• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perkembangan Perpustakaan

Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka (DPR RI 2007). International Federation of Library Associations and Institutions, (IFLA) dalam Sulistyo Basuki memberikan pengertian sebagai berikut: perpustakaan sebagai kumpulan materi tercetak dan media noncetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan pemakai. (Sulistyo Basuki 1993).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat perkembangan informasi terekam dapat diciptakan dalam berbagai media/format yang mengakibatkan ledakan informasi. Bahkan perkembangan teknologi informasi semakin menunjang perkembangan media elektronik seperti komputer dan jaringan komputer seperti Local Area Network (LAN), Metropolitan Area Network (MAN), Wide Area Network (WAN) dan Internet. Internet memungkinkan terjadinya komunikasi yang super cepat antara satu pihak dengan pihak lainnya tanpa mengenal batasan ruang dan waktu yang dimungkinkan karena jangkauan internet yang telah mengglobal.

Sejarah menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat akan informasi elektronik meningkat luar biasa dari waktu ke waktu dan masyarakat membenarkan perpustakaan telah berubah dari tahun ke tahun bahkan Fritz Machlup dan Peter Drucker telah menulis pentingnya informasi dan pekerja informasi (Michael Lesk, 2005). Sejak akhir tahun 1990 berbagai cara digunakan dengan memanfaatkan komputer untuk pengembangan otomasi perpustakaan yang mengolah koleksi secara sistematis dan kemudian dapat digunakan bukan saja pada satu perpustakaan tetapi juga pada beberapa perpustakaan dalam satu wilayah tertentu bahkan dapat terhubung keberbagai macam basisdata yang ada di dunia sehingga perpustakaan juga dapat diakses/dikunjungi tanpa batasan ruang dan waktu. Pesatnya kemajuan tersebut juga memberi dampak perubahan tentang konsep perpustakaan dimana perpustakaan yang dilengkapi format digital adalah merupakan salah satu ciri layanan perpustakaan-perpustakaan masa kini dan masa depan yang dikenal dengan berbagai istilah

(2)

seperti Virtual Library (Perpustakaan Maya), Digital Library (Perpustakaan Digital).

2.2. Jurnal

Jurnal adalah salah satu koleksi primadona perpustakaan perguruan tinggi karena terdiri dari karya-karya ilmiah terbaru yang sangat dibutuhkan sivitas akademika suatu perguruan maupun masyarakat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Jurnal yang diterbitan oleh suatu perguruan tinggi ada yang telah diakreditasi maupun yang belum diakreditasi. Jurnal dalam istilah perpustakaan berarti terbitan berkala yang berisi tulisan ilmiah yang terbit pada kala/waktu tertentu. Tulisan ilmiah ini bisa berupa hasil penelitian, artikel ilmiah maupun ringkasan karya akademisi. Karya akademisi sebagian besar diterbitkan dalam jurnal ilmiah atau dalam bentuk buku dan sebagian besar institusi yang telah mapan memiliki jurnal dan bentuk publikasi tersendiri, meskipun banyak pula terdapat jurnal yang bersifat interdisipliner (antar cabang ilmu) dan mempublikasikan karya dari beberapa bidang yang berbeda. Jenis-jenis publikasi yang dapat diterima sebagai kontribusi terhadap bidang ilmu pengetahuan dan penelitian sangat bervariasi diantara berbagai bidang sedangkan basisdata jurnal adalah merupakan sekumpulan informasi tentang jurnal yang disusun sedemikian rupa untuk dapat diakses oleh sebuah perangkat lunak.

Untuk memudahkan akses terhadap jurnal, berbagai cara telah dilakukan oleh perpustakaan, antara lain dengan membuat basisdata jurnal baik berupa data bibliografi jurnal maupun dilengkapi dengan abstrak ataupun full text (teks lengkap). Data tersebut kemudian dapat diakses secara lokal pada katalog online maupun secara global melalui website perpustakaan. Data bibliografi jurnal yang dilengkapi dengan abstrak ataupun full text (teks lengkap) dikenal dengan e-journal (jurnal elektronik) dimana menurut penelitian dan tulisan-tulisan mengenai perkembangan digitalisasi, jurnal elektronik merupakan salah satu sumberdaya informasi digital yang mendominasi perpustakaan saat ini (Pendit 2005).

