BAB III
PERALIHAN KENDARAAN BERMOTOR SEBAGAI OBJEK JAMINAN FIDUSIA KEPADA PIHAK LAIN MELALUI PERJANJIAN DI BAWAH
TANGAN
A. Peralihan Menurut KUHPerdata
KUHPerdata tidak secara tegas memberikan pengertian dari peristiwa perdata yang dimaksudkan, namun demikian jika kembali membahas kepada hakikat dari peristiwa perdata dalam hubungan penyerahan kebendaan, secara sederhana dapat
dikatakan bahwa yang temasuk dalam peristiwa perdata tersebut adalah perbuatan hukum berupa perjanjian yang dibuat oleh dua pihak dengan tujuan untuk mengalihkan hak milik atas kebendaan tertentu. Dalam konteks yang sederhana,
perjanjian yang berhubungan dengan tujuan pengalihan hak milik dapat ditemui dalam ketentuan :116
1. Jual beli, yang diatur dalam Bab V Buku III KUHPerdata;
2. Tukar menukar, yang diatur dalam Bab VI Buku III KUHPerdata; 3. Hibah, yang diatur dalam Bab X Buku III KUHPerdata.
Ketentuan serupa dengan jual beli yang disebutkan dalam Pasal 1459 KUHPerdata tersebut juga dapat ditemui dalam Pasal 1686 KUHPerdata yang mengatur mengenai hibah, yang menentukan bahwa, hak milik atas benda-benda
yang termaksud dalam penghibahan, sekalipun penghibahan ini telah diterima secara
sah, tidaklah berpindah kepada penerima hibah, selainnya dengan jalan penyerahan
yang dilakukan menurut Pasal 612, Pasal 613 dan Pasal 616 dan selanjutnya.117 Dalam ketentuan tukar-menukar, memang tidak secara tegas dinyatakan dalam ketentuan mengenai tukar-menukar, walaupun demikian dengan merujuk pada
ketentuan Pasal 1546 KUHPerdata, yang menjelaskan bahwa “untuk lain-lainnya aturan-aturan tentang persetujuan jual beli berlaku terhadap persetujuan tukar menukar” maka ketentuan Pasal 1459 KUHPerdata berlaku terhadap perjanjian tukar menukar (dengan catatan hak milik atas barang yang dijual tidak pindah kepada
pembeli dengan tanpa mengabaikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 612, 613 dan 616) KUHPerdata.118
Setiap perbuatan hukum perdata yang bermaksud untuk mengalihkan hak
milik, harus memenuhi ketentuan sebagaimana yang dijelaskan dalam Pasal 584 KUHPerdata. Dalam ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa sebelum suatu penyerahan kebendaan, dengan tujuan untuk melakukan pemindahan hak milik, dapat
dilakukan haruslah ada terlebih dahulu suatu peristiwa perdata yang bertujuan untuk mengalihkan hak milik tersebut. Peristiwa perdata yang dimaksudkan dalam Psal 584 KUHPerdata antara lain adalah perjanjian jual beli, tukar menukar dan hibah. Misalnya dalam perjanjian jual beli, tidak akan terjadi peralihan hak milik apabila
117Deasy Soekromo,Pengalihan Hak Milik Atas Benda Melalui Perjanjian Jual Beli Menurut KUHPerdata,Jurnal Hukum Universitas Sam Ratulangi, Manado, Vol. I/No. 3/Juli-September, 2013, hal 5.
belum terjadi penyerahan hak. Walaupun perjanjian jual beli sudah terjadi pada saat
kesepakatan antara penjual dengan pembeli
Dengan demikian penyerahan kendaraan bermotor dilakukan dengan menyerahkan Buku Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) nya. Di sini letaknya
pentingnya hubungan alas hak dengan penyerahan hak milik atas barang dalam hal ini yang menjadi objek jaminan fidusia.
1. Melalui Perjanjian Jual Beli
Perjanjian jual beli merupakan perjanjian yang kerap kali diadakan, yang subjeknya
terdiri dari pihak penjual dan pembeli. Dalam KUHPerdata, perjanjian jual beli ini diatur pada Buku Ketiga Bab Kelima. Pengertian jual beli dapat dilihat pada bunyi Pasal 1457 KUHPerdata yang berbunyi:
“Jual beli adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan”.
Pada pokoknya jual beli adalah perjanjian dimana pihak yang satu (penjual)
mengikatkan dirinya kepada pihak yang lainnya (pembeli) untuk menyerahkan hak milik dari suatu barang dengan menerima sejumlah harga yang telah disepakati bersama.
Dari perikatan jual beli ada dua subjek yaitu si penjual dan si pembeli yang
masing mempunyai berbagai kewajiban dan hak. Maka mereka masing-masing dalam beberapa hal merupakan pihak berwajib dan dalam hal-hal lain merupakan pihak berhak, hal ini berhubungan dengan sifat bertimbal balik dari
persetujuan jual beli.
R.M.Suryodiningrat, memberikan definisi jual beli sebagai berikut:
Jual beli adalah perjanjian/ persetujuan/ kontrak dimana satu pihak (penjual) mengikatkan dirinya untuk menyerahkan hak milik atas suatu benda/barang kepada pihak lainnya (pembeli), yang mengikatkan dirinya untuk membayar harganya berupa uang kepada penjual.119
M.Yahya Harahap mengatakan bahwa:
Jual beli adalah suatu persetujuan yang mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan sesuatu barang/benda (zaak) dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikatkan dirinya berjanji untuk membayar harga barang.120
Dari beberapa defenisi yang ada yaitu definisi menurut KUHPerdata dan para sarjana di atas, maka dapat dilihat dalam jual beli terdapat hak dan kewajiban yang
dibebankan kepada para pihak, yaitu:
a. Kewajiban pihak penjual menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli; b. Hak pihak penjual untuk membatalkan jual beli barang;
c. Kewajiban pihak pembeli, membayar harga barang yang dibeli kepada penjual;
d. Hak pihak pembeli, mempertanggungjawabkan pembayaran harga pada si
penjual apabila pemakaian barang tersebut diganggu oleh pihak ketiga (Pasal 1516 KUHPerdata).
Berdasarkan kewajiban para pihak di atas, maka yang menjadi unsur
pokoknya adalah mengenai barang yang akan dialihkan dan harga dari barang yang akan dialihkan tersebut. Oleh karena itu, pengertian jual beli pada intinya adalah tindakan mengalihkan hak milik atas suatu barang berdasarkan adanya suatu harga yang telah disepakati bersama.
Dalam perjanjian jual beli, barang-barang yang menjadi objek perjanjian haruslah cukup tertentu, setidak-tidaknya dapat ditentukan wujud dan jumlahnya pada saat ia akan diserahkan hak milik kepada si pembeli, dengan demikian sah menurut
hukum.121
2. Melalui Hibah
Hibah adalah suatu perjanjian dengan mana si penghibah, di waktu hidupnya,
dengan cuma-cuma dan dengan tidak dapat ditarik kembali, menyerahkan sesuatu benda guna keperluan si penerima hibah yang menerima penyerahan itu (Pasal 1666 KUHPerdata).
Hibah hanya dapat terjadi terhadap benda-benda yang sudah ada, jika ia
meliputi benda-benda yang baru akan ada dikemudian hari maka sekedar mengenai itu hibahnya adalah batal.
Si penghibah tidak boleh memperjanjikan bahwa ia tetap berkuasa untuk
menjual atau memberikan kepada orang lain suatu benda yang termasuk dalam hibah. Hal ini dapat berakibat hibah menjadi batal (Pasal 1688 KUHPerdata).
Adalah diperbolehkan kepada si penghibah untuk memperjanjikan bahwa ia
tetap memiliki kenikmatan atau nikmat-hasil benda-benda yang dihibahkan, baik barang-barang bergerak maupun tak bergerak, atau bahwa ia tetap memberikan kenikmatan atau hasil nikmat tersebut kepada orang lain; dalam hal mana harus diperhatikan ketentuan-ketentuan dari bab kesepuluh Buku Kedua KUHPerdata
(Pasal 1669 KUHPerdata).
Suatu hibah adalah batal jika dibuat dengan syarat bahwa si penerima hibah akan melunasi utang-utang dan beban-beban lain, selain yang dinyatakan dengan
tegas di dalam akte hibah sendiri atau di dalam suatu daftar yang ditempelkan padanya (Pasal 1670 KUHPerdata).
Si penghibah boleh memperjanjikan bahwa ia akan memakai sejumlah uang
dari benda-benda yang dihibahkan. Jika ia meninggal dengan tidak telah memakai jumlah uang tersebut, maka apa yang dihibahkan itu tetap untuk seluruhnya pada si penerima hibah (Pasal 1671 KUHPerdata).
Meskipun suatu penghibahan, sebagaimana halnya suatu perjanjian pada
kepada seorang. Kemungkinan itu diberikan oleh Pasal 1688 KUHPerdata dan
berupa tiga hal :
a. Karena tidak dipenuhinya syarat-syarat dengan mana penghibahan dapat dilakukan;
b. Jika si penerim hibah telah bersalah melakukan atau membantu melakukan kejahatan yang bertujuan mengambil jiwa si penghibah, atau suatu kejahatan lain terhadap si penghibah;
c. Jika ia menolak memberikan tunjangan nafkah kepada si penghibah, setelah orang ini jatuh dalam kemiskinan.
B. Cara Peralihan Hak Atas Benda Bergerak
Hukum Benda adalah hukum yang mengatur mengenai kebendaan dan harta
kekayaan seseorang. Berdasarkan sistematika pembidangan hukum perdata (materiil), menurut KUHPerdata, hukum benda diatur dalam Buku II mengenai kebendaan. Sistematika pembidangan hukum perdata (hukum materiil) dapat ditilik dari dua
sudut, yaitu : pertama, menurut ilmu pengetahuan hukum (doktrin) dan yang kedua adalah menurut KUHPerdata.
