• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN SINERGITAS ORANGTUA SEKOLAH DALAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERAN SINERGITAS ORANGTUA SEKOLAH DALAM"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN SINERGITAS ORANGTUA-SEKOLAH

DALAM MEMODERASI IMPLEMENTASI

MANAJEMEN PENJAMINAN MUTU

INTERNAL, DAN IMPLEMENTASI KONSEP

SIT (SEKOLAH ISLAM TERPADU) PADA

PEMBENTUKAN KARAKTER ISLAMI SISWA

DI SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU

PROPOSAL

TESIS

diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Magister Pendidikan

Oleh

NOVA MEGA PERSDA

0102515022

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Proposal tesis dengan judul “Peran Sinergitas Orangtua-Sekolah dalam Memoderasi Implementasi Penjaminan Mutu Internal Sekolah dan Implementasi Konsep Sekolah Islam Terpadu Terhadap Pembentukan Karakter islami pada Sekolah Dasar Islam terpadu”, Karya :

Nama : Nova Mega Persada

NIM : 0102515022

Program Studi : Manajemen Pendidikan

Telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Seminar Proposal Tesis. Semarang, 9 Januari 2016

Pembimbing I Pembimbing II

(3)

DAFTAR ISI

Halaman Judul Lembar Pengesahan Daftar Isi

Daftar Tabel Daftar Gambar

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian 1.2 Orisinilitas Penelitian

1.3 Rumusan Masalah Penelitian 1.4 Tujuan Penelitian

1.5 Manfaat Penelitian

2. Kajian Pustaka dan Pengembangan Hipotesis Penelitian 2.1 Kajian Teori Dasar (Grand Theory)

2.2 Kajian Variabel Penelitian 2.3 Kajian Penelitian Terdahulu

2.4 Kerangka Berfikir dan Model Penelitian Empiris 2.5 Hipotesis Penelitian

3. Metode Penelitian 3.1 Desain Penelitian

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3 Vriabel Penelitian

3.4 Teknik Pengambilan Data & Uji Instrumen 3.5 Teknik Analisis Data

(4)

DAFTAR TABEL

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Peran Teori Kognisi Sosial menjelaskan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen Gambar 2.2 Komponen Karakter yang baik

(6)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH PENELITIAN

Dalam membangun generasi pemimpin masa depan, pemilik peradaban, pendidikanlah yang menjadi ujung tombak yang akan membentuknya. Pendidikan yang mereka lalui saat ini yang akan mengasah kemampuannya, akan mempertajam daya pikirnya, akan melejitkan kreativitasnya dan akan membimbing emosionalnya. Sebagaimana teori kecerdasan majemuk yang dicetuskan oleh Dr. Howard Gardner, keberhasilan sesorang tidak hanya diperoleh melalui kecerdasan intelektualnya saja tetapi ada banyak kecerdasan lain, dimana masing-masing individu memiliki kecenderungan pada kecerdasan yang berbeda. Dari semua kecerdasan tersebut ada hal yang paling mendasar yang akan menjadi pijakan dan pondasi bagi keselarasan kehidupan sesorang, yaitu bagaimana seseorang mampu beradaptasi dan diterima oleh lingkungannya dimanapun mereka berada, hal yang dapat membimbingnya selalu melalui jalan kebenaran, sejalan dengan keyakinan dan norma yang dianutnya serta dianut masyarakat beradab, hal tersebut adalah Karakter positif.

(7)

Muhammad Alwi (2014:34) mengatakan bahwa “karakter dimaknai sebagai kehidupan berperilaku baik/ penuh kebajikan terhadap pihak lain (Tuhan Yang Maha Esa, manusia, dan alam semesta) serta terdapat diri sendiri”, selanjutnya beliau menuliskan bahwa “pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, budi pekerti, moral dan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati”.

“Berdasarkan penelitian sejarah dari seluruh negara yang ada di dunia ini, pada dasarnya pendidikan memiliki dua tujuan, yaitu membimbing para generasi muda untuk menjadi cerdas dan memiliki perilaku berbudi”. (Lickona, 2013:7), “Pendidikan karakter merupakan salah satu solusi untuk memperbaiki degradasi moralitas atau degradasi karakter generasi muda saai ini dan di masa depan, khususnya peserta didik di sekolah. Kesadaran mengintegrasikan nilai-nilai karakter melalui pendidikan, karena pendidikan terbukti menjadi sarana efektif bagi penanaman tata nilai, budaya, ideologi, dan sebagainya. Pendidikan juga dipercaya menjadi sarana proses ‘memanusiakan’ manusia, manusia menjadi

(8)

berbagai media, seperti televisi, koran, dan media sosial, memperlihatkan hal yang sangat ironis terjadi di kalangan generasi muda Indonesia.

Menurut KPAI, saat ini kasus bullying menduduki peringkat teratas pengaduan masyarakat, dari 2011 hingga Agustus 2014, KPAI mencatat 369 pengaduan terkait masalah tersebut. Jumlah itu sekitar 25% dari total pengaduan di bidang pendidikan sebanyak 1.480 kasus. (Republika, Rabu 15 Oktober 2014, dalam www. Kpai.go.id/berita/kasus bullying). KPAI juga melaporkan bahwa data BNN 2010 menyebutkan, pengguna narkoba mencapai 3,6 juta orang. Rinciannya generasi muda dan usia produktif adalah pengguna narkoba terbanyak. Mereka terdiri dari mahasiswa dan pelajar berjumlah 921.695. Komisi perlindingan anak memperkirakan 21 juta anak Indonesia menjadi perokok dan meningkat setiap tahunnya. Kini usia Prevalensi anak merokok bergeser hingga usia tujuh tahun. (www.kpai.go.id/artikel/peta-permasalahan-perlindungan-anak-di-iindonesia/).

Di Samping itu, tidak kalah mencengangkan yakni hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah hati terhadap anak Indonesia diantaranya adalah catatannya mengenai pornografi pada anak, sekitar 67% dari 2.818 siswa SD kelas 4-6 sudah pernah mengakses pornografi, menurut Elly Risman, S.Psi direktur Yayasan kita dan buah hati “ padahal efeknya dapat merusak otak dan otomatis menghancurkan masa depan mereka”. (http://majalah.hidayatullah.com/2010/08/).

(9)

mengambil hak orang lain secara paksa, menyampaikan pendapat dengan cara yang anarkis dan lain sebagainya.

Dari paparan di atas menunjukkan ada sesuatu yang hilang dan terkikis dari diri seseorang yaitu karakter baik, sesuatu yang menggerakkan mekanisme tubuh dan cara berfikir dari dalam diri yang mampu membedakan perbuatan baik dan perbuatan buruk, karena sesungguhnya sangatlah tidak berarti pengetahuan yang dimiliki sesorang apabila digunakan dengan cara yang salah sehingga dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosinya, mengubah cara pandangnya dan membentuk kepribadiannya secara positif sangatlah diperlukan.

Dalam hal ini institusi pendidikan memiliki peran kunci yang dominan dalam memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan pengaplikasian tentang karakter positif, sepatutnya sekolah bukan hanya tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan semata, tetapi lebih dalam lagi adalah bagaimana sekolah tersebut membentuk kepribadian yang baik, dimana kepribadian tersebut mengakar jauh dan kuat dalam jiwa seseorang sehingga apapun aktivitas dan perbuatannya akan mencerminkan kedalaman dan kekuatan kepribadian tersebut dan menjelma menjadi sebuah kebiasaan baik atau positive habitual.

(10)

jiwanya, serta menciptakan lingkungan yang penuh energi positif yang akan memberikan motivasi positif pula, demi kesuksesan dan keharmonisan seseorang dengan lingkungannya.

Untuk mengetahui determinan apasaja yang dapat mempengaruhi pembentukan karakter ada pendapat yang bisa menjadi pertimbangan diantaranya adalah Campbell dan R. Obligasi (1982) menyatakan ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang yaitu 1). Faktor keturunan, 2). Pengalaman masa kanak-kanak, 3). Pemodelan oleh orang dewasa atau orang yang lebih tua, 4) Pengaruh lingkungan sebaya, 5) Lingkungan fisik dan sosial, 6) Subtansi materi di sekolah atau lembaga pendidikan lain, 7) Media massa. (http//www.Membumikan-pendidikan.blogspot.com/2014/10)

(11)

sesuai dengan standar sekolah”. Sedangkan penjaminan mutu sendiri memiliki pengertian sebagai berikut “Penjaminan mutu pendidikan adalah kegiatan sistemik dan terpadu oleh satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah daerah, Pemerintah, dan masyarakat untuk menaikkan tingkat kecerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan”. (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan, pasal 1 ayat 2).

