• Tidak ada hasil yang ditemukan

316076325 Supervisi Manajerial Untuk Pengawas Seko

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "316076325 Supervisi Manajerial Untuk Pengawas Seko"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN LEMBAGA PEMBERDAYAAN PENGEMBANGAN KEPALA SEKOLAH

( L P P K S )

Kp Dadapan RT 06/RW 07, Desa Jatikuwung Gondangrejo Karanganyar, Jawa Tengah Indonesia Telp. (0271) 8502888, 8502999 / Fac. (0271) 8502000

Website: www.lppks.org: Email: [email protected]

SUPERVISI MANAJERIAL

Bahan Pembelajaran Pendidikan dan Pelatihan

Penguatan Kompetensi Pengawas Sekolah/Madrasah

(2)

ii

Apakah Anda ingin memberikan umpan balik/

masukan mengenai Bahan Pembelajaran

Penguatan Pengawas Sekolah/Madrasah?

Kami mengajak para individu dan organisasi untuk memberikan umpan balik/masukan, baik positif atau negatif, tentang bahan pembelajaran Penguatan Pengawas Sekolah.

Dalam hal ini, Anda diajak untuk memberikan umpan balik (masukan/keluhan) ke Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS), melalui:

Situs Web : www.lppks.org

Email : [email protected] Telephone : (0271) 8502888, 8502999 Fax : (0271) 8502000

Surat : Petugas Penanganan Keluhan Kp. Dadapan RT. 06/ RW. 07,

Desa Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah

(3)

iii

KATA PENGANTAR

Atas berkah rahmat dari Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan berkah dan hidayahnya sehingga dapat disusunnya Bahan Pembelajaran materi supervisi manajerial ini untuk peserta pendidikan dan pelatihan calon/pengawas sekolah/madrasah.

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat urgen untuk menimgkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan berupa Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang secara operasionalnya dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberi arahan terhadap seluruh satuan pendidikan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan, yang meliputi: (1) standar isi; (2) standar proses; (3) standar kompetensi lulusan; (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (5) standar sarana dan prasarana; (6) standar pengelolaan; (7) standar pembiayaan dan (8) standar penilaian.

Pengawas, Kepala Sekolah dan guru merupakan tenaga pendidik dan kependidikan yang mutlak terstandarisasi kompetensinya secara nasional menurut PP No 19 tahun 2005 di atas. Karena pengawas, kepala sekolah dan guru adalah tiga unsur yang berperan aktif dalam persekolahan. Guru sebagai pelaku pembelajaran yang secara langsung berhadapan dengan para siswa di ruang kelas, dan pengawas serta kepala sekolah adalah pelaku pendidikan didalam pelaksanaan tugas Kepengawasan dan Manajerial pendidikan dalam satuan pendidikan yang meliputi tiga aspek yaitu supervisi, pengendalian dan inspeksi kependidikan.

Bahan Pembelajaran Supervisi Manajerial ini merupakan materi tambahan yang dapat melengkapi buku-buku maupun modul-modul yang telah banyak beredar tentang tugas kepengawasan sekolah khususnya supervisi manajerial. Materi Bahan Pembelajaran ini dapat digunakan sebagai materi pengembang modul (MPM) pada pendidikan dan pelatihan calon Pengawas Sekolah/Madrasah maupun pada pendidikan dan pelatihan penguatan Pengawas Sekolah.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan bahan pembelajaran ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati kita semua.

Karanganyar, Januari 2015 Kepala LPPKS,

(4)

iv

TIM PENGEMBANG BAHAN PEMBELAJARAN LPPKS

Nama Bahan Pembelajaran:

Supervisi Manajerial Pengawas Sekolah/Madrasah

Pengarah Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd Kepala BPSDMP-PMP Moh. Hatta, M.Ed Kepala Pusbangtendik Prof. Dr, Siswandari, M.Stats Kepala LPPKS

Penanggung Jawab Gentur Sulistyo, MM. Ka.Sub.Bag. Umum LPPKS Drs. I Nyoman Rudi K, M.T Ka.Sie. Kompetensi LPPKS Farikha, MM Ka.Sie. Sistem Informasi LPPKS Yuli Cahyono, M.Pd. Korwi LPPKS

Tim Penulis Setyo Hartanto, S.Pd. M.Kom. Dra. Yusnaini Agustina, MPd Drs.Edy Pudiyanto, MPd,

.

Diterbitkan Oleh LPPKS, Indonesia @2015

(5)

PENJELASAN UMUM

A. Pengantar Bahan Pembelajaran Ini

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa, puji syukur kita panjatan pada Tuhan Yang Maha Esa, Mata Diklat Supervisi Manajerial untuk membekali calon pengawas sekolah/madrash maupun dapat digunakan untuk diklat penguatan pengawas sekolah/madrasah dalam meningkatkan dan menguatkan kompetensi supervise manajerial (permendiknas 12 tahun 2007 tentang standar pengawas sekolah). Mata diklat ini dialokasikan selama proses pembelajaran di kelas melalui kegiatan teori dan praktik serta diskusi dalam bentuk kegiatan tugas mandiri dan kelompok.

Dalam melaksanakan kegiatan pada Bahan Pembelajaran ini, Saudara harus mempertimbangkan inklusi sosial tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, status sosial ekonomi, orang dengan HIV/AIDS dan yang berkebutuhan khusus. Inklusi sosial ini juga diberlakukan bagi pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik.

B. Hasil Pembelajaran yang Diharapkan

Bahan pembelajaran ini diarahkan untuk mencapai target kompetensi yang berkaitan dengan standar kompetensi supervisi manajerial bagi pengawas sekolah/madrasah (Permendiknas No. 12 tahun 2007) yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas pembinaan pengawas sekolah terhadap satuan pendidikan-satuan pendidikan binaannya dalam rangka meningkatkan prestasi Akreditasi maupun pencapaian visi, misi sekolah binaan.

Adapun hasil pembelajaran yang diharapkan sebagai berikut:

1. Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan dapat memahami dan terampil tentang; Kompetensi Pengawas Sekolah, Tugas dan Fungsi Pengawas Sekolah, Supervisi Manajerial, Kompetensi Supervisi Manjerial, Prinsip-prinsip Supervisi Manajerial, Metode Supervisi Manajerial, Aspek Supervisi Manajerial.

(6)

C. Tagihan

1. Menjelaskan tentang; Kompetensi Pengawas Sekolah, Tugas dan Fungsi Pengawas Sekolah, Supervisi Manajerial, Kompetensi Supervisi Manjerial, Prinsip-prinsip Supervisi Manajerial, Metode Supervisi Manajerial, Aspek Supervisi Manajerial.

2. Terampil menyusun dan menggunakan instrumen supervisi manajerial 3. Terampil membuat tindak lanjut dan laporan supervisi manajerial

D. Ruang Lingkup Materi

Konsep Dasar tentang; Kompetensi Pengawas Sekolah, Tugas dan Fungsi Pengawas Sekolah, Supervisi Manajerial, Kompetensi Supervisi Manjerial, Prinsip-prinsip Supervisi Manajerial, Metode Supervisi Manajerial, Aspek Supervisi Manajerial. Konsep Dasar langkah-langkah menyusun instrumen supervisi manajerial dan menyusun tindak lanjut beserta laporan supervisi manajerial.

E. Refleksi

1. Apa yang sudah dikuasai 2. Apa yang belum dikuasai 3. Apa yang harus dilakukan 4. Apa yang perlu ditambah

F. Alokasi Waktu

Alokasi Waktu

Selanjutnya, alokasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan rangkaian kegiatan belajar materi ini dipisahkan antara waktu belajar individual dan kelompok, Untuk waktu belajar individual sifatnya fleksibel karena dilakukan di luar pertemuan diklat. Sedangkan waktu untuk kegiatan kelompok diperkirakan sekitar 8 jam pelajaran, dengan rincian sebagai berikut:

1 Mendiskusikan isi bahan belajar untuk memperoleh pemahaman bersama………. 2 Mendiskusikan rancangan supervisi manajerial oleh peserta diklat……….. 3 Melakukan diskusi hasil rancangan supervisi manajerial yang disusun……….. 4 Membuat rangkuman bersama……… 5 Melakukan refleksi……….