Hak milik atas barang yang diperjualbelikan, baru beralih setelah diadakan
penyerahan. Yang diserahkan oleh penjual kepada pembeli adalah hak milik barangnya, jadi bukan sekedar kekuasaan atas barang tadi yang harus dilakukan penyerahan atauleveringsecara yuridis.
Hak milik (dihukum perdata barat disebut dengan istilah eigendom) diatur
dalam Pasal 570 KUHPerdata yang menyatakan bahwa hak milik adalah hak untuk menikmatii kegunaan suatu kebendaan dengan leluasa dan untuk berbuat bebas terhadap kebendaan itu dengan kedaulatan sepenuhnya, asal tidak bersalahan dengan
berhak menetapkannya, dan tidak mengganggu hak-hak orang lain; kesemuanya itu
dengan tak mengurangi kemungkinan akan pencabutan hak itu demi kepentingan umum berdasar atas ketentuan undang-undang dan dengan pembayaran ganti rugi. Eigendom berasal dari kata eigen, yang berarti “diri sendiri” atau “pribadi”,
sedangkan dom berasal dari kata domaniaal yang diartikan sebagai “milik”, dan istilahdomeindiartikan daerah atau wilayah atau milik negara.122
Pengertian penyerahan dapat dilihat dalam Pasal 1475 KUHPerdata: “Penyerahan adalah suatu pemindahan barang yang telah dijual ke dalam kekuasaan
dan kepunyaan si pembeli”.
Menurut hukum perdata ada tiga macam penyerahan yuridis, yaitu:123 a. Penyerahan barang bergerak
b. Penyerahan barang tak bergerak c. Penyerahan piutang atas nama
Penyerahan barang bergerak dilakukan dengan penyerahan yang nyata atau menyerahkan kekuasaan atas barangnya (Pasal 612 KUH.Perdata), sedangkan penyerahan barang tak bergerak terjadi dengan pengutipan sebuah “akta transport” dalam register tanah di depan Pegawai Balik Nama (Ordonansi Balik Nama LN.1834-27). Sejak berlakunya Undang-undang Pokok Agraria (Undang-Undang No.5 Tahun 1960) dengan pembuat aktanya jual beli oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Penyerahan piutang atas nama dilakukan dengan sebuah akta yang diberitahukan kepada si berutang (aktacessie, Pasal 613 KUHPerdata).
Jual beli adalah suatu perjanjian konsensuil, artinya ia sudah dilahirkan
sebagai suatu perjanjian yang sah (mengikat atau mempunyai kekuatan hukum) pada detik tercapainya sepakat antara penjual dan pembeli mengenai unsur-unsur yang pokok (essentialia) yaitu barang dan harga, biarpun jual beli itu mengenai barang
yang tak bergerak. Sifat konsensuil jual beli ini ditegaskan dalam Pasal 1458 KUH.Perdata yang berbunyi, “ jual beli dianggap telah terjadi antara kedua belah pihak sewaktu mereka telah mencapai kata sepakat tentang barang dan harga, meskipun barang itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayar”.
Dalam hal membuktikan hak atas benda bergerak yaitu dengan membuktikan dokumen-dokumen yang melekat yang menyertai kendaraan / benda bergerak tersebut. Sebagai contoh : terhadap kendaraan bermotor, Buku Pemilikan Kendaraan
Bermotor atau yang lazim disebut dengan sebutan Buku Pemilikan Kendaraan Bermotor terhadap bukti ini memiliki banyak kelemahan, antara lain kelemahan yang dimaksud adalah, bahwa faktanya Buku Pemilikan Kendaraan Bermotor hanya
merupakan dokumen identitas kendaraan dan bukan dokumen kepemilikan kendaraan, sehingga sering ditemukan bahwa nama yang tercantum di Buku Pemilikan Kendaraan Bermotor bukanlah pemilik dari kendaraan tersebut. Terhadap benda bergerak lainnya, juga dapat dijadikan bukti adalah faktur pembelian, namun
akan tetapi dokumen faktur pembelian ini hanya sebagai salah satu dokumen pendukung saja. Terhadap pembentukan perjanjian jaminan fidusia, dasar kepemilikan benda bergerak lazimnya menggunakan Buku Pemilikan Kendaraan
yang melekat pada objek benda bergerak tersebut, misalkan menyangkut adanya
perjanjian pembiayaan terhadap objek ataupun beli sewa dengan angsuran.
C. Perjanjian Jual Beli di Bawah Tangan dan Kekuatan Hukumnya
Suatu perjanjian yang dibuat antar pihak satu dengan pihak yang lainnya yang
menyebabkan adanya perjanjian yang disepakati para pihak, yang disetujui dan ditandatangani bersama, memberikan kondisi yang pasti terhadap status para pihak tersebut, sehingga menimbulkan akibat hukum bagi mereka. Adapun akibat hukum dari perjanjian yang sah menurut hukum yang sesuati dengan ketentuan pada Pasal
1338 KUHPerdata, adalah sebagai berikut :
1. Setiap perjanjian yang dibuat secara sah oleh para pihak yang berjanji, maka berlaku sebagai undang-undang bagi para pembuatnya, yaitu para pihak itu
sendiri. Makna dari perjanjian yang telah disepakati oleh para pihak yang berjanji bersifat mengikat para pihaknya dalam melakukan ataupun tidak melakukan sesuatu. Apabila salah satu dari pihak tersebut melanggar
perjanjian, maka dapat dituntut secara hukum, baik perdata maupun pidana; 2. Perjanjian yang telah dibuat dengan kesepakatan para pihak tidak dapat
dibatalkan secara sepihak tanpa adanya kesepakatan dari para pihak ataupun tanpa adanya alasan tertentu dari pernyataan dalam undang-undang. Makna
3. Setiap perjanjian yang dibuat oleh para pihak yang berjanji harus dilaksanakan
dengan itikad baik. Makna dari itikad baik tersebut tidak dapat dilihat hanya dengan penafsiran biasa saja, namun penafsiran tersebut adalah berpedoman pada Pasal 1339 KUHPerdata, yaitu tunduk pada materi dalam perjanjian
yang menjadi kesepakatan para pihak serta melaksanakan isi perjanjian sesuai dengan sifat perjanjian yang berpedoman pada kepatutan, kebiasaan dan undang-undang.
Tugas dan pekerjaan dari seorang Notaris tidak hanya membuat akta otentik, tetapi juga melakukan pendaftaran dan mensahkan akta-akta yang dibuat di bawah
tangan (Legalisasi dan Waarmerking), memberikan nasehat hukum dan penjelasan undang-undang kepada para pihak yang membuatnya dan membuat akta pendirian dan perubahan Perseroan Terbatas, Yayasan, Wasiat juga termasuk pendaftaran
Fidusia124di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Mengenai legalisasi Pasal 1874 KUHPerdata menyatakan :
“Sebagai tulisan-tulisan di bawah tangan dianggap akta-akta yang ditandatangani di bawah tangan, surat-surat, register-register, surat-surat urusan rumah tangga dan lain-lain yang dibuat tanpa perantaraan seorang pegawai umum.
Dengan penandatangan sepucuk tulisan di bawah tangan dipersamakan suatu cap jempol dibubuhi dengan suatu pernyataan yang bertanggal dari seorang Notaris atau seorang pegawai lain yang ditunjuk oleh undang-undang dimana ternyata bahwa ia mengenal sipembubuh cap jempol atau bahwa orang ini telah diperkenalkan kepadanya, bahwa isinya akta telah dijelaskan
kepada orang itu, dan bahwa setelah itu cap jempol tersebut dibubuhkan dihadapan pegawai umum. Pegawai itu harus membukukan tulisan tersebut dengan undang-undang dapat diadakan aturan-aturan lebih lanjut tentang pernyataan dan pembukuan termaksud.”
Yang dimaksud dengan legalisasi adalah pengesahan dari surat surat yang
dibuat di bawah tangan dalam mana semua pihak yang membuat surat tersebut datang dihadapan Notaris, dan Notaris membacakan dan menjelaskan isi surat tersebut untuk selanjutnya surat tersebut diberi tanggal dan ditandatangani oleh para pihak dan akhirnya baru dilegalisasi oleh Notaris.125
Terhadap Surat di bawah tangan yang dilegalisasi oleh Notaris, maka Notaris bertanggung jawab atas 4 (empat) hal, yaitu :126
1. Identitas.
a. Notaris berkewajiban meneliti identitas pihak-pihak yang akan menandatangani surat/akta di bawah tangan (KTP, Paspor, SIM), atau diperkenalkan oleh orang lain.
b. Meneliti apakah cakap untuk melakukan perbuatan hukum.
c. Meneliti apakah pihak-pihak yang berwenang yang menandatangani surat/akta.
2. Isi Akta.
Notaris wajib membacakan isi akta kepada pihak-pihak dan menanyakan apakah benar isi akta yang demikian yang dikehendaki pihak- pihak.
125Ida Rosida Suryana, Serba-Serbi Jabatan Notaris,Universitas Padjajaran, Bandung, 1999,
hal. 19.
3. Tandatangan.
Mereka harus menandatangani di hadapan Notaris. 4. Tanggal.
Membubuhi tanggal pada akta di bawah tangan tersebut kemudian dibukukan
ke buku daftar yang telah disediakan untuk itu.
