Jurnal Peternakan Indanesia., 12(l):
I-l
I, 2007 ISSN:1907-1760 IPelaksanaan
Program
Kemitraan
Pola Perusahaan
Inti
Rakyat
(PIR)
Pemeliharan
Broiler
dan
Implikasinya
Terhadap
Pendapatan Peternak
di Kota
Pekanbaru
Asdi Agustar
Fakultas Petemakan Universitas Andalas Padang
Abstract
The aims of the present study'reere to evaluate the biological and economic performances
of
broiler
raising between farmers as member and non membersof
nucleus-plasmascheme (PIR)
in
Pekanborucity.
Thirty broiler farmersfrom each
member qnd non member of PIR were visited and interviewed to collect data: mortality rate, body weightgain, production cost and revenues. The datawere then calculated tofind out: net income and return to equity. Results showed that the biological and economical performances in term
of
mortality,daily
weightgain
andprofit
abilitiesof
broiler
raisedfarmer
of
member of PIR were found better that that of roised by the PIR members. These indicsted that the program of nucleus-plasma scheme gave no improvement in farming practices andprofitabilityfor
thefarmer in Pekanbaru city.Key words: broiler production, nucleus-plasma scheme.
Pendahuluan
Pada
sub
sektor
peternakankemitraan
dikembangkan
dalamupaya
memperbaiki
kinerja
pe-ternakan
rakyat
sehingga
mampumenjadi
usaha
yang
efisien
danmampu memberikan
kesejahteraanyang
lebih
baik
bagi
peternaknya.Dalam
pelaksanaanny4
terdapatberbagai
pola yang dilakukan
oleh perusahaanbesar dengan
petemakrakyat, salah
satunya
adalah
ke-mitraan
arttarapeternak
besar(inti)
dengan peternak
kecil
(plasma) yangdikenal
dengan Pola PerusahaanInti
Rakyat (PIR). PIR merupakan bentuk
kerjasama arfiarc
perusahaanpeter-nakan
atau
perusahaandi
bidang peternakan yang melakukan budidayadengan peternak
rakyat.
Dengan konsep tersebut diharapkan peternakrakyat
dapatdibantu
teknologi
danmanajemennya sehingga
meningkat-kan
produksi
dan
efisiensi
usaha.Peningkatan
produksi
pada akhirnyadiharapkan
mampu
meningkatkan pendapatan, dan padagilirannya
bisamemperbaiki
kesejahteruum peternakkecil
yang
menjadi
plasma
dari program tersebut.Di
Kota
Pekanbaru, programkemitraan pada
usahapemelihaftlal
ayam broiler telah diimplementasikansejak
tahun
1998.
Sampai
dengantahun 2005
terdapat
4
(empat)perusahaan yang bertindak
sebagaiinti
denganjumlah
plasma
tercatatsebanyak
90
(sembilan
puluh) petemak.Apakah tujuan
dari
pelaksa-n&m
program kemitraan
tersebutmampu dicapai pada
level
petemak dan bagaimana sesungguhnya realitaspelaksanaannya
adalah
dua
2
Asdi Agustsr: Pelal*annol!l'og'o* Ku*it'oon ptanyaan
yang
akan
dijawab
melalui penelitianini.
Metodologi Penelitian
Penelitian dilakukan
selama 3(tiga) bulan
yaitu
bulan
Juniagustus
20A5, menggunakan met99?*n*ty.
Respondenpenelitian terdiri
dari
peternak
broiler yang
menjadiplasma
Pola
PIR
Pada4
Q*qIl
perusahaaninti
dan peternakBroiler
rnandiri
(bukan
Plasma)
masing-masing
sebanYak
30
orang'Pengambilan samPel
dilakukan
se-cara
purposive
samPling
dgnqankriterii:
(1)
Pada saat
Penelitian,paling kurang
1
bulan
sebelumnYa,peternak
sudah menjual
hasil;
(2)memiliki
data input cost (biaya input)dan
penerimaan usaha;
dan
(3)bersedia memberikan data"
PengumPulan
data
Primer
di-lakukan dengan wawancara langsung
dan
pengisian kuesioneryang
telahdipersiapkan. Sedangkan
datasekunder
diPeroleh
dari
DinasPetemakan
dan
Perusahaan
inti'
Selain
itu
data
sekunder
juga
didapatkan
dari
Peternak
beruPa catatan penerimaandan biaya
usahayang
dikeluarkan
Perusahaaninti
setiap siklus Pemeliharaan.Analisis
data dilakukan denganmenggunakan
statistik
diskriptif
berupa persentase dan rata
-
rata dan StandarDeviasi.
Selanjutnya
untukmengetahui
tingkat
Produksi
danpendapatan
Peternak
dilakukan analisis sebagai berikut :a.