Dalam riset yang dilakukan oleh Harli Trisdiono (2015) yaitu untuk mengetahui keefektifan dan dampak (effect size) diklat capacity building audit mutu internal tingkat Provinsi D.I. Yogyakarta yang diselenggarakan oleh LPMP D.I. Yogyakarta tahun 2015, didapatkan hasil bahwa “Diklat capacity building audit mutu internal tingkat Provinsi D.I. Yogyakarta yang diselenggarakan oleh LPMP D.I. Yogyakarta tahun 2015 memiliki dampak yang besar yang ditunjukkan dari nilai effect size sebesar 0,80, artinya diklat tersebut mempunyai efek yang besar terhadap perubahan pengetahuan dan keterampilan peserta, diharapkan pula akan terbentuk karakter positif dalam peningkatan kualitas kinerjanya”. Riset lainnya mengatakan bahwa “sekolah telah berperan dalam pembentukan karakter religius siswa, dengan pemberian bekal yang baik yang di ajarkan oleh guru seperti menanamkan nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran, memberi pengetahuan yang cukup di bidang pengetahuan umum maupun dalam pengetahuan teknologi.” (Agustina, Suntoro, dan Nurmalisa, 2013). Riset Agustinova (2012) dalam tesisnya mengatakan bahwa “budaya sekolah yang bermutu mendukung pelaksanaan penanaman karakter pada siswa, dengan menggunakan pendekatan dan metode pembelajaran yang bisa mengaktifkan peserta didik, mempermudah proses penanaman nilai-nilai karakter”. Riset Flurentin (2014), faktor self Awareness juga mempengaruhi pembentukan karakter siswa, selain itu, riset Juono (2014), konsep sekolah islam terpadu (integratif) dapat membentuk karakter positif pada siswa.

(12)

pengaruhnya masih terlihat fruktuatif, kadang dapat menguat dan kadang juga lemah, hasil yang ditemukan oleh Agustina, Suntoro dan Nurmalisa (2013) dari perhitungan dengan menggunakan rumus persentase maka hasil penelitian dikategorikan sangat berperan sehingga dari hasil pengujian tersebut dapat diketahui bahwa terdapat peran yang sangat kuat dan signifikan antara Peran Sekolah Islam terpadu dalam pembentukan karakter religius siswa. Pada riset Agustinova (2013), terdapat hambatan pada implementasi konsep SIT pada pembentukan karakter yaitu pendidik kurang bisa memahami karakteristik masing-masing siswa dan kurangnya partisipasi aktif orang tua dalam proses penanaman karakter, sedangkan Sulistiyowati (2015), pengendalian standar mutu dalam pendidikan karakter untuk memperbaiki faktor penyebab standar mutu dalam pendidikan karakter tidak tercapai, dan memberikan saran agar kepala sekolah sebaiknya meningkatkan komunikasi dengan orang tua dalam pengasuhan karakter siswa.

(13)

Lickona (2013), mengatakan bahwa “meskipun sekolah mampu meningkatkan pemahaman awal para siswanya ketika mereka ada di sekolah, kemudian bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa sekolah mampu melaksanakan hal tersebut, sikap baik yang dimiliki oleh anak-anak tersebut perlahan akan menghilang jika nilai-nilai yang diajarkan disekolah tersebut tidak mendapatkan dukungan dari lingkungan rumah. Dengan alasan tersebut, sekolah dan keluarga harusnya seiring dalam menyikapi masalah yang mncul. Dengan adanya kerjasama antara kedua pihak, kekuatan yang sesungguhnya dapat dimunculkan untuk meningkatkan nilai moral sebagai seorang manusia dan untuk meningkatkan kehidupan sosial di negara ini”. Sumarsono (2015), dalam risetnya menulis, “Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Oleh karena itu, orang tua dan guru adalah mitra yang perlu bergandengan tangan saat menuntun tumbuh kembang peserta didik”. “The research literature is unequivocal in showing that parental involvement makes a significant difference to educational achievement”. (Bull, Brooking, and Campbell : New Zealand Council for Educational Research, 2008). Oleh karena itu, faktor sinergitas orang tua-sekolah menjadi sangat penting untuk dapat memoderasi proses pembentukan karakter islami siswa.

(14)

1.2 RUMUSAN MASALAH PENELITIAN

Dari seluruh paparan diatas, untuk lebih memperjelas arah penelitian ini maka dapat dituangkan dalam rumusan masalah sebagai berikut :

1. Apakah secara signifikan implementasi manajemen penjaminan mutu internal berpengaruh terhadap pembentukan karakter islami siswa? 2. Apakah segara signifikan implementasi konsep sekolah islam terpadu

berpengaruh terhadap pembentukan karakter islami siswa?

3. Apakah secara signifikan Sinergitas orangtua-sekolah berpengaruh terhadap implementasi manajemen penjaminan mutu internal?

4. Apakah secara signifikan Sinergitas orangtua-sekolah berpengaruh terhadap implementasi konsep sekolah islam terpadu?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya maka tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Untuk menganalisis pengaruh implementasi manajemen penjaminan mutu internal terhadap pembentukan karakter islami siswa

2. Untuk menganalisis pengaruh implementasi konsep sekolah islam terpadu terhadap pembentukan karakter islami siswa

3. Untuk menganalisis peran Sinergitas orangtua-sekolah terhadap implementasi manajemen penjaminan mutu internal

4. Untuk menganalisis peran Sinergitas orangtua-sekolah terhadap implementasi konsep sekolah islam terpadu

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Dilakukannya penelitian ini adalah atas dasar mencari nilai kebaikan dan kemanfaatan yang akan memberikan jalan ataupun alternatif pilihan untuk dapat membenahi dan memperbaiki sistem pembentukan karakter yang telah ada saat ini, selanjutnya dijabarkan sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis a. Verifikasi Teori

(15)

implementasi konsep sekolah islam terpadu yang memberikan pengaruh terhadap pembentukan karakter tersebut.

b. Pengembangan Teori

Peneliti mengharapkan agar penelitian ini dapat memberikan pengembangan teori, yaitu dengan menghadirkan variabel moderating berupa adanya peran sinergitas orangtua-sekolah yang dapat memperkuat pengaruh variabel-variabel independen terhadap dependennya, bahwa dengan hadirnya variabel moderating maka proses pembentukan karakter siswa akan jauh lebih efektif dan memberikan pengaruh yang signifikan.

2. Manfaat Praktis a. Perbaikan Kinerja

Peneliti mengharapkan bahwa dengan adanya penelitian ini dapat memberikan sumbangsih pada adanya perbaikan kinerja manajemen dalam hal ini adalah sekolah, hasil dari penelitian ini dapat menjadi acuan dalam menerapkan pembentukan karakter islami pada siswa secara lebih efektif.

b. Perbaikan strategi

(16)

BAB II

KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Kajian Teori Dasar (Grand Theory)

2.1.1 Teori Kognisi Sosial Albert Bandura

Dalam sebuah hadist Rasulullah Muhammad SAW, beliau bersabda

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR. Bukhari), hadits tersebut mengatakan bahwa karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat dimana ia tinggal, sedangkan dalam Al Qur’an surat Ar Rum (30):30, Allah berfirman “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa, manusia lahir ke dunia telah membawa sifat-sifat positif (Fitrah), hal ini menjadi dasar teori pembentukan karakter manusia dalam islam yaitu manusia dilahirkan telah membawa sifat positif dan kemudian lingkungan akan memberikan peranan lebih dominan dalam pembentukannya.

(17)

ahli ilmu jiwa berkebangsaan Jerman. Teori ini mengatakan bahwa seseorang terlahir dengan pembawaan baik dan juga pembawaan buruk. Bakat dan pembawaan yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya lingkungan yang sesuai dengan perkembangan bakat dan pembawaan tersebut. Dengan demikian paham/ aliran teori ini menggabungkan antara pembawaan sejak lahir dan lingkungannya yang menyebabkan anak mendapatkan pengalaman. William Stern menjelaskan pemahamannya tentang pentingnya pembawaan, bakat dan lingkungan itu dengan perumpamaan dua garis yang menuju satu titik pertemuan. Oleh karena itu teorinya dikenal dengan sebutan konvergensi (memusat ke satu titik). Menurut teori konvergensi hasil pendidikan anak dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pembawaan dan lingkungan. Diakui bahwa anak lahir telah memiliki potensi yang berupa pembawaan. Namun pembawaan yang sifatnya potensial itu harus dikembangkan melalui pengaruh lingkungan, termasuk lingkungan pendidikan, oleh sebab itu tugas pendidik adalah menghantarkan perkembangan semaksimal mungkin potensi anak sehingga kelak menjadi orang yang berguna bagi diri, keluarga, masyarakat, nusa, dan bangsanya. ( http://muhammad-win-afgani.blogspot.co.id/2010/01/tiga-teori-yang-melandasi-pendidikan.html).

(18)

Albert Bandura. Penamaan baru dengan nama Teori Kognitif Sosial ini dilakukan pada tahun 1970-an dan 1980-an. Ide pokok dari pemikiran Bandura (Bandura, 1962) juga merupakan pengembangan dari ide Miller dan Dollard tentang belajar meniru (imitative learning). Pada beberapa publikasinya, Bandura telah mengelaborasi proses belajar sosial dengan faktor-faktor kognitif dan behavioral yang memengaruhi seseorang dalam proses belajar sosial. (Hargenhahn & Olson, 2014, 382).