(7)

vii DAFTAR ISI

Halaman:

HALAMAN JUDUL……… .... i

PENANGANAN KELUHAN (UMPAN BALIK)……….. ... ii

TIM PENGEMBANG BAHAN PEMBELAJARAN LPPKS……….. ... ii

KATA PENGANTAR………. ... iv

PENJELASAN UMUM ... v

A.Pengantar Bahan Pembelajaran Ini………... ... v

B.Hasil Pembelajaran yang Diharapkan……… ... v

C Tagihan ... vi

D. Ruang Lingkup Materi ... vi

E. Refleksi ... vi

F. Alokasi Waktu. ... vi

DAFTAR ISI. ... vii

SUPERVISI MANAJERIAL PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH . ... 1

A. Kompetensi Pengawas Sekolah ... 1

B. Tugas dan Fungsi Pengawas Sekolah ... 2

C. Supervisi Manajerial ... 3

D. Kompetensi Supervisi Manjerial ... 4

E. Instrumen Supervisi Manajerial ... 7

F. Tindak Lanjut Dan Laporan Supervisi Manajerial ... 11

H. Penutup.. ... 19

Lampiran Contoh Program Semester Pengawas .. ... 20

Lampiran Aspek-Aspek Supervsi Manajerial Pengawas… ... 24

Lampiran Contoh Instrumen Monitoring Evaluasi RKAS… ... 59

Lembar Kerja (LK-Konsep)… ... 62

Lembar Kerja (LK-Role Play)… ... 63

Lembar Kerja (LK-Keterampilan) ... 64

(8)

SUPERVISI MANAJERIAL

PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH

A. Kompetensi Pengawas Sekolah

Mengacu pada lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 bahwa Kompetensi pengawas sekolah terdiri atas enam(6) dimensi kompetensi: Kompetensi kepribadian, Kompetensi sosial, Kompetensi supervisi manajerial, Kompetensi supervisi akademik, Kompetensi evaluasi pendidikan, dan Kompetensi penelitian dan pengembangan.

1. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan pengawas sekolah dalam

menampilkan dirinya atau performance diri sebagai pribadi yang

bertanggungjawab, kreatif, memiliki motivasi

2. Kompetensi sosial adalah kemampuan pengawas sekolah dalam membina

hubungan dengan berbagai pihak serta aktif dalam kegiatan organisasi profesi

3. Kompetensi supervisi manajerial adalah kemampuan pengawas sekolah

dalam melaksanakan pengawasan manajerial yakni menilai dan membina kepala

sekolah dan tenaga kependidikan lain yang ada di sekolah dalam

mempertinggi kualitas pengelolaan dan administasi sekolah

4. Kompetensi supervisi akademik adalah kemampuan pengawas sekolah dalam

melaksanakan pengawasan akademik yakni menilai dan membina guru dalam

rangka mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakannya agar

berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa.

5. Kompetensi evaluasi pendidikan adalah kemampuan pengawas sekolah

dalam kegiatan mengumpulkan, mengolah, menafsirkan dan menyimpulkan

data dan informasi untuk menentukan tingkat keberhasilan pendidikan

6. Kompetensi penelitian dan pengembangan adalah kemarnpuan pengawas

sekolah dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian

pendidikan/pengawasan serta menggunakan hasil-hasilnya untuk kepentingan

peningkatan mutu pendidikan

B. Tugas dan Fungsi Pengawas Sekolah

(9)

sekolah, melaksanakan penilaian kinerja guru dan kepala sekolah, melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan kepala sekolah serta pembimbingan penelitian tindakan.

Tugas pokok pengawas sekolah adalah melaksanakan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial melalui pemantauan, penilaian, pembinaan, pelaporan, dan tindak lanjut. Ragam kegiatan dalam lingkup tugas pengawas sekolah Perbedaan tugas dalam supervisi akademik dengan tugas dalam supervisi manajerial.

1. Kegiatan Supervisi Akademik

a. Memantau: (1) Pelaksanaan pembelajaran/bimbingan dan hasil belajar (2) Keterlaksanaan kurikulum tiap mata pelajaran

b. Menilai: Kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran/ bimbingan

c. Membina: 1. Guru dalam menyusun silabus dan RPP (2) Guru dalam proses melaksanakan pembelajaran di kelas/laboratorium/lapangan (3) Guru dalam membuat, mengelola, dan menggunakan media pendidikan dan pembelajaran (4) Guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan (5) Guru dalam mengolah dan menganalisis data hasil penilaian (6) Guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas.

d. Melaporkan dan Tindak Lanjut: (1) Hasil pengawasan akademik pada sekolah-sekolah yang menjadi binaannya (2) Menindaklanjuti hasil-hasil pengawasan akademik untuk meningkatkan kemampuan profesional guru 2. Kegiatan Supervisi Manajerial

a. Memantau: (1) Pelaksanaan ujian nasional, PSB, dan ujian sekolah (2) Pelaksanaan standar nasional pendidikan

b. Menilai: Kinerja kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokok fungsi dan tanggung jawabnya.

c. Membina: (1) Kepala Sekolah dalam pengelolaan dan administrasi sekolah (2) Kepala Sekolah dalam mengkoordinir pelaksanaan program bimbingan konseling.

d. Melaporkan dan Tindak Lanjut: (1) Hasil pengawasan manajerial pada sekolah-sekolah binaannya (2) Menindaklanjuti hasil-hasil pengawasan manajerial untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan satuan pendidikan

(10)

3 C. Supervisi Manajerial

1. Pengertian Supervisi Manajerial

Supervisi adalah kegiatan profesional yang dilakukan oleh pengawas sekolah dalam rangka membantu kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya guna meningkatkan mutu dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Supervisi ditujukan pada dua aspek yakni: manajerial dan akademik. Supervisi manajerial menitik beratkan pada pengamatan aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran, bermuara pada akhirnya tentang penjaminan mutu satuan pendidikan, salah satu tujuan diantaranya uji kelayakan. Dalam Panduan Pelaksanaan Tugas Pengawas Sekolah/Madrasah

(Direktorat Tenaga Kependidikan, 2009: 20) dinyatakan bahwa supervisi manajerial adalah supervisi yang berkenaan dengan aspek pengelolaan sekolah yang terkait langsung dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas sekolah yang mencakup perencanaan, koordinasi, pelaksanaan, penilaian, pengembangan kompetensi sumberdaya manusia (SDM) kependidikan dan sumberdaya lainnya. Dalam melaksanakan fungsi supervisi manajerial, pengawas sekolah/madrasah berperan sebagai: (1) kolaborator dan negosiator dalam proses perencanaan, koordinasi, pengembangan manajemen sekolah, (2) asesor dalam mengidentifikasi kelemahan dan menganalisis potensi sekolah, (3) pusat informasi pengembangan mutu sekolah, dan evaluator terhadap pemaknaan hasil pengawasan.

Supervisi manajerial adalah fungsi supervisi yang berkenaan dengan aspek pengelolaan sekolah yang terkait langsung dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sekolah yang mencakup: (a) perencanaan, (b) koordinasi, (c) pelaksanaan, (d) penilaian, dan (e) pengembangan

2. Sasaran Supervisi Manajerial

(11)

4

Catatan: Pengawasan di SMP/SMA/SMK ada 2 pengelompokan Pengawas

berdasarkan sasaran pengawasan; (1) Pengawas Mapel dan (2) Pengawas Manajerial, Jika jumlah satuan pendidikan dan guru sebagai sasaran kurang dari yang ditetapkan, maka dapat dilakukan pengawasan akademik secara lintas tingkat satuan dan jenjang pendidikan. jika jumlah satuan pendidikan kelebihan, maka dilakukan pembagian berdasarkan banyaknya ruang lingkup/materi kepengawasan akademik dan atau manajerial. (permendiknas 21 th 2011 tentang petunjuk teknis pelaksanaan jabatan fungsional pengawas sekolah dan angka kreditnya).

D. Kompetensi Supervisi Manajerial

Sebagai supervisor manajerial, pengawas satuan pendidikan bertugas membantu kepala sekolah dan seluruh staf sekolah agar dapat meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan pada sekolah yang dibinanya.

Kompetensi supervisi manajerial adalah kemampuan pengawas sekolah dalam melaksanakan pengawasan manajerial yakni menilai dan membina kepala sekolah dan tenaga kependidikan lain yang ada di sekolah dalam mempertinggi kualitas pengelolaan dan administasi sekolah.

Standar administrasi dan pengelolaan sekolah secara konseptual dan operasional tersirat dan tersurat dalam rumusan kompetensi inti kepala sekolah (Permendiknas No. 13 Tahun 2007) khususnya pada dimensi kompetensi mana- jerial. Selain itu dalam kompetensi manajerial pengawas sekolah, dituntut juga untuk menguasai program dan kegiatan bimbingan konseling serta memantau pelaksanaan standar nasional pendidikan di sekolah binaannya. Untuk itu pengawas sekolah harus menguasai teori, konsep serta prinsip tentang metode dan teknik supervisi pendidikan berikut aplikasinya dalam penyusunan program dan praktik pengawasan manajerial.

