• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. 2. Variabel Bebas : Keberfungsian Keluarga. B. Definisi Operasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. 2. Variabel Bebas : Keberfungsian Keluarga. B. Definisi Operasional"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

22 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian 1. Variabel Tergantung : Kontrol Diri

2. Variabel Bebas : Keberfungsian Keluarga

B. Definisi Operasional 1. Kontrol Diri

Kontrol diri adalah skor responden pada skala kontrol diri (Tangney, Baumeister & Boone, 2004). Skala ini terdiri dari 36 aitem adaptasi dan 9 aitem tambahan dari peneliti, yang memiliki 45 total aitem meliputi dimensi disiplin diri, tindakan atau aksi yang tidak impulsif, kebiasaan baik, etika kerja dan keajegan atau keterandalan, bertujuan untuk mengungkap sejauhmana responden menunjukkan kondisi mental mereka yang berhubungan dengan pengendalian diri yang mereka miliki. Semakin tinggi skor, semakin tinggi kontrol diri pada responden. Sebaliknya, semakin rendah skor, semakin rendah kontrol diri pada responden tersebut.

2. Keberfungsian Keluarga

Keberfungsian keluarga adalah skor responden pada skala keberfungsian keluarga (Epstein & Bishop, 1983). Skala keberfungsian keluarga ini terdiri atas 53 aitem adaptasi dan 19 aitem tambahan dari peneliti, yang memiliki 72 total aitem meliputi dimensi pemecahan masalah, peran, komunikasi, respon afeksi,

(2)

keterlibatan afeksi dan kontrol perilaku yang bertujuan untuk mengungkap sejauh mana responden merasakan kehangatan dan ketertarikan antar anggota keluarga yang dilihat dari keberfungsian keluarga yang responden miliki. Semakin tinggi skor, semakin tinggi keberfungsian keluarga pada responden dan begitu juga sebaliknya.

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah pengguna NAPZA yang sedang menjalani rehabilitasi.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode skala yaitu cara pengumpulan data dengan menggunakan daftar pernyataan yang diberikan kepada responden. Daftar pernyataan tersebut merupakan stimulus untuk mengungkap indikator perilaku dengan cara memancing cara menjawab yang merupakan refleksi dari keadaan diri responden yang biasanya tidak disadari (Azwar, 2012). Ada dua skala yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Skala Kontrol Diri

Kontrol diri akan diukur dengan menggunakan Skala Kontrol Diri yang diadaptasi dan modifikasi dari Self-Control Scale dari Tangney, Baumeister dan Boone (2004). Aitem pada alat ukur ini berjumlah 45 aitem dengan 36 aitem asli dari alat ukur pada nomor 1 sampai 36 dan 9 aitem tambahan dari peneliti pada nomor 37 sampai 45. Aitem-aitem untuk masing-masing aspek akan dilaporkan pada Tabel 1 sebagai berikut:

(3)

24

Tabel 1.

Blueprint Skala Kontrol Diri Aspek

Butir Favorable Butir Unfavorable

Jumlah Nomor Butir Nomor Butir

Disiplin diri 1, 15, 24, 37 2, 8, 9, 17, 31 9 Aksi yang tidak

impulsif 5 4, 11, 12, 21, 25, 32, 33, 34 9 Kebiasaan baik 13, 22, 26, 27, 38, 39 6, 14, 35, 9 Etika kerja 41 3, 16, 20, 23, 28, 29, 40, 42 9 Keterandalan 7, 18, 30, 36, 43, 44, 45 10, 19 9 Total 19 26 45

Skala ini terdiri dari 45 pernyataan yang terbagi dalam 19 butir aitem favorable dan 26 butir aitem unfavorable. Pernyataan yang termasuk favorable adalah pernyataan yang mendukung teori, memihak atau mendukung atribut yang diukur, sedangkan unfavorable adalah pernyataan yang tidak medukung teori atau menggambarkan ciri atribut yang diukur. Skala ini disusun berdasarkan skala Likert yang terdiri atas lima alternatif jawaban, yaitu Sangat Tidak Sesuai (STS), Tidak Sesuai (TS), Cukup Sesuai (CS), Sesuai (S), Sangat Sesuai (SS). Pada aitem favorable, skor bergerak dari 1 sampai 5, yaitu skor yang diberikan untuk pernyataan yang positif jawaban 1 diberi skor 1, jawaban 2 diberikan skor 2, jawaban 3 diberikan skor 3, jawaban 4 diberi skor 4 dan jawaban 5 diberi skor 5. Untuk pernyataan yang negatif jawaban 1 diberi skor 5, jawaban 2 diberi skor 4, jawaban 3 diberi skor 3, jawaban 4 diberi skor 2 dan jawaban 5 diberi skor 1.

