1
SIAU TAGULANDANG BIARO
LAPORAN AKHIR
RENCANA INDUK
SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM
(RISPAM)
2
Kata Pengantar
Penyusunan Laporan Akhir pekerjaan Rencana Induk SPAM Wilayah SIau, adalah merupakan penjabaran dan implementasi dari kebijakan pemerintah dalam upaya pembangunan sarana dan prasarana air minum untuk kesejahteraan rakyat sekaligus mendorong pembangunan perekonomian daerah yang bersangkutan.
Perencanaan aspek teknis dalam merumuskan basic design Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) Wilayah Siau dibuat sesuai dengan kebijakan pembangunan daerah yang bersangkutan serta proyeksi kebutuhan air minum dalam kurun waktu 15 – 20 tahun sesuai potensi sumber air baku yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pelayanan air minum dengan tetap mempertimbangkan kelestarian sumber daya alam.
Sebagaimana realisasi kerjasama antara BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH dengan CV. PRIMA ENGINEERING CONSULTANT untuk pekerjaan DOKUMEN RENCANA INDUK SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM berdasarkan surat perjanjian atau kontrak nomor : 02/SP-Dok.RISPAM/PPK/IX-2016 Tanggal 29 September 2016, dimana salah satu tahapannya adalah menyusun laporan akhir.
3
Daftar Istilah dan Definisi xii
Acuan Normatif xvii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.1.1 Maksud dan Tujuan 2
1.1.2 Keluaran Pelaksanaan Pekerjaan 3
1.1.3 Otoritas 4
1.2 Ruang Lingkup Pekerjaan 5
1.2.1 Wilayah Administrasi 6
1.2.2 Klasifikasi 6
1.2.2.1 Klasifikasi Perkotaan 6
1.2.2.2 Klasifikasi RIP-SPAM 7
1.3 Sistematika Laporan 9
BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH PROYEK 11
2.1 Kabupaten Sitaro Dalam Perspektif 11
2.1.1 Kabupaten Sitaro Dalam Perspektif Nasional 11
2.1.2 Kabupaten Sitaro Dalam Perspektif Provinsi 11
2.1.3 Kabupaten Sitaro Dalam Perspektif Kawasan Andalan 13
2.2 Ruang dan Lahan 13
2.2.1 Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 13
2.2.2 Penggunaan Lahan dan Tata Guna Lahan 16
2.2.3 Rencana Pengembangan Tata Kota 17
2.2.4 Rencana Pengembangan Kawasan Prioritas 19
2.2.5 Kawasan Lindung 19
2.2.6 Laju Perubahan Tata Guna dan Fungsi Lahan 24
4
2.2.6.2 Pemanfaatan Lahan Secara Berkelanjutan 25
2.3 Kondisi Fisik Dasar 26
2.3.1 Geografi 26
2.3.2 Topografi dan Fisiografi 26
2.3.3 Wilayah Siau 26
2.3.4 Rencana Struktur Ruang 26
2.3.5 Geologi 27
2.3.6 Hidrologi, Klimatografi dan Hidrogeologi 32
2.4 Sarana dan Prasarana 32
2.4.1 Air Limbah dan Drainase 32
2.4.2 Persampahan 32
2.4.3 Drainase 33
2.4.4 Sarana Perekonomian 33
2.4.5 Sarana Sosial dan Kesehatan 33
2.4.6 Sarana Peribadatan 35
2.4.7 Sarana Transportasi 36
2.4.8 Sarana Listrik 37
2.4.9 Sarana Telekomunikasi 37
2.4.10 Kawasan Strategis 37
2.5 Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat 41
2.5.1 Demografi 42
2.5.2 Keuangan Daerah 44
2.5.2.1 Pertumbuhan Ekonomi 45
2.5.2.2 Struktur Perekonomian dan Lapangan Kerja 45
2.5.3 Mata Pencaharian Penduduk 46
BAB III KONDISI EKSISTING SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 49
3.1 Aspek Teknis 49
3.1.1 Sistem Produksi 49
3.1.1.1 Unit Air Baku 49
3.1.1.2 Unit Instalasi 50
3.1.1.3 Unit Distribusi 51
3.1.1.4 Tingkat Kebocoran 52
3.1.1.5 Kondisi Operasional dan Perawatan 53
5
3.1.2.1 Kinerja Pelayanan 53
3.1.2.2 Tingkat Pelayanan 53
3.1.2.3 Kinerja Pelayanan 53
3.1.2.4 Jangkauan Pelayanan 55
3.2 Sistem Non Perpipaan (Terlindung dan Tidak Terindung) 56
3.3 Permasalahan Aspek Teknis 57
3.3.1 Pengolahan Air (IPA) 57
3.3.2 Sistem Distribusi 58
3.3.3 Wilayah Pelayanan 58
3.4 Sistematik SPAM Eksisting 59
3.5 Aspek Non Teknis 61
3.5.1 Aspek Keuangan 61
3.5.1.1 Kondisi dan Kinerja Keuangan 61
3.5.1.2 Tarif Retribusi 62
3.5.1.3 Pendapatan 61
3.5.1.4 Pegeluaran 62
3.5.1.5 Permasalahan Keuangan 62
3.5.2 Aspek Institusional dan Manajemen 62
3.5.2.1 Organisasi dan Kelembagaan 62
3.5.2.2 Kinerja Pengelolaan dan SDM 62
3.5.2.3 Permasalahan Aspek Kelembagaan 63
BAB IV KRITERIA TEKNIS, METODA dan STANDAR PENGEMBANGAN SPAM 64
4.1 Umum 64
4.1.1 Periode Perencanaan 64
4.1.2 Standar Konsumsi Pemakaian Air 64
4.1.3 Kebutuhan Air 65
4.1.3.1 Kebutuhan Rata-rata Domestik dan Non Domestik 65
4.1.3.2 Kebutuhan Maksimum 66
4.1.3.3 Kebutuhan Puncak 66
4.1.4 Kehilangan Air 66
4.1.5 Sistem Penyediaan Air Minum 67
4.1.5.1 Air Baku 67
4.1.5.2 Transmisi 68
6
4.1.5.4 Reservoar 70
4.1.5.5 Distribusi 71
4.2 Metode Proyeksi Penduduk 72
BAB V AIR BAKU 78
5.1 Potensi Air Baku 78
5.1.1 Potensi Air Permukaan 79
5.1.2 Potensi Air Tanah 80
5.2 Alternatif Sumber Air Baku 81
5.3 Sumber Air Baku Terpilih 81
BAB VI RENCANA INDUK DAN PRA DESAIN PENGEMBANGAN SPAM 82
6.1 Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Studi 82
6.2 Pengembangan Wilayah Pelayanan 83
6.3 Tingkat Pelayanan 111
6.4 Rencana Pentahapan 111
6.5 Kebutuhan Air Minum 112
6.5.1 Klasifikasi Penggunaan Air 112
6.5.2 Kebutuhan Air Minum 112
6.5.3 Tingkat Kebocoran 114
6.6 Kebutuhan Air Minum Tiap Zona Pelayanan 115
6.7 Alternatif Perencanaan Pengembangan 115
6.8 Sistem Terpilih 115
6.8.1 Unit Air Baku 115
6.8.2 Unit Produksi 116
6.8.3 Skematik Rencana 118
6.9 Keterpaduan Dengan Prasarana dan Sarana Sanitasi 119
6.9.1 Potensi Pencemaran Air Baku 119
6.9.2 Rekomendasi Penggunaan dan Pengamanan Sumber Air Baku 119
6.9.3 Pengelolaan Limbah dari IPA 119
6.9.4 Potensi Sumber Air Minum dari IPAL 120
6.10 Perkiraan Kebutuhan Biaya 120
BAB VII ANALISA KEUANGAN 124
7.1 Kebutuhan Investasi dan Sumber Pendanaan 124
7.2 Dasar Penentuan Asumsi 126
7
BAB VIII PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN PELAYANAN AIR MINUM 129
8.1 Umum 129
8.2 Kajian Peraturan dan Perundang-undangan 132
8.3 Organisasi 133
8.3.1 Bentuk Badan Pengelola 133
8.3.2 Struktur Organisasi 137
8.3.3 Penyesuaian Implementasi Organisasi dengan Pengembangan Sistem 137
8.4 Sumber Daya Manusia 141
8.4.1 Jumlah 142
8.4.2 Kualifikasi 142
8.4.3 Pelatihan 143
BAB IX KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT 145
9.1 Umum 145
9.2 Program Pengembangan SPAM Wilayah Siau 145
9.3 Saran Tindak Lanjut 146
8
Daftar Gambar
Gambar 2.1 Posisi Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro di Prov. Sulawesi Utara 15
Gambar 2.2 Jumlah Desa dan Kelurahan Menurut Kecamatan 15
Gambar 2.3 Grafik Luas Penggunaan Lahan di Kab. Kep. Siau tagulandang Biaro 25 Gambar 2.4 Pusat-pusat Kegiatan di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 29 Gambar 2.5 Skema pusat Kegiatan di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 30
Gambar 3.1 Skema Sarana Air Bersih Eksisting Akesimbeka 50
Gambar 3.2 Skematik SPAM Eksisting Akesimbeka 59
Gambar 3.3 Skematik Eksisting Peling 60
Gambar 6.1 Contoh Instalasi Penyediaan Air 82
Gambar 6.2 Gerbang Ibukota Ondong 83
Gambar 6.3 Peta Kecamatan Siau Barat 84
Gambar 6.4 Mata Air Balango Peling 84