Tujuan dari legalisasi atas penandatanganan akta di bawah tangan adalah :127
1. Agar terdapat kepastian atas kebenaran tanda tangan yang terdapat dalam akta, dan juga kepastian atas kebenaran bahwa tanda tangan itu adalah benar sebagai tanda tangan Para Pihak ;
2. Dengan Demikian, para pihak pada dasarnya tidak leluasa lagi untuk menanda tangan yang terdapat pada akta.
Mengenai kewenangan untuk melakukan legalisir dan waarmerking, perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan Waarmerking adalah pendaftaran dengan membubuhkan cap dan kemudian mendaftarkannya dalam buku pendaftaran yang
disediakan.128
Sering orang membuat perjanjian, ditulis oleh pihak-pihak, tidak dibuat di hadapan Notaris. Tulisan yang demikian disebut di akta di bawah tangan. Di bawah
tangan ini adalah terjemahan dari bahasa Indonesia (onderhands).129 Juga termasuk pengalihan kendaraan bermotor kepada debitur lainnya dari debitur terdahulu sering
127M. Yahya Harahap,Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Bandung, 2005, hal. 597. 128Ida Rosida Suryana,Op. Cit, hal. 19.
129http://groups.yahoo.com/group/Notaris_Indonesia/message/3395 dikunjungi terakhir pada
terjadi pembuatan surat perjanjian dengan perjanjian yang dituangkan dasar
keinginan para pihak, sehingga Notaris memiliki tanggung jawab dalam melakukan legalisasi akta jual beli yang dilakukan tersebut.
Ada kalanya yang dibuat di bawah tangan itu, para pihak kurang puas bila
tidak dibubuhi cap oleh Notaris. Notaris dalam hal ini dapat saja membubuhkan cap pada akta-akta di bawah tangan itu. Sebelum membubuhkan cap Notaris, diberi nomor dan tanggal, nomor mana harus dicatat dalam buku (daftar akta), kemudian diberikan kata-kata dan ditandatangani oleh Notaris.
Letak perbedaan antarawaarmerkingdan legalisasi ialah bahwa :130
“Waarmerking hanya mempunyai kepastian tanggal saja dan tidak ada kepastian tanda tangan sedangkan pada legalisasi tanda tangannya dilakukan dihadapan yang melegalisasi, sedangkan untuk waarmerking, pada saat di-waarmerking, surat itu sudah ditandatangani oleh yang bersangkutan. Jadi yang memberikan waarmerking tidak mengetahui dan karena itu tidak mengesahkan tentang tanda tangannya.”
Pihak bank atau perusahaan pendanaan atau perusahaan pembiayaanbiasanya
dalam memberikan kredit kendaraan bermotor akan menentukan terlebih dahulu apa yang menjadi jaminan atau agunan dari kredit yang dikeluarkan, misalnya dalam kredit pembelian kendaraan bermotor yang menjadi agunan biasanya adalah BPKB dari kendaraan tersebut. Pihak perusahaan dengan ditentukan dari awal tentang apa
menjadi jaminan terhadap kredit yang diberikan akan memudahkan bagi bank untuk melakukan eksekusi bila terjadi wanprestasi karena sudah tentu apa yang menjadi agunannya.
130http://irmadevita.com/2008/legalisasi-dan-waarmerking dikunjungi terakhir pada 27 Juni
Dalam hal apabila Notaris diminta jasanya oleh bank untuk melakukan
pelaksanaan perjanjian kredit, maka akan terlebih dahulu melihat tentang bukti kepemilikan jaminan tersebut. Apabila telah dilihat dan dipastikan benar, maka sesuai pengaturan hukum yang ada, maka Notaris berkewajiban melegalisir fotokopi seluruh
identitas dan membuat akta perjanjian kredit secara otentik. Semuanya memang tergantung dari apa yang diinginkan kedua belah pihak. Jika yang diinginkan hanya akta perjanjian kredit dibawah tangan, maka akta tersebut hanya akan diberi legalisasi oleh Notaris untuk kemudian pengikatan jaminannya dilakukan secara Fidusia.
Sebagaimana definisi legalisasi yang tercantum pada KUHPerdata Pasal 1874 yang menyebutkan :
“Sebagai tulisan-tulisan di bawah tangan dianggap akta-akta yang ditandatangani di bawah tangan, surat-surat, register-register, surat-surat urusan rumah tangga dan lain-lain tulisan yang dibuat tanpa perantaraan seorang Pegawai Umum. Dengan penandatangan sepucuk tulisan di bawah tangan diersamakan suatu cap jempol, dibubuhi dengan suatu pernyataan yang bertanggal dari seorang Notaris atau seorang pegawai lain yang ditunjuk undang-undang darimana ternyata bahwa ia mengenal si pembubuh cap jempol, atau bahwa orang ini telah diperkenalkan kepadanya, bahwa isinya akta telah dijelaskan kepada orang itu, dan bahwa setelah itu cap jempol tersebut dibubuhkan dihadapan pegawai umum. Pegawai ini harus membukukan tulisan tersebut. Dengan undang-undang dapat diadakan aturan-aturan lebih lanjut tentang pernyataan danpembukuan termaksud”
Uraian definisi di atas memiliki makna pengertian bahwa akta yang diperbuat
oleh para pihak yang dibubuhi dengan tandatangan tersebut, mendapat pengesahannya dari notaris atau pejabat yang berwenang.
Dalam praktiknya, dengan semakin banyaknya orang menuangkan
dihadapan Notaris, tulisan demikian disebut akta di bawah tangan. Yang dalam
bahasa Belanda disebut denganonderhands.131
Ada kalanya perjanjian yang dibuat di bawah tangan itu, para pihak merasa kurang puas apabila tidak dicapkan di Notaris karena para pihak beranggapan
perjanjian di bawah tangan itu memiliki kekuatan hukum yang lemah. Notaris dalam hal ini dapat saja membubuhkan cap pada akta-akta di bawah tangan itu. Sebelum membubuhkan cap Nnotaris, diberi nomor dan tanggal, nomor mana harus dicatat dalam buku (daftar akta), kemudian diberikan kata-kata, dan ditandatangani oleh
Notaris. Dengan telah dilegalisasi akta di bawah tangan, maka bagi hakim telah diperoleh kepastian mengenai tanggal dan identitas dari pihak yang mengadakan perjanjian tersebut serta tanda tangan yang dibubuhkan di bawah surat itu benar
berasal dan dibubuhkan oleh orang yang namanya tercantum dalam surat itu. Orang yang membubuhkan tanda tangannya di bawah surat itu tidak lagi dapat mengatakan bahwa para pihak atau salah satu pihak tidak mengetahui apa isi surat itu, karena
isinya telah dibacakan dan dijelaskan terlebih dahulu sebelum para pihak membubuhkan tandatangannya dihadapan pejabat umum tersebut.
D. Kendaraan Bermotor Sebagai Objek Jaminan Fidusia Dialihkan oleh Debitur Pertama Kepada Pihak Lain Melalui Perjanjian Di Bawah Tangan Dalam Jaminan Fidusia Di Kota Batam
Dalam hal membuktikan hak atas benda bergerak yaitu dengan membuktikan dokumen-dokumen yang melekat yang menyertai kendaraan / benda bergerak
131http://groups.yahoo.com/group/Notaris_Indonesia/message/3395 , dikunjungi terakhir pada
tersebut. Sebagai contoh : terhadap kendaraan bermotor, Buku Pemilikan Kendaraan
Bermotor atau yang lazim disebut dengan sebutan BPKB, terhadap bukti ini memiliki banyak kelemahan, antara lain kelemahan yang dimaksud adalah, bahwa faktanya Buku Pemilikan Kendaraan Bermotor hanya merupakan dokumen identitas kendaraan
dan bukan dokumen kepemilikan kendaraan, sehingga sering ditemukan bahwa nama yang tercantum di Buku Pemilikan Kendaraan Bermotor bukanlah pemilik dari kendaraan tersebut. Terhadap benda bergerak lainnya, juga dapat dijadikan bukti adalah faktur pembelian, namun akan tetapi dokumen faktur pembelian ini hanya
sebagai salah satu dokumen pendukung saja. Terhadap pembentukan perjanjian jaminan fidusia, dasar kepemilikan benda bergerak lazimnya menggunakan Buku Pemilikan Kendaraan Bermotor dan kwitansi (faktur) pembelian atau juga didasari
oleh jenis perjanjian yang melekat pada objek benda bergerak tersebut, misalkan menyangkut adanya perjanjian pembiayaan terhadap objek ataupun beli sewa dengan angsuran.
Tan Kamello menjelaskan bahwa dalam praktek kehidupan sehari-hari, permasalahan yang sering terjadi adalah perihal mengenai status kepemilikan atas benda jaminan fidusia yang masih dipertanyakan status kepemilikannya, apakah milik kreditur penerima fidusia atatu debitur pemberi fidusia. 132 Hak kepemilikan benda
yang dijadikan agunan dalam konsep jaminan fidusia telah diallihkan dari debitur
132Tan Kamello, Op. Cit, hal 258. Disini Tan Kamello menyampaikan bahwa ditemukannya
kepada kreditur penerima fidusia yang berarti hak dari benda tersebut diserahkan
kepada kreditur namun akan tetapi kekuasaan atas benda tersebut secara fisik berada pada penguasaan debitur. Sehingga kreditur penerima fidusia adalah selaku pemilik hak, bukan sebagai pemegang hak jaminan.
Selaku pemilik hak harus diartikan sebagai pemilik jaminan atas benda, bukan pemilik benda sepenuhnya dalam pengertian jual beli. Kreditur sebagai pemilik hak, menguasai bukti kepemilikan atas objek kendaraan bermotor (BPKB dan bukti kwitansi pendukung lainnya)133.
Dengan demikian, status hak kebendaan atas objek kendaraan bermotor yang dibebankan dengan jaminan fidusia hak atas benda sepenuhnya dimiliki oleh kreditur, sedangkan debitur selaku pemberi fidusia memiliki hak untuk menikmati objek
jaminan yang dibebankan jaminan fidusia.
