BAB 2 LANDASAN TEORI. Sebelum membahas mengenai fungsi meireikei, terlebih dahulu saya akan

Teks penuh

(1)

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Konsep/Pengertian Meireikei

Sebelum membahas mengenai fungsi meireikei, terlebih dahulu saya akan menjelaskan mengenai definisi atau pengertian meireikei menurut beberapa ahli bahasa Jepang. Kitahara (1988:68) mendefinisikan meireikei sebagai berikut:

命令形は、命令の意を表しつつ、文を終える時に使われる形である。

Meireikei adalah bentuk yang digunakan untuk mengakhiri kalimat, yang

menunjukkan arti sebuah perintah.

Matsumura (1989:830) menjelaskan meireihyougen (ungkapan perintah) sebagai berikut: 聞き手に対して、話し手が望む行為や状態を、遂行・実現するように命 じる言語表現。

Bagi pendengar, ungkapan perintah adalah ungkapan bahasa yang memerintahkan untuk merealisasikan atau melaksanakan kondisi atau perbuatan yang diinginkan pembicara.

Kemudian Ishizawa (2002:80) menjelaskan meireikei sebagai berikut:

相手にある動作を強要するときに使う。非常に強い響きを持つので、使 う場面は限られている。

Meireikei digunakan pada waktu memaksa tindakan lawan bicara. Karena

(2)

2.2 Fungsi Meireikei Menurut Buku Minna no Nihongo Shokyuu II Terjemahan

dan Keterangan Tata Bahasa.

Ishizawa (2002:80-81) menjelaskan fungsi penggunaan meireikei sebagai berikut: 口頭で使うのはほとんどの場合、男性に限られる。命令形は次のような 関係、場面で使われることを説明する。 1.年齢が上の男性から下の者に、あるいは父親から子どもに指示、叱 責、命令などをする場合。 2.男性の友人同士で指示、依頼などをする場合。 3.工場などでの指示。家事や地震などの緊急時の指示。 4.団体訓練、学校の体育、スポーツクラブの活動などでの号令。 5.スポーツ観戦での応援。 6.交通標識や標語など。

Terjemahannya menurut Minna no Nihongo Shokyuu II Terjemahan dan Keterangan Tatabahasa (Beserta Contoh):

Penggunaan bentuk perintah dalam percakapan umumnya oleh kaum pria saja. Bentuk perintah yang digunakan sendiri atau digunakan di akhir kalimat seperti contoh di bawah ini:

(1) Bila digunakan oleh pria yang statusnya lebih tinggi atau usianya lebih tua kepada yang lebih rendah atau muda seperti seorang ayah kepada anaknya. Contoh: 早

はや く寝

ろ。 ‘Cepat tidur!’

(2) Antar teman pria. Untuk melembutkan nada percakapan digunakan K.Bantu よ(yo) di akhir kalimat.

Contoh: あしたうちへ来こい[よ]。 ‘Besok, datanglah ke rumah!’

(3) Saat tidak ada waktu untuk berbasa basi, misalnya saat memberi perintah di pabrik, saat keadaan darurat seperti kebakaran, gempa bumi, dan lainnya. Pada saat itu pun banyak digunakan oleh pria yang lebih tinggi statusnya

(3)

atau lebih tua.

Contoh: 逃にげろ。 ‘Selamatkan dirimu!’

(4) Saat memberi perintah waktu latihan berkelompok atau berolahraga di sekolah atau klub.

Contoh: 休やすめ。 ‘Istirahat!’

(5) Saat memberi dukungan pada pertandingan olahraga. Pada waktu ini wanita pun kadang-kadang menggunakannya.

Contoh: 頑張が ん ばれ。 ‘Berusahalah!’

(6) Pada tanda-tanda lalu lintas atau slogan yang mengharapkan efek yang kuat atau untuk meringkas ucapan.

Contoh: 止とまれ。 ‘Berhenti!’