Gambar 6.5 Perencanaan Teknis Mata Air Balango 85
Gambar 6.6 Contoh Katub Pelepas Tekan 85
Gambar 6.7 Potongan Melintang Desain Broncap 86
Gambar 6.8 Air Buangan dri Danau Kapeta 87
Gambar 6.9 Reservoar Air dari Danau Kapeta 87
Gambar 6.10 Peta Kecamatan Siau Barat Selatan 88
Gambar 6.11 Sistem Penyediaan Air Minum Kapeta 88
Gambar 6.12 Bak Penampung dari Mata Air Burake 89
Gambar 6.13 Bak Penanmpung Warga Balirangen 90
Gambar 6.14 Peta Kecamatan Siau Timur Selatan 90
Gambar 6.15 Sumber Mata Air Balirangen 91
Gambar 6.16 Bak Pelepas Tekan Mata Air Balirangen 92
Gambar 6.17 Aliran Sungai dari Mata Air Balirangen 92
Gambar 6.18 Sumber Mata Air di Kampung Hiung 93
Gambar 6.19 Sumber Mata Air di Kampung Kiawang 93
Gambar 6.20 Peta Kecamatan Siau Barat Utara 94
Gambar 6.21 Rangkaian Proses Reverse Osmosis 95
Gambar 6.22 Pemanfaatan Air Hujan dengan Bantuan ABSAH 97
9
Gambar 6.24 Peta Kecamatan Siau Tengah 100
Gambar 6.25 Sumur Bor Kampung Beong Kec. Siau Tengah 100
Gambar 6.26 Bak Penampung Mata Air Kampung Beong Siau Tengah 101
Gambar 6.27 Bak Penampung Mata Air Kampung Beong 101
Gambar 6.28 Bangunan Mesin Air Kampung Beong Siau Tengah 102
Gambar 6.29 Bak Penampung Mata Air Kampung Lai Kec. Siau Tengah 102
Gambar 6.30 Bak Penampung dan Bangunan Mesin Kampung Lai 103
Gambar 6.31 Bak Penampung Air Hujan Kampung Lai 103
Gambar 6.32 Pipa Penyaluran Air Kampung Lai Kec. Siau Tengah 104
Gambar 6.33 Bak Penampung Mata Air Beong Kec. Siau Tengah 105
Gambar 6.34 Peta Kecamatan Siau Timur 105
Gambar 6.35 Tempat Permandian Akelabo Kel. Akesimbeka Siau Timur 106
Gambar 6.36 Instalasi PDAM Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 106
Gambar 6.37 Bak Reservoar PDAM Akelabo Siau Timur 107
Gambar 6.38 Broncap Mata Air Karalung Kec. Siau Timur 107
Gambar 6.39 Mata Air Kampung Karalung Kec. Siau Timur 108
Gambar 6.40 Katup Pelepas Tekan Broncap Kampung Karalung 108
Gambar 6.41 Bak Penampung Sumber Air Kampung Kanang 109
Gambar 6.42 Pipa Menuju Penampungan Mata Air Kanang 109
Gambar 6.43 Grafik Proyeksi Kebutuhan Air di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 110
Gambar 6.44 Danau Kapeta Kec. Siau Barat Selatan 110
Gambar 6.45 Skematik Rencana Pelayanan SPAM IKK Ondong Siau Barat 111
vii
Daftar Tabel
Tabel 1.1 Klasifikasi RIP-SPAM 8
Tabel 2.1 Luas Wilayah Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 14
Tabel 2.2 Kemiringan Lereng di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 17 Tabel 2.3 Nama Gunung dan Tinggi di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 17
Tabel 2.4 Klaster dan Fungsi Pengembangan 28
Tabel 2.5 Great Group Tanah di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 31 Tabel 2.6 Data Fasilitas Kesehatan di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 34 Tabel 2.7 Luas Wilayah Perkecamatan di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 43
Tabel 2.8 Jumlah Penduduk di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 44
Tabel 2.9 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah 44
Tabel 2.10 Luas Areal Pertanian Rakyat 46
Tabel 3.1 Lokasi dan Kapasitas Sumber Air 51
Tabel 3.2 Data Inventaris Pipa 51
Tabel 3.3 Data Air Yang Didistribusikan 52
Tabel 3.4 Data Sambungan Air di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 54
Tabel 3.5 Periode Pelayanan Setiap Mata Air 55
Tabel 3.6 Peralatan Yang Dimiliki PDAM 58
Tabel 4.1 Tingkat Pemakaian Air Rumah Tangga 65
Tabel 6.1 Wilayah Rencana Pengembangan 83
Tabel 6.2 Jumlah Warga Layanan Mata Air Peling 86
Tabel 6.3 Jumlah Warga Layanan Mata Air Kapeta dan Burake 89
Tabel 6.4 Jumlah Warga Layanan Sumber Air Balirangen 91
Tabel 6.5 Jumlah Warga Layanan Mata Air Hiung dan Kiawang 96
Tabel 6.6 Jumlah Warga Layanan Sumber Air Beong dan Lai 105
Tabel 6.7 Jumlah Warga Layanan Sumber Mata Air Kec. Siau Timur 110
Tabel 6.8 Klasifikasi Jenis Pelanggan 112
Tabel 6.9 Proyeksi Kebutuhan Air 113
Tabel 6.10 Rencana Pembangunan SPAM 121
viii
Tabel 7.2 Estimasi Biaya Pembangunan dan Investasi SPAM 125
Tabel 7.3 Summary Analisis Keuangan 128
xii
Daftar Lampiran
1. Survey Kantor dan Instalasi PDAM Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro147
2. Survey mata Air Akelabo Kec. Siau Timur 148
3. Survey Mata Air Karalung Kec. Siau Timur 149
4. Survey Mata Air kanang Kec. Siau Timur 150
5. Survey Mata Air Kampung Beong Kec. Siau Tengah 151
6. Survey Mata Air Kampung Lia Kec. Siau Timur 152
7. Survey Mata Air Kampung Peling Kec. Siau Barat 153
8. Survey Mata Air Kampung Peling Sawang Kec. Siau Barat 154
9. Survey Mata Air Kampung Talawid Kec. Siau barat Selatan 155
10. Survey Mata Air Kampung Hiung Kec. Siau Barat Utara 156
11. Survey Mata Air kampung Kiawang Kec. Siau Barat Utara 157
12. Survey mata Air Kampung Mahuneni Kec. Siau Barat Selatan 158
13. Survey Danau Kapeta Kec. Siau Barat Selatan 159
14. Survey mata Air Balirangen Kec. Siau Timur Selatan 160
15. Survey Mata Air Kampung Lia I Kec. Siau Timur 161
16. Survey Mata Air Kampung Buise Kec. Siau Timur 162
17. Survey Mata Air Kampung Pahepa Kec. Siau Timur Selatan 163 18. Survey Mata Air kampung Tapile Kec. Siau Timur Selatan 164
19. Survey Mata Air Kampung Lehi Kec. Siau Barat 165
20. Survey Mata Air Kampung Kinali Kec. Siau Barat Utara 166
21. Undangan Rapat Presentasi Laporan Akhir 167
22. Daftar Hadir Presentasi Pemaparan Laporan Akhir 169
23. Pengelolaan/Kebutuhan SAB Masing-Masing Kecamatan 170
xiii
Daftar Istilah Dan Definisi
1. Air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air baku adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan/atau air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum.
2. Air Bersih (clean water) adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.
3. Air Minum (drinking water) adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002)
4. Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif.
5. Sistem penyediaan air minum yang selanjutnya disebut SPAM merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non-fisik dari prasarana dan sarana air minum.
6. Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun, memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik (teknik) dan non fisik (kelembagaan, Manajemen, keuangan, peran masyarakat, dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik.
xiv
8. Penyelenggara pengembangan SPAM yang selanjutnya disebut Penyelenggara adalah badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah, koperasi, badan usaha swasta, dan/atau kelompok masyarakat yang melakukan penyelenggaraan pengembangan SPAM.
9. Pelanggan adalah orang perseorangan, kelompok masyarakat, atau instansi yang mendapatkan layanan air minum dari Penyelenggara.
10. Masyarakat adalah kumpulan orang yang mempunyai kepentingan yang sama yang tinggal di daerah dengan yuridikasi yang sama.