1. Pelaksanaan Dimensi Kompetensi Supervisi Manajerial

Kompetensi yang harus dimiliki pengawas sekolah dalam dimensi kompetensi supervisi manajerial:

a. menguasai pengetahuan tentang metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi dalam meningkatkan mutu pendidikan:

1) Menerapkan prinsip-prinsip supervisi manajerial untuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah

2) Menerapkan metode supervisi manajerial (Monitoring dan Evaluasi, Refleksi dan Focused Group Discussion, Metode Delphi, Workshop)

(12)

pendidikan di sekolah

b. menguasai teknik menyusun program pengawasan berdasarkan visi, misi, tujuan dan program pendidikan sekolah binaan:

1) Menganalisis kebutuhan Program Kepengawasan Supervisi Manajerial

2) Membagankan Program Kepengawasan Supervisi Manajerial berdasarkan Visi, Misi dan Tujuan Sekolah

3) Merancang program kepengawasan supervisi manajerial berdasarkan visi, misi, tujuan dan program pendidikan di sekolah

c. menyusun metode kerja dan instrumen yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi pengawasan di sekolah binaannya.

1) Merancang metode kerja kepengawasan yang efektif 2) Menerapkan metode kerja

3) Menyusun dan menggunakan Instrumen

d. teknik menyusun laporan hasil-hasil pengawasan dan menindaklanjutinya untuk perbaikan program pengawasan berikutnya pada sekolah binaannya: 1) Menganalisis hasil supervisi manajerial

2) Menyusun laporan Hasil Supervisi 3) Menyusun rencana tindaklanjut

e. membina kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan

pendidikan berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah: 1) Melaksanakan pembinaan pengelolaan sekolah yang mendasarkan 8 SNP 2) Melaksanakan pembinaan dalam pengelolaan administrasi sekolah

f. membina kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah:

1) Mengarahkan Kepala Sekolah dan Guru dalam menganalisis permasalahan Layanan Bimbingan dan Konseling.

2) Mengarahkan Kepala Sekolah dan Guru dalam Layanan Bimbingan Konseling

g. mendorong guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya:

1) Meningkatkan motivasi guru untuk mau melakukan Refleksi diri terkait dengan Tugas Pokoknya.

(13)

6

hasil-hasil pengelolaan dan administrasi sekolah

h. memantau pelaksanaan standar nasional pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah:

1) Menilai ketercapaian pelaksanaan 8 SNP

2) Menyusun rekomendasi hasil pemantauan 8 SNP untuk penyusunan program pencapaian 8 SNP.

2. Prinsip-prinsip Supervisi Manajerial

a. Tidak Otoriter

b. Hubungan Kemanusiaan yang harmonis c. Berkesinambungan

d. Demokratis e. Bersifat Integral f. Komphrehensif g. Konstruktif

h. Obyektif didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas Supervisor

3. Metode Supervisi Manajerial

Ada 4 metode yang digunakan dalam pelaksanaan supervisi manajerial, antara lain;

a. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan penyelenggaraan sekolah, apakah sudah sesuai dengan rencana, program dan/atau standar yang telah ditetapkan, serta menemukan hambatan-hambatan yang harus diatasi dalam pelaksanaan program.

Dalam melakukan monitoring pengawas harus melengkapi diri dengan parangkat atau daftar isian yang memuat seluruh indikator sekolah yang harus diamati dan dinilai.

(14)

program, mendapatkan bahan/masukan dalam perencanaan tahun berikut-nya, memberikan penilaian (judgement) terhadap sekolah.

b. Refleksi dan Focused Group Discussion (FGD)

Tujuan dari FGD adalah untuk menyatukan pandangan stakeholder mengenai realitas kondisi (kekuatan dan kelemahan) sekolah. Sekolah dapat melakukan refleksi terhadap data yang ada, dan menemukan sendiri faktor-faktor penghambat serta pendukung yang selama ini mereka rasakan Peran pengawas dalam hal ini adalah sebagai fasilitator sekaligus menjadi narasumber apabila diperlukan, untuk memberikan masukan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya.

c. Metode Delphi

Metode Delphi dapat disampaikan oleh pengawas kepada sekolah ketika hendak mengambil keputusan yang melibatkan banyak pihak. Langkah-langkah dalam pengguinaan Metode Delphi adalah; (1) Mengidentifikasi individu atau pihak-pihak yang dianggap memahami persoalan, (2) Masing-masing pihak diminta mengajukan pendapatnya secara tertulis, (3) Mengumpulkan pendapat yang masuk, dan membuat daftar urutannya sesuai dengan jumlah orang yang berpendapat sama. (4) Menyampaikan kembali daftar rumusan pendapat dari berbagai pihak tersebut untuk diberikan urutan prioritasnya. (5) Mengumpulkan kembali urutan prioritas menurut peserta, dan menyampaikan hasil akhir prioritas. d. Workshop

Workshop atau lokakarya merupakan salah satu metode yang dapat ditempuh pengawas sekolah, bersifat kelompok dan dapat melibatkan beberapa kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan/atau perwakilan komite sekolah

E. Instrumen Supervisi Manajerial

Instrumen dan Penilaian adalah kegiatan memberi keputusan melalui pengukuran tentang pelaksanaan supervisi dalam bentuk kuantitatif atau kualitatif dengan menggunakan alat/instrumen pengumpul data untuk memudahkan pelaksanaan supervisi.

1. Penyusunan Instrumen

(15)

8

mengembangkan sendiri; dan (2) dengan cara menyadur (adaptation). Sehubungan dengan pengembangan instrumen pengawasan sekolah, untuk mengawasi bidang-bidang garapan manjemen sekolah, seorang pengawas dapat mengembangkan sendiri instrument pengawasannya atau dapat menggunakan instrumen yang sudah ada, baik instrumen yang telah digunakan dalam pengawasan sekolah sebelumnya maupun berupa instrumen baku literatur yang relevan.

Sedangkan bila pengawas ingin mengembangkan instrumen dengan prosedur adaptasi (menyadur), maka langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

a) Penelaahan instrumen asli dengan mempelajari panduan umum (manual) instrumen dan butir-butir instrumen. Hal itu dilakukan untuk memahami (a) bangun variabel; (b) kisi-kisinya; (c) butir- butirnya; (d) cara penafsiran jawaban.

b) Penerjemahan setiap butir instrumen ke dalam bahasa Indonesia.

Penerjemahan dilakukan oleh dua orang secara terpisah, hal ini dilakukan salah seorang penerjemah akan dijadikan pembanding hasil terjemahannya. c) Memadukan kedua hasil terjemahan oleh keduanya.

d) Penerjemahan kembali ke dalam bahasa aslinya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kebenaran penerjemahan tadi.

e) Perbaikan butir instrumen bila diperlukan.

f) Uji pemahaman subjek terhadap butir instrumen. g) Uji validitas instrumen.

h) Uji reliabilitas instrumen.

Pemilihan instrumen pengawasan sekolah harus didasarkan kepada rambu-rambu yang tepat. Sehingga jenis instrumen yang dipilih benar- benar sesuai untuk mengumpulkan data pengawasan secara tepat. Adapun rambu-rambu yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pemilihan instrumen pengumpulan data pengawasan sekoah dapat dilihat pada tabel di bawah ini (Arikunto, 1988: 52).

(16)

9 adalah sebagai berikut:

a) ….Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan instrumen yang akan disusun. Bagi para peneliti atau pengawas sekolah pemula, merumuskan tujuan seperti ini tidak lazim. Padahal sebetulnya langkah ini sangat perlu. Tidak mungkin kiranya atau apabila mungkin akan sukar sekali dilakukan, menyusun instrumen tanpa tahu untuk apa data itu terkumpul, apa yang harus dilakukan sesudah itu apa fungsi setiap jawaban dalam setiap butir bagi jawaban problematika dan sebagainya. Contoh: Tujuan menyusun angket untuk mengumpulkan data tentang besarnya minat belajar dengan modul.

b) Membuat kisi-kisi yang mencanangkan tentang perincian variabel dan jenis instrumen yang akan digunakan untuk mengukur bagian variabel yang bersangkutan. (48-52).

Contoh Kisi-kisi: Untuk mengumpulkan data tentang kegiatan belajar mengajar di kelas diperlukan angket, wawancara, observasi, dan dokumen. Kisi-kisinya adalah sebagai berikut:

No

5 Kelengkapan sarana

dan prasarana V V 6 Pelaksanaan ulangan

V V V V

7 Mutu soal ulangan V V

8 Pengambilan nilai akhir

V V V

9 Pendokumentasian nilai

siswa V V V V

10 Situasi belajar secara

umum V

V

(17)

10

2. Langkah-Langkah Penyusunan Instrumen

a) Membuat butir-butir instrumen

Sesudah memiliki kisi-kisi seperti contoh di atas, langkah penilaian berikutnya adalah membuat butir-butir instrumen. Yang tertera pada kolom– kolom disebelah kanan adalah wawancara, angket, observasi dan dokumentasi. Keempatnya menunjukkan jenis kegiatan yang akan dilakukan oleh penilai dalam mengumpulkan data. Untuk dapat melakukan pengumpulan data dengan baik, penilai dilengkapi dengan instrumen (alat) agar pekerjaan dapat dilakukan secara sistematis, menghemat waktu dan data yang diperoleh sudah tersusun.