2.3 Etnografi Komunikasi

Setelah menguraikan fungsi meireikei di atas, dapat kita lihat bahwa penggunaan

meireikei terkait dengan beberapa hal seperti waktu dan tempat, peserta percakapan

(partisipan), dan hubungan antar partisipan. Pemakaian bahasa secara umum tidak akan terlepas dari pengaruh kehidupan masyarakat pengguna bahasa tersebut. Dalam cabang ilmu bahasa, terdapat sebuah istilah yaitu sosiolinguistik, yang membahas mengenai hal ini. Hudson dalam Wardhaugh (2002:12) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi bahasa dalam keterkaitannya dengan masyarakat. Di dalam studi bahasa yang berkaitan

(4)

dengan masyarakat ini, terdapat juga istilah etnografi komunikasi. Etnografi (民族誌) sendiri menurut Hymes dalam Hashiuchi (1999:82) adalah sebagai berikut:

‘ethnography’(民族誌)は文化人類学の用語であり、特定の民族[社会] の文化をフィールド・ワークをふまえて記述するものである。

Etnografi adalah istilah antropologi budaya, berupa tulisan/catatan yang dituliskan berdasarkan pengamatan terhadap budaya bangsa [masyarakat] tertentu.

Sedangkan etnografi komunikasi menjabarkan unsur-unsur yang mempengaruhi hasil akhir yang ingin dicapai oleh sebuah percakapan.

Hymes dalam Hashiuchi (1999:83-84) kemudian menjelaskan bahwa terdapat delapan faktor dalam etnografi komunikasi, yang mempengaruhi hasil akhir sebuah percakapan. Faktor-faktor tersebut adalah 状況設定(setting)、参加者(participants)、 目的(ends)、行為連続(act sequence)、表現特徴(key)、媒介(instrumentalities)、 相互行為と解釈の規範(norms of interaction and interpretation)、dan ジャンル (genre).

Setting atau latar belakang adalah waktu dan tempat di mana percakapan tersebut

berlangsung. Participants atau peserta adalah orang-orang yang terlibat secara aktif dalam percakapan tersebut. Ends atau hasil akhir adalah tujuan akhir yang ingin dicapai oleh peserta dari percakapan yang sedang berlangsung. Act sequence atau urutan kejadian adalah bentuk asli dan isi dari percakapan yang sedang berlangsung, cara

(5)

percakapan berlangsung, dan hubungan dari apa yang sedang diperbincangkan dengan topik yang dibahas. Key atau cara, mengacu kepada intonasi, sikap, dan jenis percakapan tersebut seperti percakapan serius, percakapan ringan, dan sebagainya. Instrumentalities atau media adalah media penyampaian percakapan seperti lisan, tulisan, dan sebagainya.

Norms of interaction and interpretation atau norma interaksi dan interpretasi mengacu

kepada hal-hal seperti besar-kecilnya suara, pandangan mata, dan sebagainya, yang berkaitan dengan norma suatu masyarakat, dan yang terakhir genre atau jenis adalah bentuk pengungkapan percakapan seperti puisi, teka-teki, doa, kuliah, dan sebagainya.

Dapat kita lihat bahwa kedelapan faktor ini mempengaruhi fungsi penggunaan

meireikei. Pembatasan pemakai meireikei, waktu pemakaian, dan situasi pemakaiannya

dapat diteliti lebih lanjut dengan memahami budaya dan pemikiran masyarakat Jepang.

2.4 Konsep/Pemikiran Masyarakat Jepang yang Berhubungan dengan Fungsi

Meireikei.

Martin dalam Wardhaugh (2002:279) mendeskripsikan orang Jepang sebagai orang yang sangat sopan. Martin dalam Wardhaugh (2002:279) juga mengatakan bahwa ada empat faktor dasar yang mempengaruhi pemakaian bahasa sopan. Faktor-faktor tersebut adalah faktor kelompok (dekat atau tidaknya hubungan para pemakai bahasa),

(6)

posisi/jabatan sosial, perbedaan usia, dan perbedaan jenis kelamin. Keempat faktor yang dijelaskan oleh Martin dalam Wardhaugh (2002:279) ini jelas terlihat dalam hal penggunaan meireikei.