Analisis Produksi Ayam Broiler. Dilakukan denganmenghitung
:a.1. Angka
kematian
:
Jumlah ternak Yang matiPBB:
(grlhari)Berat
Akhir
-
BeratAwal
Lama Pemeliharaan!
{ ux100%
Jtrmlah PoPulasia.2. Pertambahan Bobot Badan (PBB)
Jurnal P eternqkan Indonesi a', I 2 ( I ) : 1 - I
l'
2 AA7b.
Analisis PendaPatanUntuk
menghitung
PendaPatandi-gunakan rumus
dalam
Soekartawi (1995) sebagaiberikut
:n
:
TR*TC
TR :
YXPY
TC
:Xr.Px
1+X2.Px2
+[.Pxn
+...+D
Dalam hal
ini
:n
:
PendaPatan
bersih/ke-untungan (RuPiah)TR :
Total (Rupiah)penenmaan
TC :
Total biaya (RuPiah)Y
:
Jumlah produksi(Kg)
Py :
Harga Produksi (RP/Kg)Xl-n :
Jumlah
faktor
Produksi(Fixed dan Variable)
Pxl-n
:
Harga faktor ProduksiD
:
BiaYa
PenYusutan alat(RuPiah)
Indikator
PendaPatan
Yangdihitung
seperti
yang
dikemukakanoleh
Prawirokusumo
S P
(1998) adalah sebagaiberikut
:(l)
PendapatanPengelola
(Mana-gemenIncome)
=
Total
nilai
out put
-
Totalnilai inPut
(baikcash mauPun non cash).
(2)
PendaPatanPeternak
(farmer's income):
PendaPatan tenagakerja
peternak+
bunga modalmilik
sendiri,
sewa tanahmilik
sendiri.
(3)
Imbalan untuk modal
sendiri (Returnto
EquitY):
Net
FarmIncome (tidak
termasuk
Pene-rimaan
non
cash)dibagi
modalmilik
sendiri(owncr's
cquitY)x
ra006.
Untuk
menguji
aPakah
Polakemitraan
memberikan
Pengaruh terhadap pendapatan usaha' dilakukanuji
beda dua rata-tata
(uji t)
denganAsdi Agustar: Pelalcranaan Program Kemitraan pada Pemeliharan Ayam
Broiler
3menggunakan
bantuan
Statistical Packagefor
Social
Science (SPSS) Program.Hasil
Dan Pembahasan Performans Produlrsi AyamBroiler
Konsep
produksi yang dirujuk
dalam
pembahasan
ini
meliputi
performans proses
yang
dilakukan, dan performans hasil yang didapatkandalam
pemeliharaan
ayam
broiler.Dua
hal
pokok yang
dapat diukur
berkaitan dengan
itu
adalah
angkakematian (mortalitas)
dan
pertam-bahan berat badan rata-
rata
setiaphai(Average
Daily
Gain:
ADG).
a.Angka
Mortalitas
Banyak
faktor yang
mem-pengaruhi angka mortalitas dari suatu poprrlnni torrrnlr, nccnro runrun tlnpnldibedakan
menjadi
2
lbktor
yaitukualitas
bibit
dan
tindakan
peme-liharaan
yang
dilakukan.
Dalamkonteks hubungan kemitraan
polaPIR
pemeliharaan
broiler,
kualitasbibit
merupakan kewenangan lang-sungyang
ada padainti,
sedangkantindakan
pemeliharaan
yang
dila-kukan
merupakan
cerminan
ke-mampuan teknis dan manajemen dari peternak plasma.I{asil
pcnclitian
mcnunjukkan, angkamortalitas
broiler
plasma PIR berkisar antaraI,04
Yo sampai 10,13Yo denganrata
-
rata 4,34 Yo*
2,33 oper
periode
pemeliharaan.
Angkamortalitas
ini
secara
umum
lebihtinggi
bila
dibandingkan
denganangka mortalitas
yang terjadi
padapeternak
broiler
Non
PlR,
yangberkisar
1,97
%
sampai
5,18
% dengan rata-
rata3,41*
0,96 Yo per periode pemeliharaan.Namun
demi-kian,
sejumlah peternak
mampu mendapatkanangka mortalitas
yangsama
dan
bahkan
lebih baik
dariJurnal Peternakun Indonesia., I2(1):l-l I, 2007
standar
mortalitas
yang
ditetapkanoleh
perusahaan
inti.
Untuk
ke-berhasilan tersebut,
perusahaaninti
memberikan penghargaan
berupa insentif harga kepada peternak.Angka
mortalitas
ini,
bila
dibandingkan dengan standar umum pemeliharaan
broiler lebih tinggi
dari batas toleransioptimal.
Seperti yangdikemukakan
Agustar (2A02),
efi-siensi
usaha
broiler
dapat
dicapaiapabila
angka
mortalitas
tidak
melebihi
3
%
untuk
setiap
periodepemeliharaan
dengan
frekuensipemeliharaan45kalitiap
tahunnya.