Dalam pembentukan perilaku seseorang menurut Bandura dalam teori agen manusia memiliki ciri utama :

Pertama, agen anusia dicirikan oleh intentionality (intensionalitas) yangn didefinisakan Bandura (2001) sebagai “representasi arah tindakan yang akan dilakukan di masa depan“ (h.6). Dengan kata lain intensionalitas melibatkan arah perencanaan tindakan untuk tujuan tertentu. Jadi seseorang yang ingin belajar main golf atau piano akan membuat rencana untuk mengikuti kursus, berlatih setiap minggu, berlangganan majalah yang relevan, dan sebagainya. Tetapi, rencana itu sendiri tidak menjamin individu akan bisa menguasai keterampilan itu; ada kemungkinan hasilnya tidak sesuai rencana.

Kedua, agan manusia ciririkan oleh forethrought (pemikiran ke depan), yang didefinisikan sebagai antisipasi atau perkiraan konsekuensi dari niat kita. Orientasi ke masa depan ini memandu perilaku kita ke arah akuisisi hasil positif yang menjauhkan diri dari hasil negatif, dan karenanya bertindak sebagai fungsi motivasi. Calon pegolf memperkirakan agan mengikuti liga golf, mendapat teman baru dan kursus golf, bermain di turnamen amatir, dan sebagainya. Repreentasi kognitif dari tujuan itulah yang akan memberikan motivasi dan pedoman serta tunduk pada regulasi-diri berdasarkan anggapan kecakapan diri, keyakinan, dan standar moral. Dalam contoh pegolf di atas, ia tidak membanyangkan dirinya akan bermain curang, atau menjadi pegolf proifesional tingkat dunia.

(19)

Karakter Islami Siswa Lingkungan (Pengalaman langsung atau observasi tak langsung)

Teori Kognitif Sosial (Albert Bandura)

Pengalaman langsung ataupun tak langsung seperti observasi yang dilakukan seseorang pada lingkungannya akan membentuk pengetahuan dan perilakunya yang menjadi dasar bagi pembentukan karakter orang tersebut Penjaminan Mutu Internal Sekolah

Konsep Sekolah Islam Terpadu

Sinergitas Orang tua-Sekolah

‘melakukan hal-hal yang membuat mereka pua, rasa bangga, dan bermartabat, dan tak mau berbuat sesuatu yang menimbulkan kekecewaan, merendahkan diri, dan mempermalukan diri” (h.8). Ciri ini berfungsi memandu pelaksanaan perilaku aktual.

Terakhir, agen manusia dicirikan oleh self-reflectivenees (kereflektifan diri), kemampuan metakognisi untuk merenungkan arah, konsekuensi, dan makna dari rencana dan tindakan kita. (Hargenhahn & Olson, 2014:384-385)

Teori Bandura ini memberikan dasar yang jelas mengenai bagaimana perilaku seseoranng terbentuk, yang apabila terus menerus dilakukan maka akan terbentuklah pengetahuan sebagai karakter.

Gambar 2.1

Peran Teori Kognisi Sosial menjelaskan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen

2.1.2 Teori Pendidikan Islam Ibnu Khaldun

(20)

nampak jelas, ketika Ibnu Khaldun menjelaskan pencapaian malakah dalam proses belajar. Malakah yang terbentuk dalam proses belajar, atau melalui latihan keterampilan dari suatu industri tidak lain adalah buah dari suatu aktivitas intelektual di dalam suatu waktu. Pandangan demikian sejalan dengan teori mutakhir pendidikan modern, yang mengatakan, bahwa belajar harus melibatkan akal dan fisik secara serempak. Belajar tidak akan benar dan sempurna jika hal itu tidak terjadi. Teori ini mendasari bahwa metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat memfasilitasi seluruh cara belajar anak yatu adapat melibatkan fisik, akal dan jiwa anak didik, apabila hal tersebut dapat terpenuhi maka proses pembentukan karakter islami akan dapt terlaksana dengan baik.

2.1.3 Teori Interaksi Sosial George Simmel

Teori Interaksi Sosial milik George Simmel, Simmel memandang bahwa interaksi itu memiliki peran yang penting dalam kehidupan. Menurut Pandangannya, masyarakat dapat terbentuk karena adanya interaksi, bukan adanya kelompok orang yang hanya diam. Menurut Simmel dalam interaksi tidak memementingkan berapa jumlah orang yang berinteraksi, yang penting adalah adanya interaksi. Jadi, melalui interaksi timbal balik, dimana individu saling berhubungan dan saling mempengaruhi, maka masyarakat itu akan muncul. Dalam teori ini Simmel berpendapat bahwa “Meningkatnya ukuran kelompok atau masyarakat akan meningkatkan kebebasan individu. Jadi kelompok atau masyarakat kecil cenderung mengontrol individu sepenuhnya. Namun, pada masyarakat yang lebih luas, individu cenderung terlibat dalam sejumlah kelompok yang masing-masing hanya mengontrol sebagian kecil dari keseluruhan kepribadian”. Yang menjadi sorotan kita disini adalah pada masyarakat yang lebih luas, individu cenderung terlibat dalam sejumlah kelompok yang masing-masing hanya mengontrol sebagian kecil dari keseluruhan kepribadian.

(21)

orang tua sebagai mitra sekolah dan siswa sebagai sasaran pendidikan dimana seluruh elemen itu harus dapat sinergis demi tercapainya tujuan bersama yaitu terbentuknya perilaku islami anak.

2.2 Kajian Variabel Penelitian 2.2.1 Karakter Islami Siswa

Karakter adalah sebuah perilaku yang menjadi sebuah kebiasaan, dalam hal ini karakter positif maka setiap tindakan, dan perbuatan positif yang menjadi kebiasaan pada diri seseorang (habit). Karakter dimaknai sebagai kehidupan berperilaku baik/penuh kebajikan, terhadap pihak lain (tuhan yang Maha Esa, manusia, dan alam semesta), serta terhadap diri sendiri. (Alwi, 2014, 34). Thomas Lickona dalam bukunya Educating for Character (Mendidik untuk Membentuk Karakter) menulis “Seorang filsuf Yunani bernama Aristoteles mendefinisikan karakter yang baik sebagai kehidupan dengan melakukan tindakan-tindakan yang benar sehubungan dengan diri seseorang dan orang lain.” (Lickona, 2013, 80).

Menurut American Dictionary of English Language (2001:2192), karakter itu didefinisikan sebagai kualitas-kualitas yang teguh dan khusus yang dibangun dalam kehidupan seseorang, yang menentukan responnya tanpa pengaruh kondisi-kondisi yang ada. (Wibowo, 2013, 8). Sementara dalam kamus bahasa Indonesia kata “karakter” diartikan sebagai tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, dan watak...(Depdiknas, 2008:682 dalam wibowo, 2013,8). Karakter adalah objektivitas yang baik atas kualitas manusia, baik bagi manusia diketahui atau tidak. Kebaikan-kebaikan tersebut ditegaskan oleh masyarakat dan agama di seluruh dunia. (Lickona,2012,16).

Secara linguistik oleh Anas Salahuddin & Irwanto Alkrienchiehie memberikan beberapa pengertian diantaranya:

(22)

b. Karakter mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan.

c. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak. d. Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap

individu untuk hidup dan bekerja sama baik keluarga, masyarakat atau bangsa. (Setiawan, 2014, 5)

Lickona (2013,84) menggambarkan komponen-komponen karakter yang baik ke dalam tiga domain yang aling mempengaruhi satu dengan yang lain dalam cara apapun, seperti dijelaskann dalam diagram berikut :

Gambar 2.2

Komponen Karakter yang baik

P

e

n

g

e

t

a

h

u

a

n

M

o

r a

l

P

e

r a

s

a

a

n

m

o

r

a

l

T

i

n

d

a

k

a

n

M

o

r

(23)

Sedangkan yang dimaksud dengan karakter islami adalah nilai-nilai karakter yang bersandar dengan nilai-nilai islam. Dalam agama islam nilai ini disebut dengan akhlakul karimah atau akhlak yang baik. Adisusilo (2014, 54) menjelaskan bahwa Akhlak dlah istilah yang berasal dari bahasa Arab yang artinya sama atau mirip dengan “budi pekerti” yang berasal dari bahasa Sansekerta, yang memilliki kedekatan dengan istilah “tata krama”. Akhlak pada dasarnya mengajarkan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan Tuhan, Allah Penciptanya, sekaligus bagaimana seseorang harus berhubungan dengan sesama manusia. Inti ajaran akhlak adalah nilai kuat untuk berbuat sesuai dengan ridha Allah.

Bagi seorang muslim (orang yang beragama Islam), memilik akhlak yang baik merupalan sebuah keharusan. Menurut Sa’is Hawwa (2003, 1) diantara hal terpenting yang harus diketahui oleh setiap muslim ialah keseluruhan akhlak islam. Dijelaskan oleh Ibnu Qoyyim (2001, 204) akhlak yang baik adalah menampakkan wajah yang berseri-seri, mengamalkan perbuatan ma’ruf (baik) dan menahan dari perbuatan buruk (menyakiti orang lain), kemudian beliau menyebutkan lima pondasi bagi bangunan akhlak, “Husnul khuluq ini dibagun atas lima dasar, yaitu : ilmu, murah hati, sabar, kebiasaam baik dan islam yang benar.”