Menyusun instrumen bukanlah pekerjaan yang mudah. Bagi peneliti atau pengawas sekolah pemula, tugas menyusun instrumen merupakan pekerjaan yang membosankan dan menyebalkan. Sebelum memulai pekerjaannya, mereka menganggap bahwa menyusun instrumen itu mudah. Setelah tahu bahwa langkah awal adalah membuat kisi-kisi yang menuntut kejelian yang luar biasa. Tidak mengherankan kalau banyak di antara pengawas yang merasa kesulitan.

Tanda-tanda (V) yang tertera pada kisi-kisi di atas menunjukkan isi mengenai informasi yang akan dijaring dengan instrumen yang tertulis pada judul kolom. Dalam contoh terlihat bahwa butir-butir pada wawancara untuk siswa dan angket untuk siswa tidak cukup banyak. Dalam keadaan seperti ini, jika pengawas menghendaki, dapat dipilih salah satu saja. Setiap instrumen mengandung kebaikan dan kelemahan. Untuk itu harap mempelajari butir-butir penelitian tentang instrumen penelitian.

b) Mengedit instrumen

Proses editing intrumen dilakukan di akhir penyusunan instrument sebelum mulai pencetakan instrument, yang dilakukan dalam yaitu:

1) Mencocokan kisi-kisi yang dikehendaki dengan draf instrumen yang telah jadi.

2) Mengatur sistematika yang dikehendaki penilai atau pengawas untuk mempermudah pengolahan data.

(18)

4) Membuat pengantar permohonan pengisian bagi angket yang diberikan kepada orang lain. Untuk pedoman wawancara, pedoman pengamatan (observasi) dan pedoman dokumentasi hanya identitas yang menunjuk pada sumber data dan identitas pengisi.

Untuk mengakhiri penjelasan tentang penyusunan instrumen, berikut ini ditambahkan kondensi aturan-aturan penulisan butir angket. Beberapa aturan dimaksud hampir sama persis dengan aturan-aturan penyusunan tes objektif. Aturan-aturan tersebut menurut Arikunto (1988: 50-51), yaitu:

(a) Hindarkan penggunaan kata-kata ”kebanyakan”, ”sebagian besar”, ”biasanya” yang tidak mempunyai arti jelas dalam jumlah.

(b) Rumusan yang pendek lebih baik daripada yang panjang karena kalimat yang pendek akan lebih mudah dipahami.

(c) Rumusan negatif seyogyanya dihindari atau dikurangi hingga sesedikit mungkin. Untuk membuat butir arti terbalik (inverse), jika terpaksa menggunakan kata yang menunjuk pada arti negatif hendaknya digarisbawahi.

(d) Tidak boleh membuat butir yang mengandung dua pengertian, misalnya: ”Pendekatan menjadi tanggung jawab orang tua masyarakat dan negara, karenanya maka orang tua asuh perlu diharuskan untuk anggota masyarakat yang mampu”. Terhadap pernyataan tesebut responden dapat setuju terhadap pernyataan pertama tetapi tidak untuk yang kedua.

(e) Hindari penggunaan kata-kata atau kalimat-kalimat yang membingungkan. Ingat bahwa angket merupakan daftar pertanyaan yang diisi oleh responden pada waktu mereka tidak berdekatan dengan penyusun. Oleh karena itu, semua kata, kalimat atau kumpulan kalimat harus jelas.

(f) Hindari ”pengarahan terselubung”. Penyusun instrumen tidak dibenarkan sedikit atau banyak memberikan ”isyarat pancingan” (hint) yang menyebabkan responden memilih suatu alternatif tertentu.

F. Tindak Lanjut Dan Laporan Supervisi Manajerial

(19)

manajerial dapat dikategorikan berdasarkan tingkat kepentingannya, berdasarkan dampak yang ditimbulkan, frekuensinya.

1. Tindak Lanjut

Pengawas sekolah di awal tahun melakukan pemantuan terhadap pengelolaan sekolah, dikuti menilai dan membina langkah berikutnya adalah melakukan tindak lanjut. Tindak lanjut dalam kegiatan supervisi manajerial dapat berupa tindak lanjut korektif yang memperbaiki temuan ketidaksesuai dalam pengelolaan sekolah dan tindak lanjut preventif yang berupa upaya untuk mengatasi timbulnya permasalahan di masa yang akan datang. Tindak lanjut supervisi manajerial dapat berupa tindakan saran-saran improvisasi untuk meningkatkan keunggulan pengelolaan sekolah.

a. Mencari Penyebab Permasalahan

Tindak lanjut korektif dan preventif memerlukan kegiatan analisis akar penyebab masalah secara terstruktur agar tindakan efektif dan efisien. Terdapat berbagai metode evaluasi terstruktur untuk mengidentifikasi akar penyebab (root cause analysis) suatu kejadiaan yang tidak diharapkan (undesired outcome). Analisis Penyebab Masalah merupakan pendekatan terstruktur untuk mengidentifikasi faktor-faktor berpengaruh pada satu atau lebih kejadian- kejadian yang lalu agar dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja (Corcoran 2004). Selain itu, analisis penyebab masalah dapat memudahkan pelacakan terhadap faktor yang mempengaruhi kinerja. Penyebab masalah adalah bagian dari beberapa faktor (kejadian, kondisi, faktor organisasional) yang memberikan kontribusi, atau menimbulkan kemungkinan penyebab dan diikuti oleh akibat yang tidak diharapkan.

Chandler (2004) dalam Ramadhani et. al (2007) menyebutkan bahwa dalam memanfaatkan analsisi penyebab masalah terdapat empat langkah yang harus dilakukan pertama mengidentifikasi dan memperjelas definisi undesired outcome(suatu kejadiaan yang tidak diharapkan), kedua mengumpulkan data, ketiga menempatkan kejadian-kejadian dan kondisi- kondisi pada event and causal factor table, dan keempat lanjutkan pertanyaan “mengapa” untuk mengidentifikasi penyebab masalah yang paling kritis.

(20)

suatu metode yang digunakan dalam rangka problem solving yaitu mencari akar suatu masalah atau penyebab dari defect supaya sampai ke akar penyebab masalah. Istilah lain dari why analysis adalah 5 why‟s analysis. Metoda ini dikembangkan oleh pendiri Toyota Motor Corporation yaitu Sakichi Toyoda yang menginginkan setiap individu dalam organisasi memiliki skill problem solving dan mampu menjadi problem solver di area masing-masing. Metoda yang digunakan oleh why analysis adalah dengan menggunakan iterasi yaitu pertanyaan MENGAPA yang diulang beberapa kali sampai menemukan akar masalahnya.

Tahapan umum dengan why analysis:

1) Masalah dan areanya ditentukan terlebih dahulu

2) Dibentuk tim untuk brainstorming sehingga kita bisa memiliki berbagai pandangan, pengetahuan, pengalaman, dan pendekatan yang berbeda terhadap masalah dan areanya

3) Melakukan blusukan untuk melihat tempat, objek dan data yang lebih actual dan akurat.

4) Mulailah bertanya menggunakan mengapa (why) berulang.

Masalah: Jam dinding yang mati tidak berfungsi tetap berada di atas ruangan dan terjadi selama bertahun-tahun.

a) Mengapa? Komponen karena sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki dan tidak dibuang.

b) Mengapa rusak dan tidak dibuang? Tidak pernah diperbaiki dan sarana prasarana milik negara, jadi susah dihapuskan.

c) Mengapa tidak diperbaiki dan tidak dihapuskan? Tidak ada yang tahu d) Mengapa tidak ada yang tahu? Tidak ada jadwal rutin pemeliharaan

dan tidak tahu prosedurnya.

e) Mengapa tidak tahu prosedurnya? Inilah akar masalahnya

(21)

menyalahkan ke orang tapi bagaimana cara melakukan perbaikan sistem atau prosedur. Jika akar penyebab sudah diketahui maka segera implementasikan solusinya.

Temuan yang mempunyai tingkat kepentingan tinggi, berdampak luas dan sering terjadi berulang kali memerlukan tindak lanjut sesegera mungkin. Efektivitas tindak lanjut supervisi manajerial dalam mengatasi ketidaksesuaian atau temuan bergantung dari ketepatan dalam melakukan analisis akar penyebab masalah dan pemilihan alternatif solusi yang dipilih untuk mengatasi permasalahan.

b. Bentuk Tindak Lanjut

Bentuk tindak lanjut supervisi manajerial harus tidak menimbulkan masalah- masalah baru, yang berupa pembimbingan, pendampingan sampai pembinaan hingga muncul harapan perubahan di sekolah. Pengawas sekolah dalam memberikan saran tindak lanjut harus memperhatikan/berdasarkan ketentuan, standar, rencana, dan atau norma/hukum yang telah ditetapkan, solusi terpilih tidak menimbulkan permasalahan yang baru. Hasil-hasil tindak lanjut dibuatkan catatan khusus sesuai klasifikasi akar permasalahan yang muncul (diinventarisir). Beberapa dokumen resmi yang dapat dijadikan referensi dan standar dalam

kegiatan supervisi manajerial antara lain.