11. Unit air baku adalah sarana dan prasarana pengambilan dan/atau penyedia air baku, meliputi bangunan penampungan air, bangunan pengambilan/penyadapan, alat pengukuran, dan peralatan pemantauan, sistem pemompaan, dan/atau bangunan sarana pembawa serta perlengkapannya.
12. Unit produksi adalah adalah sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk mengolah air baku menjadi air minum melalui proses fisik, kimiawi dan/atau biologi, meliputi bangunan pengolahan dan perlengkapannya, perangkat operasional, alat pengukuran dan peralatan pemantauan, serta bangunan penampungan air minum.
13. Unit distribusi adalah sarana untuk mengalirkan air minum dari pipa transmisi air minum sampai unit pelayanan.
14. Unit pelayanan adalah sarana untuk mengambil air minum langsung oleh masyarakat yang terdiri dari sambungan rumah, hidran umum, dan hidran kebakaran.
15. Pengguna barang/jasa adalah kepala kantor/satuan kerja/pemimpin proyek/pengguna anggaran Daerah/pejabat yang disamakan sebagai pemilik pekerjaan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa dalam lingkungan unit kerja/proyek tertentu.
xv
17. Air Tak Berekening (ATR) adalah selisih antara air yang masuk unit distribusi dengan air yang berekening dalam jangka waktu satu tahun.
18. Wilayah Adminstratif adalah kesatuan wilayah yang sudah jelas batas-batas wilayahnya berdasarkan undang-undang yang berlaku.
19. Batas wilayah administratif adalah batas satuan wilayah pemerintahan yang merupakan wilayah kerja perangkat pemerintah dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan umum.
20. Wilayah Pelayanan adalah wilayah yang layak mendapatkan suplai air minum dengan sistem perpipaan maupun non-perpipaan, dan masuk dalam cakupan pelayanan sesuai dengan periode perencanaan.
21. Kawasan Perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintah, pelayanan sosial dan kefiatan ekonomi.
22. Air Tanah Bebas adalah air tanah yang tidak dibatasi oleh dua lapisan kedap air atau semi kedap air.
23. Air Tanah Dangkal adalah air tanah bebas yang terdapat dalam tanah dengan kedalaman muka air kurang atau sama dengan dua puluh meter.
24. Air Tanah Dalam adalah air tanah yang terdapat di dalam tanah yang kedalaman muka airnya lebih besar dari dua puluh meter atau air tanah yang terdapat di dalam akifer tertekan dimana akifer ini berada dalam kedalaman lebih dari dua puluh meter.
25. Air Permukaan adalah air baku yang berasal dari sungai saliran irigasi, waduk kolam atau dana.
26. Debit Minimum adalah debit terkecil yang dapat memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat pedesaan.
xvi
28. Topografi adalah ilmu mengenai seluk beluk bentuk atau kontur permukaan bumi.
29. Penduduk adalah orang dalam matranya sebagai pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat, warga negara, dan himpunan kuantitas yang bertempat tinggal di suatu tempat dalam batas wilayah negara pada waktu tertentu.
30. Kependudukan atau Demografi adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah, ciri utama, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, kondisi kesejahteraan yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya, agama serta lingkungan penduduk.
31. Kegiatan Domestik adalah kegiatan yang dilakukan di dalam rumah tangga.
32. Kegiatan Nondomestik adalah merupakan kegiatan penunjang Kota, yang terdiri dari kegiatan komersial yang berupa industri, perkantoran, dan lain-lain, maupun kegiatan sosial seperti sekolah, rumah sakit dan tempat ibadah.
33. Tingkat Pelayanan adalah persentasi jumlah penduduk yang dilayani dari total jumlah penduduk daerah pelayanan, dimana besarnya tingkat pelayanan diambil berdasarkan survei yang dilakukan oleh PDAM terhadap jumlah permintaan air minum oleh masyarakan atau dapat juga dilihat berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh PAM untuk menyediaan air minum.
34. Bangunan penyadap (Intake) adalah bangunan penangkap air atau tempat air masuk sungai, danau, situ, atau sumber air lainnya.
35. Jaringan Pipa Transmisi Air Baku adalah ruas pipa pembawa air dari sumber air sampai unit produksi;
36. Jaringan Pipa Transmisi Air Minum adalah ruas pipa pembawa air minum dari unit produksi/bangunan penangkap air sampai reservoir atau batas distribusi;
37. Jaringan Pipa Distribusi adalah ruas pipa pembawa air dari bak penampung reservoir sampai jaringan pelayanan;
xvii
39. Sambungan Rumah adalah jenis sambungan pelanggan yang mensuplai airnya langsung ke rumah-rumah biasanya berupa sambungan pipa-pipa distribusi air melaui meter air dan instalasi pipanya di dalam rumah
40. Hidran Umum adalah jenis pelayanan pelanggan sistem air minum perpipaan atau non perpipaan dengan sambungan per kelompok pelanggan dan tingkat Pelayanan hanya untuk memenuhi kebutuhan air minum, dengan cara pengambilan oleh masing-masing pelanggan ke pusat penampungan.
41. Keberlanjutan (sustainability) adalah sifat atau ciri terus menerus kegiatan dari, oleh, dan untuk masyarakat pengguna secara mandiri dengan mempertimbangkan aspek teknis, keuangan, sosial, kelembagaan dan lingkungan.
42. Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana atas pelaksanaan suatu pembangunan
43. Kebutuhan (demand) vs Keinginan (wish)
a. Kebutuhan (demand) adalah kesediaan masyarakat pengguna untuk mendapatkan pelayanan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan yang dikehendaki berdasarkan pilihan yang tersedia sesuai dengan kondisi setempat yang disertai sikap rela berkorban (willingness to pay).
b. Keinginan (wish) adalah kemauan masyarakat pengguna untuk mendapatkan pelayanan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan, yang keputusannya masih dapat dipengaruhi oleh pihak lain.
44. Kesetaraan (equity) adalah persamaan/kesamaan akses untuk memanfaatkan prasarana dan sarana bagi seluruh masyarakat.
xviii 46. Pemberdayaan (empowerment) adalah upaya yang dilakukan seseorang
atausekelompok orang untuk memandirikan masyarakat lewat perwujudan potensi kemampuan yang mereka miliki atas dasar prakarsa dan kreativitas.
47. Pendekatan Partisipatif (participatory approach) adalah suatu pendekatanyang menggunakan satu atau beberapa metoda yang melibatkan pihak terkaitsecara aktif dalam proses pemberdayaan, untuk :
a. mengekspresikan pengetahuan, gagasan dan menentukan pilihan pelayanan; dan
b. mengambil inisiatif dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah,pengambilan keputusan serta pelaksanaan pekerjaan secara bersama-sama.
48. Tujuan Umum adalah kondisi yang ingin dicapai dalam kurun waktu yang relatifpanjang, lebih merupakan kondisi ideal yang ingin diraih.
xviii
Acuan Normatif
1. Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahanan Daerah;
2. Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;
3. Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;
4. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum;
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, No. 18/PRT/M/2007 Tentang Penyelenggaraan Sistem penyediaan Air Minum
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 23 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum pada Perusahaan Daerah Air Minum;
7. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.47 Tahun 1999 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum;
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.02 Tahun 2007 tentang Organ dan Kepegawaian Perusahaan Daerah Air Minum;
9. SNI 03-6859-2002 tentang Metoda Pengujian Angka Rasa Dalam Air;
10. SNI 03-6860-2002 tentang Metoda Pengujian Angka Bau dalam Air;
11. SNI 03-2414-1991 tentang Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka;
12. SNI 06-2412-1991 tentang Metode Pengambilan Contoh Uji Kualitas Air;
13. SNI 19-1141-1989 tentang Cara Uji Suhu;
14. SK SNI M-03-1989-F tentang Metode Pengujian Kualitas Fisika Air;
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyediaan air minum merupakan salah satu kebutuhan dasar dan hak sosial ekonomi masyarakat yang harus dipenuhi oleh Pemerintah, baik Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat. Ketersediaan air minum merupakan salah satu penentu peningkatan kesejahteraan masyarakat. Diharapkan dengan ketersediaan air minum yang mencukupi dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dan dapat mendorong peningkatan produktivitas masyarakat, sehingga dapat terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, penyediaan sarana dan prasarana air minum menjadi salah satu kunci dalam pengembangan ekonomi wilayah.
Kondisi geografis, topografis dan geologis dan aspek sumber daya manusia yang berbeda di setiap wilayah di Indonesia, menyebabkan ketersediaan air baku dan kondisi pelayanan air minum yang berbeda pada masing-masing wilayah. Untuk itu dibutuhkan suatu konsep dasar yang kuat guna menjamin ketersediaan air minum bagi masyarakat sesuai dengan tipologi dan kondisi di daerah tersebut, dimana Kab. Kepl. Siau Tagulandang Biaro memiliki beberapa wilayah yang hampir sepanjang Tahun mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan Air Bersih/Air Minum.
