• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENDAHULUAN RASA AMAN NYAMAN.doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PENDAHULUAN RASA AMAN NYAMAN.doc"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN

RASA AMAN DAN NYAMAN (NYERI)

A. Masalah Keperawatan

Gangguan rasa aman dan nyaman (nyeri). B. Pengertian

a. Pengertian aman dan nyaman

Aman adalah keadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis atau bisa juga keadaan aman dan tentram (Potter & Perry, 2005).

Nyaman adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan ketentraman (suatu kepuasan yang meningkatkan penampilan sehari-hari), kelegaan (kebutuhan telah terpenuhi), dan transenden (keadaan tentang sesuatu yang melebihi masalah dan nyeri) (Potter & Perry, 2005).

b. Pengertian nyeri

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial (Smatzler & Bare, 2002).

Nyeri adalah suatu sensori subyektif dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan IASP (Potter & Perry, 2005).

Nyeri adalah perasaan yang tidak nyaman yang sangat subjektif dan hanya orang yang mengalaminya yang dapat menjelaskan dan mengevaluasi perasaan tersebut (Long, 1996)

Secara umum nyeri dapat didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman, baik ringan maupun berat (Priharjo, 1992)

c. Klasifikasi nyeri

Nyeri dapat diklasifikasikan kedalam beberapa golongan berdasarkan pada tempat, sifat , berat ringannya nyeri, dan waktu lamanya serangan. a. Nyeri berdasarkan tempatnya :

1. Pheriperal pain : nyeri yang terasa pada permukaan tubuh misalnya pada kulit, mukosa.

2. Deep pain : nyeri yang terasa pada permukaan tubuh ang lebih dalam atau pada organ-organ tubuh visceral.

(2)

3. Refered pain : nyeri dalam yang disebabkan karena penyakit organ/struktur dalam tubuh yang ditransmisikan kebagian tubuh di daerah yang berbeda, bukan daerah asal nyeri.

4. Centrai pain : nyeri ang terjadi karena perangsangan pada sistem saraf pusat, spinal cord, batang otak, thalamus, dan lainnya.

b. Nyeri berdasarkan sifatnya :

1. Incidental pain : nyeri tumbuh sewaktu-waktu lalu hilang.

2. Steady pain : nyeri yang timbul dan menetap dirasakan dan dalam waktu yang lama.

3. Paroxymal pain : nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi dan kuat sekali. Nyeri tersebut biasana menetap kurang lebih 10-15 menit, lalu menghilang kemudian timbul lagi.

c. Nyeri berdasarkan berat ringannya

1. Nyeri ringan : nyeri dengan intensitas rendah 2. Nyeri sedang : nyeri yang menimbulkan reaksi 3. Nyeri berat : nyeri dengan intensitas yang tinggi d. Nyeri berdasarkan waktu lamina serangan

1. Nyeri akut : nyeri yang dirasakan dalam waktu singkat dan berakhir kurang dari enam bulan, sember dan daerah nyeri diketahui dengan jelas.Rasa nyeri mungkin sebab akibat dari luka,seperti luka oprasi ataupun pada suatu penyakit arteriosclerosis pada arteri koroner. 2. Nyeri kronis : nyeri yang dirasakan lebih dari enam bulan. Nyeri

kronis polanya beragam dan berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Ragam pola tersebut ada yang nyeri timbul dengan periode yang diselingi interval bebas dari nyeri lalu timbul kembali lagi nyeri,dan begitu seterusnya. Ada pula pola nyeri kronis yang konstan, artinya rasa neri yang dirasakan secara terus-menerus, semakin lama semakin meningkat intensitasnya walaupun telah diberikan pengobatan. Misalnya, nyeri karena neoplasma.

d. Faktor-faktor penyebab nyeri

1. Stimulus Mekanik disebabkan adanya suatu penegangan akan penekanan jaringan.

2. Stimulus Kimiawi disebabkan oleh bahan kimia.

3. Stimulus Thermal adanya kontak atau terjadinya suhu yang ekstrim panas yang dipersepsikan sebagai nyeri 44°C - 46°C.

4. Stimulus Neurologik disebabkan karena kerusakan jaringan saraf. 5. Stimulus Psikologik adalah nyeri tanpa diketahui kelainan fisik yang

bersifat psikologis.