1. Konsep Danjyo(男女)atau Gender

Danjyo(男女)merupakan bahasa Jepang yang terbentuk dari dua huruf kanji yaitu

kanji yang menunjukkan arti pria(男)dan kanji yang menunjukkan arti wanita(女). Dalam ilmu sosiolinguistik, terdapat istilah gender yang mengacu pada perbedaan penggunaan bahasa dilihat dari faktor jenis kelamin pemakai bahasa tersebut (pria atau wanita). Berbagai pengamat bahasa telah menyatakan bahwa terdapat perbedaan penggunaan bahasa oleh pria dan wanita dalam berbagai masyarakat dunia. Brend dalam Wardhaugh (2002:319) mengatakan bahwa dalam penelitiannya akan penggunaan gramatikal bahasa Inggris, ia menemukan bahwa wanita lebih cenderung untuk menggunakan bahasa formal dan bahasa sopan dibandingkan dengan pria. Hal ini juga terjadi dalam bahasa Jepang. Nakao dalam Sudjianto (2004:208) menyimpulkan bahwa, “wanita Jepang memakai bahasa yang lebih hormat atau lebih halus daripada pria”. Sanada (1995:19) juga menyatakan hal berikut.

男女の間で使用することばに相違が見られることは、日本語のひとつの 特徴であると思われている。会話における日本語は、文字にした場合で も、話し手が男性であるか女性であるかがわかるのがふつうであるとさ れる。

(7)

Dapat dilihatnya perbedaan penggunaan bahasa antara pria dan wanita adalah salah satu ciri khas bahasa Jepang. Merupakan hal yang wajar untuk dapat mengetahui apakah sang pembicara adalah pria atau wanita dalam percakapan maupun teks bahasa Jepang.

Wardhaugh (2002:324) menyebutkan tiga alasan perbedaan penggunaan bahasa ini. Yang pertama adalah karena pria dan wanita secara biologis memang berbeda dan hal ini mempengaruhi pemakaian bahasa. Wanita secara psikologis cenderung saling berusaha mendukung satu sama lain dan kurang kompetitif, sedangkan pria cenderung untuk mandiri dan lebih kompetitif. Alasan yang kedua adalah karena hubungan sosial dilihat dalam bentuk hierarki kekuasaan, bahwa biasanya kaum pria mempunyai posisi yang lebih kuat atau di atas dibandingkan dengan wanita. Oleh karena itu pria cenderung menggunakan bahasa yang lebih kuat, menginterupsi, dan menuntut. Alasan yang terakhir, yang mendukung alasan nomor dua yaitu bahwa pria dan wanita hidup dan belajar dalam lingkungan yang menuntut mereka untuk berperan layaknya pria dan wanita. Ketiga hal inilah yang menurut Wardhaugh (2002:324) memiliki andil dalam terjadinya perbedaan pemakaian bahasa antara kaum pria dan wanita.

Melihat penjelasan di atas, kita dapat menarik simpulan bahwa terdapat perbedaan penggunaan bahasa oleh pria dan wanita, contohnya dalam bahasa Jepang. Akan tetapi apakah hal ini menyatakan bahwa setiap kaum wanita Jepang selalu menggunakan bahasa wanita dan kaum pria Jepang selalu menggunakan bahasa pria.

(8)

Sanada(1995:19-20) memberikan penjelasan mengenai praktek penggunaan bahasa wanita dan pria sebagai berikut:

話してA(女) 話してB(男) わからないわ わからないよ 一人で帰れるから大丈夫よ 一人で帰れるから大丈夫だよ 軽蔑した言い方ね 軽蔑した言い方だね ここでは、終助詞「わ」の存在や「だ」の挿入を指標としてその決定が なされるのである。(なお、「だわ」は女性のことばである。) ところで、A におけるセンテンスは、特殊なケースを除いて、それが女 性用のコードであることはまちがいがないであろう。問題はBにおけるセ ンテンスである。上のようにA と対比して見ると、これらは男性用のコー ドみなされる。しかしながら、現実はどうであろう。B のセンテンスを、 たとえば、ある中年女性が自分の娘に対して使ったことばとしても不自然 ではないのではないか。最近、女性側のレジスター(言語使用域)が広が りつつあることが指摘されるのである。