(4)

2. Skala Keberfungsian Keluarga

Skala keberfungsian keluarga ini digunakan untuk mengetahui tingkat keberfungsian keluarga yang dimiliki subjek. Skala keberfungsian keluarga yang digunakan yaitu The McMaster Family Assessent Device sesuai dengan yang dikemukakan oleh Epstein dan Bishop (1983) yang mencakup enam dimensi berdasarkan MMFF yaitu pemecahan masalah, peran, komunikasi, respon afeksi, keterlibatan afeksi, kontrol perilaku dan satu tambahan dimensi lainnya fungsi keluarga secara umum yang mengukur kesehatan keluarga secara keseluruhan. Skala keberfungsian keluarga ini terdiri dari 72 aitem. Memiliki 53 aitem asli dari alat ukur pada nomor 1 sampai 53 dan 19 aitem tambahan dari peneliti pada nomor 54 sampai 72. Distribusi skala keberfungsian keluarga lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2.

Blueprint Skala Keberfungsian Keluarga Aspek

Butir Favorable Butir Unfavorable

Jumlah Nomor Butir Nomor Butir

Pemecahan Masalah 1, 2, 3, 4, 5, 54 55, 58 10 56, 57 Peran 12, 13, 17, 18, 59 14, 15, 16, 19, 10 60 Komunikasi 6, 8, 9, 11, 61 7, 10 10 62, 63, 64 Respon Afeksi 24, 25, 66, 67, 68 20, 21, 22, 23, 65 10 Keterlibatan Afeksi 26, 70, 71 27, 28, 29, 30, 31, 32 10 69 Kontrol Perilaku 35, 37, 41, 72 33, 34, 36, 38, 39, 40 10 Keberfungsian Umum 43, 45, 47, 49, 51, 42, 44, 46, 48, 50, 52 12 53, Total 40 32 72

(5)

26

Skala ini terdiri dari 72 pernyataan dalam 40 butir favorable dan 32 butir unfavorable. Alat ukur FAD ini menggunaka format skala Likert dengan empat pilihan jawaban. Hal ini sesuai dengan alat ukut asli yang dikembangkan oleh Epstein (1983). Pilihan jawaban yang digunakan adalah SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju), STS (Sangat Tidak Setuju). Pemberian skor bagi aitem-aitem favorable dilakukan dengan memberikan nilai 1 untuk pilihan “Sangat Tidak Setuju” hingga nilai 4 untuk pilihan “Sangat Sesuai”. Sedangkan bagi aitem-aitem unfavorable diberikan nilai 1 untuk pilihan “Sangat sesuai” hingga 4 untuk pilihan jawaban “Sangat Tidak Sesuai”. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan ketujuh aspek yang ada pada alat ukur untuk melakukan pengambilan data yang akan dilakukan.

E. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas

Validitas skala adalah skala tersebut mampu mengukur apa yang ingin diukur dengan cermat dan tepat. Menurut Azwar (2005) validitas adalah suatu penelitian yang sangat penting karena hal tersebut merupakan penentu keilmiahan atau keabsahan hasil suatu penelitian. Secara umum validitas terbagi menjadi tiga tipe, yaitu validitas isi, validitas konstruk dan validitas kriteria. Validitas pada penelitian ini menggunakan validitas isi. Validitas isi digunakan untuk mengetahui sejauh mana aitem-aitem dalam tes dapat mencakup keseluruhan isi pada objek yang ingin diukur, Azwar (2005).

(6)

2. Reliabilitas

Reliabilitas skala adalah skala tersebut mempunyai konsisten dalam pengukurannya sebagai alat pengumpulan data. Reliabilitas berasal dari kata rely dan ability. Suatu hasil pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama memperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah (Azwar, 2012).

Reliabilitas tes ditentukan sejauh mana distribusi skor tampak pada dua tes yang paralel, berkolerasi. Reliabilitas secara empiris ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas, secara teoritis besarnya reliabilitas berkisar antara 0,00 – 1,00 (Azwar, 2012). Untuk pengujian koefisien reliabilitasnya dilakukan dengan menggunakan teknik reliabilitas koefisien Alpha Cronbach yang dikembangkan oleh Cronbach.

F. Metode Analisis Data

Untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis data korelasi product moment dari spearman yang digunakan untuk melihat hubungan antara dua variabel. Penelitian ini juga menggunakan teknik analisis data komputer SPSS 17.0 for windows untuk mengolah data yang telah diperoleh.

(7)

28 BAB IV

PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian 1. Orientasi Kancah

Penelitian mengenai hubungan keberfungsian keluarga dan kontrol diri pada pengguna NAPZA ini dilakukan pada beberapa tempat yaitu Lembaga Permasyarakatan Klas IIA, Panti Sosial Pamardi Putra dan Yayasan Rehabilitasi NAPZA Al-Islamy.