Untuk memenuhi kebutuhan akan Air Bersih/Air Minum yang terus meningkat untuk berbagai keperluan, diperlukan suatu perencanaan terpadu guna memenuhi kebutuhan dimaksud dengan mengoptimalkan sumber air yang ada melaluli Rencana Induk Sistim Penyediaan Air Minum yang betul-betuk bisa di pertanggung jawabkan.
Rencana Induk Sistem Penyediaan air Minum (RI-SPAM) dapat menjadi
2
SPAM di suatu lokasi/kawasan akan menjamin keberfungsian dan keberlanjutan sistem SPAM yang sistematis.
Kewajiban menyusun Rencana Induk Sistem Penyediaan air Minum (RI-SPAM), sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum merupakan tanggung jawab Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.
Sejalan dengan peran Pemerintah Pusat sebagai fasilitator dalam era otonomi daerah dan dalam kaitan dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, Pemerintah telah menerbitkan produk pengaturan setingkat peraturan pemerintah yang memberikan pedoman, baik kepada pemerintah kabupaten/kota dan pihak lainnya yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan air minum maupun kepada masyarakat sebagai pengguna layanan air minum, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Adapun wewenang dan tanggung jawab pemerintah dalam penyelenggaraan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) adalah meliputi :
(i) menetapkan kebijakan dan strategi nasional,
(ii) menetapkan norma, standar, pedoman , dan manual (NSPM), (iii) memfasilitasi pemenuhan kebutuhan air baku.
Kewajiban menyusun Rencana Induk Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (RI-SPAM), sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum adalah merupakan tanggung jawab Pemerintah Daerah (pemerintah kabupaten/kota). Namun
terbatasnya sumber daya manusia di daerah menyebabkan Pemerintah Daerah masih membutuhkan bantuan teknis dari Pemerintah guna menyusun rencana induk sistem penyediaan air minum di wilayah administratifnya.
1.1.1. Maksud dan Tujuan
Maksud dari penyusunan laporan ini adalah:
3
pedoman pengembangan SPAM di kabupaten/kota lokasi studi hingga 15 (lima belas) tahun kedepan, yang memenuhi persyaratan dan kualitas dokumen rencana teknis yang berlaku
Tujuan Umum adalah sebagai berikut:
Membantu Pemerintah Daerah dalam Merencanakan Suatu sistim Penyediaan dan Pendistribusian Air Minum/Air Bersih dalam bentuk dokumen Rencana Induk Sistem Penyediaan air Minum (RI-SPAM) Periode 2016-2036, untuk menentukan kebijakan dan strategi Pemerintah Daerah dalam pengelolaan Air Minum.
1.1.2. Keluaran Pelaksanaan Pekerjaan
Keluaran hasil pelaksanaan pekerjaan Rencana Induk Pengembangan SPAM Kabupaten Sitaro ini mencakup hal-hal sebagai berikut:
A. Indikator Keluaran
Dari pekerjaan ini diharapkan indikator keluaran yang dihasilkan adalah :
Dokumen Rencana Induk Pengembangan SPAM (RI-SPAM) yang susunannya terdiri dari:
1. Rencana Umum
2. Rencana Jaringan Sistem Penyediaan Air Minum
3. Rencana Program dan Pengembangan SPAM untuk Jangka Pendek (1-2 tahun), Jangka Menengah (5 tahun), dan Jangka Panjang (10-15 tahun). 4. Rencana Sumber Air Baku dan Alokasi Air Baku.
5. Rencana Keterpaduan dengan Prasarana dan Sarana Sanitasi 6. Rencana Pembiayaan dan Pola Investasi Pengembangan SPAM 7. Rencana Pengembangan Kelembagaan Penyelenggaraan SPAM
B. Keluaran
Keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah:
4
SPAM Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang BiaroUntuk Periode
Perencanaan 2016-2036”.
1.1.3. Otorisasi
Dalam ketentuan Pasal 40 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004, tentang Sumber Daya Air, pemerintah termasuk di dalamnya pemerintah daerah diamanatkan untuk menjalankan pengembangan sistem penyediaan air minum. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin ketersediaan kebutuhan air baku yang keberadaannya diperlukan dan diutamakan bagi pemenuhan air minum rumah tangga. Untuk melaksanakan tanggung jawabnya tersebut, pemerintah memerlukan alat bagi pengaturan penyelenggaraan sistem penyediaan air minum.
Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum melalui PP RI Nomor 16 Tahun 2005. Pengaturan sistem penyediaan air minum (yang selanjutnya disingkat SPAM) yang dilakukan pemerintah mempunyai tujuan untuk menciptakan pengelolaan dan pelayanan air minum yang berkualitas dengan harga yang terjangkau. Selain itu pengaturan SPAM dimaksudkan untuk mencapai terjadinya keseimbangan dalam kepentingan baik antara konsumen dan penyedia jasa pelayanan, dan juga untuk mencapai peningkatan baik efisiensi maupun cakupan pelayanan air minum.
5 1.2. Ruang Lingkup Pekerjaan
Secara Umum lingkup pekerjaan akan meliputi :
a) Kajian kepustakaan
b) Survei data primer dan sekunder, yang meliputu aspek teknis, geografi dan sosial-ekonomi masyarakat
c) Pemantauan kuantitas dan kualitas potensi air baku d) Diskusi dan pembahasan
e) Analisis dan penyusunan dokumen.
Sedangkan detil dari kegiatan yang akan dilakukan meliputi :
a) Melakukan evaluasi kondisi kota/kawasan, untuk mengetahui karakter, fungsi strategis dan konteks regional nasional kota/kawasan yang bersangkutan.
b) Melakukan kerjasama dengan Bappeda kabupaten dalam menerjemahkan rencana tata ruang wilayah kabupaten menjadi rencana induk pengembangan SPAM .
c) Melakukan evaluasi kondisi eksisting SPAM, dengan menginventarisasi peralatan dan perlengkapan sistem penyediaan air minum eksisting. d) Merencanaan sistem transmisi air minum dan distribusi baik untuk
SPAM jaringan perpipaan maupun SPAM bukan jaringan perpipaan. e) Melakukan identifikasi permasalahan dan kebutuhan pengembangan,
perkiraan kebutuhan air dan identifkasi air baku.
f) Menentukan kriteria teknis dan standar pelayanan yang akan diaplikasikan, yang meliputi tingkat pelayanan yang diinginkan, cakupan pelayanan, dan jenis pelayanan yang dapat ditawarkan ke pelanggan jika kegiatan ini direalisasikan.
g) Menyusun rencana kebutuhan air minum
h) Menentukan skala prioritas penggunaan sumber air baku, kebutuhan kapasitas air baku (disesuaikan dengan rencana kebutuhan air minum), dan menyusun rencana alokasi air baku yang dibutuhkan untuk SPAM yang direncanakan.
6
sanitasi (terutama air limbah dan persampahan) di sekitar sumber air baku petensial.
j) Menyusun program dan investasi pengembangan SPAM untuk jangka pendek (2 tahun), jangka menengah (5 tahun), dan jangka panjang (10-15 tahun) di wilayah studi baik untuk kawasan perkotaan maupun perdesaan berupa rencana tahapan pengembangan, rencana pengembangan kelembagaan dan SDM, rekayasa awal sistem, rekomendasi langkah-langkah penguasaan dan pengamanan sumber air baku, serta rencana tindak lanjut studi kelayakan.
k) Menyusun rencana pembiayaan dan pola investasi, yang berupa indikasi besar biaya tingkat awal, sumber pembiayaan, dan pola pembiayaan bagi pengembangan SPAM.
l) Menyusun rencana konsep pengembangan kelembagaan
penyelenggara SPAM dan rencana berjalannya penyelenggaraan SPAM tersebut.
m) Melakukan koordinasi dengan berbagai stakeholders terkait untuk mendukung subtansi dokumen RI-SPAM yang sedang disusun .
1.2.1. Wilayah Administrasi
Wilayah Administrasi yang dimaksud dalam pekerjaan penyusunan Rencana Induk Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum meliputi 6 (enam) Kecamatan di Wilayah Siau.
1.2.2. Klasifikasi
1.2.2.1 Klasifikasi Perkotaan
Permen No.18 Tahun 2007 membedakan antara Kota Metro, Kota Besar,Kota Sedang dan Kota Kecil, dimana setiap Kota dibedakan dengan Jumlah penduduk yang berada di Kota tersebut,sebagai gambaran bias dilihat dalam keterangan sebagai berikut :
Kota Metro,yang mempunyai jumlah penduduk diatas 1 Juta jiwa.
Kota Besar mempunyai penduduk antara 500.000-1.000.000 jiwa.