Seperti
yang
dikemukakansebelumnya,
mortalitas
berkaitandengan
kualitas
DOC
dan
kc-mampuan petemak mengelola usahatermasuk
bagaimanaia
menerapkanteknologi yang tepat
guna dan tepatwuktu.
l)ungan dcrrrikian
bila
cli-dasarkan kepada pemahaman tersebutdapat dikatakan bahwa plasma
PIRbelum
mendapatkan
DOC
dengankualitas
yangterbaik,
selainitu
juga
diduga
ia
belum
memiliki
kete-rampilan teknis dan manajemen yang baik dalam mengelola peternakannya, dibandingkan ia tidak menjadi plasma PTR.Kemungkinan pertama
bahwakualitas
DOC
scring
kurang
baikdidukung oleh jawaban
58
o/ores-ponden
yang
menyatakan memiliki
pengalaman
pemah menerima
DOC dengan kualitas kurangbaik,
dimana pertumbuhannya sangat lambat sesuaidengan
umurnya. Selain
itu
juga
dapat
dikaitkan
denganjawaban
100o/o
responden
mengatakanbahwa ia
tidak
mempunyai
kewenangan menentukanpilihan untuk DOC.
Ia hanya menerima apayang
diberikanoleh
perusahaan
inti.
Dengandemikian
dapat dikemukakan bahwadengan
pola
PIR
yang
diimple-ISSN: 1970-1760Q
Asdi ,4gustar: Pelal$anoan Program Kemitraon pada Pemelihqran Ayam Broilermentasikan,
plasma
tidak
bisamel,erapkan
pengetahuan
aspekteknis
Panca
Usaha ternak
secarakomprehensif
dalam
pemeliharaan ayann broilernya.Di sisi lain jrrga
dapatdinterpretasikan
bahwa
programkemitraan
denganpola PIR,
belumrnampu mencapai
salah
satu tujuannyayaitu
akanterjadi
transferteknologi
dari perusahaan besar yangsudah mapan teknologinya
kepada peternak rakyat yang masihmerniliki
lcendala karena rendahnyapenguasa-an teknologi.
Di
lain
pihak,
angka rnortalitasbroiler
petemakNon
PIRyang lebih
rendah
dapat
didugakarena
ia
mempunyai
kebebasan dalarn nnernilih DOC yang dibelinya.Selain
itu juga
diduga pengetahuanteknis
dan
kemampuan manajemen peternakjuga
lebih
baik, karenaia memiliki
pengalaman yanglebih
lama
memelihara
broiler dibandingkan dengan peternak yang menjadi plasma PIR.b.
Pertambahan Berat Badan
Rata-rata
Ilarian
(ADG)
Pertambahan berat badan rata
*
rata (AverageDaily
Gain)
dijadikanindikator
performans
dari
ayambroiler,
karenatujuan
utama
peme-liharaan
broiler
adalah
untuk
men-dapatkandagingnya.
Banyak
faktoryang
mempengaruhi
pertambahanberat badan ternak umumnya
danbroiler
khususnya. Secara
umum dapat dibedakanmenjadi dua
yaitu;faktor
genetik danfaktor
lingkungan.Ayam broiler dikenal
denganjenis
unggas
yang memiliki
pertambahanberat
badan dengancepat,
sehingga dapatdipotong/dipanen
pada
umur 30-
40 hari.Hasil
penelitian
pada peternakFIR
menunjukkan bahwa rata-
ratapertambahan
berat
badan
(ADG)
Jurnal P eternakan Indones ia., I 2 ( I ) : I - I 1, 2 007broiler yang
dapat dicapai
petemak berkisar antara 0,02-
0,05 kg denganrata
-
rata
0,04
kg
+
0,008. Bila
dibandingkan dengan
ADG
broiler
yang
optimal
didaerahtropis
denganrata
-
rata 0,08
kg,
maka
apa yang didapatkan oleh peternak plasma PIRdi
Kota
Pekanbaruternyata
masihrendah.
Rendahnya
ADG
menye-babkan
lama
pemeliharaan
akanmenjadi
lebih lama untuk
men-dapatkan
berat yang
diinginkan.Lebih
lamanya
waktu
pemeliharaanakan
menyebabkan
meningkatnyabiaya
(cost),
peningkatancost
akanmenurunkan
efisiensi
ekonomis,sehingga
akan
mcnurunkan
tingkatkeuntungan
yang
didapatkan
oleh peternak.Sedangkan
ADG
broilerpetemak
Non PIR
didapatkan berkisar antara 0,023-
0,056 denganrata
rata 0,043
kg.