Lembaga Permasyarakatan Klas IIA berada di Jalan Kaliurang km 17 yang memiliki daya tampung warga binaan sebanyak 474 orang. Ide awal pembentukan Lembaga Permasyarakatan Narkotika Klas IIA Yogyakarta ini didasari atas keprihatinan Sultan Hamengkubuwono X terhadap banyaknya kasus penyalahgunaan narkoba di wilayah Yogyakarta, dimana sebagian besar yang menyalahgunakan narkoba merupakan dari kalangan generasi muda.

Terdapat beberapa program yang ada di Lapas ini yaitu, pembinaan kepribadian menyangkut pembelajaran agama, pengetahuan tentang berbangsa dan bernegara dan peningkatan kemampuan intelektual. Pembinaan kemandirian menyangkut kerja produktif dan kegiatan kerja rumah tangga lapas. Pelayanan kesehatan menyangkut pemeriksaan makanan, pemeriksaan kesehatan tubuh dan pemeriksaan sanitasi serta kebersihan. Rekreasi menyangkut kesenian, mendengarkan radio dan menonton tv serta olah raga. Lapas ini tidak mempunyai batasan untuk kunjungan bagi keluarga residen, akan tetapi kunjungan keluarga

(8)

hanya dipersilahkan pada jam kerja saja. Terdapat alat komunikasi dan ruangan khusus untuk kunjungan keluarga residen yang dijaga ketat oleh sipir.

Panti Sosial Pamardi Putra berlokasi di Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Didirikan sejak tahun 2004 atas prakarsa Gubernur Yogyakarta. Panti Sosial Pamardi Putra ini memiliki kapasitas tampung sebanyak 80 orang dan kapasitas isi sebanyak 73 orang. Tugas pokok yang dimiliki Panti Sosial Pamardi Putra ini yaitu memberikan pelayanan, perawatan, rehabilitasi sosial dengan menggunakan metode Therapeutic Community yang meliputi pembinaan fisik, mental, sosial (merubah sikap dan tingkah laku), resosialisasi dan pembinaan lanjut agar mampu dan berperan aktif dan positif dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Tahap-tahap pelayanan terapi dan rehabilitasi (One Stop Center) yang dimana pelayanan ini menggunakan metode Therapeutic Community sebagai basic program. Program ini dirancang untuk waktu 12 bulan. Tahap pertama yaitu intake process berupa pendekatan awal dan penerimaan residen. Tahap kedua yaitu entry unit proses ini bertujuan untuk mempersiapkan para pengguna NAPZA dari segi fisik dan mental agar dapat menjalani rehabilitasi dengan baik. Proses ini dijalani residen selama 21 hari, selain itu tahap ini juga dilakukan untk mengetahui latar belakang residen. Tahap ketiga yaitu primary stage dilaksanakan di Panti selama 6 bulan. Dalam tahap ini proses pelayanan diarahkan pada perubahan atau pembentukan sikap dan penataan perilaku residen. Pada tahap primary stage ini memiliki jadwal kegiatan harian seperti mandi, sholat, makan, kegiatan kelompok, olah raga, waktu bebas dan tidur.

(9)

30

Tahap keempat yaitu re-entry stage tahap ini dilaksanakan di dalam dan di luar panti selama ± 6 bulan. Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan kembali pengguna kepada keluarga dan masyarakat sebagai manusia yang positif dan produktif. Memberi kepercayaan untuk dapat bertanggung jawab dengan diri sendiri, keluarga, masyarakat dengan dibekali keahlian yang sesuai dengan bakat dan minat.

Tahap terakhir yaitu aftercare stage ditujukan bagi mantan residen yang sudah dinyatakan telah berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya. Program ini dilaksanakan di luar panti dan diikuti oleh semua angkatan dibawah supervisi petuga panti dan staf re-entry. Tempat pelaksanaan disepakati bersama di luar panti. Membentuk kelompok alumni, agar residen mempunyai tempat atau kelompok yang sehat dan mengerti tentang dirinya serta mempunyai lingkungan hidup yang positif, dimana mereka melaksanakan sharing. Tidak ada batasan berkunjung bagi keluarga yang ingin mengunjungi residen, akan tetapi keluarga atau kerabat yang berkunjung harus disesuaikan dengan jadwal yang sudah ditetapkan oleh pihak rehabilitasi.

Yayasan Rehabilitasi NAPZA Al-Islamy berlokasi di Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo. Rehabilitasi ini berada ± 500m dari jalan utama dan diketuai oleh Hj Puji Utari. Warga binaan di Yayasan ini sebanyak 70 orang yang banyak berasal dari luar pulau jawa. Terdapat dua tahap yang dimiliki rehabilitasi ini, yaitu pertama tahap awal rehabilitasi berupa pemulihan kesehatan fisik, tahapan pengenalan diri dan tahapan penyadaran diri. Kedua, tahap rehabilitasi mental berupa konsultasi dan proses rehabilitasi. Proses rehabilitasi ini

(10)

menggunakan metode pendekatan agama yang dimana para residen diberikan pelajaran-pelajaran mengenai agama serta residen wajib melaksanakan sholat wajib serta sholat sunnah.