7 Kota Kecil mempunyai penduduk antara 20.000-100.000 jiwa.
Sedangkan Kabupaten dan rencana wilayah pelayanan di 6 (enam) kecamatan yang ada di pulau Siau Tahun 2016 berdasarkan data BPS mempunyai penduduk di Siau 42.737 jiwa. Sehingga Siau, termasuk katagori Klasifikasi Kota Kecil
1.2.2.2 Klasifikasi RIP-SPAM
1
Rencana Induk Rencana Induk Rencana Induk -
2 Horison
Perencanaan
20 Tahun 15-20 Tahun 15-20 Tahun 15-20 Tahun
3 Sumber Air Baku
Investigasi Investigasi Identifikasi Identifikasi
4 Pelaksana Penyedia
2 1.3. Sistimatika Laporan
Sistematika laporan yang akan disampaikan dalam laporan ini terdiri dari 8 BAB. Masing-masing adalah hasil analisis dari data primer maupun sekunder. Sistematika laporan adalah sebagai berikut:
BAB 1: PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang kegiatan ini, Maksud dan tujuan, keluaran pelaksaan pekerjaan, landasan hukum penyusunan RISPAM, Ruang lingkup pekerjaan dan Wilayah Administrasi.
BAB 2: GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI PERENCANAAN
Pada BAB ini akan dibahas mengenai gambaran umum wilayah studi mengenai kabupaten dalam konteks makro, rencana tata ruang wilayah, penggunaan lahan dan tata guna lahan, Rencana pengembangan tata kota, kawasan prioritas dan kawasan lindung. Begitu juga mengenai kondisi fisik dasar wilayah studi, seperti geografi, topografi dan fisiografi juga Geologi.
BAB 3: KONDISI PENYEDIAAN AIR MINUM EKSISTING
Pada BAB ini akan dibahas mengenai kondisi eksisting SPAM Kabupaten kepulauan Sitaro, seperti sistem produksi, sistem pelayanan, sistem non perpipaan dan skematik SPAM eksisting. Adapun pemasalah aspek teknis saat ini akan di jabarkan juga di bab ini. Masalah keuangan PDAM dibahas pula pada bab ini.
BAB 4: KRITERIA TEKNIS, METODA DAN STANDAR PERENCANAAN SPAM
3
BAB 5: AIR BAKU
Bab ini membahas mengenai potensi air baku yang ada di wilayah pelayanan begitu pula mengenai potensi air tanah dan air permukaan. Begitu juga membahas mengenai sumber air baku yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sumber air baku dan pada bab ini juga ditentukannya sumber air baku yang terpilih untuk SPAM yang direncanakan.
BAB 6: RENCANA INDUK DAN PRA DESIAIN PENGEMBANGAN SPAM
Bab ini membahas mengenai rencana pola pemanfaatan ruang wilayah studi dan juga penegmbangan wilayah pelayanan. Dibahas juga pada bab ini mengenai proyeksi pertumbuhan penduduk dari tahun 2010 sampai dengan 2030. Mengenai tingkat pelayanan dan kebutuhan air minum di wilayah pelayanan juga akan di bahas secara detail pada bab ini. Hasil analisa tersebut menghasilkan rencana pengembangan SPAM dan juga pentahapannya.
BAB 7: RENCANA INVESTASI DAN SUMBER PENDANAAN
Pentahapan rencana investasi dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang dibahas secara detail pada bab ini.
BAB 8: KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
11
BAB II
GAMBARAN UMUM WILAYAH PROYEK
2.1. Kabupaten Kepulauan Sitaro Dalam Perspektif Nasional
2.1.1. Kabupaten Sitaro Dalam Perspektif Nasional
Wilayah Siau sebagai wilayah kepulauan mempunyai nilai strategis dalam mendukung keberhasilan pembangunan wilayah kabupaten dan nasional, hal tersebut ditunjukan antara lain oleh potensi/karakteristik kegiatan yang berlangsung didalamnya, yaitu:
Posisi strategis sebagai wilayah yang memiliki pulau terluar mempunyai dampak terhadap kondisi pertahanan dan keamanan baik skala nasional maupun regional juga berdampak penting bagi kedaulatan Negara.
Potensi sumber daya alam merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Keberadaan wilayah kepulauan dan pulau-pulau kecil mempunyai keterkaitan yang saling mempengaruhi dengan kegiatan yang dilaksanakan di wilayah darat, laut, antara wilayah yang berbatasan, maupun antar Negara.
Pelestarian lingkungan dan ekositem mempunyai dampak bagi daya dukung pulau dan potensi keanekaragaman hayati.
Penanganan wilayah kepulauan ini pada hakekatnya merupakan bagian integral dari upaya perwujudan ruang wilayah nusantara sebagai satu kesatuan geografi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan.
2.1.2. Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Dalam Perspektif Provinsi
12 1. Visi :
Mewujudkan masyarakat Kepulauan Siau Tagulandang Biaro yang sejahtera melalui pengembangan tata ruang dengan memanfaatkan potensi geografis wilayah kepulauan dan potensi sumber daya alam unggulan yang berorientasi global.
Serta memanfaatkan kondisi rawan bencana menjadi sebuah peluang pengembangan.
2. Misi
Pengembangan tata ruang dijabarkan sebagai berikut :
Mengembangkan potensi yang dimiliki pulau terluar dalam fungsi pertahanan keamanan, ekonomi, pendayagunaan Sumber Daya Alam (SDA) dan kelestarian lingkungan.
Akselerasi pembangunan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di setiap klaster secara optimal dan berkelanjutan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Menjadikan seluruh klaster sebagai bagian yang utuh melalui pemantapan sistem transportasi wilayah kepulauan.
Meningkatkan dan mengembangkan seluruh sistem jaringan dan infrastruktur di setiap klaster, sehingga dapat menunjang kegiatan ekonomi wilayah kepulauan.
Meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi rawan bencana dan memanfaatkan tantangan kondisi alam tersebut untuk dijadikan peluang pengembangan.
Mewujudkan ketaatan pada rencana pemanfaatan ruang dalam hal pengembangan potensi wilayah dan usaha mempertahankan kelestarian lingkungan.
13
2.1.3. Kabupaten Kepulauan Sitaro Dalam Perspektif Kawasan Andalan
Kawasan-kawasan yang menjadi andalan dan diprioritaskan pengembangannya di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro yaitu:
1. Pusat Pemerintahan
Kabupaten Sitaro perlu melengkapi lembaga-lembaga pemerintahan. Hal ini terkait dengan administrasi pemerintahan dan memperlancar aktivitas kegiatan di wilayah perencanaan.
2. Kawasan Pelabuhan
Pembangunan kawasan pelabuhan merupakan salah satu langkah pembuka akses kegiatan baik lokal maupun regional (langkah prioritas) yang dapat menstimulasi perkembangan makro wilayah yang merupakan bentuk percepatan/akselerasi perkembangan wilayah.
3. Pusat Perdagangan
Pembangunan kawasan perdagangan sebagai salah satu pusat kegiatan untuk meningkatkan aksesibilitas yang dapat memicu pertumbuhan di wilayah perencanaan. Pembangunan kawasan perdagangan skala regional terdapat di setiap daerah memiliki tempat perdagang skala lokal.
4. Kawasan Pusat-Pusat Perdagangan
Kelengkapan sarana dan prasarana di tiap pusat kegiatan diperlukan untuk menunjang struktur tata ruang yang direncanakan, sehingga memiliki prioritas pembangunan untuk perkembangan wilayah ini.
2.2. Gambaran Umum Kabupaten Kepulauan Sitaro
2.2.1. Letak geografis dan administrasi
14
Secara geografis Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro terletak antara 204’ 13” – 20 52’ 47” LU dan 1250 9’ 28” – 1250 24’ 25” BT, dengan batas – batas administrasi sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Kepulauan Sangihe
Sebelah Timur : Laut Maluku
Sebelah Selatan : Kabupaten Minahasa Utara
Sebelah Barat : Laut Sulawesi
Setelah memekarkan diri dari Kabupaten Kepulauan Sangihe pada tahun 2007 melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2007, tentang pembentukan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro di Provinsi Sulawesi Utara, saat ini Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro terdiri dari 10 Kecamatan dengan 47 buah pulau dan sebanyak 10 pulau merupakan pulau yang berpenghuni sedangkan sisanya sebanyak 37 pulau tidak berpenghuni. Dari seluruh pulau yang ada di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, pulau Siau merupakanpulau yang terbesar dengan luas 129,05 km2. Dengan jumlah kecamatan sebanyak 10 Kecamatan, secara keseluruhan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro memiliki luas 275,95 km2 dengan wilayah Kecamatan Siau Timur yang memiliki luas terbesar yaitu 55,95 km2 dan Kecamatan Siau Tengah dengan luas paling terkecil yaitu 11,8 km2. Gambar dan tabel berikut memperlihatkan gambaran tentang wilayah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro dan luas wilayah yang dirinci setiap kecamatan.