Cara baca dan terjemahannya:

Hanashite A (onna) Hanashite B (otoko)

Pembicara A (wanita) Pembicara B (pria)

wakaranaiwa wakaranaiyo

Saya tidak mengerti

hitoride kaererukara daijyoubuyo hitoride kaererukara daijyoubudayo

karena saya bisa pulang sendiri, tidak apa-apa

keibetsu shita iikata ne keibetsu shita iikata dane

(9)

Yang menunjukkan perbedaan pembicara pada kalimat di atas adalah keberadaan sisipan [da] dan partikel akhir/shuujyoshi [wa]. ([dewa] juga merupakan bahasa wanita.)

Dengan mengesampingkan situasi khusus, kalimat A jelas merupakan kalimat yang diucapkan wanita. Yang menjadi masalah adalah kalimat B. Jika dibandingkan dengan kalimat A seperti di atas, maka kalimat B adalah kalimat yang diucapkan oleh pria. Akan tetapi, bagaimana dengan kenyatannya. Bukanlah hal yang aneh bagi seorang wanita untuk mengatakan kalimat B, contohnya ketika seorang wanita paruh baya berbicara kepada anak perempuannya. Akhir-akhir ini, pemakaian bahasa di kalangan wanita meluas.

Sudjianto (2004:210) juga menjelaskan mengenai adanya penyimpangan dalam penggunaan danseigo (bahasa pria) dan joseigo (bahasa wanita).

Penggunaan danseigo oleh penutur wanita dan penggunaan joseigo oleh penutur pria dapat dianggap sebagai suatu penyimpangan sebab masyarakat tidak menghendaki perilaku kebahasaan yang tidak sesuai dengan norma-norma sosial. Penyimpangan seperti itu dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu dan dalam situasi tertentu. Pemakaian danseigo oleh wanita hanya sebagai ’bahasa pertemanan’ atau ’bahasa pergaulan’ yang digunakan terhadap teman sebaya atau teman sekelas yang sangat akrab dalam situasi bermain. Sebab dalam situasi lain atau dengan lawan bicara lain, terutama setelah usia mereka meningkat dewasa, maka kata-kata seperti ini tidak muncul dalam pemakaian bahasanya. Begitu juga

joseigo yang dipakai pria, hal itu dilakukan hanya untuk tujuan-tujuan tertentu,

misalnya untuk tujuan bisnis untuk menarik minat para pelanggan yang menjadi lawan bicaranya yang kebetulan sebagian besar kaum wanita.

Dari penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa dalam prakteknya, wanita Jepang terkadang menggunakan bahasa pria dan pria Jepang juga terkadang menggunakan bahasa wanita dalam situasi tertentu.

(10)

2. Konsep Jyoge(上下)atau Hierarki

Jepang adalah salah satu negara yang mementingkan hierarki atau tingkatan dalam hubungan masyarakat. Sama halnya dengan danjyo, jyoge adalah bahasa Jepang yang tersusun dari dua huruf kanji yang secara harafiah berarti atas(上)dan bawah(下). Masyarakat Jepang belajar sedari dini bagaimana menghormati orang yang lebih tua atau yang mempunyai posisis/jabatan lebih tinggi daripada diri mereka. Bentuk cara menghormati ini dapat dilihat baik dalam posisi tubuh maupun dalam penggunaan bahasa seseorang ketika ia berhadapan dengan orang yang lebih tua maupun yang posisinya lebih tinggi. Benedict (2000:47-48) menjelaskan bahwa setiap sapaan dan kontak yang terjadi dalam masyarakat Jepang harus mengindikasikan status sosial seseorang. Seseorang akan menggunakan kata yang berbeda untuk menunjukkan hal yang sama kepada lawan bicara yang berbeda. Masyarakat Jepang memiliki apa yang disebut bahasa hormat yang didukung dengan gerakan tubuh yang berbeda seperti contohnya dalam hal ojigi atau membungkuk (memberi salam). Dalam masyarakat Jepang, terdapat tata cara penggunaan bahasa hormat serta tata cara membungkuk yang benar. Dengan adanya faktor hierarki inilah, masyarakat Jepang juga dituntut untuk menggunakan bahasa yang tepat.