Program ini nyatakan membawa dampak yang positif kepada para residen karena dengan dilakukannya pendekatan diri kepada Allah setiap harinya, residen memiliki kesadaran diri yang tinggi akan dosa yang telah mereka lakukan serta meningkatkan pengendalian diri para residen. Selain itu, residen juga diajarkan cara bercocok tanam dan beternak. Setiap akhir pekan residen melakukan kegiatan berkebun dan hasil dari berkebun tersebut dikonsumsi bersama-sama dengan residen yang lainnya. Tidak ada batasan waktu bagi keluarga untuk mengunjungi residen. Pihak rehabilitasi menyediakan alat komunikasi bagi keluarga yang ingin berkomunikasi dengan residen dan dengan pengawasan dari pihak rehabilitasi. 2. Penelitian

Berikut adalah penjelasan tentang persiapan-persian yang dilakukan peneliti sebelum melaksanakan pengambilan data skripsi:

a. Persiapan Administrasi

Persiapan administrasi dari penelitian ini diawali dengan mengajukan surat permohonan izin untuk pengambilan data skripsi yang dikeluarkan oleh pihak Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Surat permohonan izin tersebut dikeluarkan dengan nomor surat 970 / Dek / 70 / Div.Um.RT / XI / 2015, 1150 / Dek / 70 / Div.Um.RT / XII / 2015 dan 1171 / Dek / 70 / Div.Um.RT / XII / 2015. Surat permohonan izin tersebut digunakan untuk mendapatkan izin secara resmi dari pihak Universitas Islam Indonesia dalam

(11)

32

melakukan pengambilan data skripsi karena dalam proses pengambilan data peneliti mengatasnamakan Universitas Islam Indonesia.

b. Persiapan Alat Ukur

Penelitian ini menggunakan dua alat ukur, yaitu Skala Kontrol Diri dan Skala Keberfungsian Keluarga. Sebelum melakukan pengambilan data, peneliti melakukan modifikasi alat ukur yang akan digunakan dari penelitian yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Alat ukur Kontrol Diri yang dirancang oleh Tangney, Baumeister dan Boone (2004) dengan jumlah 36 aitem dan 9 aitem tambahan dari peneliti, sehingga terdapat 45 aitem pernyataan yang akan diberikan kepada responden. Alat ukur kedua yaitu Skala Keberfungsian Keluarga yang dirancang oleh Epstein dan Bishop (1983) dengan jumlah 53 aitem dan 19 aitem tambahan dari peneliti, sehingga terdapat 72 total aitem yang akan diberikan kepada responden.

Kedua alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan bahasa Inggris, sehingga peneliti harus menerjemahkannya kedalam bahasa Indonesia. Setelah dilakukannya penerjemahan, peneliti melakukan diskusi dengan tokoh ahli guna untuk mendapatkan ketepatan bahasa dan pernyataan dalam setiap aitem dan dapat menyesuaikan setiap aitem dengan budaya indonesia.

Selanjutnya peneliti melakukan uji coba terhadap alat ukur yang telah dimodifikasi dan yang akan digunakan untuk pengambilan data guna untuk mengetahui validitas dan reliabilitas dari alat ukur tersebut. Pengambilan data uji coba tersebut dilakukan dari tanggal 18 November sampai dengan 10 Desember 2015.

(12)

c. Hasil Uji Coba Alat Ukur

Setelah dilakukan pengambilan data untuk uji coba alat ukur, langkah selanjutnya adalah mengolah data tersebut menggunakan software Statistical Package for the Sosial Science (SPSS) version 17 for windows guna untuk uji coba validitas dari alat ukur. Tujuan dilakukannya seleksi aitem ini berfungsi untuk menentukan aitem-aitem yang berkualitas sehingga dapat digunakan sebagai alat ukur yang tentunya telah valid dan reliabel.

1) Skala Kontrol Diri

Sebelum skala digunakan untuk pengambilan data, terlebih dahulu dilakukan analisis aitem dengan melihat indeks diskriminasi aitem. Seleksi aitem pada skala yang digunakan didasarkan pada kriteria bahwa aitem dinyatakan baik jika korelasi aitem-total ≥0,3. Hasil dari analisis aitem yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dari 45 aitem yang diujicobakan, diperoleh 15 aitem yang baik yaitu aitem 7, 8, 9, 13, 14, 18, 20, 21, 24, 26, 29, 33, 35, 36 dan 45. Koefisien korelasi aitem total skala yang akan digunakan dalam penelitian bergerak antara 0,337-0,836. Selain melakukan analisis aitem, juga dilakukan uji reliabilitas dengan menggunakan teknik korelasi Cronbach’s Alpha. Berdasarkan uji reliabilitas Cronbach’s Alpha diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,871.