(3)

C. Gejala Dan Tanda

a. Nyeri Akut (Carpenito, 2012) 1. Mayor :

Individu memperlihatkan atau melaporkan ketidaknyamanan tentang kualitas nyeri dan intensitasnya

2. Minor :

a. Tekanan darah meningkat b. Nadi meningkat

c. Pernafasan meningkat d. Diaphoresis

e. Pupil dilatasi f. Posisi berhati-hati g. Raut wajah kesakitan h. Menangis, merintih b. Nyeri Kronis (Carpenito, 2012)

1. Mayor :

Individu melaporkan bahwa nyeri telah ada lebih dari 6 bulan. 2. Minor :

a. Gangguan hubungan social dan keluarga. b. Peka rangsangan

c. Ketidakaktifan fisik dan imobilitas d. Depresi

e. Menggosok kebagian yang nyeri. f. Ansietas

g. Tampak lunglai

h. Berfokus pada diri sendiri i. Tegangan otot rangka j. Preokupasi somatic k. Agitasi l. Keletihan m. Penurunan libido n. Gelisah D. Pohon Masalah

Stimulus Mekanik Stimulus Kimiawi

Stimulus Elektrik Stimulus Psikologik

Stimulus Thermal Stimulus Neurologik

Pelepasan mediator biokimia

(4)

E. Pemerikasaan Diagnostik

a. Pemeriksaan laboratorium klinik b. Sinar – X (Rontgen)

c. CT-Scan d. MRI

Nociceptor menerima rangsangan

Rangsangan ditransmisi ke medulla spinalis, thalamus, dan korteks sensorik somatik

Nyeri

Nyeri Akut Nyeri Kronis

Meringis kesakitan, Merasa cemas dan takut akan

penyakitnya Gangguan Rasa Aman dan Nyaman

(5)

F. Penatalakasanaan Medis a. Pemberian obat analgesik

Pemberian obat analgesik, yang dilakukan guna mengganggu dan memblok transmisi stimulus agar terjadi perubahan persepsi dengan cara mengurangi nyeri. Jenis analgesiknya adalah narkotika dan bukan narkotika. Jenis narkotika digunakan untuk menurunkan tekanan darah dan menimbulkan depresi pada fungsi vital,seperti respirasi. Jenis bukan narkotika yang paling banyak ditemukan dimasyarakat adalah aspirin, asetaminofen, dan bahan antiinflamasi nosteroid. Golongan aspirin (asetysalicylic acid) digunakan untuk memblok rangsangan pada sentral dan perifer,kemungkinan menghambat sintesis prostaglandin yang memiliki khasiat setelah 15-20 menit dengan efek puncak obat sekitar 1-2 jam. Aspirin juga menghambat agregasi trombosit dan antagonis lemah terhadap vitamin K, sehingga dapat meningkatkan waktu peredaran darah dan protombin bila diberikan dalam dosis yang tinggi. Golongan asetaminofen sama seperti aspirin,akan tetapi tidak menimbulkan perubahan kadar protombin dan jenis Nonsteroid Anti Inflammatory Drugs (NSAID), juga dapat menghambat prostaglandin dan dosis rendah dapat berfungsi sebagai analgesi.Kelompok obat ini meliputi ibuprofen, mefenamic acid, fenoprofen, naprofen, zomepirac, dan lain-lain.

Jenis Obat Analgesik Nama Generik Nama

Dagang

Dosis Cara

Pemberi an

Serangan Puncak Lama Khasiat Morphin - 5-20 mg per 3-4 jam SC, IM 5-10 menit 60 menit 4-6 jam Codein sulfat - 15-60 mg per 3-4 jam SC, PO 5-30 menit 30-60 menit 3-4 jam

(6)

Hydromorphone hydrocloride Dilaudid 2-4 mg per 4-6 jam IV, IM, SC, PO 5-15 menit 1 jam 4-6 jam Meperidine hydrocloride Demeral 50-150 mg per 3-4 jam IV, IM, SC, PO 10-15 menit 30-60 menit 2-4 jam Methadone Dolophine 2,5-10 mg per 3-4 jam IM, SC, PO

10 menit 1-2 jam 4-6 jam

Pentazocine Talwin 50-100 mg per 3-4 jam

PO

b. Pemberian stimululator listrik

Pemberian stimululator listrik, yaitu dengan memblok atau mengubh stimulus nyeri dengan stimulus yang kurang dirasaka.Bentuk stimulator metode stimulus listrik meliputi :

a) Transcutaneus electrical stimulator (TENS), digunakan untuk mengendalikan stimulus manual daerah nyeri tertentu dengan menempatkan beberapa electrode diluar.

b) Percutaneus implanted spinal cord epidural stimulator merupakan alat stimulator sumsum tulang belakang dan epidural yang diimplankan di bawahkulit dengan transitor timah penerima yang dimasukan kedalam kulit pada daerah epidural dan columna vertebrae.

c) Stimulator columna vertebrae, sebuah stimulator dengan stimulus alat penerima transistor dicangkok melalui kantong kulit intraclavicula atau abdomen, yaitu electrode ditanam melalui pembedahan pada dorsum sumsum tulang belakang.