Jurnal elektronik muncul pada akhir tahun 1980an dan beberapa diantaranya masih dapat dilihat hingga sekarang. Perkembangan selanjutnya pada tahun 1990 merupakan contoh terbaik dari elektronik jurnal yang memanfaatkan internet sebagai media pendistribusiannya adalah jurnal ‘Postmodern Culture’, yang dimiliki oleh Johns Hopkins University Press (Virginia University 2007). Jurnal elektronik/digital dapat juga diartikan sebagai salah satu

(3)

cara menyebarluaskan jurnal tercetak lewat jaringan digital. Jurnal elektronik bisa sepenuhnya dalam format digital, atau setengah digital yang hanya terdiri dari data jurnal dengan abstrak dalam format digital. Jurnal juga ada yang lahir sudah berbentuk digital dan tidak punya media dalam bentuk hardcopy (tercetak) dimana akses terhadap jurnal elektonik tersebut ada yang sifatnya free based (gratis) maupun fee based (berbayar) (Jean & Alexander Heard Library 2007).

Perkembangan jenis sumberdaya ini meningkat luar biasa cepat dan juga sangat mempengaruhi masyarakat perguruan tinggi di Indonesia dalam hal pemanfaatan sumberdaya tersebut. Keragaman media dan cara penyebarannya yang semakin menambah marak koleksi jurnal sebuah perpustakaan membuat pustakawan semakin ditantang untuk benar-benar mengamati dan memahami perkembangan jurnal elektronik ini. Ada tiga faktor penting yang perlu diperhatian dalam mengelola sumber daya informasi digital yaitu hardware (perangkat keras), software (perangkat lunak) dan brainware (manusia) (Pendit 2005).

2.3. Basisdata dan Sistem Manajemen Basisdata

Basisdata atau database adalah kumpulan data (elementer) yang secara logik berkaitan dalam merepresentasikan fenomena/fakta secara terstruktur dalam domain tertentu untuk mendukung aplikasi pada sistem tertentu (Bambang 2004). Dalam istilah komputer dan teknologi informasi basisdata diartikan sebagai representasi kumpulan fakta yang saling berhubungan disimpan secara bersama sedemikian rupa dan tanpa pengulangan (redudansi) yang tidak perlu, untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Data di dalam basisdata perlu diorganisasikan sedemikian rupa supaya informasi yang dihasilkan berkualitas. Organisasi basisdata yang baik juga berguna untuk efisiensi kapasitas penyimpanannya. Dalam maksud yang sama, bisa juga diartikan sebagai sekumpulan informasi yang disusun sedemikian rupa untuk dapat diakses oleh sebuah software tertentu. Basisdata tersusun atas bagian yang disebut field (identitas spesifik dari suatu objek) dan record (kumpulan identitas dari suatu objek) yang tersimpan dalam sebuah file (arsip yang disimpan dalam suatu media yang terdiri dari kumpulan karakter, dan didokumentasikan dalam bentuk data digital oleh komputer). Data digital tersebut disimpan di dalam komputer secara sistematik sehingga dapat diperiksa menggunakan suatu program komputer untuk memperoleh informasi dari basisdata tersebut.

(4)