Dengandemikian
terdapat
perbedaanADG
broiler
antarapetemak plasma
PIR dengan peternaknon
l)lR.
l)eternaknon PIR
mendapatkanADG
broileryang
lebih tinggi
dibandingkandcngan
pctcrnak
I'll(.
l'crtarnbahan bcrat badanbroilcr
sclain dipcngaruhifaktor
genetik,
faktor
lingkungankhususnya
kualitas
dan
kuantitaspakan akan
memberikan
pengaruh-nya.
Rendahnya
ADG
yang
di-dapatkan pada peternak plasma PIR
dapat diduga
juga
karena
peternaktidak
memiliki
kewenangan untuk menentukanpilihan pakan yang
iagunakan. Plasma
PIR
hanya
akanmenggunakan
input
produksi
ter-masuk
pakan
yang
berasal
dari perusahaaninti.
Pendapatan Peternak.
Analisis
pendapatan dilakukanuntuk
mendapatkan gambaran
se-berapa besar suatu usaha memberikan keuntungan
ekonomi
kepadaAsdi Agustar: Pelaksanaan Program Kemitraan pada Pemeliharqn Ayam Broiler
lola
(pengusaha)
setelah
ia
mela-kukan
pengorbanan
berupa
peng-gunaan
input
dalam
mengelola usahanya.Pada penelitian
ini
hanyadihitung
dalam
I
periode
peme-liharaan,
karena
frekuensi
peme-liharaan
ayam
broiler
dalam
satutahun
oleh
responden
bervariasi(tidak
sama),
dan
respondentidak
memiliki
data
sekunder penerimaan dan biaya untuk periodeI
tahun.Dalam
rangkaian
analisis ini,
secara
berurutan
dilakukan
analisis struktur penerimaan dan biaya usaha,dilanjutkan
dengan
analisis
pen-dapatan denganindikator
:
imbalanuntuk
modal
(return
to
capital);imbalan
untuk
tenaga
kerja
danmanajemen
(return
to
labour
andmanagement)
dan
imbalan
untuk modal sendiri (return to equity).Struktur
Biaya
dan
Penerimaan Usaha Pemeliharaan AyamBroiler
Dalam usaha
tani
umunnya
dan
peternakan
rakyat
khususnya,penerimaan usaha merupakan
nilai
ekonomi dari produk yang dihasilkan.
Jenis
penerimaan
dapat
dibedakan atas penerimuutn cash dan penerimaan non-eash.Pada usaha pemeliharaan ayam
broiler,
yang
termasuk penerimaancash
yaitu
nilai
rupiah
penjualanbroiler
dan
pupulq
sedangkan penerimaannon-cask
dihitung nilai
dari
broiler
yang dikonsumsi
ataudigunakan
sendiri
oleh
keluarga peternak dannilai
pupuk
yangtidak
dijual oleh
petemak.
Sebaliknya biayamerupakan
nilai
ekonomi darifaktor produksi
yang digunakan olehpeternak dalam melakukan
proses produksi. Biaya usaha dibedakan atasbiaya tetap
(fixed
cost) dan
biaya variabel(variable
cost).Baik penerimaan maupun biaya
berkaitan
erat
dengan skala
usaha pemeliharaan. Oleh sebabitu,
analisisdilakukan
untuk
skala
usaha
yangsama
yaitu
dengan
rata
rata pemeliharaan 5000ekor
setiap siklus perneliharaan.Dari
hasil
penelitian
padausaha
peternakan
ayam
broiler
plasma
PIR
di
kota
Pekanbaru, struktur penerimaan danbiaya
usaha dapat dilihat pada Tabel 1.Biaya yang
dominan
dalamusaha
pemeliharaan
ayam
broiler,dibutuhkan
untuk
pembelian
pakandan
DOC,
dimana masing-
masing5l,Il
Yo dan 23,30 Yo padapola
PIRdan
45,64
%
dan
34,18
%
padapeternak
Non PIR.
Biaya
ini
merupakan
kebutuhan
operasionalusaha
dan
dikategorikan
sebagai biaya cash.Besarnya proporsi
biaya
pakandan DOC,
menyebabkan
peternaksulit
untuk
memenuhinya.Untuk itu
maka
pada
pola
kemitraan
biayaoperasional
ini
menjadi
tanggungjawab
perusahaaninti
dalam
bentuk hutangjangka
pendekbagi
peternakmitra.
Sedangkan pada petemakNon
PIR,
kebutuhan
akan biaya
inilah
salah satu menjadi penyebab
ia
sulit
untuk
mengembangkan
populasi pemelihaaan.Bagi
peternak pemula,selain
untuk
investasi
kandang,
iajuga
harus
menyediakan
biayaoperasional dengan
jumlah
yang cukup besar.S
Asdi Agustqr: Pelaksqnaan Program Kemitraan pada Pemeliharan Ayam BroilerTabel
1.