(24)

Karakter Islami memiliki 10 indikator yang disebut dengan muwasshofat, apabila seluruhnya terpenuhi maka dapat dikatakan bahwa seseorang memiliki akhlaqul karimah, antara lain adalah : salimul aqidah (akidah yang lurus), shahikhul ibadah (ibadah yang benar), matinul khuluq (akhlaq yang kokoh), qowiyyul jism (fisik yang kuat), mutsaqqoful fikr (intelek dalam berfikir),

Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu), Harishun Ala Waqtihi

(pandai menjaga waktu), Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan),

qodiirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri), Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain). ( http://www.pusatalquran.com/2014/05/10-karakter-atau-ciri-khas-pribadi).

Karakter seseorang akan melekat sejalan dengan nilai-nilai yang dianut dan dipahaminya, oleh karena itu sebagai seorang muslim yang menjalankan ajaran agamanya dengan benar serta memahami dan mempercayai ajarannya sebagai nilai kebenaran yang dianutnya maka ia memasukkan nilai-nilai tersebut dan menjadikannya karakter islam yang dapat dilihat secara langsung penerapannya melalui kata-kata (lisan) dan tindakannya. Seseorang dengan karakter islam maka segala tutur katanya akan mencerminkan kebaikan, ia tidak akan melukai dirinya sendiri juga orang lain disekitarnya dengan karta-kata yang buruk, begitu pula tindakannya, ia tidak akan pernah melakukan tindakan yang melukai ataupun merugikan bagi dirinya sendiri ataupun orang lain, hal ini dikarenakan adanya keyakinan yang disebut dengan sikap Ihsan. Ihsan artinya merasakan keberadaan Allah, apapun yang seseorang lakukan, rasakan dan katakan akan disaksikan oleh Sang Penciptanya.

Metode pengumpulan data yang akan dilakukan terhadap tingkat pencapaian pembentukan karakter islami ini akan dilakukan dengan observasi, wawancara dan kuesioner.

(25)

Penjaminan mutu pendidikan adalah kegiatan sistemik dan terpadu oleh satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan pemerintah daerah, Pemerintah, dan masyarakat untuk menaikkan tingkat kecerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan. (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009). Penjaminan mutu adalah seluruh rencana dan tindakan sistematis yang penting untuk menyediakan kepercayaan yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan tertentu dari kualitas (Elliot, 1993 dalam http://www.lpmpjateng.go.id/web/index.php/arsip/karya-tulis

ilmiah/817penjaminan-mutu-di-satuan-pendidikan).

Dalam bahan ajar “Focused short course data management training for targeted provincial quality assurance institutions (LPMP)s staff members”

Sekolah Pasca Sarjana UPI dengan AUSAID tanggal 4 Januari – 14 April 2010, dijelaskan bahwa penjaminan mutu pendidikan adalah serangkaian proses dan sistem yang saling berkaitan untu mengumpulkan, menganalisis, dan melaporkan data tentang kinerja dan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, program dan lembaga pendidikan. Proses penjaminan mutu mengidentifikasi aspek pencapaian dan prioritas peningkatan, penyediaan data sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan serta membantu membangun budaya peningkatan mutu berkelanjutan.

Amat Jaedun dalam makalah seminar nasionalbenchmarking standar mutu disajikan Pada Seminar Nasional Pemanfaatan Hasil Penelitian Penilaian untuk Peningkatan Mutu Pendidikan, di Hotel Salak, Bogor, Tanggal 26 - 27 Desember 2011 mendefinisikan penjaminan mutu (Quality Assurance) adalah upaya pengelolaan mutu yang dilakukan oleh pihak internal sekolah, dalam rangka untuk memberikan jaminan bahwa semua aspek yang terkait dengan layanan pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga atau satuan pendidikan tertentu dapat mencapai suatu standar mutu tertentu.

(26)

yang berkepentingan memperoleh kepuasan. (Sani, dkk, 2015, 151), masih menurut sani, dkk (2015, 151-152), Penjaminan mutu (Quality Assurance) bermanfaat bagi sekolah karena : (1) memperjelas visi, misi dan tujuan sekolah pada pemangku kepentingan (stakeholders); (2) memungkinkan semua yang berkepentingan untuk memilihkan sistem yang tepat untuk sekolah; (3) memperjelas siapa yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugas; (4) memiliki orientasi untuk pencapaian standar yang ditetapkan; (5) tersedia sistem untuk mengecek apakah proses berjalan sesuai rencana dan (6) ada tindakan koreksi jika ditemukan kesalahan.

Dari beberapa pengertian penjaminan mutu yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat diambil pengertian secara umum bahwa penjaminan mutu internal adalah sebuah fungsi dari sistem manajemen mutu yang memberikan jaminan keterlangsungan sebuah kegiatan agar sesuai dengan standar mutu dimulai dari input, proses sampai dengan outputnya yang telah ditetapkan dan mutu tersebut terus menerus diawasi dan ditingkatkan agar dapat memuaskan semua pihak yang berkepentingan.

Penjaminan mutu (QA) merupakan bagian dalam sistem mutu yang direncanakan sejak awal (plan), sebagai acuan mutu dalam pelaksanaan (do), diperiksa kesesuaian antara pelaksanaan dengan syarat yang ditentukan (check) dan ditingkatkan (act). Rangkaian proses tersebut dikemukakan sebagai berikut:

a. Plan, yaitu kegiatan penetapan standar, terutama terkait dengan standar kinerja guru, standar pengalaman belajar, dan standar hasil belajar peserta didik.Penetapan standar ini tergantung pada penetapan apa yang digunakan, seperti menggunakan pendekatan standart-based, kecocokan dengan tujuan (fitness for purpose), standar minimal, atau standar terbaik.

(27)

pengalaman belajar siswa dengan hasil belajarnya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

c. Check, yaitu mengevaluasi dengan cara membandingkan pelaksanaan proses belajar mengajar dengan standar yang telah ditetapkan.

d. Act, yaitu melakukan perbaikan lanjutan berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan kinerja. Peningkatan standar dilakukan setelah dilaksanakan diskusi terkait dengan pelaksanaan kinerja, antara

supervisor dengan guru yang dievaluasi. (Sani, dkk, 2015, 12)

Gambar 2.3

Proses Plan-Do-Check-Action (PDCA) dalam penjaminan mutu

(Edward Sallis, 2002 dalam Sani, dkk, 2015)

Sani, dkk, (2015,19), mengatakan bahwa penjaminan mutu didasarkan atas indikator-indikator kinerja yang djadikan acuan dalam penilaian prosesnya meliputi 4 domain sebagai berikut :

Kualitas Pembelaj aran

PLAN

DO CHECK

(28)

a. Manajemen dan organisasi, meliputi aspek kepemimpinan, perencanaan dan administrasi, pengelolaan staf, pengelolaan biaya, sumber daya dan pemeliharaannya, serta evaluasi diri.

b. Pembelajaran, meliputi aspek-aspek kurikulum, pengajaran, proses belajar siswa, dan penilaian.

c. Dukungan kepada siswa dan etos sekolah, meliputi aspek bimbingan, pengembangan pribadi dan sosial siswa, dukungan bagi siswa yang memiliki kebutuhan khusus, hubungan dengan orang tua, masyarakat, dan iklim sekolah.

d. Prestasi belajar, meliputi aspek-aspek kinerja akademis dan non akademis.

Cakupan penjaminan mutu pendidikan dalam peraturan Menteri pendidikan nasional Nomor 63 tahun 2009 Tentang Sistem penjaminan mutu pendidikan Pasal 4 ayat (1) Tingginya kecerdasan kehidupan manusia dan bangsa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) mengacu pada mutu kehidupan manusia dan bangsa Indonesia yang komprehensif dan seimbang yang mencakup sekurang-kurangnya:

a. Mutu keimanan, ketakwaan, akhlak, budi pekerti, dan kepribadian; b. Kompetensi intelektual, estetik, psikomotorik, kinestetik, vokasional,

serta kompetensi

c. Kemanusiaan lainnya sesuai dengan bakat, potensi, dan minat masing-masing;

d. Muatan dan tingkat kecanggihan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang mewarnai dan

e. Memfasilitasi kehidupan;

f. Kreativitas dan inovasi dalam menjalani kehidupan; g. Tingkat kemandirian serta daya saing, dan

(29)

Ruang lingkup penjaminan mutu sekolah, meliputi penjaminan mutu terhadap komponen-komponen sistem pendidikan, yaitu:

(1) Input, baik input peserta didik, guru, tenaga kependidikan maupun sumber daya yang lain,

(2) proses, baik proses manajemen sekolah (termasuk pengembangan kultur sekolah) maupun proses pembelajaran dan penilaian,

(3) produk atau hasil, terutama penjaminan terhadap kualitas output yang dihasilkan oleh sekolah, dan penjaminan mutu sekolah sebagai suatu sistem secara keseluruhan, dan

(4) Outcomes, terutama penjaminan mutu mengenai relevansi kualitas lulusan dari suatu satuan pendidikan dengan kebutuhan. (Badan Akreditasi Sekolah Nasional, 2004)

(30)

2.2.3 Konsep Sekolah Islam Terpadu (SIT)

Sekolah Islam Terpadu pada hakekatnya adalah sekolah yang mengimplementasikan konsep pendidikan Islam berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah. Konsep operasional Sekolah Islam Terpadu merupakan akumulasi dari proses pembudayaan, pewarisan dan pengembangan ajaran agama Islam, budaya dan peradaban Islam dari generasi ke generasi. Istilah “Terpadu” dalam Sekolah Islam Terpadu dimaksudkan sebagai penguat (taukid) dari Islam itu sendiri. Maksudnya adalah Islam yang utuh menyeluruh, integral, bukan parsial,

syumuliah bukan juz’iyah.