Perangkat lunak yang digunakan untuk mengelola dan memanggil query (kueri) basisdata disebut sistem manajemen basisdata /SMBD (database management system / DBMS). Sistem basisdata dipelajari dalam ilmu informasi dan istilah "basisdata" berawal dari ilmu komputer. Meskipun kemudian artinya semakin luas, memasukkan hal-hal di luar bidang elektronika. Konsep dasar dari basisdata adalah kumpulan dari catatan-catatan, atau potongan dari pengetahuan. Sebuah basisdata memiliki penjelasan terstruktur dari jenis fakta yang tersimpan di dalamnya yang disebut skema. Skema menggambarkan objek yang diwakili suatu basisdata, dan hubungan di antara objek tersebut. Ada banyak cara untuk mengorganisasi skema, atau memodelkan struktur basisdata yang dikenal sebagai model basisdata atau model data. Model yang umum digunakan sekarang adalah model relasional. Model ini diperkenalkan oleh E.F. Codd (1970) berdasarkan konsep relasi matematika yaitu aljabar relational dan kalkulus relasional. Data dan keterhubungan direpresentasikan sebagai tabel yang mempunyai kolom-kolom dengan nama unik. Antara entitas –entitas terdapat keterhubungan dimana kaitan berupa atribut atau himpunan attribut di satu tabel yang sama dengan atribut atau himpunan di satu tabel yang lain menyatakan keterhubungan antar kedua tabel itu, Istilah basisdata mengacu pada koleksi dari data-data yang saling berhubungan, dan perangkat lunaknya seharusnya mengacu sebagai sistem manajemen basisdata. Pengertian lain DBMS/SMBD dalam kamus Komputer dan Teknologi Informasi, adalah sistem pengorganisasian dan pengolahan basisdata pada komputer. Sistem ini dirancang untuk mampu melakukan penggabungan berbagai data dengan beberapa referensi data yang sama. DBMS/SMBD ini mampu diakses oleh berbagai aplikasi. Pada perkembangannya, terobosan dari DBMS/SMBD adalah relational database management system / RDBMS (relasional manajemen basisdata) yang mengorganisasikan data dalam struktur dan memaksimalkan berbagai cara serta menghubungkan antar kumpulan data yang disimpan dalam basisdata. Terobosan berikut adalah distributed relational database management system / DRDBMS (distribusi relasional manajemen basisdata). Dengan DRDBMS memungkinkan informasi berada pada basisdata di lokasi yang berbeda (didistribusikan), dan direferensi-silangkan, diperbaharui, dan akses dari semua lokasi, seolah-olah data tersebut berbasisdata tunggal dan terpusat.

Hariyanto Bambang (2004) menjelaskan secara lengkap bahwa DBMS/SMBD adalah perangkat lunak untuk mendefinisikan, menciptakan,

(5)

mengelola dan mengendalikan pengaksesan basisdata dengan tujuan utama adalah menyediakan lingkungan yang nyaman dan efisien untuk penyimpanan dan pengambilan data dan basisdata. Sistem manajemen basisdata berperan memberi abstraksi data tingkat tinggi ke pemakai. DBMS/SMBD adalah perangkat lunak yang dirancang untuk membantu pengelolaan dan pemakaian koleksi data yang besar. Saat aplikasi hendak melakukan operasi pada basisdata, aplikasi mengirim pesan permintaan ke perangkat lunak DBMS dimana operasi-operasi dasar yang biasa dilakukan pemakai terhadap basisdata yang diasumsikan pada basisdata relasional adalah:

1. Menambah informasi, pada basisdata relasional dilakukan dengan menambah baris di tabel (dapat dipandang sebagai operasi C – Create). 2. Mengekstrak informasi, pada basisdata relational dilakukan dengan

mengekstrak baris-baris yang berasal dari satu atau beberapa tabel (dapat dipandang sebagai operasi R – Read).

3. Memodifikasi data yang tersimpan, pada basisdata relational dilakukan dengan memodifikasikan satu atau beberapa baris di tabel (dapat dipandang sebagai operasi U – Update).

4. Menghapus data tertentu, pada basisdata relational dilakukan dengan menghapus baris tertentu di tabel (dapat dipandang sebagai operasi D – Delete).

Jadi tugas pokok DBMS/SMBD yang utama adalah mengurusi empat operasi dasar itu dan dibagi menjadi modul-modul dengan masing-masing mempunyai tanggung jawab tertentu. Komponen fungsional DBMS/SMBD antara lain adalah pengelola berkas (file manager), pengelola basisdata (database manager), pemroses query (query processor), pre-kompilator DML (DML precompiler) Kompilator DDL (DDL compiler). Struktur data untuk implementasi secara fisik adalah data dictionary dan berkas-berkas data. DBMS/SMBD memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan DBMS/SMBD adalah sebagi berikut: 1. Pengendalian terhadap redudansi.