Struktur
Penerimaan dan Periode di Kota Pekanbaru Pemeliharaan.Biaya
Usaha
PemeliharaanBroiler
per untuk Rata-
rata 5000 ekor Setiap SiklusITEM
PlasmaPIR
PeternakNonPIR
Rp
(000)
V"
Rp (000) o//o A. Penerimaan CashPenjualan Broiler B. Fenerimaan non Cash
Nilai pupuk kandang
65.603,62 466,50 99,29 0,71 47 .487,50 291,60 99,38 0,62
C. Total Penerimaan (A +
B)
66.070,12
100'00
47.779JA
100'00 D. Biava cpsh* variabel - Pembelian 5000 ekorDOC @ Rp 3030 - Pembelian Pakan : 2400 kg starter@
2.850 makanan finisher- Obat ternak dan desinfektan
- Tenaga kerja
-
Penerangan(listrik/
gas)Total Cash
E.
Biayanon cashFixed
- Depresiasi kandang (nilai awal Rp 30.000.000,
umur ekonomi 60 bulan).
- Depresiasi peralatan
- Biaya manajemen (pengelola usaha)
- Opportunity Cost/interest
investasi kandang (1% per
bulan temasuk sewa lahan)
Total Non Cash
0,61 360,00
4,54
2.435,00 15.150,00 6.840,00 26.400,00 12.615,25 800,00 275,00 62.0802s 750,00 300,00 1.500,00 400,00 2.950,00 34,1 8 15,26 30,38 14,63 1,34 0,33 96,12 1,01 0,07 2,00 0,80 3,8823,30
15.150,005l,l
1
6.840,00 13.800,0019,40
6.560,001,23
600,000,42
150,0095,46
42.100,001,15
600,000,46
275,002,30
1.200,00 F. Total biaya @ + E) 65.030"25100,00
44.535,00 100 Pendapatan (C-
F)Pendapatan tanpa menghitung penerimaan non cash (A-F)
1.039,87
s7337
2.244,100
1.952,500
*Keterangan : Hutang dalam hal ini dikategorikan biaya cash
Dihitung berdasarkan harga berlaku per Agustus 2005
Bila
dibedakan antara peternak plasma PIR dengan peternak Non PIR,jumlah
biaya yang dibutuhkan
untukpakan
pada
peternak
plasma
PIRterlihat
lebih besar jumlahnya.Hal ini
disebabkan
oleh
waktu
pemeliharaanpetemak plasma
PIR
lebih
lamaJurnal Pelernakan Indonesia., 12(1):1-1 1, 2007
dibandingkan dengan peternak Non
PIR.
Perbedaanyang terjadi
terlihat
pada
biaya
pakan
untuk
periodefinisher.
Dengan
demikian,
ukuran ayamyang
dipasarkan pada peternakplasma
PIR lebih
besar.Ukuran ini
merupakan salah satu yang ditetapkan
Asdi Agustar: Pelaksanaan Program Kemitraan pada Pemeliharan Ayam Broiler
oleh
perusahaaninti.
Berbeda halnya dengan peternakNon
PIR,
ia
dapatmelakukan penjualan sesuai
dengan permintaandan tidak terikat
denganwaktu
ataupun ukuran ayam" Kondisi yang demikian menyebabkan peternakNon
PIR
mampu mengatur
efisiensipenggunaan
pakan
untuk
peme-liharaan ayamnya.Tinghat Pendapatan Usaha
Pendapatan
merupakan
indi-kator
yang dapat
digunakan
untukmengukur keberhasilan
dari
suatu usaha. Pada usaha peternakan rakyat,pendapatan
usaha
secara
umum dibedakanatas
duayaitu
; pendapatankotor/penerimaan (Gross income) dan
pendapatan
bersih
(net
income). Pendapatankotor
adalah penerimaan usahayang
belum
dideduksi
denganbiaya,
sedangkan Pendapatan bersihadalah
pendapatansetelah
dikurangibiaya.
Selanjutnya pendapatan bersihdapat
dibedakan
atas
beberapatinjauan,
diantaranya;
PendapatanPengelola
(Management
Income),Pendapatan
Petemak
(farmer's
income),
dan Imbalan untuk
modal sendiri (Return to Equity).Hasil
penelitian setelah dirata-ratakan
dari
semua responden untuk skala pemeliharaan5000 ekor broiler
per
siklus
pemeliharaan,
dapat dikemukakan seperti pada T abel 2.Bila nilai
ekonomipupuk tidak
diperhitungkan,
maka
pendapatanbersih
(net
income) usaha
yang didapatkan hanya sebesar lebih ktnangRp
600.000,-
untuk
setiap
siklus pemeliharaanbroiler pola PIR
dengan periode ruta-
rata45 hari,
dan lebihkurang
Rp
2.000.000,- pada
peme-liharaan
Non PIR
dengan
sikluspemeliharaan
36
hari.