Transaksi jual beli sebagaimana yang diatur dalam ketentuan KUHPerdata, ditegaskan dalam Pasal 1459 yang secara tersirat menjelaskan bahwa sepanjang
penyerahannya tidak berpindah kepada si pembeli sebelum sesuai dengan ketentuan Pasal 612, 613 dan Pasal 616 KUHPerdata maka pengalihan hak atas benda tersebut belum berpindah.
Khusus perpindahan barang bergerak, pada Pasal 612 KUHPerdata
menyatakan bahwa penyerahan kebendaan bergerak dilakukan dengan menyerahkan yang nyata akan kebendaan tersebut oleh atau atas nama pemilik. Beralihnya hak
kepemilikian atas kendaraan bermotor berdasarkan pasal tersebut memiliki dua cara,
yaitu penyerahan dengan tangan pendek dan penyerahan dengan simbolis134.
Hak milik atas kendaraan bermotor belum terjadi peralihan dari lessee sebelum hak opsi beli dilaksanakan oleh pembeli, tetapi karena lessor memang
bertujuan sebagai penyandang dana, maka selaku perusahaan pembiayaan bukan sebagai pemilik, maka sudah selayaknya jika beban resiko dari suatu pembiayaan yang dalam keadaanforce majuredibebankan kepadalessee.
Dalam perjalanan perjanjian jaminan fidusia antara debitur dan kreditur sangat
memungkinkan terjadinya perpindahan kredit dari kreditur satu ke kreditur yang lainnya.
Hal ini dapat terjadi dengan alasan debitur sebagai peminjam dana ingin mencari bunga
lebih rendah pada kreditur yang lain, untuk itulah pengalihan jaminan fidusia ini dapat
terjadi.
Perbuatan mengalihkan barang jaminan kepada pihak ketiga tidak boleh
dilakukan oleh seorang debitur dengan jalan apapun tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari kreditur. Apabila hal tersebut terjadi, maka seluruh utang debitur kepada kreditur dapat ditagih secara seketika dan sekaligus, tanpa pemberitahuan secara tertulis terlebih dahulu oleh kreditur kepada debitur. Tindakan debitur tersebut dapat
dikatakan penggelapan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 372 KUHPidana dengan ancaman penjara selama-lamanya 4 tahun.135 Berbeda dengan Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Jaminan Fidusia menyatakan bahwa pemberi fidusia dilarang
134http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/lexprivatum/article/viewFile/1711/1353, dikunjungi
terakhir 12 November 2015, pada pukul 15:00 Wib.
mengalihkan, menggadaikan dan menyewakan objek yang menjadi jamin kepada
pihak lain kecuali dengan adanya persetujuan tertulis dari penerima fidusia.136 Apabila ketentuan tersebut dilanggar, maka berdasarkan Pasal 36 Undang-Undang Jaminan Fidusia , pemberi fidusia dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama
2 tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta Rupiah).137 Pengalihan jaminan fidusia telah diatur dalam Pasal 19 Undang-Undang Jamina Fidusia, yang isinya “pengalihan hak atas piutang yang dijamin dengan fidusia mengakibatkan beralihnya demi hukum segala hak dan kewajiban penerima
fidusia kepada kreditor baru”. Beralihnya jaminan fidusia didaftarkan oleh kreditor baru kepada Kantor Pendaftaran Fidusia.
Dalam praktik di Kota Batam, peralihan kendaraan bermotor yang dilakukan oleh debitur lama kepada debitur baru dilakukan dengan penyerahan nyata barang kendaraan bermotor tersebut dari tangan ke tangan pada saat penandatanganan perjanjian di bawah tangan. Momentum tersebut membuktikan bahwa debitur baru sudah menjadi pemilik atas fisik kendaraan bermotor. Namun secara yuridis, karena BPKB masih berada dalam penguasaan kreditur, pemilik kendaraan tersebut secara yuridis adalah orang yang namanya tercantum dalam BPKB (debitur pertama). Debitur baru akan menjadi pemilik kendaraan secara yuridis apabila telah terjadi pembalikan nama pada BPKB yang di proses pada Kantor SAMSAT Kota Batam.
Berdasarkan teori perlindungan yang dikemukakan di atas bahwa teori preventif dalam peralihan kendaraan bermotor sebagai objek jaminan fidusia kepada
pihak lain melalui perjanjian di bawah tangan, pihak perusahaan belum mengatur
secara detail tentang cara peralihan atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia kepada pihak lain. Peralihan hanya dibenarkan secara sumir dalam arti pihak debitur pertama hanya dapat mengalihkan apabila terdapat izin dari pihak perusahaan
pembiayaan terlebih dahulu.
Perlindungan hukum represif bahwa peralihan objek jaminan fidusia melalui perjanjian di bawah tangan belum diatur di dalam perjanjian pembiayaan dengan jaminan fidusia sehingga apabila terjadi wanprestasi debitur pertama maka
seharusnya pihak perusahaan dapat menggunakan hak preferensi yang diberikan oleh UUJF untuk melakukan eksekusi jaminan fidusia. Namun oleh karena debitur pertama telah mengalihkan objek jaminan fidusia kepada debitur kedua sehingga sulit
bagi perusahaan untuk mengkontrol adanya wanprestasi dari debitur pertama. Oleh karena itu penyelesaian sengketa yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan terhadap kelalaian debitur pertama tidak dapat dituntut melalui proses hukum formal
BAB IV
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMBELI DI BAWAH TANGAN ATAS KENDARAAN BERMOTOR YANG TERIKAT DALAM JAMINAN FIDUSIA
DAN BAGI PERUSAHAAN PEMBIAYAAN
A. Makna Perlindungan Hukum
Untuk mengetahui makna perlindungan hukum, tidak terlepaskan dari arti setiap kata yaitu kata “perlindungan” dan “hukum”. Perlindungan berarti tempat berlindung atau sembunyi.138sedangkan kata “hukum” mempunyai arti139:
1. Peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh pengusaha, pemerintah atau otoritas;
2. Undang-undang, peraturan dan sebagainya untuk mengatur pergaulan hidup
masyarakat;
3. Patokan (kaidah, ketentuan) mengenai peristiwa (alam dan sebagainya) yang tertentu;
4. Keputusan (pertimbangan) yang ditetapkan oleh hakim (di pengadilan) atau vonis.
Dengan demikian perlindungan hukum dapat diartikan sebagai melindungi masyarakat dari segala pelanggaran dan kejahatan yang diberikan oleh hukum yang berupa undang-undang maupun keputusan hakim sebagai yurisprudensi.
138Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Modern English
Press Edisi II, Jakarta, 1995, hal. 876.
139Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka
B. Perlindungan Hukum Bagi Pembeli Kendaraan Bermotor Secara Di Bawah
Tangan
Dengan terbitnya Undang-undang Jaminan Fidusia banyak para penjual benda bergerak secara angsuran beralih dari penggunaan perjanjian beli sewa kepada
penerapan lembaga jaminan fidusia karena dapat memberikan kepastian hukum (legal certainty) yang lebih kuat baik bagi perusahaan pembiayaan yang mendanai penjualan secara anggsuran.
Kepastian hukum yang lebih kuat dalam pengikatan jaminan fidusia bagi
penjual barang secara angsuran tersebut antara lain :
1. Undang-Undang Jaminan Fidusia merupakan undang-undang yang paling tepat dan secara khusus mengatur mengenai pengikatan jaminan barang
bergerak, yaitu berupa barang dagangan, barang persediaan, piutang, peralatan mesin, dan kendaraan bermotor.
2. Melalui lembaga jaminan fidusia, kreditur berkedudukan sebagai kreditur
preferensi yang ditanadai dengan adanya Sertifikat Jaminan Fidusia yang memiliki kekuatan eksekutorial yang memungkinkan Kreditur dapat menjual atas kekuasaannya sendiri (eigen van machtige verkoop) jika debitur wanprestasi.
3. Pelaksanaan eksekusi dimungkinkan untuk dilakukan di bawah tangan dan pemberi jaminan fidusia wajib untuk menyerahkan benda objek jaminan
Jaminan fidusia lebih tepat dijadikan sebagai lembaga jaminan dalam proses jual
beli angsuran pada kegiatan perusahaan pembiayaan.Dalam perusahaan pembiayaan
terdapat tiga pihak yang terlibat yaitu penjual, pembeli dan penyedia dana. Secara umum
proses jual beli secara angsuran melalui perusahaan pembiayaan dengan mempergunakan
lembaga fidusia dimulai dengan kesepakatan antara pembeli dengan penjual (supplier)
untuk melakukan jual beli secara angsuran. Kemudian Pihak Penjual memberikan pilihan
kepada pembeli untuk memilih perusahaan pembiayaan yang akan digunakan.
Berikutnya penjual akan menjadi perantara antara pembeli dengan perusahaan
pembiayaan. Setelah adanya kesepakatan antara pembeli dengan perusahaan pembiayaan,
selanjutnya pihak perusahaan pembiayaan akan memesan dan membayar kenderaan
tersebut kepada pihak penjual atas nama pembeli dan akan membayarkan jumlah harga
kenderaan tersebut kepada penjual atas nama pembeli. Pada saat inilah terjadi utang
piutang antara Pembeli dengan Perusahaan Pembiayaan yang dituangkan dalam
perjanjian kredit konsumen dalam bentuk perjanjian pembiyaan konsumen. Dalam
konstruksi hukum yang demikian, tidak ada hubungan hukum antara penjual dengan
pembeli.