2. Konsistensi data.

3. Informasi yang lebih banyak yang dapat dibentuk dari data tersimpan yang sama.

4. Pemakaian bersama data. 5. Peningkatan integritas data. 6. Pemaksaan terhadap standar.

(6)

7. Skala ekonomi.

8. Penyeimbangan kebutuhan-kebutuhan sumber daya yang terbatas. 9. Peningkatan pengaksesan dan daya tanggap data.

10. Peningkatan produktivitas.

11. Peningkatan pemeliharaan lewat ketidak-bergantungan data. 12. Peningkatan konkurensi.

13. Peningkatan layanan berkas cadangan (backup) dan pemulihan data. Kelemahan DBMS/SMBD adalah:

1. Kompleksitas yang tinggi.

2. Ukuran perangkat lunak yang besar.

3. Ongkos sistem manajemen basisdata untuk pengadaan, operasi dalam perawatan.

4. Penambahan ongkos-ongkos perangkat keras untuk menjalankan DBMS. 5. Ongkos konversi dari sistem lama ke sistem baru.

6. Kinerja yang lemah bila tidak mampu menggunakan dengan bagus. 7. Dampak yang tinggi bila terdapat kegagalan.

Perkembangan teknologi komputer khususnya basisdata telah menjurus pada beberapa pusat perhatian sebagai berikut:

1. Kebanyakan sistem basisdata yang digunakan berbasis model data relational dimana data disimpan dalam relasi-relasi (tabel-tabel) dan dapat diakses melalui bahasa SQL (structured query language) yang relatif sederhana. Melalui SQL, pemograman tidak peduli dengan kompleksitas fisik dimana data disimpan dan diakses.

2. Basisdata dapat berisi objek-objek multimedia yang berukuran besar seperti gambar, suara, dan video sehingga memungkinkan penerapan aplikasi seperti katalog berbasis internet, ensiklopedi digital dan sebagainya.

3. Sistem basisdata digunakan secara online bahkan selama 24 jam sehari. 4. Pengaksesan konkuren melalui transaksi terhadap basisdata.

5. Melibatkan komputasi tersebar dan data tersebar yang melibatkan sistem-sistem heterogen yang tidak sama platformnya.

6. Transaksi-transaksi biasanya dilakukan orang-orang yang awam atau sistem komputer atau basisdata untuk membantu pelaksanaan kegiatan-kegiatan dibidang bisnis yang digelutinya.

Kebutuhan-kebutuhan fungsional tersebut mengakibatkan peningkatan kebutuhan-kebutuhan fitur-fitur sistem sebagai berikut:

(7)

1. Ketersediaan yang tinggi (high availability) 2. Kehandalan yang tinggi (high reliability) 3. Jumlah kerja yang tinggi (high throughput) 4. Waktu tanggap yang rendah (low response time) 5. Waktu hidup yang lama (long lifetime)

6. Keamanan (security)

Saat ini beragam produk DBMS/SMBD telah hadir untuk beragam ukuran, bentuk permodelan yang diikuti komersial atau free, open source dan sebagainya. Terdapat beragam DBMS/SMBD terpadu untuk aplikasi skala kecil, misalnya Microsoft Access dan demikian juga terdapat sangat banyak DBMS/SMBD untuk aplikasi untuk skala besar (enterprise), misalnya SQL server, Oracle, Sybase, dan Borland Interbase Server. DBMS/SMBD open source untuk skala kecil yang telah menerapkan SQL antara lain MySQL sedangkan untuk skala besar yang telah menerapkan objek relasional antara lain PosgreSQL.

Untuk memilih perangkat lunak yang baik, dalam hal ini termasuk memilih perangkat lunak DBMS harus mempertimbangkan empat aspek dependensi (Sommerville 2001) yaitu:

1. Availability (Ketersediaan), jaminan bahwa sumber daya sistem komputer tersedia bagi pihak-pihak yang diotorisasi saat diperlukan.