Tabel 2.1 Luas wilayah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro
No. Kecamatan Luas
15
Dari pencapaian menuju Kabupaten Kepulauan Sitaro maka Jarak Ibukota Kabupaten ke Ibukota Provinsi 146 km dan untuk jarak rentang kendali:
o Ulu Siau – Buhias : 21 mil laut (38, 892 Km) o Ulu Siau – Biaro : 41 mil laut (75, 932 Km) o Ulu Siau – Tahuna : 60 mil laut (111, 12 Km) o Ulu Siau – Manado : 85 mil laut (157, 42 Km)
Melihat dari posisinya, SITARO dengan dua wilayah kabupaten kepulauan lainnya yaitu TALAUD dan SANGIHE memiliki keunggulan dari segi jarak dengan Pusat Kegiatan Nasional di Provinsi Sulawesi Utara yaitu Manado-Btung, dengan jarak + 85 mil laut, apabila menggunakan transportasi laut berupa kapal cepat yang berlayar setiap hari ditempuh dalam waktu 4,5 jam (berangkat jam 10.00 tiba 14.30) sedangkan apabila menggunakan kapal biasa ditempuh dalam waktu 7 jam (berangkat jam 18.00 tiba 02.00 dinihari). Peta berikut memperlihatkan posisi Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro di Provinsi Sulawesi Utara dan Peta Administrasi Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.
16
Tahun 2016 total jumlah desa terdiri atas 83 Kampung dan 10 kelurahan dari 10 wilayah kecamatan. Adapun pembagian berdasarkan kecamatan di kabupaten ini dapat dilihat pada gambar grafik berikut ini:
Gambar 2.2 Jumlah Desa dan Kelurahan menurut Kecamatan
Sumber: Kecamatan Dalam Angka Kabupaten Kep. Sitaro 2016
2.2.2. Topografi
Kondisi topografi Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro pada umumnya memiliki bentuk wilayah yang berbukit dan bergunung, dan memiliki kemiringan lereng yang curam. Meskipun curam, daerah ini masih dimanfaatkan penduduk untuk ditanami dengan tanaman perkebunan seperti kelapa, cengkeh dan pala. Daerah datar relatif sempit dan umumnya hanya terdapat di pesisir pantai yang dijadikan tempat pemukiman penduduk, seperti di Ulu, Ondong (Pulau Siau), Buhias (Pulau Tagulandang) dan Lamanggo (Pulau Biaro).
17 Tabel 2.2 Kemiringan lereng di Kabupaten Kepulauan
Siau Tagulandang Biaro
No Kemiringan Lereng Luas
Ha %
Sumber : Interpretasi dari Peta RBI skala 1 : 50.000
Ketinggian tempat di pulau Siau bervariasi antara 0 meter dari permukaan laut (m dpl) sampai 1.827 m dpl. Tempat tertinggi adalah puncak gunung Karangetang. Kota Ondong sebagai pusat kegiatan kabupaten terletak pada ketinggian + 25m dpl. Ketinggian tempat di Pulau Tagulandang bervariasi dari 0 m dpl sampai 784 m dpl (Wuluri Balinge), sedangkan di Pulau Biaro bervariasi antara 0 m dpl sampai 323 m dpl. Kabupaten Kepulauan Sitaro memiliki 5 (lima) Gunung di 2 Kecamatan dengan ketinggian yang berbeda-beda. Berikut tabelnya:
Tabel 2.3 Nama Gunung dan Tingginya di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro
Kecamatan Nama Gunung Tinggi Keterangan
Tagulandang 1. Ruang 714
Siau Timur 2. Karangetang 1.320 Aktif
3. Dalage 1.165
4. Kolongan 1.158
5. Tamata 1.134
Sumber Kabupaten Dalam Angka Kabupaten Kep. Sitaro 2016
2.2.3. Rencana Pengembangan Tata Kota
18
1. Mengembangkan kawasan-kawasan tertentu cepat tumbuh atau potensial tumbuh (kawasan andalan dan kawasan-kawasan konsentrasi kegiatan ekonomi/aglomerasi kegiatan) dan sektor unggulannya serta pusat pengembangan di dalamnya sebagai simpul pengembangan wilayah untuk mendukung ketahanan pangan dan mewujudkan keseimbangan dan pemerataan perkembangan antar wilayah, dengan memperhatikan potensi daerah, permukiman dan sumberdaya manusia, kemampuan investasi nasional, sumber daya buatan dan kondisi ekonomi global.
2. Memadukan pengembangan kawasan tertentu cepat tumbuh, potensial tumbuh atau kawasan andalan dengan pengembangan kegiatan transmigrasi dan permukiman, agar pengembangan wilayah dapat saling menguatkan dengan pengembangan kependudukan.
3. Mengembangkan kawasan tertentu cepat tumbuh atau potensial tumbuh di ruang laut (kawasan andalan laut) terutama dalam rangka meningkatkan keterkaitan kegiatan produksi dan jasa di darat dan laut yang saling mempengaruhi, dengan memperhatikan potensi sumber daya serta orientasinya dan keterkaitannya dengan kota-kota serta kawasan kawasan andalan di darat.
4. Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada dunia usaha untuk mengembangkan sektor unggulan di kawasan tertentu melalui pola insentif dan penyederhanaan peraturan/prosedur perijinan dalam investasi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
5. Mengembangkan institusi yang independen dalam mengelola dan mempromosikan berbagai peluang investasi kawasan di dalam dan di luar negeri.
6. Mengembangkan kawasan-kawasan kaya sumberdaya alam dengan mengarahkan pembangunan seoptimal mungkin dan tetap menjaga kelestarian lingkungan (sustainable development).
19
8. Mengembangkan wilayah pulau dalam kerangka kerjasama ekonomi internasional, seperti BIMP-EAGA dan AIDA, sehingga pulau-pulau di KTI diharapkan dapat berperan sebagai prime mover pengembangan KTI.
9. Mendorong terlaksananya mekanisme kerjasama antar daerah dalam pengembangan kawasan-kawasan kerjasama ekonomi regional maupun Segitiga Pertumbuhan Inti Nusantara (SPIN).
2.2.4. Rencana Pengembangan Kawasan Prioritas
Dengan UU No.32 Tahun 2004 tentang Penataan Ruang. Pengertian dari kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis dan penataan ruangnya diprioritaskan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1997 tentang RTRW Nasional, dijelaskan bahwa Kawasan Tertentu dapat memiliki satu atau lebih ciri-ciri sebagai berkut :
1. Kawasan Tertentu Cepat Tumbuh (Kawasan Andalan) 2. Kawasan Tertentu Potensial Tumbuh (Kawasan Andalan) 3. Kawasan Tertentu Kritis Lingkungan
4. Kawasan Tertentu Perbatasan 5. Kawasan Tertentu Sangat Tertinggal 6. Kawasan Tertentu Pertahanan Keamanan
2.2.5. Kawasan Lindung
Rencana pola pemanfaatan ruang kawasan lindung bertujuan untuk mewujudkan kelestarian lingkungan hidup, meningkatakan daya dukung lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem antara wilayah guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan.
Kawasan lindung terdiri atas: a. Kawasan hutan lindung;
b. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya;
20
d. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, cagar budaya dan ilmu pengetahuan;
e. Kawasan rawan bencana alam; dan f. Kawasan lindung geologi.
Kawasan hutan lindung meliputi:
a. Kawasan Hutan Lindung Budule Tamata dengan luas kurang lebih 1.006 ha terletak di Kecamatan Siau Barat Selatan, Kecamatan Siau Timur Selatan, Kecamatan Siau Barat Utara, Kecamatan Siau Barat, Kecamatan Siau Tengah dan Kecamatan Siau Timur;
b. Kawasan Hutan Lindung Gunung Begambalo dengan luas kurang lebih 735 ha terletak di Kecamatan Siau Timur Selatan dan Kecamatan Siau Barat Selatan;
c. Kawasan Hutan Lindung Pulau Tagulandang dengan luas kurang lebih 337 ha terletak di Pulau Tagulandang;
d. Kawasan Hutan Lindung Pulau Tagulandang Lokasi 2 (dua) dengan luas kurang lebih 419 ha terletak di Pulau Tagulandang; dan
e. Kawasan Hutan Lindung Gunung Ruang dengan dengan luas kurang lebih 622 ha terletak di Kecamatan Tagulandang.