Selain
itu,sebagai pengelola peternak
diper-hitungkan
mendapatkan
imbalan pengelolaan, imbalan terhadap modal yang diinvestasikan pada kandang dan biaya tenaga kerja.Selanjubrya
bila
dihitung
profitabilitas usaha
dari
indikator pengembalian terhadapmodal
sendirididapatkan sebesar
3,5 %
pada peternakpola PIR
dan hanya
2,9
Yopada
peternak
Non PIR.
Denganindikator
ini
didapatkan
kesimpulan bahwa walaupun angkanominal
padapeternak
Non PIR
pendapatannyalebih
besar,
tetapi
sesungguhnya peternak non PIR bukan mendapatkan keuntungan yang lebih besar karena iamenggunakan
modal
sendiri
yang lebih besar pula.Sebaliknya
pada petemak
polaPIR
dengan
angka nominal
pen-dapatanyang
lebih
rendah, karenaia
lebih
banyak
menggunakan
modal operasional dari perusahaaninti,
maka angkatingkat
pengembalian terhadapmodal
sendirinya didapatkan
lebihbesar
(baik).
Bila
dibandingkandengan
tingkat
bunga
bank
yang berlaku dengan kisaran antara 12-
15Vo
per
tahun, maka investasi
modaluntuk
usaha
pemeliharaan
ayambroiler
bukanlatr
pilihan yang
me-miliki
prospek
cerah
dilihat
darikriteria
pengembalianmodal
di
kota Pekanbaru.Namun demikian,
dapatmenjadi alternatif
usaha dalam upayamenyerap tenaga
kerja
yang
masihtersedia
dengan
kemampuan/skill relatif rendah.8
Asdi Agustar: PelslLsanaan Program Kenitraan pada Pemeliharan Ayurn BroilcrTabel
2.
Indikator
PendapatanUsaha
PemeliharaanAyam Broiler
di
Kota Pekanbaru untuk Rata-rata 5000 Ekor per Siklus PemeliharaanNo. lndikator Pendapatan PIR Non PIR
1. 2.
Penerimaan
(dalarn Rp 000)Pendapatan
dengan
menghitung penerimaan non cash(dalam
Rp 000) Pendapatan dengantidak
menghitung penerimaan non cash (dalam Rp 000)Pendapatan
peternak
sebagai pengelola (dalam Rp 000)Pendapatan peternak sebagai pekerja (dalam Rp 000)
Pengembalian terhadap modal sendiri (dalamYo) 66.470,12 1.039,87 573,37 1.500,00 800,00
15
J'J 47.779,10 2.244,10 1.952,50 1.200,00 600,00)q
2rt J. 4. 5. 6.Tabel
3.
Perbandingan Pendapatan Usaha PemeliharaanPIR
denganNon
PIR
untuk
5000ekor
Tiap Kota Pekanbaru.Ayam
Broiler
PlasmaSiklus
Pemeliharaandi
No Indikator Pendapatan Plasma
(n:
PIR 30) Non PIR(n:
30)uji
t
(o:0.05)
I
2 PenerimaanKotor
(000 Rp) Pendapatan dengan menghitun g p enerrmaart n o ncash
(000 Rp)Pendapatan dengan tidak menghitun g p enenmaan n o n casft (000 Rp) Return to
equity
(%)1.952,50
Significan Non Significan 66.070,12 1.039,87 573,37 3,5 47.779,10 2.244,14 Significan Significan 2,9Perbandingan berbagai
indikator
pendapatan
usaha
antara
peternak yang menjadi plasma pola PIR denganpetemak
yang bukan
plasma
PIR(peternak
mandiri),
bila
dirataratakan
masing
masing
untukpopulasi ayam
yang
dipelihara
5000 ekortiap
siklusnya dapatdilihat
pada Tabel 3.Pada
Tabel
3
dapat
dilihat
bahwa
bila
dibedakan antara
usaha pemeliharaanayam
broiler pola
PIRdengan
non PIR,
secztra nominal terdapat perbedaannilai
pada
setiapindikator
pendapatan
usaha
bila
dihitung dalam skala usaha yang sama
Jurnal Peternakan Indonesia., I2(1):
I-l
l, 2007yaitu
5000 ekor untuk
setiap
sikluspemeliharaan. Sebagaimana
yangtelah
dikemukakan
pada
bagian terdahulu, pemeliharaan ayambroiler
Non PIR
menghasilkan
pendapatanusaha
lebih
besar
dibandingkan dengan pola PIR.Besarnya pendapatan
Non
PIR disebabkanoleh
lama
pemeliharaanlebih
singkat
sehingga
biaya
yangdikeluarkan
juga
lebih
kecil
di-bandingkan
dengan
pola
PIR. Walaupun total penerimimn lebihkecil
dalam satu
siklus untuk
pemeliharaan 5000 ekor pada Non PIR, tetapi karenabiaya
pemeliharaanjuga
kecil
makaAsdi Agustar: Pelaksanoan Program Kemitraan pada Pemeliharan Ayam
Broiler
9pendapatan
usaha
Non PIR
masihlebih
besar dibandingkan dengan pola PIR,Lebih terinci,
indikator
pen-dapatan dapatdilihat
dari
Penerimuuulkotor
usaha(Gross Income),
Penda-patan
Q{et
income), dan
Pendapatantanpa menghitung
penerimaan
non cash. P erbedaanini
diduga disebabkanoleh
beberapahal.