2. Realibility adalah kehandalan dari suatu sistem dimana sistem akan dengan tepat mengirimkan jasa ketika diharapkan oleh pemakai.

3. Safety (Keselamatan) sistem terhadap kerusakan yang disebabkan oleh pengguna maupun sistem itu sendiri.

4. Security (Keamanan) suatu sistem.

Menurut Harsono Basuki dan Eddy Abdurahman (2008), dalam mengukur kepuasan end user (pemakai) terhadap kualitas produk perangkat lunak mengacu pada berbagai faktor atau dimensi yang terdiri atas 12 variabel, yaitu : 1. Kelengkapan fungsi fitur, digunakan untuk menyatakan keberadaan fungsi

fitur yang lengkap seperti fungsi graphical user interface (GUI), matematik, statistik dan fungsi lainnya yang biasa ada pada perangkat lunak; yang bertujuan guna mempermudah dan menunjang proses pemanfaatan bagi penggunanya.

(8)

2. Stabilitas keandalan, digunakan untuk menyatakan kemampuan ketangguhan perangkat lunak ini untuk tetap dapat beroperasi tanpa mengalami gangguan yang berarti dalam jangka waktu yang lama.

3. Keakuratan, digunakan untuk menyatakan kehandalan perangkat lunak dalam proses perhitungan, pengolahan data, maupun menghasilkan informasi yang tingkat kebenaran dan keyakinan yang baik.

4. Kemudahan penggunaan, dipergunakan untuk menyatakan kemudahan yang dimiliki oleh perangkat lunak terutama dalam hal instalasi, implementasi, input data, dipelajari, digunakan dan perawatan.

5. Ketepatan waktu, digunakan untuk menyatakan kemampuan perangkat lunak untuk selalu menyediakan informasi yang dibutuhkan secara tepat waktu dan selalu baru termasuk kemampuan menghasilkan laporan yang baik secara berkala.

6. Security (Keamanan), menunjukan kemampuan keamanan perangkat lunak ini dalam menghadapi kemungkinan masuknya virus, penyusup (cracker), maupun kesalahan prosedur penggunaan seperti akses yang tanpa otorisasi. 7. Produktivitas, digunakan untuk menggambarkan tingkat produktivitas yang

dihasilkan oleh perangkat lunak terutama menyangkut perbandingan kinerja hasil terhadap biaya yang harus dikeluarkan untuk mengoperasikannya. 8. Dokumentasi, digunakan untuk menggambarkan fasilitas dokumentasi yang

dimiliki perangkat lunak seperti manual pertolongan informasi kesalahan maupun saran perbaikan yang tersedia dengan jelas dan mudah diakses. 9. Inovasi, digunakan untuk menyatakan reputasi dan kreasi yang dimiliki oleh

perangkat lunak dalam kaitan terhadap kemampuannya menghasilkan terobosan versi baru maupun perkembangan interface (antar muka) yang sesuai keinginan penggunanya.

10. Fleksibilitas, digunakan untuk menyatakan kemampuan perangkat lunak ini untuk diimplementasikan pada segala jenis dan spesifikasi sistem komputer yang tersedia dipasaran dan termaksud kemampuannya untuk digabungkan dengan penggunaan peralatan elektronik dan komputer lainnya ( seperti, printer, scanner , modem, kamera digital dan sebagainya).

11. Dukungan pemasok (digunakan untuk menyatakan dukungan yang dimiliki perangat lunak dalam kaitannya dengan ketersediaan pemasok yang kompeten, memiliki tingkat pelayanan yang baik, kapabilitas yang tinggi serta

(9)

dalam jumlah yang cukup untuk dijadikan alternatif pilihan harga dan kemampuan.

12. Pendidikan dan pelatihan, digunakan untuk menyatakan dukungan lokasi, metode, biaya, kelengkapan fasilitas pendidikan dan pelatihan yang baik yang dimiliki oleh baik pemasok perangkat lunak ini maupun institusi independen lainnya.