Dalam aplikasinya Sekolah Islam Terpadu diartikan sebagai sekolah yang menerapkan pendekatan penyelenggaraan dengan memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi satu jalinan kurikulum. Dengan pendekatan ini, semua mata pelajaran dan semua kegiatan sekolah tidak lepas dari bingkai ajaran dan pesan nilai Islam. Tidak ada dikotomi, tidak ada keterpisahan, tidak ada ”sekularisasi” dimana pelajaran dan semua bahasan lepas dari nilai dan ajaran Islam, ataupun ”sakralisasi” dimana Islam diajarkan terlepas dari konteks kemaslahatan kehidupan masa kini dan masa depan. Pelajaran umum, seperti matematika, ipa, ips, bahasa, jasmani/kesehatan, keterampilan dibingkai dengan pijakan, pedoman dan panduan Islam. Sementara di pelajaran agama, kurikulum diperkaya dengan pendekatan pendekatan konteks kekinian dan kemanfaatan, dan kemaslahatan.

(31)

yang melatih siswa untuk berfikir orsinal, luwes (fleksibel) dan lancar dan imajinatif. Keterampilan melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat dan penuh maslahat bagi diri dan lingkungannya.

Sekolah Islam Terpadu juga memadukan pendidikan aqliyah, ruhiyah, dan jasadiyah. Artinya, Sekolah Islam Terpadu berupaya mendidik siswa menjadi anak yang berkembang kemampuan aqal dan intelektualnya, meningkat kualitas keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT, terbina akhlak mulia, dan juga memiliki kesehatan, kebugaran dan keterampilan dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam pengertian umum yang komprehensif Sekolah Islam Terpadu adalah Sekolah Islam yang diselenggarakan dengan memadukan secara integratif nilai dan ajaran Islam dalam bangunan Kurikulum dengan pendekatan pembelajaran yang efektif dan pelibatan yang optimal dan koperatif antara guru dan orangtua, serta masyarakat untuk membina karakter dan kompetensi murid. (Buku Standar Sekolah Islam Terpadu, 2007, 46)

Dalam rumusannya yang tertuang di buku standar Sekolah Islam Terpadu dijelaskan mengenai karakteristik utama yang memberikan penegasan akan keberadaannya. Karakteristik yang dimaksud adalah:

1. Menjadikan Islam sebagai landasan filosofis.

Sekolah Islam Terpadu tampil menjadi sekolah yang dengan jelas pijakan filosofisnya, sehingga juga menjadi jelas arah, visi, misi dan tujuan pendidikannya, yaitu: pembentukan karakter (muwashofat) siswa ke arah pembentukan ’abid yang mampu menjalankan kepemimpinan (khalifah).

2. Mengintegrasikan nilai Islam ke dalam bangunan kurikulum.

(32)

3. Menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran untuk mencapai optimalisasi proses belajar mengajar.

Sekolah Islam Terpadu harus mampu memicu dan memacu siswa menjadi pembelajar yang produktif, kreatif dan inovatif. Model pembelajaran harus didekati dengan cara-cara yang bervariasi, menggunakan berbagai pendekatan, sumber dan media belajar yang kaya.

4. Mengedepankan qudwah hasanah dalam membentuk karakter peserta didik.

Seluruh tenaga kependidikan (baik guru maupun karyawan sekolah) mesti menjadi figure contoh bagi peserta didik. Keteladan akan sangat berpangaruh terhadap hasil belajar. Dan kualitas hasil belajar sangat dipengaruhi kualitas keteladanan yang ditunjukkan oleh tenaga kependidikan. Inilah yang telah dilakukan oleh Rasulullah Saw kepada ummatnya, sehingga menghasilkan ummat terbaik.

5. Menumbuhkan biah solihah dalam iklim dan lingkungan sekolah: menumbuhkan kemaslahatan dan meniadakan kemaksiatan dan kemungkaran.

(33)

6.Melibatkan peran-serta orangtua dan masyarakat dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan.

Ada kerjasama yang sistematis dan efektif antara guru dan orangtua dalam mengembangkan dan memperkaya kegiatan pendidikan dalam berbagai aneka program. Guru dan orangtua saling bahu-membahu dalam memajukan kualitas sekolah. Orangtua harus ikut secara aktif memberikan dorongan dan bantuan baik secara individual kepada putera-puterinya maupun kesertaan mereka terlibat di dalam sekolah dalam serangkaian program yang sistematis. Keterlibatan orangtua memberikan pengaruh yang sangat signifikan dalam meningkatkan performance sekolah.

7. Mengutamakan nilai ukhuwwah dalam semua interaksi antar warga sekolah.

Kekerabatan dan persaudaraan diantara para guru dan karyawan sekolah dibangun di atas prinsip nilai-nilai Islam. Saling mengenal satu sama lain (ta’aruf), saling memahami (tafahum) segala karakter, gaya dan tabiat, persoalan dan kebutuhan, kekurangan dan kelebihan; dan saling membantu (ta’awun) adalah pilar-pilar ukhuwwah yang mesti ditegakkan. Husnuzhan, menunaikan kewajiban hak-hak ukhuwwah dan membantu segala kesulitan sesama guru/karyawan adalah realisasi dari ukhuwah.

8. Membangun budaya rawat, resik, rapih, runut, ringkas, sehat dan asri.

Kebersihan bagian dari iman, kebersihan pangkal kesehatan. Hadis dan slogan yang sangat bersahaja selayaknya menjadi budaya Sekolah Islam Terpadu.

9. Menjamin seluruh proses kegiatan sekolah untuk selalu berorientasi pada mutu.

(34)

luhur yang mengarah pada pembentukan karakter dan pencapaian kompetnsi murid.

10. Menumbuhkan budaya profesionalisme yang tinggi di kalangan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

Sekolah membuat program dan fasilitas yang menunjang munculnya kebiasaan profesional di kalangan Kepala sekolah, guru dan karyawan profesi dalam berbagai bentuk kegiatan ilmiah: budaya membaca, diskusi, seminar, pelatihan, studi banding. Budaya profersionalisme ditandai dengan adanya peningkatan idealisme, ghairah (motivasi), kreativitas dan produktivitas dari kepala sekolah, para guru ataupun karyawan dalam konteks profesi mereka masing-masing.

Ke sepuluh ciri atau karakteristik tersebut menjadi acuan bagi Sekolah Islam Terpadu untuk mengembangkan dirinya menjadi sekolah yang diinginkan dan dimaksudkan oleh gerakan pemberdayaan Sekolah Islam Terpadu yang digelorakan oleh Pengurus Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) yang merupakan suatu Gerakan Da’wah Berbasis Pendidikan.

Dalam implementasi Standar Konsep SIT yang dicita-citakan JSIT memuat hal-hal sebagai berikut:

 Visi

 Misi  Tujuan  Landasan SIT  Kedudukan SIT  Prinsip SIT  Tugas-tugas SIT  Legalitas SIT

(35)

Character building

Capacity building

Institution building

Nation building

(36)

2.2.4 Sinergitas Orang Tua-Sekolah

Sinergi dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) artinya adalah kegiatan atau operasi gabungan, sedangkan arti kata bersinergi adalah melakukan kegiatan atau operasi gabungan. Sedangkan sinergitas berarti proses memadukan beberapa aktivitas dalam rangka mencapai hasil yang berlipat. Kata kunci untuk tercapainya sinergitas adalah koordinasi dan kerjasama. (S.Sumas/[email protected]/newsledge). Dalam modul pemberdayaan komite sekolah yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (2006) mendefinisikan Sinergi adalah suatu situasi yang terjadi bila suatu kerjasama menghasilkan lebih besar dari penjumlahan hasil masing-masing pihak bila mengerjakannya sendiri-sendiri Secara rinci ciri-ciri sinergi dapat dikatakan sebagai berikut:

 punya tujuan bersama

 berorientasi pada hasil bersama

 hasil bersama lebih besar dari penjumlahan hasil masing-masing

 proses pengembangan alternatif ketiga

Maka dapat dikatakan bahwa sinergitas orang tua-sekolah adalah adanya kerjasama dan koordinasi antara orang tua siswa dengan pihak sekolah, serta adanya keselarasan cara pandang, pengasuhan dan pendidikan yang diberikan oleh orang tua di rumah dan di lingkungan rumahnya dengan apa yang diberikan oleh guru, serta lingkungan sekolah. Keluarga adalah lingkungan terdekat bagi anak, dari sanalah kehangatan dan dukungan diharapkan berawal, didukung oleh sekolah-sekolah yang berpijak pada kesadaran tentang hak anak menikmati dunia ceria, diperkuat oleh masyarakat sekitar. (Farida, dkk, 2012, 168).