(13)

34

Tabel 3.

Distribusi Nomer Aitem Skala Kontrol Diri Setelah Uji Coba

Ket : angka dalam kurung ( ) adalah nomor aitem baru setelah uji coba 2) Skala Keberfungsian Keluarga

Sebelum skala digunakan terlebih dahulu dilakukan analisis aitem dengan melihat indeks diskriminasi aitem. Seleksi aitem skala didasarkan pada kriteria bahwa aitem dinyatakan baik jika korelasi aitem total ≥0,3. Hasil analisis aitem yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dari 72 aitem yang diujicobakan, diperoleh 48 aitem yang baik. Sisanya, 24 aitem dinyatakan gugur, yaitu aitem nomor 1, 3, 4, 6, 8, 10, 16, 18, 25, 34, 38, 39, 40, 42, 44, 45, 49,54, 55, 61, 65, 69, 70, dan 72. Koefisien korelasi-aitem total skala yang akan digunakan dalam penelitian bergerak antara 0,312-0,916. Selain analisis aitem, juga dilakukan uji reliabilitas dengan menggunakan teknik korelasi Cronbach’s Alpha. Berdasarkan uji reliabilitas Cronbach’s Alpha diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,968.

Aspek Nomor Aitem Jumlah

Favorable Unfavorable

Disiplin Diri 1, 15, 24 (9), 37 2, 8 (2), 9 (3),

17, 31 3

Aksi yang tidak

impulsif 5 4, 11, 12, 21 (8), 25, 32, 33 (12), 34 2 Kebiasaan baik 13 (4), 22, 26 (10), 27, 38, 39 6, 14 (5), 35 (13) 4 Etika Kerja 41 3, 16, 20 (7), 23, 28, 29 (11), 40, 42 2 Keterandalan 7 (1), 18 (6), 30, 36 (14), 43 (15) 44 10, 19 4 Jumlah 7 8 15

(14)

Berikut ini adalah blue print Skala Keberfungsian Keluarga setelah dilakukan uji coba:

Tabel 4.

Distribusi Nomor Aitem Skala Keberfungsian Keluarga Setelah Uji Coba

Aspek Nomor Aitem Jumlah

Favorable Unfavorable Pemecahan Masalah 1, 2 (1), 3, 4, 5 (2), 54, 56 (37), 57 (38) 55, 58 (39) 5 Peran 12 (6), 13 (7), 17 (10), 18, 59 (40), 60 (41) 14 (8), 15 (9), 16, 19 (11) 8 Komunikasi 6, 8, 9 (4), 11 (5), 61, 62 (42), 63 (43), 64 (44) 7 (3), 10 6 Respon Afeksi 24 (16), 25, 66 (45), 67 (46), 68 (47) 20 (12), 21 (13), 22 (14), 23 (15), 65 8 Keterlibatan Afeksi 26 (17), 70, 71 (48) 27 (18), 28 (19), 29(20), 30(21), 31 (22), 32 (23), 69 8 Kontrol Perilaku 35 (25), 37 (27), 41 (28), 72 33 (24), 34, 36 (26), 38, 39, 40 5 Keberfungsian Umum 43 (29), 45, 47 (31), 49, 51 (34), 53 (36) 42, 44, 46 (30), 48 (32), 50 (33), 52 (35) 8 Jumlah 28 20 48 Ket : angka dalam kurung ( ) adalah nomor aitem baru setelah uji coba

B. Laporan Pelaksanaan Penelitian

Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2015 sampai 08 Januari 2016 dengan melibatkan 80 responden. Pengambilan data penelitian dilakukan pada dua rehabilitasi yaitu Yayasan Rehabilitasi NAPZA Al-Islamy dan Panti Sosial Pamardi Putra. Dalam proses pengambilan data, peneliti berinteraksi langsung dengan responden penelitian dan peneliti mengawasi secara langsung selama pengisian angket yang dilakukan oleh responden. Peneliti juga melakukan wawancara terhadap beberapa responden. Kendala yang terdapat

(15)

36

dalam proses pengambilan data ini yaitu rumitnya mengurus surat perizinan yang menyebabkan proses pengambilan data menjadi lama.

C. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Responden Penelitian

Responden dari penelitian ini adalah pengguna NAPZA yang sedang menjalani pemulihan di rehabilitasi yang berjumlah 80 responden. Berikut ini adalah gambaran umum dari responden penelitian:

Tabel 5.