2.4. Metadata

Metadata adalah data tentang data atau minimal harus dikatakan bahwa metadata adalah data terstruktur tentang data (Pendit 2005). Jean Hudgins, Grace Sgnew, dan Elizabeth Brown (1998) memperluas definisinya terhadap beberapa fungsi dari metadata. Istilah metadata biasanya mengacu pada data manapun yang menopang dalam identifikasi, penempatan dan uraian tentang sumber jaringan elektronik. Fungsi metadata yang utama adalah sumber penemuan/penelusurannya. Metadata meningkatkan kemungkinan seorang pemakai akan mampu mendapatkan kembali informasi yang sesuai dan menilai ketersediaan dan kegunaannya. Fungsi penting lain yang disajikan oleh metadata adalah kendali menyangkut sumber daya elektronik, apakah melalui tempat asal dan kepemilikan metadata untuk keakuratan dan penggunaan informasi, kebenaran dan ijin metadata untuk pengendalian akses, atau isi yang menilai metadata, dan merupakan suatu komponen kunci atas beberapa penyaring aplikasi web. Lorcan Dempsey (1998) direktur UK Office for Library and Information Networking mendefinisikan metadata adalah data yang menguraikan atribut dari suatu sumber yang kemudian dapat menjadi data bibliografi dan boleh juga meliputi uraian lain berhubungan dengan isi, terminologi dan untuk kondisi-kondisi penggunaan, pemenuhan teknis atau mengakses karakteristik (Lazinger 2001).

Dalam bidang perpustakaan, terdapat tiga kategori taksonomi yang membagi metadata (Pendit 2005) sebagai berikut:

1. Metadata Deskriptif, identifikasi sumber informasi untuk memperlancar proses penemuan dan seleksi. Data termasuk unsur-unsur pencipta/pengarang, judul, tajuk subjek, tahun terbit dan kata kunci dan informasi/elemen lainnya yang akan digunakan untuk mencari dan menempatkan item. Di lingkungan perpustakaan dilakukan pembuatan cantuman bibliografi berdasarkan ISBD: International Standard Bibliographic Description, AACR: Anglo American

(10)

Cataloging Rules, bagan klasifikasi seperti DDC: Dewey Decimal Classification, UDC: Universal Decimal Classification, LC: Library of Congress Classification, dan daftar tajuk subjek yang menghasilkan suatu wakil dokumen ringkas standar yang berfungsi sebagai cantuman bibliografi. 2. Metadata Struktural, menggambarkan bagaimana suatu objek digital

terstruktur sehingga dapat digabungkan menjadi satu kesatuan logis. Sebagai contoh, sumber digital berupa buku terdiri atas beberapa bab dan tiap bab terdiri atas halaman-halaman yang masing-masing merupakan suatu berkas digital tersendiri. Metadata struktural dibutuhkan untuk mengetahui hubungan antara berkas fisik dan halaman, halaman dan bab, dan bab dengan buku sebagai produk akhir. Inilah kemudian memungkinkan perangkat lunak menampilkan daftar isi buku lalu langsung memunculkan bab yang dipilih oleh pengguna, atau bernavigasi ke bagian (halaman) lain dari buku tersebut.

3. Metadata Administratif, memberikan informasi untuk pengelolaan sumber informasi, seperti kapan dan bagaimana diciptakan, tipe file (berkas), data teknis lain dan siapa pemiliknya serta siapa yang berhak mengaksesnya. Metadata administratif mencakup pula data berkenaan dengan right management metadata (hak kekayaan intelektual dan seluk beluknya), archiving (penyimpanan) dan preservation metadata (pelestarian sumber informasi).