(37)

moral behavior. (Alwi, 2014, 38). Oleh karena itu bukan hanya siswa yang membutuhkan pengetahuan tetapi juga guru dan orang tua. Guru sebagai komponen kunci yang adalah di sekolah harus dapat menjadi teladan, mengetahui bagaimana perkembangan anak baik secara fisik maupun psikologinya. Begitu pula orangtua, orang tua harus dapat memberikan pendidikan yang sama bahkan lebih dibandingkan apa yang guru/ sekolah berikan pada anak, orangtua harus dapat menguasai pengetahuan tentang parenting, psikologi perkembangann anak dan mereka semua harus dapat menjadi motivator dan pengayom yang dipercayai oleh anak. Apabila semua ini terpenuhi barulah sinergitas orangtua-sekolah dapat terwujudkan dengan baik sehingga terjadi optimalisasi pembentukan karakter yang baik bagi anak didik.

Keterlibatan orangtua adalah indikator utama bagi kesuksesan sekolah. Tingkat pendapatan keluarga dan latar belakang pendidikan, menurut penelitian, tidak terlalu penting bagi keberhasilan siswa dibandingkaan minat dan dukungan orangtua. (Lickona, 2012, 79). Menurut Lickona (2012) ada 20 cara sekolah dan keluarga yang bekerjasama membantu anak-anak untuk tumbuh dalam pengetahuan dan kebajikan :

1. Menegaskan keluarga sebagai pendidik karakter yang paling utama 2. Mengharapkan orangtua untuk berpartisipasi

3. Memberikan insentif bagi parisipasi orangtua

4. Menyediakan program tentang parenting dan berusaha untuk meningkatkan tingkat partisipasi

5. Membuat program untuk orangtua

6. Menetapkan “PR keluarga”-tugas terkait dengan karakter yang dikerjakan oleh siswa bersama orangtua.

7. Bentuk kelompok orangtua sebaya yang saling mendukung

8. Melibatkan orangtua dalam perencanaan program pendidikan karakter 9. Membuat forum terbuka untuk orangtua

10. Membentuk komite orangtua mengenai pendidikan karakter 11. Membuat perjanjian moral dengan orangtua

12. Memperbaharui perjanjian

13. Memperlus perjanjian menjadi kedisiplinan

14. Memperluas perjanjian pada olahraga dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya 15. Memperpanjang perjanjian untuk memerangi dampak dari media

16. Menjadi responsif terhadap keluhan orangtua

17. Menghormati keutamaan hak orangtua seputar pendidikan seks

(38)

19. Membiarkan orangtua mengetahui tentang pekerjaan yang diharapkan dan selalu kirimkan laporan reguler

20. Menyediakan pusat bantuan keluarga dan sekolah komunitas

Sinergitas orangtua-sekolah menjadi sebuah hal yang sangat penting agar penanaman karakter pada anak dapat berjalan dengan efektif. Anak akan memperoleh pendidikan karakter yang sama ketika dia berada di sekolah dan begitu pula saat dia berada di rumah. Untuk memdapatkan data mengenai hal ini peneliti menggunakan teknik wawancara, observasi dokumen dan kuesioner .

2.3 Kerangka Berfikir

2.3.1 Pengaruh Implementasi Penjaminan Mutu Internal Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter

Sejalan dengan apa yang dipaparkan dalam teori kognisi sosial Albert Bandura yang percaya bahwa segala sesuatu yang dapat dipelajari melalui pengalaman langsung juga dapat dipelajari secara tak langsung melalui observasi atau pengamatan. Bandura juga percaya bahwa model akan amat efektif jika dilihat sebagai memiliki kehormatan, kompetensi, status tinggi atau kekuasaan. Karenanya sebuah lembaga seperti sekolah harus dapat memfasilitasi kebutuhan belajar dari siswa-siswanya serta mampu menyediakan metode penanaman nilai atau karakter yang tepat, diantaranya menyediakan model sebagai teladan bagi para siswa sehingga mereka dapat mengalami langsung ataupun melakukan pengamatan dalam mempelajari dan memahami bagaimana karakter islami yang diinginkan, maka akan efektiflah proses pembentukan karakter mereka.

(39)

tersebut mengimplementasikan penjaminan mutu internal di dalamnya. Alwi (2014, 15) meyakini bahwa sekolah yang baik bukan sekolah yang hanya mengajarkan sesuatu (learn). Sekolah positif atau pendidikan positif, sekali lagi bukan sekolah yang hanya membuat anak kita belajar hal-hal positif. Melainkan juga mengajarkan dan memberikan pengalaman unlearn. Tidak belajar hal-hal negatif, mampu merasakan, lalu mampu menimbang-nimbang sehingga akan naik level mempelajari relearn (belajar kembali, bangkit dari ketidakbaikan, menimbang-nimbang mana saja yang baik dan yang tidak baik). Disinilah rasa syukur, kesulitan dan psikologi positif diajarkan.

Sistem penjaminan mutu internal sekolah mampu membuat sebuah sekolah memiliki manajemen yang baik dan terarah serta didokumentasikan secara tertib dan terstruktur dalam mencapai visi, misi dan tujuan sekolah, serta melakukan pengawasan dan perbaikan berkelanjutan untuk tercapainya cita-cita dan idealisme lembaga, sitem penjaminan mutu ini akan memberikan metode dan ukuran yang jelas bagaimana nilai-nilai karakter lembaga akan disampaikan kepada siswanya serta seluruh anggotanya sehingga dapat karakter positif yang ingin dicapai dapat terbentuk.

(40)

6 poin, salah satu diantaranya adalah hasil evaluasi menunjukkan 96% standar mutu guru dan tenaga administrasi sekolah di SDIT Al Uswah Surabaya terpenuhi dan 90% standar mutu siswa di SDIT Al Uswah Surabaya dalam pendidikan karakter terpenuhi. Standar mutu guru dan tenaga administrasi sekolah di SDIT Insan Permata Malang terpenuhi 80% dan standar mutu siswa dalam pendidikan karakter terpenuhi 88%; hal tersebut menunjukkan bahawa apabila implementasi penjaminan mutu internal sekolah tinggi maka standar mutru siswa dalam pendidikan karakter juga tinggi, artinya implementasi penjaminan mutu internal berpengaruh signifikan terhadap pendidikan karakter siswa, namun belum dalam bagian sarannya sulistyowati menulis bahwa belum diketahui mengenai profil alumni dalam penerapan karakternya serta bagaimana karakter tersebut masih melekat pada diri siswa ketika berada di luar lingkungan sekolah.

Rudi Susilana dan Asra menulis artikel dalam jurnal The Malaysian Online Journal of Educational Science dengan judul Development of Quality Assurance System in Culture and Nation Character Education in Primary Education in Indonesia pada tahun 2010. Mereka melakukan penelitian kuantitatif dengan metode R & D (Research and development), penelitian ini menggunakan tiga tahap: Pengantar, Pengembangan dan Pemeriksaan. Melalui 28 soal pilihan ganda dengan 5 pilihan (A, B, C, D dan E) validitas dari setiap pertanyaan relatif rendah-menengah, dikisaran -0,01 sampai 0, 63. Pengolahan data dibagi sesuai dengan tingkat pendidikan dan dibagi menjadi tiga bagian : kelas III SD, kelas VI SD dan kelas IX SMP. Peneliti menggunakan model DMAIC (Define, Measure, Analyze, improve and control) dengan hasil persentase opini tentang sistem penjaminan mutu dalam membentuk budaya dan karakter yang didapat Sangat Baik 28,4 %, Baik 45,8 %, Cukup 21,6 % dan Buruk 4,2 %. Studi ini menemukan bahwa tingkat pemahaman siswa di sekolah terhadap ide, desain, dan implementasi pendidikan budaya dan karakter bangsa pada tahap pertama pembelajaran dianggap layak digunakan.

(41)

dalam sekolahnya berarti mampu memberikan lingkungan yang berkualitas (bermutu) serta menjamin tersedianya model atau teladan yang dapat menjadi contoh bagi pembentukan karakter positif seluruh anggota lembaga tersebut dan bagi proses belajar siswa-siswanya sehingga membantu secara optimal pembentukan karakter islami siswanya.

2.3.2 Pengaruh Konsep Sekolah Islam terpadu Terhadap Pembentukan Karakter Islami Siswa

(42)

malakah, Karena itu, ”proses belajar mengajar sedapat mungkin membuat perumpamaan yang sesuai dengan pengalaman-pengalaman subyek didik yanag dapat membantunya di dalam menafsirkan pokok bahasan.” (Standar SIT, 2007, 25). Menurut Hasan Langgulung (Manusia Dan Pendidikan, 1986) berdasarkan hasil Second World Conference on Muslim Education dinyatakan bahwa segala pengetahuan yang ada ini diklasifikasikan kepada dua macam menurut sumbernya, yaitu: “ilmu yang abadi” (Perenial) dan “ilmu yang didapatkan” (Acquired). Ilmu yang abadi diterima melalui wahyu yang terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Sedangkan “ilmu yang didapatkan” diperoleh melalui imajinasi dan serangkaian pengalaman indra. Hanya ilmu bentuk terakhir inilah yang kita pelajari melalui falsafah dan model dari negeri Barat. Sedangkan “ilmu yang abadi” dipelajari di sekolah-sekolah agama, sekolah non formal, ataupun hanya sekedar dilekatkan di kurikulum sekolah umum sebagai mata pelajaran tambahan, bukan mata pelajaran pokok. Padahal menurut konsepsi Islam seharusnya bangunan kurikulum hendaknya memadukan kedua macam ilmu tersebut. (Standar SIT, 2007, 26).