Pertama,
angka mortalitas peternak non PIR lebih baik;
kedua,
hargajual
dari
ayam hasilproduksi bervariasi
;
ketiga,
waktupeme-liharaan
relatif lebih
singkat sehinggamampu
mengatur
efisiensibiaya
produksi.
Perbedaan perbedaan tersebut adalah signifikan,bila
dilakukanuji
statistik(uji
t)
pada taraf alpha 0,05.Namun demikian,
bila
dilihat
indikator
tingkat
pengembalian
ter-hadap modal sendiri (retumto
equity), temyatapola PIR
memberikan angkayang
lebih tinggi
dibandingkandengan
Non PIR.
Hal
ini
dapatdijelaskan
karena pada
pola
PIR,modal sendiri yang
digunakan
oleh peternak untuk skala usaha yang samajauh
lebih
kecil
dibandingkan dengan usahaNon
PIR. Pada pola PIR, modalsendiri hanya
digunakan
untukinvestasi kandang,
sedangkan padaNon
PIR peternak selain menyediakanmodal
investasi,
juga
harus
meng-gunakan
modal sendiri untuk
biaya operasional.Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
penelitian dapatdisimpulkan
bahwa performansproduksi
yang diukur
dari
angkamortalitas
dan
pertambahan
berat badanbroiler
serta berbagaiindikator
pendapatan
usaha
yang
menjadiindikasi
keuntungan,
pada
peternak yang bukan plasma pola PIR (peternakmandiri)
didapatkan
lebih
baikdibandingkan
denganpeternak
yangJurnal P eternakan Indonesia., I 2 ( I ) : I - I I, 2 007
menjadi
plasmapola PIR.
Pada polaPIR ada
kecenderungan
pihakperusahaan
inti
lebih
diuntungkandibandingkan
dengan
apa
yang didapatkan oleh petemak plasma.Hal
ini
dilihat
dari
besarnya
omzetpenjualan
DOC,
pakan
dan
obat-obatan serta ditambah dari keuntungan yang didapatkandari
pemasaran hasilproduksi
yang
menjadi
hak
inti.
Oleh
sebabitu,
kemitraan
pola
PIRtidak
berpengaruh terhadap produksiayam broiler dan
pendapatan usahapemelihara
ayam
broiler
di
Kota
Pekanbaru.Daftar
PustakaAdiwilaga,
A.
1982.
Ilmu
UsahaTani.
PT.Alumni.
Bandung.Agustar,
A.
1998.
PemberdayaanEkonomi
Masyarakat
Melalui
Usaha PeternakanAyam
Potongdi
Wilayah
Perkotaan.
paperDisampaikan
pada
SeminarAgribisnis
20
Oktober
1998di
Politani. Payakumbuh.
2002.
Kebijakan
AspekPemasaran
dalam
Agribisnis
berbasis
Peternakan.
Makalah Seminar Regional PembangunanPetemakan.
17-18
September 2002. PadangBirowo A.T.1991.
Arti
ProgrampIR
DanTRI
Dalam PenanggulanganKemiskinan
Dan
DiferensiasiLapangan
PembangunanNilai-Nilai
Sosial Budaya.
ProsidingSeminar dan
Lokakarya Nasional PenanggulanganKemiskinan.
Fakultas pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.Cepriadi,
2004.
Analisis
Komparatif
Pola Kemitraan Pada Peternakan
Ayam
Broiler Di
KotaPekanbaru.
Tesis
Programl0
Asdi Agustsr: Pelaksanaan Program Kemitraan pada Pemeliharan Ayam BroilerPascasarjana
Universitas Andalas. Padang.Darto,
M.
2004"Ekonomi
Rakyat danProblem
Delegetimasi
Eksis-tensial.
Equilibrium.
JurnalSosiologi dan
Kemasyarakatan.Volume
2
No.
1.
Januari-April2004.
STIE
Ahmad
Dahlan. Jakarta.Departemen
Pertanian.
2A02.Pedoman Kemitraan
UsahaAgribisnis. Direklorat
Pengem-bangan Usaha,
Ditjen
Bina Pengolahan dan pemasaran hasil Pertanian, Deptan. Jakarta.Dillon H.S. 2004.
PertanianMembangun
Bangsa
dalamPertanian
Mandiri.
PandanganStrategis
Para Pakar
unhrkKemajuan Pertanian
Indonesia. Penebar Swadaya. Bogor.Hafsah,
J.,2000.