Untuk menjamin utang tersebut, maka pihak pembeli menjaminkan hak kepemilikannya tersebut kepada Perusahaan Pembiayaan dengan bukti bahwa Buku
Dengan di daftarkannya akta perjanjian fidusia, maka Kantor Pendaftaran
Fidusia akan mencatat akta jaminan fidusia dalam buku Dafar Fidusia dan kepada kreditur diberikan Sertifikat Jaminan Fidusia. Saat pendaftaran akta pembebanan fidusia adalah melahirkan jaminan fidusia bagi pemberi fidusia, memberi kepastian
kepada kreditur lain mengenai benda yang dibebani jaminan fidusia dan memberikan hak yang didahulukan kepada kreditur dan untuk memenuhi asas publisitas karena Kantor Pendaftaran Fidusia terbuka untuk umum.140
1. Perlindungan Hukum Terhadap Kreditur (Penerima Fidusia)
Perlindungan hukum terhadap kreditur dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia dapat dilihat dalam ketentuan dalam Pasal 20 sebagai berikut :
“Jaminan Fidusia tetap mengikuti benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dalam tangan siapapun benda tersebut berada, kecuali pengalihan atas benda persediaan yang menjadi objek Jaminan Fidusia”
Perlindungan yang sama juga dapat dilihat pada Pasal 23 ayat (2) yang mana sanksi atas pelanggaran ketentuan tersebut adalah ancaman pidana sebagaimana yang
dimaksud dalam Pasal 36 Undang-Undang jaminan Fidusia :
“Setiap orang dengan sengaja memalsukan, mengubah, menghilangkan atau dengan cara apapun memberikan keterangan yang menyesatkan, yang jika hal tersebut diketahui oleh salah satu pihak tidak melahirkan perjanjian jaminan fidusia, dipidana dengan pidana penjara paing singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling sedikit Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah)”
Pasal 23 ayat (2) UUJF berbunyi :
140Purwahid Patrik dan Kashadi,Hukum Jaminan,Fakultas Hukum UNDIP, Semarang, 2000,
“pemberi fidusia dilarang mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan kepada pihak lain Benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang tidak merupakan benda persediaan, kecuali dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari penerima fidusia”.
Atas segala tindakan dan kelalaian yang dilakukan pemberi fidusia, maka
penerima fidusia tidak bertanggung jawab, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 Undang-Undang jaminan Fidusia :
“Penerima Fidusia tidak menanggung kewajiban atas akibat tidakan atau kelalaian Pemberi Fidusia baik yang tibul dari hubungan kontraktual atau yang timbul dari perbuatan melanggar hukum sehubungan dengan penggunaaan dan pengalihan benda yang menjadi objek jaminan fidusia.”
Pada intinya maksud/tujuan dari perjanjian jaminan fidusia dari segi perlindungan hukum bagi kreditur adalah memberikan hak istimewa atau hak didahulukan baginya guna pelunasan hutang-hutang debitur (asas schuld dan
haftung).141
2. Perlindungan Hukum Terhadap Debitur Kedua
Di dalam Perjanjian Pembiayaan Jaminan Fidusia sudah diatur hubungan
hukum antara kreditur (perusahaan pembiayaan) dengan konsumen sebagai debitur. Hubungan hukum yang dituangkan dalam perjanjian tersebut antara lain adalah :
a. Debitur menjamin bahwa barang yang dibeli diperoleh dari pencairan fasilitas pembiayan dari kreditur dan bukan dari lembaga pembiayaan lain.
141
Perhatikan https://adityoariwibowo.wordpress.com/2013/01/26/schuld-dan-haftung/
b. Debitur berkewajiban menyerahkan kepada kreditur semua data, informasi
dan dokumen sebagai persyaratan pembiayaan dan selanjutnya menjadi milik kreditur yang tidak perlu dikembalikan kepada debitur.
c. Debitur berkewajiban mendahulukan setiap kewajiban untuk membayar
angsuran yang ditetapkan oleh kreditur, dan debitur tidak dapat menggunakan alasan apapun termasuk hilangnya barang, keadaan memaksa, belum dibayarnya klaim dari pihak asuransi ataupun alasan lain yang terjadi pada debitur untuk menunda pembayaran angsuran tersebut. Demikian pula atas
keterelambatan pembayaran angsuran, debitur diwajibkan membayar denda sebesar 0,3 %.
d. Debitur dinyatakan wanprestasi dan oleh karenanya wajib melunaskan seluruh
hutangnya dengan sekaligus atau menyerahkan barang jaminan kepada kreditur dan kreditur berhak menagih pelunasan seluruh kewajiban hutang dari debitur berdasarkan prosedur penanganan pembayaran tanpa memerlukan
pemberitahuan, teguran atau tagihan dari kreditur atau juru sita pengadilan.
Dari hubungan hukum tersebut tidak terlihat adanya pengaturan debitur
pertama dengan debitur kedua, hubungan hukum antara perusahaan pembiayaan dengan debitur kedua. Namun dalam praktik terdapat hubungan hukum antara debitur pertama dengan debitur kedua melalui pengalihan benda jaminan fidusia dengan cara
menjadi persoalan bagaimana sebenarnya perlindungan hukum terhadap debitur
kedua yang diberikan oleh hukum kepada debitur kedua.
UUJF hanya mengatur mengenai debitur pertama yang melakukan cidera janji yang dapat dilihat dalam Pasal 29 Undang-Undang jaminan Fidusia:
“1) Apabila debitur atau Pemberi Fidusia cidera janji, eksekusi
terhadap benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dapat dilakukan dengan cara: a. Pelaksanaan titel eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat 2
oleh Penerima Fidusia;
b. Penjualan Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia atas kekuasaan Penerima Fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutang dari hasil penjualan;
c. Penjualan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan Pemberi dan Penerima Fidusia jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan para pihak.
2) Pelaksanaan penjualan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf c dilakukan setelah lewat 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh Pemberi atau Penerima Fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentigan dan diumumkan sedikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan. Pasal 32 Undang-Undang Jaminan Fidusia :
“Setiap janji untuk melaksanakan eksekusi terhadap Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dengan cara yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dan Pasal 31, batal demi hukum” Dari ketentuan pasal tersebut dapat dilihat bagaimana kreditur menggunakan
haknya melalui eksekusi terhadap benda jaminan apabila debiturnya ingkar janji. Perusahaan pembiayaan tidak dibenarkan membuat janji eksekusi selain sebagaimana yang sudah ditentukan oleh undang-undang apabila dibuat janji eksekusi yang
Berdasarkan Perjanjian Pembiayaan Jaminan Fidusia antara perusahaan
dengan debitur pertama dan UUJF tidak terdapat ketentuan yang mengatur perlindungan hukum bagi debitur kedua yang telah menerima peralihan barang jaminan dari debitur pertama berdasarkan perjanjian jual beli di bawah tangan.
Menurut Tan Kamello, bahwa perlindungan hukum ini harus dilihat dalam kerangka hukum perdata dengan memperhatikan asas itikad baik. Dalam asas ini bahwa pembeli barang yang beritikad baik harus mendapatkan perlindungan hukum. Berdasarkan hasil penelitian bahwa debitur kedua yang melanjutkan pembayaran
cicilan kepada kreditur (preusahaan pembiayaan) diterima dengan baik dan tanpa dipersoalkan, namun ketika debitur kedua setelah melunasi angsuran dan kemudian ingin mendapatkan BPKB, pihak perusahaan pebiayaan tidak berkenan memberikan
BPKB tersebut. Perbuatan tidak menyerahkan BPKB kepada debitur kedua adalah perbuatan yang bertentangan dengan hukum, karena perusahaan pembiayaan telah menerima seluruh angsuran dari debitur kedua. Apabila kreditur tidak menyerahkan
BPKB kepada debitur kedua, seharusnya perusahaan pembiayaan tidak akan menerima pembayaran dari debitur kedua.
3. Perlindungan Hukum Terhadap Pihak Ketiga
Terhadap pihak ketiga perlindungan hukum yang diberikan terdapat pengaturannya pada ketentuan di Pasal 18 Undang-Undang jaminan Fidusia:
“Segala keterangan mengenai Benda yang menjadi objek Jaminan
Ketentuan dari pasal ini menunjukkan bahwa terhadap jaminan fidusia
berlaku asas publisitas, asas ini perlu karena adanya sifat droit de suitedari status hak jaminan.
Pasal 22 Undang-Undang jaminan Fidusia :
“pembeli benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang merupakan benda persediaan bebas dari tuntutan meskipun pembeli tersebut mengetahui adanya Jaminan Fidusia itu, dengan ketentuan bahwa pembeli telah membayar lunas harga penjualan Benda tersebut sesuai dengan harga pasar.”
C. Perlindungan Hukum Bagi Perusahaan Pembiayaan
Dalam hukum jaminan fidusia yang dilakukan melalui Perusahaan Pembiayaan sebagaimana yang telah diuraikan pada sub bab sebelumnya, bahwa konsumen yang membeli kenderaan bermotor melalui perusahaan pembiayaan
diwajibkan untuk mengikatkan diri melalui perjanjian jaminan fidusia. Hal ini dilakukan oleh Perusahaan Pembiayaan dalam rangka untuk menghindari risiko atas kerugian apabila konsumen tidak dapat membayar angsuran kepada krediturnya.
Pengikatan jaminan atas kenderaan bermotor yang dilakukan secara beli angsuran tersebut dilakukan secara sempurna sampai dengan tahap pendaftaran jaminan fidusia ke Kantor Pendaftaran Fidusia yang dilakukan secara on line. Hal ini untuk memberikan kedudukan kreditur preferen kepada Perusahaan Pembiayaan, sehingga
apabila debitur konsumen melakukan wanprestasi maka pihak kreditur dengan mudah dapat melakukan penarikan benda jaminan dari debitur.