(43)

dengan analisis data persentase. Hasil penelitian : dari perhitungan dengan menggunakan rumus persentase maka hasil penelitian dikategorikan sangat berperan Sehingga dari hasil pengujian tersebut dapat diketahui bahwa terdapat peran yang sangat kuat dan signifikan antara Peran Sekolah Islam terpadu dalam pembentukan karakter religious siswa (Studi kasus di SDIT Permata Bunda Gedung meneng Rajabasa Bandarlampung) TP 2012/2013.

(44)

memadai, 3) guru berkualitas, 4) adanya buku komunikasi, 5) adanya guru pendamping. Sedangkan faktor penghambatnya, adalah: 1) minimnya komunikasi orang tua dan guru, 2) minimnya sarana (karena rusak/sedang digunakan, 3) Sebagian peserta didik mengalami kecapekan, kejenuhan karena full day school, 4) Sebagian guru juga merasakan keletihan dan kecapekan, karena berbagai macam aktivitas.

Dalam penelitian yang lakukan Agustinova, yang berjudul “Hambatan Pendidikan Karakter Di Sekolah Islam Terpadu (Studi Kasus Sdit Al Hasna Klaten) menjelaskan Metode penelitiannya adalah kualitatif deskriptif dengan strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal. Cuplikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan criterion-based selection.

Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung, wawancara mendalam, dan pencatatan dokumen. Validasi data dilaksanakan dengan trianggulasi. Analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif, yaitu pengumpulan data, reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Hambatan yang dialami dalam proses penanaman karakter berasal dari dalam dan dari luar. Hambatan dari dalam meliputi pendidik yang kurang bisa memahami karakteristik masing-masing siswa. Kurangnya sarana penunjang dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, sistem full day itu sendiri yang ternyata memiliki beberapa kelemahan. Sedangkan, hambatan dari luar adalah kurang partisipasi aktif orang tua dalam proses penanaman karakter.

Dari uraian diatas, peneliti menduga bahwa ada pengaruh signifikan implementasi konsep sekolah islam terpadu pada pembentukan karakter islami siswa, walaupun dari penelitian sebelumnya didapat hasil yang terkadang kuat dan terkadang lemah, tetapi sudah menunjukkan adanya sebuah korelasi.

(45)

Teori Interaksi Sosial milik George Simmel, Simmel memandang bahwa interaksi itu memiliki peran yang penting dalam kehidupan. Menurut Pandangannya, masyarakat dapat terbentuk karena adanya interaksi, bukan adanya kelompok orang yang hanya diam. Menurut Simmel dalam interaksi tidak memementingkan berapa jumlah orang yang berinteraksi, yang penting adalah adanya interaksi. Jadi, melalui interaksi timbal balik, dimana individu saling berhubungan dan saling mempengaruhi, maka masyarakat itu akan muncul. Dalam teori ini Simmel berpendapat bahwa “Meningkatnya ukuran kelompok atau masyarakat akan meningkatkan kebebasan individu. Jadi kelompok atau masyarakat kecil cenderung mengontrol individu sepenuhnya. Namun, pada masyarakat yang lebih luas, individu cenderung terlibat dalam sejumlah kelompok yang masing-masing hanya mengontrol sebagian kecil dari keseluruhan kepribadian”. Yang menjadi sorotan kita disini adalah pada masyarakat yang lebih luas, individu cenderung terlibat dalam sejumlah kelompok yang masing-masing hanya mengontrol sebagian kecil dari keseluruhan kepribadian.

(46)

uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ibu sebagai pengasuh utama anak memegang peranan penting dalam penentuan status kelekatan anak, apakah anak akan membentuk kelekatan aman atau sebaliknya.dari paparan Eliasa diatas penelitu menyimpulan bahwa kelekatan orangtua akan memberikan dukungan atau penguatan pada pembentukan karakter anak yang telah dilakukan oleh sekolah.

(47)

Pembentukan Ahlak Siswa di SD Islam Terpadu Sabilul Huda Kota Cirebon.” Menjelaskan Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Bentuk penelitiannya adalah berupa kajian lapangan, berusaha mengungkapkan Strategi Bimbingan Orang Tua dan Guru Dalam Pembentukan Akhlak Siswa di SD Islam Terpadu Sabilul Huda Kota Cirebon melalui sumber data yang relevan dengan kebutuhan, baik buku-buku teks, jurnal, atau majalah-majalah ilmiah dan hasil-hasil penelitian. Berdasarkan hasil penelitian yang ia lakukan akhirnya menghasilkan suatu kesimpulan bahwa strategi orang tua dan guru dalam pembentukan akhlak karimah siswa menggunakan metode diantaranya ialah: pola asuh orang tua, keteladanan, ceramah, diskusi, anjuran dan pemberian hukuman. Kegiatan yang dilakukan guru dalam pembentukan akhlak karimah siswa adalah: membaca do’a, membaca al-Qur’an, shalat dhuhur dan ashar berjama’ah, melakukan peringatan hari-hari besar Islam (PHBI), pemeriksaan tata tertib, kegiatan fun Islamic camp, dan diadakannya pertemuan wali murid, layanan komunikasi antara orang tua dan guru baik secara langsung maupun tidak langsung dan menambah sarana dan prasarana penunjang.

Dari bahasan penelitian sebelumnya diatas, peneliti mencoba memberikan penguatan dalam pembentukan karakter siswa di sekolah dengan cara melibatkan orang tua yaitu membentuk sinergitas orangtua-sekolah, diharapkan selain sekolah menerapkan penjaminan mutu dan mengimplementasikan konsep sekolah islam terpadu dikuatkan dengan adanya sinergitas orangtua-sekolah akan memberikan dampak yang lebih kuat pada pembentukan karakter anak didik. Uraian diatas memberikan dugaan hubungan yang positif dan signifikan antara implementasi manajemen penjaminan mutu internal diperkuat oleh sinergitas orangtua-sekolah dengan pembentukan karakter siswa.

2.3.4 Pengaruh Implementasi Konsep Sekolah Islam terpadu diperkuat oleh Sinergitas Orangtua-sekolah terhadap pembentukan karakter Islamisiswa

(48)

potensi bagi mereka yang educable (mendidik). Potensi tersebut bersifat kompleks yang terdisri atas: ruh (roh), qolb (hati), aql (akal). Potensi tersebut bersifat ruhaniah atau metal-psikis. Selain itu manusia dibekali potensi fisik-sensual berupa alat indera yang berfungsi sebagai instrumen untuk memahami alam luar dan berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya. Dengan demikian fitrah merupakan konsep dasar manusia yang ikut berperan dalam perkembangan peserta didik di samping lingkungan (pendidikan).

Maka dari pembahasan ini peneliti menyimpulkan bahwa manusia sebagai makhluk ciptahan Tuhan yang diberikan anugerah ketika ia lahir berupa fitrah atau kecenderungan positif harus berusaha agar dapat menjaga fitrahnya dengan cara mensetting lingkungan yang terbaik dalam perkembangannya, karena potensi positif tersebut dapat berubah dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia tinggal dan berinteraksi, salah satu upaya untuk tetap menjaga fitrah itu maka dibentuklah konsep sekolah islam terpadu yang dapat diimplementasikan dalam pendidikan formal yaitu kedalam konsep sekolah, baik dari jengjang TK, SD, SMP sampai SMA yakni menjadi TKIT, SDIT, SMPIT, dan SMAIT, dimana dalam penyelenggaraannya dibuat konsep terpadu atau integratif dalam semua kurikulumnya kandungan islam sebagai upaya menjaga kefitrahannya, dalam konsep ini tidak hanya sekolah yang berperan dalam mendidik tetapi keikut sertaan orang tua sangat ditekankan.

(49)

Penjaminan Mutu Internal Sekolah

Konsep Sekolah Islam Terpadu

Sinergitas Orang Tua-Sekolah

Karakter Islami

ekshibisi, perayaan, peningkatan kesejahteraan guru , pengembangan organisasi dan manajemen. (Buku Standar SIT versi, 2007)

Oleh karenanya peneliti menduga ada hubungan yang signifikan antara im0lementasi konsep sekolah islam terpadu yang diperkuat sinergitas orang tua-sekolah dengan pembentukan karakter islami anak.