Standar metadata yang digunakan untuk pengolahan dokumen dikenal dengan MARC: Machine Readable Cataloging dan Dublin Core Element Set (Lazinger 2005) yang lebih dikenal dengan nama singkat Dublin Core. Format MARC, pertama kali dikembangkan oleh Library of Congress, dengan nama Format LC MARC dengan menggunakan aturan dan format seragam untuk pengolahan/perekaman data bibliografi dengan mengacu pada Anglo American Catalog Rules (AACR2) dan International Standart Bibliographic Description (ISBD). Data katalogisasi dari satu bahan pustaka diberi tenggara/tanda sebagai semantik dan sintaksis, sehingga dapat terbaca oleh komputer dimana tenggara-tenggara tersebut telah dibakukan/distandarkan dan di kenal dengan nama format MARC. Format ini terbukti sangat berperan dalam penyebaran data katalogisasi bahan pustaka ke berbagai perpustakaan di Amerika Serikat. Indonesia mengembangkan MARC pada tahun 1984 yang diberi nama INDOMARC. Standar MARC hanya mengurus dan menentukan struktur record

(11)

atau encoding (penyandian), dan tidak menentukan isi dari record (catatan) di dalam struktur itu. Pada dasarnya MARC yang dikembangkan oleh Amerika Serikat (USMARC) terdiri atas tiga bagian yaitu label record, directory, data field separator yang terdiri atas tiga digit label. Bidang yang berisi data dengan fungsi serupa terorganisir ke dalam kelompok yang dikenali oleh nomor. Jumlah yang pertama dalam label sebagai berikut:

0XX control numbers, provenance (kendali angka dan tempat asal)

1XX main entry (entri utama)

2XX titles and related information ( judul dan informasi yang berhubungan)

3XX physical description (deskripsi fisik)

4XX series statement (pernyataan seri)

5XX notes (catatan)

6XX subject access (akses subjek)

7XX added entries; linking fields (entri tambahan; penghubung ruas)

8XX series added entries (entri tambahan seri)

9XX reserved for local fields (bidang lokal yang disediakan untuk)

Dua digit terakhir menandai adanya bagian isi lebih lanjut, dimana isi secara umum sejajar dan terpelihara, sebagai contoh:

X00 personal author (pengarang tunggal)

X10 corporate name (nama perusahaan)

X11 meeting name (nama pertemuan)

X12 uniform title (judul seragam)

Dublin Core adalah salah satu skema metadata yang digunakan untuk web resource description dan discovery atau dengan kata lain menyangkut sumber data dan temu balik data. Dublin Core pada tahun 1995 berkembang atas gagasan untuk membuat standar baru dalam mengolah koleksi digital oleh karena standar lama misalnya MARC: Machine Readable Cataloging dianggap kurang memadai dan rumit untuk sumber digital yang kompleks. Ciri-ciri Dublin Core yang bisa diharapkan bisa membuatnya diterapkan secara luas oleh berbagai kalangan adalah:

(12)

1. Dublin Core dibuat sesederhana mungkin agar dapat digunakan baik oleh awam (bukan pengkatalog) maupun profesional. Diharapkan bahwa pencipta resource itu sendiri akan dapat membuat metadata (deskripsi) karya mereka tanpa memerlukan pelatihan khusus.

2. Semua unsur bersifat pilihan dan dapat diulang apabila diperlukan. 3. Unsur-unsur diterima secara international, dan dapat diulang apabila

diperlukan.

4. Setiap unsur dapat diperluas agar data yang lebih khusus (misalnya untuk disiplin ilmu atau aplikasi khusus) dapat tertampung.

5. Dapat ditempatkan di dalam web page (halaman situs web) biasanya sebagai bagian dari header, sehingga dapat dideteksi oleh web robot atau spider.

Dublin Core terdiri atas 15 unsur dengan nama yang mudah dipahami yang dibagi dalam 3 tipe penyimpanan informasi yaitu: (1) unsur-unsur utama berhubungan dengan isi dari sumber daya, (2) unsur-unsur utama berhubungan dengan sumber daya/hak milik cendekiawan, (3) unsur-unsur utama berhubungan dengan institusi dari sumber daya. Tabel berikut memperlihatkan 15 unsur dari 3 tipe sebagai berikut:

(13)

Tabel 1. Unsur Kategori-kategori Dublin Core Content (Isi) Intellectual Property (Kepemilikan Intelektual) Instantiation Title

Judul yang diberikan terhadap materi oleh pencipta atau penerbit

Creator

Orang (Pengarang) atau organisasi yang bertanggung jawab untuk isi intelektual dari materi

Date Tanggal dihubungkan dengan ketersediaan atau pembuatan materi. Subject Subjek/topik materi Publisher

Penerbit yang bertanggung jawab terhadap pembuatan materi yang tersedia

Type

Bentuk dan Jenis materi. Mis: Bentuk: Teks, Jenis materi: laporan penelitian, tesis, disertasi dll.