Dari hasil penelitian ini, dijumpai bahwa konsumen yang menjadi debitur
melalui perjanjian di bawah tangan.Hal ini menimbulkan problem yuridis bagi
kreditur yaitu kepada siapakah diserahkan hak milik atas kenderaan bermotor apabila debitur yang menerima peralihan kenderaan bermotor (debitur kedua) tersebut sudah tidak berada lagi di tempat kediaman semula sesuai dengan KTP yang diberikan pada
saat perjanjian pembiayaan dibuat.Secara ekonomis Perusahaan Pembiayaan tidak mengalami kerugian karena debitur kedua sudah melunasi angsuran kepada krediturnya.Kewajiban pembayaran utang yang semula berada pada debitur pertama dialihkan kepada debitur kedua melalui perjanjian di bawah tangan tanpa
sepengetahuan atau mendapat persetujuan dari Perusahaan Pembiayaan. Padahal dalam perjanjian awal yang dilakukan debitur pertama dengan Perusahaan Pembiayaan ditegaskan bahwa objek jaminan kendaraan bermotor tidak boleh
dialihkan kepada pihak manapun. Bagi debitur kedua yang telah melakukan pembayaran angsuran untuk melunasi kewajiban hukum debitur pertama kepada Perusahaan Pembiayaan menuntut hak atas kenderaan bermotor kepada Perusahaan
Pembiayaan untuk menyerahkan BPKB, tetapi Perusahaan Pembiayaan tidak sedemikian mudah untuk memberikannya karena secara yuridis yang berhak adalah debitur pertama. Debitur kedua mengatakan kepada Perusahaan Pembiayaan bahwa antara debitur pertama dengan debitur kedua telah membuat perjanjian di bawah
dan bagaimanakah kekuatan hukumnya dalam kaitannya dengan peralihan hak atas
jaminan benda kenderaan bermotor di Perusahaan Pembiayaan.
Dalam Pasal 1865 KUHPerdata dikatakan “setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak, atau, guna meneguhkan haknya sendiri maupun
membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut”. Berkaitan dengan permasalahan di atas bahwa debitur kedua sudah mendapatkan haknya dari debitur pertama dengan menunjukkan peristiwa hukumnya bahwa debitur kedua mendapatkan hak tersebut
melalui perjanjian di bawah tangan.Dalam hukum perdata, suatu pembuktian dapat dilakukan melalui akta di bawah tangan atau akta otentik.
Undang-Undang tidak memberikan pengertian secara yuridis mengenai
perjanjian di bawah tangan, tetapi dalam Pasal 1874 KUHPerdata dikatakan bahwa : Sebagai tulisan-tulisan di bawah tangan dianggap akta-akta yang ditandatangani di bawah tangan, surat-surat, register-register, surat-surat urusan rumah tangga dan lain-lain tulisan yang dibuat tanpa perantaraan seorang pegawai umum Dengan penandatangan sepucuk tulisan di bawah tangan dipersamakan suatu cap jempol, dibubuhi dengan suatu pernyataan yang bertanggal dari seorang notaris atau seorang pegawai lain yang ditunjuk oleh undang-undang darimana ternyata bahwa ia mengenal si pembubuh cap jempol, atau bahwa orang ini telah diperkenalkan kepadanya bahwa isinya akta telah dijelaskan kepada orang itu, dan bahwa setelah itu cap jempol tersebut dibubuhkan di hadapan pegawai tadi. Pegawai ini harus membukukan tulisan tersebut.
terhadap akta di bawah tangan tersebut memiliki kekuatan yang sempurna seperti
akta otentik. Berikut ini dikutipkan bunyi Pasal 1875 KUHPerdata sebagai berikut : Suatu tulisan di bawah tangan yang diakui oleh orang terhadap siapa tulisan itu hendak dipakai, atau yang dengan cara menurut undang-undang dianggap sebagai diakui, memberikan terhadap orang-orang yang menandatanganinya serta para ahli warisnya dan orang-orang yang mendapat hak dari pada mereka, bukti yang sempurna seperti suatu akta otentik, dan demikian pula berlakulah ketentuan Pasal 1871 untuk tulisan ini.
Namun undang-undang tetap memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk tidak mengakui atau mengingkari tanda tangannya, tetapi apabila kepada
seseorang diajukan suatu bukti tulisan di bawah tangan maka ia wajib secara tegas mengakui atau menolaknya (Pasal 1876 KUHPerdata).
Dalam kaitan dengan hasil penelitian ini, perusahaan pembiayaan bukannya
dapat saja mengakui atau mengingkari tanda tangan yang dibubuhkan pada perjanjian di bawah tangan dengan segala akibat hukum terhadap peralihan hak objek jaminan kenderaan bermotor yang dilakukan oleh debitur pertama kepada debitur kedua.
Suatu perjanjian di bawah tangan membuktikan pernyataan kehendak atau niat dari kedua belah pihak, membuktikan adanya kata sepakat jika perjanjian itu ditepati oleh salah satu pihak terhadap pihak lainnya. Dalam perjanjian di bawah tangan, salah satu pihak dapat membuktikan, bahwa ia mempunyai hak untuk
menuntut lawannya,142 dengan memperhatikan perlindungan hukum bagi yang memiiki itikad baik (te goede trouw, in good faith).
142Lihat Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, Sinar
Adanya perjanjian di bawah tangan antara debitur pertama dengan debitur
kedua diperlukan untuk pembuktian di kemudian hari bahwa antara mereka telah terjadi perbuatan hukum untuk mengalihkan hak milik atas benda yang menjadi jaminan fidusia pada Perusahaan Pembiayaan. Kesulitan hukum bagi debitur kedua
adalah pada saat momentum yuridis penagihan hak dari Perusahaan Pembiayaan yang tidak memberikan hak atas milik kenderaan bermotor kepada debitur kedua dengan alasan bahwa perikatan semula adalah antara debitur pertama dengan Perusahaan Pembiayaan. Solusi hukum yang dapat ditawarkan sebagai alternatif
adalah pertama, debitur kedua membuat surat pernyataan kepada Perusahaan Pembiayaan yang isinya pelepasan tanggung jawab apabila debitur pertama menuntut hak milik atas kenderaan bermotor kepada Perusahaan Pembiayaan, maka yang
bertanggung jawab secara hukum adalah debitur kedua sesuai dengan perjanjian di bawah tangan. Kedua, debitur kedua dapat mempergunakan haknya untuk mempertahankan melalui jalur litigasi atau non litigasi dengan menuntut haknya
kepada Perusahaan Pembiayaan agar menyerahkan BPKB atau hak milik kendaraan bermotor tersebut kepadanya. Debitur kedua dapat menunjukkan semua bukti-bukti pembayaran lunas angsuran dan pembayaran yang telah dilakukan kepada debitur pertama (misalnya kwitansi, angsuran tiap bulan), sehingga Perusahaan Pembiayaan
tidak mengalami kerugian secara ekonomis. Ketiga, apabila terjadi pengakuan dari debitur pertama di kemudian hari mengenai kenderaan bermotor tersebut adalah miliknya, maka Perusahaan Pembiayaan dapat menunjukkan semua bukti yang telah
1. Peralihan Hak Atas Milik Kendaraan Bermotor Di Bawah Tangan Dalam
Jaminan Fidusia Di Kota Batam
Pada PT. Astra Credit Company Kota Batam, terdapat jenis pembiayaan dalam bentuklease backdan pembiayaan.Lease back merupakan kredit perorangan,
sedangkan pembiayaan merupakan kerjasama antara pihak Bank dan pihak Dealer.143 Dalam perjanjian kredit yang diberikan perusahaan kepada konsumen, dan demi tercapainya kesepakatan dan persetujuan antara kedua belah pihak yang memiliki keinginan yang saling menguntungkan, maka perusahaan pembiayaan
melakukan penelitian terhadap calon debitur selaku penerima kredit.144
Tidak didaftarkannya jaminan fidusia adalah merupakan pelanggaran yang sering terjadi dilakukan kreditur, hal ini tetap dilakukan kreditur meskipun kreditur
menyadari adanya ketentuan yang mengatur tentang kewajiban pendaftaran jaminan fidusia yang sebagaimana tercantum dalam Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang
143Pentra, Senior Staff Marketing, PT. Astra Kredit Company, Kota Batam, pada hari Selasa
18 Agustus 2015, pada pukul 09:30 Wib
144
Faktor-faktor yang harus dimiliki oleh calon debitur antara lain :
Jaminan Fidusia. Pelanggaran yang dilakukan kreditur dalam perjanjian kredit dengan
menggunakan jamian fidusia yaitu kreditur tidak mendaftarkan jaminan fidusia pada Kantor Pendaftaran Jaminan Fidusia dan kreditur mendaftarkan jaminan fidusia setelah debitur bersangkutan telah melakukan waprestasi.
Kantor Pendaftaran Fidusia tidak dapat menolak menerima pendaftaran, hal ini disebabkan karena tidak terdapatnya ketentuan yang mengatur tentang daluarsa perihal pendaftaran jaminan fidusia yang masuk. Kantor Pendaftaran Fidusia juga tidak diperkenankan melakukan investigasi atau penyelidikan terhadap informasi
yang tertera dalam formulir pendaftaran jaminan fidusia, melainkan hanya diperkenankan untuk memeriksa kelengkapan data yang dicantumkan dalam formulir pendaftaran saja.
Dengan dilakukan pendaftaran maka keluar sertifikat jaminan fidusia dan jaminan fidusia berlaku pada saat tanggal pembuatan pendaftaran jaminan fidusia, bukan pada saat tanggal pembuatan perjanjian kredit.145
Akibat hukum pendaftaran jaminan fidusia setelah debitur wanprestasi, adalah mengacu pada ketentuan hukum positif sebagai berikut :
1. Pasal 14 ayat (3) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yang menentukan bahwa jaminan Fidusia lahir pada tanggal yang sama
dengan tanggal dicatatnya Jaminan Fidusia dalam Buku Daftar Fidusia, yang
145Bachtiar Sibarani, Aspek Hukum Eksekusi Jaminan Fidusia, Makalah dalam Seminar
mana memiliki korelasi dengan peralihan hak atas milik kendaraan bermotor di
bawah tangan dalam jaminan fidusia.
2. Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yang menentukan bahwa apabila debitur cidera janji, Penerima Fidusia
mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia atas kekuasaannya sendiri.
3. Pasal 7 ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta
Jaminan Fidusia yang menentukan bahwa jaminan fidusia lahir pada tanggal yang sama dengan tanggal Jaminan Fidusia dicatat.
4. Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor :
130/PMK.010/2012 tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia bagi Perusahaan Pembiayaan yang melakukan Pembiayaan Konsumen untuk Kendaraan Bermotor dengan Pembebanan Jaminan Fidusia yang menentukan bahwa Perusahaan
Pembiayaan dilarang melakukan penarikan benda jaminan fidusia berupa kendaraan bermotor apabila Kantor Pendaftaran Fidusia belum menerbitkan sertifikat jaminan fidusia dan meyerahkannya kepada perusahaan pembiayaan. 5. Pasal 4 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
130/PMK.010/2012 tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia bagi Perusahaan Pembiayaan yang melakukan Pembiayaan Konsumen untuk Kendaraan Bermotor dengan Pembebanan Jaminan Fidusia yang menentukan bahwa penarikan benda
memenuhi ketentuan dan persyaratan sebagaimana diatur dalam undang-undang
mengenai jaminan fidusia dan telah disepakati oleh para pihak dalam perjanjian pembiayaan konsumen kendaraan bermotor.
6. Pasal 3 ayat (6) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia Nomor 10 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia secara Elektronik yang menentukan bahwa setelah melakukan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5), Pemohon pendaftaran fidusia mencetak Sertifikat Jaminan Fidusia yang telah ditandatangani secara elektronik oleh
Pejabat Pendaftaran Jaminan Fidusia, yang relevansinya dengan judul tesis ini adalah kemudahan didaftarkannya jaminan fidusia dikarenakan dapat dilakukan secara elektronik.
Berdasarkan norma hukum yang terdapat dalam peraturan-peraturan tersebut dapat dikatakan masalah pendaftaran jaminan fidusia yang diperintahkan oleh UU Jaminan Fidusia ditindaklanjut oleh peraturan pelaksananya baik berupa Peraturan
Pemerintah maupun Peraturan Menteri Keuangan. Dengan didaftarkan jaminan fidusia ke Kantor Pendaftaran Fidusia maka akibat hukumnya adalah : pertama, melahirkan hak kebendaan bagi kreditur, antara lain kreditur berhak menjual benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan sendiri tanpa campur tangan
pengadilan. Kedua, jaminan fidusia lahir ditentukan pada saat pendaftaran, berarti pengakuan jaminan fidusia adalah berkaitan dengan asas publisitas. Ketiga, khusus bagi kreditur (Perusahaan Pembiayaan) dilarang melakukan penarikan objek jaminan
Larangan ini bersifat imperatif artinya apabila dilakukan oleh perusahaan pembiayaan
maka penarikan objek jaminan fidusia adalah tidak sah.Keempat, sertifikat jaminan fidusia dapat dilakukan secara elektronik dan hal ini memberi kemudahan bagi Pejabat Pendaftaran Jaminan Fidusia. Hal ini menunjukkan adanya perubahan hukum
dari pendaftaran secara manual kepada pendafataran elektronik.
Pada PT. Astra Credit Company Kota Batam, terdapat jenis pembiayaan dalam bentuklease backdan pembiayaan.Lease back merupakan kredit perorangan, sedangkan pembiayaan merupakan kerjasama antara pihak Bank dan pihak Dealer.146
Pada Perusahaan pembiayaan kredit pembiayaan kendaraan bermotor Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam, terdapat berbagai macam permasalahan kredit yang sering timbul. Hal ini dapat dilihat dari data penjualan kendaraan bermotor pada tahun 2014, PT. Astra Sedaya Finance sebanyak 132.043 unit kendaraan bermotor, PT. Astra Sedaya Finance sebanyak 26.427 unit kendaraan, sedangkan PT. Swadharma Bhakti Sedaya Finance sebanyak 105.919 unit kendaraan bermotor yang dijual dengan menggunakan jaminan fidusia.147
Timbulnya potensi resiko permasalahan ini adalah sebagai bukti bahwa kredit adalah bagian kehidupan dari perusahaan pembiayaan. Namun akan tetapi sering diasumsikan bahwa kredit bermasalah sama dengan kredit macet. Padahal secara teorinya keduanya memiliki makna yang berbeda.148
146
Wawancara, Pentra, Op. Cit.,Dalam hasil wawancara dengan Pentra menyampaikan bahwa pada PT. Astra Credit Companies di Kota Batam terdapat lebih dari satu jenis pembiayaan yang dilakukan perusahaan untuk melayani kebutuhan masyarakat (calon debitur) dengan bentuklease back dan pembiayaan.
147Perhatikan Tabel 1, hal 9 Tesis ini.
148http://raypratama.blogspot.com/2012/02/pengertian-kredit-dan-jenis-jenisnya.html ,
Kredit bermasalah149 adalah kredit dengan kolektibilitas macet ditambah
dengan kredit yang memiliki kolektibilitas diragukan yang mempunyai potensi menjadi macet. Sedangkan kredit maceet adalah kredit yang angsuran pokok dan bunganya tidak dapat dilunasi selama lebih dari 2 (dua) masa angsuran. Dengan
demikian, kredit macet merupakan kredit bermasalah, tetapi kredit bermasalah belum tentu kredit macet. Hal demikian dapat disebabkan karena :
a. Faktor internal : yang disebabkan oleh kebijakan kredit yang kurang menunjang, kelemahan sistem dan prosedur penilaian kredit, pemberian dan
pengawasan kredit yang menyimpang dari prosedur, itikad yang kurang baik dari debitur.
b. Faktor eksternal : yang disebabkan oleh lingkungan usaha debitur, musibah
atau kegagalan usaha, persaingan antar perusahaan pembiayaan yang tidak sehat.
Namun seberapapun tingkat permasalahan kredit, nyatanya setiap lembaga pembiayaan pasti mengalami masalah kredit bermasalah, dan mereka berusaha agar kredit bermasalah tersebut tidak terjadi dan dapat di-identifikasi potensi terjadinya
masalah dari awal.
Ironisnya lagi, untuk menyikapi debitur yang menunggak melakukan pembayaran, dewasa ini sering ditemukan pihak debt collector melakukan
pengambilan secara paksa atas unit kendaraan bermotor dari tangan debitur.
Menyikapi hal ini Pentra pada sesi wawancara menyampaikan dukungannya terhadap
perilaku debt collector dalam upaya penarikan unit, namun dengan cara yang lebih komunikatif untuk dilakukan pendekatan dan penyuluhan, bukan dengan cara pemaksaan. Hal ini diyakini Ratna150 menjadi salah satu cara yang jitu untuk
mengantisipasi tindak kekerasan yang dilakukan debt collector terhadap debitur. Memang langkah ini harus dilalui menurut Ratna guna untuk mengurangi terjadinya peningkatan angka piutang tak tertagih (account receivable) di perusahaan Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam yang dimonitoring oleh Bank Indonesia (BI).
Penyebab terjadinya kredit yang bermasalah pada Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam yang terdiri antara lain dari :151
1. Iklim usaha debitur.
Hal ini lazimnya disebabkan oleh penurunan usaha konsumen (debitur) disebabkan oleh kemunduran sektor pendapatan / usaha si debitur. Sehingga cash flowsi debitur menjadi berjalan tidak baik dan mengalami
kesulitan dalam memenuhi kewajiban angsuran rutin bulanan. 2. Debitur (konsumen) menjadi korban penipuan pihak ketiga.
Konsumen (debitur) mengalokasikan sejumlah dana kepada pihak ketiga untuk guna kepentingan bisnis yang disepakati konsumen kepada pihak
ketiga, namun pada kenyataannya dana yang diberikan konsumen telah digelapkan oleh pihak ketiga.
150Ratna Kumala Sari, Senior Counter Sales, PT. Toyota Auto Agung Finance, Kota Batam,
pada hari Selasa 18 Agustus 2015, pada pukul 14:30 Wib.
3. Penyalahgunaan kredit.
Perihal penyalahgunaan kredit biasanya disebabkan karena terdapatnya perbedaan yang cukup tinggi antara harga mobil di pulau Jawa dan luar pulau Jawa yang menyebabkan pengusaha yang berdomisili di luar pulau
Jawa tertarik untuk membeli kendaraan di Pulau Jawa, namun terbentur oleh permasalahan identitas konsumen. Hal ini disebabkan karena salahsatu syarat administrasi kredit kendaraan bermotor yang harus dilengkapi adalah kartu identitas yang dalam hal ini adalah Kartu Tanda
Penduduk (KTP) suami / isteri konsumen. Tempat domisili konsumen yang dicantumkan dalam akta jaminan fidusia adalah sesuai dengan alamat yang tertera pada KTP, alhasil agar dapat memperoleh pembiayaan
kredit kendaraan bermotor dari Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam, konsumen meminjam KTP kerabat yang berdomisili di pulau Jawa dengan alasan hubungan baik.
4. Profile Konsumen
Sebelum dilakukan pencairan pembiayaan kredit kendaraan bermotor oleh Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam, serveyor melakukan survey perihal kelayakan, kapasitas serta kemampuan keuangan konsumen untuk
melakukan pembayaran angsuran secara rutin hingga masa pelunasan sesuai dengan tenor yang disepakati. Namun akan tetapi, dengan alasan mengejar target penjualan dan target komisi, sales dealer sering
surveyor terhadap calon pembeli. Alhasil, surveyor yang telah memiliki
hubungan baik dengan sales dealer akan mengikuti permohonan sales dealer. Ini mengakibatkan surveyor menilai kelayakan dan profile konsumen secara keseluruhan bersifat subjektif dan berpotensi menjadi
kendala dikemudian hari.