Oleh karena itu, penelitian ini bertejuan untuk mengetahui dan mengkaji adanya pengaruh langsung ataupun tidak langsung yang diberikan oleh Peran Sinergitas Orangtua-Sekolah Dalam Memoderasi Implementasi Penjaminan Mutu Internal Sekolah Dan Implementasi Konsep Islam Terpadu Pada Pembentukan Karakter Islami Siswa. Diagram kerangka berfikir ditunjukkan pada gambar :

Gambar 2.4

Kerangka Berfikir (Model Penelitian Empiris)

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka berfikir (model penelitian empiris) yang telah digambarkan peneliti pada bagan 2.3 diatas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ;

H1 Terdapat pengaruh signifikan antara implementasi penjaminan mutu internal sekolah dan pembentukan karakter islami siswa.

H2 Terdapat pengaruh signifikan antara implementasi konsep sekolah islam terpada dan pembentukan karakter islami siswa.

H1

H2 H3

(50)

H3 Terdapat pengaruh signifikan antara implementasi penjaminan mutu internal sekolah yang diperkuat oleh adanya sinergitas orangtua-sekolah dan pembentukan karakter islami siswa.

(51)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif-kuantitatif dengan desain penelitian pengujian hipotesis (hipothesis study). Studi pengujian hipotesis pada umumnya bertujuan untuk menganalisis, mendeskripsikan, dan mendapatkan bukti empiris pola hubungan antar dua variabel atau lebih, baik yang bersifat korelasional (corelation), kausalitas (kausality), maupun yang bersifat komparatif (comparative), (Wahyudin, 2015, 110). Desain penelitiannya dilakukan dengan metode ex-post facto, yaitu data yang digunakan dalam penelitian ini bukanlah hasil dari memberikan perlakukan kepada variabel yang diteliti untuk menguji apakah ada pengaruh dari variabel independent terhadap variabel dependennya melainkan data yang digunakan adalah data yang telah ada sebelumnya, yakni bersumber dari pengalaman dan kejadian yang telah berlangsung pada obyek penelitian.

3.2 Populasi dan Sampel

3.2.1 Populasi

Penelitian ini menggunakan populasi yang berasal dari Sekolah Dasar yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan karakteristik sebagai berikut ;

1. Sekolah dasar tersebut merupakan sekolah dasar islam terpadu (SDIT) yang tergabung dalam jaringan sekolah islam terpadu Indonesia (JSIT) 2. Sekolah tersebut telah memiliki sistem penjaminan mutu internal yang

dibentuk menjadi lembaga penjaminan mutu tingkat sekolah. 3. Sekolah tersebut memiliki program kemitraan dengan orangtua.

(52)

Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel yang diambil menggunakan teknik sampling non random (non probability), yaitu dengan teknik sampling bertujuan (purposive sampling). Pemilihan teknik sampling ini dikarenakan peneliti memiliki tujuan tertentu yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Yaitu data yang dibutuhkan hanya sekolah dasar dengan konsep islam terpadu yang memiliki sistem penjaminan mutu internal dan memiliki program yang jelas dalam interaksinya dengan orang tua siswa.

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

3.3.1 Variabel Penelitian

Variabel Penelitian yang ada dalam penelitian ini antara lain :

1) Variabel-variabel bebas (independen Variabels), merupakan variabel-variabel yang (mungkin) menyebabkan, mempengaruhi, dan berefek pada

outcome. Variabel-variabel ini juga dikenal dengan istilah variabel-variabel treatment, manipulated, atecedent, atau predictor. Dalam penelitian ini ada dua variabel independent yaitu Penjaminan mutu internal sekolah dan konsep sekolah islam terpadu.

2) Variabel terikat (dependent variabel) merupakan variabel yang bergantung pada variabel-variabel bebas, variabel ini adalah hasil pengaruh variabel bebas. Istilah lain untuk variabel terikat adalah variabel criterion, outcome

dan effect. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependentnya adalah karakter islami

(53)

3.3.2 Definisi Operasionel Variabel

Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Karakter Islami

Karakter islami adalah sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim, ada sepuluh sifat muslim sejati, disebut dengan profil pribadi muslim atau muashofat, sifat-sifat tersebut dapat menjadi indikator dari karakter islami itu sendiri, kesepuluh sifat itu adalah :

a. Salimul Aqidah (Aqidah yang lurus/ Good Faith)

Aqidah yang lurus/bersih ini harus ada di dalam diri seorang Muslim. Dengan akidah yang lurus, maka seseorang akan memiliki ikatan yang kuat dengan Tuhannya. Indikator karakter ini : memahami ilmu tauhid, selalu mengingat Allah dan selalu merasa diawasi oleh-Nya, selalu meluruskan niat, menjaga diri dari kemusyrikan, memahami rukun Iman dan rukun Islam, dsb. ”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. 6: 162)

b. Shahihul Ibadah (Ibadah yang benar/ Right Devotion)

Ibadah yang benar ini artinya setiap ibadah yang kita lakukan sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Contoh indikatornya : melaksanakan shalat 5 waktu, melaksanakan shaum wajib dan shaum sunnah, mempelajari Al-Quran dan mengamalkannya, melaksanakan shalat sunnah (dhuha, Tahajud,dsb), dll ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaku..” (Q.S Adz – Dzariyat : 56)

c. Matinul Khuluq (Akhlak yang kokoh/ Strong Character)

(54)

terhadap lingkungan, tidak takabur (sombong); menyayangi yang muda dan menghormati yang tua; berbakti pada orang tua; dsb. d. Qowiyyul Jismi (Jasad yang kuat/ Pyhsical Power)

Memiliki fisik yang kuat merupakan salah satu cara untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Dengan fisik yang kuat, akan semakin banyak hal kebaikan yang dapat dilakukan. Contoh : rajin berolahraga rutin, tidak merokok, makan 4 sehat 5 sempurna, dsb. “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)

e. Mutsaqqoful Fikri (Pengetahuan yang luas/ Thinking Brilliantly) Dengan pemikiran dan pengetahuan yang luas, dapat memberikan solusi dan pengambilan keputusan yang berdasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah sesuai dengan perkembangan zaman yang ada. Dengan hal ini pula dapat mengatur strategi yang cerdas untuk kemajuan Islam. Contohnya : mengetahui dan memahami kisah Rasul dan para Sahabat, memahami urgensi dakwah dan urgensi tarbiyah, memahami pentingnya menuntut ilmu, memahami peran pemuda sebagai pilar Islam, memiliki visi dan strategi hidup serta perencanaannya selama 10 tahun ke depan, memahami pergerakan Islam; dsb.

f. Mujahadatun Linafsihi (Berjuang melawan hawa nafsu/

Continence)

Pada dasarnya seorang manusia itu memiliki kecenderungan untuk berbuat baik ataupun buruk. Untuk itu diperlukan kesungguhan dalam diri seseorang agar ia cenderung untuk berbuat baik dan melaksanakannya sesuai ajaran Islam. Contohnya : memenuhi konsumsi makanan yang halal dan thoyib; senantiasa berusaha untuk memperbaiki diri; tidak malas; pantang mengeluh; berupaya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat; dsb. g. Haritsun ‘ala Waqtihi (Manajemen waktu/ Good Time

Management)

(55)

bermanfaat bagi dirinya. Contohnya : tidak berlebihan untuk tidur; bangun tidur maksimal saat adzan subuh; mengalokasikan waktu untuk mereview pelajaran dan membaca materi keislaman; mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat; dsb

h. Munazhzhamun fi Syuunihi (Terarah dan teratur dalam urusan/ Well Organized)

Terarah dan teratur dapat membuat seseorang mampu

Gambar

Gambar 2.1Peran Teori Kognisi Sosial menjelaskan pengaruh variabel independen
Gambar 2.2Komponen Karakter yang baik
Gambar 2.4Kerangka Berfikir (Model Penelitian Empiris)
Tabel 3.4 Instrumen Pengumpul Data

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Undang-Undang Nomer 6 Tahun 2009, Prinsip Syariah diartikan sebagai aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk menyimpan dana dan

Sintesis pertama kali dilakukan pada tahun 1960, memiliki beberapa keuntungan dalam penggunaannya yaitu menghasilkan analgesia pasca operasi yang baik,

Dari hasil belajar kelompok diskusi siswa berupa isian LKPD hanya kelompok IV yang dinyatakan “Tuntas” sementara kelompok I, II dan III dinyatakan “Tidak Tuntas” hal

Dalam persidangan, biasanya dalam berita acara dijelaskan: Menimbang bahwa PNS telah diperintahkan untuk mengurus tapi tidak memperolehnya sehingga dibuat surat

Berdasarkan hasil penelitian Gumiarti (2011) mengenai hubungan antara status sosial orang tua dengan kekerasan fisik pada anak umur 3-6 tahun di kabupaten jember dengan sampel

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kloro- form rumput laut hijau Ulva reticulata memiliki aktivitas antibakteri yang sangat tinggi ( halo zone ) terhadap isolat

Hasil analisis data dari evaluasi ahli, didapat rata-rata penilaian pada uji skala kecil (kelompok kecil) 73,78%. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan maka

Kemampuan apa yang kamu kuasai sekarang? Apakah kamu sudah dapat memahami isi iklan dengan baik? Apakah kamu sudah dapat membedakan fakta dan opini dalam iklan dengan baik? Tentu