Kemitraan
UsahaKonsepsi
dan
Strategi.
PustakaSinar
Harapan. Jakarta.Manurung,
A
dan Dja'far.
1988.Analisa
UsahaTani
danFaktor-faktor Yang
MempengaruhiPendapatan
Petani.
Pusat Penelitian Perkebunan. MedanMachmur,
M.,
1995.
PengembanganKemitraan
Usaha
Agribisnis. DepartemenPertanian.
Badan Agribisnis. Jakarta.Mubyarto.
1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta.Mulya
T.D.,2002
Pola
Inti
RakyatSebagai
Strategi
Pembangunan PertanianUntuk
PemberdayaanEkonomi Rakyat (Studi
KasusPIR
PerunggasanDi
PropinsiRiau).
Tesis
Program
Pasca-sarjana. Universitas
Andalas. Padang.Neuman,
L.,
(2001)
Social
ResearchDesign
:
Quantitative
andQualitatif
Approaches.
Long Man Ltd. London.Prawirokusumo S P. 1990.
Ilmu
Usaha Tani.Edisi
1. BPFE. Yogyakarta Prahastuti,l.
1997.Analisis
Pemilihanpola
Kerjasama
PT.Intidaya Agrolestari Cabang Batu Malangdengan Petani
Apel
di
daerahBatu
Malang Jawa
Timur.Jurusan
llmu-Ilmu
Sosial Ekonomi Pertanian. Faperta IPB. Bogor.Purba P.
1996.Analisa
Faktor-faktorYang
Mempengaruhi
Penda-patan Petani Perkebunan Rakyatdi
Kabupaten
Deli
Serdang.Balai
Penelitian
Marihat. Pematang Siantar.Razak,
P., 2001.
PerencanaanPemberdayaan
Masyarakat,dalam Kemitraan Dalam
Pem-bangunan
Ekonomi
Lokal
(BungaRampai).
YayasanMitra
Pembangunan
Desa-Kota
danBusiness
Center
of
Indonesia. Bogor.Riady,
M.
2002. Evaluasi PelaksanaanKemitraan
Agribisnis
Berbasis PeternakanDi
Nusa
TenggaraBarat.
Makalah
PertemuanKemitraan Nasional
di
Pekanbaru.Ros,
P.N.
2004.Analisis
PelaksanaanKemitraan
antara
KoperasiAgribisnis
Mitra
Tani
denganPetani
Sayuran
di
DaerahCipanas
dan
Sekitamya.Departemen
llmu-Ilmu
SosialEkonomi
Pertanian
Fakultas Pertanian,IPB. Bogor.Said, E.G. 2004.
ParadigmaPeningkatan
PemanfaatanTek-nologi
Menuju
PembangunanAsdi Agustar: Pelaksanaan Program Kemitraan pada Pemeliharan Ayam Broiler 11
Pertanian Indonesia
yangBerkelanjutan
dalam
PertanianMandiri,
Pandangan
StrategisPara
Pakar
untuk
KemajuanPertanian Indonesia.
Penebar Swadaya. Bogor.Saragih
B.
2000.
Agribisnis
BerbasisPetemakan.
Kumpulan
Pemi-kiran.
USESE
Foundation dan PusatStudi
Pembangunan IPB. Bogor.Sasono
A.
2004. Menerabas PersoalanFundamental
Ekonomi
Rakyat.Equilibrium.
Jurnal
Ekonomi dan Kemasyarakatan.Volume
2No.
1.Januari-April
2004. STIE Ahmad Dahlan. Jakarta.Sinaga,
R.
1988.
PengembanganHortikultura
dengan
pola
PIRdalam rangka
meningkatkanEkspor
Non
migas.
Paperdisampaikan
dalam
seminarPeningkatan
Eksport
komodotiHortikultura.
IPB. Bogor.Sigit,
S.,
1998.
Analisa Break
EvenAncangan
Linear
Secara Ringkas dan Praktis.BPFE. Yogyakarta.
Soekartawi,
2003.
Teori
EkonomiProduksi.
PT.
Raja
Grafindo Persada. Jakarta.Soekartawi,
1995.
Analisis
UsahaTani.
l.lniversitas
Indonesia. Jakarta.Syalu'ial.
2002.
Strutcgi
l)cningkutaurPola
Kemitraan Ayam
Ras Pedaging PT. Nusantara UnggasJaya
di
Propinsi
Riau.
Tesis Pascasarjana. IPB. Bogor.Singarimbun,
M
danEffendi,
S., 1989.Metode
Penelitian
Survey.LP3ES.
Jakarta.Surat
Keputusan
Menteri
Pertanian Nomor472/Kpts/TN. 3 30 I 6 I 1996. DepartemenPertanian.
Jakarta.Alamat korespondensi:
Dr.Ir.
Asdi Agustar, M.ScJurusan Produksi Temak Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Kampus Limau Manis, Padang