5. Dana telah digunakan untuk keperluan lain
Semakin panjangnya masa tenor kredit kendaraan bermotor, maka akan berpeluang akan semakin besarnya tingkat tanggungan rutin bulanan dari
si konsumen. Ini berdampak terhadap akan berpeluangnya dana yang akan dialokasikan untuk membayar angsuran bulanan kredit kendaraan bermotor untuk biaya tak terduga lainnya, misalnya untuk biaya berobat,
biaya rumah sakit, uang sekolah anak dan lain yang bersifat kebutuhan umum keluarga.
2. Cara Penyelesaian Masalah pada Astra Credit Companies (ACC) Kota
Batam
Penelitian dilakukan pada Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam,
diperoleh informasi perihal pola penyelesaian masalah yang kerap dialami oleh Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam yang dapat diuraikan sebagai berikut :152
1. Penyelesaian yang bersifat intern oleh Astra Credit Companies (ACC) Kota
Batam.
152Hasil wawancara Linda Gohan, Kepala Departement Servie Area Astra Credit Companies
Setiap permasalahan yang dialami oleh Astra Credit Companies (ACC) Kota
Batam, terdapat suatu bagian atau departemen khusus yang menangani perihal permasalahan yang terjadi. Adapaun departemen yang berperan dalam hal ini adalah Problem Account Officer Department / Collection.
Linda Gohan, selaku Kepala Departemen Service Area Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam menyebutkan bahwa adalah suatu kewajiban Departemen Service untuk memperhatikan data pembayaran konsumen yang telah jatuh tempo namun belum atau tidak dilakukan pembayaran oleh
konsumen kepada pihak Astra Credit Companies (ACC) dilakukan terlebih dahulu upaya penagihan dengan cara yang lebih persuasif yang dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
a. MelakukanDesk Call /kontak melalui telepon kepada konsumen.
TahapanDesk Call dilakukan terhadap piutang konsumen yang jatuh tempo dengan jangka interval antara 1 s/d 14 hari kalender. Dalam
tahapan ini yang diutamakan adalah melakukan pendekatan secara pribadi ataupun pendekatan secara khusus (personal approach) dengan menyampaikan kepada konsumen bahwa hutang atas unit kendaraannya pada Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam telah jatuh tempo, dan
memberikan penjelasan kepada konsumen selaku debitur sebab akibat dari keterlambatan pembayaran atas hutang yang jatuh tempo tersebut, baik diantaranya denda keterlambatan harian, maupun akibat hukum yang akan
b. Kontak Lapangan / Kontak Langsung (field call)
Setelah melewati masa 1 s/d 14 hari kerja ternyata konsumen juga tidak berperilaku kooperatif dan konsumen tidak memberikan tanggapan, maka departemen service akan mengunjungi domisilli konsumen yang sesuai
tertera di perjanjian guna untuk mengupayakan lebih lanjut pembayaran hutang konsumen. Komunikasi dengan pendekatan yang baik dan secara kekeluargaan tetap dilakukan pada masa field call, baik denegan melakukan hub via telepon ataupun kunjungan persuasif memberikan
Surat Peringatan I yang berlaku selama 7 hari, dan pada hari 8 akan terbit Surat Peringatan II sampai hari ke 15. Bila setelah pengiriman Surat Peringatan II konsumen belum memberikan repon positif, maka akan
dikirmkan Surat Peringatan III kepada konsumen yang memiliki masa berlaku sampai dengan hari ke 21.
c. Departement Problem Account Officer / Collection
Dalam masa desk call dan field call, unit kendaraan masih berada di tangan konsumen, namun bila tahapan tersebut tidak tuntas maka Departemen Service melimpahkan permasalahan kepada Department Problem Account Officer / Collection. Departement ini mengambil
langkah yang bersifat tegas sekaligus meminta komitmen keseriusan konsumen untuk memenuhi tanggung jawab konsumen atau tidak bersedia untuk memenuhi tanggung jawab selaku konsumen kepada Astra Credit
memberikan batasan waktu, apabila konsumen tidak memiliki itikad baik
maka unit kendaraan akan ditarik. Namun apabila kendaraan sebagai barang jaminan, terdapat kemungkinan tidak akan dilakukan penarikan bila konsumen masih memiliki itikad baik untuk melanjutkan kredit dan
kooperatif menuntaskan segala kewajiban yang terhutang. Kendaraan konsumen dapat di “titipkan” pada Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam sebagai jaminan hingga waktunya konsumen sanggup membayar.153
Linda juga menyatakan bahwa setelah kendaraan ditarik pihak Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam, maka prosedur penyelesaian yang dilakukan adalah dengan pengiriman Surat Penyelesaian Hutang (SPH).
Surat ini bersi perihal tentang pernyataan dari pihak perusahaan pembiayaan bahwa bilamana dalam waktu 7 hari kalender konsumen tidak menyelesaikan hutang maka kendaraan akan dijual. Keditur memiliki
wewenang untuk menjual kendaraan yang ditarik yang dinyatakan dalam
153Salah satu mantan petugas tagih yang enggan identitasnya untuk dicantumkan sebagai
Perjanjian Pembiayaan Dengan Jaminan Fidusia beserta Syarat dan
Ketentuan Umum Perjanjian Pembiayaan Dengan Jaminan Fidusia. Dalam perjanjian ini dinyatakan bahwa apabila kreditur tidak mampu melunasi hutangnya, atau tidak memenuhi kewajibannya kepada kreditur maka
tanpa melalui pengadilan terlebih dahulu, kreditur berhak dan dengan ini debitur memberi kuasa penuh dengan hak substitusi kepada kreditur untuk melakukan tindakan lain yang diperlukan, termasuk juga mengambil dimanapun kendaraan tersebut berada dan termasuk kuasa untuk menjual
dimuka umum atau secara dibawah tangan atau dengan perantara dengan menggunakan jasa pihak lain, dengan harga pasar yang layak sesuai dengan syarat dan ketentuan yang dianggap baik oleh kreditur. Setelah
unit kendaraan ditarik oleh kreditur, debitur melepaskan haknya untuk membayar jumlah angsuran yang telah jatuh tempo tersebut dan kreditur berhak penuh melaksanakan penjualan atas barang yang diambil tersebut.
Kendaraan yang telah ditarik oleh Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam dalam waktu 14 hari akan dilelang. Namun sebenarnya konsumen masih diberi kesempatan untuk menjual mobil yang di fasilitasi pembiayaan tersebut, dalam arti konsumen diberi kesempatan untuk
mencari pembeli. Apabila dengan cara demikian didapatkan pembeli dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan cara pelelangan, maka hal ini harus dibicarakan dengan pihak Department Problem
dahulu. Jika dikaitkan dengan teori hukum mengenai jaminan fidusia,
seorang debitur yang sudah tidak mampu membayar cicilan kredit harus mengembalikan kenderaannya kepada perusahaan pembiayaan, namun dalam praktik konsumen masih diberi kesempatan untuk menjual
kenderaan dengan harga lebih tinggi. Hal ini merupakan penyimpangan hukum yang dilakukan, sehingga terjadi pelanggaran atas norma hukum jaminan fidusia.
Astra Credit Companies (ACC) Kota Batam selaku perusahaan
pembiayaan sebenarnya sudah mencantumkan perihal mengenai penarikan unit kendaraan dalam perjanjian. Klausula tersebut tercantum dalam Perjanjian Pembiayaan Dengan Jaminan Fidusia, dalam Syarat dan
Ketentuan Umum Perjanjian Pembiayaan Dengan Jaminan Fidusia. Dalam Syarat dan Ketentuan Umum Perjanjian Pembiayaan Dengan Jaminan Fidusia ini dinyatakan bahwa apabila debitur tidak melunasi hutangnya
dan atau tidak memenuhi kewajibannya kepada kreditur, maka tanpa melalui wewenang pengadilan terlebih dahulu kreditur berhak dan dengan ini debitur memberi kuasa dengan hak subsitusi kepada kreditur untuk melakukan tindakan lain yang diperlukan, termasuk mengambil
ketentuan yang mana dianggap baik oleh Astra Credit Companies (ACC)
Kota Batam selaku kreditur.
Penarikan kendaraan debitur dan data mengenai kendaraan yang akan dijual oleh Departemen Probelem Account Officer kemudian
diberitahukan kepada Departement Service yang dengan saat bersamaan juga Departement Problem Account Officer menyiapkan surat kuasa untuk menjual yang telah ditandatangani oleh konsumen. Surat kuasa ini merupakan perjanjian yang diatur dalam buku ketiga KUHPerdata (Pasal
1972) dapat dibenarkan tetapi dalam perjanjian jaminan fidusia yang merupakan bagian dari hukum benda adalah tidak dibolehkan memberikan surat kuasa karena jika debiturnya wanprestasi, maka kreditur melakukan
penjualan umum melalui pelelangan. Hasil lelang atas benda adalah jika terdapat kelebihan harga penjualan akan dikembalikan kepada debitur dan jika terdapat kekurangan akan menjadi utang bagi debitur, yang dapat
ditagih di kemudian hari oleh kreditur.
Namun tata cara menjual kendaraan yang ditarik sepenuhnya ditentukan oleh Departement Service berikut juga dengan pola pelaksanaannya dilaksanakan oleh Department Service yaitu dengan cara
mempublikasikan dan atau mengundang minimal 2 atau lebih pengusaha penjual mobil bekas (dealer) untuk melihat dan memperhatikan kendaraan tarikan di pool yang disertai berikut daftar kendaraan yang ditarik dan