Description

Suatu uraian menyangkut isi (Abstrak) dari sumber materi

Contributor

Seseorang atau organisasi selain pencipta yang bertanggung jawab dan berkontribusi penting untuk pembuatan isi intelektual dari materi (mis: Buku: editor,

penerjemah,ilustrator. Skripsi, Tesis, Disertasi: Dosen Pembimbing, Dosen Penguji

Format

Format fisik materi digital yang digunakan untuk mengidentifikasi perangkat lunak sistem untuk menjalankan materi digital. Mis. File format PDF dll.

Source

Sumber acuan dari mana materi (file) diperoleh

Rights

Pernyataan hak cipta

Identifier

Acuan

yang unik terhadap pengidentifikasian materi sesuai dengan konteks yang ditentukan. Mis: Kode Universitas, jenis materi dan tahun materi

Language

Bahasa yang

digunakan oleh materi

Relation

Keterangan yang berhubungan dengan materi. Mis: Status untuk publik, hubungan tahun pengolahan dalam bentuk digital sesuai dengan jenis materi.

Coverage

Penempatan

karakteristiksementara menyangkut isi dari materi dengan menggunakan kata yang dapat mewakili.

(14)

Dalam skema Dublin Core unsur-unsur diberi definisi. Pengguna dapat mengembangkan sendiri namun agar tercipta standarisasi sebagaimana MARC, digunakan the International Standart Bibliographic Description (ISBD) yang dikeluarkan oleh International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) dan Anglo American Catalog Rules (AACR 2 nd ed. revised) juga sebagai acuan titik akses yang meliputi pengarang, judul, data khusus (untuk majalah), penerbitan, deskripsi fisik dokumen, seri, catatan dan ISBN/ISSN. Library of Congress Subject Headings digunakan untuk tajuk subjek serta Dewey Decimal Clasification/DDC (Klasifikasi Persepuluhan Dewey) untuk klasifikasi/nomor pengelompokan bidang ilmu pengetahuan.

Gambar

Tabel 1. Unsur Kategori-kategori Dublin Core  Content  (Isi)  Intellectual Property  (Kepemilikan Intelektual)  Instantiation  Title

Referensi

Dokumen terkait

Dalam m akalah ini akan dibahas perh i tungan kctebalan perisa.i rad ia si pada saat penyinara n dengan posisi sumber isotop terarah pada pasi en, sehiugga bagia n

Maintenance Planner akan membuat skala prioritas mana temuan urgent yang harus segera diselesaikan dan mana yang tidak kemudian membuat jadwal pengerjaannya

Uraian di atas sesuai dengan teori-teori yang dikemukakan di muka bahwa penggunaan sistem injeksi bahan bakar elektronik pada sepeda motor mampu meningkatkan

Pada dasarnya masyarakat mempunyai potensi kelembagaan dan potensi sosial yang dapat digali untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul, seperti masalah

(Kuba, Uni Soviet saat itu, Nikaragua, Irak, dan Serbia) untuk menunjukkan kepada warga negara- negara tersebut bahwa tidak semua warga AS setuju dengan sikap

Iuran yang harus dibayarkan per KK rata-rata sebesar 28.000/bulan yang digunakan untuk biaya investasi, operasional dan pemeliharaan. 4) Aspek Hukum dan Peraturan

Penelitian dilakukan di desa jabon kabupaten Kediri. Alasan memilih lokasi ini karena masyarakat khususnya komunitas murtitomo waskito tunggal yang sering melaksanakan

Berdasarkan pada hasil pengamatan dan kuesioner siswa tersebut di atas disimpulkan bahwa dalam tindakan siklus menunjukkan adanya ketertarikan siswa dalam permainan dakon