(11)

3. Konsep Uchi dan Soto

Inoue (1979:71-72) menjelaskan konsep uchi dan soto secara umum sebagai berikut:

準拠集団としての「世間」を区別する規準は、「ウチ」と「ソト」の観念

である。私たちはふつう、生活空間をウチとソトにわけてとらえている。 自分がぞくしている範囲がウチであり、それ以外が、ソトである。 Basis standar dalam membedakan masyarakat atau dunia sebagai kelompok dasar adalah konsep uchi dan soto. Kita biasanya memilah unsur-unsur kehidupan menjadi uchi dan soto. Ruang lingkup di mana terdapat diri kita adalah uchi, dan ruang lingkup di luar itu disebut soto.

Dalam website Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Uchi-soto, Uchi-soto, 11-04-2006), dikatakan bahwa uchi dan soto adalah istilah dalam bahasa Jepang yang menunjukkan perbedaan kelompok dalam (orang yang mempunyai hubungan dekat/uchi) dan kelompok luar (orang yang mempunyai hubungan tidak dekat/soto).

Kedua konsep ini tercermin dalam perilaku sehari-hari masyarakat Jepang. Contoh yang dapat diambil adalah dalam hal mandi. Dalam keluarga Jepang, urutan mandi adalah dari yang usianya paling tua sampai yang paling muda. Akan tetapi jika ada tamu yang menginap, sebagai bentuk penghargaan dan kesopanan, maka tamu tersebut akan dipersilakan untuk mandi terlebih dahulu. Konsep uchi dan soto ini tidak hanya dapat dilihat dalam sikap atau tindak tanduk masyarakat Jepang sehari-hari, akan tetapi juga dalam penggunaan bahasa Jepang. Jika berbicara dengan orang yang kurang mempunyai hubungan dekat (soto no hito), maka orang Jepang akan meninggikan/menghormati

(12)

orang tersebut dengan cara menggunakan bahasa formal dan sopan. Hirabayashi dan Hama (1992:3) menjelaskan penggunaan bahasa Jepang yang terkait dengan konsep uchi dan soto sebagai berikut:

「内」の人間(家族、自分の会社の人、自分の属するグループの人など)

が、「外」の人間(親しくない人、他人、他会社の人、他グループの人な

ど)と話し合ったり、その人たちを話題にするとき、自分を含む「内」

の人間に対しては謙譲語、「外」の人間に対しては尊敬語を使う。

Ketika berbicara dengan orang dalam (keluarga, orang di perusahaan yang sama, orang-orang dalam kelompok yang dekat dengan kita) dan orang luar (orang yang tidak dekat, orang lain, orang dari perusahaan lain, orang-orang yang berasal dari kelompok luar), untuk menjadikan orang-orang tersebut menjadi pokok pembicaraan, kita harus menggunakan kenjyougo (bahasa perendahan) ketika membicarakan orang dalam, dan sonkeigo (bahasa hormat) ketika membicarakan orang luar.

Pemakaian bahasa formal/sopan umunya tidak digunakan dalam lingkup orang yang mempunyai hubungan dekat/orang dalam (uchi no hito).

4. Konsep Situasi

Untuk menganalisis konsep situasi dalam sebuah percakapan atau komunikasi, kita perlu terlebih dahulu mengetahui definisi dari teks dan konteks. Menurut Schourup dan Cauldwell (1991:9-11) teks adalah kata-kata yang digunakan untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu, sedangkan konteks adalah lingkungan dimana teks digunakan. Schourup dan Cauldwell (1991:13-14) kemudian menyebutkan istilah Context of

(13)

memiliki arti. Ada tiga hal dalam konteks situasi yang perlu dilihat dalam keterkaitannya dengan terjalinnya sebuah komunikasi. Tiga hal tersebut adalah field, tenor, dan mode.