Deskripsi Responden Penelitian

Karakteristik Jumlah Persentase

Jenis Kelamin Laki-laki 68 85 % Perempuan 12 15 % Usia 15-20 tahun 13 16,25 % 21-25 tahun 18 22,5 % 26-30 tahun 15 18,75 % 31-35 tahun 11 13,75 % 36-40 tahun 10 12,5 % 41-45 tahun 6 7,5 % 46-52 tahun 7 8,75 %

Status Pernikahan Orangtua

Menikah 46 57,5 %

Bercerai 13 16,25 %

Pasangan sudah meninggal 21 26,25 %

Jumlah 80 100 %

Berdasarkan hasil penelitian dari tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa penelitian ini memiliki responden paling banyak berjenis kelamin laki-laki yaitu 68 orang dengan persentase 85%. Rata-rata usia responden adalah 30 tahun. Berdasarkan urutan kelahiran responden, jumlah terbanyak adalah anak pertama (anak sulung) yaitu berjumlah 37 orang dengan persentase 46,25%. Status

(16)

pernikahan orangtua partisipan sebagian besar menikah yaitu sebanyak 46 orang dengan persentase 57,5%.

2. Deskripsi Data Penelitian

Deskripsi data penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat tinggi dan rendahnya keberfungsian keluarga dan kontrol diri yang dimiliki oleh responden dalam penelitian ini. Deskripsi data responden penelitian secara umum adalah sebagai berikut:

Table 6.

Deskripsi Data Responden Penelitian

Persentil 20 40 60 80 Keberfungsian keluarga 2,50 2,58 2,67 2,91 Kontrol Diri 2,8 2,9 3,2 3,4 Tabel 7.

Kriteria Kategorisasi Skala

Kategori Rumus Norma

Sangat Rendah X < P20 Rendah P20 ≤ X < P40 Sedang P40 ≤ X < P60 Tinggi P60 ≤ X ≤ P80 Sangat Tinggi X ≥ P80 a. Keberfungsian Keluarga

Hasil kategorisasi skor skala keberfungsian keluarga dapat dilihat pada tabel 8 dibawah ini:

(17)

38

Tabel 8.

Kategorisasi Variabel keberfungsian keluarga

Rentang Nilai Kategorisasi Frekuensi Persentase

X < 2,50 Sangat Rendah 11 13,75 % 2,50 ≤ X ≤ 2,58 Rendah 18 22,5 % 2,58 ≤ X 2,67 Sedang 19 23,75 % 2, 67 ≤ X ≤ 2,91 Tinggi 14 17,5 % X > 2,91 Sangat Tinggi 18 22,5 Total 80 100 %

Berdasarkan pada tabel 8 di atas menunjukkan hasil persentase terbesar dari variabel keberfungsian keluarga berada pada kategorisasi sedang yaitu sebesar 23,75%.

b. Kontrol Diri

Hasil kategorisasi skor kontrol diri dapat dilihat pada tabel 9 dibawah ini: Tabel 9.

Kategorisasi Variabel Kontrol Diri

Rentang Nilai Kategorisasi Frekuensi Persentase

X < 2,80 Sangat Rendah 15 18,75 % 2,80 ≤ X ≤ 2,93 Rendah 11 13,75 % 2,93 ≤ X < 3,20 Sedang 21 26,25 % 3,20 ≤ X ≤ 3,45 Tinggi 17 21,25 % X > 3,45 Sangat Tinggi 16 20 % Total 80 100 %

Berdasarkan tabel 9 kategorisasi skor kontrol diri di atas dapat diketahui bahwa hasil persentase terbesar dari variabel kontrol diri berada pada kategorisasi sedang yaitu sebesar 26,25%.

3. Uji Asumsi a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui sebaran data variabel bebas dan variabel tergantung berdistribusi normal atau tidak normal. Distribusi dikatakan normal apabila p = >0.05, sedangkan apabila p = <0.05 maka distribusi

(18)

dikatakan tidak normal. Teknik yang digunakan untuk uji normalitas adalah teknik Tests of Normality, Kolmogorov-Smirnov .

Berdasarkan hasil pengolahan data pada variabel kontrol diri, diperoleh p = 0,001. Hasil pengolahan data pada variabel keberfungsian keluarga diperoleh p = 0,000. Hasil uji normalitas kedua variabel tersebut dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 10.

Hasil Uji Normalitas

Variabel p Kategori

Kontrol Diri 0,001 Tidak Normal

Keberfungsian Keluarga 0,000 Tidak Normal

b. Uji Linieritas

Uji linieritas ini dilakukan untuk mengetahui linieritas hubungan antara variabel kontrol diri dengan keberfungsian keluarga. Uji linieritas ini bertujuan untuk mengetahui apakah hubungan antara kedua variabel linear. Kedua variabel dapat dikatakan linear jika p = <0,05 sedangkan dapat dikatakan tidak linear apabila kedua variabel memiliki nilai p = >0,05. Berikut hasil uji linieritas kedua variabel yang disajikan dalam table 11 :

Tabel 11.