Aspek 8 SNP Standar dan Referensi Terkait Kompetensi Lulusan Permendikbud no 54 tahun 2013 dsb

Isi Permendibud no 67, 68, 69,70 tahun 2013 dsb

Proses Permendikbud 65 thn 2013 , dan no. 81 a thn 2013, dan no:160 tahun 2014

Penilaian Permendibud no 66 tahun 2013

PTK PP no 53 tahun 2010 dsb Perka BKN no 1 tahun 2013 dsb

Pengelolaan Permendiknas no19 thn 2007 PP no 34 tahun 1974 dsb

Sarana Prasarana Permendiknas no 24 thn 2007 Permendagri no 17 tahun 2007 Permendikbud 71 tahun 2013 dsb

Pembiayaan Permendiknas no 69 tahun 2009 Panduan penggunaan dana BOS, dsb

Ada 3 bentuk tindak lanjut supervisi manajerial; (1) pembinaan perorangan/individual, (2) pembinaan kelompok, (3) pembinaan terpadu.

(22)

mengena jika akar masalah terletak pada seseorang, mencegah masalah tersebut menular ke orang lain. Pembinaan secara kelompok yaitu pembinaan yang dilakukan secara kelompok (dewan guru, atau staf Tata Usaha) sepanjang a k a r permasalahan berada di kelompok itu, maupun kendalanya yang dihadapi oleh kepala sekolah belum terselesaikannya maka untuk dicarikan solusi pemecahannya pengawas melakukannya. Pembinaan terpadu yaitu pembinaan yang dilakukan secara terpadu (seluruh stakeholder sekolah) dalam lingkungan sekolah, untuk menyamakan persepsi tentang bidang tugas kepala sekolah, kebersamaan dalam upaya menjaga ketahanan sekolah dan memperjuangkan visi, misi, tujuan sekolah.

2. Laporan Supervisi Manajerial

Laporan berarti segala sesuatu yang dilaporkan (hasil kegiatan), dan pelaporan berarti perihal melaporkan. Laporan hasil supervisi manajerial merupakan media yang digunakan oleh pengawas untuk mengkomunikasikan hasil supervisi manajerial kepada pimpinan organisasi, unit-unit kerja, serta pihak lain yang berkepentingan untuk meningkatkan kinerja organisasi.

Pelaporan hasil supervisi manajerial kepada pihak-pihak yang berkepentingan merupakan hal yang penting dan nilai tambah pekerjaan pengawas terletak pada penilaian dan penyajian informasi tersebut. Penerimaan dan perhatian pihak yang berkepentingan terhadap simpulan akhir laporan hasil supervisi, serta tindak lanjut terhadap permasalahan yang dilaporkan merupakan ukuran kesuksesan supervisi manajerial. Pelaporan dapat dijadikan bukti pertanggungjawaban telah menyelesaikan suatu tugas dengan dibuktikan berupa laporan tertulis dan dilengkapi laporan secara lisan, sehingga pihak lain mempercayai dan akan memberikan tanggung jawab/pekerjaan yang lebih besar lagi. Eksistensi pengawas sangat dipengaruhi oleh bukti-bukti hasil tugas pekerjaannya, hal ini mengingat pengawas sekolah sebagai pejabat fungsional yang merencanakan, mengatur, mengelola, dan mengerjakan sendiri. 3. Fungsi Laporan Hasil Supervisi

(23)

Laporan hasil supervisi menginformasikan hasil penilaian kebenaran, kecermatan, kredibilitas, efektivitas, efisiensi, dan keandalan informasi pelaksanaan tugas dan fungsi sekolah.

Laporan hasil supervisi menginformasikan apakah kegiatan tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan, standar, rencana, atau norma yang telah ditetapkan. Laporan juga menginformasikan hasil penilaian kemajuan suatu program/kegiatan. Laporan hasil supervisi berfungsi sebagai dokumen pertanggungjawaban kegiatan pengawas. Pelaksanaan kegiatan supervisi manajerial menyerap sumber daya dan harus dipertanggungjawabkan penggunaannya dalam bentuk kinerja. Laporan hasil supervisi dapat dijadikan sebagai indikator output kegiatan supervisi.

Untuk dapat memberikan fungsinya secara optimal maka laporan supervisi manajerial harus memenuhi kriteria empat sesuai yaitu:

a) Sesuai Isi. Laporan harus didasarkan pada hasil pelaksanaan supervisi yang didokumentasikan secara baik. Isi laporan harus sesuai dengan pedoman pelaporan yang berlaku.

b) Sesuai Waktu. Laporan hasil supervisi harus disampaikan sesuai waktu. Keterlambatan/kedaluarsa pelaporan dapat membuat manfaat laporan berkurang bahkan tidak bermakna/ tidak bermanfaat.

c) Sesuai Menu. Laporan hasil supervisi disajikan secara menarik sehingga mengundang minat manajemen untuk membacanya. Laporan ditulis menggunakan bahasa yang lugas dan sederhana serta materi laporan mudah dipahami pembaca, menggunakan bahasa tulis sesuai Bahasa Indonesia Ejaan Yang Disempurnakan.

d) Sesuai Alamat. Laporan hanya boleh disampaikan kepada pihak-pihak yang berwenang mengetahui isi sebab menyangkut pemangku kebijaksanaan. Laporan yang salah alamat (tidak sesuai alamat) akan tidak berguna bagi si penerima, bahkan dapat disalahgunakan pihak yang tidak berwenang.

4. Tujuan Pembuatan Laporan Supervisi Manajerial

Penyusunan laporan supervisi manajerial oleh setiap pengawas sekolah bertujuan untuk:

(24)

b) Menginformasikan gambaran mengenai kondisi sekolah binaan berdasarkan hasil supervisi manajerial berupa hasil pemantauan, pembinaan, dan penilaian.

c) Menyajikan berbagai f aktor pendukung dan penghambat/kendala dalam pelaksanaan setiap butir kegiatan supervisi manajerial, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan pemangku kebijakan untuk mengembangkan lebih lanjut.

5. Manfaat Laporan Hasil Supervisi Akademik

Laporan hasil supervisi dapat dimanfaatkan sebagai landasan dalam penyusunan program kerja supervisi tahun yang akan datang. Bagi Dinas Pendidikan, laporan hasil supervisi dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam menilai kinerja pengawas sekolah yang bersangkutan, sumber informasi untuk mengetahui gambaran spesifikasi sekolah, landasan untuk menentukan tindak lanjut pembinaan dan memfasilitasi 8 standar nasional pendidikan terhadap tiap-tiap sekolah, serta dapat dijadikan sumber informasi untuk menyusun data statistik Sekolah atau yang lainnya.

Laporan yang tidak direspon pemangku kebijakan (yang berwenang) berdampak buruk akan kelanjutan dan potensi perkembangan sekolah binaan, terlalu banyaknya laporan yang kurang direspon/ditindaklanjuti oleh yang berwenang sedikit-demi sedikit akan selalu menumpuk sejalan berputarnya roda pendidikan yang akan menjadi beban bola salju permasalahan besar suatu institusi pendidikan/lembaga.

6. Sistematika Pelaporan Hasil Supervisi

Pelaporan yang legal memenuhi dua kriteria yaitu laporan secara lisan dan laporan secara tertulis. Laporan secara lisan dapat dikemukakan dalam forum-forum terkait, jika forum kegiatan tersebut bertujuan mengevaluasi bersama apabila bukan maka laporan dapat langsung secara lisan kepada pemangku kebijakan dengan dilengkapi secara tertulis. Laporan-laporan tertulis secara administratif dibuat rangkap sebanyak kebutuhan jumlah penerima plus 2 rangkap, hal ini dimaksudkan 1 rangkap untuk dokumen arsip di ruang pengawas, dan 1 rangkap untuk pegangan pengawas dalam kesinambungan tugas selanjutnya.

(25)

Kerangka Laporan Pelaksanaan Program Supervisi Manajerial

HALAMAN JUDUL (SAMPUL)

HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

B.

Fokus Masalah

C.

Tujuan dan Sasaran Supervisi Manajerial

D.

Tugas dan Ruang Lingkup Supervisi Manajerial

BAB II KERANGKA PIKIR PEMECAHAN MASALAH

BAB III PENDEKATAN DAN METODE

BAB IV HASIL SUPERVISI MANAJERIAL PADA SEKOLAH BINAAN

Hasil Pemantauan dan Pembinaan

Pembahasan Hasil

BAB V PENUTUP

A.

Simpulan

B.

Saran

C.