Field mencakup jenis dari aktifitas dimana teks tersebut dipakai. Contohnya seperti

aktivitas membeli/menjual, melamar pekerjaan, dan sebagainya. Tenor mencakup hubungan sosial di antara pemakai teks seperti suami-istri, dokter-pasien, dan sebagainya. Yang terakhir, mode, mencakup media penyampaian teks seperti dalam bentuk suara ataupun tulisan.

Seperti halnya Schourup dan Cauldwell (1991:13-14) yang menjelaskan unsur-unsur dalam konteks situasi, Sanada (1995:35) juga menjelaskan mengenai unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah peristiwa sebagai berikut:

場面的要素とは、場所・場所柄・事態・状況などの空間的条件、時間・ 時刻・時代などの時間的条件、どんな媒体や接触方法で言葉行動を実現 するかという媒体の条件、その状況が参加者に与える心理的条件などが 中心となる。場所柄や状況というなかに、話し相手や聞き手という人の 要素もかかわる。

Unsur-unsur yang ada dalam satu peristiwa adalah yang pertama, syarat adanya tempat, tempat spesifik, kondisi, keadaan, dan sebagainya. Syarat yang kedua adalah adanya tenggang waktu saat peristiwa terjadi, waktu spesifik, jaman, dan sebagainya. Syarat yang ketiga adalah adanya perwujudan aktivitas bahasa dengan kontak dan media tertentu. Ketiga syarat inilah yang akan menjadi penentu psikologis dan mempengaruhi penutur maupun petutur. Dalam unsur keadaan dan tempat spesifik, ada juga elemen penutur dan petutur.

(14)

Contoh yang dapat saya berikan untuk memperjelas konsep situasi/kondisi di atas adalah:

1.) Situasi ketika seseorang sedang merasa marah.

2.) Situasi ketika seseorang sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Dari penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa keempat konsep ini mempunyai peran yang besar dalam sebuah komunikasi atau percakapan secara umumnya. Dalam bahasa Jepang, keempat elemen ini juga terbukti memainkan peranan penting dalam faktor penggunaan kata atau bentuk tata bahasa tertentu yang dapat kita lihat dalam fungsi

meireikei yang telah dituliskan pada poin 2.2.

2.5 Cara Merubah Bentuk Kata Kerja Masu ke dalam Bentuk Perintah/Meireikei

Ishizawa (2002:81) menjelaskan cara perubahan meireikei sebagai berikut: II グループは「ます」→「ろ」

III グループは「来ます」→「来い」、「します」→「しろ」 I グループは「ます」の前の母音が e に変わり、「ます」を取れる Terjemahannya:

Kelompok II : [masu] Æ [ro]

Kelompok III : [kimasu] Æ [koi], [shimasu] Æ [shiro]

Kelompok I : ganti huruf vokal sebelum [masu] menjadi e, lalu hilangkan [masu]

(15)

Untuk lebih memperjelas cara perubahan meireikei, di bawah ini saya akan memberikan beberapa contoh perubahan bentuk kata kerja masu ke dalam meireikei.

Contoh perubahan kelompok II: (1) 見ます → 見ろ Mimasu Æ Miro Melihat Æ Lihat! (2) 起きます → 起きろ Okimasu Æ Okiro Bangun Æ Bangun! Contoh perubahan kelompok III: (1) 来ます → 来い

Kimasu Æ Koi

Datang Æ Datanglah! (2) 勉強します → 勉強しろ

Benkyou shimasu Æ Benkyou shiro Belajar Æ Belajarlah!

(16)

Contoh perubahan Kelompok I: (1) 急ぎます → 急げ Isogimasu Æ Isoge Bergegas Æ Bergegaslah! (2) 座ります → 座れ Suwarimasu Æ Suware Duduk Æ Duduk!

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :