiknya pemanfaatan Road Greader yang demikian harus dihindari atau ditiadakan. Road Greader hanya untuk membentuk dan merawat jalan.
Perawatan jalan dengan batu terutama dengan batu padas sebaiknya diminimalkan, karena batu padas yang menonjol sering merusakkan ban dan gardan kendaraan (truk dan jeep). Juga perawatan jalan yang telah diberi batu padas sering mengalami kesulitan apabila dirawat lagi dengan Road Greader. Salah satu penyebab seringnya terjadi kerusakan Road Greader adalah karena batu padas yang ada di jalan. (Irawan, 2017).