Rekomendasi

LAMPIRAN-LAMPIRAN:

Surat Keputusan (SK) tentang pembagian tugas wilayah dabin atau

sekolah/guru binaan, Surat Tugas Supervisi, Surat Keterangan telah

melaksanakan tugas, Daftar hadir Guru dan atau Kepala Sekolah pada

saat pembinaan/pemantauan/penilaian, Contoh-contoh instrumen 8 SNP,

dokumentasi berupa foto-foto, dll.

(26)

G. Penutup

Pengawas Sekolah merupakan jabatan fungsional tertinggi di tingkat pendidikan dasar maupun menengah, Pengawas Sekolah merupakan ujung tombak penjaminan mutu pendidikan di tiap-tiap kabupaten/kota serta mempunyai tugas yang sangat penting di dalam mendorong Kepala Sekolah, Guru dan Tenaga Kependidikan untuk melakukan proses pengelolaan Manajerial sekolah agar mampu menumbuhkan daya kreatifitas, daya inovatif, kemampuan pemecahan masalah serta berpikir dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah. 6 Kompetensi Pengawas Sekolah sangat berpengaruh dalam penjaminan mutu pendidikan di satuan pendidikan-satuan pendidikan, salah satu diantaranya Kompetensi Supervisi Manajerial y a n g berpengaruh langsung di sekolah binaan- sekolah binaan.

H. Daftar Pustaka

Dirjen PMPTK; (2009); Bahan Belajar Mandiri KKPS, Dimensi Kompetensi Penelitian dan Pengembangan: DIKNAS; Jakarta.

Permendiknas 21 (2011). Juknis Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan angka kreditnya. Kemendikbud, Jakarta

Pusbangtendik. (2011). Buku Kerja Pengawas Sekolah. Kementerian Pendidikan Nasional. Jakarta

Pusbangtendik (2014). Supervisi Manajerial Implementasi Kurikulum 2013. BPSDMPK&PMP, KEMENDIKBUD, Jakarta.

Peraturan Pemerintah 19 tahun 2005, Standar Nasional Pendidikan, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Nomor 12 tahun 2007, Standar Nasional Pengawas Sekolah/Madrasah, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Nomor 13 tahun 2007, Standar Nasional

(27)

PROGRAM SEMESTER PENGAWASAN SEKOLAH TAHUN ……….

Nama Pengawas:………. Jenjang jabatan:Pengawas Sekolah …………..

NO JENIS KEGIATAN SASARAN HASIL YANG

DI HARAPKAN

ALOKASI WAKTU

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1 Supervisi profil awal sekolah 2 Supervisi rapat kerja dan

kegiatan awal tahun

Kegiatan awal tahun administrasi rapat kerja, bukti fisik kegiatan awal tahun

Diketahuinya persiapan awal tahun pelajaran terutama pembagian tugas dan jadwal kegiatan

3 Supervisi administarasi kurikulum, perangkat pembelajaran, referensi / buku pegangan guru dan siswa serta sistem

penilaian

Administrasi kurikulum, perangkat pembelajaran guru, referensi guru dan siswa serta sistam penilaian

Tersusunnya KTSP dan perangkat pembelajaran serta tersedianya referensi / buku pegangan guru dan siswa yang memedai serta memilikin sistem penilaian yang

terprogram 4 Supervisi kehadiran guru

dan siswa, pengelolaan

Kehadiran guru dan siswa, Kehadiran guru dan peserta didik di atas 90%,

(28)

PBM di kelas pengelolaan PBM terlaksananya pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan 5 Supervisi administrasi PPD,

MOS, KKM, hasil UN, Akademik dan non akademik SKL di atas 75%

6 Supervisi rasio guru dan siswa, dokumen

pengangkatan staf, guru mapel, guru pembimbing, tenaga ketata usahaan, pustakawan, laboran, tenaga kebersihan, penjaga sekolah dan satpam

Guru, tenaga kependidikan

Tenaga yang tersedia memiliki kompetensi kualifikasi memadai sesuai SPM sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan

7 Supervisi bukti kepemilikan gedung sekolah, rekening listrik, air, telepon, ruang belajar, lapangan olahraga, ruang laboratorium, ruang perpustakaan, ruangBK, ruang kantor, ruang Kepala Sekolah, ruang Guru, ruang UKS, ruang OSIS, gudang, KM/ WC, ruang serbaguna, sarana peribadatan,

barang-barang inventaris dll

(29)

22 8 Supervisi dan pembinaan

program jangka panjaang, menengah dan tahunan, ketatalaksanaan administrasi dan program supervisi dan tindak lanjut Kepala Sekolah

Program jangka panjang, dan tahunan yang efektif dan efisien untuk mencapai standar pengelolaan

sekolah

Terlaksananya program monitoring, evaluasi dan tindak lanjut pelaksaan program sekolah

Pelaksaan APBS sesuai rencana dan dapat di 9 Suvervisi administrasi

keuangan dari semua sumber dana yang di terima oleh sekolah

APBS dan administrasi keuangan

Sekolah memiliki dana yang memadai untuk menunjang kegiatan operasional dan mengembangkan program kegiatan PBM

(30)

10 Supervisi Daftar nilai, analisis hasil penilaian dan

pelaksanaan tindak lanjut, analisis KKM permapel dan SK Kepala Sekolah tentang KKM serta instrumen

evaluasi dan kisi-kisinya yang di buat oleh guru

Daftar nilai, analisis hasil penilaian dan pelaksanaan tindak lanjut

Analisis KKM per mapel dan SK Kepala Sekolah tentang KKM Instrumen evaluasi dan kisi-kisinya yang di buat oleh guru

Tersedianya data penilaian akademik yang tertib dan akurat

Tersedianya SK Kepala Sekolah tentang KKM dan analisis KKM oleh para guru Tersedianya bank soal yang sudah di analisis

11 Supervisi profil akhir sekolah Rekap dan analisia nilai akhir tahun

Diketahuinya peningkatan kegiatan sekolah dan

peningkatan prestasi / kinerja sekolah

12 Menyusun laporan akhir tahun

Rekap laporan

pengawas akhir tahun

Pengawas dapat melaporkan hasil pengawasannya selama satu tahun

………., Juli 20…

Kepala dinas, Korwas, Pengawas Satuan Pendidikan,

(31)

ASPEK: Supervisi Manajerial

1. Rencana Kerja Sekolah

NO

ASPEK /

KOMPONEN KONDISI IDEAL

1 Komponen

utama R K S

Melaksanakan analisis lingkungan strategis empat tahun ke depan tentang kondisi sosial, ekonomi, politik, keamanan, kemajuan IPTEK, budaya, dsb.

Melaksanakan analisis kondisi pendidikan saat ini secara umum, tingkat nasional atau internasional

Melaksanakan analisis tentang kondisi pendidikan yang ideal, sempurna, dan yang seharusnya terjadi

Analisis pengidentifikasian tantangan nyata (Kesenjangan Kondisi) antara kondisi pendidikan saat ini terhadap kondisi pendidikan empat tahun ke depan, khususnya ditinjau dari 8 aspek SNP

2 Visi sekolah

Sekolah merumuskan dan menetapkan visi serta mengembangkannya

Terdapat Rambu-rambu merumuskan Visi Sekolah Terdapat Indikator-indikator VISI sekolah

Dirumuskan berdasar masukan dari berbagai warga sekolah/madrasah dan pihak-pihak yang berkepentingan, selaras dengan visi institusi di atasnya serta visi pendidikan nasional

Diputuskan oleh rapat dewan pendidi Disosialisasikan kepada warga sekolah

3 Misi Sekolah

Sekolah merumuskan mengembangkannya

dan menetapkan misi serta Misi mengacu kepada indikator Visi

Dirumuskan berdasarkan masukan dari segenap pihak yang berkepentingan

Disosialisasikan kepada warga sekolah

4 Tujuan Sekolah

Sekolah merumuskan mengembangkannya

dan menetapkan tujuan serta Mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional Mengacu pada standar kompetensi lulusan yang sudah ditetapkan oleh sekolah dan Pemerintah

Disosialisasikan kepada warga sekolah 5

Rencana Kerja Sekolah

Rencana kerja jangka menengah menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu empat tahun

(32)

Unsur-unsur RKS empat tahuan meliputi: Analisis lingkungan strategis, Analisis pendidikan saat ini, Analisis pendidikan dimasa yang akan datang, Identifikasi tantangan nyata

Rencana kerja tahunan yang dinyatakan dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKA-S) dilaksanakan berdasarkan rencana jangka menengah

Disetujui rapat dewan pendidik setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah

Disahkan berlakunya oleh dinas pendidikan kabupaten/kota Dituangkan dalam dokumen yang mudah dibaca oleh pihak-pihak yang terkait

6 Rencana kerja tahunan

Memuat Kurikulum dan kegiatan pembelajaran Memuat Pendidik dan tenaga kependidikan serta pengembangannya

Memuat Sarana dan prasarana Memuat Keuangan dan pembiayaan Memuat Budaya dan lingkungan sekolah Memuat Peranserta masyarakat dan kemitraan