Hasil Uji Linieritas Variabel Koefisien Linearitas (F) Signifikansi (p) Keterangan Kontrol Diri

Keberfungsian Keluarga 43,397 0,000 Linear

Berdasarkan tabel 11 diatas, data menunjukkan bahwa nilai F=43,397 (p= >0,01) dengan p = 0,000 (p = <0,01). Hasil ini menunjukkan bahwa hubungan

(19)

40

antara keberfungsian keluarga dan kontrol diri keluarga memenuhi asumsi linearitas.

4. Uji Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah adanya hubungan positif antara keberfungsian keluarga dan kontrol diri pada pengguna NAPZA yang sedang menjalani masa rehabilitasi. Uji hipotesis dilakukan menggunakan teknik Spearman Correlation dengan menggunakan program SPSS 17.0 for windows.

Hasil analisis data menunjukkan korelasi antara variabel keberfungsian keluarga dan kontrol diri adalah (r = 0,517 dengan p = 0,000 (p<0,01). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara keberfungsian keluarga dan kontrol diri, sehingga hipotesis yang diajukan diterima.

Tabel 12.

Hasil Uji Hipotesis

Variabel r p Keterangan

Keberfungsian Keluarga dan

Kontrol Diri 0,517** 0,000

Sangat Signifikan

5. Analisis Tambahan

Peneliti melakukan analisis tambahan untuk melihat bagaimana hubungan antara keberfungsian keluarga dan kontrol diri dengan memperlihatkan faktor demografik (jenis kelamin dan usia). Hasilnya adalah sebagai berikut:

(20)

Tabel 13.

Analisis Tambahan Kontrol Diri Berdasarkan Jenis Kelamin

Variabel Laki-laki Perempuan

r r square Sig. r r square Sig. Kontrol

Diri*keberfungsian keluarga

.553** .305 .000 .325 .105 .165

**Signifikansi korelasi berada pada level 0.01

Pada tabel 13 di atas menunjukkan bahwa pada pecandu laki-laki sebesar 30,5% variasi variabel kontrol diri dapat dijelaskan melalui keberfungsian keluarga. Sementara pada pecandu perempuan terdapat 10,5% variasi variabel kontrol diri dapat dijelaskan melalui keberfungsian keluarga.

Tabel 14.

Analisis Tambahan Kontrol Diri Berdasarkan Usia

Variabel Usia <22 Usia >22

r r square Sig. r r square Sig. Kontrol

Diri*keberfungsian keluarga

.635** 0,403 .001 .469** .219 .000

**Signifikansi korelasi berada pada level 0.01

Pada tabel 14 di atas menunjukkan bahwa pada pecandu berusia kurang dari 22 tahun sebesar 40,3% variasi variabel kontrol diri dapat dijelaskan melalui keberfungsian keluarga. Sementara pada pecandu berusia lebih dari 22 tahun sebesar 21,9% variasi variabel kontrol diri dapat dijelaskan melalui keberfungsian keluarga.

(21)

42

D. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan positif antara keberfungsian keluarga dan kontrol diri pada pengguna NAPZA yang sedang menjalani rehabilitasi. Hipotesis penelitian ini yaitu akan adanya hubungan positif antara variabel keberfungsian keluarga dan kontrol diri diterima. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa adanya hubungan positif yang signifikan antara keberfungsian keluarga dan kontrol diri pada pengguna NAPZA yang sedang menjalani rehabilitasi. Artinya, semakin tinggi keberfungsian keluarga yang dimiliki oleh individu maka semakin tinggi pula kontrol diri yang dimiliki pengguna NAPZA yang sedang menjalani rehabilitasi.

Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya mengenai dinamika proses pemulihan dimana diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa peran keluarga merupakan salah satu hal yang penting dalam proses pengendalian diri pada pemulihan pecandu narkoba (Sitohang, 2004).

Dukungan keluarga yang diberikan kepada pengguna NAPZA yang sedang menjalani rehabilitasi akan mampu untuk membangun dan mempertahankan kontrol diri yang baik. Baharuddin (2015) mengatakan bahwa adanya kontrol diri yang baik, maka pecandu akan memiliki kemampuan untuk mengarahkan dan menghambat perilaku yang tidak diinginkan serta memiliki kemampuan untuk menahan dari perilaku impulsif yang dapat merugikan dirinya dan oranglain termasuk mampu menghindari penyalahgunaan NAPZA.