Rencana pengelolaan kawasan hutan lindung adalah sebagai berikut :
a. Pengendalian kegiatan budidaya yang telah berlangsung lama dalam kawasan hutan lindung;
b. Pengembalian fungsi hidrologis kawasan hutan yang telah mengalami kerusakan dengan reboisasi;
c. Percepatan rehabilitasi hutan lindung dengan tanaman yang sesuai dengan fungsi lindung;
d. Pelestarian ekosistem yang merupakan ciri khas kawasan melalui tindakan pencegahan pengrusakan dan upaya pengembalian pada rona awal sesuai ekosistem yang pernah ada; dan
21
Kawasan-kawasan yang memberikan fungsi perlindungan terhadap kawasan bawahannya, berupa kawasan resapan air;
Kawasan resapan air berfungsi untuk memberikan ruang yang cukup bagi resapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan;
Kawasan resapan air terdapat di :
a. Bulude Kalai, Bulude Tamata, Bulude Begambalo, Bulude Tontombulo, Bulude Balilang, Bulude Masio, Bulude Papalamang kawasan resapan air ini terletak di Pulau Siau;
b. Wuluru Balinge, Wuluru Kaloko, Wuluru Panenteang, Wuluru Wangkulang, Wuluru Kalongan,Wuluru Bongkongkaka, Wuluru Timbang, kawasan resapan air terletak di pulau Tagulandang; dan
c. Wuluru Bukide, Bukiri Himbang, Bukiri Bulo kawasan resapan air ini terletak di Pulau Biaro.
Rencana pengelolaan kawasan resapan air adalah sebagai berikut :
a. Menata pemanfaatan kawasan reasapan agar tidak beralih fungsi menjadi lahan terbangun;
b. Rehabilitasi lahan konservasi tanah, antara lain mempercepat pemulihan kawasan resapan dengan penghijauan;
c. Peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan resapan air;
d. Pemantapan kawasan resapan air;
e. Mengembangan hutan rakyat untuk menyediakan kebutuhan dosmetik akan kayu bangunan dan melakukan penghijauan dengan menanam jenis-jenis kayu hutan guna mengendalikan erosi, memperbesar infiltrasi tanah dan mencegah banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau;
22
h. Membuka jalur wisata jelajah/pendakian untuk menanamkan rasa memiliki/mencintai alam, serta pemanfaatan kawasan lindung untuk sarana pendidikan penelitian dan pengembangan kecintaan terhadap alam;
i. Peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitar kawsan resaan air; dan
j. Pemantapan kawasan resapan air, bila berada dalam kawasan hutan dikembalikan fungsinya sebagai hutan lindung untuk menjamin keberadaan kawasan hutan dan fungsi hutan.
Kawasan perlindungan setempat terdiri dari : a. Sempadan pantai;
b. Sempadan sungai; c. Kawasan sekitar sungai; d. Kawasan sekitar mata air; dan e. Ruang terbuka hijau.
Kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup terdiri dari:
a. Kawasan hutan Lindung Bulude Tamanat dengan Luas kurang lebih 1.006 ha terletak di Kecamatan Siau Barat Selatan, Kecamatan Siau Tengah dan Kecamatan Siau Timur;
b. Kawsana Hutan Lindung Gunung Begambalo dengan luas kurang lebih 735 ha terletak di Kecamatan Siau Timur Selatan dan Kecamatan Siau Barat Selatan;
c. Kawasan Resapan Air puncak Gunung Karangetang, Bulude Kalai, Bulude Tamata, Bulude Begangbalo, Bulude Tontonbulo, Bude Baliang, Bulde Masio, Bulude Papalamang terkenal di Pulau Siau;
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan hutan lindung sebagai berikut:
a. Pemanfaatan kawasan pada hutan lindung dilakukan dengan ketentuan : 1. Tidak mengurangi, mengubah atau menghilangkan fungsi utamanya; 2. Tidak menimbulkan dampak negatif terhadap biofisik dan sosial
23
3. Tidak membangun sarana dan prasarana yang mengubah bentang alam.
b. Kegiatan pertambangan di kawasan hutan lindung masih diperkenankan sepanjang tidak dilakukan secara terbuka, dengan syarat harus dilakukan reklamasi areal bekas penambangan sehingga kembali berfungsi sebagai kawasan lindung;
c. Kawasan hutan lindung dapat dikelola atau dipinjampakaikan sepanjang mengikuti prosedur dan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku;
d. Pembangunan prasarana wilayah yang harus melintasi hutan lindung dapat diperkenankan dengan ketentuan :
1. Tidak menyebabkan terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang budidaya di sepanjang jaringan prasarana tersebut;
2. Mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Kementrian Kehutanan.
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan resapan air sebagai berikut:
a. Dalam kawasan resapan air tidak diperkenankan adanya kegiatan budidaya ;
b. Permukiman yang sudah terbangun di dalam kawasan resapan air sebelum ditetapkan sebagai kawasan lindung masih diperkenankan namun harus memenuhi syarat :
1. Tingkat kerapatan bangunan rendah (KDB maksimm 20% dan KLB maksimum 40%);
2. Perkerasan permukaan menggunakan bahan yang memiliki daya serap air tinggi; dan
3. Dalam kawasan resapan air wajib dibangun sumur-sumur resapan sesuai ketentuan yang berlaku.
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sekitar danau sebagai berikut: a. Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;
b. Ketentuan pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk penglolaan badan air dan / atau pemanfaatan air; c. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi taman
24
d. Penetapan lebar sempadan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
e. Dalam kawasan sempadan danau masih diperkenankan dibangun prasarana wilayah dan untilitas lainnya sepanjang :
1. Tidak menyebabkan terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang budidaya di sekitar jaringan prasarana tersebut; dan
2. Pembangunannya dilakukan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sekitar mata air sebagai berikut:
a. Pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;
b. Penyediaan sumur resapan dan / atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada;
c. Penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budidaya terbangun yang diajukan izinnya;
d. Dalam kawasan sempadan sekitar mata air tidak diperkenankan dilakukan kegiatan budidaya yang dapat merusak mata air, kecuali daerah/wilayah mata air yang secara eksisting telah menjadi kawasan permukiman dan kawasan budidaya;
e. Pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air; dan
f. Dalam kawasan sempadan mata air masih diperkenankan dilakukan kegiatan penunjang pariwisata alam sesuai ketentuan yang berlaku.
2.2.6. Laju Perubahan Tata Guna dan Fungsi Lahan
2.2.6.1. Trend Perubahan Penggunaan dan Fungsi Lahan
25
Hutan lahan kering pada umumnya terdapat di Pulau Siau dan tersebar di puncak-puncak gunung atau bukit seperti Bulude Kalai, dan Bulude Tamata. Luas penggunaan lahan hutan lahan kering adalah sekitar 387 ha atau 0,02% dari luas daratan.
Gambar 2.3 Grafik Luas Penggunaan Lahan di Kabupaten Kepulauan Sitaro
Sumber: RTRW Kabupaten Sitaro
2.2.6.2. Pemanfaatan Lahan Secara Berkelanjutan
Pemanfaatan lahan di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro terdapat beberapa hal yang dapat dipertimbangkan:
Pembatasan pemanfaatan sumber daya alam (SDA) untuk menjaga ekosistem linkungan hidup seperti penebangan liar.
Pelestarian kawasan lindung untuk mencegah kerusakan alam seperti: sedimentasi, erosi, abrasi, kebakaran hutan, dan banjir.
26 2.3. Tinjauan Terhadap Kebijakan Ruang Daerah (RTRW)
2.3.1. Tujuan Penataan Ruang Daerah
Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten adalah: Mewujudkan masyarakat yang sejahtera, mandiri dan berkepribadian melalui pemanfaatan fungsi ruang berbasis bahari, pertanian, pariwisata dan mitigasi bencana yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.
2.3.2. Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten
Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten adalah sebagai berikut:
a. Pengembangan sumber daya manusia dan pemanfaatan kemajuan teknologi untuk menunjang seluruh kegiatan pembangunan wilayah;
b. Pengembangan pemanfaatan sumber daya alam kelautan dan perikanan, pertanian dan perkebunan serta pariwisata untuk kesejahteraan masyarakat;
c. Pengembangan pusat-pusat permukiman dan pusat-pusat kegiatan yang berwawasan lingkungan melalui pembangunan prasarana dan sarana penunjang; dan
d. Pengelolaan ruang berbasis mitigasi bencana melalui penyediaan ruang dan jalur evakuasi bencana.
e. Penguatan aspek pertahanan dan keamanan khususnya pada kawasan pulau terluar.
2.3.3. Srategi pengembangan pusat-pusat permukiman
Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten adalah sebagai berikut:
27
b. Pengembangan pemanfaatan sumber daya alam kelautan dan perikanan, pertanian dan perkebunan serta pariwisata untuk kesejahteraan masyarakat;
c. Pengembangan pusat-pusat permukiman dan pusat-pusat kegiatan yang berwawasan lingkungan melalui pembangunan prasarana dan sarana penunjang;
d. Pengelolaan ruang berbasis mitigasi bencana melalui penyediaan ruang dan jalur evakuasi bencana; dan
e. Penguatan aspek pertahanan dan keamanan khususnya pada kawasan pulau terluar.
2.3.4. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten
Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro meliputi:
a. Pusat-pusat kegiatan;
b. Sistem jaringan prasarana utama; dan c. Sistem jaringan prasarana lainnya.