Memuat Rencana-rencana kerja lain yang mengarah ke

7

Program strategis dan

Strategi Pelaksanaan/

Pemenuhan Delapan Standar Nasional Pendidikan Pengembangan Budaya dan Lingkungan Sekolah

8 Supervisi, monitoring dan

evaluasi

Minimal Ranah Supervisi meliputi: 8 SNP dan satu aspek pendidikan (budaya dan lingkungan sekolah)

Dilakukan oleh kepala sekolah atau tim yang dibentuk sekolah Lingkup Kegiatan Monev meliputi: Persiapan, Pembentukan Tim, Pengembangan perangkat instrumen, Pelaksanaan, Pelaporan, Tindak lanjut)

9 Pembiayaan Dibuat dalam bentuk RAPBS Pembiayaan untuk 4 tahun

Tiap tahunnya dapat dibuat rinci dari berbagai sumber Mengambil satu tahun dari RKS

Dibuat setiap Tahun

Isi keseluruhan RKAS atau rencana kerja jangka pendek/ rencana kerja satu tahun berdasarkan aspek-aspek 8 SNP Memuat Perencanaan kegiatan bidang kesiswaan

(33)

10 Rencana Kegiatan dan

Anggaran Sekolah (RKAS )

Memuat Perencanaan kegiatan bidang pengelolaan pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan

Memuat Pengelolaan kegiatan bidang sarana dan prasarana pembelajaran,

Memuat Pengelolaan kegiatan bidang keuangan dan pembiayaan pendidikan

Memuat Perencanaan penciptaan suasana, iklim, dan lingkungan pembelajaran yang kondusif

Memuat Perencanaan yang melibatkan masyarakat

pendukung dan membangun kemitraan dengan lembaga lain yang relevan

Perencanaan pengawasan: Supervisi,Monitoring, Evaluasi,Pelaporan, Tindak lanjut hasil pengawasan

Memuat Perencanaan kegiatan evaluasi diri, melalui pengajian analisis: kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman

Memuat Perencanaan evaluasi kinerja pendidik dan tenaga kependidikan

Memuat Perencanaan kegiatan persiapan bahan yang diperlukan untuk akreditasi sekolah

11 Sistematika RKAS

Cover yang mencantumkan periode tahun keberlakuan RKJM Lembar Pengesahan yang berisi tandatangan Kepala Sekolah, Komite Sekolah, dan Kepala Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten Kata Pengantar dan Daftar Isi

Identitas Sekolah dan Kepala Sekolah

Bab I. Pendahuluan yang memuat: Latar Belakang , Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah

Bab II. Deskripsi Hasil Analisis Konteks

Bab III. Rencana Kerja Sekolah yang berisi rencana kegiatan untuk kurun waktu 4 (empat) tahun

Bab IV. Penutup

(34)

ASPEK: Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Kepala sekolah memiliki kualifikasi akademik minimum sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV)

Kepala sekolah berstatus sebagai guru, memiliki sertifikat pendidik, dan Surat Keputusan (SK) sebagai kepala sekolah Guru memiliki kualifikasi akademik minimum sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV).

Guru pelajaran mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya

2

Kompetensi Guru

Kepala sekolah memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 tahun

Kepala sekolah memiliki kemampuan manajerial

Kepala sekolah memiliki kemampuan kewirausahaan dalam mengelola kegiatan

Kepala sekolah melakukan supervisi dan monitoring Guru merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran sesuai

dengan prinsip-prinsip pembelajaran

Guru memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi

kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional Guru memiliki Sertifikat Pendidik

Guru memiliki integritas kepribadian dan bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, serta peraturan dan ketentuan yang berlaku

Guru menguasai materi pelajaran yang diampu serta mengembangkannya dengan metode ilmiah

Tunjangan profesi diberikan kepada Guru yang memenuhi persyaratan

Ada penghargaan / mendapatkan promosi atas dasar prestasi Guru, dedikasi luar biasa,

(35)

3

Penghargaan bagi guru

Maslahat tambahan: tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan, beasiswa, atau penghargaan bagi Guru, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain

Keringanan biaya pendidikan bagi putra dan/atau putri kandung atau anak angkat Guru yang telah memenuhi persyaratan akademik, masih menjadi tanggungannya

4 Hak-hak guru

Guru berhak mendapat perlindungan hukum, profesi, keselamatan dan kesehatan kerja dalam melaksanakan tugas Guru berhak memperoleh akses memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran yang disediakan oleh satuan pendidikan

Guru memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan

Guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan Kualifikasi Akademik dan kompetensinya, serta untuk memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya

Guru berhak memperoleh cuti

5 Beban Kerja Guru

Merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok

Beban kerja Guru paling sedikit memenuhi 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan paling banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.

Beban kerja kepala satuan pendidikan paling sedikit 6 (enam) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu atau membimbing 40 (empat puluh) peserta didik

Beban kerja wakil kepala, ketua program keahlian, kepala perpustakaan, kepala laboratorium, bengkel, atau unit produksi paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu

Beban kerja Guru bimbingan dan konseling atau konselor paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik

Standar Tenaga

(36)

29

6 Tenaga

Perpustakaan

Sekolah mempunyai jumlah tenaga perpustakaan sekolah lebih dari satu orang Kepala perpustakaan sekolah berkualifikasi diploma dua (D2) Ilmu

Perpustakaan

Kepala perpustakaan sekolah mempunyai sertifikat kompetensi pengelolaan perpustakaan sekolah

Kepala perpustakaan sekolah memiliki Kompetensi: Manajerial Pengelolaan Informasi, Kependidikan, Kepribadian, Sosial, Pengembangan Profesi

Setiap perpustakaan sekolah memiliki sekurang-kurangnya satu tenaga perpustakaan sekolah yang berkualifikasi SMA atau yang sederajat

Tenaga Perpustakaan Sekolah memiliki Kompetensi: Manajerial, Pengelolaan Informasi, Kependidikan, Kepribadian, Sosial, Pengembangan Profesi

7

Tenaga laboratorium

Standar tenaga laboratorium sekolah mencakup kepala Kepala Laboratorium Sekolah memiliki Pendidikan minimal diploma tiga (D3) dan memiliki sertifikat kepala laboratorium sekolah

Kepala Laboratorium Sekolah memiliki Kompetensi: kepribadian, Sosial, Manajerial, Profesional,

Teknisi Laboratorium Sekolah minimal lulusan program diploma dua (D2) yang relevan dengan peralatan

laboratorium dan memiliki sertifikat teknisi

Teknisi Laboratorium Sekolah memiliki Kompetensi: kepribadian, Sosial, Administratif, Profesional,

Laboran Sekolah minimal lulusan program diploma satu (D1) yang relevan dengan jenis laboratorium, memiliki sertifikat laboran

(37)

ASPEK: Kurikulum dan Pembelajaran

NOKOMPONENASPEK / KONDISI IDEAL

A K T S P

1 Visi, Misi dan Tujuan: Memuat penguatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik

2

Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Mengacu kepada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Kerangka Dasar dan Struktur

Kurikulum

3

Muatan Kurikulum pada Tingkat Daerah

Menentukan muatan lokal sudah diperkuat dengan Peraturan Gubernur dan Peraturan Bupati/walikota

4

Muatan Kekhasan Satuan Pendidikan

Sudah melakukan analisis kebutuhan peserta didik dalam menentukan muatan lokal kekhasan satuan pendidikan

5 Pengaturan Beban Belajar

Alokasi waktu setiap mata pelajaran Sudah mengacu kepada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum

6

Tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri

Penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri pada satuan pendidikan sudah menggunakan 0%-60% dari waktu kegiatan tatap muka

7 Beban Belajar Tambahan Menambah beban belajar per minggu melalui analisis kebutuhan belajar peserta didik

8 Kalender Pendidikan

Mengatur waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur

B

Menyusun KTSP sebagai bagian dari kegiatan perencanaan sekolah melalui kegiatan rapat kerja dan/atau lokakarya sekolah dan/atau kelompok sekolah yang diselenggarakan sebelum tahun pelajaran baru.