(7)

Pengkajian nyeri yang akurat penting untuk upaya penatalaksanaan nyeri yang efektif. Karena nyeri merupakan pengalaman yang subjektif dan dirasakan secara berbeda pada masing-masing individu, maka perlu dikaji semua faktor yang mempengaruhi nyeri, seperti faktor fisiologis, psikologis, emosional, dan sosiokultural. Pengkajian dapat dilakukan dengan PQRST :

P (provoking) atau pemicu, yaitu faktor yang memicu timbulnya nyeri, Q (quality) atau kualitas dari nyeri, apakah tajam, tumpul, atau tersayat, R (region) atau daerah, yaitu daerah perjalanan nyeri,

S (severity) adalah keparahan atau intensitas nyeri,

T (time) atau waktu adalah lama/waktu serangan atau frekunsi nyeri. a. Riwayat Nyeri

1. Lokasi

Untuk menentukan lokasi nyeri yang spesifik, minta klien untuk menunjukan area nyerinya.

2. Intensitas nyeri

Penggunaan skala intensitas nyeri adalah metode mudah dan terpercaya untuk menentukan intensitas nyeri klien.

Skala nyeri menurut Hayward (1975) 0 : tidak nyeri

1 – 3 : nyeri ringan 4 – 6 : nyeri sedang

7 – 9 : sangat nyeri, tapi masih bisa dikontrol 10 : sangat nyeri dan tidak bisa dikontrol 3. Kualitas nyeri

Minta pasien untuk menjelaskan nyeri yang dirasakan, apakah seperti dipukul-pukul atau ditusuk-tusuk, dan sebagainya

4. Pola nyeri

Pola nyeri meliputi waktu, durasi, dan kekambuhan atau interval nyeri. 5. Faktor presipitasi

Terkadang aktivitas tertentu dapat memicu timbulnya nyeri. Seperti aktivitas fisik yang berat dapat memicu timbulnya nyeri dada. Selain itu, lingkungan, stresor fisik, dan emosional juga dapat memicu timbulnya nyeri.

6. Gejala yang menyertai

Gejala ini meliputi mual, muntah, pusing, dan diare. Gejala tersebut dapat disebabkan oleh awitan nyeri atau nyeri itu sendiri.

7. Pengaruh pada aktivitas sehari-hari

Dengan mengetahui sejauh mana nyeri mempengaruhi aktivitas klien akan membantu memahami perspektif klien tentang nyeri. Beberapa

(8)

aspek kehidupan yang dikaji terkait nyeri adalah tidur, nafsu makan, konsentrasi, pekerjaan, hubungan interpersonal, hubungan pernikahan, aktivitas di rumah, aktivitas di waktu senggang, serta status emosional. 8. Sumber koping

Setiap individu memiliki strstegi koping yang berbeda-beda dalam menghadapi nyeri. Strategi tersebut dapat dipengaruhi oleh pengalaman nyeri sebelumnya atau pengaruh agama atau budaya.

9. Respons afektif

Respons afektif klien terhadap nyeri bervariasi, bergantung pada situasi, derajat dan durasi nyeri, interpretasi tentang nyeri, dan banyak faktor lainnya. Perlu dikaji adanya ansietas, takut, lelah, depresi, atau perasaan gagal pada diri klien.

b. Observasi respons prilaku dan fisiologis

Banyak respon nonverbal yang bisa dijadikan indikator nyeri. Salah satu yang paling utama adalah ekspresi wajah. Perilaku seperti menutup mata rapat-rapat atau membukanya lebar-lebar, menggigit bibir bawah, dan seringai wajah dapat mengindikasikan nyeri. Selain ekspresi wajah respons nyeri dapat berupa vokalisasi (mengerang, menangis, berteriak), mobilisasi bagian tubuh yang mengalami nyeri, gerakan tubuh tanpa tujuan (menendang-nendang, membolak-balikan tubuh di kasur), dll.

Sedangkan respon fisiologis untuk nyeri bervariasi, bergantung pada sumber dan durasi nyeri. Pada awal nyeri akut, respons fisiologis dapat meliputi peningkatan tekanan darah, nadi dan pernafasan, diaphoresis serta dilatasi pupil akibat terstimulasinya sistem saraf simpatis. Jika nyeri berlangsung lama dan saraf simpatis telah beradaprasi, respon fisiologis tersebut mungkin akan berkurang atau mungkin tidak ada.

H. Daftar Diagnosis Keperawatan a. Nyeri akut b. Nyeri kronis I. Intervensi Keperawatan Hari/Tang gal/Jam Diagnosis Keperawatan

Tujuan Intervensi Rasional

Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji tingkat nyeri 2. Berikan informasi 1. Dengan mengetahui tingkat nyeri dapat diketahui

(9)

keperawatan selama ... x 24 jam, diharapakan nyeri berkurang dengan kriteria: - Pasien mengenal reaksi serangan nyeri - Pasien melaporkan nyeri dapat dikendalikan - Frekuensi nyeri menjadi ringan tentang nyeri 3. Ajarkan teknik relaksasi 4. Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup 5. Kolaborasi dalam pemberian analgetik yang tepat sesuai dengan resep 6. Periksa vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik

terapi yang tepat diberikan.

2. Klien lebih memahami tentang nyeri dan cara mengatasinya. 3. Relaksasi dapat mengurangi nyeri. 4. Istirahat yang cukup dapat menurunkan kecemasan dan mengurangi nyeri 5. Analgetik dapat menurunkan rasa nyeri 6. Untuk mengetahui perkembangan kondisi klien. Nyeri kronis Setelah

dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam, diharapakan nyeri berkurang dengan kriteria: - Pasien mengenal faktor penyebab 1. Kaji tingkat nyeri 2. Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyaman an 3. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi 1. Dengan mengetahui tingkat nyeri dapat diketahui terapi yang tepat diberikan. 2. Dengan mengpntrol faktor penyebab dapat mencegah timbulnya nyeri 3. Relaksasi dapat mengurangi nyeri. 4. Dengan mengetahui tipe

(10)

nyeri - Pasien mengenal reaksi serangan nyeri - Pasien mengenali gejala nyeri - Pasien melaporkan nyeri dapat dikendalikan - Frekuensi nyeri ringan - Pasien merasa nyaman 4. Perhatikan tipe dan sumber nyeri 5. Tingkatkan istirahat atau tidur untuk memfasilitasi manajemen nyeri 6. Kolaborasi dalam pemberian analgetik 7. Periksa tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgesik

dan sumber nyeri, nyeri dapat dicegah dan dikurangi dengan cara yang tepat. 5. Istirahat yang cukup dapat menurunkan kecemasan dan mengurangi nyeri 6. Analgetik dapat menurunkan rasa nyeri 7. Untuk mengetahui perkembangan kondisi klien. J. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan dilaksanakan sesuai dengan intervensi. K. Evaluasi

Evaluasi dapat dibedakan atas evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi proses dievaluasi setiap selesai melakukan perasat dan evaluasi hasil berdasarkan rumusan tujuan terutama kriteria hasil. Hasil evaluasi memberikan acauan tentang perencanaan lanjutan terhadap masalah nyeri yang dialami oleh pasien.

L. Referensi

Carpenito, Lynda Juall. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 13. Jakarta: EGC.

Herdman, T Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Jakarta: EGC.

(11)

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2012. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi

Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Mubarak, W.I., Chayatin, Nurul. 2008. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia:

Teori & Aplikasi dalam Praktik. Jakarta: EGC.

Potter, Patricia A., Perry, Anne Griffin. 2005. Buku Ajar Fundamental

Keperawatan: Konsep, Proses Dan Praktik Edisi 4. Jakarta : EGC.

Denpasar, ... 2014

Mahasiswa

Luh De Diah Jenitri Nim. P07120014025 Mengetahui, Pembimbing Praktik ……… NIP. ………. Mengetahui, Pembimbing Institusi ……… NIP. ……….

Referensi

Dokumen terkait

1) Gangguan rasa aman dan nyaman (nyeri) berhubungan dengan proses inflamasi 2) Gangguan rasa aman dan nyaman (nyeri) akut berhubungan dengan stress.. 3) Gangguan rasa aman

Pasien dengan tindakan ini mengalami gangguan rasa nyaman nyeri karena post operasi, nyeri yang dialami adalah nyeri akut, yang termasuk nyeri akut yaitu nyeri yang terjadi setelah

Pasien dengan keadaan nyeri, kondisi ini dapat bersifat lama dan ada yang singkat, berdasarkan lama waktu terjadinya inilah sehingga nyeri dibagi dua, yaitu nyeri kronis dan

Kesimpulan : Klien yang mengalami trombositopenia, dapat merasakan adanya nyeri akut yang bisa mengakibatkan gangguan pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman,

Klien mengatakan nyeri yang dirasakan sangat sakit, dengan skala nyeri 7..

Nyeri akut adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual, potensial, digambarkan dalam istilah

Klasifikasi nyeri secara umum di bagi menjadi dua, yakni nyeri akut dan kronis. Nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang, yang

Hasil : Pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien fraktur tertutup dengan masalah keperawatan nyeri akut yang dilakukan tindakan keperawatan kombinasi kompres