28 Tabel 2.4. Klaster dan Fungsi Pengembangan
Satuan Pengembangan Klaster (SPK) Fungsi Pengembangan kegiatan
Satuan Pengembangan Klaster (SPK) Siau, yang
terdiri dari:
1. Sub klaster Siau Timur, meliputi wilayah
Kecamatan Siau Timur, Siau Timur Selatan
dan Kecamatan Siau Tengah. Pusat
pengembangan: Ulu;
2. Sub klaster Siau Barat, meliputi Kecamatan
Siau Barat, Kecamatan Siau Barat Selatan
dan Kecamatan Siau Barat Utara. Pusat
pengembangan: Ondong
1. Sub klaster Siau Timur, dengan fungsi
pengembangan kegiatan meliputi fungsi
perdagangan dan jasa, pertanian dan
perkebunan, perikanan, permukiman,
transportasi, pariwisata dan kesehatan;
2. Sub klaster Siau Barat, dengan fungsi
pengembangan kegiatan meliputi fungsi
pemerintahan, pertanian dan
perkebunan, Pariwisata, Transportasi
dan permukiman
fungsi perdagangan dan jasa,
pendidikan tinggi, Olahraga,
perkebunan, transportasi, permukiman,
Perikanan, pariwisata dan kesehatan
Satuan Pengembangan Klaster (SPK) Biaro,
meliputi seluruh wilayah Kecamatan Biaro
dengan pusat pengembangan: Lamanggo
Fungsi pengembangan kegiatan meliputi
fungsi permukiman, pariwisata,
perkebunan dan perikanan
Satuan Pengembangan Klaster (SPK)
Makalehi, meliputi seluruh wilayah di Pulau
Makalehi dengan pusat pengembangan
Kampung Makalehi
Fungsi pengembangan kegiatan meliputi
fungsi perikanan, permukiman,
pariwisata, Pertahanan dan peningkatan
kualitas dan fasilitas kawasan
perbatasan
Satuan Pengembangan Klaster (SPK) Pahepa
meliputi seluruh wilayah di Pulau Pahepa, Pulau
Gunatin, Pulau Mahoro dan Pulau-pulau kecil
sekitarnya dengan pusat pengembangan Pahepa
Fungsi pengembangan kegiatan meliputi
fungsi permukiman, pariwisata dan
29 Gambar Rencana Struktur di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro
Gamabar 2.4 Tiga Cluster Kepulauan
Gambar 2.4. Pusat-pusat kegiatan yang ada di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro
meliputi:
PKSNp (Pusat Kegiatan Strategis Nasional promosi) a. PKWp (Pusat Kegiatan Wilayah promosi)
b. PKL (Pusat Kegiatan Lokal)
c. PPK (Pusat Pelayanan Kawasan)
30 Gambar 2.5 Skema Pusat Kegiatan di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro
2.3.4.1. Wilayah Siau
Klaster ini berada pada posisi geografis 2030’ – 2052’ LU dan 125013’ – 1250 40’ BT dengan luas mencapai + 160,02 km2. Klaster Siau merupakan klaster utama di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, pada klaster ini terdapat kegiatan pemerintahan kabupaten dan kegiatan lainnya seperti perdagangan, transportasi laut dan pendidikan serta pusat permukiman penduduk. Pusat kegiatan di klaster Siau terbagi antara pusat kegiatan pemerintah kabupaten yang terletak di Ondong dan pusat kegiatan jasa perdagangan dan transportasi laut di Ulu, dengan pembagian wilayah administrasi sebanyak enam kecamatan. Keterhubungan
PKSNp
•OndongPKWp
•UluPKL
•BuhiasPPK
•Kec. Siau Timur Selatan : Sawang •Kec. Siau Barat Selatan : Talawid •Kec. Tagulandang Utara : Bawoleu •Kec. Tagulandang Selatan : Kisihang •Kec. Biaro : Lamanggo
PPL
31
dengan pusat klaster dilayani oleh jasa angkutan darat dengan dukungan prasarana jalan yang sudah memadai.
Klaster Siau memiliki kondisi topografis yang bervariasi yaitu dari dataran landai, kelerengan curam sampai dataran tinggi dan puncak gunung dengan ketinggian mencapai +/- 1.827 m dpl. Klaster ini memiliki gunung berapi aktif (Gunung Karangetang) yang berada di bagian utara pulau Siau. Keaktifan gunung berapi ini memberi pengaruh bagi kesuburan lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang ada di sekitarnya. Siau terkenal akan kualitas biji pala yang merupakan salah satu yang terbaik di dunia sejak dulu. Demikian pula beberapa komoditi lain seperti kelapa dan cengkih banyak berasal dari klaster Siau.
Hubungan antara klaster Siau dengan klaster lainnya yang berada di wilayah kepulauan Siau Tagulandang Biaro dilayani oleh pelayaran lokal antar pulau sedangkan keterhubungan dengan ibukota provinsi dilayani pelayaran rutin dilakukan 3 (tiga) kali dalam seminggu melalui pelabuhan Poso yang ada di Kota Ulu.
2.3.5. Geologi
Geologi Berdasarkan peta land system (RePPProT, 1988) dan data pengamatan lapangan menunjukkan bahwa di daerah perencanaan terdapat dua ordo tanah yaitu inceptisols, dan entisols dengan luas untuk masing-masing ordo tanah dapat dilihat berikut ini.
Tabel 2.5. Great Group Tanah di Kepulauan Sitaro
32
Sumber : Peta Land System (RePPProT, 1988) dan hasil pengamatan tim
2.3.6. Hidrologi, Klimatografi dan Hidrogeologi
Kondisi hidrologi sangat dipengaruhi oleh adanya air permukaan seperti aliran sungai dan danau. Alur sungai sebagian besar kering dan hanya berair pada saat hujan. Sungai dan danau dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai sumber air bersih untuk kehidupan sehari-hari.
Di pulau Siau terdapat sungai Kapeta, yang berasal dari danau Kapeta dan Akelabo. Kedua sungai ini dijadikan sebagai sumber air bersih utama bagi penduduk di sekitarnya. Instalasi pengolahan air yang berasal dari danau Kapeta, saat ini sedang dalam tahap perampungan akhir. Di Pulau Siau juga terdapat tiga mata air lainnya yang potensial untuk dijadikan sumber air bersih bagi kebutuhan penduduk, yakni mata air Tumbio, Biau, dan Tumbule. Ketiga mata air tersebut terletak di lereng Gunung Karangetang.
2.4. Sarana dan Prasarana
2.4.1. Air Limbah dan Drainase
Sistem penanganan Limbah cair/air limbah yang diterapkan di daerah Wilayah Siaumasih tradisional yaitu dengan mengalirkan air limbah domestik ke selokan yang ada. Sebagian besar di wilayah ini belum memiliki drainase. Disamping Ondong juga di Ulu Siau perlu dibangun fasilitas pengelolaan air limbah, dengan pertimbangan antara lain bahwa di Ulu Siau terdapat aktivitas pelabuhan dan aliran air dari aktivitas permukiman di daratan akan muara ke laut.
2.4.2. Persampahan
33
pada umumnya dilakukan penanganan sampah dengan cara mengubur, membakar dan bahkan ada yang membuang ke sungai dan ke laut.
2.4.3. Drainase
Sistem pengelolaan drainase di wilayah ini perlu dibangun secara bertahap dengan sistem on site, komunal dan off site, terutama di Ibu Kota Wilayah Siau yaitu Ondong, yang menjadi pusat pemerintahan dan memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak dibandingkan dengan wilayah kecamatan lainnya.
2.4.4. Sarana Perekonomian
Wilayah Siausecara berturut-turut adalah sektor pertanian, sektor jasa-jasa, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor angkutan dan komunikasi. Dengan demikian, struktur perekonomian Wilayah Siaumasih didominasi oleh sektor primer dan diikuti oleh sektor tersier, sedangkan peranan sektor sekunder relatif kecil karena kurangnya industri pengolahan di wilayah ini. Terbentuknya Wilayah Siau dalam jangka pendek akan cenderung meningkatkan efisiensi perdagangan dan pelayanan umum serta peningkatan arus barang dan jasa. Sedangkan dalam kisaran waktu jangka menengah, melalui inisiatif dan inovasi Pemerintah Daerah untuk mengundang dan menarik para investor agar bersedia menanamkan modalnya di wilayah ini, maka diprediksi akan terjadi pergeseran peran dari sektor primer ke sektor sekunder dan jasa secara signifikan.
Menurut Profil Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, PDRB per kapita berdasarkan perhitungan harga berlaku pada tahun 2014 mencapai Rp 21.080.000. Dengan jumlah penduduk sebanyak 42.737 jiwa.
2.4.5. Sarana Sosial Dan Kesehatan
35
2.4.6. Sarana Peribadatan