(38)

Prinsip-prinsip

Penyusunan Menggunakan minimal 13 prinsip Penyusunan KTSP Mekanisme

Pengelolaan Menggunakan minimal 7 prinsip pengelolaan KTSP

Pihak yang terlibat

Tim penyusun KTSP terdiri dari: guru, konselor, dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota dan melibatkan komite sekolah, nara sumber, dan pihak lain yang terkait serta melibatkan koordinasi dan supervisi dilakukan oleh dinas pendidikan

C DOKUMEN KTSP KONDISI IDEAL

Halaman sampul Berisi judul, logo sekolah dan atau logo pemda, tahun pelajaran, dan alamat sekolah Lembar

Pengesahan

Ditandatangani oleh Kepala Sekolah, Ketua Komite Sekolah, dan Kepala Dinas Pendidikan atau pejabat yang ditunjuk

Kata Pengantar

Berisi pernyataan tim pengembang yang menyatakan syukur, pernyataan sukacita dapat menyajikan KTSP, dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu Daftar Isi Memuat seluruh komponen isi yang tersaji dalam dokumen Isi Dokumen:

Pendahuluan Memuat: Latar Belakang, Landasan, Tujuan Tujuan Satuan

Pendidikan Memuat: Visi, Misi, Tujuan

Struktur dan Muatan Kurikulum

Memuat Analisis kebutuhan siswa

Memuat SKL yang sekolah hendak wujudkan

Memuat Kompetensi inti untuk tiap satuan pendidikan Memuat Kompetensi

kompetensi inti

Dasar yang dirumuskan untuk mencapai Muatan dan struktur pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, termasuk Terdapat muatan lokal dan kegiatan kegiatan ekstrakurikuler yang mengacu pada Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum

Struktur dikembangkan berdasarkan kebutuhan peserta didik dan potensi sumber daya sekolah

(39)

Memuat Pengaturan peminatan dan lintas minat.

D MUATAN K T S P KONDISI IDEAL

Daftar Mata Pelajaran

Berisi Sejumlah mata pelajaran yang harus peserta didik tempuh pada satu jenjang pendidikan

Muatan Lokal

Berisi Jenis, strategi pemilihan, dan pelaksanaan muatan lokal yang diselenggarakan oleh sekolah dengan memperhatikan rambu- rambu/panduan pengembangan muatan lokal

Bimbingan dan Konseling

Berisi: komponen Layanan Bimbingan dan Konseling, strategi Layanan Bimbingan dan Konseling, pihak Yang terlibat dan mekanisme pengembangan pembelajaran

Ekstrakurikuler

Berisi:Jenis, strategi pemilihan, dan pelaksanaan kegiatan; definisi Operasional, Komponen visi-misi, Fungsi dan tujuan,Prinsip, jenis kegiatan, format kegiatan; Mekanisme kegiatan.

Peraturan Akademik

Sejumlah aturan yang harus siswa ikuti DALAM BIDANG AKADEMIK

Jumlah jam pelajaran/tema yang harus siswa

ikuti

Berisi stuktur jumlah mata pelajaran dan jumlah jam yang harus siswa ikuti pada suatu jenjang pendidikan

Kriteria ketuntasan

Kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yang mengacu pada nilai ketuntasan standar Kriteria kenaikan

kelas dan kelulusan

Berisi kriteria kenaikan kelas dan kelulusan, serta strategi penanganan peserta didik yang tidak memenuhi syarat tidak naik atau tidak lulus yang diberlakukan oleh sekolah, dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku

Kalender Pendidikan

Berisi kalender pendidikan yang digunakan oleh sekolah, yang disusun berdasarkan kalender pendidikan yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan setempat, disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah, serta kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan struktur kurikulum

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Berisi dokumen RPP, informasi tentang pengembangan RPP, kewajiban guru untuk menyusun RPP, penjelasan tentang prinsip penyusunan RPP

(40)

Pelaksanaan Pembelajaran

pelaksanaan pembelajaran mencakup kegiatan pendahuluan, inti dan penutup

Kegiatan pendahuluan berisi penyiapan peserta didik, pemberian motivasi, mengaitkan materi dengan mengajukan pertanyaan, menjelaskan tujuan pembelajaran dan cakupan materi

Kegiatan inti berisi uraian tentang penggunaan model, metode, media, dan sumber pembelajaran, serta pendekatan yang digunakan meliputi tematik, terpadu, sintifik, inkuiri, sesuai dengan karakteristik kompetensi dan jenjang sekolah. Kegiatan inti menggambarkan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan

Kegiatan penutup berisi refleksi selama pembelajaran berupa evaluasi selama proses pembelajaran, umpan balik, tindak lanjut, dan rencana pembelajaran berikutnya Guru mata pelajaran memberikan penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri

Penilaian.

Penilaian proses menggunakan pendekatan penilaian otentik yang dimanfaatkan untuk program perbaikan, pengayaan, atau konseling, serta untuk perbaikan proses pembelajaran

(41)

ASPEK: Sarana dan Prasarana (SD)

NO KOMPONENASPEK / KONDISI IDEAL

1 Satuan Pendidikan

Memiliki minimum 6 rombongan belajar dan maksimum 24 rombongan belajar (Untuk SD)

2 Lahan

Rasio Minimum Luas Lahan terhadap Peserta Didik 12,7 dengan Luas Minimum Lahan 1340

Lahan terhindar dari potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan keselamatan

Kemiringan lahan rata-rata kurang dari 15%, tidak berada di dalam garis sempadan sungai dan jalur kereta api

Lahan terhindar dari gangguan-gangguan: a. Pencemaran air, b. Kebisingan, c. Pencemaran udara

Lahan sesuai dengan peruntukan lokasi dan mendapat izin pemanfaatan tanah

Lahan memiliki status hak atas tanah, dan/atau memiliki izin pemanfaatan

3 Bangunan gedung

Rasio minimum luas lantai terhadap peserta didik 3,8 Luas Minimum Lantai Bangunan 400

Bangunan gedung memenuhi ketentuan tata bangunan

Bangunan gedung memenuhi persyaratan keselamatan: struktur yang stabil dan kukuh, dilengkapi sistem proteksi pasif dan/atau proteksi aktif

Bangunan gedung memenuhi persyaratan kesehatan: ventilasi udara dan pencahayaan yang memadai,

Memiliki sanitasi di dalam dan di luar bangunan gedung untuk memenuhi kebutuhan air bersih, pembuangan air kotor dan/atau air limbah, kotoran dan tempat sampah, serta penyaluran air hujan

Bangunan gedung menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat

Bangunan gedung memenuhi persyaratan kenyamanan setiap ruangan dilengkapi dengan lampu penerangan

(42)

NO KOMPONENASPEK / KONDISI IDEAL

Bangunan gedung dilengkapi sistem keamanan: pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi

Bangunan gedung dilengkapi instalasi listrik dengan daya minimum 900 watt

Pemeliharaan bangunan gedung sekolah: Pemeliharaan ringan, dan Pemeliharaan berat

Bangunan gedung dilengkapi izin mendirikan bangunan dan izin penggunaan

Luas minimum ruang kelas 30 m2. Lebar minimum ruang kelas 5 m.

Ruang kelas memiliki fasilitas yang memungkinkan pencahayaan yang memadai

Ruang kelas memiliki pintu yang memadai dapat dikunci Soket listrik, Alat peraga.

5 Ruang

Perpustakaan

Luas minimum ruang perpustakaan sama dengan luas satu ruang kelas

Ruang perpustakaan dilengkapi jendela untuk memberi pencahayaan

Dilengkapi sarana: Buku teks pelajaran, Buku panduan pendidik, Buku pengayaan, Buku referensi, Sumber belajar lain, Rak buku, Rak majalah, Rak surat kabar, Meja dan Kursi baca, Kursi dan Meja kerja, Lemari katalog, Lemari, Papan pengumuman, Meja multimedia, Peralatan multimedia, Buku inventaris,Tempat sampah, Soket listrik, Jam dinding,

6 Laboratorium IPA

Laboratorium IPA dapat memanfaatkan ruang kelas.

Sarana Laboratorium IPA: Lemari, Model kerangka manusia, Model tubuh manusia, Globe, Model tata surya, Kaca

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian juga konsisten dengan penelitian Salter dan Sharp (2004) melakukan eksperimen dengan subjek yang digunakan adalah manajer AS dan Kanada, membuktikan bahwa

Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan Peraturan Daerah Kabupaten Belitung Timur Nomor 12 Tahun 2014 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Daerah Kabupaten

Yang dimaksud dengan Badan Layanan Umum Daerah adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan pemerintah daerah yang

Dengan dilakukannya penilaian kinerja di Dinas Penerangan Jalan Umum dan Sarana Jaringan Utilitas Daerah Khusus Ibukota Jakarta maka diharapkan akan mengetahui komitmen

Alhamdulillah, segala puji syukur dan kehadirat Allah SWT yang memberi kemudahan dan kelancaran, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “UJI

Tugas seorang dokter dalam bidang Ilmu Kedoteran Forensik adalah membantu para petugas kepolisian, kejaksaan dan kehakiman dalam mengungkap suatu perkara pidana yang

Kiprah asimetris biasanya terlihat pada anak-anak ketika tungkai perbedaan panjang tidak lebih dari 3,7% menjadi 5,5% [38,74] Dalam upaya untuk menjaga tingkat

Selanjutnya terkait hasil uji empiris atau hasil implementasi perangkat pembelajaran di kelas, diperoleh temuan-temuan: (a) Penerapan pembelajaran bertanya (LBQ)