(22)

Keluarga memiliki fungsi dan peran sangat penting dalam mempelajari dan menentukan perilaku anggota keluarganya. Keluarga juga memiliki tanggung jawab untuk mendukung, melindungi dan membimbing anggota keluarga lainnya. Adanya pengaruh dan hubungan yang kuat antar anggota keluarga, maka akan memberikan perilaku yang baik karena keluarga menjalankan peran dan fungsi dengan baik (Van, & Janssens, 2002).

Selain itu, berdasarkan analisis tambahan pada jenis kelamin yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa peran keberfungsian keluarga terhadap kontrol diri pecandu lebih kuat pada pecandu laki-laki daripada perempuan. Hal ini mungkin dapat terjadi karena laki-laki lebih sulit dalam melakukan pengendalian diri dibandingkan perempuan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Jo & Bouffard (2014) perbedaan jenis kelamin dalam melakukan perbuatan menyimpang berada dari variasi dalam tingkat kontrol diri, yang dikembangkan oleh orangtua terhadap anak. Biasanya perbuatan anak laki-laki kurang mendapatkan pengawasan, dan dikoreksi oleh orangtua mereka sedangkan perbuatan yang dilakukan anak perempuan biasanya penuh dalam pengawasan orangtua. Akibatnya, anak perempuan mengembangkan tingkat yang lebih tinggi dari kontrol diri dan lebih sedikit dalam melakukan perilaku menyimpang dari pada anak laki-laki. Menurut Turner & Piquero (Jo & Bouffard, 2014) mengatakan bahwa laki-laki memiliki kontrol diri yang rendah dibandingkan perempuan.

Analisis tambahan lainnya berdasarkan usia menunjukkan bahwa kemampuan keberfungsian keluarga dalam menjelaskan kontrol diri pecandu lebih

(23)

44

kuat pada pecandu dengan usia kronologis kurang dari 22 tahun daripada pecandu dengan usia kronoligis lebih dari 22 tahun. Hasil ini sesuai dengan pernyataan Hurlock (1980) bahwa semakin bertambahnya usia seseorang maka akan semakin baik kontrol dirinya, individu yang matang secara psikologis juga akan mampu mengontrol perilakunya karena telah mampu mempertimbangkan mana hal yang baik dan mana hal yang tidak baik bagi dirinya. Semakin bertambahnya usia individu, maka pengalaman yang dimiliki individu tersebut semakin bertambah juga. Menurut Santrock (2007) dengan bertambahnya pengalaman pribadi individu dan pengalaman sosial, dan dengan meningkatnya kemampuan berpikir rasional, individu yang lebih besar memandang diri sendiri, keluarga, teman-teman dan kehidupan pada umumnya secara lebih realistik.

Peneliti menyadari bahwa terdapat banyak kelemahan dalam penelitian ini. Diantaranya yaitu peneliti berusaha melakukan proses adaptasi dan modifikasi alat ukur sebaik mungkin agar responden mudah memahami setiap pernyataan. Tetapi, hasil adaptasi dan modifikasi alat ukur ini dirasa masih perlu banyak perbaikan terutama pada alat ukur kontrol diri karena ada beberapa responden yang masih menanyakan maksud dari beberapa aitem dalam alat ukur tersebut. Saat melakukan uji analisis data, peneliti tidak menggunakan analisis faktor yang menyebabkan terlalu banyaknya aitem yang gugur, sehingga aitem-aitem yang masih dapat mengukur tiap aspeknya menjadi tidak terselamatkan. Selanjutnya dikarenakan setiap pengunjung tidak diperbolehkan membawa alat elektronik ke dalam rehabilitasi, peneliti tidak dapat merekam proses wawancara yang sedang berlangsung.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan teknik ini, penulis mempelajari, menyalin, dan mengolah data yang dikumpulkan sesuai dengan masalah dalam penelitian, baik data yang diperoleh dari UD

Data motivasi kerja diperoleh dengan skala motivasi kerja yang dibuat peneliti berdasarkan ciri-ciri karyawan yang memiliki motivasi kerja yang dikemukakan oleh

Teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara regulasi diri dan komunikasi interpersonal dalam keluarga dengan prokrastinasi akademik adalah analisis

Merupakan salah satu alat yang dapat digunakan dalam memprediksi permintaan dimasa yang akan datang dengan berdasarkan data masa lalu atau untuk mengetahui

Skala ini digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya kepuasan kerja karyawan pada suatu perusahaan ataupun organisasi, terdiri dari 33 aitem favorable dan 27 aitem

Sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan, maka dalam penelitian ini analisis data statistik inferensial diukur dengan menggunakan software SmartPLS (Partial Least

Usaha menengah merupakan usaha usaha yang berdiri sendiri, yang didirikan serta dikelola oleh perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan cabang atau anak

Kualitas hidup adalah persepsi individu mengenai posisi individu dalam hidup dalam konteks budaya dan sistem nilai dimana individu hidup dan hubungannya